JURNAL TAMBORA VOL. 5 NO. 3 OKTOBER 2021
http://jurnal.uts.ac.id
Social Humaniora HUBUNGAN ANTARA KESEPIAN (LONELINESS) DENGAN SELF
DISCLOSURE PADA MAHASISWA UNIVERSITAS TEKNOLOGI SUMBAWA YANG MENGGUNAKAN SOSIAL MEDIA (INSTAGRAM)
1Syahdan Khalifah Akbar, 2Elis Suci Prapita Sari Abdullah*,
1Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa
2Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa
*Corresponding Author Email: 1[email protected], 2 [email protected]
Diterima Bulan September 2021
Diterbitkan Bulan Oktober 2021
Keyword : Kesepian (Loneliness), Self Disclosure, Sosial Media
Abstrak
Kesepian adalah reaksi emosional dan kognitif dimana individu merasa tidak puas dengan kehidupan sosialnya karena adanya harapan yang tidak tercapai dan sedikitnya hubungan sosial yang ia miliki. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kesepian (loneliness) dengan self disclosure pada mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa yang menggunakan sosial media (Instagram).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 97 orang mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan instrumen penelitian berupa dua skala yaitu skala kesepian dan skala self disclosure.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kesepian (loneliness) dengan self disclosure dengan koefisien korelasi bernilai 0,689 masuk kategori tinggi atau kuat, dan nilai Sig. (p hitung) = 0,000 atau p<0,05 yang berarti terdapat hubungan variabel kesepian (loneliness) dan self disclosure yang signifikan. Nilai positif menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang searah, yang artinya semakin tinggi kesepian yang dirasakan maka semakin tinggi pula self disclosure yang dilakukan di sosial media.
PENDAHULUAN
Menurut Sarwono (Kurniawati & Baroroh, 2016), mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun. Pada usia itu, mahasiswa memasuki usia remaja akhir dan dewasa awal. Usia 20 an adalah usia yang termasuk rentan, karena usia tersebut adalah usia dimana seseorang tuntutan – tuntutan yang harus di penuhi, salah satunya adalah tuntutan dalam menjalin hubungan sosial. Menurut Weis (Resmadewi, 2018), tidak semuanya dapat menjalin hubungan sosial dengan baik tanpa rintangan yang berarti. Kegagalan atau hambatan dalam interaksi sosial dapat mengakibatkan seseorang merasa terisolasi dan kesepian serta dapat menimbulkan akibat-akibat yang tidak baik. Karena kegagalan tersebut, banyak individu yang memilih untuk melakukan interaksi melalui sosial media.
Dari berbagai survei, pengguna aplikasi layanan jejaring sosial di seluruh dunia mencapai jumlah ratusan juta pengguna. Data menunjukkan, Asia merupakan kawasan dengan jumlah pengguna internet terbesar. Sebagai gambaran dan bukan hal yang biasa tentunya, dengan populasi 250 juta, pengguna internet di Indonesia hingga Maret 2017 telah mencapai sejumlah 132,700,000 pengguna dengan tingkat penetrasi sebesar 50,4% dari jumlah penduduk. Indonesia juga menempati jumlah pengguna terbesar di kawasan ASEAN. Sebuah
survey baru-baru ini terhadap pengguna internet di Indonesia menemukan bahwa 95% adalah untuk beraktivitas di sosial media, 74% untuk berkirim pesan, 65% membaca peta dan 61% untuk bisnis.
Kecanggihan teknologi informasi yang ditandai dengan semakin luasnya penggunaan sosial media telah mempermudah pernyataan perasaan, pikiran dan pendapat seseorang (Dheviana, 2017).
Menurut Kotler (Rahadi, 2017), Sosial media adalah media yang digunakan oleh konsumen untuk berbagi teks, gambar, suara, dan video informasi baik dengan orang lain maupun perusahaan dan vice versa. Sosial media digunakan untuk berkomunikasi dengan orang – orang yang berada di tempat yang jauh, namun sekarang banyak yang menjadikan sosial media sebagai tempat pelampiasan ataupun tempat curhat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kini orang – orang semakin mudah dalam mengekspresikian dirinya melalui sosial media. Mengekspresikan diri yang mereka lakukan berkaitan dengan rasa sedih, marah, ataupun bahagia yang dikenal dengan istilah self disclosure.
