MAKALAH FILSAFAT KOMUNIKASI PARADIGMA KRITIS
Disusun Oleh :
Kelompok 4 : 1. Annisa Putri Fauziah 2106015263 2. Azzahra Nazhifah Nizar 2106015102 3. Dea Merilanisti 21060115253
Kelas : 2J
Dosen Pengampu : Mustiawan, M.I.Kom.
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA
JAKARTA 2022
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah- Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul PARADIGMA KRITIS ini tepat pada waktunya. Tidak lupa sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasullullah SAW, keluarganya, sahabatnya dan kepada kita selaku umatnya.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Mustiawan, M.I.Kom selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Filsafat Komunikasi. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman – teman yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca untuk mendalami materi Paradigma kritis ini.
Kami juga menyadari pentingnya akan berbagai sumber jurnal, referensi dari buku yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah ini.
Dan kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan segala bentuk saran serta masukan yang membangun dari berbagai pihak.
Jakarta, 8 April 2022
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
BAB I PENDAHULUAN ...2
1.1 Latar Belakang ...2
1.2 Rumusan Masalah ...2
1.3 Tujuan Masalah ...2
BAB II PEMBAHASAN ...3
2.1 Paradigma Kritis ...3
2.2 Seputar Paradigma Kritis dan Teori Kritis dalam Ilmu Komunikasi ...4
2.3 Ciri – Ciri Paradigma Kritis ...5
2.4 Asumsi Gagasan Kritis dan Asumsi Teori Kritis Ilmu Komunikasi...6
2.5 Contoh kasus dari asumsi – asumsi ...6
2.6 Penyimpulan dan Evaluasi contoh kasus ...8
2.7 Argumentasi mengenai contoh kasus ... 10
BAB III PENUTUP ... 12
3.1 KESIMPULAN ... 12
DAFTAR PUSTAKA ... 13
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam proses berfikir dan menganalisa suatu kalimat, jelas membutuhkan sebuah kebenaran untuk mencapai suatu kebijaksanaan. Dengan berfilsafat sudah tentu kita berfikir, jika kita memikirkan suatu kalimat menggunakan logika akal pikiran maka terbuka luas ilmu yang kita ketahui dan mempunyai rasa ingin tahu sehingga dapat mempertimbangkan pikiran tersebut melalui ucapan secara lisan yang dinyatakan dalam bahasa. Dalam berfikir secara kritis tentunya memikirkan sesuatu hal pemikiran bebas tidak ada batasan untuk berfikir seluas-luasnya.
Tujuan dari mempelajari paradigma kritis ini ialah agar manusia dalam melakukan proses komunikasi dapat mengontrol kekuatan dan keleluasan dalam berfikir lebih mendalam, Asumsi dasar dalam paradigma kritis ini berkaitan dengan keyakinan dan kekuatan yang ada dalam masyarakat untuk bisa mengontrol proses komunikasi masyarakat. Di dalam teori paradigma kritis ini lebih melihat adanya realitas di balik kontrol komunikasi, suatu realitas tersebut dibentuk sepanjang waktu dengan sekumpulan faktor seperti : sosial, politis, budaya, ekonomi, etnik dan gender
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan paradigma kritis?
2. Apa saja asumsi dari teori paradigma kritis?
3. Apa itu Teori kritis ilmu komunikasi ?
4. Bagaimana teori ini dapat berfungsi untuk menganalisis peristiwa yang sudah terjadi?
5. Bagaimana pandangan penyusun tentang contoh kasus yang sudah di analisis ? 1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui lebih dalam teori paradigma kritis
2. Agar teori ini dapat tersampaikan dengan jelas dan mudah dipahami
3. Untuk mengetahui lebih rinci tentang teori kritis dalam ranah ilmu komunikasi 4. Agar kita dapat berfikir secara kritis
5. Agar pembaca lebih mudah memahami teori ini dan bisa berfikir secara kritis
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Paradigma Kritis - Pengertian Paradigma
Paradigma itu adalah sebuah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhi dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku.
Menurut para ahli:
Guba: paradigma adalah sekumpulan keyakinan dasar yang membimbing tindakan manusia.
Denzin & linconl (1994): sistem keyakinan dasar atau cara memandang dunia yang membimbing peneliti tidak hanya dalam memilih metode tetapi juga cara-cara fundamental yang bersifat ontologi dan epistomoligis.
