FILSAFAT
PENDIDIKAN
MATEMATIKA
FILSAFAT PENDIDIKAN
Secara luas:
ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN
1. ESENSIALISME
Pendekatan pendidikan tradisional atau “Back to the Basic” Berupaya menanamkan kepada siswa hal-hal yang “esensial”
dari pengetahuan akademik dan perkembangan karakter. Dipopulerkan tahun 1930-an oleh William Bagley (Amerika
Serikat)
Aliran ini telah menjadi pendekatan pendidikan yang dominan di Amerika Serikat sejak permulaan sejarah Amerika Serikat. Pada awal abad ke-20, aliran ini dianggap terlalu kaku untuk
mempersiapkan siswa secara memadai untuk kehidupan dewasa.
Dengan peluncuran Sputnik tahun 1957 minat terhadap esensialisme hidup kembali.
Pada pendidik menekankan pengajaran sains alam,bukan ilmu-ilmu non-sains.
1. ESENSIALISME (LANJUTAN)
Menekankan agar keterampilan-keterampilan akademik
dan pengetahuan yg paling esensial atau mendasar diajarkan kepada semua siswa.
matematika, sains alam, sejarah, bahasa asing, dan
sastra membentuk fondasi dari kurikulum esensialis.
Para esensialis tidak menyukai mata pelajaran vokasional
(kejuruan, terkait profesi)
Siswa SD menerima pengajaran seperti menulis,
membaca, pengukuran, dan komputer.
Program-program esensialis adalah keras/ketat secara
akademik, baik pada siswa yang lambat maupun yg cepat.
Misalnya: hari sekolah yg lebih lama, tahun akademik
1. ESENSIALISME (LANJUTAN)
Guru dan administrator menentukan apa yg paling penting dipelajari siswa dan hanya sedikit penekanan pada minat siswa.
Guru-guru lebih fokus pada skor-skor tes sebagai alat evaluasi.
Para esensialis berharap bahwa siswa setelah meninggalkan sekolah, mereka akan memiliki tidak hanya keterampilan dasar dan
kumpulan pengetahuan yg luas, tetapi jg pikiran-pikiran praktis yg berdisiplin, yg
2. PROGRESIVISME
Tokoh yg berperan dalam keberhasilan progresivisme adalah John Dewey (1859-1952)
Dewey mendirikan the Laboratory School dan merintis gerakan pendidikan progresif yg
dimulai tahun 1920-an.
2. PROGRESIVISME (LANJUTAN)
Filsafat John Dewey (Akar-akar Progresivisme)
Dewey berpandangan bahwa satu kebenaran yg
konstan tentang alam semesta adalah eksistensi perubahan.
Perubahan dapat diarahkan oleh intelegensi manusia. Saat kita mengubah hubungan dengan lingkungan,
maka kita sendiri dijadikan berbeda oleh lingkungan.
Menurut Dewey: manusia adalah hewan-hewan sosial
Belajar dengan buku, tidak dapat mengantikan
belajar “melakukan” hal-hal sebenarnya.
Pengetahuan diperoleh dan diperluas saat kita
menerapkan pengalaman-pengalaman kita yg telah lalu untuk memecahkan permasalahan bermakna yang baru (gagasan epistemology Dewey)
Pendidikan adalah rekonstruksi pengalaman,
suatu kesempatan untuk menerapkan
pengalaman-pengalaman sebelumnya dalam cara-cara yang baru.
2. PROGRESIVISME (LANJUTAN)
Dewey mengemukakan lima langkah (berdasarkan metode ilmiah) untuk memecahkan permasalahan:
1. Menyadari masalah;
2. Mendefinisikan (merumuskan) masalah itu; 3. Mengajukan berbagai hipotesis untuk
memecahkannya;
4. Mengkaji konsekuensi-konsekuensi dari tiap hipotesis berdasarkan pengalaman yg telah lalu;
2. PROGRESIVISME (LANJUTAN)
Progresivisme di Sekolah-sekolah
Memusatkan kurikulum berdasarkan
pengalaman, minat, serta kemampuan siswa. Selain membaca buku teks, siswa harus
belajar melakukan (doing), misalkan praktek lapangan, dengan permainan, dll.
Menekankan kurikulum pada sains alam dan sosial.
2. PROGRESIVISME (LANJUTAN)
Mereka menolak keyakinan esensialis bahwa bidang studi tradisional adalah cocok untuk semua siswa, tanpa memperhatikan minat dan pengalaman pribadi.
Berupaya untuk menjadikan rumah, dunia kerja, dan sekolah dipadukan untuk
membangkitkan suatu pengalaman belajar yang menarik, bermanfaat, kontinu dan
3. PERENNIALISME
Perennial berarti “abadi”
filsafat yang berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal abadi.
