• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT KERANG SEBAGAI BAHAN CAMPURAN PEMBUATAN PAVING BLOCK.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMANFAATAN LIMBAH KULIT KERANG SEBAGAI BAHAN CAMPURAN PEMBUATAN PAVING BLOCK."

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT KERANG

SEBAGAI BAHAN CAMPURAN PEMBUATAN

PAVING BLOCK

O l e h :

ERWIN WIJAYA KUSUMA

NPM : 0852010036

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN” JATIM

SURABAYA

(2)

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT KERANG

SEBAGAI BAHAN CAMPURAN PEMBUATAN

PAVING BLOCK

untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh Gelar Sarjana Teknik ( S-1)

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

O l e h :

ERWIN WIJAYA KUSUMA

NPM : 0852010036

FAKULTAS TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN” JATIM

SURABAYA

(3)

SKRIPSI

Telah dipertahankan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi

Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

Pada hari : ……… Tanggal : ………..

Ir. Dewa Gede Okayadnya W., MT NIP : 19571105 198503 1 00 1

Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk memperoleh gelar sarjana (S1), tanggal :...

Dekan Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan

hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

“Pemanfaatan Limbah Kulit Kerang Sebagai Bahan Campuran Pembuatan Paving

Block” ini dengan baik.

Selama menyelesaikan skripsi ini, kami telah banyak memperoleh

bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini

penyusun ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Allah SWT, karena berkat rahmatnya skripsi ini dapat terselesaikan

dengan lancar.

2. Ir. Naniek Ratni JAR., MKes, selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil Dan

Perencanaan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur,

3. Dr. Ir. Munawar, MT, selaku Ketua Program studi Teknik Lingkungan

Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur

4. Okik H.C, ST. MT, Selaku Dosen Pembimbing skripsi yang telah

membantu, mengarahkan dan membimbing sehingga skripsi ini dapat

selesai dengan baik.

5. Ir. Dewa Gede Oka Yadnya W, Ir. Putu Wesen, MS, Ir. Tuhu Agung R.,

MT, selaku Dosen Penguji

6. Kedua orang tuaku, keluargaku, yang telah membantu material, doa, serta

(5)

7. Ary Andriyani yang tidak habis-habisnya memberikan semangat, motivasi

dan doanya..

8. Semua pihak dan teman – teman yang telah membantu dan yang tidak

dapat saya sebutkan satu per satu.

Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan

skripsi ini, untuk itu saran dan kritik yang membangun akan penyusun terima

dengan senang hati. Akhir kata penyusun mengucapkan terima kasih dan mohon

maaf yang sebesar-besarnya apabila didalam penyusunan laporan ini terdapat

kata-kata yang kurang berkenan atau kurang dipahami.

Surabaya, Oktober 2012

(6)

ABSTRACT... iv

DAFTAR ISI... v

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR... ix

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang... 1

I.2. Rumusan Masalah... 2

I.3. Tujuan Penelitian... 3

I.4. Manfaat Penelitian... 3

I.5. Ruang Lingkup... 4

BAB II TINJ AUAN PUSTAKA II.1. Kulit Kerang………...…...……... 5

II.2. Pengertian Paving Block... 8

II.3. Curing (Perawatan)... 11

II.4. Semen Portland………... 14

II.5. Sumber – Sumber Air ... 18

II.6. Agregat... 20

II.7. Pencetakan... 23

(7)

II.8. Penelitian Terdahulu... 26

II.9. Landasan Teori…….………... 29

BAB III METODE PENELITIAN III.1. Tempat dan Waktu Penelitian... 31

III.2. Bahan dan Alat... 31

III.2.1. Bahan yang digunakan... 31

III.2.2. Peralatan Penelitian... 32

III.3. Kerangka dan Variabel Penelitian... ... 33

III.3.1. Variabel Penelitian... 34

III.3.2. Prosedur Kerja Pembuatan Paving Block ... 35

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1. Analisa Awal... 36

IV.1.1. Pengujian Kulit Kerang... 36

IV.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan... 36

IV.2.1. Uji Penyerapan Air... 36

IV.2.2. Uji Kuat Tekan... 40

IV.2.3. Uji Natrium Sulfat... 44

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1. Kesimpulan... 48

V.2. Saran... 49

(8)
(9)

ABSTRAK

Salah satu dampak negatif dari perkembangan pembangunan fisik yang pesat adalah terjadinya eksploitasi terhadap Sumber Daya Alam (SDA). Sumber Daya Alam yang dimaksud adalah salah satu bahan baku pembuatan bahan bangunan yaitu Pasir. Salah satu alternatif untuk mengurangi eksploitasi terhadap Sumber Daya Alam adalah dengan memanfaatkan limbah kulit kerang sebagai Bahan baku pembuatan paving block. Pemanfaatan limbah kulit kerang sangat kurang, karena selama ini hanya digunakan sebagai hiasan, pakan ternak dan Campuran kosmetik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai uji Kuat Tekan, Penyerapan Air, dan Penyerapan Natrium Sulfat. Pengambilan kulit kerang diambil di desa Kalanganyar kecamatan Sedati, SIDOARJO. Bahan baku campuran berupa pasir dan limbah kulit kerang. Perbandingan komposisi pasir dan limbah kulit kerang adalah 100%:0%, 90%:10%, 80%:20%. Bahan baku dicampur dengan bahan pengikat semen dengan perbandingan 1:4 dari Agregat. Selanjutnya campuran dicetak dan di press dengan tekanan 20kg/cm2, lalu dilakukan uji fisik untuk mengetahui kualitas paving terbaik menurut standar SNI 03-0691-1996. Hasil percobaan menunjukan bahwa hasil terbaik dari pengujian penyerapan air dan uji kuat tekan paving block dapat dicapai pada rasio perbandingan pasir 80%, kulit kerang 20% dengan umur paving block 28 hari. Pada komposisi ini paving block memiliki kadar air 2,94% dan uji kut tekan 46,79 Mpa yang memenuhi SNI 03-0691-1996. Untuk hasil terbaik dari pengujian penyerapan natrium sulfat paving block dapat dicapai pada rasio perbandingan pasir 100%, kulit kerang 0% dengan umur paving block 28 hari. Pada komposisi ini paving block memiliki penyerapan natrium sulfat yang sedikit sehingga tidak mudah rapuh yang memenuhi SNI 03-0691-1996 dengan hasil 0,05% yang memenuhi PP No. 85 Tahun 1999.

(10)

exploitation of natural resources (NR). Natural Resources in question is one of the raw materials for building materials ie sand. One alternative to reduce the exploitation of natural resources is to utilize waste shells as raw material manufacturing of paving blocks. Utilization of waste shells are very less, as long as it is only used as decoration, animal feed and cosmetics Mixed. The purpose of this study to determine the value of test Compressive Strength, Water Absorption, and Absorption of Sodium Sulfate. Decision taken of shells in the village Kalanganyar Sedati, Sidoarjo. The raw material mixture of sand and waste shells. Comparison of the composition of the waste sand and shells are 100%: 0%, 90%: 10%, 80%: 20%. The raw material is mixed with a cement binder with a 1:4 ratio of Aggregate. Furthermore, printed and press the mixture with 20kg/cm2 pressure, then do a physical exam to determine the best quality according to standard paving block SNI 03-0691-1996. The experimental results show that the best results from testing water absorption and compressive strength test of paving blocks can be achieved at the ratio of 80% sand, shells 20% by age 28 days paving block. In this composition has a moisture content of paving block 2.94% and 46.79 MPa press kut test that meets SNI 03-0691-1996. For best results from the absorption of sodium sulphate test can be achieved at the ratio of 100% sand, seashells 0% by age 28 days paving block. In this composition paving block absorption of sodium sulfate has a bit so it is not easily fragile that meet SNI 03-0691-1996 with a yield of 0.05% which meets PP. 85, 1999.

Keywords: Waste seashells, sand, paving blocks, compressive strength, water absorption, the absorption of sodium sulfate,.

