• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN KOTA SURAKARTA MENUJU KOTA LAY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEBIJAKAN KOTA SURAKARTA MENUJU KOTA LAY"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

A. JUDUL

KEBIJAKAN KOTA SURAKARTA MENUJU KOTA LAYAK ANAK DALAM PEMENUHAN KEADILAN RESTORATIF BAGI ANAK YANG BERHADAPAN HUKUM (ABH).

B. ABSTRAK

Kota Layak Anak (KLA) merupakan tujuan pembangunan Pemerintah Kota Surakarta yang berpihak pada pemenuhan dan perlindungan hak anak. Digagas sejak tahun 2008 dengan lahirnya berbagai produk aturan hukum dan kelembagaan. Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Surakarta (PTPAS) dan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) di 51 kelurahan sebagai wadah layanan anak yang berhadapan hukum (ABH), salah satunya. Penanganan ABH yang berkeadilan restoratif, sesuai Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA), diperlukan untuk mengindarkan dampak negative dari proses peradilan formal. Efektifitas kinerja PTPAS dan PPT Kelurahan diupayakan melalui peningkatan kapasitas personel dan sistem layanan yang saling integratif. ABH tidak hanya terselesaikan masalah hukumnya, namun juga akar masalah yang mendorongnya menjadidelinquency.

Kata kunci: anak berhadapan hukum, kota layak anak, keadilan restoratif, kebijakan.

C. PENDAHULUAN

Ratifikasi Konvensi Hak Anak tahun 1989 telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui Keppres Nomor 36 Tahun 1990. Tujuh tahun kemudian hadir Undang-undang Nomor 3 tahun 1997 tentang Peradilan Anak. Pengkhususan pengaturan bagi anak yang berhadapan dengan hukum telah menjadi kebutuhan. Setiap tahun jumlah anak yang melakukan pelanggaran hukum meningkat. Data dari Kementrian Hukum dan HAM RI tahun 2013, terdapat 123 anak Negara, 6 anak sipil, dan 3.305 anak pidana. Tahun 2012 terdapat 248 anak negara, 21 anak sipil, dan 3.388 anak pidana1. Setiap tahunnya terdapat kurang lebih 3.500 anak yang dihadapakan pada proses peradilan pidana di Indonesia.

Kasus yang banyak dilakukan anak adalah penganiayaan, pencurian, dan kekerasaan seksual. Hukuman pidana penjara masih banyak menghiasi vonis hakim bagi anak yang berkonflik dengan hukum. Anak kemudian ditempatkan di rumah penahanan atau lembaga pemasyarakatan sesuai wilayah hukum perkara. Dari 33

1

(2)

Kantor Wilayah Hukum dan HAM terdapat 415 rutan atau lapas. Propinsi Jawa Tengah terbanyak jumlah rutan dan lapasnya, yakni 43.

Pasal 17 Ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan setiap anak yang dirampaas kebebasaanya berhak untuk :

a. Mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa.

b. Memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efekti dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku, misalnya bimbingan social dari pekerja social, konsultasi dari psikiater atau psikolog, atau abntuan dari ahli bahasa. c. Membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang

obyektif dan tidak memihak dalam siding yang tertutup untuk umum.

Semangat isi pasal di atas sangat ideal, namun faktanya masih banyak anak pidana yang ditempatkan bersama dengan orang dewasa. Di Indonesia hanya terdapat 18 lapas khusus anak, dimana penghuni seluruhnya adalah anak. Jumlah lapas anak yang minim mengakibatkan banyak anak pidana ditempatkan di rutan atau lapas umum. Berinteraksi dengan orang dewasa setiap harinya memberi peluang besar bagi anak untuk menduplikasi perilaku negatif orang dewasa. Pasca menjalani vonis, anak pidana mengalami tantangan besar dari masyarakat, yakni stigma. Pelabelan sebagai anak nakal, mantan napi memberikan tekanan tersendiri bagi mereka. Fasilitas yang mendukung tumbuh kembang anak masih terbatas seperti perpustakaan, tidak ada pendidikan formal, tidak ada fasilitas rekreatif, sanitasi minim, hukuman tidak mendidik bagi pelanggaran2.

Karakteristik anak yang melakukan pelanggaran pidana adalah laki-laki daripada perempuan. Status ekonomi keluarga mereka minim. Pendapatan orang tua tidak menentu. Buruh bangunan, sopir, pekerja rumah tangga, buruh pabrik adalah gambaran pekerjaan orang tua mereka. Pendidikan anak pun banyak yang putus di tengah jalan. Kondisi inilah yang jamak ditemui pada anak yang berkonflik dengan hukum. Perilaku negative mereka tidak datang dengan tiba-tiba. Anak sebagai pribadi yang masih labil, sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan dan orang dewasa yang ada disekitarnya.

2

(3)

Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) disahkan dan mulai berlaku pada tanggal 31 Juli 2014. Norma hukum ini memberikan warna lain bagi proses peradilan anak yan berkonflik dengan hukum. Ada kenaikan batasan umur anak yang dapat bertanggungjawab secara pidana menjadi 12 tahun. Pada undang-undang sebelumnya, batasan umur anak yang dapat bertanggungjawab pidana adalah 8 tahun. UU Nomor 11 Tahun 2012, anak dapat dilakukan penahanan jika telah berumur 14 tahun. Angka 14 tahun pada anak berarti telah remaja dan dianggap lebih matang berpikir.

Ruang lingkup pengaturan UU SPPA mencakup penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum mulai dari tahap penyidikan hingga pembimbingan setelah menjalani hukuman pidana. Anak yang berhadapan dengan hukum terdiri dari anak yang berkonflik dengan hukum (AKH) atau pelaku, anak sebagai korban, dan saksi. Pergeseran paradigma pemidanaan hadir dalam UU SPPA ini. Keadilan retributive menekankan keadilan adalah pembalasaan. Anak hanya sebagai obyek. Sedangkan keadilan restitutif bertumpu pada penggantian kerugian. Keadilan restorative menjadi pilihan terbaik yang diadopsi dalam UU SPPA karena berfokus pada pemulihan. Kepentingan korban diperhatian serta AKH dan masyarakat turut terlibat dalam proses.

Pasal 1 Ayat (6) UU SPPA menyebutkan keadilan restorative adalah penyelesaian perkara tindak pidana pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terlait untuk terlibat bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula dan bukan pembalasaan. Anak sebagai pelaku diberikan kesempatan untuk partisipasi dalam pemulihan kerugian korban. Masyarakat juga turut berperan aktif mendukung upaya pemulihan ini.

(4)

yang diselesaikan dengan restorative justice, anak dalam situasi bencana, dan pekerjaan terburuk anak.

Tahun 2010 terdapat 17 anak dan 2011 terdapat 19 anak dari Kota Surakarta yang mendekam di Rutan Surakarta. Data tersebut berasal dari Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Surakarta (PTPAS) yang merupakan konsorsium terdiri dari pemerintah dan organisasi penyedia layanan bagi perempuan dan anak. PTPAS membelikan layanan holistic bagi anak yang berhadapan dengan hukum berupa pendampingan hukum, rehabilitasi fisik dan mental anak. Bapermas PPPA KB Kota Surakarta sebagai koordinator pelaksana PTPAS sejak tahun 2012 telah membentuk Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) sebagai tangan panjang PTPAS di 51 kelurahan. Harapannya PPT dapat berpartisipasi memberikan perlindungan bagi anak yang berhadapan dengan hukum berbasis masyarakat di Kota Surakarta. Keanggotaan PPT terdiri dari tokoh masyarakat dan perwakilan kelembagaan di masyarakat. Harapannya PPT dapat menjadi gerbang pertama dalam merespon permasalahan anak yang ada di lingkungan.

