• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Business Process Design With BPR Life Cycle in Fertilizer Provision

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of Business Process Design With BPR Life Cycle in Fertilizer Provision"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

JITE, 6 (2) January 2023 ISSN 2549-6247 (Print) ISSN 2549-6255 (Online)

JITE (Journal of Informatics and Telecommunication Engineering)

Available online http://ojs.uma.ac.id/index.php/jite DOI : 10.31289/jite.v6i2.8526

Received: 07 December 2022 Accepted: 05 January 2023 Published: 25 January 2023

Business Process Design With BPR Life Cycle in Fertilizer Provision

Ghina Anggun Ilmiha1), Farrikh Alzami2)*, Mila Sartika3), Sri Handayani4), Jumanto5), Rindra Yusianto6), Firman Wahyudi7)

1,2,3,4,5,6) Universitas Dian Nuswantoro, Indonesia 7) Ramani BV, Netherland

*Coresponding Email: [email protected] Abstrak

Pupuk merupakan pendukung pertumbuhan dan penyuburan tanah sehingga meningkatkan produksi pertanian sekaligus dapat memperbaiki kualitas lingkungan. Penggunaan pupuk disesuaikan dengan jumlah lahan yang dibutuhkan dan jumlah bibit yang dibeli. Realitanya, pupuk untuk tanaman bawang merah masih sulit untuk didapatkan, dan harga yang masih tinggi diatas harga ecer, membuat petani bawang merah menginginkan subsidi pupuk dari pemerintah meskipun subsidi yang disediakan juga masih kurang memadai dan kurang merata. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh penyediaan pupuk terhadap luas lahan, kebutuhan bibit, dan prediksi kebutuhan pupuk terhadap bawang merah. Hasil analisis tersebut menghasilkan perancangan proses bisnis pada penyediaan pupuk menggunakan metode Business Process Reengineering Life Cycle. Pengambilan data primer diilakukan dengan menggunakan kuisioner dan wawancara pada petani bawang merah. Hasil penelitian menunjukan bahwa produksi kebutuhan pupuk sesuai dengan luas lahan dan jumlah bibit yang digunakan. Maka dari itu, upaya peningkatan daya saing bawang merah dapat dilakukan dengan pengusulan BPR Life Cycle, sehingga usulan framework diharapkan dapat direalisasikan guna meningkatkan produktivitas dan membangun kelembagaan petani untuk mewujudkan pembangunan pertanian selanjutnya.

Kata Kunci: Business Process Reengineering, Pupuk, Agrikultur, Prediksi, Sistem Informasi Abstract

Fertilizer is a supporter of soil growth and enrichment so as to increase agricultural production while at the same time improving environmental quality. The use of fertilizer is adjusted to the amount of land needed and the number of seeds purchased. In reality, fertilizer for shallots is still difficult to obtain, and prices are still high above retail prices, making shallot farmers want fertilizer subsidies from the government even though the subsidies provided are still inadequate and uneven. The purpose of this study was to analyze the effect of providing fertilizer on land area, seed needs, and prediction of fertilizer needs for shallots. The results of this analysis resulted in the design of business processes in the supply of fertilizers using the Business Process Reengineering Life Cycle method. Primary data collection was carried out using questionnaires and interviews with shallot farmers. The results showed that the production of fertilizer needs in accordance with the area of land and the number of seeds used. Therefore, efforts to increase the competitiveness of shallots can be carried out by proposing the BPR Life Cycle, so that the proposed framework is expected to be realized in order to increase productivity and build farmer institutions to realize further agricultural development.

Keywords: Business Process Reengineering, Fertilizer, Agriculture, Prediction, Information System

How to Cite: Ilmiha, G. A., Alzami, F., Sartika, M., Handayani, S., Jumanto, J., Yusianto, R., & Wahyudi, F. (2023).

Business Process Design With BPR Life Cycle in Fertilizer Provision. JITE (Journal Of Informatics And Telecommunication Engineering), 6(2), 548-558.

I. PENDAHULUAN

Pupuk merupakan salah satu produktivitas tanaman pangan, sehingga keberadaan dan pemanfaatannya memiliki posisi yang penting(Li et al., 2019). Penggunaan pupuk untuk menyuburkan tanah merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi pertanian sekaligus dapat memperbaiki kualitas lingkungan(Coulibaly et al., 2017). Salah satu komoditas pertanian yang unggul adalah bawang merah(Wahyudin et al., 2015). Karena komoditas bawang merah dapat menjadi sumber pendapatan dan

(2)

549

kesempatan kerja yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap pengembangan ekonomi wilayah.