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Salah satu dampak negatif dari perkembangan pembangunan fisik yang

pesat adalah terjadinya eksploitasi terhadap Sumber Daya Alam (SDA). Sumber

Daya Alam yang dimaksud adalah salah satu bahan baku pembuatan bahan

bangunan yaitu Pasir. Salah satu alternatif untuk mengurangi eksploitasi terhadap

Sumber Daya Alam adalah dengan memanfaatkan limbah kulit kerang sebagai

Bahan baku pembuatan paving block. Limbah kulit kerang tersebut nantinya akan

digunakan sebagai bahan/agregat kasar, karena kandungan senyawa kimia SiO2 di

dalam kulit kerang, yang mana kandungan senyawa tersebut sama halnya dengan

pasir, sehingga didalam pembuatan paving block nantinnya tidak banyak

menggunakan pasir. Dari segi pemeliharaan kelestarian lingkungan cara ini

merupakan salah satu upaya untuk mereduksi limbah yang berasal dari kulit

kerang. (Maulanie, & Wibowo.,2004)

Pemanfaatan limbah kulit kerang sangat kurang, karena selama ini hanya

digunakan sebagai hiasan, pakan ternak dan Campuran kosmetik. Sedangkan

keberadaan kulit kerang semakin menggangu lingkungan kampung nelayan dan

merusak keindahan pantai. (Budiarini, 2004). Menurut Danusaputro (dalam

Suratmin dkk, 2007). Jika limbah dibuang terus menerus tanpa adanya pengolahan

(12)

menyebabkan lingkungan tidak berfungsi seperti semula dalam arti kesehatan,

kesejahteraan, dan keselamatan hayati.

Kualitas paving block yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan dapat

memenuhi persyaratan mutu beban sesuai dengan SNI 03-0691-1996. Untuk itu

dilakukan uji kualitas yang meliputi : Uji kuat tekan, uji penyerapan air, dan uji

ketahanan terhadap natrium sulfat. Untuk mendapatkan paving block dengan

kualitas yang baik dilakukan variasi perbandingan komposisi campuran

bahan-bahan dalam pembuatan paving block, dengan campuran semen, pasir, dan kulit

kerang.

I.2 Perumusan Masalah

Penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana komposisi campuran bahan – bahan (semen, pasir & limbah

kulit kerang) yang dapat menghasilkan paving block dengan kualitas

terbaik yang memenuhi SNI S-04-1989-F

2. Bagaimana nilai Kuat Tekan dan Penyerapan Air pada produk paving

block berbahan baku limbah kulit kerang ?

3. Mengetahui ketahanan paving block terhadap Natrium Sulfat. Natrium

Sulfat adalah sifat asam di dalam tanah yang bisa merusak ketahanan

(13)

3

I.3 Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian ini adalah :

1. Membuat Paving Block dari limbah kulit kerang dengan menentukan

komposisi campuran yang menghasilkan Paving Block dengan kualitas

terbaik menurut SNI 03-0691-1996.

2. Mengetahui nilai Kuat Tekan dan Penyerapan Air pada produk paving

block berbahan baku limbah kulit kerang

3. Mengetahui ketahanan paving block bila diletakkan pada lingkungan yang

bersifat sulfat (tanah)

4. Untuk mengetahui kekuatan paving block sebelum mencapai umur

persyaratan ( Umur 28 hari).

I.4 Manfaat

1. Memberikan solusi alternatif kepada masyarakat khususnya kepada para

nelayan untuk memanfaatkan limbah kulit kerang sebagai bahan baku

pembuatan paving block secara sederhana agar lebih bernilai ekonomis

(14)

I.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup dari penelitian ini adalah :

1. Kulit kerang yang digunakan berasal dari limbah kulit kerang yang berada

di Desa.Kalanganyar Kec. Sedati

2. Menggunakan semen Gresik sebagai bahan perekat paving block

3. Uji kelayakan meliputi : uji kuat tekan, uji penyerapan air, dan uji tahan

terhadap natrium sulfat. yang di uji di lab. Beton Fakultas Teknik Sipil ITS

Surabaya dan lab. Badan Penelitian dan Konsultasi Industri.

4. Variasi limbah kulit kerang yang digunakan adalah ( 0 %, 10 %, dan 20% )

5. Benda uji paving block dibuat dengan bentuk persegi panjang berukuran

21x10x6 cm

6. Bahan baku yang di gunakan dalam penelitian ini selain semen adalah

(15)

BAB II

TINJ AUAN PUSTAKA

II.1. Kulit Kerang

Hewan moluoska khususnya dari jenis gastropoda atau dikenal sebagai

siput, atau juga kerang-kerangan selalu banyak dikenal oleh masyarakat. Seperti

di Desa.Kalanganyar, Kec.Sedati, Kab.Sidoarjo, yang masyarakat atau

penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Pemanfaatan kerang hanya

sebatas memanfaatkan dagingnya yang diketahui memiliki protein yang tinggi,

sementara cangkangnya atau kulitnya masih belum banyak dimanfaatkan.

Sehingga banyaka kulit kerang yang menumpuk. Kulit kerang merupakan salah

satu limbah yang menggangu lingkungan, karena selama ini hanya dimanfaatkan

sebagai hiasan, kancing baju, dan campuran kosmetik. (Budiarini, 2005),

sedangkan keberadaan kulit kerang semakin menggangu lingkungan kampung

nelayan.

Jenis kerang yang dihasilkan oleh para nelayan di Desa.Kalanganyar

adalah jenis kerang tothok (Anadara Granosa), kerang tersebut merupakan jenis

kerang yang banyak di dapati untuk kebutuhan rumah makan (seafood). Jenis

kerang tothok atau juga disebut kerang darah (Anadara Granosa) ini merupakan

jenis kerang yang paling banyak dihasilkan dan yang paling banyak jumlahnya

yang menumpuk dan menjadi limbah. Jumlah kerang tothok yang dapat dihasilkan

setiap harinya adalah sekitar kurang lebih 1,25 ton, jumlah tersebut didapatkan

(16)

menghasilkan sekitar 25 kg kerang tothok setiap harinya. Sedangkan jumlah

kepala keluarga yang mencari kulit kerang mencapai 50 kepala keluarga. Dari

sekitar 1,25 ton kerang tothok tersebut akan menghasilkan kurang lebih 1 ton kulit

kerang apabila telah dikupas dagingnya. Jumlah tersebut didapatkan dari

penghasilan setiap harinya dan bisa lebih banyak lagi.

Nyaris sebagian besar halaman rumah yang berdekatan dengan pantai dan

rumah-rumah para nelayan tertutup oleh kulit kerang, oleh karena itu, untuk

mengurangi jumlah limbah kulit kerang yang dihasilkan setiap harinya, dalam

penelitian ini kulit kerang dimanfaatkan sebagai campuran agregat (substitusi)

dengan sebagian pasir dalam pembuatan paving block.

Dalam penelitian ini, kulit kerang sebagai Bahan campuran dengan

sebagian pasir dimana kulit kerang tersebut dihancurkan terlebih dahulu untuk

memperoleh gradien butiran seperti pasir.

Dari hasil pola difraksi sinar – X diketahui bahwa kulit kerang pada suhu

dibawah 500 °C tersusun atas Kalsium Karbonat (CaCO3) pada phase aragonite

dengan struktur kristal orthorombik. Sedang pada suhu di atas 500 °C berubah

menjadi phase calcite dengan struktur Kristal hexagonal (Syahrul Humaidi,1997).

Kulit kerang dapat digunakan sebagai bahan campuran atau tambahan

pada pembuatan beton. Penambahan serbuk kulit kerang yang homogen akan

menjadikan campuran beton yang lebih reaktif . Kulit kerang mengandung

(17)

7

alumina dan senyawa silika sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai bahan

baku beton alternative. (Shinta Marito Siregar, 2009)

Tabel 2.1. Uji Fisik Kulit Kerang

No. J enis Pengujian Hasil

1 Berat Jenis, gr/cc 1,34

2 Berat Volume, gr/cc 1,42

3 Resapan, % 2,04

4 Kadar Lumpur , % 0,33

Sumber : Balitbang Industri Departemen Perindustrian, 2004

Tabel 2.2. Uji Kimia Kulit Kerang

No. J enis Pengujian Hasil

1 Air 9.36 %

2 SiO2 8.65 %

3 Al2O3 6.80%

4 MgO 4.10 %

5 CaO 40.50 %

6 Fe2O3 3.15 %

7 CO2 22.26 %

8 SO3 4.10 %

9 K2O dan Na20 1.08 %

(18)

II.2. Pengertian Paving Block

Paving Block ( Bata Beton) adalah Suatu komposisi bahan bangunan yang

dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis atau sejenisnya,

air dan agregat dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya yang tidak mengurangi

mutu bata beton itu (SNI 03-0691-1996). Paving block merupakan tipe bahan

bangunan yang bersifat ekonomis, cepat pemasangannya dan menggunakan bahan

sedikit. Paving block (Bata beton)mempunyai berbagai macam bentukdan ukuran

sehingga mudah untuk menyesuaikan dengan bentuk – bentuk arsitektur yang ada.

