• Tidak ada hasil yang ditemukan

GENETIKA BANI ADAM AS DALAM AL-QURAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "GENETIKA BANI ADAM AS DALAM AL-QURAN"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

GENETIKA BANI ADAM AS DALAM AL-QURAN

(Studi Kitab Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Karya Thanthawi Jauhari)

Tesis

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar MagisterAgama (M.Ag)

Oleh:

Heru Rojikin NIM: 220410998

PROGRAM STUDI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR PROGRAM PASCASARJA

INSTITUT ILMU AL-QURAN (IIQ) JAKARTA 1443 H/ 2022 M

(2)

GENETIKA BANI ADAM AS DALAM AL-QURAN

(Studi Kitab Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Karya Thanthawi Jauhari)

Tesis

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar MagisterAgama (M.Ag)

Oleh:

Heru Rojikin NIM: 220410998

Pembimbing:

Prof. Dr. KH. Artani Hasbi, MA Hj. Ade Nailul Huda, MA, Ph.D

PROGRAM STUDI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR PROGRAM PASCASARJA

INSTITUT ILMU AL-QURAN (IIQ) JAKARTA 1443 H/ 2022 M

(3)
(4)

iii

PERNYATAAN PENULIS

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Heru Rojikin

NIM : 220410998

Tempat/Tanggal Lahir : Purwakarta, 05 Maret 1990

Alamat : Jl. Veteran No. 155 Kebon Kolot Purwakarta Jawa Barat

Menyatakan bahwa tesis dengan judul “Genetika Bani Adam as Dalam Al- Qur’an (Studi Kitab Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Karya Thanthawi Jauhari) adalah benar-benar hasil karya saya kecuali kutipan- kutipan yang telah disebutkan. Keselahan dan kekuranga di dalam karya ini sepenuhnya menadi tanggung jawab saya.

Jakarta, 30 Juni 2022

Heru Rojikin

(5)

v ABSTRAK

Judul Tesis : Genetika Bani Adam as Dalam Al-Qur’an (Studi Kitab Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an Karya Thanthawi Jauhari)

Nama : Heru Rojikin

NIM : 220410998

Al-Qur’an ialah mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw didalamnya tedapat ratusan ayat-ayat yang berbicara tentang berbagai ilmu pengetahuan.

Sayangnya perhatian intelektual Islam terhadap pemikiran-pemikiran tersebut sangat minim, bila dibandingkan perhatian mereka pada masalah hukum.

Sementara disisi lain kebutuhan terhadap ilmu pengetahuan seperti yang ditunjukkan dalam ayat- ayat yang berbicara tentang manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, langit dan bumi juga tidak bisa dinafikan disamping kebutuhan terhadap hukum dan sebagainya.

Penelitian ini membahas dua hal, pertama; Penafsiran Thanthawi Jauhari dalam Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an tentang genetika pada ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung kata min nafsin wahidah ( ِسْفَن ْنِه ةّدِحاَّو). Kedua, relevansi penafsiran Thanthawi Jauhari tentang genetika tehadap sains modern. Pemilihan kitab Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an karya Thanthawi Jauhari sebagai objek penelitian karena kitab tersebut merupakan kitab tafsir kontemporer yang bercorak ‘ilmi sehingga sudut pandnag tentang genetika lebih mendalam.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) sedangkan teknik analisis data menggunakan deskriptif analisis, dimana metode ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang utuh dan jelas berkaitan dengan penafsiran Thanthawi Jauhari tentang genetika

Dari hasil penelitian ini, penulis mendapatkan kesimpulan; pertama, manusia di bumi mempunyai satu titik umum yang sama yaitu Allah Ta’ala menyebutkan adanya kesatuan dalam penciptaan dan kesaamaan dalam karakteristik, keadaan dan tingkah. Kesatuan dan kesamaan tersebut disebabkan setiap manusia menurunkan gen kepada generasi selanjutnya yang akan terus berproses dan bercampur silang sesuai dengan perkembangbiakan dan penyebaran manusia itu sendiri. Yang artinya setiap anak membawa gen dari orang tuanya terus sampai kepada Nabi Adam as.

(6)

vi

Kedua, Thanthawi Jauhari sebagai pembaharu pemikiran dibidang penafsiran, dianggap berhasil menghadirkan warna baru dalam penafsirannya yang dapat membuka ruang-ruang dan mengisinya dengan gegap gempita harmonisasi Al-Qur’an dan Sains. Proses genetika yang dikenal dalam teori Mendel dapat berharmonisasi terhadap isyarat-isyarat Al-Qur’an yang begitu lugas diejawantahkan dalam tafsir Jauhari.

Kata Kunci: Genetika, Bani Adam as, Thanthawi Jauhari

(7)

vii

ثحبلا صلختسم

ةساردلا عوضوه ريسفتلا ةسارد ; نآرقلا يف ملاس هيلع مدآ ىنب ةيثارو :

نآرقلا ريسفت يف رهاوجلا

نْسلإأ نيقزار وريخ :

ةساردلا نقر :

220410998

تائم ويف ،ملسو ويلع للها ىلص دممح بينل ىمظعلا ةرجعلما وى نآرقلا

.مولعلا نع ثحبي تايآ مامتىا

عم ةنراقلماب ،ّلقأ اىنًكفت ىلع ملاسلإا نيىذلا

ثحبت تايآ في امك مولع جايتحا ،كلاذ لجأ نمو .مكلحا ةلئسم ىلع مكمامتىا ضرلأاو تاوامسلاو تارمثلاو ناويلحاو رشبلا نع

جايتحا بناج لىإ يفني نل

.هنًغو مكلحا في ىرىوج ىوطنط نًسفت ،لولأا .نٌلاصخ نع ثحبي ثحبلا اذى

نًسفت

ٍسْفَّ ن ْنِم" ةملكلا نمضت نآرقلا تايآ في ةيثارولا مولع نع نآرقلا نًسفت في رىاولجا .ثيدح مولعب ةيثارولا مولع نع ىرىوج ىوطنط نًسفت قلعتي ،نياثلا ."ٍةَدِحاَّو ىوطنطل نآرقلا نًسفت في رىاولجا نًسفت باتكلا وى ثحبلا عوضوم ثحابلا راتيخ لما باتكلا ونلأ ، ىرىوج يملعلا عّوني رصاع

مدختسي .ةيثارولا ةيرظن قمعأ تىح

ةبتكلما ثحبلا عون ثحابلا

( library research

مادختساب تانايبلا للحو . )

ىوطنط نًسفتب قلعتي انايبو اّمات رّوصتلا لصتيح وفادىأو ،ليلحتلا فصولا ةقيرطلا

.ةثارولا مولع نع ىرىوج

(8)

viii

ولأا ،نٌئيش لىإ ثحبلا اذى جئاتن لدت ةطقن ضرلأا في رشبلا كليد ل

داتحلاا .وتئيىو ولاحو وتفصو وهيبشتو وقلخ في داتحا ناك لىاعت للها لاق ةدحاو ةثرولما رشبلا ثراوي نأ ببسي ويبشتلاو

مدقتي نأ رمتسي يذلا لىاتلا بسنلا لىا

نم ةثرولما لميح دلولا لك وب دارلما نأ .وسفن رشبلا راشتناو دلاوت ةبسانبم طليخو و برتعيو نًسفتلا نًكفت عترمخ وى ىرىوج ىوطنط نياثلا .ملاس ويلع مدآ تىح هدلا في ةيثارولا مدقت فرعي .مولعلاو نآرقلا قباطبم هنًسفت في ديدج نول رهظب حجنلا

.ىرىوج ىوطنطل نًسفت في نآرقلا تاراشإ ىلع قباطم ليدنلم ةيرظنلا

ةيحاتفملا تاملكلا ،ةثارولا ملع :

نىب يواطنط خيشلا ،ملاس ويلع مدآ

يرىوج

.

(9)

ix ABSTRACT

Thesis Title : Genetics of the Son of Prophet Adam 'alaihi salam in the Qur'an; Study of Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an by

Thanthawi Jauhari Name : Heru Rojikin

NIM : 220410998

The Qur'an is the Prophet Muhammad shalallahu alaihi wasalam's greatest miracle, with hundreds of verses discussing various sciences.

Unfortunately, when compared to legal issues, Islamic intellectuals pay very little attention to these thoughts. On the other hand, the need for knowledge, as demonstrated by verses about humans, animals, plants, heaven, and earth, as well as the need for law, cannot be denied.

This study addresses two issues. The first is Thanthawi Jauhari's interpretation of genetics in Qur'anic verses containing the word min nafsin wahidah

."ٍةَدِحاَّو ٍسْفَّ ن ْنِم"

in Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir of the Qur'an.

Second, consider Thanthawi Jauhari's interpretation of genetics in light of modern science. The book Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an by Thanthawi Jauhari was chosen as the subject of research because it is a

(10)

x

contemporary book of commentary with a'scientific pattern' that provides a more in-depth perspective on genetics.

