Cyberlaw Tugas Etika Profesi I

16  12  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Banyak orang yang mengatakan bahwa dunia cyber (cyberspace) tidak dapat diatur. Cyberspace adalah dunia maya dimana tidak ada lagi batas ruang dan waktu. Padahal ruang dan waktu seringkali dijadikan acuan hukum. Jika seorang warga Indonesia melakukan transaksi dengan sebuah perusahaan Inggris yang menggunakan server di Amerika, dimanakah (dan kapan) sebenarnya transaksi terjadi? Hukum mana yang digunakan?

Cyberlaw merupakan salah satu topik yang hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Di Indonesia telah keluar dua buah Rancangan Undang-Undang (RUU). Yang satu diberi nama: “RUU Pemanfaatan Teknologi Informasi” (PTI), sementara satunya lagi bernama “RUU Transaksi Elektronik”. RUU PTI dimotori oleh Fakultas Hukum Universitas Pajajaran dan Tim Asistensi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jalur Departemen Perhubungan (melalui Dirjen Postel), sementar RUU TE dimotori oleh Lembaga Kajian Hukum dan Teknologi dari Universitas Indonesia dengan jalur Departemen Perindustrian dan Perdagangan.

1.2 Rumusan Masalah

a.) Mengerti apa yang dimaksud Cyberlaw dan E-commerce b.) Menjelaskan Hukum-Hukum Cryberlaw.

1.3 Tujuan Penulisan

(2)

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian E-Commerce

Secara umum, dapat dikatakan bahwa e-commerce adalah system perdagangan yang menggunakan mekanisme elektronik yang ada di jaringan internet. E-commerce merupakan warna baru dalam dunia perdagangan, di mana kegiatan perdagangan tersebut dilakukan secara elektronik dan online. Pembeli tidak harus datang ke toko dan memilih barang secara langsung, tetapi cukup melakukan browing di depan computer untuk melihat daftar barang dagangan secara elektronik. Jika mempunyai keputusan membeli, ia cukup mengisi beberapa form yang disediakan, kemudian mengirimkannya secara online. Pembayaran bisa dilakukan dengan kartu kredit atau transfer bank, dan kemudian pulang kerumah menunggu barang datang.

E-Commerce tidak hanya digunakan dalam hal jual-beli saja, tetapi semua jenis transaksi komersial. Memang pada awalnya, system perdagangan elektronik ini dilakukan dalam bidang ritail, tetapi pada perkembangannya, e-commerce sudah menjangkau bidang-bidang lain seperti perbankan dan jasa asuransi.

2.2 Permasalahan E-Commerce

Dalam pelaksanaannya, e-commerce memunculkan beberapa isu tentang aspek hukum perdagangan berkaitan dengan penggunaan system yang terbentuk secara online networking management tersebut. Beberapa permasalahan tersebut antara lain adalah:

a. Prinsip yurisdiksi dalam transaksi

(3)

b. Kontrak dalam transaksi elektronik

Kontrak dalam beberapa hal ini merupakan bukti kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi komersial. Permasalahnnya, hokum Negara mengenai perdagangan konvensional menganggap transaksi komersial sebagai suatu yang valid, berkekuatan penuh, dan tanpa syarat yang spesifik dengan istilah paper based transaction. Sementara di dalam e-commerce, kontrak tersebut dilakukan secara elektronis dan paperless transaction. Dokumen yang digunakan adalah digital document, bukan paper document.

c. Perlindungan konsumen

Masalah perlindungan konsumen merupakan factor utama dalam keberhasilan sebuah e-commerce. Hal ini dikarenakan konsumen merupakan pihak yang menentukan kelangsungan hidup perdagangan elektronik tersebut. Masalah yang sering terjadi dalam kaitannya dengan perlindungan konsumen ini adalah kecurangan yang sering dilakukan oleh penjual mengingat keberdaannya.

d. Pajak

Permasalahan pajak dalam transaksi e-commerce ini muncul ketika transaksi dihadapkan pada batas Negara. Masing-masing Negara akan menemui kesulitan dalam menerapkan ketentuan pajaknya karena pihak penjual dan pembeli akan sulit dilacak keberadannya secara fisik. Sebagai contoh, ada sebuah toko online milik orang Indonesia, tetapi toko tersebut didaftarkan sebagai suatu “.com” yang servernya berada di Australia. Jika terjadi transaksi, Negara manakah yang berhak memungut pajak? Indonesia atau Australia?

