• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL PERKULIAHAN GIZI DAN KESEHATAN REPRODUKSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MODUL PERKULIAHAN GIZI DAN KESEHATAN REPRODUKSI"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Tria Astika Endah Permatasari, SKM, MKM

PROGRAM STUDI SARJANA GIZI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2020

MODUL PERKULIAHAN GIZI DAN KESEHATAN

REPRODUKSI

(2)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 ii MODUL PERKULIAHAN GIZI DAN KESEHATAN REPRODUKSI

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Hak penerbitan pada UM Jakarta Press

Penulis :

DR. Tria Astika EP, SKM., MKM.

ISBN :

Diterbitkan oleh:

UM Jakarta Press

University of Muhammadiyah Jakarta Press Jl. KH. Ahmad Dahlan, Cireundeu, Ciputat

Tangerang Selatan 15419 Telp: 021-7492862, 7401894

Cetakan Pertama: September 2020

(3)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 iii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji senantiasa kami panjatkam hanya kepada Allah SWT, yang telah memberikan nikmat dan berkah, sehingga modul perkuliahan untuk Mata Kuliah Gizi dan Kesehatan Reproduksi ini dapat disusun dengan baik. Modul ini merupakan penunjang bagi mahasiswa semester 5 (lima), Program Studi Sarjana Gizi Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Jakarta yang digunakan untuk mencapai sebagian dari kompetensi pada mata kuliah Gizi dan Kesehatan Reproduksi yaitu mampu mmenjelaskan mengenai 1) konsep dan ruang lingkup gizi dan kesehatan reproduksi, 2) pengaruh pola konsumsi dan modifikasi dan gaya hidup terhadap kesehatan reproduksi, 3) 3) menstruasi pada remaja dengan eating disorder, 4) zat gizi makro, kesuburan, dan outcome kehamilan, 5) zat gizi mikro dalam pencegahan anomali bawaan pada janin dan optimasi hasil kehamilan, 6) gizi maternal dan pengaruhnya terhadap kesehatan generasi selanjutnya, 7) gizi menopause dan intervensi pola makan, 8) gizi dan reproduksi laki-laki, serta 9) suplemen gizi dan infertilitas pada laki-laki, 10) peran gizi dalam mengoptimalkan teknologi pengobatan kesehatan reproduksi.

Pelaksanaan perkuliahan Gizi dan Kesehatan Reproduksi dilakukan secara daring baik dengan metode sinkronus maupun asinkronus menggunakan e-learning UMJ dan online meeting (zoom meeting). Mahasiswa diberikan arahan mengenai capaian kompetensi yang diharapkan dari pelaksanaan praktikum, tujuan, dan alat dan bahan, serta prosedur analisis melalui zoom meeting. Selain itu mahasiswa diberikan video pembelajaran mengenai materi yang diberikan baik video yang dibuat mandiri maupun berasal dari lembaga/organisasi seperti World Health Organization (WHO) dan lembaga/organisasi lainnya.

Oleh karena itu kami ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada seluruh pihak yang telah terlibat dan berkontribusi dalam penyusunan modul pekuliahan Gizi dan Kesehatan Reproduksi. Kami berharap modul ini bermanfaat khsuusnya bagi pencapaian pembelajaran mahasiswa Prodi Gizi dan untuk seluruh pembaca secara luas. Kritik dan saran terhadap perbaikan dari modul ini, sangat kami apresiasi dan kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, September 2020 Dosen Pengampu,

Dr. Tria Astika Endah Permatasari, SKM., MKM

(4)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 iv

PERATURAN KULIAH DARING GIZI DAN KESEHATAAN REPRODUKSI

TATA TERTIB

Seluruh mahasiswa yang mengikuti kuliah Gizi dan Kesehatan Reproduksi diwajibkan mematuhi tata tertib sebagai berikut :

1. Mengunduh dan memperlajari dengan baik seluruh materi sebelum perkuliahan dimulai.

2. Mengerjakan kuis yaitu minimal 2 kali dalam setiap semester, dimana 1 kali dilakukan sebelum UTS dan 1 kali sebelum UAS.

3. Mengerjakan dan mengumpulkan seluruh bentuk penugasan individu maupun penugasan kelompok yang diupload melalui e-learning dan dipresentasikan pada saat perkuliahan.

4. Bergabung melalui link zoom meeting yang telah dibagikan di e-learning 5 (lima) menit sebelum jam praktikum di mulai.

5. Memberikan keterangan pesan atau surat dokter bila berhalangan mengikuti praktikum karena sakit, atau surat ijin dari orang tua jika terkendala jaringan internet atau ada kepentingan mendesak lainnya.

6. Bila perkuliahan/responsi sudah berlangsung 15 menit, maka Praktikan yang terlambat tidak diperkenankan mengikuti praktikum pada hari tersebut.

7. Mahasiswa diwajibkan membuka kamera (oncam), berbusanan rapi selama perkuliahan/responsi daring.

8. Sebelum memulai perkuliahan/responsi, seluruh praktikan diharuskan membaca tilawah dan do’a sebelum belajar. Setelah praktikum selesai, praktikan membaca Q.S Al-Ashr dan Do’a penutup majelis.

9. Selama jam perkuliahan, jika mahasiswa meninggalkan room zoom meeting misalnya untuk pergi ke toilet atau mendadak ada kepentingan yang sangat mendesak dengan alasan syar’i, maka Praktikan harus ijin kepada dosen pengampu mata kuliah.

10. Mahasiswa menonaktifkan suara (kondisi mute) pada saat Dosen memberikan penjelasan, dan mengaktifkam suara saat sessi diskusi dan tanya jawab, dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada dosen untuk menjawab pertanyaan.

11. Selama berada dalam room zoom meeting, mahasiswa harus berperilaku Islami yaitu dilarang merokok, menghormati dosen dan teman sesama mahasiwa, dilarang makan, dilarang membuat suasana tidak kondusif.

12. Seluruh kegiatan perkuliahan direkam dan dapat diakses di e-learning oleh seluruh mahasiswa.

13. Bagi mahasiswa yang melanggar peraturan dan tata tertib akan menerima konsekuensi sesuai dengan pelanggarannya yang telah disepakati saat kontrak awal perkuliahan.

Jakarta, September 2020 Dosen Pengampu Mata Kuliah

Dr. Tria Astika E.P., SKM, MKM

(5)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 v

TATA TERTIB

Seluruh mahasiswa yang mengikuti kuliah dan responsi Mata Kuliah Gizi dan Kesehatan Reproduksi diwajibkan mematuhi tata tertib sebagai berikut :

14. Mengunduh dan memperlajari dengan baik seluruh materi sebelum perkuliahan dimulai.

15. Mengerjakan kuis yaitu minimal 2 kali dalam setiap semester, dimana 1 kali dilakukan sebelum UTS dan 1 kali sebelum UAS.

16. Mengerjakan dan mengumpulkan seluruh bentuk penugasan individu maupun penugasan kelompok yang diupload melalui e-learning dan dipresentasikan pada saat perkuliahan.

17. Bergabung melalui link zoom meeting yang telah dibagikan di e-learning 5 (lima) menit sebelum jam praktikum di mulai.

18. Memberikan keterangan pesan atau surat dokter bila berhalangan mengikuti praktikum karena sakit, atau surat ijin dari orang tua jika terkendala jaringan internet atau ada kepentingan mendesak lainnya.

19. Bila perkuliahan/responsi sudah berlangsung 15 menit, maka Praktikan yang terlambat tidak diperkenankan mengikuti praktikum pada hari tersebut.

20. Mahasiswa diwajibkan membuka kamera (oncam), berbusanan rapi selama perkuliahan/responsi daring.

21. Sebelum memulai perkuliahan/responsi, seluruh praktikan diharuskan membaca tilawah dan do’a sebelum belajar. Setelah praktikum selesai, praktikan membaca Q.S Al-Ashr dan Do’a penutup majelis.

22. Selama jam perkuliahan/responsi jika Praktikan meninggalkan room zoom meeting misalnya untuk pergi ke toilet atau mendadak ada kepentingan yang sangat mendesak dengan alasan syar’i, maka Praktikan harus ijin kepada dosen pengampu mata kuliah.

23. Bila perkuliahan/responsi sudah selesai, seluruh mahasiswa dapat mendowload kegiatan praktikum yang sudah dilakukan di e-learning untuk dipelajari dan diperdalam kembali.

24. Mahasiswa menonaktifkan suara (kondisi mute) pada saat Dosen memberikan penjelasan, dan mengaktifkam suara saat sessi diskusi dan tanya jawab, dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada dosen untuk menjawab pertanyaan.

25. Selama berada dalam room zoom meeting, mahasiswa harus berperilaku Islami yaitu dilarang merokok, menghormati dosen dan teman sesama mahasiwa, dilarang makan, dilarang membuat suasana tidak kondusif.

