ANALISIS PENERAPAN RESTRUKTURISASI DALAM PENYELESAIAN
KREDIT MACET PADA KOPERASI SIMPAN PINJAM (KSP) PETANG DI
KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG
1
I Made Agus Arnadi,
1Nyoman Trisna Herawati,
2Made Arie Wahyuni
Jurusan Akuntansi Program S1
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja,Indonesia
e-mail : {[email protected], aris [email protected],wahyuni
[email protected]} @undiksha.ac.id
Abstrak
Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang merupakan salah satu koperasi yang mengalami masalah kredit macet, pihak koperasi selalu berupaya melakukan proses penyelesaian agar masalah kredit macet ini dapat teratasi dengan tepat. Salah satu langkah yang diambil oleh pihak Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang yaitu dengan melakukan Restrukturisasi, sehingga diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan kredit dan dapat mengurangi tingkat kredit macet pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) Faktor-faktor penyebab kredit macet pada Koperasi Simapan Pinjam (KSP) Petang, 2) Penerapan restrukturisasi dalam penyelesaian kredit macet pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang.
Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif. Penelitian dilakukan dalam tempat tahapan, yakni: 1) Pengumpulan data, 2) Reduksi data, dan 3) Display data, dan, 4) Ferifikasi dan Kesimpulan yang diarahkan dari hal-hal yang umum untuk mengetahui jawaban dari permasalahan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Faktor-faktor penyebab kredit macet pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang yaitu dari faktor internal meliputi kurangnya staf yang berkompeten, dalam proses pengecekan selama berjalanya restrukturisasi terdapat kendala dan kemampuan koperasi memprediksi kredit macet masih lemah. Sedangkan dari faktor exsternal meliputi, debidur tidak beritikad baik, dan tidak adanya keterbukaan debitur. 2) Penerapan Restrukturisasi dalam penyelesaian kredit macet pada koperasi simpan pinjam (KSP) Petang yaitu ada 4 diantaranya Penjadwalan kembali (rescheduling), Persyaratan kembali (Reconditioning),Pengurangan tunggakan bunga, dan Likuidasi (liquidation)
Kata kunci: Kredit macet, Penyelesaian, Restrukturisasi.
Abstract
This research is done by qualitative method. It is done in four stages, namely: 1) data collection, 2) data reduction, 3) data display, and, 4) verification and conclusion directed from general things to know the answer of the problems.
The results of this study indicate that: 1) the factors causing non-performing loans on KSP Petang are namely: from internal factors including the lack of competent staff, in the process of checking during the period of restructuring there are constraints, and the ability of the cooperative predicting non-performing loans is still weak. While the external factors include: the bed-intention debtors, and the lack of openness of the debtors. 2) There are 4 implementations of restructuring in the non-performing loan settlement on KSP Petang, they are 4: rescheduling, reconditioning, reduction of interest arrears, and liquidation.
Keywords: Troubled credit, Settlement, Restructuring
PENDAHULUAN
Koperasi adalah bentuk kerjasama di bidang ekonomi yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Didalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1 yaitu ditegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan. Adapun penjelasan dari pasal 33 tersebut menyatakan kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan dan bukan kemakmuran orang-seorang. Oleh sebab
itu, perekonomian Indonesia disusun
berdasarkan azas kekeluargaan. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia nomor 25 tahun 1992 menimbang koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai
badan usaha berperan serta untuk
mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam tata
perekonomian nasional yang disusun
sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. Menurut Sudarmika (2004) mengatakan pembangunan koperasi perlu dilanjutkan dan semakin diarahkan untuk mewujudkan koperasi sebagai landasan usaha sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang sehat, tangguh, kuat, dan mandiri sebagai soko bagi perekonomian.
Koperasi Unit Desa (KUD) Petang dengan Badan Hukum No.: 859/BH/VIII; Tanggal 23 Maret 1997, merupakan salah satu koperasi serba usaha yang juga bergerak dalam bidang simpan pinjam yang
menyediakan dana pinjaman kepada
masyarakat dan bergerak dalam bidang
penyediaan jasa layanan keuangan. Jasa layanan ini diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah dan usaha mikro terutama di pedesaan. Koperasi Unit Desa Petang dalam menyalurkan dananya dan membantu para anggotanya dengan sistem dan prosedur yang mudah, cepat, dan aman. Pada tanggal 30 Mei 2005, unit usaha dari Koperasi Unit Desa (KUD) Petang yang bergerak pada Simpan/Pinjam (SP), memiliki suatu Badan Hukum sendiri yaitu:01/BH/DISKOP/V/2005, yang tetap berada dibawah pengelolaan Koperasi Unit Desa (KUD) Petang. Mengacu kepada peraturan pemerintah, No 9 tahun 1995 bahwa unit simpan pinjam dikelola secara
otonum dalam artian administrasinya
terpisah dengan KUD petang, kemudian pada tahun 2005 USP KUD Petang mendapat dana perkuatan Modal Agrobisnis dari pusat (APBN) dengan persyaratan agar USP KUD Petang dirubah menjadi Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang. Seiring perkembangan usaha Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang ini tidak terlepas dari masalah kredit,karena masalah kredit ini tidak biasa diprediksi sebelumnya dengan sangat tepat.
