• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENATALAKSANAAN FRAKTUR OS NASAL LAMA DENGAN KOMPLIKASI SADDLE NOSE.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENATALAKSANAAN FRAKTUR OS NASAL LAMA DENGAN KOMPLIKASI SADDLE NOSE."

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENATALAKSANAAN FRAKTUR OS NASAL LAMA

DENGAN KOMPLI KASI

SADDLE NOSE

Effy Hur iyati, Hidayatul Fitr ia

Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher

Fakultas Kedokter an Univer sitas Andalas / RSUP. Dr. M Djamil Padang

Abstrak

Fr akt ur os nasal merupakan kasus terbanyak pada t rauma w ajah. Trauma langsung dapat menyebabkan fr akt ur kart ilago dan tulang sept um sehingga kehil angan str ukt ur penyangga. Trauma kr aniofasial dapat menyebabkan hidung depress

disebut saddle nose. Fr aktur os nasal lama t elah t er jadi pembentukan callus, biasanya terjadi setelah lebih 2 minggu. Frakt ur os nasal banyak terjadi pada laki-l aki. Penyebabnya adalah kecelakaan kendaraan ber motor, olahraga dan ber kelahi. Diagnosis dit egakkan berdasar kan anamnesis, pemer iksaan fisik dan pemer iksaan radiologi. Frakt ur os nasal yang t er lambat ditangani dapat dir eposisi dengan t eknik septorinoplast i. Dilapor kan suat u kasus seor ang laki-laki berumur 43 t ahun dengan frakt ur os nasal lama dengan jar ingan parut mengitari kedua vestibulum dan dir eposisi dengan septor inoplast i.

Kata kunci : frakt ur os nasal, saddle nose, septorinoplast i

Abstra ct

Nasal fract ur e is the most cases in facial t raum a. Direct tr auma t o the nose can fr act ur e the car t ilaginous and bony sept um, hence compr oming import ant support st ruct ur e. The craniofacial tr auma r esult in depresion of the dorsum of the nose called saddle nose. Old nasal fract ur e has been union by callus after 2 weeks. Fr act ur e os nasal is mor e common in males. The cause is motor vehicle accident s, spor ts accident s and fight s. Diagnosis based on anamnesis, physical examinat ion and radiological exam inat ion. Nasal fr acture is delayed can be r epositioned with sept or inoplasty. A case of old nasal fr acture in m an, 43 year s old, which managed with septorinoplast y w as r epor t ed

Keywords: nasal bone fract ur e, saddle nose, septorinoplast y

Korespondensi: dr .Hidayatul Fitr ia: hidayatulfit [email protected]

PENDAHULUAN

Hidung merupakan unsur estet ik w ajah kar ena posisinya sent ral dan menonjol pada bidang sagital w ajah.1

Piramid nasal disusun oleh tulang yang t ipis pada sent r al w ajah. Frakt ur nasal mer upakan kasus terbanyak pada t rauma w ajah. Trauma tumpul sepert i kecelakaan motor, t rauma karena olahr aga, lat ihan fisik yang berlebihan merupakan penyebab umum t er jadinya fr aktur os nasal.2 Ross melaporkan fr aktur os nasal t erjadi kar ena

perkelahian 34%, kecelakaan 28% dan olahr aga 23%.3

Walaupun frakt ur os nasal bukan suatu yang mengancam jiw a, manajemen yang salah akan menimbulkan gangguan fungsi dan kosmet ik.2

Fr akt ur os nasal disebut t er buka bila os nasal ter papar kar ena adanya luka robek pada kulit at au lapisan hidung. Prosedur yang digunakan untuk mengatakan frakt ur ter sebut t er buka jika pada luka kulit memungkinkan penyisipan inst r umen atau dengan visualisasi langsung. Fr aktur os nasal t er tutup bila t ulang nasal t idak t erpapar.4 Fr akt ur nasal depr ess biasanya

disebabkan karena t rauma dari ar ah depan. Tr auma yang

kuat akan menyebabkan open-book fractur e dimana septum kolaps dan t ulang hidung t er papar .5 Tr auma kr aniofasial

dapat mengakibatkan depress dorsum nasi disebut saddle nose. Pasien mengeluhkan hidung t er sumbat dan kadang-kadang har us dilakukan kor eksi pembedahan pada septum.6

Diagnosis dit egakkan berdasar kan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemer iksaan penunjang. Pada anamnesis dan pemer iksaan fisik dapat dit emukan bengkak pada hidung, nyer i, defor mitas berupa depress dari ar ah depan atau samping at au selur uh pir amid hidung, deviasi pada sat u sisi, krepitasi, epitaksis dan hidung t ersumbat .5