Menurut Thomas Kuhn: paradigma adalah landasan berpikir atau pun konsep dasar yang digunakan/dianut sebagai model atau pun pola yang dimaksud para ilmuan dalam usahanya, dengan mengandalkan studi-tudi keilmuan yang dilakukannya.
- Pengertian Paradigma kritis
Paradigma kritis adalah suatu pemikiran yang memiliki maksud dan pengaruh terhadap perubahan aspek dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam pemikiran ini tidak hanya memberikan kritik terhadap ketidakadilan yang dominan system kehidupan, melainkan mengubah system tersebut menjadi adil. Paradigma kritis tidak membatasi pandangan seseorang dalam berfikir, bersifat kritis diibaratkan apabila membangun suatu gedung teoretis, seperti misalnya diperlihatkan dengan begitu mengasyikkan oleh Hegel. Paradigma kritis mampu memberikan suatu pemikiran yang kokoh berdasarkan analisis pernyataaan atau kalimat yang membawa ilmu pengetahuan.
- Sejarah Paradigma Kritis
Teori kritis hadir sebagai kritik; baik terhadap fenomena, maupun teori-teori sosial yang dikemukakan oleh pemikir sosial terdahulu. Teori kritis memiliki dua gagasan utama, yaitu totalitas dan kritis. Lewat gagasan pertama, teori kritis mencoba untuk menjelaskan bahwa konflik dan perlawanan merupakan bagian yang inheren dalam masyarakat. Lewat gagasan
kedua, teori kritis mencoba menjelaskan bahwa teori ini lahir dari semangat untuk memahami sesuatu secara kritis-atau dengan kata lain-lahir dari semangat untuk memahami sesuatu secara kritis-atau dengan kata lain-lahir dari semangat untuk mempertanyakan kembali bukti-bukti empiris yang diterima
2.2 Seputar Paradigma Kritis dan Teori Kritis dalam Ilmu Komunikasi
Paradigma merupakan pengenalan dasar untuk teori dan riset. Pada umumnya paradigma terdiri dari asumsi dasar, teknik riset yang digunakan, dan seperti apa seharusnya teknik riset yang baik untuk diteliti. Teori kritis pertama kali dikembangkan oleh Frankfurt School di jerman pada tahun 1930an, paradigma kritis pada dasarnya ialah suatu ilmu pengetahuan yang meletakkan pemikiran ideologi kritik marxisme dalam seluruh metodologi penelitiannya. Teori kritis pada satu pihak merupakan wujud aliran ilmu sosial yang berpaku pada ide-ide Karl Marx dan Engels (Denzin,2000-279-280). Paradigma kritis melihat adanya realitas dibalik adanya kontrol komunikasi masyarakat, teori kritis ini lebih mendominasi dan membatasi kelompok tertentu dalam seluruh proses komunikasi masyarakat
Paradigma kritis ini lahir sebagai pengalihan pandangan dari pandangan kontruktivisme yang kurang pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun institusional. Paradigma kritis bersifat realism historis, artinya suatu realitas tersebut dibentuk sepanjang waktu oleh berbagai faktor diantaranya faktor sosial, politis, budaya, ekonomi,etnik, dan gender yang lebih menekankan pada struktur yang dianggap sebagai sesuatu yang dianggap
“nyata”. Tradisi dari paradigma ini sendiri memiliki tiga keistimewaan pokok yaitu :
- Pertama, pada tradisi ini sistem mencoba untuk memahami sistem yang sudah dianggap benar, struktur kekuatan, keyakinan atau ideologi yang mendominasikan masyarakat dengan pandangan tertentu.
- Kedua, para ahli teori kritik tertarik dengan membuka kondisi-kondisi sosial yang menindas, serta rangkaian kekuatan untuk mempromosikan emansipasi masyarakat yang bebas dan lebih berkecukupan.
- Ketiga, menciptakan sebuah kesadaran untuk mengkorelasikan dengan teori dan juga tindakan yang dilakukan untuk mencapai perubahan dalam kondisi-kondisi yang mempengaruhi masyarakat.