Beberapa masalah yang ada pada kegiatan pertanian bawang merah adalah: ketersediaan bibit unggul, pengembangan luas lahan, jaminan ketersediaan distribusi pupuk untuk kesuburan tanah. Untuk permasalahan dalam bidang pupuk, dimana pupuk digunakan untuk mendukung usaha tani dalam membangun kesuburan tanah, maka kenaikan harga pupuk dapat menyebabkan kelangkaan pupuk dan menjadi beban para petani karena pengeluaran biaya sarana produksi yang lebih(Buckland et al., 2013).

Maka dari itu, kebijakan subsidi pupuk dikeluarkan oleh Pemerintah untuk mendukung perkembangan produksi bawang merah dan peningkatan daya saing bawang merah(Aldila et al., 2017).

Upaya pemerintah untuk kelancaran dan ketepatan penyaluraan pupuk bersubsidi serta menjamin ketersediaan pupuk bagi petani dengan harga yang sudah ditetapkan(Nolasary, 2019). Namun, realitanya petani yang seharusnya mendapatkan bantuan program ini masih sulit untuk mengaksesnya. Sering terjadinya kecurangan, seperti petani dihadapkan dengan keadaan pupuk yang langka, harga pupuk diatas harga ecer tertinggi, dan penyalahgunaan mekanisme distribusi pupuk(Belil et al., 2022). Meskipun ketentuan pelaksanaan program pupuk bersubsidi telah diatur mekanismenya. Selain itu, dalam penetapan harga beli masih ditemukan berbagai permasalahan baik dalam penjulan oleh para pengecer yang dirasakan kurang begitu terjangkau oleh para petani(Hampannavar et al., 2018). Penggunaan metode terkomputerisasi, dapat digunakan untuk kegiatan pertanian, mulai dari hulu (penanaman) hingga hilir (pemanenan dan penjualan). Disini, peneliti berfokus pada kegiatan hulu, yaitu melakukan perancangan proses bisnis model baru untuk ketersediaan pupuk bagi petani bawang merah. Peneliti juga mempertimbangkan bahwa penggunaan pupuk tergantung juga dari elevasi tanah / lokasi penanaman bawang, hal ini sesuai dengan temuan dari Shura et.al yang menyatakan bahwa kesalahan dalam pemberian jenis dan jumlah pupuk, menyebabkan hasil panen yang tidak maksimal(Shura et al., 2022).

Proses model bisnis baru ini, akan melihat data dari permintaan pupuk dari petani dalam kurun 1 tahun, kemudian memberikan rekomendasi kepada penjual (pemilik toko) terhadap jenis dan kuantitas pupuk yang perlu disiapkan untuk masa tanam bawang merah berikutnya. Sehingga, diharapkan model yang terbentuk ini, dapat digunakan sebagai framework untuk proses bisnis penyediaan pupuk bawang merah yang optimal.

II. STUDI PUSTAKA

Dalam melakukan tahapan ini peneliti menggunakan kata kunci fertilizer dan prediction, menghasilkan beberapa temuan, antara lain :

1. Penelitian dari Sahim, Aswin Naldi (Sahim et al., 2018) yang membahas tentang faktor kekuatan inovasi, distribusi, dan pengawasan dalam meningkatkan kinerja pengelolaan rantai pasok pupuk bersubsidi di Indonesia. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama yaitu mengungkap pengaruh kebijakan pemerintah dalam hal pengawasan, mengecek keandalan distribusi dan faktor inovasi terhadap pelaksanaan SCM pupuk bersubsidi di Indonesia. Dengan menggunakan tools SEM, Temuan dari studi ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dalam hal pengawasan dan kehandalan peruntukannya berdampak langsung dan kritis terhadap pelaksanaan SCM pupuk bersubsidi. Faktor inovasi juga memegang peranan penting karena menentukan keberhasilan pengawasan dan keandalan distribusi meskipun tidak signifikan. Disamping itu, faktor pengawasan dan kehandalan distribusi ini berperan sebagai mediator antara f aktor inovasi dengan kinerja penuh SCM. Hasil dari penelitian tersebut, menyarankan agar pemerintah memperhatikan faktor pengawasan, keandalan distribusi serta faktor inovasi. Sehingga, pendistribusian pupuk akan lebih tepat sasaran pada waktu yang tepat dengan lokasi, jenis, jumlah dan kualitas yang tepat, serta harga yang sesuai. Hal yang belum dibahas oleh peneliti tersebut adalah pemanfaatan komoditas bersubsidi, seperti komoditas bawang merah.