Dalam prosedur pemberian kredit kepada konsumen atau calon debitur, yaitu dengan melewati proses pengajuan kredit dan melalui proses analisis pemberian kredit terhadap kredit yang diajukan, setelah
menyelesaikan prosedur administrasi.
standar minimal yang lazim digunakan dikalangan perbankan.Karena jika prosedur
pemerian kredit tersebut keluar dari unsur –
unsur tersebut sudah dapat dipastikan bahwa koperasi tersebut kurang sehat. Pemantauan penggunaan kredit juga sangat penting dilakukan karena setelah bank memutuskan untuk memberikan kredit kepada debiturnya, bukan berarti bahwa tugas bank sebagai perantara keuangan selesai sampai di situ, melainkan itulah awal mula tugas bank yang sesungguhnya dalam penyaluran kredit. Bank senantiasa harus memantau kredit yang telah disalurkannya. Selain prosedur pemberian kredit dan pemantauan penggunaan kredit, jaminan
kredit (collateral) atau agunan juga tidak
kalah pentingnya, karena guna
mengantisipasi kemungkinan tidak
tertagihnya kredit yang disalurkan koperasi. Di samping status dan kondisi jaminan, yang tidak kalah penting untuk diperhatikan
oleh bank adalah dalam cara
pengikatannya. Pengikatan jaminan kredit harus sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hal ini berkaitan dengan eksekusi jaminan, apabila kelak debitur ingkar janji (wan prestasi) atau tidak mampu melunasi kreditnya.
Kredit bermasalah selalu ada dalam
kegiatan perkreditan koperasi karena
koperasi tidak mungkin menghindari adanya kredit macet. Membicarakan tentang kredit macet maka dalam hal ini pihak koperasi harus melakukan usaha penyelesaian kredit macet tersebut. Tindakan yang dilakukan oleh koperasi dalam menyelesaikan kredit macet akan berbeda-beda tergantung pada kondisi kredit tersebut. Hal ini dilakukan
agar pihak koperasi tidak menderita
kerugian lebih besar. Bila debitur kooperatif dalam upaya penyelesaian kredit macet dan apabila usaha debitur masih memiliki prospek yang baik maka salah satu usaha yang dilakukan oleh koperasi adalah dengan cara melakukan restrukturisasi
kredit.Berbicara mengenai kredit dan
pembiayaan tidak terlepas dari lembaga keuangan karena lembaga pada umumnya sebagai penyedia kredit bagi masyarakat
yang membutuhkan dana. Lembaga
keuangan perbankan merupakan lembaga keuangan yang bertugas menghimpun dana
dari masyarakat dan menyalurkanya
kembali kemasyarakat guna memenuhi
kebutuhan dana bagi pihak yang
membutuhkan, baik kegiatan produktif maupun konsuntif. Sama juga halnya dengan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang ini.Namun sepandai apapun analisis pembiayaan dalam menganalisis setiap permohonan pembiayaan, kemungkinan pembiayaan tersebut macet pasti ada. Hal ini disebabkan unsur-unsur sebagai berikut dari pihak perbankan dalam menganalisis pihak yang menganalisis kurang teliti, sehingga yang seharusnya terjadi tidak diprediksi sebelunmya dari pihak nasabah adanya unsur kesengajaan, dalam hal ini
nasabah sengaja tidak bermaksut
membayar kewajibannya kepada bank sehingga pembiayaan yang diberikannya macet. Dapat dikatakan tidak ada unsur kemauan membayar. Adanya unsur tidak sengaja, artinya debitur mau membayar tetapi tidak mampu.
