• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DATA PERANCANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III DATA PERANCANGAN"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

DATA PERANCANGAN

3.1 Tabel Data Perancangan

RINCIAN DATA

SIFAT DATA

Manfaat Data dalam Perancangan

Kesiapan Data

Primer (Utama)

Sekunder

(Pendamping) sudah belum

1 Data Objek Perancangan

Data tekstual

Pasar Palmerah

Untuk mengetahui kondisi serta situasi di pasar Palmerah, baik dari sejarah nama Palmerah maupun asal muasal Pasar Palmerah.

Data Visual Pasar

Palmerah

Sebagai sumber informasi yang memberitahukan tentang situasi aktual mengenai permasalahan minimnya penunjuk arah yang ada di pasar Palmerah.

Data teori Sign

System

Lebih memahami tentang teori sign system, baik sejarah, fungsi dan jenis- jenisnya. sehingga memudahkan dalam perancangan grafis lingkungan.

Data teori

Pictogram

Untuk mengetahu

pictogram yang baik sehingga mudah dimengerti oleh masyarakat.

(2)

Data teori Gestalt

Untuk mengetahui Kriteria Gestalt yang baik dan benar sehingga pada perancangan nanti dapat mengaplikasikan teori ini kedalam Land Mark

Data teori

Tipografi

Untuk mengetahui tingkat legibility dan readability teks dalam sign, sehingga dalam perancangan nati dapat menciptakan sign yang baik dan nyaman

Data kebutuhan

informasi grafis

Untuk mengetahui jenis info grafis apa saja yang dibutuhkan yang akan dibuat dan jenis informasi apa saja yang sering digunakan. Serta kelemahan dan kelebihan dari bentuk informasi tersebut.

2 Data teknis perancangan

Bentuk & sketsa

info grafis

Untuk mengetahui jenis- jenis bentuk media informasi yang sering di buat, bentuk media informasi yang menarik dan mudah di mengerti.

Karena masing-masing bentuk informasi memiliki kelebihan dan

kekurangan.

Bahan & material

info grafis

Untuk mengetahui bahan apa saja yang biasa digunakan, dan mengetahui jenis bahan apa saja yang baik digunakan dari segi ketahanan untuk beberapa kondisi cuaca di tiap daerah.

Untuk mengetahui

(3)

3.2 Rincian Data perancangan 3.2.1 Pasar Palmerah a. Sejarah

PALMERAH, Berasal dari kata Pal (batas,patok) Merah, Yaitu berupa Pal/

patok berwarna merah, yang dijadikan tanda batas wilayah Batavia ke arah Bogor. Dulu gubernur Belanda kalau hendak berlibur ke Istana Bogor melewati jalur tersebut. Dan mereka naik kereta Kuda.2

Seiring berjalan waktu dan dengan perkembangan zaman mulailah pembangunan dan didirikan pula Ramayana Palmerah di lantai 2. Dari cerita yang didapat dari para pedagang sebelum terjadi krisis moneter dan penjarahan besar-besaran di Jakarta tahun 1998, di pasar ini ada Bioskop dan Billiard. Setelah di lakukan pembangunan kembali, bioskop dan billiard di tiadakan.

Menurut Cerita dari para pedagang yang sudah lama berjualan di pasar Palmerah. Awalnya hanya pasar kecil yang becek dan beratapkan seng saja.

Yang berjualan di pasar inipun hanya pedagang sayur, daging dan ikan segar saja. Pedagang yang berjualan di sini adalah para pedagang yang berdatangan melalui stasiun kereta api yang letaknya berdekatan dengan pasar ini.

Pasar yang di berinama Palmerah ini, dikarenakan pasar ini berdiri di suatu wilayah yang bernama Palmerah, yang dahulunya di sekeliling pasar ini ada perkampungan yang bernama kembangan dan sekarang ini perkampungan itu menjadi kios-kios yang berdiri di sepanjang jalan raya Palmerah.

Gambar 3.1.Macam-macam patok/pembatas yang ada di Indonesia Sumber: http://www.google.co.id

(4)

b. FasilitasPasar Palmerah Parkiran Mobil [ lantai 2 dan 3 ]

Gambar 3.2. Parkiran Mobil Foto: Fajri, 2012

Parkiran ini terletak di lantai 3 gedung, lahan parkir ini menyatu dengan kantor pasar ini, kondisi parkiran gelap karna tidak adanya pencahayaan dengan lampu, pemasangan sign dengan cara di gantung dengan teks dan anak panah dengan material papan dan kawat untuk menggantung.

Pakir Motor [ lantai dasar dan lantai 2 ]

Gambar 3.3. Parkiran Motor Foto: Fajri, 2012

Parkiran ini terletak di lantai 2 gedung, setiap harinya lahan parkir di penuhi

(5)

WC umum [ lantai 1-4 ]

Gambar 3.4.Toilet umum Foto: Fajri, 2012

Di pasar ini memiliki toilet di setiap lantai, pasar ini memiliki 4 lantai, pemasangan sign setiap lantai berbeda tidak ada keseragaman, ada yang di gantung, di tempel, dan ada yang langsung di temple ke tembok toilet. Dengan material menggunakan papan dan stiker untuk teks nya.

Kantin [ Lantai 1 ]

Gambar 3.5. Kantin Foto: Fajri, 2012

Kantin ini terletak di lantai 1, jam oprasionalnya dari pagi hari sampai pasar ini tutup, jam 05.00 -22.00 WIB, konsumennya kebanyakan para pedagang pasar, karyawan kantor sekitar pasar, dan tidak menutup kemungkinan para pembeli yang datang ke pasar ini. Sign yang di gunakan untuk kantin ini adalah identification sign dengan bahan material baner dari sponsor kecap kemudian di temple di atas los.

(6)

Arena Bermain anak-anak [ lantai 1 ]

Gambar 3.6. Arena Bermain Anak-anak Foto: Fajri, 2012

Di pasar ini memiliki tempat bermain untuk anak- anak yang terletak di lantai 1, yang bermain di sini adalah anak - anak yang ikut dengan ibunya berbelanja.

ATM [ lantai Dasar ]

Gambar 3.7. ATM Foto: Fajri, 2012

Di pasar ini terdapat satu buah ATM dari salah satu bankswasta yang terletak

(7)

Masjid dan kantor [ lantai 4 ]

Gambar 3.8.Masjid Jami Darussalam Foto: Fajri, 2012

Masjid di pasar ini terdapat di lantai 4 berdekatan dengan kantor pusat pasar ini. Seperti yang terlihat pada gambar sign system di tempel di pilar gedung dan terdapat dua buah penunjuk dengan beda material yang di gunakan, untuk petunjuk arah masjid menggunakan acrilik sedangkan penunjuk arah kantor menggunakan stiker yang di tempel.