2. Penelitian dari Wiwiek Andajani dan Cahyo Asri Wahyu Pratama(Kinerja et al., 2017), yang membahas tentang analisis kepuasan petani bawang merah terhadap kinerja penanganan pupuk bersubsidi. Upaya pembangunan pertanian yang dibentuk oleh kelembagaan penyuluh dari Pemerintahan Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota sampai di tingkat Kecamatan. Hal yang dilakukan dalam penelitian ini untuk mengetahui kualitas pelayanan PPL dan penanganan pupuk bersubsidi terhadap tingkat kepuasan petani bawang merah, dan untuk mengetahui kepuasan petani bawang merah terhadap kinerja pelayanan PPL dan penanganan penggunaan pupuk bersubsidi. Metode analisa data menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, IPA dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil

(3)

yang di dapat petani bawang merah di desa Nglinggo Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk puas terhadap kualitas pelayanan PPL, puas dalam penanganan pupuk bersubsidi dan puas atas kinerja pelayanan PPL serta puas dalam penggunaan pupuk bersubsidi.

3. Penelitian dari R. Widyastuti et al (Widyastuti et al., 2021), yang membahas tentang kombinasi pupuk hayati dan pupuk organic untuk meningkatkan produksi bawang merah (Allium ascalonicum L.). Pada penelitian ini, mengevaluasi pengaruh kombinasi pupuk hayati dan pupuk organik terhadap produksi bawang merah. Studi tersebut menunjukkan bahwa kombinasi pupuk hayati dan pupuk organik secara signifikan meningkatkan jumlah, diameter, dan berat pada produksi bawang merah. Bawang merah yang diberi pupuk hayati menghasilkan bawang merah lebh tinggi.

4. Penelitian dari Andi Faisal Suddin(Suddin et al., 2021), yang membahas tentang respon pertumbuhan dan produksi bawang merah pada beberapa dosis pupuk majemuk npk nitrat 16-16- 16. Pada penelitian ini menganggap bahwa pupuk sebagai salah satu faktor penting dalam meningkatkan produksi bawang merah. Akan tetapi, manajemen pemupukan harus sesuai dengan kebutuhan nutrisi tanaman. Tujuannya untuk menentukan dosis yang tepat dari NPK 16:16:16 berbasis ammonium nitrat pada tanaman bawang merah. Hasilnya diperoleh menunjukkan bahwa pemupukan NPK Nitrat 16:16:16 memiliki produksi yang cukup tinggi.

5. Penelitian dari Indaryani et al(Idaryani et al., 2021), membahas tentang respon pertumbuhan dan produksi bawang merah (Allium ascalonicum L.) terhadap dosis dan interval waktu aplikasi pupuk cair pelengkap. Bawang merah merupakan salah satu komoditas pertanian yang perlu ditingkatkan produksinya dalam kerangka program ketahanan pangan nasional. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil adalah dengan melakukan teknik budidaya diantaranya pemupukan.

Tujuannya untuk menentukan dosis pupuk cair pelengkap dan interval waktu aplikasi serta interaksinya untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil bawang. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perlakuan dosis CLF berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun. Pertumbuhan dan produksi bawang merah terbaik diperoleh pada perlakuan LCF dengan dosis 2,0 ml L−1 dengan selang waktu 5 hari sekali aplikasi.

III. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan teknik pengumpulan data pada 7 kabupaten, yaitu Brebes, Tegal, Pati, Boyolali, Demak, Kendal, dan Temanggung. Penentuan lokasi pada 7 kabupaten tersebut karena sudah mendapatkan pendampingan Teknologi Kawasan Holtikultura yang peneliti dan tim lakukan. Pengumpulan data dengan memberi kuisioner dan wawancara kepada para petani dan pengepul untuk mengetahui penggunaan pupuk dan pupuk apa yang dibutuhkan sesuai dengan luas lahan, pemberian bibit, dan kondisi yang sesuai dengan lingkungan daerah tersebut.

Pelaksanaan survei dilakukan pada Bulan Agustus-November 2022. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan wawancara. Pengambilan data primer dilakukan dengan petani, distributor bawang merah, dan pedagang bawang merah. Data yang diperoleh yaitu harga pupuk dan pendapatan pupuk. Kemudian, data diolah dengan menggunakan metode Business Process Reengineering Life Cycle. Business Process Rengineering merupakan proses komputerisasi yang berfokus pada analisis dan desain alur kerja proses bisnis dalam sebuah organisasi(Kiran, 2017). Tujuannya untuk membantu organisasi membuat proses bisnis yang dibuat lebih matang sehingga dapat meningkatkan performa bisnisnya.

Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini dengan 2 tahapan, yaitu literatur review dan pengumpulan data menggunakan kuisioner dan wawancara. Secara detail tahapan ini akan dijelaskan, sebagai berikut :

1. Tahapan Literature Review

Tahapan literature review(Triandini et al., 2019) menggunakan kata kunci Supply Chain Management dan fertilizer, menghasilkan beberapa temuan. Data tersebut diperoleh dari jurnal, website, dan buku dengan cara melakukan pengumpulan data melalui arsip, penelitian sebelumnya, dan mencatat data yang mendukung pada proses perancangan dan pengembangan arsitektur pada penyediaan pupuk.

(4)

551

Gambar 1. VOS Viewer Fertilizer

Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa penelitian terkait pupuk menghasilkan beberapa uji Supply Chain Management, Application, Penggunaan pupuk, Tipe pupuk, Panen, dan Tipe tanah. Kata kunci ini, digunakan sebagai bahan untuk pencarian informasi melalui kuisioner dan wawancara.

2. Tahapan Pengumpulan Data

Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan wawancara(IAIN, n.d.).

Pengambilan data dilakukan dengan petani, distributor bawang merah, dan pedagang bawang merah.

Disamping itu, kami mendapati faktor tambahan dari petani, yaitu harga pupuk dan jumlah pupuk yang didapatkan. Kemudian, data diolah dengan menggunakan metode Business Process Reengineering Life Cycle.

Business Process Rengineering merupakan proses komputerisasi yang berfokus pada analisis dan desain alur kerja proses bisnis dalah sebuah organisasi. Tujuannya untuk membantu organisasi membuat proses bisnis yang dibuat lebih matang sehingga dapat meningkatkan performa bisnisnya.

Gambar 2. Kerangka berpikir metode BPR life cycle

(5)

Berdasarkan Gambar 2, metode yang digunakan adalah Business Process Reengineering. Metode ini memiliki 7 fase, yaitu sebagai berikut :

a. Visioning

Visi diperlukan sebagai pedoman dalam melakukan reengineering pada proses bisnis yang saat ini berlangsung. Fase ini menuntut adanya keterlibatan seluruh anggota organisasi untuk mengembangkan tujuan dalam melakukan reengineering.

b. Identifying

Fase ini merupakan model analisis yang dikembangkan dengan menggambarkan bagian permasalahan pada proses bisnis serta mengevaluasi dan memilih bagian yang akan direkayasa ulang.

c. Analyzing

Fase analisis dilakukan dengan menggunakan Business Process Modelling Notation dan Fishbone Diagram. Metode ini dipiih karena dapat memberikan gambaran akar darui permasalahan utama yang muncul sehingga membantu menyelesaikan permasalahan proses bisnis.

d. Redesigning

Bagian ini memberi nilai tambah pada proses yang menjadi hambatan atau sebaliknya yang memberikan nilai tambah pada proses rekayasa ulang.

e. Evaluating

Melakukan evaluasi terhadap alternatif proses yang telah dibuat dan memutuskan hasil desain ulang proses yang akan digunakan dalam fase implementasi.

f. Implementing

Tahap implementasi merupakan proses yang telah direncanakan secara matang. Perbaikan kinerja proses bisnis dengan memperbaiki sistem kerja yang berdampak pada produktivitas dan efisiensi proses bisnis.

g. Improving

Pada tahap ini, proses yang telah direkayasa ulang harus diukur sesuai indikator kinerja untuk mengevaluasi dampak BPR dan melakukan peningkatan proses secara terus menerus.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Permasalahan yang terjadi pada kelompok tani adalah harga pupuk yang kurang terjangkau bagi petani seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3(Rahman, 2022).

Gambar 3. Indeks harga pupuk global

Berdasarkan pada Gambar 3, harga pupuk global meningkat setiap tahun, meskipun ada kecenderungan harga naik dan turun. Adapun subsidi dari pemerintah cukup membantu para petani, akan

(6)

553

tetapi pembagian subsidi tersebut belum merata karena sulit mengaksesnya. Selain itu, juga sering terjadinya kecurangan, seperti petani dihadapkan dengan keadaan pupuk yang langka, harga pupuk diatas harga ecer tertinggi (HET)(Utara et al., 2018), dan penyalahgunaan mekanisme distribusi pupuk. Meskipun ketentuan pelaksanaan program pupuk bersubsidi telah diatur mekanismenya(Penyaluran et al., 2020).

