• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

i

(2)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

Peredaran dan penyalahgunaan narkoba merupakan suatu yang dipandang serius oleh pemerintahan. Maraknya penyalahgunaan narkoba menjadikan pemerintah memunculkan status siaga darurat narkoba. Masalah merebaknya penyalahgunaan narkoba di Indonesia semakin lama semakin meningkat, hal ini dapat dilihat dari banyak berita tentang artis maupun orang- orang yang menyalahgunakan narkoba ditangkap, selain itu juga dapat dilihat banyaknya pemberitaan tentang pesta narkoba, jual beli narkoba dan juga peredaran narkoba di lapas. Korban penyalahgunaan narkoba di Indonesia tidak hanya terbatas pada orang yang berasal dari kota tetapi juga menyebar ke desa dan penyalahguna narkoba ini tidak hanya dari golongan orang yang mampu tetapi juga pada masyarakat dengan ekonomi rendah. Permasalahan narkoba merupakan permasalahan yang harus ditangani dengan sungguh- sungguh karena menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi orang yang mengkomsumsi, orang yang mengedarkan narkoba, dan juga orang lain yang ada disekitar orang yang menyalahgunakan narkoba.

Pemakaian narkoba yang disalahgunakan berdampak pada meningkatnya jumlah pecandu narkoba, hal ini terjadi apabila seseorang yang menggunakan narkoba yang lama kelamaan akan mengalami yang namanya toleransi, yaitu suatu kondisi dimana seorang penyalahguna meningkat dosis pemakaian obat untuk mendapatkan efek yang sama, hal inilah yang menyebabkan seseorang jadi pecandu. Ketergantungan yang dialami pecandu narkoba sulit untuk dihentikan dan membutuhkan waktu yang lama (Mulkiyan,2017: 278)

Dampak yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkoba tidak hanya pada diri individu yang mengkomsumsi narkoba namun juga berdampak buruk pada orang lain. Dalam lingkungan keluarga biasanya orang yang

(3)

mengkomsumsi narkoba akan mudah berbohong kepada orangtuanya, mencuri uang orangtua dan kadang-kadang melakukan kekerasan apabila keinginannya tidak terpenuhi. Dalam lingkungan masyarakat, penyalahaguna yang sudah ketergantungan akan melakukan segala cara untuk mendapatkan zat yang biasa dikomsumsinya, apabila penyalahguna tidak mendapatkan uang dari keluarga maka ia kan berusaha mendapatkan uang dengan cara mencuri atau menipu orang lain. Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang timbul akibat penyalahgunaan narkoba maka diperlukan upaya untuk terlepas dari ketergantungan narkoba. Upaya untuk terlepas dari narkoba tidak hanya perlu dukungan dari luar seperti dari keluarga dan melaksanakan rehabilitasi namun juga perlu faktor dari dalam diri individu itu sendiri salah satunya adalah self efficacy.

Menurut Bandura dalam Ghufron dan Risnawita (2016: 75) “self efficacy adalah suatu keyakinan yang ada dalam diri individu untuk menyelesaikan tugas dan tantangan yang dihadapinya supaya mencapai hasil yang di ingin oleh individu tersebut”. Seseorang yang memiliki self efficacy yang tinggi akan mampu melakukan sesuatu untuk mengubah kejadian- kejadian tertentu. Sedangkan orang dengan self efficacy yang rendah akan beranggapan bahwa ia tidak akan mampu menyelesaikan sesuatu. Biasanya orang yang memiliki self efficacy yang rendah akan mudah menyerah dan orang yang memiliki self efficacy yang tinggi akan terus berusaha mengatasi dan menyelesaikan tantangan yang ada.

Self efficacy merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang untuk terlepas dari ketergantungan narkoba. Dalam proses pemulihan dari ketergantungan narkoba seseorang dengan self efficacy yang tinggi akan yakin dengan kemampuannya bahwa ia bisa pulih dari ketergantungan narkoba, individu tersebut akan berusaha agar dia lepas dari ketergantungan narkoba dan akan melakukan berbagai tantangan untuk terlepas dari narkoba. Seorang penyalahguna narkoba dengan self efficacy yang rendah cenderung mudah

(4)

menyerah dalam usahanya untuk terlepas dari narkoba, tidak yakin dengan kemampuan yang dimilikinya dan selalu berusaha menghindar ketika diberikan tantangan. Seseorang dengan self efficacy yang rendah dia tidak akan berusaha untuk terlepas dari ketergantugan narkoba, orang tersebut tidak berusaha menghindar dari hal-hal yang menyebabkan dia terjerumus pada narkoba dan juga tidak akan berusaha untuk pulih dari ketergantungan narkoba. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan self efficacy pecandu yang sedang dalam masa pemulihan dri ketergantungan di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok, terutama keyakinan dalam diri individu tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan dan tugas yang diberikan pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok dan mencapai tujuan pada proses pemulihan.

Berdasarkan hasil wawancara awal yang peneliti lakukan di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok pada tanggal 26 Oktober - 6 November 2020 terhadap 3 orang pecandu narkoba ditemukan bahwa pecandu pertama dengan inisial RK menggunakan narkoba dimulai pada tahun 2018, RK menggunakan narkoba karena ajakan dari teman-temannya. Zat yang dikomsumsi oleh RK adalah ganja dan menurut RK ketika dia mengkomsumsi narkoba RK akan merasa tenang. Alasan RK kembali menggunakan narkoba adalah karena bosan dan tidak ada kegiatan. Pecandu kedua dengan inisial RDS menggunakan narkoba pada tahun 2018, RDS menggunakan narkoba dengan alasan tertarik ingin mencoba bagaimana rasa narkoba. Zat yang dikomsumsi RDS adalah ganja dan menurut RDS ketika dia mengkomsumsi ganja RDS akan merasa tenang dan permasalahannya hilang. Alasan RDS kembali menggunakan narkoba adalah karena tidak bisa menolak ajakan teman-temannya untuk kembali mengkomsumsi narkoba. Pecandu ketiga dengan inisial RMP yang menggunakan narkoba pada tahun 2018, RMP mengkomsumsi narkoba karena adanya ajakan dari teman-temannya. Zat yang dikomsumsi RMP adalah ganja dan menurut RMP ketika dia mengkomsumsi

(5)

ganja RMP akan merasa tenang dan semua beban pikirannya akan hilang.

Alasan RMP kembali menggunakan narkoba karena bosan dan tidak ada kegiatan.

Berdasarkan wawancara diatas peneliti menyimpulkan bahwa masih banyak pecandu narkoba yang kembali menggunakan narkoba ketika mereka sudah berada pada tahap pascarehabilitasi yang artinya tahap terakhir pecandu dalam proses pemulihan di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok, mereka sudah menjalani program rehabilitasi baik secara medis maupun secara sosial. Pada tahap pascarehabilitasi ini seharusnya mereka sudah terbebas dari ketergantungan narkoba dan sudah mengerti bagaimana cara mereka menjauhkan diri dari hal-hal yang menyebabkan mereka relaps atau kembali menggunakan narkoba seperti sebelumnya. Pada tahap ini mereka dibimbing untuk mengetahui minat dan bakat mereka serta untuk mengembalikan keberfungsian sosial seorang pecandu narkoba, namun pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok masih banyak yang kembali mengkomsumsi narkoba.

Pecandu narkoba yang sedang melakukan program pascarehabilitasi di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok umumnya adalah remaja yang berusia 17-22 tahun dan zat narkoba yang dikomsumsi oleh ketiga pecandu yang peneliti teliti adalah ganja, selain itu antara satu pecandu dengan pecandu lainnya merupakan teman dan berasal dari lingkungan tempat tinggal yang sama. ketiga pecandu yang peneliti berasal dari daerah Selayo Kabupaten Solok dan dalam wawancara yang peneliti lakukan dengan pecandu diperoleh informasi bahwa penyebab pecandu terjerumus kedalam narkoba adalah karena mengikuti ajakan teman-temannya. Lingkungan tempat mereka tinggal merupakan lingkungan yang rawan narkoba atau banyak orang-orang yang menggunakan narkoba.

