• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agama pendidikan karakter dan upaya memb

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Agama pendidikan karakter dan upaya memb"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

AGAMA, PENDIDIKAN KARAKTER

DAN UPAYA MEMBANGUN KESADARAN BERBANGSA DAN BERNEGARA1 Oleh : Nurrohman

Fenomena kehidupan beragama dan berbangsa

Dewasa ini fenomena intolerenasi dalam kehidupan agama di tampaknya meningkat. Penelitian lembaga studi Center of Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan toleransi beragama orang Indonesia tergolong rendah. Dalam survei CSIS yang dilakukan pada bulan Februari tahun 2011 di 23 provinsi dan melibatkan 2.213 responden menunjukkan bahwa meskipun 59,5 persen responden tidak berkeberatan bertetangga dengan orang beragama lain, namun 33,7 persen lainnya menjawab sebaliknya. Saat ditanya soal pembangunan rumah ibadah agama lain di lingkungannya, sebanyak 68,2 persen responden menyatakan lebih baik hal itu tidak dilakukan. Hanya 22,1 persen yang tidak berkeberatan.2

Menurut Laporan Wahid Institute 2012, apabila dibandingkan dengan tahun 2011, data - data kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi tahun 2012 ini mengalami peningkatan jumlah yakni 110 kasus berbanding 93 kasus atau meningkat sekitar 8 %. Jika pada tahun 2011 rata - rata terjadi 7 kasus pelanggaran perbulan, maka pada tahun 2012 ini meningkat menjadi rata- rata 9 kasus perbulan. Bahkan apabila bulan Desember tidak dihitung, maka rata- rata pelanggaran perbulan adalah 10 kasus. Tindakan brutal sekelompok orang yang mengaku ingin menegakkan agama dengan teror, ancaman, dan cara-cara kekerasan lainnya, sehingga melanggar kebebasan orang untuk beragama dan berkeyakinan juga masih sering muncul. Menurut ini , meskipun Jawa Barat menduduki peringkat tertinggi dalam pelanggaran kebebasan beragama yang dilakukan olen non state dengan 57 kasus, namun Jawa Tengah juga masih cukup tinggi dengan 30 kasus, sama dengan jumlah pelanggaran yang terjadi di Nangroe Aceh Darussalam (NAD). 3

Fenomena itu tidak hanya terjadi di masyarakat tapi juga di lemabaga pendidikan atau sekolah. Survey yang dilakukan oleh PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta terhadap 500 guru pengajar agama Islam di sekolah negeri maupun swasta seluruh Jawa pada tahun 2008 memperlihatkan bahwa kebanyakan responden menolak pluralisme dan cenderung mempertahankan pandangan keagamaan konservatif dan radikal. Misalnya :68,6 % guru agama menolak non-Muslim menjadi kepala sekolah. 33,8 % menolak guru non Muslim di sekolah mereka, 87 % mereka meminta muridnya agar tidak mempelajari agama lain.,47,5% dari mereka juga mendukung hukuman potong tangan bagi pencuri, sementara 21,3 % dari mereka mem- back up perlunya hukuman mati bagi Muslim yang murtad. Azyumardi Azra , dalam komentarnya terhadap hasil survey mengatakan : the surveyed Islamic studies teachers had probably never been exposed to

1 Disampaikan dalam seminar yang bertema : “AGAMA DAN KARAKTER BANGSA ; Upaya Mengoptimalkan dan Mensinergikan Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Basis Pembentukan Karakter Bangsa” yang diselenggarakan pada tanggal 7 Maret 2013 di Semarang atas kerjasama antara Program Pasca Sarjana Universitas Islam Nusantara dengan Program Pasca Sarjana Universitas Wahid Hasyim.

2 Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2012/06/05/173408521/Survei-Toleransi-Beragama-Orang-Indonesia-Rendah diakses 26 Februari 2013

(2)

pluralistic views. He said the Religious Affairs Ministry had probably encouraged them to become Islamic studies teachers , but failed to “refresh” their outdated views on Islam.” It is actually the ministry’s responsibility to counter such (anti pluralistic) views. It has to organize regular trainings for these teachers to instill wider and more comprehensive perspective into their minds.” Said Azyumardi , who is a former UIN rector.4

Dewasa ini juga masih sering muncul wacana yang mempertentangkan Islam dan demokrasi, Islam dan Pancasila dengan tujuan melemahkan konsolidasi demokrasi dan Ideologi Pancasila. Hizbut Tahrir Indonesia adalah salah satu contoh kelompok yang sering mempertentangkan secara terbuka antara syariah dan demokrasi , antara kedualatan Tuhan dan kedaulatan rakyat yang ujungnya mau menggantikan Negara Pancasila dengan Negara Islam (khilafat) yang cenderung teokratis. 5

