• Tidak ada hasil yang ditemukan

GREEN CITY DAN UPAYA PELAKSANAANNYA DI I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GREEN CITY DAN UPAYA PELAKSANAANNYA DI I"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS

TOPIK KHUSUS PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

GREEN CITY DAN UPAYA PELAKSANAANNYA DI INDONESIA

STUDI KASUS PEMBANGUNAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA BANDUNG

Oleh:

Fajar Ariandy 24014008

Magister Studi Pembangunan

SEKOLAH ARSITEKTUR, PERENCANAAN, DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

(2)

GREEN CITY DAN UPAYA PELAKSANAANNYA DI INDONESIA

STUDI KASUS PEMBANGUNAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA BANDUNG

A. PERKOTAAN DAN KONSEP GREEN CITY

Pada umumnya kota diartikan sebagai suatu permukaan wilayah dimana terdapat pemusatan (konsentrasi) penduduk dengan berbagai jenis kegiatan ekonomi, sosial budaya, dan administrasi pemerintahan. Secara lebih rinci dapat digambarkan yaitu meliputi lahan geografis utamanya untuk permukiman berpenduduk dalam jumlah relatif banyak di atas lahan yang terbatas luasnya dengan mata pencaharian penduduk didominasi oleh kegiatan non pertanian, serta pola hubungannya antar individu dalam masyarakat dapat dikatakan lebih bersifat rasional, ekonomis, dan individualis1.

Pertumbuhan kota membawa dampak positif dan juga negatif bagi keberlangsungan hidup manusia. Pertumbuhan kota memberikan manfaat bagi tumbuhnya pusat-pusat dari kegiatan pembangunan ekonomi, inovasi, eduksi, percepatan teknologi, dan penyediaan lapangan kerja namun disisi lain pertumbuhan kota juga mengakibatkan kerusakan lingkungan seprti besaran jejak ekologi, berkurangnya ruang terbuka hijau dan hilangnya fungsi ekologisnya, berbagai macam persoalan sumber daya air, pencemaran dan dampak kesehatan yang tinggi, kebisingan kota yang berlebih, serta perubahan iklim dan berkurangnya kenyamanan.

Saat ini, perkembangan kota-kota di dunia telah melampaui daya dukung dan kemampuannya dalam menyediakan infrastruktur. Banyak kota tidak berkelanjutan akibat berkembang tanpa memperhatikan sumber daya alam yang ada. Hal yang kemudian terjadi adalah penggunaan sumber daya alam yang massif dan pembukaan lahan yang melampaui proporsi yang memperhatikan daya dukungnya, penggunaan sumber daya dan energi yang sangat tinggi, sampah dan limbah yang dihasikan menjadi sangat besar, pencemaran yang terus meningkat, kemiskinan, serta tumbuhnya daerah-daerah kumuh yang sulit untuk dihindari. Keadaan yang demikian tersebut terjadi karena pertumbuhan kota yang dilakukan saat ini tidak memperhatikan kelangsungan ekologi dan dilaksanakan dengan pertumbuhan ekonomi sebagai satu-satunya ukuran dari paradigma pembangunan yang dilaksanakan sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan kota di dunia ini dapat dikatakan bukan petumbuhan kota yang sustainable. Hal ini secara nyata terlihat dari pola pembangunan perkotaan yang telah mengorbankan keseimbangan tiga pilar pembangunan berkelanjutan, yakni ekologi, ekonomi, dan sosial. Disisi ekologis contohnya, ruang terbuka hijau di daerah perkotaan semakin menyusut tergusur oleh pembangunan kawasan komersial, seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, pertokoan, pelebaran infrastruktur jalan, dan pembangunan fisik kota lainnya.

Di dalam pembangunan kota dikenal prasarana infrastruktur kota atau infrastruktur abu-abu berupa jalan raya, jaringan drainase, jaringan listrik, infrastruktur sosial (rumah sakit dan sekolah). Kini di era pemanasan global dan perubahan iklim terdapat konsep pembangunan kota berkelanjutan yang didalamnya terkenal infrastruktur kota lainnya berupa infrastruktur hijau kota (urban green infrastructure). Infrastruktur hijau kota tersebut didefinisikan sebagai “An Interconected network of green space that conserves natural ecosystem values and fuctions and provides associated benefits to human population” (Green Infrastructure: Smart Conservation for the 21st Century, 2001). Dari

