• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filsafat pendidikan mat matika revisi ge

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Filsafat pendidikan mat matika revisi ge"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

FILSAFAT

PENDIDIKAN

MATEMATIKA

(2)

FILSAFAT PENDIDIKAN

 Secara luas:

(3)

ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN

1. ESENSIALISME

 Pendekatan pendidikan tradisional atau “Back to the Basic”  Berupaya menanamkan kepada siswa hal-hal yang “esensial”

dari pengetahuan akademik dan perkembangan karakter.  Dipopulerkan tahun 1930-an oleh William Bagley (Amerika

Serikat)

 Aliran ini telah menjadi pendekatan pendidikan yang dominan di Amerika Serikat sejak permulaan sejarah Amerika Serikat.  Pada awal abad ke-20, aliran ini dianggap terlalu kaku untuk

mempersiapkan siswa secara memadai untuk kehidupan dewasa.

 Dengan peluncuran Sputnik tahun 1957 minat terhadap esensialisme hidup kembali.

 Pada pendidik menekankan pengajaran sains alam,bukan ilmu-ilmu non-sains.

(4)

1. ESENSIALISME (LANJUTAN)

Menekankan agar keterampilan-keterampilan akademik

dan pengetahuan yg paling esensial atau mendasar diajarkan kepada semua siswa.

matematika, sains alam, sejarah, bahasa asing, dan

sastra membentuk fondasi dari kurikulum esensialis.

Para esensialis tidak menyukai mata pelajaran vokasional

(kejuruan, terkait profesi)

Siswa SD menerima pengajaran seperti menulis,

membaca, pengukuran, dan komputer.

Program-program esensialis adalah keras/ketat secara

akademik, baik pada siswa yang lambat maupun yg cepat.

Misalnya: hari sekolah yg lebih lama, tahun akademik

(5)

1. ESENSIALISME (LANJUTAN)

 Guru dan administrator menentukan apa yg paling penting dipelajari siswa dan hanya sedikit penekanan pada minat siswa.

 Guru-guru lebih fokus pada skor-skor tes sebagai alat evaluasi.

 Para esensialis berharap bahwa siswa setelah meninggalkan sekolah, mereka akan memiliki tidak hanya keterampilan dasar dan

kumpulan pengetahuan yg luas, tetapi jg pikiran-pikiran praktis yg berdisiplin, yg

(6)

2. PROGRESIVISME

 Tokoh yg berperan dalam keberhasilan progresivisme adalah John Dewey (1859-1952)

 Dewey mendirikan the Laboratory School dan merintis gerakan pendidikan progresif yg

dimulai tahun 1920-an.

(7)

2. PROGRESIVISME (LANJUTAN)

Filsafat John Dewey (Akar-akar Progresivisme)

Dewey berpandangan bahwa satu kebenaran yg

konstan tentang alam semesta adalah eksistensi perubahan.

Perubahan dapat diarahkan oleh intelegensi manusia. Saat kita mengubah hubungan dengan lingkungan,

maka kita sendiri dijadikan berbeda oleh lingkungan.

Menurut Dewey: manusia adalah hewan-hewan sosial

(8)

 Belajar dengan buku, tidak dapat mengantikan

belajar “melakukan” hal-hal sebenarnya.

 Pengetahuan diperoleh dan diperluas saat kita

menerapkan pengalaman-pengalaman kita yg telah lalu untuk memecahkan permasalahan bermakna yang baru (gagasan epistemology Dewey)

 Pendidikan adalah rekonstruksi pengalaman,

suatu kesempatan untuk menerapkan

pengalaman-pengalaman sebelumnya dalam cara-cara yang baru.

(9)

2. PROGRESIVISME (LANJUTAN)

 Dewey mengemukakan lima langkah (berdasarkan metode ilmiah) untuk memecahkan permasalahan:

1. Menyadari masalah;

2. Mendefinisikan (merumuskan) masalah itu; 3. Mengajukan berbagai hipotesis untuk

memecahkannya;

4. Mengkaji konsekuensi-konsekuensi dari tiap hipotesis berdasarkan pengalaman yg telah lalu;

(10)

2. PROGRESIVISME (LANJUTAN)

Progresivisme di Sekolah-sekolah

 Memusatkan kurikulum berdasarkan

pengalaman, minat, serta kemampuan siswa.  Selain membaca buku teks, siswa harus

belajar melakukan (doing), misalkan praktek lapangan, dengan permainan, dll.

