Departemen Ilmu Hubungan Internasional
Makalah Akhir Mata Kuliah Teori Hubungan Internasional II
KERUSAKAN HUTAN
TROPIS INDONESIA:
KEGAGALAN
ECOLOGICAL
RESPONSIBILITY
DARI
PERUSAHAAN MULTI
NASIONAL DAN
NEGARA
Aisha Rasyidila Kusumasomantri
1006694284
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan tropis merupakan salah satu ekosistem yang paling kaya di dunia, dimana dua pertiga spesies hewan dan tumbuhan di bumi dapat ditemukan di sana. Hutan tropis juga menjadi salah satu faktor yang mencegah terjadinya perubahan iklim global, serta sehingga keberadaannya merupakan sesuatu vital bagi kelangsungan planet ini. Sayangnya, jumlah hutan tropis menjadi semakin berkurang seiring dengan bertambahnya kebutuhan manusia.
Saat ini, Indonesia—sebagai salah satu negara dengan hutan tropis alami terbesar di dunia—merupakan negara dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Indonesia bahkan tercatat pada Gueniess Book of Record, sebagai negara dengan laju penebangan liar tercepat, dimana 2% (atau sekitar 2 juta ha) dari total hutan keseluruhan di Indonesia menghilang setiap tahunnya1. Akibatnya, banyak binatang etnik yang kini terancam punah,
perubahan iklim semakin cepat terjadi, dan bermunculannya konflik pada masyarakat lokal mengenai persengketaan lahan yang baru.
Kerusakan hutan tropis Indonesia, mayoritas disebabkan oleh kegiatan ekonomi, dimana banyak perusahaan (terutama perusahaan penghasil minyak kelapa sawit dan kertas) yang menggantungkan faktor produksinya terhadap sumber daya alami yang ada di hutan tropis, tanpa memerhatikan keberlangsungannya. Hingga saat ini, dari total luas hutan Indonesia yang mencapai 120,35 juta ha, sebanyak 33%, atau setara dengan 43 juta ha telah dijarah oleh manusia dan tidak memiliki tegakan pohon lagi2. Hal ini cukup ironis, mengingat manusia
sebagai pelaku perusakan dan konsuman, juga menggantungkan keberlangsungan hidupnya pada hutan tropis ini.
Di sisi lain, posisi tawar Indonesia dalam mencegah terjadinya kerusakan hutan sangat lemah. Hukum yang terdapat di Indonesia telah mencakup adanya pembatasan serta pelarangan penebangan hutan (terutama wilayah hutan yang termasuk ke dalam hutan lindung dan cagar alam); namun tidak diiringi dengan operasionalisasi yang baik. Pada beberapa kasus, negara justru memberlakukan kelonggaran bagi perusahaan-perusahaan perusak alam tersebut, karena kegiatan ekonominya menambah jumlah devisa negara secara
1Indonesia’s Forests in Brief, diakses dari website Global Forest Watch,
(http://www.globalforestwatch.org/english/indonesia/forests.htm) pada tanggal 2 Mei 2012, 08.16 PM 2Laju dan Penyebab Deforestasi Indonesia, diakses dari website Cifor,
signifikan. Hal ini merupakan sebuah dilemma yang dihadapi pemerintah dalam melakukan konservasi wilayah hutan.
Nestle—perusahaan yang akan diambil sebagai contoh kasus di dalam makalah ini— merupakan salah satu perusahaan pangan raksasa di tingkat global yang turut berkontribusi serta atas kerusakan hutan di Indonesia. Nestle berperan serta sebagai pihak ketiga perusak hutan, karena mengadakan kontrak dengan salah satu perusahaan penghasil minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia (Sinar Mas) yang telah menghancurkan 406.000 ha hutan tropis, serta memiliki wilayah ekspansi sebesar 1,3 juta ha (yang juga terletak di wilayah hutan tropis). Terlebih, pihak pemerintah seolah menutup mata atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh PT. Sinar Mas, dan membiarkan pelanggaran lainnya terus terjadi.
Hal ini menimbulkan reaksi protes dari berbagai penjuru dunia, menuntut agar Nestle membatalkan kontraknya dengan Sinar Mas. Protes yang dipimpin oleh LSM Greenpeace ini meluas hingga ke beberapa penjuru dunia, di antaranya di Amerika Serikat, beberapa negara Uni Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Belanda, serta di Indonesia sendiri.
Makalah ini akan membahas mengenai kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perusahaan dan negara; yang diyakini oleh para pemikir green theory, merupakans salah satu penyebab utama isu kerusakan lingkungan. Makalah ini bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana sebuah perusahaan multi nasional (Nestle) melanggar prinsip ecological responsibility dari kegiatan produksinya untuk mengeruk untung yang sebesar-besarnya dari kegiatan ekonominya; serta negara yang—baik secara pasif maupun aktif—cenderung mendukung aksi-aksi yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.
1.2 Rumusan Permasalahan
Dari latar belakang, penulis menyimpulkan permasalahan ke dalam sebuah pertanyaan: bagaimanakah peran perusahaan dan negara dalam menimbulkan kerusakan hutan di Indonesia?
1.3 Kerangka Teori 1.3.1 Green Theory
pemikiran khusus yang membatasi tindakan-tindakan destruktif manusia terhadap lingkungan hidup3.