Berdasarkan dari latar belakang di atas maka peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian yang mendalam mengenai permasalahan tersebut

(6)

yang akan peneliti tuangkan dalam sebuah karya ilmiah dengan judul: “Self Efficacy Pecandu Narkoba Di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok”.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang peneliti paparkan di atas, maka yang menjadi fokus masalah adalah “Self Efficacy Pecandu Narkoba Di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok”

C. Sub Fokus Penelitian

Untuk lebih menfokuskan penelitian ini dan untuk mencapai sasaran maka peneliti membatasi masalah yang akan diteliti yaitu mendeskripsikan self efficacy pecandu narkoba berdasarkan aspek-aspek dari self efficacy di BNN Kabupaten Solok. Aspek-aspek yang dimaksud adalah:

1. Mendeskripsikan tingkat kesulitan tugas pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok

2. Mendeskripsikan kekuatan pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok

3. Mendeskripsikan generalisasi pecandu narkoba di badan narkotika nasional (BNN) kabupaten solok

D. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana kesulitan tugas pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok?

2. Bagaimana kekuatan pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok?

3. Bagaimana generalisasi pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok?

E. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui kesulitan tugas pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok

(7)

2. Untuk mengetahui kekuatan pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok

3. Untuk mengetahui generalisasi pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok

F. Manfaat Dan Luaran Penelitian 1. Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan terutama di bidang psikologi, serta dapat memberikan gambaran mengenai Bagaimana self efficacy pecandu narkoba di BNNK Solok.

b. Manfaat Praktis

1) Bagi peneliti sebagai bentuk aplikasi keilmuwan peneliti, khususnya dibidang psikologi dan sebagai media untuk mengeksplorasi keilmuwan psikologi agar bermanfaat dimasa yang akan datang. serta mampu menemukan bagaimana self efficacy pada pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok.

2) Bagi masayarakat, diharapkan dengan adanya penelitian ini masyarakat akan tahu bagaimana peran serta masyarakat dalam menghadapi narkoba sehingga terhindar dari narkoba.

3) Bagi penyalahguna narkoba, penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan tentang bagaimana self efficacy pecandu narkoba tersebut.

4) Bagi lembaga penyelenggara program rehabilitasi, diharapkan penelitian ini bisa memberi gambaran tentang self efficacy pecandu narkoba.

(8)

2. Luaran Penelitian

Adapun luaran penelitian ini adalah penulis berharap skripsi ini dapat dimuat dijurnal ilmiah dan menambah khazanah ilmiah di perpustakaan IAIN Batusangkar.

G. Defenisi Istilah

Untuk mencegah kesalahpahaman dalam memahami penelitian ini maka peneliti akan menjelaskan maksud dari judul yang peneliti angkat yaitu sebagai berikut :

Menurut Bandura dalam Ghufron dan Risnawita (2016: 75) Menyatakan bahwa “self efficacy adalah keyakinan yang ada dalam diri individu dalam menghadapi dan mengatasi berbagai situasi didalam hidupnya.

Dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai, seseorang memerlukan keyakinan dan usaha agar tujuannya bisa tercapai sesuai dengan yang harapkan”. Self efficacy yang peneliti maksud adalah keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya dalam menghadapi dan menyelesaikan tugas serta tantangan sehingga individu tersebut mendapatkan hasil yang diinginkan.

Dalam penelitian ini yang akan peneliti teliti adalah self efficacy pecandu narkoba berdasarkan aspek-aspek dari self efficacy. Aspek-aspek yang dimaksud adalah tingkat kesulitan tugas, kekuatan, dan generalisasi.

Pecandu narkoba adalah seorang penyalahguna narkoba yang telah mengalami ketergantungan terhadap satu atau lebih zat narotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya, baik secara fisik maupun psikis. Pecandu yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tiga orang pecandu narkoba yang sedang menjalani program pascarehabilitasi di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok.

(9)

8 BAB II KAJIAN TEORI A. Landasan Teori

1. Self efficacy

a. Pengertian Self efficacy

Self efficacy merupakan salah satu kemampuan pengaturan diri individu. Self efficacy berhubungan dengan keyakinan diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan. Self efficacy adalah ekspektasi keyakinan (harapan) tentang seberapa jauh seseorang mampu melakukan satu perilaku dalam suatu situasi tertentu. Tanpa self efficacy orang akan enggan mencoba melakukan sesuatu.

Menurut Bandura dalam Ghufron dan Risnawita (2016: 75) menyatakan “self efficacy adalah hasil dari proses kognitif berupa keputusan keyakinan atau pengharapan tentang sejauh mana individu memperkirakan kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas atau tindakan tertentu yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan”.

Menurut Baron dan Byrne dalam Ghufron dan Risnawita (2016:74) “self efficacy sebagai bentuk evaluasi seseorang akan kemampuannya atau kompetensi dirinya dalam melakukan tugas- tugas, mencapai tujuan yang hendak dicapai dan mengatasi permasalahan yang dihadapi”. Seseorang yang memiliki self efficacy yang tinggi akan mampu melakukan sesuatu untuk mengubah kejadian-kejadian disekitarnya. Seseorang yang memiliki self efficacy yang rendah menganggap dirinya tidak mampu mengerjakan sesuatu yang ada disekitarnya. Dalam situasi yang sulit, seseorang dengan self efficacy yang rendah cenderung akan menyerah, sedangkan orang

(10)

dengan self efficacy yang tinggi akan berusaha keras untuk mengatasi tantangan yang ada.

Orang yang memiliki self efficacy yang tinggi akan benganggap bahwa kegagalan merupakan suatu akibat dari kurangnya usaha serta pengetahuannya tentang hal tersebut dan orang dengan self efficacy yang tinggi akan menganggap bahwa sebuah kegagalan merupakan sebuah tantangan yang harus ia selesaikan dan bagi orang dengan self efficacy yang tinggi tantangan merupakan suatu hal yang menyenangkan dan harus mereka taklukkan. Sebaliknya, orang dengan self efficacy yang rendah akan akan menghindar dari berbagai tantangan dan ketika dihadapkan pada sebuah kegagalan maka orang tersebut akan menyerah, biasanya orang dengan self efficacy yang rendah ketika dihadapkan pada sebuah tantangan yang menurut mereka sulit maka mereka akan sibuk memikirkan kekurangan- kekurangan yang ada dalam dirinya. Orang dengan self efficacy yang rendah selalu merasa tidak yakin akan kemampuan dalam dirinya, mudah menyerah dalam menghadapi sebuah tantangan, serta lebih suka mengerjakan Sesuatu yang biasa dikerjakan dibanding menghadapi sebuah tantangan yang baru.

Self efficacy merupakan penentu bagi seseorang dalam berpikir, berperilaku dan juga bagaimana orang tersebut memotivasi dirinya. Seseorang dengan self efficacy yang tinggi akan mampu menyelesaikan tantangan-tantangan yang ada dan mampu menghadapi berbagai hambatan dalam menyelesaikan tantangan tersebut. Orang dengan self efficacy yang tinggi menganggap hambatan adalah sesuatu yang harus mereka selesaikan dan bukan hal yang harus dihindari.

Sebaliknya, orang dengan self efficacy yang rendah akan menganggap hambatan dalam menyelesaikan tantangan sebuah hal yang harus dihindari dan hambatan adalah ancaman bagi dirinya. Orang dengan

(11)

self efficacy yang rendah juga memiliki komitmen yang rendah dalam menghadapi tantangan dan mencapai tujuan yang diinginkan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa self efficacy adalah keyakinan seseorang dalam mengatasi beragam situasi yang ada dihidupnya. Dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai, seseorang memerlukan keyakinan dan usaha agar tujuannya bisa tercapai sesuai dengan yang harapkan. Self efficacy secara umum tidak berkaitan dengan kecakapan yang dimiliki seseorang, namun berkaitan dengan keyakinan seseorang mengenai hal yang dapat dilakukan dengan kecakapan yang ia miliki seberapapun besarnya.

b. Aspek-aspek self efficacy

Menurut Bandura (dalam Ghufron dan Risnawita, 2016: 80) “self efficacy dalam diri setiap orang berbeda berdasarkan tiga dimensi.

Berikut adalah tiga dimensi tersebut”.

1) Dimensi tingkat kesulitan (Mognitude/level)

Dimensi ini berkaitan dengan derajat kesulitan tugas dimana individu tersebut merasa bahwa dia mampu melakukan dan menyelesaikan tugas atau tantangan yang ada. Dimensi ini memiliki implikasi terhadap pemilihan tingkah laku yang akan dicoba atau dihindari. seseorang akan mencoba suatu tugas atau tantangan apabila dia merasa mampu untu menyelsaiannya dan menghindari tugas atau tantangan apabila dia merasa tidak mampu untuk menyelesaiannya.

Dimensi ini berkaitan dengan tingkat kesulitan yang diyakini oleh seseorang bahwa dia mampu untuk menyelesaikannya. Contohnya dalam menghadapi sebuah permasalahan setiap orang akan memandang tugas tersebut berbeda, ada yang menganggap tugas tersebut mudah atau

(12)

sedang untuk diselesaikan dan ada yang menganggap bahwa tugas tersebut susah untuk diselesaikan.