Toko [ lantai Dasar,1 dan 2 ]

Gambar 3.9.Toko Foto: Fajri, 2012

Di pasar ini terdapat kurang lebih 100 toko yang menjual segala macam kebutuhan rumah tangga yang terletak di lantai 1 dan 2 pasar ini, dan tedapat di bagian belakang gedung pasar ini. Sign yang di gunakan berupa identification sign dengan material banner dari sponsor dengan teknik di tempel di masing- masing toko.

(8)

Pusat Handphone [ lantai 1 ]

Gambar 3.10.Pusat Handphone Foto: Fajri, 2012

Pasar ini memiliki tempat pusat Handpone baru dan bekas, selain itudi sini juga terdapat beberapa toko yang melayani jasa service handpone, yang letaknya di lantai 1 dekat dengan arena bermain anak-anak.

Fashion [ lantai dasar ]

Gambar 3.11.Toko Fashion Foto: Fajri, 2012

Di pasar ini juga terdapat toko- toko yang menjual pakaian, celana, sepatu, sandal, untuk anak-anak dan dewasa, selain itu juga menyediakan pakaian seragam sekolah dari SD sampai SMA, yang terletak di lantai dasar dan bagian depan pasar.

(9)

Ramayana [ lantai 1 dan 2 ]

Gambar 3.12.Pintu masuk Ramayana Palmerah Foto: Fajri, 2012

Selain pasar tradisional gedung ini juga ada Ramayana.Pintu utama untuk masuk Ramayana ini terletak di bagian samping gedung. Sedangkan Ramayana nya berada di lantai 1 dan 2, lantai 1 untuk mendisplay sepatu sandal dan busana anak-anak sedangkan lantai 2 mendisplay sepatu, sandal dan busana untuk dewasa. Jam oprasional dari jam 10.00 - 22.00 WIB.

Salon [ lantai dasar ]

Gambar 3.13.Salon Wanita Foto: Fajri, 2012

Pasar ini juga terdapat 6 salon untuk wanita.Yang terletak di bagian kanan Ramayana, tepatnya di dekat area parkir lantai dasar.

(10)

Kantor [ lantai 2 ]

Gambar 3.14.Kantor pasar Palmerah Foto: Fajri, 2012

Kantor pasar ini terletak di lantai 3 pada bagian belakang gedung, satu lantai dengan lahan parkir dan bengkel onderdil untuk mobil. Sign yang di gunakan hanya berupa print-ad dengan teks, kemudian di tempel di kaca kantor.

Toko Emas [ lantai dasar ]

Gambar 3.15.Toko Emas Foto: Fajri, 2012

Di pasar ini terdapat kurang lebih 50 toko emas yang terdapat di lantai dasar gedung di Bagian paling depan tepatnya di bagian sisi kanan dan kiri pintu masuk Ramayana.

(11)

Los Daging [ lantai dasar ]

Gambar 3.16. Los Daging Foto: Fajri, 2012

Los daging dan ikan segar terdapat di lantai dasar yang bersebelahan dengan los sayuran dan bumbu giling (siap pakai). oprasionalnya dari pagi dinihari sampai 10.00 WIB. Petunjuk arah untuk los ini hanya terdapat di lorong pasar ini dengan material papan dan stiker untuk teks dengan teknik digantung menggunakan kawat.

Sayuran [ lantai Dasar ]

Gambar 3.17. Los Sayuran Dan bumbu giling Foto: Fajri, 2012

Los sayuran terletak di lantai dasar bagian belakang gedung yang letaknya bersebelahan dengan los daging. Oprasionalnya dari pagi dinihari sampai 10.00 WIB. Untuk los sayuran tidak terdapat petunjuk arah, petunjuk arah hanya ditujukan los daging dan ikan saja.

(12)

Buah-buahan [ lantai Dasar ]

Gambar 3.18. Los Buah-buahan Foto: Fajri, 2012

Untuk penjual buah di pasar ini terdapat di sisi kiri gedung dan di luar gedung pasar ini, jam oprasional los buah ini 24 jam.

Pusat onderdil [ lantai 3 ]

Gambar 3.19.Toko Onderdil Mobil Foto: Fajri, 2012

Salah satu keunikan pasar ini adalah adanya pusat onderdil di lantai 3 yang lengkap, pusat onderdil di pasar palmerah ini sangat terkenal dan ramai pengunjungnya, tetapi sign yang di gunakan hanya seadanya yaitu hanya stansilan anak panah dan teksyang berada di pilar lantai dasar.

(13)

Tempat pembuangan sampah [ lantai Dasar ]

Gambar 3.20. Pembuangan sampah pasar Palmerah Foto: Fajri, 2012

Pasar ini menyediakan tempat pembuangan sampah yang cukup besar, yang setiap hari slalu di bawa ke pembuangan akhir, sehingga pasar ini cukup bersih tidak terlihat sampah yang berserakan di area pasar pada siang harinya, di sini juga tersedia tempat pengolahan kompos.

Toko Beras [ lantai Dasar ]

Gambar 3.21. Los Beras Foto: Fajri, 2012

Pasar ini memiliki kurang lebih 10 toko beras yang terdapat di lantai dasar bagian belakang gedung di sebelah sisi kanan pasar,jam oprasionalnya dari jam 08.00 - 17.00 WIB. untuk los beras tidak ada petunjuk arah sehingga pengunjung yang baru pertama kali ke pasar ini harus bertanya-tanya.

(14)

Pegadaian [ lantai 1 ]

Gambar 3.22. Pegadaian Foto: Fajri, 2012

Pasar ini mempunyai satu kios tempat pegadaian yang terletak di lantai 1 berdekatan dengan kantin dan bang Teras BRI.

Bank [ lantai Dasar dan 1 ]

Gambar 3.23.Bank yang terdapat di pasar Palmerah Foto: Fajri, 2012

Di pasar ini memiliki 2 buah fasilitas Bank yaitu bank Teras BRI dan Bank INDEX. Bank Teras BRI berada di lantai satu yang berhadapan dengan Pegadaian sedangkan bank INDEX berada di lantai dasar di bagian belakang gedung pasar.

(15)

c. Peta/map Pasar palmerah

Gambar 3.24. Denah lantai dasar pasar Plamerah Sumber: Repro Penulis

Gambar 3.25. Denah lantai 1 pasar Plamerah Sumber: Repro Penulis

(16)

Gambar 3.26. Denah lantai 2 pasar Plamerah Sumber: Repro Penulis

(17)

Gambar 3.28. Denah lantai 4 pasar Plamerah Sumber: Repro Penulis

(18)

d. Sign system yang ada pada pasar Palmerah

Identification sign

Gambar 3.29.Identification sign yang terdapat di pasar Plamerah Foto: Fajri, 2012

Pada identification sign yang terdapat di pasar Palmerah ini tidak memiliki keseragaman desain sama sekali dan dilihat dari materialnya juga tidak memiliki keseragaman, hanya menggunakan papan dan kawat untuk yang digantung, menggunakan banner dari sponsor untuk yang ditempel di los masing-masing dan hanya menggunakan stiker untuk yang ditempel contohnya yang terlihat pada sign toilet.

