MENGEJA
SUSUHING ANGIN
ANTOLOGI PUISI 10 PENYAIR
KELUARGA ISTANA PUISI
Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta:
Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana 1. dimaksud dalam pasal 2 Ayat (1) atau pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah).
Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta dan hak terkait sebagai dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Mengeja Susuhing Angin
Antologi Puisi
Nulis Bareng : Istana Puisi
Pengantar : Gambuh R. Basedo Koordinator pelaksana : Rissa Churria
Editor : Rissa Churria
Lukisan : Gambuh R Basedo
Layouter : Maulana
Cover : Maulana
Cetakan Pertama, 14 x 20 cm Hlm xii x 163
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang All Right Reserved
ISBN : 978-623-5786-09-4
Penerbit : Samudra Printing
KATA PENGANTAR
Negara Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduknya mayoritas beragama islam. Islam pada masa modern seperti saat ini muncul melalui fase yang sangat panjang dan beragam karena negara Indonesia memiliki kebudayaan yang beranekaragam sehingga dalam penyebaran agama Islam pun dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya ialah menggunakan budaya yang beragam itu sendiri seperti wayang kulit, kesenian, dan lain sebagainya.
Para tokoh agama terutama di Pulau Jawa pada saat itu menggunakan budaya Jawa lebih mudah diterima oleh masyarakat luas pada saat itu, sehingga dapat mempercepat dan mempermudah tokoh tersebut dalam menyebarkan agama Islam. Tokoh agama yang sangat kental metode dakwahnya menggunakan budaya Jawa ialah Raden Sahid atau lebih dikenal dengan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga berdakwah melalui pendekatan budaya Jawa. Beliau memahami budaya-budaya yang ada di masyarakat sehingga dengan melalui budaya Jawa terutama wayang kulit beliau bisa menarik perhatian masyarakat tanpa harus merusak atau merubah tatanan budaya yang ada.
Kata wayang sebenarnya berasal dari bahasa Jawa, yang berarti bayangan. Jika dilihat dari arti filsafatnya, wayang merupakan bayangan atau cerminan dari sejumlah sifat yang dimiliki manusia, misalnya saja sifat murka, serakah, pelit, bijak, dan lain sebagainya.
Secara umum, wayang diartikan sebagai boneka untuk meniru orang, yang dibuat dari pahatan kulit atau kayu, dan digunakan untuk menampilkan tokoh dalam sebuah pertunjukan drama tradisional. Pemain wayang dikenal dengan istilah dalang. Biasanya wayang diciptakan
sesuai dengan watak, sifat, dan perilaku yang dimiliki oleh suatu tokoh.
Wayang merupakan bayangan atau ayang-ayang.
Sebab, yang kita lihat saat pertunjukan drama adalah bayangannya pada kelir. Kelir adalah kain putih yang biasanya dibentangkan dalam pertunjukan wayang.
Bayangan tersebut timbul karena sinar “belencong” yang ada di atas kepala si dalang. (R. T. Josowidagdo)
Wayang merupakan boneka yang ditampilkan dalam suatu pertunjukan, yang mengandung berbagai nasihat tentang sikap yang harus dimiliki manusia dalam kehidupan ini. Biasanya, musik yang digunakan dalam pementasan wayang adalah musik gamelan slendro.
(
Doktor Th. Piqeud)Berbicara tentang wayang kulit, Sunan Kalijaga merupakan dalang yang lihai dan piawai dalam memainkan pewayangannya sehingga banyak masyarakat berbondong-bondong melihat pentas seni wayang kulit. Dia ketika manggung di suatu desa hanya meminta upah berupa ucapan syahadat yang diucapkan para hadirin. Selain pintar mendalang, Raden Sahid juga membuat tokoh-tokoh pewayangan.
Sunan Kalijaga mengarang lakon-lakon pewayangan dengan diselipkan ajaran Islam. Seperti tokoh pewayangan Yudistira yang mempunyai jimat kalimasada.
Jimat kalimasada merupakan perlambangan kalimat syahadat, salah satu rukun Islam. Selain Yudistira, Sunan Kalijaga juga membuat tokoh adek-adeknya seperti Werkudara yang dilambangkan salat, Janaka sebagai zakat, nakula menjadi puasa, dan paling bungsu yaitu sadewa menjadi haji. Pengilustrasian tersebut sangat cerdas karena Sunan Kalijaga tidak perlu repot-repot
untuk mengenalkan satu persatu rukun Islam, cukup menggunakan media wayang kulit saja.
Makna simbolik wayang dan layar tempat wayang dipertunjukkan, berkaitan pula dengan bayang-bayang dan cermin. Dengan menggunakan tamsil wayang dalam suluknya Sunan Bonang seakan-akan ingin mengatakan kepada pembacanya bahwa apa yang dilakukan melalui karyanya merupakan kelanjutan dari tradisi sastra sebelumnya, meskipun terdapat pembaharuan di dalamnya.
Ketika ditanya oleh Sunan Kalijaga mengenai falsafah yang dikandung pertunjukan wayang dan hubungannya dengan ajaran tasawuf, Sunang Bonang menunjukkan kisah Baratayudha (Perang Barata), perang besar antara Kurawa dan Pandawa. Di dalam pertunjukkan wayang kulit Kurawa diletakkan di sebelah kiri, mewakili golongan kiri. Sedangkan Pandawa di sebelah kanan layar mewakili golongan kanan. Kurawa mewakili nafi dan Pandawa mewakili isbat. Perang Nafi Isbat juga berlangsung dalam jiwa manusia dan disebut jihad besar. Jihad besar dilakukan untuk mencapai pencerahan dan pembebasan dari kungkungan dunia material.
Sesuai dengan judul pada buku MENGEJA SUSUHING ANGIN antologi puisi bertema pewayangan ini, merupakan Perjalan suluk mencari Tuhan yang disampaikan Kanjeng Sunan Kalijaga lewat lakon Ngajine Rupatala/Jagal Abilawa/Bratasena/Bimasena adalah ajaran tasawuf yang perlu kita kaji terus menerus, sebagai bagian mencari ilmu /Ibadah. Contohnya adalah perintah Sang Begawan pada Bimasena yaitu :
1. Carilah Galihing Kangkung 2. Carilah Susuhing Angin
3. Carilah Tapaking Kunthul Nglayang/Terbang
4. Mati Sakjroning Urip, Urip Sakjroning Mati (Mati Di Dalam Hidup Dan Hidup Di Dalam Mati)
Galih Kangkung artinya berfikir panjang tidak gampang putus asa merenungi setiap permasalahan untuk mengambil sisi positifnya agar tumbuh rasa syukur dan merubah musibah menjadi anugrah.
Susuhing. Angin artinya sarangnya angin/pusatnya angin / asalnya angin adalah renungkan setiap permasalahan cari akar permasalahanya dengan berfikir positif/baik sangka kepada Allah, maka musibah pun jadi anugrah indah, Alhamdulillah
Tapaking Kunthul Atau Bangau Terbang, mencari bekasnya kuntul/bangau saat terbang bagaimana mungkin? ketiga hal tersebut tentu jika dicari kesesuaian dengan tulisan kalimat adalah sesuatu kemustahilan bahkan tidak ada, karena semua itu adalah kalimat hikmah. Atinya bekas kunthul adalah keiklasan dalam berbuat sehingga tidak berbekas karena hakekat iklas adalah kemurnian dalam kemurnian, bukan karena apapun siapapun, hanya ketulusan saja sebagai panggilan jiwa
Sedangkan Mati Sak Jeroning Urip, Urip Sak Jeroning Mati artinya mati di dalam hidup dan hidup di dalam mati.
"Mutuu qobla an tamutuu", matikan dirimu sebelum matimu, sedangkan hidup dalam mati adalah menjaga kesadaran jiwa/hati dengan eling/ingat pada Allah.
Perumpamaan orang yang ingat dengan Allah dan yang tidak adalah seperti orang hidup di antara orang orang mati atau pohon-pohon yang tumbuh di antara gurun- gurun.
Bahkan ada yang menyebut kehidupan di dunia ini adalah kematian dan ketika mati baru hidup yang
sesungguhnya, karena kebanyakan manusia di dunia ini terlena dengan permainan dunia sehingga mati/lupa diri.
Sedangkan makna hidup yang sesungghunya adalah kesadaran diri sebagai kesejatian diri maka itulah hidup/sang hidup.
Sepuluh penyair menyatukan sebuah ide karya puisi pewayangan yang terangkum indah dalam diksi-diksi puisi patut diapresiasi, karena ikut serta merawat tradisi dan budaya wayang sebagai pusaka negeri ini. Saya ucapkan selamat kepada para penyair dalam antologi Mengeja Susuhing Angin, buku puisi yang syarat akan makna hidup dan wejangan-wejangan, serta keteladanan. Semoga kelahiran buku puisi bersama ini dapat menjadi khasanah perpuisian Indonesia, terutama generasi milenia menjadi ujung tombak pelestarian kebudayaan Indonesia yaitu Wayang yang sudah di ambang kepunahan.