Hadirnya UU SPPA menjadi tantangan tersendiri bagi Kota Surakarta yang pada tahun 2015 akan menjadi Kota Layak Anak. Penghargaan nindya dalam tahapan KLA memberi kesempatan Pemkot Surakarta untuk meningkatkan kualitas layanannya kepada anak yang berkonflik denngan hukum agar mendapatkan keadilan restorative. Kepentingan terbaik bagi anak dan prinsip pemulihan menjadi pegangan dalam penyusunan kebijakan yang responsive hak anak.

D. RUMUSAN MASALAH

Gambaran di atas mewakili situasi yang ada di masyarakat. Berdasar uraian tersebut, penulis hendak menjawab permasalahan sebagai berikut:

Bagaimana kebijakan pemenuhan keadilan restoratif bagi anak yang berhadapan hukum (ABH) oleh Pemerintah Kota Surakarta dalam upaya menuju Kota Layak Anak (KLA)?

E. LANDASAN TEORI

(5)

Hukum mengabdi pada tujuan negara yang dalam pokoknya mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan rakyatnya3. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Subekti dalam bukunya C.S.T. Kansil merupakan pemikiran hubungan hukum dalam sebuah negara. Teori fungsi hukum dalam masyarakat dapat dilihat dari dua sisi yakni kemajuan masyarakat dalam berbagai bidang memnutuhkan aturan. Sisi kedua, hukum yang baik dapat mengembangkan masyarakat atau mengarahkan perkembangan masyarakat4.

Lawrence W. Friedman menyatakan bahwa perubahan hukum yang kemudian dapat mengubah suatu pandangan atau sikap dan kehidupan suatu masyarakat berasal dari berbagai stimulus sebagai berikut5:

a) Berbagai perubahan secara evolutif terhadap norma-norma dalam masyarakat. b) Kebutuhan dadakan dari masyarakat karena adanya keadaan khusus atau

keadaan darurat dalam ubungan dengan distribusi sumber daya atau hubungan dengan standar baru tentang keadilan.

c) Atas inspirasi keompok kecil masyarakat yang dapat melihat jauh ke depan, kemudian sedikit demi sedikit mempengaruhi pandangan dan cara hidup masyarakat.

d) Ada ketidakadilan secara tehnikal hukum yang meminta diubahnya hukum yang bersangkutan.

e) Ada ketidakkonsistenan dalam tubuh hukum yang juga meminta perubahan terhadap hukum tersebut.

f) Ada perkembangan pengetahuan dan teknologi yang memunculkan bentukan baru terhadap bidang hukum tertentu.

Fungsi hukum sebagai rekayasa sosial pertama kali dicetuskan oleh Roscoe Pound yang menyatakan law is a tool pf social engineering. Teori ini teramsuk dalam teori sosiologi jurisprudence yang mempelajari tentang pengaruh hukum terhadap masyarakat6. Berdasarkan teori tersebut, pemahaman hukum terhadap masyarakat ataupun masyarakat terhadap hukum dapat dilihat jelas posisinya. Roscoe Pound menyatakan lebih lanjut bahwa sociological jurisprudence ditujukan untuk memberi kemampuan bagi institusi hukum mempertimbangkan secara

3

C.S.T. Kansil. 1989.Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Hlm.41

4

H. Munir Fuady. 2003.Teori-teori Besar (Grand Theory) dalam Hukum.Jakarta: Kencana. Hlm.245

5

Ibid,hlm.289

6

(6)

menyeluruh juga cerdas mengenai fakta sosial yang disana hukum tersebut berproses dan diaplikasikan7.

Teori sociological jurisprudence dapat dijadikan dasar menilai berlakunya hukum di tengah masyarakat. Sisi efektivitasnya kekuatan berlakunya hukum mengarah pada kepatuhan hukum dan daya penagruh hukum dalam persepsi masyarakat adalah dua hal yang dilihat dalam hukum seabagai rekayasa sosial. Tujuan social engineering adalah membangun suatu struktur masyarakat sedemikian rupa sehingga secara maksimum dapat dicapai kepuasan akan kbutuhan dan seminimum mungkin terjadi benturan8.

Roscoe Pound sendiri mengembangkan daftar kepentingan yang wajib dilindungi oleh pranata hukum, yakni sebagai berikut9:

a) Kepentingan umum, yang teramsuk di dalamnya adalah kepentingan terhadapa negara sebagai suatu badan yuridis dan kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan sosial.

b) Kepentingan perorangan terdiri darikepentingan pribadi baik fisik, kebebasan, kemauan, kehormatan, kepercayaan, dan pendapat; hubungan domestic (orang tua, anak, suami atau istri); kepentingan substansi berupa hak milik, kontrak, pekerjaan, dan atau hubungan dengan orang lain.

c) Kepentingan sosial meliputi keamanan umum, keamanaan dari isntitusi sosial, moral umum, pengamanan sumber daya sosial, kemajuan sosial, dan kehidupan individual.

Tahapan yang diambil dalam social engineering bersifat sistematis dan dimulai dari identifikasi masalah samapai dengan mencari jalan pemecahannya. Perubahan hukum itu sendiri harus direncanakan dan merupakan sebuah kehendak bersama sehingga dapat berjalan sesuai harapan. Rincian tahapannya terurai demikian10:

a) Mengenal problem yang dihadapi seabaik-baiknya. Termasuk di dalamnya mengenali masyarakat yang hendak menajdi sasaran pengggarapan dengan seksama.

7

Philipe Nonet dan Philip Selznick. 2013.Hukum Responsif.Bandung: Nusa Media. Hal.83

8

Satjipto Raharjo. 2010.Sosiologi Hukum.Yogyakarta/: Genta Publishing. Hal. 304

9

Ibid, hal.305

10

(7)

b) Memahami nilai-nilai yang ada di masyarakat. Sesi ini harus menentukan sector mana yang akan dipilih karena masyarakat memiliki berbagai sector yang majemuk.

c) Membuat hipotesa dan memilih mana yang paling layak untuk dilaksanakan. d) Mengikuti jalannya penerapan hukum dan mengukur dampak-dampaknya

yang muncul.

2. Tinjauan Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan merupakan sebuah upaya untuk mencapai tujuan tertentu melalui sarana-sarana dalam urutan waktu tertentu11. Sebuah kebijakan tidak hanya dirumuskan kemudian diwujudkan dalam peraturan positif yang tidak dilaksanakan. Namun kebijakan memiliki keharusan untuk dilaksanakan agar memiliki dampak atau terwujud tujuan yang diharapakan sejak awal.

Proses implementasi kebijakan baru dapat dimulai jika tujuan awal kebijakan telah ditentukan. Program kerja yang akan dilaksanakan juga telah disusun dengan mata. Anggaran untuk implementai juga telah dialokasikan. Pengertian implementasi kebijakan dapat dipahami secara luas sebagai alat administrasi hukum dimana ebrbagai aktornya, organisasi, prosedur, dan teknik yang bekerja secara bersama-sama menjalankan kebijakan tersebut untuk meraih tujuan.

