• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal JUPEKN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal JUPEKN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

email: [email protected]

http://jurnal.ikipmumaumere.ac.id/index.php/jupekn

PERAN WALI KELAS DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR PESERTA DIDIK DI SMPN PRUDA KECAMATAN WAIBALAMA KABUPATEN SIKKA

Patrisia Ati 1, Abdullah Muis Kasim 2, Nurdin H.Abd Rahman 3

Informasi artikel ABSTRAK Sejarah Artikel :

Diterima Revisi Dipublikasikan

Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui bagaimana peran wali kelas dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik di SMPN Pruda. 2. Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar peserta didik di SMPN Pruda. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif yaitu berupa data- data tertulis maupun lisan dari orang dan perilaku yang diamati. Subjek penelitian adalah wali kelas dan peserta didik kelas VII dan VIII, di SMPN Pruda kecamatan Waiblama, kabupaten Sikka. Proses pengumpulan data peneliti menggunakan tiga metode pengumpulan data yakni, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik pengolahan data, analisis data dengan melalui tiga tahapan yaitu, redukasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Peran wali kelas dalam mengatasi masalah kesulitan belajar pada peserta didik di SMPN Pruda seperti memberikan bimbingan dan nasehat agar dalam belajar peserta didik tidak mengalami kesulitan belajar dan memperoleh nilai yang baik, melakukan pendekatan khusus, mengetahui faktor penyebab kesulitan belajar, memberi contoh dan teladan yang baik kepada peserta didik, mengadakan hubungan terhadap guru bidang studi dan orang tua peserta didik.

Keywords : Learn the learning, difficulties of students.

How to Cite : ABSTRACT Ati, P., Kasim, A.M.,

Rahman, N.H.A.. (2021).

Peran Wali Kelas Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Peserta Didik Di Smpn Pruda Kecamatan Waibalama Kabupaten Sikka. Jurnal JUPEKN, 6(1), pp.50-54.

In accordance with the formulation of the problem this study aims 1 to find out how the role of homerom teacher in overcoming the learning difficulties of students in junior high school SPMN Pruda. 2 to find out what are the factors that influence students learning difficulties in SMPN Pruda. This research is a descriptive qualitative research in the form of written and oral data from people and observed behaviors.The research subjects are homerrom teacher and class VII and VIII student in pruda junior high school in waiblama sub-district of sikka regency. In the process of collecting data that is interviw, observation and documentation. Data analysis data processing techniques through three stages namely data education data presentation and drawing conclusions. The role of homeroom teacher in overcoming the problem of learning .difficulties in students in junior high school such as providing guidance and advice so that in learning students do not experience learning difficulties and get good grades. Make a special approach,knowing the factors that cause learning difficulties to set a good example and example to the students hold relatons with the field of study teacher and the parents of the students.

Alamat korespondensi:

Patrisia Ati1, Prodi Pendidikan Kewarganegaraan IKIP Muhammadiyah Maumere, Indonesia

Abdullah Muis Kasim 2, Prodi Pendidikan Kewarganegaraan IKIP Muhammadiyah Maumere, Indonesia Nurdin H.Abd Rahman 3, Prodi Pendidikan Ekonomi, IKIP Muhammadiyah Maumere

E-mail: [email protected]

Copyright © 2020 IKIP Muhammadiyah Maumere

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran. Dalam Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

(2)

Jurnal JUPEKN|51 untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperluhkan dirinya, masyarakat, bangsa, dan

negara demi mewujudkan

keadilan,kesejahteraan,dan pemerataan bagi setiap warga negara sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur sesuai cita- cita bangsa dan negara. Oleh karena itu, Pelaksanaan pendidikan harus sesuai dengan tujuan yang diharapkan sebagaimana bunyi pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdasakan kehidupan bangsa. Berarti pelaksanaan proses pendidikan diharapkan dapat membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk mencapai harapan dan tujuan Undang-Undang sebagaimana tersebut diatas maka, salah satu faktor penting adalah guru dan dosen, yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasikan peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sedangkan dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Selain itu, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 13 ayat 1 diyatakan bahwa jalur Pendidikan dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu, pendidikan formal, non formal dan informal.

Pendidikan formal dilakukan disekolah diajarkan oleh guru atau pengajar yang profesional sesuai bidangnya, pendidikan non formal bisa dilakukan dimana saja diluar dari lembaga pendidikan sekolah bisa bimbingan belajar bisa lembaga pendidikan kursus dan sebagainya. sedangkan pendidikan informal

yaitu jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Masalah kesulitan belajar yang sering dialami oleh peserta didik di kelas,merupakan masalah penting yang perlu mendapat perhatian yang serius dikalangan para pendidik terutama wali kelas. Dikatakan demikian, karena kesulitan belajar yang dialami oleh para peserta didik di sekolah akan membawa dampak negatif, baik terhadap diri peserta didik itu sendiri,maupun terhadap lingkungannya. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya kecemasan,frutasi,putus sekolah,keinginan untuk berpindah-pindah sekolah karena malu telah tinggal kelas beberapa kali.