Berdasarkan SNI 03-0691-1996 klasifikasi paving blok (bata beton) dibedakan

menurut kelas penggunaannya sebagai berikut

Bata beton mutu A : digunakan untuk jalan

Bata beton mutu B : digunakan untuk pelataran parkir

Bata beton mutu C : digunakan untuk pejalan kaki

Bata beton mutu D : digunakan untuk taman dan pengguna lain

Dalam pengujian paving block dengan bahan tambahan kulit kerang, obyek uji

harus memenuhi persyaratan, yaitu :

1. Sifat Tampak

a. Untuk permukaan luar batako sebaiknya tidak terdapat suatu retakan –

retakan dan cacat

b. Rusuk –rusuknya siku satu dengan siku yang lain dan sudut rusuknya

(19)

9

2. Syarat Mutu Paving Block

Persyaratan mutu untuk masing-masing jenis dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.3. Per syaratan Mutu Setiap J enis Bata Beton (Paving Block)

Menur ut SNI 03-0691-1996

Ketahanan terhadap natrium sulfat tidak boleh cacat dan kehilangan berat yang

diperkenankan maksimum 1,1

Keterangan : * mPa = mega pascal, 1 mPa = 10 kg/cm2

(Sumber : SNI 03-0691-1996 )

Paving blok yang diproduksi secara manual biasanya termasuk dalam

mutu beton kelas D atau C yaitu untuk tujuan pemakaian non struktural, seperti

untuk taman dan penggunaan lain yang tidak diperlukan untuk menahan beban

berat di atasnya. Mutu paving blok yang pengerjaannya dengan menggunakan

mesin pres dapat dikategorikan ke dalam mutu beton kelas C sampai A dengan

(20)

yang digunakan. Ada keharusan melakukan pemeriksaan kekuatan paving secara

continue / berkala untuk paving yang diproduksi dengan spesifikasi khusus.

Penampakan antara paving blok yang diproduksi dengan cara manual dan

paving blok pres mesin secara kasat mata relatif hampir sama, namun permukaan

paving yang diproduksi dengan mesin pres terlihat lebih rapat dibanding yang

dibuat secara manual. (Sumber : Anonym, 2011)

Ukuran dan jenis paving block bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan.

Ukuran batako yang standar adalah dapat dilihat pada gambar 2.1.

(21)

11

Penggunaan Paving Block mempunyai keuntungan menurut (Shackle,

1990) dalam (Widarti, 2004) antara lain :

1. Pelaksanaannya mudah dan tidak memerlukan alat berat serta dapat

diproduksi secara masal

2. Pemeliharaannya mudah dan dapat dipasang kembali setelah dibongkar

3. Tahan terhadap beban statis, dinamik dan kejut dan

4. Tahan terhadap tumpahan bahan pelumas dan pemanasan oleh mesin

kendaraan.

II.3. Curing (Perawatan)

Curing adalah perlakuan atau perawatan terhadap beton selama masa

pembekuan. Pengukuran curing diperlukan untuk menjaga kondisi kelembaban

dan suhu yang diinginkan pada beton,karena suhu dan kelembaban di dalam

secara langsung berpengaruh terhadap sifat-sifat beton. Pengukuran curing

mencegah air hilang dari adukan dan membuat lebih banyak hidrasi semen.Untuk

memaksimalkan mutu beton perlu diterapkan pengukuran curing sesegera

mungkin setelah beton dicetak. Curing merupakan hal yang kritis untuk membuat

permukaan Batako yang tahan.

Curing harus dibuat pada setiap bahan bangunan, bagian konstruksi atau

produk yang menggunakan semen sebagai bahan baku. Hal ini karena semen

memerlukan air untuk memulai proses hidrasi dan untuk menjaga suhu di dalam

yang dihasilkan oleh proses ini demi mengoptimalkan pembekuan dan kekuatan

(22)

tidak terkontrol akan menyebabkan suhu semen kelebihan panas dan kehilangan

bahan-bahan dasar untuk pengerasan dan kekuatan akhir produk semen seperti

beton, mortar, dan lain-lain. Curing yang baik berarti penguapan dapat dicegah

atau dikurangi.

Secara umum ada 3 jenis utama curing yang digunakan pada sektor

konstruksi, yaitu:

1. Curing air

Curing air adalah yang paling banyak digunakan.Ini merupakan

sistem dimana sangat cocok untuk konstruksi rumah dan tidak

memerlukan infrastruktur atau keahlian khusus.Bagaimanapun curing air

memerlukan banyak air yang mungkin tidak selalu mudah danbahkan

mungkin mahal.Untuk mengekonomiskan penggunaan air perlu dilakukan

pengukuran untuk mencegah penguapan air pada produk semen.Misal

beton harus dilindungi dari sinar matahari langsung dan angin untuk

mencegah penguapan air yang cepat.Cara seperti menutup batako

denganpasir, serbuk gergaji, rumput dan dedaunan tidaklah mahal, tetapi

masih cukup efektif.Selanjutnya plastik, goni bisa juga digunakan sebagai

bahan untuk mencegah penguapan airdengan cepat.Sangat penting seluruh

produk semen (batako, paving blok, batu pondasi, bata pondasi,pekerjaan

plaster, pekerjaan lantai, dll) dijaga tetap basah dan jangan pernah kering,

jika tidak kekuatan akhir produk semen tidak dapat dipenuhi. Jika proses

hidrasi secara dini berakhir akibat kelebihan panas (tanpa curing), air yang

(23)

13

kembali proses hidrasi, kehilangan kekuatan akan permanen. Pada curing

air, produk semen harus dijaga tetap basah (mis. dengan menutup produk

dengan plastik) untuk lebih kurang 7 hari.

2. Curing uap air

Curing uap air dilakukan dimana air sulit diperoleh dan semen

berdasarkan unsur-unsur bahan setengah jadi seperti slop toilet, ubin,

tangga, jalusi dan lain-lain diproduksi masal.Curing uap air menurunkan

waktu curing dibandingkan dengan curing air biasa kurang lebih sekitar 50

– 60%. Prinsip kerja curing air adalah dengan menjaga produk semen pada

lingkungan lembab dan panas yang membolehkan semen mencapai

kekuatan lebih cepat dari pada curing air biasa.Untuk menghasilkan

lingkungan lembab dan panas ini perlu dibuat suatu ruang pemanasan

sederhana dengan dinding dan lantai penahan air yang ditutup dengan

plastik untuk membuat matahari memanaskan ruang pemanasan dan

mencegah air menguap.Tinggi permukaan air dari lantai sekitar 5 sampai 7

cm dijaga setiapwaktu agar prinsip kerja sistem penguapan dapat bekerja.

3. Curing uap panas

Curing uap panas biasanya hanya digunakan pada pabrik yang

sudah canggih yang memproduksi produk semen secara massal. Sistem

curing uap panas mahal dan membutuhkan banyak energi untuk

membangkitkan panas yang dibutuhkan untuk uap panas. Bagaimanapun,

(24)

setelah produksi, yang mempunyai keunggulan dibandingkan curing

sistem lainnya.

Pengaruh umur pada dasarnya semua aturan dan regulasi untuk

pembuatan beton secara benar diikuti,kekuatan beton dapat diperoleh

seiring dengan waktu.Bagaimanapun, tingkat kenaikan kekuatan akan

berkurang dengan waktu.

(Sumber:Claudia Muller, Eva F. , Halimah and Ira F., 2006)

II.4. Semen Portland

Semen portland atau biasa disebut semen adalah bahan pengikat hidrolis

berupa bubuk halus yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker ( bahan ini

tertuma terdiri dari silika-silika kalsium yang bersifat hidrolis), dengan batu gips

sebagai bahan tambahan (Samekto dan Candra, 2001).

Semen portland adalah bahan konstruksi yang paling banyak digunakan

dalam pembuatan beton. Menurut ASTM (American Society for Testing

Materials) C-150,1985, semen portland didefinisikan sebagai semen hidrolik yang

dihasilkan dengan menggiling klinker yang terdiri dari kalsiumsilikat hidrolik,

yang umumnya mengandung satu atau lebih bentuk kalsium sulfat sebagai bahan

tambahan yang digiling bersama-sama dengan bahan utamanya (Mulyono, 2003).

