• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENERAPAN RESTRUKTURISASI DALAM. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS PENERAPAN RESTRUKTURISASI DALAM. pdf"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENERAPAN RESTRUKTURISASI DALAM PENYELESAIAN

KREDIT MACET PADA KOPERASI SIMPAN PINJAM (KSP) PETANG DI

KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG

1

I Made Agus Arnadi,

1

Nyoman Trisna Herawati,

2

Made Arie Wahyuni

Jurusan Akuntansi Program S1

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja,Indonesia

e-mail : {[email protected], aris [email protected],wahyuni

[email protected]} @undiksha.ac.id

Abstrak

Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang merupakan salah satu koperasi yang mengalami masalah kredit macet, pihak koperasi selalu berupaya melakukan proses penyelesaian agar masalah kredit macet ini dapat teratasi dengan tepat. Salah satu langkah yang diambil oleh pihak Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang yaitu dengan melakukan Restrukturisasi, sehingga diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan kredit dan dapat mengurangi tingkat kredit macet pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) Faktor-faktor penyebab kredit macet pada Koperasi Simapan Pinjam (KSP) Petang, 2) Penerapan restrukturisasi dalam penyelesaian kredit macet pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang.

Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif. Penelitian dilakukan dalam tempat tahapan, yakni: 1) Pengumpulan data, 2) Reduksi data, dan 3) Display data, dan, 4) Ferifikasi dan Kesimpulan yang diarahkan dari hal-hal yang umum untuk mengetahui jawaban dari permasalahan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Faktor-faktor penyebab kredit macet pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang yaitu dari faktor internal meliputi kurangnya staf yang berkompeten, dalam proses pengecekan selama berjalanya restrukturisasi terdapat kendala dan kemampuan koperasi memprediksi kredit macet masih lemah. Sedangkan dari faktor exsternal meliputi, debidur tidak beritikad baik, dan tidak adanya keterbukaan debitur. 2) Penerapan Restrukturisasi dalam penyelesaian kredit macet pada koperasi simpan pinjam (KSP) Petang yaitu ada 4 diantaranya Penjadwalan kembali (rescheduling), Persyaratan kembali (Reconditioning),Pengurangan tunggakan bunga, dan Likuidasi (liquidation)

Kata kunci: Kredit macet, Penyelesaian, Restrukturisasi.

Abstract

(2)

This research is done by qualitative method. It is done in four stages, namely: 1) data collection, 2) data reduction, 3) data display, and, 4) verification and conclusion directed from general things to know the answer of the problems.

The results of this study indicate that: 1) the factors causing non-performing loans on KSP Petang are namely: from internal factors including the lack of competent staff, in the process of checking during the period of restructuring there are constraints, and the ability of the cooperative predicting non-performing loans is still weak. While the external factors include: the bed-intention debtors, and the lack of openness of the debtors. 2) There are 4 implementations of restructuring in the non-performing loan settlement on KSP Petang, they are 4: rescheduling, reconditioning, reduction of interest arrears, and liquidation.

Keywords: Troubled credit, Settlement, Restructuring

PENDAHULUAN

Koperasi adalah bentuk kerjasama di bidang ekonomi yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Didalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1 yaitu ditegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan. Adapun penjelasan dari pasal 33 tersebut menyatakan kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan dan bukan kemakmuran orang-seorang. Oleh sebab

itu, perekonomian Indonesia disusun

berdasarkan azas kekeluargaan. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia nomor 25 tahun 1992 menimbang koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai

badan usaha berperan serta untuk

mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam tata

perekonomian nasional yang disusun

sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. Menurut Sudarmika (2004) mengatakan pembangunan koperasi perlu dilanjutkan dan semakin diarahkan untuk mewujudkan koperasi sebagai landasan usaha sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang sehat, tangguh, kuat, dan mandiri sebagai soko bagi perekonomian.

Koperasi Unit Desa (KUD) Petang dengan Badan Hukum No.: 859/BH/VIII; Tanggal 23 Maret 1997, merupakan salah satu koperasi serba usaha yang juga bergerak dalam bidang simpan pinjam yang

menyediakan dana pinjaman kepada

masyarakat dan bergerak dalam bidang

penyediaan jasa layanan keuangan. Jasa layanan ini diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah dan usaha mikro terutama di pedesaan. Koperasi Unit Desa Petang dalam menyalurkan dananya dan membantu para anggotanya dengan sistem dan prosedur yang mudah, cepat, dan aman. Pada tanggal 30 Mei 2005, unit usaha dari Koperasi Unit Desa (KUD) Petang yang bergerak pada Simpan/Pinjam (SP), memiliki suatu Badan Hukum sendiri yaitu:01/BH/DISKOP/V/2005, yang tetap berada dibawah pengelolaan Koperasi Unit Desa (KUD) Petang. Mengacu kepada peraturan pemerintah, No 9 tahun 1995 bahwa unit simpan pinjam dikelola secara

otonum dalam artian administrasinya

terpisah dengan KUD petang, kemudian pada tahun 2005 USP KUD Petang mendapat dana perkuatan Modal Agrobisnis dari pusat (APBN) dengan persyaratan agar USP KUD Petang dirubah menjadi Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang. Seiring perkembangan usaha Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang ini tidak terlepas dari masalah kredit,karena masalah kredit ini tidak biasa diprediksi sebelumnya dengan sangat tepat.

Dalam prosedur pemberian kredit kepada konsumen atau calon debitur, yaitu dengan melewati proses pengajuan kredit dan melalui proses analisis pemberian kredit terhadap kredit yang diajukan, setelah

menyelesaikan prosedur administrasi.

(3)

standar minimal yang lazim digunakan dikalangan perbankan.Karena jika prosedur

pemerian kredit tersebut keluar dari unsur –

unsur tersebut sudah dapat dipastikan bahwa koperasi tersebut kurang sehat. Pemantauan penggunaan kredit juga sangat penting dilakukan karena setelah bank memutuskan untuk memberikan kredit kepada debiturnya, bukan berarti bahwa tugas bank sebagai perantara keuangan selesai sampai di situ, melainkan itulah awal mula tugas bank yang sesungguhnya dalam penyaluran kredit. Bank senantiasa harus memantau kredit yang telah disalurkannya. Selain prosedur pemberian kredit dan pemantauan penggunaan kredit, jaminan

kredit (collateral) atau agunan juga tidak

kalah pentingnya, karena guna

mengantisipasi kemungkinan tidak

tertagihnya kredit yang disalurkan koperasi. Di samping status dan kondisi jaminan, yang tidak kalah penting untuk diperhatikan

oleh bank adalah dalam cara

pengikatannya. Pengikatan jaminan kredit harus sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hal ini berkaitan dengan eksekusi jaminan, apabila kelak debitur ingkar janji (wan prestasi) atau tidak mampu melunasi kreditnya.

Kredit bermasalah selalu ada dalam

kegiatan perkreditan koperasi karena

koperasi tidak mungkin menghindari adanya kredit macet. Membicarakan tentang kredit macet maka dalam hal ini pihak koperasi harus melakukan usaha penyelesaian kredit macet tersebut. Tindakan yang dilakukan oleh koperasi dalam menyelesaikan kredit macet akan berbeda-beda tergantung pada kondisi kredit tersebut. Hal ini dilakukan

agar pihak koperasi tidak menderita

kerugian lebih besar. Bila debitur kooperatif dalam upaya penyelesaian kredit macet dan apabila usaha debitur masih memiliki prospek yang baik maka salah satu usaha yang dilakukan oleh koperasi adalah dengan cara melakukan restrukturisasi

kredit.Berbicara mengenai kredit dan

pembiayaan tidak terlepas dari lembaga keuangan karena lembaga pada umumnya sebagai penyedia kredit bagi masyarakat

yang membutuhkan dana. Lembaga

keuangan perbankan merupakan lembaga keuangan yang bertugas menghimpun dana

dari masyarakat dan menyalurkanya

kembali kemasyarakat guna memenuhi

kebutuhan dana bagi pihak yang

membutuhkan, baik kegiatan produktif maupun konsuntif. Sama juga halnya dengan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang ini.Namun sepandai apapun analisis pembiayaan dalam menganalisis setiap permohonan pembiayaan, kemungkinan pembiayaan tersebut macet pasti ada. Hal ini disebabkan unsur-unsur sebagai berikut dari pihak perbankan dalam menganalisis pihak yang menganalisis kurang teliti, sehingga yang seharusnya terjadi tidak diprediksi sebelunmya dari pihak nasabah adanya unsur kesengajaan, dalam hal ini

nasabah sengaja tidak bermaksut

membayar kewajibannya kepada bank sehingga pembiayaan yang diberikannya macet. Dapat dikatakan tidak ada unsur kemauan membayar. Adanya unsur tidak sengaja, artinya debitur mau membayar tetapi tidak mampu.

Restrukturisasi kredit adalah upaya perbaikan yang dilakukan bank dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang

mengalami kesulitan untuk memenuhi

kewajibannya. Restrukturisasi kredit yang

dilakukan adalah dengan melakukan

perubahan/penurunan tingkat suku bunga kredit, pengurangan tunggakan bunga atau

denda/penalty, pengurangan tunggakan

pokok kredit, perpanjangan jangka waktu

kredit atau penjadwalan kembali,

penambahan fasilitas kredit atau suplesi kredit, pengambilalihan aset debitur sesuai dengan ketentuan yang berlaku, konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara bank pada perusahaan debitur, pembayaran sejumlah kewajiban bunga yang dilakukan, penjualan agunan, dan kombinasi dari berbagai alternative. Hal ini bertujuan

menyelesaikan permasalahan kredit

(4)

Oleh karena itu, perlu adanya suatu analisis lebih lanjut dalam penerapan restrukturisasi kredit, agar masalah kredit macet ini dapat teratasi dan dapat penyelesaian yang tepat, guna kelancaran operasional Koperasi tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, adapun beberapa permasalahan penelitian yang akan dijawab dalam penelitian ini, antara lain: 1) Faktor-faktor penyebab terjadinya kredit macet pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang, 2)Penerapan Restrukturisasi dalam penyelesaian kredit macet pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang.

METODE

Dalam penelitian ini menggunakan motode penelitin kualitatif. Seperti yang di definisikan oleh Bugdan dan Taylor (dalam

Moleong, 2001:3), Penelitian kualitatif

adalah penelitian yang menghadilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan tingkah laku yang diamati dari orang yang diteliti. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik (utuh). Oleh karena itu, tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi kedalam fariabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan”. Metode kualitatif dapat diartikan sebagai metode yang digunakan untuk meneliti sebuah kondisi yang alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci.

Langkah-langkah yang digunakan peneliti untuk menggumpulkan data dalam penelitian ini adalah dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Data yang diperoleh diolah dengan metode analisis data yang dikemukakan oleh Suprayogo (2001), yaitu: 1) Pengumpulan data, 2) Reduksi data, dan 3) Display data, 4) Verifikasi dan Kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Faktor-faktor penyebab kredit macet pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang

Menurut I Wayan Sueca, yang menjabati Bidang Kredit di Koperasi Simpan

Pinjam (KSP) Petang, dalam wawancara yang dilakukan mengenai faktor-faktor penyebab terjadinya kredit macet yaitu sebagai berikut:“Dalam hal ini ada beberapa factor dik yang menyebabkan terjadinya kredit macet yaitu misalnya ,Kurangnya staf yang berkompeten dibidang kredit pada

Koperasi Simpan Pinjam (KSP)

Petang,sehingga semua sistem yang

dilakukan oleh pihak koperasi tidak berjalan maksimal. Terus tidak adanya keterbukaan dari debitur. Hal demikian tidak lepas dari

sifat hubungan antagonistik yang

ditunjukkan oleh debitur pada saat proses negosiasi. Pada sisi yang lain pihak debitur selalu berupaya memperoleh keringanan yang maksimal pada saat proses negosiasi,

sementara pihak koperasi mencoba

mencapai solusi negosiasi yang paling baik agar tidak merugikan pihak koperasi maupun pihak debitur itu sendiri. Keputusan

restrukturisasi yang telah disepakati

bersama oleh pihak koperasi dan debitur yaitu seperti kewajiban angsuran bulanan terhadap debitur yang telah direstrukturisasi tidak dibayarkan. Hal ini menunjukkan tidak adanya itikad baik yang ditunjukkan dari debitur, pada sisi lain putusan restrukturisasi tersebut sebenarnya membantu dalam hal untuk menyelamatkan kredit macet yang diderita debitur. Dalam proses pengecekan

berjalanya restrukturisasi mengalami

kendala.Terakhir kemampuan koperasi

mendeteksi kemungkinan timbulnya kredit macet masih lemah, termasuk mendeteksi

arah perkembangan arus kas (cash flow)

debitur lama, sehingga pihak koperasi bisa memperbaiki sistem pemberian kredit.”

Selain memperbaiki prosedur dalam

pemberian kredit kepada pihak debitur pihak koperasi juga harus memperbaiki sistem internal misalnya meningkatkan kinerja

kepegawaianya, mengingat faktor-faktor

penyebab terjadinya kredit macet di

(5)

bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya kredit macet ada dari faktor internal dan faktor eksternal yaitu antara lain sebagai berikut:

Faktor internal meliputi, Kurangnya

staf yang berkompeten dibidang kredit. Hal

ini menjadikan semua sistem yang

dilakukan oleh pihak koperasi tidak berjalan maksimal. Karena pada dasarnya bagian-bagian staf tersebut memiliki tugas dan

tanggung jawab masing-masing, agar

masalah kredit macet ini dapat teratasi

dengan maksimal, karena ada yang

bertanggung jawab dengan masing-masing

tugas yang diberikan. Selanjutnya

pengecekan selama berjalanya proses

restrukturisasi mengalami suatu kendala

tertentu. Seperti yang telah diketahui

peran dan bimbingan pihak koperasi

sangat penting untuk mengantisipasi

kemungkinan kegagalan restrukturisasi.

Tetapi koperasi kesulitan untuk dapat

benar-benar melihat atau meninjau

usaha maupun kondisi keuangan debitur

secara detail dan langsung. Terakhir

yaitu kemampuan koperasi mendeteksi

kemungkinan timbulnya kredit macet

masih lemah, termasuk mendeteksi arah

perkembangan arus kas (

cash flow

)

debitur lama, sehingga pihak koperasi

bisa memperbaiki sistem pemberian

kredit.

Faktor Eksternal meliputi debitur

tidak beritikad baik. Pada saat koperasi melakukan pemanggilan terhadap debitur dan mengajukan peringatan/pemberitahuan penagihan baik melalui lisan (telepon)

maupun dengan tulisan (surat)/surat

pernyataan yang dibuat oleh pihak bank yang menyatakan bahwa kondisi debitur dalam memenuhi kewajibannya sedang bermasalah yaitu dalam kolektibilitas kredit macet. Dalam tahap ini, bahwa debitur tidak beritikad baik dapat dilihat dari debitur tidak mau memenuhi panggilan pihak bank apabila pihak bank memanggil debitur.

Selanjutnya

tidak adanya keterbukaan

dari debitur.Hal ini tidak lepas dari sifat

hubungan antagonistik yang ditunjukkan

oleh debitur pada saat proses negosiasi.

Pada sisi yang lain pihak debitur selalu

berupaya memperoleh keringanan yang

maksimal pada saat proses negosiasi,

sementara pihak koperasi mencoba

mencapai solusi negosiasi yang paling

baik

agar

tidak

merugikan

pihak

pihak debitur antara lain yaitu:

Faktor-faktor penyebab yang

merupakan kesalahan pihak kreditur

(Internal) adalah: Keteledoran koperasi mematuhi peraturan pemberian kredit yang telah digariskan, Terlalu mudah memberikan kredit, yang disebabkan karena tidak ada

patokan yang jelas tentang standar

kelayakan permintaan kredit yang diajukan, Konsentrasi dana kredit pada sekelompok debitur atau sektor usaha yang beresiko tinggi, Kurang memadainya jumlah eksekutif dan staf bagian kredit yang berpengalaman, Lemahnya bimbingan dan pengawasan pimpinan kepada para eksekutif dan staf bagian kredit, Jumlah pemberian kredit yang

melampaui batas kemampuan bank,

Lemahnya kemampuan bank mendeteksi kemungkinan timbulnya kredit bermasalah, termasuk mendeteksi arah perkembangan

arus kas (cash flow) debitur lama.

Sedang faktor-faktor penyebab kredit macet yang diakibatkan karena kesalahan pihak debitur (Eksternal) antara lain: Adanya salah urus dalam pengelolaan usaha bisnis perusahaan, karena kurang berpengalaman dalam bidang usaha yang mereka tangani, Problem keluarga, misalnya perceraian,

kematian, sakit yang berkepanjangan,

(6)

perang dan bencana alam, dan Watak buruk debitur, yang dari semula memang telah merencanakan tidak akan mengembalikan kredit.

Jadi pada dasarnya antara debitur

ataupun kreditur yaitu selaku pihak koperasi itu sendiri berpotensi dalam penyebab kredit macet ini, karena semua pihak antara

debitur dan kreditur harus saling

bekerjasama dengan baik agar masalah tersebut tidak terjadi.

Penerapan Restrukturisasi Dalam Penyelesaian Kredit Macet Pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang

Menurut I Wayan Sueca, yang menjabati Bidang Kredit di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang, dalam wawancara

yang dilakukan mengenai proses

restrukturisasi yaitu sebagai berikut:”Di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang sangat rentan akan adanya suatu masalah kredit macet,mengingat hal tersebut tidak bisa diprediksi dengan sangat tepat akan tetapi pihak koperasi berusaha semaksimal mungkin dalam menangani masalah kredit

macet ini agar kelangsungan atau

perputaran arus kas pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang biasa berjalan dengan

lancar.

Ada beberapa tahap-tahapan

Restrukturisasi yang dilakukan oleh

pihak Koperasi Simpan Pinjam (KSP)

Petang yaitu sebagai berikut:

1. Meneliti Berkas Kredit

Untuk debitur yang mengalami

kesulitan pembayaran kredit atau

tergolong sebagai debitur yang

bermasalah dalam menyelesaikan

kewajiban kreditnya, akan dilakukan penelitian kembali terhadap berkas-berkas kredit oleh pihak Koperasi. Dalam hal ini hal yang perlu diperhatikan dan diamati oleh pihak Koperasi yaitu :

2. Mengirim Surat Teguran

Berdasarkan data yang ada

pada klasifikasi tunggakan kredit,

kepada nasabah yang bersangkutan dikirimkan surat teguran. Surat teguran

ini dimaksudkan untuk mengingatkan nasabah bahwa ia telah menunggak, dan diminta untuk segera melunasi atau membayar tunggakan tersebut. Surat

teguran disampaikan bersamaan

dengan pendekatan yang dilakukan terhadap nasabah di lapangan.

3. Proses Kebijakan Restrukturisasi

Proses restrukturisasi ini tidak bisa dilakukan secara langsung, karena mengingat dengan adanya resiko dari pihak debitur yang enggan melakukan

proses retrukturisasi ini. Proses

rekstrukturisasi yang telah dilakukan oleh pihak Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang yaitu:Pihak debitur harus mengajukan permohonan restrukturisasi

kepada pihak Koperasi, Setelah

diterimanya permohonan restrukturisasi, maka pihak Koperasi akan melakukan pengecekan atau melihat profil usaha yang dikalukan oleh pihak debitur, agar pihak koperasi mengetahui prosfek usaha yang dimiliki oleh debitur ini sebelum diberikan prosedur lebih lanjut. Setelah itu pihak koperasi membuat laporan dari hasil pengecekan tersebut,

Setelah membuat laporan, pihak

Koperasi selanjutnya akan melakukan rapat tentang proses negosiasi tentang

proses restrukturisasi yang akan

dilakukan oleh pihak koperasi. 4. Putusan Restrukturisasi

Putusan restrukturisasi kredit diatur oleh pihak Manajemen Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang, dimana pihak manajemen mengadakan rapat kecil dengan anggota yang lainnya untuk menyelamatkan kredit macet terhadap debitur yang bersangkutan.

Menurut I Wayan Sueca, yang bertugas membidangi Bidang Kredit di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang,

menjelaskan materi pada putusan

restrukturisasi kredit terhadap debitur yaitu sebagai berikut sebagai berikut

:Penjadwalan Kembali, Persyaratan

(7)

Koperasi Simpan Pinjam (KSP)

Petang sebagai lembaga keuangan

memberikan pelayanan jasa keuangan kepada masyrakat, membantu ekonomi lemah dan menumbuh kembangkan sumber daya daerah khususnya daerah pedesaan dengan sumber daya manusia yang ada dan pemberdayaan secara optimal untuk

mendukung sekaligus menumbuh

kembangkanusaha melalui semangat dan kemampuan besaing secara sehat.

Analisa Restrukturisasi Dalam

Penyelesaian Kredit Macet Pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang adalah sebagai berikut :

1. Penjadwalan Kembali (Rescheduling)

Penjadwalan kembali ini yakni

melakukan perubahan syarat kredit khususnya yang menyangkut jangka waktu pembayaran, yang sesuai dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit. Debitur Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang yang merupakan nasabah perorangan yang mempunyai bidang usaha Perkebunan Kopi dan pabrik penggiling Kopi di daerah Desa Pelaga, dengan nilai pinjaman kredit Rp.50.000.000 berjangka waktu 4 tahun, Setelah berjalan 2 tahun masih menyisakan kewajiban Rp.20.000.000. Hal ini terjadi karena usaha perkebunan kopi miliknya mengalami penurunan penjualan, selain itu lahan perkebunan kopinya mengelami kelongsoran,hal ini dikarenakan cuaca hujan yang terus

menerus mengguyur wilayah desa

Pelaga. Dari usaha pabrik penggiling kopi miliknya juga tidak bisa menutupi

tunggakan kewajibanya, karena

pendapatan dari usaha tersebut tidak seberapa hanya cukup untuk kebutuhan

sehari– hari,apa lagi dengan persaingan

saat ini semakin banyak orang yang memiliki mesin penggiling kopi. Maka

langkah yang diambil oleh pihak

koperasi dengan memperpanjang

jangka waktu pembayaran. Dengan kewajiban yang masih tersisa yaitu

Rp.20.000.000, diperpanjang dari 4 tahun menjadi 6 tahun.

2. Persyaratan Kembali (Reconditioning)

Persyaratan kembali(reconditioning),

yaitu perubahan syarat kredit khususnya

yang menyangkut jangka waktu

pembayaran, yang sesuai dengan

segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit. perubahan syarat kredit khususnya yang menyangkut jangka waktu pembayaran, yang sesuai dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit, dan sesuai dengan kemampuan/kesanggupan debitur untuk

membayar kembali antara lain:

Penundaaan pembayaran bunga

dimana bunga tetap dihitung tetapi penagihannya kepada nasabah tidak dilaksanakan sampai nasabah sanggup atas bunga yang dibebankan tersebut, Penurunan suku bunga yaitu dalam keadaan dimana nasabah dinilai masih

mampu membayar bunga pada

waktunya tetapi suku bunga yang dikenakan terlalu tinggi untuk keadaan ekonomi waktu itu, Perubahan dari kredit jangka pendek menjadi kredit jangka panjang dengan syarat-syarat yang lebih ringan, dan Kapitalisasi bunga, dimana bunga dijadikan hutang pokok sehingga nasabah pada waktu tertentu tidak perlu membayar bunga

tetapi hanya membayar hutang

pokoknya saja nantinya, dengan plafond dapat melebihi dari yang disetujui.

Misalnya debitur perorangan dengan bidang usaha peternakan ikan, dengan nilai pinjaman kredit Rp.40.000.000,00 berjangka waktu 5 tahun, setelah melewati masa tenggang 2 tahun,

namun mengalami gagal bayar

dikarenakan peternakan ikan yang

dikelola terserang wabah penyakit

(8)

3. Pengurangan Tunggakan Pokok Kredit Pengurangan tunggakan adalah

keringanan yang diberikan kepada

debitur untuk membayar tunggakan pokok kredit kurang dari/lebih kecil dari tunggakan pokok kredit yang seharusnya

dibayar.Biasanya diberikan kepada

debitur kooperatif dan mempunyai itikad baik untuk memenuhi kewajibannya

namun debitur belum memiliki

kemampuan yang memadai. Selain itu

debitur memiliki track record/kinerja kredit

yang baik, misal : rasio pembayaran

angsuran terhadap total kewajiban

angsuran atau menunggaknya debitur bukan dikarenakan karakter debitur.

3. Likuidasi (Liquidation)

Pelaksanaan likuidasi dilakukan terhadap kategori kredit yang memang benar-benar menurut pihak koperasi sudah tidak dapat lagi dibantu untuk disehatkan kembali atau usaha nasabah yang sudah tidak memiliki prospek untuk dikembangkan. Proses likuidasi ini dapat

dilakukan dengan menyerahkan

penjualan barang tersebut kepada

nasabah yang bersangkutan.

Syarat-syarat sebagaimana kebijakan dan

prosedur yang diberikan oleh Koperasi Unit Desa (KUD) Petang diantaranya adalah :Kualitas kredit dalam kondisi macet,Upaya-upaya penyelesaian secara

persuasif telah dilakukan Koperasi

secara maksimal, dan Jaminan yang

dilikuidasi dapat dilakukan melalui

pelelangan, atau diluar pelelangan

berdasarkan penyerahan secara

sukarela oleh pemilik agunan atau berdasarkan surat kuasa untuk menjual lelang dari pemilik atau debitur.

Likuidasi(Liquidation) yaitu penjualan

barang-barang yang dijadikan jaminan dalam rangka pelunasan utang. Proses likuidasi ini dapat dilakukan dengan menyerahkan penjualan barang tersebut kepada nasabah yang bersangkutan. Sedang bagi bank-bank umum milik

negara, proses penjualan barang

jaminan dan aset bank dapat diserahkan

kepada BPPN, untuk selanjutnya

dilakukan eksekusi atau pelelangan.

Sebagaimana telah diuraikan

sebelumnya, menurut (Siamat, 2005) bahwa penyelesaian kredit macet dapat dilakukan melalui :

1. Rescheduling (Penjadwalan Ulang)

Yaitu perubahan syarat kredit hanya menyangkut jadwal pembayaran dan atau jangka waktu termasuk masa

tenggang (grace period) dan perubahan

besarnya angsuran kredit. Tentu tidak semua debitur dapat diberikan kebijakan ini oleh bank, melainkan hanya kepada debitur yang menunjukkan itikad dan

karakter yang jujur dan memiliki

kemauan untuk membayar atau

melunasi kredit (willingness to pay).

2. Reconditioning (Persyaratan Ulang)

Yaitu perubahan sebagian atau

seluruh syarat-syarat kredit yang tidak

terbatas pada perubahan jadwal

pembayaran, jangka waktu, tingkat suku

bunga, penundaan pembayaran

sebagian atau seluruh bunga dan persyaratan lainnya.

3. Restructuring (Penataan Ulang) yaitu

perubahan syarat kredit yang diberikan pada debitor.

4. Liquidation (Liquidasi)

Yaitu penjualan

barang-barang yang dijadikan jaminan dalam rangka pelunasan utang.Pada kasus kredit macet yang terjadi di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang seperti

yang telah diuraikan di atas,

penanganan atas kredit macet tersebut

dilakukan terlebih dahulu dengan

melaksanakan penyelamatan kredit

melalui kebijakan-kebijakan yaitu yang

pertama perubahan syarat kredit

khususnya yang menyangkut jangka

waktu pembayaran, yang sesuai

dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit, dan sesuai

(9)

debitur untuk membayar kembali. Yang

kedua perubahan syarat kredit

khususnya yang menyangkut jangka

waktu pembayaran, yang sesuai

dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit, dan sesuai

dengan kemampuan/kesanggupan

debitur untuk membayar kembali. Yang ketiga pengurangan tunggakan adalah keringanan yang diberikan kepada debitur untuk membayar tunggakan

pokok kredit kurang dari/lebih kecil dari

tunggakan pokok kredit yang

seharusnya dibayar.

Menurut Bapak Wayan Sueca penyelesaian melalui jalur likuidasi jarang dilakukan karena dinilai tidak

menguntungkan baik pihak bank

maupun pihak debitur oleh sebab itu

pihak koperasi masih melakukan

negosiasi dengan kebijakan-kebijakan yang diberikan.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Dari pembahasan hasil penelitian yang telah diuraikan maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :

1. Ada beberapa faktor-faktor penyebab kredit macet di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang yaitu sebagai berikut: a. Kurangnya staf yang berkompeten dibidang kredit pada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang.Karena pada dasarnya bagian-bagian staf tersebut memiliki tugas dan tanggung jawab

masing-masing,agar masalah kredit

macet ini dapat teratasi, b. Pada saat

koperasi melakukan pemanggilan

terhadap debitur dan mengajukan

peringatan/pemberitahuan penagihan

baik melalui lisan (telepon) maupun dengan tulisan (surat)/surat pernyataan yang dibuat oleh pihak bank yang menyatakan bahwa kondisi debitur dalam memenuhi kewajibannya sedang bermasalah yaitu dalam kolektibilitas

kredit macet, c.Tidak adanya

keterbukaan dari debitur. Hal demikian

tidak lepas dari sifat hubungan

antagonistik yang ditunjukkan oleh

debitur pada saat proses

negosiasi,d.Keputusan restrukturisasi

yang telah disepakati bersama oleh pihak koperasi dan debitur yaitu seperti kewajiban angsuran bulanan terhadap debitur yang telah direstrukturisasi tidak dibayarkan,e.Dalam proses pengecekan atau meninjau pihak debitur mengalami kendala dimana seperti yang telah

diketahui peran dan bimbingan pihak koperasi dalam hal ini sangat penting

untuk mengantisipasi kemungkinan

kegagalan restrukturisasi, f.

Kemampuan koperasi mendeteksi

kemungkinan timbulnya kredit macet masih lemah, termasuk mendeteksi arah

perkembangan arus kas (cash flow)

debitur lama, sehingga pihak koperasi bisa memperbaiki sistem pemberian kredit.

2. Beberapa beberapa alternatif yang ditempuh Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Petang dalam menyelesaikan kredit macet adalah dengan melakukan

upaya restrukturisasi dan tahapan

restrukturisasi kredit adalah sebagai berikut : Penjadwalan kembali ini yakni melakukan perubahan syarat kredit khususnya yang menyangkut jangka waktu pembayaran, yang sesuai dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit, dan sesuai dengan kemampuan/kesanggupan debitur untuk membayar kembali, Perubahan syarat kredit khususnya yang menyangkut jangka waktu pembayaran, yang sesuai dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit, dan sesuai

dengan kemampuan/kesanggupan

debitur untuk membayar kembali.

perubahan syarat kredit khususnya yang menyangkut jangka waktu pembayaran, yang sesuai dengan segment/sektor usaha yang dibiayai dengan kredit, dan

sesuai kesanggupan debitur untuk

(10)

tunggakan adalah keringanan yang

diberikan kepada debitur untuk

membayar tunggakan pokok kredit kurang dari/lebih kecil dari tunggakan pokok kredit yang seharusnya dibayar,

dan Likuidasi (liquidation), Apabila

upaya-upaya penyelesaian terhadap

kredit macet secara persuasif dan

secara maksimal telah dilakukan namun tidak berhasil, maka pihak koperasi dapat melakukan upaya terakhir yaitu

penyelesaian dengan melikuidasi

jaminan atau penjualan barang-barang yang dijadikan jaminan dalam rangka pelunasan utang.

Saran

Adapun saran bagi Koperasi Simpan Dalam memilih calon nasabah pihak koperasi harus bisa lebih teliti,misalnya

meningkatkan prosedur pemberian

kredit agar dapat melihat watak debitur dan penghasilan dari calon debitur itu sendiri dan mengecek dengan baik pemenuhan oleh debitur atas semua

persyaratan-persyaratan pemberian

kredit yang telah disepakati bersama antara debitor dengan pihak koperasi, Merekrut pegawai yang berkompeten dibidangnya dan memiliki pengalaman kerja yang baik terutama staf bagian kredit, karena kredit macet ini tidak hanya terjadi karena disebabkan oleh pihak debitur, karena kemungkinan kecurangan yang dilakukan oleh pihak kreditur juga cukup tinggi, Meninjau perkembangan usaha dan keuangan

nasabah termasuk kemampuan

pemenuhan kewajiban debitur kepada pihak lain, selain koperasi, Memberikan pengertian restrukturisasi tersebut sejak awal debitur mengajukan kredit kepada pihak koperasi,agar nantinya jika debitur mengalami masalah dalam pembayaran angsuran, maka debitur tersebut sudah

paham dengan mekanisme atau

prosedur restrukturisasi yang akan diberikan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Sitio dan Tamba, Halomoan. 2001.

Koperasi: Teori dan Praktik. Jakarta:

Erlangga.

Arifinal, Chaniago. 1987. Perekonomian

Indonesia. Bandung: Angkasa.

Basidl, Syafi’i. 2010. Manajemen Kredit

Macet Pada Perbankan di

Indonesia. [Online]. Tersedia di

http://blog.beswandjarum.com, [diakses pada 28 Juni 2011].

Budisantoso, Totok dan Triandaru, Sigit.

2006. Bank dan Lembaga Keuangan

Lain. Jakarta: Salemba Empat.

Hardianto, Rochmad. 2009. Peran Koperasi

Unit Desa dalam Memberikan Kredit di Kalangan Masyarakat Klaten

(Studi di KUD “JUJUR”

Karangnongko). Skripsi. Universitas

Muhammadiyah Surakarta.

Hasibuan, Malayu.2008. Dasar-Dasar

Perbankan. Jakarta: Bumi Aksara.

Hatta, Moehamad. 1933. Ekonomi rakyat

daulat rakyat. Jakarta: Balai Buku

Indonesia.

Kasmir. 2014. Bank Dan Lembaga

Keuangan Lainya. Jakarta: Raja

Grafindo.

Moleong, Lexy J. 2012. Metode Penelitian

Kulitatif, Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Mulyono, Djoko. 2012. Buku Pintar Strategi

Bisnis Koperasi Simpan Pinjam.

Yogyakarta: ANDI.

Pratama, Gde Dianta Yudi. 2015.

Penyelesaian Kredit Macet Pada

Ksu Tumbuh Kembang Pemogan –

Denpasar Selatan. Skripsi.

(11)

Putra, I Komang Gede Darma . 2014 . Analisis Kredit Macet Pada Pt. BPR

Kapal Basak Pursada. Skripsi.

Universitas Pendidikan Ganesha.

Rahmat, Agusra.2011. Penyelesaian Kredit

Macet Dikoperasi Bank Pekreditan Rakyat (KBPR) VII Koto Pariaman. Skripsi. Universitas Andalas Padang.

Republik Indonesia. 2014. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian.

Rivai. 2007. Bank and Financial Institute

Management. Jakarta: PT. Raja

Grafindo Persada.

Siamat, Dahlan.2001. Manajemen Lembaga

Keuangan. Jakarta. Fakultas

Ekonomi Indonesia.

--- 2005. Manajemen Lembaga

Keuangan. Kebijakan Moneter dan

Perbankan. Jakarta: Fakultas

Ekonomi Universitas Indonesia, edisi kesatu.

Suarjaya, Nyoman .2015 .Analisis

Penyelesaian Kredit Macet Pada Koperasi Pasar Srinadi Klungkung.

Skripsi. Universitas Pendidikan

Ganesha.

Subhan Jath, Ar Razaq. 2013. Analisis

Pengaruh Restrukturisasi Kredit

Terhadap Kredit Bermasalah (Non Performing Loan) Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di BEI.

Skripsi. Medan. Universitas

Sumatera Utara Medan.

Sudarmika, I Gusti Ngr Rai. 2004. Pengaruh

Tingkat Perputaran Piutang

Terhadap Rentabilitas Ekonomi

Pada KUD Mambal, Kecamatan

Abiansemal. Skripsi. Fakultas

Ekonomi. Universitas Udayana.

Denpasar.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Bisnis.

Bandung: ALFABETA.

---, 2011. Metode Penelitian Kuantitatif,

Kualitatif, dan R&D. Bandung:

ALFABETA.

Suwarsono, Samson. 2010. Strategi

Penyelesaian Kredit Macet Pada

BMT Surya di Klaten. Skripsi.

Surakarta: Universitas

Muhammadiyah Surakarta.

Taswan. 2011. Manajemen Perbankan

Konsep Teknik dan Aplikasi.

Yogyakarta: UPP YKPN.

Widya, Karni. 2011. Analisis Kinerja

Koperasi Unit Desa (KUD) Setia Nagari Selayo Kecamatan Kubung.

Skripsi. Fakultas Pertanian,

Universitas Andalas. Kabupaten

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, maka object-oriented analysis (OOA) mengidentifikasi semua tipe objek yang melakukan pekerjaan dalam sistem dan menunjukan interaksi pengguna

Aspek penting dari berbagai hubungan dan pengaruh terhadap pelayanan publik, dapat dilihat dari alur atau jalur variabel komunikasi berhubungan dan berpengaruh

Kondisi tersebutlah yang mengakibatkan profesi penyiar radio semakin banyak dilirik oleh sebagian besar kalangan di Kota Bandung, khususnya kalangan remaja yang

Pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik daerah yang berupa rusunawa untuk dipergunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah,

Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata dan positif antara Nilai- nilai Islami dengan Pemaknaan Sholat, Budaya Perusahaan, Kepuasan Kerja dan

Dalam penelitian ini dilakukan analisis data secara kualitatif dari hasil pengamatan catatan lapangan dalam jurnal, angket siswa, analisis lembar observasi

Pembelajaran dengan menggunakan perangkat berbasis pendekatan saintifik pada konsep ekosistem dapat membuat siswa aktif dalam proses belajar mengajar, hal ini

3. Tidak Bertanggung Jawab Dalam kehidupan suami-istri ada beberapa hal yang harus ditunaikan oleh keduanya, mengatur tanggung jawab saumi-istri dalam rumah tangga