1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Anak adalah sebuah warisan yang dapat melanjutkan harapan Negara Indonesia sehingga di perlukan adanya pembinaan dan juga perlindungan pada kondisi anak tetapi saat ini anak – anak kondisinya masih sangat memprihatinkan salah satu contoh yang sering terjadi adalah anak – anak menjadi korban pelecehan seksual, adanya permasalahan pelecehan seksual berdampak sangat besar dalam tumbuh kembang anak secara fisik maupun psikis.tentunya hal ini perlu adanya pendampingan dari dinas terkait dalam pendampingan dan pengawasan anak.hal ini perlu adanya pencegahan dan perlindungan dari kejahatan yang mengancam anak.
Sebagai seorang anak, sudah sepatutnyalah mendapatkan sebuah hak perlinddungan. Di mana perlindungan tersebut mampu membuat anak menjalankan rutinitasnya seperti belajar, bermain, dan lainnya berada pada situasi yang aman dan nyaman. Begitupula dalam meraih cita-cita, seorang anak perlu diberi kesempatan dan juga diberikan fasilitas yang layak agar berimbang dengan kebutuhan dalam perkembangan fisik, psikologis, pengetahuan dan juga perkembangan sosialnya (Wijaksono et al., 2013).
Dalam implementasi perlindungan kepada anak tersebut sudah tertuai dalam Undang-Undang No. 35 tahun 2014 yang mana membahas mengenai Perlindungan Anak dan juga Konvensi Hak Anak. Sangat disayangkan bahwa dalam definisi anak yang tertuai dalam perundang-undangan maupun peraturan-peraturan memiliki perbedaan dalam mendefinisikan anak. Hal tersebut memunculkan problematika tersendiri di Indonesia.
Perbedaan definisi tersebut dirasa saling tumpang tindih dan berlakukan peraturan akan berbeda pula (Indriati et al., 2017).
Terdapat beberapa jenis dari kekerasan atau penganiayaan terhadap anak, yaitu kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan seksual, kekerasan emosiaonal, kekerasan psikologis dan juga pengabaian pada anak yang acapkali dilakukan oleh para orang tua maupun pengasuh juga dianggap sebagai Tindakan kekerasan atau penganiayaan.
Tindakan tersebut sudah dikategorikan sebagai suatu kegagalan pada aspek kepengasuhan, hal ini berdampak pada kerusakan jangka panjang bagi korbannya. Secara tidak sadar, tindakan kekerasan ini bisa terjadi di mana saja, seperti di rumah, di sekolah, dan juga lingkungan yang sebagai tempat anak untuk melakukan interaksi (Boroujerdi et al., 2019).
2
Adapun faktor-faktor yang dapat memunculkan suatu tindak kekerasan yang dialami oleh anak diutarakan Richard J (Probosiwi & Bahransyaf, 2015) yakni, 1). Struktur Keluarga. Yang dimaksud disini seperti keluarga tunggal, yang mana seringkali ditemukan bahwa keluarga tunggal atau single parent melakukan tindak kekerasan disbanding dengan keluarga yang utuh; 2). Stress sosial. Suatu keadaan individu, yang mana merasa tertekan atau frustasi terhadap suatu konflik yang dialaminya, seperti pengangguran, suatu kematian orang terdekat, situasi rumah tidak kondusif; 3). Isolasi sosial. Dimana adanya gangguan dalam berinteraksi kepada lingkungannya atau bisa dikarenakan masayarakat dengan kalangan bawah; 4). Trauma masa kecil atau warisan kekerasan. Seringkali faktor ini akibat orang tersebut dulunya pernah menjadi korban kekerasan.
Permasalahan anak di kabupaten bojonegoro pada tahun 2020 dan 2021 meliputi adanya kekerasan fisik, kekerasan psikis, Penelantaran dan kekerasan seksual jika di lihat apa saja pengertian dari Kekerasan Fisik merupakan suatu tindakan yang menyebabkan munculnya rasa sakit, adanya cidera pada anggota tubuh individu, atau bahkan bisa mengakibatkan korbannya meninggal. Kekerasan psikis adalah seluruh tindakan yang menyebabkan munculnya rasa takut, kehilangan rasa percaya diri pada dirinya, kehilangan suatu kemampuan untuk melakukan suatu tindakan, memunculkan rasa tak memiliki daya dan lainnya. Penelantaran jika di dalam suatu keluarga ada anggota keluarga yang dengan sengaja tidak memberikan kehidupan perawatan pemeliharaan secara layak. Dalam pengertiaannya kekerasan seksual punya arti sebagai segala tindakan berbentuk paksaan berhubungan seksual secara wajar maupun tidak, ataupun menimbulkan ketidaksukaan dan ketidaknyamanan.