26. Seluruh kegiatan perkuliahan/responsi direkam dan dapat diakses di e-learning oleh seluruh mahasiswa.

Jakarta, September 2020

(6)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 vi Dosen Pengampu

Dr. Tria Astika Endah Permatasari, SKM, MKM

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii

PERATURAN PERKULIAHAN DARING GIZI DAN KESEHATAAN REPRODUKSI ... iv

TATA TERTIB ... v

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tujuan ... 2

1.3. Deskripsi Mata Kuliah Gizi dan Kesehatan Reproduksi ... 2

1.4. Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) ... 3

1.5. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah... 3

1.6. Implementasi Nilai-Nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ... 4

BAB 2. GIZI DAN KESEHATAN REPRODUKSI ... 6

2.1. Pengantar Gizi dan Kesehatan Reproduksi ... 6

2.2. Ruang lingkup Gizi dan Kesehatan Reproduksi ... 6

2.3. Keseimbangan Energi dan Fungsi Ovulasi ... 7

2.4. Komposisi Diet dan Fungsi Ovulasi ... 10

BAB 3. POLA KONSUMSI DAN MODIFIKASI GAYA HIDUP ... 14

3.1. Definisi dan Diagnosis Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) ... 14

3.2. Etiologi PCOS ... 14

3.3. Pola Konsumsi pada PCOS ... 15

3.4. Manajemen Gaya Hidup pada PCOS ... 17

BAB 4. MENSTRUASI PADA REMAJA DENGAN EATING DISORDER ... 21

4.1. Definisi Eating Disorder ... 21

(7)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 vii

4.2. Eating Disorders dan Menstruasi ... 24

4.3. Komplikasi Disfungsi Menstruasi ... 25

BAB 5. ZAT GIZI MAKRO, KESUBURAN, DAN OUTCOME KEHAMILAN ... 27

5.1. Obesitas dan Reproduksi ... 27

5.2. Peningkatan BMI dan Gangguan Ovulasi ... 27

5.3. Peningkatan BMI dan Kualitas Oosit ... 28

5.4. Peningkatan BMI dan Kualitas Embrio ... 28

5.5. Peningkatan BMI dan Penerimaan Endometrium ... 28

5.6. Efek Kehilangan Berat Badan... 29

5.7. Peningkatan Berat Badan terhadap Obstetri dan Outcome Neonatal ... 30

BAB 6. ZAT GIZI MIKRO DALAM PENCEGAHAN ANOMALI BAWAAN PADA JANIN DAN OPTIMASI HASIL KEHAMILAN ... 32

BAB 7. GIZI MATERNAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESEHATAN GENERASI SELANJUTNYA ... 37

7.1. Asal-usul Perkembangan Kesehatan dan Penyakit ... 37

7.2. Pengaruh Gizi Maternal terhadap Kesehatan Generasi Mendatang ... 39

7.3. Mekanisme Potensial yang Menghubungkan Gizi Ibu dengan Kesehatan Generasi Mendatang ... 40

7.4. Efek antar Generasi Gizi Maternal ... 42

7.5. Gizi Remaja Putri... 42

7.6. Pentingnya Pendekatan Daur Kehidupan untuk Pencegahan Pengobatan... 43

BAB 8. GIZI MENOPAUSE DAN INTERVENSI POLA MAKAN ... 45

8.1. Peran Gizi dan Faktor Gaya Hidup yang Mempengaruhi Perimenopause ... 45

8.2. Peran Gizi dan Suplemen Makanan dalam Manajemen Gejala Akut Menopause ... 50

8.3. Pola Makan dan Pencegahan Penyakit Kronis Pascamenopause ... 52

8.4. Gizi dan Asupan Suplemen untuk Osteoporosis pada Masa Pascamenopause ... 53

8.5. Pola Makan dan Kanker ... 54

BAB 9. GIZI DAN REPRODUKSI LAKI-LAKI ... 55

9.1. Obesitas dan Testosteron ... 55

9.2. Diet dan Testosteron ... 56

9.3. Obesitas dan Disfungsi Ereksi ... 58

9.4. Hubungan Penurunan Berat Badan terhadap Testosteron dan Disfungsi Ereksi pada Pria Obesitas ... 60

BAB 10. SUPLEMEN GIZI DAN INFERTILITAS PADA LAKI-LAKI ... 62

(8)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 viii

10.1. Infertilitas pada Pria ... 62

10.2. Reactive Oxygen Species (ROS) ... 63

10.3. Oxidative Stress ... 64

10.4. Antioksidan ... 65

10.5. Terapi Herbal ... 68

BAB 11. PERAN GIZI DALAM MENGOPTIMALKAN TEKNOLOGI PENGOBATAN KESEHATAN REPRODUKSI ... 69

11.1. Dampak BMI Ibu terhadap Fertilitas dan Hasil In Vitro Fertilization (IVF) ... 71

11.2. Dampak BMI Ayah terhadap Fertilitas dan Hasil In Vitro Fertilization (IVF) ... 73

11.3. Suplemen untuk Kesuburan Wanita dan Pria ... 75

BAB 12. PENUTUP ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 77

(9)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 ix DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Gizi dan Kesehatan Reproduksi: Kerangka Tindakan ... 1

Gambar 2.1 Hubungan Kecepatan Pertumbuhan dengan Staging Pubertas pada Anak Laki-Laki dan Perempuan... 8

Gambar 2.2 Perbedaan Peak Height Velocity (PHV) pada Perempuan dan Laki-Laki .. 9

Gambar 2.3 Indeks Massa Tubuh dalam kaitannya dengan (a) infertilitas karena gangguan ovulasi dan (b) penyebab lain dariinfertilitas ... 10

Gambar 2.4 Struktur Asam Lemak Jenuh dan Asam Lemak Tak Jenuh ... 12

Gambar 3.1 Kriteria Rotterdam dan NIH dalam Mendiagnosis PCOS... 14

Gambar 3.2 Gambaran Etiologi, Hormonal dan Klinis PCOS ... 15

Gambar 3.3 Model konseptual kontribusi olahraga terhadap penurunan berat badan dan hasil kesehatan pada sindrom ovarium polikistik (PCOS) ... 19

Gambar 4.1 Keterkaitan Multidimensi dan Kompleksitas Eating Disorder ... 21

Gambar 7.1 Dampak Status Gizi terhadap Outcome Kehamilan ... 37

Gambar 7.2 Developmental Programming: Hipotesis Barker ... 38

Gambar 7.3 Konsep Mismatch ... 39

Gambar 7.4 Dampak BBLR terhadap Masalah Kesehatan Selanjutnya ... 39

Gambar 7.5 BBLR dan Penyakit Dewasa (Penjelasan Genetik) ... 43

Gambar 7.6 Strategi Perjalanan Hidup untuk Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Tidak Menular ... 44

Gambar 8.1 Perubahan Anatomi Menopause ... 46

Gambar 8.2 STRAW Stage of Reproductive Aging Surrounding the Menopausal Transition ... 46

Gambar 8.3 To Road to Menopause ... 46

Gambar 8.4 Penggunaan Angka Kecukupan Gizi untuk Penilaian Asupan Gizi dan Perencanaan Konsumsi Pangan ... 50

Gambar 9.1 Hubungan antara Obesitas dan Produksi Testosteron ... 56

Gambar 9.2 Mekanisme Disfungsi Ereksi pada Pria Obesitas ... 59

Gambar 10.1 Tren Prevalensi Infertilitas pada Pria ... 62

Gambar 10.2 Keganasan spesifik yang terkait dengan pria tidak subur dan anggota keluarga mereka berdasarkan usia rata-rata saat didiagnosis ... 63

Gambar 10.3 Stres Oksidatif ... 64

(10)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 x Gambar 10.4 Penyebab, Mekanisme, dan Efek Stress Oksidatif pada Kejadian

Infertilitas Pria ... 65 Gambar 10.5 Manfaat Antioksidan ... 66 Gambar 11.1 Jumlah siklus IVF non-donor baru 1997–2008: Berdasarkan strata usia .... 69 Gambar 11.2 Siklus Asisten Teknologi Reproduksi ... 70 Gambar 11.3 Tren yang Mempengaruhi Pasar Teknologi Reproduksi Berbantuan

Global Hingga 2021 ... 70 Gambar 11.4 Mekanisme Potensial Transmisi Risiko Metabolik Ibu untuk

Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada Janin... 71 Gambar 11. 5 Mekanisme Obesitas dalam Memengaruhi Outcome Kehamilan ... 73

(11)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 xi DAFTAR TABEL

Tabel 8.1 Angka Kecukupan Gizi Periode Perimenopause ... 51 Tabel 9.1 Peran Mikronutrien dalam Sintesis Testosteron dan Fungsi Seksual ... 58 Tabel 10.1 Kelebihan dan Kekurangan Antioksidan Alami dan Sintetik ... 66

(12)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pemenuhan terhadap hak-hak gizi dan kesehatan reproduksi serta hak-hak reproduksi terutama perempuan dapat mengubah masa depan. Gizi berperan secara bermakna dalam kesehatan reproduksi. Perbaikan terhadap gizi dan kesehatan reproduksi dapat mengurangi kemiskinan, menyelamatkan kehidupan, memperbaiki masalah kesetaraan gender, memperbaiki perekonomian, dan mendukung pencaapaian Sustainable Development Goals (SDG’s). World Health Organization (WHO) menargetkan percepatan perbaikan gizi secara global pada tahun 2025 yang ditetapkan dan disahkan oleh Majelis Kesehatan Dunia pada tahun 2012. Salah satu target perbaikan gizi adalah terkait gizi dan kesehatan reproduksi maternal. Selain itu pemenuhan aspek kesehatan reproduksi pada seluruh siklus kehidupan baik perempuan maupun laki-laki merupakan salah satu upaya strategis dalam perbaikan gizi secara umum (UNFPA, 2019). Berikut adalah kerangka konseptual intervensi yang dilakukan dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak (Gambar 1.1).

Gambar 1.1 Gizi dan Kesehatan Reproduksi: Kerangka Tindakan Sumber: Lancet Series on maternal and Child Nutrition (2013)

Peranan gizi dalam siklus reproduksi terutama pada perempuan cukup kompleks, dimulai dengan proses epigenetik hingga pasca-menopause. Langkah-langkah intervensi melibatkan berbagai proses termasuk misalnya perkembangan organ seks, menarche,

(13)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 2 siklus endokrin episodik, menstruasi, ovulasi dan konsepsi. Kondisi optimal untuk proses ini menghasilkan individu yang subur di mana pembuahan, kehamilan, dan kelahiran anak dapat terjadi. Seluruh proses ini dapat dipengaruhi oleh gizi dan sebaliknya.

