No. Reg: 200407760508000
PROGRESS REPORT HASIL PENELITIAN
Kluster Penelitian Pembinaan/Peningkatan Kapasitas
ANALISIS PENGELOLAAN KELAS PEMBELAJARAN PAI DAN BUDI PEKERTI BERBASIS MULTIMEDIA DI SMKN KELAUTAN LEMBAR
LOMBOK BARAT
Disusun Oleh:
Hanafi, S.Ag, M.PdI. NIP. 197604072014121001
PUSAT PENELITIAN DAN PUBLIKASI ILMIAH
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
2018
RINGKASAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan kelas pembelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti berbasis multimedia pada jenjang sekolah menengah kejuruan. Hal ini dilakukan karena pada jenjang ini terkadang banyak ditemukan ketidaksesuaian antara pelaksanaan dan perencanaan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan terdiri dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta persepsi siswa terhadap pembelajaran berbasis multimedia sudah sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan.
HALAMAN SAMPUL...i
HALAMAN PENGESAHAN ...ii
KATA PENGANTAR ...iii
DAFTAR ISI...iv
RINGKASAN HASIL PENELITIAN ...v
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH ………1
B. RUMUSAN MASALA……….3
C. SIGNIFIKANSI DAN MANFAAT PENELITIAN ...4
BAB II LANDASAN PERSPEKTIF……….5
A. KAJIAN PENELITIAN TERDAHULU………..5
B. KAJIAN TEORI………..10
BAB III METODE PENELITIAN………..27
A. DESAIN PENELITIAN……….27
B. METODE PENGUMPULAN DAT.………..29
C. ANALISIS DATA………..32
D. KEABSAHAN DATA………33
BAB IV ANALISIS PENGELOLAAN KELAS PEMBELAJARAN PAI DAN BUDI PEKERTI BERBASIS MULTIMEDIA DI SMKN KELAUTAN LEMBAR LOMBOK BARAT………..35
BAB V PENUTUP……….63
A. KESIMPULAN………...63
B. IMPLIKASI TEORI……….65
C. REKOMENDASI……….65
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Sebagai tenaga profesional, seorang guru dituntut mampu mengelola kelas yaitu menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan pengajaran. Proses belajar mengajar yang efektif menuntut keharusan pengelolaan kelas yang efektif, karena salah satu aspek penyelenggaraan sistem pembelajaran yang mendasar adalah pengelolaan kelas yang baik oleh guru.1
Hubungan interpersonal yang baik antar guru dan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas.
Pengelolaan yang efektif merupakan prasyarat bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif.2Kelas yang dikelola dengan baik membuat siswa-siswi tetap sibuk dengan tugas yang aktif dan menantang, melakukan aktivitas yang membuat siswa menjadi terpikat dan termotivasi untuk belajar, serta menetapkan peraturan yang jelas yang harus diterima oleh siswa. Didalam kelas yang seperti ini,siswa cenderung tidak mengembangkan masalah akademis dan emosional. Sebaliknya dalam kelas yang dikelola kurang baik, kecenderungan terhadap masalah akademis dan emosinal siswa akan berkembang. Siswa yang tidak termotivasi secara akademis menjadi lebih tidak termotivasi.Siswa yang karakternya pemalumenjadi lebih menyendiri dan siswa yang sering menimbulkan masalah akansemakin mengacaukan kelas.3
1M. Aunur Rofiq, Pengelolaan Kelas, (Malang:Departemen Pendidikan Nasional, 2009), h.3 2Ibid.,h.72
3Jhon w.santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta Selatan: Salemba Humanika, 2009), h.257
Dalam Al-Quran Surat As.Sajdah ayat 5 yang artinya “telah dijelaskan bahwa Allah mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitungannya”4
Situasi belajar yang efektif dan kondusif tentunya dapat tergantung pada bagaimana cara guru mengelola dan mengcreate dengan segala inovasi dan kreativitas guru itu sendiri. Proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti akan lebih interaktif dan responsif antara guru dan siswa dengan menggunakan multimedia.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut dan mendorong perubahan pada sistem pendidikan di Indonesia, salah satunya dengan pembaharuan beberapa kali kurikulum, hingga yang terakhir menjadi kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013, pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan pendekatan saintifik, yaitu aktivitas yang disebut 5M; 1) mengamati, 2) menanya, 3) mengumpulkan informasi, 4) mengasosiasi, 5) mengomunikasikan hasil. Untuk menciptakan seluruh proses pembelajaran yang aktif dan melibatkan seluruh potensi siswa berdasarkan 5 M tersebut, tentunya guru harus mampu menggunakan media pembelajaran.5
Bila diamati fenomena saat ini, tidak sedikit guru dalam pembelajaran di kelas belum menggunakan media dan masih menggunakan sistem pembelajaran konvesional. Maka dari itu dengan kurikulum 2013 guru dituntut untuk mampu
4 Al-Qur’an dan Terjemahan
5 M. Hornan, Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam pembelajaran abad 21, Kunci sukses implementasi kurikulum 2013, (Bogor: Ghalia Indonesia,2014), h. 31
mengoperasikan multimedia pembelajaran. Pemanfaatan multimedia pembelajaran atas pertimbangan di era digital saat ini dunia pendidikan harus mampu bersaing di bidang teknologi, tuntutan kurikulum 2013, agar siswa tidak jenuh, dan menciptakan efektivitas pembelajaran. Dewasa ini banyak siswa telah melek teknologi. Maka, guru harus dapat mengisi peluang tersebut dengan melibatkan multimedia dalam pembelajaran. Maka SMKN Kelautan Lembar Lombok barat adalah salah satu sekolah yang pembelajarannya menggunakan multimedia pada pembelajaran PAI dan Budi Pekerti yang dapat menggugah ghirah belajar, keaktifan dan meningkatkan hasil belajar siswa, selain itu guru PAI dan Budi Pekerti yang telah beberapa kali mendapatkan pelatihan tentang kreativitas multimedia pembelajaran. Berdasarkan kondisi tersebut, maka penulis tertarik untuk dapat meneliti lebih dalam mengenai analisis pengelolaan kelas pembelajaran PAI dan budi pekerti berbasis multi media di SMKN Kelautan Lembar Lombok Barat 2018
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagaiberikut:“Bagaimana pengelolaan kelas pembelajaran guru PAI dan Budi Pekerti berbasis multimediadi SMKN Kelautan Lembar Lombok Barat?”.
C. SIGNIFIKANSI DAN MANFAAT PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengelolaan kelas
pembelajaran PAI dan Budi Pekerti dalam pengelolaan kelasdi SMKN Kelautan Lembar Lombok Barat.
Kegunaan penelitian ini ditinjau secara teoritis dan praktis yaitu sebagai berikut:
a. Manfaat Teoritis
Peneliti berharap penelitian ini nantinya dapat berguna untuk memberikan sumbangan pengetahuan bagi perkembangan keilmuan, khususnya tentang pengelolaan kelas berbasis multimedia.
b. Manfaat Praktis
Manfaat penelitian secara praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah bagi para pendidik atau guru dapat digunakan sebagai informasi betapa pentinganya pengelolaan kelas berbasis multimedia untuk memaksimalkan efesiensi, memantau kemajuan siswa dan mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul didalam kelas.
