Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan
pISSN: 1979-3588 | eISSN: 2715-8969 https://jurnal.sttsundermann.ac.id
Memberitakan Injil, dengan atau Tanpa Upah?
Studi Eksegetis 1 Korintus 9:1-23*
Preaching the Gospel, Paid or Unpaid? Exegetic Studies 1 Corinthians 9:1-23 Masa Yubelium Gea
11Prodi S1 Teologi STT Banua Niha Keriso Protestan Sundermann Nias
ARTICLEINFO A B S T R A C T
Submitted: September 9, 2021 Review: September 11-29, 2021 Accepted: November 2, 2021 Published: November 3, 2021
Building the right concept based on the call to preach the Gospel, in essence, will determine the ministry's success.
Understanding the Gospel's preaching as a gift is considered a blessing and joy, but the situation and conditions will determine if it is understood as an option. This paper aims to see how a priest anointed to serve can perform his ministry in all possible situations and conditions. In this study, the authors used literature and biblical research methods (exegesis). The results and discussions show that the current situation and condition of the congregation also affect the ministry carried out by pastors. The solemnity and commitment of the pastor have their ups and downs when the congregation's condition does not follow what is expected. It is contrary to Paul's ministry life which experienced many sorrows in preaching the Gospel. The situation and state of the congregation he served did not inhibit his intention to preach the Gospel. His understanding of the preaching of the Gospel is a gift, and God himself chooses and gives the task to be carried out. Therefore, pastors need to instill the correct concept of vocation in preaching the Gospel; preaching the Gospel is a gift, not an option.
KEYWORDS
BNKP's pastor, calling, Paul, preaching the Gospel, paid or unpaid and wages or fee
CORRESPONDENCE
Phone:
E-mail: [email protected]
A B S T R A K
Membangun konsep dasar yang benar tentang panggilan memberitakan Injil pada hakikatnya sangat menentukan keberhasilan pelayanan yang diemban. Jika pemberitaan Injil dilihat sebagai anugerah, maka tugas itu merupakan berkat dan kesukaan, tetapi jika dilihat sebagai pilihan maka tugas pemberitaan akan ditentukan oleh situasi dan kondisi. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana pendeta di BNKP yang diurapi untuk melayani dapat melakukan pelayanannya dalam segala situasi dan kondisi yang mungkin terjadi. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan dan biblika (eksegesis).
Hasil dan pembahasan menunjukkan situasi dan kondisi jemaat terkini turut memengaruhi pelayanan yang dilakukan oleh pendeta. Kesungguhan dan komitmen pendeta mengalami pasang surut ketika kondisi jemaat tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ini bertolak belakang dengan pelayanan Paulus yang mengalami banyak suka-duka dalam memberitakan Injil. Situasi dan kondisi jemaat yang ia layani sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk memberitakan Injil. Hal itu disebabkan oleh pemahamannya terhadap pemberitaan Injil adalah anugerah dan Tuhan sendiri yang memilih dan memberikan tugas itu untuk dilaksanakan. Karena itu, para pendeta perlu menanamkan konsep yang benar tentang dasar panggilan dalam memberitakan Injil; memberitakan Injil merupakan anugerah, bukan pilihan.
Kata kunci: panggilan, Paulus, pemberitaan Injil, pendeta BNKP, upah
PENDAHULUAN
asar panggilan yang benar untuk menjadi pemberita Injil pada hakikatnya memberi pengaruh besar dalam mengambil tugas pelayanan; dan karena itu – panggilan sangat terkait erat dengan motivasi atau alasan seseorang memberi dirinya menjadi pelayan.
Idealnya seorang pelayan tidak boleh mendasarkan panggilannya menjadi pemberita Injil pada upah yang akan ia dapatkan secara material. Meskipun pelayan memiliki hak dalam mendapatkan upah dari jemaat, tetapi hal tersebut tidak perlu menjadi penentu kualitas dan efektivitas tugas pelayanan yang diemban.
Dalam Peraturan BNKP Nomor 23 Tahun 2019 tentang Kode Etik Pendeta1 tertuang bahwa pendeta adalah seorang yang oleh anugerah Allah dipanggil dan diutus secara khusus dengan menyerahkan hidup sepenuhnya untuk menjadi hamba Tuhan yang berspiritualitas dan berintegritas. Pendeta haruslah seorang yang teguh dalam iman kepada Allah dan menyerahkan hidup dipimpin dan dibaharui terus menerus oleh Roh Kudus; ia harus memelihara panggilan Tuhan terhadap dirinya dengan penuh kesungguhan dan kesetiaan untuk melayani pewartaan Injil di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa menjadi pendeta bukan sekedar pilihan seseorang, yang oleh anugerah Allah dipanggil untuk melayani-Nya.
Berbicara soal upah, dalam bahasa Yunani menggunakan istilah “μισθός” (mistos) yang diterjemahkan sebagai reward for work (upah untuk pekerjaan), fee or compensation (upah atau kompesansi), soldiers pay (upah tentara), rent for possession of ground or a house (sewa tanah atau rumah), priests honorarium (honorarium imam), payment for visiting a popular assembly (pembayar- an untuk mengunjungi majelis rakyat), expenses (pengeluaran), payment as a bribe (pembayaran sebagai suap).2 Upah juga dipahami dalam dua hal, yakni upah yang berupa berkat maupun hukuman, ini sebagai perwujudan keadil-
*Artikel ini merupakan intisari Skripsi Masa Yubelium Gea, “Upahku ialah Memberitakan Injil Tanpa Upah: Studi Eksegetis 1 Korintus 9:1-23 dan Implikasinya pada Panggilan dan Komitmen Pendeta di BNKP” (STT BNKP Sundermann, 2021).
1 BPHMS BNKP, Peraturan Banua Niha Keriso Protestan Nomor 23/BPMS-BNKP/2019 Tentang Kode Etik Pendeta (Gunungsitoli: Sekretariat Kantor Sinode BNKP, 2019).
benaran-Nya dalam rangka perjanjian (Ul. 7:9- 10).
Dalam Perjanjian Baru, kita dapat menemukan prinsip pekerja patut mendapat upah (Lukas 10:7; Roma 4:4); mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu (1 Kor. 9:14; 2 Kor. 11:8).
Tetapi, juga harus diingat, janganlah sekali-kali berkhotbah atau mengajar demi uang (Mikha 3:11; Titus 1:7).3 Paulus berbicara tentang hal yang paling ringkas. Jika ada pembenaran hanya untuk iman, dan jika orang percaya adalah orang yang memberi tempat untuk tindakan penyelamatan Tuhan, jika dia adalah penerima, jika iman itu sendiri hanyalah pemberian Tuhan, maka pikiran apa pun tentang jasa dikesampingkan dan penghargaan sama sekali tidak mungkin.
Selain itu, kenyataan baru telah pecah bagi Paulus dengan kematian dan kebangkitan Yesus, dan untuk menjadi orang Kristen berarti hidup dengan realitas penebusan ini. Semua pekerjaan dan kehidupan orang Kristen bukan lagi soal kemampuannya sendiri, tapi hanya soal dikendalikan, diisi dan didorong oleh Roh Allah.