Pendekatan teori kritis ini pada dasarnya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx, Pemikiran Karl Marx ini bisa merupakan gerakan post pencerahan. Max Horkehimer dan rekannya di Mazhab Frankfurt menjadikan pemikiran Marx sebagai acuan mereka dalam
menganalisis gejala, kasus serta permasalahan yang terdapat di masyarakat. Teori kritik berada dalam paradigm modernis.
Pada era mahzab frankfrut komunikasi sendiri menjadi bagian penting dari pembahasan teori kritik dan semua kajian komunikasi massa menjadi penting. Sebagian besar teori komunikasi kritis pasti berhubungan dengan media, alasannya karena media mempunyai kekuatan untuk menyebarkan ideologi yang dominan dan juga mengungkapkan ideologi alternatif sekaligus ideologi yang bertentangan.
Ada lima cabang utama teori kritis media (McQuail):
1. Marxisme klasik, Menganggap bahwa terdapat ideologi alternatif, idealis, dan terkadang utopis, tetapi tidak ada model secara pasti untuk sistem yang bekerja dimanapun. Meskipun begitu terdapat dasar kesamaan yang dapat menolak ideologi tersembunyi dari pluralisme dan fungsionalisme konservatif.
2. Karakter politik dan ekonomi klasik dari struktur dan organisasi media baik nasional maupun internasional, seperti marxisme klasik yang menyalahkan kepemilikan media yang berdampak pada keburukan masyarakat dimana strategi operasional yang jauh dari netral.
3. Frankfrut, teori ini memiliki pandangan bahwa media digunakan sebagai cara untuk membangun dan mempromosikan pandangan alternatif dari budaya komersial yang dominan.
4. Teori hegemoni, ini adalah dominasi ideologi palsu atau cara pikir terhadap kondisi yang sebenarnya terjadi.
5. McQuail, kajian “penelitian budaya”. Tradisi ini sangat bergantung pada semiotik yang cenderung pada pemaknaan budaya tentang hasil-hasil media, misal video, musik, iklan, dan flim yang merupakan hasil produksi budaya.
2.3 Ciri – Ciri Paradigma Kritis
Memandang kenyataan sebagai sesuatu yang dibangun dari kekuatan sosisal, politik, dan ekonomi. Artinya dalam hal ini setiap kebenaran yang dibahas itu muncul dari kegiatan-kegiatan masyarakat dalam menjalani kehidupannya
Paradigma kritis dalam penelitiannya lebih focus pada hubungan antara peneliti dengan objek penelitian. Artinya dalam hal ini para peneliti menggunakan metode pengkajian yang memfokuskan pada hubungannya
Paradigma kritis mampu menjujung kebenaran disaat dunia tidak seimbang
Artinya dalam hal ini pemikiran tentang kebenaran yang saling bertentangan dengan perpekstif-perspektif terdahulu
Paradigma kritis berpaku pada pandangan peneliti dari hasil analisis data yang diteliti Artinya dalam mengambil suatu pikiran baru harus mengutamakan kebenaran dari hasil data yang sudah diteliti
2.4 Asumsi Gagasan Kritis dan Asumsi Teori Kritis Ilmu Komunikasi Asumsi – asumsi yang dikemukakan oleh Jurgen Habermas (1983)
- Semua ilmuan kritis harus memahami pengalaman manusia sesuai aspek kehidupan dengan menggunakan prinsip – prinsip dasar sosial interpretif. Secara khusus paradigma ini bertujuan untuk mengemukakan ketidakadilan bagi seluruh kelompok sosial yang mengalami diskriminasi dan penindasan.
- Dalam kondisi sosial yang terjadi lebih mengedepankan teori pengetahuan untuk mengambil sebuah tindakan, sehingga kekuatan teori tersebut dapat membantu ketidakadilan.
- Dalam Paradigma ini tidak hanya membahas teori saja, melainkan harus seimbang antara teori dan tindakan yang nyata. Hal ini membuat manusia menjadi lebih memanusiakan manusia dan tidak mementingkan kepentingannya sendiri.
2.5 Contoh kasus dari asumsi – asumsi
Contohnya adalah gerakan fenimisme di indonesia, gerakan ini bertujuan untuk memperjuangkan ketidakadilan gender yang terjadi akibat adanya sebuah prinsip partiarki yang dimana laki-laki lebih dominan daripada perempuan, sedangkan perempuan hanya dijadikan sebagai bayangan saja seperti pada saat ini hampir sebagian rumah tangga mengandalkan perempuan untuk mengurus kegiatan rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan laki-laki hanya berfikir bahwa tugasnya mencari nafkah untuk keluarga saja tidak mengurus kegiatan rumah tangga. Selain itu deskriminasi juga terjadi pada perempuan terhadap hal kekuasaan dalam berbagai sektor.