BAB II
LANDASAN PERSPEKTIF
A. Kajian Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini sebagai berikut:
1. asil penelitian Nurhayati Strategi pengelolaan kelas dapat meningkatkan prestasi belajar peseta didik.6
2. Penelitian yang dilakukan oleh Napi’ah dari hasil penelitiannya pengelolaan kelas dapat meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar pendidikan Agama Islam dapat memenuhi tujuan pendidikan yang diharapkan.7
3. Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawati penelitian ini adalah ada pengaruh pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar matematika siswa dengan korelasi t hitung lebih besar dari t table, dimana tb hitung sebesar 5,27 dan t table sebesar 0,727.8
4. Penelitian Saputro (2012), yang berjudul Implementasi Metode Guided Discovery dalam Pembelajaran PAI di SMP Negeri 1 Lasem Kabupaten Rembang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang berdasarkan studi lapangan (field research) dengan pendekatan phenomenologis. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan mengambil obyek studi di SMP Negeri 1 Lasem Kabupaten Rembang. Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan dalam menganalisis data, penelitian ini menggunakan pendekatan induksi analisis kemudian dideskripsikan. Lebih lanjut, siklus analisis data ini meliputi pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini
6Nurhayati, “Strateg Pengelolaan Kelas dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik SMPN 7 Mataram” (Thesis ,UIN Mataram,2016),h. ii
7Napi’ah, “Peran Guru dalam Pengelolaan Kelas Untuk Meningkatkan Efektifitas Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam Di Smp Muhajirin Praya” (Skripsi,IAIN Mataram,2011), h. Ii dan 3
8Kurniawati, “Pengaruh pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII Mts Nurul Hidayah LabuliaTahun Pelajaran 2010/2011” (Skripsi, IAIN Mataram, 2010), h. ii
menunjukan bahwa implementasi metode Guided Discovery dalam pembelajaran PAI di SMP Negeri 1 Lasem Kabupaten Rembang dimaksudkan sebagai salah satu proses memperbaiki pembelajaran PAI dengan menggunakan salah satu metode yang mampu membimbing peserta didik untuk menemukan pengalaman atau pengetahuan baru dengan menghindari proses dehumanisasi.
Proses implementasi metode Guided Discovery dalam pembelajaran PAI ini dipengaruhi oleh 3 (tiga) aspek, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Perencanaan metode guided discovery dalam pembelajaran PAI di SMP Negeri 1 Lasem Kabupaten Rembang dimaksudkan sebagai bentuk penataan persiapan yang matang bagi kelangsungan dan kelancaran proses pembelajaran yang akan dilakukan. Dalam hal ini guru-guru PAI harus mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan sedini dan sematang mungkin sehingga nantinya sangat membantu dalam implementasi metode tersebut. Ada beberapa hal yang perlu dipersipakan dalam tahap perencanaan, yaitu penyusunan silabus, RPP, pemilihan bahan ajar yang relevan dan pemilihan media pembelajaran yang praktis dan cocok. Implementasi metode guided discovery dalam pembelajaran PAI di SMP Negeri 1 Lasem Kabupaten Rembang merupakan inti dari pokok proses pembelajaran. Inti pembelajaran ini melalui beberapa tahapan, yaitu: 1) Tahap Pengenalan dan Review; 2) Tahap Terbuka; 3) Tahap Konvergen; dan 4) Tahap Penutup. Dalam mengimplementasikan metode guided discovery dalam pembelajaran PAI ini terdapat beberapa unsur yang harus dipenuhi sehingga memudahkan dalam mengelola proses pembelajaran tersebut. Unsur-unsur itu berupa motivasi, teknik penyajian bahan ajar strategi penggunaan media pembelajaran, cara mengelola kelas yang interaktif, dan cara mengatasi gangguan belajar dalam kelas. Kesanggupan mengelola unsur-unsur tersebut akan membantu guru menjaga stabilitas kelas, namun apabila diabaikan justru akan membuat kelas menjadi tidak kondusif bagi proses pembelajaran sehingga tujuan menjadi tidak tercapai secara maksimal. Evaluasi dari implementasi metode guided discovery dalam pembelajaran PAI di SMP Negeri 1 Lasem Kabupaten Rembang merupakan tahap terakhir dari rangkaian tahapan yang dilalui. Pada tahap ini menjadi sangat penting bagi guru, terutama untuk menata proses pembelajaran PAI pada masa-masa mendatang, karena di dalamnya
mengungkap hal-hal strategis bagi kelancaran proses pembelajaran. Hal-hal itu meliputi evaluasi cara memotivasi siswa, penyajian bahan ajar, penggunaan media pembelajaran, cara mengelola kelas, dan cara mengatasi gangguan belajar. Apabila kejelian dalam mengungkap evaluasi semakin maksimal, maka proses pembelajaran ke depan akan semakin baik dan evaluasi juga menjadi semakin mudah.
5. PenelitianParjiyanti (2012) yang berjudul Perbedaan Prestasi Belajar Bahasa Arab Antara Yang Menggunakan Multimedia Dan Tanpa Menggunakan Multimedia (Studi Komparatif di Kelas 3 SDIT Ar-Risalah Surakarta.
Pentingnya Pendidikan agama Islam bagi anak sejak dini merupakan sarana mengembangkan karakter dasar yang tidak dapat dipisahkan dengan Al-Qur’an dan bahasa Arab. Al Qur’an sebagai sistem hidup akan mampu diperoleh hasil yang optimal apabila semua umat Islam menguasai bahasa Arab dengan baik.
SDIT Ar-Risalah Surakarta mempunyai perhatian khusus terhadap pembelajaran Pendidikan agama Islam, terutama bahasa Arab. Pembelajaran bahasa Arab yan telah berjalan selama ini hanya menggunakan metode ceramah, sehingga siswa merasa sulit dalam menerima pelajaran bahasa Arab. Hal tersebut, secara langsung ataupun tidak langsung akan terkait dengan kualitas hasil belajar.
Maka untuk meningkatkan mutu pendidikan perlu menggunakan multimedia.
Sebuah pembelajaran yang menggunakan teknologi perpaduan visual, audio, dan audio visual. Sebab teknologi ini dapat menarik perhatian siswa dan mempertinggi kualitas pembelajaran. Pengaruh multimedia terhadap mutu pendidikan siswa sangat besar. Untuk mengetahui secara pasti keefektifan penggunaan multimedia, perlu dibuktikan secara empiris. Maka penelitian ini membatasi permasalahan tentang bagaimana pelaksanaan pembelajaran dan perbedaan prestasi belajar bahasa Arab yang menggunakan multimedia dan tanpa multimedia di kelas 3 SDIT Ar-Risalah Surakarta tahun ajaran 2009-2010.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pelaksanaan dan membuktikan perbedaan prestasi belajar pada pembelajaran bahasa Arab yang menggunakan multimedia dan tanpa multimedia di kelas 3 SDIT Ar-Risalah Surakarta tahun ajaran 2009-2010. Sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian, maka penelitian ini menggunakan metode yang mengutamakan studi komparatif dengan suatu
pendekatan eksperimen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode eksperimen, observasi, interview, dan dokumentasi. Metode eksperimen yang dilakukan adalah dengan menetapkan dua variabel. Pertama, variabel independen bersifat non-metrik dengan dua kategori yaitu pembelajaran bahasa Arab yang menggunakan multimedia dan tanpa menggunakan multimedia.
Kedua, variabel dependen yang bersifat metrik yaitu prestasi belajar. Metode analisis yang dipakai menggunakan analisis statistik uji t dua pihak dengan menggunakan bantuan program SPSS 15.00. Adapun langkah melakukan uji t Test adalah menggunakan independent sample t Test dengan asumsi data berdistribusi normal kemudian menyimpulkan hasil analisis. Hasil penelitian diperoleh nilai thitung sebesar 2,147. Nilai tersebut lebih besar dari nilai ttabel yang sebesar 1,645 pada taraf signifikansi 5%, sehingga dapat disimpulkan adanya perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar siswa pada kelas dengan pembelajaran bahasa Arab yang menggunakan multimedia dan tanpa menggunakan multimedia di kelas 3 SDIT Ar-Risalah Surakarta. Dengan demikian, Ha yang mengatakan bahwa ada perbedaan prestasi belajar bahasa Arab yang menggunakan multimedia dan tanpa menggunakan multimedia dinyatakan diterima dan Ho tidak ada perbedaan prestasi belajar bahasa Arab yang menggunakan multimedia dan tanpa menggunakan multimedia dinyatakan ditolak.
6. Penelitian Cahyaningrum (2016), berjudulPengembangan bahan ajar berbasis multimedia interaktif dalam meningkatkan motivasi belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) pada siswa kelas VII di SMP Islam AL Azhar Tulungagung.