Self disclosure merupakan bentuk komunikasi dan pemberian informasi mengenai pribadi atau diri sendiri, mengenai pikiran, perasaan, serta perilaku diri sendiri atau orang lain, pengungkapan diri ini berkaitan dengan informasi yang biasanya disembunyikan serta melibatkan orang lain (Ariani et al., 2019).
JURNAL TAMBORA VOL. 5 NO. 3 OKTOBER 2021
http://jurnal.uts.ac.id
Social Humaniora
Keterbukaan seseorang di sosial media dapat mengindikasikan berbagai hal, terutama jika keterbukaan diri yang dilakukan di sosial media memiliki intensitas yang tinggi. Salah satu indikasinya adalah kesepian (loneliness). Sebuah studi dari Universitas Michigan menemukan bahwa kita akan makin aktif di sosial media saat merasa kesepian. Meski sosial media tidak menyebabkan kita kesepian, tapi melihat kehidupan orang lain di lini masa kita terkadang justru menyebabkan rasa tidak bahagia (Anjungroso, 2015).
Menurut Killen (Mustika et al., 2015), kesepian adalah hal yang wajar dan biasa ditemui, namun sebagian orang masih memandang kesepian sebagai hal yang negatif karena perasaan menderita yang diakibatkannya. Banyak hal yang dapat dilakukan seseorang untuk mengusir rasa kesepian, salah satunya adalah dengan membuka sosial media.
Menurut Katherine Hobson dari National Public Radio, mengatakan bahwa menghabiskan waktu lebih dari dua jam di sosial media merupakan pertanda adanya isolasi sosial ketimbang mereka yang bermain sosial media kurang dari dua jam sehari. Kemudian, orang yang mengunjungi sosial media lebih kurang 58 kali dalam seminggu atau lebih berpeluang mengalami isolasi sosial daripada orang yang lebih jarang bermain sosial media. Hal tersebut berdasarkan studi yang dipulikasikan oleh American Journal of Preventive Medicine (Usihana, 2017).
Menurut Baron (Hidayati, 2015), loneliness atau kesepian adalah suatu reaksi emosional dan kognitif individu terhadap sebuah kondisi dimana individu tersebut hanya mempunyai sedikit hubungan sosial dan tidak memuaskannya karena tidak sesuai dengan harapannya.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh University of California San Diego School of Medicine ternyata menemukan bahwa kesepian lebih rentan dialami pada usia muda, kemudian dimuat oleh Medical Express. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat ini melibatkan 2.843 partisipan dengan usia 20 hingga 69 tahun.
Diketahui bahwa ternyata rasa kesepian lebih banyak dialami pada usia 20-an dan paling rendah pada usia 60-an serta terdapat peningkatan kedua pada pertengahan usia 40-an (Permana, 2018). Studi lain yang dilakukan oleh Office for National Statistics (badan pusat statistik di Inggris Raya) melaporkan bahwa sebanyak 10% orang Inggris berusia 16-24 tahun merasakan kesepian tiga kali lebih parah daripada orang usia 65 tahun ke atas (Sartika, 2019).
Berdasarkan screening awal yang dilakukan pada beberapa mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa, semuanya menyatakan pernah mengalami kesepian. Kesepian yang mereka rasakan disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah kurangnya interaksi yang dilakukan.
Sebagian dari mereka lebih sering berinteraksi
melalui sosial media, dan rata – rata mereka membuka sosial media lebih dari 8 jam dalam sehari. Hal tersebut dilakukan kebanyakan ketika mereka merasa kesepian ataupun bosan, meski begitu ada juga yang membuka sosial media karena sudah menjadi kebiasaan. Mereka menggunakan sosial media untuk berbagai hal, diantaranya untuk sekedar posting hal – hal lucu, hobi, aktivitas pribadi, curhat, bahkan meluapkan emosi. Sosial media yang paling sering mereka gunakan adalah Instagram, hal tersebut karena Instagram dirasa mereka dirasa cukup lengkap, selain bisa berkomunikasi dengan orang lain, juga bisa melihat postingan – postingan, bahkan meng-upload kegiatan atau hal – hal yang bersifat pribadi.