Direction sign

(19)

Pada Direction sign di pasar Palmerah ini juga tidak memiliki keseragaman desain, dari material juga tidak jauh berbeda dengan identification sign yang hanya menggunakan papan dan kawat tetapi ada beberapa yang menggunakan plat, tetapi semua sudah terlihat sangat usang dan beberapa sign tidak dapat terlihat dengan baik, penempatannya pun ada beberapa yang tidak akurat dengan apa yang di informasikan.

Advice sign

Gambar 3.31.Advice sign yang terdapat di pasar Plamerah Foto: Fajri, 2012

Pada advice sign di pasar Palmerah hampir semuanya menggunakan material plat, sama dengan kasus sign sebelumnya pada advice sign juga tidak memiliki keseragaman desain, dengan menggunakan jenis font yang berbeda- beda bahkan pada advice sign khusus parkir mobil box hanya menggunakan tulisan tangan dengan mengunakan cat besi.

(20)

3.2.2 Sign System

Dilihat dari bahasanya, sign system berasal dari bahasa inggris “sign” dan

“system”. “sign” berarti tanda atau lambang dan “system” yang berarti aturan/system/susunan. Dengan kata lain, sign system dapat pula diartikan sebagai system penanda.Sign system bertujuan dengan sistem pemberitahuan/penunjuk, peringatan dan pelarangan.

Sign system merupakan salah satu penerapan dari grafis lingkungan, sign system berfungsi untuk menunjukkan lokasi, mengidentifikasikan, mengarahkan

dan menginformasikan sehingga dapat memandu orang untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Sign system merupakan bagian yang cukup penting dalam keseluruhan advertising. Karena dapat memberikan arahan, petunjuk atau informasi dan menambah kesan estetik terhadap lingkungan. Sign system mampu menciptakan public image yang mudah untuk dikenali dan unik sehingga dapat bertahan dalam memori masyarakat dalam jangka waktu yang lama. Public image seperti inilah yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan untuk mampu bertahan dalam kompetisi pasar (Follis 13).

Pada awalnya di jaman pra sejarah dulu, manusia menggunakan bahasa gambar untuk menyampaikan informasi yang lebih dikenal dengan nama Hieroglyph. Seiring dengan perkembangan jaman, tidak hanya bahasa gambar saja, namun tulisan juga digunakan untuk menunjang penyampaian informasi.

Jadi, sign system adalah media informasi yang mengatur hal – hal tertentu antara pemberi informasi dan yang membutuhkan informasi untuk tujuan – tujuan tertentu.

Menurut GSA (Graphic Sign Association), berdasarkan peletakan dan tingkat kekhususan informasinya, sign system diklasifikasikan atas empat kategori, yakni:

 Temporary atau Urgent Need Sign – sign yang terletak di lingkungan paling luar dan biasanya sangat penting keberadaannya. Fungsinya untuk mengatur arus kendaraan dan pejalan kaki. Meliputi Welcome Sign danSecurity Sign.

(21)

 Main Lobby – sign yang berada di lobi utama, daerah penghubung atau tempat awal percabangan menuju tempat lain. Meliputi Branding Elements, Directory Sign dan Lobby Service.

 Upper Floor Sign – biasanya berlokasi di lobi dan mengacu ke tempat- tempat dalam lingkup suatu unit atau departemen secara spesifik.

Meliputi Coridor Directional, Identification Sign dan Tenant.3

1) Sejarah dan Perkembangan Sign System

Sign system muncul sejak ribuan tahun yang lalu. Symbol sendiri ada sejak awal abad 20 karena pada saat itu symbol dianggap penting untuk menyamakan persepsi diseluruh dunia agar dimengerti secara visual.

Pada tahun 1909, di Paris diadakan konvensi pengguna kendaraan bermotor internasional yang menghasilkan system tanda lalu lintas yang menunjukkan kondisi jalan berbahaya, seperti system tanda untuk jalan berlubang, persimpangan jalan, jalan berliku–liku, persimpangan jalan rel kereta api. System itu diadopsi oleh beberapa negara di Eropa dan diikuti oleh beberapa Negara di dunia.

Tantangan untuk membuat system tanda atau sign system membuatnya dengan sederhana namun dapat berbicara menyampaikan pesannya. Dapat berbicara lintas budaya dengan kata lain system tanda mampu dimengerti oleh manusia dari latar budaya yang berbeda.

2) Fungsi Sign System

Fungsi utama sign system adalah memberikan informasi, mengarahkan dan mengidentifikasikan sesuatu agar orang dapat merasa aman dan nyaman di dalam suatu tempat, baik itu karena mereka mematuhi peraturan dan peringatan yang ada, maupun karena dapat mengetahui kearah mana yang dituju.

Untuk mempermudah penyampaian informasi diperlukan pembatasan dalam pemakaian kata. Sedangkan untuk identifikasi diperlukan konsistensi.

3List Paragraph;Arthur, Paul & Branimir Zlamalik (2005). Wayfinding Pictogram System Nonverbal Universal. Singapore: Page One Publishing Private Limited.

(22)

1) Jenis Sign menurut cara Penempatan dan Fungsinya

Sign dapat dibedakan menjadi beberapa jenis menurut cara penempatan dan fungsinya, antara lain :4

a) Ground Sign

Yang termasuk dalam kategori ini adalah sign-sign yang letaknya rendah atau tiang yang berdiri secara bebas. Sign kategori ini banyak yang menggunakan listrik untuk menerangi huruf-huruf dari bent-glass yang diisi dengan neon, huruf- huruf dari channel plastik yang mendapat tenaga neon ataupun sumber cahaya lain. Ada juga jenis lain yang tidak menyala namun menggunakan sorotan cahaya atau lampu sorot. Sebagian besar ground sign mengkombinasikan material dan teknik, seperti teknik lukisan dengan vinyl, ukiran pada batu, dan sebagainya. Hasilnya adalah sign mandiri yang didesain dan dibuat untuk merujuk pada bangunan yang dicari audience.

Gambar 3.32. Macam-macam Ground sign Sumber: http://www.google.co.id

b) Projecting Sign dan Hanging Sign

Kategori ini bisa dibilang merupakan yang terbesar dari antara jenis-jenis sign lainnya, karena masyarakat umum melihat sign ini sebagai sign utama. Dalam kategori ini, para desainer dan pembuat sign juga sering mengkombinasikan material dan teknik yang diproduksi secara manual ataupun digital untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Jenis sign ini, baik yang elektrik atau non- elektrik harus memenuhi dua tujuan, yaitu mengidentifikasikan jenis usaha yang diwakilinya, serta dapat menyatu secara halus dengan arsitektur dari gedung dimana sign ini ditempatkan.