Penat alaksanaan fr akt ur os nasal dapat dilakukan dengan r eposisi tert ut up dan r eposisi t er buka. Indikasi operasi unt uk frakt ur os nasal adalah kar ena adanya kelainan fungsi dan kosmet ik.2 Penat alaksanaan unt uk

fr aktur os nasal l ama mer upakan suat u tant angan. Analisis dan perencanaan yang hat i-hat i diper lukan sebelum memut uskan t indakan r ekonst ruksi. Prosedur yang umum dilakukan bervar iasi yaitu r inoplasti, septor inoplasti at au

(2)

2 LAPORAN KASUS

Seor ang pasien laki-laki umur 43 t ahun dat ang ke Poliklinik RSUP M. Djamil tanggal 22 Febr uari 2011 dengan MR 729296 dengan keluhan hidung t er sumbat sejak 20 hari yang lalu set elah mengalami kecelakaan lalu lintas, sehingga pasien ber nafas l ew at mulut . Hidung kiri lebih ter sumbat dari hidung kanan. Saat it u pasien sedang mengendar ai motor t iba-t iba menabr ak mobil, pasien jatuh ter sungkur ke t anah. Pasien t et ap sadar setelah kejadian. Keluar dar ah dar i hidung set elah kejadian dan darah berhenti sendir i. Keluar lendir dar i hidung ber campur darah dan menghilang set elah kira-kir a 2 minggu. Hidung t erlihat pesek ( gambar 1).

Gambar 1. Foto pasien sebelum operasi

Riw ayat hidung tersumbat sebelumnya t idak ada. Tidak ada riw ayat keluar lendir di tenggorok, riw ayat bersin-bersin, r iw ayat t elinga ber denging dan riw ayat keluar darah dari hidung sebelumya. Setelah kecelakaan pasien diraw at di bangsal bedah RSUP M. Djamil Padang selama 6 har i karena t rauma kepala dan diduga CSF (Cer ebr ospinal fluid) leakage dari bagi an THT, kemudian pasien pulang paksa kar ena masalah biaya. Pada w aktu itu ( tanggal 2 Febr uar i 2011) telah dilakukan r ont gen os nasal (gambar 2) dan ront gen sinus par anasal posisi w ater s dan pasien menolak dilakukan tomografi komputer sinus paranasal.

Gambar 2. Rontgen os nasal later al

Pemeriksaan fisik keadaan umum sedang, kesadar an komposment is koper at if, suhu tidak demam. Pemeriksaan t elinga dalam bat as nor mal. Hidung luar t er lihat deformit as, dor sum nasi depr ess, edema t idak ada, nyeri tekan dan kr epit asi t idak ada. Dome kedua kavum nasi simet ris, t ip nasi nor mal. Kavum nasi dekst r a sempit, t er lihat jaringan par ut mengelilingi kavum nasi pada vestibulum dan pada sisi septum ber sebr angan dengan konka infer ior , konka infer ior eut r ofi dan konka media sukar dinilai. Kavum nasi sinist ra sempit, t er tut up jar ingan par ut pada daer ah hampir selur uh daerah vest ibulum. Konka infer ior sukar dinilai. Pemer iksaan tenggorok tidak dit emukan kelainan. Diagnosis saat it u frakt ur os nasal lama dan st enosis kedua kavum nasi. Direncanakan unt uk septorinoplast i dalam narkose umum.

(3)

3 Gambar 3. Tomografi komputer sinus paranasal

potongan aksial

Pada t anggal 7 Maret 2011 dilakukan septor inoplast i dalam narkose umum. Pasien t idur ter lent ang di meja oper asi, dilakukan t indakan asepsis dan antisepsis. Kedua kavum nasi dievaluasi, kavum nasi dekstr a sempit, konka infer ior eut rofi tampak jar ingan jar ingan parut ant ar a sept um dan konka infer ior , konka media sukar dinilai kar ena ditutupi jar ingan parut. Dilakukan infilt r asi dengan adrenalin 1:200.000 di kavum nasi sinistr a (KNS). Dil akukan insisi hemit ransfiksi, insisi dilanjut kan sampai daer ah int er kart ilago agar jar ingan parut dapat dilepaskan. Jar ingan jaringan par utdilepaskan dengan gunt ing t umpul kemudian dilanjut kan dengan menggunakan respatorium, t erlihat kar tilago septum bagian depan hancur, ser pihan kar tilago diangkat. Dilakukan infiltr asi di kavum nasi dekst ra.