Komposisi tubuh juga berdampak pada siklus menstruasi dan kesuburan. Misalnya, siklus menstruasi memiliki pengaruh yang nyata pada pemilihan makanan dan konsumsi makanan. Demikian pula, baik kekurangan makanan, kelebihan makanan atau obesitas dapat mengakibatkan perubahan nyata dalam siklus menstruasi dengan efek bersamaan pada kesuburan (Hollins-Martin et al., 2014).

Pemenuhan terhadap aspek gizi dan kesehatan reproduski dipengaruhi oleh pemahaman dan kesadaran individu dan masyarakat pada seluruh kelompok usia, baik pada perempuan maupun laki-laki. Permatasari et al., 2021 melaporkan hasil penelitiannya mengenai pengaruh intervensi edukasi gizi dan kesehatan reproduksi pada ibu hamil dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil secara signifikan sehingga diharapkan mampu mencegah terjadinya berbagai masalah gizi pada peridoe kehidupan selanjutnya baik pada kesehatan ibu maupun anak seperti stunting pada balita sebagai bentuk malnutrisi yang memiliki prevalensi tinggi di berbagai negara termasuk di Indonesia (Permatasari et al., 2021).

Oleh karena itu kompetensi yang harus dimiliki oleh ahli gizi mengenai Gizi dan Keshatan Reprduksi menjadi penting untuk dimiliki sebagai modal dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai peranan gizi dalam kesehatan reproduksi untuk membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

1.2 Tujuan

Tujuan dari perkuliahan gizi dan kesehatan reproduksi adalah mahasiswa mampu memahami.

1.3 Deskripsi Mata Kuliah Gizi dan Kesehatan Reproduksi

Mata kuliah Gizi dan Kesehatan Reproduksi yaitu mata kuliah pilihan pada Program Studi Zarjana Gizi FKK UMJ yang ditujukan agar mahasiswa memiliki capaian komptenesi yaitu mampu menjelaskan mengenai konsep dan ruang lingkup gizi dan kesehatan reproduksi, pengaruh pola konsumsi dan modifikasi dan gaya hidup terhadap kesehatan reproduksi, menstruasi pada remaja dengan eating disorder, zat gizi makro, kesuburan, dan outcome kehamilan, zat gizi mikro dalam pencegahan anomali bawaan pada janin dan optimasi hasil kehamilan, gizi maternal dan pengaruhnya terhadap

(14)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 3 kesehatan generasi selanjutnya, gizi menopause dan intervensi pola makan, gizi dan reproduksi laki-laki, serta suplemen gizi dan infertilitas pada laki-laki, peran gizi dalam mengoptimalkan teknologi pengobatan kesehatan reproduksi.

1.4 Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL)

Capaian dari pembelajaran ini adalah agar mahasiswa:

1. Sikap: Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri. Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.

2. Pengetahuan: Menguasai konsep teoritis fisiologi siklus hidup manusia (Human Lifecycle Physiology) secara mendalam. Menguasai pengetahuan tentang konsep dasar gizi, hubungan gizi dengan kesehatan reproduksi, konsep gizi seimbang, menyusun menu gizi seimbang bagi wanita di sepanjang daur kehidupan serta menelaah masalah gizi pada wanita di sepanjang daur kehidupan.

3. Keterampilan umum: Mampu bertanggungjawab atas pencapaian hasil kerja kelompok dan melakukan supervisi dan evaluasi terhadap penyelesaian pekerjaan yang ditugaskan kepada pekerja yang berada di bawah tanggungjawabnya. Mampu menyusun laporan hasil dan proses kerja secara akurat dan sahih serta mengomunikasikannya secara efektif kepada pihak lain yang membutuhkan.

Mampu bekerjasama, berkomunikasi dan berinovatif dalam pekerjaannya.

4. Keterampilan khusus: Mampu menyusun menu gizi seimbang bagi wanita di sepanjang daur kehidupan.

1.5 Capaian Pembelajaran Mata Kuliah

Capaian dari pembelajaran gzi dan kesehatan reproduksi adalah agar mahasiswa menunjukkan sikap kritis, partisipatif dan tanggungjawab dalam menyelesaikan tugas terkait penilaian pembelajaran gizi dan kesehatan reproduksi. Menambah pengetahuan mahasiswa sebagai berikut:

1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dan ruang lingkup gizi dan kesehatan reproduksi,

2. Mahasiswa mampu menjelaskan pengaruh pola konsumsi dan modifikasi dan gaya hidup terhadap kesehatan reproduksi,

3. Mahasiswa mampu menjelaskan menstruasi pada remaja dengan eating disorder,

(15)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 4 4. Mahasiswa mampu menjelaskan zat gizi makro, kesuburan, dan outcome

kehamilan,

5. Mahasiswa mampu menjelaskan zat gizi mikro dalam pencegahan anomali bawaan pada janin dan optimasi hasil kehamilan,

6. Mahasiswa mampu menjelaskan gizi maternal dan pengaruhnya terhadap kesehatan generasi selanjutnya,

7. Mahasiswa mampu menjelaskan gizi menopause dan intervensi pola makan, 8. Mahasiswa mampu menjelaskan gizi dan reproduksi laki-laki,

9. Mahasiswa mampu menjelaskan suplemen gizi dan infertilitas pada laki-laki, 10. Mahasiswa mampu menjelaskan peran gizi dalam mengoptimalkan teknologi

pengobatan kesehatan reproduksi.

1.6 Implementasi Nilai-Nilai Al-islam dan Kemuhammadiyahan

Peranan gizi dan kesehatan reproduksi nyata kaitannya dengan setiap proses siklus kedhidupan, baik mulai dari masa prakonsepsi hingga periode usia lanjut. Lahirnya generasi yang berkualitas ditentukan sejak proses persiapan seorang calon ibu maupun ayah akan memeroleh keturunan dengan menjaga kesehatan fisik mauun bathinnya.

Proses penciptaan manusia pertama, Adam a.s. diciptakan dari al-tin (tanah), yang dibentuk Allah dengan seindah-indahnya, kemudian Allah meniupkan ruh dari-Nya ke dalamA diri (manusia) tersebut Q.S, Al An’aam ayat 2 yaitu sebagai berikut:

ُو َ لَّذِى ۡ لل قُكُمُۡ لِّذ ۡ ِِّلن ذٍ ىل َّ ق َض ُى َجُلُۡ َاُلُۡ ٌُ قُّسُمًّۡ ىل َّ هُٗثلمذَّ لل ـتلمُۡ ُم لٌ رُـ لسَُ

Artinya: ‘Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu), dan batas waktu tertentu yang hanya diketahui oleh-Nya. Namun demikian kamu masih meragukannya’. (Q.S. Al-An’am Ayat 2).

Allah SWT melaui kuasaNya menciptakan manusia yaitu Adam dari bahan yang sederhana yaitu tanah. Manusia yang sekarang ini menjadi besar dan dewasa juga dari saripati tanah, dan berbagai zat makanan yang ditumbuhkan dari tanah. Penciptaan manusia selanjutnya adalah melalui proses biologi yang dapat dipahami secara sains- empirik. Di dalam proses ini, manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air mani (nuthfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah itu dijadikan darah beku (‘alaqah) yang menggantung dalam rahim. Darah beku tersebut kemudian dijadikan-Nya segumpal daging (mudghah) dan kemudian dibalut dengan

(16)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 5 tulang belulang lalu kepadanya ditiupkan ruh (Q.S, Al Mu’minuun ayat 12-14 yaitu sebagai berikut:

ُمضُم ْ ِّ ذۡ ُِّ ضُمم ذ لْإِ سُملْكُمُۡ لْثُكُ ٌُ ُكُمَُّ ُُِنلْ ًّم ِ سُملْكُمُۡ ىل َّ . ِِّنذقىۡ ِ ۡ ُرُى قذم َُِنلْ م مضُملْمُقُل ىل َّ . ِِّنذٍ ِّذ ۡ ِِ ُُِكُمُقلْ ِ سُملْكُمُقُم َِ

ىِْ ًُ ُ سَُُـُم َ ُرُُۡۡض سَكلْمُۡ مضُملْفُكمَُ ىل َّ سَسلُِْ ُلضَُذقلْ ِ سُم لْوُمُقُم سَس ضَُذَّ ُُِالْ سلْ ِ سُملْكُمُقُم َُِالْ ۡ ضُقلْ ِ ُِّملْ َُ ُِّنذكذم

Artinya: ‘Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging

itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha

sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik’. (QS. Al-Mukminun ayat 12-14).

Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan Allah swt. ke dalam janin setelah ia mengalami perkembangan 40 hari nuthfah, 40 hari ‘alaqah dan 40 hari mudghah. Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya itu ditegaskan dalam banyak ayat. Demikian Allah SWT telah berfiman dalam Al- Qur’an agar manusia dapat berfikir dengn proses pembelajaran dan bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan dengan menjaga kesehatan fisik maupun bathin agar dapat beribadah dengan sebaik-baiknya kepada Allah SWT.

(17)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 6

BAB 2. GIZI DAN KESEHATAN REPRODUKSI

2.1. Pengantar Gizi dan Kesehatan Reproduksi

Kesehatan reproduksi telah diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 Peraturan tentang Kesehatan, yaitu merupakan keadaan sehat secara fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi pada laki-laki dan perempuan.

Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2014, Pemerintah juga menjamin kesehatan ibu, mengurangi angka kesakitan dan angka kematian ibu dan bayi baru lagir, menjamin tercapainya kualitas hidup dan pemenuhan hak-hak reproduksi, dan mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lagi yang bermutu, aman, dan bermanfaat sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan terkait kesehatan reproduksi, yang dapat dilihat melalui indikator Angka Kematian Ibu (AKI), Total Fertility Rate (TFR), unmet need ber-KB, kehamilan remaja, dan sebagainya. Kualitas kesehatan reprodusi terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk pemenuhan asupan gizi.

2.2. Ruang lingkup Gizi dan Kesehatan Reproduksi

Indonesia termasuk dari 179 negara yang menandatangani hasil kesepakatan Konferensi Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development, ICPD) di Kairo pada tahun 1994. Ruang lingkup kesehatan reproduksi menurut ICPD (1994) meliputi 10 hal:

1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir, 2. Keluarga berencana,

3. Pencegahan dan penanganan infertilitas,

4. Pencegahan dan penanganan komplikasi keguguran,

5. Pencegahan dan penanganan infeksi saluran reproduksi (ISR), infeksi menular seksual (IMS), dan HIV AIDS,

6. Kesehatan seksual, 7. Kekerasan seksual,

8. Deteksi dini untuk kanker payudara dan kanker serviks, 9. Kesehatan reproduksi remaja, serta

(18)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 7 10. Kesehatan reproduksi lanjut usia dan pencegahan praktik yang membahayakan

seperti female genital mutilation (FGM).

Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu (PKRT) diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2014 yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahapan siklus kehidupan yang dimulai dari tahap konsepsi, bayi dan anak, remaja, usia subur dan usia lanjut. Pelayanan ini dilaksanakan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, yang ditujukan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi melalui upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

2.3. Keseimbangan Energi dan Fungsi Ovulasi 1. Faktor Energi dan Menarche

Tren terjadinya menarche dini meningkat di seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh perubahan sosial ekonomi, stress, obesitas, dan percepatan tinggi badan anak (Chavarro et al., 2015). Menarche menunjukkan terjadinya keseimbangan energi selama masa kanak-kanak. Diawali dengan studi tahun 1960 pada tikus betina yang diberi makan lebih banyak (tandu besar) menyebabkan menarche lebih awal (berat badan lebih besar). Pada penelitin ini diperoleh bahwa BMI berkorelasi dengan kecepatan menarche dan aktivitas fisik yang berat, tetapi tidak sedang, dapat menunda menstruasi (Kennedy, 1969).

Contoh Studi (Chavarro et al., 2004):

“Anak perempuan Kolombia yang melakukan kegiatan olahraga selama 2 jam / hari atau lebih pada tahun-tahun sebelum menarche mencapai pencapaian ini rata- rata 3,5 bulan lebih lambat daripada anak perempuan yang tidak berolahraga, namun perempuan yang lebih jarang berolahraga tidak berbeda. dari gadis yang tidak aktif pada saat menarch”

Terdapat mekanisme yang menghubungkan penyimpanan lemak tubuh dengan regulasi ovulasi hipotalamus-hipofisis yang mendasari penjelasan sifat hubungan antara adipositas dan permulaan menstruasi. Leptin, hormon peptida yang diproduksi di adiposit, awalnya diidentifikasi sebagai pengatur utama nafsu makan dan keseimbangan energi.48-50 Pada anak-anak dan remaja yang sehat, konsentrasi leptin serum berhubungan positif dengan total lemak tubuh, tahap pubertas, dan konsentrasi serum hormon reproduksi, dan berbanding terbalik dengan usia saat menarche. Interaksi leptin dan kisspeptin berperan dalam

(19)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 8 pematangan seksual, sifat interaksi mereka yang tepat dalam mengontrol permulaan pubertas dan pemeliharaan fungsi ovarium tetap menjadi bidang penyelidikan aktif (Chavarro et al., 2015).

Awal terjadinya menstruasi pada perempuan yaitu pubertas dimulai saat lemak tubuh mencapai 15%. Lemak tubuh yang mencapai 17% dianggap sebagai presentase lemak kritis untuk memicu terjadinya menarche. 22-25% lemak diperlukan utk memelihara ovulasi regular. Saat maturasi fisik lengkap, lemak tubuh telah mencapai 28% berat badan. Pada anak laki-laki, perkembangan seksual dimulai secara bersamaan dengan masa pertumbuhan cepat.

Gambar 2.1 Hubungan Kecepatan Pertumbuhan dengan Staging Pubertas pada Anak Laki-Laki dan Perempuan

(Sumber: Diadaptasi dari Anner (1989))

Rata-rata waktu pementasan pubertas ditunjukkan di bagian bawah gambar.

Rentang usia di bawah kotak pementasan pubertas menunjukkan penyebaran nilai- nilai di mana pematangan seksual dimulai dan berakhir. Kurva kecepatan tinggi di bagian atas gambar menunjukkan waktu percepatan pertumbuhan pubertas pada anak perempuan (____) dan anak laki-laki (- - - -) dan usia rata-rata kecepatan pertumbuhan maksimal. Dari gambar terlihat jelas bahwa pada anak perempuan percepatan pertumbuhan mendahului perkembangan pubertas, sedangkan pada anak laki-laki percepatan ini terjadi pada tahap yang lebih lanjut (Gambar 2.1).

(20)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 9 Gambar 2.2 Perbedaan Peak Height Velocity (PHV) pada Perempuan dan

Laki-Laki

Selama proses pubertas, dicapai 15-20% tinggi badan dewasa dan sekitar 45% massa otot dewasa. Peak Height Velocity (PHV) pada perempuan lebih cepat dibandingkan laki-laki. Menstruasi terjadi 6-12 bulan setelah PHV dan jika telah dicapai 95% tinggi badan dewasa. PHV yang lebih cepat pada perempuan menyebabkan tinggi badan total lebih pendek daripada laki-laki. Peak Weight Velocity (PWV) pada perempuan terjadi 6-12 bulan setelah PHV dan terjadi bersamaan dengan menarche. Menarche terjadi jika berat badan mencapai sekitar lemak tubuh 17% berat badan. Komposisi tubuh yang berkembang pada saat pubertas pada perempuan ialah estrogen dan progesterone, sedangkan pada laki- laki ialah testosteron dan androgen.

2. Faktor Energi dan Ovulasi pada Wanita Dewasa

Jumlah minimum lemak tubuh (17%) untuk permulaan menstruasi juga tampaknya berlaku untuk pemeliharaan siklus ovulasi pada wanita dewasa secara seksual. Efek kekurangan gizi pada anovulasi adalah hasil dari disfungsi hipotalamus dan penurunan sekresi gonadotropin frekuensi anovulasi dan infertilitas lebih besar pada wanita yang kelebihan berat badan dan obesitas dibandingkan pada wanita dengan berat badan normal.

Contoh studi:

(21)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 10 “Jensen, et al (1999) melaporkan bahwa, di antara 10.903 wanita Denmark yang merencanakan kehamilan mereka, kelebihan berat badan atau obesitas (BMI ≥ 25 kg/m2) dikaitkan dengan peningkatan risiko kemandulan 82% (50-120%) dibandingkan dengan wanita dengan BMI antara 20 dan 25 kg/m2.”

BMI dewasa, kisaran yang terkait dengan risiko infertilitas terendah sedikit lebih lebar daripada BMI remaja, dari 20 hingga 24 kg/m2. Obesitas menyebabkan berbagai perubahan sistemik termasuk perubahan tingkat sirkulasi adipokin, hormon reproduksi, dan penanda disfungsi endotel dan peradangan sistemik serta gangguan metabolisme dalam metabolisme lipoprotein, kontrol glikemik, dan peningkatan resistensi insulin (Chavarro et al., 2015).

Gambar 2.3 Indeks Massa Tubuh dalam kaitannya dengan (a) infertilitas karena gangguan ovulasi dan (b) penyebab lain dariinfertilitas

(Sumber: Chavarro et al., 2007)

2.4. Komposisi Diet dan Fungsi Ovulasi 1. Diet dan Menarche

Keseimbangan energi (makronutrien: karbohidrat, lemak, protein) berkorelasi dengan terjadinya menarche. Asupan protein dari sumber hewani secara longitudinal terkait dengan tingkat sirkulasi IGF-I (Insulin-like growth factor I) yang lebih tinggi di masa kanak-kanak dan dengan akselerasi dalam

(22)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 11 pertumbuhan somatic. Konsumsi protein dari sumber nabati (kedelai dan kacang- kacangan) yang mengandung isoplavon, fitoestrogen, juga mampu menstimulasi peningkatan hormone pertumbuhan. Korelasi antara asupan mikronutrien dengan menarche masih belum konsisten. Studi menunjukkan asupan Vitamin A dan Vitamin D plasma dapat meningkatkan menarche.

Contoh studi:

“Maclure et al (1991), hubungan yang kuat antara asupan vitamin A dan menarche.

Anak perempuan yang mengonsumsi lebih dari 30.000 IU/hari vitamin A memiliko peluang untuk mencapai menarche 5,8 kali dibandingkan dengan dengan anak perempuan yang mengonsumsi kurang dari 10.000 IU/hari.”