2) Dimensi kekuatan (Strenght)

Dimensi ini berkaitan dengan tingkat kekuatan dan keyakinan atau pengharapan seseorang mengenai kemampuannya. pengharapan dalam diri individu yang rendah akan mudah dirubah oleh pegalaman-pengalaman yang buruk atau tidak menyenangkan. Begitu juga sebaliknya, pengharapan yang tinggi dalam diri individu akan membuat individu tersebut tetap bertahan dalam usahanya. Dimensi ini berkaitan dengan dimensi level, yaitu semakin tinggi taraf kesulitan maka semakin lemah keyakinan yang dirasakan untuk menyelesaikan kesulitan tersebut.

orang dengan self efficacy yang tinggi pada aspek ini akan mampu menghadapi atau menyelesaikan tantangan yang ada walaupun mengalami kegagalan atau pengalaman- pengalaman yang kurang menyenangkan, bagi orang dengan self efficacy yang tinggi kegagalan dan pengalaman- pengalaman kurang menyenang merupakan sebuah tantangan yang harus mereka selesaikan dan tidak akan menyerah dalam menghadapi tantangan tersebut. sebaliknya orang dengan self efficacy yang rendah akan mudah digoyangkan dengan pengalaman-pengalam yang kurang menyenangkan dan mereka lebih memilih menyerah dan menghindar dari tantangan tersebut.

3) Dimensi generalisasi (Generalitaty)

Aspek generalisasi ini adalah sejauh mana individu yakin dengan kemampuan dalam dirinya. Kemampuan individu tersebut apakah hanya terbatas pada satu aktivitas atau situasi

(13)

saja atau mampu mengatasi beragam situasi ataupun aktivitas yang bervariasi. Orang dengan self efficacy yang tinggi akan mampu menguasai beberapa bidang dalam menyelesaikan tantangan yang dihadapinya, begitu juga sebaliknya orang dengan self efficacy yang rendah hanya mampu menguasai satu bidang dalam menyelesaikan tantangan yang dihadapinya.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi self efficacy

Menurut Bandura (Oktariana, 2018: 44) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi self efficacy individu yaitu:

1) Sifat tugas yang dihadapi. Semakin sulit tugas yang dimiliki oleh individu maka semakin besar juga keraguan individu tersebut terhadap kemampuann. Begitu juga Sebaliknya apabila individu diberikan atau menghadapi tugas yang sederhana dan mudah, maka individu tersebut akan semakin yakin dengan kemampuannya.

2) Insentif eksternal. Keberhasilan seseorang dalam melakukan tugas atau tantangan karena adanya insentif seperti hadiah (reward) dari orang lain akan meningkatkan efikasi diri individu tersebut. Jika insentif yang diberikan oleh seseorang menarik maka akan meningkatkan motivasi individu untuk menyelesaikan tantangan yang ada, misalnya memberi pujian, status sosial, atau materi.

3) Status individu dalam lingkungan. Seseorang yang memiliki status sosial yang rendah akan cenderung memiliki self efficacy yang rendah, begitu juga dengan orang yang memiliki status sosial yang tinggi kan membuat self efficacy individu tersebut tinggi. Orang dengan status sosial yang tinggi akan membuat dirinya memperoleh pengharapan yang lebih dari orang-orang

(14)

yang menghormatinya, sehingga berpengaruh pada self efficacy individu tersebut

4) Informasi tentang kemampuan diri. Apabila seorang individu mendapatkan informasi yang baik tentang dirinya, maka akan membuat self efficacynya meningkat. Demikian pula jia seseorang mendapatkan informasi yang negatif tentang dirinya akan membuat self efficacy orang tersebut menurun.

d. Sumber-sumber self efficacy

Menurut Alwisol (2009: 288-289) terdapat empat sumber self efficacy, sumber-sumber self efficacy sebagai berikut:

1) Pengalaman performansi

Pengalaman performansi adalah pengalaman positif tentang prestasi individu tersebut dimasa lalu akan menjadi pengubah self efficacy yang paling besar pengaruhnya, prestasi yang bagus akan meningkatkan self efficacy, sedangkan kegagalan akan menurunkan self efficacy dan keberhasilan akan memberi dampak yang berbeda-beda, tergantung pada proses pencapaiannya:

a) Apabila seseorang berhasil mengerjakan tugas yang sulit dan dia berhasil mengerjakannya maka akan meningkatkan self efficacy orang tersebut.

b) Mengerjaan tugas yang dimilikinya sendiri akan meningkat self efficacy individu tersebut dibandingkan kerja dengan kelompok atau dibantu oleh orang lain c) Kegagalan menurunkan self efficacy jika orang merasa

sudah berusaha sebaik mungkin

d) Kegagalan dalam suasana emosional, dampaknya tidak buruk jika kondisi optimal

(15)

e) Kegagalan sesudah orang memiliki self efficacy yang kuat, dampaknya tidak buruk, jika kegagalan itu terjadi pada orang yang self efficacynya belum kuat

2) Pengalaman vikarius

Pengalaman vikarius ini didapatkan dari pengamatan seseorang terhadap orang lain yang menurut individu tersebut memiliki kemampuan yang sama dengannya, apabila orang yang diamati individu tersebut berhasil maka akan meningkatkan self efficacy individu tersebut begitu juga dengan individu yang mengamati orang lain dan orang tersebut gagal, hal ini dapat menurunkan self efficacy indvidu tersebut. Apabila orang yang diamati oleh indvidu tersebut berbeda dalam hal kemampuan dengannya maka pengaruh kegagalan atau keberhasilan orang yang diamatinya tersebut tidak terlalu besar dan sebaliknya apabila orang yang diamati individu tersebut memiliki kemampuan yang sama dengannya maka akkan berpengaruh besar pada self efficacynya, bisa jadi individu tersebut tidak mau mengerjakan tugas yang sama dengan orang yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama.

3) Persuasi sosial

Self efficacy juga dapat diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalui persuasi sosial . Dampak dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dan sifat realistik dari apa yang sedang dipersuasikan.

4) Keadaan emosi

Individu yang melakukan suatu tugas atau tantangan yang dibarengi dengan keadaan emosi akan berpengaruh pada self efficacy individu tersebut. Emosi seperti cemas atau takut akan mengurangi self efficacy individu tersebut namun jika emosi

(16)

individu tersebut tidak berlebihan maka tidak akan mempengaruhi self efficacynya.

Bandura (dalam Ghufron dan Risnawita, 2016: 78-79) menjelaskan terdapat empat sumber self efficacy yaitu:

1) Pengalaman keberhasilan (mastery experience)

Pengalaman keberhasilan ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap self efficacy seseorang, hal ini berhubungan dengan pengalaman kegagalan atupun keberhasilan seseorang dimasa lalu. Apabila individu tersebut mengalami keberhasilan dimasa lalu maka akan meningkatkan self efficacynya, demikian juga dengan individu yang mengalami kegagalan dimasa lalu maka akan akanmembuat self efficacynya rendah juga.

2) Pengalaman orang lain (vicarious experience)

Individu yang melihat orang lain berhasil dalam melakukan aktifitas yang sama dan memiliki kemampuan yang sebanding dapat meningkatkan self efficacynya, sebaliknya jika orang lain dilihat gagal maka self efficacy individu tersebut menurun.

3) Persuasi verbal (verbal persuation)

Individu yang mendapatkan informasi secara verbal dari seseorang yang berpengaruh bagi dirinya akan meningkatkan keyakinan dalam diri individu tersebut, hal ini dapat meningkatkan keyakinan individu tersebut bahwa kemampuan yang dimilikinya akan membuatnya mampu untuk mencapai keinginannya.

4) Kondisi fisiologis (physiological state)

Individu yang sedang mengalami kondisi fisik maupun psikis yang tidak baik, seperti sakit, lelah, stress dan lainnya akan mempengaruhi self efficacy indvidu tersebut seperti akan kemampuannya dalam menghadapi tugas. Apabila seseorang

(17)

dalam keadaan yang negatif seperti kurang sehat, stress, cemas berlebihan, lelah dan lainnya maka akan mengurangi self efficacy individu tersebut dan begiu juga sebaliknya apabila seseorang dalam kondisi tubuh yang prima maka akan baik untuk self efficacynya.

e. Proses penerimaan self efficacy

Bandura dan Leong, F.T.L (dalam Setiawan, 2018: 30-32) menjelaskan tentang keyakinan self efficacy mengatur fungsi manusia melalui empat proses utama yaitu: kognitif, afektif, motivasi, selektif.