Menurut Rumini dkk ( Irham dan Wiyani,2013: 254) mengemukakan bahwa kesulitan belajar merupakan kondisi saat peserta didik mengalami hambatan-hambatan tertentu untuk mengikuti proses pembelajaran dan mencapai hasil belajar secara optimal.

Untuk mencegah dampak negatif, yang mungkin timbul karena kesulitan belajar yang dialami para peserta didik, maka para pendidik orang tua dan guru pembimbing harus menjaga terhadap gejala-gejala dalam kesulitan belajar yang mungkin dialami oleh peserta didiknya.

Sehubungan dengan itu, maka wali kelas juga sebagai tenaga pendidik cukup potensial membantu mengatasi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, karena wali kelas adalah orang yang pertama berhubungan langsung dengan peserta didik melalui kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu wali kelas harus menjalin kerja sama yang baik dengan semua pihak, terutama kepala sekolah guru mata pelajaran,pengelola kelas dan orang tua peserta didik untuk berperan dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik.

Namun demikian Menurut Hakim, Thursman. (2005) “Belajar adalah proses perubahan didalam kepribadian manusia,dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman ketrampilan, daya pikir. Belajar merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan

(3)

52| Jurnal JUPEKN

jenis dan jenjang pendidikan, sebab berhasil atau tidaknya pendidikan tergantung pada proses belajar peserta didik.

Kesulitan Belajar adalah kondisi dimana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan, ataupun gangguan dalam belajar.

Kesulitan belajar yang didefenisi oleh The United States Office of Education (USOE) dikutip oleh Abdurrahman (2003: 06) menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan.

Proses Belajar dilibatkan peserta didik pada prinsipnya tertentu yang akan berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik yang memuaskan. Namun, dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa peserta didik itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan, fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar yang terkandung sangat mencolok antara seorang peserta didik dengan peserta didik lainnya.

Dalam hal ini faktor Guru memiliki fungsi yang sangat penting bagi kelangsungan dan kelancaran dalam proses belajar mengajar.

Menurut Dri Atmaka (2004:17) Karena guru adalah Orang yang bertanggung jawab untuk memberikan bantuan kepada peserta didik dalam mengembangkan Ilmu baik fisik maupun spiritual.

Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Kenyakinan ini muncul karena manusia sebagai makluk yang lemah,yang dalam perkembangannya senantiasa membutuhkan orang lain, sejak lahir bahkan pada saat meninggal. Semua itu menunjukan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam perkembanganya, demikian halnya peserta didik, ketika orang tua mendaftarkan anaknya sekolah pada saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya berkembang secara optimal. Minat, Bakat Kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki

oleh peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru.

Walikelas adalah guru yang membantu kepala sekolah untuk membimbing peserta didik dalam mewujudkan disiplin kelas, sebagai manajer dan motivator untuk membangkitkan gairah/minat siswa untuk berprestasi dikelas.

Menurut (Ermis Suryana, 2007:220).

Sesuai dengan hasil observasi di SMPN Pruda, maka peneliti menemukan masalah bahwa ada peserta didik yang merasa acuh tak acuh, malas dalam hal belajar sehingga peserta didik mengalami kesulitan belajar dilihat dari hasil belajarnya yang dibuktikan dengan melihat nilai rapor. sehingga Dalam hal ini peneliti mengaitkan peran wali kelas dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik karena peran wali kelas adalah mengedukasi, memotivasi dan mengontrol peserta didik dalam kelas.

Berangkat dari uraian masalah di lapangan maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peran WaliKelas dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Peserta Didik Di SMPN Pruda Desa Pruda Kecamatan Waiblama Kabupaten Sikka.

METODE

Dalam proposal ini penelitian menggunakan pendekatan kualitif, dengan menggunakan metode etnografi. Penelitian etnografi merupakan salah satu strategi penelitian kualitatif yang didalamnya peneliti menyelidiki suatu kelompok kebudayaan dilingkungan yang alamiah dan dalam waktu yang cukup lama dalam pengumpulan data utama,data observasi dan data wawancara (Creswell, 2012.) Subjek penelitian yaitu Wali Kelas VII dan VIII dan Peserta Didik Kelas VII VIII.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa peran wali kelas di SMPN Pruda seperti memberikan bimbingan, motivasi ,mengedukasi, dan juga sebagai orangtua disekolah agar peserta didik tidak mengalami kesulitan belajar di kelas, dan dapat

(4)

Jurnal JUPEKN|53 memperoleh nilai yang baik, melakukan

pendekatan khusus, mengetahui faktor penyebab kesulitan belajar peserta didik, memberi teladan yang baik bagi peserta didik , mengadakan hubungan kerjasama terhadap guru dan orang tua peserta didik.

Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sutrisna (2013 :77) Peran wali kelas artinya keseluruhan perilaku yang harus dilakukan wali kelas dalam melaksanakan tugasnya sebagai wali kelas. Wali kelas mempunyai peranan yang luas, baik di sekolah, di keluarga, maupun di masyarakat.Wali kelas sangat berperan aktif dalam membantu kelancaran dan keefektifan proses belajar mengajar sehingga menghantar siswa kepada minat dan semangat yang kuat untuk lebih giat belajar.