Green Theory, pada dasarnya merupakan pemikiran yang lahir pada awal tahun 1970 di dalam kajian hubungan internasional, dan ditujukan untuk menjawab permasalahan-permasalahan lingkungan yang perlahan-lahan berkembang sebagai isu transnasional. Kajian
green theory menggambarkan sebuah pemikiran-pemikiran yang lebih radikal mengenai wacana lingkungan hidup di luar disiplin ilmu hubungan internasional, yang bertujuan untuk mengangkat kebutaan para cendikiawan akan permasalahan ekologi. Muncul sebagai kritik dari kebanyakan pemikiran rasionalis, green theory telah banyak direvisi dan dikembangkan, sehingga merangsang beberapa pemikiran baru mengenai politik global, dan menantang konsep-konsep tradisional seperti keamanan, pembangunan, dan keadilan internasional dengan wacana baru yaitu keamanan ekologi, pembangunan yang berkelanjutan, dan keadilan lingkungan.
Para pemikir green theory melihat bahwa saat ini, perkembangan kapitalisasi dan industrialisme di dunia menimbulkan sebuah hubungan perkembangan yang tidak simetris antara manusia modern dan faktor non-manusia (seperti flora dan fauna, serta masyarakat adat), sehingga secara tidak langsung, kedua hal tersebut dipercaya sebagai sebuah pemicu dari beberapa masalah yang terkait dengan isu lingkungan serta kesenjangan sosial masyarakat. Penyebabnya ditimbulkan oleh kelalaian pihak-pihak tertentu—dalam hal ini pemerintah dan perusahaan—untuk mengendalikan laju perubahan fungsi hutan menjadi lahan faktor produksi.
Dalam melihat sebuah permasalahan, terdapat empat pilar di dalam green theory itu sendiri, yaitu 1) pertanggungjawaban lingkungan, 2) keadilan sosial, 3) tidak menggunakan kekerasan, 4) demokrasi akar rumput. Makalah ini akan memfokuskan masalah terhadap pilar pertanggungjawaban lingkungan, dan memperlihatkan bagaimana fokus ini sesungguhnya menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan dari Corporate social responsibility (CSR)4.
a. Pertanggungjawaban Lingkungan (Ecological Responsibility)
Pada dasarnya, suatu perusahaan komersial menyadari bahwa masyarakat mengharapkan bentuk-bentuk idealnya dalam bidang lingkungan, ekonomi, hukum, etik, serta sumbangan sosial. Hal inilah yang kemudian mendorong perusahaan-perusahaan
3 Matthew Paterson, Green Theory, dalam buku “Theories of International Relation,” edisi keempat. (New York, Palgrave Macmillan: 2010) hal. 261
4 Dunne Tim, Milja Kurki and Steve Smith.International Relations Theories : Dicipline and Diverse second
untuk mengadakan suatu pertanggungjawaban terhadap masyarakat, sebagai bentuk dari kewajiban untuk mendukung kelancaran mereka berinteraksi dengan klien atau konsumen, pegawainya sendiri, serta masyarakat secara keseluruhan; atau yang kita kenal sekarang dengan istilah CSR.
Di antara semua CSR di atas, pertanggungjawaban lingkungan merupakan sesuatu yang perlu dipandang secara berbeda dari pertanggungjawaban yang lain.
Krisis lingkungan pada tahun 1960-an berdampak langsung terhadap masyarakat, sehingga untuk pertama kalinya dalam sejarah, masyarakat mencoba untuk menetapkan batasan-batasan mengenai sejauh mana mereka dapat mengeksploitasi alam, serta sejauh mana pertumbuhan ekonomi dapat dikembangkan dan dipahami, sehingga hal tersebut tidak mengakibtkan degradasi yang signifikan terhadap alam5. Evolusi pemikiran
masyarakat itulah yang kemudian menimbulkan suatu wacana mengenai pelestarian alam di tengah-tengah kegiatan produksi yang cenderung destruktif. Perkembangan ini membuat animo terhadap isu lingkungan meningkat melampaui isu hukum dan ekonomi (yang pada dasarnya merupakan asal usul dari pertanggungjawaban lingkungan itu sendiri), sehingga perusahaan komersial perlu menerapkan suatu komponen baru di dalam pertanggungjawaban sosialnya, yaitu pertanggungjawaban lingkungan6.
Dalam konteks makalah ini, dapat ditetapkan bahwa pertanggungjawaban lingkungan menjadi dasar atas pertanggungjawaban sosial lainya. Hal inilah yang kemudian menjadi refleksi dari pembangunan berkelanjutan (sustainable development), atau pembangunan ekonomi yang tetap menghargai adanya biodiversitas.
Terdapat tiga alasan mengapa saat ini biodiversitas termasuk ke dalam persyaratan pembangunan global: 1) sebagai sebuah prinsip dasar yang menyatakan bahwa setiap spesies memiliki hak untuk hidup dalam kondisi yang layak di habitatnya, 2) keberadaan makhluk hidup membentuk sebuah rantai makanan yang saling berhubungan satu sama lain, sehingga keberadannya menjadi suatu hal yang esensial dalam bertahan hidup, 3) pengalaman menunjukkan bahwa melestarikan keberagaman genetik yang ada, berarti juga menumbuhkan suatu rangsangan ekonomi terhadap faktor agrikultur, dan industri obat-obatan7.