Stereotip yang sering didapatkan perempuan misalkan jika perempuan mempercantik diri dengan menggunakan riasan wajah, baju yang bagus, dan parfum yang mewangikan menjadikan masyarakat memiliki pandangan bahwa wanita yang merias diri sama dengan menggoda laki-laki, maka jika ada kasus pemerkosaan atau
pelecehan baik verbal maupun non verbal yang nantinya disalahkan adalah perempuan tersebut.
Contoh lain dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi perempuan yaitu :
- Jumlah perempuan dalamm posisi pengambil keputusan sedikit
- Perempuan korban kekerasan/pelecehan seksual kurang mendapat perlindungan hukum - Upah pekerja perempuan lebih rendah dari upah laki-laki.
- Pelecehan seksual terhadap perempuan terjadi di lingkungan pekerjaan - Perempuan cenderung dijadikan obyek seksual di media massa
- Tidak adanya perlindungan hukum terhadap pembantu rumah tangga perempuan - Terjadinya eksploitasi terhadap perempuan melalui pengiriman TKW ke luar negara
Tidak dipenuhinya hak cuti khusus bagi pekerja perempuan
Dan tidak hanya itu perempuan juga kerap kali mendapatkan kekerasan yang bahkan dari orang terdekatnya, salah satu contoh kasus kekerasan yang terjadi pada seorang wanita di Jakarta Pusat diakibatkan salah paham antara pemikiran suami mengenai usia kandungan sang istri yang menimbulkan kekerasan fisik berupa penginjakan di bagian pinggang sebelah kiri yang dilakukan berkali-kali dan memukul tangannya hal ini mengakibatkan sang istri mengalami pendarahan yang hebat.
Munculnya berbagai permasalahan ini disebabkan oleh perhambatan :
- Kondisi Politik, perempuan sendiri belum terwakili secara proporsional dalam posisi politik hal ini dikarenakan sosisalisasi keluarga yang menanamkan mindset bahwa pendidikan politik itu keras, jahat, dunia laki-laki, penuh persaingan tidak sehat dan bukan tempatnya perempuan
- Kondisi sosial ekonomi, yang menjadi sebab utamaya adalah karena kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah. Karena hal ini sebagian perempuan Indonesia pasti memiliki peran ganda disatu sisi sebagai ibu rumah tangga dan disatu sisi lainnya menjadi dunia karir
- Masalah Aspek Ideologis dan Psikologis, Masalah ini terutama dihadapi oleh wanita yang berkiprah di bidang politik, yang meliputi peran tradisional, kurangnya kepercayaan, peran media massa. Peran tradisional perempuan dalam dunia politik menuntut perubahan pola emosi, cara memandang sesuatu serta berfikir sebagai proses dalam memutuskan sesuatu hal.
Gerakan ini didorong oleh teori hak-hak kondrati yang memiliki konsep Hukum Hak Asasi Manusia dimana setiap individu baik perempuan maupun laki-laki memiliki hak dalam mengambil keputusan, sehingga memiliki kebebasan dalam menjalani kehidupan. Selain teori, diperlukan tindakan nyata yang dapat di implementasikan melalui komnas Perlindungan perempuan di Indonesia. Wujud pengimplementasian sudah terlaksana dengan baik dimana lembaga ini menangani kasus yang berkaitan dengan perempuan, Sehingga perempuan lebih merasa terlindungi dari ancaman- ancaman yang meresahkan.