Dewasa ini juga tampak fenomena menurunnya karakter bangsa yang ditandai dengan budaya instant dan prilaku korup yang terjadi di mana-mana. Organisasi Fund for Peace merilis indeks terbaru mereka mengenai Failed State Index 2012 di mana Indonesia berada di posisi 63. Sementara negara nomor 1 yang dianggap gagal adalah Somalia. Dalam membuat indeks tersebut, Fund for Peace menggunakan indikator dan subindikator, salah satunya indeks persepsi korupsi.Dalam penjelasan mereka, dari 182 negara, Indonesia berada di urutan 100 untuk urusan indeks korupsi tersebut. Indonesia hanya berbeda 82 dari negara paling korup berdasarkan indeks lembaga ini, Somalia. Negara yang dianggap paling baik adalah New Zealand. 6

Menurut survey yang dilakukan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) pada tahun 2011,Kementrian Agama menduduki ranking pertama dalam hal korupsi diantara 22 kementrian atau lembaga negara. Kementrian ini hanya mendapat 5.37 point dari 10 point, dibawah Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mendapat 5.44 point dan Kementrian Koperasi dan UKM yang mendapat 5.52 point. Pada tahun 2012 , KPK masih menempatkan Kementrian Agama sebagai kementrian yang terkorup bersama dengan kementrian Kehutanan.7

Tingginya tingkat korupsi di Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam menunjukkan bahwa karakter amamah/ accountability dan tabligh/ transparency belum menjadi watak yang melekat pada sebagian bangsa ini termasuk mereka orang Islam yang sedang dipercaya memegang kekuasaan.

Kondisi demikian menjadikan lembaga pendidikan juga tidak lepas dari sasaran kritik.Sebab budaya instan dan prilaku korup juga sedikit banyaknya masuk kedalam di lingkungan pendidikan melalui prilaku permissive terhadap kecurangan dan ketidakjujuran. Akh Muzakki ketua LP Maarif Nahdlatul Ulama, Jawa Timur yang juga dosen IAIN Sunan Ampel in Surabaya dalam tulisannya yang berjudul “Cheating on exams and character education

mengatakan : Obviously, cheating is another name for dishonesty. And, dishonesty is the beginning of all evil. Ineffective management of a country is precisely a consequence of the loss of honesty. If honesty is no longer maintained in the practice of education, then education has greatly contributed to the institutionalization of the crime itself. Therefore, the problems of the National Examination have to be strongly put within the framework of character education for the development of the nation.8 ( Jelaslah , kecurangan adalah bentuk lain dari ketidakjujuran. Dan ketidakjujuran adalah awal dari kejahatan. Manajemen negeri yang tidak efektif adalah

4 Lihat : Erwida Maulia,” Islamic teachers lack pluralistic perspectives”, The Jakarta Post, November 27,2008

5 Lihat : al-Wa'ie, No. 142 Tahun XII, 1-30 Juni 2012.hlm. 19.

6 Sumber : http://nasional.news.viva.co.id/news/read/327659-indeks-persepsi-korupsi--indonesia-urutan-100 diakses 26 Februari 2013.

(3)

sebagai konsekwensi dari hilangnya kejujuran. Jika kejujuran tidak lagi dipertahankan dalam praktek pendidikan maka pendidikan akan memberikan kontribusi besar bagi institusionalisasi kejahatan. Oleh karena itu problem pada ujian nasional mesti diletakkan dalam kerangka pendidikan karakter untuk pembangunan bangsa)

Singkatnya fenomena maraknya orang beragama tapi tidak memiliki karakter yang baik dan fenomena orang yang taat beragama tapi gagal menjadi warganegara yang baik. Inilah masalah serius yang dihadapi bangsa ini, termasuk yang dihadapi lembaga pendidikan yang memang bertugas mempersiapkan generasi penerus bangsa ini. Sebab jika fenomena ini tidak segera diatasi bersama maka kesenjangan antara cita-cita kemerdekaan Indonesia dengan kenyataan yang dialami oleh rakyat Indonesia akan terus melebar.

Komitment menjadikan kemerdekaan sebagai alat mencerdaskan kehidupan bangsa

Komitmen bangsa ini dalam menjadikan kemerdekaan Indonesia sebagai alat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa amat jelas bila kita membaca pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) 1945. Pada alinea ketiga dan keempat pembukaan UUD 1945 dikatakan sebagai berikut :

Atas berkat rachmat Allah yang maha kua sa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut

melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan kera kyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Komitment menjadikan pendidikan sebagai alat untuk membentuk karakter yang baik atau akhlak mulia

Ayat 3 Pasal 31 UUD 1945 menyatakan, ”Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”

Pasal 2 UU No.20 tahunn 2003 tentang Sisdiknas mengatakan :: Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

(4)

Pasal 2 ayat (1) PP no. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan mengatakan : Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwakepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama.