Business process reengineering memiliki konsep mengubah sistem atau proses yang terjadi pada kegiatan bisnis agar permasalahan yang ada dapat diperbaiki sehingga menjadi bisnis yang lebih efisien.

Gambaran proses bisnis yang digunakan sampai saat ini, yaitu aplikasi pada dashboard penyediaan pupuk.

Proses sebelumnya yang masih manual, hanya menggunakan perkiraan terhadap hasil panen. Berikut adalah as-is system pada kegiatan penyediaan pupuk:

Pada As-is System, Proses bisnis penyediaan pupuk yang sebelumnya masih berjalan secara manual atau konvensional, belum tersistem sehingga tidak ada pencatatan yang optimal. Permasalahan sistem yang masih konvensional membuat pencatatan yang tidak optimal menyebabkan terjadinya manipulasi data karena data yang tidak transparan. Dari As-is system tersebut, penyedia pupuk tidak mengetahui kebutuhan sebenarnya dari Petani. Maka diperlukan proses perekaman data penjualan pupuk, kemudian data penjualan tersebut akan dijadikan prediksi permintaan dan penambahan inventory jenis dan jumlah pupuk(Prasetyo & Sinaga, 2017).

Maka dari itu, penelitian ini berfokus pada proses pengembangan produk yang dilakukan secara bersamaan dengan bantuan database yang terintegrasi dalam to-be business process. Langkah awal pada proses bisnis aplikasi penyediaan pupuk ini adalah menganalisa kebutuhan pupuk. Dengan menentukan pupuk apa yang sesuai dan menganalisis pengaruh penyediaan pupuk terhadap luas lahan, kebutuhan bibit, dan prediksi kebutuhan pupuk terhadap bawang merah(Arya et al., 2019). Berikut merupakan alur proses bisnis pada penyediaan pupuk yang diusulkan:

1. Proses ketersediaan pupuk

Proses ini menjelaskan tentang bagaimana untuk mendapatkan pupuk dengan menentukan jenis pupuk yang dipakai dan jumlah pupuk yang akan dipakai(Priyadi et al., 2021). Berikut alur proses analisa ketersediaan pupuk :

a. Penjual meminta analisa deskriptif pada transaksi pupuk.

b. Sistem menampilkan query transaksi pupuk.

c. Setelah itu, sistem mencetak analisa berupa analisa jenis pupuk dan konsumsi pupuk.

d. Kemudian, memberi prediksi jenis dan konsumsi pupuk.

e. Sistem mendapatkan data pasokan pupuk, lalu memberi peskripsi jenis dan konsumsi pupuk tersebut.

f. Setelah menentukan jenis dan konsumsi pupuk, sistem menampilkan dalam bentuk dashboard.

Alur proses ketersediaan pupuk yang digambarkan dalam diagram alur BPMN, sebagai berikut :

Gambar 4. Usulan BPMN ketersediaan pupuk

(7)

2. Proses transaksi pupuk

Pada proses ini, proses membeli pupuk sesuai dengan yang dibutuhkan. Kriteria jenis pupuk yang dibutuhkan disesuaikan dengan daerah masing-masing. Karena memengaruhi cuaca dan lingkungan daerah tersebut. Macam-macam jenis pupuk untuk tanaman bawang merah, diantaranya pupuk inul, Ncl, dan Mutiara(Geisseler et al., 2022). Pupuk tersebut diolah dan hasilnya dapat dijual kepada pengepul atau penjual bawang merah. Berikut alur proses transaksi pupuk :

a. Petani membeli pupuk ke penjual pupuk

b. Membuat pesanan terlebih dahulu agar pesanan segera diproses.

c. Ketika melakukan pemesanan, dipastikan sudah memiliki kartu tani.

d. Jika belum memiliki kartu tani diharapkan membuat terlebih dahulu.

e. Setelah menerima kartu tani, pesanan akan diproses.

f. Pastikan menerima faktur pembelian.

g. Jika sudah, dapat menerima pesanan.