2. Diet dan Fungsi Ovulasi pada Wanita Dewasa

Makronutrien mempengaruhi fungsi ovulasi melalui efek pada insulin dan metabolisme glukosa resistensi insulin, hiperinsulinemia, dan hiperglikemia menyebabkan pengembangan PCOS (polycystic ovary syndrome). PCOS adalah gangguan hormon yang terjadi pada wanita di usia subur. Penderita PCOS mengalami gangguan menstruasi dan memiliki kadar hormon maskulin (hormon androgen) yang berlebihan. Hormon androgen yang berlebih pada penderita PCOS dapat mengakibatkan ovarium atau indung telur memproduksi banyak kantong- kantong berisi cairan. Akibatnya, sel telur tidak berkembang sempurna dan gagal dilepaskan secara teratur. Akibat dari polycystic ovarian syndrome juga dapat menyebabkan penderitanya tidak subur (mandul), serta lebih rentan terkena diabetes dan tekanan darah tinggi (Chavarro et al., 2015).

Asupan makronutrien selama masa dewasa telah terbukti mempengaruhi fungsi ovarium. Pertama, konsumsi lemak jenuh dan lemak trans telah dilaporkan mengganggu pematangan oosit dan kualitas dalam studi hewan dan manusia.

Kedua, wanita yang mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi (roti putih, permen, dan kentang) telah terbukti peningkatan risiko anovulasi, mungkin dimediasi oleh efek buruk resistensi insulin pada ovarium. Data yang menghubungkan asupan protein dan serat dengan fungsi ovulasi tidak konsisten, membuat kesimpulan tidak mungkin.

Oosit (sel dalam ovarium yang terbentuk atau mengalami meiosis untuk membentuk ovum memetabolisme asam lemak bebas (FFA), asam palmitat (asam lemak jenuh (SFA)), dan oleat (asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA)) adalah asam FFA dominan dalam folikel ovarium manusia. Contoh studi: Hasil dari studi

(23)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 12 kohort prospektif lebih dari 18.000 wanita menunjukkan bahwa peningkatan 2%

dalam asupan energi dari asam lemak trans dikaitkan dengan 73% lebih besar risiko infertilitas ovulasi (Chavarro et al., 2007).

Gambar 2.4 Struktur Asam Lemak Jenuh dan Asam Lemak Tak Jenuh (Sumber: http://dlc.dcccd.edu)

Indeks glikemik makanan, jumlah dan kualitas karbohidrat dalam makanan, telah terbukti berhubungan positif dengan risiko infertilitas ovulasi. Wanita yang mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik makanan berisiko 92% lebih tinggi untuk infertilitas ovulasi dibandingkan wanita yang mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah. Pola makan vegetarian dikaitkan dengan insiden ketidakteraturan menstruasi yang lebih tinggi dan penurunan kadar hormon luteinizing (LH) dan estrogen. Diet tinggi serat menghasilkan tingkat estrogen yang lebih rendah selama siklus menstruasi (Douglas et al., 2006).

Jumlah dan sumber protein dalam makanan diketahui mempengaruhi sensitivitas insulin yang selanjutnya dapat mempengaruhi fungsi ovulasi. Secara khusus, mengonsumsi 5% energi dari protein nabati daripada karbohidrat dikaitkan dengan risiko infertilitas ovulasi 43% lebih rendah. Mengonsumsi 5% energi sebagai protein nabati dibandingkan dengan protein hewani dikaitkan dengan risiko lebih dari 50% lebih rendah dari infertilitas ovulasi (Chavarro et al., 2008).

Bukti signifikan mendukung peran folat, vitamin D, dan zat besi dalam ovulasi. Rendah asupan folat diet dikaitkan dengan peningkatan risiko anovulasi dan penurunan luteal progesteron. Sebaliknya, meningkatkan simpanan folat tubuh

(24)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 13 melalui suplemen telah terbukti meningkatkan kualitas oosit selama produksi pengobatan IVF dan mungkin meningkatkan kemungkinan kembar dizigotik (fraternal atau dual ovulasi). Reseptor vitamin D ada di ovarium dan beberapa bukti mengaitkan aksi vitamin D yang rendah/defisiensi nutrisi atau model knock out gen) dengan gangguan ovulasi pada wanita dengan PCOS. Akhirnya, asupan zat besi nonheme (berbasis tanaman) yang tinggi telah terbukti mengurangi kemungkinan infertilitas anovulasi. Makanan olahan merupakan racun reproduksi potensial. Pertama, laktosa, karbohidrat utama dalam susu, diuraikan di usus menjadi glukosa dan galaktosa sebagai pemicu infertilitas. Asupan tinggi susu dan produk susu dapat meningkatkan risiko infertilitas akibat disfungsi ovulasi pada wanita sehat (Chavarro et al., 2015).

Meskipun kafein dan alkohol sering disebut sebagai faktor penting yang berkontribusi terhadap anovulasi dan infertilitas, pemeriksaan yang bijaksana dari bukti saat ini tidak ada efek signifikan baik kafein atau alkohol pada ovulasi.

Asupan alkohol yang tinggi, bagaimanapun, meningkatkan kadar estrogen serum dengan menghambat pembersihan hati.

Studi tentang hubungan antara pola diet secara keseluruhan dan fungsi ovarium masih langka tetapi disarankan bahwa kombinasi dari beberapa faktor makanan yang terkait dengan peningkatan ovulasi dapat memiliki dampak besar pada kesuburan, terutama ketika gangguan ovulasi adalah penyebab utama kemandulan.

(25)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 14

BAB 3. POLA KONSUMSI DAN MODIFIKASI GAYA HIDUP

3.1. Definisi dan Diagnosis Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

PCOS adalah gangguan hormon yang terjadi pada wanita di usia subur. PCOS memiliki implikasi kesehatan yang besar bagi wanita sepanjang hidup mereka. Kondisi hormonal wanita yang paling umum, mempengaruhi antara 4% dan 21% wanita. PCOS signifikan dan beragam dan termasuk disfungsi reproduksi (ketidakteraturan menstruasi, infertilitas, kadar androgen tinggi, hirsutisme, dan jerawat), gangguan berat badan (umumnya tingkat kenaikan berat badan dan obesitas), gangguan metabolisme (resistensi insulin, profil lipid abnormal, peningkatan diabetes gestasional dan tipe 2, faktor risiko penyakit kardiovaskular (CVD)), dan cacat psikologis (depresi, kecemasan, kualitas hidup, disfungsi seksual) (Thomson et al., 2015).

Kriteria PCOS menurut National Institutes of Health (NIH) 1990 termasuk hiperandrogenisme klinis dan/atau hiperandrogenemia, oligo-ovulasi, dan pengecualian penyebab lain (Crasto W & Rao P., 2014). Pada tahun 2003, konsensus Rotterdam memperluas kriteria diagnostik untuk memasukkan setidaknya dua dari tiga ciri berikut:

1. Hiperandrogenisme klinis dan / atau biokimiawi, 2. Oligoanovulasi, dan

3. Morfologi ovarium polikistik (PCO) pada USG, tidak termasuk penyebab lain.

Gambar 3.1 Kriteria Rotterdam dan NIH dalam Mendiagnosis PCOS (Sumber: Crasto W & Rao P., 2014)

3.2. Etiologi PCOS

PCOS terjadi pada semua kelompok etnis, dengan prevalensi yang berbeda tergantung pada berat badan, diet, gaya hidup, dan latar belakang etnis. Etiologi PCOS

(26)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 15 belum sepenuhnya dijelaskan, tetapi ada resistensi insulin yang melekat, bahkan pada wanita kurus, yang tampaknya diturunkan. Hiperinsulinemia selanjutnya meningkatkan produksi androgen dan mengurangi protein pengikat untuk meningkatkan kadar androgen bebas. Kelainan hormonal ini mendukung fitur reproduksi dan metabolisme PCOS, dengan perubahan signifikan pada penampilan dan fungsi ovarium yang mengganggu ovulasi dan berdampak buruk pada kesuburan. Resistensi insulin terkait PCOS semakin diperburuk oleh obesitas. Obesitas memiliki hubungan dua arah pada PCOS, dengan wanita cenderung mengalami kenaikan berat badan, yang pada gilirannya resisten, peradangan kronis tingkat rendah, dan disfungsi sistem saraf simpatis. PCOS dicegah dengan olahraga dan intervensi diet, yang keduanya mengurangi resistensi insulin .

Gambar 3.2 Gambaran Etiologi, Hormonal dan Klinis PCOS (Sumber: Teede HJ et al., 2011)

3.3. Pola Konsumsi pada PCOS

Beberapa penelitian telah menyelidiki perbedaan asupan nutrisi antara PCOS dan kohort nonPCOS yang dapat menjelaskan inisiasi atau pemeliharaan PCOS. Androgen telah dilaporkan meningkatkan keinginan seseorang akan karbohidrat, mungkin membantu menjelaskan mengapa beberapa penelitian awal melaporkan bahwa wanita dengan PCOS memiliki kecenderungan untuk mengkonsumsi lebih banyak makanan tinggi GI (roti putih, kentang goreng) daripada wanita tanpa PCOS. Namun, sejak munculnya program pendidikan konsumen yang menghubungkan PCOS dengan insulin resistensi dan makanan GI tinggi, sebagian besar wanita dengan PCOS tidak

(27)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 16 mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat. Studi diet skala besar yang lebih baru sebenarnya menunjukkan bahwa diet wanita dengan PCOS sedikit lebih baik daripada wanita tanpa PCOS dengan kelompok PCOS kurang mengkonsumsi makanan tinggi GI dan lemak jenuh, serta asupan vitamin/mikronutrien yang lebih baik (Thomson et al., 2015).

Penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan PCOS cenderung mengalami kenaikan berat badan karena keseimbangan energi yang tidak menguntungkan. Pertama, wanita kurus dengan PCOS telah dilaporkan mengkonsumsi lebih sedikit energi/kalori total daripada kontrol non-PCOS yang sesuai dengan berat badan mereka, menunjukkan bahwa wanita dengan PCOS memiliki tingkat metabolisme konsumsi energi yang lebih rendah. Kedua, survei besar diet telah mengidentifikasi bahwa meskipun komposisi diet (persentase protein, lemak, dan karbohidrat) tidak berbeda antara subjek PCOS dan non- PCOS, wanita dengan PCOS memang mengkonsumsi lebih banyak kalori per hari.

Kedua faktor ini digabungkan akan menghasilkan keseimbangan energi positif bersih yang mendukung perkembangan obesitas dan akhirnya insulin perlawanan.

Mikronutrien vitamin D mungkin berperan dalam etiologi PCOS. Beberapa penelitian telah mengidentifikasi bahwa wanita PCOS telah mengurangi kadar vitamin D serum dibandingkan dengan non-PCOS populasi, dengan tingkat defisiensi vitamin D berkorelasi dengan peningkatan resistensi insulin. Pengamatan ini masuk akal secara fisiologis sebagai promotor untuk gen reseptor insulin mengandung elemen respons vitamin D, dengan paparan vitamin D secara signifikan meningkatkan fungsi reseptor insulin. Meskipun uji coba terkontrol secara acak berkualitas baik masih kurang, beberapa penelitian yang tidak terkontrol telah melaporkan bahwa suplementasi vitamin D pada pasien PCOS defisiensi vitamin D dapat menurunkan resistensi insulin, menormalkan hormon reproduksi dan ovulasi, dan menghasilkan tingkat pembuahan alami yang lebih baik. Selanjutnya, karena kekurangan vitamin D telah dikaitkan dengan efek samping komplikasi obstetrik (persalinan prematur, preeklamsia, dan diabetes gestasional), semua wanita dengan PCOS yang ditemukan kekurangan vitamin D (kadar serum <50 nmol) harus menerima terapi tambahan (Thomson et al., 2015).

Komposisi diet yang ideal untuk memperlancar penurunan berat badan dan menormalkan fungsi reproduksi di PCOS telah menjadi masalah sejumlah besar penelitian. Meskipun beberapa penelitian telah menyarankan bahwa diet indeks GI rendah adalah yang terbaik untuk normalisasi resistensi insulin dan fungsi reproduksi, pandangan konsensus saat ini yang didukung oleh penelitian adalah bahwa pengurangan

(28)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 17 sederhana dalam asupan kalori dalam pengaturan diet seimbang yang sehat (tinggi buah- buahan, kacang-kacangan, dan sayuran serta rendah lemak jenuh dan gula sederhana) yang paling penting daripada GI rendah tertentu atau diet tinggi protein yang secara historis telah dianjurkan oleh beberapa praktisi.

3.4. Manajemen Gaya Hidup pada PCOS

Manajemen berat badan dapat didefinisikan sebagai mencegah perkembangan kelebihan berat badan atau obesitas dan mengobati kelebihan berat badan dan obesitas.

Hal ini dapat didefinisikan lebih tepat sebagai pencegahan utama dari kelebihan berat badan, mencapai penurunan berat badan sederhana pada mereka yang kelebihan berat badan atau obesitas, mempertahankan penurunan berat badan ini dalam jangka panjang, dan mengoptimalkan kesehatan dan mengurangi risiko penyakit apakah penurunan berat badan tercapai atau tidak. Konsep manajemen gaya hidup secara tradisional mengacu pada pendekatan multidisiplin kompleks yang menggabungkan modifikasi diet, aktivitas fisik, dan intervensi perilaku termasuk perhatian pada penyesuaian psikologis, modifikasi perilaku, dan strategi manajemen stress (Thomson et al., 2015).

Manajemen gaya hidup pada PCOS yaitu penurunan berat badan 5–10% pada individu dengan indeks massa tubuh (BMI) 25–35 kg/m2 direkomendasikan untuk mengurangi penyakit kardiovaskular dan faktor risiko metabolik. Penurunan berat badan yang lebih besar (15 –20%) direkomendasikan untuk individu dengan BMI lebih dari 35 kg/m2. Pencegahan kenaikan berat badan pada wanita kurus (BMI 18,5-24,9 kg/m2).

Untuk mencapai tujuan ini, program diet individual direkomendasikan yang mencakup:

- Defisit energi harian 600 kkal / hari (2508 kJ / hari)

- Volume aktivitas fisik 1800–2500 kkal / minggu (7560–10.500 kJ / minggu) atau 225 –300 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang.

Asupan diet optimal pada PCOS dilakukan intervensi pemeliharaan berat badan akut dengan diet yang diperkaya asam lemak tak jenuh tunggal, diet sehat konvensional, dan diet rendah karbohidrat, pembatasan asupan lemak jenuh, dan peningkatan asupan mikronutrien yang lebih tinggi pada serat, folat, zat besi, kalsium, magnesium, niasin, fosfor, kalium, natrium, vitamin E, dan seng.

Vitamin D berperan dalam terapi PCOS karena Vitamin D adalah mikronutrien yang hanya ditemukan pada beberapa makanan, seperti ikan berlemak, jamur, kuning telur, dan hati, dan sebagian besar diproduksi secara endogen saat kulit terkena radiasi ultraviolet dari sinar matahari. Rekomendasi konsentrasi serum 25-hidroksivitamin D

(29)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 18 (25OHD) lebih dari 50 nmol / L untuk orang dewasa dan selama kehamilan. Level ini mungkin perlu 10-20 nmol / L lebih tinggi di akhir musim panas untuk mempertahankan level lebih dari 50 nmol / L selama musim dingin dan musim semi. Kekurangan vitamin D umum terjadi pada wanita dengan PCOS, dengan laporan 31-85% memiliki konsentrasi serum 25OHD kurang dari 50 nmol / L. Kekurangan vitamin D telah dikaitkan dengan peningkatan risiko komplikasi kebidanan seperti persalinan prematur, diabetes gestasional, dan preeklamsia.

Kombinasi olahraga dan diet secara substansial meningkatkan penurunan berat badan dibandingkan dengan diet atau olahraga saja. Latihan aerobik intensitas sedang hingga tinggi meningkatkan serangkaian hasil yang berhubungan dengan kesehatan termasuk komposisi tubuh dan reproduksi (ovulasi dan kesuburan), metabolisme (resistensi insulin, dislipidemia, dan perkembangan penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2), dan psikologis. Rekomendasi untuk penderita PCOS adalah aktivitas fisik sedang hingga berat selama 30 menit di sebagian besar hari (minimal 5 hari dalam seminggu).

Latihan beban juga efektif untuk meningkatkan resistensi insulin dan komposisi tubuh dan dapat mempertahankan jaringan tanpa lemak selama penurunan berat badan yang dibatasi energi. Menggabungkan latihan aerobik dan ketahanan telah dilaporkan lebih efektif untuk meningkatkan sensitivitas insulin dan kontrol glikemik serta mengurangi lemak perut pada berbagai kelompok obesitas dibandingkan dengan salah satu bentuk latihan saja. Olahraga memiliki manfaat positif, baik sendiri atau dikombinasikan dengan pembatasan kalori, yang terbukti dapat meningkatkan kebugaran aerobik, komposisi tubuh, insulin puasa, resistensi insulin, siklus menstruasi, ovulasi, harga diri , skor kualitas hidup, dan depresi. Penatalaksanaan PCOS merekomendasikan olahraga minimal 150 menit (5 kali, minimal 30 menit) per minggu untuk semua wanita dengan PCOS, terutama mereka dengan BMI lebih dari 25 kg/m2. Pilihan latihan tanpa beban untuk wanita gemuk dengan nyeri sendi atau cedera. Pilihannya termasuk bersepeda stasioner atau telentang dan olahraga berbasis air, seperti berenang, berjalan di air, dan aerobik air di mana daya apung air mengurangi beban sendi (Thomson et al., 2015).

(30)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 19 Gambar 3.3 Model konseptual kontribusi olahraga terhadap penurunan berat

badan dan hasil kesehatan pada sindrom ovarium polikistik (PCOS) (Sumber: Thomson et al. 2015)

Gambar 3.3 menunjukkan bahwa latihan aerobik dan resistensi berkontribusi pada pengurangan berat badan. Lebih khusus lagi, model menunjukkan kontribusi penting dari latihan resistensi dalam mengimbangi kehilangan massa otot yang terjadi di bawah pembatasan kalori yang digunakan untuk penurunan berat badan yang cepat dan efektif dalam PCOS. GDM, diabetes mellitus gestasional; HRQoL, kualitas hidup terkait kesehatan; T2DM, diabetes militus tipe 2.

Hambatan diet dan olahraga pada PCOS antara lain:

1. Kelainan dalam Pengeluaran Energi atau Pengaturan Nafsu Makan

a. Hambatan fisiologis untuk manajemen berat badan: resistensi insulin dan hiperinsulinemia, yang umum terjadi pada PCOS

b. Kelebihan androgen dapat mendukung penumpukan lemak perut yang dapat berkontribusi pada resistensi insulin pada PCOS

c. Pengurangan pengeluaran energi saat istirahat dan efek termis dari makanan juga terkait dengan pengeluaran energi dan pengaruran nafsu makan.

d. Gangguan regulasi hormon usus seperti ghrelin atau kolesistokinin juga menjadi hambatan dalam pengaturan nafsu makan.

2. Masalah Efikasi Diri (Self Efficacy Concerns)

a. Keyakinan individu dalam kemampuannya untuk berpartisipasi dengan sukses dalam aktivitas fisik. Untuk wanita dengan PCOS.