Restrukturisasi kredit adalah upaya perbaikan yang dilakukan bank dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang
mengalami kesulitan untuk memenuhi
kewajibannya. Restrukturisasi kredit yang
dilakukan adalah dengan melakukan
perubahan/penurunan tingkat suku bunga kredit, pengurangan tunggakan bunga atau
denda/penalty, pengurangan tunggakan
pokok kredit, perpanjangan jangka waktu
kredit atau penjadwalan kembali,
penambahan fasilitas kredit atau suplesi kredit, pengambilalihan aset debitur sesuai dengan ketentuan yang berlaku, konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara bank pada perusahaan debitur, pembayaran sejumlah kewajiban bunga yang dilakukan, penjualan agunan, dan kombinasi dari berbagai alternative. Hal ini bertujuan
menyelesaikan permasalahan kredit
Oleh karena itu, perlu adanya suatu analisis lebih lanjut dalam penerapan restrukturisasi kredit, agar masalah kredit macet ini dapat teratasi dan dapat penyelesaian yang tepat, guna kelancaran operasional Koperasi tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, adapun beberapa permasalahan penelitian yang akan dijawab dalam penelitian ini, antara lain: 1) Faktor-faktor penyebab terjadinya kredit macet pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang, 2)Penerapan Restrukturisasi dalam penyelesaian kredit macet pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang.
METODE
Dalam penelitian ini menggunakan motode penelitin kualitatif. Seperti yang di definisikan oleh Bugdan dan Taylor (dalam
Moleong, 2001:3), Penelitian kualitatif
adalah penelitian yang menghadilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan tingkah laku yang diamati dari orang yang diteliti. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik (utuh). Oleh karena itu, tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi kedalam fariabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan”. Metode kualitatif dapat diartikan sebagai metode yang digunakan untuk meneliti sebuah kondisi yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci.
Langkah-langkah yang digunakan peneliti untuk menggumpulkan data dalam penelitian ini adalah dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Data yang diperoleh diolah dengan metode analisis data yang dikemukakan oleh Suprayogo (2001), yaitu: 1) Pengumpulan data, 2) Reduksi data, dan 3) Display data, 4) Verifikasi dan Kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Faktor-faktor penyebab kredit macet pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang
Menurut I Wayan Sueca, yang menjabati Bidang Kredit di Koperasi Simpan
Pinjam (KSP) Petang, dalam wawancara yang dilakukan mengenai faktor-faktor penyebab terjadinya kredit macet yaitu sebagai berikut:“Dalam hal ini ada beberapa factor dik yang menyebabkan terjadinya kredit macet yaitu misalnya ,Kurangnya staf yang berkompeten dibidang kredit pada
Koperasi Simpan Pinjam (KSP)
Petang,sehingga semua sistem yang
dilakukan oleh pihak koperasi tidak berjalan maksimal. Terus tidak adanya keterbukaan dari debitur. Hal demikian tidak lepas dari
sifat hubungan antagonistik yang
ditunjukkan oleh debitur pada saat proses negosiasi. Pada sisi yang lain pihak debitur selalu berupaya memperoleh keringanan yang maksimal pada saat proses negosiasi,
sementara pihak koperasi mencoba
mencapai solusi negosiasi yang paling baik agar tidak merugikan pihak koperasi maupun pihak debitur itu sendiri. Keputusan
restrukturisasi yang telah disepakati
bersama oleh pihak koperasi dan debitur yaitu seperti kewajiban angsuran bulanan terhadap debitur yang telah direstrukturisasi tidak dibayarkan. Hal ini menunjukkan tidak adanya itikad baik yang ditunjukkan dari debitur, pada sisi lain putusan restrukturisasi tersebut sebenarnya membantu dalam hal untuk menyelamatkan kredit macet yang diderita debitur. Dalam proses pengecekan
berjalanya restrukturisasi mengalami
kendala.Terakhir kemampuan koperasi
mendeteksi kemungkinan timbulnya kredit macet masih lemah, termasuk mendeteksi
arah perkembangan arus kas (cash flow)
debitur lama, sehingga pihak koperasi bisa memperbaiki sistem pemberian kredit.”
Selain memperbaiki prosedur dalam
pemberian kredit kepada pihak debitur pihak koperasi juga harus memperbaiki sistem internal misalnya meningkatkan kinerja
kepegawaianya, mengingat faktor-faktor
penyebab terjadinya kredit macet di
bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya kredit macet ada dari faktor internal dan faktor eksternal yaitu antara lain sebagai berikut:
Faktor internal meliputi, Kurangnya
staf yang berkompeten dibidang kredit. Hal
ini menjadikan semua sistem yang
dilakukan oleh pihak koperasi tidak berjalan maksimal. Karena pada dasarnya bagian-bagian staf tersebut memiliki tugas dan
tanggung jawab masing-masing, agar
masalah kredit macet ini dapat teratasi
dengan maksimal, karena ada yang
bertanggung jawab dengan masing-masing
tugas yang diberikan. Selanjutnya
pengecekan selama berjalanya proses
restrukturisasi mengalami suatu kendala
tertentu. Seperti yang telah diketahui
peran dan bimbingan pihak koperasi
sangat penting untuk mengantisipasi
kemungkinan kegagalan restrukturisasi.
