6 Bab II
Tinjauan Pustaka
2.1 Komunikasi Antarbudaya
2.1.1 Pengertian Komunikasi Antarbudaya
Komunikasi antarbudaya merupakan komunikasi yang dilakukan oleh individu dengan individu lainnya atau kelompok dengan kelompok yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak bisa terlepas satu sama lain.
Ada beberapa pengertian Komunikasi Antarbudaya1 :
1. L. Rich dan Dennis M. Ogawa menjelaskan bahwa komunikasi antarbudaya merupakan komunikasi yang dilakukan oleh para individu yang mempunyai keanekaragaman budaya yang berbeda. Seperti etnik Kalimantan Utara yang terdapat suku dayak berkulit putih dan etnik Jawa yang memiliki kulit sawo matang. Hal ini terlihat mencolok ketika dua kelompok ini sedang melakukan interaksi seperti saat mengerjakan tugas kelompok bersama.
2. Charley H. Dood mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya merupakan komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi mewakili individu, antarindividu, maupun antar kelompok dengan latar belakang yang berbeda kebudayaan yang dapat mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta. Misalnya intonasi nada yang terdapat pada suku di Kalimantan Utara saat berbicara dengan suku Jawa yang berbeda jauh intonasi nada nya.
1 Alo Liliweri, op.cit hal 12
7 2.1.2 Konsep yang Berkaitan dengan Komunikasi Antarbudaya
Ada beberapa konsep yang memiliki keterkaitan dengan Komunikasi Menurut alo Liliweri2, diantaranya adalah:
a. Etnik
Etnik merupakan sebuah kumpulan individu (sub kelompok manusia) yang tergabung melalui pengakuan kesamaan budaya, atau subkultur tertentu, dan juga memiliki kesamaan ras, agama, asal usul bangsa bahkan kesamaan peran ataupun fungsi tertentu.
b. Ras
Ras merupakan sekumpulan individu (sub kelompok manusia) yang mempunyaii ciri kombinasi karakteristik fisik, genetika keturunan, atau kombinasi dari faktor tersebut yang mempermudah kita agar dapat menentukan perbedaan antara subkelompok tersebut dengan kelompok lainnys dari suatu masyarakat. Misal mahasiswa etnik Kalimantan utara ada yang memiliki ras dayak ataupun melayu. Ras dayak lebih dikenal dengan kulitnya yang putih dan matanya yang sipit dan ras melayu kulitnya lebih kuning langsat
c. Etnosentrisme / Rasisme
Konsep etnosentrisme seringkali digunakan sejalan dengan rasisme. Konsep ini mewakili suatu pemahaman mengenai kelompok etnik ataupun suatu ras yang memilki ideologi maupun semangat tertentu menunjukkan bahwa kelompok mereka lebih istimewa dibandingkan kelompok etnik atau ras lainnya. Sikap etnosentrisme ini bisa berupa prasangka, sterotip, diskriminasi, dan jarak sosial terhadap kelompok lain. Seperti mahasiswa asal Kalimantan Utara yang memilih bergaul dengan kelompok yang asalnya sama dibandingkan dengan kelompok lain yang berbeda dengan mereka. Misal ketika nongkrong, mahasiswa Kalimantan Utara cenderung memilih kelompok daerah asalnya.
2 Alo Liliweri, Op. cit. hal. 14-15
8 d. Prasangka
Definisi prasangka pertama kali dicetuskan oleh Gordon Allport, berasal dari kata praejudicium yang berarti perasaan atau pengalaman sempit seseorang atau sekelompok orang, pernyataan atau kesimpulan tentang suatu hal.
