• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGEJA SUSUHING ANGIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENGEJA SUSUHING ANGIN"

Copied!
179
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

MENGEJA

SUSUHING ANGIN

ANTOLOGI PUISI 10 PENYAIR

KELUARGA ISTANA PUISI

(4)

Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta:

Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana 1. dimaksud dalam pasal 2 Ayat (1) atau pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah).

Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta dan hak terkait sebagai dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(5)

Mengeja Susuhing Angin

Antologi Puisi

Nulis Bareng : Istana Puisi

Pengantar : Gambuh R. Basedo Koordinator pelaksana : Rissa Churria

Editor : Rissa Churria

Lukisan : Gambuh R Basedo

Layouter : Maulana

Cover : Maulana

Cetakan Pertama, 14 x 20 cm Hlm xii x 163

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang All Right Reserved

ISBN : 978-623-5786-09-4

Penerbit : Samudra Printing

(6)

KATA PENGANTAR

Negara Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduknya mayoritas beragama islam. Islam pada masa modern seperti saat ini muncul melalui fase yang sangat panjang dan beragam karena negara Indonesia memiliki kebudayaan yang beranekaragam sehingga dalam penyebaran agama Islam pun dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya ialah menggunakan budaya yang beragam itu sendiri seperti wayang kulit, kesenian, dan lain sebagainya.

Para tokoh agama terutama di Pulau Jawa pada saat itu menggunakan budaya Jawa lebih mudah diterima oleh masyarakat luas pada saat itu, sehingga dapat mempercepat dan mempermudah tokoh tersebut dalam menyebarkan agama Islam. Tokoh agama yang sangat kental metode dakwahnya menggunakan budaya Jawa ialah Raden Sahid atau lebih dikenal dengan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga berdakwah melalui pendekatan budaya Jawa. Beliau memahami budaya-budaya yang ada di masyarakat sehingga dengan melalui budaya Jawa terutama wayang kulit beliau bisa menarik perhatian masyarakat tanpa harus merusak atau merubah tatanan budaya yang ada.

Kata wayang sebenarnya berasal dari bahasa Jawa, yang berarti bayangan. Jika dilihat dari arti filsafatnya, wayang merupakan bayangan atau cerminan dari sejumlah sifat yang dimiliki manusia, misalnya saja sifat murka, serakah, pelit, bijak, dan lain sebagainya.

Secara umum, wayang diartikan sebagai boneka untuk meniru orang, yang dibuat dari pahatan kulit atau kayu, dan digunakan untuk menampilkan tokoh dalam sebuah pertunjukan drama tradisional. Pemain wayang dikenal dengan istilah dalang. Biasanya wayang diciptakan

(7)

sesuai dengan watak, sifat, dan perilaku yang dimiliki oleh suatu tokoh.

Wayang merupakan bayangan atau ayang-ayang.

Sebab, yang kita lihat saat pertunjukan drama adalah bayangannya pada kelir. Kelir adalah kain putih yang biasanya dibentangkan dalam pertunjukan wayang.

Bayangan tersebut timbul karena sinar “belencong” yang ada di atas kepala si dalang. (R. T. Josowidagdo)

Wayang merupakan boneka yang ditampilkan dalam suatu pertunjukan, yang mengandung berbagai nasihat tentang sikap yang harus dimiliki manusia dalam kehidupan ini. Biasanya, musik yang digunakan dalam pementasan wayang adalah musik gamelan slendro.

(

Doktor Th. Piqeud)

Berbicara tentang wayang kulit, Sunan Kalijaga merupakan dalang yang lihai dan piawai dalam memainkan pewayangannya sehingga banyak masyarakat berbondong-bondong melihat pentas seni wayang kulit. Dia ketika manggung di suatu desa hanya meminta upah berupa ucapan syahadat yang diucapkan para hadirin. Selain pintar mendalang, Raden Sahid juga membuat tokoh-tokoh pewayangan.

Sunan Kalijaga mengarang lakon-lakon pewayangan dengan diselipkan ajaran Islam. Seperti tokoh pewayangan Yudistira yang mempunyai jimat kalimasada.

Jimat kalimasada merupakan perlambangan kalimat syahadat, salah satu rukun Islam. Selain Yudistira, Sunan Kalijaga juga membuat tokoh adek-adeknya seperti Werkudara yang dilambangkan salat, Janaka sebagai zakat, nakula menjadi puasa, dan paling bungsu yaitu sadewa menjadi haji. Pengilustrasian tersebut sangat cerdas karena Sunan Kalijaga tidak perlu repot-repot

(8)

untuk mengenalkan satu persatu rukun Islam, cukup menggunakan media wayang kulit saja.

Makna simbolik wayang dan layar tempat wayang dipertunjukkan, berkaitan pula dengan bayang-bayang dan cermin. Dengan menggunakan tamsil wayang dalam suluknya Sunan Bonang seakan-akan ingin mengatakan kepada pembacanya bahwa apa yang dilakukan melalui karyanya merupakan kelanjutan dari tradisi sastra sebelumnya, meskipun terdapat pembaharuan di dalamnya.

Ketika ditanya oleh Sunan Kalijaga mengenai falsafah yang dikandung pertunjukan wayang dan hubungannya dengan ajaran tasawuf, Sunang Bonang menunjukkan kisah Baratayudha (Perang Barata), perang besar antara Kurawa dan Pandawa. Di dalam pertunjukkan wayang kulit Kurawa diletakkan di sebelah kiri, mewakili golongan kiri. Sedangkan Pandawa di sebelah kanan layar mewakili golongan kanan. Kurawa mewakili nafi dan Pandawa mewakili isbat. Perang Nafi Isbat juga berlangsung dalam jiwa manusia dan disebut jihad besar. Jihad besar dilakukan untuk mencapai pencerahan dan pembebasan dari kungkungan dunia material.

Sesuai dengan judul pada buku MENGEJA SUSUHING ANGIN antologi puisi bertema pewayangan ini, merupakan Perjalan suluk mencari Tuhan yang disampaikan Kanjeng Sunan Kalijaga lewat lakon Ngajine Rupatala/Jagal Abilawa/Bratasena/Bimasena adalah ajaran tasawuf yang perlu kita kaji terus menerus, sebagai bagian mencari ilmu /Ibadah. Contohnya adalah perintah Sang Begawan pada Bimasena yaitu :

1. Carilah Galihing Kangkung 2. Carilah Susuhing Angin

3. Carilah Tapaking Kunthul Nglayang/Terbang

(9)

4. Mati Sakjroning Urip, Urip Sakjroning Mati (Mati Di Dalam Hidup Dan Hidup Di Dalam Mati)

Galih Kangkung artinya berfikir panjang tidak gampang putus asa merenungi setiap permasalahan untuk mengambil sisi positifnya agar tumbuh rasa syukur dan merubah musibah menjadi anugrah.

Susuhing. Angin artinya sarangnya angin/pusatnya angin / asalnya angin adalah renungkan setiap permasalahan cari akar permasalahanya dengan berfikir positif/baik sangka kepada Allah, maka musibah pun jadi anugrah indah, Alhamdulillah

Tapaking Kunthul Atau Bangau Terbang, mencari bekasnya kuntul/bangau saat terbang bagaimana mungkin? ketiga hal tersebut tentu jika dicari kesesuaian dengan tulisan kalimat adalah sesuatu kemustahilan bahkan tidak ada, karena semua itu adalah kalimat hikmah. Atinya bekas kunthul adalah keiklasan dalam berbuat sehingga tidak berbekas karena hakekat iklas adalah kemurnian dalam kemurnian, bukan karena apapun siapapun, hanya ketulusan saja sebagai panggilan jiwa

Sedangkan Mati Sak Jeroning Urip, Urip Sak Jeroning Mati artinya mati di dalam hidup dan hidup di dalam mati.

"Mutuu qobla an tamutuu", matikan dirimu sebelum matimu, sedangkan hidup dalam mati adalah menjaga kesadaran jiwa/hati dengan eling/ingat pada Allah.

Perumpamaan orang yang ingat dengan Allah dan yang tidak adalah seperti orang hidup di antara orang orang mati atau pohon-pohon yang tumbuh di antara gurun- gurun.

Bahkan ada yang menyebut kehidupan di dunia ini adalah kematian dan ketika mati baru hidup yang

(10)

sesungguhnya, karena kebanyakan manusia di dunia ini terlena dengan permainan dunia sehingga mati/lupa diri.

Sedangkan makna hidup yang sesungghunya adalah kesadaran diri sebagai kesejatian diri maka itulah hidup/sang hidup.

Sepuluh penyair menyatukan sebuah ide karya puisi pewayangan yang terangkum indah dalam diksi-diksi puisi patut diapresiasi, karena ikut serta merawat tradisi dan budaya wayang sebagai pusaka negeri ini. Saya ucapkan selamat kepada para penyair dalam antologi Mengeja Susuhing Angin, buku puisi yang syarat akan makna hidup dan wejangan-wejangan, serta keteladanan. Semoga kelahiran buku puisi bersama ini dapat menjadi khasanah perpuisian Indonesia, terutama generasi milenia menjadi ujung tombak pelestarian kebudayaan Indonesia yaitu Wayang yang sudah di ambang kepunahan.

