• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Faktor Penyebab Kemiskinan dan (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Faktor Penyebab Kemiskinan dan (1)"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Analisis Faktor Penyebab Kemiskinan dan Kriminalitas (Studi Kasus: Kampung Stren Kali Jagir Kota Surabaya)

sebagai tugas dari mata kuliah Ekonomi Kota. Makalah ini berisi deskripsi tentang pengertian kemiskinan dan kriminalitas, faktor penyebab kemiskinan dan kriminalitas di perkotaan, serta bagaimana implikasi kemiskinan dan kriminalitas terhadap ekonomi kota.

Penulis berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu dalam proses penyusunan dan penyelesaian makalah ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada dosen mata kuliah Ekonomi Kota Dr Ir. Eko Budi Santoso. Lic. Rer.Reg Dan Velly Kukinul Siswanto, ST. M.Sc. yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini.

Demikian makalah ini yang kiranya masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat memberikan masukan informasi serta wacana yang bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya.

Surabaya, 27 Mei 2015

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ··· i

DAFTAR ISI ··· ii

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ··· 1

1.2 Rumusan Masalah ··· 2

1.3 Tujuan ··· 2

1.4 Sistematika Penulisan··· 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kemiskinan ··· 3

2.2 Kriminalitas ··· 6

BAB III. PEMBAHASAN 3.1 Gambaran Umum ··· 11

3.2 Metode Penelitian ··· 16

3.3 Analisis Faktor dan Penyebab Kemiskinan dan Kriminalitas ··· 17

3.4 Dampak ··· 22

3.5 Konsep Penanganan ··· 26

BAB IV. PENUTUP 4.1 Kesimpulan ··· 30

4,2 Saran ··· 30

DAFTAR PUSTAKA ··· 31

LAMPIRAN PERTAMA ··· 32

(4)

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan sebuah kota sangat erat kaitannya dengan jumlah penduduk yang hidup dan tinggal di kota tersebut (Sjafrizal, 2012). Perkembangan suatu kota juga dipengaruhi oleh adanya urbanisasi yang sudah terjadi sejak era revolusi industri. Masyarakat banyak yang memutuskan pindah dari desa ke kota untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun arus urbanisasi seringkali memberikan konsukuensi, salah satunya memicu adanya kemiskinan dan kriminalitas.

Menurut Schiller (1979) kemiskinan dalam suatu kota merupakan ketidaksanggupan untuk mendapatkan barang dan pelayanan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sosial yang terbatas. Kemiskinan menyebabkan ketidakmampuan dalam memenuhi standar kebutuhan hidup di kota, keterbatasan dalam sumberdaya maupun aset , serta keterbatasan akses untuk mendapatkan pelayanan dasar seperti perumahan, pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan formal . Kemiskinan memicu suatu kelompok atau individu hidup serba terbatas, sehingga mendorong sebagian dari mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan segala cara. Hal inilah yang memicu terjadinya kriminalitas (Kompas).

Kriminalitas adalah Segala sesuatu perbuatan manusia yang melanggar aturan-aturan, norma, bahkan hukum atau sebuah tindak kejahatan yang membuat resah banyak orang. Kemiskinan diyakini dan diperlakukan sebagai anteseden atau bahkan determinan perilaku jahat Sebenarnya, yang menjadi masalah dalam kriminalitas adalah adalah kesenjangan, bukan kemiskinan.

(5)

1.2 Rumusan Masalah

Dari pembahasan latar belakang yang mendasari pembuatan makalah ini, maka rumusan masalah yang akan menjadi landasan pembuatan makalah ini adalah:

 Apa yang menyebabkan terjadinya fenomena kemiskinan/kriminalitas di Kota Surabaya?

 Bagaimana proses terjadinya kemiskinan/kriminalitas berdasarkan studi kasus di Kota Surabaya?

 Bagaimana cara yang paling tepat dalam meberikan jalan penyelesaian dari fenomena kemiskinan/kriminalitas berdasarkan studi kasus di kota Surabaya?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

 Mengetahui bagaimana proses terjadinya fenomena kemiskinan/kriminalitas di Kota Surabaya berdasarkan studi kasus

 Menganalisa penyebab dari fenomena kemiskinan/kriminalitas di Kota Surabaya berdasarkan studi kasus

 Mampu memberikan rekomendasi atas fenomena kemiskinan/kriminalitas di Kota Surabaya berdasarkan studi kasus

1.4 Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan: berisi latar belakang penulisan makalah, rumusan permasalahan, tujuan, serta sistematika penulisan makalah

Bab II Tinjauan Pustaka, berisi tentang tinjauan dari literature-literatur terkait yang membahas tentang fenomena kemiskinan/kriminalitas dalam suatu kota

Bab III Pembahasan, berisi pembahasan hasil studi kasus di kota Surabaya yang menelaah fenomena kemiskinan/kriminalitas

(6)

BAB II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kemiskinan

2.1.1 Pengertian Kemiskinan

Menurut Badan Pusat Statistik, kemiskinan adalah ketidakmampuan memenuhi standar minimum kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan makan maupun non makan. Bappenas (2004) mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi di mana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar masyarakat desa antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun bagi laki-laki

Pada dasarnya kemiskinan dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu: a. Kemiskinan absolut

Kemiskinan yang dikaitkan dengan perkiraan tingkat pendapatan dan kebutuhan yang hanya dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum yang memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak. Dengan demikian kemiskinan diukur dengan membandingkan tingkat pendapatan orang dengan tingkat pendapatan yang dibutuhkan untuk memperoleh kebutuhan dasarnya yakni makanan, pakaian dan perumahan agar dapat menjamin kelangsungan hidupnya. Bank dunia mendefinisikan kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan di bawah USD $1/hari dan kemiskinan menengah untuk pendapatan di bawah $2/hari. Sementara itu Deklarasi Copenhagen menjelaskan kemiskinan absolut sebagai sebuah kondisi yang dicirikan dengan kekurangan parah pada kebutuhan dasar manusia, termasuk makanan, air minum yang aman, fasilitas sanitasi, kesehatan, rumah, pendidikan, dan informasi

b. Kemiskinan relatif

(7)

Menurut Todaro (1997) menyatakan bahwa variasi kemiskinan di negara berkembang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

 Perbedaan geografis, jumlah penduduk dan tingkat pendapatan,

 Perbedaan sejarah, sebagian dijajah oleh negara yang berlainan,

 Perbedaan kekayaan sumber daya alam dan kualitas sumber daya manusianya,

 Perbedaan peranan sektor swasta dan negara,

 Perbedaan struktur industri,

 Perbedaan derajat ketergantungan pada kekuatan ekonomi dan politik negara lain

 Perbedaan pembagian kekuasaan, struktur politik dan kelembagaan dalam negeri. Sedangkan menurut Jhingan (2000), mengemukakan tiga ciri utama negara berkembang yang menjadi penyebab dan sekaligus akibat yang saling terkait pada kemiskinan. Pertama, prasarana dan sarana pendidikan yang tidak memadai sehingga menyebabkan tingginya jumlah penduduk buta huruf dan tidak memiliki ketrampilan ataupun keahlian. Ciri kedua, sarana kesehatan dan pola konsumsi buruk sehingga hanya sebahagian kecil penduduk yang bisa menjadi tenaga kerja produktif dan yang ketiga adalah penduduk terkonsentrasi di sektor pertanian dan pertambangan dengan metode produksi yang telah usang dan ketinggalan zaman.

2.1.2 Faktor Kemiskinan

Berikut merupakan faktor-faktor penyebab kemiskinan menurut Kuncoro (2000: 107): 1. Secara makro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan timpang, penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah yang terbatas dan kualitasnya rendah. 2. Kemiskinan muncul akibat perbedaan kualitas sumber daya manusia karena kualitas

sumber daya manusia rendah yang berarti produktivitas juga rendah, upahnya pun rendah. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini karena rendahnya pendidikan, nasib yang kurang beruntung, adanya diskriminasi atau karena keturunan.

3. Kemiskinan muncul sebab perbedaan akses dan modal.

(8)

Gambar 2. 1 Lingkaran Kemiskinan Dari Segi Pasar Modal Sumber : Google

Negara berkembang sampai kini masih saja memiliki ciri-ciri utama sulitnya mengelola pasar dalam negerinya menjadi pasar persaingan yang lebih sempurna. Ketika mereka tidak dapat mengelola pembangunan ekonomi, maka kecenderungan kekurangan kapital dapat terjadi, diikuti dengan rendahnya produktivitas, turunnya pendapatan riil, rendahnya tabungan, dan investasi mengalami penurunan sehingga mengakibatkan keadaan kurangnya modal. Demikian seterusnya, berputar. Oleh karena itu, setiap usaha dalam memerangi kemiskinan seharusnya diarahkan untuk memotong lingkaran dan perangkap kemiskinan ini.