Tabel 1.1 Data 10 Kabupaten di Jawa Timur dengan angka kekerasan anak tertinggi tahun 2019
NO Kabupaten Jumlah
1 Lumajang 125
2 Trenggalek 38
3 Mojokerto 30
4 Malang 29
5 Probolinggo 25
6 Tuban 23
7 Bojonegoro 19
3
8 Blitar 18
9 Bondowoso 16
10 Gresik 13
Sumber : BPS Provinsis Jawa Timur
Tabel 1. 2Data Pelaporan Kasus Perlindungan Anak Tahun 2020 Di P3A Kabupaten Bojonegoro
Kekerasan Fisik Psikis Penelantaran Seksual
KDRT 6 4 4 4
NON-KDRT 4 5 4 12
Sumber Data: Data Laporan Kekerasan Anak P3A Kabupaten Bojonegoro.
Tabel 1. 1 Data Pelaporan Kasus Perlindungan Anak Tahun 2021 Di P3A Kabupaten Bojonegoro
Kekerasan Fisik Psikis Penelantaran Seksual
KDRT 3 2 3 3
NON-KDRT 2 3 2 14
4
Sumber Data: Data Laporan Kekerasan Anak P3A Kabupaten Bojonegoro.
Dari data pelaporan pengaduan yang masuk mengenai kekerasan yang di alami oleh anak hal ini tentunya menyita perhatian dari pelayanan perlindungan anak untuk lebih berusaha memberikan perlindungan yang lebih untuk anak – anak di kabupaten bojonegoro, perlindungan anak sendiri sudah ada dari dulu yakni di dalam Pembangunan perlindungan anak dilaksanakan menurut UUD 1945 pasal 28B ayat 2 bahwa “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Dalam mengatasi berbagai permasalahan kekerasan pada anak diperlukan kebijakan yang mengaturnya. Menurut (Satriawan et al., 2017) bahwa untuk mencegah persoalan publik maka pemerintah menetapkan sebuah keputusan politis, keputusan tersebut merupakan kebijakan. Adanya kebijakan yang tertuang di dalam peraturan perundang – undangan tentunya hal tersebut sebagai pedoman dalam upaya perlindungan pada anak, karena anak juga termasuk golongan yang rentan dengan adanya kekerasan.
Mengenai kebijakan merupakan cita – cita pemerintah yang akan membawa dampak positif untuk rakyat seperti yang tertuang pada kutipan yang ada di dalam (Agustino, 2016) memberikan kesimpulan bahwa:“Kebijakan adalah suatu aktivitas yang di lakukan pemerintah yang mempunyai tujuan,memiliki nilai dan memberikan dampak positif bagi masyarakat “.
Berangkat dari permasalahan yang ada hal ini mendapat adanya jawaban Pada undang – undang hak anak yang tercantum pasal 4 sseluruh anak punya hak hidup, bertumbuh, dan ikut serta sesuai pada hakikatnya sebagai manusia juga dapat perlindungan dari tindakan apapun yang tidak nyaman. Jika di kutip dari Jack Donnely (Asnawi, 2012) terdapat definisi dari hak asasi manusia yaitu sebuah kuasa yang sifatnya umum dan dipunyai setiap individu berdasar pada derajatnya sebagai individu, tidak berdasar pada hukum, norma ataupun dorongan dari masayarakat.
Adanya permasalahan kekerasan pada anak tentunya membutuhkan Perlindungan anak yang sudah di jelaskan pada UU no. 23 tahun 2002 yang disebutkan bahwasanya perlindungan bagi anak sebagai wujud dalam mewujudkan pemenuhan hak bagi anak dengan cara maksimal sehingga sesuai dengan hakikatnya sebagai manusia.