Rembang, 2021 Gambuh R Basedo

(11)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... ix

Gambuh R Basedo ... 1

1. MANTRA SAKTI ARIMBI...2

2. SULUK CINTA HARJUNA DRESANALA ...3

3. PUPUH MEGATRUH CIPTANING ...5

4. SURAT WASIAT DEWI SUPRABA ...6

5. SUMPAH SETIA BIDADARI ...8

6. KEMBALILAH KEKASIH ...9

7. KAUKAH SEMBADRA ... 10

8. KACA BENGGALA DEWA RUCI ... 11

9. WEJANG CINTA KAMAJAYA... 12

10. PEMBELAAN BEGAWAN ISMAYA UNTUK HARJUNA. 14 11. MENELISIK PUNAKAWAN DALAM TUBUH SEMAR BADRANAYA ... 16

PENULIS ... 17

Rissa Churria ... 19

12. MENYIBAK PERJALANAN HARJUNA DI WANAMARTA ... 20

13. DEBAR DADA KUNTI SEBELAH KIRI ... 22

14. GAMIT CINTA ARIMBI ... 23

15. MANTRA CINTA DI UBUN EMBUN GATHOTKACA ... 24

16. PECAHAN CAHAYA MENJELMA SUPRABA... 25

17. BALE SIGALAGALA PANDAWA DADU ... 27

18. SUMPAH DRUPADI ... 29

19. BISIK SAKRAL SINTA DI DADA RAMA... 31

20. KIDUNG KATRESNAN PUNTADEWA ... 32

21. SIRAT NAPAS SAKRAL SEMBADRA ... 33

22. HATUR SEMBAH KAMARATIH PADA KAMAJAYA . 34 PENULIS ... 36

(12)

Kang Nun : ... 39

23. DZIKIR DOSIS TINGGI ... 40

24. SALOKA KURUSETRA ... 41

25. SULUK CINTA RETNA SAWITRI... 45

26. SULUK SIRRI BIMASUCI ... 49

27. YUDISTIRA DHARMA ... 52

28. MUSTIKA KALIMASADA ... 56

29. NASEHAT SUCI ISMAYAJATI ... 57

30. ELING WENING ... 59

31. MAKRIFAT WAYANG ... 61

32. SALOKA PUNAKAWAN ... 63

PENULIS ... 66

Sri Wahyuni: ... 67

33. BUTA CAKIL ... 68

34. SEMAR BADRANAYA ... 69

35. PETRUK JADI DUKUN ... 70

36. SAGKUNI MBALELA ... 71

37. PRABU KARUNGKALA MURKA ... 72

38. PRABU BASURATA ... 73

39. BEGAWAN SIDOLAMONG ... 74

40. DERITA CINTA RADEN SUDARMA ... 75

41. DEWI SRI WIDAWATI GAGAL BERTAPA ... 77

42. DEWI SARWAWATI BIDADARI NGEJAWANTAH ... 79

PENULIS ... 81

Rastono Sumardi: ... 82

43. PADANG KURUSETRA MASA KINI... 83

44. API KEBENARAN ... 84

45. PERISAI HATI DEWI KUNTI ... 85

46. PILU CINTA DEWI BANOWATI ... 86

47. BENING JIWA YUDHISTIRA ... 87

48. ABIMANYU MENIRWANA ... 88

49. MENYIMAK DAWUH KI SEMAR ... 89

50. KETEGUHAN JIWA BIMA ... 90

51. KARNA DIPERSIMPANG ... 91

52. TERSULUT API BENCI ... 92

PENULIS ... 93

(13)

Nurhayati: ... 94

53. PAGELARAN ... 95

54. KESETIAAN HANOMAN ... 97

55. WISANGGENI ... 100

56. SUGRIWA SUBALI ... 101

57. DRESANALA ... 103

PENULIS ... 105

Hamri Manoppo: ... 106

58. LEGENDA BHISMA ... 107

59. Rindu Bagai Gatotkaca ... 108

60. PANDAWA LIMA KURAWA SELAKSA ... 109

61. KETIKA BHISMA TIDUR BERKASUR PANAH ... 110

62. SANGKUNI SANG PENGHASUT ... 112

PENULIS ... 113

Nia S Amira: ... 115

63. KUNTI, PERAWAN DARI HASTINAPURA ... 116

64. SRIKANDI, SANG KSATRIAWATI NAN TANGGUH ... 117

65. SEMBADRA, SANG YOGAMAYA... 119

66. DRUPADI, MALINI DARI PANCHALA ... 120

67. MANOHARA, KESETIAAN SEORANG ISTERI ... 121

68. KESEDIHAN PARVATI ... 123

69. ABIMANYU, SANG WARCASA ... 124

70. SUPRABA, TANGISAN SEORANG DEWI ... 125

71. SENGKUNI, SANG DWAPARAYUGA ... 126

PENULIS ... 128

Dyah N.Kusuma ... 129

72. IBU KUNTI ... 130

73. DEWI DRUPADI ... 132

74. KEBAIKAN ITU ABADI ... 133

75. BALE SIGALA-GALA ... 135

76. BARA KESUMAT ... 137

77. BEGAWAN CIPTANING ... 139

78. LELANANGING JAGAD ... 140

79. RESI ABIYASA ... 141

(14)

Dewi Suprijantini ... 144

80. WANITA WANITA WANITA ... 145

81. PAMOMONG ... 147

82. DEWANAGARI SANGKUNI ... 148

83. RONCE RONCE GAMELAN ... 150

84. SEKOTAK WAYANG SANG DALANG ... 151

85. SANG DEWI KUNTI... 152

86. CAKIL SANG KALAPRACEKA ... 154

87. SERPIHAN NASIHAT PAGELARAN ... 156

88. LIMBUKAN ... 158

89. NAKULA SADEWA ... 159

90. LAGU CINTA ARIMBI ... 161

91. PENGORBANAN CINTA BANOWATI ... 162

PENULIS ... 163

(15)

Puisi Puisi

Gambuh R Basedo

(16)

1. MANTRA SAKTI ARIMBI Perempuan penakluk bimbang Menantang penghalang

Sibakkan mendung gelap hitam bayang Merobek ketakutan menendang rintang

Serah sumarah pada pucuk-puncak Beriring yakin, wening menggiring Tauhid gilig tak oglak-aglik

Turut manut tanpa pikir ribut

Niat bulat Putus asa sirna Cita membara Langkah pasti

Menuju estu, membunuh ragu

Aku Arimbi

Perempuan pengabdi setia suci Tiada doa yang sia sia

Panggang dahana lelaku, adalah jalan rela Mungkinkah jadi emas tanpa tempa

Adakah nikmat bahagia tanpa kenal duka lara

Akulah Arimbi

Penghuni wanamarta, menggamit tangan cinta Bimasena Bermahar liku laku luka nestapa

Wahai kaumku, sedang di mana posisimu kini Hadapi !

Rembang, 17 Maret 2021

(17)

2. SULUK CINTA HARJUNA DRESANALA

Nimas ayu dewi Dresanala, ini bukan pelukan terakhir Sungguh kangmas ingin selalu bersama yang sebenarnya tanpa batas tanpa jeda

Membelai bersama janin dalam garba

Menafasi dengan doa, harap esok lahir sebagai ksatria Percayalah kasih

Meski harus terpisah ragawi, tentu jiwa-jiwa rindu akan selalu menyatu

Bahagiakan hari harimu nimas, jangan ada sedih, izinkan kutempuh perjalanan lagi untuk menemu diri

Mendekatlah lekat, kangmas dekap tanpa pegat Kan kubisikan pada lembut dada, bahwa cinta adalah suasana mesra dalam sembarang cuaca

Kangmas harjuna pepundenku

Dulu aku tak pernah bermimpi bertemu, lalu bersatu Hari ini tak kusangka harus terpisah raga, semoga tidak pisah jiwa

Biarlah menjadi pelajaran atas kau dan aku, bahwa kita hanyalah wayang-wayang dalam genggam tangan kuasa sang dalang

Maafkan nimas

Bila airmata menggerimis setidaknya ia jujur mewakili hati yang tak sekadar lamis

Lepaskan, lepaslah lepas peluk kangmas, usah cemas Mari yakini, ini adalah cara Sang Maha menjalankan kita menuju nirwana cinta

Kangmas Harjuna kekasihku

Melangkahlah dengan gagah buang gundah

(18)

Bukankah telah nimas kuatkan dengan doa pada kecup bibir terakhir, bawalah rasa itu dalam dada menyemilir Nimas mencintaimu dan takkan pernah berakhir Rembang, 01 Juni 2020

(19)

3. PUPUH MEGATRUH CIPTANING

Tersenyumlah kasih

Jangan gelapi wajah dengan mendung murung

Temani aku menjumputi kalimat yang urung menjadi bait bait puisi

Mari bercinta mesra dalam bilik paling rahasia

Kunci kamar suci pengantin ini dari hiruk pikuk merusuhi

Kala ada desah manja lepas hempas tuntas, sadari lalu kauaku masih dalam satu raga

Bila geliat gelinjang berontak menggasak, ingin menelan dunia

Jujur saja, inilah manusia

Bercumbu tanpa kelu, merapal mantra eling wening Ning

Hening Lenyap adaku

Bertemu mewujud indah wajah

Tunduk tekuk simpuh suwung renung

Sujud mencium kembali ikrar setia janji hamba Puja-puji lantunkan pupuh megatruh

Ruh weruh

Siapa melihat siapa

Jangan henti mengeja tanda tanda kebesaran Menembus hijab, lebur hancur dalam akbar cahaya Aku-ku sirna

Rembang, 21 Maret 2021

(20)

4. SURAT WASIAT DEWI SUPRABA

: Kepada istri-istri yang berharap menjadi bidadari abadi

Ini bukan soal raga belaka Aku puisi di mata Janaka

Pantas kiranya bila para asura mendekati Raksasa kasengsem untuk memiliki

Kutulis surat untukmu para istri-istri yang berharap menjadi bidadari abadi

Baca permati dengan rela hati arti cinta abadi

Dulu aku hadir ketika dia sedang semedi Menjadi duta dewa untuk menguji

Menggembleng niat seberapa kuat menghamba Goda pesona ternyata tak bermakna

Mata dada sang kesatria tengah menyala

Ini surat wasiat kau baca tentu ketika aku telah menjadi cerita

Gemerlap dunia yang sering bahkan tiada lelah

Kau kejar akan padam dengan cahaya setia lalu sederhana Syukuri jangan kufur

Keinginan bergejolak Memberontak menyalak

Redam dengan tunduk patuh utuh

Kendalikan langkah dengan wening di dada nurani Jelas ia nafsu namun terkadang kauaku lupa mengenali