Penelitian yang dilakukan oleh Darmastuti (2016) dengan judul “Hubungan Antara Kesepian Dan Self Disclosure Dengan Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook Pada Siswi SMK PGRI Pedan Klaten” mendapatkan hasil bahwa terdapat hubungan antara kesepian dengan self disclosure, dimana nilai Fhitung 10,356 >Ftabel 3,08;
p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kesepian dan self disclosure dengan perilaku kecanduan situs jejaring sosial facebook. Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,156 atau 15,6%, artinya kesepian dan self disclosure secara bersama-sama memberikan sumbangan efektif sebesar 15,6% terhadap perilaku kecanduan situs jejaring sosial facebook. Secara parsial, terdapat hubungan positif dan siginifikan antara kesepian dengan perilaku kecanduan situs jejaring sosial facebook (rx1y = 0,379 ; p = 0,000 <
0,05), serta terdapat hubungan yang positif dan siginifikan antara self disclosure dengan perilaku kecanduan situs jejaring sosial facebook (rx2y = 0,277 ; p = 0,003 < 0,05).
Penelitian lainnya, dilakukan oleh Yuanita (2013) dengan Judul “Hubungan Antara Keterbukaan Diri Dengan Kesepian” mendapatkan hasil bahwa Ada hubungan negatif antara keterbukaan diri dengan kesepian pada anak kos dengan rxy = -0,580 dan P = 0,000. Makin tinggi keterbukaan diri, makin rendah kesepian atau makin rendah keterbukaan diri, makin tinggi kesepian.
Sebagian besar subjek memiliki keterbukaan diri yang tinggi (40%) dan keterbukaan din yang sedang (41,67%).Sebagian besar subjek memiliki kesepian yang rendah (48,33%) dan kesepian yang sangat rendah (25%).Sumbangan efektif variabel keterbukaan diri terhadap variabel kesepian hanya 33,7% sehingga masih ada 66,3% variabel lain yang ikut mempengaruhi kesepian subjek.
Selanjutnya, penelitian dilakukan oleh Lubis (2019) dengan judul “Hubungan Antara Pengungkapan Diri Dengan Kesepian Pada Mahasiswa Kost Di RT 09 RW 02 Seberang Ulu I”
mendapatkan hasil bahwa adanya hubungan yangsangat signifikan antara pengungkapan diri dengan kesepian pada mahasiswa Rt 09Rw 02
JURNAL TAMBORA VOL. 5 NO. 3 OKTOBER 2021
http://jurnal.uts.ac.id
Social Humaniora
Seberang Ulu I Palembang, dengan koefisien korelasi (R) = 0,235, koefisiendeterminasi sebesar (R²) = 0,055 serta nilai (p) = 0,004, p < 0,05 pada uji regresisederhana. Besarnya nilai sumbangan efektif antara pengungkapan diri dengankesepian adalah 5,5%. Dengan demikian hipotesis yang diajukan pada penelitian iniditerima, yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara pengungkapan diri dengankesepian pada mahasiswa di Rt 09 Rw 02 Seberang Ulu I Palembang.
Berangkat dari uraian yang telah dijabarkan dan juga dikuatkan oleh penelitian – penelitian sebelumnya, peneliti ingin meneliti mengenai hubungan antara kesepian (lonliness) dengan self disclosure mahasiswa yang menggunaka sosial media. Penelitian ini memiliki beberapa perbedaan dari penelitan sebelumnya yaitu : 1) subjek penelitian merupakan mahasiswa UTS yang menggunakan sosial media; 2) variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kesepian dan self disclosure; dan 3) metode yang digunakan adalah metode kuantitatif korelasi.