(3)

keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi karena berfungsi sebagai sistem kehidupan alami yang berkelanjutan. Infrastruktur hijau kota merupakan jaringan ruang terbuka hijau (RTH) kota yang berfungsi untuk melindungi nilai dan fungsi ekosistem alami yang dapat memberikan dukungan kepada kehidupan manusia. Sebagai contoh, apabila pemerintah telah membangun infrastruktur jaringan air bersih untuk kebutuhan air masyarakat, jaringan RTH dapat memasok oksigen yang sangat diperlukan oleh warga. Demikian pula apabila pemerintah telah membangun jaringan infrastruktur penanggulangan limbah cair maupun padat agar terhindar dari pencemaran yang berdampak negatif pada warga, dengan adanya jaringan RTH dapat menetralisir dampak pencemaran udara, terutama penyerapan karbon dioksida, dan sekaligus menekan emisi karbon pemicu pemanasan bumi.

Infrastruktur hijau merupakan jaringan yang saling berhubungan. Antara sungai, lahan basah, hutan, habitat kehidupan liar, dan daerah alami di wilayah perkotaan; jalur hijau, kawasan hijau, dan daerah konservasi; daerah pertanian, perkebunan, dan berbagai jenis RTH lain seperti taman-taman kota. Pengembangan infrastruktur hijau dapat mendukung kehidupan warga, menjaga proses ekologis, keberlanjutan sumber daya air dan udara bersih, serta memberikan sumbangan kepada kesehatan, dan kenyamanan warga kota. Infrastruktur hijau merupakan jaringan terpadu dari berbagai jenis RTH, terdiri atas area (hub) dan jalur (link). Suatu RTH yang berbentuk area hijau dengan berbagai bentuk dan ukuran seperti taman kota, pemakaman, situ/telaga/danau, hutan kota,dan hutan lindung berfungsi sebagai habitat satwa liar dan prosesekologis. Sedangkan RTH yang berbentuk jalur atau koridor seperti jalur hijau jalan, sempadan sungai, tepian rel kereta api, saluran udara tekanan tinggi, dan pantai merupakan penghubung (urban park connector) area-area hijau untuk membentuk sistem jaringan RTH kota. Infrastruktur hijau ini dapat digunakan sebagai pengendali perkembangan kota agar tidak terjadi peluberan kota (urban sprawl), karena kawasan ataupun jalur yang telah ditetapkan sebagai RTH seharusnya tidak dapat dikonversi untuk fungsi lain2.

Keterhubungan antar-kawasan RTH dengan jalur dan koridor hijau merupakan kunci keberhasilan infrastruktur hijau kota. Keterhubungan antar-ruang hijau, baik area maupun jalur hijau merupakan strategi dalam menanggulangi degradasi lingkungan kota seperti banjir, rob, longsor, krisis air tanah, pemanasan lingkungan kota, meningkatnya pencemaran udara, rusaknya habitat satwa liar, dan kerusakan lingkungan lainnya. Infrastruktur hijau harus pula diintegrasikan dengan rencana pembangunan infrastruktur kota seperti pembangunan jalan, drainase, dan prasarana lainnya termasuk keterkaitannya dengan infrastruktur antar-kota pada skala wilayah, metropolitan, ataupun megalopolitan.

Implementasi infrastruktur hijau dijabarkan dalam pola pemanfaatan ruang. Pola pengamanan ekologis yang komprehensif (comprehensive ecological security pattern) merupakan pola ruang kota yang berkaitan dengan infrastruktur hijau (Wang, Chen, Yang dalam ISOCARP Congress ke-44. 2008). Pola pengamanan eologis (ecological security pattern) kota terdiri atas pola pengamanan terhadap masalah air dan banjir, udara, bencana geologis, keanekaragaman hayati, warisan budaya, dan rekreasi. Pola pengamanan ekologis untuk setiap kota bisa berbeda tergantung pada permasalahan lingkungan kotanya.

(4)

aliran air permukaan seperti sungai, waduk, situ, serta daerah genangan air pada saat hujan. Hal ini bertujuan untuk menyusun pola RTH pengendalian banjir dengan menentukan daerah-daerah yang tidak boleh dibangun untuk fungsi konservasi dan preservasi agar proses-proses hidrologis tetap dapat berlangsung.

2. Pola pengamanan udara (air security pattern) berhubungan dengan upaya peningkatan kualitas udara agar udara kota tetap segar, tidak tercemar, dan sehat untuk setiap warga. Kawasan dengan potensi pencemaran udara tinggi kemudian menjadi prioritas dalam penyediaan RTH untuk mengendalikan pencemaran udara, terutama karena polusi sektor transportasi. Jalur hijau jalan dan kawasan industri menjadi fokus utama penentuan pola RTH kota.