Semen portland yang digunakan di Indonesia harus memenuhi syarat

SII.0013-8 1 atau Standar Uji Bahan Bangunan Indonesia 1986 dan harus

(25)

15

Menurut (Samekto dan Candra, 2001) semen portland memiliki beberapa

sifat yang diantaranya dijelaskan sebagai berikut:

1. Kehalusan Butir

Pada umumnya semen memiliki kehalusan sedemikian rupa sehingga

kurang lebih 80 % dari butirannya dapat menembus ayakan 44 mikron. Makin

halus butiran semen, makin cepat pula persenyawaannya. Makin halus butiran

semen, maka luas permukaan butir untuk suatu jumlah berat semen akan semakin

menjadi besar. Makin besar luas permukaan butir ini , makin banyak pula air yang

dibutuhkan bagi persenyawaannya. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan

untuk menentukan kehalusan butir semen. Cara yang paling sederhana dan mudah

dilakukan ialah dengan mengayaknya.

2. Kekekalan Bentuk

Yang dimaksud dengan kekekalan bentuk adalah sifat dari bubur semen

yang telah mengeras, dimana bila adukan semen dibuat suatu bentuk tertentu

bentuk itu tidak berubah. Buka benda dari adukan semen yang telah mengeras.

Apabila benda menunjukkan adanya cacat (retak, melengkung, membesar atau

menyusut), berarti semen itu tidak baik atau tidak memiliki sifat tetap bentuk.

3. Kekuatan Semen

Kekuatan mekanis dari semen yang mengeras merupakan sifat yang perlu

diketahui di dalam pemakaian. Kekuatan semen ini merupakan gambaran

(26)

pengukuran kekuatan daya rekat ini dilakukan dengan menentukan kuat lentur,

kuat tarik atau kuat tekan (desak) dari campuran semen dengan pasir.

Semen yang beredar di pasaran harus memenuhi standar tertentu untuk

menjamin konsistensi mutu dan kualifikasi produk. SNI merupakan standar yang

wajib dijadikan acuan untuk semen yang dipasarkan di seluruh wilayah Indonesia.

Jenis semen yang beredar di pasaran meliputi semen Portland Putih, semen

Portland mengacu pada SNI 15-2049-2004, semen Portland Komposit mengacu

pada SNI 15-7064-2004 dan semen Portland Pozolan mengacu pada SNI 15-0302-

2004 (Tri Mulyono,2005). Standar Nasional Indonesia membagi semen Portland

menjadi 5 Tipe (Syarif Hidayat, 2009),yaitu :

Tipe I : Semen Portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan

persyaratan-persyaratan khusus.

Tipe II : Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan

terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang.

Tipe III : Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut kekuatan awal

yang tinggi.

Tipe IV : Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan

panas hidrasi rendah.

Tipe V : Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan sangat

(27)

17

Secara garis besar, ada 4 senyawa kimia utama yang menyusun

semen portland, yaitu :

a. Trikalsium Silikat (Ca3SiO5 atau 3CaO.SiO2), disingkat C3S

b. Dikalsium Silikat (Ca2SiO4 atau 2CaO.SiO2), disingkat C2S

c. Trikalsium Aluminat (Ca3Al2O6 atau 3CaO.Al2O3), disingkatC3A

d. Tetrakalsium Aluminoferrit (Ca4Al2Fe10 atau 4CaO.Al2O3Fe2O3) yang

disingkat menjadi C4AF.

e. Gypsum (CaSO4.2H2O)

(Sumber : Munir, M., 2008)

Semen dapat dibedakan menjadi 2 kelompok (Shinroku Saito,

1985), yaitu :

• Semen non-hidrolik , tidak dapat mengikat dan mengeras di dalam air

akantetapi dapat mengikat dan mengeras di udara. Contoh : kapur

tohor,aspal, gypsum.

• Semen hidrolik, mempunyai kemampuan untuk mengikat dan mengeras

didalam air. Contoh : semen Portland, semen Terak, semen alam.

Semenyang digunakan untuk campuran beton ini adalah semen Portland

yangmerupakan campuran Silikat Kalsium dan Almunium Kalsium

yangdapat berhidrasi bila terdapat air (semen tidak mengeras karena

(28)

II.5 Sumber – Sumber Air

Air merupakan suatu bagian yang menentukan dalam campuran atau

pengolahan bahan bangunan. Air dapat menyebabkan campuran menjadi plastis

sehingga memudahkan pembuatan bentuk dan memberikan proses hidrasi pada

senyawa kapur, karena pengerasan beton berdasarkan reaksi antar semen dan air

maka sangat diperlukan. Hal – hal ini yang perlu diperhatikan dalam campuran

atau pengolahan bangunan :

1. Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari

bahan-bahan merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam, bahan

organik, atau bahan-bahanlainnya yang merugikan terhadap beton atau

tulangan.

2. Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton

yang didalamnya tertanam logam aluminium, termasuk air bebas yang

terkandung dalam agregat,tidak boleh mengandung ion klorida dalam

jumlah yang membahayakan.

3. Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton

4. Sering kali pori – pori agraret terisi air, Air yang terserap ini tidak ikut

dalam proses hidrasi semen

(29)

19

Air tawar yang biasanya diminum baik air diolah oleh PDAM atau air dari

sumur yang tanpa diolah dapat digunakan untuk membuat batako. Persyaratan air

sebagai bahan bangunan harus memenuhi kriteria menurut SK SNI S – 04 – 1989

– F sebagai berikut:

a. Tidak mengandung lumpur atau benda tersuspensi lebih dari 2

gram/liter.

b. Tidak mengandung garam-garaman yang merusak beton (asam dan zat

organik) lebih dari 15 gram/liter. Kandungan khlorida (Cl) tidak lebih

dari 500 ppm dan senyawa sulfat tidak lebih dari 1.000 ppm sebagai SO3

c. Air harus bersih.

d. Derajat keasaman (pH) normal ± 7.

e. Tidak mengandung lumpur, minyak dan benda terapung lainnya yang

dapat dilihat secara visual.

f. Jika dibanding dengan kekuatan tekan adukan beton yang memakai air

suling, penurunan kekuatan adukan yang memakai air yang diperiksa

tidak lebih dari 10%.

g. Semua air yang mutunya meragukan dianalisa secara kimia dan

dievaluasi mutunya menurut pemakaian.

h. Khusus untuk beton pratekan, kecuali syarat-syarat di atas, air tidak

boleh mengandung khlorida lebih dari 50 ppm.

(30)

Menurut Anonim., 2011. Air yang digunakan dapat berupa air tawar (dari

sungai, danau, telaga, kolam, dan lainnya), air laut, air limbah asalkan memenuhi

syarat mutu yang telah ditetapkan. Sumber-sumber air yang ada adalah sebagai

berikut.

• Air yang terdapat di udara

• Air hujan

• Air tanah

• Air permukaan

• Air Laut

II.6 Agregat

Agregat adalah bahan pengisi insert filter yang digunakan bersama – sama

semen untuk membuat beton atau sejenisnya. (Damayanti, 2005). Menurut

Gideon, K., S. (1997) Agregat (yang tidak bereaksi) adalah bahan – bahan

campuran batako yang saling diikat oleh perekat semen. Agraget umum yang

dipakai adalah agregat halus (pasir) dan agraget kasar (kerikil).Agregat halus

(pasir) terdiri dari butiran sebesar 0,14-5 mm, didapat dari hasil disintegrasi

batuan alam (natural sand) atau dapat juga dengan memecahnya (artifical sand),

tergantung dari kondisi pembentukan tempat yang terjadinya

Pemilihan agraget tergantung dari syarat – syarat yang ditentukan batako,

persedian lokasi pembuatan batako dan perbandingan yang telah ditentukan antara

(31)

21

Dari pemakaian agregat yang spesifik, sifat – sifat batako (bata beton)

dapat dipengaruhi. Ada dua jenis agregat yang dipergunakan dalam pembuatan

batako, yaitu :

1. Agregat halus adalah suatu agregat yang mempunyai butiran – butiran

lolos – lolos dari ayakan 4,8 mm (5 mm).

2. Agregat kasar adalah suatu agregat yang butirannya bertahan diatas ayakan

4,8 mm (5 mm).

Kecuali agraget alami dapat juga digunakan produk alami sinter atau

terbakar dan buangan silikat. (Adinata, P., 2006)

Menurut persyaratan Bangunan Indonesia agregat halus sebagai campuran

untuk pembuatan beton harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a. Pasir harus terdiri dari butir-butir kasar, tajam, dan keras.

b. Pasir harus mempunyai kekerasan yang sama

c. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5%, apabila

lebih dari 5% maka agregat tersebut harus dicuci dulu sebelum

digunakan. Adapun yang dimaksud lumpur adalah bagian butir yang

melewati ayakan 0,063mm.

d.Pasir harus tidak boleh mengandung bahan-bahan organik terlalu banyak

e. Pasir harus tidak mudah terpengaruh oleh perubahan cuaca.

f. Pasir laut tidak boleh digunakan sebagai agregat untuk beton.