Pasal 2 ayat (2) PP no. 55 tahun 2007 mengatakan : Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Pasal 5 ayat (3) PP No.55 tahun 2007 mengatakan : Pendidikan agama mendorong peserta didik untuk taat menjalankan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan agama sebagai landasan etika dan moral dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pasal 5 ayat (4) PP No.55 tahun 2007 mengatakan: Pendidikan agama mewujudkan keharmonisan, kerukunan, dan rasa hormat diantara sesama pemeluk agama yang dianut dan terhadap pemeluk agama lain.

Secara umum pendidikan di Indonesia diarahkan untuk menjadikan peserta didik sebagai insan yang cerdas , beriman, bertakwa, berilmu, berakhlak mulia, serta mampu menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Tentang pendidikan agama, ia diarahkan untuk menjadikan agama sebagai landasan etika dan moral dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga bisa terwujud keharmonisan, kerukunan, dan rasa hormat diantara sesama pemeluk agama yang dianut dan terhadap pemeluk agama lain.

Hubungan keberagamaan (religiousity) dengan karakter yang baik atau akhlak mulia

Hubungan keberagamaan ( religiousity) dengan karakter yang baik bisa dilihat dalam pandangan sejumlah pakar seputar karakter yang baik itu.

Ratna Megawangi, misalnya menyebut 9 karakter yang perlu dikembangkan di dunia pendidikan : Pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; Kedua, kemandirian dan tanggungjawab; Ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; Keempat, hormat dan santun; Kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; Keenam, percaya diri dan pekerja keras; Ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; Kedelapan, baik dan rendah hati, dan; Kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Tom Lickona , salah satu pakar pendidikan karakter terkemuka , menyebut sepuluh sifat atau karakter yang amat penting (Ten Essential Virtues ). Kesepuluh sifat itu ialah : 1) wisdom 2)

justice 3) fortitude 4) self control 5) love 6) a positive attitude 7) hard work 8) integrity 9) gratitude 10) humility9

Wisdom (bijak) ,merupakan induknya kebajikan the master virtue. Ia adalah kemampuan membuat keputusan yang baik ( good judgment). Keputusan yang baik adalah keputusan yang sudah dipertimbangkan secara masak sehingga baik untuk kita dan untuk orang lain. Wisdom menuntun kita dalam mempraktekkan sejumlah kebajikan, kapan kita mesti bertindak, bagaimana cara bertindak, dan bagaimana menyelaraskan antara berbagai kebijakan bila yang satu berentangan dengan lainnya.

(5)

Justice ( adil) . Adil berarti berarti menghargai hak semua orang termasuk hak diri kita sendiri, - menghormati diri dengan mempertimbangkan secara wajar akan hak dan kehormatan kita. Jadi keadilan meliputi kebajikan lintas personal, seperti kejujuran, penghormatan terhadap orang lain, tanggungjawab, dan toleransi. Toleransi yang dimaksud disini tidak semata dipahami sebagai persetujuan atas keyakinan dan prilaku orang lain tapi juga disertai dengan respek atau menghormati kebebasan keyakinan mereka selama mereka tidak melanggar hak-hak orang lain.

Fortitude (sabar dan ulet ). Karakter ini memungkinkan kita untuk terus melakukan hal-hal yang benar saat kita menghadapi kesulitan. Fortitude merupakan keteguhan dari dalam diri kita sendiri yang memungkinkan kita mampu mengatasi dan menghadapi kesulitan, kekalahan, ketidaknyamanan dan penderitaan. Aspek-aspek fortitude menurut Lickona adalah : keberanian (courage), kelenturan (resilience), kesabaran (patience), kestabilan (perseverance), punya daya tahan (endurance) serta memiliki kepercayaan diri yang sehat (a healthy self-confidence).

Self-control (pengendalian diri). Pengendalian diri adalah kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri. Karekter ini memungkinkan kita untuk mengontrol kemarahan kita, mengatur nasfu dan keinginan jasmani kita, menolak godaan dan mampu menunda keinginan mendapatkan imbalan disaat sedang melayani tujuan yang lebih luhur dan berjangka panjang. (Self-control is the ability to govern ourselves. It enables us to control our temper, regulate our sensual appetites and passions, resist temptation, and to delay gratification in the service of higher and distant goals)

Love.( Cinta). Cinta itu melampui keadilan. Ia memberikan sesuatu yang melebihi persyaratan yang diminta secara fair. Cinta adalah kesediaan untuk berkorban demi orang lain. Empati (kemampuan untuk bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain) , compassion ( merasa iba atau kasihan atas penderitaan yang dialami orang lain), kebaikan , kedermawanan, pelayanan, loyalitas, patriotism, sifat pemaaf, semua akan membentuk kebajikan cinta. Cinta – utamanya cinta tanpa pamrih yang tidak mengharapkan timbal balik- merupakan dorongan yang paling kuat di alam semesta ini.