e. Pemalsuan tanda tangan digital

(4)

2.3 Model Hukum Perdagangan Elektronik

Salah satu acuan internasional yang banyak digunakan adalah Uncitral Model Law on Electronic Commerce 1996. Acuan yang berisi model hokum dalam transaksi e-commerce tersebut diterbitkan oleh UNCITRAL sebagai salah satu komisi internasional yang berada di bawah PBB. Model tersebut telah disetujui oleh General Assembly Ressollution No 51/162 tanggal 16 Desember 1996.

Beberapa poin didalam Uncitral Model Law on Electronic Commerce tersebut antara lain adalah:

a. Pengakuan secara yuridis terhadap suatu data messages

Pasal 5 dari model huokum ini menyatakan bahwa suatu informasi mempunyai implikasi hukum, validitas, dan dapat dijalankan meskipun bentuknya berupa data messages. Suatu informasi tidak dapat dikatakan tidak mempunyai kekuatan hukum dan validitas, serta tidak dapat dijalankan hanya didasarkan pada kenyataan bahwa di dalam data messages tersebut tidak terdapat hal-hal yang secara umum menimbulkan implikasi hukum, melainkan hanya berisi perintah untuk merujuk pada materi tertentu.

b. Pengakuan tanda tangan digital

Pasal 7 model hukum ini menyatakan bahwa apabila terdapat peraturan yang membutuhkan tandatangan seseorang maka persyaratan tersebut dapat dipenuhi oleh suatu data messages. Hal ini berarti bahwa tandatangan digital sebagai metode akurat untuk mengidentifikasi pelaku tandatangan tersebut dapat digunakan sebagai tandatangan yang dimaksud dalam perjanjian-perjanjian tradisional.

c. Adanya pengakuan atas orisinilias data message

(5)

diandalkan terhadap keutuhan informasi sejak pertama dibuat, dalam bentuk akhirnya sebagai suatu data messages atau bentuk lainnya.

2.4 Pengertian Cyber Law

Cyberlaw adalah hukum yang digunakan di dunia cyber (dunia maya), yang umumnya diasosiasikan dengan Internet. Cyberlaw dibutuhkan karena dasar atau fondasi dari hukum di banyak negara adalah " ruang dan waktu ".

Cyber Law ialah sebuah aturan yang berbentuk hukum yang di buat khusus untuk dunia digital atau internet. Dengan makin banyak dan berkembangnya tindak kriminal dan kejahatan yang ada di dunia internet, maka mau tidak mau hukum dan aturan tersebut harus di buat. Cyber law sendiri ruang lingkupnya meliputi setiap aspek yang berhubungan dengan orang perorangan atau subyek hukum yang menggunakan dan memanfaatkan teknologi internet yang dimulai pada saat mulai online dan memasuki dunia cyber atau maya. Cyber Law sendiri merupakan istilah yang berasal dari Cyberspace Law.

2.5 Jenis CyberLaw

Berikut ini ada beberapa jenis CyberLaw;  Cyber-terorisme:

Badan Kepolisian Nasional Jepang (NPA) mendefinisikan terorisme cyber sebagai serangan elektronik melalui jaringan komputer terhadap infrastruktur penting yang memiliki potensi efek penting pada kegiatan sosial dan ekonomi bangsa.

 Cyber-pornography

Penyebaran obscene materials termasuk pornografi, indecent exposure, dan c hild pornography.

 Cyber Harrasment

pelecehan seksual melalui email, website atau chat programs.  Cyber-stalking

(6)

 Hacking

penggunaan programming abilities dengan maksud yang bertentangan dengan hukum.

 Carding (credit card fund)

carding muncul ketika orang yang bukan pemilik kartu kredit menggunakan kartu credit tersebut secara melawan hukum.