Perlindungan anak juga terkait dengan adanya lima pilar yang menunjang adanya perlindungan anak yakni, orang tua , keluarga, masyarakat, pemerintah, pemerintah daerah dan negara. Adanya lima pilar ini memiliki kesinambungan satu sama lain sebagai
5
penyelenggara perlindungan pada anak. Adanya perlindungan anak sederhananya adalah menjamin agar setiap anak dapat terpenuhi haknya dan tidak dirugikan.
Selain melalui adanya undang – undang yang mengatur mengenai perlindungan anak dalam pelayanannya Kabupaten Bojonegoro membentuk adanya Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak dan Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (SATGAS) berdasarkan adanya sesuai edaran dari kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak tahun 2017.pembentukan Satgas dan adanya Pelayanan Perlindungan Perempuan Dan Anak sama – sama bertujuan untuk menekan adanya kasus yang terjadi di lapangan dan sebagai wadah dalam proses pengaduan masyarakat. Selain itu pembentukan satgas tidak hanya ada dikabupaten tetapi sudah tersebar di per kecamatan yang ada di kabupaten bojonegoro dalam melakukan tugas dan fungsinya Satgas Perlindungan Perlindungan Anak dapat memberikan layanan yang optimal dan dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan.
Tujuan di bentuknya SATGAS ( Satuan Tugas ) Perlindungan Perempuan dan Anak jika di kutip dari (Utari Murni Adhi, 2016) mengemukakan bahwa dibentuknya suatu satuan tugas dalam hal ini bagi Perlindungan Perempuan dan Anak bertujuan sebagai wujud pembentukan Kabupaten Layak Anak. Satgas ini juga dibentuk padda tingkat Desa juga. Dibentuknya SATGAS hingga tingkat Desa atauoun disebut dengan Kabupaten/Kota Layak Anak agar dapat mengurus segala problematika yang berkaitan pada anak dan juga dapat memenuhi hal-hal yang dapat melindungi anak. Tidak hanya itu dalam rangka pelayanan terhadap kekerasan anak juga tertuang dalam Perda Kabupaten Bojonegoro NO. 10 tahun 2011 mengenai tujuan layanan untuk perempuan dan juga anak yang menjadi korban suatu kekerasan yakni agar memberikan kepentingan yang terbaik bagi anak yang terjadi di rumah tangga maupun publik.
Inovasi layanan pengaduan yang di berikan yakni adanya pelaporan langsung dan dapat memasukkan laporan melalui hotline tetapi dengan adanya hotline tersebut masih mempunyai kelemahan yakni harus mengetahui nomor hotlinenya tidak semudah jika menggunakan aplikasi pelayanan pengaduan masyarakat, untuk menjawab adanya permasalahan anak sebagai wujud perlindungan anak maka segala pelayanan yang di berikan oleh Pelayanan Perlindungan Perempuan Dan Anak akan selalu di perbaiki agar dapat memberikan kepuasan terhadap masyarakat.
Pelaksanaan program pelayanan pengaduan tersebut sebagai wujud kepedulian pemerintah dalam menjawab permasalahan anak yang terjadi di kabupaten bojonegoro sehingga harapannya program ini dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang di
6
masyarakat utamanya permasalahan anak. Hal ini di inisiasi oleh bupati bojonegoro di wujudkan dengan berdirinya kantor pelayanan Pelayanan Perlindungan Perempuan Dan Anak yang sudah berdiri sendiri tetapi masih dalam naungan Dinas Pemberdayaan perempuan, Perlindungan Anak Dan Keluarga Berencana. Hal ini agar lebih terfokuskan dalam upaya perlindungan anak.
Dengan demikian, penelitian ini akan membahas mengenai bagaimana pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Pelayanan Perempuan dan Anak di Kabupaten Bojonegoro guna melindungi dan dapat membantu menyelesaikan permasalahan anak yang setiap harinya mengalami penambahan kasus sehingga permasalahan perlindungan anak dari kekerasan mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan standar pelayanan yang sudah di tetapkan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan maka rumusan masalah yaitu tentang Bagaimana Kualitas Pelayanan Pengaduan Perlindungan Anak di Kabupaten Bojonegoro.