Dilakukan insisi di daer ah medial vestibulum dar i kaudal ke kranial, jar ingan jar ingan parut dibebaskan. Pr e maksila dipahat unt uk melonggar kan kavun nasi dekstr a, dilakukan evaluasi dengan jari kelingking, t erasa sempit karena prosesus front alis os maksila yang t er dorong ke medial. Dilakukan insisi int er kart ilago di kavum nasi dekstr a (KND). Jar ingan dipisahkan dengan gunt ing tumpul, kemudian pahat lengkung dimasukkan melalui jar ingan yang t elah dipisahkan t adi, kemudian dilakukan osteotomi tr ansversal dengan pahat t er sebut yang sebelumnya t elah dilakukan ost eotomi lateral. Set el ah it u digunakan pahat lur us unt uk melakukan osteotomi para median. Refr akt ur isasi dilanjut kan dengan menggunakan Boies lew at kavum nasi. Sebelum itu di KNS r efr akt urisasi dilakukan dengan menggunakan cunam Walsham, os perpendikular is et moid sudah hancur sehingga

mengangkat pir amid hidung tidak optimal. Luka insisi int erkar tilago dijahit dengan menggunakan kr omik 4.0, insisi hemit ransfiksi di KNS juga dijahit kan. Dipasang t ampon unt uk fiksasi dalam dan pasang gips untuk fiksasi luar .

Pasien dir aw at dan diber i t er api seft riakson 2x1 gram, t ramadol drip 3x1 ampul dalam ringer lakt at , met ilpr ednisolon 3x1 tablet dan pseudoefedr in HCl 120mg 2x1 kapsul.

Har i pert ama pasca operasi t idak dit emukan demam dan nyeri pada hidung. Keadaaan umum pasien sedang, kesadaran komposmentis koper at if, t ekanan dar ah 120/ 80 mmHg. Hidung luar t ampak gips t erpasang baik, dan kedua kavum nasi ter tutup tampon. Tenggorok tidak dit emukan darah mengalir di dinding post erior faring. Tramadol drip dihent ikan dan digant i dengan asam mefenamat t ablet 3x500 mg. Obat -obat lain dilanjutkan.

Pada hari kel ima oper asi t ampon hidung diangkat, dievaluasi kedua kavum nasi lapang, konka infer ior dan konka media eut rofi, t idak terlihat dar ah mengalir , t er dapat

clot ting. Tenggorok dar ah mengalir dar i dinding post er ior far ing t idak ada. Pasien dibolehkan pulang dan diber i t er api klindamisin 3x 300 mg, asam mefenamat 3x500, met ilpr ednisolon 3x1 tablet, pseudoefedr in 5 mg.

Pada t anggal 15 maret 2011 pasien dat ang kont rol hidung kir i t er asa ter sumbat, tidak ada nyeri dan keluar dar ah dar i hidung. Hidung luar t erpasang gips. Kavum nasi dekst ra cukup lapang, konka inferior dan konka media eut rofi, t idak ditemukan sinekia. Kavum nasi sinist ra sempit, t ampak jaringan par ut menyempit kan daer ah vestibulum, konka infer ior sukar dinilai. Diagnosa saat itu post septorinoplast i har i ke-9. Kemudian t ampon dipasang kembali pada kedua kavum nasi 1-1. Diber ikan t er api klindamisin 3x300 mg dan met ilprednisolon 3x1 t ablet. Pasien diminta kont rol 2 har i lagi.

Pada tanggal 18 Mar et pasien dat ang kont r ol. Tidak ada demam. Hidung luar ter pasang gips. Kedua kavum nasi terpasang tampon. Gips dibuka dan t ampon diangkat. Hidung luar piramid hidung terbentuk, alignment

baik (gambar 4). Kavum nasi dekstr a dan sinist ra lapang, konka inferior dan konka media eut r ofi, dar ah mengalir dan sinekia t idak ditemukan. Diber ikan t er api klindamisin

(4)

4

Foto sebelum oper asi

Foto Sesudah oper asi

(5)

5

Pasien datang kontrol kembali t anggal 22 Mar et 2011 dengan keluhan hidung kir i t er sumbat kembali. Pada pemer iksaan hidung luar t idak dit emukan edema, defor mit as dan nyeri t ekan. Pemeriksaan kavum nasi dekstr a dalam bat as normal dan pada kavum nasi sinist r a daer ah vestibulum menyempit kar ena adanya jar ingan jar ingan parut . Kemudian jaringan par ut dikaust ik dengan nit ras ar genti. Evaluasi ulang dilakukan, tampak kavum nasi sinist ra lapang, konka inferior dan konka media eut r ofi, dit emukan sekr et mukopur ulen. Pasien diber i ter api klindamisin 3x300 mg, pseudoefedr in 120 mg sert a cuci hidung.