(23)

Gambar 3.33. Macam-macam Projecting Sign dan Hanging Sign Sumber: http://www.google.co.id

c) Pole-Mounted dan Post-Mounted Sign

Perusahaan Retail adalah pengguna terbesar dari kategori ini. Biasanya sign jenis ini berada di persimpangan jalan atau tempat parkir. Sign dari kategori ini tidak selalu mendapat penerangan dari dalam, banyak juga yang mengandalkan penerangan dari luar untuk menarik perhatian di waktu gelap. Pada umumnya, sign jenis ini digunakan untuk mengidentifikasi perusahaan pemasangnya dari jarak yang lebih jauh dibanding dengan ground sign, hanging ataupun projecting sign. Sign yang termasuk kategori ini mirip dengan ground sign, yaitu berdiri secara mandiri menggunakan tiang.

Gambar 3.34. Macam-macam Pole-Mounted dan Post-Mounted Sign Sumber: http://www.google.co.id

d) Sign System

Pusat perbelanjaan, perusahaan retail yang berskala besar, dan tempat parkir umum sering mencari kesatuan tujuan melalui penggunaan sign dengan prinsip-prinsip desain yang sama. Prinsip tersebut berupa material, bentuk dan warna. Keseluruhan sign merefleksikan kesamaan untuk seluruh wilayah tempat yang ada. Kategori ini dikenal dengan sebutan “sign system” oleh industri sign, dan “enviromental graphic wayfinding system” oleh komunitas desain grafis. Sign ini mengadaptasi keseluruhan jenis sign lainnya, seperti hanging dan projecting,wall-mounted, ground serta post-mounted untuk mencapai kesatuan prinsip seperti yang diinginkan.

(24)

e) Wall-Mounted Sign

Seperti hanging atau projecting sign, wall-mounted harus dapat menarik perhatian kepada gedung yang diwakilinya dalam keadaan menempel di dinding.

Tantangan dalam pembuatan wall-mounted sign adalah bagaimana agar sign yang dibuat dapat ditempatkan dengan pas antara keterbatasan ruang dan material dari dinding. Wall-mounted sign dapat terdiri dari sign komersial (non- elektrik) dan sign elektrik.

Gambar 3.35. Macam-macam Wall-Mounted Sign Sumber: http://www.google.co.id

f) Specialty Sign

Yang termasuk dalam kategori ini adalah penulisan huruf pada jendela, tanda pada kaca etalase, mural atau karya grafis pada tembok, penunjuk wilayah yang sifatnya sementara dan monumen petunjuk jalan masuk. Semua jenis specialty sign ini mempunyai kesan yang berbeda-beda, seperti penempelan huruf pada kaca memberikan kesan penampilan yang klasik, mural atau karya grafis di tembok membangkitkan kesan sejarah tertentu menggunakan jenis-jenis gaya desain yang merujuk pada era tertentu, dan sebagainya.

(25)

2) Jenis Sign menurut jenis Sign yang disampaikan

Berdasarkan jenis pesan yang ingin disampaikan, sign dapat diklarifikasikan sebagai berikut :5

1. Ketentuan atau Peraturan

a. Larangan. Standarnya berbentuk lingkaran merah dengan garis miring 450 dari kiri atas menuju kanan bawah, namun tidak selalu demikian.

Contohnya, tanda dilarang menyalip menggunakan bentuk lingkaran merah dengan garis meliuk 2 buah.

Gambar 3.37.Contoh Bentuk sign larangan Sumber: http://www.google.co.id

b. Kewajiban. Tanda ini mengatur tentang hal-hal yang harus dilakukan, biasanya berupa lingkaran berwarna biru. Contohnya simbol kepala orang menggunakan helm dalam suatu area didukung dengan teks sebagai penjelas.

Gambar 3.38. Contoh Bentuk sign kewajiban Sumber: http://www.google.co.id

2. Peringatan

a. Hati-hati. Tanda ini biasanya berupa outline segitiga atau persegi berwarna kuning untuk memberitahukan adanya hal-hal yang harus

5Paul Arthur and BrainirZlamalik. Wayfinding : Pictografics System Nonverbal Universal. Singapore;

(26)

diwaspadai. Misalnya tanda outline persegi tersebut dengan gambar orang terpeleset sebagai tanda peringatan untuk lantai yang licin.

Gambar 3.39.Contoh Bentuk sign hati-hati Sumber: http://www.google.co.id

b. Bahaya. Tingkat kewaspadaan untuk tanda ini lebih tinggi dari tanda sebelumnya. Biasanya tanda ini berupa segitiga berwarna merah.

Gambar 3.40. Contoh Bentuk sign bahaya Sumber: http://www.google.co.id

3. Informasi dan Pemberitahuan

b. Darurat. Tanda ini biasanya mudah ditemukan untuk menunjukkan lokasi rumah sakit. Fungsinya sebagai petunjuk untuk keadaan-keadaan darurat. Contohnya tanda kotak bujur sangkar berwarna biru dengan gambar tanda tambah / plus di bagian tengahnya berwarna merah yang menunjukkan lokasi untuk mendapatkan pertolongan pertama.

(27)

c. Informasi Umum. Tanda ini dipakai untuk menunjukkan lokasi fasilitas umum. Misalnya kotak bujur sangkar berwarna biru dengan gambar pria dan wanita untuk menunjukkan WC atau toilet. Informasi lain juga dapat diwakili oleh tanda ini, antara lain telepon umum, eskalator dan fasilitas- fasilitas umum lainnya.

Gambar 3.42.Contoh Bentuk sign informasi umum Sumber: http://www.google.co.id

3.2.3 Teori Pictogram

Sebuah bentuk gambar yang mewakili yang mewakili image tertentu disebut sebagai image pictografik atau pictogram. Biasanya berupa image positif atau negatif. Sebuah pictogram belum dapat dikatakan sebagai simbol karena memiliki makna lebih dari bentuk yang menggambarkan sebuah benda. Gambar pictogram kurang memiliki konteks grafis yang dapat membuatnya menjadi simbol.

Gambar 3.43.Macam-macam Bentuk Pictogram yang sering digunakan Sumber: http://www.google.co.id

(28)

a. Simbol

Gambar pictogram yang telah dilengkapi oleh konteks grafis yang memperjelas maknanya dapat disebut sebagai simbol.Konteks grafis adalah kemampuan untuk membuat sebuah imagepictografik memiliki tujuan yang berbeda.Berikut beberapa contoh simbol yang biasa digunakan dalam bentuk larangan kebiasaan masyarakat disuatu tempat.

