• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Puyuh (Coturnix coturnix japonica) Sumber : Harianto (2008)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Puyuh (Coturnix coturnix japonica) Sumber : Harianto (2008)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

3 TINJAUAN PUSTAKA

Puyuh (Coturnix coturnix japonica) Karakteristik Puyuh

Puyuh merupakan jenis unggas yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Jenis puyuh yang biasa diternakkan adalah berasal dari jenis Coturnix-coturnix japonica. Adapun klasifikasi zoologi puyuh menurut Radiopoetro (1996) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Sub phylum : Vertebrata Class : Aves

Famili : Phasianidae Sub famili : Phasianidae Genus : Coturnix

Species : Coturnix coturnix japonica

Gambar 1. Puyuh (Coturnix coturnix japonica)

Sumber : Harianto (2008)

Puyuh mampu menghasilkan telur sebanyak 250-300 butir/tahun. Puyuh jantan dewasa bobot badannya sekitar 100-140 gram, sedangkan yang betina sedikit lebih berat yaitu antara 120-160 gram. Puyuh betina akan mulai bertelur pada umur 35-42 hari (Anggorodi, 1995).

Manfaat Ternak Puyuh

Puyuh dapat diambil manfaatnya seperti telur, daging dan kotorannya. Telur merupakan suatu kesatuan dari 4 komponen utama yaitu kuning telur, putih telur, membran kulit telur dan kulit telur (Robert, 2004). Menurut Anggorodi (1995),

(2)

4 komposisi sebutir telur terdiri atas 31% kuning telur, 59% putih telur dan 10%

kerabang telur. Telur puyuh mempunyai nilai kandungan gizi yang tinggi, tidak kalah dengan telur unggas lainnya (Tabel 1). Stadelman dan Cotterill (1995) menyatakan bahwa kuning telur mengandung 15,7%-16,6% protein, 31,8%-35,5% lemak, 0,2%- 1,0% karbohidrat dan 1,1% abu. Telur puyuh mengandung vitamin A sebesar 543 µg (per 100 g).

Tabel 1. Perbedaan Susunan Nutrien dari Berbagai Telur Unggas (g/100 gram) Jenis Unggas Protein Lemak Karbohidrat Abu

Ayam Ras 12,7 11,3 0,9 1,0

Ayam Buras 13,4 10,3 0,9 1,0

Itik 13,3 14,5 0,7 1,1

Angsa 13,9 13,3 1,5 1,1

Merpati 13,8 12,0 0,8 0,9

Kalkun 13,1 11,8 1,7 0,8

Puyuh 13,1 11,1 1,0 1,1

Sumber : Listiyowati dan Roospitasari (2000)

Daging puyuh mengandung 21,10% protein, sedangkan kadar lemaknya rendah 7,70% (Tabel 2) (Listiyowati dan Roospitasari, 2000).

Tabel 2. Kandungan Nutrien dalam Daging Mentah Puyuh dan Ayam Zat Makanan Puyuh1 (per 100 g) Ayam2 (per 100 g)

Air (g) 70,50 76,133

Lemak (g) 7,70 25,00

Protein (g) 21,10 18,20

Abu (g) 1,00 -

Kalsium (mg) 129,00 14,00

Fosfor (g) 189,00 200

Besi (g) 1,50 1,50

Thiamin (mg) 0,05 0,08

Riboflavin (mg) 0,27 -

Niasin (mg) 5,20 -

Vitamin A (RE) 327,20 162,00

Sumber : 1). Listiyowati dan Roospitasari (2000) 2). Departemen Kesehatan R.I. (1996) 3). Ovianto (2008)

(3)

5 Kebutuhan Nutrien Puyuh

Kebutuhan nutrien puyuh petelur pemula sama dengan pakan ayam ras pedaging berumur 1 minggu sampai 4 minggu. Pakan puyuh petelur dara adalah pakan puyuh petelur umur 21 hari (3 minggu) sampai dengan 42 hari (7 minggu) (Listiyowati dan Roospitasari, 2000). Kebutuhan nutrien puyuh secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Kebutuhan Nutrien Puyuh Fase Grower dan Layer