Untuk mewujudkan hal ini, suatu perusahaan perlu memberlakukan proteksi terhadap lingkungan hidup di dalam kegiatan ekonominya. Dengan begitu, pembangunan
5 Duţu M.: Ecological responsibility’s illusions. Dalam Finanacial Week, diakses 8 September 2008, p. 14. 6 Laura Muresan, Cristian-Romeo Potincu, Mihai Dugulena. Ecological Responsibility, Component of the
yang berkelanjutan dapat memperoleh hasil yang memuaskan, tanpa harus mengorbankan masa depan.
Seiring dengan berkembangnya isu lingkungan selama beberapa dekade terakhir; maka preservasi terhadap sumber daya alam pun mulai dilaksanaka. Hal ini ditujukan agar keuntungan yang dapat dicapai perusahaan tidak terhenti hanya pada satu generasi saja, namun dapat berjalan secara berkesinambungan. Nilai-nilai yang diciptakan oleh pertanggungjawaban lingkungan ini secara langsung akan mendukung keberhasilan pembangunan dari perusahaan itu sendiri di waktu mendatang8.
8 Abrudan I., Bucur M.: Social Responsibility in the context of Sustainable Development – specific aspects for
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kerusakan Hutan yang Disebabkan oleh Ekspansi Lahan PT. Sinar Mas
Sinar Mas merupakan sebuah perusahaan penghasil minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia, yang terkenal agresif dalam pembukaan lahan demi tujuan produksinya. Hingga saat ini, grup perusahaan Sinar Mas telah memiliki 406.000 hektar lahan perkebunan kelapa sawit, dan mengklaim dirinya sebagai perusahaan dengan lahan ekspansi terluas di dunia, mencapai 1,3 juta hektar. Dari beberapa operasi terakhir Sinar Mas, telah diketahui bahwa lokasi penanaman kelapa sawit perusahaan ini ternyata bertempat di area hutan tropis, dan ekspansi lahannya melibatkan proses deforestasi terlebih dahulu. Hal inilah yang kemudian menyebabkan rusaknya lahan gambut yang kaya karbon, serta habitat hewan endemik di hutan Indonesia9.
Meskipun pada segi ekonomi PT. Sinar Mas telah berkontribusi banyak terhadap perkembangan ekonomi Indonesia, tetapi kegiatan produksinya menimbulkan banyak masalah lingkungan dan sosial. Di wilayah Sumatra dan Kalimantan, ekspansi ladang kelapa sawit mengancam keberlangsungan hidup spesies yang terancam punah seperti gajah, harimau, badak, dan orangutan. Karbon dioksidan dalam jumlah yang besar pun dilepaskan di udara ketika hutan dan lahan gambut dihancurkan. Deforestasi ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara penghasil karbon terbesar di dunia, urutan ketiga setelah Amerika Serikat dan Cina. Deforestasi oleh PT. Sinar Mas juga menyebabkan banyak permasalahan sosial dengan menggusur tempat tinggal masyarakat adat pedalaman untuk dijadikan lahan perkebunan.
Sejauh ini, PT. Sinar Mas berusaha untuk menanggulangi dampak kerusakan lingkungannya dengan bergabung dengan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO); sebuah organisasi pemasok minyak kelapa sawit yang beranggotakan pemasok dan konsumen minyak kelapa sawit; yang menekankan tindakan produksinya terhadap kelestarian lingkungan.
Meskipun anggota-anggota RSPO telah memberikan dana sumbangan untuk perlindungan hutan dan lahan gambut, kenyataan yang terjadi di lapangan sangat berbeda. Standar yang diberikan RSPO terhadap pertanggungjawaban lingkungan tidak memadai
9Caught Red-Handed: How Nestle's Use of Palm Oil is Destroying Rainforests and the Climate di
untuk mencegah kehancuran lahan gambut dan hutan tropis Indonesia. Yang lebih buruk lagi, RSPO bahkan tidak memiliki kapasitas untuk memaksakan standarnya dipatuhi oleh anggota-anggotanya. Untuk saat ini, RSPO menciptakan sebuah ilusi mengenai penanaman kelapa sawit yang berkelajutan, menjunjun keadilan atas ekspansi industri mereka, kerusakan hutan, serta perubahan iklim; dan melindungi perusahaan-perusahaan yang melakukan deforestasi besar-besaran di dalamnya10.
PT. Sinar Mas telah melakukan beberapa pelanggaran terhadap salah satu asas yang ditetapkan oleh RSPO mengenai penebangan liar serta penggusuran hutan dan lahan gambut tanpa memperhatikan aspek kelestarian lingkungan, juga perizinan dan hukum Indonesia tentang pemanfaatan hutan di bidang industri. Pada tahun 2009 silam lalu, PT. Sinar Mas telah diketahui gagal mengajukan permohonan penebangan hutan terhadap Kementrian Perhutanan (IPK), di sekitar areal Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat. Tetapi ternyata PT. Sinar Mas telah memberishkan 4000 hektar hutan di wilayah itu sebelum mendapat persetujuan dari pemerintah, dan pada PT. Sinar Mas tetap melakukan ekspansi perkebunan di daerah tersebut. Pada kasus yang lain, PT. Sinar Mas bahkan telah melaukan ekspansi lahan dua tahun sebelum mendapatkan persetujuan pemerintah di sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh Sumatra11.