(31)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 20 b. Kurangnya efikasi diri pada penderita PCOS dapat berasal dari

sejumlah pengalaman.

c. Penderita PCOS yang kurang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memasukkan strategi perawatan diri ke dalam rencana manajemen mereka memiliki efikasi diri

d. berikan informasi yang ringkas dan berkualitas tinggi, konsultasi dengan ahli fisiologi olahraga tersertifikasi untuk menerima pelatihan praktis dan individual

3. Masalah Motivasi

a. Motivasi untuk aktif secara fisik dapat berasal dari berbagai sumber:

nasehat dokter, keinginan diri untuk menjadi bugar atau bugar, nilai kesehatan atau tantangan fisik

b. Motivasi aktivitas ditentukan oleh persepsi wanita tentang nilai aktivitas dibandingkan dengan biaya melakukan aktivitas tersebut c. Motivasi produktif berasal dari keinginan pribadi untuk lebih aktif.

Wanita harus didorong dan dibantu untuk mempertimbangkan biaya dan manfaat nyata dari aktivitas fisik (informasi berasal dari profesional kesehatan)

(32)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 21

BAB 4.

MENSTRUASI PADA REMAJA DENGAN EATING DISORDER

4.1. Definisi Eating Disorder

Eating disorder adalah penyakit multifaset (Gambar 4.1) yang menyebabkan morbiditas dan kematian (Katzman, 2005). Penyakit yang terjadi diantara perempuan muda dan dianggap penyakit kronis paling dominan ketiga setelah obesitas dan asma (Chamay-Weber et al., 2005). Sebagian besar studi di Amerika dan Eropa menunjukkan bahwa persentase anoreksia nervosa bervariasi antara 0,3% dan 6% (Hoek dan Van Hoeken, 2003). Untuk bulimia nervosa itu kejadian sepanjang umur telah diproyeksikan bervariasi antara 0,6% dan 3% (Preti et al., 2009).

Eating disorder di kalangan remaja dan kebiasaan aktivitas pengendalian berat badan yang merugikan telah mencapai proporsi epidemi di negara maju. Perilaku ini bervariasi dari diet yang tidak proporsional ke gangguan makan penuh. The American Psychiatric Association (2000) menjelaskan tiga kategori utama eating disorder: anorexia nervosa, bulimia nervosa dan eating disorder yang tidak disebutkan secara spesifik.

Kadang-kadang diagnosis pada remaja adalah pembaur mengingat bahwa mereka biasanya tidak memenuhi kriteria diagnostik yang tepat digambarkan dalam DSM-IV- TR (Statistical manual of mental disorders, fourth edition, text revision) (Bravender et al., 2007).

Gambar 4.1 Keterkaitan Multidimensi dan Kompleksitas Eating Disorder (Sumber: National Collaborating Centre for Mental Health, 2004))

(33)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 22 Eating disorder dibedakan berdasarkan jenisnya ada 3 kategori antara lain (Deltsidou, 2014):

1. Anoreksia Nervosa

Anoreksia nervosa dianggap sebagai gangguan jangka panjang yang mempengaruhi antara 0,3 dan 1,2% remaja (Hoek dan Van Hoeken, 2003).

Anoreksi nervosa adalah gangguan makan yang ditandai dengan berat badan yang sangat rendah, rasa takut yang berlebihan pada kenaikan berat badan, dan persepsi yang salah terhadap berat badan. Anoreksia nervosa termasuk gangguan mental yang serius dan tidak boleh didiamkan. Kematian karena anoreksia nervosa adalah sekitar 5,6% per dekade, angka kematian tertinggi pada penyakit psikiatri.

Komplikasi medis sering terjadi dan anoreksia nervosa dapat mempengaruhi setiap sistem organ di tubuh (Katzman, 2005). Kualitas hidup juga mungkin rusak parah, dengan tingkat sosial yang lebih tinggi perpisahan, penyakit psikiatri komorbid, kegagalan mencapai tujuan pendidikan, dan pengangguran. Intervensi dini sangat penting untuk hasil yang positif.

Ketakutan yang mendalam akan kenaikan berat badan dan kurangnya harga diri merupakan komponen yang menyebabkan distres pada remaja anoreksia.

Selain itu, pasien memiliki berbagai gangguan kepribadian: misalnya, perfeksionisme, obsesi, penarikan sosial, prestasi tinggi (dengan kepuasan langka) dan depresi sering dicatat pada pasien ini. Remaja dengan anoreksia dapat sepenuhnya menghambat konsumsi nutrisi (subtipe restriktif) atau dapat mengalami periode makan terlalu banyak dan muntah (subtipe bulimia) (American Psychiatric Asosiasi, 2000).

Meskipun remaja putri dengan anoreksia sering menunjukkan tanda-tanda seperti pingsan, vertigo atau kelelahan, karena penurunan berat badan dan menyebabkan amenore (Golden et al., 1997). Amenore adalah tidak adanya menstruasi selama tiga siklus menstruasi normal, pada wanita yang pernah mengalami menstruasi sebelumnya (Schillings dan McClamrock, 2002). Amenore digunakan untuk membantu mengkonfirmasi diagnosis anorexsia nervosa. Selain itu, seorang remaja dianggap amenore ketika menstruasi terjadi hanya setelah terapi hormonal. Amenore diidentifikasi sebagai salah satu konsekuensi paling umum dari anorexsia nervosa karena defisiensi gonadotropin yang diinduksi malnutrisi, terutama pada sekresi hormon luteinisasi. Wanita dengan normal berat badan dapat menunjukkan amenore jika mereka memiliki rasio lemak tubuh yang

(34)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 23 rendah. Pada anak perempuan dengan anorexsia nervosa ini fenomena dapat diamati sebelum penurunan berat badan yang cukup besar, dan dapat berlanjut setelahnya penambahan berat badan. Sebaliknya, menstruasi dapat berlanjut pada remaja dengan berat badan kurang (Poyastro Pinheiro et al., 2007).

Selain itu, remaja dengan anoreksia memiliki peningkatan risiko terkena osteopenia dan osteoporosis parah (Brooks et al., 1998). Sedangkan patofisiologi osteoporosis belum diketahui dengan baik diakui, diterima bahwa masa remaja adalah waktu yang penting untuk mineralisasi tulang. Estrogen tampaknya memainkan peran utama (Hergenroeder, 1995), meskipun elemen makanan juga penting (Rock et al., 1996). Tujuan utama asuhan yang diberikan kepada remaja dengan anoreksia terutama berat badan peningkatan dan kesempatan untuk mengatur kebiasaan makan.

2. Bulimia Nervosa

Bulimia nervosa memiliki prevalensi 1-5% (Hoek dan Van Hoeken, 2003).

Karakteristik yang menonjol dari bulimia nervosa ditandai dengan perilaku makan dalam jumlah yang besar yang sering dan berulang-ulang, kemudian memuntahkannya kembali. Kelainan tersebut biasanya merupakan suatu bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri. Remaja dengan bulimia nervosa dapat menjaga berat badan mereka dalam batas normal tetapi mengalami amenore antara 7 dan 40% karena disfungsi hipotalamus-hipofisis. Siklus abnormal (oligomenorea) lebih sering terjadi pada wanita dengan bulimia nervosa dengan prevalensi antara 37 dan 64%. Penyelidikan studi biokimia menunjukkan bahwa menstruasi abnormal pada wanita dengan bulimia nervosa terkait dengan penurunan kadar hormon luteinisasi, denyut nadi, kadar estradiol dan noradrenalin. Insiden ovarium polikistik pada remaja dengan BN tinggi (76-100%), dan pada anak perempuan ini, oligomenorea dianggap sebagai dikaitkan dengan peningkatan kadar androgen yang diinduksi insulin. Ini mungkin terjadi karena variabilitas yang cukup besar dalam makanan yang dihasilkan oleh diet ketat dan makan berlebihan (Poyastro Pinheiro et al., 2007). Parameter yang berhubungan dengan disfungsi menstruasi pada bulimia nervosa dengan berat badan normal terdiri dari muntah yang sering, kadar tiroksin yang bersirkulasi rendah dan konsumsi lemak gizi rendah (Gendall et al., 2000), Oligomenorea pada wanita dengan bulimia tampaknya tidak mempengaruhi mineral tulang mereka konsentrasi. Satu studi (Sundgot-Borgen et al., 1998) secara menarik mengungkapkan bahwa fisik aktivitas yang berfokus pada penurunan

(35)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 24 berat badan memiliki hasil protektif pada wanita dengan bulimia berbeda dengan mereka yang menderita anoreksia. Dengan demikian, osteoporosis bukan merupakan masalah bagi wanita dengan bulimia, terutama bagi mereka yang melakukan aktivitas fisik secara teratur.

3. Eating disorder not otherwise specified (EDNOS)

Eating disorder not otherwise specified atau gangguan makan yang tidak disebutkan secara spesifik adalah gangguan makan yang tidak termasuk ke da;am jenis anoreksia nervosa dan bulimia nervosa karena heterogenitas mayor gangguan makan klinis yang termasuk dalam kategori ini. EDNOS mencakup berbagai sikap makan yang tidak teratur secara klinis seperti memilih makanan yang akan dimakan, diet ekstrim selama hamil, makan yang berlebihan, dan kecanduan terhadap olahraga. Karena inkonsistensi di antara individu yang didiagnosis dengan EDNOS, hingga 50-60% anak-anak, remaja, dan individu muda dengan gangguan makan tercakup dalam hal ini kategori diagnostik (Fairburn et al., 2007). Banyak penelitian telah menyelidiki komponen lain yang terkait dengan ada atau tidak adanya amenore pada remaja dengan gangguan makan. Studi ini berkonsentrasi pada remaja dengan anoreksia nervosa dan amenore memiliki indeks massa tubuh jauh lebih rendah daripada mereka yang tidak amenore (Gendall et al., 2006).