Gambar 3.44. Macam-macam symbol yang sering digunakan Sumber: http://www.google.co.id

b. Simbol dengan Teks

Terkadang penggunaan simbol saja dirasa kurang dapat menjelaskan suatu pesan yang ingin disampaikan. Dalam hal ini dapat ditambahkan dengan kata-kata sebagai pelengkap untuk memperjelas pesan yang akan disampaikan. Misalnya simbol rokok di dalam lingkaran dan garis menyilang berwarna merah, di bawah atau di sampingnya di beri teks dilarang merokok.

Gambar 3.45.Macam-macam symbol dan teks yang sering digunakan Sumber: http://www.google.co.id

(29)

c. Teks

Ada pula sign yang tidak menggunakan simbol namun hanya menggunakan teks saja. Penggunaan sign semacam ini memiliki berbagai macam alasan, namun yang paling sering terjadi adalah karena tidak adanya simbol virtual yang dapat mewakili pesan yang ingin disampaikan. Misalnya pesan agar setiap pengunjung yang datang melapor terlebih dahulu di pos keamanan. Dalam kasus seperti ini, meskipun tidak ada simbol yang digunakan terkadang tetap digunakan kode warna untuk memperjelas jenis isi pesan, misalnya merah untuk larangan, kuning untuk peringatan dan biru untuk keterangan fasilitas umum.

Gambar 3.46. Macam-macam teks sebagai sign Sumber: http://www.google.co.id

1) Pengkodean dan Standarisasi sign

Ada dua macam pengkodean yang dapat dipakai dengan cara untuk menambahkan konteks grafis ke dalam gambar-gambar pictogram sehingga dapat mengubahnya menjadi sebuah simbol. Kedua pengkodean tersebut adalah kode bentuk dan kode warna.Kode bentuk misalnya bulatan atau lingkaran yang memiliki arti ketentuan dan peraturan, segitiga untuk peringatan dan kotak untuk informasi umum.

Kode-kode bentuk yang digunakan bersama kode warna untuk menjadi dasar standarisasi sign secara internasional. Kode warna merupakan metode kedua untuk menambahkan konteks grafis ke dalam image pictografik. Merah identik dengan larangan dan bahaya, kuning untuk perhatian, hijau untuk darurat dan perlengkapan perlindungan terhadap api, biru untuk informasi umum dan pemberian ijin atas suatu tindakan.

Terdapat beberapa lembaga yang mengurus tentang standarisasi tanda- tanda tersebut, misalnya ISO (International Standards Organization), CSA (Canadian Standards Association), dan ANSI (American National Standards Institute). Masing-masing lembaga memiliki perbedaan dalam standarisasi tanda- tanda yang ditetapkannya. ISO atau ANSI menggunakan lingkaran berwarna hijau, sedangkan CSA menggunakan lingkaran berwarna hitam. ISO tidak

(30)

mengakui segitiga merah,sedangkan ANSI mengganti segitiga merah dengan segitiga oranye. Sedangkan indonesia menggunakan lingkaran biru, lingkaran merah, maupun segitiga merah. Tanda lain yang uga sering dijumpai di Indonesia adalah penggantian simbol segitiga kuning dengan segi empat kuning yang ujung-ujungnya menghadap ke atas, bawah, kanan tengan dan kiri tengah (bentuk belah ketupat).

Seringkali penggunaan tanda-tanda diatas mengharuskan tanda tersebut tidak berwarna atau hitam putih. Misalnya untuk penggunaan tercetak pada buku atau kertas. Kadang untuk alasan estetika, beberapa tempat tertentu tidak menggunakan warna-warna seperti yang seharusnya. Dalam kasus semacam ini, kejelasan mengenai klasifikasi tanda dapat diperlihatkan dengan mempertahankan bentuknya, misalnya untuk larangan dan kewajiban menggunakan bentuk segitiga atau segi empat (belah ketupat), untuk informasi keterangan tempat digunakan bentuk kotak bujur sangkar.

Tidak peduli warna apa yang digunakan sebagai background, pictogram yang sold akan lebih baik terlihat daripada outline terutama pada permukaan yang berwarna gelap. Pictogram yang berbentuk outline lebih sulit dilihat dan dipahami dibandingkan dengan pictogram berwarna solid.

Kadangkala dapat terjadi penyelewengan dalam pengguanaan pengkodean sebagai penambah konteks grafis ke dalam sebuah pictogram. Misalnya, di California menggunakan dua pengkodean bentuk yang berbeda dan juga merupakan simbol universal yang memiliki arti lain sebagai sign untuk WC atau toilet. Kedua simbol tersebut adalah lingkaran yang di dalamnya terdapat gambar wanita sebagai sign untuk kamar kecil wanita, dan simbol segitiga dengan gambar pria didalamnya sebagai sign untuk kamar kecil pria. Penggunaan sign ini menciptakan semacam ilusi visual seolah-olah gambar pria terlihat lebih tinggi daripada gambar wanita. Padahal sebenarnya keduanya memiliki ukuran ketinggian yang sama.

2) Pertimbangan dalam pembuatan pictogram pada sign

Dalam membuat sebuah pictogram sebagai sign, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penerapannya, antara lain:

(31)

untuk telepon umum dapat terwakili hanya dengan gagang telepon saja tanpa terlalu banyak elemen lain.

b. Elemen

Jarak antara elemen adalah bagian dari elemen dalam desain secara keseluruhan. Bila jarak antar elemen terlalu sempit maka beresiko elemen- elemen yang ada terlihat menyatu dengan yang lain. Jarak antar elemen yang cukup dapat membuat sebuah gambar terlihat jelas meskipun dari jarak jauh.

c. Kesatuan

Kesatuan desain dalam membuat image pictografik merupakan bagian yang penting untuk menciptakan komunikasi yang efektif. Sekelompok pictogram sebaiknya memiliki kesamaan yang mudah dikenali satu sama lain. Dapat diilustrasikan seperti tulisan yang menggunakan font yang seragam akan lebih mudah dibaca daripada tulisan yang menggunakan font tidak seragam.

d. Kesederhanaan

Semakin sederhana sebuah simbol akan membuat simbol tersebut lebih mudah untuk dimengerti. Untuk itu perlu dipikirkan bagaimana cara seseorang untuk menerima dan menggunakan informasi. Misalnya tanda panah ke kiri dalam lingkaran dengan garis menyilang berwarna merah untuk memberitahu pengguna jalan bahwa tidak diperbolehkan belok ke kiri.