Bila aku memilih Harjuna

Sebab dia adalah pendingin saat api merah marah Adalah udara semilir menapasi

Adalah pembimbing penuntun arah Adalah baju penutup aurat

(21)

Adalah mursyid tongkat laku Adalah payung melindungi Adalah peneduh bila bilaku

Adalah pancaran mata air cinta ketika dahaga Rembang 02 Februari 2021

(22)

5. SUMPAH SETIA BIDADARI Kepada tuan dada cinta

Perhelatan liku-laku

Menghapus lembar kenang purba tidak selamis kata Menyiangi merawat dari ruwet suket penggoda Membabat rimbun gerumbul gelap raksasa

Aku tersesat pada jalan denawa Bagai Sinta ngidam kijang kencana Tergelandang arus angan ingin sesaat

Kini tangan ringkih meronta menggeliat, gamitlah sepakat

Kepada tuan dada cinta

Gandeng entas tuntaskan lakon lelaku ini Sudahi, sudahi sampai di sini

Izinkan merasuk menjadi tulang rusuk Jadilah engkau Rama

Bawa aku kembali pada kerajaan mesti Bukan alam khayal yang terlanjur ku cipta Menjadi surga samar

Rangkul hangat dekap legawa Seperti Harjuna kangen Sembadra

Tuan dada cinta janjiku padamu

Bila engkau cinta akulah asmaradahana Bila engkau sajak akulah rima

Bila engkau puisi akulah diksi Bila engkau rindu akulah debar

Dengar sumpah serah sumarahku yang paling Arimbi Bukankah tulus iklas cinta mampu mengubah watak raseksi menjelma bidadari

Rembang, 08 Februari 2021

(23)

6. KEMBALILAH KEKASIH

Ada sabar jembar menghampar

Meski angan inginmu berkeliar lalu kesasar Menggandeng harap doa tak henti-henti Menggendhong dengan setia cinta

Masih ada luas maaf membasuh khilaf Melihat sisi baik adalah obat luka mujarab

Membuka lembar indah kenang membasah rindu Menyadari jalan takdir menenangkan ronta gelisah

Sinta kekasihku Pulanglah

Telah kumantrai ali-ali

Menjadi benteng pengayoman

Adakah Rahwana mampu merobek baju patuh Mungkinkah goyah bila ikrar terus bersinar Pusaka macam apa mampu melukai Bila kau menjadi desir angin

Terbangkan segala raga jiwa pada serah sumarah Kupanggil dalam ruang renung dada suwung Kembalilah

Rembang, 07 September 2021

(24)

7. KAUKAH SEMBADRA (Sajak Kontempelasi)

Wara sembadrakan hatimu bidadari

Agar tak goyah rayu palsu Burisrawa duniawi Jarak bukan alasan untuk mrucut dari hakekat setia Sebab ikat cinta saling terpikat

Sepakat menuju alamat abadi

Tiupkan doa untukku yang tengah ringkih raga Hingga nyaris lelah melanjutkan perjalanan ini

Sendiko dawuh kangmas

Aku yang bermukim di antara rusukmu

Taklah aku berani melangkah tanpa gamit lenganmu Bawa aku selalu ke mana kau melanglang

Hingga ke muara asal dan tujuan Di sampingmu aku ingin lelaku Di sampingmu aku ingin menuju Di sampingmu aku ingin menyatu Istana Puisi, 22 Agustus 2020

(25)

8. KACA BENGGALA DEWA RUCI

Lamun tuhu Hameguru kaki

Hanuladha Kalawan Bimasena Datan wonten sujanane Lelampahnya jinangkung Rujakpala kinimpet-kempit Jumangkah kanthi gagah Kalbunira muhung

Hu dadha suwung manembah

Esti manah pepanggihan marang Gusti Galih wening manuggal

Bila engkau sungguh berguru Lihat teguh tekat niat Bimasena Tiada sakwasangka

Membuang pongah, tidak merasa bisa Jumangkah gagah menendang penghalang Suwung renung manembah

Bertemu lalu yang disembah Galih wening manunggal

Wahai Bimasena Kau adalah bayangan Bila kau gelap akulah terang Bila kau marah akulah kesabaran Bila engkau rindu akulah cinta

Maka bening dentingkan saja bila-bilamu

Kauaku dalam tunggal raga

Mari sepakat mandi taubat tirta prawita inti samudra Sowan lalu lebur dalam Maha Cahaya

Rembang, 01 April 2021

(26)

9. WEJANG CINTA KAMAJAYA Ini bukan sekadar asmara dahana

Pula bukan debar kesengsem dunia semata

Kamaratih kekasihku

Kuajarkan padamu tentang rindu biru tuju Tentang jatuh cinta bukan jatuh suka Meski ia setubuh saling melengkapi Seperti api dan panas

Atau air dan dingin

Namun ia pada bilik berbeda

Dengarkan degup dari palung inti hati Tanyakan lalu adakah cinta itu menyakiti

Bukankah ia adalah cahaya mesra yang tak seorangpun mampu menarasikan sempurna

Kekasihku Kamaratih

Duduk dekat lebih lekat, diam tenang Genggam erat jemari menuju cahaya Mari bercinta sebenar cinta

Rasakan geletarnya

Hingga kau aku lupa wadag Gerayangi dada muara rasa Di mana aku kau

Lindap lenyap rona warna pesona

Tinggal degup tak ada kalimat sanggup mewakili meski teronce menjadi larik puisi paling memuisi

(27)

Masihkah ingin nikmat sesaat tersesat hanya jatuh suka Lebur hancur abadi

Cinta bertemu wujud sejatinya Memilih kiri atau kanan Gelap atau cahaya

Purnama atau terang Surya

Rembang, 20 Mei 2021

(28)

10. PEMBELAAN BEGAWAN ISMAYA UNTUK HARJUNA Gelap Prasangka

Harjuna ksatria yang dibenci denawa denawi Mendung gelap merecoki

Setiap pikir yang tak memahami

Begitu jalan hidup mesti dijalani Mata prasangka diterima dada rela Legawa pada manah hindari lawwamah Jika bulat tekat niat hanya pada Sang Maha Haruskah berhenti sebab caci maki

Harjuna puasa bukan puasi Selalu dalam goda praduga pasti Iman akan diuji seperti janji abadi Selayak besi dibakar dalam api

Tempa mencari inti hingga jelma pamor tosan aji

Bethari Dresanala Dewi supraba

Adalah ganjaran baginya Penakluk marah dan asal bicara

Hingga menep wening berdenting ciptaning

Wara sembadra

Adalah lambang keind ahan Pencerah langkah

Sabar jembar tak mengumbar angan Mereka hadiah, tak pernah ia pinta Tak pula mencari curi

Hingga apalagi mengejar memburu penuh napsu birahi

Lalu mengapa mengapi diri

(29)

Hatimu mengeja jalan takdiri Tidakkah kau sadari

Jalma hanyalah titah sawantah Manut perintah

Atau kalian hendak mengantikan catatan Tangan kuasa Sang Dalang

Rembang, 04 April 2021

(30)

11. MENELISIK PUNAKAWAN DALAM TUBUH SEMAR BADRANAYA

Semar tan kesengsem barang engkang samar Sammir menghamba jalani titah

Gilig tauhid tak moyak mayik Badra rela narima pandum Naya asuh asih Pandawa Lima

Petruk mandeng kenceng tuhu estu Tulus lurus tembus

Fatruk kulla maa siwallahi

Tinggal tanggalkan selain Sang Hyang Wenang Kantong bolong lila Legawa berderma

Gareng giring angin ingin Kebajikan yang bajik

Menderma kerumunan sahabat Selayak menguar wangi bunga

Dicari lebah madu meski tersembunyi di bawah kelopaknya

Bagong muda pemberani

Lawan bagho tegak dalam tongkat kebenaran Memberantas tuntas angkara murka

Buah denawa yang merasuk pada dada

Sammir ilal Khairi Fatruk minal bagho Siap berangkat menuju kebaikan Maka tanggalkan kejelekan kesia-siaan

Rembang, 14 April 2021

(31)

PENULIS

Gambuh R. Basedo adalah penyair yang saat ini tinggal dan menetap di Rembang, Jawa Tengah.

Antologi tunggalnya adalah “Suluk Cinta Kawah Candradimuka”

(Samudra Printing - 2020). Karya karyanya telah diterbitkan dalam antologi bersama, antara lain yaitu : menjadi salah satu "Penyair Jingga”

(2012) “Kado Pernikahan”, (2010), “Dandani Luka Luka Tanah Air” (Antologi puisi Numera Malaysia - 2020), “C Antagonis” (Fakultas Penulis Kreatif dan Filem – Malaysia :2020), “Tribute Sapardi” (2020), “Antologi Para Pendaki”

(2020), Broken Heart (2020), Pelangi Cinta (2020), Antologi Mengenang Najmi Adhani (2020), Romantika Cinta Dalam Aksara (2020), Bias Warna Hati ( Sastra Nusa Widhita - 2021), Gembok – (Lumbung Puisi Indonesia 2021), Suara Dari Lembah Kata Kata (2021), Di Haribaan Puisi- 10 Penyair Berkiprah (2021), Surat Untuk Ibu (2021), Jakarta Betawi (2021), Anakku Permataku (2021) dan lain lain, juga menulis di harian lokal BMRFox Kotamobagu..