Akibat dari pelanggaran hukum ini, pada tahun 2008, distribusi habitat orang utan di wilayah Kalimantan beririsan dengan area lahan perkebunan. Tidak hanya beririsan, tetapi tiga dari empat ekspansi lahan yang dilakukan oleh PT. Sinar Mas setidaknya menghancurkan habitat asli orangutan, dan menggantinya ladang tumbuhan kelapa sawit. Di wilayah Sumatra, hal yang sama juga terjadi pada satu-satunya reintroduction habitat bagi Orangutan yang berhasil di dunia. Wilayah ini juga bahkan diketahui sebagai habitat dari 100 dari 400 harimau sumatra yang terancam punah, dan 40-60 gajah sumatra. Hal ini menunjukkan bahwa PT. Sinar Mas tidak dapat menerima standar pertanggungjawaban lingkungan, dan tidak menjunjung konsep biodiversitas di dalamnya12.
Selain itu, perluasan lahan kelapa sawit PT. Sinar Mas selama beberapa dekade terakhir ini menimbulkan konflik sosial dengan masyarakat adat, yang menggantungkan kehidupannya di hutan. Kini, jutaan masyarakat adat terusir dari tempat tinggalnya, dan dipaksa untuk mengubah gaya hidupnya karena hutan tempat mereka tinggal telah digusur. Salah satu contoh kasus adalah pembukaan lahan di dekat Taman Nasional Danau Sentarum, yang merupakan salah satu kawasan hulu sungai Kapuas yang menjadi sumber air dan 10United Plantation Certified despite gross Violations of RSPO Standards, (Greenpeace, 2008)
pangan bagi masyarakat sekitar. Lahan tersebut dibakar, dan masyarakar kini tidak memiliki sumber air bersih serta ikan segar dari sungai lagi. Contoh lainnya adalah masyarakat adat di papua yang menggantungkan pangan utamanya dari sagu. 20,535 hektar hutan ditebang untuk membuka lahan baru, sehingga pohon sagu kini semakin sulit dijumpai di hutan.
Kaum adat lainnya yang terancam oleh ekspansi lahan PT. Sinar Mas adalah Talang Mamak dan Orang Rimba yang hidup di dalam Taman Nasional Bukit Tigapuluh13.
2.1 Kontribusi Nestle Terhadap Kerusakan Hutan Indonesia
Nestle merupakan salah satu perusahaan pangan terbesar di dunia, yang dapat menjual jutaan produk perharinya. Perushaaan ini terus berkembang dari tahun 1860, dan kini menjadi salah satu konsumen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Dari pernyataan mereka, tercatat bahwa konsumsi rutin minyak kelapa sawit mereka telah berlipat ganda sejak tiga tahun yang lalu, yaitu sekitar 170.000 ton menjadi 320.000 ton14.
Pada tahun Desember 2009 Nestle Indonesia mengakui bahwa pihaknya telah melakukan transaksi minyak kelapa sawit secara langsung dengan grup Sinar Mas; semantara di tingkat global, Nestle mendapatkan pasokan minyak kelapa sawit secara reguler dari perusahaan minyak raksasa Cargill dan Loders Croklaan (IOI) yang membeli bahan mentahnya dari perkebunan milik PT. Sinar Mas15.
Cargill tercatat sebagai konsumen utama dari bagian ekspor kelapa sawit mentah PT. Sinar Mas drai Riau, pada tahun 2009. Cargill juga menjadi perusahaan yang mendistribusikan produk PT. Sinar Mas ke berbagai belahan dunia, seperti India, Belanda, Italia, dan Jerman. Perusahaan lain yang menjadi pemasok minyak kelapa sawit pada Nestle di Hamburg (khususnya di bagian prouksi merk Kitkat) adalah IOI, yang ternyata bahan bakunya juga berasal dari PT. Sinar Mas. Tercatat bahwa pada tahun 2009 IOI menerima sejumlah pengiriman produk dari PT. Sinar Mas.
Sehingga apabila ditelaah, maka Nestle berada pada pihak ketiga yang menjalankan perusakan hutan tropis di Indonesia. Keterkaitannya satu sama lain dapat dilihat pada diagram berikut:
13 Ibid.
14 Respon Nestlé terhadap BBC Panorama, kuisioner yang dikirim kepada industri pangan terbesar di Inggris,
dalam kaitannya dengan program “Dying for a biscuit”, 22 February 2010
Bertransaksi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan perusahaan minyak kelapa sawit yang tidak mengindahkan dampak lingkungan, Nestle pun dikecam dan dianggap tidak dapat menjalankan pertanggungjawaban lingkungannya dengan baik.
a. Kegagalan Pertanggungjawaban Lingkungan Nestle
Sebelumnya, Nestle mengklaim dirinya sebagai sebuah perusahaan yang ramah lingkungan, memiliki perhatian khusus terhadap perubahan iklim, dan bertanggung jawab kepada kesejahteraan hidup karyawannya. Nestle menjamin pertanggungjawaban lingkungannya melalui kegiatan produksinya yang berkelanjutan, atau sesuai dengan sustainability standard.
Pada tahun 2009, transaksinya dengan PT. Sinar Mas membuat Nestle gagal mempertahankan kredibilitas dalam menjalankan pertanggungjawaban lingkungannya, karena menemui beberapa masalah di bidang standar produksi berkelanjutan dan pemasok faktor produksi.
berlaku, dimana mereka melakukan kegiatan produksinya atau negara dimana mereka menyalurkan produk-produknya”16. Sementara pada April 2009 lalu, data pemasok
Nestle diperiksa, dan ditemukan beberapa pemasok yang tidak memenuhi kriteria Nestle di dalam kebijakannya, diantaranya Cargill, IOI, dan Sinar Mas. Ketiga perusahaan ini, terutama Sinar Mas, dianggap telah melanggar hukum yang berlaku di Indonesia, dan kebijakan perusahaan Nestle itu sendiri. Tetapi setelah mengetahui data-data di lapangan, Nestle tidak menghiraukannya dan memilih untuk tetap bekerjasama dengan PT. Sinar Mas.
