e-ISSN: 2807-8632
Published by : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Palangka Raya
749 PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING DALAM MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI AKHLAK TERCELA DI KELAS X MIPA I MAN 2 GROBOGAN
Mohamad Sobari IAIN Palangka Raya [email protected]
Abstrak
Penelitian tindakan Kelas ini dilatarbelakangi oleh rendahnya nilai Mata Pelajaran Akidah Akhlak pada Matei Akhlak Tercela di MAN 2 Grobogan.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi Akhlak Tercela dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November sampai dengan Desember 2022, bertempat di Kelas X MIPA 1 MAN 2 Grobogan pada semester 1 tahun pelajaran 2022/2023. Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik analisis deskriptif terhadap data berupa dokumen hasil pekerjaan siswa, daftar nilai dan lembar observasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan Model Discovery Learning dapat meningkatkan hasail belajar siswa Kelas X MIPA 1 MAN 2 Grobogan. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata adalah 72,63, siklus II adalah 80.53 dan pada siklus III adalah 91.58. Berdasarkan nilai rata-rata tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa. Selain itu, dari jumlah ketuntasan siswa dapat dilihat bahwa pada siklus I, siklus Ii dan siklus III adalah 57,89%, 73,68% dan 94,74%. Berdasarkan hasil ketuntasan tersebut, maka target yang diinginkan telah tercapai untuk ketuntasan hasil belajar pada siklus III yaitu lebih dari 75% untuk kelulusan KKM secara klasikal atau individu.
Kata kunci: Discovery Learning, Hasil Belajar, Materi Akhlak Tercela
1. Pendahuluan
Hakikatnya pendidikan merupakan sebuah proses berubahnya tingkah laku ke arah yang lebih baik. Belajar merupakan suatu proses di mana terdapat berubah perilaku sebagai akibat dari pengalaman yang telah didapatkan oleh seseorang.
Belajar bukan hanya berbicara tentang aspek pengetahuan dan keterampilan saja,
namun aspek sikap juag termasuk di dalamnya. Hal ini sesuai dengan sistem penilaian pada Kurikulum 2013 yang melihat pada perkembangan ketiga aspek tersebut, seperti yang dinyatakan dalam Lampiran Permendikbud RI nomor 104 tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Hasil belajar merupakan proses pengumpulan informasi/bukti tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis, selama dan setelah proses pembelajaran” (Mendikbud, 2014).
Guru kreatif, professional, dan menyenangkan harus memiliki berbagai konsep dan cara untuk mendongkrak kualitas pembelajaran. Beberapa cara untuk mendokrak kualitas pembelajaran, antara lain adalah dengan cara mengembangkan kecerdasan emosi (emotional quotient), mengembangkan kreativitas (creativity quotient) dalam pembelajaran, mendisiplinkan peserta didik dengan kasih sayang, membangkitkan nafsu belajar, memecahkan masalah, mendayagunakan sumber belajar, dan melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran (Widyaningrum, 2018). Terdapat berbagai macam cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, salah satunya adalah dengan cara peningkatan kualitas pembelajaran (Puyada & Putra, 2018).
Peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan dengan cara pembaharuan model pembelajaran.
Model pembelajaran merupakan variabel manipulatif, yang mana setiap guru memiliki kebebasan untuk memilih dan menggunakan berbagai model pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi pelajarannya (Nugraha, M. I.
et al., 2021). Model pembelajaran memiliki fungsi sebagai instrumen yang membantu atau memudahkan siswa dalam memperoleh sejumlah pengalaman belajar. Pengembangan model pembelajaran dalam konteks peningkatan mutu perolehan hasil belajar siswa perlu diupayakan secara terus menerus dan bersifat komprehensif. Fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi pengajar dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran. Hal inimenunjukkan bahwa setiap model yang akan digunakan dalam pembelajaran menentukan perangkat yang dipakai dalam pembelajaran tersebut. Selain itu, model pembelajaran juga berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa proses pembelajaran masih belum maksimal (Putri, 2018). Hal ini dikarenakan model pembelajaran yang
digunakan masih konvesional atau masih didominasi oleh guru yang mengakibatkan peserta didik kurang diberi kesempatan untuk menyusun pengetahuannya sendiri dalam proses pembelajaran, sehingga berdampak kepada minat peserta didik dalam proses pembelajaran. Apabila hal tersebut terjadi, akan berdampak kepada pemahaman siswa terhadap pelajaran yang diajarkan atau menurunnya hasil belajar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka dibutuhkan suatu peningkatan atau perbaikanagar proses pembelajaran menjadi lebih baik sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Tenaga pengajar harus menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga dapat menimbulkan minat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu diperlukan model pembelajaran yang tepat agar peserta didik lebih mudah memahami pelajaran yang diajarkan.
Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu peserta didik dalam memahami pelajaran dengan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata adalah model pembelajaran Problem Based Learning atau Pembelajaran Berbasis Masalah. Model Discovery Learning merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui metode ilmiah sehingga siswa memperoleh pengetahuan dan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah (Farida et al., 2019). Model Problem Based Learning membuat peserta didik mampu mengidentifikasi masalah, menemukan hubungan sebab akibat serta menerapkan konsep yang sesuai dengan masalah.
Proses ini dilakukan peserta didik melalui diskusi sehingga dapat menyampaikan pendapat dan gagasan dalam kelompoknya. Hal ini membuat peserta didik menjadi lebih senang sehingga proses pembelajaran semakin bermakna. Perasaan senang terhadap pembelajaran dapat menimbulkan ketertarikan dan menumbuhkan motivasi untuk belajar sehingga akan memberi kesan yang mendalam terhadap apa yang dipelajari (Sumitro et al., 2009).
Pengetahuan yang didapat akan tersimpan dalam waktu yang lama dalam ingatan peserta didik.
Berdasarkan hasil observasi di Kelas X MIPA 1 MAN 2 Grobogan, peneliti memperoleh data masih banyak siswa yang kurang pemahaman dan minat belajarnya, hal ini di sebabkan karena belum sepenuhnya dalam pengkoveran tingkat pemahaman dan minat belajar siswa, banyak siswa yang belajar sesuai dengan keinginan sendiri sehingga tidak focus pada materi yang disampaikan guru. Hasil belajar siswa pada pengamatan awal pada siswa Kelas X MIPA 1 MA Negeri 2 Grobogan dalam mengikuti pelajaran Akidah akhlak Materi Akhlak Tercela belum menunjukkan hasil belajar yang maksimal dari data daftar nilai
analisis, perbaikan, pengayaan, pengolahan dan pelaporan hasil belajar menunjukkan banyak siswa yang memiliki nilai rendah yaitu terdapat 14 siswa yang dapatkan nilai dibawah KKM. Hal ini di sebabkan karena minat belajar siswa Kelas X MIPA 1 MAN 2 Grobogan masih rendah, hasil minat belajar yang baik hanya di capai melalui proses belajar yang baik pula, jika Proses pembelajaran kurang optimal dan siswa kurang berpartisipasi dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga siswa merasa jenuh, sangat lah sulit di harapkan terjadinya hasil belajar yang baik.
Tujuan pembelajaran yang jelas akan memperjelas proses belajar mengajar dalam arti situasi dan kondisi yang harus diperbuat dalam proses belajar mengajar.
Kemampuan dan kualifikasi siswa maupun guru berbeda-beda, sehingga pemilihan model pembelajaran yang tepat juga akan mengalami kesukaran karena tujuan yang berhubungan dengan emosi, perasaan, atau sikap dan tujuan yang beraspek afektif sulit dirumuskan dan sukar diukur keberhasilannya (Siswidyawati, 2009). Model pembelajaran yang digunakan guru seharusnya dapat membantu proses analisis siswa. Sebagai suatu proses belajar kegiatan pembelajaran harus dirancang agar menjadi kegiatan yang bermakna dan bertujuan. Sebagai kegiatan yang bermakna, pembelajaran harus bisa memberikan kesan kepada siswa sehingga merasa mendapatkan manfaat dari kegiatan pembelajaran yang diikuti. Terdapat beberapa kelompok siswa yang tidak memperhatikan dan mengacuhkan penjelasan dari guru yang sedang memberikan penjelasan, bahkan siswa cenderung lebih menikmati mengobrol dengan teman- teman mereka dibanding memperhatikan penjelasan dari guru yang ada di depan kelas, ada juga yang mengantuk, menopang dagu.
Guru lebih banyak memberikan penjelasan daripada mencari tahu sejauh mana siswa bisa menerima dan memahami informasi yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru harus mempunyai kreativitas tinggi dalam memilih model pembelajaran yang menarik minat siswa. Agar upaya tersebut berhasil maka harus dipilih model pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa serta lingkungan belajar, siswa dapat aktif, interaktif dan kreatif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran atau proses belajar mengajar merupakan suatu proses interaksi (hubungan timbal balik) antara guru dan siswa atau pembelajaran beserta unsur-unsur yang ada di dalamnya (Falestin & Ulfa, 2015). Pembelajaran merupakan bagian dari Pendidikan, yang di dalamnya ditunjang oleh berbagai unsur-unsur pembelajaran antara lain tujuan, materi pelajaran, sarana prasarana, situasi atau kondisi belajar, media pembelajaran, lingkungan belajar, metode pembelajaran, serta evaluasi. Kesemua unsur-unsur pembelajaran tersebut sangat
mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar untuk meningkatkan prestasi belajar siswa (Jiniarti et al., 2015).