Menurut Bennet dan Janet Prasangka merupakan sikap antipati berdasarkan pada kesalahan generalisasi atau generalisasi kaku yang di ekspresikan dalam bentuk emosi. Peran prasangka ialah menggunaka orang lain sebagai objek prasangka, misalnya mengkambinghitamkan orang tersebut melalui sterotip, diskriminasi, dan membangun jarak sosial.
e. Multikulturalisme
Adalah situasi kondisi masyarakat atau suatu paham mengenai masyarakat yang terdiri dari kebudayaan yang beragam. masyarakat yang multikultur atau multibudaya ialah mereka yang telah belajar dan menggunakan kebudayaan secara cepat, efektif, jelas, serta ideal dalam interaksi dan berkomunikasi dengan individu lainnya.
2.1.3 Bentuk Komunikasi Antarbudaya
Bentuk komunikasi antarbudaya menurut De Vito3, adalah :
a. Komunikasi antar kelompok dengan Keyakinan yang berbeda. Misalnya antara orang yang memiliki keyakinan katolik Roma dengan orang Episkop atau antara orang yang berkeyakinan Islam dengan orang Yahudi.
b. Komunikasi antar subkultur yang berbeda. Misalnya antara profesi dokter dan profesi pengacara atau dengan tunarungu dan tunanetra.
c. Komunikasi antara subkultur dan kultur yang dominan. Misalnya antara kaum homoseks dan kaum heteroseks, atau antara kaum muda dan kaum manula.
d. Komunikasi antara jenis kelamin yang berbeda, yaitu antara pria dan wanita.
3 Aang Ridwan 2016 ,Komunikasi Antarbudaya Mengubah Persepsi dan sikap dalam meningkatkan kreativitas manusia, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2016) hal 33
9 2.1.4 Prinsip Prinsip Komunikasi Antarbudaya
Ada beberapa prinsip prinsip Komunikasi antarbudaya diantaranya ialah Relativitas bahasa, dimana para antropologis linguistik banyak menyuarakan bahwa bahasa dianggap mempengaruhi pemikiran dan perilaku. Bahasa juga mencerminkan suatu budaya. Semakin banyak perbedaan budaya tersebu, maka semakin banyak pula perbedaan komunikasi baik dalam bentuk verbal maupun non verbal. Kesulitan berkomunikasi pun muncul misalnya, kesalahan kalimat, kesalahan menyampaikan pesan, atau kesalahan dalam memahami suatu pesan. Seperti yang di alami mahasiswa Kalimantan Utara ketika berkomunikasi dengan individu/kelompok yang berbeda budaya dengan mereka. Seperti pengucapan kata “sakit” dan “angka dua” dalam bahasa jawa yang hampir mirip.
Semakin banyaknya perbedaan antarbudaya, maka akan besar pula ketidakpastian dalam komunikasi. Untuk mengurangi ketidakpastian tersebut, lebih baik kita menguraikan, memprediksi, dan menjelaskan orang lain.
2.1.5 Tujuan Komunikasi Antarbudaya
Menurut Alo Liliweri4 ada beberapa alasan mengapa perlunya komunikasi antarbudaya, diantaranya :
a. membuka diri dan memperluas pergaulan b. meningkatkan kesadaran diri,
c. etika/ etis
d. mendorong perdamaian dan meredam konflik e. demografis
4 Alo Liliweri, Op.cit hal. 32
10 f. ekonomi
g. menghadapi teknologi komunkasi h. menghadapi era globalisasi
2.1.6 Fungsi Komunikasi Antarbudaya
Ada beberapa fungsi Komunikasi antar budaya menurut Mulyana dan Rakhmat5 a. Fungsi pribadi
Merupakan fungsi Komunikasi yang diperlihatkan melalui perilaku komunikasi daru seorang individu.
1. Identitas Sosial
Seiring berlangsungnya proses komunikasi antarbudaya, ada beberapa perilaku ataupun sikap komunikasi individu yang dilakukan guna untuk menunjukkan identitas sosial. Sikap Perilaku tersebut di nyatakan melalui perilaku verbal maupun non verbal. Melalui perilaku verbal tersebut kita dapat mengetahui identitas diri ataupun sosial dari individu. Seperti asal usul suku bangsa, agama, atau tingkat pendidikan seseorang.