Alur proses transaksi pupuk yang digambarkan dalam diagram alur BPMN, sebagai berikut :

Gambar 5. Usulan BPMN transaksi pupuk

Analisis proses bisnis terhadap penyediaan pupuk juga dibantu dengan menggunakan diagram fishbone, dimana metode ini akan menunjukkan dampak atau akibat dari sebuah permasalahan dan penyebabnya. Diagram fishbone atau diagram tulang ikan yang berisi sebab-sebab dari suatu permasalahan(Putri & Wibawa, 2017). Dalam metode diagram fishbone ini, digolongkan pada suatu kategori yang terdiri dari man (tenaga kerja/pekerjaan fisik), machine (mesin atau teknologi), material (material), dan method (metode atau proses). Berikut merupakan diagram fishbone dan faktor penyebab tiap kategori pada penyediaan pupuk, sebagai berikut :

Gambar 6. Diagram fishbone proses bisnis penyediaan pupuk

(8)

555

Berdasarkan gambar diatas, diketahui bahwa faktor pada tiap kategorinya. Semua faktor dapat menimbulkan dampak yang sama. Berikut analisis permasalahan pada tiap kategorinya, yaitu :

Man

Man (tenaga kerja/pekerjaan fisik) atau SDM yang terlibat pada setiap proses bisnis. Dibutuhkan sumber daya manusia yang tepat agar mancapai tujuan dan memenuhi kebutuhan di perusahaan.

Permasalahanya adalah kelompok tani yang tidak mendapatkan pupuk secara merata.

Machine

Machine (mesin atau teknologi) sebagai alat bantu produksi untuk menentukan seberapa efektif proses bisnis yang dibuat. Karena setiap tahunnya semakin canggih perkembangan teknologi. Tetapi, proses yang digunakan pada penyediaan pupuk masih manual.

Material

Material atau bahan baku merupakan bahan produksi yang akan menghasilkan produk bisnis yang dibuat. Cara pengolahan yang tepat dan pemilihan bahan baku yang berkualitas agar dapat bersaing di pasar. Untuk mendapatkan bahan baku yaitu pupuk masih kesulitan karena harganya yang masih tinggi dan tidak adanya subsidi dari pemerintah.

Method

Method (metode atau proses) yang membantu menemukan cara kerja yang efektif agar terhindar dari salah perhitungan, hambatan produksi, dan mengatur kesejahteraan sumber daya manusia.

Permasalahannya proses panen hasil penanaman yang masih manual atau konvensional. Sehingga, jika akan panen menggunakan perkiraan(Kilmer & Hanson, 2018).

Evaluating dan Implementing

Untuk tahapan evaluasi dan implementasi, akan dijalankan pada iterasi berikutnya, yaitu iterasi pengembangan sistem informasi Penyediaan pupuk. Berikut merupakan salah satu desain pengembangan Sistem Informasi Penyediaan pupuk.

uc Transaksi Pupuk

sistem penyediaan pupuk

User Admin

Mengolah Data Pupuk

Menambah Data Pupuk

Input Kartu Tani

Melihat Ketersediaan Pupuk Login

Transaksi Pupuk Manaj er

Laporan Transaksi Pupuk

Prediksi Permintaan Pupuk

Logout

«include»

«include»

«include»

«include»

Gambar 7. Usecase proses bisnis penyediaan pupuk

(9)

Pada Gambar 7, dapat dilihat sistem yang akan dikembangkan mempunyai beberapa fitur : 1) Mengolah data pupuk, 2) Login , 3) Menambah data pupuk, 4) Input kartu tani, 5) Melihat ketersediaan pupuk, 6) Transaksi pupuk, 7) laporan transaksi pupuk, 8) Prediksi permintaan pupuk, 9) Logout. Gambar 7 ini, juga sudah mendapatkan persetujuan dari kelompok tani untuk segera direalisasikan pada penelitian berikutnya.

Penekanan pada penelitian kedepan adalah: disamping merealisasikan Gambar 7, prediksi permintaan pupuk berdasarkan data historis menggunakan metode machine learning juga akan dikembangkan. Adapun desain user interface yang diusulkan pada proses bisnis transaksi pupuk dapat dilihat pada Gambar 8, sebagai berikut :

Gambar 8. Desain user interface proses bisnis transaksi penyediaan pupuk

Desain user interface yang ditampilkan pada Gambar 8, telah didiskusikan dan disampaikan kepada kelompok tani mitra dari peneliti. Hasil persetujuan diskusi ini, akan dilanjutkan ke tahap pengembangan pada penelitian selanjutnya.

V. SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada proses bisnis penyediaan pupuk, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1) Pemetaan masalah dan solusi berhasil teridentifikasi, 2) Solusi usulan BPMN dan usecase penyediaan pupuk telah terbuat. Tahapan penelitian selanjutnya adalah mengimplementasikan BPMN dan use case tersebut kedalam tahapan implementasi sistem informasi penyediaan pupuk dan memprediksi jumlah dan jenis permintaan pupuk.