Menurut Jonathan Rosenoer dalam Cyber Law – The Law Of Internet menyebutkan ruang lingkup cyber law :

1. Hak Cipta (Copy Right) 2. Hak Merk (Trademark)

3. Pencemaran nama baik (Defamation) 4. Hate Speech

5. Hacking, Viruses, Illegal Access 6. Regulation Internet Resource 7. Privacy

8. Duty Care

9. Criminal Liability

10. Procedural Issues (Jurisdiction, Investigation, Evidence, etc) 11. Electronic Contract

12. Pornography 13. Robbery

14. Consumer Protection E-Commerce, E- Government

2.6 Dampak Positif Dan Negatif CyberLawDampak Positif Cyber Law

 Berkurangnya tindak kejahatan di internet

(7)

Dampak Negatif Cyber Law

 Penyadapan email, PIN (untuk Internet Banking)  Pelanggaran terhadap hak-hak privacy

 Masalah nama domain seperti kasus mustika-ratu.com yang didaftarkan oleh bukan pemilik Mustika Ratu, atau kasus typosquatter “kilkbca.com” (perhatikan huruf “i” dan “l” bertukar tempat) yang menyaru sebagai “klikbca.com”

 Penggunaan kartu kredit milik orang lain

 Munculnya “pembajakan” lagu dalam format MP3, yang kemudian disertai dengan tempat tukar menukar lagu seperti Napster (Napster sendiri

a. Pertama, tentang yurisdiksi hukum dan aspek-aspek terkait; komponen ini menganalisa dan menentukan keberlakuan hukum yang berlaku dan diterapkan di dalam dunia maya itu.

b. Kedua, tentang landasan penggunaan internet sebagai sarana untuk melakukan kebebasan berpendapat yang berhubungan dengan tanggung jawab pihak yang menyampaikan, aspek accountability, tangung jawab dalam memberikan jasa online dan penyedia jasa internet (internet provider), serta tanggung jawab hukum bagi penyedia jasa pendidikan melalui jaringan internet.

c. Ketiga, tentang aspek hak milik intelektual dimana adanya aspek tentang patent, merek dagang rahasia yang diterapkan serta berlaku di dalam dunia cyber.

(8)

e. Kelima, tentang aspek hukum yang menjamin keamanan dari setiap pengguna internet.

f. Keenam, tentang ketentuan hukum yang memformulasikan aspek kepemilikan dalam internet sebagai bagian dari nilai investasi yang dapat dihitung sesuai dengan prinisip-prinsip keuangan atau akuntansi.

g. Ketujuh, tentang aspek hukum yang memberikan legalisasi atas internet h. Sebagai bagian dari perdagangan atau bisnis usaha.

2.8 Asas-asas Cyber Law

Dalam kaitannya dengan penentuan hukum yang berlaku dikenal beberapa asas yang biasa digunakan, yaitu :

a. Subjective territoriality, yang menekankan bahwa keberlakuan hukum ditentukan berdasarkan tempat perbuatan dilakukan dan penyelesaian tindak pidananya dilakukan di negara lain.

b. Objective territoriality, yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku adalah hukum dimana akibat utama perbuatan itu terjadi dan memberikan dampak yang sangat merugikan bagi negara yang bersangkutan.

c. Nationality, yang menentukan bahwa negara mempunyai jurisdiksi untuk menentukan hukum berdasarkan kewarganegaraan pelaku.

d. Passive Nationality, yang menekankan jurisdiksi berdasarkan kewarganegaraan korban.

e. Protective Principle, yang menyatakan berlakunya hukum didasarkan atas keinginan negara untuk melindungi kepentingan negara dari kejahatan yang dilakukan di luar wilayahnya, yang umumnya digunakan apabila korban adalah negara atau pemerintah.

(9)

setiap negara berhak untuk menangkap dan menghukum para pelaku pembajakan. Asas ini kemudian diperluas sehingga mencakup pula kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity), misalnya penyiksaan, genosida, pembajakan udara dan lain-lain. Meskipun di masa mendatang asas jurisdiksi universal ini mungkin dikembangkan untuk internet piracy, seperti computer, cracking, carding, hacking and viruses, namun perlu dipertimbangkan bahwa penggunaan asas ini hanya diberlakukan untuk kejahatan sangat serius berdasarkan perkembangan dalam hukum internasional.

Oleh karena itu, untuk ruang cyber dibutuhkan suatu hukum baru yang menggunakan pendekatan yang berbeda dengan hukum yang dibuat berdasarkan batas-batas wilayah. Ruang cyber dapat diibaratkan sebagai suatu tempat yang hanya dibatasi oleh screens and passwords. Secara radikal, ruang cyber telah mengubah hubungan antara legally significant (online) phenomena and physical location.