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui Kualitas Pelayanan Pengaduan Perlindungan Perlindungan anak di Kabupaten Bojonegoro.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis
Peneliti berharap agar penelitian ini bisa memberi partisipasi pada pengembangan ilmu pemerintahan pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya tentang Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak dalam upaya menjadi wadah perlindungan anak di kabupaten Bojonegoro. Hasil riset dapat digunakan sebagai refrensi atau bahan rujukan untuk kegiatan penelitian berikutnya dan sejenisnya.
2. Manfaat Praktis
Menyebarluaskan informasi terkait wadah Pelayanan Pengaduan Perlindungan Anak dan Pelayanan Perlindungan Perempuan Dan Anak di kabupaten Bojonegoro, agar adanya kasus kekerasan terhadap anak di kota bojonegoro dapat teratasi sesuai prosedur, sehingga pelayanan pengaduan perlindungan perempuan dan anak dapat melakukan evalusasi terkait pelayanannya.
Hasil riset dapat ditransformasikan kepada akademisi maupun birokrat secara khusus sebagai rujukan pengambilan kebijakan serta bagi masyarakat luas pada
7
umumnya agar mendapat pengetahuan dan memiliki kesadaran dalam upaya Perlindungan Perempuan dan Anak di kabupaten Bojonegoro.
E. Definisi Konseptual
Definisi konseptual adalah unsur penelitian yang menjelaskan tentang karakteristik sesuatu masalah yang hendak di teiti. Dapat diartikan bahwasannya memaknai terhadap konsep yang dipakai, agar mempermudah peneliti untuk mengaplikasikan konsep ini di lapangan. Berikut merupakan definisi konseptual yang digunakan peneliti dalam skripsi ini, yakni:
1. Kualitas
Kualitas Pelayanan atau Service Quality yang dapat menjadi factor dalam menentukan dan juga dalam mengatur eksistensi suatu organisasi birokrasi pemerintahan, pelayanan yang baik sesuai dengan apa yang di inginkan masyarakat atau klien pengguna pelayanan sangat penting dalam uapaya menghadirkan rasa puas pemakai jasa publik ( Customer Satisfaction ).
Kualitas Pelayanan merupakan data dan juga informasi tentang tingkat kepuasan masyarakat yang diperoleh dari hasil pengukuran secara kualitatif atas pendapat masyarakat dalam memperoleh pelayanan dari aparatur penyelenggara pelayanan publik dengan membandingkan antara harapan dan kebutuhannya.
Dalam tingkatan baik serta buruknya segala hal diketahui yang namanya kualitas. Istilah ini sering kali dipergunakan pada beberapa aspek. Adapun Kualitas Pelayanan yakni sebuah cara untuk membenahi suatu nilai yang diberikan oleh organisasi. Agar bisa eksis dalam gempuran competitor, maka suatu organisasi harus memiliki kualitas pelayanan. Dengan pengertiannya yang abstrak, seringkali Kualitas Pelayanan susah untuk dipahami. Perlu adanya pembanding terhadap pelayanan yang didapat oleh masyarakat, agar dapat dimengerti.
Pada penjelasan (Sancoko, 2011) mengenai sebuah patokan dalam keberhasilan yang diraih oleh sebuah organisasi yaitu dengan melihat kualitasnya. Sudah merupakan sebuah standar yang perlu diraih ditiap organisasi yaitu Kualitas Pelayanan. Kualitas Pelayanan ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta intensi dari masyarakat sehingga suatu organisasi mampu memberikan pelayan yang baik kepada masyarakat.
8 2. Pelayanan Publik
Terdapat tugas utama bagi pemerintah yaitu melayani masyarakat. Sehingga pemerintah memiliki kewajiban untuk memberi dan mencukupi kepentingan masyarakat luas. Secara etimologi pelayanan diambil dari Bahasa Inggris yaitu service yang bisa diartikan “setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak ke pihak yang lain, yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu” (D. Agus Dwiyanto, 2003).
Adapun yang dikemukakan oleh Subarsono, bahwasanya pelayanan public memiliki pengertian sebagai rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi agar bisa mencukupi kepentingan masyarakat pengguna. Dapat diartikan pengguna disini yakni masyarakat yang memerlukan suatu layanan Agus (Dwiyanto, 2005) pelayanan publik di sini yang di maksud adanya wadah dari Pelayanan Perlindungan Perempuan Dan Anak dalam mewadahi pengaduan dari masyarakat tehadap laporan mengenai perlindungan anak.