Dengan demikian, seluruh tindakan moral orang Kristen bagi Paulus adalah totalitas kapasitas dan kemauan pada satu dasar kehidupan, pengembangan spiritual kekuatan yang telah dianugerahkan kepadanya. Itu semua adalah buah Roh Allah, dan akibatnya karunia anugerah. Sekali lagi semua jasa dan semua pemikiran tentang upah dikesampingkan, agar para rasul mampu mencapai semua yang dia bisa, bukan karena dirinya sendiri atau secara alami, tetapi hanya dalam kekuatan dari Dia yang perkasa.4
Dalam penelitian awal penulis terhadap jemaat dan pendeta-pendeta di BNKP, penulis menemukan bahwa beberapa jemaat menyatakan dengan tegas ketidaksukaan mereka terhadap pendeta-pendeta yang umumnya meninggalkan tempat pelayanan. Beberapa
2 Gerhard Kittel and Gerhard Friedrich, Theological Dictionary of the New Testament (W. B. Eerdmans, 2006), 695–728.
3 J. D. Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, ed. N Hillyer, 7th ed. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2002), 529–530.
4 Kittel and Friedrich, Theological Dictionary of the New Testament.
D
pendeta lebih memilih untuk tinggal di rumah mereka sendiri (kampung halaman) dan datang pelayanan pada saat ada jadwal saja; mereka tidak tinggal di tengah-tengah jemaat tempat mereka melayani. Dengan alasan ekonomi – tidak mencukupi; jemaat tidak sanggup memenuhi atau membiayai hidup pelayan, dalam hal ini membayar upah (gaji) sesuai dengan ketentuan; rumah dinas pelayan kurang layak, dan pekerjaan pasangan (suami/istri) yang mengharuskan mereka tidak tinggal di tengah-tengah jemaat.
Kondisi jemaat yang belum sanggup membiayai kebutuhan hidup pelayan menimbulkan berbagai konsekuensi yang harus diterima baik oleh jemaat maupun pelayan (pendeta), di antaranya kurang efektifnya pelaksanaan tugas pelayanan oleh pendeta dan yang dialami oleh jemaat. Pendeta akan sulit memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh jemaat; iman jemaat secara utuh tidak terpelihara dengan baik – dan itu berimbas pada mangkirnya jemaat ke pendeta atau denominasi gereja lain. Ketidakberadaan pendeta di tengah- tengah jemaat, menyebabkan pendeta tidak mampu mengenal dan mengetahui pergumulan masing-masing jemaat. Relasi dan komunikasi menjadi terhambat karena faktor jarak; akibatnya pendeta tidak mampu manjawab pergumulan jemaat sehari-hari – kehidupan jemaat menjadi statis dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam aspek rohani dan ekonomi. Dalam situasi ini, jemaat hanya merasakan firman Tuhan lewat khotbah tanpa tuntunan aplikasi untuk keluar dari setiap pergumulan mereka.
Merujuk pada kehidupan Paulus, dalam 1 Kor. 9:8-9, ia menetapkan hak atau otoritas apa yang menjadi haknya dengan status kerasulannya. Akan tetapi, dia mengisyaratkan bahwa dia telah memilih untuk tidak menggunakan wewenangnya untuk menuntut dan menerima dukungan yang diberikan oleh jemaat. Paulus menyangkal dengan tegas bahwa dia telah menjalankan salah satu tunjangan jabatan yang sah (menerima upah). Jika upahnya diberikan, kebanggaannya di dalam Tuhan akan
5 William Flewelling, The First Letter of Paul to the Corinthians: A Bible Study (Bloomington: AuthorHouse, 2017).
6 Roy E. Ciampa and Brian S. Rosner, The First Letter to the Corinthians (Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing, 2010), 422.
dikosongkan. Ia mengklaim bahwa pekerjaannya tidak berada di bawah kendali dirinya, melainkan karena kebutuhan akan Allah dan urgensi dari pertumbuhan kritis dalam iman kepada Yesus Kristus.5 Ini menegaskan ketidak- inginan Paulus terhadap hal-hal tertentu yang mengancam iman jemaat dan pemberitaan Injil, dan ‘bukan’ untuk menyatakan bahwa seorang pemberita Injil tidak boleh menerima upah/haknya dari jemaat.
Ia bukan milik orang yang berpengetahuan di Korintus, atau pelindung lain atau kelompok minat khusus yang mungkin ingin memilikinya, meski demikian ia telah memutuskan untuk menjadi budak bagi mereka semua, karena sebagai pengelola rumah tangga Kristus ia tidak dapat menerima gaji.6 Seorang yang percaya pada Injil tidak secara khusus menjadi bagian dari kelompok mana pun tetapi dapat menjadi bagian dari semua orang, sehingga dia betah di mana pun dia berada. Kesetiaan utama Paulus ialah sebagai mitra Injil.7 Seorang pelayan harus terbebas dari segala kekuasaan yang berada di atasnya agar Injil yang disampaikan dapat benar- benar tersampaikan kepada umat yang ia layani secara merata. Kekuasaan dalam hal ini tidak hanya dilihat sebagai kekuasaan dalam bentuk fisik atau yang terlihat (oleh kepemimipinan oknum tertentu), kekuasaan yang dimaksud juga bisa dalam bentuk paradigma atau cara berpikir.
Kekuasaan dalam bentuk paradigma ini lebih kepada gaya hidup pelayan (pendeta) yang hedon dan materialistis – yang mana turut berdampak pada kehidupan pelayanan.
Dalam bagian ini, terdapat sedikitnya 4 garis besar konsepsi Paulus dalam pelayanannya yakni pertama, dia menganggapnya (pelayanan) sebagai hak istimewa. Satu hal yang tidak dilakukan oleh Paulus ialah mengambil uang untuk bekerja bagi Kristus. Ini tidak berarti bahwa seseorang harus selalu bekerja tanpa hasil; tetapi seseorang tidak boleh bekerja terutama untuk uang, sebab hak istimewanya ialah melayani orang lain untuk Tuhan. Kedua, ia menganggapnya sebagai kewajiban. Sudut pandang Paulus adalah bahwa jika dia telah
7 William F. Orr and James Arthur Walther, The Anchor Bible: 1 Corinthians - With a Study of the Life of Paul, Notes, and Commentary (Garden City: Doubleday and Company, 1979), 243.
memilih untuk menjadi seorang pengkhotbah Injil, dia mungkin secara sah meminta bayaran untuk pekerjaannya; tetapi dia tidak memilih pekerjaan itu; pekerjaan telah memilihnya.