Pada t anggal 29 Mar et 2011 pasien dat ang kont rol kembali dengan keluhan hidung kiri tersumbat kembali, hidung ber bau t idak ada. Pemer iksaan kavum nasi dekst ra dalam batas normal. Pada kavum nasi sinist r a vest ibulum menyempit kar ena adanya jaringan par ut, konka inferior eutr ofi dan konka media mengalami medialisasi kear ah sept um dan double konka, tidak ditemukan sekr et. Dilakukan kaustik dengan nit r as ar genti pada jaringan jar ingan parut di KNS. Pasien diber i t er api klindamisin 3x300 mg. Pasien datang kontrol kembali t anggal 5 April 2011 dengan keluhan hidung kir i t er sumbat dan ketika menghirup dan mengelurkan nafas di lubang hidung kiri berbunyi. Pada pemeriksaan kavum nasi sinist ra vest ibulum menyempit kar ena adanya jaringan par ut, konka inferior eutr ofi dan konka media eut rofi, tidak ada sekret. Pasien diber i ter api kaustik nit ras ar gent i dan sefiksime 2x100 mg.Pada t anggal 23 Jul i 2011 pasien t idak mengeluh hidung kir i t er sumbat lagi. Pemer iksaan fisik vestibulum kavum nasi sinist ra r elatif lebih sempit dar i kavum nasi dekst ra.

DISKUSI

Fr aktur os nasal mer upakan kasus t r auma ter banyak pada w ajah dan mer upakan merupakan kasus frakt ur ket iga terbanyak di selur uh t ulang-t ulang di tubuh manusia.2,7,8,9,10 Insidens frakt ur nasal di Amer ika kir a-kir a

51.200 kasus per tahun, w alapun angka ini dapat lebih tinggi karena banyak pasien tidak dat ang untuk berobat dan kasus t idak dilapor kan. Fr aktur os nasal banyak t er jadi pada usia 15-40 t ahun dan lebih banyak terjadi pada laki-laki.11 Per bandingan angka kejadian frakt ur os nasal ant ar a

laki-l aki dan perempuan 2:1.12 Fr aktur os nasal pada

dew asa dilapor kan t er jadi karena kecel akaan kendar aan bermotor , kecelakaan berolahr aga, dan per t engkar an.7,11

Kecelakaan motor cendr ung menyebabkan frakt ur nasal yang ber at dan ser ing disert ai dengan t r auma maksilofasial.11 Pada kasus ini pasien laki-laki ber umur 43

tahun kar ena kecelakaan motor.

Tipe dan beratnya frakt ur t er gant ung pada kekuat an t r auma, ar ah dan mekanisme t r auma.2,1 Objek

yang kecil dengan kecepatan t inggi akan menimbulkan kerusakan yang hebat dibanding dengan objek besar t api kecepat an r endah. Trauma nasal lat eral ser ing t er j adi dan

menyebabkan fr akt ur pada sat u at au kedua os nasal. Dan ser ing diser t ai dengan dislokasi sept um. Dislokasi septum menimbulkan dorsum nasi ber bent uk s, tip yang asimet r is, dan obst r uksi jalan nafas. Tr auma dari arah depan menyebabkan dorsum nasi depr ess dan melebar .2 Hal ini disebut dengan saddle nose.6

Saddle nose diklasifikasikan atas dua yaitu ant er ior bila yang t er libat adalah bagian kart ilago dan posterior bila yang terkena bagian t ulang.6 Pada pasien ini

bagian kar tilago dan t ulang pat ah.

Kar akteristik dari saddle nose adalah ber kurangnya t inggi dor sum nasi. Istilah lainnya adalah pug nose at au boxer’s nose.14 Os nasal pada bagian super ior

t ebal dan ber sendi dengan t ulang front al. Pada bagian inferior t ipis dan berart ikulasi dengan kar tilago lat er al. Akibatnya kebanyakan frakt ur os nasal t er jadi pada bagian baw ah. Bila fr akt ur os nasal t idak dikoreksi sebagaimana mest inya akan menimbulkan kosmet ik yang jelek dan gangguan fungsi hidung.2

Saddle nose menyebabkan ber bagai derajat sumbat an hidung. Klasifikasi saddle nose berdasarkan defisit anatomi (gambar 5):

Tipe 1: depr ess dor sum nasi at au minor supratip dengan proyeksi seper tiga baw ah hidung normal.