3. Pola pengamanan bencana geologis (geological disaster security pattern) berhubungan dengan pengendalian daerah-daerah yang rawan longsor, amblesan muka tanah (land/surface subsidence), daerah patahan geologi, dan daerah rawan bencana geologis lainnya.

4. Pola pengamanan keanekaragaman hayati (biodiversity security pattern) berhubungan dengan konservasi berbagai spesies dan habitat tempat mereka bisa hidup. Kesesuaian lahan untuk habitat berbagai spesies dan penentuan kawasan yang harus dikonservasi merupakan fokus utama agar penataan ruang kota tetap member peluang bagi terciptanya keanekaragaman biologis.

5. Pola pengamanan warisan budaya (cultural heritage security pattern) berhubungan dengan konservasi situs budaya. Kawasan atau tempat yang bernilai budaya tinggi perlu dicgar dan dikonservasi agar tak habis karena pembangunan fisik yang dilakukan yang akan mengubah wajah lansekap.

6. Pola pengamanan rekreasi (recreational security pattern) berhubungan dengan tempat-tempat yang mempunyai fungsi sosial dan nilai rekreasi bagi warga kota. Taman kota, taman lingkungan, taman rekreasi, taman pemakaman, kawasan dengan pemandangan indah, kawasan dengan fitur alam yang unik, dan lansekap vernacular merupakan daerah-daerah yang perlu diamankan dari pembangunan kota.

B. APLIKASI KONSEP GREEN CITY DI BERBAGAI NEGARA DI DUNIA

Berikut di bawah ini merupakan aplikasi dari konsep green city yang telah diterapkan di berbagai kota di berbagai negara di dunia.

1. APLIKASI KONSEP GREEN CITY DI EROPA

(5)

2. APLIKASI KONSEP GREEN CITY DI AMERIKA SERIKAT

Kota-kota di Amerika Serikat dan Kanada memiliki rata-rata luas RTH 11,9 persen dan kepadatan penduduk sejumlah 8.106,8 orang/mil2 (data tahun 2008) dengan perincian sebagai berikut:

Tabel 1. Presentasi Luas RTH Beberapa Kota di Amerika Serikat

No. Kota Luas RTH(%) No. Kota Luas RTH(%)

1 Atlanta 4,6 15 New York 19,7

2 Boston 16,3 16 Orlando 4,9

3 Charlotte 11,6 17 Ottawa 20

4 Chicago 8,2 18 Philadelphia 12,6

5 Cleveland 6,4 19 Phoenix 13,8

6 Calgary 15 20 Pittsburg 8,9

7 Dallas 13,4 21 Sacramento 9,4

8 Denver 3,2 22 San Fransisco 17,1

9 Detroit 6,7 23 Seattle 11,6

10 Houston 14,2 24 St. Louis 8,7

11 Los Angeles 7,9 25 Toronto 12,7

12 Miami 6,3 26 Vancouver 11,7

13 Minneapolis 19,5 27 Washington DC 19,4

14 Montreal 18,5

Sumber: Nirwono Joga, Gerakan Hijau di Eropa dan Amerika Serikat, diolah.

Untuk mewujudkan kota hijau yang turut memperhatikan keseimbangan ekologi di daerah perkotaan di Amerika Serikat, terdapat berbagai program penanaman pohon di kota yang dilakukan secara serentak. Program-program penanaman pohon tersebut antara lain Calgary Forever Green Program: The Birth Place Forest (2001), Denver Mile High Million (2006 – 2025), The Million Trees+ Houston (2008-2013), Los Angeles’s Million Trees (2005), The New York Million Trees (2007 – 2017), Philadelphia Green Philly, Grow Philly (2010 – 2015), Green Ups Pittsburgh (2007), The Greenwise Sacramento Regional Action Plan (2011), Trees Across Toronto (2011), dan Plant a Tree in Washington DC (2008).