 Menekankan kurikulum pada sains alam dan sosial.

(11)

2. PROGRESIVISME (LANJUTAN)

 Mereka menolak keyakinan esensialis bahwa bidang studi tradisional adalah cocok untuk semua siswa, tanpa memperhatikan minat dan pengalaman pribadi.

 Berupaya untuk menjadikan rumah, dunia kerja, dan sekolah dipadukan untuk

membangkitkan suatu pengalaman belajar yang menarik, bermanfaat, kontinu dan

(12)

3. PERENNIALISME

 Perennial berarti “abadi”

 filsafat yang berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal abadi.

 Akar-akar perennialisme tertanam dalam filsafat Plato , Aristoteles dan St. Thomas Aquinas

pemikrian Aristoteles bahwa manusia itu

rasional.

(13)

3. PERENNIALISME (LANJUTAN)

 Kaum perennalis secara umum dibagi 2 kelompok:

1. mereka yg mendukung pendekatan

pendidikan keagamaan yg diadopsi oleh St. Thomas Aquinas.

2. para pengikut pendekatan sekuler yg dirumuskan di Amerika abad ke-20 oleh Robert Hutchins dan Mortimer Adler, yang berpegang pada ide filosofis Plato dan

(14)

3. PERENNIALISME (LANJUTAN)

 Aliran perennalis terutama berupaya untuk

membangun kemampuan bernalar dan memandang pelatihan dalam humanitas (humaniora) sangatlah esensial bagi perkembangan daya rasional.

 Ada empat prinsip dari aliran ini :

- Kebenaran bersifat universal dan tidak tergantung pada tempat, waktu, dan orang;

- Pendidikan yang baik melibatkan pencarian pemahaman atas kebenaran;

- Kebenaran dapat ditemukan dalam karya-karya agung; dan

(15)

3. PERENNIALISME (LANJUTAN)

Kesamaan dengan Esensialisme

Bertujuan membangun kekuatan intelektual semua siswa dan

kualitas-kualitas moral.

Pembelajaran berpusat pada guru

Guru tidak membiarkan minat-minat atau pengalaman siswa secara

substansial menentukan apa yg mereka ajarkan.

Hanya menerima sedikit fleksibitas dalam kurikulum.

Para perennalis mendukung suatu kurikulum yang universal

berdasarkan pandangan bahwa semua manusia memiliki “nature” (fitrah, sifat, pembawaan, adanya) esensial yg sama: kita semua adalah “rational animal” (hewan yg berpikir)

Mereka berpandangan bahwa membiarkan siswa untuk mengambil

mata pelajaran vokasional (kejuruan) akan menjauhkan mereka dari kesempatan untuk sepenuhnya membangun daya-daya rasional.

Klaim Plato: Bila kita mengabaikan keterampilan bernalar

(16)

3. PERENNIALISME (LANJUTAN)

Perbedaan dengan Esensialisme

 Penekanan Amerika yg sangat mencolok pada

nilai eksperimentasi ilmiah (sains) utk

memperoleh pengetahuan tercermin dalam esensialisme, tetapi tidak demikian dgn

perennialisme.

 Perennalisme beranggap bahwa Esensialisme dan pandangannya bahwa Pengetahuan tumbuh terutama dari temuan empirik para ilmuan,

(17)

PERBEDAAN PERENNALISME

DENGAN ESENSIALISME

Esensialisme

Dunia nyata: dunia

fisik yg kita alami

dg indera kita

Perennalisme

Lebih terbuka pd

gagasan bahwa

bentuk spritual

universal yaitu

(18)

PERBEDAAN PERENNALISME DENGAN ESENSIALISME

(Hampir sama dengan progresivis)

Mengajarkan tentang proses menemukan kebenaran ilmiah

Menekankan agar tidak diajarkan informasi yg segera

menjadi usang

Menganjurkan agar mengajarkan tentang konsep-konsep

secara bermakna bagi siswa.