VI. UCAPAN TERIMAKASIH

Kami dengan tulus berterima kasih kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Republik Indonesia yang telah mendanai sebagian proyek ini melalui Program Kedaireka. Karya ini juga didukung oleh Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) melalui Center of Excellence in Science and Technology, UDINUS dan RAMANI B.V.

dengan hibah dokumen kontrak: Penyelarasan Rantai Pasok dan Customer Relationship Management pada Komoditi Bawang Merah menggunakan Artificial Inteligent berbasis Internet of Things dan Blockchain, No.

176/E1/KS.06.02/2022.

(10)

557

DAFTAR PUSTAKA

Aldila, H. F., Fariyanti, A., & Tinaprilla, N. (2017). DAYA SAING BAWANG MERAH DI WILAYAH SENTRA PRODUKSI DI INDONESIA. Jurnal Manajemen Dan Agribisnis, 14(1).

https://doi.org/10.17358/jma.14.1.43

Arya, N. N., Bali, B., nFn, S., Bangka, B., Belitung, J. M. K., & ... (2019). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Dan Efisiensi Teknis Budidaya Bawang Merah Varietas Kintamani Di Bali. 201–213.

http://124.81.126.57/handle/123456789/8209

Belil, S., Tchernev, N., & Kemmoé-Tchomté, S. (2022). Integrated production inventory and distribution problem of fertilizer products with additional storage constraints. IFAC-PapersOnLine, 55(10), 1343–1350. https://doi.org/10.1016/j.ifacol.2022.09.577

Buckland, K., Reeve, J. R., Alston, D., Nischwitz, C., & Drost, D. (2013). Effects of nitrogen fertility and crop rotation on onion growth and yield, thrips densities, Iris yellow spot virus and soil properties.

Agriculture, Ecosystems & Environment, 177, 63–74. https://doi.org/10.1016/j.agee.2013.06.005 Coulibaly, J. Y., Chiputwa, B., Nakelse, T., & Kundhlande, G. (2017). Adoption of agroforestry and the impact

on household food security among farmers in Malawi. Agricultural Systems, 155, 52–69.

https://doi.org/10.1016/j.agsy.2017.03.017

Geisseler, D., Ortiz, R. S., & Diaz, J. (2022). Nitrogen nutrition and fertilization of onions (Allium cepa L.)–A

literature review. Scientia Horticulturae, 291, 110591.

https://doi.org/10.1016/j.scienta.2021.110591

Hampannavar, K., Bhajantri, V., & Totad, S. G. (2018). Prediction of Crop Fertilizer Consumption. 2018 Fourth International Conference on Computing Communication Control and Automation (ICCUBEA), 1–5. https://doi.org/10.1109/ICCUBEA.2018.8697827

IAIN. (n.d.). Penelitan Kualitatif dan Kuantitatif. Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif, 1–29.

Idaryani, Rauf, A. W., & Basir Nappu, M. (2021). Respons growth and production of shallot (Allium ascalonicum L.) on Complementary Liquid Fertilizer (CLF) dosage and interval of application time.

IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 803(1), 012014.

https://doi.org/10.1088/1755-1315/803/1/012014

Kilmer, V. J., & Hanson, A. A. (2018). Handbook of Soils and Climate in Agriculture. CRC Press.

https://doi.org/10.1201/9781351073073

Kinerja, T., Ppl, P., Penanganan, D., Bersubsidi, P., Andajani, W., Asri, C., & Pratama, W. (2017). Analisis Kepuasan Petani Bawang Merah ( Allium ascolonium L .). 1, 76–96.

Kiran, D. R. (2017). Business Process Reengineering. In Total Quality Management (pp. 405–414). Elsevier.

https://doi.org/10.1016/B978-0-12-811035-5.00028-3

Li, T., Zhang, X., Gao, H., Li, B., Wang, H., Yan, Q., Ollenburger, M., & Zhang, W. (2019). Exploring optimal nitrogen management practices within site-specific ecological and socioeconomic conditions.

Journal of Cleaner Production, 241, 118295. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2019.118295

Nolasary, M. P. (2019). Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Analisis Daya Saing Dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Bawang Merah di Kabupaten Solok. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, 10(4), 1–8.

Penyaluran, S., Bersubsidi, P., & Indonesia, D. I. (2020). Strategi Penyaluran Pupuk Bersubsidi Di Indonesia.