Selain program penanaman pohon seperti di atas, kota-kota di Amerika Serikat juga membuka peluang kepada masyarakat untuk turut membantu dan berpartisipasi dalam pelaksanaan program-program kota hijau melalui komunitas masyarakat yang ada. Di Boston, terdapat The Boston Youth Clean-Up Corps yang merupakan komunitas anak muda yang rajin membersihkan dan merawat tanaman. Di Dallas, terdapat The Dallas Urban Forest Advisory Committee yang ikut membantu dan mendampingi pemerintah dalam mengedukasi masyarakat dan pemerintah tentang pentingnya pohon di lingkungan kota, pentingnya membangun hutan kota, serta melatih keterampilan warga dalam merawat pohon, serta menanam pohon.

Program-program peningkatan infrastruktur hijau kota juga dilakukan untuk mewujudkan kota hijau yang berkelanjutan. Adapun program-program tersebut antara lain:

(6)

program perbaikan kualitas udara dengan memperbanyak kuantitas pohon dan RTH serta Houston Mulch, produk kompos dari pengolahan sisa tanaman yang digunakan untuk pemupukan alami RTH.

2. Montreal yang memperluas RTH dari 18,5 persen di tahun 2010 menjadi 25 persen di tahun 2025 dan membangun 10 ecoterritories kawasan lindung alami. Revi-Sols, program rehabilitasi lahan tidur yang dibiayai pemilik lahan dan pengembang untuk membersihkan lahan setengah dari total biaya untuk dijadikan RTH.

3. Ottawa dengan program Ottawa’s Green Acres yang merupakan program bimbingan dan bantuan penanaman pohon kepada pemilik lahan sehingga secara keseluruhan kawasan dapat tertata dan membentuk hutan kota.

4. San Francisco dengan program A Better Streets Plan yang mulai diberlakukan tahun 2010 yang berupa program panduan kawasan pejalan kaki yang bertujuan untuk menjamin keselamatan, memberitahukan potensi ekologis jalan, dan menentukan jenis pepohonan yang akan membentuk lansekap jalan. 5. Seattle dengan program The Seattle Parks and Green Spaces Levy yang mulai diberlakukan tahun 2008 dimana dilakukan peningkatan pajak tanah dengan dana yang terkumpul digunakan untuk membiayai pembangunan taman-taman baru.

6. Toronto dengan program Toronto Natural Heritage Protection Plan yang mulai diberlakukan tahun 2001 yang digulirkan untuk perlindungan sistem alami RTH kota seperti misalnya pada kawasan tepian air.

3. APLIKASI KONSEP GREEN CITY DI AMERIKA SELATAN

Beberapa kota di Amerika Selatan sudah mulai menerapkan konsep green city dalam membangun daerah perkotaan. Luas RTH kota-kota di Amerika Selatan adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Luas RTH Beberapa Kota di Amerika Selatan

No. Kota Luas RTH

(m2/orang) No. Kota (mLuas RTH2/orang)

1 Belo Horizonte 18,3 10 Meksiko 28,4

2 Brazilia 985,1 11 Monterrey 749,8

3 Curitiba 51,1 12 Puebla 303,3

4 Porto Alegre 6 13 Lima 2

5 Rio de Janeiro 58 14 Montovideo 9,2

6 Sao Paulo 54,7 15 Quito 1.494,7

7 Bogota 107,3 16 Santiago 26,1

8 Medellin 5 17 Guadalajara 423,3

9 Buenos Aires 6,1

Sumber: Nirwono Joga, Gerakan Hijau di Amerika Selatan dan Asia, diolah.

(7)

Selain program-program tersebut di atas, ada pula program lain untuk mewujudkan kota hijau di Amerika Selatan antara lain:

1. Bogota, diadakan Bogota Environmental Classroom yang merupakan program pendidikan lingkungan untuk anak-anak sekolah yang dilakukan di taman-taman kota.

2. Buenos Aires, di kota ini dibangun urban park connector yang menyatukan jalur sepeda dari taman ke taman yang sekaligus menjadi solusi terhadap permasalahan transportasi, RTH, dan juga kualitas udara.

3. Curitiba, di kota ini dilakukan perluasan RTH yang digunakan sebagai tulang punggung penyerapan CO2 dan penurunan emisi karbon. Disini pemerintah juga memberikan potongan pajak yang menarik bagi pemilik lahan RTH privat yang bersedia untuk kemudian dibangun menjadi taman publik.

4. Montevideo, di kota ini terdapat program Montevideo Verde (2009) yang merupakan program promosi pelestarian RTH bagi warga dan kota yang dilengkapi dengan kegiatan tur ke taman-taman kota.

5. Quito, di kota ini terdapat program My Neighbourhood is Dressed in Trees (2006) yang merupakan kompetisi penanaman pohon yang dibagi atas 145 distrik yang berhasil menanam dan memelihara 140.000 pohon.