Teori Implementasi menurut Brian W. Hogwood dan Lewis A. Gun sebagaimana yang dikutip dari buku Solichin Abdul Wahab menyampaikan syarat-syarat untuk sebuah kebijakan negara agar dapat diimplementasikan dengan sempurna.

a) Kondisi eksternal yang dihadapai badan atau instansi pelaksana tidak akan mengalami gangguan atau kendala yang serius. Hambatan tersebut dapat besifat fisik, politis, atau sosial.

b) Tersedia cukup waktu dan sumber-sumber yang mencukupi untuk pelaksanaan program.

c) Sumber-sumber yang hendak dipadukan harus benar-benar tersedia. d) Kebijakan tersebut memiliki hubungan kausalitas yang handal.

e) Hubungan kasualitas bersifat langsung denan sedikit mata rantai penghubungnya.

11

(8)

f) Hubungan saling ketergantungannya kecil.

g) Pemahaman mendalam dan ada kesepakatan bersama mencapai tujuan. h) Tugas diperinci dan ditempatkan sesuai urutan yang tepat.

i) Komunikasi dan koordinasi yang sempurna.

j) Pihak yang memiliki kewenangan dan kekuasaan dapat menuntut dan mendapatkan kepatuhan yang sempurna.

Faktor pendukung implementasi kebijakan menurut George Edward III dalam bukunya Budi Winarno sebagai berikut12:

a) Komunikasi

Tiga hal utama dalam komunikasi yakni transmisi, konsistensi, dan kejelasan. Transmisi berupa kesadaran dari pejabat bahwa mengimplementasikan sebuah keputusan yang telah dibuat adalah keharusan. Kejelasan komunikasi harus ada, tidak hanya ketersediaan petunjuk pelaksanaan kebijakan. Konsistensi pelaksanaan kebijakan seiring dengan implementasinya yang efektif.

b) Sumber-sumber.

Sumber penting yang mendukung implementasi kebijakan adalah staf yang memadahi serta memiliki keahlian untuk melaksanakan tugas-tugasnya, wewenang, serta fasilitas penunang pelaksanaan pelayanan publik.

c) Kecenderungan-kecenderungan atau tingkah laku.

Kecenderungan dari pelaksana mempunyai konsekuensi vital dalam pelaksanaan sebuah kebijakan agar efektif. Jika perilaku pelaksana kebijakan prima dan baik maka tujuan awal adanya kebijakan dapat tercapai.

d) Struktur birokrasi.

Birokrasi merupakan struktur pelaksana kebijakan, baik yang pemerintah maupun badan swasta.

Buku yang sama juga menguraikan tentang factor pendukung implementasi kebijakan oleh Van Meter dan Horn, yakni13:

a) Ukuran dan tujuan kebijakan.

Tujuan dan sasaran implementasi program dalam sebuah kebijakan harus diidentifikasi dan terukur agar terhindarkan dari kegagalan.

b) Sumber kebijakan.

12

Budi Winarno, 2012.Kebijakan Publik Teori, Proses, dan Studi Kasus.Jakarta: PT Buku Seru. Hlm.126

13Ibid.

(9)

Mencakup dana atau perangsang lain yang mendorong dan mempelancar implementasi secara efektif.

c) Komunikasi anatr organisasi dan kegiatan pelaksanaan.

Ketepatan komunikasi antar organisasi pelaksana menunjang keefektifan imlementasi sebuah kebijakan.

d) Karakteristik badan pelaksana.

Memiliki kaitan erat dengan struktur birokrasi. Struktur birokrassi yang sehat dan baik akan mempengaruhi kesuksesan implementasi kebijkan.

e) Kondisi ekonomi, sosial , dan politik.

Mempengaruhi bdan pelaksana dalam pencapaian kebijakan tersebut. f) Kecenderungan para pelaksana.

Intensitas kecenderungan para pelaksana kebijakan mempengaruhi proses pelaksanaan kebijakan.

Kebijakan yang dibuat pemerintah tidak hanya ditujukan dan dilaksanakan untuk internal pemerintah semata. Seluruh masyarakat dan lingkungan sekitar juga mendapatkan dampaknya. Dorongan masyarakat untuk turut serta melaksanakan sebuah kebijakan dari masyarakat menurut James Anderson dikarenakan14:

a) Respek anggota masyarakat terhadap otoritas dan keputusan badan pemerintah.

b) Adanya kesadaran menerima kebijakan tersebut.

c) Ada keyakinan bahwa kebijakan tersebut dibuat secara sah dan konstitusional oleh para pejabat pemerintah yang berwenang sesuai prosedur hukum.

d) Sikap menerima dan melaksanakan kebijkan sesuai dengan kepentingan pribadinya.

e) Ada sanksi tertenu apabila tidak melaksanakan sebuah kebijakan.

Implementasi sebuah kebijakan pemerintah tak selamanya mulus tanpa rintangan. Hambatan yang kemungkinan muncul berasal dari factor-faktor sebagai berikut15:

a) Isi kebijakan.

Pertama, implementasi gagal karena masih samarnya isi kebijakan, maksud dan tujuannya kurang terperinci, tidak ada penerapan prioritas, program kebijakan terlalu umum. Kedua, kurangnya ketetapan intern maupun ekstern

14

Bambang Sunggono.Op.cit. hlm.144 15Ibid.

(10)

dari kebijakan yang akan dilaksanakan. Ketiga, kebijakan tersebut menunjukan kekurangan yang sanagt berarti. Empat, penyebab lainnya yang mempengaruhi kegagalan diakrenakan ada kekurangan menyangkut sumber dayapembantu misalnya waktu, biaya, dan manusia.

b) Informasi.

Implementasi kebijakan publik mengasumsikan bahwa para pemegang peran yang terlibat langsung memiliki informasi yang berkaitan dengan perannya. Informasi inilah yang justru tidak tersedia misalnya karena ada gangguan komunikasi.

c) Dukungan.

Kesulitan pelaksanan kebijakan muncul karera tidak didukung oleh para pelaksananya sejak awal.

d) Pembagian potensi.

Diferensiasi tugas dan wewenang organisasi yang tidak jelas berpotensi menimbulkan masalah dalam pelaksanaan. Aspek pembagian potensi diantara pelaku kebijakan yang tidak tegas dan tanggungjawab yang kurang disertai pembatasaan menghambat pelaksaan kebijakan.

Kebijakan publik akan menjadi efektif bilamana dilaksanakan dam mempunyai manfat positif bagi anggota masyarakat. Tindakan manusia sebagai bagian dari masyarakat harus sesuai denga napa yang dikehendaki pemerintah atau negara. Sehingga jika ada ketidaksesuaian maka suatu kebijakan menjadi tidak akan efektif. Peraturan perundangan merupakan salah satu sarana implementasi sebuah kebijakan publik. Berikut ini iadalah unsur yag harus dipenuhi agar suatu kebijakan dapat terlaksana dengan maksimal16:

a) Peraturan hukum atau kebijakan itu sendiri.

Terdapat kemungkinan adanya ketidakcocokan antara kebijakan dengan aturan hukum tidak tertulis atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat.

b) Mentalitas petugas yang menerapakan hukum.