Berikut beberapa penjelasan bagaimana self efficacy mampu mempengaruhi seseorang:

a) Cognitive Processes (proses kognitif)

Menurut beberapa ahli psikologis pengaruh self efficacy dalam proses kognitif dapat memalui beberapa cara. Banyak periralu manusia yang diatur melalui pemikiran sebelumnya dalam mewujudkan berbagai tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya. Tujuan individu dipengaruhi oleh penilaian terhadap dirinya dalam kemampuannya. Semakin tinggi self efficacy seseorang maka semakin tinggi pula tujuan yang ditetapkan untuk dirinya.

b) Motivational Processes (proses motivasi)

Keyakinan yang dimiliki oleh seseorang berperan penting pada motivasi diri individu tersebut. Sebagian besar motivasi dalam diri individu dihasilkan dari proses berpikir kognitif. Dalam menetapkan keyakinan, dan merencanakannya serta merealisasikan apa tindakan yang akan dilakukannya individu akan berusaha memotivasi dirinya. Self efficacy mempengaruhi indvidu untuk bangkit dari keterpurukan, hal ini terjadi karena ketika self efficacy yang dimiliki individu tinggi

(18)

maka akan tinggi pula motivasi seseorang untuk bangkit dari keterpurukan yang dialaminya.

c) Affective Processes (proses afektif)

Proses afektif yang dimaksud disini yaitu mencakup semua perasaan atau tanggapan, keyakinan, perilaku, emosi, pengetahuan dan lainnya. Afektif ini berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki individu mengatasi emosinya selain itu juga keyakinan idvidu terhadap kemampuan dirinya dalam mengatasi permasalahan yang mempengaruhi pemikiran indvidu tersebut seperti stress atau depresi.

d) Selection Processes (proses seleksi)

Penelitian sampai sekarang hanya berfokus pada proses pembentukan self efficacy yang membuat seseorang menciptakan lingkungan yang mendukung dirinya dalam mencapai tujuan dan indvidu merupakan bagian dari lingkungan tersebut. Dalam proses ini dijelaskan bahwa keyakinan individu dipengaruhi oleh kegiatan dan lingkungan sekitarnya. biasanya indvidu akan menolak kegiatan atau aktivitas yang menurutnya melebihi batas kemampuan, ketertarikannya dan juga jaringan sosial yang dimilikinya.

f. Jenis-jenis self efficacy

Menurut Andi setiawan (2018, 2) terdapat dua jenis self efficacy, yaitu:

1) Self efficacy yang tinggi

Seseorang yang memiliki self efficacy yang adalah seseorang yang yakin bahwa dirinya mampu untuk menyelesaikan sesuatu yang ingin dicapai atau diharapkannya. Orang yang memiliki self efficacy yang tinggi akan memandang tugas yang dihadapinya sebagai suatu tantangan yang harus dikuasainya dan memiliki komitmen yang tinggi.

(19)

2) Self efficacy yang rendah

Self efficacy seseorang dikatakan rendah ketika orang tersebut merasa tidak yakin dengan kemampuannya dalam mengahadapi tugas-tugas atau tantangan yang ada. Orang yang memiliki self efficacy yang rendah cenderung akan menghindar dari tugas-tugas atau tantangan yang dihadapinya.

g. Peranan self efficacy

Menurut Bandura (Lianto, 2019: 59) “self efficacy individu yang terbentuk cenderung tidak mudah untuk berubah dan akan menetap.

Kekuatan self efficacy akan menjadi penentu perilaku”. Dibawah ini dijelaskan peranan-peranan dari terciptanya self efficacy.

1) Menentukan pemilihan perilaku, seseorang cenderung memilih mengerjkan tugas yang menurutnya ia memiliki kemampuan lebih untuk menyelesaikannya. Hal ini membuktikan bahwa self efficacy menjadi suatu pemicu munculnya perilaku.

2) Menentukan seberapa besar usaha dan perjuangan individu dalam mengatasi hambatan yang dimilikinya, dengan adanya self efficacy yang tinggi dalam diri individu akan membuat individu tersebut kuat dan tabah dalam menghadapi tantangan dan juga menurunkan kecemasan yang ada dalam dirinya.

3) Menentukan cara pikir dan reaksi emosional, seseorang akan yakin akan kemampuannya dalam menghadapi tantangan dan menganggap tantangan tersebut merupakan suatu hal yang menarik untuk dipecahkan dan memiliki pemikiran yang terbuka adalah orang dengan self efficacy yang tinggi.

Demikian juga sebaliknya orang dengan self efficacy yag rendah akan berpikir bahwa dia tidak akan mampu untuk menyelesaikan tantangan yang ada cenderung mudah menyerah, pesimis dan mudah putus asa.

(20)

4) Prediksi perilaku yang akan muncul, biasanya orang yang memiliki self efficacy yang tinggi akan tertarik dalam aktivitas berorganisasi, kreatif, berpikiran terbuka dan yakin akan dirinya dalam menghadapi tantangan yang ada. sebaliknya orang dengan self efficacy yang rendah cenderung kurang bisa diajak kerjasama dalam tim, tidak percaya diri dengan kemampuannya dan juga tertutup.

2. Narkoba

a. Pengertian Narkoba

Menurut Martono & Joewana (2006: 5) “Narkoba merupakan zat atau obat-obat yang berasal dari tanaman atau buka tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang mengganggu sistem saraf pusat pada otak manusia yang membuat orang tersebut hilang kesadaran, konsentrasi, perasaan, persepsi, dan dapat menyebabkan ketergantungan pada orang yang mengkomsumsinya, selain itu juga mengganggu organ-orang vital tubuh manusia seperti jantung, paru- paru, hati dan lainnya”. Narkoba adalah obat-obatan atau zat-zat tertentu jika diminum, dihisap, dihirup maupun disuntikkan akan berpengaruh pada saraf pusat manusia yang berakibat pada kerja otak manusia (menurun dan meningkat).

Narkoba akan masuk kelambung dan ke pembuluh darah jika ditelan, jika dihisap atau dihirup akan masuk ke pembuluh darah melalui saluran hidung dan paru-paru. dan akan lansung masuk kealiran darah jika disuntikkan dan darah akan membawa zat narkoba yang dikomsumsi tersebut ke otak. Ada beberapa jenis narkoba alami yang digunakan sebagai obat namun banyak disalahgunakan seperti ganja, kokain, dan opium dan juga berpontensi menyebabkan ketergantungan pada orang yang mengkomsumsinya.

(21)

Sebagian zat narkoba dapat digunakan sebagai bahan pengobatan namun karena berpotensi menyebabkan ketergantungan pemakaian zatnya sangat terbatas dan harus berhati-hati dalam memberikan obat ini, selain itu bagi orang yang mengkomsumsi harus mengikuti resep dan petunjuk dokter. zata yang bisa digunakan sebagai bahan pengobatan seperti morfin dan petidin yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit pada penderita kanker, amfetamin untuk mengurangi nafsu makan, dan berbagai jenis pil untuk obat penenang dan obat tidur.

Akibat dari narkoba yang menimbulkan ketergantungan, penyalahgunaan pemakaian dan juga pengedaran illegal makan dibuat UU yang mengatur tetang narkoba yairu Undang-Undang nomor 22 tahun 1997 tentang narkotika, Undang-Undang nomor 5 tahun 1997 tentang psiotropika

Adanya bahaya ketergantungan, penggunaan, dan peredaran narkoba diatur oleh undang-undang nomor 22 tahun 1997 tentang narkotika, undang-undang nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika (Martono & Joewana (2006: 6). berdasarkan Undang-Undang yang mengatur tentang narkoba maka dapat digolongkan beberapa jenis narkoba,sebagai berikut:

1) Narkotika, yaitu zat atau obat-obatan yang berasal dari tanaman maupun bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang berakibat pada penurunan atau perubahan kesadaran, menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri.

Menurut UU Nomor 22 Tahun 1997, narkotika dibagi menurut potensi yang menyebabkan ketergantungan adalah sebagai berikut.

a. Narkotika golongan I: Golongan narkotika yang berpotensi sangat tinggi menyebabkan ketergantungan

(22)

dan tidak digunakan dalam pengobatan. Contohnya:

heroin, kokain, dan ganja. Putauw adalah heroin tidak murni berupa bubuk.

b. Narkotika golongan II: berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan namun bisa digunakan untuk terapi sebagai pilihan terakhir. Contohnya: morfin, petidin, dan metadon.

c. Narkotika golongan III: berpotensi ringan menyebabkan ketergantungan dan banyak digunakan dalm terapi. Contohnya: kodein.