The research method employed is library research, and the data analysis technique employed is descriptive analysis, with the goal of obtaining a complete and clear picture related to Thanthawi Jauhari's interpretation of genetics.

The authors draw the following conclusions based on the findings of this study: First, humans on Earth share one point in common, namely Allah Ta'ala mentions the existence of unity in creation and similarities in characteristics, conditions, and behavior. This unity and similarity is caused by every human being passing down genes to the next generation, which will continue to process and cross-mix in accordance with human reproduction and spread. This means that every child carries genes from their parents to Prophet Adam ‘Alaihi salam. Second, Thanthawi Jauhari is regarded as a thought reformer in the field of interpretation, bringing a new color to his interpretation that can open up spaces and fill them with excitement for the harmonization of the Qur'an and Science. The genetic process described by Mendel's theory is compatible with the Qur'anic cues so clearly embodied in Jauhari's interpretation.

Key Word: Genetics, Son of Prophet Adam 'alaihi salam, Thanthawi Jauhari

(11)

xi

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... ii

LEMBAR PERNYATAAN PENULIS ... iii

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... xiii

TRANSLITERASI ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan ... 16

1. Identifikasi Masalah ... 16

2. Pembatasan Masalah ... 17

3. Rumusan Masalah ... 17

C. Tujuan Penelitian ... 17

D. Kegunaan Penelitian ... 18

E. Kajian Pusataka ... 18

F. Metodologi Penelitian ... 21

G. Sistematika Penelitian ... 22

BAB II GENETIKA DAN PENCIPTAAN MANUSIA ... 25

A. Genetika Dalam Pandangan Sains ... 25

1. Pengertian dan Asal Usul Genetika ... 25

2. Seluk Beluk Gen ... 28

3. Struktur dan Ekspresi Gen ... 30

4. Gregor Mandel dan Hukumnya ... 30

B. Genetika Dalam Al-Qur’an ... 33

C. Term Nafsin Wahidah Dalam Literatur Tafsir ... 35

D. Term Al-Qur’an Tentang Penciptaan Nabi Adam as ... 42

E. Term Al-Qur’an Tentang Penciptaan Keturunan Nabi Adam as ... 52

F. Metodologi Penafsiran Ayat-Ayat Saintifik ... 58

(12)

xii

BAB III BIOGRAFI THANTHAWI JAUHARI DAN TAFSIRNYA ... 69

A. Setting Kehidupan Thanthawi Jauhari ... 69

B. Mengenal Tafsir al-Jawahir ... 71

1. Latar Belakang Penulisan Tafsir ... 71

2. Pendekatan Thanthawi Jauhari Dalam Tafsir ... 73

3. Metode Tantawi Jawhari dalam Tafsir Al-Jawahir ... 74

4. Corak penafsiran ... 77

5. Contoh Penafsiran ... 77

6. Pandangan Tantawi Jauhari Tentang Tafsir ... 80

C. Karya-Karya Thanthawi Jauhari ... 85

D. Tafsir Ilmi Dalam Pandangan Ulama ... 86

E. Hubungan Al-Qur’an dan Sains Menurut Ulama Barat ... 90

F. Kajian Tafsir Al-Qur’an Mengenai I’jaz Ilmi ... 94

BAB IV PENAFSIRAN TANTHAWI JAUHARI TERHADAP AYAT-AYAT GENETIKA DALAM AL-QUR’AN ... 103

A. Konektifitas Genetika Manusia ... 110

B. Proses Tumbuh Kembang Janin ... 117

C. Kronologis Reproduksi ... 129

D. Hikmah Penciptaan Manusia dan Keajaiban Penciptaan Tubuh………132

E. Relevansi Penafsiran Thanthawi Jauhari Terhadapa Sains Modern ... 147

BAB V PENUTUP ... 152

A. Kesimpulan ... 152

B. Saran-Saran ... 153

DAFTAR PUSTAKA ... 154

(13)

v ABSTRAK

Judul Tesis : Genetika Bani Adam as Dalam Al-Qur’an (Studi Kitab Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an Karya Thanthawi Jauhari)

Nama : Heru Rojikin

NIM : 220410998

Al-Qur’an ialah mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw didalamnya tedapat ratusan ayat-ayat yang berbicara tentang berbagai ilmu pengetahuan.

Sayangnya perhatian intelektual Islam terhadap pemikiran-pemikiran tersebut sangat minim, bila dibandingkan perhatian mereka pada masalah hukum.

Sementara disisi lain kebutuhan terhadap ilmu pengetahuan seperti yang ditunjukkan dalam ayat- ayat yang berbicara tentang manusia, hewan, tumbuh- tumbuhan, langit dan bumi juga tidak bisa dinafikan disamping kebutuhan terhadap hukum dan sebagainya.

Penelitian ini membahas dua hal, pertama; Penafsiran Thanthawi Jauhari dalam Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an tentang genetika pada ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung kata min nafsin wahidah ( ةّد ِحا َّو ِسْفَن ْن ِم).

Kedua, relevansi penafsiran Thanthawi Jauhari tentang genetika tehadap sains modern. Pemilihan kitab Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an karya Thanthawi Jauhari sebagai objek penelitian karena kitab tersebut merupakan kitab tafsir kontemporer yang bercorak ‘ilmi sehingga sudut pandnag tentang genetika lebih mendalam.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) sedangkan teknik analisis data menggunakan deskriptif analisis, dimana metode ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang utuh dan jelas berkaitan dengan penafsiran Thanthawi Jauhari tentang genetika

Dari hasil penelitian ini, penulis mendapatkan kesimpulan; pertama, manusia di bumi mempunyai satu titik umum yang sama yaitu Allah Ta’ala menyebutkan adanya kesatuan dalam penciptaan dan kesaamaan dalam karakteristik, keadaan dan tingkah. Kesatuan dan kesamaan tersebut disebabkan setiap manusia menurunkan gen kepada generasi selanjutnya yang akan terus berproses dan bercampur silang sesuai dengan perkembangbiakan dan penyebaran manusia itu sendiri. Yang artinya setiap anak membawa gen dari orang tuanya terus sampai kepada Nabi Adam as. Kedua, Thanthawi

(14)

vi

Jauhari sebagai pembaharu pemikiran dibidang penafsiran, dianggap berhasil menghadirkan warna baru dalam penafsirannya yang dapat membuka ruang- ruang dan mengisinya dengan gegap gempita harmonisasi Al-Qur’an dan Sains. Proses genetika yang dikenal dalam teori Mendel dapat berharmonisasi terhadap isyarat-isyarat Al-Qur’an yang begitu lugas diejawantahkan dalam tafsir Jauhari.

Kata Kunci: Genetika, Bani Adam as, Thanthawi Jauhari

(15)

vii

ثحبلا صلختسم

ةساردلا عوضوم ريسفتلا ةسارد ; نآرقلا يف ملاس هيلع مدآ ىنب ةيثارو :

نآرقلا ريسفت يف رهاوجلا

مْسلإأ نيقزار وريخ :

ةساردلا مقر

220410998 :

،ملسو هيلع هللا ىلص دمحم يبنل ىمظعلا ةرجعملا وه نآرقلا

.مولعلا نع ثحبي تايآ تائم هيف مامتها

اهريكفت ىلع ملاسلإا ينهذلا

جايتحا ،كلاذ لجأ نمو .مكحلا ةلئسم ىلع مكمامتها عم ةنراقملاب ،ّلقأ تاوامسلاو تارمثلاو ناويحلاو رشبلا نع ثحبت تايآ يف امك مولع ضرلأاو .هريغو مكحلا جايتحا بناج ىلإ يفني نل

ىوطنط ريسفت ،لولأا .نيلاصخ نع ثحبي ثحبلا اذه

يف ىرهوج يف ةيثارولا مولع نع نآرقلا ريسفت يف رهاوجلا ريسفت

ريسفت قلعتي ،يناثلا ." ةَد ِحا َّو سْفَّن ْنِم" ةملكلا نمضت نآرقلا تايآ ثحابلا راتخي .ثيدح مولعب ةيثارولا مولع نع ىرهوج ىوطنط ىوطنطل نآرقلا ريسفت يف رهاوجلا ريسفت باتكلا وه ثحبلا عوضوم لا باتكلا هنلأ ، ىرهوج يملعلا ع ّوني رصاعم

ةيرظن قمعأ ىتح

ةبتكملا ثحبلا عون ثحابلا مدختسي .ةيثارولا

library research (

. )

لصتحي هفادهأو ،ليلحتلا فصولا ةقيرطلا مادختساب تانايبلا للحو .ةثارولا مولع نع ىرهوج ىوطنط ريسفتب قلعتي انايبو اّمات ر ّوصتلا

ولأا ،نيئيش ىلإ ثحبلا اذه جئاتن لدت رلأا يف رشبلا كلمي ل

ض

هلاحو هتفصو ههيبشتو هقلخ يف داحتا ناك ىلاعت هللا لاق ةدحاو ةطقن ةثروملا رشبلا ثراوي نأ ببسي هيبشتلاو داحتلاا .هتئيهو بسنلا ىلا

.هسفن رشبلا راشتناو دلاوت ةبسانمب طلخيو مدقتي نأ رمتسي يذلا ىلاتلا

(16)

viii

و نم ةثروملا لمحي دلولا لك هب دارملا نأ .ملاس هيلع مدآ ىتح هدلا

حجنلا ربتعيو ريسفتلا ريكفت عرتخم وه ىرهوج ىوطنط يناثلا مدقت فرعي .مولعلاو نآرقلا قباطمب هريسفت يف ديدج نول رهظب ريسفت يف نآرقلا تاراشإ ىلع قباطم ليدنمل ةيرظنلا يف ةيثارولا .ىرهوج ىوطنطل

ةيحاتفملا تاملكلا :

،ةثارولا ملع ىنب

خيشلا ،ملاس هيلع مدآ

يرهوج يواطنط

.