Penelitian ini berfokus pada adakah hubungan antara kesepian yang dialami mahasiswa UTS dengan self disclosure melalui sosial media instagram. Adapun judul penelitian ini adalah
“Hubungan Antara Kesepian (loneliness) Dengan Self Disclosure Pada Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa Yang Menggunakan Sosial Media (Instagram)”.
LANDASAN TEORI
Menurut Russel (Laksana, 2014), mengemukakan bahwa kesepian adalah sebuah bentuk hubungan sosial yang tidak sesuai dari apa yang diinginkan atau dicapai, termasuk perasaan gelisah, tertekan, dan persepsi kurangnyahubungan sosial pada diri seseorang. Kesepian yang diarasakan individu berbeda – beda, dan terkadang ada yang berusaha mengalihkan rasa kesepiannya dengan menggunakan sosial media. Individu menggunakan sosial media sebagai sarana mengungkapkan diri dengan cara memposting sesuatu dengan tujuan untuk curhat ataupun sekedar bercerita.
Kegiatan curhat ataupun bercerita mengenai diri sendiri di sosial media berkaitan dengan keterbukaan diri yang dimiliki masing – masing individu. Pengungkapan diri atau self disclosure merupakan bentuk komunikasi dan pemberian informasi mengenai pribadi atau diri sendiri, mengenai pikiran, perasaan, serta perilaku diri sendiri atau orang lain, pengungkapan diri ini berkaitan dengan informasi yang biasanya disembunyikan serta melibatkan orang lain (Ariani et al., 2019).
Media sosial digunakan untuk berkomunikasi dengan orang – orang yang berada di tempat yang jauh, namun sekarang banyak yang menjadikan sosial media sebagai tempat pelampiasan ataupun
tempat curhat. Usia – usia remaja akhir dan dewasa awal lebih sering menggunakan sosial media dibandingkan usia lainnya. Menurut Hurlock (Ningrum, 2013), menyebutkan bahwa salah satu masa pada usia dewasa awal adalah masa yang bermasalah, dimana individu mulai dihadapkan pada keadaan – keadaan yang mengharuskan ia untuk dapat menghadapinya.
Usia remaja akhir dan dewasa awal adalah usia ideal untuk menjalani pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Menurut Monk (Nazihah, 2020), mendefinisikan mahasiswa yang menempuh pendidikan strata 1 dalam tahap perkembangannya digolongkan sebagai remaja akhir (usia 18- 21 tahun) dan dewasa awal (usia 22-24 tahun). Usia 20 an adalah usia yang termasuk rawan, karena usia tersebut adalah usia dimana seseorang tuntutan – tuntutan yang harus di penuhi, salah satunya adalah tuntutan dalam menjalin hubungan sosial.
Menurut Weis (Resmadewi, 2018), tidak semuanya dapat menjalin hubungan sosial dengan baik tanpa rintangan yang berarti. Kegagalan atau hambatan dalam interaksi sosial dapat mengakibatkan seseorang merasa terisolasi dan kesepian serta dapat menimbulkan akibat-akibat yang tidak baik. Salah satu akibat dari kegagalan interaksi sosial adalah timbulnya perasaan kesepian.
Menurut Desri (Putri, 2018), kesepian adalah perasaan emosi yang dirasakan ketika individu beranggapan bahwa kehidupan sosialnya lebih kecil daripada apa yang mereka inginkan, atau ketika individu merasa tidak puas dengan kehidupan sosialnya.
Perasaan kesepian yang dirasakan individu terkadang berhubungan dengan pengungkapan diri.
Perasaan kesepian yang diakibatkan oleh kegagalan interaksi sosial membuat individu berupaya agar dapat memiliki interaksi sosial yang lebih baik melalui media lain seperti sosial media, dimana individu dapat mengungkapkan diri dengan lebih leluasa dan mendapatkan perhatian lebih banyak.