2) Psikotropika, yaitu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat dan menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku, yang dibagi menurut potesi dapat menyebabkan ketergantungan:

a. Psikotropika golongan I,berpotensi sangat tinggi menyebabkan ketergantungan dan tidak digunakan sebagai pengobatan. Contoh: MDMA (ekstasi), LSD, dan STP.

b. Psikotropika golongan II, berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan, dan digunakan sangat terbatas pada terapi: amfetamin, metamfetamin (sabu), fensiklidin, dan Ritalin.

c. Psikotropika golongan III: potensi sedang menyebabkan ketergantungan, banyak digunakan dalam terapi. Contoh: pentoharbital dan flunitrazepam.

d. Psikotropika golongan IV, poternsi ringan menyebabkan ketergantungan dan sangat luas digunakan dalam terapi. Contoh: diazepam, klobazam,

(23)

fenobarbital, barbital, klorazepam, klordiazepoxide, nitrazepam, (Nipam, pil BK/Koplo, DUM, MG, Lexo, Rohyp, dan lain-lain).

3) Zat psiko-aktif lain, yaitu zat/ bahan lain bukan narkotika dan psikotropika yang berpengaruh pada kerja otak, tidak tercantum dalam peraturan perundang-undangan tentang Narkotika dan Psikotropika. Yang sering disalahgunakan adalah:

a. Alkohol, zat yang ada dalam berbagai jenis minuman keras

b. Inhalansia/solven, yaitu gas atau zat yng mudah menguap yang terdapat pada berbagai keperluan pabrik, kantor, dan rumah tangga

c. Nikotin, ada pada tembakau

d. Kafein pada kopi, minuman penambah energi dan obat sakit kepala tertentu

b. Pencandu Narkoba

Pengertian pecandu menurut Partodiharjo (dalam Rizki, 2016:

22) dalam pasal 1 ayat 13 UU Narkotika adalah seseorang yang mengkomsumsi dan menyalahgunakan narkoba yang membuat seseorang menjadi ketergantungan pada zat narkoba yang dikomsumsinya tersebut. Ketergantungan yang dialaminya secara fisik maupun psikis. Pecandu merupakan orang yang menggunakan narkoba yangmembuat pecandu tersebut hilang rasa, menghilangkan rasa nyeri ataupun perubahan kesadaran tergantung zat yang dikomsumsi oleh pecandu tersebut dan menimbulkan ketergantungan.

Pecandu narkoba adalah orang yang mengkomsumsi narkoba yang telah mengalami ketergantungan satu atau lebih zat narkotika, psikotropika, maupun zat adiktif lain. Ketergantungan merupakan

(24)

suatu kondisi dimana indvidu mendapat dorongan untuk mengkomsumsi narkoba secara terus menerus dan jika individu tersebut berhenti mengkomsumsi narkoba maka akan timbul gejala dalam dirinya yang disebut dengan gejala putus zat (sakaw). Berat atau ringannya gejala putus zat yang dialami seseorang tergantung pada zat narkoba apa yang digunakan, dosis pemakaian dan juga lama pemakaiannya. Intinya seorang pecandu narkoba adalah orang yang hidupnya dikendalikan oleh napza.

Untuk mengenali seorang pecandu narkoba tidak hanya bisa dilihat dari wajah atau postur tubuh seseorang. Menurut Sadzali (dalam Khaira Ummah, 2017) terdapat bebarapa cara untuk mengetahui individu menjadi pecandu narkoba, diantaranya yaitu:

a) Pecandu ganja, ciri-ciri pecandu yang mengomsumsi ganja yaitu: cenderung lesu dan mata merah

b) Pecandu putauw, ciri-ciri dari pecandu putau: sering menyendiri ditempat gelap, malas mandi karea kondisi badan selalu kedinginan, badan kurus, layu, seta apatis terhadap lawan jenis.

c) Pecandu inex atau ekstasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

suka keluar rumah, wajah terlihat lelah, ibir pecah-pecah dan badan sering berkeringan, selain itu juga akan timbul rasa minder ketika pengaruh inex hilang.

d) Pecandu sabu-sabu, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

gampang gelisah dan serba salah melakukan apa saja, jarang mau menatap mata ketika berbicara dengan orang lain, mata sering jelalatan, karakternya dominan curiga, suka marah da sensitif.

(25)

Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN) terdapat bebarapa ciri- ciri seseorang yang menyalahgunakan narkoba atau pecandu narkoba:

a) Ciri-ciri fisik penyalahguna narkoba antara lain: kesehatan fisik dan penampilan menurun, seperti badan kurus, lemah, mata merah, wajah pucat serta bibir yang kehitaman, berkeringan secara berlebihan, badan sering gemetaran, berbicara cadel, mata berair, dan nafsu makan yang menurun.

b) Ciri-ciri emosi penyalahguna narkoba, antara lain: sangat sensitif dan cepat bosan, jika ditegur akan membangkang dan menentang, mudah tersinggung dan cepat marah, berusaha menyakiti diri sendiri, selalu berada didunia khayalan, dan ada yang menyebabkan pecandu tersebut menderita skizofrenia.

c) Ciri-ciri perilaku penyalahguna narkoba antara lain: susah diajak berbicara, kurang disiplin, sering menghindar kontk mata langsung, tidak suka mandi, punya teman-teman baru dan aneh, menarik diri dari dari aktivitas bersama keluarga, berbicara kasar kepada orang lain disekitarnya terasuk kepada orangtua, dan sulit berkonsentrasi.

3. Rehabilitasi

a. Pengertian rehabilitasi

Rehabilitasi adalah proses pemilihan pada ketergantungan penyalahgunaan narkoba (pecandu) secara komprehensif meliputi aspek biopsikososial dan spritual sehingga memerlukan waktu lama, kemauan keras, kesabaran, konsistensi dan pembelajaran terus menerus.

Rehabilitasi adalah suatu proses pelayanan terhadap pecandu untuk melepaskan pecandu dari ketergantungan narkoba sehingga

(26)

indvidu tersebut benar-benar lepas dari narkoba. Pelayanan ini biasanya diberikan oleh orag yang tellah professional dann terlatih dalam bidang ini. Masa rehabilitasi pada pecandu narkoba terhitung sebagai masa individu atau pecandu tersebut menjalani hukuman.

b. Jenis-jenis rehabilitasi

Berdasarkan undang-undang no 35 tahun 2009 tentang narkotika dijelaskan jenis-jenis dari rehabilitasi, sebagai berikut:

a) Rehabilitasi medis yaitu suatu kegiatan pemulihan secara terpadu terhadap pecandu dari ketergantungan narkoba.

b) Rehabilitasi sosial yaitu, proses pemulihan terhadap pecandu secara terpadu baik fisik, mental maupun sosial agar pecandu dapat kembali melakukan kegiatan sosial dalam kehidupan masyarakat.

c. Tahapan-tahapan rehabilitasi

Berdasarkan Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 mengenai narkotika dan perturan pemerintah no 25 tahun 2011 mengenai pelaksanaan wajib lapor pecandu narkotika, ini merupakan dasar hukum sebagai upaya dan langkah untuk menyelamatkan seseorang dari ketergantungan narkotika. orang yang menyalhgunakan narkoba tidak lagi dikatakan sebagai seorang criminal atau pelaku tindak kejahatan, hal ini terjadi apabila mereka melaporkan diri Kepada Instansi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang telah diresmikan pada tahun 2011.

berikut ini merupakan tahap-tahap pelaksanaan proses rehabilitasi bagi penyalahguna narkoba, yang terbagi menjadi tiga tahap yiatu

(27)

a) Tahap rehabilitasi medis (detoksifikasi), Pada tahap ini pecandu narkoba diperiksa secara menyeluruh oleh dokter baik secara fisik maupun psikis. Dalam pemeriksaan ini dokter harus teliti dan juga ahli dalam mendeteksi gejala ketergantungan yang dimiliki pecandu. Pada tahap ini dokter akan memutuskan apakah pecandu perlu diberikan obat untuk menghilangkan rasa sakit akibat gejala putus obat, obat yang diberikan tergantung tingkat pemakaian pecandu apakah berat atau ringan.

b) Tahap rehabilitasi nonmedis, dalam tahap ini pecandu mengikuti program rehabilitasi yang dilakukan oleh instansi-instansi tempat rehabilitasi seperti BNN yang sudah ada hampir disetiap provinsi di Indonesia.

c) Bina lanjut (after care), pada tahap ini pecandu mulai diberikan kegiatan yang berfungsi untuk mengembalikan keberfungsian sosialnya, seperti dengan melihat potensi yang dimiliki pecandu tersebut yang berguna untuk mengisi kegiatan sehari-hari pecandu agar tidak terfokus memikirkan narkoba dan merancang bagaimana hidup pecandu tersebut setelah selesai mereka direhabilitasi.

d. Tujuan dan komponen rehabilitasi

Tujuan yang hendak dicapai pada terapi/rehabilitasi yaitu:

a) Pulih dari narkoba seutuhnya dan berhenti memakai narkoba serta bisa mengatasi gejala putus zat yang timbul b) Bebas dari ketergantungan psikologik, dengan mengatasi

tekanan-tekanan dari luar seperti ajakan teman untuk kembali menggunakan narkoba dan juga mencegah

(28)

terjadinya relaps

Ada beberapa komponen yang mendukung program rehabilitasi agar berjalan efektif:

a) Asesmen, yaitu proses mengumpulkan informasi atau analisis tentang pecandu tersebut agar memperoleh pengetahuan tentang pecandu tersebut dan diagnosis serta modalitas rehabilitasi yang sesuai untuk pecandu.