Akar-akar perennialisme tertanam dalam filsafat Plato , Aristoteles dan St. Thomas Aquinas
pemikrian Aristoteles bahwa manusia itu
rasional.
3. PERENNIALISME (LANJUTAN)
Kaum perennalis secara umum dibagi 2 kelompok:
1. mereka yg mendukung pendekatan
pendidikan keagamaan yg diadopsi oleh St. Thomas Aquinas.
2. para pengikut pendekatan sekuler yg dirumuskan di Amerika abad ke-20 oleh Robert Hutchins dan Mortimer Adler, yang berpegang pada ide filosofis Plato dan
3. PERENNIALISME (LANJUTAN)
Aliran perennalis terutama berupaya untuk
membangun kemampuan bernalar dan memandang pelatihan dalam humanitas (humaniora) sangatlah esensial bagi perkembangan daya rasional.
Ada empat prinsip dari aliran ini :
- Kebenaran bersifat universal dan tidak tergantung pada tempat, waktu, dan orang;
- Pendidikan yang baik melibatkan pencarian pemahaman atas kebenaran;
- Kebenaran dapat ditemukan dalam karya-karya agung; dan
3. PERENNIALISME (LANJUTAN)
Kesamaan dengan Esensialisme
Bertujuan membangun kekuatan intelektual semua siswa dan
kualitas-kualitas moral.
Pembelajaran berpusat pada guru
Guru tidak membiarkan minat-minat atau pengalaman siswa secara
substansial menentukan apa yg mereka ajarkan.
Hanya menerima sedikit fleksibitas dalam kurikulum.
Para perennalis mendukung suatu kurikulum yang universal
berdasarkan pandangan bahwa semua manusia memiliki “nature” (fitrah, sifat, pembawaan, adanya) esensial yg sama: kita semua adalah “rational animal” (hewan yg berpikir)
Mereka berpandangan bahwa membiarkan siswa untuk mengambil
mata pelajaran vokasional (kejuruan) akan menjauhkan mereka dari kesempatan untuk sepenuhnya membangun daya-daya rasional.
Klaim Plato: Bila kita mengabaikan keterampilan bernalar
3. PERENNIALISME (LANJUTAN)
Perbedaan dengan Esensialisme
Penekanan Amerika yg sangat mencolok pada
nilai eksperimentasi ilmiah (sains) utk
memperoleh pengetahuan tercermin dalam esensialisme, tetapi tidak demikian dgn
perennialisme.
Perennalisme beranggap bahwa Esensialisme dan pandangannya bahwa Pengetahuan tumbuh terutama dari temuan empirik para ilmuan,
PERBEDAAN PERENNALISME
DENGAN ESENSIALISME
Esensialisme
Dunia nyata: dunia
fisik yg kita alami
dg indera kita
Perennalisme
Lebih terbuka pd
gagasan bahwa
bentuk spritual
universal yaitu
PERBEDAAN PERENNALISME DENGAN ESENSIALISME
(Hampir sama dengan progresivis)
Mengajarkan tentang proses menemukan kebenaran ilmiah
Menekankan agar tidak diajarkan informasi yg segera
menjadi usang
Menganjurkan agar mengajarkan tentang konsep-konsep
secara bermakna bagi siswa.
Mengkritik ketergantungan pada buku teks dan ceramah.
Penekanan pada seminar-seminar atau diskusi yang
dibimbing oleh guru, dimana para siswa terlibat dalam dialog-dialog atau inkuiri untuk membangun pemahaman yang kuat.
Merekomendasikan agar para siswa belajar secara langsung
4. EKSISTENSIALISME
Manusia adalah apa yang dia upayakan untuk dirinya
(prinsip pertama eksistensialisme)
Dirintis di Eropa pada abad ke-19.
Dikaitkan dengan pemikir-pemikir Soren Kierkegaard
(1813-1855) dan Friedrich Nietzsche (1811-1900)
Menjunjung tinggi individualisme
Formulasi dari eksistensialisme klasik dari Jean paul
Sartre bahwa “eksistensi mendahului esensi”- berarti bahwa tidak ada “nature” manusia yang bersifat
bawaan lahir dan universal.
Kita lahir dan ada, kemudian kita sendirilah yang
4. EKSISTENSIALISME
(LANJUTAN)
Eksistensialisme muncul dari penolakannya terhadap filsafat tradisional esensialisme. Berpandangan bahwa individu-individu
bertanggung jawab untuk menentukan sendiri apa yang “benar” atau “salah”, “indah”, atau “buruk”, dsb.