6. Rio de Janeiro, di kota ini diluncurkan Guanabara Bay Depollution Programme yang merupakan program penataan dan peningkatan kualitas lingkungan kawasan tepi pantai yang bebas dari sampah dan juga berfungsi sebagai pengendali banjir yang terutama berasal dari rob, abrasi pantai, dan intrusi air laut).

4. APLIKASI KONSEP GREEN CITY DI ASIA

Beberapa kota di Asia sudah mulai menerapkan konsep green city dalam membangun daerah perkotaan. Luas RTH kota-kota di Asia adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Luas RTH Beberapa Kota di Asia

No

. Kota

Luas RTH

(m2/orang) No. Kota (mLuas RTH2/orang)

1 Bangkok 3,3 12 Kolkata 1,8

2 Beijing 88,4 13 Kuala Lumpur 43,9

3 Bengaluru 41 14 Manila 4,5

4 New Delhi 18,8 15 Mumbai 6,6

5 Guangzhou 166,3 16 Nanjing 108,4

6 Hanoi 11,2 17 Osaka 4,5

7 Hongkong 105,3 18 Seoul 23,4

8 Jakarta 2,3 19 Shanghai 18,1

9 Karachi 17 20 Singapura 66,2

10 Taipei 49,6 21 Tokyo 10,6

11 Wuhan 20,9 22 Yokohama 37,4

Sumber: Nirwono Joga, Gerakan Hijau di Amerika Selatan dan Asia, diolah.

(8)

1. Beijing, di kota Beijing terdapat program untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kanopi hijau kota. Sebagai hasilnya, kanopi hijau di kota Beijing kuantitasnya meningkat dari 42 persen di tahun 2000 menjadi 52 persen di tahun 2007.

2. New Delhi, di kota ini terdapat New Delhi Green Lungs Programme yang berhasil meningkatkan RTH kota dari 20 persen di tahun 2009 menjadi 33 persen di tahun 2012.

3. Hanoi, kota ini memiliki program berupa Green, Civilized, and Modern City yang diberlakukan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2050 yang menargetkan 70 persen wilayah kota Hanoi akan digunakan sebagai RTH, pepohonan, serta ruang terbuka biru. Sebagai salah satu hasil dari program ini, pada Maret 2010 dibangun Park City Hanoi dengan luas 77 hektare yang merupakan kawasan terpadu yang dilengkapi perumahan dengan kepadatan campuran, pusat perbelanjaan, sekolah, serta RTH sebesar 14 persen dari total kawasan tersebut.

4. Osaka, di kota ini terdapat program Osaka Green Curtains dan Carpets yang dilakukan sejak tahun 2010 dimana banyak dilakukan pembangunan taman atap dan taman dinding yang digunakan untuk meredam fenomena pulau-pulau panas dalam kota.

5. Singapura, di kota ini terdapat sebuah kebijakan untuk meningkatkan RTH kota. Dari yang semula seluas 3.300 hektar pada tahun 2011 menjadi 4.200 hektare pada tahun 2020. Selain itu, Singapura juga mencanangkan pembangunan eco-link yang menjadi penghubung antar RTH dari 100 km di tahun 2007 menjadi 360 km di tahun 2020. Awal pembangunan kota taman dimulai dengan peluncuran kampanye penanaman pohon pada tahun 1963 oleh Mantan Perdana Menteri Lee Kuan Yeuw yang merupakan penggagas konsep kota taman Singapura. Untuk menjamin keberlanjutan perwujudan kota taman, pemerintah Singapura mengeluarkan peraturan terkait dengan penghijauan kota, antara lain berupa National Parks Board Act, Parks and Tress Act, Parks and Trees Regulation, dan Tree Conservation Order.

6. Yokohama, di kota ini terdapat program Yokohama Green Up yang dilakukan dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 yaitu dengan mengumpulkan dana untuk mempercepat penambahan luas RTH dengan pengenaan pajak kepada individu serta pengusaha.

C. PELAKSANAAN KONSEP GREEN CITY DI INDONESIA

(9)

saluran umum tegangan tinggi, sungai, hutan lindung, dan pengolahan sampah ramah lingkungan. Taman-taman penghubung harus bisa membuat pejalan kaki dan pesepeda nyaman ke berbagai tempat tujuan. Pemerintah juga perlu memperbanyak RTH baru berupa taman evakuasi bencana di kawasan padat penduduk dan padat bangunan, taman kota, taman makam, lapangan olah raga dan hutan kota, merevitalisasi situ dan hutan mangrove, penghijauan atap dan dinding bangunan (roof and wall garden), serta pengembangan pertanian kota.