Paulus mungkin berkata “apa yang dapat kulakukan selain memberitahukan kabar baik tentang Kristus kepada manusia?” Ketiga, terlepas dari kenyataan bahwa dia tidak akan menerima pembayaran, Paulus tahu bahwa setiap hari ia menerima upah yang besar. Dia memiliki kepuasan membawa Injil secara cuma- cuma kepada semua orang yang mau menerimanya. Itu selalu benar, bahwa hadiah nyata dari tugas apa pun bukanlah pembayaran uang (upah materi) tetapi kepuasan dari pekerjaan yang dilakukan dengan baik. Keempat, Paulus berbicara tentang metode pelayanannya adalah metode untuk menjadi segalanya bagi semua orang. Paulus, misionaris ulung yang memenangkan lebih banyak orang bagi Kristus daripada orang lain mana pun, melihat betapa pentingnya menjadi segalanya bagi semua orang.8
Hidup di tengah jemaat tentu merupakan tantangan besar, entah itu menyangkut kesejah- teraan hidup sebagai pelayan, ataupun kondisi kehidupan jemaat tempat melayani. Jika seseorang memahami dirinya menjadi pelayan karena pilihannya maka kecenderungan pelayanan akan ditentukan oleh keadaan jemaat dia melayani. Ini menunjukkan, tidak terpenuhinya kualifikasi sebagai pelayan yang dipanggil oleh Tuhan dan memberi dirinya dipakai dalam segala situasi dan kondisi.
Paulus dalam 1 Korintus 9:1-23 menguraikan tentang bagaimana ia memahami panggilannya yang sekaligus menjadi contoh bagi jemaat Korintus dalam menggunakan kebebasan sebagai seorang yang percaya kepada Kristus. Meskipun bagian perikop ini hanya mendukung argumennya dalam hal penggunaan hak dan kebebasan sebagai contoh bagi jemaat Korintus, akan tetapi Paulus lebih jauh melihat bagaimana ia memahami panggilan Allah dalam dirinya beserta segala hak dan kewajiban yang melekat pada panggilan tersebut.
8 William Barclay, The Letters to the Corinthians: The New Daily Study Bible, 3rd ed. (Westminster John Knox Press, n.d.), 91–94.
9 J. Wesley Brill, Tafsiran Surat Korintus Pertama (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003).
Tidak berhenti di situ, ia juga menegaskan apa yang menjadi upah bagi dirinya setelah dipanggil oleh Allah untuk memberitakan Injil.
Rasul Paulus menuntut bahwa seorang rasul berhak ditanggung dan dipelihara oleh jemaat.
Pauluslah yang menetapkan hak itu, tetapi ia tidak menuntut agar hak itu diberikan kepadanya. Dengan demikian, kita dapat memetik pelajaran dari tindakan Paulus ini yakni tidak dapat meminta orang lain melepaskan haknya jika diri sendiri tidak mau melepaskan hak.9 Ketegasan sikap Paulus untuk tidak menuntut haknya demi Injil menjadi contoh nyata bagi jemaat Korintus untuk tetap memperhatikan kasih sebagai standar tertinggi untuk menggunakan kebebasan yang telah dimiliki sebagai seorang Kristen.10
Paulus menolak untuk menerima upah dan tidak menuntut haknya tersebut dari jemaat Korintus bukan tanpa alasan. Secara jelas hal ini tertera di dalam suratnya yang berbunyi “…
supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang” (ayat 19c). Memenangkan orang menjadi tujuan akhir Paulus dalam memberitakan Injil. Segala sesuatu yang dapat menghalangi dirinya untuk memenangkan sebanyak mungkin orang untuk Injil yang ia beritakan akan ia lepas sebab upahnya ketika memberitakan Injil ialah ketika ia mampu memenangkan orang-orang.11 Paulus dalam pasal ini telah menetapkan hak atau otoritas apa yang menjadi haknya dengan status kerasulannya. Akan tetapi, ia telah memilih untuk tidak menggunakan wewenangnya – menuntut dan menerima dukungan yang diberikan oleh jemaat.
Paulus memperlihatkan sikap untuk memperhatikan sesama. Perihal memperhatikan sesama diperlihatkan Paulus dalam bagian surat- suratnya di 1 Korintus 8:9; 9:19; 10:23-24; 14:19;
26. Dalam serangkaian bagian-bagian ayat tersebut, Paulus menegaskan bahwa segala sesuatu, entah itu kebebasan bahkan karunia roh sekalipun harus diperhatikan dengan seksama, jangan sampai hal tersebut membuat jatuh saudara seiman. Bahkan jika perlu, hal-hal yang kita lakukan dan kita miliki harus merupakan
10 Ibid.
11 Paul Ellingworth et al., Pedoman Penafsiran Alkitab: Surat Paulus Yang Pertama Kepada Jemaat Di Korintus (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2010).
sesuatu yang membangun jemaat juga diri sendiri. Untuk mempertegas argumennya tersebut, ia menjadikan dirinya sendiri contoh bagi jemaat Korintus.12 Paulus memberikan contoh bagaimana kasih terhadap sesama justru lebih tinggi dari hak-hak yang harus dipaksakan untuk terima. Bentuk kasih yang diutarakan Paulus ialah usahanya untuk memenangkan sebanyak mungkin orang di dalam Injil sekalipun ia harus melepaskan hak-hak yang memang seharusnya ia dapatkan. Sukacita Paulus yang terbesar justru ketika ia mampu memangkan orang-orang untuk Injil. Ini merupakan panggilan pelayanan Paulus, tujuan utama dia memberitakan Injil ialah bagaimana ia mampu memenangkan sebanyak mungkin orang untuk Injil yang ia beritakan tersebut.
Hak Paulus mencakup menerima bantuan keuangan dari jemaat Korintus; dia dapat dengan mudah mengklaim dukungan moneter mereka.
Tetapi demi Injil, dia lebih bersedia untuk menyerahkan hak apa pun untuk tujuan yang lebih besar dalam memimpin orang baru ke dalam komunitas Kristus dan memperkuat iman mereka yang sudah ada di sana. Upahnya apa?
Paulus melihat hubungannya dengan Kristus bukan sebagai sosok yang memiliki status yang setara. Paulus adalah seorang manajer rumah tangga yang dipercayakan untuk tugas yang biasanya diberikan kepada budak yang sangat terpercaya (Luk. 12:42-48). Budak yang seperti itu biasanya memiliki tingkat kepercayaan dan kebebasan yang tinggi dari tuannya, tetapi celakalah budak itu jika tugas yang diberikan kepadanya tidak dilaksanakan dan kepercayaan itu dipatahkan. Justru karena Paulus telah menyerahkan hak pribadinya sehingga dia bebas untuk menggunakan hak yang bermanfaat bagi Injil. Itu adalah upahnya, karena ia boleh berdakwah/memberitakan Injil dengan gratis.13
Untuk memahami panggilan dan komitmen yang benar, dapat dilihat dari sikap Paulus memahami panggilan dan komitmennya untuk memberitakan Injil, yakni:
Pertama, Paulus melihat panggilan Tuhan baginya untuk memberitakan Injil merupakan
12 V. C. Pfitzner and Stephen Suleeman, Kesatuan Dalam Kepelbagaian: Tafsiran Atas Surat 1 Korintus (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2000).