Rembang, 2021 Gambuh R Basedo
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... ix
Gambuh R Basedo ... 1
1. MANTRA SAKTI ARIMBI...2
2. SULUK CINTA HARJUNA DRESANALA ...3
3. PUPUH MEGATRUH CIPTANING ...5
4. SURAT WASIAT DEWI SUPRABA ...6
5. SUMPAH SETIA BIDADARI ...8
6. KEMBALILAH KEKASIH ...9
7. KAUKAH SEMBADRA ... 10
8. KACA BENGGALA DEWA RUCI ... 11
9. WEJANG CINTA KAMAJAYA... 12
10. PEMBELAAN BEGAWAN ISMAYA UNTUK HARJUNA. 14 11. MENELISIK PUNAKAWAN DALAM TUBUH SEMAR BADRANAYA ... 16
PENULIS ... 17
Rissa Churria ... 19
12. MENYIBAK PERJALANAN HARJUNA DI WANAMARTA ... 20
13. DEBAR DADA KUNTI SEBELAH KIRI ... 22
14. GAMIT CINTA ARIMBI ... 23
15. MANTRA CINTA DI UBUN EMBUN GATHOTKACA ... 24
16. PECAHAN CAHAYA MENJELMA SUPRABA... 25
17. BALE SIGALAGALA PANDAWA DADU ... 27
18. SUMPAH DRUPADI ... 29
19. BISIK SAKRAL SINTA DI DADA RAMA... 31
20. KIDUNG KATRESNAN PUNTADEWA ... 32
21. SIRAT NAPAS SAKRAL SEMBADRA ... 33
22. HATUR SEMBAH KAMARATIH PADA KAMAJAYA . 34 PENULIS ... 36
Kang Nun : ... 39
23. DZIKIR DOSIS TINGGI ... 40
24. SALOKA KURUSETRA ... 41
25. SULUK CINTA RETNA SAWITRI... 45
26. SULUK SIRRI BIMASUCI ... 49
27. YUDISTIRA DHARMA ... 52
28. MUSTIKA KALIMASADA ... 56
29. NASEHAT SUCI ISMAYAJATI ... 57
30. ELING WENING ... 59
31. MAKRIFAT WAYANG ... 61
32. SALOKA PUNAKAWAN ... 63
PENULIS ... 66
Sri Wahyuni: ... 67
33. BUTA CAKIL ... 68
34. SEMAR BADRANAYA ... 69
35. PETRUK JADI DUKUN ... 70
36. SAGKUNI MBALELA ... 71
37. PRABU KARUNGKALA MURKA ... 72
38. PRABU BASURATA ... 73
39. BEGAWAN SIDOLAMONG ... 74
40. DERITA CINTA RADEN SUDARMA ... 75
41. DEWI SRI WIDAWATI GAGAL BERTAPA ... 77
42. DEWI SARWAWATI BIDADARI NGEJAWANTAH ... 79
PENULIS ... 81
Rastono Sumardi: ... 82
43. PADANG KURUSETRA MASA KINI... 83
44. API KEBENARAN ... 84
45. PERISAI HATI DEWI KUNTI ... 85
46. PILU CINTA DEWI BANOWATI ... 86
47. BENING JIWA YUDHISTIRA ... 87
48. ABIMANYU MENIRWANA ... 88
49. MENYIMAK DAWUH KI SEMAR ... 89
50. KETEGUHAN JIWA BIMA ... 90
51. KARNA DIPERSIMPANG ... 91
52. TERSULUT API BENCI ... 92
PENULIS ... 93
Nurhayati: ... 94
53. PAGELARAN ... 95
54. KESETIAAN HANOMAN ... 97
55. WISANGGENI ... 100
56. SUGRIWA SUBALI ... 101
57. DRESANALA ... 103
PENULIS ... 105
Hamri Manoppo: ... 106
58. LEGENDA BHISMA ... 107
59. Rindu Bagai Gatotkaca ... 108
60. PANDAWA LIMA KURAWA SELAKSA ... 109
61. KETIKA BHISMA TIDUR BERKASUR PANAH ... 110
62. SANGKUNI SANG PENGHASUT ... 112
PENULIS ... 113
Nia S Amira: ... 115
63. KUNTI, PERAWAN DARI HASTINAPURA ... 116
64. SRIKANDI, SANG KSATRIAWATI NAN TANGGUH ... 117
65. SEMBADRA, SANG YOGAMAYA... 119
66. DRUPADI, MALINI DARI PANCHALA ... 120
67. MANOHARA, KESETIAAN SEORANG ISTERI ... 121
68. KESEDIHAN PARVATI ... 123
69. ABIMANYU, SANG WARCASA ... 124
70. SUPRABA, TANGISAN SEORANG DEWI ... 125
71. SENGKUNI, SANG DWAPARAYUGA ... 126
PENULIS ... 128
Dyah N.Kusuma ... 129
72. IBU KUNTI ... 130
73. DEWI DRUPADI ... 132
74. KEBAIKAN ITU ABADI ... 133
75. BALE SIGALA-GALA ... 135
76. BARA KESUMAT ... 137
77. BEGAWAN CIPTANING ... 139
78. LELANANGING JAGAD ... 140
79. RESI ABIYASA ... 141
Dewi Suprijantini ... 144
80. WANITA WANITA WANITA ... 145
81. PAMOMONG ... 147
82. DEWANAGARI SANGKUNI ... 148
83. RONCE RONCE GAMELAN ... 150
84. SEKOTAK WAYANG SANG DALANG ... 151
85. SANG DEWI KUNTI... 152
86. CAKIL SANG KALAPRACEKA ... 154
87. SERPIHAN NASIHAT PAGELARAN ... 156
88. LIMBUKAN ... 158
89. NAKULA SADEWA ... 159
90. LAGU CINTA ARIMBI ... 161
91. PENGORBANAN CINTA BANOWATI ... 162
PENULIS ... 163
Puisi Puisi
Gambuh R Basedo
1. MANTRA SAKTI ARIMBI Perempuan penakluk bimbang Menantang penghalang
Sibakkan mendung gelap hitam bayang Merobek ketakutan menendang rintang
Serah sumarah pada pucuk-puncak Beriring yakin, wening menggiring Tauhid gilig tak oglak-aglik
Turut manut tanpa pikir ribut
Niat bulat Putus asa sirna Cita membara Langkah pasti
Menuju estu, membunuh ragu
Aku Arimbi
Perempuan pengabdi setia suci Tiada doa yang sia sia
Panggang dahana lelaku, adalah jalan rela Mungkinkah jadi emas tanpa tempa
Adakah nikmat bahagia tanpa kenal duka lara
Akulah Arimbi
Penghuni wanamarta, menggamit tangan cinta Bimasena Bermahar liku laku luka nestapa
Wahai kaumku, sedang di mana posisimu kini Hadapi !
Rembang, 17 Maret 2021
2. SULUK CINTA HARJUNA DRESANALA
Nimas ayu dewi Dresanala, ini bukan pelukan terakhir Sungguh kangmas ingin selalu bersama yang sebenarnya tanpa batas tanpa jeda
Membelai bersama janin dalam garba
Menafasi dengan doa, harap esok lahir sebagai ksatria Percayalah kasih
Meski harus terpisah ragawi, tentu jiwa-jiwa rindu akan selalu menyatu
Bahagiakan hari harimu nimas, jangan ada sedih, izinkan kutempuh perjalanan lagi untuk menemu diri
Mendekatlah lekat, kangmas dekap tanpa pegat Kan kubisikan pada lembut dada, bahwa cinta adalah suasana mesra dalam sembarang cuaca
Kangmas harjuna pepundenku
Dulu aku tak pernah bermimpi bertemu, lalu bersatu Hari ini tak kusangka harus terpisah raga, semoga tidak pisah jiwa
Biarlah menjadi pelajaran atas kau dan aku, bahwa kita hanyalah wayang-wayang dalam genggam tangan kuasa sang dalang
Maafkan nimas
Bila airmata menggerimis setidaknya ia jujur mewakili hati yang tak sekadar lamis
Lepaskan, lepaslah lepas peluk kangmas, usah cemas Mari yakini, ini adalah cara Sang Maha menjalankan kita menuju nirwana cinta
Kangmas Harjuna kekasihku
Melangkahlah dengan gagah buang gundah
Bukankah telah nimas kuatkan dengan doa pada kecup bibir terakhir, bawalah rasa itu dalam dada menyemilir Nimas mencintaimu dan takkan pernah berakhir Rembang, 01 Juni 2020
3. PUPUH MEGATRUH CIPTANING
Tersenyumlah kasih
Jangan gelapi wajah dengan mendung murung
Temani aku menjumputi kalimat yang urung menjadi bait bait puisi
Mari bercinta mesra dalam bilik paling rahasia
Kunci kamar suci pengantin ini dari hiruk pikuk merusuhi
Kala ada desah manja lepas hempas tuntas, sadari lalu kauaku masih dalam satu raga
Bila geliat gelinjang berontak menggasak, ingin menelan dunia
Jujur saja, inilah manusia
Bercumbu tanpa kelu, merapal mantra eling wening Ning
Hening Lenyap adaku
Bertemu mewujud indah wajah
Tunduk tekuk simpuh suwung renung
Sujud mencium kembali ikrar setia janji hamba Puja-puji lantunkan pupuh megatruh
Ruh weruh
Siapa melihat siapa
Jangan henti mengeja tanda tanda kebesaran Menembus hijab, lebur hancur dalam akbar cahaya Aku-ku sirna
Rembang, 21 Maret 2021
4. SURAT WASIAT DEWI SUPRABA
: Kepada istri-istri yang berharap menjadi bidadari abadi
Ini bukan soal raga belaka Aku puisi di mata Janaka
Pantas kiranya bila para asura mendekati Raksasa kasengsem untuk memiliki
Kutulis surat untukmu para istri-istri yang berharap menjadi bidadari abadi
Baca permati dengan rela hati arti cinta abadi
Dulu aku hadir ketika dia sedang semedi Menjadi duta dewa untuk menguji
Menggembleng niat seberapa kuat menghamba Goda pesona ternyata tak bermakna
Mata dada sang kesatria tengah menyala
Ini surat wasiat kau baca tentu ketika aku telah menjadi cerita
Gemerlap dunia yang sering bahkan tiada lelah
Kau kejar akan padam dengan cahaya setia lalu sederhana Syukuri jangan kufur
Keinginan bergejolak Memberontak menyalak
Redam dengan tunduk patuh utuh
Kendalikan langkah dengan wening di dada nurani Jelas ia nafsu namun terkadang kauaku lupa mengenali