Selain dijelaskan dengan faktor pasar, lingkaran setan atau penyebab timbulnya kemiskinan juga dapat dijelaskan seperti gambar di bawah ini.

(9)

Dari gambar diatas menjelaskan bahwa terjadinya kemiskinan dapat menimbulkan suatu siklus, dimana faktor adanya kurang gizi, menurunnya kesehatan, produktivitas rendah dan pendapatan rendah dapat mempengaruhi kemiskinan begitu pula sebaliknya. Hal ini dapat dianalogikan yaitu ketika manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dapat mengakibatkan manusia kekurangan gizi. Dengan gizi yang kurang berpengaruh terhadap kesehatannya sehingga produktivitas dan pendapatan menjadi rendah, inilah yang nantinya menimbulkan kemiskinan ataupun sebaliknya. Siklus ini akan terus berulang sampai salah satu rantainya terputus, misalnya dengan peningkatan kesehatan manusia.

Sementara itu Robert Chambers (1987) berpendapat bahwa inti dari masalah kemiskinan sebenarnya terletakada apa yg disebut deprivation trap atau perangkap kemiskinan. Secara rinci, deprivation trap terdiri dari lima unsur yaitu:

1. Kemiskinan itu sendiri 2. Kelemahan fisik

3. Keterasingan atau kadar isolasi 4. Kerentanan

5. Ketidakberdayaan

Kelima faktor diatas dapat dijelaskan bahwa lilitan kemiskinan hilangnya hak atau kekayaan disebabkan oleh desakan kebutuhan yang melampaui ambang batas kekuatannya. Misalnya pengeluaran yang sudah diperhitungkan sebelumnya, namun jumlahnya sangat besar atau tiba-tiba dihadapkan pada krisis yang hebat. Lazimnya kebutuhan yang mendorong sesorang yang terlilit kemiskinan berkaitan dengan lima hal yaitu kewajiban adat, musibah, ketidak mampuan fisik, pengeluaran tidak produktif dan pemerasan.

Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa faktor penyebab terjadinya kemiskinan adalah adanya faktor internal berupa kebutuhan yang segera harus terpenuhi namun tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam berusaha mengelola sumber daya yang dimiliki (keterampilan tidak memadai, tingkat pendidikan yang minim dan lain-lain). Faktor ekstemal berupa bencana alam seperti halnya krisis ekonomi ini, serta tidak adanya pemihakan berupa kebijakan yang memberikan kesempatan dan peluang bagi masyarakat miskin.

2.2 Kriminalitas

2.2.1 Pengertian Kriminalitas

(10)

Tindakan kriminal umumnya dilihat bertentangan dengan norma hukum, norma sosial dan norma agama yang berlaku di masyarakat. Bentuk-bentuk tindak kriminal seperti: a. Pencurian ; Pencuri berasal dari kata dasar curi yang berarti sembunyi-sembunyi atau diam-diam dan pencuri adalah orang yang melakukan kejahatan pencurian. Dengan demikian pengertian pencurian adalah orang yang mengambil milik orang lain secara sembunyi-sembunyi atau diam-diam dengan jalan yang tidak sah. (Poerwardarminta, 1984:217)

b. Tindak asusila ; Asusila adalah perbuatan atau tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma atau kaidah kesopanan yang saat ini banyak mengintai kaum wanita c. Pencopetan ; Pencopetan memiliki pengertian yaitu kegiatan negatif mencuri barang

berupa uang dalam saku, dompet, tas, handpone dan lainnya milik orang lain atau bukan haknya dengan cepat, tangkas dan tidak diketahui oleh korban maupun orang di sekitarnya

d. Penjambretan ; Penjambretan merupakan perbuatan atau tindakan negatif dengan merampas harta berharga milik orang lain secara paksa sehingga menimbulkan kerugian materi bagi korban.

e. Penodongan dengan senjata tajam/api ; Bentuk kriminal merupakan perampasan harta benda milik korban dilakukan dengan mengancam dengan melakukan penodongan senjata api sehingga korban yang mengalami ketakutan menyerahkan harta benda miliknya.

f. Pembunuhan ; Pembunuhan adalah perbuatan yang menghilangkan atau mencabut nyawa seseorang. Pengertian pembunuhan seperti ini dimaknai bahwa perbuatan pidana pembunuhan tidak diklasifikasi apakah dilakukan dengan sengaja, atau tidak sengaja dan atau semi sengaja. (Wahbah Zuhali, 1989: 217).

g. Penipuan ; Penipuan adalah tindakan seseorang dengan tipu muslihat, rangkaian kebohongan, nama palsu dan keadaan palsu dengan maksud menguntungkan diri sendiri dengan tiada hak. Rangkaian kebohongan ialah susunan kalimat-kalimat bohong yang tersusun demikian rupa yang merupakan cerita sesuatu yang seakan-akan benar. (R. Sugandhi, 1980 : 396).

(11)

2.2.2 Faktor Penyebab Kriminalitas

Faktor Penyebab Tindakan Kriminalitas Sebagai kenyataannya bahwa manusia dalam pergaulan hidupnya sering terdapat penyimpangan terhadap norma-norma, terutama norma hukum. Di dalam pergaulan manusia bersama, penyimpangan hukum ini disebut sebagai kejahatan atau kriminalitas. Dan kriminalitas itu sendiri merupakan masalah sosial yang berada di tengah-tengah masyarakat, dimana tindak kriminalitas tersebut mempunyai faktor-faktor penyebab yang mempegaruhi terjadinya kriminalitas tersebut.

Menurut Andi Hamzah (1986:64), faktor penyebab kriminalitas dikelompokan menjadi faktor dari dalam diri pelaku dan faktor dari luar diri prilaku.

1. Kriminalitas terjadi karena faktor dari dalam diri pelaku sendiri. maksudnya bahwa yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan sebuah kejahatan itu timbul dari dalam diri si pelaku itu sendiri yang didasari oleh faktor keturunan dan kejiwaan (penyakit jiwa). Faktor-faktor dari dalam tersebut antaralain:

a. Faktor Biologik secara Genothype dan Phenotype Stephen Hurwitz (1986:36) menyatakan perbedaan antara kedua tipe tersebut bahwa Genotype ialah warisan sesungguhnya, Phenotype ialah pembawaan yang berkembang. Sekalipun sutu gen tunggal diwariskan dengan cara demikian hingga nampak keluar, namun masih mungkin adanya gen tersebut tidak dirasakan. Perkembangan suatu gen tunggal adakalanya tergantung dari lain-lain gen, teristimewanya bagi sifat-sifat mental. Di samping itu, nampaknya keluar sesuatu gen, tergantung pula dari pengaruh-pengaruh luar terhadap organism yang telah 22 atau belum lahir. Apa yang diteruskan seseorang sebagai pewarisan kepada genrasi yang berikutnya semata-mata tergantung dari genotype. Apa yang tampaknya keluar olehnya, adalah phenotype yaitu hasil dari pembawaan yang diwaris dari orang tuanya dengan pengaruh-pengaruh dari luar.

b. Faktor Pembawaan criminal Stephen Hurwitz (1986:39) setiap orang yang melakukan kejahatan mempunyai sifat jahat pembawaan, karena selalu adainteraksi antara pembawaan dan lingkungan. Akan tetapi hendaknya jangan member cap sifat jahat pembawaan itu, kecuali bila tampak sebagai kemampuan untuk melakukan susuatu kejahatan tanpa adanya kondisi-kondisi luar yang istimewa dan luar biasa. Dengan kata lain, harus ada keseimbangan antara pembawaan dan kejahatan

(12)

2. Pendapat bahwa kriminalitas itu disebabkan karena pengaruh yang terdapat di luar diri pelaku. Maksudnya adalah bahwa yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan sebuah kejahatan itu timbul dari luar diri si pelaku itu sendiri. 23 Faktor-faktor dari luar tersebut antaralain:

a. Faktor Lingkungan Lingkungan merupakan faktor yang potensial yaitu mengandung suatu kemungkinan untuk memberi pengaruh dan terujudnya kemungkinan tindak kriminal tergantung dari susunan (kombinasi) pembawaan dan lingkungan baik lingkungan stationnair (tetap) maupun lingkungan temporair (sementara). Menurut Kinberg (dalam Stephen Hurwitz, 1986:38) menyatakan bahwa pengaruh lingkungan yang dahulu sedikit banyak ada dalam kepribadian seseorang sekarang. Dalam batas-batas tertentu kebalikannya juga benar, yaitu lingkungan yang telah mengelilingi seseorang untuk sesuatu waktu tertentu mengandung pengaruh pribadinya. Faktor-faktor dinamik yang bekerja dan saling mempengaruhi adalah baik factor pembawaan maupun lingkungan.

b. Kemiskinan Kemiskinan menjadi salah satu faktor penyebab dari tindak kriminalitas karena pasalnya dengan hidup dalam keterbatasaan maupun kekurangan akan mempersulit seseorang memenuhi kebutuhan hidupnya baik dari segi kebutuhan sandang (pakaian), pangan (makanan), papan (tempat tinggal) sehingga untuk memenuhi segala kebutuhan tersebut seseorang melakukan berbagai cara guna memenuhi kebutuhan hidupnya termasuk dengan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum.

c. Pendidikan Pendidikan adalah salah satu modal sosial seseorang dalam pencapaian kesejahteraan. Dimana dengan pendidikan, syarat pekerjaan dapat terpenuhi. 24 Dengan demikian seseorang yang mempunyai penghasilan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari segi ekonomis. Sehingga apabila seseorang memiliki pendidikan yang rendah hal tersebut dapat mendorong seseoang untuk melakukan tindakan kriminal.