13 Preben Vang, 1 Corinthians: Teach the Text Commentary Series, ed. Mark Strauss and John Walton (Michigan: Baker Publishing Group, 2014).
sebuah anugerah. Apa yang tidak akan dia biarkan diganggu oleh siapapun adalah merampas hak istimewa yang dia miliki untuk mengkhotbahkan Injil tanpa beban, karena Injil adalah prioritas utama hidupnya. Deksripsinya tentang keharusannya untuk mengkhotbahkan Injil mencerminkan panggilan dalam hidupnya.
Peran Paulus sebagai pengkhotbah Injil bukanlah sesuatu yang dia pilih, tetapi tugas yang telah diberikan kepadanya oleh Tuhan.14 Paulus yang dulunya merupakan pengejar-ngejar orang Kristen kini telah ditangkap oleh Kristus dan dijadikan sebagai pemberita Injil. Kesempatan untuk tetap hidup dan memberitakan Injil akhirnya membuat Paulus merasa bahwa dirinya telah menerima anugerah yang dari Allah (lih. 1 Kor. 9:16-17). Hal ini pada akhirnya membuat dia merasa bahwa kesempatan memberitakan Injil ini merupakan upah bagi dirinya sendiri.
Kedua, komitmen dalam panggilan. Paulus menjelaskan penolakan hak-haknya dan dengan contoh dan implikasinya, mendesak para pembaca untuk melakukan hal yang sama demi keuntungan orang lain. Dalam sinopsis, Paulus menyatakan kebebasan Kristennya sendiri, kemudian menjelaskan bagaimana ia melepaskan hak-haknya yang diberikan Tuhan, dan menyatakan motivasi dari pelaksanaan disiplinnya.15 Paulus rela melepaskan hak-hak pribadinya, menanggung segala penderitaan, dan menjadikan dirinya hamba bagi semua orang bukan tanpa tujuan. Ia mempunyai tekad dan ambisi yang kuat yakni memenangkan sebanyak mungkin orang untuk Kristus (ay. 19).
Ini menjadi dasar komitmennya, yakni bahwa segala sesuatu ini ia lakukakn demi Injil, supaya dirinya mendapat bagian di dalam Injil, tetapi bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga bagi semua orang agar mereka bersama-sama turut mengambil bagian dalam mahkota kemuliaan yang akan diberikan Tuhan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Asal Injil terkabarkan, maka apapun akan dilakukan.
Ketiga, kesetiaan Paulus dalam pelayanan.
Paulus berkhotbah karena Tuhan telah menugaskan atau memerintahkannya untuk
14 Ciampa and Rosner, The First Letter to the Corinthians, 416.
15 Marion L. Soards, 1 Corinthians: Understanding the Bible Commentary Series (Baker Publishing Group, 2011), 180.
melakukannya. Bukan karena pujiannya dia berkhotbah; dia akan berada dalam situasi menyedihkan jika dia tidak melakukannya.16 Berbicara tentang kesetiaan, kisah Paulus dalam memberitakan Injil yang mengalami banyak penderitaan adalah wajar saja bila membuat dirinya mundur dan memilih untuk tidak meneruskan pemberitaan Injil (lih. 2 Kor. 1:8-10;
4:17; 6:1-10). Ia memang mengalami penderitaan dalam pelayanan yang membuat kondisinya semakin merosot tetapi dibalik itu ia memahami bahwa akan ada kemuliaan yang lebih besar yang akan ia terima melebihi dari penderitaannya itu. Pemahaman Paulus yang melihat pemberitaan Injil sebagai anugerah dari Allah, itulah yang membuat dia setia dalam memberitakan Injil, sebab jika Tuhan telah menganugerahkan keselamatan bagi dirinya, masakkan ia tidak mau memenuhi panggilan Tuhan bagi dirinya untuk memberitakan Injil.
Kesetiaannya ini bahkan terlihat jelas dari sikapnya yang tidak menuntut haknya sebagai rasul demi pemberitaan Injil. Apabila sesuatu mampu menghalangi pemberitaan Injil bahkan meskipun itu adalah haknya maka lebih baik ia tidak mempergunakan haknya tersebut asalkan Injil mampu diberitakan dan memenangkan orang-orang kepada Kristus.
Keempat, kesungguhan Paulus dalam Pelayanan. Paulus mengatakan bahwa dalam memberitakan Injil, dia dapat menawarkannya secara gratis, dan dengan demikian tidak menggunakan haknya sebagai seorang pengkhotbah Injil. Ia menganggap hak istimewa untuk memberitakan Injil secara cuma-cuma (hak istimewa untuk tidak menjalankan haknya).17 Sekiranya Paulus memberitakan Injil tanpa kesungguhan itu, kecenderungan adalah ketidakrelaan melepaskan hak-hak yang seharusnya ia dapatkan sebagai pemberita Injil.
Ia mungkin akan menuntut agar ia dibiayai oleh jemaat yang ia layani, dan bisa saja menggunakan kesempatan itu untuk mencari keuntungan pribadi dan tidak perlu bersusah payah untuk memberitakan Injil bahkan untuk menanggung kebutuhan hidupnya sebab telah ditetapkan bahwa pelayan Tuhan hidup dari pekerjaan pemberitaannya. Akan tetapi Paulus memilih mengambil sikap yang sebaliknya,
16 Ibid., 186.
17 Ciampa and Rosner, The First Letter to the Corinthians, 419.
merasa bahwa pemberitaan Injil itu adalah yang utama. Kesungguhan dan keseriusannya itu ia wujudkan melalui sikap melepaskan hak-hak istimewanya demi Injil bagi semua orang.
Panggilan Paulus dalam memberitakan Injil tidak terlepas dari kehidupan masa lalunya sebelum ia dipanggil menjadi Rasul. Kalau dulu ia hidup sebagai orang yang mengejar-ngejar orang Kristen, maka sekarang Tuhan menggunakan dia untuk menjadi orang yang memberitakan Injil.18 Panggilan, kesempatan, dan penerimaan Tuhan bagi dirinya untuk memberitakan Injil dirasa Paulus menjadi anugerah dari Tuhan untuknya. Tuhan memanggil dirinya dan memberi tugas untuk memberitakan Injil sehingga oleh karenanya ia merasa celaka jika ia tidak menunaikan tugas yang telah diberikan oleh Tuhan tersebut (ay. 16- 17). Paulus yang melihat panggilan tersebut sebagai anugerah pada akhirnya membuat dirinya merasa boleh tidak menuntut hak- haknya sebab pemberitaan Injil itu lebih penting dibanding hal-hal yang bersifat pribadi. Ini menunjukkan bahwa upah Paulus memberitakan Injil (ayat 18) bukan tanpa upah, tetapi dengan upah yakni pemberitaan Injil yang ia pahami sebagai anugerah dari Allah.