Pada dasarnya, pihak Nestle berusaha untuk berlindung di balik RSPO, dengan melemparkan tuduhan pertanggungjawaban lingkungan ini terhadap organisasi tersebut17. Nestle berpikir bahwa mengadakan kontrak dengan anggota RSPO
merupakan sesuatu yang aman, karena RSPO menggunakan label “sustainable palm oil”. Hal ini merupakan murni dua kesalahan dari Nestle, dimana pertama, Nestle tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai identitas produksi pemasoknya, dan yang kedua, tidak mengetahui sejauh mana pengaruh kebijakan RSPO terhadap perusahaan-perusahaan kelapa sawit.
2.2 Kegagalan Pemerintah dalam Melindungi Hutan Indonesia
Pada kasus ini, kegagalan pemerintah Indonesia dalam melindungi kawasan hutannya berakar pada Peraturan Pemerintah (PP) No.2 Tahun 2008; tentang jenis dan tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (JPNP) yang berasal dari pemanfaatan hutan. PP ini melegalkan adanya pemanfaatkan hutan untuk kegiatan pembangunan dan kegiatan ekonomi —di luar kegiatan yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan. Peraturan ini juga mengizinkan adanya pengelolaan hutan lindung oleh pihak swasta, sehingga ada kemungkinan bahwa hutan lindung berada di bawah otoritas pihak-pihak seperti perusahaan dan investor18.
Keluarnya PP tentang pengelolaan hutan lindung tersebut menimbulkan kekhawatiran akan rawannya perubahan fungsi hutan lindung menjadi fungsi ekonomi. Penyebabnya antara lain adalah otoritas pihak swasta untuk mengatur dan memanfaatkan hutan lindung yang dikelolanya, sehingga seolah-olah kawasan hutan tersebut menjadi “milik” si pengelola tersebut. Padahal, potensi kerusakan hutan yang diterima oleh Indonesia tidak sebanding
16 The Nestlé Supplier Code 2009. (www.nestle.com/AllAbout/Suppliers/Introduction.htm) 17 Op Cit, Greenpeace.
dengan harga sewa yang ditawarkan oleh pemilik modal. Peraturan ini jelas hanya menguntungkan perusahaan besar saja.
Dengan berbekal PP No. 2 Tahun 2008 ini, perubahan hutan lindung menjadi hutan produksi dapat dilakukan hanya dengan membayar Rp 1,8 juta hungga Rp 3 juta per hektar kepada pemerintah. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh banyak perusahaan (termasuk PT. Sinar Mas) untuk merusak dan meratakan kawasan hutan Indonesia demi pelaksanaan kegiatan ekonominya.
Hal ini dilatarbelakangi oleh keinginan pemerintah untuk menarik investor sebanyak-banyaknya, sehingga diciptakanlah suatu mekanisme—yang berupa peraturan dan undang-undang—yang dapat menguntungkan investor. Dengan begitu, Indonesia dapat menarik keuntungan untuk menambah cadangan devisanya, menurunkan tingkat pengangurannya, serta pertumbuhan ekonominya.
Dalam kasus ini, PT. Sinar Mas merupakan sebuah perusahaan raksasa Indonesia yang memasok 10% dari total keseluruhan minyak kelapa sawit Indonesia, sehingga PT. Sinar Mas memiliki kontribusi besar dalam menambah devisa negara Indonesia. Hal inilah yang kemudian membuat pemerintah Indonesia mengalami paradoks dalam menangani pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh PT. Sinar Mas.
Mengesampingkan PP di atas, sesungguhnya Indonesia memiliki sepertangkat peraturan yang berisi mengenai perlindungan hutan dan lahan gambut. Tetapi kondisi birorasi Indonesia yang sarat akan korupsi membuat peraturan-peraturan tersebut menjadi sulit terealisasi. Petugas pemerintah yang dibayar rendah, dikombinasikan dengan usahawan yang tidak bertanggungjawab, serta politisi yang licik membuat peraturan tersebut diabaikan, spesies yang terancam punah semakin bertambah, dan para pelaku perusak hutan berkeliaran bebas.
Tradisi kapitalisme kroni—yang telah menjadi budaya di dalam pemerinahan Indonesia sejak masa pemerintahan Soeharto (1967-1998)—memiliki peran penting dalam lemahnya respon pemerintah kerusakan hutan yang diakibatkan oleh perusahaan (terutama perusahaan besar dan perusahaan multinasional)19. Hal ini dikarenakan banyaknya
perusahaan-perusahaan yang beroperasi atas izin yang diputuskan secara personal, melalui praktek-praktek ilegal seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Hal ini ditambah dengan rendahnya personil polisi hutan, serta organisasi pengawas lainnya yang berfungsi untuk menjalankan peraturan-peraturan tersebut.
19Indonesia: Profil Lingkungan, diakses dari situs Mongabay
Dengan begitu, maka dapat dilihat bahwa pemerintah di Indonesia sesungguhnya memiliki peranan yang besar dalam kerusakan hutan di Indonesia. Peraturan yang mendukung pelaksanaan perusakan hutan; serta iklim politik yang tidak kondusif menjadi penyebab utama dari kelalaian Indonesia dalam menjaga kawasan hutannya.