Pengertian lainnya dari pelayanan public menurut (A. S. Moenir, 2010) yang mengatakan yakni sebuah aktifitas yang dilaksanakan suatu individu maupun berkelompok berdasar pada factor materil memakai sebuah cara, langkah, dan Teknik tertentu dengan upaya mencukupi kebutuhan individu yang sinkron dengan haknya.
Adapun tujuan yang sebenarnya yakni untuk menyiapkan perencanaan, memberi pilihan kepada masayrakat dan penyediaan akan kebutuhan masyarakat dengan perkataan yang tepat.
Pelayanan Publik menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ( Menpan RB ) No. 63/ KEP/ M.PAN/7/2003 (Presiden Republik Indonesia, 2019) tentang pedman penyelenggaraan pelayanan publik, adalah segala kegiatan pelayanan yang di laksanakan oleh penyelenggaran pelayanan publik sebagai pemenuhan kebutuhan penerimaan pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan perundang – undangan.
3. Perlindungan Anak
Perlindungan Anak telah diatur dalam peraturan pemerintah yang tertuang pada Undang-Undang No. 35 tahun 2014 dan disempurnakan pada UU No. 23 tahun 2002 yang mana dimaksudkan sebagai semua aktifitas yang bertujuan untuk menjaga, mengamankan anak beserta hak-hak yang harus didapatkannya supaya bisa hidup,
9
memiliki perkembangan, dan keikutsertaannya dengan cara yang maksimal agar setara dengan hakikatnya sebagai mausia tanpa adanya tindak kekerasan dan juga pembedaan (Setyowati, 1990).
Pada pasal 3 juga di sebutkan tujuan adanya perlindungan anak yakni menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.
F. Definisi Operasional
Definisi Operasional adalah petunjuk tentang bagaimana suatu variable di ukur dan di observasi lapangan.indikator dari penelitian Definisi Operasional adalah petunjuk tentang bagaimana suatu variable di ukur dan di observasi lapangan.indikator dari penelitian Evaluasi Pelayanan Publik yang di lakukan Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak di kabupaten Bojonegoro mengadopsi dari tolak ukur kualitas dari suatu pelayanan public yang dikemukakan oleh Zeithaml dkk (Harbani, 2007), agar dapat mengerti sebuah kualitas dari suatu pelayanan yang bisa dirasa public. Adapun lima dimensi dari kualitas masyarakat yang menjadi suatu tolak ukur dari sebuah kepuasan public. Kelima dimensi tersebut yaitu :
1. Tangibles
Meliputi penampilan fasilitas fisik, peralatan, dan Petugas di Pusat Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak.
2. Reliability
Adanya Penerimaan laporan di klasifikasikan langsung kepada para ahli dalam bidang pelayanan masing – masing di Pusat Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak.
3. Responsivess
Keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap, cepat dan antusias di Pusat Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak.
4. Assurance
Mencakup pengetahuan dan profesional sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf, sehingga pelanggan merasa lebih bebas dari bahaya dan resiko di Pusat Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak.
10 5. Emphaty
Kedekatan petugas dalam meelakukan ramah tamah, komunikasi yang baik, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan para pelanggan di Pusat Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak.
G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Pada penelitian ini menggunakan penelitian Kualitatif Deskriptif yang mengadopsi dari (Satori, 2013) dalam pandangannya mengenai Kualitatif Deskriptif menjelaskan bahwa metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan cara mengamati, mencatat, mendeskripsikannya, dan melaporkan segala kegiatan dengan cara menggumpulkan dokumen berupa data, gambar, hasil wawancara dan data tersebut akan di susun secara sistematis dan akurat seperti topik yang akan kita bahas mengenai Kualitas Pelayanan Pengaduan Perlindungan Anak di Kabupaten Bojonegoro.