Sikap Paulus yang perlu mendapat perhatian di sini adalah bagaimana ia melihat panggilan memberitakan Injil adalah anugerah Tuhan, bukan merupakan pilihannya tetapi Allah-lah yang telah memanggil dan memberikan tugas itu kepadanya. Kalau itu anugerah, maka apalagi yang boleh kita harapkan? Bukankah Tuhan telah menjanjikan kemuliaan yang lebih besar dari apapun yang diterima dari dunia ini? Memberitakan Injil merupakan anugerah dari Allah yang telah memanggil dan menyelamatkan orang-orang yang percaya kepada-Nya.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dan kajian biblika. Untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik, penulis melakukan tinjauan literatur yang diperoleh dari berbagai sumber baik cetak maupun elektronik. Sedangkan, kajian biblika
18 Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan: Petunjuk Mempelajari Dan Mengajarkan Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016).
(eksegesis) dengan pendekatan historis-kritis, diperlukan untuk memeroleh makna teks pemberitaan Injil dan Upah dalam 1 Korintus 9:1- 23.
Untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana implementasi konsep pemberitaan Injil dan upah ini dalam konteks pelayanan BNKP, penulis melakukan penelitian lapangan di wilayah pelayanan BNKP Resort 32-33; data dikumpulkan dengan pendekatan kualitatif19 melalui teknik wawancara semi-terstruktur.20 Sumber data atau informan (partisipan) berjumlah 13 orang, terdiri dari 7 orang pendeta jemaat, 2 orang pendeta resort (Praeses), dan 4 orang warga jemaat. Wawancara dilakukan secara tatap muka dan percakapan dengan telepon. Wawancara tatap muka maupun melalui telepon berlangsung selama dua minggu, dari tanggal 1-15 Mei 2021 dengan durasi waktu yang berbeda-beda. Seluruh data yang berhasil dikumpulkan dianalisis dengan model interaktif Miles & Huberman,21 analisis isi22 dan eksegesis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan responden penelitian, ditemukan bahwa dari sembilan orang pendeta [lihat metode] di wilayah pelayanan ini secara keseluruhan mengaku “pelayanan akan terganggu jika jemaat tidak mampu memenuhi tabel belanja pelayan sebagai hak yang harus mereka dapatkan dalam pelayanan.” Lebih dari setengah, yakni lima orang (55.55%) dari mereka, mengatakan bahwa
“meskipun keadaannya seperti itu, mereka tetap bisa melakukan pelayanan karena kehidupan keluarga mereka ditunjang oleh pekerjaan dari pasangan hidup (suami/istri) dengan catatan mereka mungkin tidak akan bertahan jika tidak ada tunjangan penghasilan dari pasangan mereka.” Empat orang (44.44%) pendeta lainnya berpendapat bahwa mereka tidak bisa memenuhi tuntutan jemaat untuk pelayanan oleh karena jemaat tidak mampu memenuhi hak yang harusnya mereka dapatkan dari pelayanan
19 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017).
20 H. Russell Bernard, Research Methods in Anthropology: Qualitative and Quantitative Approaches (Rowman & Littlefield Publishers, 2017).
21 Matthew B. Miles, A. Michael Huberman, and Johnny Saldaña, Qualitative Data Analysis: A Methods
mereka (pelayanan terbengkalai). Target pelayanan juga tidak terlihat dari percakapan dengan para pendeta, mereka hanya menyatakan bahwa pelayanan akan tetap dilakukan sebisa mungkin “yang penting kita melaksanakan tugas kita sebagai pemberita Injil, diterima atau tidak itu tergantung mereka (jemaat)”.
Selanjutnya, hasil wawancara dengan warga jemaat (berjumlah empat orang, lihat metode); dua orang di antaranya mengaku bahwa pelayanan yang dilakukan oleh pendeta jemaat mereka tidaklah efektif, “bagaimana mungkin pelayanan bisa efektif, mereka sendiri tidak tinggal di tengah-tengah jemaat”. Dua orang lainnya mengaku bila pelayanan pendeta mereka sangat menginspirasi oleh karena usaha mereka untuk tetap bertahan dalam segala situasi dan kondisi yang mereka alami di jemaat.
Temuan penelitian di atas menunjukkan bahwa sebagian besar pendeta di wiayah pelayanan BNKP Resort 32-33 memiliki kelemahan dalam unsur (aspek) kesetiaan, kesungguhan dan komitmen dalam mengambil tugas pelayanan. Respon atau sikap yang demikian, tentu saja dipengaruhi pola pikir, cara pandang, serta nilai-nilai yang dimiliki oleh mereka (pendeta) di wilayah itu. Panggilan yang benar masih dibingkai oleh konsep panggilan menurut masing-masing pendeta. Konsep panggilan yang benar mestinya membantu setiap pelayan memahami dan menerima segala situasi dan kondisi dalam dunia pelayanan yang dihadapi. Tantangan saat ini ialah bagaimana seorang pelayan hidup sejahtera di tengah jemaat tanpa menuntut hak-hak yang harus ia dapatkan, tetapi di sisi lain harus mampu memenuhi kebutuhan jemaat perihal pelayanan.
Bertolak dari kehidupan Paulus, ada dua alasan yang dapat dilihat dari sikapnya yang menolak bantuan dari jemaat, yakni pertama, ingatan akan tingkah laku para imam dan reputasi buruk yang mereka nikmati dalam pelayanan mereka, alasan kedua ialah karena kemerdekaan semata-mata Paulus.23 Jika dianalisis lebih jauh, tampak bahwa sikap Paulus Sourcebook, 3rd ed. (New York, NY: SAGE Publications, Inc., 2014), 31–33.
22 Klaus Krippendorff, Content Analysis: An Introduction to Its Methodology, 4th ed. (SAGE Publications, Inc., 2018).
23 Barclay, The Letters to the Corinthians: The New Daily Study Bible, 90.
ialah tidak akan melakukan apapun yang berpotensi mendiskreditkan Injil, tidak ada yang boleh menghalangi Injil. Hal ini tentu menjadi dilema juga, ia akan kesulitan bahkan tidak mampu melakukan pelayanan jika sedang berada dalam kondisi yang kurang baik oleh karena kesejahteraan keluarga tidak terjamin dari buah pelayanan yang dilakukan.
Ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan bagi pelayan untuk meninggalkan ladang pelayanan ketika hak mereka tidak dipenuhi, seperti kehidupan sehari-hari keluarga dan anak-anak. Seorang pelayan juga pasti akan memikirkan kebutuhan sehari-hari karena pelayan juga sama dengan manusia lain pada dasarnya; pelayan juga memikirkan masa depan anak-anak (bagi yang berkeluarga dan punya anak), mereka tentu tidak akan membiarkan anak-anak mereka hidup dalam kesengsaraan hanya karena tidak mampu memberikan kebutuhan sehari-hari anak. Pertanyaan kemudian adalah, apakah hal ini patut menjadi alasan untuk meninggalkan ladang pelayanan, tidak sungguh-sungguh melaksanakan tugas panggilan? Atau ada faktor lain – mengabaikan, spiritualitas dan integritas, kedisiplinan, krisis panggilan dan kekaburan tanggung jawab?24. Seorang pelayan yang betul-betul memahami dirinya dipanggil oleh Allah untuk menjadi hamba dan memandang itu adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepadanya, dapat dipastikan – segala kekuatiran akan kebutuhan dan kehidupan keluarga tidak akan menjadi penghalang untuk memberitakan Injil.