Pemerintah sendiri juga melakukan upaya meminimalisir ketidakadilan yang dirasakan perempuan dengan cara mengeluarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan Perbuatan cabul diatur dalam KUHP dalam Buku Kedua tentang Kejahatan, Bab XIV tentang Kejahatan Kesusilaan (Pasal 281 - Pasal 303). Membahas tentang PKDRT yang didalamnya terdapat asas-asas yaitu; Asas PKDRT sendiri seperti dijelaskan dalam Pasal 3 adalah untuk: (1) penghormatan hak asasi manusia; (2) keadilan dan kesetaraan gender; (3) nondiskriminasi; dan (4) perlindungan korban. *Lalu tujuan dari PKDRT sebagaimana disebutkan dalam Pasal 4 adalah untuk: (1) mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga; (2) melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga;
(3) menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga; (5) memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera. Sedangkan tindakan yang dimaksud dalam pasal yang mengatur perbuatan cabul itu adalah ketika perbuatan cabul yang dilakukan laki- laki atau perempuan yang telah kawin (Pasal 284), Perkosaan (Pasal 285), atau membujuk berbuat cabul orang yang masih belum dewasa (Pasal 293).
2.6 Penyimpulan dan Evaluasi contoh kasus
Kesimpulan dalam kasus ini, lebih menitikberatkan pada perjuangan wanita-wanita indonesia untuk mendapatkan haknya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga wanita mendapatkan perlakuan yang sama. Dengan adanya paham fenimisme ini membuat perempuan- perempuan di indonesia memiliki harapan serta semangat dalam memperjuangkan haknya sebagai manusia yang merdeka, karena mereka sudah memiliki pegangan yang akan menjamin keselamatan mereka. Selain itu gerakan ini mampu mengatasi tindakan yang merugikan wanita misalnya dalam menjalani karir, menjalani kehidupan berumah tangga, terjun bermasyarakat.
Dalam hal ini, pemerintah telah meminimalisir kasus penindasan terhadap perempuan, namun sebesar apapun upaya pemerintah dalam mengatasi hal ini, masyarakat juga mesti mendukung
upaya-upaya pemerintah, terutama masyarakat sipil yang dijadikan sebagai perantara antara rakyat dengan pemerintah. Masyarakat sipil merupakan wadah yang dianggap sebagai pelindung terdekat bagi perempuan, karena mereka dipercaya dapat mengawasi, membantu, dan melayani masyarakat terutama perempuan.
Ditengah keadaan yang sulit seperti ini, menjadikan perempuan sebagai petarung hebat.
Perempuan dijadikan sebagai objek bagi laki-laki padahal perempuan tidak pernah menjadikan laki-laki sebagai objek yang dapat dimainkan atau diperlakukan seenaknya saja. Hal ini bukan lah sesuatu yang mengejutkan, justru hal ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan sudah dijadikan sebagai kebiasaan bagi masyarakat. Meskipun sebenarnya ini adalah hal yang salah namun sulit untuk mengangkat kesetaraan gender ini. Sama hal nya dengan kekuasaan dalam dunia politik pemerintahan, hampir seluruh presiden atau pemimpin bangsa adalah laki-laki, karena masih melekat pemikiran masyarakat yang mengatakan bahwa kedudukan perempuan tidak boleh melebihi kedudukan laki-laki. Padahal dalam agama islam, perempuanlah makhluk yang paling dimuliakan kedudukannya. Namun tidak menjadikan perempuan sebagai makhluk paling tinggi kedudukannya, hanya saja islam menghapus gender yang ada.
Evaluasi dalam kasus ini, gerakan yang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang yang memiliki prinsip turun temurun (partriarki). Dimana gerakan ini dikatakan sebagai hal yang tabu karena tidak sejalan dengan pemikiran orang-orang zaman dahulu yang beranggapan bahwa gerakan ini menyalahi kodrat wanita. Namun, pemikiran kuno ini telah terminimalisir dengan adanya upaya yang diberikan oleh komnas ham. Upaya yang diberikan komas ham, yaitu :
1. (Mengampanyekan hak perempuan)
Komnas Perempuan telah melakukan kampanye terkait hak bagi perempuan sebagai bentuk penyebarluasan pemahaman upaya pencegahan dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Sepanjang 2014 hingga 2019, badan ini gencar melakukan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan, seperti kampanye 16 Hari Anti Kekerasan dan kampanye mencegah kekerasan seksual bagi pengguna transportasi online.