Prestasi yang pernah dicapai dalam berkesenian adalah sebagai Duta tari Festifal Tari Surabaya, Jawa timur, tahun 2004, Dalang suluk, Penggagas dan pencipta

“Wayang Lontar Ganyar” sejak tahun 2003 hingga sekarang. Penggagas “Ketoprak Cilik” (anak anak usia 10 – 13 tahun) sejak tahun 1990 hingga sekarang.

Selain kegiatan bersastra dan berkesenian, Gambuh yang kesehariannya sebagai pelukis, juga aktif mengikuti

(32)

kegiatan pameran terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, di antaranya yaitu : Pameran Lukisan dan Patung Surabaya(2014), Pameran Lukisan dan pertunjukan teater

“Semuja- Jatiroga” di Tuban, Pameran Lukisan dan Pertunjukan teater teater - Seni Sandur di Jatirogo , Tuban (2015 – 2019) , Bojonegoro 2016, Pameran seni rupa tuban gumregah gedung budaya loka Budaya di Tuban 2018, Pameran seni di Rembang (2015 -2017)

Kegiatan sehari hari sebagai Penggiat Seni dan Perawat Kebudayaan Jawa juga pelaku Teater Mistis dan Interculturalisme ala Gambuh sejak tahun 2000 hingga sekarang, Dalang Suluk Wayang Lontar Ganyar, menjadi penulis lepas, pelukis, penggiat teater Sanggar Gambuh sejak tahun 2000 hingga sekarang, dan lain sebagainya.

Media sosial yang bisa dikunjungi, Fb. Gambuh R Basedo, Ig. Gambuh R basedo.

(33)

Puisi Puisi

Rissa Churria

(34)

12. MENYIBAK PERJALANAN HARJUNA DI WANAMARTA

Lepas tuntas bale sigala gala

Para denawa masih saja menyengkuni Mengakali culas dengki menjadi pucuk rayu Iming-iming kebaikan dan luahan cinta palsu Berharap mereka mati dalam amuk kegelapan

Adalah hutan wingit

Wanamarta tempat para dedemit jin setan prayangan Bertahta dalam kerajaan yang penuh cekam

Babat alas membuka nagari baru menjadi tujuan

Perjalanan panjang, malam seolah tak berhujung Resi Wilawuk berwujud naga raksasa menemui Arjuna Di punggungnya diletakkan kepercayaan

Menyapih antara tulus rusuh dan keangkuhan

Terbang di antara pucuk-pucuk malam

Membelah angin menju pertapaan Pringgodani Nageri para lelembut yang tak sembarang orang Bisa memasuki wilayah, keculai yang dikendaki

Dewi Jimambang putri Wilawuk

Berparas jelita serupa bidadari kahyangan Diperjodohkan kepadanya Arjuna

Ksatria tampan jujur sabar dan bijaksana

Cinta berpagutan di antara ringkik daun-daun mahoni Dua hati terpaut tarik menarik serupa sembrani Sang Hyang Wasesa telah mengikat tali suci Ditiupkan ruh cinta pada sebidang hati Menubuahkan rasa saling tatap lila legawa

(35)

Percaya menyamundra mengarungi bahtera bersama

Angin sidrah berhembus membalut rasa

Cupu lenga Jayengkaton terselip di pinggang kiri Jalasutera kencana menyemat di pinggang kanan Kuda Ciptawilaha menemani perjalanan Arjuna Kembali ke Wanamarta hutan wingit para dedemit Dan cambuk Kyai Pamuk menemaninya tanpa jeda Cibinong, 03 Maret 2021

(36)

13. DEBAR DADA KUNTI SEBELAH KIRI

Ada detak yang terhela di sana Saat pandang menggantang matahari Pesona cahaya dari wajah Betara Surya Meredam gejolak pagi menjadi cinta

Kunti luluh, luruh lirih pada sibak bisik menirwana

Inilah gejolak yang masuk melalui rongga hati Tak menampik meski rasa telah satuhu janji nyawiji Pada Pandu yang di teleng dadanya telah tercatat nama Tan ginggang sak rikma

Mencintai menggamit di tiap helaan udara

Cahaya…

Cahaya surya

Masuk merasuk menjadi muasal Kehidupan baru yang tertinggal Di teleng rahim Dewi Kunti

Lalu berdebar denyar menjadi hidup Lahir dari telinga kanannya

Karna yang kelak menjadi Bala Korawa

Inilah takdir yang hidup Di antara kelindan manusiawi Keinginan nafsu dan cahaya Mengulik napas ketulusan Memecah antara daksaka-daksiki Meski terlahir dari satu rahim kasih Namun tabiat akan bisa berbeda Cibinong, 02 Maret 2021

(37)

14. GAMIT CINTA ARIMBI

Adalah putri Prabu Arimbaka Pringgadani nagari para raksasa Halus budi bahasa sabar penuh cinta Dia Arimbi wajah raksasi menjelma Dewi

Dari telapak tangan Dewi Kunti Tercurah luahan kasih Ibunda Serupa hujan luruh tengah hari Saat gersang memanggang cuaca

Arimbi dari suci hatinya

Putih perasaan mewangi melati Jatuh embun doa membasuh kening Cahaya itu membias seolah menguliti Sekujur lampah lumpur pada diri

Inilah Arimbi dari rahimnya telah dititipkan Janin dari keturunan Werkudara

Putra Prabu Pandu dwi pandawa

Dari gamit jemari dan lengannya Usap doa dan ketulusan

Ibu bagi para kesatria Bogor, 27 Februari 2021

(38)

15. MANTRA CINTA DI UBUN EMBUN GATHOTKACA

Aku membaca tanda cinta Di ubun embun Gathotkaca Di antara letupan didik didih Kawah candradimuka yang sakral Oleh segala ritual para dewa

Segala gaman dari zaman ke zaman Segala senjata dari aneka warna tembaga Segala pusaka kesaktian para dewa Melebur menyatu dalam puja puji doa

Berangsur memantrainya dari segala lubang wasilah hidup

Inilah Suluk cinta dari betara guru Menempa bukan tersebab benci Gunung Jamurdipa sebagai saksi

Bagaimana Tutuka berubah menjadi kesatria Sakti mandraguna menjelma Gathotkaca

Gembleng itu tak akan megat ruh Meski api melalap dan membakar

Sang guru tahu apa yang pantas

Resi Kaneka Putra mengawal dengan cinta Serupa embun yang menetas tiap pagi buta Bogor, 27 Februari 2021

(39)

16. PECAHAN CAHAYA MENJELMA SUPRABA

Adalah pecahan cahaya yang merupa tujuh warna Bila kau digelari ratu bidadari

Berparas cahaya bertubuh harum asoka Itu adalah anugerah Sang Maha Wisesa

Kecantikan itu mengundang denawa dan asura Melantang rentangkan segala niatanya

Masuk menyusup hendak melebur hancurkan kahyangan Tertutup oleh mata cahaya bethari cinta

Akulah Dewi Supraba

Berselendang pelangi menggandeng enam pecahan sosok diri

Menepi menuju Indrakila

Puncak merapi tempat tapa laku Harjuna

Mengikhtiari cinta membangunkan sang Begawan Dari riyadohnya kepada puncak keabadian

Aku mengemis cinta

Membangunkanmu dari tapa brata

Tak bergeming meski goda dan seduh sentuh jemariku Tak dapat membangunkan khalwat dialogmu dengan Sang Maha Cinta

“Duh kangmas Harjuna, tidakkah lembut dan parasku menggodamu

Sedang asura berebut pandangku

Satu tujumu tak dapat aku rayu dengan apa pun Meski aku menari telanjang di hadapanmu”

“Daulat kaula atasmu kangmas Harjuna”

Estu manut paduka hanjejeri duta para dewa

(40)

Merantak Niwatakawaca dengan panah pasopati Yang telah kau lumuri cinta peredam amarah denawa Kau balut dengan kendit nafsu duniawi

Merasuk Melebur Menyatulah

Bersemayam pada jantung dan alir darah Hentakkan kata ikhlas pada sang batara guru Pasopati menghunjam hingga ulu kalbu Bersimbah luka darah

Manimantaka gaduh seketika

Sang asura mati tertimbun keangkuhannya sendiri Bekasi, 26 Februari 2021

(41)

17. BALE SIGALAGALA PANDAWA DADU

Drupadi namanya

Perempuan yang rela tergadai Dalam suluk setia Puntadewa Tuhu manut titah pandita ratu

Ini hari pertarungan sigalagala dadu Sorot mata tajam itu saling menatap Pandawa dan Astina saling diredam gejolak Nafsu amarah cinta kesetian dipertaruhkan

Ada aroma menyengkuni di antara potongan dadu Muslihat menyelinap kasak kusuk berbisik sibak Gerak merantak tak dapat ditebak

Dari segala arah meski kesaktian wahyu keprabon Menyembur pada dada para Pandawa

Jagat Dewa Batara

Tak ada yang bisa mencegah

Pusaka janji telah terikrar pada lathi ksatria

Drupadi serupa wadal yang mesti menebus kekalahan Malang tak dapat dicegah luka tak dapat ditolak

Dari atas menara kesombongan

Dursasana berteriak lantang kemenangan

Tanganya mengapai kampuh yang membebat tubuh Drupadi

Tanpa rasa iba; wajah penuh tawa sambil menelan liur syahwatnya

(42)

Angin tetiba berhenti berhembus Daun daun merunduk menutup wajah Air mata Drupadi luruh penuh bara amarah Tak sehelai benang menutup tubuhnya

Luka di atas luka menganga memendam kesumat di dada Bekasi, 24 Februari 2021

(43)