Tetapi koperasi kesulitan untuk dapat
benar-benar melihat atau meninjau
usaha maupun kondisi keuangan debitur
secara detail dan langsung. Terakhir
yaitu kemampuan koperasi mendeteksi
kemungkinan timbulnya kredit macet
masih lemah, termasuk mendeteksi arah
perkembangan arus kas (
cash flow
)
debitur lama, sehingga pihak koperasi
bisa memperbaiki sistem pemberian
kredit.
Faktor Eksternal meliputi debitur
tidak beritikad baik. Pada saat koperasi melakukan pemanggilan terhadap debitur dan mengajukan peringatan/pemberitahuan penagihan baik melalui lisan (telepon)
maupun dengan tulisan (surat)/surat
pernyataan yang dibuat oleh pihak bank yang menyatakan bahwa kondisi debitur dalam memenuhi kewajibannya sedang bermasalah yaitu dalam kolektibilitas kredit macet. Dalam tahap ini, bahwa debitur tidak beritikad baik dapat dilihat dari debitur tidak mau memenuhi panggilan pihak bank apabila pihak bank memanggil debitur.
Selanjutnya
tidak adanya keterbukaan
dari debitur.Hal ini tidak lepas dari sifat
hubungan antagonistik yang ditunjukkan
oleh debitur pada saat proses negosiasi.
Pada sisi yang lain pihak debitur selalu
berupaya memperoleh keringanan yang
maksimal pada saat proses negosiasi,
sementara pihak koperasi mencoba
mencapai solusi negosiasi yang paling
baik
agar
tidak
merugikan
pihak
pihak debitur antara lain yaitu:Faktor-faktor penyebab yang
merupakan kesalahan pihak kreditur
(Internal) adalah: Keteledoran koperasi mematuhi peraturan pemberian kredit yang telah digariskan, Terlalu mudah memberikan kredit, yang disebabkan karena tidak ada
patokan yang jelas tentang standar
kelayakan permintaan kredit yang diajukan, Konsentrasi dana kredit pada sekelompok debitur atau sektor usaha yang beresiko tinggi, Kurang memadainya jumlah eksekutif dan staf bagian kredit yang berpengalaman, Lemahnya bimbingan dan pengawasan pimpinan kepada para eksekutif dan staf bagian kredit, Jumlah pemberian kredit yang
melampaui batas kemampuan bank,
Lemahnya kemampuan bank mendeteksi kemungkinan timbulnya kredit bermasalah, termasuk mendeteksi arah perkembangan
arus kas (cash flow) debitur lama.
Sedang faktor-faktor penyebab kredit macet yang diakibatkan karena kesalahan pihak debitur (Eksternal) antara lain: Adanya salah urus dalam pengelolaan usaha bisnis perusahaan, karena kurang berpengalaman dalam bidang usaha yang mereka tangani, Problem keluarga, misalnya perceraian,
kematian, sakit yang berkepanjangan,
perang dan bencana alam, dan Watak buruk debitur, yang dari semula memang telah merencanakan tidak akan mengembalikan kredit.
Jadi pada dasarnya antara debitur
ataupun kreditur yaitu selaku pihak koperasi itu sendiri berpotensi dalam penyebab kredit macet ini, karena semua pihak antara
debitur dan kreditur harus saling
bekerjasama dengan baik agar masalah tersebut tidak terjadi.
Penerapan Restrukturisasi Dalam Penyelesaian Kredit Macet Pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang
Menurut I Wayan Sueca, yang menjabati Bidang Kredit di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang, dalam wawancara
yang dilakukan mengenai proses
restrukturisasi yaitu sebagai berikut:”Di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang sangat rentan akan adanya suatu masalah kredit macet,mengingat hal tersebut tidak bisa diprediksi dengan sangat tepat akan tetapi pihak koperasi berusaha semaksimal mungkin dalam menangani masalah kredit
macet ini agar kelangsungan atau
perputaran arus kas pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang biasa berjalan dengan
lancar.
Ada beberapa tahap-tahapan
Restrukturisasi yang dilakukan oleh
pihak Koperasi Simpan Pinjam (KSP)
Petang yaitu sebagai berikut:
1. Meneliti Berkas Kredit
Untuk debitur yang mengalami
kesulitan pembayaran kredit atau
tergolong sebagai debitur yang
bermasalah dalam menyelesaikan
kewajiban kreditnya, akan dilakukan penelitian kembali terhadap berkas-berkas kredit oleh pihak Koperasi. Dalam hal ini hal yang perlu diperhatikan dan diamati oleh pihak Koperasi yaitu :
2. Mengirim Surat Teguran
Berdasarkan data yang ada
pada klasifikasi tunggakan kredit,
kepada nasabah yang bersangkutan dikirimkan surat teguran. Surat teguran
ini dimaksudkan untuk mengingatkan nasabah bahwa ia telah menunggak, dan diminta untuk segera melunasi atau membayar tunggakan tersebut. Surat
teguran disampaikan bersamaan
dengan pendekatan yang dilakukan terhadap nasabah di lapangan.