Tanda ini akan tampak membingungkan dan kurang jelas karena gambar tanda panah ke kiri tertiban oleh garis menyilang. Akan lebih mudah menyampaikan informasi yang sama dengan membuat simbol bergambarkan tanda panah ke kanan.

e. Esensi

Sebuah pictogram yang efektif dan lebih baik melibatkan komponen yang penting saja dari sebuah tindakan atau obyek.Informasi-informasi tambahan dapat dieliminasi atau tidak digunakan. Gambar sepasang kaki yang sedang berjalan mungkin tampak lebih tidak elegan sebagai sebuah image, tetapi merupakan cara yang lebih baik dalam menyampaikan pesan “tempat penyebrangan jalan” daripada gambar sosok tubuh yang sedang berjalan.

f. Tingkat keakraban

Bila ada beberapa pilihan gambar, selalu pilihlah yang akrab dengan audience daripada gambar-gambar abstrak yang kurang dikenal kecuali bila audience telah mendapat pengetahuan mengenai gambar abstrak tersebut.

(32)

g. Ringkas

Semakin ringkas sebuah gambar, maka semakin besar dan semakin jelas gambar itu terlihat ketika diletak di dalam kotak.Karena itu beberapa simbol menggunakan gambar yang tampak pada sisi yang lebih ringkas daripada sisi lainnya atau perspektif. Simbol untuk halte bus misalnya, sebaiknya menggunakan gambar bus yang tampak depan daripada tampak samping.

h. Kejelasan

Simbol larangan diseluruh dunia banyak yang menggunakan tanda menyilang di atas piktogram sehingga membuat gambar piktogram menjadi tidak terlihat jelas.Sebenarnya lebih baik bila garis menyilang diletakkan dibelakang piktogram agar terlihat lebih jelas.

i. Ambiguitas

Seringkali suatu gambar tidak secara jelas menyatakan maksudnya. Gambar tanda panah ke atas dan tanda panah ke bawah merupakan salah satu varian simbol untuk lift yang ambigu karena dapat pula dipakai untuk menjelaskan makna lain. Salah satu varian yang lebih jelas dalam menyampaikan maknanya adalah gambar orang yang di dalam kotak yang diapit oleh dua garis vertikal dengan tanda panah ke atas dan ke bawah karena lebih dekat dengan kenyataan yang sebenarnya.

j. Mencolok

Tanda yang baik harus dapat dengan mudah dikenali, oleh karena itu sebuah tanda tidak boleh dengan mudah menyatu dengan lingkungan sekitar atau tempat dimana tanda itu diletakkan. Image negatif lebih baik digunakan sebagai simbol daripada image positif karena tampak lebih mencolok.

Penggunaan image positif biasanya digunakan dengan alasan selera pribadi.

k. Spesifik

Ada perbedaan derajat dari sebuah peringatan yang mempengaruhi penggunaan tanda. Penggunaan tanda peringatan untuk hal-hal yang patut diwaspadai harus dibedakan dengan hal-hal yang berbahaya. Penggunaan segitiga berwarna kuning biasanya merujuk pada hal yang berbahaya. Hal ini dikarenakan masyarakat luas telah banyak memahami bahwa merah berhubungan dengan bahaya dan kuning berhubungan dengan

(33)

3) Tanda – tanda yang berfungsi untuk sebuah sign system, yaitu :

a. Identification Sign

Digunakan untuk menandai area – area dan tempat – tempat khusus seperti fasilitas – fasilitas rekreasi dan taman.

b. Directional Sign

Digunakan untuk mengarahkan orang ke area – area atau ke tempat – tempat tertentu.

c. Advice Sign

digunakan untuk menginformasikan himbauan-himbauan yang harus dilakukan atau tidak dilakukan di suatu tempat.

d. Decorative Sign

Tanda ini tidak mengarahkan atau mengidentifikasikan pesan – pesan, tetapi untuk mempromosikan event, season, holiday dan kegiatan lain. Contoh : Flag, banner

e. Prohibitory and warning

Sign yang berfungsi untuk memberi tahu pengguna apa yang harus dilakukan dan diwaspadai, secara umum berupa symbol atau symbol sign (symbol yang dikombinasikan dengan kata-kata)

f. Official Notices

Sign yang memberi informasi tentang hal-hal resmi dan dianjurkan jangan kacau dengan orientation sign.6

1. Mudah dilihat

Menurut Julianto (2010) dalam pembuatan Sign system yang baik harus memenuhi empat kriteria berikut:

Penempatan sign system juga harus dipikirkan secara tepat, dan penempatan sign system yang baik yaitu ditempat yang mudah diakses orang.

2. Mudah Dibaca

Bentuk huruf atau tipografi yang digunakan dalam sign system Sebisa mungkin dapat terbaca baik siang maupun malam.

3. Mudah Dimengerti

6Paul Arthur and BrainirZlamalik. Wayfinding : Pictografics System Nonverbal Universal. Singapore;

Page One. 2005

(34)

Bentuk penulisan yang tertera pada sign system harus mudah untuk dipahami.

Oleh semua kalangan dari semua usia, bentuk tulisan juga sebisa mungkin dibuat singkat dan padat.

4. Dapat Dipercaya

Kebenaran informasi yang ada dapat dipercaya tidak menyesatkan.

Pembuatan sign system juga memilki kriteria tersendiri.

Follies dan hammer (1988:18) mengatakan bahwa praktik aplikasi sign system mempunyai beberapa faktor, antara lain:

1.

Bidang pandang normal, bahwa bidang pandang untuk mata manusia dari tampilan permukaan sebuah bidang informasi adalah sekitar 60 derajad.

2.

Ketajaman visual

3.

Kemampuan rata-rata membaca yang sangat beragam diruang publik. Mulai dari 125 sampai dengan 600 huruf permenit. Untuk pengendara kendaraan bermotor hanya diperbolehkan menampilkan sebanyak-banyaknya 6 item informasi pendek, hal ini disebabkan karena waktu untuk membaca hanya beberapa detik.

4.

Legibility pada study standarisasi snaller, bahwa jarak pandang manusia dalam kondisi cuaca normal ketika berdiri, seseorang dalam penglihatan normal dapat melihat huruf secara ideal dengan tinggi 1 inchi (26mm).

5.

Tingkat kemampuan melihat, rata-rata manusia melihat secara normal diukur mulai dari lantai ketika berdiri adalah 170 cm, ketika duduk sekitar 130 cm, dan ketika dikendaraan bermotor adalah 140 cm. Bagi pengendara truk besar, penglihatan mereka lebih tinggi dari pengendara kendaraan bermotor lainnya.

6. Ukuran huruf, penentuan huruf yang diperuntukkan bagi pengendara kendaraan bermotor didasarkan pada sector tambahan yaitu kecepatan pada saat pengguna dan membaca tanda.

7.

Kepentingan bagi penyandang cacat fisik, adapun penetapan standar ukuran huruf yaitu 1 inchi per 25 kaki (7,5 meter) dari lokasi pengamatan.

3.2.4 Teori Gestalt

(35)

yang paling populer dan banyak digunakan dalam desain grafis adalah teori Gestalt.

