• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANAK SEKOLAH DASAR DI KOTA PALU, SULAWESI TENGAH. melalui tangan atau kuku yang mengandung telur cacing lalu masuk ke. Infeksi cacing usus merupakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANAK SEKOLAH DASAR DI KOTA PALU, SULAWESI TENGAH. melalui tangan atau kuku yang mengandung telur cacing lalu masuk ke. Infeksi cacing usus merupakan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PREVALENSI KECACINGAN USUS PADA

ANAK SEKOLAH DASAR DI KOTA PALU, SULAWESI TENGAH

Phetisya Pamela Frederika Sumolang'dan

Sitti

Chadijah'

'Balai Litbang P2B2 Donggala, Badan Penelitian dan Pengemb anganKesehatan, Kementerian Kesehatan

Rl

Intestinal w'orm disease is

still , rrri,!f:f/;J"rem

in Indonesia. This disease

ca,

be Jbund

in

children under

five

years

old

and age school

children.

This study was aimecl to identify

factors

that associated with worm intestinal disease prevalence in elementary school

children in

Watttsampu

and Lolu (Jtara village, Palu Municipality. This is an

analytic descriptive

studlt v,ith a

cross-sectional

design.

288

stool

samples

were

collectecl ancl examined by ttsing direct method. 90 samples (31,3%o) werefoundpositive.for helminths'eggs.

Ascaris lumbricoides. Hookwornt, Triclturis trlichuri, Enierobius vermicularis ian

Trichostrongylus orientalis were.found in the stool samples withAscaris lumbricoides harJ the highest

proportion

(8 3 ,3 4%o) . The p-value provides no evidence that sex ancl age were relatecl witch soil transmitted disease.

Keywords : : Helminthiasis Prevalence, Elementary School, Palu

Municipality PENDAHULUAN

Penyakit kecacingan di

Indonesia

masih merupakan masalah

kesehatan

masyarakat

karena prevalensinya

yang

masih sangat

tinggi yaitu

antara 45-65 Yo,

bahkan di wilayah-wilayah tertentu dengan sanitasi yang buruk

prevalensi kecacingan

bisa mencapai

80o/o.' Hasil

survei

kecacingan

di Provinsi

Sulawesi Selatan (1999), pada anak Sekolah Dasar

(SD) menunjukkan prevalensi

Ascaris

78,5Yo, Trichuris 63,gYo dan

cacing tambang

l,4o/o.'Di

Sulawesi Tengah pada

tahun 2007 menunjukkan

prevalensi infeksi cacing As caris lumbricoides 19,7 %o

dan

Trichuris trichiura l,5Yo

pada anak

SD.' Beberapa hasil penelitian

menunjukkan kecacingan lebih

banyak menyerang pada anak-anak SD / Madrasah

Ibthidayah (MD dikarenakan

aktifitas mereka yang

lebih

banyak berhubung an

dengan tanah.' Pencemaran tanah

merupakan penyebab terj adinya transmisi

telur cacing dari

tanah kepada manusia

melalui tangan atau kuku yang

mengandung

telur

cacing

lalu

masuk ke

14

mulut melalui makanan.'

Cacing

sebagai hewan

parasit

tidak saja mengambll zat-zat

gizi

dalam usus anak, tetapi

juga

merusak

dinding

usus sehingga mengganggu penyerapan zat-zat

gizi

tersebut. Anak

-

anak yang terinfeksi

cacing biasanya mengalami:

1esu, pucat/anemia, berat badan menurun,

tidak bergairah, konsentrasi belajar

kurang, kadang disertai batuk

-

batuk.' Meski pun

penyakit cacing usus tidak

mematikan,

tetapi menggerogoti kesehatan

tubuh manusia sehingga berakibat menurunnya

kondisi gizi

dan kesehatan masyarakat.

Dalam jangka

panJang,

hal ini

akan

berakibat menurunnya kualitas

sumber daya manusia. Pada orang dewasa akan

menurunkan produktivitas kerja, sedangkan pada anak-anak akan

berdampak pada

gangguan

kemampuan untukbelajar.'