A positive attitude (bersikap positif). Jika anda memiliki sikap negative dalam hidup ini maka anda akan membebani diri sendiri dan orang lain. Jika anda memiliki sikap positif , maka anda akan menjadi asset bagi diri anda sendiri dan bagi orang lain. Karakter yang bisa memperkuat sikap positif adalah : harapan , antusiasme , fleksibel, dan rasa humor.

Hard work. (kerja keras). Dalam hidup ini , tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan kerja keras. Kerja keras meliputi : adanya inisiatif, rajin, merancang tujuan, dan mengumpulkan sumber daya. .

Integrity(integritas). Intergritas adalah berpegang teguh pada prinsip moral, menjaga kata-kata dan teguh terhadap apa yang kita yakini. Integritas berbeda dengan kejujuran (honesty) yakni berkata benar kepada orang lain. Integritas adalah berkata jujur terhadap diri sendiri. Bentuk penipuan yang paling membahayakan adalah menipu diri sendiri. Menipu diri memungkinkan kita untuk melakukan apapun yang kita inginkan kemudian mencari alasan yang membenarkan apa yang kita lakukan.

Gratitude. (bersyukur). Syukur sering digambarkan sebagai kunci atau rahasia kebahagiaan hidup. Dia memutuskan untuk berhenti mengeluhkan segala kelemahan-kelemahan fisik sembari mensyukuri segala yang telah dia miliki. .

(6)

jawab atas kesalahan dan kegagalan kita (ketimbang menyalahkan orang lain), meminta maaf kepada mereka dan terus berupaya melakukan perbaikan. Kunci pengembangan karakter dalam hidup adalah sederhana yakni adanya kerendahan hati untuk berubah. “The key to character growth in life is simply the humble willingness to change”kata Lickona.

Semua karakter yang dikatakan oleh Ratna Megawangi maupun Tom Lickona semuanya sejalan dengan spirit yang diajarkan Islam melalui Muhammad Rasulullah SAW. Karena misi utama yang dibawa Nabi Muhammad itu bukan misi politik melainkan misi moral. Dia diutus untuk memperbaiki moralitas atau karakter masyarakat. Itulah sebabnya , pendidikan agama amat terkait dengan pendidikan moral atau pendidikan karakter. Moral atau karakter yang baik akan menjadikan sesorang bisa toleran terhadap perbedaan. Betul , apa yang dikatakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat mengomentari kurikulum baru. Sebagaimana dikutip oleh harian The Jakarta Post, beliau mengatakan : “Education should not only make people smart but also to train Indonesians to be mentally tough, physically healthy, tolerant and willing to live in harmony with others with different religions, race, and tribes. By preparing a tolerance-centered curriculum, intolerance, which can be violent, can be stopped upstream,”10

Upaya membangun kesadaran berbangsa dan bernegara

Meskipun cikal bakal atau jejak-jejak yang menjadi tonggak berdirinya sebuah Negara yang bernama Indonesia bisa ditelusuri mulai dari masa kerajaan Sriwijaya maupun Majapahit namun kalau dihitung sejak munculnya kesadaran untuk menjadikan kawasan yang kemudian menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sampai sekarang baru sekitar satu abad, sebuah masa yang untuk kematangan sebuah bangsa menurut hemat saya masih sangat pendek. Kesadaran berbangsa di Indonesia muncul sejak tahun 1908 dan berpuncak pada tahun 1928, saat unsur-unsur pemuda dari perwakilan nusantara menyatakan tekadnya menjadi satu atas dasar satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.

Pada awal masa penjajahan memang muncul perlawanan di berbagai daerah terhadap kekuatan kolonialisme maupun imperialisme. Tetapi perlawanan itu lebih disebabkan oleh keinginan untuk membebaskan diri dari penindasan kaum penjajah dengan kata lain gagasan untuk membuat satu bangsa yang kemudian disebut NKRI belum begitu jelas.

Kesadaran untuk menjadikan wilayah nusantara atau Hindia Belanda menjadi satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa baru dinyatakan secara tegas oleh sejumlah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu , atau 82 tahun yang lalu, sejumlah pemuda yang berasal dari berbagai etnis ,pulau dan agama yang berasal dari kawasan Hindia Belanda (Netherlands East Indies) berkumpul menyelenggarakan kongres pemuda selama dua hari di Jakarta (Batavia).

Di akhir pertemuan yang bersejarah ini mereka bertekad untuk mewujudkan tiga komitmen: Satu tanah air yaitu tanah air Indonesia ( wilayah territorial yang pada waktu itu disebut Netherlands East Indies), satu bangsa yaitu bangsa Indonesia dan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.