Pada Pasal 29 dan 30 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, mensyaratkan setiap kota memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) 30 persen, yang terdiri atas RTH publik sebanyak 20 persen dan RTH privat sebanyak 10 persen. RTH adalah surga perkotaan yang berfungsi sebagai paru-paru kota, daerah resapan air, dan tulang punggung dalam pengendalian perkembangan kota dan infrastruktur hijau kota3. Proporsi RTH pekotaan sebesar 30 persen (RTH publik 20 persen dan RTH privat 10 persen) merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan sistem mikroklimat, maupun sistem ekologis lainnya yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. Untuk mencapai luasan RTH kota sebesar 30 persen sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, pemerintah daerah perlu mengembangkan strategi baru untuk mempercepat pencapaian target RTH 30 persen, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Menetapkan daerah yang tidak boleh dibangun. Pertanyaan esensial dalam pembangunan kemudian bukan dimana boleh membangun namun justru dimana tidak boleh membangun karena secara teknologi hampir semua tempat dapat dibangun. Daerah-daerah yang sensitif terhadap perubahan harus dipreservasi atau dikonservasi agar fungsi lingkungan tetap terjaga, seperti habitat satwa liar, daerah dengan keanekaragaman hayati tinggi, daerah genangan, dan penampungan air, daerah rawan longsor, tepian sungai dan tepian pantai sebagai pengaman ekologis dan daerah-daerah yang memiliki nilai pemandangan tinggi. 2. Membangun lahan hijau baru (hubs). Pemerintah daerah disii dapat membeli lahan

yang kemudian dibangun RTH areal berupa taman lingkungan terutama di perkampungan padat penduduk, taman kota, taman makam, lapangan olah raga, hutan kota, kebun raya, hutan mangrove, dan situ atau danau buatan baru, serta RTH jalur untuk jalur hijau jalan, tepi sungai, situ, jalur rel kereta api, dan di bawah jalur listrik tegangan tinggi. Peremajaan kota di perkampungan padat penduduk dan bangunan maupun pembangunan kawasan terpadu ramah lingkungan kemudian menjadi perlu untuk dilakukan. Keterbatasan anggaran yang ada dapat disiasati dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan pelibatan korporasi melalui program tanggung jawab sosial korporasi (CSR) dalam membangun RTH kota. 3. Mengembangkan koridor ruang hijau kota (link). Program penanaman pohon besar

(10)

dan jalur wisata kota. Selain itu, diperlukan juga upaya restorasi ekologis dengan mengembalikan secara cepat lahan-lahan kosong yang belum terbangun seperti jalur tepian sungai, tepian jalan, tepi rel kereta api, tepian pantai, tepian situ, dan lainnya menjadi daerah hijau. Bangunan (IMB) dan pemberian kompensasi berupa insentif dan disinsentif. Untuk keperluan tersebut, pemerintah daerah harus telah mendata, meningkatkan, dan menetapkan area RTH privat pekarangan rumah, sekolah, perkantoran, rumah sakit, pabrik, hingga kawasan terpadu, pusat perbelanjaan, hotel, apartement, dan rumah susun sebagai bagian dari RTH kota. Kompensasi berupa insentif dapat diberikan kepada pemilik bangunan yang secara konstan dan berkelanjutan mempertahankan RTH privat mereka dalam bentuk yang beraneka ragam seperti pemberian keringanan pengenaan pajak bumi dan bangunan, keringanan pajak air tanah, atau keringanan berbagai macam jenis pajak lain. Untuk pengembang yang kegiatannya adalah mengembangkan kawasan terpadu, terdapat kewajiban dalam penyediaan fasos dan fasum berupa taman di dalam kawasan yang dikembangkan, bukan di lokasi lain dan tidak dapat diganti dengan uang.