(13)
(14)

BAB III. PEMBAHASAN

3.1 Gambaran Umum 3.1.1 Lokasi Studi

Kampung stren Kali Jagir berada di wilayah administrasi Kelurahan Ngagel Rejo, Surabaya. Morfologi kampung ini membentuk koridor sepanjang ±1 Km dengan luas wilayah 1,23 Ha. Adapun batas lokasi studi Kampung stren Kali Jagir antara lain:

 Sebelah Utara : PDAM Provinsi Jawa Timur

 Sebelah Selatan : Kali Jagir

 Sebelah Barat : Pintu air Kali Jagir

 Sebelah Timur : Kelurahan Barata Jaya

Kampung Stren Kali Jagir memilki ketinggian tanah 7 meter dari permukaan air laut. Adapun banyaknya curah hujan yang dimiliki yaitu 279 mm/tahun. Sedangkan topografi kampung ini digolongkan kedalam topografi rendah dengan suhu udara rata-rata antara 230C hingga 340C. Untuk melihat batas lokasi studi Kampung stren Kali Jagir, dapat dilihat pada Peta 3.1 .

Gambar 3.1 Lokasi Studi Kasus

(15)

3.1.2 Jumlah Penduduk

Data kependudukkan Kampung stren Kali Jagir tidak tercatat di dalam Laporan Data Monografi Kelurahan Ngagel Rejo, karena kampung ini merupakan sebuah kampung tempat berdirinya permukiman kumuh illegal. Namun ketua paguyuban dari Kampung stren Kali Jagir, Pak Warsito selalu melakukan pendataan penduduk setidaknya dua tahun sekali. Dari sinilah diperoleh data jumlah penduduk Kampung stren Kali Jagir. Walaupun pendataan data kependudukan yang dilakukan tidaklah spesifik, yaitu hanya menghitung jumlah KK atau Kepala Keluarga yang berada di Kampung Stren Kali Jagir, ketua Paguyuban melakukan pendataan penduduk pada tahun 2009, lalu melakukan pendataan lagi pada tahun 2013. Dari pendataan tersebut diperoleh data sebagai berikut :

Dari data di atas, dapat kita ketahui bahwa jumlah penduduk Kampung stren Kali Jagir mengalami peningkatan. Pada tahun 2009, jumlah KK di Kampung stren Kali Jagir sebesar 78 KK. Dan bertambah pada tahun 2013 menjadi 182 KK. Jumlah KK tersebut didapatkan langsung dari wawancara dengan ketua paguyuban kampung Stren Kali Jagir dan di dapatkan jumlah penduduk di kawasan ini sebesar 1092 jiwa penduduk. Menurut hasil survei yang telah dilakukan diperoleh informasi bahwa mayoritas penduduk Kampung stren Kali Jagir adalah pendatang. Mereka adalah pendatang dari luar Surabaya yang

Gambar 3.2 Jumlah penduduk Kampung stren Kali Jagir tahun 2009 dan 2013

(16)

dari perbandingan data jumlah penduduk dan luas wilayah Kampung stren Kali Jagir, dimana 1 KK terdiri dari 6 jiwa.

3.1.3 Pekerjaan Penduduk

Berdasarkan hasil wawancara, penduduk di Kampung Stren Kali Jagir kebanyakan berprofesi di sektor informal, dengan berbagai pekerjaan yang bervariasi, mulai dari pemulung, tukang bangunan, tukang batu, serta pembantu. Beberapa warga ada yang melakukan usaha berskala kecil dengan membangun toko kelontong, warung makan, atau warung kopi di sepanjang kawasan ini. Hanya segelintir penduduk saja yang berkerja di sektor formal seperti tukang bersih bangunan atau sopir, itupun semuanya adalah pekerja outsourching.

Penduduk di kawasan barat Kampung Stren Kali Jagir ada yang berprofesi sebagai tukang pijat serta wanita penghibur. Kondisi lingkungannya yang sering dijadikan ‘pasar malam’ (istilah warga Kampung Stren Kali Jagir untuk menyebutkan tempat prostitusi) membuat di tempat tersebut terdapat kosentrasi PSK.

3.1.4 Penyediaan Sarana

 Pendidikan

Selama ini, sarana pendidikan yang menunjang kegiatan belajar mengajar di Kampung stren Kali Jagir menggunakan Balai Pertemuan Warga. Belum ada tempat khusus sebagai sarana pendidikan di kampung ini. Balai pertemuan warga ini bersifat multifungsi. Setiap minggu diadakan program belajar gratis untuk anak-anak di Kampung stren Kali Jagir yang diadakan relawan mahasiswa di Surabaya, LSM, dan lain-lain.

 Kesehatan

Pemenuhan pengobatan warga Kampung stren Kali Jagir juga diselenggarakan di Balai Pertemuan Warga setempat. Di Balai Pertemuan Warga diadakan pengobatan gratis. Pengobatan gratis ini atas usulan warga. Dari usulan warga ini, ketua paguyuban Kampung baru meminta ke puskesmas terdekat untuk melakukan pengobatan gratis kepada masyarakat setempat.

 Peribadatan

(17)

 Kebudayaan dan rekreasi

Di Kampung stren Kali Jagir terdapat sebuah Balai pertemuan warga. Balai pertemuan warga ini terletak di sebelah rumah ketua paguyuban Kampung stren Kali Jagir. Balai pertemuan warga ini bersifat multifungsi, karena segala jenis kegiatan seperti belajar gratis, pengobatan gratis, penyuluhan dari mahasiswa atau LSM, dan lain-lain diadakan di tempat ini. Selain itu, 2 bulan sekali warga berkumpul untuk pertemuan warga.

Dari pembahasan penyediaan sarana di Kampung Stren Kali Jagir tersebut dapat kita lihat bahwa sarana rekreasi dan sarana peribadatan di wilayah ini sudah tercukupi karena di wilayah ini sudah terdapat musholla dan balai pertemuan warga. Namun pada sarana kesehatan dan sarana pendidikan masih belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Sarana pendidikan yang tersedia masih berupa sarana pendidikan non-formal yaitu adanya penyediaan sarana bimbingan belajar bersama dengan beberapa mahasiswa yang berasal dari salah satu universitas di Surabaya.

Sedangkan untuk sarana pendidikan formal sendiri masih belum tercukupi. Belum tercukupinya sarana pendidikan formal tersebut mengakibatkan masyarakat harus

Gambar 3.3 Foto musholla Baitus Salam, Kampung stren Kali Jagir

Sumber: Survey Lapangan

Gambar 3.4 Foto Balai Pertemuan Warga, Kampung stren Kali Jagir

(18)

mengandalkan sekolah formal yang berada di luar Kampung Stren Kali Jagir. Mereka tidak bisa mengakses sekolah negeri dikarenakan status warga mereka sebagi penghuni illegal, sehingga hanya bisa mengakses sekolah swsta yang harus membayar lebih mahal ketimbang skeolah negeri.

Untuk sarana kesehatan di kampung Stren Kali Jagir masih belum terpenuhi karena tidak adanya bangunan fasilitas kesehatan di wilayah ini. Masyarakat masih harus mengandalkan bantuan dari LSM dan mengusulkan pengobatan gratis yang akhirnya terlaksanakan di Balai Warga. Hal tersebut dilakukan karena tidak adanya praktek dokter diwilayah ini. Warga di kawasan ini juga tidak mendapatkan bantuan BPJS, sekali lagi dikarenakan status mereka di kawasan tersebut sebagai penghuni illegal.

3.1.5 Prasarana

 Air Bersih

Di bagian timur, distribusi air bersih sudah masuk. Air bersih ini berasal dari PDAM. Selain PDAM, sebagian kecil sumber air bersih masyarakat setempat didapat dengan cara menggunakan pompa air listrik. Masing-masing rumah warga di wilayah bagian timur dari kampung ini juga sudah terdapat MCK.