Pemilihan model pembelajaran yang tepat merupakan manifestasi dari kreatifitas seorang guru agar siswa tidak jenuh atau bosan dalam menerima pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang tepat juga akan memperjelas konsep-konsep yang diberikan kepada siswa senantiasa antusias berfikir dan berperan aktif (Momando & Raymond, 2016). Model pembelajaran yang efektif dapat digunakan guru untuk mentransfer ilmu dengan baik dan benar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Model pembelajaran akan efisien jika menghasilkan kemampuan siswa seperti yang diharapkan dalam tujuan dan sesuai dengan target perhitungan dalam segi materi dan waktu. Seorang guru sebaiknya mampu memilih model yang tepat bagi siswa didiknya (Masykurni et al., 2017).
Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menyatakan bahwa penggunaan model Problem Based Learning juga dapat meningkatkan kemampuan berpikirkritis siswa kususnya dalam menyelesaikan masalah (Anugraheni, 2018). Selain dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, penggunaan model Discovery Learning dapat meningkatkan sikap ilmiah dan hasil belajar peserta didik (Nelli et al., 2016). Penelitian selanjutnya juga mengungkapkan bahwa penggunaan model Problem Based Learning secara signifikan mampu meningkatkan hasil belajar siswa serta mampu meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa (Budhi et al., 2018). Berdasarkan beberapa hasil tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran Discovery Learning dapat membantu tenaga pengajar dalam menjalani proses pembelajaran, karena dapat meningkatkan hasil belajar dari peserta didik. Hanya saja pada penelitian sebelumnya belum terdapat kajian yang membahas penggunaan model Problem Based Learning pada jenjang pendidikan MA, sehingga penelitian ini difokuskan pada kajian mengenai peningkatan hasil belajar siswa melalui Discovery Learning dengan tujuan untuk menganalisis perbedaan hasil belajar peserta didik ketika menggunakan model pembelajaran Discovery Learning. Model Discovery Learning merupakan salah satu model pembelajaran dimana authentic assesment (penalaran yang nyata atau konkret) dapat diterapkan secara komprehensif, sebab didalamnya terdapat unsur menemukan masalah dan sekaligus memecahkannya (unsur terdapat didalamnya yaitu problem possing atau menemukan permasalahan dan problem solving atau memecahkan masalah (Y. . Nafiah & Suyanto, 2014). Berdasarkan paparan tersebut, maka penelitian
“Penerapan Model Discovery Learning Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Akhlak Tercela Di Kelas X MIPA I MAN 2 Grobogan perlu untuk
dilakukan.
2. TINJAUAN LITERATUR
a. Pengertian Discovery Learning
Dalam proses pembelajaran disekolah, Peserta didik tidak sekedar mendengarkan ceramah guru atau berperan serta dalam diskusi, tetapi Peserta didik juga diminta menghabiskan waktunya diperpustakaan, disitus web atau terjun di tengah-tengah masyarakat. Menurut Dewey (dalam Nur, 2006), sekolah merupakan laboratorium untuk pemecahan masalah kehidupan nyata, karena setiap Peserta didik memiliki kebutuhan untuk menyelidiki lingkungan mereka dan membangun secara pribadi pengetahuannya. Melalui proses ini, dikatakan (Sanjaya, 2008), sedikit demi sedikit siwa akan berkembang secara utuh, baik pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Artinya, setiap Peserta didik memperoleh kebebasan dalam menyelesaikan program pembelajarannya.
Strategi pembelajaran dengan Discovery Learning, menawarkan kebebasan Peserta didik dalam proses pembelajaran. Panen (2001), mengatakan dalam strategi pembelajaran dengan Discovery Learning, Peserta didik diharapkan untuk terlibat dalam proses penelitian mengharuskannya untuk mengidentifikasi permasalahan, mengumpulkan data, dan menggunakan data tersebut untuk pemecahan masalah (Smith & Ragan, 2002), seperti dikutip Visser, mengatakan bahwa strategi pembelajaran dengan Discovery Learning, merupakan usaha untuk membentuk suatu proses pemahaman isi suatu mata pelajaran pada seluruh kurikulum.