(17)

ix ABSTRACT

Thesis Title : Genetics of the Son of Prophet Adam 'alaihi salam in the Qur'an; Study of Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an by Thanthawi Jauhari

Name : Heru Rojikin

NIM : 220410998

The Qur'an is the Prophet Muhammad shalallahu alaihi wasalam's greatest miracle, with hundreds of verses discussing various sciences.

Unfortunately, when compared to legal issues, Islamic intellectuals pay very little attention to these thoughts. On the other hand, the need for knowledge, as demonstrated by verses about humans, animals, plants, heaven, and earth, as well as the need for law, cannot be denied.

This study addresses two issues. The first is Thanthawi Jauhari's interpretation of genetics in Qur'anic verses containing the word min nafsin wahidah

." ةَد ِحا َّو سْفَّن ْنِم"

in Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir of the Qur'an.

Second, consider Thanthawi Jauhari's interpretation of genetics in light of modern science. The book Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an by Thanthawi Jauhari was chosen as the subject of research because it is a contemporary book of commentary with a'scientific pattern' that provides a more in-depth perspective on genetics.

The research method employed is library research, and the data analysis technique employed is descriptive analysis, with the goal of obtaining a complete and clear picture related to Thanthawi Jauhari's interpretation of genetics.

The authors draw the following conclusions based on the findings of this study: First, humans on Earth share one point in common, namely Allah Ta'ala mentions the existence of unity in creation and similarities in characteristics, conditions, and behavior. This unity and similarity is caused by every human being passing down genes to the next generation, which will continue to process and cross-mix in accordance with human reproduction and spread. This means that every child carries genes from their parents to Prophet Adam ‘Alaihi salam. Second, Thanthawi Jauhari is regarded as a thought reformer in the field of interpretation, bringing a new color to his interpretation

(18)

x

that can open up spaces and fill them with excitement for the harmonization of the Qur'an and Science. The genetic process described by Mendel's theory is compatible with the Qur'anic cues so clearly embodied in Jauhari's interpretation.

Key Word: Genetics, Son of Prophet Adam 'alaihi salam, Thanthawi Jauhari

(19)

xi

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... ii

LEMBAR PERNYATAAN PENULIS ... iii

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... xiii

TRANSLITERASI ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan ... 16

1. Identifikasi Masalah ... 16

2. Pembatasan Masalah ... 17

3. Rumusan Masalah ... 17

C. Tujuan Penelitian ... 17

D. Kegunaan Penelitian ... 18

E. Kajian Pusataka ... 18

F. Metodologi Penelitian ... 21

G. Sistematika Penelitian ... 22

BAB II GENETIKA DAN PENCIPTAAN MANUSIA ... 25

A. Genetika Dalam Pandangan Sains ... 25

1. Pengertian dan Asal Usul Genetika ... 25

2. Seluk Beluk Gen ... 28

3. Struktur dan Ekspresi Gen ... 30

4. Gregor Mandel dan Hukumnya ... 30

B. Genetika Dalam Al-Qur’an ... 33

C. Term Nafsin Wahidah Dalam Literatur Tafsir ... 35

D. Term Al-Qur’an Tentang Penciptaan Nabi Adam as ... 42

E. Term Al-Qur’an Tentang Penciptaan Keturunan Nabi Adam as ... 52

F. Metodologi Penafsiran Ayat-Ayat Saintifik ... 58

(20)

xii

BAB III BIOGRAFI THANTHAWI JAUHARI DAN TAFSIRNYA ... 69

A. Setting Kehidupan Thanthawi Jauhari ... 69

B. Mengenal Tafsir al-Jawahir ... 71

1. Latar Belakang Penulisan Tafsir ... 71

2. Pendekatan Thanthawi Jauhari Dalam Tafsir ... 73

3. Metode Tantawi Jawhari dalam Tafsir Al-Jawahir ... 74

4. Corak penafsiran ... 77

5. Contoh Penafsiran ... 77

6. Pandangan Tantawi Jauhari Tentang Tafsir ... 80

C. Karya-Karya Thanthawi Jauhari ... 85

D. Tafsir Ilmi Dalam Pandangan Ulama ... 86

E. Hubungan Al-Qur’an dan Sains Menurut Ulama Barat ... 90

F. Kajian Tafsir Al-Qur’an Mengenai I’jaz Ilmi ... 94

BAB IV PENAFSIRAN TANTHAWI JAUHARI TERHADAP AYAT-AYAT GENETIKA DALAM AL-QUR’AN ... 103

A. Konektifitas Genetika Manusia ... 110

B. Proses Tumbuh Kembang Janin ... 117

C. Kronologis Reproduksi ... 129

D. Hikmah Penciptaan Manusia dan Keajaiban Penciptaan Tubuh………132

E. Relevansi Penafsiran Thanthawi Jauhari Terhadapa Sains Modern ... 147

BAB V PENUTUP ... 152

A. Kesimpulan ... 152

B. Saran-Saran ... 153

DAFTAR PUSTAKA ... 154

(21)

xiii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur bagi Allah swt atas segala limpahan rahmat- Nya. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Muhammad saw. Tanpa kekuatan dari Allah Swt penulis tidak akan sampai pada akhir tesis ini.

Dalam penyelesaian tesis ini, peneliti telah banyak memperoleh bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan penuh rasa hormat peneliti menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ibu Dr. Hj. Nadjematul Faizah, S.H, M.Hum selaku rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta yang telah banyak membantu dan memberikan motivasi kepada penulis dalam bidang akademik.

2. Bapak Dr. H. Muhammad Azizan Fitriana, MA. Selaku Direktur Pascasarjana Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta yang telah banyak membantu dan membimbing selama ini dalam bidang akademik.

3. Bapak Dr. H. Ahmad Syukron, MA. selaku Kaprodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT) Pascasarjana Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta yang terus memberikan perhatian yang luar biasa, membimbing, mendorong, serta mengarahkan penulis dalam bidang akademik.

4. Bapak Prof. Dr. KH. Artani Hasbi, MA dan ibu Hj. Ade Naelul Huda MA, Ph.D selaku Pembimbing I dan Pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membimbing, memberikan masukan, dan motivasi kepada penulis selama proses penulisan tesis ini

5. Bapak/Ibu Dosen Program Pascasarjana Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta yang telah mendarmabaktikan ilmunya kepada penulis selama proses studi berlangsung, baik secara teoritis atau aplikatif dan staf tata usaha yang telah banyak membantu penulis selama proses perkuliahan hingga penyelesaian penulisan tesis ini.

(22)

xiv

6. Guru-Guru tercinta di Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, khususnya Syaikhuna Dr. KH. Abun Bunyamin, MA yang menjadi inspirasi melanjutkan studi. Semoga beliau senantiasa dipanjangkan umur dan sehat wal ‘afiyat.

7. Ibunda tercinta, Umi Idoh yang senantiasa mendukung serta mendoakan penulis sehingga dapat menyelesaikan tesis ini semoga Allah Swt senantiasa menjaga dalam kesehatan dan memberikan umur yang panjang.

8. Istri tercinta, Zaqiah Hasanah, S.Pd Istri yang selalu support penulis dalam menyelesaikan penelitian ini

9. Anak-anak tercinta, Sayyidah Nafisah Khoiriyyah dan Muhammad Rahil Musyaffa yang menjadi penyemangat bagi penulis untuk menyelesaikan tesis ini.