Gestalt merupakan sebuah teori psikologi yang menyatakan bahwa seseorang akan cenderung mengelompokkan apa dia lihat disekitarnya menjadi suatu kesatuan utuh berdasarkan pola, hubungan, dan kemiripan. Teori ini dibangun oleh 3 ilmuwan asal Jerman yaitu: Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler.

• Gestalt dalam Desain Grafis

Gestalt banyak digunakan dalam desain grafis karena menjelaskan bagaimana persepsi visual bisa terbentuk. Prinsip-prinsip Gestalt yang banyak diterapkan dalam desain grafis antara lain adalah proximity (kedekatan posisi), similarity (kesamaan bentuk), closure (penutupan bentuk), continuity (kesinambungan pola), dan figure Ground.

a. Proximity (kedekatan posisi)

Objek-objek yang berdekatan posisinya akan dikelompokkan sebagai suatu kesatuan.

Gambar 3.47. Contoh Proximity (kedekatan posisi)

Sumber: http://www.desainstudio.com/2010/12/teori-gestalt-dalam-desain-grafis.html

Objek-objek pada logo unilever diatas dipersepsikan sebagai sebuah kelompok (huruf 'U') karena memiliki kedekatan posisi satu sama lain.

(36)

b. Similarity (kesamaan bentuk)

Objek-objek yang bentuk dan elemennya mirip akan dikelompokkan sebagai suatu kesatuan.

Gambar 3.48. Contoh Similarity (kesamaan bentuk)

Sumber: http://www.desainstudio.com/2010/12/teori-gestalt-dalam-desain-grafis.html

Tiga segitiga di bagian bawah logo diatas sejatinya adalah bagian dari ikon burung di logo tersebut. Namun karena memiliki kesamaan bentuk dengan segitiga lain, objek tersebut dipersepsikan sebagai bagian kelompok segitiga yang membentuk lingkaran.

c. Closure (penutupan bentuk)

Suatu objek akan dianggap utuh walaupun bentuknya tidak tertutup sepenuhnya.

Gambar3.50. Contoh Closure (penutupan bentuk)

Sumber: http://www.desainstudio.com/2010/12/teori-gestalt-dalam-desain-grafis.html

Kita dapat mengenali bahwa ikon pada logo WWF adalah seekor panda.

Padahal, gambar tersebut tidaklah lengkap atau belum tertutup

(37)

d. Continuity (kesinambungan pola)

Objek akan dipersepsikan sebagai suatu kelompok karena adanya kesinambungan pola.

Gambar 3.51. Contoh Continuity (kesinambungan pola)

Sumber: http://www.desainstudio.com/2010/12/teori-gestalt-dalam-desain-grafis.html

Lingkaran-lingkaran diatas dipersepsikan sebagai suatu kelompok karena polanya berkesinambungan. Walaupun sebenarnya objek-objek tersebut terpisah satu sama lain.

e. Figure Ground

Sebuah objek bisa dilihat sebagai dua objek dengan permainan foreground dan background. Masing-masing bisa diidentifikasi sebagai objek tanpa harus membentuknya menjadi solid.

Gambar3.52. Contoh Figure Ground

Sumber:http://www.desainstudio.com/2010/12/teori-gestalt-dalam-desain-grafis.html

Gambar diatas ini adalah gambar sebuah objek. Namun dengan memanfaatkan teori figure ground, gambar mampu menampilkan 2 buah objek (objek guci dan siluet wajah).

Gestalt menjelaskan bagaimana secara psikologi seseorang mencerna apa yang dilihatnya. Dengan memahami prinsip kerja kecenderungan persepsi visual

(38)

manusia melalui Gestalt, desainer dapat memahami bagaimana fungsi sampainya suatu pesan terhadap audiens.7

3.2.5 Teori Tipografi

Secara tradisional tipografi berkaitan erat dengan setting huruf dan percetakannya.Pengaruh perkembangan teknologi digital yang sangat pesat pada masa kini membuat maknanya makin meluas. Kini Tipografi dimaknai sebagai: segala disiplin yang berkenaan dengan huruf. Pada prakteknya, saat ini Tipografi telah jauh berkolaborasi dengan bidang-bidang lain, seperti multimedia dan animasi, web dan online media lainnya, sinematografi, interior, arsitektur, desain produk dan lain-lain.

Legibility dan readability adalah dua aspek penting terhadap tipografi sebagai penyampai pesan. Keduanya sangat erat kaitannya dengan factor optimis.

• Legibility

Legibility berhubungan dengan kemudahan mengenali dan membedakan

masing-masing huruf / karakter. Legibility menyangkut desain / bentuk huruf yang digunaka. Suatu jenis huruf dikatakan legible apabila masing-masing huruf / karakter-karakternya mudah dikenali dan dibedakan dengan jelas satu sama lain.

Gambar 3.53. Contoh teks legibility Sumber: Fajri, 2012

Lalu otak menerjemahkan informasi tersebut menjadi pengertian.

Masalahnya otak manusia sangat unik, sehingga seringkali “meleset” dalam menerjemahkan data-data yang masuk. Jadi, objek sebenarnya tidak diterjemahkan oleh otak sebagai apa adanya, tetapi diterjemahkan menurut

(39)

Penilaian tipografi adalah melalui indera penglihatan, karena itu diharapkan desainer betul-betul memahami hali ini supaya pesan yang disampaikan dimengerti secara tepat oleh audience yang membacanya.

• Readability

Readability berhubungan dengan tingkat keterbacaan suatu teks.Teks

yang readable berarti keseluruhannya mudah dibaca.Apabila legibility lebih membahas kejelasan karakter satu – persatu, readability tidak lagi menyangkut huruf / karakter satu persatu, melainkan keseluruhan teks yang telah disusun dalam suatu komposisi.Legibility bisa menciptakan readability, karena biasanya kalau kita mudah membedakan masing-masing karakter, maka keseluruhan teks akan lebih mudah dibaca. Namun adakalanya suatu teks yang legible tidak readable. Contohnya bila masing-masing huruf / karakternya jelas, mudah dikenali dan dibedakan, tapi disusun dalam komposisi vertical, terbalik-balik, pemenggalan yang tidak benar, terlalu berdesak-desakan, atau kondisi lain yang membuat keseluruhan teks sulit dibaca.

Legibility dan readability adalah kajian dalam tipografi yang erat

hubungannya dengan faktor optis.Legibility danreadability harus dipandang secara luas, tidakl hanya dipengaruhi oleh desain / bentuk huruf saja, tapi juga dipengaruhi oleh aspek- aspek.8

3.2.6 Material dalam Sign System

Pengetahuan bahan atau material untuk pembuatan sign system mutlak diperlukan terutama untuk penempatan desain-desain tertentu. Bahan untuk sign system cukup beragam, kunci pemilihannya adalah mengetahui jenis sign systemnya, lokasi penempatannya, karakternya dan budget yang dipersiapkan:

a. Batu

Batu adalah material pertama dan bahan utama yang digunakan sejak jaman kuno. Sign system pada bahan jenis ini (termasuk batu granit, marmer atau batu sedimen) menggunakan teknik ukir. Sign system dari batu jelas awet hingga kurun waktu beberapa puluh tahun.

b. Kayu

(40)

Kayu termasuk jenis material favorit untuk pembuatan sign system.