Petugas penegak hukum mencakup hakim, jaksa, polisi dan sebagainya wajib memiliki mental yang positif dalam menerapkan aturan hukum. Kondisi yang sebaliknya mengakibatkan ketimbangan atau gangguan dalam pelaksanaan isi kebijakan.

16Ibid,

(11)

c) Fasilitas pendukung.

Sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan peraturan hukum atau kebijakan harus memadai sehingga pelaksanaannya dapat maksimal.

d) Warga masyarakat.

Sebagai obyek dari kebijakan perlu memiliki kesadaran hukum sebagaimana yang dikendaki undang-undang.

F. PEMBAHASAN

1. Sejarah Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia

Permasalahan anak dengan kenakalan setiap bulannya tak pernah absen menghiasi kolom surat kabar. Kenakalan yang memberi efek pertanggungjawaban pidana penjara tak jarang dilakukan mereka yang berusia kurang dari 18 tahun. Dua tahun terakhir, pemerintah gencar mengedukasi aparat penegak hukum dan masyarakat tentang sistem peradilan pidana anak yang baru. Prinsip perlindungan dan rehabilitasi diutamakan daripada penjeraan. Sejalan dengan trend yang ada, penulis tergelitik menelusuri sejarah hukum dari sistem peradilan pidana anak di Indonesia. Pembatasan pembahasaan yakni rentang tahun 1900 hingga sekarang.

Sejarah peradilan anak di Indonesia di awali dari kehadiran lembaga Pro Juventute tahun 1917. Lembaga ini digagas oleh para raja dan pemuda-pemuda di daerah. Karena pengaruhnya yang meluas maka Kerajaan Belanda memberikan pengakuan dan berganti nama menjadi Pra Yuwana.

Setelah kemerdekaan, para institusi penegak hukum termasuk Pra Yuwana membuat kebijakan yang menjadi dasar perumusan sistem peradailan pidana dikemudian hari. Yakni tahun 1954 telah terdapat hakim khusus mengadili perkara anak yakni Mr Maengkom, menurut Badan Pembinaan Hukum Nasional. Lima tahun berikutnya terdapat consensus anatara kepolisian, kejaksaan, kehakiman, dan Pra Yuwana mengenai pelaksanan pengadilan khusus untuk anak. Tindak lanjut dari konsensus tersebut lahirlah beberapa ketentuan sebagai berikut17:

1. SEMA nonor 3 Tahun 1959 mengenai ketentuan penetapan sidang anak yag tertutup untuk umum.

2. Kepolisian Negara juga menginstruksikan pembentukan Biro Anak-anak atau yang kemudian digubah menjadi Polisi Urusan Anak melalui Instruksi Menteri Kepolisian No.Pol. 17/Instruksi/1965 tanggal 23 Pebruari 1965.

17

(12)

Departemen Kehakiman melalui Direktorat Jendral Kepenjaraan mendirikan Bimbingan Pemasyarakatan (Bispa) tahun 1968 untuk turut andil dalam menangani anak-anak yang melanggar hukum. Bispa merupakan perubahan wajah dari Pra Yuwana setelah ada perubahan dari Sistem Kepenjaraan menjadi Sistem Pemasyarakatan kala Menteri Kehakiman Sahardjo18. Tujuan penempatan narapidan di penjara adalah sebagai upaya mempersiapkan mereka kembali kemasyarakat dengan perilaku yang lebih baik

Perkembangan global kala itu di dahului oleh PBB yang mencanangkan Tahun Anak pada 1979 sebagai wujud peringatan 20 tahun Deklarasi Hak Anak. PBB dan UNICEF menindaklanjuti dengan membentuk komite untuk merumuskan konvensi hak anak. Trend internasional tersebut di sambut pemerintah dengan positif, terlebih Indonesia merupakansebagai salah satu anggota PBB yang aktif dalam isu anak. Pemerintah meresponnya dengan mengeluarkan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak pada tanggal 23 Juli 1979. Sebagai pengingat akan pentingnya jaminan kehidupan bagi anak, maka tanggal 23 Juli di jadikan Hari Anak Nasional. Muatan undang-undang ini mengadopsi Deklarasi Hak Anak Internasional tahun 1959.

Hasil rumusan konvensi hak anak yang disusun sejak tahun 1979 kemudian diadopsi oleh PBB dan dideklarasikan pada tanggal 20 November 1989 dengan nama Convention on The Rights of The Children (CRC). Pasal 40 menekankan tugas negara terhadap anak yang berhadapan dengan hukum bahwa mereka memiliki hak atas perlakukan yang manusiawi dan menghargai martabatnya sebagai anak selama proses peradilan. Peningkatan perlindungan HAM bagi anak yang berada dalam sistem peradilan memiliki banyak konsekuensi lanjutan. Produk turunan dari CRC kemudian hadir untuk saling melegkapi. Misalnya UN Standart Minimum Rules for the Administratio of Juvenile Justice (The Beijing Rules)nomor 40/33 tanggal 29 November 1985, UN Rules for the Protection if Juveniles Deprived of their Liberty (Havana Rules) nomor 45/113 tanggal 14 Desember 1990, dan UN Guidelines for the Prevention of Juvenile Deliquency (The Riyadh Guidelines)nomor 45/112 tanggal 14 Desember 199019.

18

http://www.ditjenpas.go.id/sejarah. Diakses tanggal 22 Agustus 2014, pukul 10.25 WIB

19

(13)

Usaha peningkatan perhatian terhadap peradilan pidana anak kian menguat. Pemerintah mengajukan Rancangan Undang-undang Peradilan Anak melalui Amant Presiden Nomor R.12/PU/XII/1995. Selanjutnya DPR melakukan pembahasaan serta diskusi yang akhirnya mengesahkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak pada tanggal 3 Januari 1997. Sebelum undang-undang ini lahir, jumlah perkara dengan anak sebagai tersangka cukup tinggi. Tahun 1994 terdapat 9.442 kasus, tahun 1995 terdapat 5.234 kasus, dan 1996 terdapat 4.479 kasus (Data Susenas Badan Pusat Statistik tahun 2000).

Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia juga memberikan perhatian terhadap peradilan pidana anak. Bab X Pasal 66 menyampaikan sebagai berikut:

(1) Setiap anak berhak tidak dijadikan sasaran penganiayaan, penyiksaan,

atau penjatuhan hukuman yang tidak mausiawi.

(2) Hukuman mati atau seumur hidup tidak dapat dijatuhkan untuk pelaku

tindak pidana yang masih anak.

(3) Setiap anak berhak untuk tidak dirampas kebebasaanya secara

melawan hukum.

(4) Penangkapan, penahanan, atau pidana anka hanya boleh dilakukan

dengan huum yang berlaku da hanya dapat dilaksanakan secagai upaya terakhir.

(5) Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak mendapatkan

perlakuan secara manusiawi dan dengan memperhatikan kebutuhan

pengembangan pribadi sesuai degan usianya dan harus dipisahkan dari orang

dewasa, kecuali demi kepentingannya.

(6) Setiap anak yang dirampas kebebasaanya berhak memperoleh bantuan

hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum

yang berlaku.

(7) Setiap anak yang dirampas kebebasaanya berhak untuk membela diri

dan memperoleh keadilan di depan Pengadilan Anak yang obyektif dan tidak

memihak dalam siding yang tertutup untuk umum.