No. Kebutuhan Nutrien Grower a Layer b

1. Kadar air maksimum (%) 14,00 14,00

2. Abu maksimum (%) 8,00 14,00

3. Protein kasar minimum (%) 17,00 17,00

4. Lemak kasar maksimum (%) 7,00 7,00

5. Serat kasar maksimum (%) 7,00 7,00

6. Energi metabolis minimum (kkal/kg) 2600 2700

7. Lysin minimum (%) 0,80 0,90

8. Methionine minimum (%) 0,35 0,40

9. Methionine + Sistin minimum (%) 0,50 0,60

10. Ca (%) 0,90-1,20 2,50-3,50

11. P Total (%) 0,60-1,00 0,60-1,00

12. P Tersedia minimum (%) 0,40 0,40

Sumber : SNI (2006a; 2006b)

Jumlah ransum yang diberikan kepada puyuh harus diperhatikan. Namun, jumlah ransum harus diberikan dalam jumlah yang mencukupi dan tersedia terus- menerus (ad libitum). Anggorodi (1995) menyatakan bahwa puyuh jepang layer makan 14-18 gram per ekor per hari. Kebutuhan ransum puyuh dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Jumlah Ransum yang Diberikan Menurut Umur Puyuh

Umur Puyuh Jumlah Ransum yang diberikan

(gram/ekor/hari)

1 hari – 1 minggu 2

1 minggu – 2 minggu 4

2 minggu – 3 minggu 8

3 minggu – 4 minggu 10

4 minggu – 5 minggu 12-15

Diatas 5 minggu >15

Sumber : Sritharet (2002)

(4)

6 Vitamin A

Vitamin A adalah zat-zat organik komplek yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang relatif kecil dan keberadaan vitamin tidak dapat disintesis oleh tubuh.

Oleh karena itu, untuk mendapatkan jumlah vitamin yang cukup harus diperoleh dari asupan makanan (Almatsier, 2001). Vitamin A yang ada di alam terdapat dalam dua jenis, yaitu preformed vitamin A dan karoten (provitamin A). Karoten merupakan sebagian besar sumber vitamin A yang terdapat dalam bahan-bahan nabati. Karoten yang banyak diketahui adalah α, β dan γ karoten. Karoten yang paling penting untuk hewan dan manusia adalah beta karoten, karena mempunyai aktivitas provitamin A yang terbesar (Yuliani dan Marwati, 1997). Vitamin A memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga kesehatan mata, pertumbuhan tulang, kesehatan reproduksi, pembelahan dan diferensiasi sel (proses perkembangan dimana suatu sel akan berkembang menjadi jaringan tertentu pada tahap perkembangan embrio) dan sistem kekebalan tubuh (Magnuson, 2002; Gropper et al., 2009).

Piliang (1995) menyatakan bahwa vitamin A dibutuhkan oleh semua hewan termasuk unggas. Unggas sangat cepat terpengaruh akibat defisiensi vitamin A.

Hilangnya nafsu makan dan menurunnya pertumbuhan merupakan tanda-tanda awal yang disertai kelemahan, jalan tidak seimbang serta pertumbuhan bulu-bulu halus yang tidak sempurna. Defisiensi yang bersifat kronis pada unggas dewasa dikenal dengan nama nutritional roup yaitu keluarnya cairan kental dari mata dan saluran pernafasan (Piliang, 1992). Kelebihan vitamin A dalam tubuh disimpan dalam hati, yaitu dalam bentuk butir-butir lemak yang berisi campuran rantai-rantai ester retinil, retinil stearat dan retinil oleat. Lebih jauh dinyatakan pula bahwa, vitamin A di dalam hati terdapat dalam bentuk retinol, tetapi dalam darah retinol terikat pada protein spesifik yang disebut Retinol Binding Protein (RBP), namun apabila tetap berlebih maka akan menyebabkan hipervitaminosis (Piliang, 1995). Tanda-tanda keracunan vitamin A yaitu pembengkakan hati dan limpa, kerusakan sel-sel hati dan alopecia (bulu rontok) (Piliang, 1992).

Vitamin A dalam tubuh hewan pada kondisi normal dominan disimpan dalam hati dan sedikit disimpan dalam ginjal dan kelenjar adrenal (Piliang, 1995). Di dalam tubuh, karoten yang berasal dari makanan mengalami proses absorpsi dan metabolisme, seperti yang ditunjukan Gambar 2.