5. Merefungsi RTH yang telah ada. Dilakukan dengan merehabilitasi atau melakukan restorasi terhadap RTH dan melakukan penghijauan kembali kawasan hutan dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas RTH. Dalam melakukan upaya ini, pemerintah daerah dapat merevitalisasi situ, danau, waduk, dan hutan mangrove yang ada sebagai daerah resapan air. Refungsionalisasi RTH yang masih digunakan untuk fungsi lain seperti misalnya SPBU di jalur hijau dan sempada sungai yang masih diokupasi masyarakat. Revitalisasi dapat juga dilakukan di taman lingkungan, halaman sekolah, halaman kantor, dan area parkir yang diperkeras dengan diganti menjadi rumput agar berdaya serap air lebih besar. 6. Menghijaukan langit kota. Akibat keterbatasan lahan, pembangunan RTH dapat

dilakukan di atap-atap bangunan bertingkat seperti hotel, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan lain sebagainya menjadi taman atap dan dinding hijau. Penghijauan bangunan, meski tidak termasuk dalam kategori menambah luasan RTH privat namun upaya ini patut didukung karena secara ekologis mampu menurunkan suhu kota, menyerap gas polutan, meredam pemanasan pulau dan radiasi sinar matahari, meredam tingkat kebisingan, menyerap air hujan, menyimpan air sementara di lapisan tanah, mendinginkan atap dan bangunan melalui insulasi alami, serta menghasilkan oksigen. Sebagai usaha untuk mengurangi krisis pangan yang terjadi, taman atap dapat pula dijadikan kebun sayuran dan buah-buahan serta apotik hidup untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

(11)

Selain itu, perlu juga dibentuk tim audit RTH untuk menjaga keberadaan dan pelaksanaan pengembangan RTH.

8. Memberdayakan komunitas hijau. Partisipasi masyarakat sangat diperlukan karena pada kenyataannya sebagian besar lahan hijau berada di bawah kepemilikan masyarakat dan swasta (RTH privat). Ini merupakan pergeseran model pembangunan kota dari tanggung jawab stakeholders menjadi tanggung jawab bersama. Program partisipasi masyarakat dapat dilakukan melalui penyuluhan dan pembinaan warga masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap arti penting eksistensi RTH, penyebarluasan fungsi dan manfaat RTH melalui kampanye lingkungan hidup, pelibatan masyarakat dan juga swasta dalam program pengembangan RTH (mitra hijau), serta pelibatan institusi pendidikan. Terkait dengan kondisi ruang terbuka hijau di daerah perkotaan di Indonesia, pertambahan jumlah penduduk yang ada menyebabkan keberadaan RTH kota menjadi semakin terancam dan kota semakin tidak nyaman digunakan untuk beraktivitas. Hal ini disebabkan karena pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan terjadinya densifikasi penduduk dan pemukiman yang cepat dan tidak terkendali di daerah kota yang menyebabkan kebutuhan ruang semakin meningkat untuk mengakomodasi kepentingan penduduk yang semakin bertambah. Semakin bertambahnya permintaan akan ruang khususnya untuk permukiman dan lahan terbangun berdampak pada semakin merosotnya kualitas lingkungan dan jumlah RTH yang ada sedangkan Rencana Tata Ruang yang telah dibuat tidak mampu mencegah alih fungsi lahan di perkotaaan.

James Siahaan (2010) menyatakan bahwa kecenderungan terjadinya penurunan kuantitas ruang publik, terutama RTH pada 30 tahun terakhir sangat signifikan. Di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung, luasan RTH telah berkurang dari 35 persen pada awal tahun 1970-an menjadi 10 persen pada saat ini. RTH yang ada sebagian besar telah dikonversi menjadi infrastruktur perkotaan dan kawasan permukiman baru. Permasalahan utama keberadaan RTH adalah semakin berkurangnya RTH karena keterbatasan lahan dan ketidak-konsistenan dalam penerapan tata ruang. Berkurangnya RTH disebabkan oleh konversi lahan yaitu beralih fungsinya RTH untuk peruntukan ruang yang lain. Padahal banyak fungsi yang dapat diberikan RTH baik ekologis, sosial budaya maupun estetika yang memberikan kenyamanan dan memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro maupun makro. Manfaat yang diperoleh dari keberadaan RTH baik manfaat langsung maupun manfaat tidak langsung dalam jangka panjang dan bersifat intangible4.

Target luas sebesar 30 persen dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal (Permen PU No. 5 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan). Namun fakta di lapangan menyatakan bahwa keberadaan RTH yang jauh dari proporsi ideal dimana kekuatan pasar yang dominan pada akhirnya merubah fungsi lahan sehingga keberadaan RTH semakin terpinggirkan bahkan diabaikan fungsi dan manfaatnya. Tata ruang yang diharapkan dapat mengakomodasi seakan tidak berdaya menahan mekanisme pasar tersebut.