4. EKSISTENSIALISME
(LANJUTAN)
Penerapan dalam kelas:
Guru membantu siswa menentukan esensi mereka sendiri
dengan menghadapkan mereka pada berbagai jalur yg dapat mereka ambil dalam kehidupan dan menciptakan lingkungan sehingga mereka dapat bebas menentukan cara yg lebih mereka sukai.
Siswa diberikan kebebasan utk memilih mata pelajaran
mereka sendiri. (diberi pilihan yang luas).
Mata pelajaran humaniora biasanya diberikan penekanan
sangat besar.
Misalnya: pada peristiwa sejarah , para eksistensialis lebih
4. EKSISTENSIALISME
(LANJUTAN)
Matematika dan sains alam tidak diberi
penekanan yang besar karena mata pelajaran tersebut dianggap “dingin”, “kering”, dan
“objektif”, oleh karena itu kurang bermanfaat bagi kesadaran diri.
Belajar memiliki kecepatan dan arah sesuai
masing-masing individu, dan meliputi banyak kontak individu dengan guru, yg memiliki
hubungan yg terbuka dan jujur dengan tiap siswa.
Filsafat eksistensialisme lebih diterima pada
5. BEHAVIORISME
Eksistensialisme pendidikan didasarkan pada gagasan bahwa kita memiliki kehendak bebas untuk membentuk nature terdalam kita.
Manusia-manusia dibentuk sepenuhnya oleh lingkungan eksternal mereka, jika kita
mengubah lingkungannya maka kita akan mengubah pikirannya.
5. BEHAVIORISME (LANJUTAN)
Skinner (1904-1989) seorang profesor dari Harvard telah menjadi daya utama
penyebaran behaviorisme dalam kultur Amerika modern.
Skinner mengembangkan “Skinner Box” yg
5. BEHAVIORISME (LANJUTAN)
Satu-satunya realitas adalah dunia fisik yang kita
kenal melalui observasi ilmiah.
Manusia dan hewan dipandang sebagai kombinasi
materi kompleks yang hanya bertindak sebagai
respon bagi stimuli fisik yang timbul secara internal atau eksternal.
Kita belajar, misalnya untuk menghindari panas
berlebihan melalui impuls-impuls rasa sakit yang dikirimkan oleh saraf ke otak.
Misalnya, kita belajar hari ini karena tuntutan
kurikulum.
Fitrah kita tidaklah baik atau buruk, tetapi semata
IDEOLOGI-IDEOLOGI PENDIDIKAN
MATEMATIKA
Pandangan-pandangan Tradisional
PANDANGAN-PANDANGAN
TRADISIONAL
Menekankan skill-skill matematis yang khusus dan teridentifikasi dengan baik di
masing-masing tingkat kelas.
Standar kurikulum tersebut dibangun
selangkah demi selangkah, dan kemudian diabstraksi atau digeneralisasi dalam
matematika yang lebih tinggi.
Sebagian besar matematika di struktur secara hierarkis, dimana teknik-teknik yang lebih
PANDANGAN-PANDANGAN
TRADISIONAL
Metode pengajaran ceramah (expository), latihan dan praktek (drill and practice) Kerja berbasis kalkulator tidak boleh
ditekankan sampai skill-skill berhitung telah dibangun dengan kokoh.
PANDANGAN-PANDANGAN
REFORMASI
penalaran matematis adalah fokus utama
Menghargai siswa dalam menemukan pola-pola, membuat
hubungan-hubungan, berkomunikasi secara matematis, dan ikut serta dalam problem solving yang berakar pada kehidupan nyata, yang kontekstual, dan yang memiliki jawaban terbuka (
open-ended), mengurangi penekanan pada berhitung aritmatik yang rutin.
Metode-metode mengajar adalah metode penemuan
Para guru harus membimbing siswa untuk memecahkan masalah secara kooperatif dalam kelompok-kelompok juga secara individu. Penggunaan kalkulator dan teknologi komputer sedari dini
dipandang menguntungkan, dengan tujuan mengejar eksplorasi-eksplorasi dan proyek-proyek yang lebih maju yang tidak
terhambat oleh keterlambatan dalam perhitungan.
Gerakan atau reformasi untuk memperbaiki matematika di sekolah selalu terjadi dari waktu ke waktu.
Isi, metode pembelajaran, urutan pembelajaran, dan cara evaluasi
pembelajaran dimodifikasi, direformasi, dan direstrukturisasi.
Tiga faktor yang melandasi gerakan perubahan adalah:
a. Keberadaan dan perkembangan teori-teori
belajar,
b. Psikologi belajar,
DISKUSI
TUGAS KELOMPOK
Teori Belajar:
1. Teori Thorndike
2. Teori Ausubel
3. Teori Jean Piaget
4. Teori Vygotsky
5. Teori Jerome Bruner
6. Teori Van Hiele