Bila aku memilih Harjuna
Sebab dia adalah pendingin saat api merah marah Adalah udara semilir menapasi
Adalah pembimbing penuntun arah Adalah baju penutup aurat
Adalah mursyid tongkat laku Adalah payung melindungi Adalah peneduh bila bilaku
Adalah pancaran mata air cinta ketika dahaga Rembang 02 Februari 2021
5. SUMPAH SETIA BIDADARI Kepada tuan dada cinta
Perhelatan liku-laku
Menghapus lembar kenang purba tidak selamis kata Menyiangi merawat dari ruwet suket penggoda Membabat rimbun gerumbul gelap raksasa
Aku tersesat pada jalan denawa Bagai Sinta ngidam kijang kencana Tergelandang arus angan ingin sesaat
Kini tangan ringkih meronta menggeliat, gamitlah sepakat
Kepada tuan dada cinta
Gandeng entas tuntaskan lakon lelaku ini Sudahi, sudahi sampai di sini
Izinkan merasuk menjadi tulang rusuk Jadilah engkau Rama
Bawa aku kembali pada kerajaan mesti Bukan alam khayal yang terlanjur ku cipta Menjadi surga samar
Rangkul hangat dekap legawa Seperti Harjuna kangen Sembadra
Tuan dada cinta janjiku padamu
Bila engkau cinta akulah asmaradahana Bila engkau sajak akulah rima
Bila engkau puisi akulah diksi Bila engkau rindu akulah debar
Dengar sumpah serah sumarahku yang paling Arimbi Bukankah tulus iklas cinta mampu mengubah watak raseksi menjelma bidadari
Rembang, 08 Februari 2021
6. KEMBALILAH KEKASIH
Ada sabar jembar menghampar
Meski angan inginmu berkeliar lalu kesasar Menggandeng harap doa tak henti-henti Menggendhong dengan setia cinta
Masih ada luas maaf membasuh khilaf Melihat sisi baik adalah obat luka mujarab
Membuka lembar indah kenang membasah rindu Menyadari jalan takdir menenangkan ronta gelisah
Sinta kekasihku Pulanglah
Telah kumantrai ali-ali
Menjadi benteng pengayoman
Adakah Rahwana mampu merobek baju patuh Mungkinkah goyah bila ikrar terus bersinar Pusaka macam apa mampu melukai Bila kau menjadi desir angin
Terbangkan segala raga jiwa pada serah sumarah Kupanggil dalam ruang renung dada suwung Kembalilah
Rembang, 07 September 2021
7. KAUKAH SEMBADRA (Sajak Kontempelasi)
Wara sembadrakan hatimu bidadari
Agar tak goyah rayu palsu Burisrawa duniawi Jarak bukan alasan untuk mrucut dari hakekat setia Sebab ikat cinta saling terpikat
Sepakat menuju alamat abadi
Tiupkan doa untukku yang tengah ringkih raga Hingga nyaris lelah melanjutkan perjalanan ini
Sendiko dawuh kangmas
Aku yang bermukim di antara rusukmu
Taklah aku berani melangkah tanpa gamit lenganmu Bawa aku selalu ke mana kau melanglang
Hingga ke muara asal dan tujuan Di sampingmu aku ingin lelaku Di sampingmu aku ingin menuju Di sampingmu aku ingin menyatu Istana Puisi, 22 Agustus 2020
8. KACA BENGGALA DEWA RUCI
Lamun tuhu Hameguru kaki
Hanuladha Kalawan Bimasena Datan wonten sujanane Lelampahnya jinangkung Rujakpala kinimpet-kempit Jumangkah kanthi gagah Kalbunira muhung
Hu dadha suwung manembah
Esti manah pepanggihan marang Gusti Galih wening manuggal
Bila engkau sungguh berguru Lihat teguh tekat niat Bimasena Tiada sakwasangka
Membuang pongah, tidak merasa bisa Jumangkah gagah menendang penghalang Suwung renung manembah
Bertemu lalu yang disembah Galih wening manunggal
Wahai Bimasena Kau adalah bayangan Bila kau gelap akulah terang Bila kau marah akulah kesabaran Bila engkau rindu akulah cinta
Maka bening dentingkan saja bila-bilamu
Kauaku dalam tunggal raga
Mari sepakat mandi taubat tirta prawita inti samudra Sowan lalu lebur dalam Maha Cahaya
Rembang, 01 April 2021
9. WEJANG CINTA KAMAJAYA Ini bukan sekadar asmara dahana
Pula bukan debar kesengsem dunia semata
Kamaratih kekasihku
Kuajarkan padamu tentang rindu biru tuju Tentang jatuh cinta bukan jatuh suka Meski ia setubuh saling melengkapi Seperti api dan panas
Atau air dan dingin
Namun ia pada bilik berbeda
Dengarkan degup dari palung inti hati Tanyakan lalu adakah cinta itu menyakiti
Bukankah ia adalah cahaya mesra yang tak seorangpun mampu menarasikan sempurna
Kekasihku Kamaratih
Duduk dekat lebih lekat, diam tenang Genggam erat jemari menuju cahaya Mari bercinta sebenar cinta
Rasakan geletarnya
Hingga kau aku lupa wadag Gerayangi dada muara rasa Di mana aku kau
Lindap lenyap rona warna pesona
Tinggal degup tak ada kalimat sanggup mewakili meski teronce menjadi larik puisi paling memuisi
Masihkah ingin nikmat sesaat tersesat hanya jatuh suka Lebur hancur abadi
Cinta bertemu wujud sejatinya Memilih kiri atau kanan Gelap atau cahaya
Purnama atau terang Surya
Rembang, 20 Mei 2021
10. PEMBELAAN BEGAWAN ISMAYA UNTUK HARJUNA Gelap Prasangka
Harjuna ksatria yang dibenci denawa denawi Mendung gelap merecoki
Setiap pikir yang tak memahami
Begitu jalan hidup mesti dijalani Mata prasangka diterima dada rela Legawa pada manah hindari lawwamah Jika bulat tekat niat hanya pada Sang Maha Haruskah berhenti sebab caci maki
Harjuna puasa bukan puasi Selalu dalam goda praduga pasti Iman akan diuji seperti janji abadi Selayak besi dibakar dalam api
Tempa mencari inti hingga jelma pamor tosan aji
Bethari Dresanala Dewi supraba
Adalah ganjaran baginya Penakluk marah dan asal bicara
Hingga menep wening berdenting ciptaning
Wara sembadra
Adalah lambang keind ahan Pencerah langkah
Sabar jembar tak mengumbar angan Mereka hadiah, tak pernah ia pinta Tak pula mencari curi
Hingga apalagi mengejar memburu penuh napsu birahi
Lalu mengapa mengapi diri
Hatimu mengeja jalan takdiri Tidakkah kau sadari
Jalma hanyalah titah sawantah Manut perintah
Atau kalian hendak mengantikan catatan Tangan kuasa Sang Dalang
Rembang, 04 April 2021
11. MENELISIK PUNAKAWAN DALAM TUBUH SEMAR BADRANAYA
Semar tan kesengsem barang engkang samar Sammir menghamba jalani titah
Gilig tauhid tak moyak mayik Badra rela narima pandum Naya asuh asih Pandawa Lima
Petruk mandeng kenceng tuhu estu Tulus lurus tembus
Fatruk kulla maa siwallahi
Tinggal tanggalkan selain Sang Hyang Wenang Kantong bolong lila Legawa berderma
Gareng giring angin ingin Kebajikan yang bajik
Menderma kerumunan sahabat Selayak menguar wangi bunga
Dicari lebah madu meski tersembunyi di bawah kelopaknya
Bagong muda pemberani
Lawan bagho tegak dalam tongkat kebenaran Memberantas tuntas angkara murka
Buah denawa yang merasuk pada dada
Sammir ilal Khairi Fatruk minal bagho Siap berangkat menuju kebaikan Maka tanggalkan kejelekan kesia-siaan
Rembang, 14 April 2021
PENULIS
Gambuh R. Basedo adalah penyair yang saat ini tinggal dan menetap di Rembang, Jawa Tengah.
Antologi tunggalnya adalah “Suluk Cinta Kawah Candradimuka”
(Samudra Printing - 2020). Karya karyanya telah diterbitkan dalam antologi bersama, antara lain yaitu : menjadi salah satu "Penyair Jingga”
(2012) “Kado Pernikahan”, (2010), “Dandani Luka Luka Tanah Air” (Antologi puisi Numera Malaysia - 2020), “C Antagonis” (Fakultas Penulis Kreatif dan Filem – Malaysia :2020), “Tribute Sapardi” (2020), “Antologi Para Pendaki”
(2020), Broken Heart (2020), Pelangi Cinta (2020), Antologi Mengenang Najmi Adhani (2020), Romantika Cinta Dalam Aksara (2020), Bias Warna Hati ( Sastra Nusa Widhita - 2021), Gembok – (Lumbung Puisi Indonesia 2021), Suara Dari Lembah Kata Kata (2021), Di Haribaan Puisi- 10 Penyair Berkiprah (2021), Surat Untuk Ibu (2021), Jakarta Betawi (2021), Anakku Permataku (2021) dan lain lain, juga menulis di harian lokal BMRFox Kotamobagu..