2.3 Reaksi Masyarakat Internasional
Kegiatan produksi PT. Sinar Mas yang destruktif, dan Nestle yang menggunakan bahan baku dari PT. Sinar Mas mulai diserukan pada tahun 2010 lalu, dan mengundang aksi protes dari berbagai kalangan di tingkat global—khususnya dari para konsumen Nestle sendiri.
Konfrontasi terhadap Nestle dimulai tepat setelah badan riset Greenpeace meluncurkan hasil penelitiannya mengenai pemasok bahan baku Nestle (PT. Sinar Mas), pada Maret 2010. Pada tanggal 17 Maret 2010, Greenpeace memulai kampanye Give Orangutan a Break
dengan meluncurkan sebuah viral video yang bertajuk “Have a Break?”. Video ini memperlihatkan seorang laki-laki yang mengunyah jari orangutan kemasan Kitkat; yang mengandung arti, “satu gigit produk Nestle yang anda makan, maka anda juga merusak satu bagian dari hutan tropis Indonesia, yang merupakan habitat alami bagi orangutan”.
Video ini mengundang banyak perhatian masyarakat global, sehingga menimbulkan protes dari berbagai media terhadap pihak Nestle. Pihak Nestle, melalui Youtube, sempat mencoba untuk menghentikan protes dengan menghapus video ini. Tetapi hal ini tidak menghentikan orang untuk menontonnya. 30 jam setelah video yang sama diluncurkan di saluran Youtube lain, 180.000 orang telah menontonnya. Video tersebut di unggah ulang oleh banyak orang, dan hingga akhir Maret, penontonnya mencapai jumlah 670.000 orang20.
Dari sana, aksi protes masyarakat global berkembang ke berbagai media masa, khususnya di internet. Di jejaring sosial Facebook, sebuah fanpage dibentuk khusus untuk melontarkan kritik terhadap Nestle; sedangkan di jejaring sosial twitter, isu ini diangkat dengan hashtag #kitkat dan #nestle, dan sempat menjadi trending topic di seluruh dunia.
Mayarakat global juga mendukung aksi-aksi yang dilakukan oleh Greenpeace; serta tuntutan-tuntutan yang diajukan oleh Greenpeace terhadap Nestle dan pemerintah Indonesia:
a. Tuntutan Masyarakat Global terhadap Nestle dan Pemerintah Indonesia
Pada dasarnya, masyarakat internasional meminta Nestle, agar segera membatalkan kontrak dan berhenti melakukan bisnis dengan perusahaan minyak
kelapa sawit yang bersifat destruktif seperti Sinar Mas. Perusahaan seharusnya dapat menggunakan pengaruh ekonomi dan politiknya untuk melindungi hutan tropis dari ekspansi lahan kelapa sawit21.
Sebelumnya, atas alasan pertanggungjawaban lingkungan, beberapa perusahaan raksasa lainnya seperti Unilever, Danone, dan Kraft telah membatalkan kontrak dengan PT. Sinar Mas. Greenpeace berharap bahwa Nestle juga melakukan hal yang sama, dan berhenti menapikkan fakta bahwa PT. Sinar Mas melakukan kegiatan produksi yang desktruktif terhadap hutan tropis.
Banyak aktivis lingkungan juga meminta masyarakat global untuk tidak membantu perusahaan-perusahaan pangan raksasa yang menggunakan minyak kelapa sawit dari PT. Sinar Mas, untuk membantu kesuksesan kampanyenya.
Selain itu, masyarakat internasional, melalui Greenpeace juga menuntut pemerintah Indonesia untuk segera melaksanakan moratorium terhadap perusahaan-perusahaan minyak kelapa sawit di Indonesia terkait permasalahan deforestasi dan penggusuran lahan gambut. Hal ini untuk memastikan bahwa dalam jangka waktu panjang, pelanggaran-pelanggaran hukum dan perizinan penebangan hutan tidak dilanggar lagi. Kekuatan pemerintah sebagai pemegang keputusan utama, dinilai sebagai kunci keberhasilan dari kampanye ini.
Selain itu, beberapa perwakilah dari LSM internasional juga mengirimkan surat terbuka terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono; yang berisi permohonan untuk melindungi habitat orangutan yang terancam bahaya, dan melarang perusakan hutan dan lahan gambut lebih jauh22.
b. Hasil dari Protes Masyarakat Global
Setelah hampir dua bulan mendapatkan kritik dari masyarakat global mengenai pemasok bahan bakunya, akhirnya Nestle setuju untuk membatalkan kontraknya dengan PT Sinar Mas.
Nestle bahkan berkomitmen untuk menambah kebijakan baru di dalam perusahaannya, yaitu mengesampingkan pemasok yang dalam proses produksiya memiliki atau mengatur anak perusahaan yang menanam kelapa sawit, atau tumbuhan lain, dengan melakukan deforestasi terlebih dahulu. Kebijakan ini akan
21Deforestation for Palm Oil. Disadur dari website Greenpeace. (http://www.greenpeace.org/usa/en/campaigns/ forests/forests-worldwide/paradise-forests/palm-oil/), pada tanggal 9 Mei 2012, pukul 21.17
diterapkan secara perdana kepada PT. Sinar Mas beserta seluruh konsumennya (pihak kedua), dan diharapkan dapat menjadi pukulan begi perusahaan ini untuk dapat lebih melakukan proses plantasi yang ramah lingkungan23.