Biasanya asesmen ini dilakukan setelah selesai melakukan tes urine dan didiagnosis bahwa individu tersebut mengkomsumsi narkoba.

b) Rencana terapi, setelah melakukan asesmen dan telah diketahui berbagai hal tentang klien seperti masalah fisik, psikologis, sosial, spiritual, keluarga dan juga pekerjaan maka ditentukan rencana terapi mana yang cocok untuk dilakukan terhadap pecandu tersebut.

c) Program detoksifikasi merupakan tahap awal dalam pemulihan, pada tahap ini dihentikan pemakaian obat pada pecandu narkoba supaya klien bisa mengelola gejala putus zat dan melepaskan klien dari efek lansung narkoba

d) Rehabilitasi, sebagai tahap kedua dalam pemulihan, meliputi aspek fisik, psikologik,sosial,spritual, dan pendidikan.

e) Konseling, pada tahap ini konselor harus bisa membuat pecandu memahami dirinya sendiri, membuju pecandu, memberikan saran serta keyakinan agar pecadu melihat permasalahannya secara lebih relaistik dan memotivasi pecandu tersebur agar lebih terampil dalam menghadapi masalah:

(29)

1) Konseling kelompok: konseling ini sangat penting karena seorang pecandu perlu membangun sebuah hubungan yang baik dengan kelompok sebaya.

2) Konseling individu: konseling ini penting dilakukan karena dengan adanya konseling individu ini maka akan dapat mengetahui bagaimana kegiatan pecandu dalam sehari-hari, permasalahan yang dihadapinya dan juga membahas tentang rencana kehidupannya pada masa depan.

f) Pencegahan kekambuhan (relaps), ketika seseorang telah memakai narkoba apalagi yang sudah kecanduan maka keinginan untuk kembali menggunakan narkoba sangat tinggi, maka dari itu untuk mengatasi hal itu terjadi perlu dilakukan adalah mengenalkan kepada pecandu resiko-resiko yang akan dialaminya jika dia relaps serta menghilangkan pikiran-pikiran yang mendorong pecandu mengkomsumsi narkoba.

g) Keterlibatan keluarga sangat penting dalam proses pemulihan klien. Pecandu akan lebih cepat pulih apabila adanya dukungan keluarga dan orang-orang lain.

B. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang berkaitan dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah sebagai berikut:

1. Pertama penelitian mengenai self efficacy pecandu narkoba adalah dilakukan oleh Intan Agitha Putri dengan judul “Hubungan Antara Self Efficacy Dengan Kecenderungan Relapse Pada Pecandu Narkoba Yang

(30)

Menjalani Rehabilitasi”. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara self efficacy dan kecenderungan relapse pada pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi, dengan arah hubungan negatif, dimana semakin tinggi self efficacy pada pecandu maka akan semakin rendah kecenderungan relapse yang dimiliki pecandu tersebut. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji hipotesis antara variabel self efficacy dan kecenderungan relapse yang menunjukkan nilai koefisien kolerasi (R) sebesar -0,373 dengan nilai signifikansi sebesar 0,004 (P<0,05), yang artinya terdapat hubungan negatif antara dua variabel. Perbedan penelitian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan yang ,pertama adalah metode penelitian, metode penelitian yang dilakukan oleh Intan Agitha Putri ini merupakan metode penelitian kuantitatif sedang metode penelitian yang peneliti lakukan menggunakan metode penelitian kulitatif. Perbedaan kedua yaitu pada penelitian ini pecandu yang diteliti merupakan pecandu yang sedang melakukan rehabilitasi sedangkan pada penelitian yang peneliti lakukan, pecandu narkoba yang peneliti teliti adalah pecandu yang sudah selasai melaksanakan rehabilitasi atau sedang dalam menjalani program pascarehabilitasi. Perbedaan ketiga yaitu pada penelitian ini yang diteliti adalah hubungan self efficacy dengan kecenderungan relapse pada pecandu sedangkan penelitian yang peneliti lakukan adalah mendesekripsikan self efficacy pecandu erdasarkan aspek-aspek self efficacy pada pecandu narkoba.

2. Kedua yaitu penelitian yang dilakukan oleh Novita Sari Lubis dengan judul “Hubungan Social Support Dengan Self Efficacy Pada Pecandu Narkoba Dalam Masa Pemulihan”. Metode penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan hasil penelitian yaitu terdapat hubungan positif yang signifikan anatara social support dengan self efficacy pada pecandu narkoba dalam masa pemulihan. ditemukan bahwa semakin

(31)

tinggi tingkat social support maka semakin tinggi pula tingkat self efficacy yang dimiliki individu, sebaliknya semakin rendah tingkat social support maka semakin rendah pula tingkat self efficacy individu. di penelitian ini juga ditemukan bahwa bentuk social support yang memiliki hubungan yang paling kuat dengan self efficacy adalah tangible support yaitu dukungan berupa bantuan langsung yang dirasakan residen dari orang lain dalam bentuk materi, pelayanan, barang-barang yang dibutuhkan serta bantuan finansial. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah yang pertama terkait metode penelitian, metode penelitian dalam penelitian ini dalah metode penelitian kuantitatif sedang metode penelitian yang peneliti lakukan adalah metode penelitian kualitatif.

Perbedaan selanjutnya yaitu dalam penelitian ini yang diteliti adalah hubungan social support dengan self efficacy pada pecandu dalam masa pemulihan sedangkan penelitian yang pecandu lakukan adalah tentang mendeskripsikan self efficacy pecandu narkoba berdasarkan aspek-aspek self efficacy.

3. Penelitian yang ketiga yaitu dilakukan oleh Tyara Dara Ruidahasi dengan judul “Pegaruh Self Efficacy, Positive Affect, Dan Dukungan Sosial Terhadap Resiliensi Residen Napza”. dengan metode penelitian kuantitatif. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama dari self efficacy, positive affect, dan dukungan sosial terhadap resiliensi residen napza. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan yang pertama yaitu terkait dengan metode penelitian, metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif sedangkan penelitian yang peneliti lakukan adalah metode penelitian kualitatif. selanjutnya yaitu terkait hal yang diteliti, dalam penelitian ini hal yang diteliti yaitu pengaruh self efficacy, positive affect, dan dukungan sosial terhadap resiliensi residen napza, sedangkan

(32)

penelitian yang peneliti lakukan adalah tentang self efficacy pecandu narkoba berdasarkan aspek-aspek self efficacy.

4. Penelitian keempat dilakukan oleh Dhoni Wisnugroho dengan judul

“Efikasi Diri Pada Pecandu Napza Dalam Proses Pemulihan Di Panti Sosial Pamardi Putra “Sehat Mandiri” Kalasan” . Penelitian ini menggunakan metode penelitan kualitatif. Hasil dari penelitan ini adalah residen memiliki efikasi diri yang rendah. Secara umum, para residen cenderung memilih tugas yang biasa dilakukan dan menghindari tugas baru serta kurang memiliki keyakinan terhadap kemampuan yang dimilikinya ketika menghadapi tugas yang baru. Para residen merasa merasa bahwa dirinya tidak mampu untuk melakukan tugas yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah terkait dengan hal yang akan diteliti atau pertanyaan penelitian, pada penelitian yang dilakukan oleh Dhoni Wisnugroho ini yang dikaji adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi self efficacy pecandu narkoba dalam masa pemulihan dari ketergantungan sedangkan dalam penelitian yang peneliti lakukan adalah mendeskripsikan self fficacy pecandu narkoba berdasarkan aspek-aspek self efficacy.