Semoga bantuan dari semua pihak mendapatkan balasan terbaik dari Allah swt. Tak ada gading yang tak retak, tesis ini mungkin jauh dari kesempurnaan, namun semoga tesis ini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan yang bemanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Jakarta, 30 Juni 2022

Heru Rojikin

(23)

xv

TRANSLITERASI

Transliterasi adalah penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Dalam penulisan tesis dan disertasi di Program Pascasarjana IIQ, transliterasi Arab-Latin mengacu pada berikut ini:

A. Konsonan

أ : a ط : th

ب : b ظ : zh

ت : t ع :

ث : ts غ : gh

ج : j ف : f

ح : h ق : q

خ : kh ك : k

د : d ل : l

ذ : dz م : m

ر : r ن : n

ز : z و : w

س : s ه : h

ش : sy ء :

(24)

xvi

ص : sh ي : y

ض : dh

B. Vokal

Vokal tunggal vokal panjang vokal rangkap

Fathah : a آ : â ْ يَ... : ai

Kasrah : I ي : î ْ و : auَ....

Dhammah : u و : û

C. Kata sandang

1. Kata sandang yang diikuti alif lam (لا) qamariyah.

2. Kata sandang yang diikuti alif lam (لا) qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya. Contoh:

ةرقبلا : al-Baqarah ةنيدملا : al-Madînah 3. Kata sandang yang diikuti alif lam (لا) syamsiah.

Kata sandang yang diikuti alif lam (لا) syamsiah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya. Contoh:

لجرلا : ar-rajul ةديسلا : as-Sayyidah

سمشلا : asy-syams يمرادلا : ad-Dârimî D. Syaddah (Tasydîd)

(25)

xvii

Syaddah (Tasydîd) dalam sistem aksara Arab diguakan lambang (ْ ّ), sedangkan untuk alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan cara menggandakan huruf yang bertanda tasydîd. Aturan ini berlaku secara umum, baik tasydîd yang berada di tengah kata, di akhir kata ataupun yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyah.

Contoh:

اَّنَمَأ

ِْهللاِبْ : Âmannâ billâhi

َْنَمأ

ْ ءاَهَفُّسلاْ : Âmana as-Sufahâu

َّْنِإ

َْن يِذَّلاْ : Inna al-Ladzîna

ِْعَّك ُّرلا َو : wa ar-rukkai E. Ta Marbûthah (ة)

Ta Marbûthah (ة )apabila berdiri sendiri, waqaf atau diikuti oleh kata sifat (naat), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h”. Contoh:

ِْةَدِئ فَلأا : al-Afidah

ْ ةَعِماَج لا

ةَّيِم َلَسِلااْ : al-Jâmiah al-Islâmiyyah

Sedangkan ta marbûthah (ة )yang diikuti atau disambungkan (di-washal) dengan kata benda (ism), maka dialih aksarakan menjadi huruf “t”. Contoh:

ْ ةَلِماَع

ْ ةب ِصاَنْ : Âmilatun Nâshibatun

ْ ةَيَ لأأ

ى َر ب ك لاْ : al-Âyat al-Kubrâ

Sistem penulisan huruf Arab tidak mengenal huruf kapital, akan tetapi apabila telah dialih aksarakan maka berlaku ketentuan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, seperti penulisan awal kalimat, huruf awal nama

(26)

xviii

tempat, nama bulan, nama diri dan lain-lain. Ketentuan yang berlaku pada EYD berlaku pula dalam alih aksara ini, seperti cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold) dan ketentuan lainnya. Adapun untuk nama diri yang diawali dengan kata sandang, maka huruf yang ditulis kapital adalah awal nama diri, bukan kata sandangnya. Contoh: Alî Hasan al-Âridh, al-Asqallânî, al-Farmawî dan seterusnya. Khusus untuk penulisan kata Alquran dan nama-nama surahnya menggunakan huruf kapital. Contoh: Al-Quran, Al-Baqarah, Al- Fâtihah dan seterusnya.

(27)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam lintasan sejarah, perjalanan tafsir Al-Qur’an sudah berlangsung ketika Rasulullah SAW masih hidup, yakni pada saat Al-Qur’an diturunkan.

Rasulullah SAW berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan). Beliau menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya tentang arti dan kandungan Al- Qur’an1 khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak mereka pahami atau samar artinya. Setelah Rasulullah wafat, usaha penafsiran Al-Qur’an dilanjutkan oleh para sahabat dan para tabi’in dimana wahyu sudah sempurna diturunkan. Estafet kegiatan penafsiran Al-Qur’an terus berkembang hingga masa sekarang.2

Apabila disimak sejarah awal perkembangan tafsir, pada mulanya usaha penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an muncul dalam dua jenis penafsiran Al-Qur’an, yaitu tafsir bi al-Ma’tsūr atau disebut juga dengan tafsir bi ar-Riwāyah3 dan tafsir bi ar-Ra’yi atau tafsir bi ad-Dirāyah.4 Akan tetapi sejalan dengan

1 Rachmat Syafe’i, Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 2012), h. 60.

2 Al-Qur’an al-Karīm turun sedikit demi sedikit selama sekitar 22 tahun lebih. Ayat- ayatnya berinteraksi dengan budaya dan perkembangan masyarakat yang dijumpainya.

Kendati demikian, nilai-nilai yang diamanahkannya dapat diterapkan pada setiap situasi dan kondisi. Mufasir dituntut untuk bisa menjelaskan nilai-nilai tersebut sesuai dengan perkembangan masyarakatnya sehingga Al-Qur’an dapat benar-benar berfungsi sebagai petunjuk, pemisah antara hak dan batil serta menjadi jalan keluar bagi setiap problema kehidupan yang dihadapi. Mufasir dituntut pula untuk menghapus kesalahpahaman terhadap Al-Qur’an atau kandungan ayat-ayatnya sehingga pesan-pesan Al-Qur’an dapat diterapkan dengan sepenuh hati dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Lebih lanjut M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbāh: pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, Edisi Baru), h. 10

3 Pengertian Tafsir bi al-Ma’tsūr adalah penafsiran ayat- ayat Al-Qur’an yang didasarkan dan mengutip ayat-ayat Al- Qur’an yang lain, Sunnah yang tertuang dalam hadits-hadits Nabi, pendapat Sahabat dan Tabi’in. Lihat Manna’ Khalil al-Qattan, Mabāhits fī ‘Ulūmi al-Qur’an, (Riyadh: Mansyurāt al-‘Ashar al-Hadīts, 1973), h. 347.

4 Sedangkan Tafsir bi ar-Ra’yi adalah penafsiran Al-Qur’an yang didasarkan pada pendapat pribadi mufasir setelah terlebih dahulu memahami bahasa dan adat istiadat bangsa

(28)

2

lajunya dinamika masyarakat, berkembang dan bertambah besar pula porsi peranan akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an. maka tidak heran muncul berbagai kitab atau penafsiran yang beraneka ragam metode dan coraknya. Masing-masing ulama menggunakan cara dan pendekatan yang berbeda dalam menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan dinamika zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan.5

Upaya penafsiran terhadap Al-Qur’an telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan laju perkembangan dan kebutuhan umat Islam untuk mengetahui seluruh segi kandungan Al-Qur’an serta intensitas perhatian para ulama terhadap tafsir Al-Qur’an. Salah satu dari beberapa corak baru dalam bidang penafsiran yang berdimensi ilmiah pada saat ini adalah penafsiran ilmiah atau dikenal dengan Tafsir ‘Ilmi (Sciences Exegesis).6 Tokoh-tokoh

Arab. Lihat Manna’ Khalil al-Qattan, Mabāhits fī ‘Ulūmi al-Qur’an, (Riyadh: Mansyurāt al-

‘Ashar al-Hadīts, tt), h. 351.

5 Perkembangan penafsiran memunculkan aneka corak tafsir yang berorientasi pada beberapa aspek seperti: fiqhī, kalāmī, balaghi, dan isyāri/sufi,bahkan falsafī, maka ditemukan pula metode tafsir ‘ilmi yang berorientasi pada pemanfaatan hasil temuan dibidang sains untuk membuktikan berbagai kebenaran fakta ilmiah yang pernah disebutkan oleh Al-Qur’an. Rasyid Ahmad Sulandari, Qur’anic Exegesis and Classical Tafsir, Islamic Quarterly, 1980, h.74.

Bandingkan dengan Abdul Hayyal-Farmawi dalam Muqaddimah fī al-Tafsīr al-Maudhū’i, yang dijelaskan dalam empat metode dan enam tren (ittijah) penafsiran kontemporer, diantaranya adalah tafsir ilmi, yang masuk dalam metode tahlili. Fahd bin Abdurrahmān Al- Rūmī, dalam Ittijahat al-Tafsīr fī al-Qarn al-Rabi’Asyar al-Hijri, menegaskan bahwa perjalanan metode tafsir telah bergeser dari tekstual ke rasional; dengan munculnya tafsir ilmi yang sangat kuat dan cepat perkembangannya. Dalam ulasannya, Fahd juga menyinggung tentang model tafsir ilmi yang dipandang tidak dapat dijadikan acuan, karena metode yang dipakai tidak valid, hanya berdasar pada trial and error sebagai intellectual exercise sang penafsir saja.