Altman (Harahap, 2018) menjelaskan bahwa self disclosure merupakan kemampuan seseorang untuk mengungkapkan informasi diri kepada orang lain yang bertujuan untuk mencapai hubungan yang akrab.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Metode kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan metode analisis statistik yang dikumpulkan melalui proses pengukuran dan menekan hasil serta analisis data- data dalaam bentuk angka (Azwar, 2018).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif kolerasi. Menurut Sugiyono (Anggraeni, 2018), penelitian pendekatan kuantitatif korelasi adalah pendekatan penelitian yang digunakan untuk mencari hubungan dan membuktikan hipotesis
JURNAL TAMBORA VOL. 5 NO. 3 OKTOBER 2021
http://jurnal.uts.ac.id
Social Humaniora
hubungan dua variabel. Jenis penelitian kuantitatif ini digunakan dengan tujuan untuk mengetahui Hubungan Antara Kesepian (loneliness) dengan Self Disclosure pada Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa yang Menggunakan Sosial Media.
Peneliti menetapkan teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang dilakukan oleh peneliti sendiri yang didasarkan pada ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Machali, 2017)
Berdasarkan analisis yang telah dilakukanpada Skala Kesepian didapatkan bahwa nilai cronbach’s alpha adalah 0,964. Hal ini menunjukkan bahwa nilai cronbach’s alpha instrumen tersebut > 0,7 yang menandakan bahwa seluruh item reliabel sehingga layak untuk digunakan dalam penelitian. Analisis yang telah dilakukan pada Skala Self Disclosure didapatkan bahwa nilai cronbach’s alpha adalah 0,829. Hal ini menunjukkan bahwa nilai cronbach’s alpha instrumen tersebut > 0,7 yang menandakan bahwa seluruh item reliabel sehingga layak untuk digunakan dalam penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan kesepian (loneliness) dengan self disclosure pada mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa yang menggunakan sosial media (instagram). Dari hasil analisis data, diperoleh nilai koefisien korelasi antara kedua variabel sebesar r = 0,689; p = 0,000 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis penelitian diterima, dimana terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kesepian (loneliness) dengan self disclosure.
Hubungan positif menunjukkan bahwa hubungan yang terjadi bersifat searah, yang berarti semakin tinggi kesepian (loneliness) pada mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa, maka semakin tinggi self disclosure di sosial media (instagram). Nilai yang positif menunjukkan korelasi yang bersifat searah dan positif, dan nilai sebesar 0,000 kurang dari 0,05 yang artinya menunjukkan bahwa korelasinya sangat signifikan (Machali, 2017).
Berdasarkan hasil penelitian, kesepian pada mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa yang menggunakan sosial media (instagram) berkaitan dengan self disclosure secara umum berada pada kategori sangat rendah, yakni sebesar 41.2%. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa memiliki perasaan kesepian yang sangat rendah. Menurut Marika
(Kristiani, 2010) suatu rentang tinggi atau rendahnya perasaan subyektif individu yang berupa perasaan terasing, tertolak, ataupun kegelisahan, ketika individu mengalami kesenjangan antara harapan dengan kenyataan atau individu kehilangan kesempatan untuk mengadakan hubungan sosial dengan orang lain disebut tingkat kesepian.
Skala kesepian (loneliness) yang dikemukakan oleh Peplau (Laksana, 2014), dengan 3 aspek yaitu need for intimacy, cognitive process, dan social reinforcement. Hasil penelitian dari rerata aspek menunjukkan ketiga aspek kesepian (loneliness) pada Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa yang menggunakan sosial media (instagram) masuk dalam kategorisasi baik/tinggi dengan skor 3,5. Dengan aspek yang dominan adalah aspek need for intimacy berada pada interval skor paling tinggi yaitu 4,0. Menurut Peplau aspek Need for Intimacy menitikberatkan pada faktor kedekatan atau keakraban. Kesepian dipandang sebagai suatu perasaan sepi yang diakibatkan karena tidak terpenuhinya kebutuhan akan keakraban dengan orang lain (Ghaisani & Nugraha, 2016).