2. Integrasi Sosial
Konsep inti dari integrasi sosial ialah menghargai kesatuan maupun persatuan antarpribadi maupun kelompok, namun tetap mengakui dan menghargai perbedaan yang dimiliki dan tiap tiap unsurnya. Perlu diketahui salah satu tujuan komunikasi ialah menjadikan arti yang serupa dengan pesan yang dibagikan oleh komunikator kepada komunikan. Pada konteks komunikasi antarbudaya juga terdapat ketidaksamaan antara komunikator dan komunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama Komunikasi.
3. Menambah pengetahuan
Komunikasi antarbudaya akan menjadikan pengetahuan seseorang agar lebih mengetahui dan memahami apa saja keunikan keunikan dari suatu budaya.
5 Aang, ridwan Op.cit, hal 38
11 b. Fungsi sosial
1. Pengawasan
Dalam komunikasi antarbudaya, fungsi dari prngawasan ini berguna untuk memberitahukan “perkembangan” mengenai lingkungan. Fungsi pengawasan ini lebih sering digunakan untuk media masa yang menyebarluaskan secara terus menerus mengenai perubahan peristiwa.
2. Menghubungkan
Pada sistem Komunikasi antarbudaya , interaksi yang dilakukan antara dua orang atau lebih yang berbeda budaya merupakan penghubung dari perbedaan kedua budaya tersebut. Fungsi menghubungkan ini bisa tersampaikan lewat pesan pesan yang disampaikan atau dipertukarkan.
3. Sosialisasi nilai
Fungsi dari sosialisasi nilai ialah memperkenalkan nilai nilai dalam suatu kebudayaan tertentu kepada masyarakat lain yang berbeda budaya. Dalam konteks komunikasi antarbudaya kerap kali terdapat sikap nonverbal yang muncul dan kurang dipahami, namun bagian terpenting ialah bagaimana kiat seseorang menangkap dan mamahami nilai nilai yang terdapat didalam gerakan tubuh seseorang.
4. Menghibur
Menghibur juga merupakan salah satu fungsi komunikasi antarbudaya.
Menghibur juga kadangkala hadir dalam proses komunikasi antarbudaya.
Misalnya sejumlah acara televise yang menampilkan humor segar.
12 2.1.7 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Antarbudaya
Dalam komunikasi antarbudaya ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut6, antara lain :
a. Faktor Personal
Merupakan faktor yang bersangkutan dengan faktor psikologis, misalnya persepsi, memori, juga motivasi. Faktor psikologi hadir dari dalam diri (didposisi) untuk dijadikan sebagai respon pada stimulus yang hadir dari luar diri.
b. Faktor Hubungan Antarpribadi
Dalam faktor hubungan antarpribadi ada beberapa hal yang menjadi pendukung terjadinya faktor Hubungan Antarbudaya. Seperti yang katakan Paul Watzlawick, Janet Beavin dan Don jacson bahwa Perbedaan isi dan hubungan komunikasi, yang terdiri dari informasi yang terkandung pada suatu pesan. Misalnya mengenai hal hal yang dikatakan secara lisan atau yang ditulis diatas kertas. Hubungan komunikasi terkait dengan bagaimana cara informasi tersebut di sampaikan dan disimpulkan untun meningkatkan kualitas hubungan antarpribadi. Kemudian masalah kredibilitas. Kredibilitas seseorang tidak hanya mencakup kepercayaan terhadap seorang pembicara, tetapi juga sifat asli dari kredibilitas tersebut. Kredibilitas seorang komunikator ialah seseorang yang mampu mempengaruhi sikap seseorang terhadap sikap orang lain.
2.1.8 Unsur Unsur Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya
Porter dan Samovar menyebutkan beberapa unsur budaya yang terdapat pada komunikasi antarbudaya7, diantaranya :
1. Persepsi
Yakni sistem internal yang dilakukan untuk memilah, melakukan serta mengevaluasi,dan mengorganisasikan stimulasi dari lingkungan eksternal. Dalam komunikasi antuarbudaya yang
6 Ibid hal 43
7 Ibid hal 63
13 ideal kita akan menginginkan persamaan pengalaman persepsi,akan tetapi karakter budaya yang bermacam macam cenderung membawa kita ke pada pengalaman pemahaman atas dunia eksternal yang berbeda pula.