(5)

7 Karoten Sel Mukosa Usus

Empedu

Misela Diserap Tidak diserap

Chylomicron (Limpa Darah) Hati Jaringan Target

Gambar 2. Absorpsi Karoten di dalam Tubuh

Sumber : Gropper et al. (2009)

Karoten dalam bentuk β-karoten yang berasal dari makanan diserap di mukosa usus halus dengan bantuan asam empedu (pembentukan micelle). Sebagian β-karoten yang diserap di dalam mukosa usus diubah menjadi bentuk retinol (Vitamin A alkohol). Retinol dengan bantuan asam lemak dirubah menjadi bentuk retinil ester (Vitamin A ester) yang selanjutnya bergabung dengan kilomikron.

Kilomikron diserap melalui saluran limpatik dan bergabung dengan darah yang kemudian ditransportasikan ke hati selanjutnya diedarkan ke jaringan target lainnya seperti daging dan komponen telur (Gropper et al., 2009).

Katuk (Sauropus androgynus) Taksonomi

Tanaman katuk (Sauropus androgynus) banyak ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Banyak tumbuh di dataran rendah sampai dengan ketinggian 2100 m di atas permukaan air laut (Sudiarto et al., 2002). Menurut Sukendar (1997), klasifikasi dari tanaman katuk yaitu :

Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiosperma

Kelas : Monocolamydeae (Apetalae) Ordo : Euphorbiales

Famili : Euphorbiaceae Genus : Sauropus

Spesies : S. Androgynus (L) Merr.

Beta karoten Retinal Retinol

Asam Lemak

(6)

8 Gambar 3. Daun Katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.)

Sumber : Brooks (2008)

Tanaman katuk atau Sauropus androgynus (L.) Merr. merupakan tanaman yang dapat mencapai tinggi 2-3 m, family Euphorbiaceae (Puspaningtyas et al., 1997). Tanaman katuk ini biasa dikenal dengan nama katuk (Sunda, Melayu), babing atau katukan (Jawa), simani (Minangkabau) dan kerakur (Madura) (Departemen Kesehatan RI, 1998). Menurut Sukendar (2007), ciri fisik tanaman katuk yaitu daun tunggal, jumlah daun per cabang umumnya berkisar 11-21 helai, bentuk dan ukuran daun bervariasi. Tanaman ini banyak ditanam di kebun, ladang atau pekarangan dan digunakan sebagai tanaman pagar.

Potensi Katuk

Katuk merupakan jenis tanaman tahunan yang setiap saat dapat dipetik, tidak tergantung pada musim dan dapat dipanen lebih dari sepuluh kali selama bertahun- tahun. Tanaman ini mudah ditanam, tahan gulma dan menghasilkan daun yang banyak dalam waktu yang relatif singkat (Yuliani dan Marwati, 1997). Tanaman katuk pada pemanenan pertama biasanya diperoleh hasil sebesar 4 juta ton/ha dan selanjutnya pada tahun pertama dapat mencapai 21-30 ton/ha setelah 6-7 kali panen (Sudiarto et al., 1997).

Setyowati (1997) melaporkan hasil pencatatan distribusi geografis yang ada di Balitbang Botani. Penyebaran daun katuk di Indonesia bisa dijumpai di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Kepulauan Sunda dan Maluku. Penyebaran katuk di Jawa tersebar di Bayuwangi, Pekalongan, Surakarta, Bogor, Situbondo, Malang, Jepara, Kepulauan Kangean, Tulungagung, Madiun, P. Bawean dan Madura.

(7)

9 Komposisi Nutrien dan Zat Aktif

Daun katuk merupakan sumber provitamin A, vitamin C, protein, kalsium, besi dan magnesium yang sangat baik (Rubatzky et al., 1999). Komposisi nutrien daun katuk disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Komposisi Nutrien Tepung Daun Katuk

Komponen Hasil Analisis Proksimat

Kadar Air (%) 8,12

Bahan Kering (%) 91,88

Abu (%)* 7,76

Protein (%) 28,68

Lemak (%) 4,2

Serat Kasar (%) 12,02

Beta-N (%)* 22,51

Kalsium (%) 1,65

Fosfor (%) 0,29

Energi Bruto (kal/g) 3.552,65

Sumber : Subekti (2003)

* Hasil Analisis Proksimat (Septyana, 2008)

Daun katuk memiliki kandungan zat gizi yang tinggi dan berfungsi sebagai antibakteri. Daun katuk juga mengandung beta karoten yang berfungsi sebagai zat aktif warna karkas. Hulshoft et al. (1997) melaporkan bahwa kandungan provitamin A daun katuk paling tinggi dibanding sayuran lain di Indonesia. Senyawa fitokimia yang terkandung di dalamnya adalah saponin, flavonoid, alkaloid dan tanin (Malik, 1997).