Pengumuman Nestle atas pembatalan kontrak ini mengirimkan sebuah pesan kuat bagi seluruh perusahaan produsen minyak kelapa sawit bahwa deforestasi merupakan sesuatu yang tidak dapat ditoleransi di pasar global.
Berikut ini hal-hal lain yang Nestle janjikan pasca-pembatalan kontraknya dengan PT. Sinar Mas:
1. Membangun kerjasama dengan The Forest Trust (TFT)
Kerjasama dengan TFT ditujukan untuk membuat sebuah peraturan umum terkait
responsible sourcing guidlines, sehingga Nestle dapat memastikan bahwa produk yang mereka gunakan tidak melalui proses deforestasi terlebih dahulu.
Untuk memastikan hal ini berjalan dengan baik, Nestle bersedia mengadakan pertemuan rutin dengan Greenpeace.
2. Bergabung dengan RSPO
Untuk mendapatkan informasi mengenai pemasok minyak kelapa sawit yang telah bersertifikat, Nestle memastikan bahwa perusahaannya bergabung dengan RSPO.
3. Mengaudit rantai pasokan bahan baku
Nestle akan meminta transparansi dari seluruh pemasok bahan bakunya, sehingga rantai pasokan dapat diketahui. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya produk yang berasal dari perusahaan yang tidak menjalankan pertanggungjawaban lingkungannya. Nestle meyakinkan bahwa perusahaannya tidak menerima toleransi terhadap perusahaan pemasok di luar kriteria mereka.
4. Sustainable Palm Oil pada tahun 2015
Nestle menyatakan bahwa pada tahun 2015, perusahaannya hanya akan menggunakan minyak kelapa sawit dari perusahaan yang telah memiliki sertifikat “ramah lingkungan”24.
23Sweet Success for Kit Kat Campaign: You Asked, Nestle has Answer. Disadur dari website Greenpeace (http:// www.greenpeace.org/international/en/news/features/Sweet-success-for-Kit-Kat-campaign/), pada 12 Mei 2012, pukul 0.38 PM.
24 Surat Nestle kepada Greenpeace.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga berjanji untuk segera melakukan moratorium, agar perluasan ladang yang dilakukan oleh PT. Sinar Mas tidak berjalan sekaligus dalam waktu yang singkat.
Meskipun pada dasarnya protes yang dilakukan masyarakat global tidak menghapuskan seluruh kegiatan pengrusakan hutan di Indonesia, namun setidaknya hal ini dapat memberikan peringatan terhadap perusahaan pemasok minyak kelapa sawit untuk lebih memerhatikan keberlangsungan lingkungan hidup hutan tropis.
Namun bagaimanapun, pihak yang dikonfrontasi oleh masyarakat internasional merupakan pihak ketiga dalam rantai produksi, serta negara (yang pada dasarnya memiliki kekuatan absolut untuk mengatur negaranya) sehingga keberhasilan kampanye ini sifatnya hanya sebagai “ancaman” saja. Perlu ada sebuah tekanan yang lebih kuat dari pasar, sehingga perusahaan dan negara yang melakukan praktik perusakan hutan dapat memerhatikan nilai-nilai ecological responsibility yang berlaku.
2.4 Pandangan Green Theory dalam kasus ini
Dalam kasus ini, penerapan green theory sendiri dapat dilihat pada bagaimana Nestle, serta serangkaian pemasok produknya, melakukan kegiatan industri yang bersifat destruktif sehingga mengakibatkan degradasi lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapat para pemikir
green theory yang sebelumnya menyatakan bahwa, “perkembangan kapitalisasi dan industrialisme di dunia menimbulkan sebuah hubungan perkembangan yang tidak simetris antara manusia modern dan faktor non-manusia, sehingga kedua hal tersebut dipercaya sebagai pemicu dari beberapa masalah yang terkait dengan isu lingkungan serta kesenjangan sosial masyarakat. Penyebabnya ditimbulkan oleh kelalaian pemerintah dan perusahaan untuk mengendalikan laju perubahan fungsi hutan menjadi lahan faktor produksi.”
Hal ini bertentangan dengan salah satu pilar green theory, yaitu pertanggungjawaban lingkungan; bahwa sebuah perusahaan perlu memperhatikan dan menjaga biodiversitas dalam melakukan kegiatan produksinya. Hal ini, telah dilanggar oleh PT. Sinar Mas dengan menghancurkan habitat asli hewan-hewan endemik yang terancam punah di Indonesia; menyingkirkan lahan gambut yang kaya karbon, dan menggusur pemukiman masyarakat adat yang tinggal di tengah-tengah hutan.
pertanggungjawaban lingkungannya) untuk tidak menggunakan bahan baku dari pemasok yang tidak ramah lingkungan.
Hal ini juga tentu bertentangan dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development), yang terdapat di dalam pertanggungjawaban lingkungan perusahaan.
Di sisi lain, pemerintah, dengan seperangkat perauturan yang legal, memposisikan PT. Sinar Mas dan Nestle dalam posisi yang meguntungkan. PP No. 2 Tahun 2008 menjadi salah satu peraturan yang membuat PT. Sinar Mas bebas beroperasi di beberapa kawasan yang seharusnya menjadi kawasan pelestarian di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah juga memegang peranan penting terhadap kerusakan hutan di Indonesia.