Tipe 2 : Depress dor sum nasi (sedang-ber at ) dengan puncak sepert iga baw ah masih ada

Tipe 3 : Depress dor sum nasi (sedang-ber at ) dengan hilangnya penunjang tip dan hilangnya str ukt ur seper tiga baw ah

Tipe 4 : Cat ast rophic ( berat) hilangnya dorsum nasi dan st ruktur bagian baw ah dan sepert iga at as.14

Gambar 5 . ( 1) Normal. (2 ) Tipe 1. (3 ) Tipe 2. ( 4) Tipe 3. ( 5) Tipe 414

Pasien ini mengeluh hidung t er sumbat yang berat sehingga pasien hanya dapat bernafas melalui mulut karena adanya jar ingan parut di vestibulum. Vest ibulum nasi at au

(6)

6

vest ibulum. Valve int er na meliput i ujung kaudal dar i kart ilago upper lateral, kepala konka infer ior , aper t ur a pir ifor mis, dan dasar hidung. Penyempit an atau st enosis pada daerah ini akan mengganggu proses ber nafas melalui hidung. Penyebab stenosis ser ing berhubungan dengan defor mit as kongenit al sepert i bibir sumbing at au didapat sepert i r et raksi jar ingan parut sir kumfer ensial pada vest ibulum karena t r auma, at au karena operasi sebelumnya. Penyebab kont raksi luka adalah gerakan dar i tepi luka, yang t er jadi selama penyembuhan luka. Efek ini merupakan fenomena fisiologis untuk mengur angi ukuran luka menjadi sekecil mungkin dan kar ena adanya difer ensiasi fibr oblas menjadi miofibr oblas dan memiliki karakt erist ik ult rast uktur sel otot polos, maksimal ada dalam luka pada hari ke-10 sampai hari ke-21. Untuk menghindar i rest enosis per lu memper t ahankan kontur hidung selama kontr aksi luka. Agar t ujuan ini tercapai dan mencegah r est enosis vest ibulum banyak penelit ian mengusulkan penggunaan beber apa jenis stent hidung set elah oper asi. Sebagi an besar stent t er sedia secar a komer sial dan t erbuat dari silikon elastis atau r esin akrilik.15 Pada pasien ini direncanakan penggunaan st ent,

tet api karena perangkatnya t idak t er sedia, tidak jadi dilakukan.

Menger dalam penelit iannya seminggu set elah oper asi, set elah t ampon dibuka, cast hidung dan vestibulum hidung dibuat. Untuk tujuan ini mat er ial hydrophilic vinyl polysiloxane, t ipe regular (EXAMIC) diinjeksikan ke vest ibulum dan hidung luar set elah kavum nasi posterior dan ar ea internal nasal valve dit utup dengan kasa 2 cm. Dibaw ah penutup plast ik, bahan mengeras set elah 5 menit dan dapat dipindahkan. Berdasar kan cast ini, perangkat vest ibulum dibent uk, yang t er buat dar i ter moplast ik akrilik. Desain memiliki lumen sehingga per napasan hidung normal dapat dipast ikan (gambar 6). Pasien dimint a menggunakan per angkat ini selama 6 minggu ter us-mener us dan set elah it u selama 6 minggu hanya pada malam hari (gambar 7).15

Gambar 6. Perangkat vestibulum dengan lumen untuk bernafas15

Gambar 7. Penggunaan perangkat vestibulum15

Penanganan stenosis dapat juga vest ibulum menggunakan t ube nasofar ing. Ukur annya disesuaikan dengan ukuran kavum nasi. Ukuran yang t er sedia 22 French sampai 36 French. Tube dipotong sesuai kebut uhan. Tube dipasang selama 8-25 minggu, rata-rata 17 minggu.16

Der ajat st enosis vest ibulum dibagi atas 4 level. Level pert ama st enosis ber at yang dit andai dengan stenosis ber at pada pemeriksaan fisik dan radiologi sert a dengan keluhan hidung tersumbat t erus mener us bahkan saat istir ahat . Level kedua st enosis sedang dit andai dengan stenosis sedang pada pemer iksaan fisik dan r adiologi dengan keluhan hidung ter sumbat bila melakukan akt ifit as r ingan. Level ket iga stenosis r ingan didefinisikan dengan stenosis r ingan dengan pemeriksaan fisik dan r adiologi ser t a keluhan muncul bila melakukan akt ifit as sepert i lari. Level keempat t idak ada stenosis. Per baikan fungsional set elah oper asi dan pemakaian st ent bila klasifikasi derajat stenosis paling t idak lebih baik sat u t ingkat dari klasi fikasi sebelum oper asi.15 Pada pasien ini mengalami stenosis

ber at dan set elah oper asi menjadi st enosis ringan.