Pernyataan ini diperkuat oleh Sulivan yang menjelaskan bahwa kesepian adalah pengalaman yang sangat tidak menyenangkan terhubung dengan kebutuhan manusia yang tidak memadai seperti keintiman (Yunitasari, 2019).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa self disclosure mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa yang menggunakan sosial media (instagram) berkaitan dengan kesepian (loneliness) secara umum termasuk dalam kategori sangat rendah yakni 46.4%. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa yang menggunakan sosial media (instagram) memiliki self disclosure yang sangat rendah. Menurut Baron (Panjaitan, 2019), kurang keterbukaan diri merupakan seseorang yang menutup dirinya dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Seseorang yang tertutup tidak mudah memberikan informasi dan tidak cakap dalam berinteraksi dengan orang lain, sehingga sudah dipastikan hubungan yang terjalin akan renggang dan berakhir.
Skala self disclosure menurut Wheeless (Rohmahwati, 2010), terdapat lima aspek self disclosure yaitu intent, amount, positiveness, depth, dan honesty. Dengan rerata aspek self disclosure mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa yang menggunakan sosial media (instagram) umumnya berada pada interval skor tinggi (3,4), dengan aspek yang dominan adalah aspek intent (3,8). Menurut Wheeless (Rohmahwati, 2010), intent merupakan kesungguhan dalam melakukan self disclosure.
Individu menyadari apa yang dikatakan dan diungkapkan kepada orang lain.
JURNAL TAMBORA VOL. 5 NO. 3 OKTOBER 2021
http://jurnal.uts.ac.id
Social Humaniora
Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat dari lima aspek self disclosure dapat memberikan hubungan yang signifikan dan positif terhadap kesepian (loneliness) nilai p = 100 (p<0,05).
Hubungan positif menunjukkan bahwa hubungan yang terjadi bersifat searah, yang berarti semakin tinggi kesepian (loneliness) pada mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa yang menggunakan sosial media (instagram), maka semakin tinggi self disclosure nya dan sebaliknya.
Pada variabel kesepian (loneliness) terhadap variabel self disclosure masuk kategori tingkat kekuatan koefisien korelasi tinggi/kuat yaitu 0,689, sehingga variabel kesepian dapat menjadi variabel inti terhadap self disclosure. Sebuah studi dari Universitas Michigan menemukan bahwa kita akan makin aktif di sosial media saat merasa kesepian.
Meski sosial media tidak menyebabkan kita kesepian, tapi melihat kehidupan orang lain di lini masa kita terkadang justru menyebabkan rasa tidak bahagia (Anjungroso, 2015). Pernyataan ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Lubis (2019), mendapatkan hasil bahwa adanya hubungan yang sangat signifikan antara pengungkapan diri dengan kesepian pada mahasiswa di Seberang Ulu I Palembang.
Dalam penelitian ini, terdapat beberapa keterbatasan diantaranya yaitu penelitian yang hanya dilakukan dalam lingkup kecil yaitu hanya pada lingkup universitas terkhusus Universitas Teknologi Sumbawa, kurangnya screening awal berupa jenis kelamin dari para subjek, dan variabel yang berhubungan dengan kesepian ini hanya terdiri dari satu variabel yaitu self disclosure, sedangkan masih ada variabel lain yang dapat di hubungkan dengan kesepian (loneliness).
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa yang menggunakan sosial media, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara kesepian dan self disclosure pada mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa yang menggunakan sosial media (instagram). Hal ini dapat diketahui dari nilai koefisien korelasi positif, dimana Sig. (p hitung) = 0,000 atau p<0,05 dengan nilai korelasi sebesar 0,689 yang berarti semakin tinggi kesepian (loneliness) maka semakin tinggi self disclosure, begitupun sebaliknya semakin rendah kesepian (loneliness) maka semakin rendah self disclosure yang dilakukan di media sosial.
Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti berdasarkan hasil penelitian di atas antara lain:
1. Bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa diharapkan dapat lebih memahami kondisi psikologis yang dirasakan terutama terkait dengan kesepian sehingga dapat mengatasinya dengan baik dan juga terkait self disclosure di media sosial media untuk tetap bijak dan memperhatikan privasi diri sendiri.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat membahas lebih rinci tentang kesepian (loneliness) dan self disclosure di sosial media serta mengembangkan penelitian dengan mempertimbangkan variabel lain yang dapat dihubungkan dengan variabel kesepian (loneliness).