Dengan demikian kesimpulan yang dapat ditarik yakni Discovery Learning adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata lalu dari masalah ini Peserta didik dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil merupakan poin utama dalam penerapan Discovery Learning. Discovery Learning merupakan satu proses pembelajaran di mana masalah merupakan pemandu utama ke arah pembelajaran tersebut. Dengan demikian, masalah yang ada digunakan sebagai sarana agar peserta didik didik dapat belajar sesuatu yang dapat menyokong keilmuannya.
b. Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning
Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, sebagaimana model Discovery Learning juga memiliki kelebihan dan kelemahan yang perlu di cermati untuk keberhasilan penggunaanya. Kelebihan model pembelajaran ini antara lain sebagai berikut :
1) Menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
2) Meningkatkan motivasi dan aktivitas pembelajaran siswa.
3) Membantu siswa dalam mentransfer pengetahuan siswa untuk memahami masalah dunia nyata.
4) Membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
5) Mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
6) Memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
7) Mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
8) Memudahkan siswa dalam menguasai konsep-konsep yang dipelajari guna memecahkan masalah dunia nyata (Sanjaya, 2008).
Kelemahan model pembelajaran Discovery Learning adalah sebagai berikut :
1) Manakala siswa tidak memiliki niat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencobanya.
2) Untuk sebagian siswa beranggapan bahwa tanpa pemahaman mengenai materi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka akan belajar apa yang mereka ingin pelajari (Sanjaya, 2008).
c. Penerapan Discovery Learning
Penerapan model Discovery Learning dalam kegiatan pembelajaran bukan merupakan transfer pengetahuan, tetapi Peserta didik mengalami dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan melalui masalah yang dihadapi. Hal ini menjadikan Peserta didik belajar lebih bermakna, sehingga Peserta didik mampu untuk berfikir kritis dan memecahkan masalah yang dihadapi masing- masing kelompoknya. Berikut adalah sintak model Discovery Learning Fase Kegiatan Guru Kegiatan Peserta didik
1) Fase 1 Pemberian rangsangan (stimulus) kepada peserta didik.
a) Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut
b) Memotivasi Peserta didik terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih oleh guru
c) Peneliti menjelaskan bahan yang diperlukan 1. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru 2. Mengerjakan pekerjaan yang diberikan 2) Fase 2 Pernyataan/ identifikasi masalah (problem statemen)
a) Guru membimbing Peserta didik memecahkan masalah yang belum dapat dipecahkan oleh Peserta didik serta mengorganisasikan tugas belajar.
b) Peserta didik mengerjakan tugas kelompok yang diberikan guru dalam buku pelajaran dan lembar kerja Peserta didik (LKPD)
3) Fase 3 Pengumpulan data (data collection)
a) Guru mendorong Peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai permasalahan.
b) Guru mendorong Peserta didik melakspeserta didikan diskusi untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
c) Peserta didik mengamati objek yang sesuai dengan masalah yang ada dalam buku pelajaran dan lembar kerja Peserta didik (LKPD)
d) Peserta didik melakukan diskusi kelompok 4) Fase 4 Pengolahan data (data processing)
a) Guru membantu Peserta didik dalam merencpeserta didikan dan menyiapkan karya seperti laporan, model yang membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
b) Peserta didik menunjukan hasil diskusi di depan kelas.
5) Fase 5 Pembuktian (verification) dan menarik kesimpulan/generalisasi(generalization)
a) Guru membantu Peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses.
b) Peserta didik menilai pekerjaanya sendiri dengan cara membandingkan dengan pekerjaan teman yang benar
d. Pengertian Hasil Belajar
Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil atau tidak, dapat dilihat dari hasil belajar yang diperoleh
sesudah melakukan kegiatan belajar.
Slameto, (2010) menyatakan bahwa hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Hasil belajar digunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan.
Menurut Mulyasa, (2013), dalam proses pengajaran hasil belajar merupakan perolehan dari proses belajar siswa sesuai dengan tujuan pengajaran. Agar hasil belajar sesuai dengan tujuan belajar, sebaiknya siswa dibiasakan hal berikut, yaitu:
1) Bekerjasama dalam kelompok.
2) Mengerjakan pekerjaan dan latihan dengan segera dan sebaik-baiknya.
3) Mengesampingkan perasaan negatif dalam membahas suatu masalah.
4) Rajin mencari sumber belajar.
5) Membiasakan agar siswa berusaha melengkapi dan merawat alat-alat belajar.
6) Menjaga kesehatan agar dapat belajar dengan baik.
7) Menggunakan waktu rekreasi dengan sebaikbaiknya.
8) Mampu mempersiapkan dan mengikuti ujian.
Pada uraian tersebut dengan menggunakan metode pembelajaran demonstrasi siswa diharapkan dapat mengerjakan semua pekerjaan dan latihan dengan segera dan sebaik-baiknya, mampu berfikir positif dalam menyelesaikan suatu masalah, mampu memahami dan mencari konsep sendiri sehingga proses belajar lebih bermanfaat untuk mencapai hasil belajar yang maksimal.