Sartono Kartodirdjo, sejarawan terkemuka di Indonesia pernah menjelaskan bahwa pada tahun 1925, atau tiga tahun sebelum diadakannya kongres pemuda, Himpunan Mahasiswa Indonesia yang berada di Holland telah membuat manifesto politik yang mengekspresikan sebuah aspirasi untuk mendirikan sebuah Negara Indonesia yang modern yang dibangun atas dasar kesatuan (unity ) , kesetaraan (equality) dan kebebebasan atau kemerdekaan (liberty) untuk

(7)

seluruh rakyat di kepulauan nusantara.11 Bukan hanya mahasiswa Indonesia yang di luar negeri saja yang mulai menyuarakan kesadaran berbangsa dan bernegara, para tokoh Islam atau para ulama yang kemudian tergabung dalam organisasi Nahdlatul Ulama juga menyuarakan aspirasi serupa. Meskipun resminya didirikan pada 13 Januari tahun 1926,Nahdlatul Ulama sebenarnya ditopang oleh tiga gerakan yang mendahuluinya yakni:Gerakan Nahdlatul Wathan (kebangkitan Bangsa), gerakan Tashwirul Afkar (mencerdaskan kehidupan bangsa), dan gerakan Nahdlatul Tujjar (kebangkitan ekonomi).12

Manifesto yang juga didukung oleh gerakan di dalam negeri inilah yang tampakanya memberikan inspirasi kepada pemuda termasuk pemuda Islam untuk bersumpah pada tahun 1928.13 Sumpah ini memberikan pesan yang jelas bahwa mereka ingin mendirikan Negara kesatuan di wilayah territorial jajahan Belanda (Netherlands East Indies). Bila sumpah ini dikaitkan dengan manifesto tiga tahun sebelumnya yang menegaskan perlunya unity, equality

dan liberty sebagai dasar negara, maka tampak jelas bahwa Negara kesatuan yang diinginkan mereka ( founding fathers) mesti berwatak demokratis dan pluralis, sebab equality dan liberty

hanya mungkin berkembang di Negara demokratis yang berwatak pluralis..

Sumpah pemuda ini kemudian menjadi tonggak sejarah berdirinya sebuah negeri impian yang bernama Republik Indonesia yang terdiri atas lebih dari 17000 pulau dan dihuni lebih dari 300 kelompok etnis.

Jika sebuah bangsa diibaratkan imagined community,14 meminjam istilah Benedict Anderson, maka melalui pendirian Budi Utomo yang kemudian dilanjutkan dengan sumpah pemuda para faunding fathers mulai mengkonstruksikan angan-angan ini sedikit lebih jelas. Sungguhpun demikian , falsasfat bangsa ,bentuk Negara maupun bagaimana hubungan agama dan Negara masih memerlukan rumusan lebih lanjut.

Menjelang Indonesia diproklamirkan, atau tepatnya pada tanggal 22 Juni 1945, para

founding fathers sempat membuat kesepakatan bahwa Piagam Jakarta akan menjadi filosofi Negara. Filosofi yang terkandung dalam Piagam Jakarta antara lain bahwa Negara mesti dibangun berdasarkan nilai ketuhanan dengan rumusan: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi para pemeluknya.

Hanya berjarak tujuh belas tahun setelah Sumpah Pemuda 1928, menjelang berakhirnya perang dunia ke II, atau tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta, atas nama rakyat Indonesia , akhirnya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa Piagam Jakarta yang berisi antara lain: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi para pemeluknya kemudian tidak bisa dipertahankan untuk menjadi falsafat Bangsa pada saat Indonesia mau diproklamirkan pada 17 Agustus 1945?

11 : lihat : http://www.budpar.go.id/page.php?ic=611&id=1910 diakses 19 November 2010

12 Diantara syair terkenal yang digubah oleh KH Wahab Hasbullah dalam bahasa Arab , terjemahnya begini :

Wahai bangsaku wahai bangsaku, Cinta tanah air bagian dari iman, Cintailah tanah air ini wahai bangsaku , Jangan kalian menjadi orang terjajah, Sungguh kesempurnaan itu harus , Dibuktikan dengan perbuatan , Dan bukanlah kesempurnaan itu hanya , Berupa ucapan…..Lihat , Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU,

Surabaya, PT Duta Aksara Mulia, Cet ketiga, 2010. hlm.30.

13 Moehammad Yamin, a Youth Pledge stalwart, later reported that the meeting had brought together youths who had grouped themselves into associations called Java Youths, Sumatra Youths, Islamic Association Youths, Batak Youths, Celebes (now Sulawesi) Youths, Batavia Youths, and the Association of Indonesian Students, - all these attended the Youth Congress held on 27 to 28 October 1928 in Jakarta lihat : http://www.budpar.go.id/page.php? ic=611&id=1910 diakses 19 November 2010

14 Lebih lanjut baca: Benedict Annderson, The Nation as imagined community,

(8)