Sedangkan di bagian barat Kampung Stren Kali Jagir, untuk konsumsi kebutuhan sehari-hari masih mengambil air dari kali Jagir. Kegiatan mandi, mencuci, memasak, dan lain-lain mengambil air dari kali Jagir. Untuk kebutuhan air minum, warga membeli air dari tukang air minum keliling. Selain itu setiap rumah warga di bagian barat ini belum terdapat MCK di. Hal tersebut menyebabkan warga setiap kali mandi harus memanfaatkan kali Jagir dan berada di tempat terbuka.

 Listrik

Masyarakat Kampung Stren Kali Jagir menggunakan listrik prabayar untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka. Sebelum mendapatkan listrik prabayar, masyarakat diwilayah ini mengalami kesulitan untuk menggunakan listrik karena adanya penolakan pengajuan berkas untuk menjadi pelanggan listrik resmi. Karena penolakan tersebut masyarakat Stren Kali Jagir harus mencuri listrik dari pusat listrik. Hal tersebut mereka lakukan selama 7 tahun hingga akhirnya mendapatkan ijin untuk mempunyai listrik sendiri dan secara resmi sebagai pemilik listrik prabayar di masing-masing rumah penduduk.

 Sampah

(19)

ditemukan di pinggiran sungai adalah sampah sandal-sandal jepit yang sudah tidak terpakai. Namun untuk masyarakat wilayah bagian timur, sampah-sampah tersebut sudah banyak yang didaur ulang oleh ibu rumah tangga disana. Sampah organik telah diolah menjadi pupuk dan digunakan sebagai penyubur tanaman di sekitar rumah mereka. Sampah-sampah tersebut juga dijual oleh beberapa ibu rumah tangga untuk menambah penghasilan mereka.

3.2 Metode Penelitian

Dalam menganalisis faktor yang mempengaruhi kemiskinan dan kriminalitas di Kampung Stren Kali Jagir, digunakan analisis data Linkert. Skala Likert digunakan untuk membuat angket untuk mengetahui setuju atau tidaknya responden akan faktor-faktor tersebut. Skala ini digagas oleh Rensis Likert, ahli psikologi dari Amerika Serikat.

Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan Skala Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan Skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Jenjang Skala Linkert terdiri dari

 Sangat setuju

 Setuju

 Netral antara setuju dan tidak

 Kurang setuju

 Sama sekali tidak setuju.

Selain analisis Linkert, digunakan pula wawancara langsung ke stakeholder untuk mengetahui apakah faktor yang telah disiapkan dari tinjauan pustaka telah sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Stakeholder ini adalah mereka yang memiliki kapabilitas yang

Gambar 3.5 Foto Gang Jalan, Kampung stren Kali Jagir

(20)

mumpuni dalam mengetahui kondisi lapangan di suatu tempat yang dijadikan sarana penelitian.

3.3 Analisis Faktor dan Penyebab Kemiskinan dan Kriminalitas 3.3.1 Analisis Faktor Penyebab Kemiskinan

Dalam melakukan identifikasi faktor-faktor penyebab kemiskinan di Kampung Stren Kali Jagir, maka kita melakukan wawancara kepada kepala paguyuban warga Kampung Stren Kali Jagir Bapak Warsito beserta dengan kuesioner ke beberapa pihak yang berisi faktor penyebab kemiskinan. Berdasarkan hasil dari penelitian dari tinjauan pustaka, beberapa faktor-faktor kemiskinan yang bisa kita identifikasi di Kampung Stren Kali Jagir adalah sebagai berikut:

 Kualitas Sumber Daya Manusia (Kuncoro, 2000)

 Kondisi Keluarga (Kuncoro, 2000)

 Tingkat Pendidikan Rendah (Kuncoro, 2000)

 Pendapatan Rendah (Kuncoro, 2000)

 Aksesbilitas Fasilitas dan Birokrasi (Kuncoro, 2000)

Selain wawancara, dilakukan pula pembagian kuesioner Linkerd yang berisi tentang faktor-faktor penyebab kemiskinan di Kampung Stren Kali Jagir. Kuesioner ini berisikan tentang setuju atau tidaknya pihak narasumber terhadap kondisi kemiskinan di Kampung Stren Kali Jagir.

 Kualitas Sumber Daya Manusia

Dari hasil wawancara dan kuesioner, diketahui bahwa kualitas sumber daya manusia di Kampung Stren Kali Jagir sangat rendah dan kalah bersaing dengan masyarakat lainnya

Gambar 3.6 Pak Warsito, Kepala Paguyuban Warga Kampung stren Kali Jagir

(21)

di kota Surabaya. Hal ini dikarenakan masyarakat di Kampung Stren Kali Jagir kebanyakan adalah masyarakat pendatang yang berasal dari berbagai desa-desa di Jawa Timur yang dating ke Surabaya tanpa adanya kemampuan sumber daya manusia yang memadai. Alhasil ketika mereka datang ke Surabaya, banyak yang berkerja di sector informal, seperti pengemis, tukang bangunan, pemulung, dan tukang batu, bahkan ada yang berkerja sebagai pekerja seks komersial (PSK). Dalam kuesioner, semua responden dan informasi dari Pak Warsito selaku kepala paguyuban warga Stren Kali Jagir juga setuju bahwa kualitas sumber daya manusia ikut berperan dalam menciptakan kemiskinan di Kampung Stren Kali Jagir.

 Aksesbilitas Fasilitas dan Birokrasi

Aksesbilitas fasilitas dan birokrasi serta pendapatan yang rendah memilki peranan yang lebih besar dalam menciptakan kemiskinan di Kampung Stren Kali Jagir. Masyarakat di Kampung Stren Kali Jagir tidak memiliki akses fasilitas kesehatan yang memadai, bahkan belum ada satupun warga Kampung Stren Kali Jagir yang memiliki kartu BPJS. Ketika mereka mengakses fasilitas kesehatan, mereka dikategorikan sebagai pasien umum dan harus membayar penuh uang kesehatan. Akibatnya, sangat sedikit warga Kampung Stren Kali Jagir yang dapat mengakses fasilitas kesehatan milik pemerintah dan menggantungkan batuan dari LSM dan gereja Bethany dalam penyediaan layanan kesehatan, dimana di kala waktu tertentu LSM atau gereja Bethany memberikan layanan kesehatan langsung di Kampung Stren Kali Jagir.

Untuk keperluan pengurusan surat-surat penting, warga Kampung Stren Kali Jagir cenderung mengurus ke desa tempat mereka berasal, bagi mereka yang tidak memiliki KTP Surabaya. Sebagian ada yang memiliki KTP Surabaya, namun dengan alamat yang berbeda dengan tempat tinggal yang aslinya. Hal ini disebabkan status kampung mereka yang illegal sehingga menghalangi mereka dalam mengakses birokrasi. Untuk layanan pendidikan, warga mengharapkan pada bantuan bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh LSM, ada juga warga Kampung Stren Kali Jagir yang menyekolahkan anak mereka, meskpun

Gambar 3.7 Foto Rumah

Pemulung, Kampung Stren Kali Jagir

(22)

hanya bisa di sekolah swasta. Untuk akses seperti air, mereka mengandalkan bantuan penjual air keliling. Sedangkan listrik mereka terbantu dengan kebijakan PLN yang memberikan aksesbilitas listrik ke semua rumah tangga tanpa perkecualian.

Hasil kuesioner menunjukkan bahwa dua responden setuju bahwa keterbatasan akses fasilitas dan birokrasi juga ikut berperan dalam menciptakan kemiskinan di Kampung Stren Kali Jagir, meskipun dua responden tersebut juga memberikan tanggapan bahwa faktor ini tidak berperan secara langsung dalam menciptakan kemiskinan, melainkan ke dampak lanjutannya.

 Kondisi Keluarga

Semua ketiga responden mengatakan bahwa fakto kondisi keluarga tidak terlalu memberikan kontribusi besar dalam menciptakan kemiskinan di Kampung Stren Kali Jagir. Hal ini dikarenakan kondisi masyarakat di sana yang sama-sama mengalami kemiskinan sehingga tidak ada tanda-tanda kecemburuan sosial di kawasan tersebut. Hal ini membuta kondisi internal keluarga cenderung stabil dalam menghadapi kemiskinan, dan tidak berperan besar dalam menciptakan kemiskinan.

 Tingkat Pendidikan Rendah

Dua dari tiga responden menyatakan setuju bahwa tingakt pendidikan ikut berperan dalam menciptakan kemiskinan di Kampung Stren Kali Jagir. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan yang rendah mengakibatkan warga tidak bisa berkerja di sektor formal dan banyak yang berkerja di sektor informal. Sektor informal di Kampung Stren Kali Jagir berupa pemulung, pengemis, tukang batu, serta tukang bangunan. Faktor ini juga terkait dengan faktor kualitas usmber daya manusia, dimana tingkat pendidikan yang rendah akan menjadi salah satu penyebab dari rendahnya kualitas sumber daya manusia.