Mengadvokasi kebijakan Lembaga ini melakukan advokasi hak bagi perempuan, memberikan rekomendasi pada pemerintah untuk menyusun dan mengesahkan kerangka hukum dan kebijakan, dengan mendasarkan pada kajian dan penelitian. Setiap tahun Komnas Perempuan mengeluarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Kekerasan terhadap Perempuan yang menyebutkan daftar peraturan yang bermasalah, termasuk peraturan daerah yang diskriminatif
2. (Membangun aliansi)
Komnas melaksanakan beberapa mandat di atas secara strategis dengan memahami bahwa lembaga ini tidak dapat menjadi aktor tunggal dalam penjaminan hak bagi perempuan sehingga harus bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di setiap level, terutama di tingkat nasional.Komnas Perempuan gencar berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pemerintah sebagai otoritas yang memiliki legitimasi membuat kebijakan publik.
3. (Penguatan perjuangan hak perempuan)
Kini 15 anggota Komnas Perempuan baru sudah mulai menjalankan tugas untuk masa jabatan 2020-2024. Langkah-langkah menghidupkan perempuan dalam ruang publik yang telah dirintis oleh Komnas Perempuan perlu didorong lebih kuat. Pemerintah sebagai subyek hukum yang bertanggung jawab melakukan pemenuhan hak, termasuk bagi perempuan, seharusnya lebih akomodatif terhadap rekomendasi yang diberikan oleh Komnas Perempuan, seperti segera mengesahkan RUU PKS.
Di sisi lain, masyarakat sipil yang masih memiliki kegamangan jalur perjuangan pemenuhan HAM, termasuk bagi perempuan, dapat bergabung dengan aliansi yang telah dipertemukan dalam jaringan Komnas Perempuan. Perjuangan penegakan hak, terutama bagi perempuan, merupakan aksi kolektif yang dapat dihidupkan melalui kepercayaan dan partisipasi aktif masyarakat sipil.
2.7 Argumentasi mengenai contoh kasus
Menurut pendapat kami gerakan fenimisme merupakan gerakan yang menjadi salah satu harapan bagi wanita, terutama wanita indonesia yang dimana negara ini memiliki budaya serta pandangan dan prinsip yang lebih menghormati laki-laki dibanding perempuan. Hal ini menyebabkan banyaknya tindakan deskriminasi yang sering kali di alami perempuan, seperti jaman dahulu perempuan sendiri dilarang keras untuk bersekolah sehingga pada jaman dahulu perempuan jarang memiliki kemampuan dalam bidang akademis yang kadang hal ini menjadikan laki-laki mempunyai anggapan bahwa mereka mempunyai posisi yang lebih tinggi dibanding perempuan. Walaupun pada jaman sekarang sudah ada kewajiban menuntut ilmu bagi setiap masyarakat baik laki-laki maupun perempuan, tetapi masih saja ada anggapan bahwasanya “perempuan tidak usah menuntut ilmu tinggi-tinggi, karena toh nantinya akan ke dapur juga” statemen ini yang menjadikan perempuan sendiri menjadi memiliki keterbatasan dalam membuat keputusan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Selain itu karena perempuan memiliki beban ganda seperti mengasuh anak, mengurus rumah tangga menjadikan perempuan memiliki keterbatasan dalam menjalani karir yang dijalaninya dan biasanya beban ganda ini yang menjadi alasan perempuan kerap kali dipandang merepotkan seperti ada cuti melahirkan, cuti anak sakit, dll yang menghambat kinerja perusahaan. Perempuan juga kerap kali dituntut untuk bisa menjaga penampilan agar meminimalisir tindakan pelecehan yang dilakukan laki-laki, padahal perempuan juga memiliki kebebasan dalam hal berpakaian asalkan sopan. Seperti yang sering menjadi pembahasan ketika ada tindakan pelecehan yang terjadi, pasti yang kerap kali menjadi analisa pertama adalah bagaimana cara perempuan itu berpakaian? Sampai bisa dilecehkan seperti itu?, padahal kasus pelecehan juga kerap kali di dapat oleh perempuan yang menggunakan hijab, bahkan bercadar.