Pembelajaran berwawasan teknologi akan mempermudah pembelajaran bagi siwa dalam menerima segala informasi. Apalagi pendidikan agama Islam akan berjalan efektif, efisien, dan menarik ketika ada pemberdayaan sarana pendidikan agama Islam yang dipadukan dengan media pembelajaran teknologi.
Salah satu manfaat dari penggunaan media pendidikan yang memadai yaitu pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa, sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa pada diri siswa. Media yang digunakan guru pada umumnya yaitu media presentasi yang dilengkapi alat untuk mengontrol yang dilakukan oleh pengguna yang ditemukan pada penerapan multimedia.
Multimedia adalah kombinasi dari komputer dan video, sehingga secara prinsip multimedia merupakan gabungan dari tiga elemen dasar, yaitu suara, gambar, dan teks.Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengembangkan bahan ajar berbasis multimedia interaktifdengan langkah-langkah yang sistematis sesuai dengan karakteristik pengembangan, (2) mengetahuiimplikasi pengembangan bahan ajar berbasis multimedia interaktif dalam meningkatkan motivasi belajar Pendidikan Agama Islam (PAI)pada siswa kelas VII di SMP Islam Al-Azhar Tulungagung.
Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan yang dilakukan dengan tahap analisis, perancangan, produksi, dan revisi. Pada tahap produksi dihasilkan produk awal yang kemudian di review oleh ahli materi dan ahli media. Dari hasil review diadakan revisi sesuai dengan saran kedua ahli tersebut. Pada tahap selanjutnya, produk diuji cobakan kepada siswa dalam skala kecil dan dilanjutkan pada uji coba siswa dalam skala besar, subjek ujicoba adalah siswa kelas VII B di SMP Islam Al Azhar Tulungagung. Data diperoleh dengan angket, skor diberikan dalam skala 1-5. Data kemudian dianalisa sedangkan saran-saran dijadikan dasar merevisi produk.Hasil Penelitian menunjukkan bahwa, (1) bahan ajar berbasis multimedia interaktif ini telah melalui tahap dan prosedur pengembangan sesuai dengan karakteristik pengembangan yaitu diawali dengan analisis, tahap perancangan, dilanjutkan dengan tahap produksi, dan revisi produk. (2) pengembangan bahan ajar berbasis multimedia interaktif dapat meningkatkan motivasi belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Islam Al Azhar Tulungagung berdasarkan hasil uji coba dengan skor rata-rata 4.6 yang termasuk berkategori baik.
Beberapa penelitian di atas sangat berbeda dengan penelitian ini karena penelitian ini terfokus pada pengelolaan kelas pembelajaran PAI dan budi perkerti berbasis multimedia, dan lokasi penelitiannya berbeda.
1) Kajian Teori
1. Konsep Pengelolaan Kelas
Secara umum Pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan guru untuk membantu menciptakan kondisi belajar yang
optimum atau sesuai sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.Dalam pengertian lain dikemukakan, pengelolaan kelas merupakan suatu peroses seleksi tindakan yang dilakukan guru dalam fungsinya sebagai penanggungjawab kelas dan seleksi penggunaan alat- alat belajar yang tepat sesuai masalah yang ada dan karakteristik kelas yang dihadapi.9
Menurut definisi operasional, pengelolaan kelas merupakan penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa yang berlangsung pada lingkungan sosial,emosional, dan intelektual anak dalam kelas menjadi sebuah lingkungan belajar yang membelajarkan.10
Jadi pengelolaan kelas merupakan suatu usaha menyiapkan kondisi yang optimal agar proses atau kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara lancar.Melalui pengelolaan kelas yang baik maka diharapkan bisa mendukung Dengan pengelolaan kelas yang baik diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran.
a. Langkah-Langkah Pengelolaan Kelas
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam mengelola kelas yang baik adalah:Menciptakan, mengajarkan dan menegakkan peraturan dan prosedur.
Dalam menetapkan peraturan dan prosedur di kelas ada empat prinsip yang perlu diperhatikan, sebagai berikut:
a) Peraturan dan prosedur harus masuk akal dan penting.
9Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas Dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluative, (Jakarta:
Rajawali, 1988)h.67
10Pupuh Fathurrahman dan Sobry Sutikno.Strategi Belajar Mengajar. (Bandung: PT Refika Aditama, 2011)h.103-104
b) Peraturan dan prosedur harus jelas dan bisa dipahami.
c) Peraturan dan prosedur harus konsisten dengan tujuan belajar dan pembelajaran.
d) Peraturan kelas harus konsisten dengan peraturan sekolah.11 b) Pendekatan Dalam Mengelola Kelas
Tomas Gordon dalam bukunya Teacher Effecivines Training yang diterjemahkan Aditya Kumara Dewi yang dikutip dari buku strategi belajar mengajar, lahirnya interaksi yang optimum tentu saja bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas. Berbagai pendekatan tersebut bisa ditelaah seperti uraiaan berikut:12
1) Pendekatan kekuasaan
Ciri yang utama pada pendekatan ini adalah ketaatan pada aturan yang melekat pada pemilik kekuasaan. Guru mengontrol siswa dengan ancaman, sanksi, hukuman dan bentuk disiplin yang ketat dan baku.
2) Pendekatan kebebasan
Pengelolaan kelas bukan memberikan anak belajar dengan laissez- faire, tetapi memberikan suasana dan kondisi belajar yang
memungkinkan anak merasa merdeka, bebas, nyaman, penuh tantangan dan harapan dalam melakukan belajar.
3) Pendekatan keseimbangan peran
Pendekatan ini dilakukan dengan memberi seperangkat aturan yang disepakati guru dan murid. Isi aturan berkaitan dengan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan guru dalam mereaksi semua
11Ibid, h.266-268
12Pupuh Fathurrahman dan Sobry Sutikno.Strategi Belajar Mengajar. (Bandung: PT Refika Aditama, 2011)h. 105-106
masalah atau situasi yang terjadi dikelas dan atuaran yang boleh atau tidak boleh dilakukan murid selama belajar.
4) Pendekatan pengajaran
Pada pendekatan ini menghendaki lahirnya peran guru untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak yang kurang menguntungkan proses pembelajaran. Peran guru adalah menrencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.
5) Pendekatan suasana emosi dan sosial
Hasil penelitian Golemen menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran pasti melibatkan kondisi dan proses kegiatan syaraf otak yang bertujuan merekatkan ingatan dalam memori otak. Menurut pendekatan pengelolaan kelas merupakan proses menciptakan ikllim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas.
Suasna hati yang saling mencintai antara guru-murid dan murid-guru dan murid-murid penting dalam menciptakan hubungan sosial pembelajaran.
6) Pendekatan Kombinasi
Pada pendekatan ini bisa menggunakan beberapa pilihan tindakan untuk mempetahankan dan menciptakan suasana belajar yang baik.
Guru memiliki peran penting untuk menganalisis kapan dan bagaimana tindakan itu tepat dilakukan.13
c) Kriteria pengelolaan yang efektif.
13Pupuh Fathurrahman dan Sobry Sutikno.Strategi Belajar Mengajar. (2011. Bandung: PT Refika Aditama),h.105-106
Upaya guru dalam proses mempersiapkan kondisi kelas yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung efektif maka guru harus mempersiapkan kondisi kelas yang baik, baik yang bersifat fisik maupun kondisi psikologis sehingga anak didik merasa nyaman dalam belajar.14 1) Kondisi fisik
Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil belajar. Karena lingkungan fisik yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak didik dapat meningkatkan intensitas dan hasil belajar yang baik dan berdampak positif terhadap tujuan pembelajaran. Lingkungan fisik tersebut meliputi:
a) Ruangan yang luas dapat memberikan keleluasan pada peserta didik untuk bergerak leluasa dan hubungan antar peserta didik tidak terganggu dalam proses pembelajaran
b) Tempat duduk peserta didik diatur sedemikian rupa sehingga antara guru dan peserta didik bertatap muka secara langsung dan guru dapat mengontrol peserta didiknya dengan baik.
c) Pengaturan ventilasi dan cahaya harus cukup menjamin kesehatan peserta didik. Jendela harus cukup besar sehingga memungkinkan panas cahaya matahari masuk, udara sehat dengan ventilasi yang baik, sehingga semua peserta didik dalam kelas dapat menghirup udara segar, peserta didik harus dapat melihat tulisan dengan jelas, tulisan di papan, buku bacaan dan sebagainya. Cahaya di dalam kelas cukup terang akan tetapi tidak menyilaukan.
14Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta:Rineka Cipta,2004), h.127
d) Pengaturan penyimpanan barang-barang harus diatur sedemikian rupa yaitu barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai apabila diperlukan dan dipergunakan untuk kepentinagan kegiatan belajar.15
2) Kondisi sosio-emosional.
Upaya meningkatkan efektivitas tercapainya tujuan pembelajaran kondisi sosial dan emosional di dalam kelas sangat berpengaruh besar dalam proses pembelajaran. Ada beberapa tipe kepemimpinan guru:
a) Tipe kepemimpinan guru yang demokratis lebih memungkinkan terbinanya sikap positif antara guru dan peserta didik dengan dasar saling memahami dan saling mempercayai. Sikap ini dapat menciptakan suasana yang menguntungkan bagi terciptanya kondisi proses belajar mengajar yang optimum. Dalam kondisi seperti ini biasanya problem pengelolaan bisa dibatasi sedikit mungkin.
b) Sikap guru dalam mengahadapi peserta didik yang melanggar peraturan sekolah harus tetap sabar dan bersahabat.
c) Suara guru harus relatif rendah tetapi jelas dan tekanan suara hendaknya bervariasi sehingga tidak membosankan peserta didik yang mendengarnya.16
d) Guru bersikap adil sehingga peserta didik diperlakukan sama tanpa tumbuh rasa dianak tirikan atau disisihkan.
15Ibid, h.127-129
16Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengjaran,h.130-131
e) Guru bersikap objektif terhadap kesalahan peserta didik dengan melakukan sanksi sesuai dengan tata tertib bila peserta didik melanggar disiplin yang telah disetujui bersama.
f) Guru tidak menuntut para peserta didik untuk mengikuti aturan- aturan yang diluar kemampuan peserta didik untuk mengikutinya, g) Guru tidak menghukum peserta didik di depan teman-tamannya
sehingga menyebabkan peserta didik kehilangan muka.
h) Guru tidak menciptakan suasana yang mendorong peserta didik ke arah tingkah laku yang tidak dikehendaki.
i) Memberikan penghargaan dan hadiah bagi peserta didik yang bertingkah laku sesuai dengan tuntutan disiplin yang berlaku sebagai suri tauladan yang baik.17
2. Pembelajaran PAI dan Budi Pekerti a. Pembelajaran PAI
Pengertian Pembelajaran PAI
Pembelajaran menurut bahasa adalah mengajar atau mendidik. Istilah pengajaran telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam, menurut sebahagian para ahli menerjemahkan kata al-ta’lim dengan pengajaran dan al-ta’lim itu sendiri lebih mengarah pada aspek kognitif.
Pembelajaran adalah suatu proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Belajar dalam pengertian umum adalah aktivitas peserta didik dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku kearah yang baik. Pembelajaran berbasis multimedia adalah pembelajaran menggunakan media untuk membantu pencapaian perubahan perilaku yang lebih baik dengan cepat dan bermakna.
“Pengelolaan peserta didik termasuk salah satu subtansi pengelolaan
17Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengjaran,h.143
pendidikan dan menduduki posisi strategis karena merupakan pusat layanan pendidikan”.
Pengertian pendidikan, secara sederhana, dapat merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pendidikan, menurut kamus Besar Bahasa Indonsia, merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dari pengertian kamus tersebut terlihat bahwa melalui pendidikan:
satu, orang mengalami pengubahan sikap dan tata laku; dua, orang berproses menjadi matang dalam sikap dan tata laku; tiga, proses pendewasaan ini dilakukan melalui uay pengajaran dan pelatihan. Dari Kamu Besar Bahasa Indonesi tersebut juga dipahami bahwa pendidikan merupakan proses, cara, dan perbuatan mendidik.
Pengelolaan peserta didik adalah suatu peraturan terhadap peserta didik di sekolah, sejak peserta didik masuk sampai dengan peserta didik lulus, bahkan setelah menjadi alumni. Kepala sekolah/madrasah diharapkan memiliki pengetahuan tentang hal ini. Namun memperhatikan prioritas kebutuhan awal kepala sekolah, maka dalam hal bahan pembelajaran ini lebih diterapkan atu ditekankan pada aspek-aspek sebagai berikut: perencanaan peserta didik baru, penerimaan peserta didik baru, orientasi peserta didik baru, layanan bimbingan dan konseling peserta didik, pembinaan kegiatan, dan Pembinaan Orgnisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Berdasarkan pertimbangan tersebut maka materi pengelolaan peserta didik perlu dibekali kepada Kepala Sekolah/ Madrasah melalui pendidikan dan pelatihan. Bahan pembelajaran harus diarahkan untuk mencapai target kompetensi kepala sekolah dalam mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, serta penepatan dan pengembangan kapasitas peserta didik. Adapun hasil pembelajarn yang diharapkan adalah peserta memiliki kompetensi peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, penetapan dan pengembangan kapasitas peserta didik.
Para pakar pendidikan dalam memberikan pengertian pembelajaran memiliki caranya yang beragam diantaranya:
a) Sayid Muhammad Naquid al-Attas mengartikan al-ta’lim (pembelajaran) disinonimkan dengan pengajaran tanpa adanya pengenalan secara mendasar, namun bila al-ta’lim disinonimkan dengan al-Tarbiyah, al-ta’lim mempunyai arti pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah sistem.
b) Abdul Fatah mendefenisikan al-ta’lim sebagai proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga penyucian atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran dan menjadikan diri manusia itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala apa yang bermamfaat baginya dan yang tidak diketahui.
c) Menurut Rasyid Ridha, al-ta’lim dapat diartikan sbagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.
Prinsip-prinsip Pembelajaran PAI
Menurut Chaedar Alwasilah, seperti yang dikutip oleh Zainal Arifin terdapat beberapa prinsip yang harus menjadi inspirasi bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran (siswa dan guru), yaitu prinsip umum dan prinsip khusus.
Prinsip umum pembelajaran meliputi: 1) Bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku peserta didik yang relatif permanen, 2) Peserta didik memiliki potensi, gandrung, dan kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk ditumbuh kembangkan, 3) Perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh alami linear sejalan proses kehidupan.
Sedangkan Prinsip Khusus Pembelajaran meliputi: 1) Prinsip perhatian dan motivasi, 2) Prinsip keaktifan. Perhatian dalam proses pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting sebagai awal dalam memicu aktivitas- aktivitas belajar. Untuk memunculkan perhatian siswa, maka perlu kiranya disusun sebuah rancangan bagaimana menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Mengingat begitu pentingnya faktor perhatian, maka dalam proses pembelajaran, perhatian berfungsi sebagai modal awal yang harus
dikembangkan secara optimal untuk memperoleh proses dan hasil yang maksimal.
Perhatian adalah memusatkan pikiran dan perasaan emosional secara fisik dan psikis terhadap sesuatu yang menjadi pusat perhatiannya. Perhatian dapat muncul secara spontan, dapat juga muncul karena direncanakan. Dalam proses pembelajaran, perhatian akan muncul dari diri siswa apabila pelajaran yang diberikan merupakan bahan pelajaran yang menarik dan dibutuhkan oleh siswa. Namun jika perhatian alami tidak muncul maka tugas guru untuk membangkitkan perhatian siswa terhadap pelajaran. Bentuk perhatian direfleksikan dengan cara melihat secara penuh perhatian, meraba, menganalisis, dan juga aktivitas-aktivitas lain dilakukan melalui kegiatan fisik dan psikis.