Prestasi yang pernah dicapai dalam berkesenian adalah sebagai Duta tari Festifal Tari Surabaya, Jawa timur, tahun 2004, Dalang suluk, Penggagas dan pencipta
“Wayang Lontar Ganyar” sejak tahun 2003 hingga sekarang. Penggagas “Ketoprak Cilik” (anak anak usia 10 – 13 tahun) sejak tahun 1990 hingga sekarang.
Selain kegiatan bersastra dan berkesenian, Gambuh yang kesehariannya sebagai pelukis, juga aktif mengikuti
kegiatan pameran terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, di antaranya yaitu : Pameran Lukisan dan Patung Surabaya(2014), Pameran Lukisan dan pertunjukan teater
“Semuja- Jatiroga” di Tuban, Pameran Lukisan dan Pertunjukan teater teater - Seni Sandur di Jatirogo , Tuban (2015 – 2019) , Bojonegoro 2016, Pameran seni rupa tuban gumregah gedung budaya loka Budaya di Tuban 2018, Pameran seni di Rembang (2015 -2017)
Kegiatan sehari hari sebagai Penggiat Seni dan Perawat Kebudayaan Jawa juga pelaku Teater Mistis dan Interculturalisme ala Gambuh sejak tahun 2000 hingga sekarang, Dalang Suluk Wayang Lontar Ganyar, menjadi penulis lepas, pelukis, penggiat teater Sanggar Gambuh sejak tahun 2000 hingga sekarang, dan lain sebagainya.
Media sosial yang bisa dikunjungi, Fb. Gambuh R Basedo, Ig. Gambuh R basedo.
Puisi Puisi
Rissa Churria
12. MENYIBAK PERJALANAN HARJUNA DI WANAMARTA
Lepas tuntas bale sigala gala
Para denawa masih saja menyengkuni Mengakali culas dengki menjadi pucuk rayu Iming-iming kebaikan dan luahan cinta palsu Berharap mereka mati dalam amuk kegelapan
Adalah hutan wingit
Wanamarta tempat para dedemit jin setan prayangan Bertahta dalam kerajaan yang penuh cekam
Babat alas membuka nagari baru menjadi tujuan
Perjalanan panjang, malam seolah tak berhujung Resi Wilawuk berwujud naga raksasa menemui Arjuna Di punggungnya diletakkan kepercayaan
Menyapih antara tulus rusuh dan keangkuhan
Terbang di antara pucuk-pucuk malam
Membelah angin menju pertapaan Pringgodani Nageri para lelembut yang tak sembarang orang Bisa memasuki wilayah, keculai yang dikendaki
Dewi Jimambang putri Wilawuk
Berparas jelita serupa bidadari kahyangan Diperjodohkan kepadanya Arjuna
Ksatria tampan jujur sabar dan bijaksana
Cinta berpagutan di antara ringkik daun-daun mahoni Dua hati terpaut tarik menarik serupa sembrani Sang Hyang Wasesa telah mengikat tali suci Ditiupkan ruh cinta pada sebidang hati Menubuahkan rasa saling tatap lila legawa
Percaya menyamundra mengarungi bahtera bersama
Angin sidrah berhembus membalut rasa
Cupu lenga Jayengkaton terselip di pinggang kiri Jalasutera kencana menyemat di pinggang kanan Kuda Ciptawilaha menemani perjalanan Arjuna Kembali ke Wanamarta hutan wingit para dedemit Dan cambuk Kyai Pamuk menemaninya tanpa jeda Cibinong, 03 Maret 2021
13. DEBAR DADA KUNTI SEBELAH KIRI
Ada detak yang terhela di sana Saat pandang menggantang matahari Pesona cahaya dari wajah Betara Surya Meredam gejolak pagi menjadi cinta
Kunti luluh, luruh lirih pada sibak bisik menirwana
Inilah gejolak yang masuk melalui rongga hati Tak menampik meski rasa telah satuhu janji nyawiji Pada Pandu yang di teleng dadanya telah tercatat nama Tan ginggang sak rikma
Mencintai menggamit di tiap helaan udara
Cahaya…
Cahaya surya
Masuk merasuk menjadi muasal Kehidupan baru yang tertinggal Di teleng rahim Dewi Kunti
Lalu berdebar denyar menjadi hidup Lahir dari telinga kanannya
Karna yang kelak menjadi Bala Korawa
Inilah takdir yang hidup Di antara kelindan manusiawi Keinginan nafsu dan cahaya Mengulik napas ketulusan Memecah antara daksaka-daksiki Meski terlahir dari satu rahim kasih Namun tabiat akan bisa berbeda Cibinong, 02 Maret 2021
14. GAMIT CINTA ARIMBI
Adalah putri Prabu Arimbaka Pringgadani nagari para raksasa Halus budi bahasa sabar penuh cinta Dia Arimbi wajah raksasi menjelma Dewi
Dari telapak tangan Dewi Kunti Tercurah luahan kasih Ibunda Serupa hujan luruh tengah hari Saat gersang memanggang cuaca
Arimbi dari suci hatinya
Putih perasaan mewangi melati Jatuh embun doa membasuh kening Cahaya itu membias seolah menguliti Sekujur lampah lumpur pada diri
Inilah Arimbi dari rahimnya telah dititipkan Janin dari keturunan Werkudara
Putra Prabu Pandu dwi pandawa
Dari gamit jemari dan lengannya Usap doa dan ketulusan
Ibu bagi para kesatria Bogor, 27 Februari 2021
15. MANTRA CINTA DI UBUN EMBUN GATHOTKACA
Aku membaca tanda cinta Di ubun embun Gathotkaca Di antara letupan didik didih Kawah candradimuka yang sakral Oleh segala ritual para dewa
Segala gaman dari zaman ke zaman Segala senjata dari aneka warna tembaga Segala pusaka kesaktian para dewa Melebur menyatu dalam puja puji doa
Berangsur memantrainya dari segala lubang wasilah hidup
Inilah Suluk cinta dari betara guru Menempa bukan tersebab benci Gunung Jamurdipa sebagai saksi
Bagaimana Tutuka berubah menjadi kesatria Sakti mandraguna menjelma Gathotkaca
Gembleng itu tak akan megat ruh Meski api melalap dan membakar
Sang guru tahu apa yang pantas
Resi Kaneka Putra mengawal dengan cinta Serupa embun yang menetas tiap pagi buta Bogor, 27 Februari 2021
16. PECAHAN CAHAYA MENJELMA SUPRABA
Adalah pecahan cahaya yang merupa tujuh warna Bila kau digelari ratu bidadari
Berparas cahaya bertubuh harum asoka Itu adalah anugerah Sang Maha Wisesa
Kecantikan itu mengundang denawa dan asura Melantang rentangkan segala niatanya
Masuk menyusup hendak melebur hancurkan kahyangan Tertutup oleh mata cahaya bethari cinta
Akulah Dewi Supraba
Berselendang pelangi menggandeng enam pecahan sosok diri
Menepi menuju Indrakila
Puncak merapi tempat tapa laku Harjuna
Mengikhtiari cinta membangunkan sang Begawan Dari riyadohnya kepada puncak keabadian
Aku mengemis cinta
Membangunkanmu dari tapa brata
Tak bergeming meski goda dan seduh sentuh jemariku Tak dapat membangunkan khalwat dialogmu dengan Sang Maha Cinta
“Duh kangmas Harjuna, tidakkah lembut dan parasku menggodamu
Sedang asura berebut pandangku
Satu tujumu tak dapat aku rayu dengan apa pun Meski aku menari telanjang di hadapanmu”
“Daulat kaula atasmu kangmas Harjuna”
Estu manut paduka hanjejeri duta para dewa
Merantak Niwatakawaca dengan panah pasopati Yang telah kau lumuri cinta peredam amarah denawa Kau balut dengan kendit nafsu duniawi
Merasuk Melebur Menyatulah
Bersemayam pada jantung dan alir darah Hentakkan kata ikhlas pada sang batara guru Pasopati menghunjam hingga ulu kalbu Bersimbah luka darah
Manimantaka gaduh seketika
Sang asura mati tertimbun keangkuhannya sendiri Bekasi, 26 Februari 2021
17. BALE SIGALAGALA PANDAWA DADU
Drupadi namanya
Perempuan yang rela tergadai Dalam suluk setia Puntadewa Tuhu manut titah pandita ratu
Ini hari pertarungan sigalagala dadu Sorot mata tajam itu saling menatap Pandawa dan Astina saling diredam gejolak Nafsu amarah cinta kesetian dipertaruhkan
Ada aroma menyengkuni di antara potongan dadu Muslihat menyelinap kasak kusuk berbisik sibak Gerak merantak tak dapat ditebak
Dari segala arah meski kesaktian wahyu keprabon Menyembur pada dada para Pandawa
Jagat Dewa Batara
Tak ada yang bisa mencegah
Pusaka janji telah terikrar pada lathi ksatria
Drupadi serupa wadal yang mesti menebus kekalahan Malang tak dapat dicegah luka tak dapat ditolak
Dari atas menara kesombongan