Menurut hasil wawancara dari Pak Warsito, diketahui bahwa saat ini warga sudah mulai ada kesadaran untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah hingga ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan adanya ajakan dari Pak Warsito yang menekankan pentingnya pendidikan sebagai salah satu jalan pengentasan pendidikan. Meski begitu, usia anak-anak yang masuk sekolah mengalami keterlambatan, dimana anak yang seharusnya sudah masuk SMP masih berada di bangku SD.

 Pendapatan Rendah

(23)

membuat penduduk Kampung Stren Kali Jagir tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup secara keseluruhan dalam kesehariannya, sehingga tidak ada ruang finansial yang cukup untuk bisa memperbaiki kualitas hidup warga di Kampung Stren Kali Jagir.

Wawancara dari Pak Warsito juga mengatakan bahwa warga di sini seringkali terjerat hutang rentenir dikarenakan warga banyak yang menutupi kekurangan uang hidup mereka dengan uang dari rentenir. Sejak dua tahun yang lalu, Kampung Stren Kali Jagir mendapatkan bantuan dari Kementrian Sosial berupa KUB, dimana dana itu digunakan untuk keperluan usaha kecil serta peningkatan kreatifitas masyarakat yang diharapkan penghasilannya membantu pengentasan kemiskinan di sana. Namun dalam implementasinya, KUB seringkali tidak digunakan untuk usaha kecil, namun digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup warga disana, tanda bahwa warga di sana belum bisa memenuhi kebutuhan hidup secara keseluruhan dengan pendapatan mereka sendiri. Hal ini sesuai dengan konsep lingkar setan kemiskinan, dimana warga di sana mengalami low income akibat faktor berantai dari kemiskinan. Ini sekaligus menunjukkan kemiskinan relative disana, dikarenakan banyaknya pendatang di sana.

3.3.2 Faktor Penyebab Kriminalitas

Sama seperti kemiskinan, dalam melakukan identifikasi faktor-faktor penyebab kriminalitas di Kampung Stren Kali Jagir, maka kita melakukan wawancara kepada kepala paguyuban warga Kampung Stren Kali Jagir Bapak Warsito beserta dengan kuesioner ke beberapa pihak yang berisi faktor penyebab kriminalitas. Berdasarkan hasil dari penelitian dari tinjauan pustaka, beberapa faktor-faktor kriminalitas yang bisa kita identifikasi di Kampung Stren Kali Jagir adalah sebagai berikut:

 Kemiskinan (Hamzah, 1997)

 Keterdesakan Pemenuhan Kebutuhan Hidup (Hamzah, 1997)

Gambar 3.8 Warung makan di Kampung stren Kali Jagir, beberapa warga ada yang mebuka usaha kecil di kampung tersebut

(24)

 Kondisi Lingkungan (Hamzah, 1997)

Selain wawancara, dilakukan pula pembagian kuesioner Linkerd yang berisi tentang faktor-faktor penyebab kriminalitas di Kampung Stren Kali Jagir. Kuesioner ini berisikan tentang setuju atau tidaknya pihak narasumber terhadap kondisi kemiskinan di Kampung Stren Kali Jagir.

 Kemiskinan

Semua responden setuju bahwa penyebab kemiskinan juga ikut berperan dalam menciptakan kriminalitas di Kampung Stren Kali Jagir, meski beberapa responden memberikan respon tambahan bahwa belum tentu kemiskinan mendorong kriminalitas dikarenakan masih adanya proses dari individu itu sendiri yang mendorong kriminalitas atas dasar kemiskinan.

Hasil wawancara Pak Warsito juga menuturkan bahwa sampai sekarang kampung ini menjadi tempat aktifitas prostitusi terselubung, dimana adanya kosentrasi PSK yang tidak terdata oleh Pemerintah Kota Surabaya. Hal ini berbahaya dikarenakan adanya pesebaran penyakit menular seperti HIV/AIDS. Para PSK ini umumnya tidak memiliki skill yang memadai dalam mengentaskan mereka dari kemiskinan.

 Keterdesakan Pemenuhan Kebutuhan Hidup.

Semua responden sangat setuju bahwa faktor terdesaknya individu/kelompok akan pemenuhan kebutuhn hidup juga ikut berperan dalam menyebabkan kriminalitas di Kampung Stren Kali Jagir.. Responden juga memberikan tanggapan bahwa kriminalitas seringkali dianggap sebagai satu-satunya jalan dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup, jika individu/kelompok tersebut tidak memiliki kemampuan lain yang setidaknya bisa memnuhi kebutuhan primer hidup mereka.

Gambar 3.9 PSK Illegal di Kampung stren Kali Jagir

(25)

Hasil wawancara dengan Pak Warsito juuga menuturkan, para PSK yang ada di Kampung Stren Kali Jagir tidak punya kemampuan lain yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, dan menjadi PSK illegal dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, meskipun rawan ditangkap pihak berwajib atas aktivitas mereka yang dijalankan secara illegal. Faktor ini masih terkait dengan faktor kemiskinan sebelumnya, dimana kemiskinan berdampak pada tidak terpenuhinya semua atau sebagian dari kebutuhan hidup.

 Kondisi Lingkungan

Semua responden sangat setuju bahwa kondisi lingkungan ikur berperan dalam menciptakan kemiskinan di Kampung Stren Kali Jagir. Karena kondisi lingkungan Kampung Stren Kali Jagir sebagai permukiman kumuh yang nyaris tidak tersentuh bantuan dan aksesbilitas keamanan dan fasilitas dari pemerintah, hal ini membuat Kampung Stren Kali Jagir menjadi lokasi yang seringkali digunakan untuk aktifitas kriminalitas dan persembunyianorang yang menjadi buronan pihak berwajib. Wawancara dari Pak Warsito juga mengkonfirmasi bahwa kondisi lingkungannya yang tidak ideal mengakibatkan Kampung Stren Kali Jagir menjadi kosentrasi PSK illegal dan tempat persembunyian buronan pihak berwajib.

3.4 Dampak

Kemiskinan merupakan suatu keadaan yang menggambarkan adanya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kesulitan yang dimaksud adalah kesulitan untuk mendapatkan kehidupan yang layak, kesulitan mendapatkan makanan, minuman, pakaian, pendidikan, dan lain sebagainya yang menyangkut kualitas hidup dan kehidupan sosial seseorang. Kemiskinan yang terjadi di Kampung Baru, Strenkali Jagir juga menyebabkan banyak dampak bagi masyarakat yang tinggal di wiliyah tersebut. Dampak kemiskinan tersebut begitu bervariasi karena kondisi dan penyebab yang berbeda memunculkan akibat

Gambar 3.10 Kondisi Lingkungan Kampung stren Kali Jagir

(26)

yang berbeda juga. Adapun dampak – dampak yang ditimbulkan dari kemiskinan adalah sebagai berikut.

1. Pengangguran

Pengangguran merupakan dampak dari kemiskinan, berhubung pendidikan dan ketrampilan merupakan hal yang sulit diraih masyarakat, maka masyarakat sulit untuk berkembang dan mencari pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan. Dikarenakan sulit untuk bekerja, maka tidak adanya pendapatan membuat pemenuhan kebutuhan sulit, kekurangan nutrisi dan kesehatan, dan tidak dapat memenuhi kebutuhan penting lainnya. Misalnya saja harga beras semakin meningkat, orang yang pengangguran sulit untuk membeli beras, maka mereka makan seadanya. Seorang pengangguran yang tidak dapat memberikan makan pada anaknya akan menjadi dampak yang buruk bagi masa depan sehingga akan mendapat kesulitan untuk waktu yang lama.

Pengangguran yang terjadi di Kampung Baru, Strenkali Jagir juga menunjukkan angka yang tinggi. Banyak dari masyarakat disana tidak memiliki ketrampilan khusus untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sehingga masyarakatnya kebanyakan bekerja sebagai pengemis, pengamen, PSK, dan pemulung. Pengangguran di kampung ini menyebabkan masyarakatnya memilih untuk bekerja di sektor informal, karena untuk bekerja di sektor formal sendiri merupakan hal yang harus mereka dapatkan dengan syarat pendidikan yang tinggi.

2. Kriminalitas

Kriminalitas merupakan dampak lain dari kemiskinan. Kesulitan mencari nafkah mengakibatkan orang lupa diri sehingga mencari jalan yang cepat tanpa memedulikan halal atau haramnya uang sebagai alat tukar guna memenuhi kebutuhan. Misalnya saja perampokan, penodongan, pencurian, penipuan, pembegalan, penjambretan dan masih banyak lagi contoh kriminalitas yang bersumber dari kemiskinan. Mereka melakukan itu semua karena kondisi yang sulit mencari penghasilan untuk keberlangsungan hidup dan lupa akan nilai-nilai yang berhubungan dengan Tuhan. Di era global dan materialisme seperti sekarang ini tak heran jika kriminalitas terjadi dimanapun. Namun tidak semua penduduk yang terperangkap dalam kemiskinan semuanya melakukan tindakan kriminalitas. Pilihan untuk melakukan tindakan kriminalitas sebenarnya tergantung pada pribadi dan moral masing-masing orang itu sendiri.