Infeksi cacing usus merupakan

infeksi kronik yang paiing banyak menyerang anak balita dan anak

usia sekolah dasar. Tinggi rendahnya frekuensi

kecacingan berhubungan erat

dengan

(2)

Prevalensi Kecacingan Usus padaAnak Sekolah ... (Phetisya Pamela & Sitti Chadijah)

ke

bersihan pribadi dan sanitasi lingkunganu. Cacing-cacing yang

menginfestasi anak dengan

prevalensi

yang tinggi ini adalah cacing

gelang

(Ascaris lumbricoides), cacing

cambuk

(Trichuris trichiura), cacing

tambang

Q{ecator

americanu,y'

dan cacing

pita.

Bila diperhatikan

dengan

teliti,

cacing- cacing yang

tinggal di

usus manusia

ini

memberikan kontribusi yang sangat besar

terhadap kejadian penyakit lainnya misalnya kurang gizi dengan

infestasi

cacing gelang yafig suka makan

karbohidrat dan

protein di

usus sebelum

diserap oleh tubuh, kemudian

penyakit

anemia (kurang kadar darah)

karena cacing tambang mengisap darah

di

usus,

cacing cambuk dan cacing pita

suka

mengganggu pertumbuhan dan

perkemban gan atak

serta

mempengaruhi masalah-masalah

non

kesehatan lainnya

misalnya turunnya

prestasi

belajar

dan drop outnyaanak SD'.

Hasil

penelitian penyakit kecacingan usus

di

Sulawesi Tengah pada tahun 2009

pada

semua

umur

menunjukkan bahwa prevalensi

tertinggi

adalah

di Kota

Palu,

yaitu

sebesar 5l,7Yo.' Berdasarkan hasil-

hasil penelitian tersebut, maka perlu diteliti lebih lanjut tentang

prevalensi kecacingan usus khususnya pada anak SD

diKotaPalu.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini

dilaksanakan

di

Kota Palu pada bulan September tahun 2011,

di tujuh

SD

yatg

ada

di

dua kelurahan yaitu

kelurahan Lolu Utara

dan Watusampu.

Jenis penelitian ini adalah dekriptif

analitik dengan pendekatan

Cross

sectional. Sebanyak 400 responden anak SD

di

dua kelurahan

dipilih

secara acak.

Pada setiap responden dilakukan pengumpulan sampel tinja

dengan

membagikan plastik klep yang

berisi stik es krim untuk mengambil tinja. Tinja diambil

sedikit

(+

Yz ruas

jari

kelingking)

dengan sendok es krim kemudian

dimasukkan

ke

dalam

plastik klep

yang

telah diisi dengan formalin t0%.

Pengumpulan sampel tinja dilakukan

selama

empat hari. Sampel tinja

yang

terkumpul kemudian diperiksa di

Laboratorium Parasitologi

Balai

Litbang P2BZDonggala.

Identifikasi telur cacing menggunakan metode iangsung.

Tinja diambil

sedikit, diletakkan di atas slide dan ditetesi dengan lugol2o/o kemudian

ditutup

dengan kaca

penutup setelah itu diperiksa di

mikroskop dengan menggunakan

perbesaran 100x dan 400x8.

HASIL

Prevalensi Kecacingan pada Anak

Sekolah Dasar

Sebanyak

400

resPonden

anak

SD

yang dipilih

tetapi hanya 288 responden

yang mengumpulkan sampel tinja.

Sebanyak

90

sampel (31,3%) ditemukan adanya

telur cacing dan 198

samPel (68,8%) tidak ditemukan

positif

terinfeksi telur cacing (Gambar 1 ).

Gambar 1.

Hasil

pemeriksaan

tinja

pada anak SD diKotaPalu, Tahun2011.

Total

responden yang

tidak

bersedia mengumpulkan

tinjanya

sebanyak 28o/o

dengan berbagai alasan,

yaitu

mengaku

tidak bisa buang air

besar, merasa

jijik

mengambil tinjanya,tidak diizinkan orang

tua untuk

mengumpulkan

tinja dan

ada juga anak sekolah yang sudah tidak masuk

sekolah dengan alasan sakit

sampai dengan hari terakhir pengumpulan sampel tinja.

x* 1rr:rsitif

** rleE;tit

(3)

Jumal Vektor Penyakit, Vol. VI No. 2,2A12 : 14 - 19

Berdasarkan hasil pemeriksaan

sampel

tinja

diperoleh

90

sampel

positif

terinfeksi cacing, sehingga angka

kecacingan pada

Anak SD di Kota

palu

sebesar 3l ,25o/o.