Dursasana berteriak lantang kemenangan
Tanganya mengapai kampuh yang membebat tubuh Drupadi
Tanpa rasa iba; wajah penuh tawa sambil menelan liur syahwatnya
Angin tetiba berhenti berhembus Daun daun merunduk menutup wajah Air mata Drupadi luruh penuh bara amarah Tak sehelai benang menutup tubuhnya
Luka di atas luka menganga memendam kesumat di dada Bekasi, 24 Februari 2021
18. SUMPAH DRUPADI
Dadu itu membelenggu Pada gerak takdir yang jatuh Di gerai kuduk dan keningku Menjadi ritual tawa denawa Pada pengabdian yang kutuju
Akulah Drupadi
Perempuan yang bermukim Di rusuk lelaki pembayun pandawa Puntadewa; di mana pinta
Menjadi perintah Sang Maha Wisesa
Saat mata dadu menjadi kosong Tak ada yang dapat teraba hari itu
Semua pandang disengkuni oleh kelicikan Durgakala berpijak pihak pada Hastina Runtuh luruh takdir mengikat kuat janji
Hari itu senja berkarat Tak ada yang dapat dilarung Kecuali kekalahan para petarung Pandawa harus menyerah kalah Pada bidak dadu; dilumuri kecurangan
Aku ditelanjangi
Tanpa sehelai benang di tubuh Dursasana terbahak tanpa iba Gigil amarah makin buncah
Alam merunduk menutup pandang Aku tertunduk dengan derai air mata Jatuh sumpah pada alir darah
"Aku akan mandi dengan darah Dursasana
Sebelum matiku menghadap sang hyang Wenang"
Cibinong, 24 Februari 2021
19. BISIK SAKRAL SINTA DI DADA RAMA
Kanda Rama
Izinkan berbisik di dada kanan
Seperti aku yang bermukim di satu rusuk Antara paru dan jantung degupmu
Setelah kau ruwat ikrar cinta suci Seketika napas dan darah kita menyatu Pada tiap tegukan bercawan anggur Kita rituali dengan bisik mesra
Aku ingin membuang hantu gelap Dalam ruang bilik kita
Menyempurnakan hari hari agar penuh aroma bunga Coba kau hidu wangi tubuhku
Tak ada Rahwana yang melukai pakaian Atau pun menyentuh kulit
Usah ragu gundah aku tetap setia pada ikrar sakral
Kanda Rama
Akan kukubur semua genang kenang Tak sehelai ingatan ada di antaranya
Aku hanya ingin menatap semai biji-biji kasih Yang kini mekar di taman hati kita
Kanda Rama
Gandeng aku selalu dalam perjalanan riyadhahmu Jangan lepas meski sehela napas
Aku ingin selalu nyawiji hingga penghabisan nanti Istana Puisi, 20 November 2020
20. KIDUNG KATRESNAN PUNTADEWA
Diajeng Drupadi garwaningsun yayi
Kuhapus air matamu dengan kidung paling cinta Sudahi, usir amuk badai amarah
Dengan muasal kembali pada fitrah Atas kesucianmu sebagai istri Yang tak perlu diragui atau kucurigai
Diajeng gegantilaning tyas mami Mari bangkit, mendekatlah
Akan kukidung gandrung katresnan Sepanjang napas pengabdianmu Hingga menirwana seisi kalbu
Nimas ayu,
Berbinarlah cinta pada air muka Jangan pernah ngersula Lihat sorot mataku selalu
Yang tak pernah lepas memandang Ayumu Cibinong, 23 Februari 2021
21. SIRAT NAPAS SAKRAL SEMBADRA Ini laku Sembadra mendadar kisah
Menjadi mantra cinta yang mendarmabakti Setiap langkah pada estu manut tuhu Pada suluk Sri Begawan Ciptaning
Baginya tak ada tempat berlabuh Lebih sakral untuk mencecap nikmat Manis gemerlap dunia kecuali Bersandar di dada luas Sri Begawan Dalam perjalanan riyadhah
Menuju cinta dan keabadian
"Sri Begawan Ciptaning,
Tangkap segala yang tersurat tersirat Dari renjis takdir sang Maha Wisesa Gamit selalu jangan lepas
Meski aku mulai lungsai lemah
Hanya tinggal kedip mata sebagai isyarat hidup"
Tak ada yang lebih Ciptaning
Kecuali jalan cipta bersama begawan Mengikhtiari pagi hingga petang
Mentadaburi malam hingga fajar menjelang Merituali hari pada rela kehendak
Agar keluh luruh pada semesta Lalu pasrah tunduk dan berserah Sumarah indah menirwana
Bekasi, 13 Maret 2021
22. HATUR SEMBAH KAMARATIH PADA KAMAJAYA Estu diajeng mendengar
Sembah sungkem hangestuaken
Pada tiap aksara yang jatuh di teleng dada cinta ini Bukan tersebab kesengsem dunia
Namun cukup terima pandum
Kangmas Kamajaya
Meski rindu telah mengalir pada jantung
Berdiam lalu bermukim dalam bilik katresnan paling palung
Dia berkedip memanterai kasih sayangmu
Agar aku tak salah memaknai sehingga menjadi belenggu Penghalang perjalanan menuju ke tanah lelaku cinta sebenarnya
Kangmas Kamajaya kekasihku
Aku akan senantiasa duduk dekat lekat sumarah di sampingmu
Tenang dalam genggam gamit menuju cahaya Menari menikmati hangat bara cinta hingga lupa usia
Tak ada Nilaludraka dalam pandang mata Apalagi masuk dalam bilik rahasia
Atau elok kilau dunia sesaat
Semua telah lesap berganti manut paduka Memilih jalan yang kau tuntun
Agar tak tersesat di rimba belantara kegelapan
Aku tak lagi ingin menimang dunia Akan kuberangus rakus
Dinda hanya ingin menemu damai Bersamamu meniti keabadian
Lubang Buaya, 19 Maret 2021
PENULIS
Rissa Churria, biasa dipanggil Ummi Rissa adalah penyair yang saat ini tinggal dan menetap di Bekasi, Jawa Barat. Karyanya diterbitkan dalam buku kumpulan puisi tunggal, yaitu : “Harum Haramain” (2016), “Perempuan Wetan”
(2017), “Blakasuta Liku Luka Perang Saudara”(2019), “Matahari Senja di Bumi Osing” (2020). Puisi Rissa juga dimuat di berbagai media cetak, antara lain : Jawa Pos, Radar Banyuwangi, Radar Bekasi, BMR Fox Kotamobagu,Pemuisi Malaysia, dan lain lain.
Selain itu puisinya juga sudah dimuat di lebih 80 kumpulan puisi bersama, antara lain : “Indonesia Dalam Titik 13” (2013), “Ziarah Batin” (2014), “Wakil Rakyat”
(2015), “Memandang Bekasi” (2015), “Ambarawa Seribu Wajah” (2016), “Sastra Lembah Ijen” (2017), “Teksi : Kumpulan Antologi Cerpen Seram dan Thriller” (Penulis Malaysia, Singapura dan Indonesia : 2018), “Jazirah”
(Festifal Sastra Internasional Gunung Bintan 1 – 2018),
“Doa Seribu Bulan” (Antologi Puisi ASEAN 2018), “Negeri Bahari” (Negeri Poci – 2019), “Segara Sakti Rantau Bertuah” ( Festival Internasional Gunung Bintan 2019),
“Cincin Api” (Balai Pustaka Jawa Tengah – 2019), “Di Kaki Gunung Bintan” ( Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2019), “Splash The Unrimitting Drizzel” (22 Penulis dari India, Pakistan, Bangladesh, Indonesia- 2019),
“Perempuan Perempuan Kencana” (2020), “Rajawali Di Dermaga” (2020), “Angin, Ombak dan Gemuruh Rindu”
(Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2020),
“Kembara Padang Lamun” (Festival Sastra Internasional
Gunung Bintan 2020), “Pandemi” (2020), “Kesan Covid”
(Fakultas Penulis Kreatif dan Filem – Malaysia : 2020), Banjar Baru’s Rainy Day Literary Festival (2020), Bias Warna Hati ( Sastra Nusa Widhita - 2021), Gembok – (Lumbung Puisi Indonesia 2021), Suara Dari Lembah Kata Kata (2021), Di Haribaan Puisi- 10 Penyair Berkiprah (2021), Surat Untuk Ibu (2021), dan lain lain.
Penghargaan yang pernah diperoleh Rissa adalah Nominasi Sepuluh Buku Puisi Terbaik Penghargaan Anugerah Puisi Cecep Samsul Hari (2018), Puisinya terpilih menjadi judul buku Cerpen dan Puisi Pilihan Radar Banyuwangi, “Matahari di Bumi Blambangan” (2018), Menulis Kritik Sastra dan Penulisan Kreatif Dapur Sastra Jakarta(2019), Mendapatkan undangan menghadiri Temu Geogle Local Guide yang diadakan di USA atas kontribusi dan dedikasinya menjadi seorang Geogle Local Guide (2019), Nominasi Delapan Naskah Puisi Terbaik Arashi Grup (2020). Nama Rissa Churria Juga muncul dalam buku
“Apa dan Siapa Penyair Indonesia” yang diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia (2017).