(27)

terjadi di wilayah ini walaupun di kampung ini tidak didapati adanya pencurian ataupun perampokan. Hal tersebut disebabkan karena dengan adanya preman yang menjaga kampung ini, banyak para pencuri dan perampok yang takut untuk masuk ke kampung ini.

3. Tidak Adanya/Kurangnya Pendidikan

Putusnya sekolah dan kesempatan pendidikan sudah pasti merupakan dampak kemiskinan. Mahalnya biaya pendidikan menyebabkan rakyat miskin putus sekolah karena tidak lagi mampu membiayai sekolah. Putus sekolah dan hilangnya kesempatan pendidikan akan menjadi penghambat rakyat miskin dalam menambah ketrampilan, menjangkau cita-cita dan mimpi mereka. Ini menyebabkan kemiskinan yang dalam karena hilangnya kesempatan untuk bersaing secara global dan hilangnya kesempatan mendapatkan pekerjaan yang layak.

Pendidikan yang kurang juga dialami oleh masyarakat di kampung baru, terutama oleh para penduduk dengan usia tenaga kerja. Mereka yang merupakan para imigran dari desa tanpa mendapatkan pendidikan wajib belajar 12 tahun datang ke Surabaya dengan tujuan untuk mendapatkan pekerjaan. Namun karena keterbatasan latar belakang pendidikan, masyarakat tersebut hanya bekerja pada sektor informal bahkan ada yang menjadi PSK. Kurangnya pendidikan para orang tua dikampung ini membuat mereka sadar bahwa anak-anak mereka tidak boleh bernasib seperti mereka. Dengan bantuan para mahasiswa, dan sumbangan sukarela dari yayasan, hampir seluruh anak-anak usia sekolah bisa mendapatkan pendidikan wajib belajar di kampung ini.

4. Tingkat Kematian yang Tinggi

Hal ini terjadi karena kesehatan sulit untuk didapatkan karena kurangnya pemenuhan gizi sehari-hari akibat kemiskinan membuat rakyat miskin sulit menjaga kesehatannya. Belum lagi biaya pengobatann yang mahal di klinik atau rumah sakit yang tidak dapat dijangkau masyarakat miskin. Ini menyebabkan gizi buruk atau banyaknya penyakit yang menyebar dan apabila tidak segera ditangani akan banyak menyebabkan kematian bagi masyarakat miskin yang tidak terpenuhi kebutuhan akan kesehatan tersebut.

(28)

lokalisasi yang masyarakatnya tidak memperhatikan dan kurang pedulu akan pentingnya kesehatan.

5. Timbulnya Permukiman Kumuh (Slum Area)

Kemiskinan di kota-kota besar salah satu penyebabnya adalah urbanisasi, dimana para urbanis yang tidak memiliki pendidikan yang cukup atau pendidikan yang didapatkan di desa cenderung rendah kualitasnya menyebabkan para urbanis ini akhirnya jatuh miskin di kota-kota karena tidak mampu bersaing dan menjadi penganggur. Kemiskinan didaerah perkotaan menyebabkan kelompok masyarakat imigran yang berpenghasilan rendah/sangat rendah tidak dapat memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal dan akhirnya membuat mereka membangun gubuk-gubuk liar diatas tanah kosong yang tidak diawasi oleh pemilik atau penguasanya. Banyak diantara mereka menggunakan lahan kosong yang sengaja digunakan untuk bantaran banir, jalur kereta api dan lokasi-lokasi lain terutama yang dekat dengan tempat kerja mereka. Kegiatan yang mereka lakukan tersebut menghasilkan banyak lingkungan perumahan kumuh (slums) yaitu lingkungan perumahan yang padat dan tidak memiliki prasarana dan sarana lingkungan yang memenuhi syarat teknis ataupun kesehatan.

Kampung Baru, Strenkali Jagir merupakan area permukiman kumuh dengan status lahan dan bangunan ilegal. Masyarakat di kampung ini adalah penduduk bukan berasal dari Sutbaya, mereka merupakan penduduk dari desa yang datang ke Surabaya untuk mendapatkan pekerjaan namun karena keterbatasan pendidikan dan ketrampilan, akhirnya mereka hanya bekerja di sektor informal dengan pendapatan yang sangat rendah. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal masih menjadi kendala bagi mereka karena tingginya harga untuk sebuah rumah dan lahan. Oleh karena itu, masyarakat imigran tersebut mendirikan perkampungan ilegal di bantaran sungai Kali Jagir. Perkampungan ini merupakan kampung ilegal dan tidak mempunyai RT maupun RW.

6. Konflik Sosial

(29)

3.5 Konsep Penanganan

Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) adalah program penanggulangan kemiskinan di perkotaan (P2KP). Tujuan program P2KP adalah mempercepat upaya penanggulangan kemiskinan melalui (1) penyediaan dana pinjaman untuk pengembangan kegiatan usaha produktif dan pembukaan lapangan kerja baru, (2) penyediaan dana untuk pembangunan sarana dan prasarana sosial ekonomi yang langsung maupun tidak langsung, (3) peningkatan kemampuan perorangan dan keluarga miskin melalui upaya bersama berlandaskan kemitraan, yang mampu menumbuhkan usaha-usaha baru yang bersifat produktif dengan berbasis pada usaha kelompok, (4) penyiapan, pengembangan dan pemberdayaan kelembagaan masyarakat di tingkat kelurahan untuk dapat mengkoordinasikan dan memberdayakan masyarakat dalam melaksanakan program pembangunan, dan (5) mencegah penurunan kualitas lingkungan, melalui upaya perbaikan prasarana dan sarana fisik.

Ada pula program penanggulangan kemiskinan yang telah disusun oleh pemerintah dalam Program Penanggulan Kemiskinan Kabinet Indonesia Bersatu II, antara adalah Instrumen Utama Penanggulangan Kemiskinan yang dibagi menjadi empat klaster, yaitu

1. Klaster I (Bantuan sosial terpadu berbasis keluarga), yang bertujuan mengurangi beban rumah tangga miskin melalui peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan, air bersih dan sanitasi.

2. Klaster II (Penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat), yang bertujuan mengembangkan potensi dan memperkuat kapasitas kelompok masyarakat miskin untuk terlibat dalam pembangunan yang didasarkan pada prinsip-prinsip.

3. Klaster III (Penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil), yang bertujuan memberikan akses dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha berskala mikro dan kecil.

(30)

A. Program-program Penanggulangan Kemiskinan Kluster I

1. Program Keluarga Harapan (PKH); PKH adalah program perlindungan sosial yang memberikan bantuan tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) dan bagi anggota keluarga RTS diwajibkan melaksanakan persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Program ini, dalam jangka pendek bertujuan mengurangi beban RTSM dan dalam jangka panjang diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan antar generasi, sehingga generasi berikutnya dapat keluar dari perangkap kemiskinan.

2. Bantuan Operasional Sekolah (BOS); BOS adalah program pemerintah untuk penyediaan biaya nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar dan menengah pertama sebagai wujud pelaksanaan program wajib belajar 9 tahun. BOS diprioritaskan untuk biata operasional nonpersonal, meskipun dimungkinkan untuk membiayai beberapa kegiatan lain yang tergolong dalam biaya personil dan biaya investasi. Tujuan umum program BOS untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajat sembilan tahun yang bermutu.

3. Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) ; Kebijakan BSM bertujuan agar siswa dari kalangan tidak mampu dapat terus melanjutkan pendidikan di sekolah. Program ini bersifat bantuan bukan beasiswa, karena jika beasiswa bukan berdasarkan kemiskinan, melainkan prestasi.

4. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) ; Jamkesmas adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan hampir miskin. Tujuan Jamkesmas adalah meningkatkan akses terhadap masyarakat miskin dan hampir miskin agar dapat memperoleh pelayanan kesehatan.

(31)

B. Program-program Penanggulangan Kemiskinan Klaster II

1. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) ; PNPM adalah program nasional dalam wujud kerangka kebijakan sebagai dasar dan acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. PNPM dillaksanakan melalui harmonisasi dan pengembangan sistem serta mekanisme dan prosedur program, penyediaan pendampingan, dan pendanaan stimulan untuk mendorong prakarsa dan inovasi masyarakar dalam upaya penanggulangan kemiskinan yang berkelanjutan.