6 Kata ‘ilmi secara bahasa merupakan bentuk mashdar dari kata“’alima- ya’lamu-

‘ilman” yang berarti mengetahui atau memahami. Louis Ma’lufal-Yassu’I dan Bernand Toffelal-Yassu’i, al-Munjid al-Wasīţ fī al-‘Arabiyyah al-Mu’aşirah (Beirut: Dār al-Masyriq, 2003), h. 749.

(29)

3

seperti Abū Hamīd al-Ghazālī (450-505H),7 Fakhruddīn ar-Rāzī (606H),8 Ibn Abū al-Fadl Mursī (570-655H)9 adalah representasi pemikir muslim klasik yang menandakan gelombang pertama berupa isyarat keharusan menafsirkan Al-Qur’an dengan bantuan penemuan sains di zamannya. Tesis penafsiran sains juga diperkuat dalam literatur ‘Ulūm al-Qur’an, terutama dua karya induk yang fenomenal yaitu ‘al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’an’ yang disusun oleh Badruddīn az-Zarkasyī (w 794 H) dan al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’an yang ditulis oleh Jalāluddīn as-Suyūţi (w 911 H).10

Maksud daripada sains di sini adalah ilmu-ilmu pengetahuan tentang alam semesta seperti: ilmu teknik, astronomi, matematika, biologi, kimia, ekonomi-sosial, flora-fauna, geologi, dan lain sebagainya. Ada beberapa definisi yang diberikan beberapa pakar tentang tafsir ilmi/saintifik ini, diantaranya: Pertama, definisi yang diajukan oleh Aminal-Khuli adalah:

“Tafsir yang memaksakan istilah-istilah keilmuan kontemporer atas redaksi Al-Qur’an dan berusaha menyimpulkan berbagai ilmu dan pandangan- pandangan filosofis dari redaksi Al-Qur’an itu.11

7 Dalam buku Ihyā’ Ulūmuddīn, beliau mengutip kata-kata Ibnu Mas’ūd: “jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, selayaknya dia merenungkan Al-Qur’an”. Selanjutnya beliau menambahkan “ringkasnya, seluruh ilmu tercakup di dalam karya-karya dan sifat-sifat Allah, dan Al-Qur’an adalah penjelasan esensi, dan sifat-sifat dan perbuatan-Nya”. Tidak ada batasan terhadap ilmu-ilmu ini dan di dalam Al-Qur’an terdapat indikasi pertemuannya (Al-Qur’an dan ilmu-ilmu). Mahdi Ghulsani, Filsafat Sains Menurut Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1994), h. 137.

8 Jika upaya al-Ghazālī ini dianggap sebagai langkah pertama bagi kemunculan penafsiran ilmiah, tidak diragukan lagi bahwa al-Ghazālī sendiri belum berhasil merealisasikan metode tersebut, setelah satu abad berlalu, barulah Fakhruddin ar-Rāzī di dalam karyanya “Mafātīh al-Ghaib”-nya berhasil merealisasikan metode penafsiran yang pernah menjadi percikan pemikiran al-Ghazali itu. Rohimin, Metodologi Ilmu Tafsir dan Aplikasi Model Penafsiran, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2007), h. 94.

9 Nama lengkapnya Muhammad Ibn‘Abdullāh Ibn Abi al-Fadl as-Sulami al-Mursī, disebut-sebut memiliki karya tafsir lebih dari 20 jilid dan diberi nama“Rayyaz-Zaman.”

10 Sebenarnya para mufasir ini tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori mufassirīn yang memiliki aliran saintis dalam menafsirkan Al-Qur’an, karena mereka hanya mengklaim bahwa Al-Qur’an memuat semua jenis dan disiplin ilmu pengetahuan, dan hanya klaim ini tidak dapat dijadikan bukti bahwa mereka memiliki tendensi penafsiran saintis.

11 Amin al-Khuli, Dirasat Islamiyah, (Kairo: Matba’ah Dār al-Kutub al-Misriyyah, 1996), h.28-31

(30)

4

Kedua, definisi yang diajukan oleh ‘Abdul Majid ‘Abdul Muhtasib adalah Tafsir yang mensubordinasikan redaksi Al-Qur’an ke bawah teori dan istilah-istilah sains-keilmuan dengan mengerahkan segala daya untuk menyimpulkan berbagai masalah keilmuan dan pandangan filosofis dari redaksi Al-Qur’an itu.12

Kedua definisi diatas tampak mirip, dan dapat kita beri catatan dalam dua hal; Pertama, kedua definisi tersebut mendiskreditkan model tafsir saintifik, sebab memberi kesan bagi orang awam yang membaca definisi itu bahwa corak tafsir itu harus dihindari karena dinilai telah menundukkan redaksi Al-Qur’an kedalam teori-teori sains yang kerap berubah-ubah. Lagi pula sosok Abdul Muhtasib ini dikenal berada di barisan ulama yang kontra dan tak menyetujui corak tafsir ini. Kedua, definisi tersebut tidak mampu menggambarkan konsep sebenarnya yang diinginkan para pendukung tafsir ilmi. Para pendukungnya tak pernah berkeinginan untuk memaksakan istilah- istilah keilmuan modern dalam redaksi Al-Qur’an, atau menundukkan redaksi Al-Qur’an itu pada teori-teori sains yang selalu berubah.

Oleh sebab itu, kiranya definisi yang lebih cocok untuk corak tafsir ilmi dan sesuai dengan realitas di lapangan adalah Tafsir yang berbicara tentang istilah-istilah sains yang terdapat dalam Al-Qur’an dan berusaha sungguh- sungguh untuk menyimpulkan berbagai ilmu dan pandangan filosofis dari istilah-istilah Al-Qur’an itu.13, atau definisi lain yang dapat dikemukakan di sini adalah Tafsir yang diupayakan oleh penafsirnya untuk: 1) Memahami redaksi-redaksi Al-Qur’an dalam lingkup kepastian yang dihasilkan oleh sains modern, dan 2) Menyingkap rahasia kemukjizatannya dari sisi bahwa Al- Qur’an telah memuat informasi-informasi sains yang amat dalam dan belum

12 Abdul Majid Abdul Muhtasib, Ittijāhāt al-Tafsīr fī al-‘Asr al-Hadīts, (Beirut: Dār al- Kutub al-Ilmiyyah, 1998), h. 247

13 As-Sayyidal-Jumaili, al-I’jāz al-Ilmī fī al-Qur’an, (Beirut: Dār wa Maktabah al-Hilal, 1992), h. 94

(31)

5

dikenal oleh manusia pada masa turunnya Al-Qur’an, sehingga ini menunjukkan bukti lain akan kebenaran fakta bahwa Al-Qur’an itu bukan karangan manusia, namun ia bersumber dari Allah SWT, pencipta dan pemilik alam semesta ini.14

Allah SWT dalam Al-Qur’an memerintah manusia untuk berfikir atau memfungsikan akalnya guna mengamati penomena-penomena yang terdapat di alam raya ini, diantaranya termaktub dalam QS. Ali-Imrān [3]: 190-191:

ِۙ ِباَّب ْ ل َّ

ا ْ لا ى ِلو ُ

اِ ل ٍتٰي ٰ ا َّ

ل ِرا َّه َّ نلاَّو ِل ْي َّ

لا ِفا َّ

لِت ْخاَّو ِض ْرَّاْلاَّو ِتٰوٰم َّ سلا ِق ْ

ل َّخ ْيِف َّ

ن ِا﴿

٠٩١

ِت ٰو ٰم َّ سلا ِق ْ

ل َّخ ْيِف ن ْو ُر َّ َّ

ك َّ

فَّتَّي َّو ْم ِهِب ْو ُن ُج ىٰلَّعَّ و اًدْو ُعُقَّ و اًماَّيِق َّه ٰ

للا ن ْو ُر َّ ُ ك ْ

ذَّي َّنْي ِذ َّ

لا َّم اَّن َّ ب َّر ِۚ ِض ْرَّاْلاَّو ِرا َّ نلا َّبا َّذَّع اَّن ِقَّف َّكَّن ٰحْب ُس ِۚا ًل ِطاَّب ا َّذ ٰه َّتْقَّل َّخ ا

٠٩٠

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka." (QS. Al-Imrân [3]:190-191)

Kedua ayat di atas merupakan penutup surah Ali-Imrān, menurut M.

Quraish Shihab ayat diatas menguraikan sekelumit tentang penciptaannya serta memerintahkan seseorang untuk memikirkannya. Orang yang selalu memikirkan penciptaan alam raya dalam keadaan apapun termasuk golongan Ulul al-Albāb.15 Ulul al-Albāb ialah orang-orang yang mau menggunakan pikiran mengambil faidah dari Allah SWT, mengambil hidayah dari-Nya dengan tidak melalaikan untuk terus menerus mengingat Allah SWT dalam

14 Abdul Salam Hamdan Al-Lauh, Al-I’jāz al-Ilmī fī al-Qur’an al-Karīm, (Palestina:

Afaq’li Nasyr wa al-Tauzi’, 2002), h. 135.