(14)

Perhatian publik tersita dengan kasus persidangan RJ yang berusia 7 tahun karena kasus perkelahian dengan temannya di Sumatera Utara. Proses persidangan diikuti upaya penahanan oleh hakim menimbulkan reaksi besar dari pemerhati anak. Mulai dari pelaporan hakim yang bersangkutan ke Komisi Yudisial hingga pengajuan uji materiil di Mahkamah Konstitusi tentang batasan usia anak yang dapat dipidanakan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Putusan MK Nomor 1/PUU-VIII/2010 menaikan batasan minimal umur anak yakni 12 tahun yang dapat melakukan pertanggungjawaban pidana.

Kasus RJ mampu mendorong laju pembahasan revisi Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 yang sekian tahun mangkrak di badan legislative. Perlindungan bagi anak yang berhadapan hukum dianggap tidak terlalu vital jika dibandingkan peraturan tentang investasi atau pertambangan. Pembahasaan revisi UU Pengadilan Anak tidak mengalami kemajuan berarti. Perkembangan masyarakat menghendaki ada suatu sistem perlindungan anak berhadapan hukum yang komprehensif dengan mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Kasus kekerasaan dan dampak prisonisasi pada anak mendatangkan kerugian luar biasa. Anak mengulangi perbuatan pidana karena mengadopsi perilaku negative dari orang dewasa di dalam penjara. Pemenjaraan tidak terbukti efektif memperbaiki perilaku anak.

Kembali publik terhenyak dengan kasus di Palu pada pertengahan tahun 2011, kasus anak ‘mencuri’ sandal milik seorang polisi. Hukuman penjara

mengancam sang anak yang masi berusia 15 tahun. Masyarakat membutuhkan rasa keadilan yang tidak hanya menyentuh korban, namun juga pelaku (anak), dan masyarakat sendiri. Pemulihan dari kerugian atas perbuatan criminal diberikan kepada korban dan masyarakat. Sanksi yang mengedepankan pertanggungjawaban bukan penjeraan lebih tepat bagi anak.

Stigma melekat kuat pada ABH yang telah melalui proses hukum formal. Mereka mengalami official designation yang dapat dilihat dalam fakta birokrasi atau aspek keperdataan. Seumur hidup mereka akan memiliki catatan criminal dalam Surat Keterangan Kelakuan Baik (SKKB) dari kepolisian. Padahal jamak salah satu persyaratan kerja harus mencantumkan SKKB. Unofficial designation

(15)

kehadiran anak yang pernah bermasalah hukum20. Sanksi diluar proses peradilan kerap terasa lebih menyakiti rasa keadilan dan HAM bagi anak-anak tersebut.

Pada tahun 2012 lahirlah Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dalam Lembaran Negara Nomor 153. Tim penyusun berhasil memasukan prinsip keadilan restorative adopsi dari Beijing Rules yang dipercayai lebih baik daripada undang-undang sebelumnya. Beijing Rules atau UN Standart Minimum Rules for the Administratio of Juvenile Justice (The Beijing

Rules) nomor 40/33 mengenalkan tentang konsep keadilan restorative dan proses diversi yang wajib diupayakan pada semua tingkatan proses hukum.

2. Keadilan Restoratif Bagi Anak yang Berkonflik dengan Hukum

Anak adalah mereka yang berusia kurang dari 18 tahun, termasuk yang berada di daam kandungan, sebagaimana bunyi Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak selalu berinteraksi dengan orang dewasa yang ada disekitarnya. Beragam pengaruh lingkungan keluarga, pendidikan, dan sosial anak mempengaruhi pada perilakunya.

Kecenderungan polah tingkah anak yang terekam dalam saluran pemberitaan baik cetak maupun elektroni menunjukan peningkatan kenakalan anak dan beragam modusnya. Pasal 1 ayat (2) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak UU SPPA), memberi pengertian anak yang berhadapan dengan hukum (children in conflict with the law), adalah sebagai berikut :

“Anak yang Berhadapan dengan Hukum adalah Anak yang berkonflik

dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi

saksi tindak pidana”.

Romli Atmasasmita dalam buku Wagiati Soetodjo, menguraikan motivasi intrinsik dan ekstrinsik dari kenakalan anak adalah sebagai berikut21:

a) Yang termasuk motivasi intrinsik dari pada kenakalan anak-anak adalah : 1) Faktor intelegentia;

2) Faktor usia; 3) Faktor kelamin;

20

YesmilAnwar. 2009.Saat Menuai Kejahatan, Sebuah Pendekatan Sosiokultural Kriminologi, Hukum, dan HAM.Bandung: Refika Aditama. Hlm.308

21

(16)

4) Faktor kedudukan anak dalam keluarga. b) Yang termasuk motivasi ekstrinsik adalah :

1) aktor rumah tangga;

2) Faktor pendidikan dan sekolah; 3) Faktor pergaulan anak;

4) Faktor mass media.

Berbagai faktor tersebut memungkinkan bagi anak untuk melakukan kenakalan dan tindakan criminal. Akibat dari tindakan tersebut, mereka terpaksa berhadapan dengan hukum dan sistem peradilan. Upaya perlindungan bagi mereka tak sebatas yang terdapat dalam UU SPPA. Sistem peradilan ini harus dimaknai lebih luas karena juga menyentuh pada akar masalah kenakalan anak serta pencegahannya. Lebih jauh, ruang lingkup sistem peradilan pidana anak mencakup banyak ragam dan kompleksitas isu mulai dari anak melakukan kontak pertama dengan penyidik polisi, proses peradilan, kondisi tahanan, dan reintegrasi sosial, termasuk pelaku-pelaku dalam proses tersebut. Istilah sistem peradilan pidana anak merujuk pada legislasi, norma dan standar, prosedur, mekanisme dan ketentuan, institusi dan badan yang secara khusus diterapkan terhadap anak yang melakukan tindak pidana22.

Pelaksanaan peraturan pidana anak yakni UU SPPA, memerlukan seperangkan asas yang harus dipatuhi oleh pemerintah khususnya aparat penegak hukum dan semua warga masyarakat. Asas yang dimaksud adalah sebagai berikut23:

a) Perlindungan.

Melindungi dan mengayomi anak berhadapan hukum agar masa depannya terjamin. Anak tetap berhak atas pembinaan untuk membangunnya sebagai manusia berpribadi positif.

b) Keadilan.

Setiap proses penyelesaian perkara harus mencerminkan rasa keadilan bagi anak. Penghindaran anak dari proses hukum formal dalam upaya menyelamatkan anak dari stigmanisasi dari lingkungan sosial. Teori stigma

22

Anna Volz. 2009.Anak yang Berhadapan dengan Hukum dalam Perspektif Hukum Hak Asasi Manusia Internasional.Jakarta: Yayasan Pemantau Hak Anak. Hlm.1

23

(17)

and seriousness menyampaikan bahwa apa yang serius bagi masyarkat maka akan menjadi stigma yang lebih tinggi bagi orang yang melakukannya24. c) Non diskriminasi.

Tidak adanya perlakuan yang berbeda berdasarkan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, budaya, kondisi fisik atau mental.

d) Kepentingan terbaik bagi anak.

Tindakan dan pengambilan keputusan terhadap anak menempatkan kepentingan terbaik anak sebagai petimbangan yang utama.

e) Penghargaan terhadap pendapat anak.