(33)

32 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian yang peneliti lakukan adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif kualitatif, yaitu penelitian untuk mengungkap fenomena yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dilapangan dan menggambarkan sesuai dengan apa yang ditemui dilapangan melalui wawancara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeksripsikan bagaimana self efficacy pecandu narkoba di BNN Kabupaten Solok. Dalam Desmita (2006:

8) penelitian deskriptif (descriptive Research) adalah “ penelitian yang berusaha mendeskripsikan atau meggambarkan suatu gejala atau peristiwa yang sedang terjadi”. Senada dengan itu menurut Hanafi (2015: 181)

“penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan ingin mencari makna kontekstual secara menyeluruh berdasarkan fakta-fakta (tindakan, ucapan, sikap, pikiran dan settingannnya) dari subjek-subjek penelitian dalam latar yang alami secara emic yaitu mencari kebenaran padangan yang diteliti”.

Dasar pemikiran yang digunakan dalam metode penelitian ini adalah karena penelitian ini jngin mengetahui tentang fenomena yang ada dan dalam kondisi yang alamiah, bukan dalam kondisi terkendali, laboratoris, atau eksperimen, disamping itu, karena peneliti perlu untuk langsung terjun kelapangan bersama objek penelitian sehingga jenis penelitian ini deskriptif kiranya lebih tepat untuk digunakan.

Sesuai dengan permasalahan yang menjadi fokus dalam penelitian ini yaitu gambaran deskriptif mengenai self efficacy pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok, maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan mendeskripsikan data yang peneliti peroleh sebagai hasil dari suatu penelitian. Dengan menggunakan metode ini, maka peneliti akan mendapatkan data secara utuh dan dapat dideskripsikan dengan

(34)

jelas sehingga hasil penelitian ini benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan yang ada.

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Berdasarkan pada masalah yang penulis teliti, yang mana penulis melakukan lokasi dan tempat penelitian dilakukan di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok yang berada di Nagari Kotobaru, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok.

2. waktu Penelitian

Adapun waktu penelitian yang peneliti lakukan adalah pada bulan November sampai selesai.

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah informan/orang yang dijadikan sebagai sumber informasi dan data bagi peneliti. Orang yang diminta untuk memberikan informasi tentang kondisi maupun situasi tentang hal yang diteliti disebut dengan informan penelitian. Subyek penelitian ini adalah pecandu narkoba yang sedang melakukan program pascarehabilitasi. Penulis menngangkat pecandu narkoba sebagai subyek penelitian karena masih sedikit penelitian yang meneliti tentang Self efficacy pecandu narkoba.

Subyek dalam penelitian ini adalah pecandu narkoba. Peneliti mengambil tiga orang pecandu narkoba yang sedang menjalankan program pascarehabilitasi. Umur pecandu yang peneliti teliti adalah dari umur 17-20 tahun.

D. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif peneliti adalah adalah instrumen atau alat penelitian itu sendiri. dalam penelitian kualitatif peneliti tersebut yang menjadi instrument utama yang turun kelapangan dan mengumpulkan informasi terkait penelitiannya (Sugioyono,2011)

(35)

Secara umum pengertian instrumen penelitian merupakan sebuah alat yang digunakan mengumpulkan data atau informasi yang bermanfaat untuk menjawab permasalahan penelitian. Alat ini harus dipilih sesuai dengan jenis data yang diinginkan dalam penelitian. Peneliti menggunakan menggunakan alat-alat bantu seperti handphone dan daftar wawancara.

Setelah ditentukan metode yang akan digunakan, maka peneliti menyusun instrumen guna mengumpulkan data yang diperlukan.

E. Sumber Data 1. Data primer

Data primer adalah data utama yang diperlukan oleh peneliti dimana data yang lansung dikumpulkan dari objek penelitian. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah tiga orang pecandu narkoba yang ada di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok.

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data tambahan sebagai penguat dari data primer yang telah dikumpulkan oleh peneliti. Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen berupa profil, data yang didapatkan dilapangan. selain itu juga wawancara dengan kepala rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Solok dan juga orangtua dari tiga pecandu narkoba tersebut.

F. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode agar diperoleh data yang lengkap. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah wawancara. Menurut Moleong (2010:187) “wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan.

Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik wawancara semi terstruktur, yaitu teknik wawancara

(36)

dimana pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada responden penelitian telah disusun lebih dahulu”. Namun, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat berkembang dengan situasi dan kondisi saat wawancara untuk memperdalam informasi ingin dikumpulkan. Teknik wawancara semi terstruktur memungkinkan peneliti untuk memperoleh informasi dengan lebih mendalam dan lengkap karena adanya improvisasi pertanyaan selama wawancara. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana self efficacy pecandu narkoba dan apa saja faktor yang mempengaruhi self efficacy tersebut.

G. Teknik Analisis dan pengumpulan Data

Menurut Pattonn dalam Moleong (2010:280), “Teknik analisis data adalah proses kategori urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Ia membedakannya dengan penafsiran yaitu memberikan arti signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan diantara dimensi-dimensi uraian”.

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Reduksi data merupakan proses pemilahan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan pengabstrakan data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan. Penulis mereduksi data selama pengumpulan data berlangsung, dengan memilah data yang diperlukan, membuat ringkasan agar data mempunyai makna, mengorganisasikan data dan menuliskan catatan lapangan. Reduksi data ini berangsung terus menerus sampai proses penelitian dilapangan selesai.

2. Penyajian Data (Display Data)

Penyajian data berguna untuk melihat gambaran keseluruhan hasil penelitian, baik yang berbentuk matrik atau pengkodean, dari hasil reduksi data dan display data itulah selanjutnya peneliti dapat dapat menarik kesimpulan data menverifikasi sehingga menjadi

(37)

kebermaknaan data. Peneliti menggunakan display data ini untuk melihat gambaran penelitian. Penyajian data kedalam bentuk tabel.

Data yang telah diperoleh dilapangan dideskripsikan dalam bahasa yang mudah dipahami sehingga akan memudahkan dalam penarikan kesimpulan.

3. Penarikan kesimpulan (verifikasi)

Dalam kegiatan penelitian ini peneliti mengungkapkan makna dari data yang telah dikumpulkan. Dari hal tersebut peneliti mencari hubungan antara display data dan reduksi data sehingga data yang terverifikasi tidak melenceng. Sehingga diperoleh penarikan kesimpulan yang dapat menjawab pertanyaan penelitian.

H. Teknik Penjaminan Keabsahan Data

Menurut Meleong (2012: 187) keabsahan data merupakan konsep penting yang dipengaruhi dari konsep kesalihan (validitas) dan keandalan (reabilitas). Untuk mendapatkan data yang shahih tentang self efficacy pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok. Uji keabsahan data atau kepercayaan terhadap hasil penelitian kualitatif diantaranya sebagai berikut:

1. Perpanjangan pengamatan

Perpanjangan penelitian ini berarti penulis melakukan perpanjangan pengamatan dengan mengecek kembali apakah data yang diberikan informan merupakan informasi yang sebenarnya atau sebuah kebohongan, dengan perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin terbentuk raport. Semakin akrab semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi.

(38)

2. Meningkatkan ketekunan

Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan, karena dengan cara ini kepastian data dan urutan peristiwa akan direkam secara pasti dan sistematis.

3. Triangulasi

a. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Kemudian data tersebut dideskripsikan, dikategorisasikan, mana pandangan yang sama, berbeda dan mana yang spesifik dari beberapa sumber data tersebut.

(39)

38 BAB IV

TEMUAN DAN PEMBAHASAN A. Temuan Umum

Ada banyak temuan yang peneliti temukan selama melakukan penelitian terhadap tiga pecandu narkoba yang sedang menjalani program pascarehabilitasi di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok.

1. Pecandu 1

Nama : RK

Umur : 18 tahun

Pendidikan : SMA 4 Kota Solok

Hobi : Basket

Jumlah Bersaudara : 6 orang

Alamat : Sawah sudut, selayo

Mulai memakai narkoba : 2018

Penyebab memakai narkoba : Ajakan teman Zat yang dikomsumsi : Ganja

Menurut orangtua RK, RK adalah anak yang pendiam dan tertutup serta ketika dirumah RK lebih banyak menghabiskan waktu didalam kamar. Pada saat orangtua RK tahu bahwa RK mengkomsumsi narkoba, mereka langsung membawa RK ke badan narkotika nasional kabupaten solok untuk melaksanakan rehabilitasi.