18. SUMPAH DRUPADI

Dadu itu membelenggu Pada gerak takdir yang jatuh Di gerai kuduk dan keningku Menjadi ritual tawa denawa Pada pengabdian yang kutuju

Akulah Drupadi

Perempuan yang bermukim Di rusuk lelaki pembayun pandawa Puntadewa; di mana pinta

Menjadi perintah Sang Maha Wisesa

Saat mata dadu menjadi kosong Tak ada yang dapat teraba hari itu

Semua pandang disengkuni oleh kelicikan Durgakala berpijak pihak pada Hastina Runtuh luruh takdir mengikat kuat janji

Hari itu senja berkarat Tak ada yang dapat dilarung Kecuali kekalahan para petarung Pandawa harus menyerah kalah Pada bidak dadu; dilumuri kecurangan

(44)

Aku ditelanjangi

Tanpa sehelai benang di tubuh Dursasana terbahak tanpa iba Gigil amarah makin buncah

Alam merunduk menutup pandang Aku tertunduk dengan derai air mata Jatuh sumpah pada alir darah

"Aku akan mandi dengan darah Dursasana

Sebelum matiku menghadap sang hyang Wenang"

Cibinong, 24 Februari 2021

(45)

19. BISIK SAKRAL SINTA DI DADA RAMA

Kanda Rama

Izinkan berbisik di dada kanan

Seperti aku yang bermukim di satu rusuk Antara paru dan jantung degupmu

Setelah kau ruwat ikrar cinta suci Seketika napas dan darah kita menyatu Pada tiap tegukan bercawan anggur Kita rituali dengan bisik mesra

Aku ingin membuang hantu gelap Dalam ruang bilik kita

Menyempurnakan hari hari agar penuh aroma bunga Coba kau hidu wangi tubuhku

Tak ada Rahwana yang melukai pakaian Atau pun menyentuh kulit

Usah ragu gundah aku tetap setia pada ikrar sakral

Kanda Rama

Akan kukubur semua genang kenang Tak sehelai ingatan ada di antaranya

Aku hanya ingin menatap semai biji-biji kasih Yang kini mekar di taman hati kita

Kanda Rama

Gandeng aku selalu dalam perjalanan riyadhahmu Jangan lepas meski sehela napas

Aku ingin selalu nyawiji hingga penghabisan nanti Istana Puisi, 20 November 2020

(46)

20. KIDUNG KATRESNAN PUNTADEWA

Diajeng Drupadi garwaningsun yayi

Kuhapus air matamu dengan kidung paling cinta Sudahi, usir amuk badai amarah

Dengan muasal kembali pada fitrah Atas kesucianmu sebagai istri Yang tak perlu diragui atau kucurigai

Diajeng gegantilaning tyas mami Mari bangkit, mendekatlah

Akan kukidung gandrung katresnan Sepanjang napas pengabdianmu Hingga menirwana seisi kalbu

Nimas ayu,

Berbinarlah cinta pada air muka Jangan pernah ngersula Lihat sorot mataku selalu

Yang tak pernah lepas memandang Ayumu Cibinong, 23 Februari 2021

(47)

21. SIRAT NAPAS SAKRAL SEMBADRA Ini laku Sembadra mendadar kisah

Menjadi mantra cinta yang mendarmabakti Setiap langkah pada estu manut tuhu Pada suluk Sri Begawan Ciptaning

Baginya tak ada tempat berlabuh Lebih sakral untuk mencecap nikmat Manis gemerlap dunia kecuali Bersandar di dada luas Sri Begawan Dalam perjalanan riyadhah

Menuju cinta dan keabadian

"Sri Begawan Ciptaning,

Tangkap segala yang tersurat tersirat Dari renjis takdir sang Maha Wisesa Gamit selalu jangan lepas

Meski aku mulai lungsai lemah

Hanya tinggal kedip mata sebagai isyarat hidup"

Tak ada yang lebih Ciptaning

Kecuali jalan cipta bersama begawan Mengikhtiari pagi hingga petang

Mentadaburi malam hingga fajar menjelang Merituali hari pada rela kehendak

Agar keluh luruh pada semesta Lalu pasrah tunduk dan berserah Sumarah indah menirwana

Bekasi, 13 Maret 2021

(48)

22. HATUR SEMBAH KAMARATIH PADA KAMAJAYA Estu diajeng mendengar

Sembah sungkem hangestuaken

Pada tiap aksara yang jatuh di teleng dada cinta ini Bukan tersebab kesengsem dunia

Namun cukup terima pandum

Kangmas Kamajaya

Meski rindu telah mengalir pada jantung

Berdiam lalu bermukim dalam bilik katresnan paling palung

Dia berkedip memanterai kasih sayangmu

Agar aku tak salah memaknai sehingga menjadi belenggu Penghalang perjalanan menuju ke tanah lelaku cinta sebenarnya

Kangmas Kamajaya kekasihku

Aku akan senantiasa duduk dekat lekat sumarah di sampingmu

Tenang dalam genggam gamit menuju cahaya Menari menikmati hangat bara cinta hingga lupa usia

Tak ada Nilaludraka dalam pandang mata Apalagi masuk dalam bilik rahasia

Atau elok kilau dunia sesaat

Semua telah lesap berganti manut paduka Memilih jalan yang kau tuntun

Agar tak tersesat di rimba belantara kegelapan

(49)

Aku tak lagi ingin menimang dunia Akan kuberangus rakus

Dinda hanya ingin menemu damai Bersamamu meniti keabadian

Lubang Buaya, 19 Maret 2021

(50)

PENULIS

Rissa Churria, biasa dipanggil Ummi Rissa adalah penyair yang saat ini tinggal dan menetap di Bekasi, Jawa Barat. Karyanya diterbitkan dalam buku kumpulan puisi tunggal, yaitu : “Harum Haramain” (2016), “Perempuan Wetan”

(2017), “Blakasuta Liku Luka Perang Saudara”(2019), “Matahari Senja di Bumi Osing” (2020). Puisi Rissa juga dimuat di berbagai media cetak, antara lain : Jawa Pos, Radar Banyuwangi, Radar Bekasi, BMR Fox Kotamobagu,Pemuisi Malaysia, dan lain lain.

Selain itu puisinya juga sudah dimuat di lebih 80 kumpulan puisi bersama, antara lain : “Indonesia Dalam Titik 13” (2013), “Ziarah Batin” (2014), “Wakil Rakyat”

(2015), “Memandang Bekasi” (2015), “Ambarawa Seribu Wajah” (2016), “Sastra Lembah Ijen” (2017), “Teksi : Kumpulan Antologi Cerpen Seram dan Thriller” (Penulis Malaysia, Singapura dan Indonesia : 2018), “Jazirah”

(Festifal Sastra Internasional Gunung Bintan 1 – 2018),

“Doa Seribu Bulan” (Antologi Puisi ASEAN 2018), “Negeri Bahari” (Negeri Poci – 2019), “Segara Sakti Rantau Bertuah” ( Festival Internasional Gunung Bintan 2019),

“Cincin Api” (Balai Pustaka Jawa Tengah – 2019), “Di Kaki Gunung Bintan” ( Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2019), “Splash The Unrimitting Drizzel” (22 Penulis dari India, Pakistan, Bangladesh, Indonesia- 2019),

“Perempuan Perempuan Kencana” (2020), “Rajawali Di Dermaga” (2020), “Angin, Ombak dan Gemuruh Rindu”

(Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2020),

“Kembara Padang Lamun” (Festival Sastra Internasional

(51)

Gunung Bintan 2020), “Pandemi” (2020), “Kesan Covid”

(Fakultas Penulis Kreatif dan Filem – Malaysia : 2020), Banjar Baru’s Rainy Day Literary Festival (2020), Bias Warna Hati ( Sastra Nusa Widhita - 2021), Gembok – (Lumbung Puisi Indonesia 2021), Suara Dari Lembah Kata Kata (2021), Di Haribaan Puisi- 10 Penyair Berkiprah (2021), Surat Untuk Ibu (2021), dan lain lain.

Penghargaan yang pernah diperoleh Rissa adalah Nominasi Sepuluh Buku Puisi Terbaik Penghargaan Anugerah Puisi Cecep Samsul Hari (2018), Puisinya terpilih menjadi judul buku Cerpen dan Puisi Pilihan Radar Banyuwangi, “Matahari di Bumi Blambangan” (2018), Menulis Kritik Sastra dan Penulisan Kreatif Dapur Sastra Jakarta(2019), Mendapatkan undangan menghadiri Temu Geogle Local Guide yang diadakan di USA atas kontribusi dan dedikasinya menjadi seorang Geogle Local Guide (2019), Nominasi Delapan Naskah Puisi Terbaik Arashi Grup (2020). Nama Rissa Churria Juga muncul dalam buku

“Apa dan Siapa Penyair Indonesia” yang diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia (2017).

Rissa aktif mengikuti berbagai Festival sastra dan tampil membaca puisi, antara lain : Women of Words Poetry Slam Ubud Writers and Readers Festival (2017 dan 2019), Pertemuan Penyair Nusantara di Singapura (2017),Pertemuan Penyair dan Akademisi di Universitas Sultan Azlan Syah Negeri Perak (2017), Penyair Nusantara di Malaysia (2018), Pertemuan Penyair Ziarah Karyawan Nusantara di Jandabaik-Malaysia (2019), dan lain lain.

Di samping menulis puisi, cerpen, quotes, esai, Rissa aktif membimbing dan memberikan pelatihan serta bimbingan menulis kepada para siswa hingga mereka

(52)

menerbitkan buku, juga menjadi pendamping teman sejawat di sekolah dalam bidang kepenulisan.

Media sosial Fb. Rissa Churria (Ummi Rissa), IG.