Sebab, kalau Piagam ini dipertahankan maka Indonesia yang diangankan sebagai Negara yang wilayah terirtorialnya meliputi seluruh Netherlands East Indies, tidak bisa diwujudkan sebab wilayah bagian timur akan memisahkan diri. Dengan kata lain Piagam Jakarta tidak bisa mempertahankan prinsip unity. Sukarno dalam pidatonya di Universitas Indonesia pada 7 Mei 1953 , sebagaimana dikutip oleh Herbert Feith dan Lance Castle mengatakan : : If we establish a state based on Islam, many areas whose population is not Islamic, such as the Moluccas, Bali, Flores, Timor, the Kei Islands, and Sulawesi, will secede. And West Irian, which has not yet become part of the territory of Indonesia, will not want to be part of the Republic.15

Lalu mengapa umat Islam , paling tidak sebagian mereka , sepertinya tidak rela melepaskan Piagam Jakarta dan terus ingin mendapat tempat khusus dalam Negara yang baru didirikan itu ? Mengapa sebagian umat Islam terus menginginkan agar Islam dijadikan dasar negara, bahkan menginginkan agar syarat formal seorang kepala negara harus beragama Islam ?

Ada tiga alasan , menurut hemat saya, yang mendorong umat Islam ingin ditempatkan sebagai warga Negara “kelas satu” di suatu Negara yang baru dibentuk yang bernama Republik Indonesia. Pertama, umat Islam merupakan mayoritas di negeri ini. Kedua , tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan kebanyakan orang Islam. Dan ketiga , umat Islam di masa penjajahan paling mengalami kegetiran karena statusnya sebagai warga Negara kelas tiga atau kelas empat.

Pada masa penjajahan, pemerintah Belanda memang membagi-bagi warga Negara atas dasar etnis dan agama. Sistem hukum Belanda mengklasifikasi warga Negara kedalam tiga tingkatan. Eropa, Timur Asing dan pribumi (indigenous). Tentang pencatatan sipil , misalnya ,orang Eropa diatur dengan Staatsblad No.1849, etnis China diatur dengan staatsblad No.1917, untuk pribumi (indigenous people) yang tidak beragama Kristen diatur dengan staatsblad No.1920 dan pribumi yang beragama Kristen diatur dengan staatsblad No.1933.16

Pengaturan seperti itu menjadikan orang Eropa menjadi warga Negara kelas satu, kelas dua etnis China atau Timur Asing, kelas tiga pribumi (indigenous), dan pribumi dibagi dua : yang beragama Kristen dan yang non Kristen. Umat Islam di Indonesia , pada umumnya, masuk kedalam kategori pribumi non-Kristen atau kelas empat.17

Secara teoritis, orang Kristen pribumi dan Muslim pribumi kelasnya sama, sama-sama

indigenous, tetapi karena Kristen pribumi lebih dekat dengan missionaries Kristen Eropa, maka secara social mereka bisa menikmati kelas lebih tinggi atau bahkan sejajar dengan orang Eropa. Itulah sebabnya, secara psikologis, umat Islam banyak yang merasa iri dengan status atau fasilitas yang diberikan oleh kaum penjajah kepada orang Kristen.

Memang tidak semua orang Kristen menikmati statusnya saat mereka dibawah penjajahan. Banyak juga orang Kristen yang ikut memberontak, ikut berjuang dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi hal itu tidak mengurangi niat sebagian umat Islam untuk membalikkan keadaan. Bisa dipahami bila pada saat merdeka keinginan untuk menjungkirbalikkan status cukup kuat. Misalnya , ada keinginan kuat untuk menjadikan Islam

15 Herbert Feith and Lance Castles eds., Indonesian Political Thinking 1945-1965 (Jakarta: Equinox 2007) pp. 168-169.

16 Lihat. Frans H. Winarta, Equally and pluralism in the Citizenship Law, The Jakarta Post , September 28,2006. 17 Tercatat bahwa selama empat tahun dari 1936 sampai 1939, pemerintah Kolonial membayar subsidi bagi sekolah atau kegiatan keagamaan dengan sangat tidak adil . Pada tahun 1936 subsidi kepada Protestan f 686.100, Katholik f.268.500 dan Islam f.7.500. Pada tahun 1937, subsidi kepada Protestan f.683.200 , Katholik f.290.700 dan Islam f 7.500. Pada tahun 1938, subsidi kepada Protestan f 696.100, Katholik f.296.100 dan Islam f. 7.500. Pada tahun 1939, subsidi kepada Protestan f.844.000, Katholik f.335.700 dan Islam f.7.600. Lihat . Choirul Anam,

(9)

sebagai dasar Negara. Ada juga keinginan kuat untuk hanya memberikan jabatan kepala Negara kepada orang yang beragama Islam.

Menurut hemat saya keinginan untuk menjadikan Islam sebagai dasar Negara, keinginan untuk mendapatkan jaminan eksplisit dari konstitusi untuk menjalankan syari’at Islam atau keinginan untuk mensyaratkan seorang kepala Negara secara formal beragama Islam, mesti dipahami dalam suasana psikologis seperti itu. Setiap keinginan yang muncul dari suasana psikologis yang cenderung emosional , meskipun bisa dimengerti tapi terkadang dirasa tidak tepat apabila kemudian ditimbang-timbang lagi dalam suasana yang lebih tenang dengan menggunakan pikiran yang lebih jernih.