Rissa aktif mengikuti berbagai Festival sastra dan tampil membaca puisi, antara lain : Women of Words Poetry Slam Ubud Writers and Readers Festival (2017 dan 2019), Pertemuan Penyair Nusantara di Singapura (2017),Pertemuan Penyair dan Akademisi di Universitas Sultan Azlan Syah Negeri Perak (2017), Penyair Nusantara di Malaysia (2018), Pertemuan Penyair Ziarah Karyawan Nusantara di Jandabaik-Malaysia (2019), dan lain lain.
Di samping menulis puisi, cerpen, quotes, esai, Rissa aktif membimbing dan memberikan pelatihan serta bimbingan menulis kepada para siswa hingga mereka
menerbitkan buku, juga menjadi pendamping teman sejawat di sekolah dalam bidang kepenulisan.
Media sosial Fb. Rissa Churria (Ummi Rissa), IG.
RissaChurria (Ummi Rissa), email. [email protected] hp/wa. +6281287812264
Puisi Puisi
Kang Nun :
23. DZIKIR DOSIS TINGGI Dzikir dosis tinggi
Tak butuh simpuh sujud di tengah sunyi Tak perlu lagi manik-manik biji tasbih Lelah bibir hanya penghias tarian rintih Senandung ratap tangis meracuni ketulusan Berbalut khusyuk terbalur lendir keangkuhan
Apa yang diharap lagi, jika ke-esa-an masih terbagi-bagi?
Dzikir dosis tinggi
Bersetubuh dengan riuh resah duniawi Tak kenal ruang waktu dan dimensi Tak terhenti
Tak terjumlah Tak terbunyi
Dzikir dosis tinggi
Taklukkan jiwa kepada raga Masukkan raga ke dalam suksma Satukan suksma di dalam rahsa Tenggelamkan rahsa menjelma sirna
Kolam Tinta, 20 Februari 2020
24. SALOKA KURUSETRA
Suara langit tak mampu menghapus suratan Ketika tanah keadilan memerah banjir darah
Atas nama tahta, saudara pun dianggap musuh yang nyata
Daratan suci menjadi saksi ambisi angkara murka
Mangkatnya Pandhudewanata kisah itu bermula Ajal menjemputnya di masa muda, kutukan Resi Kimindhana
Kala menjelma menjadi rusa di hutan belantara Di bidik jemparing Pandhu kehendak istri tercinta
Tampuk tahta di pegang oleh sang Kakanda
Raden Dretarastra Putra Prabu Abiyasa yang buta netra Dretarastra pemangku sementara tahta Hastinapura Sampai kelak putra mahkota menginjak dewasa
Yudistira Putra Dewi Kunti ksatria tertua dari Pandawa Titisan Dewa Dharma yang adil dan bijaksana
Permainan dadu hobi kesenangannya
Jalan celah menuju karma pembuangan keluarga
Tiga belas tahun lamanya mengembara terbuang Kembali mengambil tahta Hastina saat pulang Mahkota pusaka yang berhak disandang Menebus dosa masa lalu jelas masih terbayang
Tetapi karsa tak bertemu rasa
Permintaan ditolak Duryudana Putra Dretarastra Dialah pangeran tertua dari kurawa
Mengikuti bisikan Sengkuni paman durjana
Pandawa kecewa janji telah diingkari Harga diri yang hilang harus kembali Tawaran damai berujung sakit hati Jalan perang apakah harus terjadi
Kurawa merasa kekuasaan kini terancam Rencana licik tersusun bisik iblis tertanam Tak mau bertempur dengan kekalahan Siasat busuk menjadi jalan pilihan
Tanah Amarta dihadiahkan kepada Yudistira Sebagai imbalan atas jasa-jasa Pandawa Di Bale Sigala-gala dibangun griya istana Bagian dari rencana kelicikan kurawa
Tanda perdamaian terbius pesta minuman
Pandawa dipaksa mabuk hingga hilang kesadaran Dalam lelap di tengah peristirahatan
Api membara membakar dengan kedahsyatan
Rencana berjalan sesuai asa Duryudana Enam mayat terlihat oleh mata para Kurawa Disangka Kunti juga Pandawa sungguh telah sirna Tak mengira akan kegagalan muslihatnya
Sang Hyang Antaboga dahnyang Sapta Pratala Dewa Nagaraja penyelamatkan Pandawa Dari tipu daya kejahatan busuk Kurawa Di sini keselamatan Pandawa berada
Baratayuda tak lagi bisa dihindari
Palagan perang di Kurusetra telah disepakati Kurawa mempertahankan kekuasaan abadi Pandawa mencari keadilan harga diri
Resi Bisma Putra Santanu Panglima bala Kurawa Berjanji satya membela Hastinapura
Terjebak dilema berhadapan dengan orang-orang tercinta Tak berdaya menawar karma brahmana
Arjuna meragu diatas kereta kencana Di depan sana banyak Guru dan saudara
Yang harus menerima ketajaman anak panahnya Menjemput ajal karena berada di sisi angkara
Nasehat Sang Guru Batara Krisna menguatkan Kebenaran dan keadilan sangat layak ditegakkan Kezaliman dan kejahatan harus dimusnahkan Meskipun tangan saudara sendiri yang melakukan Suara jeritan sangkala di tangan Bisma membelah Di sertai genderang tanda pertempuran akan pecah Perang terbesar antara dua saudara sedarah
Mengorbankan jutaan nyawa yang tak bersalah
Derap kaki-kaki kuda menjejak bumi Langkah pasukan gajah menggetarkan hati Adu sejata berdenting mengukir luka nyeri Satria berguguran bak daun kering dan mati
Kepulan debu membumbung ke angkasa Seiring darah membajiri tanah kurusetra
Semesta menangis melihat karma menjadi nyata Ulah manusia terbuai nafsu angkara
Delapan belas hari berkecamuknya peperangan Berakhir dengan Pandawa meraih kemenangan Kemenangan ditebus segala pengorbanan Demi keadilan yang harus ditegakkan
Bumi gersang Kurusetra Saksi utama akibat rakus kuasa Korbankan jutaan raga dan nyawa Kurusetra, saloka sastra sarat makna
Bagelen, 28 Februari 2021
25. SULUK CINTA RETNA SAWITRI Gundah hati seorang putri remaja
Resah dan gelisah mencari sang belahan jiwa
Menapakkan langkah menyisir tiap jengkal marcapada Dia, Retna Sawitri putri Aswapati raja Mandaraka
Duhai engkau ksatria sang takdir cinta
Di mana sesungguhnya hakikat dirimu berada?
Betapa daku tak kuasa menahan gejolak rasa Menanti asa cinta untuk abadi dalam bahagia Ribuan kota telah kulalui
Tetapi belum jua kutemui Engkau sang cahaya hati
Aku hanya bayangan yang mencari wujud hakiki
Oh, Dewata Agung...
Kemana lagi patik hendak mencari?
Takdir menuntun jalanku mengembara Sampai tepian belantara Argakenanga 'Tuk berjumpa dengan seorang pertapa Resi agung buta netra, Prabu Dyumatsena
Jdug...
Jdug...
Jdug...
Jdug...!
Tetiba jantungku bergetar, bergejolak dalam detak Dada ini mendadak gugup terhenyak
Memandang wujud ksatria muda gagah berbudi Sungguh tampan parasmu, Oh Raden Setyawan ....
Inikah takdir cinta pada pandangan pertama Kasmaran bersambut dengan asa cita
Gejolak yang hampir padam tertindih putus asa Kembali nyala membara membakar gairah semesta
Hati telah menyatu membangun nirwana Dua raga dalam satu rasa
Dua jiwa dalam satu cinta
Segalanya sempurna menjadi nyata
Tetapi cinta dan kesetiaan abadi Ada di atas uji dan cobaan bertubi
Dewata menghendaki perpisahan 'kan terjadi Cukup sewarsa menikmati rajutan ikatan suci
Dua belas purnama kami bersama Sungguh sangatlah lebih bermakna Berbanding hidup seratus warsa
Tanpa kekasihku, Kakanda Setyawan Ksatria cinta
Sebuah janji adalah sabda sasmita Masa telah meniti dua belas candra Dewata bersaksi atas ikrar tertuah Yamadipati hadir menagih sumpah
Sumpah adalah sumpah Janji adalah janji
Karma tetaplah karma Dharma tetaplah dharma
Sukma Setyawan digendhong Dewata Terpisah dari raga dan belahan jiwa Memupus luasan samudera bahgia
Nawa cita membayang layu sirna
Wahai Dewata...