2. Sumber Data
Penelitian ini menggunakan dua jenis data. Pertama sumber data primer yakni data yang diperoleh langsung dari sumber atau obyek di Lapangan dengan cara melalui observasi langsung dan wawancara. Kedua, menggunakan sumber data sekunder yakni data-data yang sudah tersedia dan dapat diperoleh dengan cara membaca, melihat, mendengarkan. Sebagai sumber data tambahan dalam penelitian ini, menggunakan sumber tertulis berupa dokumen-dokumen dan arsip, jurnal, Buku Buku referensi yang berkaitan dengan Kualitas Pelayanan Pengaduan erlindungan Anak di Kabupaten Bojonegoro.
3. Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung oleh pewawancara kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam oleh (M. Iqbal Hasan, 2002) Dalam hal ini peneliti menggunakan alat pengumpulan data yang berupa pedoman wawancara yaitu instrumen-instrumen berbentuk pertanyaan pertanyaan yang diajukan secara langsung kepada responden yang terlibat.
b. Observasi
Observasi dapat dimaknai sebagai sebuah cara untuk mengumpulkan
11
data dengan cara melakukan peninjauan pada objek yang ingin dikaji. Namun pada penelitian yang dibuat ini bisa dimaknai sebagai sebuah peninjauan dengan memakai indra pengelihatan tanpa memberikan pertanyaan. Peneliti melakukan observasi kepada kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan juga pegamatan langsung di pelayanan P3A.
c. Dokumentasi
Dokumentasi dapat dimaknai sebagai cara dalam mengumpulkan suatu data dengan melakukan Analisa pada dokumen yang ada. Dokumen yang dimaksud ini bisa berupa suatu tulisan pada peristiwa, atapun gambar yang pastinya dapat menerangkan sesuatu.
4. Subjek penelitian
Subjek penelitian atau responden adalah orang yang diminta untuk memberikan keterangan sebenar-benarnya tentang suatu fakta atau pendapat dari (Suharsimi Arikunto, 2006) Adapun yang menjadi subjek penelitian adalah Fiyanti Soeci Hidayati, SH. Selaku Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bojonegoro, Aditya Pradipta, SH ketua Bidang Advokasi P3A dan klien pengakses pelayanan perlindungan anak Kabupaten Bojonegoro.
5. Lokasi Penelitian
Pusat Pelayanan Perempuan dan Anak (P3A) Kab. Bojonegoro Jl. Mas Tumapel No.1a, Bojonegoro, Kepatihan, Kec. Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur 6211
6. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data merupakan kegiatan dalam mengolah suatu data yang telah diperoleh saat melaksanakan kegiatan penulisan penelitian. Analisis data dilakukan untuk menghasilkan hasil data yang akurat dan dapat di pertangungg jawabkan. Di dalam penulisan ini menggunakan cara berfikir yang induktif dalam menganalisa data dan menarik kesimpulan. Dan juga metode ini dapat menjelaskan fenomena yang mampu menghasilkan suatu kesimpulan.
Pertama Reduksi data dilakukan berdasarkan pengumpulan data baik bersumber dari data primer yang di dapat dari beberapa sumber maupun dengan data sekuner terkait dengan pelayanan pengaduan perlindungan anak di kebupaten bojonegoro, kemudian peneliti akan melakukan reduksi data dan di sesuaikan dengan pertanyaan penelitian yang di ajukan untuk menjawab pembahasan dalam penelitian
12 ini.
Kedua Penyajian Data akan di uraikan secara deskriptif kualitatif dengan tambahan grafik ataupun data lainnya yang dapat memperjelas adanya temuan penelitan di lapangan.
Ketiga Penarikan Kesimpulan dengan melakukan adanya validitas data yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya dalam melakukan pengecekan keabsahan data yang di peroleh. Di dalam artikel ini peneliti melakukan triangulasi sumber, triangulasi Teknik, dan triangulasi waktu. Hal ini sesuai dalam buku yang di jelaskan (Satori, 2013) mengenai triangulasi, data maupun informasi yang di kemukakan oleh informan.
Pada tahap selanjutnya peneliti juga akan melakukan adanya pengecekan terhadap keterkitan data ataupun informasi antara data primer maupun data skunder, kemudian akan di sajikan oleh peneliti berupa data terbaru dengan data yang telah tervalidasi dan peneliti akan melakukan penarikan kesimpulan terhadap jawaban dalam pertanyaan dalam pembahasan artikel ini.