Mengkritik ketergantungan pada buku teks dan ceramah.

Penekanan pada seminar-seminar atau diskusi yang

dibimbing oleh guru, dimana para siswa terlibat dalam dialog-dialog atau inkuiri untuk membangun pemahaman yang kuat.

Merekomendasikan agar para siswa belajar secara langsung

(19)

4. EKSISTENSIALISME

Manusia adalah apa yang dia upayakan untuk dirinya

(prinsip pertama eksistensialisme)

Dirintis di Eropa pada abad ke-19.

Dikaitkan dengan pemikir-pemikir Soren Kierkegaard

(1813-1855) dan Friedrich Nietzsche (1811-1900)

Menjunjung tinggi individualisme

Formulasi dari eksistensialisme klasik dari Jean paul

Sartre bahwa “eksistensi mendahului esensi”- berarti bahwa tidak ada “nature” manusia yang bersifat

bawaan lahir dan universal.

Kita lahir dan ada, kemudian kita sendirilah yang

(20)

4. EKSISTENSIALISME

(LANJUTAN)

 Eksistensialisme muncul dari penolakannya terhadap filsafat tradisional esensialisme.  Berpandangan bahwa individu-individu

bertanggung jawab untuk menentukan sendiri apa yang “benar” atau “salah”, “indah”, atau “buruk”, dsb.

(21)

4. EKSISTENSIALISME

(LANJUTAN)

Penerapan dalam kelas:

 Guru membantu siswa menentukan esensi mereka sendiri

dengan menghadapkan mereka pada berbagai jalur yg dapat mereka ambil dalam kehidupan dan menciptakan lingkungan sehingga mereka dapat bebas menentukan cara yg lebih mereka sukai.

 Siswa diberikan kebebasan utk memilih mata pelajaran

mereka sendiri. (diberi pilihan yang luas).

 Mata pelajaran humaniora biasanya diberikan penekanan

sangat besar.

 Misalnya: pada peristiwa sejarah , para eksistensialis lebih

(22)

4. EKSISTENSIALISME

(LANJUTAN)

Matematika dan sains alam tidak diberi

penekanan yang besar karena mata pelajaran tersebut dianggap “dingin”, “kering”, dan

“objektif”, oleh karena itu kurang bermanfaat bagi kesadaran diri.

Belajar memiliki kecepatan dan arah sesuai

masing-masing individu, dan meliputi banyak kontak individu dengan guru, yg memiliki

hubungan yg terbuka dan jujur dengan tiap siswa.

Filsafat eksistensialisme lebih diterima pada

(23)

5. BEHAVIORISME

 Eksistensialisme pendidikan didasarkan pada gagasan bahwa kita memiliki kehendak bebas untuk membentuk nature terdalam kita.

 Manusia-manusia dibentuk sepenuhnya oleh lingkungan eksternal mereka, jika kita

mengubah lingkungannya maka kita akan mengubah pikirannya.

(24)

5. BEHAVIORISME (LANJUTAN)

 Skinner (1904-1989) seorang profesor dari Harvard telah menjadi daya utama

penyebaran behaviorisme dalam kultur Amerika modern.

 Skinner mengembangkan “Skinner Box” yg

(25)

5. BEHAVIORISME (LANJUTAN)

 Satu-satunya realitas adalah dunia fisik yang kita

kenal melalui observasi ilmiah.

 Manusia dan hewan dipandang sebagai kombinasi

materi kompleks yang hanya bertindak sebagai

respon bagi stimuli fisik yang timbul secara internal atau eksternal.

 Kita belajar, misalnya untuk menghindari panas

berlebihan melalui impuls-impuls rasa sakit yang dikirimkan oleh saraf ke otak.

 Misalnya, kita belajar hari ini karena tuntutan

kurikulum.