Paulus mengambil sikap tegas, “saya lebih baik mati daripada membiarkan siapapun menghalangi saya dari kemegahan ini,” tidak ada yang lebih penting bagi Paulus, bahkan hidupnya sendiri, daripada fakta bahwa ia menawarkan Injilnya secara cuma-cuma. Ini adalah pengorbanan Paulus, Paulus siap menghidupi dirinya sendiri melalui pekerjaan di samping pelayanan Injilnya.25 Paulus sepanjang perjalanan hidupnya memberitakan Injil juga memiliki pekerjaan lain selain menjadi penginjil.
Ia juga bekerja sebagai penjahit kemah/pembuat tenda untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
24 Otoriteit Dachi and Delipiter Lase, “Etos Kerja Pendeta BNKP,” SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan 13, no. 1 (May 6, 2020): 48–64, https://jurnal.sttsundermann.
ac.id/index.php/sundermann/article/view/34.
sehari-hari. Meskipun sebenarnya ia mempunyai hak untuk dibiayai oleh karena pekerjaannya sebagai pemberita Injil sebagaimana ia ungkap dalam 1 Korintus 9:13-14. Namun, Paulus berusaha menahan diri dan tidak mempergunakan haknya sebagai pemberita Injil.
Pernyataan ini bukan tanpa alasan, ia menyatakan karena hanya dengan cara demikian ia bisa memberikan teladannya sendiri.
Paulus membela posisinya tentang perlunya melunakkan kebebasan dengan perhatian akan kasih seraya ia mengemukkan kasusnya sendiri dalam ilustrasi. Dia menetapkan haknya sendiri atas hak-hak istimewa yang dimiliki orang lain, namun dia menolak untuk menggunakan salah satu dari hak-hak itu karena alasan-alasan berat yang berkaitan dengan keefektifan Injil dan harga dirinya sendiri dalam pelayanan Injilnya.26 Rasul Paulus menyatakan bahwa kebebasan Kristen dan hak setiap orang yang percaya harus dikendalikan oleh suatu hukum yang lebih tinggi yaitu hukum kasih.
Hal yang mungkin menjadi pertanyaan kita melihat sikap Paulus yang tidak mau mempergunakan haknya sebagai rasul di Korintus ialah, kenapa ia justru menerima bantuan (persembahan) dari jemaat Filipi dan sangat mengharapkan bantuan itu juga ketika ia berada di Efesus. Di Korintus, ia tidak mau menerima dan menggunakan haknya untuk dibiayai oleh jemaat, tetapi di tempat lain ia sangat mengharapkan bantuan jemaat untuk mendukung pelayanan pekabaran Injil. Hal ini pun bukan tanpa alasan, yakni bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu ada hal yang lebih tinggi dari menggunakan kebebasan dan hak sebagai seorang Kristen, yaitu kasih. Paulus menuturkan bahwa upahnya sebagai pemberita Injil ialah ketika ia diberikan kesempatan untuk memberitakan Injil itu (1 Korinstus 9:18). Ia menegaskan bahwa sangat celaka jika ia tidak memberitakan Injil sebab menjadi pemberita Injil bukan pilihannya, tetapi Tuhan telah memanggil dia dan memberikannya tanggung jawab besar untuk memberitakan Injil. Oleh karena itu, segala sesuatu yang menghambat pemberitaan Injil
25 Ciampa and Rosner, The First Letter to the Corinthians, 415–416.
26 Orr and Walther, The Anchor Bible: 1 Corinthians - With a Study of the Life of Paul, Notes, and Commentary, 240.
akan ia lepas demi kemajuan Injil bagi semua orang. Ini menjadi dasar dan panggilan Paulus untuk tetap bertahan dalam memberitakan Injil.
Berdasarkan temuan penelitian di atas, penulis melihat bahwa pendeta-pendeta di wilayah penelitian belum mampu membangun konsep seperti yang dipahami Paulus dalam pelayanannya. Seseorang menjadi pelayan pasti memiliki beragam alasan, entah itu karna perjanjian (nazar), desakan orang tua, pelarian, ataupun karena mimpi-mimpi termasuk alasan sosial-ekonomi. Meskipun demikian, semua hal ini harusnya dilihat dari bingkai anugerah Allah bagi setiap yang ia panggil untuk menjadi pewarta Injil. Hal ini penting agar motivasi untuk memberitakan Injil tidak melenceng dari yang seharusnya.
Untuk memberitakan Injil, dia bisa menerima bayaran, tetapi kemudian dia tidak akan mendapat imbalan lagi karena bayaran itu akan mengkompensasi apa yang harus ia lakukan. Jika dia menerima upah, dia hanya akan melakukan tugasnya sebagai pejabat yang dipekerjakan dalam pengelolaan Injil yang dipercayakan dengan penatalayanan. Orang- orang yang menuntut haknya, ia menyiratkan, mungkin terlalu bersemangat dan tidak memiliki kesiapan tertentu untuk mempraktikan perintah cinta.27
Dengan tidak menerima dukungan, Paulus tidak menuntut haknya. Praktik Paulus sederhana, meskipun sangat tidak lazim tanpa pamrih, begitu berpusat pada Tuhan, dan begitu banyak demi orang lain sehingga kita kesulitan memahami jalan pikirannya. Di atas segalanya, Paulus bertujuan untuk menyumbangkan sesuatu bagi pencapaian misi yang Tuhan berikan kepadanya. Hadiah Paulus ialah dengan tidak menerima upah, Paulus berkhotbah karena dia ditugaskan untuk melakukannya dan dengan tidak mengambil haknya dia menyerahkan haknya sendiri sebagai persembahan kepada Tuhan, Paulus memberikan persembahan khotbahnya kepada Tuhan, dan dengan melakukan itu dia menunjukkan kebebasan- nya.28
Memutuskan menjadi pelayan tentu bukan perihal yang mudah, seseorang akan melewati berbagai macam proses dan dibentuk untuk memiliki kehidupan pelayan yang murni dan
27 Ibid., 242.
benar. Dalam rangkaian proses pembentukan tersebut, seseorang pasti sudah akan mereka- reka akan apa yang dihadapi ke depan, entah itu kondisi baik ataupun buruk. Artinya bahwa seseorang yang memutuskan untuk menjadi pelayan sebenarnya mempunyai banyak waktu untuk benar-benar menyelelidiki dirinya sendiri, apakah dirinya layak dan sanggup menerima dan memenuhi tuntutan anugerah sebagai pemberita Injil. Dari segi teologis, barangkali kesiapan untuk menjadi pelayan tentu tidak terlalu menjadi tantangan oleh karena Tuhan yang memanggil dan menganugerahkan pekerjaan ini sudah pasti akan menyelesaikan pekerjaan ini juga dengan baik. Artinya bahwa penyertaan Tuhan pasti akan selalu bersama dengan orang-orang yang benar-benar memberi dirinya untuk dipakai Tuhan. Hanya saja, terkadang tubuh yang fana ini menciptakan keinginan-keinginan yang mampu meluluhkan komitmen seorang pelayan untuk setia dan tulus dalam pelayanan.