Distribusi infeksi berdasarkan jenis telur

cacing

Pada tabel

I

dapat

dilihat

jenis-jenis cacing yang menginfeksi anak SD di Kota

Palu. Jenis cacing yang

menginfeksi adalah

Ascaris lumbricoides,

Trichuris

trichiura, Hookwornt, Enterobius vermicularis, dan Trichostrongylus orientalis.

Adapun yang

paling

dominan

menginfeksi anak SD adalah

Ascaris

lumbricoides yaitu sebanyak

83,34yo.

Ditemukan infeksi campuran dari

dua spesies cacing usus dalam penelitian

ini.

Tabel 1. Distribusi Infeksi Kecacingan Berdasarkan Spesies Cacing pada Anak SD di Kota Palu, Sulawesi Tengah tahun 2011

Ascaris lumbricoides Trichuris trichiura Hool*vorm

Entero bius vermicularis

Tri c ho s tro ngy lus o r i enta I i s

Ascaris lumbricoides, Trichuris trichura

Frekuensi Persentase 75

3 2 2 2 2 4 Jenis Caci

26,04 1,04 0,69 0,69 0,69 1,39 Ascaris l, ides, Hookworm

TOTAL

90 31 25

Distribusi infeksi berdasarkan

karakteristik responden

Berdasarkan jenis

kelamin

sebagian

besar

yang terinfeksi cacing adalah anak

laki-laki

sedangkan berdasarkan umur

yang paling banyak terinfeksi

cacing adalah umur 10 - 13 tahun (Tabel 2).

Tabel 2. Angka Kecacingan Berdasarkan Jenis Kelamin dan

umur

pada Anak Sekolah Dasar di Kota Palu, Sulawesi Tengah tahun

20l l

Karakteristik

Angka Kecacingan

Positif Negatif

P Value

Frekuensi Persentase Frekuensi

persentase

: __ : (F) (%) (F)

(%) Jenrs K.elamln

Laki-laki

Perempuan

51 39

56.7 43.3

102 96

51.5 48.5

0.4t7 Umur

10-13

38 52

42.2 s7.8

104 94

52.5 47.5

0.258

PEMBAHASAN

Hasil

pemeriksaan

sampel tinja

di

tujuh SD di Kota Palu

menunjukkan bahwa

dari 288

sampel

yang

terkumpul sebanyak

90

sampel

(31,3%)

ditemukan

positif terinfeksi telur. Ini berarti

angka

prevalesi kecacingan anak SD di Kota Palu sebesar

3l,3yo. Angka ini

masih

tinggi bila

dibandingkan dengan angka nasional

infeksi

kecacingan

yaitu

l0o/o9.

Hal ini juga

sesuai dengan beberapa penelitian

yang menemukan tingginya infeksi

t6

(4)

Prevalensi Kecacingan Usus padaAnak Sekolah ... (Phetisya Pamela & Sitti Chadijah)

kecacingan pada anak SD, antara lain hasil penelitian di Provinsi Sumatera

Utarayang

menemukan prevalensi kecacingan pada anak SD di Desa Suka, Provinsi Sumatera

rJtarayaitu7}oh

'0. Hasil penelitian di

Bali

selama

kurun waktu 2003 - 2007

juga

menunjukkan bahwa prevalensi

kecacingan padaanak SD tergolong

tinggi yaitu

berkisar antara

40,940 -

92,4yo

".

Tingginya angka kecacingan dapat

digunakan sebagai indikator bahwa

Waya

pencegahan dan pemberantasan

kecacingan pada anak

SD di Kota

Palu belum dilakukan secara maksimal. Hal

ini

disebabkan karena

penyakit

kecacingan

merupakan penyakit yang kurang mendapatkan perhatian (neglected

dis e as e) dan kurang terpantau oleh petugas

kesehatanl2. Perilaku hidup bersih perorangan, sanitasi lingkungan

dan

pengobatan adalah faktor-faktor

yang

mempengaruhi prevalensi kecacingan.