Motivasi berhubungan dengan minat. Siswa yang memiliki minat lebih tinggi pada suatu mata pelajaran cenderung memiliki perhatian yang lebih terhadap mata pelajaran tersebut sehingga akan menimbulkan motivasi yang lebih tinggi dalam belajar. Motivasi dapat bersifat internal, artinya muncul dari dalam diri sendiri tanpa ada intervensi dari yang lain, misalnya harapan, cita- cita, minat, dan aspek lain yang terdapat dalam diri sendiri. Motivasi juga dapat bersifat eksternal, yaitu stimulus yang muncul dari luar dirinya, misalnya kondisi lingkungan kelas, sekolah, adanya ganjaran berupa hadiah (reward), dan pujian. Bahkan rasa takut oleh hukuman (punishment) merupakan salah satu faktor munculnya motivasi.
Motivasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu: motif instrinsik dan motif ekstrinsik. Setiap motif baik itu instrinsik dan ekstrinsik dapat bersifat internal maupun eksternal, sebaliknya motif tersebut juga dapat berubah dari eksternal menjadi internal atau sebaliknya (transformasi motif).Motivasi dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian tujuan. Perilaku belajar yang terjadi dalam proses pembelajaran adalah pencapaian tujuan dan hasil belajar.
Belajar pada hakikatnya adalah proses aktif di mana seseorang melakukan kegiatan secara sadar untuk mengubah suatu perilaku, terjadi
kegiatan merespons terhadap setiap pembelajaran. Potensi yang dimiliki setiap individu sebaiknya dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran.
Fungsi Pembelajaran PAI
Dalam sebuah usaha sadar yang dilakukan pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai dari sebuah usaha tersebut. Begitu juga dengan Pembelajaran PAI yang dilakukan di sekolah-sekolah. Zakiyah Darajdad dalam bukunya Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam mendefinisikan tujuan Pendidikan Agama Islam sebagai berikut:
Tujuan Pendidikan Agma Islam yaiu membina manusia beragama berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin mana sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan dunia dan akhirat, yang dapat dibina melalui pengajaran agama yang intensif dan efekif.
Selain itu, pembelajaran Agama Islam juga mempunyai fungsi sebagai media untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Serta sebagai wahana pengembangan sikap keagamaan dengan mengamalkan apa yang telah didapat dari proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Darajdad berpendapat bahwa sebagai sebuah bidang studi di sekolah, pengajaran agama Islam mempunyai tiga fungsi, yaitu: perama, menanamtumbuhkan rasa keimanan yang kuat; kedua, menanamkembangkan kebiasaan (habit vorming) dalam melakukan amal ibadah, amal saleh dan akhlak yang mulia; dan ketiga, menumbuh kembangkan semangat untuk mengolah alam sekitar sebagai anugrah Allah SWT kepada manusia.
Dari pendapat diatas dapat diambil beberapa hal tentang fungsi pembelajaran PAI yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
a) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan pesera didik kepada Allah SWT yang ditanamkan dalam lingkup pendidikan keluarga.
b) Pengajaran, yaitu untuk menyampaikan pengetahuan keagamaan yang fungsional.
c) Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat bersosialisasi dengan lingkungan sesuai denga ajaran agama Islam.
d) Pembiasaan, melatih peserta didik untuk selalu mengamalkan ajaran Islam, menjalankan ibadah dan berbuat baik.
Disamping fungsi-fungsi tersebut, hal yang sangat perlu diingatkan bahwa Pendidikan Agama islam merupakan sumber nilai, yaitu memberikan pedoman hidup bagi peserta didik untuk mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat.
Strategi Pembelajaran PAI
Istilah strategi (strategy) berasal dari “kata benda” dan “kata kerja”
dalam bahasa yunani. Sebagai kata benda, strategos merupakan gabungan kata stratos (militer) dengan ago (memimpin). Sebagai kata kerja, stratego berarti merencanakan (to plan).
Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang guru untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya di akhir kegiatan belajar.
Strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang/atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Oleh karena iu strategi pembelajaran bukan hanya terbatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.
Di sisi lain, strategi pembelajaran adalah pendekatan menyeluruh pembelajaran dalam suatu sistem pembelajaran yang berupa pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai ujuan umum pembelajaran, yang dijabarkan dari pandangan falsafah dan atau teori belajar tertentu.
Adapun pengertian strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah suatu strategi yang menjelaskan tentang komponen-komponen umum dari suatu set bahan pembelajaran pendidikan agama dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama-sama dengan bahan-bahan tersebut untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
Komponen-komponen umum dari suatu set bahan pembelajaran pendidikan agama meliputi Kegiatan pendahuluan, Kegiatan penyajian dan penutup.
Berkaitan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang digariskan.
Secara umum ada empat dasar dalam menentukan strategi pembelajaran, yakni: (1) Mengindentifikasikan dan menetapkan kekhususan perubahan perilaku peserta didik yang diharapkan, (2) Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan cita-cita danpandangan hidup masyarakat, (3) Memilih dan menetapkan metode belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh pendidik dalam menunaikan tuganya, (4) Memilih dan menetapkan ukuran keberhasilan kegiatan belajar mengajar sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru untuk melakukan evaluasi (penilaian).
Pengembangan pendidikan juga dapat ditingkatkan melalui aplikasi pendekatan sistematis dalam pengajaran. Menurut David A. Jecobsen dkk, bahwa:Langkah-langkah dasar dalam pendidikan atau pengajaranadalah: 1) Perencanaan (Planning), 2) Penerapan (Implementing), 3) Penilaian (Assessing). Tiga tahap ini berurutan dan saling berhubungan. Dengan kata lain, seorang guru, dalam mengembangkan aktivitas apa pun, yang harus dilakukan pertama kali adalah merencanakan, kemudian menerapkan rencana- rencana tersebut, dan akhirnya menilai keberhasilan aktivitasnya.
Dasar Strategi Pembelajaran PAI
Tujuan dari belajar adalah merubah tingkah laku peserta didik ke arah yang lebih baik. Untuk itu, dalam proses pembelajaran harus ada perencanaan yang baik sehingga mampu mengidentifikasikan perubahan tingkah laku
peserta didik sesuai dengan tuntutan jaman. Perencanaan pembelajaran adalah seperangkat rencana dan pengaturan kegiatan pembelajaran, media pembelajaran, waktu, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar.
Pembelajaran pada dasarnya merupakan proses aktivitas yang dilakukan secara tertata dan teratur, berjalan secara logis dan sistematis mengikuti aturan-aturan yang telah disepakati sebelumnya. Setiap kegiatan pembelajaran bukan merupakan proyeksi keinginan dari guru secara sebelah pihak, akan tetapi merupakan perwujudan dari berbagai keinginan yang dikemas dalam suatu kurikulum.Proses belajar mengajar perlu direncanakan agar pembelajaran berlangsung dengan baik dan mencapai hasil yang diharapkan. Perencanaan program pembelajaran memperkirakan mengenai tindakan yang akan dilakukan pada saat melaksanakan pembelajaran. Langkah pertama dalam tahap perencanaan adalah membuat beberapa jenis tujuan.
Langkah berikutnya adalah memilih strategi instuksional, mengatur aktivitas- aktivitas pembelajaran, dan mengumpulkan materi-materi pendukung.
Isi perencanaan yaitu mengatur dan menetapkan unsur-unsur pembelajaran, seperti tujuan, bahan atau isi, metode, alat dan sumber, serta penilaian.Kegiatan merencanakan program belajar mengajar menurut pola prosedur pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) meliputi: (1) merumuskan tujuan instruksional, (2) menguraikan deskripsi satuan bahasan, (3) merancang kegiatan kegiatan belajar mengajar, (4) memilih berbagai media dan sumber belajar, (5) menyusun instrumen untuk nilai penguasaan tujuan.