Piliang et al. (2001) melaporkan bahwa penggunaan tepung daun katuk lebih murah dibandingkan daun katuk dalam bentuk serbuk ekstraksi kering karena pengolahannya memerlukan biaya ekstraksi yang mahal dan waktu yang lama.

Penggunaan Daun Katuk dalam Ransum Unggas

Daun katuk dalam ransum unggas mampu memperbaiki kualitas produk yang dihasilkan. Menurut Aisjah (2004), pemanfaatan hijauan dari family Euphorbiaceae dalam ransum unggas dapat diberikan sebesar 10%-15%. Pemberian tepung katuk sampai taraf 9% dalam ransum ayam petelur menurut Piliang et al. (2003), mampu meningkatkan lutein, retinol, α-tocopherol dan γ-tocopherol dalam telur, hati dan karkas. Penelitian Subekti (2003) pada ayam lokal menunjukan bahwa pemberian

(8)

10 tepung daun katuk hingga 9% dalam ransum mampu meningkatkan kualitas telur dan karkas dengan terjadinya peningkatan vitamin A. Saragih (2005) melaporkan bahwa penambahan tepung daun katuk sebesar 15% pada ransum ayam petelur dapat meningkatkan kualitas telur, konsentrasi karoten dan vitamin A dalam telur.

Pemberian tepung daun katuk hingga 10% dapat meningkatkan konsumsi ransum ayam petelur (Ibrahim, 2004). Penggunaan tepung daun katuk 15% dalam ransum puyuh menurunkan konsumsi ransum, bobot telur dan produksi telur hen day, namun terjadi peningkatan pada pertambahan bobot badan puyuh. Selain itu puyuh yang diberi ransum yang mengandung tepung daun katuk menghasilkan konversi ransum yang rendah (Wiradimaja, 2007).

Murbei (Morus sp.) Taksonomi

Tanaman murbei (Morus sp.) merupakan bagian dari ordo urticalis, family Moraceae dan Genus Morus (Martin et al., 2002). Klasifikasi tanaman murbei (Morus sp.) menurut (Martin et al., 2002) adalah

Divisi : Spermatophyta Sub-divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Urticalis Famili : Moreceae Genus : Morus Spesies : Morus sp

Gambar 4. Daun murbei (Morus sp.)

Sumber : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (2005)

(9)

11 Tanaman murbei berbentuk semak (perdu) yang tingginya sekitar 5-6 m, dapat juga berbentuk pohon yang tingginya dapat mencapai 20-25 m. Beberapa nama umum dari tanaman ini antara lain: White mulberry, Russian mulberry, Silkworm mulberry, Moral blanco, karta, kitau (Sumatra), murbai, besaran (Jawa), Sangye (China), may mon, dau tam (Vietnam). Murbei pada dasarnya mempunyai bunga kelamin tunggal, meskipun kadang-kadang juga berkelamin rangkap (Atmosoedarjo et al., 2000). Tanaman murbei mempunyai kulit batang abu-abu, percabangan banyak dan yang muda berbulu halus. Daun murbei berbentuk bundar telur-lonjong, berselang-seling, mudah gugur, pangkal berbentuk jantung, permukaan daunnya gundul atau berbulu pada tulang daun dan tepi bergerigi (Sutarno dan Atmowidjojo, 2000).

Tanaman murbei mempunyai potensi sebagai bahan pakan yang berkualitas karena potensi produksi, kandungan nutrien dan daya adaptasi tumbuhnya yang baik.

Tanaman ini dapat tumbuh pada lokasi dengan variasi suhu, pH tanah dan ketinggian dari permukaan laut yang sangat besar (Singh dan Makkar, 2002). Curah hujan yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman murbei antara 635-2500 mm per tahun dengan suhu optimal antara 23,9 oC dan 26,6 oC, tetapi umumnya tanaman murbei dapat tumbuh baik dengan suhu minimum 13 oC dan suhu maksimum 38 oC.

Produksi daun murbei sangat bervariasi, tergantung pada varietas, lahan, ketersediaan air dan pemupukan. Tanaman murbei dapat berproduksi dengan baik sampai berumur 15 tahun. Boschini (2002) melaporkan bahwa produksi daun murbei sebesar 19 ton BK/ha/tahun. Menurut Martin et al. (2002), produksi biomassa murbei dengan interval defoliasi 90 hari akan mencapai 25 ton BK/ha/tahun.