REFERENSI
Anggraeni, N. (2018). Hubungan kesepian dengan pengungkapan diri di instagram pada dewasa yang belum menikah.
Anjungroso, F. (2015). Keseringan aktif di sosial media tanda orang kesepian. Tribunnews.Com, p. 1.
Ariani, M. D., Supradewi, R., & Syafitri, D. U.
(2019). Peran kesepian dan pengungkapan diri online terhadap kecanduan internet pada remaja akhir. Proyeksi, 14(1), 12–21.
Darmastuti, S. (2016). Hubungan antara kesepian dan self disclosure dengan perilaku kecanduan situs jejaring sosial facebook pada siswi SMK PGRI Pedan Klaten.
Dheviana, I. (2017). Sosial media sebagai ekspresi kekinian. Humas Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, p. 1.
Ghaisani, R. N. S. G., & Nugraha, S. (2016).
Hubungan self esteem dan loneliness pada pelaku cybersex di Bandung. Prosiding Psikologi, 2(1), 225–228.
Harahap, N. F. (2018). Hubungan keterbukaan diri (self-disclosure) dengan kepuasan pernikahan pada istri di Kelurahan Mangga, Medan.
Hidayati, D. S. (2015). Self compassion dan loneliness. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 03(01), 154–164.
Kristiani, M. (2010). Tingkat kesepian pada siswa Sma Negeri 3 Semarang ditinjau dari efektivitas komunikasi orangtua dan remaja.
Kurniawati, J., & Baroroh, S. (2016). Literasi media digital mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Jurnal Komunikator, 8(2), 51–66.
Retrieved from
http://journal.umy.ac.id/index.php/jkm/article/
view/2069
Laksana, A. A. (2014). Hubungan antara kesepian dengan perilaku cyberloafing.
Lubis, R. F. (2019). Hubungan antara pengungkapan diri dengan kesepian pada
JURNAL TAMBORA VOL. 5 NO. 3 OKTOBER 2021
http://jurnal.uts.ac.id
Social Humaniora
mahasiswa kost Di RT 09 RW 02 Seberang Ulu I Palembang.
Machali, I. (2017). Metode penelitian kuantititatif:
panduan praktis merencanakan, melaksanakan dan analisis dalam penelitian kuantitatif (2016th ed.; A. Q. Habib, Ed.).
Yogyakarta.
Mustika, E. T., Damajanti, M. N., & Muljosumarto, C. (2015). Perancangan kampanye sosial menyadari dan mengatasi kesepian ( loneliness ). Publication Patra, 1(1), 1–10.
Nazihah, U. A. (2020). Pengaruh gegar budaya (culture shock) terhadap adversity quotient pada mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa. Skripsi: Universitas Teknologi Sumbawa
Ningrum, R. E. C. (2013). Hubungan antara self image dengan impulsive buying terhadap produk fashion pada dewasa awal. 19–47.
Panjaitan, M. (2019). Hubungan antara kesepian dengan adiksi internet pada mahasiswa perantau di Yogyakarta.
Putri, D. A. (2018). Hubungan antara kesepian dengan cyberbullying pada mahasiswa pengguna instagram.
Rahadi, D. R. (2017). Perilaku pengguna dan informasi hoax di sosial media. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan, 5(1), 58–70.
Resmadewi, R. (2018). Hubungan antara penyesuaian diri dengan kesepian pada mahasiswi prodi kebidanan poltekkes surabaya yang inggal di asrama. Psikosains, 13(1), 122–
135.
Rohmahwati, S. (2010). Hubungan antara secure attachment dan dukungan sosial dengan self disclosure pada santri Pondok Pesantren Al- Muayyad Surakarta.
Sartika, R. E. A. (2019). Bukan lansia, anak muda lebih rentan kesepian, kok bisa? Kompas.Com, pp. 1–2.
Usihana. (2017). Orang-orang yang aktif di sosial media sebenarnya kesepian. Kompas.Com, p.
1.
Yuanita, S. (2013). Hubungan antara keterbukaan diri dengan kesepian.
Yunitasari, R. (2019). Hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan kesepian ada remaja akhir.