15 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mişbāh; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Jakarta, Lentera Hati, 2005), h. 3018

(32)

6

sebagian besar waktunya.16

Imam Al-Baghdādī menyatakan bahwa ayat di atas memerintahkan kepada manusia untuk berpikir dan mengambil pelajaran pada sesuatu yang telah Allah SWT ciptakan dan yang Allah SWT tumbuhkan dari langit dan bumi untuk penghidupan dan rizki manusia serta pergantian antara siang dan malam. Menurut Thanthowi Jauhari (w. 1358 H) dalam Al-Qur’an terdapat kurang lebih 750 ayat yang berbicara tentang berbagai ilmu pengetahuan dan hanya 500 ayat yang berbicara tentang fiqih secara jelas. Sayangnya perhatian intelektual Islam terhadap pemikiran-pemikiran tersebut sangat minim, sementara disisi lain kebutuhan terhadap ilmu pengetahuan seperti yang ditunjukkan dalam ayat- ayat yang berbicara tentang hewan, tumbuh- tumbuhan, langit dan bumi juga tidak bisa dinafikan disamping kebutuhan terhadap hukum dan sebagainya. Bahkan, menurut Zaghlulal-Najjar terdapat 1000 ayat yang sarih dan ratusan lainnya yang secara tidak langsung terkait dengan fenomena alam semesta. Namun, yang paling banyak dikaji adalah ayat-ayat tentang hukum.17

Diantara kajian tafsir ilmi adalah tentang genetika. Kata genetika merupakan istilah yang dipinjam dalam bahasa belanda yaitu genetica. kata ini diadaptasi dari bahasa inggris yaitu genetic yang artinya melahirkan.

Secara terminologis, genetika adalah cabang biologi yang mempelajari pewarisan sifat pada organisme maupun suborganisme ataujuga ilmu tentang gen dan segala aspeknya. Ilmu genetika penting untuk dipahami, karena berkaitan erat dengan segala aspek problem kehidupan manusia seperti kesehatan, peyakit, cacat jasmani dan mental, pewarisan ciri-ciri dan kelainan

16 Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Marāghī, Ter. Bahrun Abu Bakar dan Hery Nooer Ali, Terjemah Tafsir al-Marāghi,(Semarang: Toha Putra, 1993), Juz. IV, h. 290

17 Zaghlul Raghib Al-Najjar, Tafsir al-Ayat al-Kauniyyah fī al-Qur’an al-Karīm, (Beirut:

Maktabah al-Tsarwah al-Dauliyyah, 2001), h.71

(33)

7

bawaan.18 Selain itu juga, genetika merupakan penentu utama dari seluruh aspek biologis, hal ini setara atom dalam ilmu kimia, sehingga siapapun yang mempelajari kehidupan manusia, tanaman, hewan, dan mikroba harus memahami tentang genetika.

Ilmu pengetahuan genetika modern berawal dari penemuan Gregor Mendel tentang ciri-ciri faktor keturunan yang ditentukan oleh unit dasar yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya, yang disebut unit genetik atau gen, yaitu bahan yang mempunyai persyaratan: (1) diwariskan dari generasi ke generasi dimana keturunannya mempunyai persamaan fisik dari materi tersebut; (2) membawa informasi yang berkaitan dengan struktur, fungsi dan sifat-sifat biologi yang lain. Jauh sebelum Mendel memperkenalkan teori-teorinya tentang keturunan yang kemudian dikenal sebagai Hukum Keturunan dari Mandel, pengetahuan tentang keturunan pada manusia sebenarnya sebenarnya telah ada sejak 1500 yahun yang lalu. Pada waktu itu telah diinformasikan adanya kelainan pendarahan yang diturunkan pada bangsa Tsamud, yang kemudian dengan jelas digambarkan secara klinis pada tahun 1803 pada satu keluarga di Hampshire berupa sifat albino yang diwariskan dari orang tua dan polidaktili, yaitu orang yang memiliki jari lebih.19

Perihal genetika, Al-Qur’an telah menginformasikan secara isyari dalam ayat-ayat penciptaan Nabi Adam As dan keturunannya ataupun dalam ayat larangan menikahi wanita-wanita yang mahrom. Ayat-ayat Al-Qur’an mengenai Informasi ilmiah menurut Zaghloul El-Naghar sebagaimana dikutip Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd dalam desertasinya yang berjudul Pengembangan Kurikulum Sains Berbasis Al-Qur’an membagi ayat-ayat yang mengandung informasi ilmiah pada tiga bentuk sharih, isyari dan ibroh. Ayat

18 Suryo, Genetika Manusia, (Yogyakarta: Gajah Mada Uneversity Press, 2016), h. vii

19 Suryo, Genetika Manusia, h. 2

(34)

8

sharih adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang didalamnya secara tegas dan tekstual menyebutkan sebuah fenomena alam semesta atau sosial secara langsung, contohnya dalam QS. An-Naba [78]:6-7,

ِۙا ًد ٰه ِم َّض ْر َّ

ا ْ

لا ِل َّع ْج َّن ْمَّلَّا ٦

ۖاًداَّت ْو َّ

ا َّ

لاَّب ِج ْ لا َّ و ٧

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak” (QS. An-Nabā' [78]:6-7)

Ayat di atas secara langsung menerangkan tentang penomena gunung yang berfungsi sebagai pasak untuk bumi, yakni diciptakan oleh Allah SWT untuk menstabilkan bumi sehingga cocok dan nyaman ditempati oleh manusia dan makhluk hidup lainnya.

Kedua, Ayat isyāri adalah ayat-ayat yang didalamnya secara tidak langsung menginformasikan sebuah fenomena alam atau sosial, tetapi hanya mengisyaratkan fenomena alam tersebut. Contoh yang menunjukan ayat isyāri seperti yang terdapat dalam QS. Al-`An’âm [6]: 125:

ٗه َّر ْد َّص ْ ل َّع ْج َّ

ي ٗه َّ

ل ِضُ ي ن ْ َّ

ا ْد ِر ُ ي ْنَّمَّو ِِۚما َّ

ل ْس ِا ْ

لِل ٗه َّر ْد َّص ْحَّر ْشَّي ٗهَّي ِد ْهَّ ي ن ْ َّ

ا ُه ٰ

للا ِد ِر ُ ي ْنَّمَّف ا َّ

ل َّنْي ِذ َّ

لا ى َّ

لَّع َّس ْج ِ رلا ُه ٰ للا ُ

ل َّع ْج َّ

ي َّكِل ٰ ذ َّ

ك ِِۗءۤاَّم َّ سلا ىِف ُد َّ ع َّ صَّي اَّمَّ نَّاَّك ا ًج َّر َّح اًقِ يَّض

َّ ن ْوُن ِم ْؤُي ٠٢١

“Maka, siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-`An'âm [6]:125)

Ayat tersebut sebagaimana yang diungkapkan oleh M. Quraish Shihab menerangkan tentang kehendak, ketentuan, dan peranan Allah SWT yang berkaitan dengan ke-Islaman serta ketaatan seseorang mengikuti Rasulullah

(35)

9

SAW dan kesesatan serta keengganan seseorang mematuhi Rasulullah SAW.20 Orang yang dikehendaki memeluk Islam, maka hatinya lapang. Sebaliknya orang dikehendaki sesat oleh Allah SWT, maka dadanya sesak lagi sempit seolah-olah sedang naik keatas langit. Dari ayat tersebut mengandung informasi ilmiah bahwasannya kadar oksigen semakin berkurang ketika naik keatas langit.

Ketiga, Ayat Ibroh ialah ayat-ayat Al-Qur’an yang secara tidak spesifik membicarakan sebuah penomena alam baik secara tegas maupun isyarat. Ayat ibroh ini secara umum membicarakan penciptaan dan pengaturan Allah SWT.

contoh ayat ibroh adalah QS. Al-Qomar [54]: 49

َّ ل ُ ك ا َّ نِا ﴿ ٍر َّدَّقِب ُهٰنْق َّ

ل َّخ ٍء ْي َّ

ش ٩٩

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran”. (QS. Al-Qamar [54]:49)

Ayat tersebut secara umum berbicara tentang penciptaan segala makhluk hidup oleh Allah SWT dengan ukuran yang tepat. Ayat tersebut tidak spesifik menyebutkan penomena alam tertentu.21

Ayat-ayat penciptaan manusia dalam Al-Qur’an seperti yang dikemukakan Maurice Bucaille dapat dikelompokan menjadi dua bagian.