RissaChurria (Ummi Rissa), email. [email protected] hp/wa. +6281287812264

(53)

Puisi Puisi

Kang Nun :

(54)

23. DZIKIR DOSIS TINGGI Dzikir dosis tinggi

Tak butuh simpuh sujud di tengah sunyi Tak perlu lagi manik-manik biji tasbih Lelah bibir hanya penghias tarian rintih Senandung ratap tangis meracuni ketulusan Berbalut khusyuk terbalur lendir keangkuhan

Apa yang diharap lagi, jika ke-esa-an masih terbagi-bagi?

Dzikir dosis tinggi

Bersetubuh dengan riuh resah duniawi Tak kenal ruang waktu dan dimensi Tak terhenti

Tak terjumlah Tak terbunyi

Dzikir dosis tinggi

Taklukkan jiwa kepada raga Masukkan raga ke dalam suksma Satukan suksma di dalam rahsa Tenggelamkan rahsa menjelma sirna

Kolam Tinta, 20 Februari 2020

(55)

24. SALOKA KURUSETRA

Suara langit tak mampu menghapus suratan Ketika tanah keadilan memerah banjir darah

Atas nama tahta, saudara pun dianggap musuh yang nyata

Daratan suci menjadi saksi ambisi angkara murka

Mangkatnya Pandhudewanata kisah itu bermula Ajal menjemputnya di masa muda, kutukan Resi Kimindhana

Kala menjelma menjadi rusa di hutan belantara Di bidik jemparing Pandhu kehendak istri tercinta

Tampuk tahta di pegang oleh sang Kakanda

Raden Dretarastra Putra Prabu Abiyasa yang buta netra Dretarastra pemangku sementara tahta Hastinapura Sampai kelak putra mahkota menginjak dewasa

Yudistira Putra Dewi Kunti ksatria tertua dari Pandawa Titisan Dewa Dharma yang adil dan bijaksana

Permainan dadu hobi kesenangannya

Jalan celah menuju karma pembuangan keluarga

Tiga belas tahun lamanya mengembara terbuang Kembali mengambil tahta Hastina saat pulang Mahkota pusaka yang berhak disandang Menebus dosa masa lalu jelas masih terbayang

Tetapi karsa tak bertemu rasa

Permintaan ditolak Duryudana Putra Dretarastra Dialah pangeran tertua dari kurawa

Mengikuti bisikan Sengkuni paman durjana

(56)

Pandawa kecewa janji telah diingkari Harga diri yang hilang harus kembali Tawaran damai berujung sakit hati Jalan perang apakah harus terjadi

Kurawa merasa kekuasaan kini terancam Rencana licik tersusun bisik iblis tertanam Tak mau bertempur dengan kekalahan Siasat busuk menjadi jalan pilihan

Tanah Amarta dihadiahkan kepada Yudistira Sebagai imbalan atas jasa-jasa Pandawa Di Bale Sigala-gala dibangun griya istana Bagian dari rencana kelicikan kurawa

Tanda perdamaian terbius pesta minuman

Pandawa dipaksa mabuk hingga hilang kesadaran Dalam lelap di tengah peristirahatan

Api membara membakar dengan kedahsyatan

Rencana berjalan sesuai asa Duryudana Enam mayat terlihat oleh mata para Kurawa Disangka Kunti juga Pandawa sungguh telah sirna Tak mengira akan kegagalan muslihatnya

Sang Hyang Antaboga dahnyang Sapta Pratala Dewa Nagaraja penyelamatkan Pandawa Dari tipu daya kejahatan busuk Kurawa Di sini keselamatan Pandawa berada

Baratayuda tak lagi bisa dihindari

Palagan perang di Kurusetra telah disepakati Kurawa mempertahankan kekuasaan abadi Pandawa mencari keadilan harga diri

(57)

Resi Bisma Putra Santanu Panglima bala Kurawa Berjanji satya membela Hastinapura

Terjebak dilema berhadapan dengan orang-orang tercinta Tak berdaya menawar karma brahmana

Arjuna meragu diatas kereta kencana Di depan sana banyak Guru dan saudara

Yang harus menerima ketajaman anak panahnya Menjemput ajal karena berada di sisi angkara

Nasehat Sang Guru Batara Krisna menguatkan Kebenaran dan keadilan sangat layak ditegakkan Kezaliman dan kejahatan harus dimusnahkan Meskipun tangan saudara sendiri yang melakukan Suara jeritan sangkala di tangan Bisma membelah Di sertai genderang tanda pertempuran akan pecah Perang terbesar antara dua saudara sedarah

Mengorbankan jutaan nyawa yang tak bersalah

Derap kaki-kaki kuda menjejak bumi Langkah pasukan gajah menggetarkan hati Adu sejata berdenting mengukir luka nyeri Satria berguguran bak daun kering dan mati

Kepulan debu membumbung ke angkasa Seiring darah membajiri tanah kurusetra

Semesta menangis melihat karma menjadi nyata Ulah manusia terbuai nafsu angkara

Delapan belas hari berkecamuknya peperangan Berakhir dengan Pandawa meraih kemenangan Kemenangan ditebus segala pengorbanan Demi keadilan yang harus ditegakkan

(58)

Bumi gersang Kurusetra Saksi utama akibat rakus kuasa Korbankan jutaan raga dan nyawa Kurusetra, saloka sastra sarat makna

Bagelen, 28 Februari 2021

(59)

25. SULUK CINTA RETNA SAWITRI Gundah hati seorang putri remaja

Resah dan gelisah mencari sang belahan jiwa

Menapakkan langkah menyisir tiap jengkal marcapada Dia, Retna Sawitri putri Aswapati raja Mandaraka

Duhai engkau ksatria sang takdir cinta

Di mana sesungguhnya hakikat dirimu berada?

Betapa daku tak kuasa menahan gejolak rasa Menanti asa cinta untuk abadi dalam bahagia Ribuan kota telah kulalui

Tetapi belum jua kutemui Engkau sang cahaya hati

Aku hanya bayangan yang mencari wujud hakiki

Oh, Dewata Agung...

Kemana lagi patik hendak mencari?

Takdir menuntun jalanku mengembara Sampai tepian belantara Argakenanga 'Tuk berjumpa dengan seorang pertapa Resi agung buta netra, Prabu Dyumatsena

Jdug...

Jdug...

Jdug...

Jdug...!

Tetiba jantungku bergetar, bergejolak dalam detak Dada ini mendadak gugup terhenyak

Memandang wujud ksatria muda gagah berbudi Sungguh tampan parasmu, Oh Raden Setyawan ....

(60)

Inikah takdir cinta pada pandangan pertama Kasmaran bersambut dengan asa cita

Gejolak yang hampir padam tertindih putus asa Kembali nyala membara membakar gairah semesta

Hati telah menyatu membangun nirwana Dua raga dalam satu rasa

Dua jiwa dalam satu cinta

Segalanya sempurna menjadi nyata

Tetapi cinta dan kesetiaan abadi Ada di atas uji dan cobaan bertubi

Dewata menghendaki perpisahan 'kan terjadi Cukup sewarsa menikmati rajutan ikatan suci

Dua belas purnama kami bersama Sungguh sangatlah lebih bermakna Berbanding hidup seratus warsa

Tanpa kekasihku, Kakanda Setyawan Ksatria cinta

Sebuah janji adalah sabda sasmita Masa telah meniti dua belas candra Dewata bersaksi atas ikrar tertuah Yamadipati hadir menagih sumpah

Sumpah adalah sumpah Janji adalah janji

Karma tetaplah karma Dharma tetaplah dharma

Sukma Setyawan digendhong Dewata Terpisah dari raga dan belahan jiwa Memupus luasan samudera bahgia

(61)

Nawa cita membayang layu sirna

Wahai Dewata...

Begitu tega paduka kepada hamba Merampas pusaka lentera jiwa

Tak kuasa patik hidup sendiri tanpanya

Duhai Sawitri putri jelita

Akan datang ksatria jadi pelipur lara Jangan bersedih berbalut luka Kelak waktu menghiburmu lupa

Relakan dia, maka kuberi engkau penggantinya Netra ayahanda Dyumatsena sediakala melihat marcapada

'Kan kembali berjaya dengan tahta Dan seratus putra bagimu terwujud nyata

Duh Dewata Yamadipati

Mengapa patik ini paduka dustai

Bagaimana mungkin ada wujud buah hati Sedang benih kehidupan engkau bawa pergi Mana mungkin bisa terang menghampiri Bila cahaya tiada disisi

Cahaya hati tak mungkin terganti Meski dengan seribu matahari

Air mata ini hanya akan mengalir karena dukanya Tirakat hati ini kupersembahkan puja puji untuknya Raga ini rela tersayat tergores demi menjaganya Jiwa ini 'kan kukorbakan sebagai ganti sukmanya

Dewata agung trenyuh akan wujud tekad di puncak yakin Kukuh bersandar pada kayu gung susuhing angin

Takdir cinta mampu mengubah karma suratan Raden Setyawan kembali hidup dalam pelukan

(62)

Janji Dewata pun ditepati Cahaya hati telah kembali

Cinta Sawitri menapak maqom hakiki Mendekap ruh dengan jiwa mandala suci

Bagelen, 04 Maret 2021

(63)

26. SULUK SIRRI BIMASUCI

Ditengah ceruk politik di Negeri Astina Kurawa bersaing dengan Pandhawa Prabu Suyudhana menikmati tahta

Titipan saudara, Prabu Pandhu Dhewanata

Tahta dunia, wijil angkara murka Bala Kurawa terbuai nafsu kuasa Menyusun aib rencana nista Membunuh pelan Pandhawa Lima

Bersekutu dengan paman Arya Suman Merayu Dhang Hyang Durna mencari jalan Agar Pandhawa dalam kebinasaan

Derajat pangkat jadi imbalan

Putraku Bimasena! Sucikan batinmu, demi raih ilmu sempurna

Carilah air jernih abadi wahyu mustika!