Hal ini membuktikan bahwa pelecehan juga dapat terjadi kapan pun dan bagaimana pun serta busana apapun yang dikenakan perempuan. Jadi untuk itu tidak hanya perempuan saja yang dituntut untuk menjaga penampilannya, tetapi laki-laki juga harus bisa menjaga pandangan serta hawa nafsunya sehingga kasus seperti ini dapat di minimalisir. Dan menurut pendapat kami aparat penegak hukum juga menjadi aspek penting untuk dapat menjadi tameng pelindung bagi perempuan-perempuan yang mengalami ketidakadilan, karena itu kami berharap bahwa untuk pelaporan kasus tindakan pelecehan, kdrt dan tindakan tidak adil lainnya dapat di permudah dan tidak menyulitkan korban dalam proses mencari keadilan. Seperti yang kita sering dengar bahwa syarat-syarat pemenuhan tuntutan tindakan pelecehan harus menyertakan bukti yang banyak, hal ini tidak relevan dengan tindakan pelaku yang mungkin spontan dan terkadang dilakukan di tempat yang tidak terjangkau oleh orang banyak. Kasus- kasus pelecehan juga kerap kali masih dianggap enteng dan disepelekan jika pelaku yang melakukannya adalah orang yang berepengaruh dan penguasa. Untuk itu kita sebagai perempuan sangat berharap hukum ini segera diperbaiki, dan dapat membantu saudara-saudari kita yang mengalami tindakan tidak mengenakan dan membuat trauma berkepanjangan.
Dengan adanya paham fenimisme ini membuat perempuan-perempuan di indonesia memiliki harapan serta semangat dalam memperjuangkan haknya sebagai manusia yang merdeka, karena mereka sudah memiliki pegangan yang akan menjamin keselamatan mereka.
BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Paradigma kritis merupakan suatu pemikiran yang memiliki maksud dan tujuan yang berpengaruh terhadap perubahan dalam aspek kehidupan bermasayarakat. Beberapa asumsi- asumsi yang dinyatakan dalam teori ini dikemukakan oleh Jurgen Habermas yaitu semua ilmuwan mampu memahami pengalaman manusia sesuai aspek kehidupan dengan
menggunakan prinsip-prinsip dasar sosial, dalam kondisi sosial lebih mengedepankan teori pengetahuan untuk mengambil suatu tindakan sehingga kekuatan teori tersebut dapat
meringankan ketidakadilan yang terjadi, serta dalam paradigma ini tentunya tidak membahas pada satu teori saja melainkan teori dan tindakan keduanya harus seimbang agar dalam menjalankan aspek kehidupan bisa memberikan suatu hal yang riil atau nyata.
Contoh kasus yang kami angkat dari teori paradigm kritis ini berupa suatu gerakan fenimisme di Indonesia, adanya gerakan ini bertujuan untuk memperjuangkan ketidakadilan yang diberikan oleh perempuan akibat adanya sebuah prinsip partiarki yang dimana laki-laki lebih menonjolkan seperti raja,yang hanya ingin diladenkan saja tanpa memikirkan hak perempuan yang dijadikan sebagai pihak terbelakang. Tidak hanya itu perempuan juga sering mendapatkan sebuah pelecehan, Maka argumentasi kami mengenai hal ini kami beranggapan perempuan juga harus memenuhi haknya sebagai seorang perempuan, perempuan juga ingin dihargai dan perjuangan seorang perempuan patut untuk diperjuangkan sehingga perempuan juga bisa mendapatkan perlakuan yang sama didalam kehidupan ini.
Perempuan Indonesia kini berada dalam suatu era transisi kebudayaan, ia memiliki peran ganda yang tidak ringan. Ia harus dapat berhati-hati menentukan posisi dan perannya, hingga dalam melakukan kegiatannya hendaknya tidak menjadi korban berbagai kepentingan individu maupun kelompok, swasta maupun birokrat. Harus selalu berada dalam koridor etis dan moralis, berikanlah perlindungan hukum yang layak padanya. Karena perempuan Indonesia akan memberi kontribusi yang penting terhadap kesejahteraan keluarga, bangsa, Negara dan agamanya.
DAFTAR PUSTAKA
https://masastudi.wordpress.com/20170503/teori-kritis-dan-paradigmatis-dalam-ilmu- komunikasi/
Mufid Muhammad, 2012, Etika dan Filsafat Komunikasi, Kencana, Jakarta Muslih, Mohammad, 2016, Filsafat Ilmu, Yogyakarta
https://cibengnews.blongspot.com/2012/11/paradigma-kritis-dan-marxisme.html
http://saleseven.blongspot.com/2014/12/paradigma-kritis.html
Magnis, Franz, 2016, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Yogyakarta
https://theconversation.com/kinerja-komnas-perempuan-lima-tahun-terakhir-beri-harapan- pada-perjuangan-hak-perempuan-1293