Hal yang sama juga dialami oleh Paulus, itu sebabnya ia menyatakan bahwa suatu celaka bagi dirinya jika ia tidak memberitakan Injil, sebab ini bukan pekerjaan yang dipilihnya, melainkan pekerjaan ini diselenggarakan kepadanya oleh Tuhan. Bagi dirinya, Tuhan yang telah memberi kesempatan untuk memberitakan Injil dianggap sebagai upah yang susungguhnya dalam pelayanan. Ketika ia tidak mampu membuahkan hasil yang baik, ia belum menerima upah tersebut. Menganggap pelayanan sebagai anugerah memang tidak mudah, tetapi itu harus dibangun dan dibentuk dalam paradigma pelayanan para pendeta, agar tidak memiliki motivasi yang salah dalam pelayanan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para pelayan berdasarkan hasil kajian penulis dari sikap Paulus dengan kehidupan pelayanannya, yakni:
Pertama, Pendeta-pendeta harus dibina dan dibentuk sejak berada di bangku perkuliahan.
Mereka harus dipersiapkan secara hati-hati untuk membangun kesiapan mental dalam menghadapi situasi-situasi sulit dan mengasah ketajaman hati dalam melayani. Hal ini untuk menanamkan prinsip melayani yang tulus
28 Soards, 1 Corinthians: Understanding the Bible Commentary Series, 187.
seperti merpati dan cerdik seperti ular sebagaimana Yesus juga mengutus murid- murid-Nya dulu. Mereka harus benar-benar dipersiapkan untuk mampu bertahan di ladang pelayanan bersama Tuhan dan melewati masa- masa sukar juga bersama dengan Tuhan.
Kedua, Pendeta harus melihat pelayanan sebagai panggilan Allah dalam dirinya. Hal ini juga tertuang dalam peraturan BNKP yakni bahwa pendeta adalah seorang yang oleh anugerah Allah dipanggil dan diutus secara khusus dengan menyerahkan diri hidup sepenuhnya untuk menjadi hamba Tuhan yang berspiritualitas dan berintegritas. Panggilan ini harus dipelihara dengan baik oleh pendeta. Hal yang sama juga diperlihatkan oleh rasul Paulus.
Ia menegaskan bahwa kerasulannya itu bukan karena dia layak tetapi karena Tuhan telah memanggil dirinya, ia diberi tanggung jawab untuk memberitakan Injil. Oleh karena hal tersebut, Paulus merasa celaka jika ia tidak menuntaskan tanggung jawabnya sebagai pemberita Injil sebab Tuhan telah memberi tanggung jawab bagi dirinya. Konsep yang seperti ini juga harusnya dimiliki oleh pendeta- pendeta sehingga mereka lebih mengutamakan pelayanan daripada hal-hal lain.
Ketiga, sepanjang perjalanan rasul Paulus memberitakan Injil, ia tidak menjadi sosok yang tamak akan kekayaan atau hal-hal yang material.
Ia justru kadang harus merasakan lapar, sakit, dan semacamnya. Ia berusaha sebisa mungkin menghindari hal-hal yang dapat mengganggu pemberitaan Injil meskipun ia harus mengorbankan dirinya sendiri. Hal yang sama juga harusnya ditekankan oleh pendeta-pendeta dalam pelayanan yang mereka ambil. Rasul Paulus tidak mengatakan untuk tidak menerima upah, sebab itu adalah hak pelayan menurut Paulus akan tetapi itu tidak boleh menjadi alasan dan tujuan untuk melaksanakan pelayanan.
Paulus memberikan contoh dirinya sendiri bagaimana ia merelakan hal-hal tertentu termasuk haknya demi Injil. Jika itu mengganggu pemberitaan Injil, maka lebih tidak memaksakan hal tersebut demi kemajuan Injil.
Keempat, Pendeta di tengah jemaat harus membangun konsep dirinya seperti seorang pelatih lomba/olahraga. Bagi seorang pelatih, kemenangan yang didapatkan tim lebih berharga daripada upah yang ia dapatkan. Seorang pelatih akan sangat bersukacita jika tim yang ia latih
mampu memenangkan pertandingan sebab, ini merupakan syarat mutlak, ia boleh dikatakan sebagai pelatih yang berhasil. Sama halnya dengan pelatih, seorang pendeta juga harus mengubah haluan pemikiran mengikuti prinsip seorang pelatih. Sukacita terbesar seorang pendeta seharusnya ialah ketika ia mampu memenangkan jiwa-jiwa jemaat bukan upah yang besar dari jemaat.
Kelima, Pendeta melakukan pelayanan dengan rasa syukur tanpa mengharapkan apa- apa dari pelayanan kecuali buah yang baik dari pelayanannya terhadap jemaat yang ia layani.
Artinya ialah motivasi melayani bukan karena akan ada sesuatu yang kita terima tetapi karena itu memang sudah menjadi tanggung jawab kita.
Menerima imbalan atau tidak dari pelayanan tersebut tidak perlu menjadi penghalang sebab Tuhan sudah mengatur berkat untuk setiap orang yang takut akan dia. Rasul Paulus juga menerapkan hal ini dalam pelayanannya, ia menyadari bahwa akan ada berkat dari Tuhan yang lebih besar dibanding apa yang diterima di dunia ini.
Keenam, Pendeta harus mampu membangun kehidupan jemaat dalam berbagai aspek – sosial-ekonomi-spiritual, dan semacam- nya. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan jika tidak ada kerja sama dengan sesama pelayan dan warga jemaat. Ini berarti pendeta mempunyai tanggung jawab besar untuk merangkul jemaat sehingga segala sesuatu yang direncanakan akan lebih mudah untuk dilaksanakan.
Ketujuh, Pendeta harus memberikan perbedaan konsep tentang kapasitasnya sebagai pelayan bukan pekerja. Ada perbedaan yang sangat signifikan dari kedua hal ini. Seorang pendeta melayani dengan kapasitasnya sebagai pelayan/hamba bukan pekerja, ini berarti persoalan-persoalan yang dihadapi tidak perlu membuat dirinya menjadi mundur dan tidak peduli dengan pelayanan. Seorang pekerja bekerja dengan motivasi untuk mencari nafkah, sedangkan seorang pelayan melayani oleh karena Tuhan yang telah mengutusnya. Pekerja melakukan pekerjaannya sesuai dengan upah yang akan ia dapatkan dari si pemberi pekerjaan, sedangkan pelayan tidak boleh mengukur pelayanannya berdasarkan apa yang akan ia dapatkan nantinya. Hal yang sama diberlakukan bagi dirinya oleh Paulus. Ia melayani sebagai
hamba bukan sebagai pekerja, dengan demikian Injil menjadi hal yang lebih utama bagi dirinya.
Kedelapan, Pendeta harus memperlengkapi diri bukan hanya dari segi pemberitaan firman saja, tetapi dari semua aspek yang mencakup kehidupan jemaat. Hal ini sangat berguna, sebab pendeta tidak hanya hadir untuk memelihara kehidupan rohani saja, melainkan kehidupan sosial dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kesejahteraan warga jemaat. Dengan cara demikian, seorang pendeta akan lebih siap sedia menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan yang akan dialami oleh jemaat, entah itu masalah ekonomi maupun kehidupan sosial.