(32)

Menurut Sjahbena Indah Novica, 2005. Agregat yang dapat dipakai dalam

pembuatan batako harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut (Anonim,2011) :

• Agregat tersebut harus bersih.

• Keras

• Bebas dari penyerapan secara kimia

• Tidak tercampur dengan tanah liat/lumpur

• Distribusi/gradasi ukuran agregat memenuhi ketentuan yang berlaku.

Untuk menguji mutu pasir ada dua cara, antara lain yaitu:

Uji visual/Uji penglihatan

Periksa pasir dari kotoran seperti bahan organik (lumpur, dedaunan,

akar-akaran dan

lain-lain).

Uji kandungan pasir dan kotoran

Uji kandungan pasir dan kotoran dapat dilakukan dengan dua cara;

Test tangan

Contoh pasir digosokkan diantara dua telapak tangan pasir yang bersih

hanya akan meninggalkan sedikit bekas. Jika tangan tetap kotor itu

menunjukkan adanya terlalu banyak tanah.

Test botol

Ambil sebuah botol dan isi dengan pasir hingga setengah penuh. Isi

dengan air bersih hingga ¾ penuh .Kocok dan biarkan hingga satu jam.

Pasir yang bersih akan langsung mengendap, kotoran dan tanah liat

(33)

23

kotoran tidak boleh melebihi 1/10 atau 10% dari pasir dibawahnya.

Pengujian ini juga disebut Decantation test, pengujian ini tidak dapat

diterapkan pada pasir dari batu yang dipecahkan.

Test pakaian

Hamparkan pasir pada permukaan yang bersih. Gosok dengan kain

putih diatas pasir. Jika kain sangat kotor, pasir sebaiknya tidak

digunakan untuk membuat beton.

Pasir yang kotor sebaiknya tidak digunakan untuk pembuatan batako

sebab dapat mengurangi daya rekat beton.

(Sumber : Claudia Muller, Eva F. , Halimah and Ira F., 2006)

II.7. Pencetakan

Proses pencetakan paving block sama seperti pencetakan bata merah pejal

yaitu secara manual ataupun menggunakan mesin cetak dalam kenyataan banyak

industri ini masih menggunakan cara yang sederhana, hal ini disebabkan karena

industri ini industri rakyat.

Metode pemadatan paving block itu banyak dan berbeda – beda pula

pemadatan dengan tangan yaitu: dengan cara menusuk – nusuk dan menumbuk

dengan sepotong kayu atau batang lain yangdinamakan batang tusukan atau

rojokan, sedangkan menumbuk yakni dengan menggunakan palu

(34)

II.7.1. Metode Pembuatan Paving Block di Masyarakat

Cara pembuatan paving block yang biasanya digunakan dalam masyarakat

dapat diklasifikasikan menjadi dua metode, yaitu :

1. Metode Konvensional

Metode ini adalah metode yang paling banyak digunakan oleh masyarakat kita

dan lebih dikenal dengan metode gablokan. Pembuatan paving block cara

konvensional dilakukan dengan menggunakan alat gablokan dengan beban

pemadatan yang berpengaruh terhadap tenaga orang yang mengerjakan. Metode

ini banyak digunakan oleh masyarakat sebagai industri rumah tangga karena

selain alat yang digunakan sederhana, juga mudah dalam proses pembuatannya

sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja Semakin kuat tenaga orang yang

mengerjakan maka akan semakin padat dan kuat paving block yang dihasilkan.

Dilihat dari cara pembuatannya, akan mengakibatkan pekerja cepat kelelahan

karena proses pemadatan dilakukan dengan menghantamkan alat pemadat pada

adukan yang berada dalam cetakan ( www.dikti.depdiknas.go.id ).

2. Metode Mekanis

Metode mekanis didalam masyarakat biasa disebut metode press. Metode ini

masih jarang digunakan karena untuk pembuatan paving block dengan metode

mekanis membutuhkan alat yang harganya relative mahal. Metode mekanis

biasanya digunakan oleh pabrik dengan skala industri sedang atau besar.

Pembuatan paving block cara mekanis dilakukan dengan menggunakan mesin

(35)

25

Dari kedua metode diatas, terdapat kelebihan dan kekurangan dari tiap metode

yang dapat dilihat pada tabel 2.4 dibawah ini.

Tabel 2.4 Keuntungan dan Kerugian Metode Mekanis dan Konvensional

Metode Keuntungan Kerugian

Metode Keuntungan Kerugian

Konvensional • Dapat dilakukan oleh

pemodal kecil

• Alat cetak relatif murah

• Dapat dilakukan dimana

• Dalam sekali cetak hanya

satu

• Dalam sekali cetak, lebih

dari

• Alat cetak relatif mahal

• Tidak dapat dilakukan

disembarang tempat ( home

industri )

(36)

II.8. Penelitian Terdahulu

Penelitian tentang pemanfaatan limbah dalam pembuatan bahan bangunan

sebelumnya pernah dilakukan penelitian tersebut diantaranya adalah pemanfaatan

Lumpur saluran alami (Lumpur Sungai Jagir Surabaya) dalam pembuatan paving

block oleh Widarti (2004). Dan pemanfaatan limbah kulit kerang sebagai bahan

pencampur dalam pembuatan bata beton berongga oleh Maulanie dan Wibisono

(2004).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Widarti, memanfaatkan Lumpur

saluran alami dalam pembuatan paving block. Lumpur sungai yang digunakan

berasal dari sungai jagir Surabaya yang merupakan produk alami hasil endapan

sungai. Dengan kandungan SiO2, MgO di dalamnya, Lumpur tersebut dapat

dimanfaatkan sebagai agregat bersama – sama dengan semen dan air.

Komposisi terbaik di dalam penelitian Widarti untuk kelas A adalah

dengan perbandingan 1 semen : 3 Agregat dengan substitusi Lumpur sebesar 20%

yang menghasilkan kuat tekan 40 kg/cm2, penyerapan air 2%, dan penyerapan

Na2SO4 0.667 %, sedangkan kelas B, komposisi terbaik adalah dengan kuat tekan

30 kg/cm2, penyerapan air 4%, dan Na2SO4 1%.

Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Maulanie dan Wibisono,

kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa analisa campuran komposisi bata

beton berongga dg campuran kulit kerang, semuanya memenuhi syarat dalam

SNI. Pada bata beton berongga dengan campuran 1 semen : 5 agregat dg substitusi

(37)

27

maksimal yaitu sebesar 78 kg/cm2,naik 67% dari campuran dengan substitusi

kulit kerang 0%. Uji resapan air 6.55%.

II.9. Landasan Teori

Teori yang melandasi penelitian ini didasari atas metode solidifikasi

dengan memanfaatkan limbah padat (sludge) sebagai paving block untuk

membatasi atau mengurangi limbah kulit kerang yang dibuang kelingkungan.

Paving Block ( Bata Beton) adalah Suatu komposisi bahan bangunan yang

dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis atau sejenisnya,

air dan agregat dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya yang tidak mengurangi

mutu bata beton itu (SNI 03-0691-1996). Paving block merupakan tipe bahan

bangunan yang bersifat ekonomis, cepat pemasangannya dan menggunakan bahan

sedikit.

Keunggulan Paving Blok adalah Daya serap air melalui Paving Block

menjaga keseimbangan Air tanah untuk menopang betonan/rumah diatasnya.

Berat Paving Block yang relatif lebih ringan dari betonan/aspal menjadikan satu

penopang utama agar pondasi rumah tetap stabil. Serapan air yang baik sekitar

rumah / tempat usaha anda akan menjamin ketersediaan air tanah untuk bisa

(38)

Pada umunya Kulit Kerang mengandung komponen kimia seperti SiO2

(8.65%), yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran dengan pasir yang

dipakai dalam pembuatan paving block.

Dalam proses pembuatan paving block dengan memanfaatan limbah Kulit

kerang digunakan bahan perekat Semen, yang mempunyai sifat hidrolis.

Dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari

silikat-silikat kalsium (C2S dan C3S) yang bersifat hidrolis (dapat mengeras dan

menghasilkan padatan yang stabil dalam air). Bila bereaksi dengan air akan terjadi

reaksi hidrasi yang menghasilkan senyawa hidrat yaitu kalsium silikat hidrat

(CSH) dan kalsium hidroksida (Ca(OH)2) yang berpengaruh pada kekuatan

perekatan.