2. Pecandu 2

Nama : RDS

Umur : 18 tahun

Pendidikan : Lulus di smk 2 Solok 2021

Hobi : Main koa

Jumlah Bersaudara : 5 orang

Alamat : Sawah sudut, selayo

(40)

Mulai memakai narkoba : 2018

Penyebab memakai narkoba : Keinginan coba-coba narkoba Zat yang dikomsumsi : Ganja

Menurut orangtua RDS, awalnya RDS adalah anak yang penurut namun setelah RDS mengkomsumsi narkoba, RDS menjadi pribadi yang pembangkang dan ketika ada masalah dalam keluarga RDS sering menggunakan kata-kata kasar dalam berbicara. Menurut orangtua RDS awal RDS ketahuan mengkomsumsi narkoba adalah ketika ditemukannya zat narkoba yang biasa dikomsumsi RDS didalam kamarnya dan juga RDS merupakan anak yang mudah menerima ajakan temannya untuk kembali mengkomsumsi narkoba, maka dari itu kedua orangtua RDS mengambil hp RDS dan menitipkannya ke rumah bibinya.

3. Pecandu 3

Nama : RMP

Umur : 17 tahun

Pendidikan : Tidak sekolah

Hobi : -

Jumlah Bersaudara : 4 orang

Alamat : Sawah sudut, selayo

Mulai memakai narkoba : 2018

Penyebab memakai narkoba : Ajakan teman Zat yang dikomsumsi : Ganja

Saat ini RMP bekerja sebagai pelayan disalah satu rumah makan di kota solok, RMP bekerja dari jam4 sore hingga pagi hari. Salah satu kakak laki-laki RMP juga ada yang menjadi pecandu narkoba dan sama-sama mengikuti program pascarehabilitasi di badan narkotika nasional kabupaten solok.

Menurut orangtua RMP, RMP merupakan anak yang pendiam

(41)

dan tertutup dan menurut mereka RMP merupakan anak yang patuh dan tidak pembangkang.

B. Temuan Khusus

Penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif kualitatif, yaitu suatu cara penelitian yang berusaha mengungkapkan fenomena dengan cara mengumpulkan data yang ada dilapangan dan menggambarkan sesuai dengan apa adanya melalui wawancara. Dalam Desmita (2006: 8) penelitian deskriptif (descriptive Research) adalah “penelitian yang berusaha mendeskripsikan atau meggambarkan suatu gejala atau peristiwa yang sedang terjadi”. Pada penelitian ini peneliti akan mengungkapkan bagaimana self efficacy pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok dengan mewawancarai 3 orang pecandu yang sedang melaksankan pascarehabilitasi, petugas pascarehabilitasi, dan orangtua pecandu. Sebelum melakukan penelitian, penulis membuat kisi-kisi wawancara terlebih dahulu untuk dijadikan pedoman dalam membuat pertanyaan yang meliputi bagaimana gambaran aspek self efficacy pecandu narkoba di Badan Narkotika Kabupaten Solok, aspek-aspek yang dimaksud adalah: Bagaimana tingkat kesulitan tugas pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok, bagaimana kekuatan pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok, serta bagaimana generalisasi pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok.

Peneliti menemukan bagaimana aspek-aspek self efficacy pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok sebagai berikut:

1. Mendeksripsikan tingkat kesulitan tugas pecandu narkoba di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Solok

Menurut Setiawan (2018,29) aspek kesulitan tugas ini berhubungan dengan bagaimana seseorang ketika dihadapkan pada tugas menurut tingkat kesulitan yang ada maka pengharapannya jatuh pada tugas-tugas

(42)

yang menurutnya mudah, sedang, dan sulit. Hal ini disesuaikan dengan batas kemampuan yang dirasakannya untuk memenuhi tuntutan perilaku yang dutuhkan untuk masing-masing tingkat. Biasanya orang yang memiliki self efficacy yang tinggi akan cenderung memilih mengerjakan tugas-tugas yang sifatnya sulit dibandingkan dengan sifatnya yang mudah. Hasil wawanacara penulis dengan pecandu mengenai aspek ini, sebagaimana terlihat dalam tabel di bawah ini

Tabel 4.1 : Hasil wawancara pecandu pada aspek kesulitan tugas

No Hasil Wawancara Informan

1 a. Tantangan terbesar dalam hidup dan pilihan ketika diberi tantangan yang sulit, sedang, dan mudah

“Menurut saya tantangan terbesar dalam hidup saya untuk saat ini adalah menjauhi teman-teman yang mengajak saya untuk kembali menggunakan narkoba kak dan juga bagaimana supaya saya bisa mewujudkan cita-cita saya kak, dan cara yang saya lakukan untuk melewati tantangan ini dengan cara lebih banyak dirumah, lebih banyak melakukan kegiatan yang positif, dan mengganti akun saya di media sosial kak selain itu juga supaya cita-cita saya tercapai, saya sekarang rajin olahraga kak dan belajar dengan rajin, rencananya setelah tamat SMA ini saya akan mendaftar seleksi masuk kepolisian kak, serta untuk tantangan saya memilih mengerjakannya yang sedang kak,

RK (pecandu 1)

(43)

karena takutnya ketika saya memilih yang sulit saya nggak bisa mengerjakannya kak daripada saya gagal saya lebih baik saya memilih yang sedang” (Wawancara 5 Juli 2021)

b. Pemecahan masalah yang sulit untuk dipecahkan

“Ketika saya menghadapi sebuah permasalahan saya akan berusaha untuk menyelesaikannya kak, saya akan menghadapinya sebaik mungkin dan tidak menghindar dari permasalahan yang ada”

(Wawancara 5 Juli 2021)

c. Harapan yang dimiliki oleh pecandu dalam hidup

“Harapan yang saya untuk kedepannya semoga saya bisa mencapai cita-cita saya dan saya dijauhkan dari hal-hal yang membuat saya kembali menggunakan narkoba”

(Wawancara 5 Juli 2021)

d. Untuk lepas dari narkoba pilihan yang sulit atau mudah

“Menurut saya untuk terlepas dari narkoba menurut saya adalah pilihan mudah kak, karena saya belum sampai ketergantungan yang parah kak apalagi setelah saya direhabilitasi. pada saat rehabilitasi kami juga diajarkan untuk menjauh dari narkoba dan

(44)

bagaimana cara mengatasi keinginan ketika ingin menggunakan narkoba kak, maka dari itu untuk saat ini saya sedang berusaha menjauhi teman-teman saya yang biasa mengajak saya untuk kembali menggunakan narkoba dan saya banyak menghabiskan waktu dirumah bersama keluarga kak”

(Wawancara 5 Juli 2021)

2 a. Tantangan terbesar dalam hidup dan pilihan ketika diberi tantangan yang sulit, sedang, dan mudah

“Menurut saya tantangan untuk saat ini menjauhi teman-teman saya yang mengajak saya kembali memakai narkoba kak, karena ketika teman-teman saya mengajak saya untuk menggunakan narkoba, saya dengan mudah menerima ajakan mereka kak dan cara yang saya lakukan untuk menghadapinya dengan menjauhi teman-teman yang biasa mengajak saya menggunakan narkoba kak tapi untuk tantangan terbesar dalam hidup saya menurut saya tidak ada kak karena bagi saya hidup itu dijalani seperti air mengalir saja kak, apapun yang seharusnya saya lakukan maka akan saya lakukan. Ketika saya diberi tantangan yang mudah, sedang, atau sulit maka saya akan memilih yang mudah, karena jika ada yang mudah mengapa harus

RDS (Pecandu 2)

Referensi

Dokumen terkait

a) Surat Ijin Mengemudi kendaraan bermotor perseorangan; dan b) Surat Ijin Mengemudi kendaraan bermotor umum. c) Untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi, calon pengemudi harus

Sejak tahun 1969 usaha-usaha untuk melaksanakan penelitian penda- patan regional telah dilakukan oish berbagai universmtas sehingga akhir- nya menghasilkan pembentukan

Corrective maintenance adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi kegagalan atau kerusakan yang ditemukan selama masa waktu preventive maintenance. Pada umumnya

a) Dis kominfo Jabar perlu memberikan perhatian lebih kepada beberapa indikator faktor s tres kerja lingkungan. Pada beberapa indikator dimens i s tres

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dibuat kesimpulan bahwa Ada hubungan positif dan signifikan antara sikap terhadap Alat Pelindung Diri (APD) dengan

Jenis sekolah di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 29 tahun 1990 yaitu Sekolah Menengah Umum (SMA) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah

Untuk lebih memperjelas perbedaan kemampuan komunikasi matematik antara kelompok eksperimen (kelompok yang dalam pembelajarannya menggunakan berbantuan software

Wb, puji syukur Alhamdulillah dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-NYA, sehingga tugas akhir yang berjudul “Rancang