Alasannya selain permukaannya lebih bertekstur, kayu tumbuh dari pohon (artinya bisa ditanam dan diambil kayunya) serta tidak memerlukan teknologi tinggi untuk pengerjaannya. Kayu juga bisa digunakan sebagai bagian dari sign structures yang mampu menopang dengan kuat meskipun bobot material kayu terbilang cukup ringan. Kurang cocok untuk penempatan di outdoor karena mudah lapuk akibat cuaca.

c. Gelas

Gelas yang mempunyai sifat meneruskan cahaya juga memiliki permukaan yang bisa memantulkan. Material jenis ini juga populer untuk signage design dan kerap digunakan sebagai dekorasi. Dengan ketebalan tertentu, multilayer, permukaan yang transparan dan efek-efek yang dihasilkan, material jenis ini sangat menarik jika digunakan sebagai bahan dasar signage.Biasanya digunakan untuk penamaan gedung atau papan pengumuman atau tanda penunjuk dalam sebuah gedung.

d. Alumunium dan besi

Sekitar tahun 1950-an, alumunium adalah bahan alternatif selain besi.Sering digunakan untuk permukaan signage berukuran besar.Ringan, kokoh, dan tidak memerlukan perawatan serta mudah dibuat. Di satu sisi, material dari besi dijadikan bahan baku untuk signage. Tingkat kekuatan jauh melebihi bahan alumunium. Sering digunakan sebagai bahan untuk struktur internal.

e. Akrilik

Jenis akrilik dikenal sebagai material yang tahan terhadap sinar ultraviolet sehingga cocok untuk penempatan sign di luar ruangan. Tersedia dalam beberapa pilihan warna, warna putih atau tembus pandang sehingga bisa digunakan sebagai background signage. Material jenis ini bisa dibentuk dengan cetak panas dan bisa memancarkan cahaya lebih baik. Bahan akrilik terkenal relatif kuat karena tingkat kepadatannya tetap meskipun mengalami banyak tempaan pada saat produksi.

f. Vinyl

Teks pada signage alumunium bisa memakai huruf berbahan enamel dan

(41)

signage berbahan scottlight pada rambu lalu-lintas akan sangat bermanfaat untuk memperjelas petunjuk arah saat dibaca.

g. Kain

Signage dalam EGD tidak harus menggunakan rigid materials. Bahan baku dari kain juga bisa digunakan sebagai bahan signage. Banner atau bendera sering digunakan sebagai material signage dan biasanya memanfaatkan besi atau alumunium sebagai strukturnya.

h. Digital media

Kehadiran teknologi digital, Sejak 15 tahun terakhir, hampir setiap karya grafis bisa dicetak dengan bantuan printer dan diaplikasikan untuk signage.

Biasanya memanfaatkan inkjet UV print. Ilustrasi peta pada directional sign biasanya menggunakan hasil cetak dengan dengan tinta yang tahan cahaya UV. Dari sisi harga, budgetnya termasuk cukup murah dan mudah digonta- ganti secara berkala. Cocok untuk sign di ruang publik yang non-permanen.

3.2.7 Teknik dan cara pemasangan info grafis

Ada tiga jenis teknik pemasangan untuk info grafis, yaitu dengan cara di tempel, di tanam dan di gantung. Teknik di tempel biasa digunakan pada identifying sign yaitu menandai area – area tertentu, atau fasilitas-fasilitas yang ada di area tersebut. Teknik ditanam biasa digunakan pada directional sign untuk mengarahkan orang ke area-area tertentu yang di tanam menggunakan tambahan material besi, dan di letakkan di tempat yang ramai yang sering dilalui orang. Teknik digantung biasa digunakan pada identifying sign, dengan menambahkan material yang gunakan untuk menggantung, biasa di gunakan untuk menandai area-area tertentu.

(42)

3.3 Objek Referensi & Inspirasi

Gambar 3.54. Moodboard Foto: Fajri, 2012

Gambar di atas ini merupakan referensi karya yang akan dijadikan moodboar dalam perancangan grafis lingkungan yang akan perancang buat nantinya, yang meliputi:

a. Layout

Contohnya pada direction sign dengan menggunakan rata kiri, dengan untuk teks, anak panah rata kanan.

b. Material

Pada perancangan grafis lingkungan pasar Palmerah akan menggunakan material plat alumunium untuk keseluruhan sign.

c. Teknik pemasangan sign

Teknik pemasangan sign dengan cara ditempel, gantung dan ditanam, sesuai dengan penempatan dan masing - masing jenis sign misalkan pada main gate, akan di letakkan di pintu masuk utama pasar Palmerah dengan teknik ditanam.

Gambar

Gambar 3.1.Macam-macam patok/pembatas yang ada di Indonesia  Sumber: http://www.google.co.id
Gambar 3.2. Parkiran Mobil  Foto: Fajri, 2012
Gambar 3.7. ATM  Foto: Fajri, 2012
Gambar 3.15.Toko Emas  Foto: Fajri, 2012
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) bertujuan untuk melatih mahasiswa untuk menetapakan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki dalam suatu proses pembelajaran

Siswa juga tidak mendapatkan kekerasan nonfisik karena mereka mampu melaporkan pada kepala sekolah atau guru.Hal ini sesuai dengan teori Sullivan & Clearly

Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan Metode Bayes diperoleh perlakuan penambahan tepung tapioka 4% (b/v) pada petis berbahan baku cairan hasil

Untuk itu pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Tolikara dalam programnya menetapkan untuk melakukan penyusunan Rencana Induk/Master Plan, FS (Feasibility Study),

Hal inilah yang menjadikan tari Sema sebagai jalan untuk bertarekat dalam Tarekat Maulawiyah (Kartanegara dalam Susanti, 2005 : 5). Di Indonesia kini sudah mulai

H аssеl, Nilsson & Nyquist (2005:16) mеnyаtаkаn bаhwа tingginy а tingkаt kinеrjа lingkungаn pеrusаhааn tidаk diаnggаp sеbаgаi nilаi yаng tinggi

Berdasarkan hasil perhitungan luas wilayah pertanian yang termasuk pada masing-masing kelas bahaya bencana kekeringan menunjukkan bahwa 43% dari seluruh kawasan pertanian

Pengenalan tipologi suatu kawasan perkotaan diketahui dengan melihat desa perkotaan lama (tahun 1990 dan 2000 desa perkotaan yang terbentuk tidak jauh berbeda),