Kebebasaan anak menyampaikan isi pikiran, ide, gagasan, dan harapannya dalam pengembangan kreativitas dan daya nalarnya.

f) Kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak.

Merupakan hak asasi yang paling mendasar dan dilindungi oleh negara. g) Pembinaan dan bimbingan bagi anak.

Peningkatan kualitas ketakwaan anak, intelektual, sikap, dan perilakunya melalu berbagai upaya sehingga terbangun pribagi yang lebih baik.

h) Proporsional.

Perlakuan terhadapa anak harus memperhatikan batas umur dan kondisinya. Anak berhadapan hukum berhak menerima bantuan hukum dan perlakuan yang seimbang serta manusiawi. Prosedur hukum dijalankan memiliki potensi menghasilkan perilaku tidak proporsional dari aparat penegak hukum. Namun perinsip keadilan tidak dapat dikesampingkan.

i) Perampasan kemerdekaan dan pemidanaan sebagai upaya terakhir.

Anak tidak dapat dirampas kemerdekaannya kecuali terpaksa dan merupakan upaya terakhir dalam upaya penyelesaian perkara.

j) Penghindaran pembalasan.

Menjauhkan upaya atau motif pembalasan dalam proses peradilan pidana diemaban oleh semua pihak.

UU SPPA telah mengatur tentang upaya diversi yang berfungsi agar anak yang berhadapan dengan hukum tidak terstigmatisasi akibat proses peradilan yang harus dijalaninya. Hal ini sesuai dengan yang tercantum dalam Resolusi PBB

24

(18)

tentang UN Standard Minimum Rules for the Administration of Juvenile Justice, (Beijing Rule) Rule 125:

“Diversion, involving removal from criminal justice processing, and

frequently redirection to community support services, is commonly practiced on a

formal and informal basis in many legal system. This practice serves to hinder the

negative effects of subsequent proceedings in juvenile justice administration (for

example the stigma of conviction and sentence). In many cases, non intervention

would be the best response. This diversion at the out set and without referral to

alternative (social) services may be the optimal response. This is especially the

case where the offence is of a non-serious nature and where the family, the school

r other informal social control institutions have already reacted, or are likely to

react, in an appropriate and constructive manner”

Konsep Diversi pertama kali dikemukakan sebagai kosakata pada laporan peradilan anak yang disampakan Presiden Komisi Pidana (president’s crime commissionis) Australia di Amerika Serikat pada tahun 1960. Awalnya konsep diversi telah ada sebelum tahun 1960 ditandai berdirinya peradilan anak (children’s court) sebelum abad ke-19 yaitu diversi dari sistem peradilan pidana formal dan formalisasi polisi untuk melakukan peringatan (police cautioning). Prakteknya telah berjalan di negara bagian Victoria-Australia pada tahun 1959 diikuti oleh negara bagian Queensland tahun 1963.

Pelaksanaan diversi dilatarbelakangi keinginan menghindari efek negatif terhadap jiwa dan perkembangan anak oleh keterlibatannya dengan sistem peradilan pidana. Pelaksanaan diversi oleh aparat penegak hukum didasari oleh kewenangan aparat penegak hukum yang disebut discretion atau dalam bahasa Indonesia diskresi. Dengan penerapan konsep diversi bentuk peradilan formal yang ada selama ini lebih mengutamakan usaha memberikan perlindungan bagi anak dari tindakan pemenjaraan. Selain itu terlihat bahwa perlindungan anak dengan kebijakan diversi dapat dilakukan di semua tingkat peradilan mulai dari masyarakat sebelum terjadinya tindak pidana dengan melakukan pencegahan.Setelah itu jika ada anak yang melakukan pelanggaran maka tidak perlu diproses ke polisi.

Diversi merupakan salah satu sarana memberikan keadilan restorative bagi anak, keadilan yang bersifat memulihkan. Sebelum UU SPPA, konsep pemidanaan

25

(19)

lebih mengedepankan retributive paradigm dimana keinginan publik untuk memidanakan anak sebagai wujud pembalasan sangat kuat. Sanksi pidana penjara memberikan permasalahan baru bagi delinquency seperti kemerosotan pengendalian diri, stigma berlebihan terhadap mereka, muncul ketidakpercayaan lingkungan. Peralihan menujurestorative paradigmmenjadi pilihan bijak.

Tujuan utama keadilan restorative adalah perbaikan atau penggantian kerugian yang diderita korban, adanya pengakuan dari pelaku terhadap luka yang dialami masyarakat karena perbuatannya. Proses rekonsiliasi annatara korban, pelaku, dan masyarakat menjadi utama. Ketiga pihak tersebut bekerjasama memperbaiki kehidupan bermasyarakat yang telah tercederai.

Posisi korban kerap terabaikan dalam sistem peradilan pidana karena telah terwakili oleh jaksa. Pasal yang dituntutkan jaksa kepada pelaku kerapkali tidak mampu menghapus kerugian yang dia alami. Tindak pidana sejatinya tidak hanya memberi dampak pada korban, namun masyarakat juga sebagai elemen terdampak tidak langsung. Keresahan masyarakat, rasa was-was, timbul saling tidak percaya, merupakan wujud perilaku sosial sebagai respon tindak criminal yang terjadi disekitarnya.

Muladi mengungkapkan cirri-ciri keadilan restorative sebagai berikut26: a) Kejahatan dirumuskan sebagai pelanggaran seseorang terhadap orang lain

dan dipandang sebagai konflik.

b) Fokus perhatian pada pemecahan masalah pertanggungjawaban da kewajiban untuk masa mendatang.

c) Sifat normative diangun atas dasar dialog dan negosiasi.

d) Restitusi sebagai sarana para pihak, rekonsiliasi dan restorasi merupakan tujuan utama.

e) Keadilan dirumuskan seabagai hubungan antar hak dan dinilai atas dasar hasil.

f) Fokus perhatian terarah pada perbaikan luka sosial akibat kejahatan. g) Masyarakat merupakan fasilitator di dalam proses restorative.

h) Peran korban dan oelaku diakui dalam penentuan masalah dan penyelesaiannya. Pelaku didorong untuk bertanggungjawab.

26

(20)

i) Pertanggungjawaban pelaku dirumuskan sebagai dampak atas perbuatannya dan diarahkan untuk memutuskan yang terbaik.

j) Tindak pidana dipahami dalam konteks menyeluruh yakni moral, sosial, dan ekonomis.

k) Stigma dapat dihapus melalui restorative.

Keadilan restorative bukan hal baru dalam kehidupan bermasayrakt. Sejak dahulu telah berkembang metode penyelesaian permasalahan yang menggunakan pendekatan pemulihan dengan cara konvensional. Semangat musyawarah atau

rembug adalah budaya local yang memberikan ruang para pihak (korban dan pelaku) serat masayarakat mengambil peran seimbang dalam selesaikan masalah.

Pasal 1 angka 6 UU SPPA menyebutkan keadilan restorative sebagai penyelesaian tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pada pemulihan kembali pada keadaan semula dan bukan pembalasan.