2. Proses verbal
Proses verbal meliputi kegiatan yang berasal dari dalam diri individu dalam berpikir dan mengembangkan kosa kata yang digunakan, proses ini berhubungan dengan mekanisme pemberiaan makna ketika melangsungkan komunikasi antarbudaya. Proses verbal tersebut diantaranya ialah :
a. Bahasa
Bahasa adalah instrumen utama yang digunakan budaya untuk menyalurkan kepercayaan, nilai, dan norma. Bahasa sendiri adalah sarana untuk setiap orang agar dapat berinteraksi dengan orang lain.
b. Pola pikir
Dalam suatu budaya, pola pikir dapat mempengaruhi cara individu yang berada dalam ruang lingkup budaya tersebut. Perlu dimengerti bahwa terdapat perbedaan budaya dalam model berpikir sehingga kita tidak dapat mengharapkan setiap orang untuk memiliki pendapat yang sama. Akan tetapi, dengan belajar menerima dan memahami pola pola tersebut akan mempermudah kita dalam berkomunikasi.
3. Proses non verbal
Adalah pertukaran pikiran dan ide melalui gestur, ekspresi wajah, pandangan mata dan lain lain.
Kode atau simbol maupun respon yang ditemukan merupakan komponen dari pengalaman budaya.
14 4. Prasangka
Yaitu sikap seseorang terhadap golongan atau kelompok tertentu. Misalnya kelompok budaya atau ras yang berbeda. Prasangka sosial merupakan sikap sosial yang negatif akan suatu golongan lain dan mempengaruhi sikap sesorang terhadap kalangan tersebut.
2.2 Gegar Budaya ( Culture Shock)
Manusia sebagai mahkluk sosial yang selalu berinteraksi satu dan lainnya, baik dengan kebudayaan yang sama maupun berbeda. Seseorang yang masuk kedalam lingkungan yang baru akan merasakan kegelisahan didalam hatinya. Hal ini biasa disebut gegar budaya ( Culture Shock). Ada beberapa pengertian Gegar budaya yang di kemukakan oleh beberapa ahli8. Istilah gegar budaya pada awalnya dicetuskan oleh Kalervo Oberg akhir tahun 1960. Gegar budaya bisa diibaratkan sebagai penyakit yang diderita oleh seseorang ketika hidup diluar lingkungan yang berbeda dengan kulturnya dalam usaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru.
Gudykunst dan Kim mengemukakan bahwa gegar budaya ialah reaksi yang ditimbulkan terhadap suatu kondisi yang menunjukkan bahwa individu mendapati keterkejutan dan juga desakan karena berada dilingkungan yang asing. Dimana hal tersebut membawa dampak teguncangnya konsep diri, identitas kultural dan menyebabkan kegelisahan kontemporer yang tak beralasan.
Menurut Lundstet, gegar budaya merupakan bentuk tidak berhasilnya seseorang untuk menyesuaikan diri ( personality mal-adjustment) atau menggambarkan cara sementara yang tidak berhasil menempatkan diri dengan lingkungan dan orang orang baru.
Berbagai perasaan / reaksi yang dialami ketika mengalami Culture shock9 : a. Sikap pesimis akan lingkungan baru
8 Aang Ridwan, Op.cit. hal 197
9 Kgs M Rio Aldino, Gegar Budaya dan Kecemasan : Studi Empiris pada Mahasiswa Bengkulu dan Maluku di Universitas Gunadarma dalam Beradaptasi di Lingkungan Baru, Vol 8, Maret 2020. Hal 90
15 b. Bingung, cemas, dan disorientasi
c. Takut akan penolakan d. Sakit perut dan kepala
e. Homesickness atau merindukan rumah, keluarga dan teman.
f. Takut kehilangan status atau kehilangan percaya diri.