Jenis

cacing

yang menginfeksi pada

anak SD di Kota Palu

adalah Ascaris

lumbricoides. Trichuris trichiura,

Hoola,ttorm, Enterobius vermicul

aris,

dan Trichostrongtlus

orientalis,

dengan jenis cacing yang paling dominan menginfeksi adalah As c ar i s lumb ri c o i d e s y

aitu

seb esar 26,04yo. As caris lumbricoides merupakan jenis cacing yang paling sering ditemukan

menginfeksi manusia dan juga

tingkat

infeksinya

biasanya

selalu lebih

tinggi.

Data dari WHO dilaporkan satu miliar

orang terinfeksi cacing Ascaris lumbricoides, 795 juta orang

terinfeksi

cacing Trichuris trichiura

dan

740 jrta

orang terinfeksi cacing Hoolcworm".

Hasll

penelitian

di

Bengkalis pada anak SD 06

juga

menunjukkan

jenis infeksi

cacing

yang terbanyak adalah Ascaris

lumbricoides yaitu

sebesar 53Yo'0.

Hal

yang sama juga ditemuk an pada penelitian

yang dilakukan di Ampana,

Kabupaten Poso yang menemukanjenis infeksi cacing terbanyak pada

Anak SD

adalah Ascaris lumbricoides sebesar 28,3o

tt.

Tingginya

infeksi Askaris pada suatu tempat

dipengaruhi oleh beberapa hal

yaitu,

kondisi

geografls, keadaan tanah tempat

perkembangan telur cacing, dan

penyebaran

telur infektif dalam

tanah.

Seseorang dapat terinfeksi dengan cacing

Askaris apabila

menelan

minuman

atau

makanan yang terkontaminasi

dengan telur yang

infektif.

Sedangkan pada anak-

anak biasanya lewat tangannya yang

terkontaminasi dengan tanah

yang

telah tercemar

telur

cacing.

Anak SD

adalah

individu yang masih

senang melakukan

aktivitas yang berhubungan

langsung dengan tanah. Kebiasaan anak-anak

bila

sedang bermain tidak memakai alas kaki, sehingga menyebabkan

kontak

langsung dengan tanah yang mungkin telah tercemar

oleh telur cacing

merupakan salah satu

pemicu terjadinya penularan

penyakit

kecacingan, khususnya cacing

usus.

Walaupun ke sekolah

menggunakan

sepatu, tetapi pada saat bermain

ada

beberapa anak lebih senang bermain tanpa

memakai sepatu. Selain itu,

penularan cacing usus dapat pula terjadi melalui kuku

seperti yang dilaporkan penelitian sebelumnya di Kecamatan

Paseh,

Kabupaten Bandung yang

menemukan

anak pra sekolah dan balita

terinfeksi cacing usus melalui kuku sebes ar 50/o16.

Berdasarkan jenis

kelamin

sebagian

besar

yang terinfeksi cacing adalah anak

laki-laki yaitu

sebesar 56,7Yo, sedangkan berdasarkan

umur yang paling

banyak

terinfeksi cacing adalah umur i0 -

13

tahun sebesar 57,8oA. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa

tidak

ada

bukti yang kuat

antara

jenis kelamin

dengan kejadian penyakit cacing usus. Hasil yang

diperoleh dalam penelitian ini

sejalan

dengan penelitian yang dilakukan

di Sekolah Dasar Kecamatan Ampana Kota Sulawesi Tengah yang menemukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara

jenis kelamin dengan kejadian

kecacingan", danpenelitian di Kecamatan

Paseh, Kabupaten Bandung yang

menemukan tidak ada perbedaan

laki-laki

dan perempuan terhadap infeksi

(5)

Jumal Vektor Penyakit, Vol. VI No. 2, 2012 :14 - 19

kecacingan

di

Jakarta

lJtara''. Hal

yang

berbeda diungkapkan pada

penelitian sebelumnya

di

Kabupaten

Karo

Sumatera Utara pada tahun 2003 yang menyatakan

bahwa ada

perbedaan

bermakna

antara

jenis kelamin dengan kejadian

kecacingan''.