3. Surakarta Menuju Kota Layak Anak

Sejak 2006, pemerintah mencanangkan program Indonesia Layak Anak (IDOLA) merujuk pada desain global dari UNICEF dan UNHABITAT yakni child friendly cities. Program serupa dilakukan di lebih dari 100 negara di dunia. Standar pemenuhan sebuah kota disebut layak anak (KLA) terdiri dari 31 indikator yang merujuk pada isi Konvensi Hak Anak. Indikator tersebut terdiri dari 5 kluster sesuai hak dasar anak sesuai Peraturan Meneg PPPA Nomor 11 Tahun 2012, yakni

1. Hak sipil dan kebebasan;

2. Kesehatan dan kesejahteraan dasar,

3. Pendidikan, waktu luang, dan kegiatan budaya; 4. Keluarga dan pengasuhan alternatif;

5. Perlindungan khusus.

(21)

se-nusantara. Penilaian KLA tak lepas dari kesediaan data ABH dan penanganan anak yang integratif.

Kebijakan program KLA tidak hanya ditingkat pusat, namun lebih mendorong kabupaten/kota dan propinsi ikut menciptakan pembangunan yang peduli pada hak, kebutuhan, dan kepentingan anak. Sinergitas program agar lebih maksimal diwujudkan dengan melekatkan isu anak pada kementrian yang ada. Tahun 2009 dirubahlah Kementrian Pemberdayaan Perempuan menjadi Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan menteri pertamanya adalah Linda Amalia Sari27.

Penghormatan hak anak oleh pemerintah kabupaten/kota dapat dilakukan melalui beberapa cara yang direkomendasikan oleh UNICEF Innocent Research Center28sebagai berikut:

a. Menyediakan akses pelayanan kesehatan, pendidikan air bersih, sanitasi yang sehat dan bebas pencemaran.

b) Menyediakan kebijakan dan anggaran khusus untuk anak.

c) Menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman sehingga memungkinkan anak dapat berkembang, berekreasi, belajar, berinteraksi sosial, dan melakukan ekspresi budayanya.

d) Keseimbangan di bidang sosialm ekonomi, dan terlindungi dari pengaruh kerusakan lingkungan dan bencana alam.

e) Memberikan perhatian khusus kepada anak yang tinggal dann bekerja di jalan, eksploitasi seksual, hidup dengan kecacatan atau tanpa dukungan orang tua. f) Menyediakan wadah bagi anak untuk berperan serta dalam pengambilan

keputsan yang berpengaruh langsung pada kehidupan mereka.

Thomas R. Dye menjelaskan bahwa sebuah kebijakan publik dapat berate segala sesuatu yang dilakukan maupun yang tidak dilakukan oleh pemerintah. Keduanya memiliki alasan dan akibat tertentu yang dirasakan oleh masyarakat sebagai obyek dari kebijakan. Upaya penyediaan kebijakan berupa aturan hukum merupakan elemen dasar dari implementasi program KLA. Kota Surakarta telah

27

http://menegpp.go.id/v2/index.php/tentangkami/kelembagaan/sejarah. Diakses tanggal 23 Agustus 2014 pukul 12.20 WIB.

28

(22)

menggagas konsep kota layak anak sejak tahun 2006. Beragam kebijakan hadir untuk mendukung upaya tersebut seperti29:

a) Surat Keputusan Walikota Surakarta Nomor 130.05/08/I/2008 tanggal 5 Pebruari 2008 tentang Tim Pelaksana Pengembangan Kota LAyak Anak (KLA) Kota Surakarta.

b) Surat Keputusan Walikota Surakarta Nomor 462/74-A/I/2006 tanggal 21 Maret 2006 tentang Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Surakarta (PTPAS). Diperbaharui melalui Surat Keputusan Walikota Surakarta Nomor 462.05/84-A/I/2010 tentang PTPAS.

c) Nota Kesepahaman Nomor 453/108 Tahun 2010 dalam rangka pengembangan Kota Surakarta sebagai Kota Layak Anak. MoU ini ditandantangani oleh pemerintah, muspika, ormas, LSM, dan lembaga kemasayrakatan lainnya.

d) Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak

Seperangkat kebijakan pemerintah memuat perlindungan dan pemenuhan terhadap anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus, salah satunya anak yang berhadapan dengan hukum. Mereka pribadi yang masih labil dan terjerumus pada situasi kemiskinan serta pola pengasuhan yang kurang tepat. Kadangkala mereka pun tidak merasakan sebagai individu yang bermasalah dan tidak berusaha menaru perawatan. Lingkungan dan institusi sosial yang berada disekitar anak-lah yang membentuk anak menjadi demikian.

Lingkungan yang protektif bagi anak dapat digambarkan seperti lingkaran bertingkat. Dimulai dari lingkungan terdekatnya yakni keluarga inti kemudian kerabat atau keluarga luar (extended family).Tingkat berikutnya adalah lingkungan masyarakat dimana anak berinteraksi misalnya lingkungan pendidikan atau sosial. Pemerintahan dimulai dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan, dan berjenjang hingg atingkat pusat. Legistlatif memiliki pengaruh juga melalui produk kebijakan yang dikeluarkannya.

Aturan hukum sebagai upaya perlindungan ABH dalam kerangka KLA perlu ditinjau menggunakan konsep bekerjanya hukum menurut Lawrence M. Friedman yang dikenal denganthree element of legal system30:

29

Bappeda Kota Surakarta. 2013.Percepatan Aksi Kota Layak Anak Kota Surakarta.Hlm.6

30

(23)

a) Struktur hukum.

Kelembagaan yang diciptakan sistem hukum dengan beragam fungsi dalam rangka mendukung bekerjanya sistem tersebut. Misalnya eksekutif, legislative, atau yudikatif.

b) Substansi.

Output dari sebuah sistem hukum yang berwujud peraturan, keputusan yang dapat digunakan oleh pihak yang mengatur maupun yang diatur.

c) Kultural Hukum.

Terdiri dari nilai dan sikap yang mempengaruhi bekerjanya hukum. Kultur hukum merupakan jembatan penghubung antara peraturan dengan tingkah laku hukum dari warga masyarakat.

Kebijakan progam KLA bagi ABH memperhatikan perkembangan peraturan di tingkat nasional, yakni Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA). Semangat keadilan restorative yang bersifat memulihkan menjadi inti dari pelaksanaan perlindungan anak yang konflik dengan hukum. Bukan lagi pembalasan namun mendorong pelaku anak untuk bertanggungjawab sesuai usia dan kemampuannya.

Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Surakarta (PTPAS) adalah konsorsium yang terdiri dari pemerintah, institusi penegak hukum, rumah sakit, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). Lembaga yang bergabung dalam nota kesepahaman berjumlah 48 dan terdiri dari divisi pendidikan publik, rehabilitasi dan layanan, rujukan, serta data informasi. Koordinator PTPAS berada di bawah BAPERMAS PP PA & KB Kota Surakarta.

Kasus kriminalitas anak menjadi wilayah garapan PTPAS juga mengingat perspektif perlindungan anak bahwa anak dalam situasi khusus harus dilihat sebagai korban. Setiap tahunnya tidak kurang dari 20 kasus anak melakukan kenakalan di wilayah hukum Polresta Surakarta. Fakta tersebut mendorong pemerintah untuk mengembangkan keberadaan PTPAS ditingkat kelurahan dengan nama Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) sejak 2012.