Diagnosis yang akurat dari fr aktur os nasal ber dasarkan anamnesis dan pemer iksaan fisik. Anamnesis yang lengkap meliputi kekuat an, arah dan mekanisme t rauma; adanya epist aksis dan rinore CSF; r iw ayat fr akt ur sebelumnya at au r iw ayat operasi sebelumnya; sumbat an hidung at au deformit as hidung luar set elah t r auma. Pemeriksaan fisik paling akur at didapatkan sebelum t imbulnya edema. Pada palpasi akan didapatkan krepit asi menunjukan adanya fr akt ur os nasal.2 Penggunaan

r adiogr afi untuk menegakan adanya fr aktur os nasal masih menjadi perdebat an. Beber apa penulis menyat akan r adiogr afi dibutuhkan sebagai dokumen medikolegal unt uk fr aktur os nasal.2,11 Hw ang seper t i dikut ip Smith

melapor kan dar i 503 r adiogr afi dalam mengevaluasi fr aktur os nasal dengan posisi lat er al dan Wat er s, 82% fr aktur ini dapat diidentifikasi.17 Tomogr afi komputer

memiliki sensitivit as dan spesifit as lebih besar unt uk diagnose frakt ur os nasal. Tetapi biayanya relat if lebih besar , efek samping radiasi dan dalam penatalaksanaan fr aktur os nasal t idak begitu besar pengar uhnya. Sehingga unt uk frakt ur os nasal saja tomografi komputer tidak dianjurkan kecuali cur iga adanya fr akt ur maksilofasial.11

(7)

7

komputer sinus paranasal karena adanya kecur igaan frakt ur maksilofasial sel ain frakt ur os nasal.

Fr akt ur dan dislokasi kar til ago sept um ser ing menyer tai fr akt ur os nasal sehingga kedua hal ini memperber at deformit as dan sumbat an hidung.10 Pada

pasien ini frakt ur os nasal disert ai dislokasi dan fr aktur kart ilago septum.

Tujuan utama pengobat an dan penat alaksanaan frakt ur os nasal adalah memper baiki fungsi, atau kosmet ik at au keduanya.6 Terdapat perdebat an kapan w aktu yang

tepat unt uk melakukan reposisi. 2

Ada yang ber pendapat saat ter baik untuk melakukan reposisi adalah seger a set elah tr auma ket ika edema belum muncul, biasanya 2-3 jam pert ama pasca tr auma at au set elah edema hilang biasanya 5-10 har i. Adanya edema akan menyembunyikan kondisi fr aktur sesungguhnya sehingga menyulitkan untuk dilakukan reposisi.2,5,10,11 Reposisi os nasal set elah 2 minggu lebih sul it

karena t elah t er jadi pembentukan kalus.5 Sement ar a

Perkins melaporkan r eposisi 6-8 minggu set el ah t r auma memberikan hasil yang lebih sempurna dengan melakukan septor inoplast i. Teknik ini memungkinkan akses lansung ke st r uktur hidung.11 Kondisi seper t i ini membut uhkan

ost eotomi.2

Cortney melapor kan bius umum pada r eposisi os nasal lebih efekt if dan kor eksi lebih opt imal dibanding bius lokal.18 Pada pasien ini r eposisi dilakukan dalam bius

umum.

Pada umumnya fr akt ur os nasal dapat direposisi dengan reposisi t er t ut up, t api ada beber apa yang membutuhkan r eposisi terbuka dengan septor inoplast i.2

Septor inoplast i merupakan tindakan bedah yang melibat kan septum dan bagian dor sum nasi. Untuk memobilisasi pir amid t ulang dilakukan ost eotomi. Lat er al ost eotomi dilakukan untuk mengoreksi bent uk dan lebar dorsum nasi.19,20 Ost eotomi lateral dimulai pada aper t ur a

pir ifor mis di atas perlengket an konka infer ior . Disini dilakukan insisi vest ibular dan ost eotom dimasukan. Osteotom langsung secar a lateral menuju tit ik pert engahan antar a pupil dan lat er al kant us, sepanjang sulkus ant ar a prosesus fr ontal dan maksila. Osteotom secar a hat i-hat i diput ar ke medial sebagai pendekatan pada rim infraor bit a dan dilanjut kan ke superior set inggi level int er kant us.