Angka

kecacingan

dalam

penelitian

ini ditemukan lebih tinggi pada

anak dengan umur yang lebih tua

yaitu

10

-

13

tahun dibandingkan

umur

7-9 tahun. Hal

ini dapat dihubungkan dengan meningkatnya aktivitas bermain

dan

mobilitas

anak

yang lebih tua

sehingga

resiko tefiular cacing lebih

besar. Anak

yang lebih muda termasuk

higienenya

masih dalam pengawasan orang

tua

sehingga resiko tefiular menjadi

lebih

kecil. Dalam penelitian ini tidak

ditemukan

bukti yang kuat

antara umur dengan

kejadian

kecacingan. Penelitian yang dilakukan

di lima

Sekolah Dasar di

Desa Suka Kecamatan Tiga

Panah Kabupaten

Karo yang

menemukan hal

yang

sama

bahwa tidak ada

hubungan

yang bennakna

antara

umur

responden dengan kej adian kecacingan' o.

KESIMPULAN

Prevalensi kecacingan usus pada anak sekolah dasar

di

kota Palu adalah 31,3o/o.

Jenis

telur

cacing yang ditemukan dalam sampel tinja adalah Ascaris lumbricoides, Ho o kw orm, Trichuris tri chtu" a, Ent erob ius

vermicularis, dan Trichostrongvlus

orientalis . Proporsi j enis telur cacing yang

paling banyak adalah Ascaris lumbricoides (26,04%). P-value

menunjukkan bahwa tidak ada

bukti

yang cukup kuat antara jenis kelamin dan umur dengan kej adian penyakit kecacingan.

SARAI{

Perlu dilakukan penyuluhan

oleh

petugas kesehatan dan gllru-

sekolah

tentang cara

pencegahan

infuksi

dan berperilaku

hidup

sehat sefta melakukan pengobatan secara

rutin bagi

siswa yang posit i f terinl'eksi telur cacing.

18

UCAPANTERIMAKASIH

'Penulis

mengucapkan

terima

kasih kepada Kepala Badan Litbang Kesehatan atas dukung an danasehingga penelitian

ini dapat terlaksana, Sekretariat

Risbinkes

Pusat dan Kepala Balai Litbang

P2Bz

Donggala, atas disetujuinya usulan

penelitian

ini.

Penulis

juga

mengucapkan

terima kasih

kepada Kepala

Dinas Kota

Palu, Kepala Puskesmas Tipo dan Kepala Puskesmas

Birobuli, Lurah

Watusampu dan Lurah Lolu Utara serta Kepala-Kepala Sekolah

di

Kelurahan Watusampu dan

di

Kelurahan

Lolu Utara

atas izin penelitian dan dukung anyangtelah diberikan kepada kami.

DAFTARPUSTAKA

1. Mardiana, Djarismawati.

Prevalensi

Cacing Usus Pada Murid

Sekolah

Dasar Wajib Belajar

Pelayanan

Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan Daerah Kumuh Di Wilayah DJI

Jakarta, Jumal

Ekologi

Kesehatan.2008; Volume 7

(2):769 -

774.

2. Djarismawati H, Herryanto,

dan

Inswiasri. Penyakit Cacing di Unit Pemukiman Transmigrasi

Propinsi Bengkulu Pada

Anak

Sekolah Dasar.

Media Litbang

Kesehatan. 2000; Vol

x(2).

3.

Samarang, Nurwidayati

A,

Leonardo.

Tingkat Kecacingan pada Anak Sekolah Dasar

Kecamatan Labuan,

Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Jurnal Vektor

Penyakit.

2009;Volume

III

( 1 ):4 1 -4.

4. Margono S. Morbiditas

Kecacingan Pada

Kelompok Usia

Sekolah Dasar

dan Anak Batita, Pertemuan

Kecacingan, B andung. 2000.

5. Suwarni, Ilahude H, dan

Marwoto.

Angka

Pencemaran

Cacing Usus di Sungai Ciliwung, Cermin Dunia

Kedokteran . 199 L; (7 2), 8

-

11.

6.

. Sudomo,

M.

Penyakit Parasitik yang

Kurang Diperhatikan di

Indonesia,

(6)

Prevalensi Kecacingan Usus padaAnak Sekolah ... (Phetisya Pamela & Sitti Chadijah)

tJ.

7.

14.

Orasi Pengukuhan Profesor

Riset

Bidang Entomologi dan

Moluska,

Jakarta.2008.

Anastasia

H. Studi

Penyakit Cacing Usus

Di

Sulawesi Tengah Tahun2009.

Laporan Hasil Penelitian. Balai

LitbangP 28 2 Donggala. 2009 .

Prasetyo, RH. Helminthologi

Kedokteran.Yogyakarta

:

Airlangga

University Press. 1 996.

Depkes RI. Pedoman Umum Program Nasional Pemberantasan Cacingan

di

Era Desentralisasi. J akarta. 2004.

10.

Ginting,A,

S. 2003. HubunganAntara

Status Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak

Sekolah Dasar di Desa Suka Kecamatan Tiga Panah

Kabupaten Karo Propinsi SumateraUtara. Bagian

Ilmu Kesehatan Anak. FK

USU.Medan. (http :/digilib.usu. ac.

idd

ownlo adlfl</ anaksr l%o 2 0 alemina. p df, diakses 5 September

20ll).

11.

Kapti

I

N.,

L.

Ariwati, M.

Sudarmaja.

Pengobatan

Penyakit Cacing

Usus pada Anak

- Anak

SD 1

Belok

Sidan,

Kecamatan

Petang, Badung.

Jumal

Pengabdian Masyarakat Udayana

Mengabdi,

Vol. 3 No. 2

tahun 2004,

Lembaga Pengabdian

Masyarakat

Unud.2004.

12.

Mettison M. Silitonga, Untung Sudharmono, dan Masta

Hutasoit.

Prevalensi kecacingan pada murid

sekolah dasae negeri di

Desa

Cihanjuang Rahayu

Parongpong Bandung Barut.

MKB.

2009; Vol.

X[

No.2:94-98.

WHO, 2006. Soil Transmitted Helminths. (, diakses 5

September

20rr).

Siregar, B. 2008.

Beberapa Faktor

Yang

Berhubungan

Dengan

Infeksi Kecacingan Yang Ditularkan

Melalui Tanah Pada Murid SD Negeri

06

Kecamatan Pinggir Kabupaten

Bengkalis Tahun

2008. FKM

USU.

Medan.

(http :i/repository.usu.ac.idl bitstream/ I 23 45 67 89 I 1 6404 I 7 I Cov er.

pdf, diakses 5 September201l).

15. Sadjimin, T. Gambaran Epidemiologi

Kejadian Kecacingan Pada

siswa Sekolah Dasar di KecamatanAmpana

Kota Kabupaten Poso Sulawesi

Tengah. Jurnal Epidemiologi

Indonesia. 2000; Vol 4, hal I -2,6 16.

Mardiana, L. Agustina, N.

Riris,

Djarismawati, dan Sukijo. Telur

cacing ascaris lumbricoides pada

tinja

dan kuku anak balita serta pada tanah

di Kecamatan Paseh,

Kabupaten Bandung, Jawa

Barat Maj.

Parasitol.

Ind. 2000; 13

(l-2)

: 28-32.

17.

SriAlemina

Ginting. 2003. Hubungan antara status sosial ekonomi dengan

kejadian kecacingan pada

anak

sekolah dasar di Desa Suka

Kecamatan

Tiga

Panah, Kabupaten Karo, Propinsi Sumatera Ut ara. online

8.

9.

Referensi

Dokumen terkait

Tesis yang berjudul PERSPEKTIF KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA DALAM DAKWAH (Studi Komunikasi Dakwah Antara Arab Hadramaut dan Etnis Kaili di Kota Palu, Sulawesi Tengah) ini adalah

Dengan demikian pegawai Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dalam pemberian bantuan khusus murid mandiri pada SMA/SMK di Kota Palu harus tetap

Dengan demikian pegawai Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dalam pemberian bantuan khusus murid mandiri pada SMA/SMK di Kota Palu harus tetap

Tesis yang berjudul PERSPEKTIF KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA DALAM DAKWAH (Studi Komunikasi Dakwah Antara Arab Hadramaut dan Etnis Kaili di Kota Palu, Sulawesi Tengah) ini adalah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama rawat dengan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi di Rumah Sakit Daerah Madani Kota Palu Sulawesi