Di sana! Diantara belantara Tibaksara

Di bawah Gandawedana Wukir Candradimuka

Bekalmu hanya laku mituhu Kepada petuah sang maha guru Kumbayana gembala jiwamu Jiwamu permata kalbu

“Jalma mara jalma mati” tak surutkan kesetiaan Meski Rukmuka Rukmakala kau binasakan Tetapi titah tak jua kau temukan

Pulang kembali dengan kehampaan

(64)

Pergilah!

Pergilah ke dasar bahari Temukan segera air abadi

“Tirta Pawitra Mahening Suci”

Kelak engkau terberkati

Tanpa kata tanpa suara lekas lalu Langkahkan raga laksanakan laku

Menyelami dalamnya “Arnawama Minangkalbu”

Atas petunjuk Durna Resi Mahaguru

Memilih diri menyambut kematian Daripada pulang tanpa kemenangan Petunjuk guru melekat dalam pikiran Nemburnawa menjadi taklukan

Pancanaka menusuk dada rajanaga Menikam, merobek hingga sirna Darah memancar merahkan samudera Kemenangan berselimut suka cita

“Kayu Gung Susuhing Angin” jadi petuah Membuang kuncup-kuncup ammarah Meninggalkan muslihat lawwamah Meraih cahaya menuju muthmainnah

Bocah bajang berambut panjang Bermain tirta dalam kesendirian

Menggoda dengan senyum ketenangan Dewa Ruci, nyata wujud di hadapan

(65)

“Ajian Galih Kangkung” membuka tabir diri Menerima wejangan suci guru sejati

Pungkasan ngugemi “Manunggaling Kawula Gusti”

Wedhar bhabar luar “Sangkan Paraning Dumadi”

Kolam Tinta, 23 Februari 2021

(66)

27. YUDISTIRA DHARMA

Tatkala Pandawa berkelana kabur kanginan Meniti getirnya pengasingan

Harus terbuang Karma dari kekalahan Dalam sebuah perjudian

Dua belas tahun jadi lakon penuh perjuangan Laku tirakat menebus kelalaian

Demi mendapat kemuliaan Garis yang sudah tersuratkan

Suatu senja berkala bagi Yudistira Sibuk membelah belantara Menyusul empat saudara Mencari air penghapus dahaga Terkapar di tepi telaga

Tak bernyawa

Duhai Dewata agung ...

Dengan apa patik bisa menebus nyawa?

Wahai Ksatria...

Kebenaran dan kebajikan Adalah penebus kesalahan

Dewa Dharma berwujud yaksa bertanya kepada sang putra

Jawablah semua pertanyaan!

Niscaya waktu kan dikembalikan

Apakah yang lebih berat daripada dunia?

Apa pula yang lebih tinggi daripada langit angkasa?

...

(67)

Yudistira menjawab...

Sungguh seorang Ibu lebih berat daripada Marcapada Dan Seorang Ayah lebih luhur daripada langit angkasa ...

Apa yang lebih cepat daripada angin dan lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami?

...

Wahai Dewata ...

Sungguh pikiran lebih cepat daripada angin

Dan rasa khawatir lebih berjumlah banyak dari sekedar setumpuk jerami.

...

Siapakah kawan dari seorang pengembara? Siapakah kawan dari seorang pesakitan?

Dan siapakah kawan dari seorang yang sekarat?

...

Kawan dari seorang musafir adalah pendampingnya Tabiblah kawan seorang yang sakit dan kawan seorang sekarat adalah amalnya

...

Hal apakah yang jika ditinggalkan membuat seseorang dicintai, kaya, dan bahagia?

...

Keangkuhan, bila ditinggalkan membuat seseorang dicintai.

Hasrat, bila ditinggalkan membuat seseorang kaya Dan keserakahan, bila ditinggalkan membuat seseorang bahagia

...

Musuh apakah yang tidak terlihat? Penyakit apa yang tidak bisa disembuhkan?

Manusia macam apa yang mulia dan hina?

...

Kemarahan adalah tirani yang tidak terlihat

(68)

Ketidakpuasan adalah penyakit abadi

Manusia mulia adalah yang mengharapkan kebaikan untuk semua makhluk dan Manusia hina adalah yang tidak mengenal pengampunan

...

Siapakah yang benar-benar berbahagia?

Apakah keajaiban terbesar?

Apa jalannya?

Dan apa beritanya?

...

Seorang yang tidak punya hutang adalah mereka benar- benar berbahagia..

Yaa Gusti yang Maha Agung...

Hari demi hari tak terhitung orang mati

Namun, yang masih hidup berharap untuk bisa abadi

Keajaiban apa yang lebih besar lagi?

Perbedaan pendapat membawa pada kesimpulan yang tidak pasti

Sungguh tiada seorang Mursyid yang bisa diterima oleh semua salik

Hakikat kebenaran Dharma tersembunyi dalam gua-gua hati kita

Karena itu, kesendirian adalah jalan dimana terdapat yang besar dan kecil berada

Dunia yang dipenuhi kebodohan ini layaknya sebuah bejana

Matahari adalah apinya

Hari dan malam adalah bahan bakarnya Musim-musim sebagai sendok-garpunya

(69)

Waktu adalah juru masak atas semua makhluk dalam bejana itu

Inilah beritanya.

Wahai ksatria...

Cahaya Dewata menerangi hatimu Atas kebenaran dan kebijakanmu Namun, bukan kehendakku

Nyawa hanya bisa kukembalikan satu

Dewata Agung...

Sudilah kembalikan adinda Sadewa Andai hanya satu yang jadi sabda

Sebagai wujud atas sebuah keadilan nyata Sebagai penebus jerat sengsara

Wahai ksatria...

Sungguh engkau tinggi pekerti Ksatria mulia budi

Keadilan harus nampak tak tertutupi

Tak hanya satu, tapi semua saudaramu kan kembali

Sekejap yang mati kembali bernyawa Berkumpul bersama keluarga Melanjutkan suratan karma Bergenggam Kalimasada Menuju kesempurnaan dharma Bagelen, 11 Maret 2021

(70)

28. MUSTIKA KALIMASADA Mustika Jamus Kalimasada

Lima sabda petuah luhur bagi kehidupan manusia Pusaka milik raja-raja arif bijaksana

Untuk menjadi sempurna haruslah utuh terlaksana

Cukupkan diri tentang duniawi Tetapi jangan sampai menyiksa diri

Sungguh cinta dunia sumber kesalahan abadi Ambilah bagian dari duniamu yang menjadi arti

Laku budhi seharusnya ditegakkan

Sebagai jalan menuju derajat kemanusiaan Dari sifat kebuasan nafsu liar kebinatangan Nalar akal adalah pembeda bagi kedua ciptaan

Kendalikan nafsumu sebagai taklukan diri Nafsu ammarah yang mengajak sebagai tirani

Nafsu yang putus asa dari kasih Sang Pencipta langit bumi Menuju nafsu sempurna yang direstui

Tinggalkan laku sesetan demit angkara Adhigang adhigung adhiguna

Iri dengki pada nikmat atas sesama Merebut hak yang bukan miliknya

Murcakan rasa dan nalarmu

Sisakan kosong, manunggal pada yang satu Dia, tan kena kinaya ngapa

Tiada padanan atas semua makhluk-Nya Indramayu, 19 Mei 2021

(71)

29. NASEHAT SUCI ISMAYAJATI Tubuh tambun monthok dadamu Welas asih melebihi seorang ibu Setiap langkahmu bijak laku Bagi ksatria engkau maha guru

Memilih hidup sederhana

Sedangkan titahmu setara dewata Meski pipimu mengalir airmata Bibirmu selalu tersenyum bahagia

Kau ajarkan tentang budhi Wujudkan wohing pakerti

Untuk menggapai derajat diri sejati Kau sabdakan nasehat suci

Tidaklah berilmu

Jika kesalahan sendiri tidaklah tahu Berilmu jangan bangga dengan ilmu Karena ilmu sekedar jalan menuju temu

Orang tidak pernah menjadi tinggi Jika masih menjajaki

Derajat tinggi bukan untuk dicari Karena langitpun tidak mengajukan diri

Hiduplah dengan welas asih Asih pada kekasih

Welas tanpa pamrih

Tunduk pasrah kepada Sang Maha kasih

Di dalam diri nan suci Selalu ada sukma sejati

(72)

Tunaikan sabda dharma abadi Manunggaling kawula Gusti

Saloka nasehat Ismayajati Ajaran hidup insan hakiki Sumeleh ing pamikir Sumarah ing karep

Bothok bantheng winungkus ing godhong asem kabiting alu bengkong

Bagelen, 29 April 2021

(73)

30. ELING WENING Duh thole bocah bagus Duh gendhuk bocah ayu Rama lan Ibu bakal cerita

Babar beber panyuwuning donga

Sembilan bulan sepuluh hari di Kawah Candradimuka Si jabang ditempa dengan segenap kasih cinta Hadir dengan tangis air mata bahagia

Dibedhong dibopong digendong Dikudang-kudang dipuja dalam buaian

Duh thole bocah bagus

Kelak jadilah pria ksatria tangguh Bertanggung jawab tanpa kesah keluh

Tatag teteg menyanding jalma yang kadang rapuh

Duh gendhuk bocah ayu

Kelak jadilah wanita yang patuh mituhu Welas asih mengayomi tak kenal waktu Sebar sabar ngadepi watak yang kasar kaku