Dari hasil wawancara dengan wali kelas di SMPN Pruda bahwa peran wali kelas sebagai berikut :

1) Peran wali kelas sebagai edukasi.

Dalam mengedukasi wali kelas dapat memberikan ilmu kepada peserta didik.

misalnya ada peserta didik yang sering malas-malasan dalam belajar, sering bermain dengan teman dan lupa belajar maka, sebagai wali kelas dapat mendidik agar peserta didik kembali belajar dan mampu menerima pelajaran di sekolah dengan baik.

2) motivasi

Guru memberikan motivasi kepada peserta didik berupa memberikan dorongan dan semangat belajar peserta didik, menangani masalah atau gangguan terhadap peserta didik, melakukan kunjungan kerumah agar peserta didik lebih termotivasi dalam semangat belajarnya.

3) Guru sebagai pembimbing

Melaksanakan kegiatan bimbingan dalam proses pembelajaran,misalnya ketika anak merasa malas pada saat belajar, seorang guru harus membimbing dan mengajak Nya kembali untuk belajar bersama- sama, dan

mengarahkan peserta didik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan disekolah.

4) Sebagai orang tua dikelas

Disekolah, guru adalah orangtua kedua dari anak didik. Sebagai orang tua guru harus menganggapnya sebagai anak didik bukan lagi peserta didik. Wali kelas dianggap sebagai orangtua disekolah karena memiliki keakraban antara peserta didik dengan wali kelas.”

SIMPULAN

Kesimpulan umum dari Peran wali kelas dalam mengatasi masalah kesulitan belajar peserta didik di SMPN Pruda seperti bimbingan, motivasi, edukasi,dan sebagai orang tua di kelas. agar dalam belajar peserta didik tidak mengalami kesulitan belajar dan memperoleh nilai yang baik, melakukan pendekatan khusus, mengetahui faktor penyebab kesulitan belajar siswa, memberi contoh dan teladan yang baik bagi peserta didik, mengadakan hubungan kerjasama terhadap guru bidang study dan orang tua siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Atmaka, Dri. (2004). Tips Menjadi Guru Kreatif. Bandung. Yrama Widya.

Abdurrahman, M.(2003). Pendidikan Bagi

Anak Berkesulitan

Belajar.Jakarta:RinekaCipta.

Bulian M. 2018 Repository.Unja.Acid

Creswell, John W.2012.Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Hakim, Thursman. (2005). Belajar secara Efektif. Jakarta: Puspa Swara.

Hero H., Sni M. E. 2018 JRPD(Jurnal Riset Pendidikan Dasar)

Irham, M & Wiyani, N.A. 2013. Psikologi Pendidikan: Teori dan Aplikasi Dalam Proses Pembelajaran. Jogjakarta: Ar- ruzz Media

Mustika Z.2015 Intelektualita

Lestari D. A. N., Akib H., Nasrull M. 2018 Universitas Negeri Makasar

Suryana, 2007. Tahap-Tahapan Penelitian Kualitatif Mata Kuliah Analisis Data

(5)

54| Jurnal JUPEKN

Kualitatif. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.

Sugiyono, 2013.Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Administratif. Bandung : Alfabeta.

Sutirna. 2013. Bimbingan dan Konseling.

Yogyakarta: Andi Offset.

Referensi

Dokumen terkait

jawabar perdata' dari doktcr bettqiuan unnrk mcrnperoleh kompcnsasi atas kerugian yang diderita" disamping uutuk :rnencegph terjadirrya: hal-hal yang tidak diinginkan dari

typhimurium membebankan tantangan yang lebih ketat pada sistem kekebalan tubuh, antibodi berpartisipasi dalam kontrol tetapi perlindungan tergantung pada mekanisme tambahan.

Bagi pengiraan halaju teraruh oleh sebuah vorteks ladam-kuda pada sebarang titik dalam suatu ruang tiga dimensi iaitu dalam arah x, y, z (Rajah 5), rajah ini adalah dianggapkan

Berdasarkan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Juncto dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 telah menempatkan Retribusi

Jawab : menurut saya sih Alhamdulillah sudah ya sudah baik dan sampai kepada khalayak, karena setiap kegiatan yang dilakukan oleh komunitas bismania banten pasti saja admin

Penelitian bertujuan mengetahui karakteristik, kelayakan dan keefektifan perangkat Subject Specific Pedagogy (SSP) berbasis Problem Based Learning (PBL) yang

Untuk mengatasi masalah-masalah belajar peserta didik tersebut, maka implikasi layanan bimbingan hendaknya disesuaikan dengan masalah belajar yang dihadapi oleh peserta

Kriteria penilaian bagi pembangunan Sistem Aplikasi dan perkhidmatan pembangunan aplikasi atau tools pembangunan adalah berdasarkan kepada Arahan Kerja berikut:. Bil Item