Perencanaan pembelajaran memainkan peran penting dalam memandu guru untuk melakukan tugas sebagai pendidik dalam melayani kebutuhan belajar peserta didiknya. Perencanaan juga dimaksudkan sebagai langkah awal sebelum proses pembelajaran berlangsung.Fungsi perencanaan pembelajaran adalah sebagai panduan dalam penyusunan program pembelajaran, penyiapan proses pembelajaran, penyiapan bahan/media/sumber belajar, dan penyiapan perangkat penilaian. Sedangkan manfaat perencanaan pembelajaran adalah untuk memudahkan pembuatan persiapan pembelajaran dan memudahkan pengembangan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Sedangkan menurut pandangan Islam, fungsi perencanaan dapat ditemukan dalam ayat-ayat al-Quran yaitu dalam surat al-Hasyr ayat 18 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dengan kata lain, perencanaan pembelajaran merupakan usaha guru untuk mempersiapkan apa yang akan disampaikan dalam pelaksanaan pembelajaran, meliputi program pembelajaran, bahan ajar, pengelolan kelas serta lingkungan dalam pembelajaran.
b. Pembelajaran Budi Pekerti
Budi pekerti pada dasarnya adalah hasil perbuatan tingkah laku manusia yang baik, luhur, normative bersumber dari hati nurani manusia terdalam. Hasil perbuatan budi pekerti bersifat universal untuk menghormati orang tua, sesamanya yang menghasilkan tingkahlaku untuk membuat kehidupan dalam keluarga, masyarakat menjadi semakin harmonis dan menghargai kehidupan kemanusiaan bersumber dari moral manusia.Budi Pekerti lebih menonjolkan hasil olah budi yang diaktualisasikan dalam tingkah laku lahiriah,sedan dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah “Subasito” yang lebih menekankan pada perbuatan lahiriah terhadap orang lebih tua sebagai wujud penghormatan. Jadi budi pekerti semacam aturan normatif tidak tertulis, ada dalam masyarakat dan dipelihara untuk penghormatan terhadap orang tua dan penghargaan terhadap sesama manusia. Sedang moral berasal dari bahasa latin mores, yang artinya adat istiadat, kebiasaan atau cara hidup. Kata mores mempunyai sinonim mos, moris, manner mores atau manners, morals. Dalam bahasa Indonesia kata moral berarti akhlak atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib hati nurani yang membimbing tingkahlaku batin dalam hidup.
Kata moral sama dengan istilah etika yang berasal dari bahasa Yunani ethos, yaitu suatu kebiasaan adat istiadat. Secara etimologis etika adalah ajaran tentang baik dan buruk, yang diterima umum tentang sikap dan perbuatan.
Pada hakekatnya moral adalah ukuran-ukuran yang telah diterima oleh suatu
komunitas, sedang etika lebih dikaitkan dengan prinsip-prinsip yang dikembangkan pada suatu profesi. Namun ada pengertian lain etika mempelajari kebiasaan manusia yang telah disepakati bersama seperti; cara berpakaian, tatakrama. Dengan demikian keduanya mempunyai pengertian yang sama yaitu kebiasaan yang harus dipatuhi. Moral selalu mengacu pada baik buruk manusia, sehingga moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari kebaikan manusia. Norma moral dipakai sebagai tolok ukur segi kebaikan manusia. Menurut Magnis Suseno yang dikutip Hendrowibowo; moral adalah sikap hati yang terungkap dalam sikap lahiriah. Moralitas terjadi jika seseorang mengambil sikap yang baik, karena ia sadar akan tanggungjawabnya sebagai manusia. Jadi moralitas adalah sikap dan perbuatan baik sesuai dengan nurani.
Adapun tujuan pembelajaran budi pekerti adalah untuk mengembangkan nilai, sikap dan prilaku siswa yang memancarkan akhlak mulia/budi pekerti luhur (Haidar, 2004). Hal ini mengandung arti bahwa dalam pendidikan Budi Pekerti, nilai-nilai yang ingin dibentuk adalah nilai-nilai akhlak yang mulia, yaitu tertanamnya nilai-nilai akhlak yang mulia ke dalam diri peserta didik yang kemudian terwujud dalam tingkah lakunya.
Secara teknis, penerapan pendidikan budi pekerti di sekolah setidaknya dapat ditempuh melalui empat alternatif strategi secara terpadu.
a) Strategi pertama ialah dengan mengintegrasikan konten kurikulum pendidikan budi pekerti yang telah dirumuskan ke dalam seluruh mata pelajaran yang relevan, terutama mata pelajaran agama, kwarganegaraan, dan bahasa (baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah).
b) Strategi kedua ialah dengan mengintegrasikan pendidikan budi pekerti ke dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.
c) Strategi ketiga ialah dengan mengintegrasikan pendidikan budi pekerti ke dalam kegiatan yang diprogramkan atau direncanakan.
d) Strategi keempat ialah dengan membangun komunikasi dan kerjasama antara sekolah dengan orang tua peserta didik.
Berkaitan dengan implementasi strategi pendidikan budi pekerti dalam kegiatan sehari-hari, secara teknis dapat dilakukan melalui:
a. Keteladanan
Dalam kegiatan sehari-hari guru, kepala sekolah, staf administrasi, bahkan juga pengawas harus dapat menjadi teladan atau model yang baik bagi murid-murid di sekolah. Sebagai misal, jika guru ingin mengajarkan kesabaran kepada siswanya, maka terlebih dahulu guru harus mampu menjadi sosok yang sabar dihadapan murid-muridnya. Begitu juga ketika guru hendak mengajarkan tentang pentingnya kedisiplinan kepada murid-muridnya, maka guru tersebut harus mampu memberikan teladan terlebih dahulu sebagai guru yang disiplin dalam menjalankan tugas pekerjaannya. Tanpa keteladanan, murid-murid hanya akan menganggap ajakan moral yang disampaikan sebagai sesuatu yang omong kosong belaka, yang pada akhirnya nilai-nilai moral yang diajarkan tersebut hanya akan berhenti sebagai pengetahuan saja tanpa makna.
b. Kegiatan spontan.
Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilaksanakan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku peserta didik yang kurang baik, seperti berkelahi dengan temannya, meminta sesuatu dengan berteriak, mencoret dinding, mengambil barang milik orang lain, berbicara kasar, dan sebagainya.
Dalam setiap peristiwa yang spontan tersebut, guru dapat menanamkan nilai- nilai moral atau budi pekerti yang baik kepada para siswa, misalnya saat guru melihat dua orang siswa yang bertengkar/berkelahi di kelas karena memperebutkan sesuatu, guru dapat memasukkan nilai-nilai tentang pentingnya sikap maaf-memaafkan, saling menghormati, dan sikap saling menyayangi dalam konteks ajaran agama dan juga budaya.
c. Teguran.
Guru perlu menegur peserta didik yang melakukan perilaku buruk dan mengingatkannya agar mengamalkan nilai-nilai yang baik sehingga guru dapat membantu mengubah tingkah laku mereka.
d. Pengkondisian lingkungan.
Suasana sekolah dikondisikan sedemikian rupa melalui penyediaan sarana fisik yang dapat menunjang tercapainya pendidikan budi pekerti.
Contohnya ialah dengan penyediaan tempat sampah, jam dinding, slogan-slogan mengenai budi pekerti yang mudah dibaca oleh peserta didik, dan aturan/tata tertib sekolah yang ditempelkan pada tempat yang strategis sehingga mudah dibaca oleh setiap peserta didik.
e. Kegiatan rutin.
Kegiatan rutinitas merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini adalah berbaris masuk ruang kelas untuk mengajarkan budaya antri, berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain, dan membersihkan ruang kelas tempat belajar.
BAB III
METODE PENELITIAN
1) Desain Penelitian
Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan itu dilandasi oleh metode keilmuan. Menurut Sutrisno Sumantri metode keilmuan ini merupakan gabungan antara pendekatan rasional dan impiris. Pendakatan rasional memberikan kerangka berpikir yang koheren dan logis. Sedangkan pendekatan impiris memberikan kerangka pengujian dalam memastikan suatu kebenaran.
Dengan cara yang ilmiah itu, diharapkan data yang akan didapatkan adalah data yan obyektif, valid dan mendalam, obyektif berarti semua orang akan memberikan penafsiran yang sama, valid berarti adanya ketepatan antara data yang terkumpul oleh peneliti dengan data yang terjadi pada obyek yang sesungguhnya dan mendalam berarti mampu menguak apa di balik peristiwa yang ada dalam kehidupan yang alamiah.
2) Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif analisis dengan jenis penelitian kualitatif. Tujuannya Untuk mengetahui bagaimana pengelolaan pembelajaran kelas sehingga tercipta pembelajaran yang epektif dan mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul secara sepontan saat proses belajar mengajar berlangsung serta
untuk mengetahui unsur-unsur pokok yang harus ditemukan sesuai dengan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian.
Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif ini karena data yang didapat akan lebih lengkap, lebih mendalam, kredibel dan bermakna sehingga tujuan penelitian dapat dicapai. Penggunaan jenis penelitian kualitatif ini karena permasalahan yang ada lebih tepat dicarikan datanya dengan jenis penelitian kualitatif. Dengan jenis penelitian kualitatif ini seluruh permasalahan yang telah dirumuskan akan dapat terjawab. Dengan jenis penelitian ini dapat ditemukan data yang bersifat proses, perkembangan suatu kegiatan, deskripsi yang luas dan mendalam, perasaan, norma, keyakinan, dan sikap mental. Serta dengan jenis penelitian kualitatif ini fakta-fakta yang tidak tampak oleh indera tidak akan sulit terungkap sehingga diperoleh data yang lebih tuntas, pasti, dan memiliki kredibilitas yang tinggi.
Penelitian kualitatif adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha, memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya.18
3) Data Dan Sumber Data
Sumber data merupakan asal informasi yang diperoleh dalam kegiatan penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subjek dimana data diperoleh.19Ada dua jenis data yang diperoleh dari beberapa sumber data dalam penelitian ini yaitu:Data Primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti (atau petugas-petugasnya)
18Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung : CV. Alfabeta, 2013),h. 180
19Suharsimi Arikunto, Prosedur Peneitian: Suatu Pendekatan Praktis (Jakarta: PT Bima Karya, 2004), h. 172
dari sumber aslinya.20 Sedangkan data sekunder berbentuk data yang sudah jadi karena sudah dikumpulkan dan diolah oleh orang lain atau bisa berbentuk data yang terpublikasi.21Data semacam ini sudah dikumpulkan oleh pihak lainuntuk tujuan tertentu yang bukan demi keperluan riset yang sedang dilakukan oleh peneliti saat ini secara spesifik.Data sekunder ini digunakan sebagai data pendukung dari data primer. Adapun yang menjadi data sekunder dalam penelitian ini adalah data tentang latar belakang obyek penelitian, keadaan fasilitas kelas, tata tertib kelas, keadaan siswa dan guru, arsip-arsip dan evaluasi.
4) Metode Penentuan Subyek Penelitian
Peneliti menggunakan tekhnik purposive sampling artinya peneliti memilih subjek penelitian yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan masalah yang diteliti atau tujuan penelitian.
Subyek yang dijadikan informan dalam penelitian ini adalah:
a. Guru mata pelajaran PAI dan budi pekerti SMKN Kelautan Lembar Lombok Barat
b. Siswa SMKN Kelautan Lembar Lombok Barat.
Sumber data dalam penelitian ini berperan sebagai responden untuk memperoleh informasi di lokasi penelitian.
B. Metode Pengumpulan Data
Menurut Raharjo menyatakan bahwa pengumpulan data merupakan salah satu tahapan sangat penting dalam penelitian. Jika ingin mendapatkan data yang memiliki tingkat krediblitas tinggi, maka harus menggunakan tehnik pengeumpulan data yang benar. Oleh karena itu, tahap ini tidak boleh salah dan
20Muhammad, Metodologi Penelitian Ekonomi islam (Jakarta: PT RadjaGrafindo Persada, 2008), h. 103
21Ibid., h.102.
harus dilakukan dengan cermat sesuai prosedur dan ciri-ciri penelitian kualitatif.
22
Untuk menghindari kesalahan interpretasi maka pengumpulan data dilakukan dengan prinsif redundancy of data gathering yaitu data dikumpulkan dengan berbagai metode hingga mencapai titik jenuh.Artinya, data baru berhenti diexplore bila sudah tidak ada lagi bias-bias data atau data dinilai sudah cukup memadai.
Adapun metode dalam pengumpulan data sebagai berikut:
a. Observasi partisipatif
Metode observasi yang digunakan adalah observasi partisipan.Hal ini disebabkan karena peneliti langsung menjadi key instrument penelitian.Dalam observasi ini peneliti terlibat dengan kegiatan sehari–hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.23 Metode observasi partisipan merupakan langkah awal penelitian yang memusatkan perhatian pada berbagai ragam praktik dan aktivitas yang terpola dan terkait dengan persoalan yang dikaji, termasuk menyimak kata- kata atau ungkapan yang relevan dengan pandangan hidup mereka, terutama dari hasil merekam ungkapan sehari-hari yang merefleksikan jalan pemikiran, proposisi, teori, dalil sehari-hari mereka mengenai tugas atau kewajiban beserta tujuan hidup dan bagaimana seharusnya hidup itu dijalani.
Sehingga akan mengarah pada fokus penelitian dan atau dalam proses
22Mujdia Raharjo (2011) , Metode Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif)sumber:http://www.mudjiarahardjo.com/component/content/336.html?task=view, diambil pada tanggal 1 Maret 2018; 23.30
23Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, ( Bandung : CV. Alfabeta, 2013), h.64
pengembangan teori yang disesuaikan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.
b. Wawancara
Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.24 Tujuan melakukan wawancara ini peneliti bermaksud ingin mengetahui hal-hal yang lebih dalam tentang partisipan dalam proses interprestasi terhadap situasi dan fenomena yang terjadi,.Dengan wawancara ini peneliti juga dapat mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam.Dengan kata lain, data hasil observasi partisipan akan diperdalam secara komprehensif dengan kegiatan wawancara mendalam. Informasi tambahan juga akan digali dengan melakukan wawancara dengan informan tambahan atau pendukung agar data yang diperoleh benar-benar bisa dipercaya. Selain itu, wawancara mendalam dimaksud untuk memberikan
“tafsir” lanjutan terhadap data-data yang diperoleh melalui kegiatan observasi.Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara tersetruktur.
C. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.Bentuk dokumen yang dimaksud bisa tulisan, gambar,atau karya-karya monumental
24Ibid, h. 72
dari seseorang.Contohnya catatan harian, sejarah kehidupan, biografi atau peraturtan-peraturan atau sebuah kebijakan.25
Data dokumentasi dimaksudkan sebagai tujuan deskripsi tentang setting penelitian. Selain itu, peneliti juga melakukan dialog terkait dengan
data dokumen dengan key informan atau informan pendukung. Banyak informasi yang diperoleh dalam rangka memperkuat dalam menafsirkan hasil penelitian ini.
C. Analisis Data
Analisis data adalah proses penyusunan data agar dapat ditafsirkan untuk selanjutnya ditarik kesimpulan. Data yang terkumpul didalam penelitian iniakan dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan keadaan objek atau subjek peneliti, seorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta sebagaimana adanya proses penganalisaan data penelitian ini berpedoman kepada langkah-langkah analisis data penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh Milles dan Huberman (1984), yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
D. Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif suatu temuan data dikatakan valid jika peneliti melaporkan hasil penelitian yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian.26
Agar temuan atau data-data yang diperoleh menjadi lebih absah dan valid.
Berikut ini beberapa teknik pemeriksaan keabsahan data yang perlu dilakukan peneliti adalah sebagai berikut :
25Sugiyono,Memahami penelitian kualitatif, h.82
26 Sugiyono, Memahami Penelitian, h.119.
a. Meningkatkan Ketekunan
Melakukan pengamatan secara terinci, cermat, dan berkesinambungan berarti peneliti telah melakukan peningkatan ketekunan dalam penelitian.
Dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.27Peneliti menggunakan teknik ini untuk menetapkan keabsahan data temuan dengan memusatkan ketekunan pengamatan pada hal-hal yang menjadi fokus penelitian secara rinci dan mendalam, artinya bahwa dalam melakukan penelitian perhatian hanya kepada hal-hal yang menjadi fokus penelitian sehingga dalam melakukan penelitian tidak terjadi bias terhadap data penelitian yang dikumpulkan.
Peneliti meningkatkan ketekunan dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumen-dokumen yang terkait dengan temuan yang diteliti, sehingga dapat diperiksa data yang diperoleh benar atau dipercaya atau tidak. Sehingga dengan meningkatkan ketekunan pengamatan di lapangan maka derajat keabsahan data telah ditingkatkan pula.
b. Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Teknik triangulasi dalam penelitian ini menggunakan triangulasi teknik yaitu menguji keabsahan data dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.28 Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
27Ibid, h.124.
28Ibid., h. 127.
1) Membandingkan data hasil pengamatan atau observasi dengan data hasil wawancara.
2) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.29
c. Menggunakan Bahan Referensi
Yang dimaksud dengan bahan referensi disini adalah adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti.30 Baik referensi yang berasal dari orang lain maupun referensi yang diperoleh selama penelitian, seperti rekaman wawancara, foto-foto tentang interaksi yang terjadi di lapangan, dan adanya alat bantu perekam data seperti camera dan alat perekam suara.
29Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, h. 257.
30 Sugiyono, Memahami Penelitian, h. 128.
BAB IV
ANALISIS PENGELOLAAN KELAS PEMBELAJARAN PAI DAN BUDI PEKERTI BERBASIS MULTIMEDIA DI SMKN KELAUTAN LEMBAR
LOMBOK BARAT
A. Deskripsi Lokasi Penelitian
1. Letak Geografis
Adapun letak geografis SMK Negeri 1 Lembar dengan batasan–
batasaa sebagai berikut:
a. Sebelah utara : Rumah Penduduk b. Sebelah selatan : Polsek Lembar c. Sebelah barat : Tanah Persawahan
d. Sebelah timur : Jalan Raya Lembar Sekotong
Dengan memperhatikan lokasi SMK Negeri 1 Lembar ini merupakan tempat yang sangat strategis karena berada disebelah jalan raya. Akan tetapi dalam mengembangkan dan melakukan proses belajar mengajar yang lebih baik lagi masih perlu diadakan perkembangan terhadap lingkungan sekolah sehingga siswa akan lebih leluasa mengadakan berbagai macam kegiatan yang dapat menunjang mutu pendidikan serta mengembangkan dirisiswa SMK Negeri 1 Lembar.31
2. Keadaan Siswa
Pada proses belajar mengajar, siswa memiliki peranan yang sangat penting karena siswa merupakan tolak ukur berhasil atau tidaknya proses belajar mengajar. Oleh karena itu peran dan keberadaan siswa sangat mutlak diperlukan pada proses pembelajaran.
31 Observasi Tanggal 4 Februari 2018
Adapun keadaan siswa SMK Negeri 1 Lembar sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:
Tabel 2.1
Keadaan Siswa SMK Negeri 1 Lembar Tahun 2017/201832
N0 Kelas Program/Kompetensi Keahlian Jumlah Siswa Jumlah
Rombel
L P Jumlah
1 X
Nautika Kapal Penangkap Ikan 35 0 35 1
Teknika Kapal Penangkap Ikan 35 0 35 1
Nautika Kapal Niaga 33 5 38 1
Teknika Kapal Niaga 34 0 34 1
Agribisnis Perikanan Air Tawar 6 12 18 1
Agribisnis Perikanan Air Laut 12 5 17 1
Jumlah 155 22 177 6
2 XI
Nautika Kapal Penangkap Ikan 51 0 51 2
Teknika Kapal Penangkap Ikan 16 0 16 1
Nautika Kapal Niaga 33 9 42 2
Agribisnis Perikanan Air Tawar 5 22 27 1
Teknik Kendaraan Ringan Otomotif 5 0 5 1
Jumlah 110 31 141 7
3 XII
Nautika Kapal Penangkap Ikan 44 0 44 2
Nautika Kapal Niaga 63 10 73 3
Agribisnis Perikanan Air Tawar 4 12 16 1
Teknik Kendaraan Ringan Otomotif 12 0 12 1
Jumlah 123 22 145 7
Jumlah Keseluruhan ( 1+2+3 ) 388 75 463 20
32 Dokumentasi Tata Usaha Daftar Keadaan Siswa SMKN 1 Lembar Periode 2017/2018, tanggal, 10 Juli 2018
Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X, yaitu berjumlah 18 orang sebagaimana yang tercantum dalam tabel di bawah ini:
Tabel 2.2
Keadaan siswa yang menjadi sampel penelitian
No Nama Kelas Keterangan
1 Aditya Peranando Putra X Agribisnis Perikanan Air Tawar 2 Ahmad Efendi X Agribisnis Perikanan Air Tawar 3 Ahmad Hamzani X Agribisnis Perikanan Air Tawar 4 Ahmad Lukman Hadi X Agribisnis Perikanan Air Tawar 5 Ahmad Muzayyin Sobri X Agribisnis Perikanan Air Tawar 6 Bayu Erley Agasa X Agribisnis Perikanan Air Tawar 7 Diyarta Jabani X Agribisnis Perikanan Air Tawar 8 Eka Pratama X Agribisnis Perikanan Air Tawar 9 Hairul Firmansyah X Agribisnis Perikanan Air Tawar 10 Hendra Januhardi X Agribisnis Perikanan Air Tawar 11 I Made Budi Darma
Laksana Y
X Agribisnis Perikanan Air Tawar
12 Imam Sobari X Agribisnis Perikanan Air Tawar 13 Novia Rahayu X Agribisnis Perikanan Air Tawar 14 Martha Fitriani X Agribisnis Perikanan Air Tawar 15 Sahdatul Aini X Agribisnis Perikanan Air Tawar 16 Lalu Alung Tentang
Anggara
X Agribisnis Perikanan Air Tawar
17 Muhammad Taufiq H X Agribisnis Perikanan Air Tawar 18 Widi Astrawan X Agribisnis Perikanan Air Tawar
Jumlah 18 Orang
3. Keadaan Guru
Guru merupakan orang yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Guru berkewajiban membimbing, menyajikan, mengawasi dan menjelaskan meteri pelajaran, guru juga mengarahkan kepada siswa kearah pencapaian tujuan pengajaran yang telah dirancang. Dalam hal ini dibutuhkan guru yang memiliki kemampuan dan profesionalisme dalam menjalankan tugasnya. Maka guru merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan.
Adapun keadaan guru SMK Negeri 1 Lembar dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.3
Data keadaan guru SMKN 1 Lembar Tahahun 2017/201833
NO NAMA NIP/STATUS TEMPAT/TANGGAL
LAHIR PANGKAT
1 Ir. I Gusti Nyoman Jaya Persada, S.Ag
NIP.19581226 199012 1 001 PNS
Mataram, 26 Desember
1958 Guru pertama
2 Tasman, S.Pi,MP NIP.19741231
200604 1 077 PNS Lombok Tengah, 1974 Guru pertama
3 Muhammad Saleh Efendi, S.Pd.,M.Si
NIP.19810916 201001 1 017 PNS
Dasan Geres, 11 April
1977 Guru pertama
4 Siti Zakiah, S.Pi NIP.19751108 200701 2 012 PNS
Batu Keliang, 08
Nopember 1975 Guru pertama
5 Zaenudin, S.Pd.,M.Pd PNS.19711231
200501 1 043 PNS Dasan Tapen, 1971 Guru pertama
6 I Gusti Ayu Suartini Gayatri, S.Pd.,M.Pd
NIP.19681231 200604 2 170 PNS
Mataram, 31 Desember
1968 Guru pertama
7 Slamet, S.Pi,. M.Eng NIP.19661231 200604 1 008 NIP
Klaten, 13 Desember
1966 Guru pertama
33 Dokumentasi Tata Usaha Daftar Keadaan Guru SMKN 1 LembarPeriode 2017/2018, tanggal, 10 Juli 2018