Hasil belajar dapat diamati setelah adanya proses belajar atau pembelajaran, akan tetapi hasil belajar juga bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.Jadi hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah dia menerima pengalaman belajarnya. Prestasi hasil belajar adalah tingkatan keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran di sekolah dalam bentuk skor yang diperoleh dari tes mengenai sejumlah materi tertentu.
e. Jenis-jenis Hasil Belajar
Jenis hasil belajar dibagi menjadi dua jenis yaitu ranah kongnitif dan ranah afektif. Hal tersebut sesuai dengan definisi yang diutarakan oleh Bloom yang dikutip oleh Dimyati (2006:26) mengidentifikasi jenis hasil belajar, yakni:
1) Ranah kognitif terdiri dari enam jenis perilaku sebagai berikut:
a) Pengetahuan. Mencapai kemampuan untuk mengingat tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, dan prinsip.
b) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
c) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru.
d) Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
e) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun program kerja.
f) Evaluasi. Mencakup kemampuan dalam membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.
2) Ranah afektif terdiri dari lima perilaku-perilaku sebagai berikut:
a) Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut.
b) Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
c) Penilaian dan penentuan sikap, yang mencakup menerima suatu nilai, menghargai, mengakui dan menentukan sikap.
d) Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.
e) Pembentukan pola hidup, yang mencakup kemampuan menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi (Hamruni, 2012).
f. Faktor-faktor Pengaruh Hasil Belajar
Purwanto, (2010) menyatakan bahwa hasil belajar siswa dibagi menjadi dua yaitu faktor dari luar dan faktor dari dalam.
1) Faktor dari luar a) Faktor lingkungan
a. Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang dapat merangsang dan menantang siswa untuk belajar. Faktor lingkungan dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1) Lingkungan alam
Lingkungan alam di sekitar sekolah dapat mempengaruhi konsentrasi siswa dalam belajar.
2) Lingkungan sosial
Latar belakang sosial seorang siswa akan membawa pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan kepribadian siswa itu sendiri.
b) Faktor instrumental
b. Faktor instrumental meliputi kurikulum, program, sarana, prasarana, dan guru. Faktor ini harus ada di dalam pembelajaran.
2) Faktor dari dalam a) Faktor Fisiologis
c. Faktor ini meliputi kondisi fisik siswa yang berpengaruh pada kegiatan pembelajaran.
b) Faktor Psikologis
d. Sedangkan faktor psikologis meliputi minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan kognitif siswa tersebut.
3. METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Menurut Kemmis (1992) dan Mc Neiff (2002) dalam (Arikunto, 2015), Penelitian Tindakan Kelas dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh perilaku tindakan. Tindakan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melakspeserta didikan tugas sehari-hari, memperdalam pemahaman tentang tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi praktik-praktik pembelajaran yang dilakukan. Model penelitian yang dipilih adalah model siklus yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan (siklus spiral), yang terdiri dari beberapa siklus.
Model penelitian yang dilakukan pada penelitian ini merupakan pengembangan model Kemmis dan Mc Taggart yang dimulai dari Pratindakan dan dilanjutkan dengan Siklus I dan II yang terdiri dari perencanaan, tindakan yang dilakukan dalam waktu bersamaan peneliti melakukan pengamatan, kemudian dilakukan refleksi atas tindakan yang telah dilakukan. Secara garis besar alur pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut: tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan dan pengamatan tindakan, refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan. Siklus PTK Kemmis dan Mc Taggart (Kunandar, 2011) menyatakan bahwa secara umum, mampu menyelesaikan permasalahan pembelajaran yang biasa terjadi di kelas, serta meningkatkan kinerja guru dalam proses membelajaran di kelas. Hasil penelitian tindakan kelas tidak dapat digeneralisasikan karena hanya berlaku pada kelas yang memiliki permasalahan
saja (Akbar, 2009).
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pembelajaran menggunakan Model Discovery Learning dapat meningkatakn keaktifan, kerjasama, kekompakan, dan semangat dalam kegiatan pembelajaran. Hasil pengamatan terhadap peningkatan keaktifan, kreatifitas dan kerja sama siswa pada saat kegiatan belajar mengajar pada siklus I, siklus II dan siklus III dilihat pada tabel berikut :
Gambar 1 Perbandingan Prosentase Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran
Berdasarkan tabel dan diagran tersebut diatas dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan keaktifan, kreatifitas serta kerja sama yang dilakukan oleh siswa. Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada siklus I, siklus II dan siklus III, keaktifan siswa adalah 42,11%, 73,68% dan 89,47%
sedangkan pada siklus I, siklus II dan siklus III, kerjasama siswa adalah 52,63%, 78,95% dan 84,21% dan pada siklus I, siklus II dan siklus III, kekompakan siswa adalah 42,11%, 73,68% dan 84,21% dan pada siklus I, siklus II dan siklus III, semangat siswa adalah 36,84%, 68,42% dan 94,74%.
Berdasarkan nilai prosentase tersebut terlihat jelas adanya peningkatan dari siklus I, II dan III.
Hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang dapat diamati dan diukur bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hasil belajar siswa dari penelitian ini diperoleh melalui tes formatif. Hasil tes yang dikerjakan oleh siswa terhadap hasil belajar pada pra siklus, siklus 1 dan II dapat dilihat pada tabel berikut :
Gambar 2 Perbandingan rata-rata siklus I, siklus II dan siklus III
0.00%
20.00%
40.00%
60.00%
80.00%
100.00%
Keaktifan Kerjasama Kekompakan Semangat
Siklus I Siklus II Siklus III
Gambar 3 Perbandingan Prosentase lebih besar dari KKM Pada siklus I, siklus II dan siklus III
Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan dari siklus I, siklus II dan siklus III. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata adalah 72,63, siklus II adalah 80.53 dan pada siklus III adalah 91.58. Berdasarkan nilai rata-rata tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa. Selain itu, dari jumlah ketuntasan siswa dapat dilihat bahwa pada siklus I, siklus Ii dan siklus III adalah 57,89%, 73,68% dan 94,74%. Berdasarkan hasil ketuntasan tersebut, maka target yang diinginkan telah tercapai untuk ketuntasan hasil belajar pada siklus III yaitu lebih dari 75% untuk kelulusan KKM secara klasikal atau individu.
Metode pembelajaran sangat berperan penting daam keberhasilan kegiatan pembelajaran. Sama halnya pada penelitian ini, penggunaan Model Discovery Learning cocok digunakan dalam proses pembelajaran Akidah Akhlak, karena Model Discovery Learning dapat menarik perhatian siswa dan membantu pemahaman siswa dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan guru didalam kelas terutama dalam pokok dan bahasan kisah Akhlak Tercela.
Hal ini dapat diperkuat dalam hasil penelitian pada siklus I, siklus II dan siklus III yang membuktikan bahwa keaktifan, kerjasama, kekompakan dan
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00
Rata-rata Nilai 72.63 80.53 91.58
Siklus I Siklus II Siklus III
0.00%
50.00%
100.00%
Prosentase Nilai ≥ KKM 57.89%
73.68%
94.74%
Siklus I Siklus II Siklus III
semangat peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan hasil belajar siswa meningkat setelah menggunakan Model Discovery Learning dalam proses pembelajaran didalam kelas. Jadi dapat dipahami bahwa penggunaan Model Discovery Learning dalam penyampaian materi dikelas dapat merangsang dan menarik perhatian siswa dalam mengikuti prose kegiatan pembelajaran. Dengan begitu kegiatan belajar dikelas dapat lebih interaktif dan siswa dapat menerima pesan yang disampaikan pada setiap materi yang diajarkan oleh guru sehingga siswa termotivasi mengikuti proses kegiatan pembelajaran dikelas pada setiap pertemuan.
Selain itu juga terdapat penelitian terdahulu yang meneliti tentang model Discovery Learning terhadap hasil belajar. Nofziarni et al., (2019), menyatakan bahwa hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan model Discovery Learning terhadap hasil belajar pada materi mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang di Kelas X MIPA 1 MAN 2 Grobogan.
Sejalan dengan penelitian tersebut, Nafiah, (2014) juga menyatakan hasil penelitian bahwa penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa : (a) penerapan model Discovery Learning pada pembelajaran materi perbaikan dan setting ulang PC dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa yaitu sebesar 24,2%, (b) Keterampilan berpikir kritis siswa yaitu siswa dengan kategori keterampilan berpikir kritis sangat tinggi sebanyak 20 siswa (69%), kategori tinggi sebanyak 7 siswa (24,2%), kategori rendah sebanyak 2 siswa (6,9%) dan kategori sangat rendah yaitu sebanyak 0 siswa (0%), (c) penerapan Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 31,03%, dan (d) Hasil belajar siswa setelah penerapan Discovery Learning yakni jumlah siswa yang mencapai KKM sebanyak 29 siswa (100%).
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Fauzia, (2018) juga mendukung temuan penelitian sekarang. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dari 10 hasil penelitian, menyatakaa bahwa pembelajaran dengan model Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik. Peningkatan hasil belajar dari yang terendah 5 % sampai yang tertinggi 40%, dengan rata-rata 22,9 %.
Wulan & Taufina, (2020) menambahkan bahwa dari penelusuran didapatkan 15 jurnal yang relevan yang di analisis perannya dalam pembelajaran tematik terpadu dengan menggunakan model Discovery Learning, ternyata menunjukkan model pembelajaran Discovery Learning
mampu meningkatkan hasil belajar siswa mulai dari yang terendah 28%
sampai yang tertinggi 93% dengan rata-rata 58%.
5. PENUTUP a. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapatkan, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Akhlak Tercela di Kelas X MIPA 1 MAN 2 Grobogan. Hal ini dapat dibuktikan adanya peningkatan hasil belajar siswa dari pra siklus dan siklus 1. Hasil nilai rata-rata pada Pra Siklus adalah 61.06. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata adalah 72,63, siklus II adalah 80.53 dan pada siklus III adalah 91.58. Berdasarkan nilai rata-rata tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa. Selain itu, dari jumlah ketuntasan siswa dapat dilihat bahwa pada siklus I, siklus Ii dan siklus III adalah 57,89%, 73,68% dan 94,74%.
Berdasarkan hasil ketuntasan tersebut, maka target yang diinginkan telah tercapai untuk ketuntasan hasil belajar pada siklus III yaitu lebih dari 75%
untuk kelulusan KKM secara klasikal atau individu sehingga penggunaan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Akhlak Tercela di Kelas X MIPA 1 MAN 2 Grobogan.
b. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut :
1) Bagi guru
a) Guru harus menggunakan model pembelajaran yang bervariasi sehingga peserta didik dtidak merasa bosan dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
b) Guru sebaiknya meningkatkan keterampilan dasar mengajar sehingga dapat membantu siswa untuk mencapai tingkat perkembangannya secara optimal.
c) Guru sebaiknya menerapkan model dan media pembelajaran yang inovatif yang akan digunakan dalam pembelajaran agar lebih mudah dipahami dan disenangi oleh peserta didik.
d) Dalam penerapan model Discovery Learning, guru sebaiknya dapat mengkondisikan waktu dengan baik agar pembelajaran lebih efektif dan efisien.
e) Penerapan pembelajaran model Discovery Learning dapat meningkatkan belajar siswa, sehingga model tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk pembelajaran Akidah Akhlak untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
2) Bagi siswa
Melalui penerapan model pembelajaran Discovery Learning terbukti dapat meningkatkan hasil belajar karena dalam pembelajaran tersebut siswa dapat megembangkan inkuiri, melakukan penyelidikan autentik, mengembangkan rasa percaya diri dan dapat bekerja sama dengan kelompok untuk menyelesaikan suatu pokok permasalahan yang diajukan oleh guru.
3) Bagi Sekolah/Lembaga
Sekolah perlu membuat kebijakan-kebijakan terkait pengembangan dan pelaksanaan model pembelajaran, khususnya model Discovery Learning. Sekolah juga harus memberikan pelatihan kepada guru tentang peningkatan kompetensi guru dalam mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, S. (2009). Panduan Penelitian Sosial. Jakarta: Yayasan Lembaga Kemala.
Anugraheni, I. (2018). Meta Analisis Model Pembelajaran Discovery Learning dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis di Sekolah Dasar. A Journal of Language, Literature, Culture, and Education POLYGLOT, 14(1).
Arikunto, S. (2015). Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Budhi, W., Wulandari, N. I., & Wijayanti, A. (2018). Efektivitas Model Pembelajaran Discovery Learning terhadap Hasil Belajar IPA Ditinjau dari Kemampuan Berkomunikasi Siswa. Jurnal Pijar MIPA, 13(1).
https://doi.org/https://doi.org/10.29303/jpm.v13i1.538.
Falestin, Y., & Ulfa, L. F. (2015). Peningkatan Prestasi Belajar Akuntansi Melalui Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Pada Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Surakarta. Jurnal Administrasi Pendidikan, 8(1).
Farida, N., Hasanudin, H., & Suryadinata, N. (2019). Discovery Learning (DISCOVERY LEARNING) –Qr-Code dalam Peningkatan Hasil Belajar Matematika Peserta Didik. Aksioma: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, 8(1), 225–236. https://doi.org/https://doi.org/10.24127/ajpm.v8i1.1894
Fauzia, H. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Matematika SD. Jurnal Primary Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, 7(1), 40–47. https://doi.org/10.51179/asimetris.v2i2.811
Hamruni. (2012). Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani.
Jiniarti, B. E., Sahidu, H., & Verawati, N. N. S. P. (2015). ImplementasiModel Discovery Learning Berbantuan Alat Peraga untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas X MIPA 1III SMPN 22 Mataram. Prisma Sains : Jurnal Pengkajian Ilmu Dan Pembelajaran Matematika Dan IPA IKIP Mataram, 13(1).
https://doi.org/https://doi.org/10.33394/j-ps.v3i1.1075.
Kunandar. (2011). Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta:Rajawali Pres.
Masykurni, M., Gani, A., & Khaldun, I. (2017). Penerapan Model Discovery Learning (DISCOVERY LEARNING) Berbasis Komputer untuk Meningkatkan SikapIlmiahdan Hasil Belajar pada Konsep Larutan Penyangga di SMA Negeri 1 Padang Tiji. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, 4(1).
https://doi.org/https://doi.org/10.24815/jpsi.v4i1.6587.
Momando, D., & Raymond, D. (2016). Pengaruh Penerapan Model Discovery Learningterhadap Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Kelas X MIPA 1 SD.
Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 4(2).
https://www.neliti.com/id/publications/254234/pengaruh-penerapan-model- problem-based-learning-terhadap-kemampuan-berpikir-ting
Mulyasa, E. (2013). Uji Kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nafiah, Y. (2014). Penerapan Model Discovery Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Vokasi, 4(1), 125–142. https://doi.org/10.33369/diklabio.1.1.45-53
Nafiah, Y. ., & Suyanto, W. (2014). Penerapan Model Problem-Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa. Jurnal
Pendidikan Vokasi, 4(1), 125–143.
https://doi.org/https://doi.org/10.21831/jpv.v4i1.2540
Nelli, E., Gani, A., & Marlina, M. (2016). Implementasi Model Discovery Learningpada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Sikap Ilmiahpeserta Didik Kelas XI SMA Negeri 1 Peudada. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, 4(1). https://media.neliti.com/media/publications/123051-ID- implementasi-model-problem-based-learnin.pdf.
Nofziarni, A., Hadiyanto, H., Fitria, Y., & Bentri, A. (2019). Pengaruh Penggunaan Model Discovery Learning ( Discovery Learning ) Terhadap Hasil Belajar Siswa Di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 3(4), 2016–2024.
https://doi.org/10.31004/basicedu.v3i4.244
Nugraha, M. I., Tuken, R., & Hakim, A. (2021). Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa Sekolah Dasar.
Pinisi Journal Of Education, 1(2). https://ojs.unm.ac.id/PJE/article/view/25908.
Purwanto, M. N. (2010). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Putri, A. A. (2018). Pengaruh Pengetahuan, Keterampilan, Konsep Diri, Karakteristik Pribadi dan Motif Sumber Daya Manusia terhadap Prestasi Kerja Karyawan di BMT UGT Sidogiri Se – Surabaya. UIN Sunan Ampel Surabaya.
Puyada, D., & Putra, R. (2018). Meta Analisis Pengaruh Discovery Learning dan Virtual Laboratory terhadap Hasil Belajar Siswa. Invotek: Jurnal Inovasi Vokasional
Dan Teknologi, 18(2), 9–16.
https://doi.org/https://doi.org/10.24036/invotek.v18i2.257.
Sanjaya, W. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Siswidyawati, N. (2009). Implikasi Model DISCOVERY LEARNING untuk Meningkatkan HAsil Belajar SIswa Pelajaran Biologi di SMPN 1 Gesi. Jurnal Administrasi Pendidikan, 2(2), 24–45.
Slameto. (2010). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Rineka Cipta.
Smith, P. L., & Ragan, T. J. (2002). Instructional design. New York: Macmillan Publishing Company.
Sumitro, A. H., Setyosari, P., & Sumarmi. (2009). Penerapan Model Discovery Learning Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar IPS. Jurnal Pendidikan:Teori,
Penelitian, Dan Pengembangan, 2(9), 1188–1195.
https://doi.org/https://doi.org/10.17977/jptpp.v2i9.9936
Widyaningrum, R. (2018). Analisis Kebutuhan Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Etnosains untuk Meningkatkan Kualitas PembelajaranIPA dan MenanamkanNilai Kearifan Lokal Siswa Sekolah Dasar. Widya Wacana: Jurnal Ilmiah, 13(2), 45–62. https://doi.org/https://doi.org/10.33061/ww.v13i2.2257.
Wulan, O., & Taufina, T. (2020). Penerapan Model Discovery Learning (DISCOVERY LEARNING) Pada Pembelajaran Tematik Terpadu di Kelas X MIPA 1 Sekolah Dasar (Studi Literatur). Jurnal Inovasi Pendidikan Dan Pembelajaran Sekolah Dasar, 4(1), 98. https://doi.org/10.24036/jippsd.v4i1.109461