Memang, dengan menjadikan Islam sebagai dasar Negara atau dengan memberikan jabatan kepala Negara khusus kepada orang Islam, akan menjadikan status umat Islam naik menjadi warga Negara kelas satu. Akan tetapi andaikata kita kembalikan kepada cita-cita awal

founding fathers yang menginginkan berdirinya Negara Indonesia yang didasari atas semangat

unity, equality dan liberty, maka hal itu amat berpotensi melahirkan prilaku diskriminatif dan menjadikan kedudukan setiap warga Negara tidak lagi equal, sesuatu yang bertentangan dengan cita-cita awal. Pergantian klausul dalam Piagam Jakarta ( Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi para pemeluknya) dengan klausul dalam Pancasila sekarang ini (Ketuhanan Yang Mahaesa) , menurut hemat saya , juga tidak lepas dari semangat ini.

Konsep khilafat/imamat atau Negara Islam yang sering dirujuk oleh para tokoh Islam yang memperjuangkannya memang mengenal, minimal adanya dua jenis kewarganegaraan yakni muslim dan dzimmi (non-Muslim). Dan harus diakui bahwa dzimmi dalam konsep khilafat klasik merupakan warga Negara kelas dua. Sebenarnya bukan istilah khilafat atau Darul Islam yang menjadikan non-Muslim atau bahkan sebagian Muslim merasa tidak nyaman, tetapi konsep dibalik istilah itu. Pada waktu itu , dan saya kira sampai sekarang, para pendukung Negara Islam tidak berhasil meyakinkan non-Muslim bahwa Negara Islam/ khilafat atau Negara yang berdasarkan Islam bisa dibangun atas dasar equality (kesetaraan ) dan liberty (kebebasan).

Itulah sebabnya, setiap upaya untuk menawarkan gagasan yang dikhawatirkan akan mengurangi kebebasan , kesetaraan atau menimbulkan perpecahan bangsa selalu akan mendapat kritik atau koreksi. Meskipun sejarah Indonesia mencatat adanya kelompok yang berupaya menjadikan Islam sebagai dasar negara secara formal, namun dalam perjalanan sejarah bangsa ini, upaya formalisasi syari’at atau memasukkan kembali Piagam Jakarta kedalam konstitusi tidak pernah mendapat dukungan memadai dalam empat kali amandement UUD 1945 yang dilakukan pada masa reformasi. Demikian pula setiap upaya untuk lebih menitikberatkan kesatuan dengan mengorbankan pluralisme juga akan mendapat tantangan dari masyarakat.

Masa depan empat pilar kehidupan berbangsa

Menurut hemat saya, masa depan empat pilar kehidupan berbangsa yakni Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bineka Tunggal Ika, akan dikembalikan kepada bangsa dan rakyat Indonesia sendiri. Meskipun para pemimpin bangsa sering mengulang-ulang perlunya empat pillar kehidupan berbangsa dan bernegara dipertahankan, andaikata rakyat Indonesia sendiri tidak ikut berusaha mempertahankannya maka sebenarnya tidak ada jaminan bahwa empat pilar kehidupan bangsa akan bisa lestari.

(10)

Alasan teologis maupun rasional yang digunakan NU untuk menerima Pancasila sebagai ideology final bagi umat Islam bisa dijadikan bahan kajian oleh mereka yang masih ragu dalam menerima empat pilar kehidupan berbangsa ini.

Tantangan terberat bagi bangsa Indonesia kedepan adalah pertama bagaimana bangsa ini mengatasi konflik dan kekerasan, terutama yang bernuansa suku , agama , ras dan antar golongan atau yang dulu dikenal konflik SARA. Bagaimana bangsa ini mengatasi prilaku intolerance dari satu kelompok kepada kelompok lain. Bangsa Indonesia bisa belajar dari sejarah bangsa lain baik bangsa Amerika 18 maupun Afrika19 dalam menangani persoalan ini. Kerusuhan dan konflik yang terjadi di mana-mana mesti dianggap sebagai ujian bagi bangsa ini.

Tantangan kedua adalah bagaimana bangsa dan Negara ini mewujudkan komitmennya untuk mewujudkan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Empat pilar itu tidak ada artinya bila diskriminasi atas dasar etnis, agama maupun ras dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa ada upaya serius untuk mencegahnya. Empat pilar akan kehilangan maknanya bila hukum dan keadilan hanya menjadi komoditi yang bisa diperjualbelikan dan hanya bisa dimiliki oleh orang yang berduit sehingga rakyat miskin tidak bisa merasakan apa yang namanya keadilan,kemiskinan dan pengangguran masih tinggi serta gap antara orang kaya dan miskin masih amat lebar.

