PENDAHULUAN Penanaman Karakter Disiplin Dalam Program Keislaman (Studi Kasus Siswa SMP Muhammadiyah 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2013/2014).

10 

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Bangsa Indonesia yang telah mendeklarasikan kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945 memiliki kondisi yang unik dilihat dari perkembangannya sampai saat ini, para bapak pendiri bangsa (the founding fathers) menyadari bahwa paling tidak ada tiga tantangan besar yang harus dihadapi. Pertama adalah mendirikan negara yang bersatu dan berdaulat. Kedua adalah membangun bangsa, dan ketiga adalah membangun karakter. Ketiga hal tersebut secara jelas tampak dalam konsep negara bangsa (nation-state) dan pembangunan karakter bangsa (nation and character building). Implementasi ketiga hal tersebut kemudian menjadi

dasar dalam upaya mendirikan negara dan dipandang relatif lebih cepat jika dibandingkan dengan upaya untuk membangun bangsa dan membangun karakter. Salah satu bapak pendiri bangsa, presiden pertama Republik Indonsia (Bung

Karno) mengaskan bahwa “bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan

pembangunan karakter (character building) karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya, serta bermartabat”. Sejak tahun 1990-an, terminologi pendidikan karakter dipandang sangat penting dalam membangun sebuah bangsa. Keberhasilan suatu bangsa dalam memproleh tujuannya tidak hanya ditentukan oleh melimpah ruahnya sumber daya alam, tetapi sangat ditentukan kualitas sumber daya manusia.

(2)

Bahkan ada yang mengatakan bahwa bangsa yang besar dapat dilihat dari kualitas atau karakter bangsa (manusia) itu sendiri.

Pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia saat ini dirasakan memerlukan pengembangan bila melihat semakin meningkatnya tawuran antar pelajar, serta bentuk-bentuk kenakalan remaja lainnya terutama di kota-kota besar, pemerasan atau kekerasan, penggunaan narkoba dan lain-lain. Berkaitan dengan dirasakan semakin mendesaknya implmentasi pendidikan karakter di indonesia tersebut, Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional dalam publikasi yang berjudul Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (2011), menyatakan bahwa pendidikan karakter pada intinya bertujuan untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, reorientasi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Memahami sejarah sebuah konsep sangat penting untuk dapat memahami dalam konteks apa konsep itu lahir, dan untuk apa konsep itu diperjuangkan. Merujuk pada pendapat para tokoh, pemimpin dan pakar pendidikan dunia menyepakati pembentukan karakter sebagai tujuan pendidikan, maka sejarah pendidikan karakter sama tuanya dengan itu sendiri. Namun perjalanannya, pendidikan pendidikan karakter sempat tenggelam dan terlupakan dari dunia pendidikan, terutama sekolah.

(3)

and smart. Berdasrkan sejarah Islam, sekitar 1400 tahun yang lalu, Muhammad

SAW. Sang Nabi terakhir dalam ajaran Islam, juga menegaskan bahwa misi utamanya dalam mendidik manusia adalah untuk menyempurnakan akhlak dan mengupayakan pembentukan karakter yang baik (good character). Berikutnya, ribuan tahun setelah itu, rumusan tujuan utama pendidikan tetap pada wilayah serupa, yakni pembentukan kepribadian manusia yang baik.

Tokoh pendidikan Barat yang mendunia seperti Klipatrick, Lickona Brooks dan Goble seakan menggemakan kembali gaung yang disuarakan Socrates dan Muhammad SAW, bahwa moral akhlak atau karakter adalah tujuan yang tak terhindarkan dari dunia pendidikan. Begitu juga dengan Marthin Luther King

menyetujui pemikiran tersebut dengan mengatakan “Kecerdasan plus character,

that is the true aim of education” Kecerdasan plus karakter, itulah tujuan yang benar dari pendidikan.

(4)

itu, sekularisasi masyarakat telah menumbuhkan ketakutan untuk mengajarkan moralitas di sekolah karena khawatir dianggap sebagai pengajaran agama. Hal ini terutama banyak dialami oleh negara-negara maju, tapi sekuler. Selanjutnya, pendidikan karakter mulai dipandang sebagai tujuan utama pendidikan. Namun di sekolah-sekolah publik, dukungan untuk pendidikan moral berkurang dan menyusut. Perubahan-perubahan ini sering kali berhubungan dengan kejadian-kejadian bersejarah dan gerakan-gerakan politik.

Sejarah pendidikan moral atau karakter dapat ditelusuri dari keterkaitannya dengan kewarganegaraan. Kewarganegaraan merupakan wujud loyalitas akhir dari setiap manusia modern. Di Indonesia dalam zaman pra-kemerdekaan yang dikenal adalah pendidikan atau pengajaran budi pekerti yang menanamkan dalam dalam peserta didik asas-asas moral, etika yang melandasi sikap dan tingkah laku dalam pergaulan sehari-hari. Setelah Indonesia memasuki era demokrasi terpimpin di bawah presiden Soekarno pada awal 1960-an, pendidikan karakter dikampanyekan dengan hebat dan dikenal dengan national and character building.

(5)

menghargai waktu agar pekerjaan atau tanggungjawab yang diembannya dapat selesai tepat waktu.

Pendidikan karakter mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk segera diimplementasikan di sekolah-sekolah sebagai program utama. Kemendiknas dalam hal ini, telah mencanangkan visi penerapan pendidikan karakter pada tahun 2010 sampai 2014. Penerapan pendidikan karakter memerlukan pemahaman yang jelas tentang konsep pembentukan karakter (character building) dan pendidikan karakter (character education) itu sendiri.