(24)

Mengatasi problem ABH tidak hanya bertumpu pada norma hukum. Dibutuhkan struktur yang terdiri dari kelembagaan dan pejabat sebagai pelaksana tugas yang memiliki perspektif yang sama mengenai perlindungan anak. Prinsip nondiskriminasi dan kepentingan terbaik bagi anak menjadi tuntutan dalam merumuskan sebuah kebijakan.

Pendirian PPT tidak diikuti dengan penguatan struktur yang ada didalamnya mengakibatkan fungsi layanan tidak optimal. Kelembagaan PPT terdiri dari unsur pemerintah dan organisasi kemasyarakat di kelurahan setempat. Kapastitas personel yang tergabung dalam PPT dalam penanganan delinquency perlu mendapatkan dukungan dari pemerintah.

UU SPPA memberikan legalitas terhadap upaya diversi yang berkeadilan restorative. Kebijakan ini memberikan peluang penyelewengan prosedur dikarenakan ketidakpahaman masyarakat (PPT) dalam proses pendampingan ABH. Budaya hukum di masyarakat yang cenderung memenjarakan anak masih kuat terpelihara. Sehingga jumlah anak yang harus mendekam di sel kantor polisi belum mengalami penurunan dengan adanya PPT atau PTPAS.

PPT adalah ujung tombak upaya penyelamatan masa depan ABH. Mereka berada di lingkungan yang terdekat dengan anak sehingga (diharapkan) mengetahui dengan jelas akar masalah anak. Partisipasi aktif PPT dalam proses diversi merupakan hakikat tugasnya sebagai perwakilan dari masyarakat. Usulan intervensi dalam proses mencari penyelesaian terbaik bagi perkara anak diharapakan berimbang. Nilai edukasi dan perikemanusiaan masuk dalam rumusan bentuk pertanggungjawaban anak sebagai pelaku. Kepentingan korban dan masyarakat sebagai pihak yang dirugikan juga terakomodir.

G. KESIMPULAN DAN SARAN

(25)

yang melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban dan masyarakat diarahkan menuju proses pemulihan penderitaan semua pihak. Masyarakat aktif melakukan respon terhadap kasus delinquency dengan mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.

Kebijakan perlindungan terhadap anak berkonflik dengan hukum atau anak sebagai pelaku tindak criminal tidak dapat dilakukan setengah hati. Anak sebagai individu yang belum mandiri dan labil sangat rentan mengalami ketidakadilan. Pemerintah berkewajiban memberikan perlindungan khusus melalui kebijakan-kebijakan afirmatif. Sehingga deliquent dapat terentaskan dari akar masalah yang menyelebungi dan mendorongnya berbuat kriminalitas. Pemerintah membangun program yang terintegratif antar Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) karena permasalahan anak tidak dapat diselesaikan menggunakan satu pendekatan saja. Pejabat pemerintah harus menghindarkan sikap egosektoral karena akan menghambat program KLA.

Dukungan anggaran daerah untuk anak tidak semata pembangunan fisik namun mengupayakan menyentuh akar masalah dari ABH. Sehingga dibutuhkan

baseline data untuk dapat menyusun perencanaan program yang solutif dan sesuai kebutuhan masyarakat. Program perlindungan anak yang dijalankan tidak lepas dari proses pemantauan dan evaluasi. Tujuannya untuk mengukur tingkat keberhasilan program dan sarana deteksi dini keefektifitasan program.

(26)

H. DAFTAR PUSTAKA

Abintoro Prakoso. 2013.Pembaruan Sistem Peradilan Pidana Anak. Yogyakarta: Laksbang Grafika.

Anna Volz. 2009.Anak yang Berhadapan dengan Hukum dalam Perspektif Hukum Hak Asasi Manusia Internasional.Jakarta: Yayasan Pemantau Hak Anak. Bambang Sunggono. 1997.Hukum dan Kebijakan Publik.Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada.

Bappeda Kota Surakarta. 2013.Percepatan Aksi Kota Layak Anak Kota Surakarta.

Budi Winarno, 2012.Kebijakan Publik Teori, Proses, dan Studi Kasus.Jakarta: PT Buku Seru.

C.S.T. Kansil. 1989.Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Esmi Wirasih Puji Rahayu. 2005.Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis.

Semarang: Suryandaru Utama.

H. Abdul Manan. 2009.Aspek-aspe Perubahan Hukum.Jakarta: Kencana. H. Munir Fuady. 2003.Teori-teori Besar (Grand Theory) dalam Hukum.Jakarta:

Kencana.

Innocenti Digest. 2002.Poverty and Exclusion Among Urban Children. Florence– Italy: UNICEF Innocenti Research Centre. Edisi 2. Bulan November 2002. Muladi. 1995.Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana.Semarang: B.P.

Universitas Diponegoro.

Nandang Sambas. 2013.Peradilan Pidana Anak di Indonesia dan Instrumen Internasional Perlindungan Anak serta Penerapannya.Yogyakarta: Graha Ilmu.

Philipe Nonet dan Philip Selznick. 2013.Hukum Responsif.Bandung: Nusa Media.

Sasmini, Diana Tantri Cahyaningsih, dan Erna Diah Kusumawati. 2013.

Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Anak yang Berhadapan dengan Hukum yang Dititipkan di Rumah Tahanan Negada dan Lembaga Pemasyarakatan. Belum terpublikasi.

Satjipto Raharjo. 2010.Sosiologi Hukum.Yogyakarta/: Genta Publishing. Wagiati Soetodjo.2006.Hukum Pidana Anak. Bandung: PT Refika Aditama. YesmilAnwar. 2009.Saat Menuai Kejahatan, Sebuah Pendekatan Sosiokultural

Kriminologi, Hukum, dan HAM.Bandung: Refika Aditama. Hlm.308

http://www.ditjenpas.go.id/sejarah. Diakses tanggal 22 Agustus 2014, pukul 10.25 WIB

http://menegpp.go.id/v2/index.php/tentangkami/kelembagaan/sejarah. Diakses tanggal 23 Agustus 2014 pukul 12.20 WIB.

Referensi

Dokumen terkait

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK PADA MATA DIKLAT SISTEM KONTROL TERPROGRAM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA..

Latar belakang penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penilaian prestasi kerja yang terdiri dari aspek-aspek yang dinilai, penilai, metode penilaian dan umpan

Utilization of Waste Defatted Rice Bran in Formulation of Functional Cookies and Its Effect on Physicochemical Characteristic of Cookies, International Journal of Advanced

Menurut (Hayati,2005), penelitian sebelumnya yang menyatakan berdasarkan uji organoleptik yang dilakukan pada percobaan pendahuluan, biskuit yang dibuat dengan

Data penelitian berupa penggalan kalimat dan dialog yang mengandung konsep bushido pada tokoh Momotaro, Kintaro, dan Urashimataro dalam cerita rakyat Jepang

Pengenalan akan berbagai macam model disiplin spiritual kepada pendeta GKJW dalam program Khalwat tersebut diharapkan dapat menemukan disiplin spiritual yang cocok

maupun IOC (International Oil Company). Kompetensi inti Elnusa meliputi jasa seismik, jasa pemboran dan jasa pemeliharaan lapangan migas. Ketiganya merupakan tulang

Sedangkan, pada Gambar 7.2(b) menunjukan untuk RGB adalah 2298 atau 2.99% dengan hasil secara keseluruhan ditunjukan oleh Gambar 7.1, dimana peningkatan yang signifikan