2.9 Topic Seputar Cyber law

Secara garis besar ada lima topic dari cyberlaw di setiap negara yaitu:

a. Information security, menyangkut masalah keotentikan pengirim atau penerima dan integritas dari pesan yang mengalir melalui internet. Dalam hal ini diatur masalah kerahasiaan dan keabsahan tanda tangan elektronik.

b. On-line transaction, meliputi penawaran, jual-beli, pembayaran sampai pengiriman barang melalui internet.

c. Right in electronic information, soal hak cipta dan hak-hak yang muncul bagi pengguna maupun penyedia content.

d. Regulation information content, sejauh mana perangkat hukum mengatur content yang dialirkan melalui internet.

(10)

2.10 CYBERLAW DI SINGAPURA

ETA sebagai pengatur otoritas sertifikasi. Singapore mempunyai misi untuk menjadi poros / pusat kegiatan perdagangan elektronik internasional, di mana transaksi perdagangan yang elektronik dari daerah dan di seluruh bumi diproses. The Electronic Transactions Act telah ditetapkan tgl.10 Juli 1998 untuk menciptakan kerangka yang sah tentang undang-undang untuk transaksi perdagangan elektronik di Singapore yang memungkinkan bagi Menteri Komunikasi Informasi dan Kesenian untuk membuat peraturan mengenai perijinan dan peraturan otoritas sertifikasi di Singapura.

ETA dibuat dengan tujuan:

1. Memudahkan komunikasi elektronik atas pertolongan arsip elektronik yang dapat dipercaya.

2. Memudahkan perdagangan elektronik, yaitu menghapuskan penghalang perdagangan elektronik yang tidak sah atas penulisan dan persyaratan tandatangan, dan untuk mempromosikan pengembangan dari undang-undang dan infrastruktur bisnis diperlukan untuk menerapkan menjamin/ mengamankan perdagangan elektronik.

3. Memudahkan penyimpanan secara elektronik tentang dokumen pemerintah dan perusahaan

4. Meminimalkan timbulnya arsip elektrnoik yang sama, perubahan yang tidak disengaja dan disengaja tentang arsip, dan penipuan dalam perdagangan elektronik, dll.

5. Membantu menuju keseragaman aturan, peraturan dan mengenai pengesahan dan integritas dari arsip elektronik.

(11)

2.11 CAKUPAN ETA

Didalam ETA mencakup:

1. kontrak elektronik ini didasarkan pada hokum dagang online yang dilakukan secara wajar dan cepat serta untuk memastikan bahwa kontrak elektronik memiliki kepastian hokum.

2. Kewajiban penyedia jasa jaringan mengatur mengenai potensi / kesempatan yang dimiliki oleh network service provider untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti mengambil, membwa, menghancurkan material atau informasi pihak ketiga yang menggnakan jasa jaringan tersebut.

3. Tandatangan dan arsip elektronik. Hokum memerlukan arsip elektronik untuk menangani kasus-kasus elektronik, karena itu tandatangan dan arsip elektronik tersebut harus sah menurut hokum.

2.12 CYBERLAW DI MALAYSIA

Pada tahun 1997, Malaysia telah mengesahkan dan mengimplementasikan beberapa undang-undang yang mengatur berbagai aspek dalam cyberlaw seperti UU Kejahatan KOmputer, UU Tandatangan Digital, UU KOmunikasi dan Multimedia, juga perlindungan hak cipta dalam internet melalui amandeman UU Hak Ciptanya. The Computer Crime Act itu sendiri mencakup kejahatan yang dilakukan melalui computer, karena cybercrime yang dimaksud di Negara Malaysia tidak hanya mencakup segala aspek kejahatan/pelanggaran yang berhubungan denga internet. Akses secara tak terotorisasi pada material computer juga termasuk cybercrime.