Pertama, ayat yang menunjukan penciptaan manusia dari tanah, ayat yang masuk dalam katagori ini misalnya ayat kedua dalam surah al-An’ām yang menyatakan bahwa bahwa manusia diciptakan Allah berasal dari tanah. Selain ayat ini, masih banyak lagi ayat lain yang mendukung penciptaan manusia

20 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mişbāh; Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), volume 3, h. 657

21 Dr. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, “Pengembangan Kurikulum Sains Berbasis Al- Qur’an,” Tesis, PTIQ Jakarta, 2018, h. 173-178. Tidak diterbitkan (td)

(36)

10

berasal dari tanah seperti dalam surah as-Sajdah [32]: 7, ash-Shaffat [37: 11, al-Ḥijr [15]; 26, al-Mu’minūn [23]: 12 serta surah al-Furqān [25]: 54

Kedua, ayat-ayat yang berkiatan dengan reproduksi manusia yang mencakup kadar cairan pembentukan manusia seperti yang dijumpai dalam beberapa surah diantaranya an-Naḥl [16]: 4, al-Qiyāmah [75]: 37, ‘Abasa [80]: 19. Kompleksitas cairan pembuahan seperti yang terdapat dalam surah al-Insān [76]: 2, dan as-Sajdah [32]: 8, selain itu ayat-ayat dengan penanaman sel telur pada organ vital wanita seperti dalam surah al-Qiyāmah [75]: 37-38, serta ayat-ayat yang terkait dengan perkembangan embrio dalam rahim seperti yang terdapat dalam beberapa surah diantaranya al-Mu’minūn [23]: 14, as- Sajdah [32]: 14 dan an-Najm [53]: 45-46

Begitu juga, al-Sa’id turut membahas kompleksitas permasalahan manusia dengan membaginya menjadi dua bagian pembahasan. Pertama, ia mengemukakan penciptaan manusia (Adam as) dari tanah. Pembahasan ini meliputi beberapa tema diantaranya penciptaan manusia dari beragam jenis tanah yang telah disebutkan oleh Al-Qur’an sendiri seperti tanah, tanah liat, tanah kering seperti tembikar. Kemudian proses penyempurnaan dan peniupan ruh kepada manusia. Kedua, penciptaan manusia dalam rahim perempuan. Tema-tema yang termasuk dalam kaitannya dengan penciptaan manusia tersebut meliputi kejadian manusia dari air mani, segumpal darah, segumpal daging, kemudian tulang, daging dibungkus menjadi tulang, lalu pada tahap selanjutnya kejadian lebih sempurna dengan ditiupkan ruh.22

Al-Qur’an tidak secara rinci menguraikan proses kejadian Adam As, yang disampaikan dalam konteks ini hanyalah bahwa bahan awal manusia adalah tanah, kemudian bahan tersebut disempurnakan, dan setelah proses penyempurnaannya selesai, maka ditiupkan kepadanya ruh ilahi sebagaimana

22 Al-Sa’id Ashur, Al-Insan Fi Al-Qur’an Al-Karim: Diniyyun, ‘Ilmiyyūn, Tibbiyūn, Tarbawiyūn (Kairo: Dār Gharib, 2002), h. 230

(37)

11

dijelaskan dalam Q.S al-Ḥijr [15]: 28-29 dan Shad [38]: 71-72. Apa dan bagaimana itu tidak disinggung oleh Al-Qur’an, seakan akan Tuhan sengaja mengaburkan sejarah awal munculnya spesies manusia di muka bumi ini.

Agaknya kita disuruh untuk meruntut dan mencari sendiri informasi tentang asal-muasal penciptaan manusia.

Proses penciptaan Adam secara khusus dan manusia secara umum yang berasal dari tanah dilakukan secara periodik. Beberapa istilah yang dipakai oleh al-Qur’an adalah ţīn lazib (tanah liat) (Q.S ash-Shaffat [37]: 11), shalshal (tanah liat kering), hama’ (lumpur hitam) (Q.S al-Ḥijr [15]: 26, 28, 33, ţīn dan turāb (tanah) (lihat misalnya, Q.S al-`An’ām [6]: 2, al-A’rāf [7]:

12, al-Sajdah [32]: 7, Shad [38]: 71, 76, QS. Al-Imrān [3]: 59, QS. al-Kahfi [18]: 37), dan sulalah al-thin (saripati tanah) (Q.S al Mu’minūn [23]: 12).

Kata Adam secara bahasa berasal dari kata al-udmah yang memiliki beberapa makna, di antaranya: al-qarrabah wa al-wasīlah ilā asy-syai’ (dekat dengan atau perantara menuju sesuatu), al-muwaffaqah (berkesuaian), al- ulfah wa al-ittifāq (kasih sayang/cinta dan berkesepakatan). Ia juga berarti al- uswah (contoh/ suri tauladan), dan berarti juga sesuatu yang menerupai warna tanah, yang menurut ahli bahasa bahwa pengambilan nama Adam sebagai manusia pertama, karena ia diciptakan dari tanah.

Bisa juga terambil dari kata al-adamah yang berarti bagian dalam kulit yang bersentuhan langsung dengan daging dan al-basyarah adalah bagian luarnya, atau berarti kulit dengan segala aspek yang terkait dengannya. Kata ini bila dikaitkan dengan siang atau unta berarti putih, sedangkan jika dikaitkan dengan manusia dia berarti kulit hitam atau hitam pekat.

Makna-makna diatas seakan ingin menjelaskan tentang hakekat manusia secara utuh, dimana untuk keberlangsungan hidupnya dia tidak bisa hidup sendiri, selalu memiliki ketergantungan dengan yang lain, dia butuh kasih sayang dan senantiasa berusaha mencari kesamaan warna kulit mungkin

(38)

12

berbeda-beda karena asal penciptaannya sama yaitu berasal dari tanah, dan manusia adalah makhluk riil yang bisa diraba dengan indera.

Subtansi Nabi Adam dengan manusia setelahnya sesungguhnya mempunyai keterikatan yang kuat. Prof Carl Sagan dari Princeton ketika mengomentari keunggulan manusia dibandingkan makhluk lainnya, bahwa manusia mempunyai kekhususan yaitu (1) jaringan otak yang menyimpan informasi apapun yang terekam olehnya, (2) DNA Kromosomal, yaitu molekul DNA yang ada di kromosom yang menyimpan infomasi genetic manusia. Informasi bentuk kedua ini akan diturunkan kepada keturunannya.23

Hal diatas sebagaimana diinformasikan oleh ayat-ayat Al-Qur’an bahwasannya manusia berasal dari satu jiwa, yaitu Adam as. Ayat-ayat tersebut yaitu QS. an-Nisā’ [3]: 1, QS. al-A’rāf [7]: 189, QS. al-An'ām [6]:

98, dan QS. az-Zumar 39:

َّ ثَّب َّو ا َّه َّج ْو َّز ا َّهْن ِم َّق َّ

ل َّخ َّ و ٍة َّد ِحا َّ و ٍس ف ْ َّ ن ْنِ م ْمُكَّقَّل َّخ ْي ِذ َّ

لا ُم ُ

كَّ ب َّر ا ْو ق ُ تا ُسا َّ َّ نلا اَّهُ يَّآٰي ا َّ

ك َّه ٰ للا َّ

ن ِا ِۗ َّما َّح ْر َّ

ا ْ لا َّو ٖهِب َّ

ن ْو ُ ل َّءۤا َّس َّ

ت ْي ِذ َّ

لا َّه ٰ للا او ُ

ق َّ

تا َّو ِۚ ًءۤا َّسِن َّ و ا ًرْيِث َّ

ك ا ً

لا َّج ِر ا َّم ُهْن ِم

َّ ن

ْي َّ

اًبْي ِق َّر ْم ُ لَّع ك ٠

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.143) Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.

Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasim”. (QS. An-Nisa' [4]:1)

23 Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an, Penciptaan Manusia dalam Perspektif Al- Qur’an dan Sains, (Jakarta: Widya Cahaya, 2014), h. 20

(39)

13

ا َّهى ٰ ش َّغَّت اَّ مَّلَّف ِۚاَّهْيَّلِا َّنُك ْسَّيِل اَّه َّجْوَّز اَّهْنِم َّل َّع َّجَّ و ٍة َّد ِحاَّ و ٍسْفَّ ن ْنِ م ْمُكَّقَّل َّخ ْي ِذ َّ

لا َّو ُه َّن َّ

ل اًح ِلا َّص اَّنَّتْيَّت ٰ ا ْنِ ى َّ

ل اَّم ُهَّ ب َّر َّه ٰ

للا ا َّو َّع د ْت َّ َّ

ل َّ

ق ْ ث َّ

ا ٓا َّ م َّ

ل َّ

فِۚ ٖهِب ْت َّ رَّمَّف اًفْيِف َّخ ا ً ل ْمَّح ْت َّ

ل َّمَّح َّ نَّن ْو ُ

ك

َّنْي ِر ِك ٰ شلا َّنِم ٠٨٩

“Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan darinya Dia menjadikan pasangannya agar dia cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Kemudian, setelah ia mencampurinya, dia (istrinya) mengandung dengan ringan. Maka, ia pun melewatinya dengan mudah.