Berbagai hal yang perlu diperhatikan untuk membuat paving block adalah

dengan melakukan perbandingan campuran semen dengan agregat, dan faktor air

semen, penggunaan semen yang lebih banyak akan meningkatkan kekuatan

paving block, sebaliknya penggunaan semen yang kurang dalam adukan akan

menyebabkan tidak sempurna nya ikatan semen dengan agregatnya karena

permukaan agregat tidak tertutupi oleh perekat semen, sehingga dapat

menurunkan kekuatan paving block.. Begitu juga campuran dari agregat, semakin

banyak agregat kasar dalam campuran paving block, maka mutu kuat paving

block semakin baik.

Yang mempengaruhi mutu paving block adalah mutu semen. Mutu semen

(39)

29

haruslah baru dan tidak bergumpal. Perbandingan jumlah minimum air dan berat

semen, perlu diketahui konsistensi dan kemampuan kerja adukan beton yang

diinginkan yang disebut perbandingan air – semen. Kekuatan beton menurun

dengan menurunnya perbandingan air – semen. Hal ini disebabkan penambahan

air setelah penguapan akan meninggalkan kekosongan yang sangat kecil. Pasir

dan kerikil harus bebas dari dedaunan, rumput dan benda-benda asing. Pasir

haruslah agak kasar dengan ukuran partikel mulai dari ukuran debu hingga 5 mm.

Kerikil bersih dengan ukuran 26,5 mm, 19 mm atau 9,2 mm dapat digunakan

untuk beton. Ukuran kerikil 26,5 mm dapat digunakan untuk bagian yang tebal

seperti pondasi, slop dan lantai untuk industri yang lebih dari 120 mm. Kerikil 19

mm dapat digunakan untuk lantai, jalan setapak, jalan raya. Kerikil 13,2 mm atau

9,5 mm dapat digunakan untuk bagian beton yang tipis, seperti slop tipis, beton

pra cetak dengan ketebalan mulai dari 40 mm – 50 mm. Kekuatan beton akan

menurun dengan semakin halusnya kerikil halus. Hal ini disebabkan kerikil halus

membutuhkan lebih banyak semen yang digunakan yang mempengaruhi

keseluruhan adukan. Mesin Cetak produksi Khusus untuk produk Paving Block,

peralatan mesin cetak produksi juga dapat menentukan kekuatan beton yang

dihasilkan. Semua bergantung pada kemampuan mesin tersebut memberikan

tekanan pada proses pencetakan paving block. Pada umumnya di Indonesia

terdapat 3 jenis Paving Block bila dibedakan dari alat dan proses produksinya,

yaitu Paving Block Press Tangan, Paving Block Press Mesin Vibrasi dan Paving

Block Press mesin Hidrolik. Semakin banyak kekosongan pada beton, maka akan

(40)

lebih sedikit agregat kasarnya, maka mutu paving semakin rendah, begitu juga

sebaliknya, jika campuran paving lebih banyak agregat kasarnya maka mutu

paving semakin baik. Umur paving sangat berpengaruh dalam mutu paving block,

umur paving yang sudah matang atau siap untuk dipasarkan adalah umur paving

28 hari. Dengan uji penelitian antara lain Uji Kuat Tekan, Uji penyerapan Air, dan

(41)

BAB III

METODE PENELITIAN

III.1 Tempa t dan Waktu Penelitian

Penelitian ini direncanakan selama empat bulan (Maret–Juli 2012) yang

dilanjutkan dengan pengolahan data, penyusunan data dan pembahasan. Penelitian

dilaksanakan di Industri Paving Block CV. Soja, dan Pengujian dilksanakan di

laboratorium Teknik Sipil ITS Surabaya dan lab. Badan Penelitian dan Konsultasi

Industri Surabaya, Jawa timur.

III.2 Baha n dan Alat

III.2.1 Baha n Yang Digunaka n

Bahan-bahan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bahan baku yang digunakan Limbah Kulit Kerang

2. Air

3. Menggunakan Semen Gresik portland sebagai bahan pengikat

(42)

III.2.2 Per alatan Penelitian

1. Ayakan pasir

Untuk mengayak kulit kerang dan pasir

2. Ember

Untuk tempat pengaduk adonan Paving block.

3. Cetok

Untuk memasukan adonan batako ke dalam cetakkan

4. Alat / Mesin Pembuat Paving Block

Untuk mencetak dan memadatkan/mengepres adonan pada saat di dalam

cetakan, dengan ukuran cetakan 20x10x6 cm

5. Timbangan

Untuk Menimbang bahan-bahan Paving Block

6. Alat uji Kuat Tekan

7. Alat uji Penyerapan Air

8. Alat Uji Ketahanan Natrium Sulfat

(43)

33

III.3 Ker a ngka dan Var ia bel Penelitia n

Tahap pelaksanaan penelitian secara garis besar ditunjukkan oleh kerangka

gambar 3.1.

3.1 Gambar Kerangka Penelitian Persiapan bahan alat

dan lokasi Ide Penelitian

Identifikasi Masalah

Analisa data dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran Pembuatan Paving

Block

Pengujian Paving Block:

§ Uji Kuat Tekan

§ Uji Penyerapan Air

§ Uji Ketahanan Natrium

Sulfat

(44)

III.3.1 Var iabel Penelitian

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Var iabel yang ditetapkan

a.Rasio perbandingan antara bahan baku berupa semen, pasir dan limbah kulit

kerang dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1. Per bandingan semen, pasir , dan kulit ker ang.

Semen

(45)

35

2. Pa rameter yang diamati

a. Uji kuat tekanan

b. Uji Penyerapan air

c. Uji ketahanan Natrium Sulfat

III.4 Prosedur Ker ja Pembua tan Paving Block

1. Pengambilan Limbah Kulit Kerang di Desa.Kalanganyar,KecSedati,Sidoarjo

2. Perlakuan Pendahuluan Limbah Kulit kerang

a. Limbah Kulit kerang direndam di dalam air selama 24 jam

b. Limbah Kulit Kerang dioven selama kurang lebih 24 jam.

c. Limbah Kulit Kerang dihancurkan dan diayak dengan ayakan ukuran 5 mm

3. Pencampuran Limbah Kulit Kerang yang sudah diayak dicampur dengan

pasir dan semen.

4. Pencetakan Paving Block

5. Perlakuan setelah Pencetakkan

a.Ditutup dengan kain atau karung basah selama 7, 14, 21, dan 28 hari

(perawatan Curing)

(46)

IV.1. Analisa Awal

IV.1.1. Pengujian Kulit Ker ang

Hasil penelitian yang dilakukan diperoleh data-data kandungan kulit

kerang sebagai berikut:

Tabel 4.1. Kandungan Kulit Kerang

No. Pa rameter Pengujia n Hasil

1. Pb 12,11 mg/lt

2. Hg 0,14 mg/lt

Sumber ; Data Primer,2012

IV.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan

IV.2.1. Uji Penyer apan Air

Uji penyerapan air dilakukan untuk mengetahui berapa besar daya

yang diserap oleh Paving Block terhadap air. Hasil Uji penyerapan dapat dilihat

(47)

37

Tabel 4.2. Hasil Uji Penyerapan Air Paving Block

Komposisi

Dari tabel 4.2 di peroleh bahwa daya serap air semakin menurun, semakin lama

umur paving, maka daya serap air semakin menurun. Menurut SNI

03-0691-1996 , daya serap air hanya memiliki toleransi rata - rata, maksimal untuk mutu

A= 3% , B= 6%, C= 8% dan D= 10% . Uji serap air ini dilakukan dengan tujuan

mengetahui kemampuan Paving Block dalam menyerap air, Karena semakin

besar kemampaun batako menyerap air akan semakin jelek mutu Paving Block

itu sendiri. (Sumber : Anonym, 2011). Dari tabel 4.2 dapat dibuat suatu grafik

antara umur paving block terhadap nilai penyerapan air, seperti yang terlihat

(48)

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Penyerapan Air dengan Umur Paving Block

Dari gambar 4.1 dapat dilihat bahwa pada prosentase kulit kerang 0%

sampai 20% terjadi penurunan daya serap yang dipengaruhi oleh umur paving,

karena semakin lama umur paving, maka semakin kecil penyerapan airnya. Hal

ini menunjukkan adanya perbandingan komposisi semen dengan agregat yang

mempengaruhi nilai penyerapan air, dimana nilai penyerapan air dari hasil

peneitian yang telah dilakukan diperoleh bahwa semakin banyak agregat yang

ditambahkan menyebabkan penyerapan air semakin rendah, waktu pengerasan

semakin lama juga semakin rendah penyerapan airnya, hal ini dikarenakan

semakin bertambah umur paving, maka semakin kecil penyerapannya. Menurut

Misbachul, 2008. Kekuatan Penyerapan air produk bata beton akan menurun

sejalan dengan bertambahnya umur produk batako, sampai proses hidrasi sudah

tidak berjalan lagi. Proses hidrasi terjadi dikarenakan semen bersentuhaan

(49)