Lakumu sakdrema nglakoni Warni warna kehidupan menguji Jangan latah atau kagetan Duniamu kini penuh kejutan Bahkan banyak jebakan Tipu muslihat intrik persaingan

Takdir memilihmu sebagai pemenang Di antara berlaksajuta benih pejuang Ketentuan menitahkanmu menjadi juara Sehingga kau merangkak di marcapada

(74)

Duh thole bocah bagus Duh gendhuk bocah ayu Kenali jiwamu yang halus Rumati ragamu nan layu

Serahkan rasa untuknya sekedar saja

Sekarang kau puja-puja esok mendusta mengecewa Kini setia nanti mendua meniga dan seterusnya Usah membudak pada fefana

Jangan korbankan sucinya cinta Jika tidak abadi

Jangan pasrahkan tulusnya rasa Bila berujung tersakiti

Duh thole bocah bagus Duh gendhuk bocah ayu Rama lan Ibu mung bisa weling Gegemana kanti ati wening

Tetap merindulah pada satu kekasih Dia yang tak berjarak temu

Tak butuh ruang dan waktu Dia, tan kena kinaya apa

Bagelen, 9 April 2021

(75)

31. MAKRIFAT WAYANG Adalah wayang

Kematian yang dihidupkan Mengikuti alur ketentuan Harus tunduk pada Sang Dalang Disetiap napas kehidupan

Dalang melakukan apa yang seharusnya dilakukan

Dia Pemilik segala kisah Dia yang merencanakan Dia yang menjalankan

Skenario, Dia yang memutar balikkan Segala intrik dan tipu daya

Tentang konflik perebutan harta Bahkan tahta dan drama asmara

Dia tahu dari mana semua harus bermula

Mengoyak emosi kala sang lakon menderita ditengah cerita

Bagaimana Sang Lakon menjalani sabar dan pasrah Merasakan kalah

Sepenuh lelah

Dipaksa untuk menerima Segala goresan takdir di sana Mengaku lemah dan fakir

Mengharap dan terus berharap menuju akhir

Suluk makrifat wayang

Menafsiri kehendak Sang Dalang Tapa brata luluhkan ego dan ambisi Menuju makrifat pada Dalang sejati

Sang penutup kisah Lakon dalam kemenangan hakiki

(76)

Saat kisah sudah berakhir Semua wayang tersimpan rapi Tinggallah Sang Dalang sendiri

Hanya bersama wayang yang dikehendaki Wayang makrifat akan selalu dipelukan abadi

Indramayu, 14 Juni 2021

(77)

32. SALOKA PUNAKAWAN Hadir sebagai tokoh wejangan Punakawan, Kawan sepemahaman Dalam kisah perjalanan kehidupan

Setiap peristiwa dan masalah selalu beralasan Ada solusi di setiap permasalahan

Ujian duniawi, ragawi serta kejiwaan

Semar Badranaya

Dengan senjata Mustika Manik Astagina Berwatak sabar dan bijaksana

Berbusanakan Parangkusumaraja

Sebagai simbol perwujudan memayu hayuning bawana Penegak keadilan dan kebenaran di atas marcapada Abdi utama keluarga Pandawa dalam kisah Sahadewa Ia selalu menangis namun bibir senantiasa tersenyum Sungguh hidup ini adalah dilema

Nala Gareng

Dari padepokan Bluluktiba, Bambang Sukodadi nama disandang

Berhati-hati dalam setiap tindakan, makna dari kaki yang pincang

Badan yang pendek selalu menunduk, wujud sifat tawaduk dan tenang

Jauhkan pandangan dari kejahatan siratan mata yang juling

Jangan pernah merampas hak orang lain arti tangan melengkung

Dengan jiwa ksatria Ia selalu datang

Menerima takdir meski tirani terus menantang Sungguh hidup ini untuk berjuang

(78)

Petruk Kanthong Bolong

Doblajaya Bambang Pecruk Penyukilan Saku berlobang tanda kedermawanan Hidup bukan tentang posisi dan jabatan

‘Sabaya Mati Sabaya Mukti’ adalah Sinergi Antara rakyat dan para penguasa negeri

Mencapai hidup tentram harus saling kasih mengasihi Ingatlah! Rakyat itu abadi sedang tahta selalu terbatasi

‘Kawula Iku Tanpa Wates, Ratu Kuwi Anane Mung Winates’

Bagong Jamblahita

Tubuh pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar Tabiat bicara lancang namun selalu jujur

Karena kejujurannya hingga dianggap pandir Sikap yang tergesa-gesa dan gegabah Namun toleransimu tak pernah punah Ia contoh yang tak boleh dicontoh Ingin tahu Bodoh dan jujur?

Lihat saja Jamblahita

Sabda tersurat lembaran hiasan sastra Ayat-ayat sekedar mantra terucap karsa

Indah terlantun dalam senandung kidung aksara Petuah hidup bagi yang mampu membaca dengan waskita

Bagi yang lain hanya hiasan nafsu semata

(79)

Saloka Punakawan Cermin sabda tersirat

Perilaku hidup menggapai akhirat Ayat-ayat berjalan petuah jagat Hendaklah hidup berdampingan indah Tanpa harus membedakan darah Manunggal welas manunggal pasrah Selalu bahagia seayun langkah

Bumi Tirta, 3 Juli 2021

(80)

PENULIS

Kang Nun, Pria kelahiran Bagelen 16 Juni 1980, bernama lengkap Muhsinun Abdus Salam. Saat ini berdomisili di Indramayu Jawa Barat., Seorang santri mbeling yang sekaligus seorang ketua sebuah asosiasi pengusaha. Namun, sangat mencintai dunia seni. Karena baginya setiap berkarya tak bisa lepas dari seni agar bisa sepenuh hati, disitulah akan hadir kejujuran dan ketulusan yang akan mendamaikan kehidupan.

(81)

Puisi Puisi

Sri Wahyuni:

(82)

33. BUTA CAKIL

Raksasa garang penuh curiga

Berpenampilan sangar bak sang Bima Tak gentar maju ke medan perang Meski raga jadi taruhan

Buta Cakil jangan tampilkan perangai arogan Buang jauh-jauh sifat burukmu

Kau bukan petarung tangguh Ingat saat perang kembang

kau terkapar jadi bangkai menjijikkan

Buta Cakil bergaya cengengesan Bak psikopat kambuhan

Sukamu keroyokan Cepu,31 Agustus 2020

(83)

34. SEMAR BADRANAYA

Semar Badranaya wajah senyum kecut keriput Pantat besar tubuh tambun buncit di perut Lelaki berpayudara bukan duda bukan pula janda Arif bijaksana dalam bertutur kata

Dia sejatinya dewa Ismaya Tidak pernah lapar dan sakit raga Beristri bidadari tulen

Bernama Dewi Kanestren

Semar Badranaya pemimpin yang merakyat Tidak munafik apalagi berkhianat

Mbegegeg ugeg-ugeg sakdulita humel-humel Tak mengenal malas dan menggerundel Selalu Memayu Hayuning Bawana Pandai menjaga ketenteraman negara

Semar Badranaya bijaksana dalam bersikap

Pengasuh kesatria Pandawa yang fokus pada tugas cakap Menasehati dengan kwalitas sastra yang tinggi

Religius pribadi yang dimiliki Cepu,30 Oktober 2020

(84)

35. PETRUK JADI DUKUN

Gemuruh angin kencang pekakkan telinga Ki Semar mengusir Ki Petruk si Kanthong Bolong

Tanpa berfikir panjang Kebodebleng mengambil langkah seribu menghilang

Sang Petruk terlunta-lunta Menyusuri lorong-lorong tanpa arah

letih lunglai tak dirasa

Sekonyong konyong Sang Petruk bertemu jin Merah dan jin Putih

Dasar Belgeduwelbeh dia mengaku sebagai saudara tua bernama jin Blorok

Mereka berdua tidak berfikir panjang

Jin Blorok dipercaya menjaga bunga sakti Candrawurawan

Seketika itu pula Belgeduwelbeh menjadi dukun Tampil dengan gaya keren

Jaket motif style

Rambut disanggul ala siput

Tidak begitu lama terdengar desiran angin Prabu Kresna datang dan berkata

Hai kamu Kanthong Bolong Jika benar-benar sakti

Hidupkan mereka yang gugur

Secepat kilat menyambar Belgeduwelbeh meloncat Merapal doa-doa memohon ridho-Nya

Maka merekapun kembali bernyawa Cepu,13 September 2020

Referensi

Dokumen terkait

implikasi yang real pada beberapa Kota, Kabupaten, dan Provinsi di Indonesia sebagai ekses dari kebijakan desentralisasi tersebut, terutama penduduknya yang mayoritas beragama

Kemiskinan merupakan masalah yang sangat serius dihadapi oleh Negara-negara berkembang yang mayoritas penduduknya beragama Islam termasuk Indonesia.Negara-negara tersebut

Polemik tentang boleh-tidaknya seorang non-Muslim memimpin sebuah negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam merupakan konsekuensi logis dari sebuah negara

Filipina merupakan salah satu Negara yang terdapat di Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik.Islam menjadi agama minoritas.Meskipun Islam menjadi

Tingginya tingkat korupsi di Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam menunjukkan bahwa karakter amamah/ accountability dan tabligh/ transparency

Perkawinan, percenuan, dan perujukan dalam peraturan perundangan tentang perkawinan di Indonesia, Brunei, dan Malaysia (IBM) yang mayoritas penduduknya beragama

Dalam rangka mewujudkan komitmen ini Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam telah menjadikan Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu mata pelajaran di setiap jenjang

Negara Indonesia sendiri mayoritas penduduknya beragama islam sehingga banyak orang yang mempunyai pandangan negatif terhadap hewan yang satu ini karena anjing merupakan salah satu