BAB III
KESIMPULAN
Pendekatan green theory pada makalah ini mengarahkan permasalahan kepada bagaimana perkembangan kapitalisme dan industrialisasi menggurung perusahaan-perusahaan besar melakukan kegiatan produksi yang destruktif terhadap lingkungan. Hal inilah yang memunculkan kebutuhan akan pertanggungjawaban lingkungan perusahaan, yang diiringi dengan kontrol atas pertanggungjawaban tersebut.
Pengaplikasian teori ini terlihat pada bagaimana PT. Sinar Mas merusak hutan dan lahan gambut Indonesia untuk dijadikan lahan produksinya. Di dalam rantai produksi, hal ini kemudian terkait dengan komitmen Nestle dalam menjalankan CSR-nya, di mana Nestle— seperti yang telah dibahas dalam isi makalah—melangar ketetapannya sendiri dalam menentukan pemasok bahan bakunya, yaitu pemasok yang “memiliki kepedulian terhadap kelangsungan lingkungan dan memastikan kepatuhannya di segala hukum dan peraturan yang berlaku, dimana mereka melakukan kegiatan produksinya atau negara dimana mereka menyalurkan produk-produknya”.
Pemerintah, sebagai lembaga yang memegang otoritas, juga memiliki peranan besar di dalam kerusakan hutan Indonesia. Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2008, merupakan salah satu peraturan yang dibuat untuk menarik investor; namun tidak mempertimbangkan aspek-aspek lain yang menjadi konsekuensinya. Secara tidak langsung, PP No. 2 Tahun 2008 juga membuat pemerintah mendukung aksi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dalam melakukan kegiatan ekonominya—termasuk kegiatan ekonomi yang bersifat destruktif. Selain itu, kondisi pemerintahan Indoensia yang tidak kondusif memperbesar kemungkinan perusahaan-perusahaan tersebut melakukan tindak perusakan hutan di Indoensia.
Hal inilah yang kemudian memancing reaksi masyarakat internasional (dipimpin oleh Greenpeace), yang berusaha untuk menuntut Nestle menjalankan pertanggungjawaban lingkungannya dengan memperlihatkan tindakan-tindakan pelanggaran apa saja yang telah dilakukan oleh PT. Sinar Mas; dan menggalang kekuatan suara dari masyarakat global.
cenderung melegalkan—perbuatan tersebut. Hal ini seiring dengan apa yang tercantum dalam
Daftar Pustaka
Indonesia’s Forests in Brief, diakses dari website Global Forest Watch,
(http://www.globalforestwatch.org/english/indonesia/forests.htm) pada tanggal 2 Mei 2012, 08.16 PM
Laju dan Penyebab Deforestasi Indonesia, diakses dari website Cifor,
(http://www.cifor.org/publications/pdf_files/occpapers/op-09i.pdf) pada tanggal 9 Mei 2012, 13.06 PM. Matthew Paterson, Green Theory, dalam buku “Theories of International Relation,” edisi keempat. (New York, Palgrave Macmillan: 2010) hal. 261
Dunne Tim, Milja Kurki and Steve Smith.International Relations Theories : Dicipline and Diverse second edition (New York : Oxford University Press, 2010).Hal. 258
Duţu M.: Ecological responsibility’s illusions. Dalam Finanacial Week, diakses 8 September 2008, p. 14. Duta Masyarakat, Pemerintah Gadaikan Hutan Lindung, (edisi Jumat, 11 Juli 2008).
Laura Muresan, Cristian-Romeo Potincu, Mihai Dugulena. Ecological Responsibility, Component of the Corporate Social Responsibility, (Transilvania University of Brasov: 1991) hal 2-4
Abrudan I., Bucur M.: Social Responsibility in the context of Sustainable Development – specific aspects for Romania. Dalam Conference Corporate social responsibility and sustainable
Development, (Comunicare.ro Publishing House (Bucharest: 2009).
Indonesia: Profil Lingkungan, diakses dari situs Mongabay (http://world.mongabay.com/indonesian/profil.html, pada tanggal 4 Juni 2012, pukul 23.55)
Caught Red-Handed: How Nestle's Use of Palm Oil is Destroying Rainforests and the Climate di (www.greenpeace.org/usa/news/greenpeace-report-links-nestle-to-rainforest-destruction031710)
United Plantation Certified despite gross Violations of RSPO Standards, (Greenpeace, 2008)
Respon Nestlé terhadap BBC Panorama, kuisioner yang dikirim kepada industri pangan terbesar di Inggris, dalam kaitannya dengan program “Dying for a biscuit”, 22 February 2010
The Nestlé Supplier Code 2009. (www.nestle.com/AllAbout/Suppliers/Introduction.htm)
Nestle Doesn’t Deserve a Break. Disadur dari website Greenpeace. (http://www.greenpeace.org/international/en/ news/features/Nestle-needs-to-give-rainfores/), pada 9 Mei 2012, pukul 22.02.
Halaman dapat dilihat di (http://www.greenpeace.org/international/en/campaigns/climate-change/kitkat/)
Deforestation for Palm Oil. Disadur dari website Greenpeace.
(http://www.greenpeace.org/usa/en/campaigns/forests/forests-worldwide/paradise-forests/palm-oil/), pada tanggal 9 Mei 2012, pukul 21.17
Sweet Success for Kit Kat Campaign: You Asked, Nestle has Answer. Disadur dari website Greenpeace
(http://www.greenpeace.org/international/en/news/features/Sweet-success-for-Kit-Kat-campaign/), pada 12 Mei 2012, pukul 0.38 PM.
Surat Nestle kepada Greenpeace.