Gambar 8. Osteotomi lateral21

Ost eotomi t ransversa dilakukan melalui insisi int erkar tilago. Kepala inst r umen dipahat kan, menghasilkan potongan melint ang yang bergabung dengan ost eotomi lat eral yang melengkung dan atap t er buka atau ost eotomi par amedial t epat pada tingkat yang diinginkan, sehingga mobilisasi dinding hidung lat er al selesai dilakukan.22

Gambar 9. Osteotomi transversa21

Frakt ur depr ess dapat dielevasi dengan elevator Boies intr anasal dan jar i t angan pada bagian hidung luar . Elevator mengur angi depress t ulang nasal dan jempol mendor ong os nasal kont ralat er al sehingga ber ada pada posisi yang benar. Forseps Walsham dan Asch digunakan unt uk mereposisi fr akt ur dan dislokasi septum.2 Insisi

int r akar tilago dilakukan kaudal dar i batas sefalik cr us lat eral menghasilkan t r anseksi kar t ilago. Insisi ini memungkinkan eksisi langsung pada sejumlah kar t ilago (batas sefalik cr us medial) dan minimal manipulasi pada jar ingan sekitarnya. Insisi seper ti ini membuat akses ke bagian t engah hidung dan nasal valve, t api insisi unt uk kar tilago lat er al baw ah ter bat as visualisasinya. Manipulasi dan pembentukan kart ilago t er hambat dan kesimet risan sukar didapatkan.1

Ada dua t eknik rinoplast i t er t ut up dan t er buka. Pada teknik t ert ut up insisi hanya di mukosa int r anasal, t et api t eknik t erbuka insisi kombinasi insisi mukosa int r anasal dan insisi t ranskutan (tr anskolumela). Teknik t er t ut up ini lebih umum digunakan kar ena w aktu menger jakan lebih sedikit, dan jaringan yang di

undermining juga sedikit. Tet api pendekatan ter tutup ini cendr ung merusak mekanisme penunjang mayor dar i t ip. 1

Penggunaan gips sebagai fiksasi luar dan t ampon yang telah diolesi dengan ant ibiotik sebagai fiksasi dalam biasanya digunakan set elah oper asi.2 Fiksasi ini bert ujuan

unt uk mempert ahankan posisi reposisi.11 Gips

diper t ahankan selama 7-14 har i. Sementara t ampon diper t ahankan selama 4-7 har i. Sel ama masa itu pasien diber i ant ibiot ik.2

(8)

8 nose, kontr akt ur kar ena jar ingan par ut, nyeri hidung yang

ter us-menerus.8

Komplikasi r inoplast i dapat berupa komplikasi int raoper at if, set elah oper asi dan komplikasi lambat. Komplikasi int raoper at if adalah pendarahan hebat, robeknya mukoperikondrium, kolapsnya pir amid t ulang, disar tikulasi kart ilago upper lat er al, per inasal tr auma. Komplikasi setelah operasi pendar ahan, hematom sept um, edema persist en, nyeri, gangguan penghidu dan r inor e CSF. Sedangkan komplikasi lambat hipert r ofi jar ingan parut, sinekia, perforasi septum, kolaps nasal valve, st enosis hidung.23

DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Koch RJ, Hanasano MW. Aesthet ic Facial Analysis. In: Paper ID, et al. Facial Plast ic and Reconstr uct ive Surger y. 2nd edit ion.New Yor k:

Thieme; 2002. p. 135-44

2. Rubeinst ein B. Management of Nasal Fract ur e. Ar ch. Iam. Ved; 2000:1-5.

3. Ross AT, Meyer s AD. Nasal and Septal Fract ur e. 2009. [ updated 2009 Mar ch 21; cit ed 2011 August

17] Available fr om:

ht tp:/ / www.emedicine.medscape.com/ ar t icle/ 87 8595. overview

4. Kavanach K. Nasal Fract ur e.2011.[updat ed 2011 March 21; 2011 Aug 17] Available fr om: ht tp:/ / www. entusa.com.

5. Dhingr a PL. Desease of Ear , Nose and Thr oat. Philadelpia: Elsivier; 2000. p. 170-174

6. Almeida Fr ansisnco, Minnaro Leandro L,Pialar issi Paulo, Shir ane Edson. Surgi cal Corr ect ion of the Saddle Nose: Case Report . Internat ional Ar chive of Otor hinolaryngology; 2009 (13):658-64

7. Bailey B. Nasal Fr act ur e. In: B. Bailey, Head and Neck Sur gery- Otolar yngology, Philadelpia: JB Lipincott;2000. p. 991-1007

8. Scibber as NC, Xuer eb HKB. Review of the Financial and Medikolegal Implications of Nasal Fr act ur e Seen at St Luke’s Hospit al. Malt a Medical Jour nal;2008: 32-35

9. Reilly MJ, Davidson SP. Open vs Closed Approach to the Nasal Pyr amid for Fr act ur e Reduct ion. Arch Facial Plast i c sur gery; 2007: 82-86