2. Program Perluasan dan Pengembangan Kesempatan Kerja/Padat Karya Produktif ; Padat karya adalah suatu kegiatan produktif yang memperkerjakan atau menyerap tenaga kerja penganggur dan setengah penganggur yang relatif banyak. Secara teknis konsep program ini adalah untuk membangun masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat usaha-usaha produktif dengan memanfaatkan potensi SDA, SDM dan Teknologi sederhana yang ada serta peluang pasar. Kegiatan Padat Karya Produktif dilakukan untuk memberdayakan masyarakat dalam rangka membangun ekonomi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang berdifat usaha produktif dengan memanfaatkan potensi Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM) dan Teknologi sederhana yang tersedia yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat perdesaan dan memperluasan kesempatan kerja.

C. Program-progran Penanggulangan Kemiskinan Klaster III

1. Kredit Usaha Rakyat (KUR) ; Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah dana pinjaman dalam bentuk Kredit Modal Kerja (KMK) dan atau Kredit Investasi (KI) dengan plafon kredit dari Rp. 5 Juta sampai dengan Rp. 500 juta. Agunan pokok KUR adalah proyek/usaha yang dibiayai, namun Pemerintah membantu menanggung melalui program penjaminan hingga maksimal 70% dari plafon kredit. Bantuan berupa fasilitas pinjaman modal ini adalah untuk meningkatkan akses pembiayaan perbankan yang sebelumnya hanya terbatas pada usaha berskala besar dan kurang menjangkau pelaku usaha mikro kecil dan menengah seperti usaha rumah tangga dan jenis usaha mikro lain yang bersifat informal, mempercepat pengembangan sektor riil dan pemberdayaan UMKM.

(32)

keluarga; meningkatnya kualitas pangan, sandang, papan, kesehatan, tingkat pendidikan; Meningkatnya kemampuan anggota KUBE dalam mengatasi masalah-masalah yang mungkin terjadi dalam keluarganya maupun dengan lingkungan sosialnya; Meningkatnya kemampuan anggota KUBE dalam menampilkan peranan-peranan sosialnya, baik dalam keluarga maupun lingkungan sosialnya. Sasaran program KUBE adalah keluarga miskin produktif (orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian, tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan; Keluarga Miskin yang mengalami penurunan pendapatan dan kesejahteraannya atau mengalami penghentian penghasilan.

Penanganan secara detail dari kemiskinan dan kriminalitas di Kampung Stren Kali Jagir bisa kita rumuskan sebagai berikut:

 Penyediaan dana bantuan berupa KUBE dari Kementrian Sosial tetap dipertahankan, bahkan jika memungkinkan dana tersebut ditambah. Namun harus juga diiringi dengan program peningkatan sumber daya manusia.

 Perlu peran aktif Pemerintah Kota Surabaya dalam mengatasi kemiskinan dan kriminalitas di Kampung Stren Kali Jagir dengan meningkatkan kualitas SDM dan membuat program pengentasan kemiskinan.

 Perlu peran aktif pula dari masyarakat dan organisasi dalam pengentasan kemiskinan dan pencegahan kriminalitas di Kampung Stren Kali Jagir.

 Adanya jaminan akses fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat Kampung Stren Kali Jagir sebagai langkah untuk mengatasi kemiskinan dan kriminalitas

(33)

BAB IV. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka bisa kita ambil kesimpulan sebagai berikut:

Kemiskinan yang muncul di Kampung Stren Kali Jagir disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu rendahnya kualitas sumber daya manusia, tingkat pendidikan yang rendah, pendapatan yang rendah, dan kesulitan masyarakat dalam mengakses fasilitas dan birokrasi milik Pemerintah. Sedangkan kondisi lingkungan keluarga tidak terlalu berperan menciptakan kemiskinan.

Kriminalitas yang muncul di Kampung Stren Kali Jagir disebabkan oleh kemiskinan, keterdesakan individu/kelompok dalam memenuhi kebutuhan hidup, serta kondisi lingkungan.

Sampai saat ini, belum ada bantuan ataupun perubahan yang menonjol dari Kampung Stren Kali Jagir dalam mengatasi kemiskinan dan kriminalitas

Dampak kemiskinan dan kriminalitas bagi perekonomian kota Surabaya menyebar ke bebrapa sector, seperti pengangguran, rawan munculnya konflik sosial, tingkat kematian yang tinggi, serta munculnya permukiman kumuh

5.2 Saran

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Kadji, Yulianto. Kemiskinan Dan Konsep Teoritisnya. Guru Besar Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG

Program Penanggulangan Kemiskinankabinet Indonesia Bersatu II: Kementerian

Komunikasi Dan Informatika, Direktorat Jenderal Informasi Dan Komunikasi Publik, 2011

(35)

LAMPIRAN PERTAMA : RINGKASAN HASIL WAWANCARA DENGAN PAK WARSITO (KEPALA PAGUYUBAN WARGA KAMPUNG STREN KALI JAGIR)

Kampung Stren Kali Jagir sudah mulai ada sejak 2001, dan saat ini membentuk permukiman kumuh linier yang membentang di tanah milik PDAM Surabaya (sepanjang kali Jagir). Warga yang berada di permukiman ini sebagian berkerja di sector informal, mulai dari pengemis, pemulung, kuli bangunan, serta kuli batu. Ada juga yang membuka usaha kecil-kecilan seperti tambal ban, warung makan, serta toko kelontong. Masyarakat di sini juga kebanyakan merupakan pendatang dari desa-desa di beberapa daerah di Jawa Timur.

Kampung Stren Kali Jagir punya dua sisi wajah/kawasan yang berbeda karaktersitik masyarakat, yaitu kawasan Barat dan kawasan Timur. Masyarakat kawasan barat adalah masyarakat yang hampir semuanya merupakan pendatang, dan sebagian besar juga berkerja di sector informal. Memiliki kondisi lingkungan yang memprihatinkan, kawasan barat ini juga merupakan kawasan yang berubah menjadi ‘pasar malam’ (istilah masyarakat setempat untuk penyebutan prostitusi terselubung), dan juga menjadi tempat mangkal bagi PSK. Kawasan ini juga diduga sebagai tempat persembunyian para pelku kriminalitas yang menjadi buronan polisi.

Kondisi berbeda terjadi di kawasan timur, dimana kondisi lingkungan di sini sedikit lebih baik ketimbang kawasan di barat. Warga di kawasan timur, selain berkerja di sector informal, juga ada yang mebuka usaha kecil-kecilan. Warga disini juga peduli akan kondisi lingkungan serta punya keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik (walaupun kondisi keuangan mereka masih belum bisa mencukupi keseharian keluarga mereka).

Kampung Stren Kali Jagir dulunya merupakan tempat dengan tingkat kriminalitas yang tinggi, dimana peredaran miras secara illegal, narkoba, serta pencurian. Tidak ingin disandera oleh kriminalitas, warga memutuskan untuk melakukan penjagaan dan pengawasan kawasan di sini secara komperhensif. Dengan semakin padatnya warga yang bermukim di kawasan ini, maka keamanan di kawasan ini semakin meningkat (meskipun kasus pencurian masih acapkali terjadi)

(36)

menggunakan alamat kerabat mereka untuk keperluan identitas KTP atau mengososngkan detail alamat di KTP (hanya mencantumkan kelurahan dan kecamatan).

Untuk akses fasilitas kesehatan, mereka mengandalkan bantuan dari LSM atau gereja Bethany yang menyediakan layanan kesehatan gratis bagi penduduk di Kampung Stren Kali Jagir. Demikian pula dengan akses pendidikan, mereka juga mengharapkan pada bantuan universitas dan LSM yang melakukan pengajaran di kawasan ini. Anak-anak di kampong ini tidak bisa mengakses sekolah negeri karena status illegal kampong mereka, dan hanya bisa masuk sekolah swasta yang harus membayar leih mahal ketimbang sekolah negeri. Selain itu anak-anak di kawasan ini juga mengalami keterlambatan usia dalam masuk sekolah, dikarenakan rendahnya kesadaran akan pendidikan.

Warga di kampung ini mendapatkan bantuan dana dari Kemensos, LSM, serta bantuan-bantuan dari CSR yang dikelola dalam suatu organisasi pengelola keuangan di kampung tersebut dengan nama KUB. KUB sejatinya dibuat untuk keperluan membuat usaha kecil menengah di kampung ini, dengan harapan agra bisa mengentaskan mereka dari kemiskinan. Namun warga lebih menginginkan dana tersebut dibagikan secara merata untuk semua warga kampung tersebut secara tunai untuk memenuhi kebutuhan mereja. Jika terjadi keterlambatan dalam pencairan KUB, maka seringkali tibul rasa curiga bahwa dana KUB diselewengkan untuk keperluan tertentu. Sebelum ada KUB, warga meminjam uang dengan menggunakan jasa rentenir, dengan bunga yang tinggi.