Komposisi Nutrien dan Zat Aktif

Menurut Prawerti (1995), di Indonesia dikenal beberapa spesies murbei yang potensial untuk pakan ulat sutera atau sumber bahan baku pakan ayam, antara lain Morus cathayana A,. Morus multicaulis P,. Morus nigra L,. Morus australis P,. dan Morus alba L,. Diantara semua jenis tersebut Morus alba merupakan jenis murbei yang banyak digunakan karena kandungan nutrisinya yang baik (Tabel 6). Daun murbei dapat digunakan sebagai pakan hewan herbivora, monogastrik dan sebagai bahan dasar obat-obatan.

(10)

12 Tabel 6. Perbandingan Komposisi Nutrien Daun Murbei Muda dan Tua

Jenis Daun Kadar Air (%)

PK (%)

LK (%)

SK (%)

BETN (%)

Abu (%)

Energi (Kal/g) Morus alba

Daun muda 69,89 22,59 4,10 10,21 53,26 9,83 4.522 Daun tua 69,50 22,10 6,09 10,57 46,81 14,43 4.241 Morus

cathayana

Daun muda 73,69 19,09 3,71 8,45 59,53 9,22 4.408 Daun tua 70,78 16,39 5,46 16,80 47,61 14,08 4.248 Morus

multicaulis

Daun muda 74,64 21,99 3,70 12,56 51,85 9,9 4.519 Daun tua 75,13 19,66 5,09 16,86 44,32 14,05 3.541

Sumber : Ekastuti (1996)

Ket : PK = Protein kasar, LK = Lemak Kasar, SK = Serat Kasar, BETN = Bahan Ekstrak Tanpa N. kecuali kadar air semua variable dinyatakan dalam bahan kering

Komposisi nutrien daun murbei adalah protein (15%-35%), kalsium (2,42%- 4,71%), fosfor (0,23%-0,97%) dan energi metabolis (1.130-2.240 kkal/kg) (Omar et al., 1999; Sanchez, 2000; Saddul et al., 2004; Srivastava et al., 2006). Machii et al.

(2000) menyatakan bahwa kandungan protein kasar daun murbei sebesar 20,4%

merupakan salah satu indikator bahwa daun murbei memiliki kualitas yang baik sebagai bahan pakan. Kandungan tanin daun murbei sebesar 0,85% (Datta et al.

2002). Penambahan tepung daun murbei pada ayam petelur sampai 10% dapat memberikan pengaruh terhadap produksi telur dan kualitas telur (Al-kirshi et al., 2010).

Gambar

Tabel 1. Perbedaan Susunan Nutrien dari Berbagai Telur Unggas (g/100 gram)  Jenis Unggas  Protein   Lemak   Karbohidrat   Abu
Tabel 3. Kebutuhan Nutrien Puyuh Fase Grower dan Layer
Gambar 2. Absorpsi Karoten di dalam Tubuh
Tabel 5. Komposisi Nutrien Tepung Daun Katuk

Referensi

Dokumen terkait

Membaca merupakan suatu kegiatan yang bersifat kompleks, karena kegiatan ini melibatkan kemampuan dalam mengingat simbol-simbol grafis yang berbentuk huruf,

Tingkat defoliasi memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi ubi jalar meliputi parameter jumlah daun, panjang daun, intersepsi cahaya, berat umbi dan

Dimana dengan ketawakalan, ketawadlu’an, kesabaran, laku spiritual (baik puasa, dzikir dan istiqomah dalam dakwah dan mengaji), dan akhlaq luhurnya terhadap sang guru

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1) terdapat variasi fenotip pada kerbau endemik lokal Kudus pada

Pasal 37 ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2011 Tentang Tindakan Antidumping, Tindakan Imbalan, dan Tindakan Pengamanan Perdagangan.. Sementara

Sebagai akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) hal tersebut memicu untuk menggali penemuan energi alternatif seperti efisiensi energi penggunaan uap produksi

Pemanfaatan Fly Ash Batubara Menjadi Membran Silika untuk Penurunan Kadar Logam Mn dalam Larutan Artifisial (dengan Variasi

Pemotongan kuda yang dilakukan satu hari sebelum tradisi cemme passili ’ dilakukan untuk disuguhkan kepada tamu menandakan bahwa masyarakat di Dusun Ulo-ulo