10. Hong HS et al. High r esolut ion Sonography for Nasal Fr act ur e in Childr en. Amer ican Roent gen Ray Society; 2007: 86-92

11. Perkin SW, Hayan Sh. Management of Nasal Tr auma. Aest hetic Plast ic Sur ger y. New Yor k: Springer-Ver lag Inc;2002. Available from: http:/ / www .link.spr inger .de/ link/ ser vice/ jour nals/ 002 66/ content s/ 02/ 4307/ paper / body html

12. Haraldson SJ. Nasal Fract ure. 2009. [updat ed 2009 Dec 16; cited 2011 Apr 2] Available from:ht tp:/ / w w w.emedicine.

medscape.com/ art icle/ 84829. over view

13. Kucik CJ, Clenneyt, Phelan J. Management of acut e Nasal Fr acture. Am Fam Physician; 2004: 1315-20 14. Var tanian AJ. Saddle Nose Rhinoplasty.2010.

[ updated 2010 Jun 30; cit ed 2011 August 4] Available fr om: http:/ / ww w. emedicine.medscape.com/

art icle/ 840910.over view

15. Menger Dirk J, Lohuis Pet er , Ker ssmaker s Stven, Trenit e GJN. Postoper atove management of nasal vestibular st enosis. Arch Facial Plast ic Sur gery; 2005 (7): 381-86

16. Egan KK, Kim DW. A Novel Int r anasal St ent for Funct ional Rhinoplasty and Nost ril St enosis. The Lar yngoscope; 2005: 903-9

17. Smith JE. Nasal Fr act ur e Imaging.2009.[updat ed 2009 Nov 23; cit ed 2011 Apr 2] Available from: http:/ / ww w. emedicine.medscape.com/ art icle/ 391803-overview

18. Courtney MJ, Rajapakse, Duncan, Morr y Sey. Nasal Fract ur e manipulat ion: a compar at ive Study a Gener al and local anaest hesia t echnique. Clinn Otolar yngol;2003:472-75

19. Renner GJ. Introduct ion to Rhinoplasty. In: B. Bailey, Head and Neck Sur gery-Otolar yngology, Philadelpia: JB Lipincott ;2000.p 2533-50

20. Most afapour Sam, Murakami C, Lar rabe W. Management of the Bony Nasal Vault. In: Facial Plast ic and Reconstr uct ive Sur gery. 2nd

edit ion.New York: Thieme; 2002. p. 402-6 21. Daniel RK. Rhinoplasty An At las of Sur gi cal

Technique. New Yor k: Springer ; 2004. p.23-52 22. Conrad K, Gillmann G. Refining Ost eotomy

Techniques in Rhinoplasty. The Jour nal of Otolar yngology. 1998(27): 1-9

23. Fer nandes SV. Complicat ion of Rhinoplasty.2010.[ updat ed 2010 Apr 26; cit ed 2011 Aug 4] Available fr om:ht tp:/ / ww w.emedicine.

Gambar

Gambar 2. Rontgen  os nasal lateral
Gambar 3. Tomografi komputer sinus paranasal  potongan aksial
Gambar 4. Foto pasien sebelum dan sesudah operasi
Gambar 6. Perangkat  vestibulum dengan lumen untuk  bernafas15
+2

Referensi

Dokumen terkait

Begitu juga mengenai amal jariahnya dan ilmu yang bermanfaat selama dua hal ini masih diamalkan oleh manusia yang masih hidup, maka si mayit selalu (kontinu) menerima juga

Secara makro, perkembangan Kabupaten Jayapura yang dilihat dari aspek ekonomi, sosial penduduk, dan infrastruktur memiliki kecenderungan yang positif, dimana jika

Penelitian yang dilakukan Sari (2010), senam lansia mempunyai pengaruh terhadap penurunan tingkat kecemasan pada lansia dimana sebelum dilakukan senam lansia 19 orang

Segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul“PENGARUH

213 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan 'Aisyiyah Bandung 214 Akademi Kebidanan Yayasan Husada Madani 215 Akademi Kebidanan Bina Husada Tangerang 216 Akademi Kebidanan Assyifa Tangerang

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur anatomi skeleton aksial meliputi vertebrae, karapaks dan plastron kura-kura brazil ( Trachemys scripta

Upaya-upaya yang dilakukan untuk dapat meningkatkan kinerja guru SD di Gugus III Pattimura Kecamatan Denpasar Selatan sebagai berikut (1) Melaksanakan supervisi

Jika data dari sistem transaksional khususnya data master akan di- load ke Data Warehouse sebagai Dimensional Table maka perlu perlakuan khusus dalam proses