Begitu tega paduka kepada hamba Merampas pusaka lentera jiwa
Tak kuasa patik hidup sendiri tanpanya
Duhai Sawitri putri jelita
Akan datang ksatria jadi pelipur lara Jangan bersedih berbalut luka Kelak waktu menghiburmu lupa
Relakan dia, maka kuberi engkau penggantinya Netra ayahanda Dyumatsena sediakala melihat marcapada
'Kan kembali berjaya dengan tahta Dan seratus putra bagimu terwujud nyata
Duh Dewata Yamadipati
Mengapa patik ini paduka dustai
Bagaimana mungkin ada wujud buah hati Sedang benih kehidupan engkau bawa pergi Mana mungkin bisa terang menghampiri Bila cahaya tiada disisi
Cahaya hati tak mungkin terganti Meski dengan seribu matahari
Air mata ini hanya akan mengalir karena dukanya Tirakat hati ini kupersembahkan puja puji untuknya Raga ini rela tersayat tergores demi menjaganya Jiwa ini 'kan kukorbakan sebagai ganti sukmanya
Dewata agung trenyuh akan wujud tekad di puncak yakin Kukuh bersandar pada kayu gung susuhing angin
Takdir cinta mampu mengubah karma suratan Raden Setyawan kembali hidup dalam pelukan
Janji Dewata pun ditepati Cahaya hati telah kembali
Cinta Sawitri menapak maqom hakiki Mendekap ruh dengan jiwa mandala suci
Bagelen, 04 Maret 2021
26. SULUK SIRRI BIMASUCI
Ditengah ceruk politik di Negeri Astina Kurawa bersaing dengan Pandhawa Prabu Suyudhana menikmati tahta
Titipan saudara, Prabu Pandhu Dhewanata
Tahta dunia, wijil angkara murka Bala Kurawa terbuai nafsu kuasa Menyusun aib rencana nista Membunuh pelan Pandhawa Lima
Bersekutu dengan paman Arya Suman Merayu Dhang Hyang Durna mencari jalan Agar Pandhawa dalam kebinasaan
Derajat pangkat jadi imbalan
Putraku Bimasena! Sucikan batinmu, demi raih ilmu sempurna
Carilah air jernih abadi wahyu mustika!
Di sana! Diantara belantara Tibaksara
Di bawah Gandawedana Wukir Candradimuka
Bekalmu hanya laku mituhu Kepada petuah sang maha guru Kumbayana gembala jiwamu Jiwamu permata kalbu
“Jalma mara jalma mati” tak surutkan kesetiaan Meski Rukmuka Rukmakala kau binasakan Tetapi titah tak jua kau temukan
Pulang kembali dengan kehampaan
Pergilah!
Pergilah ke dasar bahari Temukan segera air abadi
“Tirta Pawitra Mahening Suci”
Kelak engkau terberkati
Tanpa kata tanpa suara lekas lalu Langkahkan raga laksanakan laku
Menyelami dalamnya “Arnawama Minangkalbu”
Atas petunjuk Durna Resi Mahaguru
Memilih diri menyambut kematian Daripada pulang tanpa kemenangan Petunjuk guru melekat dalam pikiran Nemburnawa menjadi taklukan
Pancanaka menusuk dada rajanaga Menikam, merobek hingga sirna Darah memancar merahkan samudera Kemenangan berselimut suka cita
“Kayu Gung Susuhing Angin” jadi petuah Membuang kuncup-kuncup ammarah Meninggalkan muslihat lawwamah Meraih cahaya menuju muthmainnah
Bocah bajang berambut panjang Bermain tirta dalam kesendirian
Menggoda dengan senyum ketenangan Dewa Ruci, nyata wujud di hadapan
“Ajian Galih Kangkung” membuka tabir diri Menerima wejangan suci guru sejati
Pungkasan ngugemi “Manunggaling Kawula Gusti”
Wedhar bhabar luar “Sangkan Paraning Dumadi”
Kolam Tinta, 23 Februari 2021
27. YUDISTIRA DHARMA
Tatkala Pandawa berkelana kabur kanginan Meniti getirnya pengasingan
Harus terbuang Karma dari kekalahan Dalam sebuah perjudian
Dua belas tahun jadi lakon penuh perjuangan Laku tirakat menebus kelalaian
Demi mendapat kemuliaan Garis yang sudah tersuratkan
Suatu senja berkala bagi Yudistira Sibuk membelah belantara Menyusul empat saudara Mencari air penghapus dahaga Terkapar di tepi telaga
Tak bernyawa
Duhai Dewata agung ...
Dengan apa patik bisa menebus nyawa?
Wahai Ksatria...
Kebenaran dan kebajikan Adalah penebus kesalahan
Dewa Dharma berwujud yaksa bertanya kepada sang putra
Jawablah semua pertanyaan!
Niscaya waktu kan dikembalikan
Apakah yang lebih berat daripada dunia?
Apa pula yang lebih tinggi daripada langit angkasa?
...
Yudistira menjawab...
Sungguh seorang Ibu lebih berat daripada Marcapada Dan Seorang Ayah lebih luhur daripada langit angkasa ...
Apa yang lebih cepat daripada angin dan lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami?
...
Wahai Dewata ...
Sungguh pikiran lebih cepat daripada angin
Dan rasa khawatir lebih berjumlah banyak dari sekedar setumpuk jerami.
...
Siapakah kawan dari seorang pengembara? Siapakah kawan dari seorang pesakitan?
Dan siapakah kawan dari seorang yang sekarat?
...
Kawan dari seorang musafir adalah pendampingnya Tabiblah kawan seorang yang sakit dan kawan seorang sekarat adalah amalnya
...
Hal apakah yang jika ditinggalkan membuat seseorang dicintai, kaya, dan bahagia?
...
Keangkuhan, bila ditinggalkan membuat seseorang dicintai.
Hasrat, bila ditinggalkan membuat seseorang kaya Dan keserakahan, bila ditinggalkan membuat seseorang bahagia
...
Musuh apakah yang tidak terlihat? Penyakit apa yang tidak bisa disembuhkan?
Manusia macam apa yang mulia dan hina?
...
Kemarahan adalah tirani yang tidak terlihat
Ketidakpuasan adalah penyakit abadi
Manusia mulia adalah yang mengharapkan kebaikan untuk semua makhluk dan Manusia hina adalah yang tidak mengenal pengampunan
...
Siapakah yang benar-benar berbahagia?
Apakah keajaiban terbesar?
Apa jalannya?
Dan apa beritanya?
...
Seorang yang tidak punya hutang adalah mereka benar- benar berbahagia..
Yaa Gusti yang Maha Agung...
Hari demi hari tak terhitung orang mati
Namun, yang masih hidup berharap untuk bisa abadi
Keajaiban apa yang lebih besar lagi?
Perbedaan pendapat membawa pada kesimpulan yang tidak pasti
Sungguh tiada seorang Mursyid yang bisa diterima oleh semua salik
Hakikat kebenaran Dharma tersembunyi dalam gua-gua hati kita
Karena itu, kesendirian adalah jalan dimana terdapat yang besar dan kecil berada
Dunia yang dipenuhi kebodohan ini layaknya sebuah bejana
Matahari adalah apinya
Hari dan malam adalah bahan bakarnya Musim-musim sebagai sendok-garpunya
Waktu adalah juru masak atas semua makhluk dalam bejana itu
Inilah beritanya.
Wahai ksatria...
Cahaya Dewata menerangi hatimu Atas kebenaran dan kebijakanmu Namun, bukan kehendakku
Nyawa hanya bisa kukembalikan satu
Dewata Agung...
Sudilah kembalikan adinda Sadewa Andai hanya satu yang jadi sabda
Sebagai wujud atas sebuah keadilan nyata Sebagai penebus jerat sengsara
Wahai ksatria...