Fenomena gegar budaya ini juga terjadi pada Mahasiswa asal Kalimantan Utara, dimana mereka mengalami perasaan kecemasan yang berlebihan ketika berada di lingkungan baru. Misalnya dalam berkomunikasi dengan individu/ kelompok yang berbeda budaya dan di lingkungan yang baru. Tentu mahasiswa asal Kalimantan Utara belum mampu mengerti dan memahami bahasa sehari hari yang digunakan masyarakat Malang. Oleh karena itu dibutuhkan adanya proses adaptasi terhadap situasi dan kondisi untuk tetap bertahan di lingkungan yang baru. Mahasiswa Kalimantan utara yang berada di Malang juga harus mampu membuka diri dan memperluas pergaulan melalui orang orang yang terdapat di lingkungan baru. Kemudian meningkatkan kesadaran diri akan diri sendiri dan lingkungan sekitar, hal ini akan membantu Mahasiswa asal Kalimantan utara dapat membangun hubungan yang baik pada lingkungan ataupun kultur yang baru.
2.3 Hambatan Hambatan yang Terjadi dalam Komunikasi Antarbudaya
Pada komunikasi antarbudaya tentu saja akan ditemukannya berbagai hambatan hambatan dalam proses pelaksanaannya. Hambatan komunikasi antarbudaya terjadi diantara dua budaya yang bersifat satu arah, ini digambarkan dengan ketidakmampuan untuk memahami suatu norma dari budaya yang berbeda. Sebagai contoh mahasiswa Kalimantan Utara berbicara dengan nada yang lebih tinggi daripada mahasiswa asal Malang yang berbudaya Jawa sering kali menjadikan salah persepsi dalam berkomunikasi. Kemudian bahasa yang berbeda dapat menjadi pemicu kesalahpahaman dalam proses komunikasi antar budaya. Misalnya penggunaan kata dari bahasa daerah yang tidak dipahami lawan bicara.
Alasan yang menjadi hambatan Komunikasi Antarbudaya10
10 Aang Ridwan, op.cit, hal 115
16 a. macam macam tujuan komunikasi yang berbeda. Perbedaan alasan dan motivasi untuk berkomunikasi, dalam konteks Komunikasi antar budaya hal ini sering menimbulkan masalah.
b. Etnosentrisme, cenderung menganggap rendah kelompok lain dan memandang kelompoknya lebih baik dibandingkan dengan kelompok lain.
c. Tidak adanya empati, hal ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya sulit memusatkan diri terhadap orang lain, lebih sering fokus terhadap dirinya sendiri, memiliki pandangan stereotip terhadap kebudayaan, kurangnya pengetahuan terhadap kelompok
d. Penarikan diri atau menghindari pertemuan yang seharusnya terjadi.
2.4 Adaptasi
Adaptasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti sebagai pembiasaan diri terhadap kondisi lingkungan yang baru11. Dalam konteks budaya adaptasi dapat diartikan penyesuaian diri seorang individu terhadap suatu daerah dan budaya baru.
Sementara Kim menggambarkan ada 3 tahap proses adaptasi, yang pertama stress, adaptation, dan growth12. Ketika mendatangi lingkungan yang baru, orang tersebut akan mengalami stress atau tekanan yang disebabkan oleh gegar budaya, Stress akan mendorong seseorang untuk beradaptasi pada daerah baru atau kawasan daerah tuan rumah, agar kembalinya keselarasan.
Adaptasi bisa dicapai dengan menggunakan akulturasi dan dekulturasi. Pembelajaran dalam proses adaptasi ini terbentuk dalam suatu perubahan pertumbuhan internal. Proses pertumbuhan tidak berupa linear melainkan berupa heliks yang mempunyai ciri dengan naik turunnya proses stress-adaptasi.
11 Kbbi.kemdikbud.go.id
12 Kgs M Rio Aldino, Op.cit. hal 92