Jurnal Ilmiah M-Progress, 10(1), 69–89. https://doi.org/10.35968/m-pu.v10i1.369

Prasetyo, H. A., & Sinaga, L. L. (2017). Respon Pemberian Jenis dan Dosis Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.). JURNAL AGROTEKNOSAINS, 1(01). https://doi.org/10.36764/ja.v1i01.32

Priyadi, R., Natawijaya, D., Parida, R., & Juhaeni, A. H. (2021). PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI JENIS DAN DOSIS PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.). Media Pertanian, 6(2), 83–92. https://doi.org/10.37058/mp.v6i2.3824

Putri, R. O., & Wibawa, B. M. (2017). Identifikasi Permasalahan Komplain pada E-Commerce Menggunakan Metode Fishbone. Jurnal Sains Dan Seni ITS, 6(1). https://doi.org/10.12962/j23373520.v6i1.21485 Rahman, D. F. (2022). Harga Pupuk Global Tumbuh Melambat pada Juli 2022. Katadata.

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/08/25/harga-pupuk-global-tumbuh-melambat- pada-juli-2022

(11)

Sahim, A. N., NikMat, N. K., & Sudarmana, E. (2018). The power of innovation, distribution and supervision factor in improving performance of supply chain management of subsidized fertilizer in Indonesia.

International Journal of Supply Chain Management, 7(1), 129–134.

Shura, G., Beshir, H. M., & Haile, A. (2022). Improving onion productivity through optimum and economical use of soil macronutrients in Central Rift Valley of Ethiopia. Journal of Agriculture and Food Research, 9, 100321. https://doi.org/10.1016/j.jafr.2022.100321

Suddin, A. F., Maintang, Asri, M., Wahditiya, A. A., Rauf, A. W., & Syam, A. (2021). The growth response and shallot production on some dosage of npk nitrate compound fertilizer 16-16-16. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 911(1), 012048. https://doi.org/10.1088/1755- 1315/911/1/012048

Triandini, E., Jayanatha, S., Indrawan, A., Werla Putra, G., & Iswara, B. (2019). Metode Systematic Literature Review untuk Identifikasi Platform dan Metode Pengembangan Sistem Informasi di Indonesia.

Indonesian Journal of Information Systems, 1(2), 63. https://doi.org/10.24002/ijis.v1i2.1916 Utara, S., Utara, S., & Utara, S. (2018). Kota Medan Dan Faktor Faktor Yang. 1–13.

Wahyudin, M., Maksum, M., & Yuliando, H. (2015). The Shallot Pricing in the View of Import Restriction and Price Reference. Agriculture and Agricultural Science Procedia, 3, 132–136.

https://doi.org/10.1016/j.aaspro.2015.01.026

Widyastuti, R. A. D., Hendarto, K., Rahmat, A., Warganegara, H. A., Listiana, I., & Asmara, S. (2021). The Combination of Biofertilizer and Organic Fertilizer to Improve Shallot (Allium ascalonicum L.) Production. Journal of Tropical Crop Science, 8(01), 16–21. https://doi.org/10.29244/jtcs.8.01.16- 21

Referensi

Dokumen terkait

Bloom (1956) dalam Budiman dan Riyanto (2013), seperti pengetahuan, sikap juga terdiri dari berbagai tingkatan yaitu :.. Menerima diartikan sebagai kepekaan seseorang dalam

Dari segi waktu memimpin saat ini fenomena yang terjadi pada dinas pertanian dan perikanan adalah bahwa dari tahun 2014 sampai dengan 2019 atau selama lima tahun ada

Dari hasil pengujian dimmer circuit didapatkan hasil berupa nilai tegangan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai dimming yang diberikan.Hasil pengujian dapat

Sedangkan berikut ini merupakan tampilan dari halaman tambah data mahasiswa yang dapat digunakan apabila admin ingin menambahkan data mahasiswa baru. Password

Hasil yang diperoleh menunjukkan dosis 30 mg/ kg BB dan dosis 120 mg/kg BB ekstrak kulit buah mangga harum manis tidak dapat menurunkan tekanan darah tikus hipertensi,

Pencapaian masing-masing variabel input meliputi: dana kapitasi dengan pencapaian 67.8% tidak mampu mencapai skor efisien karena hasil perhitungan DEA menunjukkan

Salah satu dampak negatif yang diakibatkan oleh degradasi lahan ini adalah penurunan tingkat produksi pertanian, salah satunya adalah produksi bawang merah.Solusi yang

Makalah ini sudah menunjukkan bahwa kita dapat menggunakan sistem kriptografi kunci-publik untuk memperoleh skema fragile public-key watermarking , tetapi ia tidak dapat (atau