39

Mulyono, 2004 dalam Misbachul, 2008). Untuk persyaratan mutu uji

penyerapan air pada paving block dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3. Mutu Uji Penyerapan Air Paving Block

Penyerapan Air % Mutu (Kelas)

7 Hari 14 Hari 21 Hari 28 Hari 7 Hari 14 Hari 21 Hari 28 Hari

12,96 12,41 8,68 7,95 - - D C

11,52 6,29 6,25 4,16 - C C B

9,49 6,00 3,92 2,94 C B B A

Sumber : Hasil Pengamatan

Keterangan :

− = Tidak memenuhi standart SNI 03-0691-1996

Mutu A = Digunakan untuk jalan raya

Mutu B = Digunakan untuk pelataran parker

Mutu C = Digunakan untuk pejalan kaki

Mutu D = Digunakan untuk taman.

Dari tabel diatas pada umur paving block 7,14,21, dan 28 hari dengan

prosentase campuran kulit kerang 0%, menunjukkan terjadi penyerapan antara

7,95 - 12,96%, pada umur paving block 7,14,21,dan 28 hari dengan prosentase

campuran kulit kerang 10% menunjukkan terjadi penyerapan antara 2,94 –

9,49%, dan untuk umur paving block 7,14,21, dan 28 hari dengan prosentase

(50)

11,52%. Pada tabel 4.3 dapat dilihat bahwa pada prosentase kulit kerang 0%

dengan umur 7, 14 hari dan prosentase kulit kerang 10% dengan umur 7 hari

tidak memenuhi umur paving block dikarenakan melebihi 10% dari persyaratan

SNI-03-0691-1996.

IV.2.2. Uji Kua t Tekan

Uji kuat tekan dilakukan untuk mengetahui kekuatan tekan dari

batako. Pada penelitian ini komposisi yang dipakai 1 : 4 dengan penambahan

limbah kulit kerang yang bertujuan untuk mengurangi jumlah agregat (pasir).

Prosentase substitusi limbah kulit kerang yang ditambahkan adalah 0%, 10%,

dan 20 % dari agregat (pasir). Uji kuat tekan dilakukan pada umur paving block

7, 14, 21, dan 28 hari. Data hasil dari uji kuat tekan paving block dengan

campuran limbah kulit kerang dapat dilihat pada tabel 4.4..

Tabel 4.4. Hasil Uji Kuat Tekan Paving Block

(51)

41

Dari tabel 4.4 dapat dilihat, mulai dari prosentase substitusi kulit kerang 0%

sampai prosentase substitusi kulit kerang 20% menunjukkan peningkatan

terhadap kuat tekan karena dipengaruhi oleh penambahan limbah kulit kerang

dan juga dipengaruhi oleh umur paving block. Dari tabel 4.4. dapat dibuat suatu

grafik antara umur paving block terhadap nilai kuat tekan, seperti yang terlihat

pada gambar 4.2.

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Uji Kuat Tekan dengan Umur Paving Block

Dari gambar 4.2 dapat dilihat, mulai dari prosentase substitusi kulit

kerang 0% sampai prosentase substitusi kulit kerang 20% menunjukkan

peningkatan terhadap kuat tekan karena dipengaruhi oleh penambahan limbah

kulit kerang dan juga dipengaruhi oleh umur paving block. Hal ini

menunjukkan kuat tekan untuk limbah kulit kerang meningkat dengan makin

banyaknya limbah kulit kerang yang digunakan dan menurun dengan

(52)

sangat bergantung pada bahan dalam hal ini agregat dan kematangan atau

pengerasan dalam waktu pencuringan. Kekuatan batako dipengaruhi oleh

proporsi komposisi penyusunnya, jenis semen, pasir (agregat) dan airnya, serta

cara pembuatannya yaitu dengan proses manual (cetak tangan) atau memakai

mesin. Mutu batako (kuat tekan) bertambah tinggi dengan bertambahnya umur

batako. Kekuatan beton akan menurun dengan semakin halusnya kerikil halus.

Hal ini disebabkan kerikil halus membutuhkan lebih banyak semen yang

digunakan yang mempengaruhi keseluruhan adukan. (Anonym, 2011). Fungsi

kulit kerang sebagai pengisi (filler) yang akan menambah internal kohesi dan

mengurangi porositas sebagai daerah transisi yang merupakan daerah terkecil

dalam beton, sehingga beton menjadi lebih kuat. Disamping itu limbah kulit

kerang akan memberikan konstribusi terhadap perubahan kekuatan yang terjadi

pada Paving umur 7 sampai dengan 28 hari, Penambahan kekuatan beton

(paving block) merupakan akibat dari kombinasi antara hidrasi semen dan

reaksi pozzolan(Agregat). (Jackson,1977 dalam Misbachul, 2008). Untuk

(53)

43

Tabel 4.5. Mutu Uji Kuat Tekan Paving Block

Sumber : Hasil Pengamatan

Keterangan :

− = Tidak memenuhi standart SNI 03-0691-1996

Mutu A = Digunakan untuk jalan raya

Mutu B = Digunakan untuk pelataran parker

Mutu C = Digunakan untuk pejalan kaki

Mutu D = Digunakan untuk taman.

(SNI-03-0691-1996 untuk Paving Block)

Dari tabel 4.5. diatas menunjukkan bahwa pada umur paving 7, 14,

21, dan 28 dengan prosentase 0% menunjukkan kuat tekan antara 15,3 sampai

40,78 Mpa, umur batako 7, 14, 21, dan 28 hari dengan prosentase kulit kerang

10% menunjukkan kuat tekan antara 23,42 sampai 46,43 Mpa, dan untuk umur

batako 7, 14, 21, dan 28 hari dengan prosentase kulit kerang 20% menunjukkan

kuat tekan antara 24,43 sampai 46,79 Mpa.

Uji Kuat Tekan % Mutu (Kelas)

7 Hari 14 Hari 21 Hari 28 Hari 7 Hari 14 Hari 21 Hari 28 Hari

15,3 27,35 34,83 40,78 C B B A

23,42 32,81 46,03 46,43 B B A A

(54)

IV.2.3. Uji Natr ium Sulfat

Uji natrium sulfat merupakan uji kuat terhadap natrium sulfat jika

paving block ditempatkan pada tanah yang bersifat asam. Uji natrium sulfat

dilakukan untuk mengetahui berapa besar penyerapan atau ketahanan paving

block. Hasil uji penyerapan dapat dilihat pada tabel 4.6.

Tabel 4.6. Hasil Uji Serap Natrium Sulfat

Komposisi

Agregat

Agregat Penyerapan Natrium Sulfat (%)

Pasir

sampai prosentase substitusi kulit kerang 20% menunjukkan penurunan

terhadap penyerapan natrium sulfat, karena dipengaruhi oleh penambahan

limbah kulit kerang dan juga dipengaruhi oleh umur paving block. Dari tabel

4.6. dapat dibuat suatu grafik antara umur paving block terhadap nilai

(55)

45

Gambar 4.3. Grafik Hubungan Uji Penyerapan Natrium Sulfat dengan Umur

Paving Block

Dari gambar 4.3. dapat dilihat, mulai dari prosentase substitusi kulit

kerang 0% sampai prosentase substitusi kulit kerang 20% menunjukkan

penurunan terhadap penyerapan natrium sulfat, karena dipengaruhi oleh

penambahan limbah kulit kerang dan juga dipengaruhi oleh umur paving block.

Hal ini menunjukkan penyerapan natrium sulfat untuk limbah kulit kerang

meningkat dengan makin banyaknya limbah kulit kerang yang digunakan dan

menurun dengan berkurangnya limbah kulit kerang yang digunakan, tetapi

dengan bertambahnya umur paving block nilai penyerapan natrium sulfat

menurun. Kulit kerang merupakan campuran senyawa oksida logam dan

karbonat yang terbentuk oleh alam yang biasanya terdiri dari senyawa kalsium

(56)

terbentuk secara perlahan, karena merupakan padatan carbonat alam, senyawa

ini mempunyai pori-pori yang lebih besar, karena mempunyai pori-pori yang

lebih besar ini maka salah satu sifat kerang ini menyerap senyawa natrium

sulfat. Semakin kecil pori-pori nya semakin kecil penyerapan nya. Hal ini

dikarenakan penyerapan paving block sangat bergantung pada bahan dalam hal

ini agregat dan kematangan atau pengerasan dalam waktu pencuringan.