Upaya mensinergikan pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan pembangunan karakter bangsa

Upaya mensinergikan antara pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan pembangunan karakter bangsa bisa dilakukan dengan menjadikan agama sebagai sumber nilai untuk membangun karakter bangsa sehingga melahirkan pendidikan agama yang berwawasan kebangsaan. Dengan demikian, umat beragama( peserta didik) akan menjadi umat yang saleh sekaligus menjadi warga Negara yang baik ( piety & good citizen).

Untuk menjadikan umat beragama (peserta didik) menjadi umat yang saleh sekaligus menjadi warga Negara yang baik memerlukan sejumlah langkah sebagai berikut.

Langkah pertama ialah menentukan nilai apa saja yang akan dijadikan acuan bagi pembentukan karakter bangsa. Langkah kedua adalah menjadikan agama tidak hanya diajarkan sebagai system ketuhanan/ system ritus maupun system nilai/norma social tapi juga diajarkan sebagai bagian dari upaya menguatkan karakter bangsa. Langkah ketiga, pembuatan atau penyempurnaan kurikulum pendidikan agama yang bertujuan membentuk karakter bangsa serta pembuatan atau penyempurnaan kurikulum pendidikan kewarganegaraan yang berbasis nilai agama. Langkah keempat, pembuatan bahan ajar atau modul-modul tentang pendidikan karakter berbasis nilai agama yang akan dijadikan supelemen bagi pendidikan agama maupun pendidikan 18 Kate Abbott dalam tulisannya tentang A brief history of intolerance in America antara lain menyebutkan bahwa ditengah bangsa ini melakukan rekonstruksi setelah terjadinya perang sipil (civil war ) sekitar tahun 1865-1866 , sekolah dan gereja milik orang Afro Amerika (African American) yang berada di Memphis dan New Orleans dibakar habis. Pada tahun 1915 kelompok Ku Kluk Klan dengan pengikut lebih dari empat juta, tampil di tingkat nasional menyerukan anti-Semitism dan anti Catholicism. Pada tahun 1928 , calon presiden AL Smith gagal terpilih terkait dengan keyakinannya sebagai orang Katolik. Baru pada tahun1960 seorang presiden yang beragama Katolik bisa terpilih.

(11)

kewarganegaraan. Langkah kelima melakukan pelatihan atau lokakarya penerapan kurikulum pendidikan agama berwawasan kebangsaan dan pendidikan kewarganegaraan berbasis nilai agama yang diikuti oleh guru pendidikan agama dan guru pendidikan kewarganegaraan. Langkah keenam adalah : uji coba dan evaluasi secara berkala dan berkelanjutan sehingga ditemukan formula yang lebih tepat dalam mensinergikan pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan pembangunan karakter bangsa.

Upaya mensinergikan ini tentu tidak mudah. Menurut Plato (427-347 ), tujuan hidup manusia adalah eudaimonia atau hidup yang baik. Agar supaya orang dapat hidup baik, ia harus mendapat pendidikan. Akan tetapi mengingat manusia adalah makhuk sosial , pendidikan itu baru dapat tercapai dengan baik jikalau ada negara yang baik.

Penutup

Memang betul kata Lickona bahwa kunci pengembangan karakter dalam hidup adalah adanya kerendahan hati untuk berubah, karenanya upaya mensinergikan pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan untuk pembangunan karakter bangsa akan berhasil bila didukung oleh kemauan semua pihak untuk berubah dan memperbaiki diri.. The key to character growth in life is simply the humble willingness to change” kata Lickona.Innallaha la yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim (QS, 13:11)

Referensi

Dokumen terkait

implikasi yang real pada beberapa Kota, Kabupaten, dan Provinsi di Indonesia sebagai ekses dari kebijakan desentralisasi tersebut, terutama penduduknya yang mayoritas beragama

Sebagai sebuah negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama islam, maka Pancasila sendiri sebagai dasar negara Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh agama yang

Indonesia adalah salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, semua itu tidak lepas dari peran ulama-ulama terdahulu yang giat menyebarkan agama Islam,

Penelitian ini membahas peran guru Pendidikan Agama Islam dalam menumbuhkan karakter anti korupsi dari siswa SMKN 1 Salatiga pada tahun akademik 2014/2015. Hal

Kemiskinan merupakan masalah yang sangat serius dihadapi oleh Negara-negara berkembang yang mayoritas penduduknya beragama Islam termasuk Indonesia.Negara-negara tersebut

Pendapat pertama (nasionalis Islam) didasarkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam, dan sebaliknya kelompok kedua berpandangan bahwa Indonesia adalah

Indonesia adalah salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, semua itu tidak lepas dari peran ulama-ulama terdahulu yang giat menyebarkan agama Islam, di antara

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam (88,7%, BPS 2010), Indonesia menjadi negara dengan penduduk Muslim terbesar di muka bumi akan memberikan