The computer crime act mencakup:

(12)

2. Menggunakan computer untuk fungsi yang lain

3. Memasuki program rahasia orang lain melalui komputernya 4. Mengubah program rahasia orang lain melalui komputernya 5. Mengubah / menghapus program atau data orang lain

(13)

BAB III PEMBAHASAN

Wacana mengenai new media hadir sejak kemunculan komputer di tahun 1980-an. Namun, istilah new media mulai marak sejak publik mengenal internet dan memanfaatkannya. Banyak negara yang tidak siap dengan regulasi terkait pemanfaatan new media. Singapura termasuk negara yang tanggap dengan perkembangan media baru tersebut. Menjadi pusat e-commerce internasional merupakan salah satu tujuan yang harus dicapai demi mewujudkan gol besar Singapura sebagai pusat produksi dan penggunaan IT global. Visi ini tidak dicanangkan secara serta merta. Singapura telah merancang strategi bahkan sejak kemunculan awal new media di tahun 1980. Pelaksanaannya terbagi atas empat fase. Fase awaldi tahun 1980-1985, dengan terlebih dahulu mewujudkan sistem pemerintahan yang terkomputerisasi. Fase kedua dilaksanakan tahun 1986-1990, dengan mengupayakan agar komputerisasi dankemudahan akses informasi dapat dinikmati masyarakat nasional sehingga di fase ketiga sepanjang 1990-ŗ999, Singapura dapat menjadi “intelligent” Island dan pusat IT. Memasuki tahun 2000, Singapura mencapai fase keempat dengan membangun negaranya menjadi Pusat IT Global.

Singapura melakukan upaya yang begitu luar biasa dalam melaksanakan strateginya. Pelaksanaan tersebut dimulai dengan menerapkan pemanfaatan teknologi informasi (IT) dalam industri, pemerintahan dan universitas-universitas (Heng, 2002:147-148). Di fase ketiga, Singapura mulai merancang formulasi kebijakan yang mengatur pemanfaatan new media. Tahun 1993, kebijakan Computer Misuse Act (CMA) dimasukkan ke dalam BAB 50 A Konstitusi Singapura. CMA merupakan adopsi kebijakan dari undang-undang Inggris tahun 1990 mengenai penyalahgunaan dalam penggunaan komputer. Undang-undang ini telah direvisi setidaknya sebanyak empat kali, dan amandemen terakhir dilakukan pada tahun 2005 silam.

(14)

e-commerce di Singapura tersebut berisi tentang infrastruktur dalam mengembangkan e-commerce baik secara perangkat hukum maupun secara teknis. Pada tahun 1998, aturan yang lebih komprehensif dikeluarkan oleh pemerintah Singapura, yakni Electronic Commerce Master Plan. Visi Singapura sebagai Pusat E-Commerce Internasional mulai dicanangkan dalam Master Plan tersebut. Rencana perwujudannya diupayakan dengan membangun kekuatan dalam perdagangan internasional, jasa keuangan internasional, serta infrastruktur telekomunikasi dan transportasi. Master Plan tersebut juga bertujuan untuk menciptakan e-commerce sebagai sebuah industri jasa dengan cara menarik investasi asing dalam kegiatan e-commerce, mempercepat jasa pengiriman elektronik sebagai salah satu pelayanan publik, mendorong perusahaan-perusahaan untuk menggunakan jasa e-commerce, serta mengharmonisasi hukum dan kebijakan-kebijakan mengenai e-commerce.

(15)

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Di dunia ini banyak hal yang memiliki dualisme yang kedua sisinya saling berlawanan. Seperti teknologi informasi dan komunikasi, hal ini diyakini sebagai hasil karya cipta peradaban manusia tertinggi pada zaman ini. Namun karena keberadaannya yang bagai memiliki dua mata pisau yang saling berlawanan, satu mata pisau dapat menjadi manfaat bagi banyak orang, sedangkan mata pisau lainnya dapat menjadi sumber kerugian bagi yang lain, banyak pihak yang memilih untuk tidak berinteraksi dengan teknologi informasi dan komunikasi. Sebagai manusia yang beradab, dalam menyikapi dan menggunakan teknologi ini, mestinya kita dapat memilah mana yang baik, benar dan bermanfaat bagi sesama, kemudian mengambilnya sebagai penyambung mata rantai kebaikan terhadap sesama, kita juga mesti pandai melihat mana yang buruk dan merugikan bagi orang lain untuk selanjutnya kita menghindari atau memberantasnya jika hal itu ada di hadapan kita.

4.2 Saran dan Kritik

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Wahyono, Teguh. 2009. Etika computer +. Penerbit Andi. Yogyakarta

http://cyberkelompok9.wordpress.com/2013/05/31/makalah-penerapan-cyberlaw-di-indonesia/

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...