Kemudian, ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) memohon kepada Allah, Tuhan mereka, “Sungguh, jika Engkau memberi kami anak yang saleh, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al-A'râf [7]:189)

ِۗ ٍجا َّو ْزَّا َّةَّيِنٰمَّث ِما َّعْنَّا ْ لا َّن ِ م ْم ُ

ك َّ

ل َّ

ل َّزْن َّ

ا َّو ا َّه َّج ْو َّز ا َّهْن ِم َّ

ل َّع َّج َّ م ُ

ث ٍة َّد ِحا َّ و ٍس ْ

ف َّ ن ْنِ م ْمُكَّقَّل َّخ ْم ُ

كُ ب َّر ُه ٰ للا ُم ُ

كِل ٰذ ٍِۗث ٰ ل َّ

ث ٍت ٰم ُ

ل ُظ ْيِف ٍق ْ

ل َّخ ِد ْعَّب ْۢ ْن ِ م ا ق ً ْ ل َّخ ْم ُ

كِت ٰه َّ مُا ِنْو ُطُب ْيِف ْم ُ ك ق ُ ُ

لْخ َّ

ي ِۗۗ

ُم ْ لا ُه َّ

َّ ل ن ْو ُ

ف َّر ْصُت ى ٰ ن َّ

ا َّ

ف َِّۚو ُه اَّ لِا َّه ٰ ل ِا ٓا َّ

ل ُِۗك ْ ل ٦

“Dia menciptakanmu dari jiwa yang satu (Adam), kemudian darinya Dia menjadikan pasangannya dan Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak untukmu. Dia menciptakanmu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.659) Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pemilik kerajaan. Tidak ada tuhan selain Dia. Mengapa kamu dapat berpaling (dari kebenaran)?” . (QS. Az-Zumar [39]:6)

ٍم ْو َّ

قِل ِتٰي ٰ ا ْ

لا اَّن ْ

ل َّ صَّف ْدَّقِۗ ٌّعَّدْوَّت ْسُمَّ و ٌّ رَّقَّت ْسُمَّف ٍة َّد ِحاَّ و ٍسْفَّ ن ْنِ م ْم ُ ك َّ

ا َّش ْ ن َّ

ا ٓ ْي ِذ َّ

لا َّو ُه َّو

َّ ن ْو ُه َّ ق ْ فَّ ي ٩٨

“Dialah yang menciptakanmu dari diri yang satu (Adam), maka (bagimu) ada tempat menetap dan tempat menyimpan.254) Sungguh, Kami telah memerinci tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada kaum yang memahami”. (QS. Al-An'ām [6]:98)

Dari uraian diatas, penulis akan mengkhususkan mengkaji mufasir yaitu Thanthawi Jauhari. Beliau adalah salah satu mufassir yang memberikan

(40)

14

perhatian besar terhadap tafsir ilmi adalah Thanthawi Jauhari. Mengutip pendapat Hulaimi Al Amin, ketertarikan Thanthowi Jauhari terhadap tafsir ilmi bermula dari perdebatan seputar I’jāz Al-Qur’an apakah bisa dirasionalkan atau tidak, Thanthawi Jauhari dianggap telah melakukan inovasi besar dengan telah mengelaborasi secara mendalam penafsiran ayat-ayat Al- Qur’an yang mengandung isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dengan menggunakan akal. Ia melakukan rasionalisasi terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan ayat-ayat kauniyah dengan cara menjelaskan sejumlah ayat secara mendalam disertai dengan menunjukan dimensi ilmiah serta dimensi kemajuan Barat rasional pada kajiannya sehingga memperlihatkan kesesuaian Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan dan dapat diterima masyarakat.

Penafsiran Thanthawi Jauhari menarik dan mampu mempengaruhi pemikiran masyarakat Muslim ketika itu bahkan masa kini. Penafsiran Thanthawi Jauhari yang menggunakan pendekatan ilmi dikatakan juga mampu membangkitkan semangat keilmuan generasi masa mendatang.

Penjelasan ilmiah dalam tafsir tersebut begitu mendalam sehingga tidak mengherankan jika tafsir yang dikarangnya bercorak ilmi.24

Salah satu penafsiran ilmiah Thanthawi Jauhari yang berkaitan dengan penciptaan manusia dari nutfah dan pewarisan sifat pada manusia yang dinformasikan Al-Qur’an salah satunya dalam QS. al-Insān [76]: 2 yaitu:

ا ًرْي ِصَّب ْۢا ًعْي ِم َّس ُه ٰنْل َّع َّجَّف ِهْيِلَّتْبَّ ن ٍۖجا َّشْم َّ

ا ٍة ف ْط َّ ُ ن ْنِم َّنا َّسْن ِاْلا اَّنْقَّل َّخ اَّ نِا ٢

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan) sehingga menjadikannya dapat mendengar dan melihat”. (QS. Al-Insān [76]:2)

24 Hulaimi Al Amin, Corak Ilmiah Tafsir Al-Jawāhir; Kajian Tentang Penciptaan Manusia, (Tangerang selatan, Cinta Buku Media, 2016), h. 9

(41)

15

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Tanthowi Jauhari memberikan penjelasan terkait unsur-unsur dari penciptaan manusia yaitu air mani yang tercampur. Air mani menurutnya mempunyai kaitan erat dengan tumbuh- tumbuhan yang menjadi bahan makanan manusia sehari hari. Selain itu, air mani diperoleh melalui minuman dan garam yang dikonsumsi manusia.

Unsur-unsur gizi yang dimakan manusia berasal dari sepuluh unsur diantaranya oksigen, kalsium, hidrogen, fosfor, sulfur, karbon, magnesium, botasium dan besi. 25

َِّۗك َّب َّ

كَّر َّءۤا َّش ا َّ م ٍة َّر ْو ُص ِ ي َّ

ا ٓ ْيِف ٨

“Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)- mu”. (QS. Al-Infitar [82]:8)

Dalam ayat tersebut, Thanthawi Jauhari menerangkan bahwa Allah Swt membentuk manusia dalam rahim ibunya sesuai dengan kehendak-Nya, seperti panjang dan pendek, bagus dan buruk serta laki-laki ataupun perempuan. Selain itu juga, disebutkan bahwa nutfah pada rahim seorang ibu dihadirkan antara dirinya dan Nabi Adam as.26

Diantara contoh penafsiran tersebut ketika menafsirkan QS. Ar-Rūm [30]: 20;

ْن ِم َّو ٖٓهِتٰي ٰ

ْ ا ن َّ

ا ْم ُ

ك ق َّ َّ

ل َّخ ْن ِ م

ٍبا َّر ُت َّ م ث ُ

ٓا َّذ ِا ْمُتْن َّ

ا ٌّر َّشَّب

َّ ن ْو ُر ِشَّت ْ نَّت ٢١

“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia menciptakan (leluhur) kamu (Nabi Adam) dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang bertebaran.” (QS. Ar-Rūm [30]:20)

Menurutnya manusia di dunia terhitung berjumlah miliaran manusia.

Tatkala ditelaah kebelakang, maka pasti kembali pada Nabi Adam As dan siti

25 Tanthawi Jauhari, al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an al-Karim, (Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2016), Juz 24, h. 311

26 Thanthawi Jauhari, al-Jawāhir fi at-Tafsīr al-Qur’an al-Karīm, Juz 25-26, h. 98

Referensi

Dokumen terkait

Dimulai dari bab I pendahuluan sampai dengan lampiran-lampiran diberi nomor halaman dengan angka Arab seperti 1, 2, 3, 4 dan seterusnya yang diletakkan pada

penggunaan obat rasional pada diare akut non spesifik di Kabupaten OKU Sumatera Selatan yang menemukan bah- wa permintaan pasien terhadap obat tertentu yang dise- babkan oleh

Hewan uji yang digunakan adalah jenis krustasea liar yang terdapat dalam tambak udang windu, di Kabupaten Takalar Propinsi Sulawesi Selatan, berupa krustasea liar

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufiq, dan hidayah, serta inayah-Nya sehingga penuis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Uji Efektivitas

Maka Majelis Hakim menyimpulkan, dimana Tergugat II tidak ada hubungan apa pun dengan akad pembiayaan murabahah antara Tergugat I dan Pihak Bank BPR Syariah Al-Wadi’ah,

Memenuhi Hasil verifikasi menunjukkan bahwa seluruh penerimaan bahan baku berupa furniture kayu setengah jadi dan bahan komponen dari pemasok dilengkapi dengan dokumen

Iklan ini ditujukan kepada lembaga, badan, pabrik dan atau organisasi, dimana produk yang ditawarkan dimaksudkan untuk dijadikan barang yang telah dibelinya

Untuk dapat mengetahui perencanaan sistem penanganan bagasi yang layak digunakan di Terminal 1A Keberangkatan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta,