• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN I"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014

ISBN: 978-602-7998-43-8

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL

AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN I

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

2014

(2)

Mei, 2014

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1

AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN I

Penanggung Jawab:

Ketua Program Studi Agribisnis Universitas Trunojoyo Madura

Editor:

Andrie Kisroh Sunyigono Ellys Fauziyah

Mardiyah Hayati

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA 2014

(3)

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014

Katalog dalam Terbitan

Proceeding: Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan I

Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura, UTM Press 2014

viii + 396 hlm.; 17x24 cm

ISBN 978-602-7998-43-8

Editor: : Andrie Kisroh Sunyigono Ellys Fauziyah

Mardiyah Hayati Layouter : Taufik R D A Nugroho Cover design : Didik Purwanto

Penerbit : UTM Press

* Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO Box. 2 Kamal Bangkalan

Telp : 031-3013234 Fax : 031-3011506

(4)

Mei, 2014

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1

KATA PENGANTAR KETUA PANITIA

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh Bismillahirrohmanirrohim

Segala puji kami panjatkan ke hadapan Illahi atas terselenggaranya Seminar Nasional “Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan I” Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura pada tanggal 21 Mei 2014. Seminar ini merupakan seminar yang diselenggarakan secara mandiri oleh Program Studi Agribisnis untuk pertama kalinya dan direncanakan dilakukan secara rutin tiap tahun. Tujuan diselenggarakannya seminar ini adalah untuk: 1) Memberikan rekomendasi kebijakan, langkah dan strategi dalam upaya pengembangan sektor agribisnis yang terkait erat dengan wilayah perdesaan, 2) Memberikan wadah untuk berbagi pengalaman dan tukar menukar ide bagi semua stakeholder terkait baik akademisi, pelaku bisnis dan pemerintah, 3) Menumbuhkan komitmen bersama dalam pengembangan sektor agribisnis yang bertitik tumpu pada wilayah perdesaan dalam upaya mencapai visi pembangunan pertanian. Selanjutnya, pada akhir seminar diharapkan tergalang sinergi untuk meningkatkan mutu dan dayaguna penelitian dan dapat menjadi masukan bagi berbagai pihak yang berwenang dalam pengambilan kebijakan.

Makalah kunci disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, MS selaku Guru Besar Universitas Brawijaya Malang, dan makalah utama oleh Dr.Ir. Agus Wahyudi, SE; MM (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu/BPWS), Andrie Kisroh Sunyigono, PhD selaku Pakar Ekonomi Pertanian Universitas Trunojoyo Madura dan. Dr. Sitti Aida Adha Taridala, SP, M.Si sebagai pemakalah terbaik dari Universitas Halu Uleo.

Disamping itu terdapat makalah penunjang bersumber dari berbagai instansi/lembaga penelitian seperti BPTP antara lain dari Bogor dan Jawa Timur, Loka Penelitian Sapi Potong Pasuruan, serta Perguruan Tinggi dari berbagai wilayah seperti Jakarta, Gorontalo, Bandung, Tegal, Surabaya, Malang dan Madura. Topik-topik yang disajikan sangat bervariasi, secara garis besar terhimpun ke dalam 4 bidang yakni agribisnis, sosiologi, nilai tambah dan sosial ekonomi.

Terima kasih kepada semua pihak yang memberikan kontribusi utamanya PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).

Akhirnya selamat mengkaji makalah-makalah di prosiding ini.

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatu

Bangkalan, Juni 2014.

Ketua Panitia,

Ihsannudin, MP.

(5)

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR KETUA PANITIA ... iv DAFTAR ISI ... v

AGRIBISNIS

MANAJEMEN AGRIBISNIS DAN PERMASALAHANNYA ... 3 P. Julius F. Nagel

TANGGAPAN KONSUMEN TERHADAP ECO-LABEL PADA PRODUK PERTANIAN ... 14

Joko Mariyono

PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP STRATEGI BERSAING DAN KINERJA PERUSAHAAN ... 21

Hary Sastrya Wanto, Ruswiati Suryasaputra

PERANAN BAITUL MAAL WATTAMWIL UNTUK PENINGKATAN SEKTOR PERTANIAN ... 32

Renny Oktafia

PENINGKATAN MUTU BUAH APEL SEPANJANG RANTAI PASOK DARI PASCAPANEN SAMPAI DISPLAY SUPER MARKET ... 41

I Nyoman Sutapa, Jani Rahardjo, I Gede Agus Widyadana, Elbert Widjaja ANALISIS PENGEMBANGAN DESA WISATA BERBASIS POTENSI LOKAL KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG ... 57

Selamet Joko Utomo

RISIKO USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR UTAMA

KECAMATAN GALIS KABUPATEN PAMEKASAN ... 68 Lilis Suryani, Aminah H.M Ariyani

KELAYAKAN EKONOMI USAHA GARAM RAKYAT DENGAN TEKNOLOGI MADURESSE BERISOLATOR ... 83

Makhfud Efendy, Ahmad Heryanto

STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI PLINTIR PISANG DI KECAMATAN ARJASA KEPULAUAN KANGEAN ... 107

Mu’awana, Taufik Rizal Dwi Adi Nugroho

SOSIOLOGI

RELASI AKTOR DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PRODUK TERRA (TERONG RAKYAT) ... 121

Titis Puspita Dewi, Mohammad Asrofin, Erwin Merawati, Ali Imron

(6)

Mei, 2014

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 PERLUNYA KECUKUPAN BAHAN PANGAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN MASYARAKAT SECARA NASIONAL ... 133

Isbandi dan S.Rusdiana

RELASI SEGI TIGA SISTEM KREDIT DALAM MASYARAKAT PERDESAAN STUDI KASUS DI DESA MAJENANG, KECAMATAN KEDUNGPRING, KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ... 146

Indah Rusianti, Faridatus Sholihah, Arini Nila Sari

DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DI DESA NGRINGINREJO, KECAMATAN KALITIDU, KABUPATEN BOJONEGORO ... 159

Alifatul Khoiriyah, Santi Yuli Hartika, Yunny Noevita Sari, dan Ali Imron PEMANFAATAN PERAN MODAL SOSIAL PADA PEKERJA SEKTOR INFORMAL PEREMPUAN (Studi Pada Pedagang Kaki Lima Perempuan Di Kota Malang) ... 168

Ike Kusdyah Rachmawati

PROGRAM AKSI MEDIA KOMUNITAS PEDESAAN BAGI WARGA KEPULAUAN TIMUR MADURA SEBAGAI SARANA PENINGKATAN AKSES, KETERBUKAAN INFORMASI, DAN PEMBERDAYAAN PUBLIK ... 181

Surokim, Teguh Hidayatul Rachmad

MODEL PENGEMBANGAN KOMPETENSI PENYULUH PERTANIAN DI PROVINSI GORONTALO ... 194

Mohamad Ikbal Bahua

NILAI TAMBAH

PENERAPAN QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) UNTUK PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN WORTEL ... 213

Yurida Ekawati, Surya Wirawan Widiyanto

PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BERBASIS JAGUNG DI

KABUPATEN BANGKALAN ... 224 Weda Setyo Wibowo, Banun Diyah Probowati, Umi Purwandari

STRATEGI PENGUATAN POSISI TAWAR PETANI KENTANG MELALUI PENGUATAN KELEMBAGAAN ... 234

Ana Arifatus Sa’diyah dan Dyanasari

INOVASI TEKNOLOGI SAPI POTONG BERBASIS MANAJEMEN BUDIDAYA DAN REPRODUKSI MENUJU USAHATANI KOMERSIAL ... 250

Jauhari Efendy

(7)

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014

POTENSI SAMPAH ORGANIK SEBAGAI PELUANG BISNIS PUPUK ORGANIK DAN PAKAN TERNAK ... 258

Jajuk Herawati, Yhogga Pratama Dhinata, Indarwati

UJI KELAYAKAN PENGOLAHAN SERBUK INSTAN BEBERAPA VARIETAS JAHE DALAM UPAYA MENINGKATKAN NILAI EKONOMI ... 270

Indarwati, Jajuk Herawati, Tatuk Tojibatus, Koesriwulandari

POTENSI CACING TANAH SEBAGAI PELUANG BISNIS ... 280 Yhogga Pratama Dhinata, Jajuk Herawati, Indarwati

PEMBUATAN DAGING TIRUAN MURNI (MEAT ANALOG) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK ... 290

Sri Hastuti

STRATEGI PERCEPATAN PENGEMBANGAN USAHATANI TEBU DI MADURA301

Miellyza Kusuma Putri, Mokh Rum

STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI SALAK DI

KABUPATEN BANGKALAN ... 312 Iffan Maflahah

SOSIAL EKONOMI

PEMANFAATAN SUMBERDAYA PEKARANGAN MELALUI PROGRAM KRPL DI PUHJARAK, KEDIRI ... 331

Kuntoro Boga Andri dan Putu Bagus Daroini

PERSEPSI PETANI TERHADAP NILAI LAHAN SEBAGAI DASAR PENETAPAN LAHAN PERTANIAN PADI SAWAH BERKELANJUTAN ... 343

Mustika Tripatmasari, Firman Farid Muhsoni, Eko Murniyanto

PARTISIPASI ANGGOTA KOPERASI SERBA USAHA (KSU) TUNAS MAJU DI KECAMATAN SAMIGALUH, KABUPATEN KULONPROGO ... 351

Eni Istiyanti, Lestari Rahayu,Supriyadi

VEGETABLE CONSUMPTION PATTERN IN EAST JAVA AND BALI ... 367 Evy Latifah, Hanik A. Dewi, Putu B. Daroini, Kuntoro B. Andri,Joko Mariyono

ANALISIS DINAMIKA PERDAGANGAN BERAS DAN GANDUM DI INDONESIA ... 381

Tutik Setyawati

KERAGAAN HASIL BEBERAPA VARIETAS UNGGUL BARU KEDELAI

DAN TINGKAT KEUNTUNGAN USAHATANI DI LOKASI

PENDAMPINGAN SL-PTT KABUPATEN SAMPANG ... 389 Moh. Saeri, Sri Harwanti dan Suyamto

(8)

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014

PEMANFAATAN SUMBERDAYA PEKARANGAN MELALUI PROGRAM KRPL DI PUHJARAK, KEDIRI

Kuntoro Boga Andri dan Putu Bagus Daroini

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Badan Litbang Pertanian, Kementrian Pertanian RI

E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Masyarakat Desa Puhjarak, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri sejak lama dikenal sebagai komunitas yang aktif dalam menggali potensi sumberdaya yang mereka miliki.

Tujuan dari kegiatan pengkajian ini adalah melihat penerapan program pemanfaatan lahan pekarangan melalui kegiatan KRPL (Kawasan Ruah Pangan Lestari). Dari kegiatan yang dilaksanakan selama tahun 2012 ini diperoleh gambaran peran kelembagaan dalam melakukan kegiatan optimalisasi pemanfaatan pekarangan.

Beberapa hasil diantaranya: (1) Budidaya dan olahan melinjo, ibu-ibu yang tidak memiliki lahan pertanian banyak bekerja sebagai buruh pembuatan emping dan jenis makanan ringan lainnya, (2) Perikanan darat, lebih dari 60 KK telah mengembangkan perikanan di pekarangan, termasuk perbesaran lele dan nila, (3) Usaha Peternakan, sekitar 40% penduduk Puhjarak memiliki ternak kambing dan sapi, selain beberapa ternak unggas seperti ayam dan itik, (4) Bisnis bibit sayuran, Kebun Bibit Desa (KBD) yang dalam program KRPL dijadikan pusat kegiatan sebagai pemasok bibit sayur dan buah, telah menjadi bisnis yang menguntungkan.

Kata kunci: Pemanfaatan Pekarangan, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), Kebun Bibit Desa (KBD), Gizi Rumahtangga, Kediri

UTILIZATION OF HOMEGARDEN RESOURCES THROUGH KRPL PROGRAM IN PUHJARAK, KEDIRI

ABSTRACT

Puhjarak Village Community in Plemahan subdistrict, Kediri has known since a long time as an active community in exploring the potential of their resources. The purpose of this assessment activity was to observe the implementation of homeyard land use programs through KRPL (Food Reserve Garden for Sustainable Agriculture). By the activities undertaken during the year 2012 it was obtained a description of the role of institutions in the conducting the optimizing homeyard utilization. Some of the results include: (1) Farming and processed melinjo, womens who do not farm land have work as a manufacture labor of chips and other snack of mlinjo, (2) inland fisheries, more than 60 families have developed fisheries in the homeyard, including catfish and tilapia culture, (3) Livestock activities, about 40 % of the population in Puhjarak have goats and cattle, as well as some poultry such as chickens and ducks, (4) Business vegetable seeds, Village Nursery (KBD) that in the program of KRPL become the center of activity, grows as a supplier of vegetable seeds and fruit, and has become a promosing business.

Keywords: Utilization Of Home Yard, Food Reserve Garden For Sustainable Agriculture (KRPL), Village Nursery (KBD), Household Nourishment,

(9)

Mei, 2014

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1

PENDAHULUAN

Konsumsi perkapita sayuran di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2002 hingga 2008. Di tahun 2002 konsumsi sayuran perkapita Indonesia 32.89 kg/th, naik menjadi 35.33 kg/th pada tahun 2005. Tahun 2008, angka ini meningkat menjadi 39.45 kg/th. Tak hanya konsumsi, produksi sayuran Indonesia juga menunjukkan peningkatan sebesar 1.89% selama kurun waktu 2008 sampai 2009 (Sekdirjen Hortikultura, 2010).

Meskipun mengalami peningkatan dalam produksi dan konsumsi sayuran, dibandingkan dengan rekomendasi FAO untuk konsumsi sayuran sebesar 75 kg/tahun, maka konsumsi sayuran masyarakat Indonesia masih tergolong rendah (Chadha, et.al. 2010).

Konsumsi sayuran dan buah-buahan sangat penting untuk kesehatan manusia karena kandungan mikro-nutrien (vitamin dan mineral) yang seringkali tidak didapatkan dari sumber makanan yang lain. Konsumsi sayuran dan buah-buahan yang cukup dapat mengurangi resiko menderita berbagai penyakit akut seperti diabetes, kanker usus, kanker colo rectal dan penyakit kardiovaskular/jantung. Hasil penelitian yang dilakukan di Roswell Park Cancer Institute di Buffalo New York Amerika Serikat menunjukkan bahwa brokolli dan beberapa sayuran segar dapat digunakan untuk melawan kanker kandung kemih (Anonim, 2012). Juga disebutkan bahwa mereka yang mengkonsumsi tiga porsi atau lebih sayuran mentah segar setiap bulan mengurangi resiko terkena kanker kandung kemih sebanyak 40%. Organisasi Kesehatan Dunia (FAO) dari PBB menyarankan konsumsi sayuran dan buah-buahan minimum 200 gram/kapita/hari untuk diet yang seimbang bagi kesehatan (Chadha, et.al, 2011). Dari Database Statistik Pertanian 2011, diketahui bahwa konsumsi sayuran masyarakat Indonesia masih sangat rendah yaitu 113 gram/kapita/hari.

Sayuran cocok diproduksi di lahan sempit dan padat karya, sehingga menawarkan kesempatan bagi petani kecil untuk diversifikasi produksi dan menghasilkan pekerjaan dalam rangka meningkatkan pendapatan bagi semua peserta dalam rantai nilai.

Diversifikasi sayuran dapat menguntungkan petani miskin dan buruh tani yang tidak mempunyai lahan dengan meningkatkan produksi dan tenaga kerja (Mariyono dan Bhattarai, 2010). Diversifikasi tersebut juga bisa memberdayakan masyarakat miskin dengan meningkatkan akses mereka terhadap proses pengambilan keputusan, dengan meningkatkan kapasitas mereka untuk tindakan kolektif, dan mengurangi kerentanan mereka terhadap goncangan melalui akumulasi aset. Diversifikasi sayuran bisa berperan penting dalam pengurangan kemiskinan dan ketahanan pangan di Indonesia (Mariyono et al., 2010).

Untuk pemenuhan kebutuhan sayuran sehari-hari, sebuah rumahtangga dapat memiliki kebun sayur keluarga di lahan pekarangan mereka yang tidak memerlukan lahan besar. Bahkan jika tidak memiliki lahan dapat menggunakan aneka pot kecil atau polibag. Terdapat beberapa alasan orang menanam sayuran di pekarangan rumah yaitu untuk penghijauan, memenuhi kebutuhan sayur bagi mereka, menyalurkan hobby, dapat memperoleh sayur yang lebih terjamin kebersihan dan mutunya, karena dapat menekan penggunaan pestisida serta dapat melatih seluruh anggota keluarga untuk dapat mencintai alam. Terdapat beberapa jenis tanaman sayuran yang dapat ditanam

(10)

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014

dipekarangan rumah yaitu (a) sayuran buah seperti cabai besar, cabai rawit, kapri, kecipir, tomat, buncis, kacang panjang, terong, mentimun, pare dan paprika; (b) sayuran daun seperti kangkung, caisim, bawang daun, bayam, kubis, kemangi, seledri, selada, sawi dan talas daun; (c) sayuran bunga seperti kol, brokoli dan bunga pepaya; (d) sayuran umbi seperti wortel, kentang, bawang merah dan putih, bawang bombay dan lobak serta tanaman bumbu dan empon-emponan seperti temu kunci, kencur, serai, lengkuas dan kunyit yang masih termasuk tanaman sayuran umbi (Agromedia, 2005)

Dari proyek AVRDC di beberapa negara Asia Pasifik, disimpulkan bahwa lahan tanam seluas 35m2 dapat menghasilkan sayuran rata-rata 750 gram/hari sepanjang tahun (225 kg/bulan). Jika dibagi untuk keluarga beranggotakan 4 orang, masing-masing dapat mengkonsumsi sayuran mendekati anjuran FAO (= 187 gram/kapita/hari). Di dua propinsi di India, rancangan kebun sayur keluarga seluas 36m2 (6mx6m) mampu memenuhi kebutuhan konsumsi sayuran sesuai anjuran FAO untuk keluarga beranggotakan 4 orang. Hasil analisa nutrisi menunjukkan hasil panen kebun keluarga tersebut menyediakan lebih dari 100% kebutuhan sehari-hari vitamin A dan C, dan tambahan zat besi dan protein yang berarti (Chadha, et.al. 2010).

METODOLOGI PENELITIAN

Tujuan dari kegiatan pengkajian ini adalah melihat dampak penerapan program KRPL di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang dilaksanakan sejak Maret 2012 terhadap pembangunan desa dan optimaliasi pemanfaatan sumberdaya pekarangan di Desa Puhjarak, Kecamatan Plemahan, Kediri. Lokasi penelitian ini adalah lokasi pendampingan (desa) Program Pengembangan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Tahun 2012 dari BPTP Jawa Timur yang bekerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Jawa Timur yang ada di Kabupaten Kediri, yakni Desa Pujarak, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Penelitain dilakukan selama bulan Maret-Desember 2012, bersamaan selama kegiatan pendampuingan KRPL berlangsung. Pengamatan dan pelaksanaan pengkajian dilakukan bersama dengan pelaku KRPL Desa Puhjarak secara partisipatif, mengikuti tahapan pelaksanaan kegiatan di lapang.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Sosial Ekonomi Desa Puhjarak

Desa Puhjarak di Kecamatan Plemahan telah dikenal sebagai desa yang aktif dalam pengembangan sumberdaya pertanian yang didukung oleh kelembagaan pertanian yang kuat. Beberapa kelembagaan yang telah ada dan mendukung perkembangan sektor pertanian dan pembangunan masyarakat desa di lokasi pendampingan antara lain adalah: PKK (Kelompok ibu-ibu desa), Koperasi Wanita (Simpan Pinjam), KUD (Koperasi Unit Desa) Desa Puhjarak, Posyandu (8 Posyandu balita dan 1 Pos Lansia), Kelompok Gerakan Pengentasan Kemiskinan, Kelompok Pembinaan Program Terpadu Peningkatan Peranan Wanita menuju. Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS), Gapoktan merupakan salah satu lembaga internal yang ada Desa Puhjarak, Gapoktan Makmur Rahayu terdiri dari 8 kelompok tani dan 1 KWT

(11)

Mei, 2014

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1

Sebagian besar (hampir 85%) penduduk Desa Puhjarak bermata-pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Sedang komposisi kepemilikian lahan penduduk Desa Puhjarak sbb: > 1 ha sebanyak 15% penduduk, 0,25 – 1 ha sebanyak 50% penduduk, 0 – 0,25 ha sebanyak 15% penduduk, Tidak punya lahan sebanyak 20% penduduk.

Pemanfaatan lahan di Desa Puhjarak terbagi atas: 361 ha lahan sawah dengan pola tanam Padi – Jagung – Sayur, 37,5 ha lahan tegalan yang ditanami tebu, toga dan sayur, 47 ha lahan pekarangan

Untuk potensi sektor perikanan, pada saat ini, lebih dari 25 KK telah mempunyai kolam pembibitan ikan lele, akan tetapi kurang lebih hanya 10 KK yang membudidayakan ikan lele tersebut sampai dengan layak konsumis (pembesaran). Kondisi ini dikarenakan biaya pakan lele yang cukup mahal sehingga masyarakat lebih senang ber-wirausaha dalam pembibitan ikan lele. Usaha pembibitan ikan lele ini banyak terdapat di Dusun Gebyaran, Desa Puhjarak.

Data jumlah penduduk Desa Puhjarak menurut kepemilikan ternak dapat dilihat dari Tabel 1. Dari Tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa ternak yang banyak dimiliki oleh masyarakat Desa Puhjarak adalah ayam/itik yaitu sebesar 94,84% dari total keseluruhan ternak yang dimiliki. Kemudiaan kambing sebesar 3,05% dan yang paling sedikit untuk diternakkan adalah sapi yaitu sebesar 2,11%.

Tabel 1. Jumlah Penduduk Desa Puhjarak Kecamatan Plemahan Tahun 2012 Berdasarkan Kepemilikan Ternak

No. Ternak Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. Ayam/Itik 8684 94,84

2,. Kambing 279 3,05

3. Sapi 193 2,11

4. Kerbau - -

Jumlah 9156 100,00

Sumber: Pemerintah Desa Puhjarak, 2012

Identifikasi Kebutuhan dan Pengembangan

Program Kawasan Rumah Pangan Lestari di Desa Puhjarak tergolong baru diaplikasikan karena program ini baru berjalan dalam satu tahun terakhir yang dimulai pada bulan Februari 2012. Teknis pelaksanaan berupa pengenalan program Kawasan Rumah Pangan Lestari beserta sosialisasinya pada masyarakat. Untuk pengetahuan program KRPL dibantu dengan 5 Dinas Lembaga yaitu sebagai leader sektornya adalah Badan Ketahanan Pangan Dan Peyuluhan Pertanian (BKP3), Dinas Peternakan dan Perikanan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Pertanian, Balai Pengkajian Tanaman Pangan (BPTP). Dalam pelaksanaannya masih diaplikasikan di 3 dusun yang digunakan sebagai dusun percontohan yaitu Dusun Gebyaran, Puhrejo, dan Puhjarak.

Mekanisme KRPL adalah dengan menyatukan seluruh lembaga yang ikut andil dalam berjalannya program KRPL

Sumber tanaman yang dibagikan pada masyarakat didapatkan dari Kebun Bibit Desa (KBD) terdapat 10 macam tanaman yang dijadikan sebagai komoditas utama dalam program KRPL yaitu lombok, terong, tomat kubis, brokoli, kangkung, ketela

(12)

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014

rambat, dan bayam. Namun, pada saat kunjungan dalam KBD masih mengembangkan 7 tanaman yang dibagikan setelah memiliki umur yang cukup, yaitu: 25 hari untuk lombok, 14 hari untuk tomat, 15 hari untuk kubis, 18 hari untuk cabe besar, 20 hari untuk terong, 13 hari untuk brokoli, dan 5 hari untuk timun. Setiap keluarga diberikan 5 – 10 bibit tanaman dari setiap komoditi. Selain pembagian bibit tanaman juga dibagikan ternak kecil seperti ayam, bebek, mentok dan bibit lele pada masyarakat.

Data klaster membantu dalam pengelompokkan jenis kegiatan yang ada dalam KRPL hal ini bertujuan untuk memudahkan menganalisis pengaruh program terhadap pemanfaatan pekarangan pada setiap RPL di desa Puhjarak. Selain itu juga terdapat data pembagian strata dari setiap dusun di desa Puhjarak. Pembagian strata memiliki fungsi untuk mengoptimalkan pekarangan dengan melihat basis komoditas atau tanaman yang cocok untuk setiap strata. Berikut adalah tabel yang berisikan tentang jumlah pembagian strata dari Dusun Gebayaran, Puhrejo dan Puhjarak.

Dari data Tabel 2 dapat dianalisisis bahwa luas kepemilikan lahan (strata) pada dusun Gebyaran tidak terbagi dengan rata karena yang ada hanya strata 1 (<100m2) dan 2 (100-300m2). Sama seperti dusun Puhrejo pembagian hanya terdapat 2 strata yaitu strata 2 dan 3 (> 300m2). Sedangkan untuk dusun Puhjarak pembagian merata meskipun jumlah untuk masing-masing strata tidak sama atau hampir mendekati. Di dusun Puhjarak strata paling banyak adalah strata 1 untuk paling sedikit adalah strata 3.

Tabel 2. Data Strata Peserta KRPL Desa Puhjarak No. Dusun Pembagian Strata Jumlah Strata

(KK)

1. Gebyaran Strata 1 (<100m2) 22

Strata 2 (100-300m2) 11 Strata 3 (> 300m2) -

2. Puhrejo Strata 1 (<100m2) -

Strata 2 (100-300m2) 4 Strata 3 (> 300m2) 14

3. Puhjarak Strata 1 (<100m2) 38

Strata 2 (100-300m2) 11 Strata 3 (> 300m2) 7

Berdasar hasil diskusi dengan komunitas Desa Puhjarak besereta pengurus MKRPL, dan diperkuat identifikasi selama ini di lapangan, dapat diputuskan beberapa aktifitas dan bahan yang dibutuhkan olah masyarakat antara lain:

1. Budidaya dan pembibitan mlinjo, selama ini masyarakat Desa Puhjarak, terutama ibu-ibu yang tidak memiliki lahan pertanian banyak bekerja sebagai buruh pembuatan makanan ringan dari mlinjo yang bahan bakunya didatangkan dari luar desa. Diharapkan dengan adanya bibit mlinjo yang berkualitas, ibu-ibu dapat ber-wirausaha sendiri dalam olahan mlinjo.

2. Perikanan darat, masyarakat Desa Puhjarak berkeinginan mengembangkan usaha

(13)

Mei, 2014

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1

3. Usaha Peternakan, sekitar 60 % penduduk Desa Puhjarak memiliki ternak kambing atau sapi. Dalam kegiatan KRPL ini yang ingin dikembangkan adalah ternak ayam, menthok dan itik dalam skala keluarga.

4. Kegiatan Rumah Bibit Desa (RBD), hal ini sangat dibutuhkan untuk menjamin kontinuitas pasokan bibit sayur dan buah yang nanti akan ditanam oleh masyarakat.

Komoditas sayuran yang ditanam dalam kegiatan MKRPL ini antara lain: tomat, cabe, kacang panjang, terong, brokoli, bawang merah, timun, gambas, selada keriting dan sawi. Sedang buah yang diusulkan antara lain: papaya, pisang agung, kelengkeng, rambutan, sawo dan anggur.

5. Budidaya cacing, hal ini dirasakan penting karena masyarakat berkeinginan untuk mengembangkan usaha pembesaran ikan lele yang sekarang ini terbentur faktor mahalnya biaya pakan ikan lele. Dengan beternak cacing diharapkan menjadi pakan alternatif ikan lele. Selain itu cacing juga dapat digunakan sebagai pakan ikan belut.

Budidaya cacing yang dikembangkan adalah jenis cacing sutra yang digunakan untuk pakan Bibit Lele dan Cacing tanah yang digunakan untuk pakan perbesaran ikan dan sisa cacingnya (Cascing) bias digunakan untyuk pupuk organic.

6. Usaha Pembuatan Pakan Ikan, diharapkan dengan bahan lokal yang tersedia bisa dihasilkan pakan ikan berkualitas yang murah dan dapat diproduski secara kontinyu.

Kebutuhan dan Pelaksanaan Kegiatan dan Pelatihan

Untuk mendukung pengembangan kegiatan MKRPL, dilakukan beberapa bantuan berupa penyediaan alat dan informasi teknologi serta pelatihan yang berhubungan dengan pemanfaatan pekarangan serta intensifikasi lahan. Untuk itu dalam beberapa waktu lalu telah diinisiasi beberapa kegiatan dengan bantuan teknis dari tim pendamping BPTP berupa bantuan bahan dan pelatihan yang berhubungan dengan kegiatan dilapang. Daftar kegiatan tersebut seperti terlampir dalam Table 3 berikut.

Berikut adalah tabel yang berisikan tentang beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Gapoktan Desa Puhjarak untuk mengembangkan program KRPL.

Tabel 3. Kegiatan KRPL oleh Gapoktan Desa Puhjarak

No. Kegiatan Yang Terlibat Waktu

Pelaksanaan 1. Penyuluhan program KRPL Ketua Gapoktan

Anggota kelompok tani

Setiap diadakan rapat Poktan 2. Penyaluran bantuan bibit

dari KBD

Pengurus KRPL (Ketua KRPL, Bendahara, dan Ketua Gapoktan)

Bulan Mei, Juni, dan Juli

3. Pembelajaran teknologi perikanan:

- Pelatihan perbenihan lele - Pelatihan pembuatan pakan lele

Ketua KRPL Ketua Gapoktan Masyarakat Desa Puhjarak

Bulan Maret - Agustus

(14)

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014

No. Kegiatan Yang Terlibat Waktu

Pelaksanaan - Pelatihan budidaya cacing

- Pelatihan budidaya belut 4. Pembelajaran teknologi

perikanan:

- Teknologi pembibitan dgn screen halus (100 mess) - Teknologi grafting sayuran - Teknologi produksi benih - Teknologi perbanyakan buah

- Teknologi budidaya buah -Pengendalian OPT Sayuran -Manfaat dan Pembuatan pupuk organic (bokasi)

Ketua KRPL Ketua Gapoktan Masyarakat Desa Puhjarak

Bulan Maret - Agustus

Dari Tabel 3 ada beberapa kegiatan Gapoktan yang berhubungan dengan KRPL sejauh ini masih dalam tahap penyuluhan pada kelompok tani yang lain. Salah satu kegiatan KRPL yaitu adanya bantuan bibit dari KBD pada setiap rumah tangga, bantuan ini lah yang menjadikan semakin banyaknya anggota kelompok tani yang ingin melaksanakan program tersebut. Selain itu juga Gapoktan memberi pembelajaran tentang teknologi pertanian, seperti pembuatan bokasi, perikanan, budidaya tanaman dan lain lain.

Gapoktan merupakan kumpulan beberapa kelompok tani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan usaha yang berfungsi sebagai penyebar program KRPL, sehingga banyak kelompok tani yang mengetahui keunggulan dari program ini. Sejauh ini Desa Puhjarak yang memiliki banyak dusun belum sepenuhnya memanfaatkan pekarangan yang ada, dalam bidang pertanian yang diefisiensikan hanyalah lahan sawah yang ditanami komoditas tanaman pangan seperti padi dan jagung serta sayuran seperti bawang merah. Dengan adanya penyebaran pengetahuan tentang KRPL ini yang dilakukan oleh Gapoktan diharapkan dapat menyebar luas dan berkembang sehingga seluruh Desa Puhjarak mampu melaksanakan program KRPL.

Peran Program KRPL Dalam Pembangunan Desa

Dasar prinsip KRPL adalah sebuah percontohan atau model dalam memanfaatkan pekarangan secara optimal dengan membudidayakan berbagai jenis tanaman dan ternak untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga. Program KRPL yang berada di Desa Puhjarak juga membantu dalam pembangunan desa agar menjadi lebih berkembang dan maju. Dalam melaksanakan program KRPL terdapat beberapa pembangunan sarana prasarana yang digunakan sebagai pendukung berjalannya

(15)

Mei, 2014

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1

mengembangkan pemberdayaan pada masyarakat karena adanya tenaga kerja yang akan dibutuhkan untuk menjalankan pembangunan tersebut. Dengan adanya program KRPL terdapat beberapa pembangunan yang dilakukan mulai dari awal berjalannya program.

Ada 5 bangunan baru dalam program yang telah berjalan satu tahun ini, seperti terdapat KBD (Kebun Bibit Desa) yang menjadi jantung KRPL serta berguna untuk menjaga keberlanjutan program dengan dibangunnya KBD tersebut di Desa Puhjarak.

KBD menjadi tempat produksi benih dan bibit tanaman, ternak dan ikan yang akan dibagikan atau dapat juga dijual pada masyarakat yang melaksanakan RPL. KBD juga dipergunakan sebagai kebun percontohan untuk pembelajaran warga dalam membudidayakan komoditas yang akan ditanam. Selain sebagai tempat pembelajaran KBD pun berfungsi sebagai konservasi sumber daya genetik. Terdapat 4 pembangunan KBD, yaitu KBD Sayur, KBD Buah, KBD Perikanan, dan KBD Peternakan.

KBD Sayur, Buah, dan Peternakan menjadi satu pada KBD desa Puhjarak, sedangkan KBD Perikanan dengan membangun kolam lele yang berada di belakang Pendopo dan sudah berjalan. Pada kolam lele ini berfungsi sebagai pembesaran dari bibit lele yang telah dibiakan oleh petani lele. Desa Puhjarak juga dikenal sebagai sentra lele, karena ada sebagian warganya yang menjadi petani lele yang membiakkan lele dari mulai pemijahan, pembesaran untuk konsumsi dan untuk olahan lele. Kolam lele yang dibangun merupakan kolam percontohan dan pembelajaran untuk warga yang ingin mengetahui cara pembiakan ikan lele.

Pembangunan yang terjadi setelah KBD adalah penataan tanaman di depan pendopo dan rumah warga yang menjalani RPL. Saat ini masih 3 dusun yang mengikuti program KRPL yaitu Dusun Gebyaran, Dusun Puhrejo, dan Dusun Puhjarak. Dalam 3 dusun ini lah yang telah menata pekarangan rumah sesuai dengan konsep dari KRPL.

Selain ketiga dusun tanaman juga ditata di sekitar Pendopo yang menjadi Pusat Pemerintahan atau Balai Desa Puhjarak.

(16)

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014

Gambar 1. Hubungan KRPL Dengan Pembangunan Desa Puhjarak

Dampak dari keberadaan program KRPL ini juga sudah mulai nampak dengan meingkkatnya skor PPH yang pada awal tahun, pada saat dimulainya program ini Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Masyarakat Desa Puhjarak yang diambil sampelnya hanya 87 dan meningkat menjadi 92 pada akhir bulan November 2012. Selain itu hasil panen dari pekarangan rumahtangga melalui program ini juga dapat mengurangi belanja Rumahtangga antara Rp. 80.000 sampai dengan Rp.150.000 per Bulan, khususnya dari pengurangan belanja konsumsi sayuran, ikan, telur dan daging ayam/bebek.

Harapan Masyarakat Terhadap KRPL

Harapan akan program KRPL yang akan dating di Desa Puhjarak, tentunya tidak terlepas dari adanya kebutuhan dasar dari individu dalam rumah tangga maupun KRPL yang menyebabkan terus adanya pengembangan serta pelengkapan untuk menerapkan KRPL di seluruh Desa Puhjarak yang memiliki 8 dusun tersebut. Namun, terdapat perbedaan kebutuhan antar individu hal ini disebabkan karena bedanya pekerjaan dari masing-masing individu. Berikut adalah perbedaan kebutuhan menurut pekerjaan di Desa Puhjarak.

Tabel 4. Harapan Masyarakat Terhadap KRPL berdasarkan Jenis Pekerjaan No. Pekerjaan Keinginan dari Program KRPL

1. Petani Pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari.

Kemudahan dalam memperoleh sumber bibit.

Kemudahan dalam akses pasar.

Dapat pemasukkan lain selain dari hasil pertanian.

Memerlukan pelatihan dalam teknologi pertanian Memerlukan penyuluhan untuk meningkatkan hasil pertanian.

2. Non Petani Kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi.

(17)

Mei, 2014

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1

No. Pekerjaan Keinginan dari Program KRPL utama.

Kemudahan pemenuhan kebutuhan sehari-hari (akses pasar).

Penghematan biaya dan waktu dalam pemenuhan kebutuhan.

Dari Table 4 dapat dianalisis bahwa kedua pekerjaan tersebut memiliki beberapa kesamaan dalam beberapa kebutuhan mendasar yaitu mendapat kemudahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan untuk petani membutuhkan adanya pembelajaran tentang teknologi pertanian yang dapat meningkatkan hasil pertanian sehingga kesejahteraan pun akan meningkat. Dari kebutuhan ini lah program KRPL mencoba untuk mewujudkan dan memenuhinya, yaitu dengan adanya pemanfaatan pada pekarangan. Ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup untuk sepanjang waktu merupakan salah satu hal yang sangat dibutuhkan pada saat ini. Hal ini menjadi prioritas pembangunan pertanian dari hal paling kecil dengan melalui rumah tangga dengan mengoptimalkan sumberdaya yang dimiliki pada setiap lahan pekarangan untuk menyediakan pagan bagi rumah tangga. Pemanfaatan lahan pekarangan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga juga untuk meningkatkan penghasilan rumah tangga.

Program KRPL juga dirancang untuk meningkatkan konsumsi ragam pangan lokal yang dalam jangka panjang berpeluang untuk mengurangi konsumsi beras dalam masyarakat. KRPL memiliki prinsip dasar yang diterapkan di Desa Puhjarak dengan pemanfaatan pekarangan ramah lingkungan dan dirancang untuk ketahan dan kemandirian pangan serta menjaga kelestarian melalui KBD guna peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Tentunya dengan adanya prinsip tersebut program KRPL diharapkan memberikan manfaat yang sesuai dengan harapan masyarakat. Dalam beberapa bulan berjalannya program KRPL di Desa Puhjarak dampak yang terjadi memang belum terlalu kelihatan namun yang terjadinya adalah adanya kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dengan adanya penghematan waktu karena tidak perlu lagi untuk membeli kebutuhan pangan khususnya beberapa kebutuhan sayuran, telur, ikan dan daging ayam/bebek di pasar Pare dan Bogo yang berada jauh dari Desa Puhjarak. Selain pemanfaatan pekarangan KRPL juga memberikan pelatihan dalam teknologi pertanian yang berfungsi untuk memanfaatkan limbah pertanian agar dapat dimanfaatkan kembali. Dengan adanya pelatihan ini masyarakat berharap akan dapat meningkatkan hasil pertanian di lahan sawah maupun di lahan pekarangan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam pelaksanaan program KRPL terdapat hubungan antara pemberdayaan serta pembangunan yang berlangsung, hal ini terdapat pada kegiatan yang berlangsung selama program KRPL berjalan. Pembangunan desa yang dibuat meliputi KBD, kolam lele dan penataan tanaman pada rumah tangga dan pendopo. Dengan adanya pembangunan tersebut maka secara tidak langsung dapat memberdayakan masyarakat

(18)

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1 Mei, 2014

sekitar. Seperti dengan adanya KBD maka memerlukan tenaga kerja untuk menata agar KBD tetap berjalan dan KRPL dapat berlangsung secara terus menerus. Begitu pula dengan adanya pembangunan kolam lele di belakang pendopo maka akan lebih memeberdayakan warga agar dapat memelihara dan menerapkan dalam lahan pekarangannya masing-masing.

Diharapkan program KRPL mampu membuat masyarakat lebih memahami manfaat dalam menata lahan pekarangan sehingga mampu menekan keperluan pangan sehari-hari dan menciptakan ketahanan pangan. Gapoktan merupakan salah satu lembaga pendamping dalam melaksanakan program KRPL. Gapoktan juga berperan dalam penyebaran informasi pada anggota kelompok tani yang berguna, hal ini bertujuan untuk memperkenalkan dan lebih membuad masyarakat peduli akan pemanfaatan lahan pekarangan. Program KRPL telah terlihat pengaruhnya terhadap masyarakat yang melaksanakan KRPL seperti terjadinya kemudahan dalam belanja serta mengurangi biaya dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Dampak dari keberadaan program KRPL ini juga sudah mulai nampak dengan meingkkatnya skor PPH yang pada awal tahun, PPH hanya 87 dan meningkat menjadi 92 pada akhir bulan November 2012. Selain itu hasil panen dari pekarangan rumahtangga melalui program ini juga dapat mengurangi belanja Rumahtangga antara Rp. 80.000 sampai dengan Rp.150.000 per Bulan, khususnya dari pengurangan belanja konsumsi sayuran, ikan, telur dan daging ayam/bebek.

DAFTAR PUSTAKA

Agromedia, Pustaka, 2005. Menanam Sayuran di Pekarangan Rumah. Penerbit Agromedia Pustaka.

Anonim. 2012. Sayur mentah Bisa Untuk Tangkal Kanker.

(http://www.homelivingindonesia.com/question-a-answer/landscape/item/325- berteman-dengan-kebun-sayur.html). Diakses 30/5/2012 PKL. 14.27

Chadha, M.L. Ray-yu Yang, Satish K. Sain, C. Triveni, Roohani Pal, M. Ravishankar and T.R. Ghai. 2010. Home gardens: an intervention for improved health and nutrition in selected states of India. Procceding of 28th International Horticultural Congress. Lisboa, August 22-27, 2010.

Database Statistik Pertanian. 2011. Departemen Pertanian Republik Indonesia, Pusat Data dan Informasi Pertanian, Statistik Pertanian database, dikases melalui website http://database.deptan.go.id/bdspweb/bdsp-v2.asp

Mariyono, J. and Bhattarai, M.. 2010. Revitalizing Indonesian rural economy through intensive farming of high value vegetables. The 10th IRSA International Conference. Surabaya, 28-29 July 2010.

Mariyono, J. Dibiyantoro, A., Bhattarai, M. 2010. Improved technologies in vegetable production to support food safety and food security: A case of chili farming in Central Java. paper presentation of the International Conference on Food Safety

(19)

Mei, 2014

Seminar Nasional

Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan 1

and Food Security. 1st-4th December 2010. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

Pemerintah Desa Puhjarak. 2012. Data Monografi Desa Puhjarak 2012.

Sekretariat Dirjen (Sekdirjen) Hortikultura. 2010. Produksi Tanaman Sayuran di Indonesia Periode 2007- 2009.

Gambar

Gambar 1. Hubungan KRPL Dengan Pembangunan Desa Puhjarak

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian terhadap 103 mahasiswa angkatan 2012 Fakultas Kedokteran Universitas Riau, didapatkan pengalaman berorganisasi mahasiswa angkatan 2012 yang

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Analisis

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa antara gaya belajar (X) dengan kecerdasan intrapersonal (Y) terdapat hubungan positif yang

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa diantara lima indikator kecerdasan sosial yaitu memiliki kemampuan berempati, keterampilan berkomunikasi dengan

Hasil uji beda t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata (p&gt;0,1) antara remaja laki-laki dan perempuan dalam keterikatan dengan peer group dimana rata-rata skor

Manfaat penelitian ini bagi peneliti sendiri adalah sebagai sarana pengembangan dan aplikasi ilmu yang telah diperoleh serta mendapatkan gambaran mengenai perilaku

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi orang tua dan guru terhadap keamanan pangan jajanan anak sekolah sebagai dasar

Berdasarkan hasil uji validitas yang diperoleh, dari 26 pernyataan yang terbagi dalam 15 pernyataan pada pola conversation orientation dan 11 pernyataan pada pola conformity