3. Proses Kebijakan Restrukturisasi
Proses restrukturisasi ini tidak bisa dilakukan secara langsung, karena mengingat dengan adanya resiko dari pihak debitur yang enggan melakukan
proses retrukturisasi ini. Proses
rekstrukturisasi yang telah dilakukan oleh pihak Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang yaitu:Pihak debitur harus mengajukan permohonan restrukturisasi
kepada pihak Koperasi, Setelah
diterimanya permohonan restrukturisasi, maka pihak Koperasi akan melakukan pengecekan atau melihat profil usaha yang dikalukan oleh pihak debitur, agar pihak koperasi mengetahui prosfek usaha yang dimiliki oleh debitur ini sebelum diberikan prosedur lebih lanjut. Setelah itu pihak koperasi membuat laporan dari hasil pengecekan tersebut,
Setelah membuat laporan, pihak
Koperasi selanjutnya akan melakukan rapat tentang proses negosiasi tentang
proses restrukturisasi yang akan
dilakukan oleh pihak koperasi. 4. Putusan Restrukturisasi
Putusan restrukturisasi kredit diatur oleh pihak Manajemen Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang, dimana pihak manajemen mengadakan rapat kecil dengan anggota yang lainnya untuk menyelamatkan kredit macet terhadap debitur yang bersangkutan.
Menurut I Wayan Sueca, yang bertugas membidangi Bidang Kredit di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang,
menjelaskan materi pada putusan
restrukturisasi kredit terhadap debitur yaitu sebagai berikut sebagai berikut
:Penjadwalan Kembali, Persyaratan
Koperasi Simpan Pinjam (KSP)
Petang sebagai lembaga keuangan
memberikan pelayanan jasa keuangan kepada masyrakat, membantu ekonomi lemah dan menumbuh kembangkan sumber daya daerah khususnya daerah pedesaan dengan sumber daya manusia yang ada dan pemberdayaan secara optimal untuk
mendukung sekaligus menumbuh
kembangkanusaha melalui semangat dan kemampuan besaing secara sehat.
Analisa Restrukturisasi Dalam
Penyelesaian Kredit Macet Pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang adalah sebagai berikut :
1. Penjadwalan Kembali (Rescheduling)
Penjadwalan kembali ini yakni
melakukan perubahan syarat kredit khususnya yang menyangkut jangka waktu pembayaran, yang sesuai dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit. Debitur Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang yang merupakan nasabah perorangan yang mempunyai bidang usaha Perkebunan Kopi dan pabrik penggiling Kopi di daerah Desa Pelaga, dengan nilai pinjaman kredit Rp.50.000.000 berjangka waktu 4 tahun, Setelah berjalan 2 tahun masih menyisakan kewajiban Rp.20.000.000. Hal ini terjadi karena usaha perkebunan kopi miliknya mengalami penurunan penjualan, selain itu lahan perkebunan kopinya mengelami kelongsoran,hal ini dikarenakan cuaca hujan yang terus
menerus mengguyur wilayah desa
Pelaga. Dari usaha pabrik penggiling kopi miliknya juga tidak bisa menutupi
tunggakan kewajibanya, karena
pendapatan dari usaha tersebut tidak seberapa hanya cukup untuk kebutuhan
sehari– hari,apa lagi dengan persaingan
saat ini semakin banyak orang yang memiliki mesin penggiling kopi. Maka
langkah yang diambil oleh pihak
koperasi dengan memperpanjang
jangka waktu pembayaran. Dengan kewajiban yang masih tersisa yaitu
Rp.20.000.000, diperpanjang dari 4 tahun menjadi 6 tahun.
2. Persyaratan Kembali (Reconditioning)
Persyaratan kembali(reconditioning),
yaitu perubahan syarat kredit khususnya
yang menyangkut jangka waktu
pembayaran, yang sesuai dengan
segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit. perubahan syarat kredit khususnya yang menyangkut jangka waktu pembayaran, yang sesuai dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit, dan sesuai dengan kemampuan/kesanggupan debitur untuk
membayar kembali antara lain:
Penundaaan pembayaran bunga
dimana bunga tetap dihitung tetapi penagihannya kepada nasabah tidak dilaksanakan sampai nasabah sanggup atas bunga yang dibebankan tersebut, Penurunan suku bunga yaitu dalam keadaan dimana nasabah dinilai masih
mampu membayar bunga pada
waktunya tetapi suku bunga yang dikenakan terlalu tinggi untuk keadaan ekonomi waktu itu, Perubahan dari kredit jangka pendek menjadi kredit jangka panjang dengan syarat-syarat yang lebih ringan, dan Kapitalisasi bunga, dimana bunga dijadikan hutang pokok sehingga nasabah pada waktu tertentu tidak perlu membayar bunga
tetapi hanya membayar hutang
pokoknya saja nantinya, dengan plafond dapat melebihi dari yang disetujui.
Misalnya debitur perorangan dengan bidang usaha peternakan ikan, dengan nilai pinjaman kredit Rp.40.000.000,00 berjangka waktu 5 tahun, setelah melewati masa tenggang 2 tahun,
namun mengalami gagal bayar
dikarenakan peternakan ikan yang
dikelola terserang wabah penyakit
3. Pengurangan Tunggakan Pokok Kredit Pengurangan tunggakan adalah
keringanan yang diberikan kepada
debitur untuk membayar tunggakan pokok kredit kurang dari/lebih kecil dari tunggakan pokok kredit yang seharusnya
dibayar.Biasanya diberikan kepada
debitur kooperatif dan mempunyai itikad baik untuk memenuhi kewajibannya
namun debitur belum memiliki
kemampuan yang memadai. Selain itu
debitur memiliki track record/kinerja kredit
yang baik, misal : rasio pembayaran
angsuran terhadap total kewajiban
angsuran atau menunggaknya debitur bukan dikarenakan karakter debitur.
3. Likuidasi (Liquidation)
Pelaksanaan likuidasi dilakukan terhadap kategori kredit yang memang benar-benar menurut pihak koperasi sudah tidak dapat lagi dibantu untuk disehatkan kembali atau usaha nasabah yang sudah tidak memiliki prospek untuk dikembangkan. Proses likuidasi ini dapat
dilakukan dengan menyerahkan
penjualan barang tersebut kepada
nasabah yang bersangkutan.
Syarat-syarat sebagaimana kebijakan dan
prosedur yang diberikan oleh Koperasi Unit Desa (KUD) Petang diantaranya adalah :Kualitas kredit dalam kondisi macet,Upaya-upaya penyelesaian secara
persuasif telah dilakukan Koperasi
secara maksimal, dan Jaminan yang
dilikuidasi dapat dilakukan melalui
pelelangan, atau diluar pelelangan
berdasarkan penyerahan secara
sukarela oleh pemilik agunan atau berdasarkan surat kuasa untuk menjual lelang dari pemilik atau debitur.
Likuidasi(Liquidation) yaitu penjualan
barang-barang yang dijadikan jaminan dalam rangka pelunasan utang. Proses likuidasi ini dapat dilakukan dengan menyerahkan penjualan barang tersebut kepada nasabah yang bersangkutan. Sedang bagi bank-bank umum milik
negara, proses penjualan barang
jaminan dan aset bank dapat diserahkan
kepada BPPN, untuk selanjutnya
dilakukan eksekusi atau pelelangan.
Sebagaimana telah diuraikan
sebelumnya, menurut (Siamat, 2005) bahwa penyelesaian kredit macet dapat dilakukan melalui :
1. Rescheduling (Penjadwalan Ulang)
Yaitu perubahan syarat kredit hanya menyangkut jadwal pembayaran dan atau jangka waktu termasuk masa
tenggang (grace period) dan perubahan
besarnya angsuran kredit. Tentu tidak semua debitur dapat diberikan kebijakan ini oleh bank, melainkan hanya kepada debitur yang menunjukkan itikad dan
karakter yang jujur dan memiliki
kemauan untuk membayar atau
melunasi kredit (willingness to pay).
2. Reconditioning (Persyaratan Ulang)
Yaitu perubahan sebagian atau
seluruh syarat-syarat kredit yang tidak
terbatas pada perubahan jadwal
pembayaran, jangka waktu, tingkat suku
bunga, penundaan pembayaran
sebagian atau seluruh bunga dan persyaratan lainnya.
3. Restructuring (Penataan Ulang) yaitu
perubahan syarat kredit yang diberikan pada debitor.
4. Liquidation (Liquidasi)
Yaitu penjualan
barang-barang yang dijadikan jaminan dalam rangka pelunasan utang.Pada kasus kredit macet yang terjadi di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang seperti
yang telah diuraikan di atas,
penanganan atas kredit macet tersebut
dilakukan terlebih dahulu dengan
melaksanakan penyelamatan kredit
melalui kebijakan-kebijakan yaitu yang
pertama perubahan syarat kredit
khususnya yang menyangkut jangka
waktu pembayaran, yang sesuai
dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit, dan sesuai
debitur untuk membayar kembali. Yang
kedua perubahan syarat kredit
khususnya yang menyangkut jangka
waktu pembayaran, yang sesuai
dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit, dan sesuai
dengan kemampuan/kesanggupan
debitur untuk membayar kembali. Yang ketiga pengurangan tunggakan adalah keringanan yang diberikan kepada debitur untuk membayar tunggakan
pokok kredit kurang dari/lebih kecil dari
tunggakan pokok kredit yang
seharusnya dibayar.
Menurut Bapak Wayan Sueca penyelesaian melalui jalur likuidasi jarang dilakukan karena dinilai tidak
menguntungkan baik pihak bank
maupun pihak debitur oleh sebab itu
pihak koperasi masih melakukan
negosiasi dengan kebijakan-kebijakan yang diberikan.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Dari pembahasan hasil penelitian yang telah diuraikan maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Ada beberapa faktor-faktor penyebab kredit macet di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang yaitu sebagai berikut: a. Kurangnya staf yang berkompeten dibidang kredit pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang.Karena pada dasarnya bagian-bagian staf tersebut memiliki tugas dan tanggung jawab
masing-masing,agar masalah kredit
macet ini dapat teratasi, b. Pada saat
koperasi melakukan pemanggilan
terhadap debitur dan mengajukan
peringatan/pemberitahuan penagihan
baik melalui lisan (telepon) maupun dengan tulisan (surat)/surat pernyataan yang dibuat oleh pihak bank yang menyatakan bahwa kondisi debitur dalam memenuhi kewajibannya sedang bermasalah yaitu dalam kolektibilitas
kredit macet, c.Tidak adanya
keterbukaan dari debitur. Hal demikian
tidak lepas dari sifat hubungan
antagonistik yang ditunjukkan oleh
debitur pada saat proses
negosiasi,d.Keputusan restrukturisasi
yang telah disepakati bersama oleh pihak koperasi dan debitur yaitu seperti kewajiban angsuran bulanan terhadap debitur yang telah direstrukturisasi tidak dibayarkan,e.Dalam proses pengecekan atau meninjau pihak debitur mengalami kendala dimana seperti yang telah
diketahui peran dan bimbingan pihak koperasi dalam hal ini sangat penting
untuk mengantisipasi kemungkinan
kegagalan restrukturisasi, f.
Kemampuan koperasi mendeteksi
kemungkinan timbulnya kredit macet masih lemah, termasuk mendeteksi arah
perkembangan arus kas (cash flow)
debitur lama, sehingga pihak koperasi bisa memperbaiki sistem pemberian kredit.
2. Beberapa beberapa alternatif yang ditempuh Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang dalam menyelesaikan kredit macet adalah dengan melakukan
upaya restrukturisasi dan tahapan
restrukturisasi kredit adalah sebagai berikut : Penjadwalan kembali ini yakni melakukan perubahan syarat kredit khususnya yang menyangkut jangka waktu pembayaran, yang sesuai dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit, dan sesuai dengan kemampuan/kesanggupan debitur untuk membayar kembali, Perubahan syarat kredit khususnya yang menyangkut jangka waktu pembayaran, yang sesuai dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit, dan sesuai
dengan kemampuan/kesanggupan
debitur untuk membayar kembali.
perubahan syarat kredit khususnya yang menyangkut jangka waktu pembayaran, yang sesuai dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit, dan
sesuai kesanggupan debitur untuk
tunggakan adalah keringanan yang
diberikan kepada debitur untuk
membayar tunggakan pokok kredit kurang dari/lebih kecil dari tunggakan pokok kredit yang seharusnya dibayar,
dan Likuidasi (liquidation), Apabila
upaya-upaya penyelesaian terhadap
kredit macet secara persuasif dan
secara maksimal telah dilakukan namun tidak berhasil, maka pihak koperasi dapat melakukan upaya terakhir yaitu
penyelesaian dengan melikuidasi
jaminan atau penjualan barang-barang yang dijadikan jaminan dalam rangka pelunasan utang.
Saran
Adapun saran bagi Koperasi Simpan Dalam memilih calon nasabah pihak koperasi harus bisa lebih teliti,misalnya
meningkatkan prosedur pemberian
kredit agar dapat melihat watak debitur dan penghasilan dari calon debitur itu sendiri dan mengecek dengan baik pemenuhan oleh debitur atas semua
persyaratan-persyaratan pemberian
kredit yang telah disepakati bersama antara debitor dengan pihak koperasi, Merekrut pegawai yang berkompeten dibidangnya dan memiliki pengalaman kerja yang baik terutama staf bagian kredit, karena kredit macet ini tidak hanya terjadi karena disebabkan oleh pihak debitur, karena kemungkinan kecurangan yang dilakukan oleh pihak kreditur juga cukup tinggi, Meninjau perkembangan usaha dan keuangan
nasabah termasuk kemampuan
pemenuhan kewajiban debitur kepada pihak lain, selain koperasi, Memberikan pengertian restrukturisasi tersebut sejak awal debitur mengajukan kredit kepada pihak koperasi,agar nantinya jika debitur mengalami masalah dalam pembayaran angsuran, maka debitur tersebut sudah
paham dengan mekanisme atau
prosedur restrukturisasi yang akan diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Sitio dan Tamba, Halomoan. 2001.
Koperasi: Teori dan Praktik. Jakarta:
Erlangga.
Arifinal, Chaniago. 1987. Perekonomian
Indonesia. Bandung: Angkasa.
Basidl, Syafi’i. 2010. Manajemen Kredit
Macet Pada Perbankan di
Indonesia. [Online]. Tersedia di
http://blog.beswandjarum.com, [diakses pada 28 Juni 2011].
Budisantoso, Totok dan Triandaru, Sigit.
2006. Bank dan Lembaga Keuangan
Lain. Jakarta: Salemba Empat.
Hardianto, Rochmad. 2009. Peran Koperasi
Unit Desa dalam Memberikan Kredit di Kalangan Masyarakat Klaten
(Studi di KUD “JUJUR”
Karangnongko). Skripsi. Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Hasibuan, Malayu.2008. Dasar-Dasar
Perbankan. Jakarta: Bumi Aksara.
Hatta, Moehamad. 1933. Ekonomi rakyat
daulat rakyat. Jakarta: Balai Buku
Indonesia.
Kasmir. 2014. Bank Dan Lembaga
Keuangan Lainya. Jakarta: Raja
Grafindo.
Moleong, Lexy J. 2012. Metode Penelitian
Kulitatif, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Mulyono, Djoko. 2012. Buku Pintar Strategi
Bisnis Koperasi Simpan Pinjam.
Yogyakarta: ANDI.
Pratama, Gde Dianta Yudi. 2015.
Penyelesaian Kredit Macet Pada
Ksu Tumbuh Kembang Pemogan –
Denpasar Selatan. Skripsi.
Putra, I Komang Gede Darma . 2014 . Analisis Kredit Macet Pada Pt. BPR
Kapal Basak Pursada. Skripsi.
Universitas Pendidikan Ganesha.
Rahmat, Agusra.2011. Penyelesaian Kredit
Macet Dikoperasi Bank Pekreditan Rakyat (KBPR) VII Koto Pariaman. Skripsi. Universitas Andalas Padang.
Republik Indonesia. 2014. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian.
Rivai. 2007. Bank and Financial Institute
Management. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Siamat, Dahlan.2001. Manajemen Lembaga
Keuangan. Jakarta. Fakultas
Ekonomi Indonesia.
--- 2005. Manajemen Lembaga
Keuangan. Kebijakan Moneter dan
Perbankan. Jakarta: Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia, edisi kesatu.
Suarjaya, Nyoman .2015 .Analisis
Penyelesaian Kredit Macet Pada Koperasi Pasar Srinadi Klungkung.
Skripsi. Universitas Pendidikan
Ganesha.
Subhan Jath, Ar Razaq. 2013. Analisis
Pengaruh Restrukturisasi Kredit
Terhadap Kredit Bermasalah (Non Performing Loan) Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di BEI.
Skripsi. Medan. Universitas
Sumatera Utara Medan.
Sudarmika, I Gusti Ngr Rai. 2004. Pengaruh
Tingkat Perputaran Piutang
Terhadap Rentabilitas Ekonomi
Pada KUD Mambal, Kecamatan
Abiansemal. Skripsi. Fakultas
Ekonomi. Universitas Udayana.
Denpasar.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Bisnis.
Bandung: ALFABETA.
---, 2011. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung:
ALFABETA.
Suwarsono, Samson. 2010. Strategi
Penyelesaian Kredit Macet Pada
BMT Surya di Klaten. Skripsi.
Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Taswan. 2011. Manajemen Perbankan
Konsep Teknik dan Aplikasi.
Yogyakarta: UPP YKPN.
Widya, Karni. 2011. Analisis Kinerja
Koperasi Unit Desa (KUD) Setia Nagari Selayo Kecamatan Kubung.
Skripsi. Fakultas Pertanian,
Universitas Andalas. Kabupaten