Tanpa pijakan konsep yang jelas dan pemahaman yang komprehensif, visi ini bisa sebatas retorika belaka.

Karakter bukan sekedar mengajarkan yang benar dan yang salah, tetapi lebih dari itu. Karakter menanamkan kebiasaan tentang yang baik kepada siswa Karakter dapat berpengaruh pada siswa dalam bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Karakter disiplin dapat menjadikan siswa menanamkan sikap taat dalam diri. Banyak terjadi kesenjangan antara praktek pendidikan dengan karakter, karena dunia pendidikan di Indonesia memasuki masa-masa yang pelik.

(6)

Tetapi pada kenyataannya, karakter disiplin masih sering dikesampingkan. Bukan hanya siswa atau anak-anak, tetapi bahkan orang dewasa pun bertingkah laku kurang disiplin. Maka perlu sekali karakter disiplin secara ketat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, agar semua orang bisa taat dan patuh terhadap peraturan yang ditetapkan. Disiplin banyak diterapkan di lingkungan sekolah, melalui berbagai cara, salah satunya melalui program keislaman yang ada di sekolah. bukan hanya peraturan umum di sekolah, tetapi juga peraturan yang berhubungan dengan keimanan.

Peraturan tersebut dapat menjadikan siswa lebih disiplin. Selain itu juga dapat memperbaiki moral siswa. Karena tidak bisa dipungkiri, banyak siswa yang bermoral kurang baik terutama siswa SMP. Moral tersebut dikarenakan pergaulan atau lingkungan yang ada di sekitar siswa. Maka siswa tersebut begitu mudah terpengaruh. Dipandang sangat perlu adanya penanaman karakter disiplin bagi siswa teruama SMP di sekolah, agar dapat memperbaiki tingkah laku dan moral siswa yang kurang baik.

(7)

Program keislaman terdapat nilai-nilai disiplin seperti tidak boleh terlambat, tertib, memanfaatkan waktu dengan baik.

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pelaksanaan penanaman karakter disiplin dalam program keislaman di SMP Muhammadiyah 1 Surakarta Tahun pelajaran 2013/2014? 2. Bagaimanakah bentuk-bentuk penanaman karakter disiplin dalam program

keislaman di SMP Muhammadiyah 1 Surakarta Tahun pelajaran 2013/2014? 3. Hambatan dan Solusi apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan program

keislaman di SMP Muhammadiyah 1 Surakarta Tahun pelajaran 2013/2014?

C.Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendiskripsikan pelaksanaan penanaman karakter disiplin dalam program keislaman di SMP Muhammadiyah 1 Surakarta Tahun pelajaran 2013/2014.

(8)

3. Untuk mendiskripsikan hambatan dan solusi yang dihadapi dalam pelaksanaan program keislaman di SMP Muhammadiyah 1 Surakarta Tahun pelajaran 2013/2014.

D.Manfaat atau Kegunaan Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Sebagai suatu karya ilmiah, maka hasil penelitian diharapkan dapat memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

b. Memberikan tambahan teori menegenai Penanaman Karakter Disiplin dalam Program Keislaman bagi calon guru pendidikan kewarganegaraan.

c. Memberikan gambaran Penananaman Karakter Disiplin dalam Program Keislaman di SMP Muhammadiyah 1 Surakarta.

d. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk penelitian berikutnya yang sejenis.

2. Manfaat Praktis a. Manfaat bagi siswa

1) Meningkatkan sikap disiplin siswa baik di dalam maupun di luar kelas. 2) Meningkatkan semangat belajar siswa dalam setiap pembelajaran. 3) Meningkatkan prestasi siwa

b. Manfaat bagi guru

1) Untuk pengembangan dalam pembelajaran di kelas.

(9)

c. Manfaat bagi sekolah:

1) Untuk mengembangkan karakter disiplin di sekolah. 2) Meningkatkan prestasi sekolah.

3) Untuk meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran di sekolah.

E.Daftar Istilah

Menurut Maryadi dkk (2010:11) menjelaskan pengertian daftar istilah

adalah, “suatu penjelasan istilah yang diambil dari kata-kata kunci dalam judul

penelitian”. Adapun istilah-istilah yang terdapat dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Penanaman. Berdasarkan keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia no. 0323/u/1978 tanggal 28 Oktober 1978 tentang pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda adalah melaksanakan upaya pendidikan baik formal maupun non formal secara sadar, berencana, terarah, teratur, dan tanggung jawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing, dan mengembangkan suatu dasar kepribadian yang seimbang, utuh dan selaras, berpengetahuan dan memiliki ketrampilan sesuai dengan bakat, minat, keinginan, serta kemampuan sebagai bekal selanjutnya atas prakarsa sendiri, menambah dan meningkatkan kemampuan dalam diri.

(10)

membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan kompleksitas mental dari seseorang, suatu kelompok atau bangsa”.

3. Disiplin. Menurut Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:268),

disiplin diartikan “1) tata tertib (di sekolah, kemiliteran,dsb), 2) ketaatan

(kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib dsb), 3) bidang studi yang memiliki obyek, dan metode tertentu”.

4. Program. Menurut Poerwadarminto (2007:911), “program merupakan rancangan dengan usaha-usaha yang akan dijalankan untuk mencapai tujuan tertentu”.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...