 Fitrah kita tidaklah baik atau buruk, tetapi semata

(26)

IDEOLOGI-IDEOLOGI PENDIDIKAN

MATEMATIKA

 Pandangan-pandangan Tradisional

(27)

PANDANGAN-PANDANGAN

TRADISIONAL

 Menekankan skill-skill matematis yang khusus dan teridentifikasi dengan baik di

masing-masing tingkat kelas.

 Standar kurikulum tersebut dibangun

selangkah demi selangkah, dan kemudian diabstraksi atau digeneralisasi dalam

matematika yang lebih tinggi.

 Sebagian besar matematika di struktur secara hierarkis, dimana teknik-teknik yang lebih

(28)

PANDANGAN-PANDANGAN

TRADISIONAL

 Metode pengajaran ceramah (expository), latihan dan praktek (drill and practice)  Kerja berbasis kalkulator tidak boleh

ditekankan sampai skill-skill berhitung telah dibangun dengan kokoh.

(29)

PANDANGAN-PANDANGAN

REFORMASI

penalaran matematis adalah fokus utama

Menghargai siswa dalam menemukan pola-pola, membuat

hubungan-hubungan, berkomunikasi secara matematis, dan ikut serta dalam problem solving yang berakar pada kehidupan nyata, yang kontekstual, dan yang memiliki jawaban terbuka (

open-ended), mengurangi penekanan pada berhitung aritmatik yang rutin.

Metode-metode mengajar adalah metode penemuan

Para guru harus membimbing siswa untuk memecahkan masalah secara kooperatif dalam kelompok-kelompok juga secara individu. Penggunaan kalkulator dan teknologi komputer sedari dini

dipandang menguntungkan, dengan tujuan mengejar eksplorasi-eksplorasi dan proyek-proyek yang lebih maju yang tidak

terhambat oleh keterlambatan dalam perhitungan.

(30)

 Gerakan atau reformasi untuk memperbaiki matematika di sekolah selalu terjadi dari waktu ke waktu.

 Isi, metode pembelajaran, urutan pembelajaran, dan cara evaluasi

pembelajaran dimodifikasi, direformasi, dan direstrukturisasi.

 Tiga faktor yang melandasi gerakan perubahan adalah:

a. Keberadaan dan perkembangan teori-teori

belajar,

b. Psikologi belajar,

(31)

DISKUSI

(32)
(33)

TUGAS KELOMPOK

Teori Belajar:

1. Teori Thorndike

2. Teori Ausubel

3. Teori Jean Piaget

4. Teori Vygotsky

5. Teori Jerome Bruner

6. Teori Van Hiele

Referensi

Dokumen terkait

- Hitunglah daya yang ditransmisikan oleh belt, jika puli yang berdiameter besar berputar dengan kecepatan 200 rpm dan tegangan maksimum yang diizinkan pada sabuk adalah 1

Jika kita ingin memiliki keseluruhan diri kita yang sejati, maka kita harus menjaga semua makhluk, karena mereka masing-masing adalah bagian dari diri kita sendiri.. Bukan

1) Menyiakan bahan dan peralatan yang akan digunakan. 2) Memasukan Sampel biji Sorgum kedalam cup plastik. 3) Memasukan larutan NaOH dengan dosis yang telah ditentukan. 4) Menunggu

Dalam beberapa kasus, menjadi social entrepreneur dalam konteks ini mengabdi sebagai volunteer atau amil lembaga zakat belumlah menjadi pilihan utama sebagian

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Urusan Ketahanan Pangan dan Urusan Kelautan dan Perikanan Tahun 2016 disusun sebagai salah satu bentuk

- Bahwa pada hari Sabtu tanggal tanggal 30 Januari 2016 sekira pukul 16.30 Wib ROY SILABAN berserta rombongan anggota IPK Medan Tuntungan setelah selesai

Dalam Biologi Sel (2011), pada kebanyakan tumbuhan dan hewan respirasi yang berlangsung adalah respirasi aerob, namun demikian dapat saja terjadi respirasi aerob

Sumenep terhadap akad dan produk al-Qardh al-Hasan, Rahn dan Hadiah di KSPPS BMT NU Jawa Timur di Gapura Sumenep ialah kiai dan tokoh yang memperbolehkan karena jelas