KONKLUSI
Temuan penelitian menunjukkan bahwa masih ada pendeta-pendeta di BNKP yang tidak benar-benar memahami dan menghidupi panggilannya sebagai pemberita Injil di tengah- tengah jemaat. Akibatnya, kehidupan iman jemaat boleh dikatakan tidak terpelihara dengan baik karena pendeta tidak berada di tengah- tengah jemaat, bahkan pergumulan lain jemaat seperti masalah sosial termasuk ekonomi tidak mampu diselesaikan bersama. Gereja seharusnya hadir untuk memelihara iman dan kehidupan jemaat dalam berbagai segi kehidupan.
Makna perkataan Paulus yang menyatakan
“upahku ialah memberitakan Injil tanpa upah”
bukan merupakan pernyataan yang ingin menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak membutuhkan upah dari pelayanan yang ia lakukan. Pernyataan ini ia ungkapkan sebab ia sadar bahwa justru kesempatan untuk memberitakan Injil merupakan anugerah sekaligus upah bagi dirinya sebab Tuhan telah menganugerahkan keselamatan bagi dirinya. Ia menegaskan bahwa sebuah celaka bagi dirinya jika sampai ia tidak memberitakan Injil, sehingga ia rela mengorbankan hak-haknya termasuk upah dari pelayanan yang ia lakukan demi kemajuan Injil. Paulus melihat bahwa upahnya ialah ketika berhasil memenangkan orang-orang di dalam Yesus. Bagi dirinya, jika hal itu mempengaruhi kemajuan Injil, maka lebih baik merelakan hal tersebut sebab yang terpenting bagi dirinya ialah tanggung jawab yang telah diberikan Tuhan untuk memberitakan Injil.
Hal ini tentu harus disadari oleh para pendeta yang berada di tengah-tengah jemaat.
Layaknya sikap Paulus yang tidak memaksakan hak-haknya demi kemajuan Injil, maka sudah sepatutnya juga para pendeta mengutamakan dan memrioritaskan pemberitaan Injil. Allah yang memanggil para pendeta untuk melayani jemaat, maka sudah sepatutnya Injil menjadi prioritas para pendeta.
Pendeta hadir untuk melayani jemaat, mereka harus mampu menjawab pergumulan jemaat sepanjang perjalanan kehidupan dengan tetap mengandalkan dan mengedepankan firman Tuhan. Ada begitu banyak pergumulan jemaat dalam menjalani kehidupan, maka sudah seharusnya pendeta hadir sebagai gembala yang menggembalakan kehidupan umat-Nya. Bahwa pendeta juga memikirkan kehidupan keluarga- nya, adalah benar, akan tetapi jaminan bagi yang setia kepada Tuhan akan mendapatkan kesejahteraan. Hal ini tidak bermaksud menge- sampingkan keluarga, melainkan pendapatan, keuangan tidak perlu menjadi tujuan dalam pelayanan, dan menjadi alasan untuk tidak memberitakan Injil sebagaimana mestinya.
Sikap Paulus inilah diteladani oleh pendeta- pendeta yang berada di tengah-tengah jemaat dalam memberitakan Injil. Para pendeta diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan jemaat-jemaat dimana ia ditempatkan dan mampu memberitakan Injil sebagaimana seharusnya. Tidak ada alasan untuk tidak memberitakan Injil, dan tidak ada alasan untuk membuat mundur dalam pelayanan. Tempat dimana pelayan ditempatkan, Tuhan telah mengetahui sebelumnya, dan Ia yang akan menolong kita selagi berserah diri kepada-Nya dan berjalan di jalan yang benar. Kesetiaan Paulus dalam melayani pasti mampu diteladani oleh pelayan atau pendeta, asal mau berbenah dan dibentuk oleh Tuhan, pasti dapat terwujud.
Mewujudkan pelayanan yang efektif dan berkualitas tentu sudah harus menjadi prioritas dalam kehidupan pendeta. Ada hal-hal yang harus dikorbankan mewujudkannya, tetapi kesetiaan dalam pelayanan tentu akan menjadi kepuasan tersendiri dan Tuhan tentu akan selalu menyertai umat dan pelayan yang senantiasa menyerahkan dirinya dalam pimpinan Tuhan.
REFERENSI
Barclay, William. The Letters to the Corinthians: The New Daily Study Bible. 3rd ed. Westminster John Knox Press, n.d.
Bernard, H. Russell. Research Methods in Anthropology: Qualitative and Quantitative Approaches. Rowman & Littlefield Publishers, 2017.
BNKP, BPHMS. Peraturan Banua Niha Keriso Protestan Nomor 23/BPMS-BNKP/2019 Tentang Kode Etik Pendeta. Gunungsitoli: Sekretariat Kantor Sinode BNKP, 2019.
Brill, J. Wesley. Tafsiran Surat Korintus Pertama.
Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003.
Ciampa, Roy E., and Brian S. Rosner. The First Letter to the Corinthians. Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing, 2010.
Dachi, Otoriteit, and Delipiter Lase. “Etos Kerja Pendeta BNKP.” SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan 13, no. 1 (May 6, 2020): 48–64.
https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.ph p/sundermann/article/view/34.
Douglas, J. D. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini. Edited by N Hillyer. 7th ed. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2002.
Ellingworth, Paul, Howard Hatton, M. K.
Sembiring, and Et Al. Pedoman Penafsiran Alkitab: Surat Paulus Yang Pertama Kepada Jemaat Di Korintus. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2010.
Flewelling, William. The First Letter of Paul to the Corinthians: A Bible Study. Bloomington:
AuthorHouse, 2017.
Kittel, Gerhard, and Gerhard Friedrich. Theological Dictionary of the New Testament. W. B.
Eerdmans, 2006.
Krippendorff, Klaus. Content Analysis: An Introduction to Its Methodology. 4th ed. SAGE Publications, Inc., 2018.
Miles, Matthew B., A. Michael Huberman, and Johnny Saldaña. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. 3rd ed. New York, NY:
SAGE Publications, Inc., 2014.
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017.
Orr, William F., and James Arthur Walther. The Anchor Bible: 1 Corinthians - With a Study of the Life of Paul, Notes, and Commentary. Garden City: Doubleday and Company, 1979.
Pfitzner, V. C., and Stephen Suleeman. Kesatuan Dalam Kepelbagaian: Tafsiran Atas Surat 1 Korintus. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.
Soards, Marion L. 1 Corinthians: Understanding the Bible Commentary Series. Baker Publishing Group, 2011.
Vang, Preben. 1 Corinthians: Teach the Text Commentary Series. Edited by Mark Strauss and John Walton. Michigan: Baker Publishing Group, 2014.
Wahono, Wismoady. Di Sini Kutemukan: Petunjuk Mempelajari Dan Mengajarkan Alkitab. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2016.