Semakin kecil persentase kadar natrium sulfat yang diserap paving block maka

akan semakin baik paving block tersebut, karena berarti paving block memiliki

kepadatan campuran yang baik.(Anonym, 2012). Besar kecilnya penyerapan

oleh beton (paving block) sangat dipengaruhi oleh pori atau rongga yang

terdapat pada beton. Semakin banyak pori-pori yang terkandung dalam beton

maka akan semakin besar pula penyerapan sehingga ketahanannya akan

berkurang. (Anonym, 2012). Untuk persyaratan mutu uji penyerapan natrium

(57)

47

Tabel 4.7. Mutu Uji Penyerapan Natrium Sulfat

Sumber : Hasil Pengamatan

Mutu Ketahanan penyerapan terhadap natrium sulfat diperkenankan maksimum

1 %. (SNI-03-0691-1996 untuk Paving Block)

Dari tabel 4.7. diatas menunjukkan bahwa pada umur paving 7, 14,

21, dan 28 dengan prosentase 0% menunjukkan penyerapan natrium sulfat

antara 0,26 sampai 0,05 %, umur batako 7, 14, 21, dan 28 hari dengan

prosentase kulit kerang 10% menunjukkan penyerapan natrium sulfat antara

0,21 sampai 0,06 % , dan untuk umur batako 7, 14, 21, dan 28 hari dengan

prosentase kulit kerang 20% menunjukkan penyerapan natrium sulfat antara 0,3

sampai 0,08 %. Dengan demikian semuanya memenuhi standart

SNI-03-0691-1996 untuk Paving Block.

Penyerapan Natrium Sulfat % Mutu (Kelas)

(58)

48

V.1. Kesimpulan

Dari penelitian dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut:

1. Limbah padat kulit kerang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku

pembuatan paving block yang sesuai dengan standar SNI 03-0691-1996.

2. Hasil terbaik dari pengujian penyerapan air dan uji kuat tekan paving block

dapat dicapai pada rasio perbandingan pasir 80%, kulit kerang 20% dengan

umur paving block 28 hari. Pada komposisi ini paving block memiliki kadar

air 2,94% dan uji kut tekan 46,79 Mpa dengan Mutu kelas A yang

dipersyaratkan untuk digunakan sebagai jalan raya yang tercantum dalam SNI

03-0691-1996.

3. Hasil terbaik dari pengujian penyerapan natrium sulfat dapat dicapai pada

rasio perbandingan pasir 100%, kulit kerang 0% dengan umur paving block 28

hari. Pada komposisi ini paving block memiliki penyerapan natrium sulfat

yang sedikit sehingga tidak mudah rapuh yang memenuhi SNI 03-0691-1996

(59)

49

4. Dengan dimanfaatkannya limbah kulit kerang sebagai bahan campuran

pembuatan paving block, maka paving block akan semakin kuat uji kuat

tekannya, penyerapan air semakin sedikit, dan ketahanan terhadap natrium

sulfat juga cukup baik. Dari semua uji penelitian, hasil penelitian paving block

yang menggunakan campuran kulit kerang memenuhi SNI 03-0691-1996.

Yang artinya paving block yang berbahan baku campuran kulit kerang layak

untuk digunakan.

V.2. Sara n

1. Memperbanyak komposisi campuran agar didapatkan data yang lebih baik dan

akurat mengenai pengaruh komposisi campuran kulit kerang terhadap mutu

paving block yang sesuai dengan SNI 03-0691-1996.

V.3. Rekomendasi

1. Perlu disosialisasikan pemanfaatan limbah kulit kerang sebagai produk yang

bermanfaat.

2. Memberdayakan masyarakat untuk membuat produk paving block agar lebih

bernilai ekonomis.

(60)

Andinata, P., 2006, “Pemanfaatan Limbah Debu Industr i Pelebur a n Besi sebagai

Bahan Campur an Pembua tan Bata Beton (Batako)”, . Jurusan Teknik

Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UPN “Veteran” Jawa Timur.

Surabaya

Anonim, 1996, Standart Nasional Indonesia, SNI 03-0691-1996, “Bata Beton (Paving

Block)” . Badan Standarisasi Nasional.

Anonim, 2002, Standart Nasional Indonesia, SNI 03 – XXXX - 2002, “Tata car a

per hitunga n str uktur beton untuk bangunan”. Badan Standarisasi Nasional.

Anonim, 2011, “Pemanfaa ta n Abu Ter ba ng Batu Bara untuk pembuatan Paving

Block”.Universitas Sumatra Utara

Budiarini, A., 2005., Studi Pemanfaatan Limbah Kulit Ker ang Sebagai Bahan Baku

Pembuatan Con Block., Skripsi Fakultas Teknik Lingkungan, ITS Surabaya.

Ekapeny, B., 2010, ” Pemanfaata n Limba h Padat Industr i Ker tas sebagai Papa n

Pa r tisi” , Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

UPN “Veteran” Jawa Timur, Surabaya

Maulanie.,& Wibowo., 2004., “ Bata Beton Ber ongga (BATAKO) dengan Campur a n

Kulit Kerang”., Jurnal Seminar Nasional Rekayasa Perencanaan II 2004.

(61)

Muller, C. dkk., 2006, “Modul Pelatihan Pembuatan Ubin atau Paving Blok da n

Batako”,

http://www.pdfchaser.com/MODUL-PELATIHAN-PEMBUATAN-UBIN-ATAU-PAVING-BLOK-DAN-BATAKO.html , 20 januari 2011.

Mulyono, T. 2003, “Teknologi Beton”. Penerbit Andi. Yogyakarta

Munir, M., 2008, “ Pemanfaatan Abu Batubara (FLY ASH) untuk Hollow Block yang

Bermutu dan Aman Bagi Lingkungan”, Tesis Program Magister Ilmu

Lingkungan., Universitas Diponegoro., Semarang

Suratmin, dkk., 2007., Pemanfaa tan Kulit Ale – Ale Sebagai Agr egat Kasar Dalam

Pembuatan Beton., Forum Teknik Sipil No. XVII/2., hal 531.

Widarti, E. 2004., “Uji Kelaya kan Pembuatan Paving Block dar i Lumpur Salur a n

Alami”., Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan FTSP, ITS, Surabaya

Wijanarko, W. 2009., “Analisis Baha n J er ami Padi Dala m Bentuk Block Atau Kotak

Sebagai Bahan Pengisi Batako Tida k Ber lubang”., Skripsi., Fakultas Keguruan

Gambar

Tabel 2.1. Uji Fisik Kulit Kerang
Tabel 2.3. Persyaratan Mutu Setiap Jenis Bata Beton (Paving Block)
Tabel 2.4 Keuntungan dan Kerugian Metode Mekanis dan Konvensional
gambar 3.1.
+7

Referensi

Dokumen terkait

diantara butir-butir agregat banyak digunakan pada pembangunan di sektor kontruksi sipil (Abdul Rais, 2007). Semen merupakan pembentuk untuk paving block. Jenis semen yang

PEMANFAATAN LIMBAH LAS KARBIT SEBAGAI CAMPURAN PEMBUATAN PAVING BLOCK; Doni kusuma : 071903103018 : 2011 ; Program Studi D3 Jurusan Teknik Sipil Fakultas

Menurut SNI-03-0691-1989 pengertian paving block adalah : “ suatu komposisi bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidraulis

Menurut SNI-03-0691-1989 pengertian paving block adalah : “ suatu komposisi bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidraulis

Banyak penelitian yang telah dilakukan mengenai pemanfaatan limbah plastik dalam pembuatan beton atau paving block antara lain yaitu Yusuf Amran (2015) dalam pembuatan paving block

Paving block atau bata beton merupakan komponen bahan bangunan yang digunakan untuk lantai dan terbuat dari campuran semen Portland atau bahan perekat hidrolis

Oleh karena itu disini dilakukan penelitian tentang pemanfaatan limbah plastik sebagai bahan pembuatan paving block sekaligus sebagai upaya mengurangi limbah plastik, khususnya plastik

Karakteristik paving block porous yang dihasilkan yaitu semakin banyak campuran serbuk gergaji kayu jati, maka kuat tekan dan densitas semakin rendah, sedangkan daya serap air dan laju