Sebaliknya, Garfinkel et al. (1996) mendeteksi bahwa penurunan berat badan setara pada remaja dengan dan tanpa amenore. Tidak ada perbedaan penting dalam makan gejala gangguan, kepribadian, komorbiditas psikiatri, atau riwayat keluarga di antara mereka yang mengalami amenore dan yang tidak. Derajat keberadaan gangguan menstruasi dikaitkan dengan karakteristik psikologis, ciri kepribadian, dan eksistensi penyakit kejiwaan lainnya perlu diklarifikasi.

4.2. Eating Disorders dan Menstruasi

Ketidakteraturan menstruasi adalah salah satu karakteristik yang sering terjadi pada semua jenis gangguan makan (Poyastro Pinheiro et al., 2007). Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap disfungsi menstruasi meliputi berat badan, komposisi lemak tubuh, leptin dan hormon lainnya, perilaku makan, aktivitas fisik, dan stres psikologis.

Fakta bahwa gangguan makan muncul lebih sering pada masa pubertas, periode perkembangan fisik dan mental yang intens, membuat pengelolaan kondisi ini lebih sulit.

Implikasi dari ketidakteraturan menstruasi pada anak perempuan dengan gangguan

(36)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 25 makan dominan signifikan ketika memperhitungkan efeknya pada pertumbuhan linier, pertumbuhan pubertas, massa mineral tulang, dan fungsi mental.

Lemak tubuh sangat penting untuk pemeliharaan atau kelanjutan dari menstruasi pada gadis muda yang lebih tua dari 16 tahun (Vyver et al., 2008). Remaja yang sedang menstruasi juga ditemukan memiliki kadar leptin dan IGF-I yang lebih tinggi. Rendahnya hormon leptin berkontribusi pada hipogonadisme kelaparan. Leptin adalah hormon protein yang diproduksi oleh jaringan adiposa yang terlibat dalam homeostasis energi.

Tingkat leptin lebih rendah pada individu dengan anoreksi nervosa dibandingkan dengan kontrol. Leptin dapat memperkirakan massa lemak dan perilaku makan yang tidak teratur pada individu yang kurang makan dengan anoreksi nervosa dan leptin secara signifikan berkontribusi terhadap reproduksi.

Penurunan berat badan yang cukup besar menyebabkan amenore pada remaja dengan anoreksia nervosa. Penelitian mengenai pengaruh gangguan makan terhadap menstruasi serta dampaknya aktivitas fisik dan gangguan makan menunjukkan bahwa wanita yang melakukan aktivitas fisik memiliki serum hormon luteinisasi yang rendah terutama karena asupan kalori yang rendah daripada aktivitas fisik yang berlebihan (Vyver et al., 2008). Aktivitas fisik yang ekstrem, seperti yang dilakukan oleh atlet dan penari wanita yang kompetitif, dapat menyebabkan amenore. Pada remaja juga dapat menyebabkan keterlambatan menarche (Davis, 2004). Ada tiga komponen yang berkontribusi pada triad atlet wanita, yang meliputi makan gangguan, amenore, dan osteoporosis. Triad atlet wanita disebabkan oleh kurangnya keseimbangan antara ketersediaan kalori dan konsumsi kalori. Ini berturut-turut mengaktifkan mekanisme kompensasi, seperti penurunan berat badan atau pemeliharaan energi, diikuti oleh disfungsi reproduksi dan hipo-estrogenisme bersamaan (Vyver et al., 2008).

4.3. Komplikasi Disfungsi Menstruasi

Ketidakteraturan menstruasi pada orang muda dengan gangguan makan mungkin memiliki pengaruh yang luas dan memberikan efek yang signifikan pada pertumbuhan dan perkembangan pubertas, peningkatan massa tulang puncak, dan fungsi kognitif.

Komplikasi ini mungkin tidak sepenuhnya reversibel.

Gangguan makan biasanya muncul pada awal kematangan seksual, ketika variasi khas dalam komposisi tubuh mungkin datang bersamaan dengan meningkatnya tekanan pubertas untuk menghasilkan tubuh gangguan penampilan. Kekurangan gizi berikutnya dapat menyebabkan penundaan pubertas atau gangguan (Vyver et al., 2008).

(37)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 26 Pada beberapa gadis dengan gangguan makan, defisiensi pertumbuhan linier dan perawakan pendek yang stabil telah diamati (Katzman, 2005). Hal ini disebabkan oleh peningkatan kadar hormon estrogen dan IGF-I bonetropic selama pubertas normal yang memicu pertumbuhan tulang longitudinal. yang menurun kadar estrogen dan IGF-I pada anak perempuan dengan AN mungkin memainkan peran dalam variasi dalam pertumbuhan linier (Vyver et al., 2008).

Apalagi, pencapaian massa tulang puncak terjadi selama masa remaja (Katzman, 2005). NS adanya gangguan makan selama masa pubertas dapat menyebabkan kegagalan untuk mendapatkan massa tulang puncak dan menyebabkan penurunan massa mineral tulang dengan kemungkinan risiko patah tulang yang lebih tinggi (Vyver et al., 2008).

Wanita dengan amenore persisten ditemukan memiliki kekurangan dalam fungsi kognitif, menghitung ingatan, memori verbal dan kerja, reproduksi visual, membaca, dan bahasa lisan (Chui et al., 2007).

(38)

Modul Perkulihan Gizi dan Kesehatan Reproduksi – Tahun 2020 27

BAB 5. ZAT GIZI MAKRO, KESUBURAN, DAN OUTCOME KEHAMILAN

5.1. Obesitas dan Reproduksi

Obesitas adalah epidemi di seluruh dunia (Prentice, 2006). Menurut WHO (2013), sebuah badan indeks massa (BMI), diukur dalam kg/m2, 18,5–24,9 dianggap normal;

BMI 25-29,9 adalah dianggap kelebihan berat badan; dan 30 atau lebih dianggap obesitas. Di banyak negara Barat, lebih banyak lagi lebih dari separuh wanita usia subur mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, dan semakin banyak para wanita ini mencari perawatan kesuburan (Balen, 2007). Ada juga bukti kurangnya kesadaran akan sekuele reproduksi dari peningkatan BMI (Cardozo et al., 2012).

Obesitas memiliki banyak konsekuensi kesehatan, termasuk diabetes mellitus tipe 2, hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan peningkatan risiko jenis kanker tertentu. Bukti terbaru menunjukkan kesehatan reproduksi juga dipengaruhi secara merugikan oleh peningkatan BMI. Dibandingkan dengan wanita dengan BMI normal, wanita dengan BMI yang meningkat memiliki risiko infertilitas 3 kali lipat lebih besar; ovulasi lebih rendah, implantasi, dan tingkat konsepsi spontan; dan tingkat keguguran yang lebih tinggi karena faktor endokrin, parakrin, psikologis, serta sosial.

Efek peningkatan BMI bermanifestasi pada berbagai tingkat proses reproduksi.

Berhasil implantasi dan kehamilan tergantung pada interaksi halus antara embrio dan endometrium. Dampak peningkatan BMI pada kesuburan dapat dimediasi melalui perubahan oosit dan kualitas embrio, penerimaan endometrium, atau keduanya (Sobaleva

& EL-Toukhy, 2011).

5.2. Peningkatan BMI dan Gangguan Ovulasi

Obesitas terkait erat dengan gangguan ovulasi dan sindrom ovarium polikistik (PCOS). Sekitar 50% wanita dengan PCOS mengalami obesitas. Kelebihan jaringan adiposa dikaitkan dengan resistensi insulin dan hiperandrogenemia, yang menyebabkan disfungsi hipotalamus-hipofisis dan anovulasi. Obesitas dengan demikian dianggap sebagai faktor risiko independen untuk PCOS dan fitur metaboliknya. Adipokin dapat berfungsi sebagai penghubung endokrin antara obesitas, anovulasi, dan PCOS (El- Toukhy & Osman, 2014).

Referensi

Dokumen terkait

Penyelesaiaan sengketa/perkara melalui peradilan adat Gampong atau Mukim tetap dirasakan perlu oleh masyarakat Aceh, bila dilihat dari riwayat penyelesaiaan sengketa

Untuk mempermudah langkah-langkah yang harus diperlukan dalam suatu penelitian, diperlukannya suatu alur yang dijadikan acuan agar peneliti tidak keluar dari ketentuan

Menurut peneliti saran yang sesuai untuk pegawai Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) adalah tingkatkan terus prestasi tentang upaya dalam pemenuhan kebutuhan pegawai

Hitung kadar dalam persen ekstrak yang larut dalam etanol (95%), hitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. 6.5.5 Cara

We propose a task-af fi nity real-time scheduling heuristics algorithm (TARTSH) for periodic and independent tasks in a homogeneous multicore system based on a Parallel Execution

Tabel 1.2 Capaian indikator kinerja utama Inspektorat kota Pangkalpinang tahun 2015. Sasaran Startegis Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian

Berdasarkan hasil simulasi, untuk mendapatkan kondisi pembangkit yang optimum di lokasi tersebut diperlukan fraksi campuran ammonia-air sebesar 87% dengan tekanan

Hasil penghitungan Efektivitas pelaksanaan pemeriksaan pajak penghasilan khususnya PPh orang pribadi dan realisasi surat Perintah Pemeriksaan (SP2) Pajak di KPP Pratama Bitung,