(37)

LAMPIRAN KEDUA : KUISIONER LIKERT

(38)

LEMBAR KUESIONER STAKEHOLDER

ANALISA FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN DAN KRIMINALITAS DI KAMPUNG STREN KALI JAGIR

Bapak/Ibu yang kami hormati.

Kuisioner ini bertujuan untuk mengetahui nilai bobot pada tiap factor yang menyebabkan keberadaan dari kemiskinan dan kriminalitas di Kampung Stren Kali Jagir. Bobot ini sangat berguna untuk memberikan ukuran prioritas pada tiap faktor. Pembobotan kriteria ini dilakukan dengan menggunakan alat analisis Linkert. Analisis Linkert adalah analisis yang dibuat untuk mengetahui pembobotan tingkat setuju atau tidak setuju dari faktor yang diteliti. Dengan ini saya mengharap kesediaan bapak/ibu untuk mengisi kolom kriteria sesuai denngan persepsi anda. Terima kasih atas kesediaan Anda,

Hormat Kami,

Ketua Peneliti :

Wiratama Adi Nugraha

Telp : 085852283054

Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota

Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Identitas Responden

Nama :Warsito

Jabatan :Kepala Paguyuban Warga Kampung Stren Kali Jagir

(39)

Faktor Kemiskinan (berdasarkan studi literatur)

 Kualitas Sumber Daya Manusia (Kuncoro, 2000)

 Kondisi Keluarga (Kuncoro, 2000)

 Tingkat Pendidikan Rendah (Kuncoro, 2000)

 Pendapatan Rendah (Kuncoro, 2000)

 Aksesbilitas Fasilitas dan Birokrasi (Kuncoro, 2000)

(40)

Faktor Kriminalitas (berdasarkan studi literatur)

 Kemiskinan (Hamzah, 1997)

 Keterdesakan Pemenuhan Kebutuhan Hidup (Hamzah, 1997)

 Kondisi Lingkungan (Hamzah, 1997)

Silahkan pilih salah satu nilai bobot pada masing-masing fakto dengan mencentang salah satu dari faktor yang ada.

Faktor 1 2 3 4 5

Kemiskinan V

Keterdesakan Pemenuhan Kebutuhan Hidup

V

Kondisi

Lingkungan V

Keterangan:

1. Sangat Tidak Setuju

2. Tidak Setuju

3. Tidak Tahu

4. Setuju

(41)

LEMBAR KUESIONER STAKEHOLDER

ANALISA FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN DAN KRIMINALITAS DI KAMPUNG STREN KALI JAGIR

Bapak/Ibu yang kami hormati.

Kuisioner ini bertujuan untuk mengetahui nilai bobot pada tiap factor yang menyebabkan keberadaan dari kemiskinan dan kriminalitas di Kampung Stren Kali Jagir. Bobot ini sangat berguna untuk memberikan ukuran prioritas pada tiap faktor. Pembobotan kriteria ini dilakukan dengan menggunakan alat analisis Linkert. Analisis Linkert adalah analisis yang dibuat untuk mengetahui pembobotan tingkat setuju atau tidak setuju dari faktor yang diteliti. Dengan ini saya mengharap kesediaan bapak/ibu untuk mengisi kolom kriteria sesuai denngan persepsi anda. Terima kasih atas kesediaan Anda,

Hormat Kami,

Ketua Peneliti :

Wiratama Adi Nugraha

Telp : 085852283054

Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota

Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Identitas Responden

Nama :Rizki Nur Thoyibag

Jabatan :Mahasiswa (Pernah terlibat dalam aktifitas sosial di Kampung Stren Kali Jagir)

(42)

Faktor Kemiskinan (berdasarkan studi literatur)

 Kualitas Sumber Daya Manusia (Kuncoro, 2000)

 Kondisi Keluarga (Kuncoro, 2000)

 Tingkat Pendidikan Rendah (Kuncoro, 2000)

 Pendapatan Rendah (Kuncoro, 2000)

 Aksesbilitas Fasilitas dan Birokrasi (Kuncoro, 2000)

(43)

Faktor Kriminalitas (berdasarkan studi literatur)

 Kemiskinan (Hamzah, 1997)

 Keterdesakan Pemenuhan Kebutuhan Hidup (Hamzah, 1997)

 Kondisi Lingkungan (Hamzah, 1997)

Silahkan pilih salah satu nilai bobot pada masing-masing fakto dengan mencentang salah satu dari faktor yang ada.

Faktor 1 2 3 4 5

Kemiskinan V

Keterdesakan Pemenuhan Kebutuhan Hidup

V

Kondisi

Lingkungan V

Keterangan:

1. Sangat Tidak Setuju

2. Tidak Setuju

3. Tidak Tahu

4. Setuju

(44)

LEMBAR KUESIONER STAKEHOLDER

ANALISA FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN DAN KRIMINALITAS DI KAMPUNG STREN KALI JAGIR

Bapak/Ibu yang kami hormati.

Kuisioner ini bertujuan untuk mengetahui nilai bobot pada tiap factor yang menyebabkan keberadaan dari kemiskinan dan kriminalitas di Kampung Stren Kali Jagir. Bobot ini sangat berguna untuk memberikan ukuran prioritas pada tiap faktor. Pembobotan kriteria ini dilakukan dengan menggunakan alat analisis Linkert. Analisis Linkert adalah analisis yang dibuat untuk mengetahui pembobotan tingkat setuju atau tidak setuju dari faktor yang diteliti. Dengan ini saya mengharap kesediaan bapak/ibu untuk mengisi kolom kriteria sesuai denngan persepsi anda. Terima kasih atas kesediaan Anda,

Hormat Kami,

Ketua Peneliti :

Wiratama Adi Nugraha

Telp : 085852283054

Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota

Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Identitas Responden

Nama :Virta Safitri Ramadhani

Jabatan :Mahasiswa (Pernah melakukan survey serupa di Kampung Stren Kali Jagir)

(45)

Faktor Kemiskinan (berdasarkan studi literatur)

 Kualitas Sumber Daya Manusia (Kuncoro, 2000)

 Kondisi Keluarga (Kuncoro, 2000)

 Tingkat Pendidikan Rendah (Kuncoro, 2000)

 Pendapatan Rendah (Kuncoro, 2000)

 Aksesbilitas Fasilitas dan Birokrasi (Kuncoro, 2000)

(46)

Faktor Kriminalitas (berdasarkan studi literatur)

 Kemiskinan (Hamzah, 1997)

 Keterdesakan Pemenuhan Kebutuhan Hidup (Hamzah, 1997)

 Kondisi Lingkungan (Hamzah, 1997)

Silahkan pilih salah satu nilai bobot pada masing-masing fakto dengan mencentang salah satu dari faktor yang ada.

Faktor 1 2 3 4 5

Kemiskinan V

Keterdesakan Pemenuhan Kebutuhan Hidup

V

Kondisi

Lingkungan V

Keterangan:

1. Sangat Tidak Setuju

2. Tidak Setuju

3. Tidak Tahu

4. Setuju

Gambar

Gambar 2. 1 Lingkaran Kemiskinan Dari Segi Pasar Modal
Gambar 3.1 Lokasi Studi Kasus
Gambar 3.2 Jumlah penduduk Kampung stren Kali Jagir tahun 2009 dan 2013
Gambar 3.3 Foto musholla Baitus Salam, Kampung stren Kali Jagir Sumber: Survey Lapangan
+7

Referensi

Dokumen terkait

FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN NELAYAN TRADISIONAL DI DESA KEDUNGRINGIN KECAMATAN MUNCAR KABUPATEN BANYUWANGI THE FACTOR OF PROVERTY CAUSES TRADISTIONAL FISHERMAN AT.. KEDUNGRINGIN

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul: Identifikasi Kompleksitas dan Faktor Penyebab Kemiskinan di Desa Sumber Pinang Kecamatan Pakusari Kabupaten

Berdasarkan uraian diatas, maka perumusan masalah yang dapat diambil sebagai dasar kajian dalam penelitian yang dilakukan adalah factor - faktor apa saja penyebab kemiskinan

Makna kemiskinan menurut Suparlan (2004:315) kemiskinan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan pada sejumlah atau segolongan

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan di Kabupaten Bandung Barat adalah jumlah penduduk, tingkat pendidikan, alokasi dana desa (ADD), jumlah toko kelontong dan

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul: FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN NELAYAN TRADISIONAL DI DESA KEDUNGRINGIN KECAMATAN MUNCAR KABUPATEN

Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah ada lima faktor faktor penyebab kemiskinan pada masyarakat nelayan di Desa Timu Kecamatan Tomia Timur

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor penyebab kriminalitas di Kota Manado, dengan membuat paradigma penelitian, menguji koefisien jalur dan