Sungguh engkau tinggi pekerti Ksatria mulia budi
Keadilan harus nampak tak tertutupi
Tak hanya satu, tapi semua saudaramu kan kembali
Sekejap yang mati kembali bernyawa Berkumpul bersama keluarga Melanjutkan suratan karma Bergenggam Kalimasada Menuju kesempurnaan dharma Bagelen, 11 Maret 2021
28. MUSTIKA KALIMASADA Mustika Jamus Kalimasada
Lima sabda petuah luhur bagi kehidupan manusia Pusaka milik raja-raja arif bijaksana
Untuk menjadi sempurna haruslah utuh terlaksana
Cukupkan diri tentang duniawi Tetapi jangan sampai menyiksa diri
Sungguh cinta dunia sumber kesalahan abadi Ambilah bagian dari duniamu yang menjadi arti
Laku budhi seharusnya ditegakkan
Sebagai jalan menuju derajat kemanusiaan Dari sifat kebuasan nafsu liar kebinatangan Nalar akal adalah pembeda bagi kedua ciptaan
Kendalikan nafsumu sebagai taklukan diri Nafsu ammarah yang mengajak sebagai tirani
Nafsu yang putus asa dari kasih Sang Pencipta langit bumi Menuju nafsu sempurna yang direstui
Tinggalkan laku sesetan demit angkara Adhigang adhigung adhiguna
Iri dengki pada nikmat atas sesama Merebut hak yang bukan miliknya
Murcakan rasa dan nalarmu
Sisakan kosong, manunggal pada yang satu Dia, tan kena kinaya ngapa
Tiada padanan atas semua makhluk-Nya Indramayu, 19 Mei 2021
29. NASEHAT SUCI ISMAYAJATI Tubuh tambun monthok dadamu Welas asih melebihi seorang ibu Setiap langkahmu bijak laku Bagi ksatria engkau maha guru
Memilih hidup sederhana
Sedangkan titahmu setara dewata Meski pipimu mengalir airmata Bibirmu selalu tersenyum bahagia
Kau ajarkan tentang budhi Wujudkan wohing pakerti
Untuk menggapai derajat diri sejati Kau sabdakan nasehat suci
Tidaklah berilmu
Jika kesalahan sendiri tidaklah tahu Berilmu jangan bangga dengan ilmu Karena ilmu sekedar jalan menuju temu
Orang tidak pernah menjadi tinggi Jika masih menjajaki
Derajat tinggi bukan untuk dicari Karena langitpun tidak mengajukan diri
Hiduplah dengan welas asih Asih pada kekasih
Welas tanpa pamrih
Tunduk pasrah kepada Sang Maha kasih
Di dalam diri nan suci Selalu ada sukma sejati
Tunaikan sabda dharma abadi Manunggaling kawula Gusti
Saloka nasehat Ismayajati Ajaran hidup insan hakiki Sumeleh ing pamikir Sumarah ing karep
Bothok bantheng winungkus ing godhong asem kabiting alu bengkong
Bagelen, 29 April 2021
30. ELING WENING Duh thole bocah bagus Duh gendhuk bocah ayu Rama lan Ibu bakal cerita
Babar beber panyuwuning donga
Sembilan bulan sepuluh hari di Kawah Candradimuka Si jabang ditempa dengan segenap kasih cinta Hadir dengan tangis air mata bahagia
Dibedhong dibopong digendong Dikudang-kudang dipuja dalam buaian
Duh thole bocah bagus
Kelak jadilah pria ksatria tangguh Bertanggung jawab tanpa kesah keluh
Tatag teteg menyanding jalma yang kadang rapuh
Duh gendhuk bocah ayu
Kelak jadilah wanita yang patuh mituhu Welas asih mengayomi tak kenal waktu Sebar sabar ngadepi watak yang kasar kaku
Lakumu sakdrema nglakoni Warni warna kehidupan menguji Jangan latah atau kagetan Duniamu kini penuh kejutan Bahkan banyak jebakan Tipu muslihat intrik persaingan
Takdir memilihmu sebagai pemenang Di antara berlaksajuta benih pejuang Ketentuan menitahkanmu menjadi juara Sehingga kau merangkak di marcapada
Duh thole bocah bagus Duh gendhuk bocah ayu Kenali jiwamu yang halus Rumati ragamu nan layu
Serahkan rasa untuknya sekedar saja
Sekarang kau puja-puja esok mendusta mengecewa Kini setia nanti mendua meniga dan seterusnya Usah membudak pada fefana
Jangan korbankan sucinya cinta Jika tidak abadi
Jangan pasrahkan tulusnya rasa Bila berujung tersakiti
Duh thole bocah bagus Duh gendhuk bocah ayu Rama lan Ibu mung bisa weling Gegemana kanti ati wening
Tetap merindulah pada satu kekasih Dia yang tak berjarak temu
Tak butuh ruang dan waktu Dia, tan kena kinaya apa
Bagelen, 9 April 2021
31. MAKRIFAT WAYANG Adalah wayang
Kematian yang dihidupkan Mengikuti alur ketentuan Harus tunduk pada Sang Dalang Disetiap napas kehidupan
Dalang melakukan apa yang seharusnya dilakukan
Dia Pemilik segala kisah Dia yang merencanakan Dia yang menjalankan
Skenario, Dia yang memutar balikkan Segala intrik dan tipu daya
Tentang konflik perebutan harta Bahkan tahta dan drama asmara
Dia tahu dari mana semua harus bermula
Mengoyak emosi kala sang lakon menderita ditengah cerita
Bagaimana Sang Lakon menjalani sabar dan pasrah Merasakan kalah
Sepenuh lelah
Dipaksa untuk menerima Segala goresan takdir di sana Mengaku lemah dan fakir
Mengharap dan terus berharap menuju akhir
Suluk makrifat wayang
Menafsiri kehendak Sang Dalang Tapa brata luluhkan ego dan ambisi Menuju makrifat pada Dalang sejati
Sang penutup kisah Lakon dalam kemenangan hakiki
Saat kisah sudah berakhir Semua wayang tersimpan rapi Tinggallah Sang Dalang sendiri
Hanya bersama wayang yang dikehendaki Wayang makrifat akan selalu dipelukan abadi
Indramayu, 14 Juni 2021
32. SALOKA PUNAKAWAN Hadir sebagai tokoh wejangan Punakawan, Kawan sepemahaman Dalam kisah perjalanan kehidupan
Setiap peristiwa dan masalah selalu beralasan Ada solusi di setiap permasalahan
Ujian duniawi, ragawi serta kejiwaan
Semar Badranaya
Dengan senjata Mustika Manik Astagina Berwatak sabar dan bijaksana
Berbusanakan Parangkusumaraja
Sebagai simbol perwujudan memayu hayuning bawana Penegak keadilan dan kebenaran di atas marcapada Abdi utama keluarga Pandawa dalam kisah Sahadewa Ia selalu menangis namun bibir senantiasa tersenyum Sungguh hidup ini adalah dilema
Nala Gareng
Dari padepokan Bluluktiba, Bambang Sukodadi nama disandang
Berhati-hati dalam setiap tindakan, makna dari kaki yang pincang
Badan yang pendek selalu menunduk, wujud sifat tawaduk dan tenang
Jauhkan pandangan dari kejahatan siratan mata yang juling
Jangan pernah merampas hak orang lain arti tangan melengkung
Dengan jiwa ksatria Ia selalu datang
Menerima takdir meski tirani terus menantang Sungguh hidup ini untuk berjuang
Petruk Kanthong Bolong
Doblajaya Bambang Pecruk Penyukilan Saku berlobang tanda kedermawanan Hidup bukan tentang posisi dan jabatan
‘Sabaya Mati Sabaya Mukti’ adalah Sinergi Antara rakyat dan para penguasa negeri
Mencapai hidup tentram harus saling kasih mengasihi Ingatlah! Rakyat itu abadi sedang tahta selalu terbatasi
‘Kawula Iku Tanpa Wates, Ratu Kuwi Anane Mung Winates’
Bagong Jamblahita
Tubuh pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar Tabiat bicara lancang namun selalu jujur
Karena kejujurannya hingga dianggap pandir Sikap yang tergesa-gesa dan gegabah Namun toleransimu tak pernah punah Ia contoh yang tak boleh dicontoh Ingin tahu Bodoh dan jujur?
Lihat saja Jamblahita
Sabda tersurat lembaran hiasan sastra Ayat-ayat sekedar mantra terucap karsa
Indah terlantun dalam senandung kidung aksara Petuah hidup bagi yang mampu membaca dengan waskita
Bagi yang lain hanya hiasan nafsu semata
Saloka Punakawan Cermin sabda tersirat
Perilaku hidup menggapai akhirat Ayat-ayat berjalan petuah jagat Hendaklah hidup berdampingan indah Tanpa harus membedakan darah Manunggal welas manunggal pasrah Selalu bahagia seayun langkah
Bumi Tirta, 3 Juli 2021
PENULIS
Kang Nun, Pria kelahiran Bagelen 16 Juni 1980, bernama lengkap Muhsinun Abdus Salam. Saat ini berdomisili di Indramayu Jawa Barat., Seorang santri mbeling yang sekaligus seorang ketua sebuah asosiasi pengusaha. Namun, sangat mencintai dunia seni. Karena baginya setiap berkarya tak bisa lepas dari seni agar bisa sepenuh hati, disitulah akan hadir kejujuran dan ketulusan yang akan mendamaikan kehidupan.
Puisi Puisi
Sri Wahyuni:
33. BUTA CAKIL
Raksasa garang penuh curiga
Berpenampilan sangar bak sang Bima Tak gentar maju ke medan perang Meski raga jadi taruhan
Buta Cakil jangan tampilkan perangai arogan Buang jauh-jauh sifat burukmu
Kau bukan petarung tangguh Ingat saat perang kembang
kau terkapar jadi bangkai menjijikkan
Buta Cakil bergaya cengengesan Bak psikopat kambuhan
Sukamu keroyokan Cepu,31 Agustus 2020
34. SEMAR BADRANAYA
Semar Badranaya wajah senyum kecut keriput Pantat besar tubuh tambun buncit di perut Lelaki berpayudara bukan duda bukan pula janda Arif bijaksana dalam bertutur kata
Dia sejatinya dewa Ismaya Tidak pernah lapar dan sakit raga Beristri bidadari tulen
Bernama Dewi Kanestren
Semar Badranaya pemimpin yang merakyat Tidak munafik apalagi berkhianat
Mbegegeg ugeg-ugeg sakdulita humel-humel Tak mengenal malas dan menggerundel Selalu Memayu Hayuning Bawana Pandai menjaga ketenteraman negara
Semar Badranaya bijaksana dalam bersikap
Pengasuh kesatria Pandawa yang fokus pada tugas cakap Menasehati dengan kwalitas sastra yang tinggi
Religius pribadi yang dimiliki Cepu,30 Oktober 2020
35. PETRUK JADI DUKUN
Gemuruh angin kencang pekakkan telinga Ki Semar mengusir Ki Petruk si Kanthong Bolong
Tanpa berfikir panjang Kebodebleng mengambil langkah seribu menghilang
Sang Petruk terlunta-lunta Menyusuri lorong-lorong tanpa arah
letih lunglai tak dirasa
Sekonyong konyong Sang Petruk bertemu jin Merah dan jin Putih
Dasar Belgeduwelbeh dia mengaku sebagai saudara tua bernama jin Blorok
Mereka berdua tidak berfikir panjang
Jin Blorok dipercaya menjaga bunga sakti Candrawurawan
Seketika itu pula Belgeduwelbeh menjadi dukun Tampil dengan gaya keren
Jaket motif style
Rambut disanggul ala siput
Tidak begitu lama terdengar desiran angin Prabu Kresna datang dan berkata
Hai kamu Kanthong Bolong Jika benar-benar sakti
Hidupkan mereka yang gugur
Secepat kilat menyambar Belgeduwelbeh meloncat Merapal doa-doa memohon ridho-Nya
Maka merekapun kembali bernyawa Cepu,13 September 2020