(12)

kota kecil dan menengah secara baik dengan penyediaan RTH, pengembangan jalur sepeda dan pedestrian, serta pengendalian penjalaran kawasan pinggiran. Selain itu, Smart Green City Planning diharapkan ini mampu dengan cermat mengatasi persoalan ledakan penduduk di kawasan perkotaan akibat urbanisasi yang tidak terencana. Dengan konsep Green City, krisis perkotaan diharapkan dapat dihindari, sebagaimana yang terjadi di kota-kota besar dan metropolitan yang telah mengalami obesitas perkotaan.

Namun, untuk mewujudkan Smart Green City Planning tersebut ada beberapa permasalahan yang belum terselesaikan terkait dengan implementasi konsep Kota Hijau. Kendala tersebut antara lain adalah tingginya pendanaan serta terbatasnya lahan perkotaan dalam mewujudkan ruang terbuka hijau sebesar 30 persen dari luas kota. Selain itu, kecenderungan perilaku masyarakat yang kontraproduktif dan destruktif, serta kurangnya pemahaman masyarakat akan pentingnya aspek lingkungan sehingga peran masyarakat dalam perwujudan Kota Hijau masih tergolong rendah. Selama ini peningkatan jumlah penduduk perkotaan dari waktu ke waktu, perkembangan kawasan perkotaan yang cenderung bersifat ekspansif, alih-fungsi kawasan pertanian subur di pinggiran kota, dan meningkatnya ketergantungan pada kendaraan bermotor juga turut menjadi kendala besar bagi terlaksananya rintisan Program Pengembangan Kota Hijau5.

D. PELAKSANAAN KONSEP GREEN CITY DI KOTA BANDUNG

Pada tahun 2003, tercatat terjadi penurunan dalam jumlah total taman kota di Kota Bandung sebesar 2,44 persen dimana sejumlah 450 taman yang tercatat pada tahun 2002 berkurang menjadi 439 taman pada tahun 2003. Penurunan jumlah taman tersebut disebabkan karena tidak dimasukannya sejumlah taman yang tercatat pada tahun 2002 karena sebenarnya tidak masuk dalam kategori taman yang bukan berfungsi sebagai fasilitas umum dan fasilitas sosial, serta adanya taman yang hilang atau berubah fungsi. Dengan demikian jumlah total luas taman di Kota Bandung juga menurun dari 1.118,855 hektar pada tahun 2002 menjadi 803,965 hektar pada tahun 2003. Bila dibandingkan dengan total luas kota (167.290.000 m2 atau 16.729 hektar), proporsi taman di Kota Bandung pada tahun 2003 baru mencapai 4,8 persen. Dari 439 taman dengan total luas 80,4 hektar tersebut, ternyata tidak seluruhnya berpotensi sebagai lahan yang dapat menyerap air, karena seluas 28,09 hektar (sekitar 34,9 persen dari luas taman di Kota Bandung) berupa lahan yang diperkeras (open space), sedangkan luas lahan terbukanya (green space) adalah 50,6 hektar.

Secara kuantitas, luasan RTH di Kota Bandung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, yang bisa dilihat dari tabel di bawah ini:

(13)

Sumber: Dinas Pertamanan Kota Bandung, 2009

Bila mengacu pada rasio standar ideal menurut Lancashire Country Council dimana luas RTH adalah 7 – 11,5 m2 /orang, maka pemenuhan taman bagi warga kota Bandung baru mencapai sekitar 0,43 m2 /orang atau 3,86 persen - 6,07 persen dari kebutuhan luas taman ideal. Selain itu, permasalahan RTH di Kota Bandung juga terkait dengan pola sebaran jumlah dan luas taman di setiap wilayah tidak merata. Ratio jumlah taman per 100 hektar area di Cibeunying adalah sejumlah 3,54 m2 /orang dan di Karees adalah 2,13 m2 /orang, sedangkan pada wilayah lain hanya berkisar di bawah 1,07 m2 /orang. Proporsi luas taman terhadap luas wilayahnya juga menunjukkan perbedaan yang sangat tinggi, di wilayah Cibeunying dan Gedebage contohnya, proporsinya berkisar di antara 22,2 persen - 25,8 persen sedangkan di 4 wilayah lain hanya berkisar di antara 7,2 persen - 16,5 persen6.

Jumlah total jenis tanaman di taman yang ada di Kota Bandung tercatat ada 193 jenis yang terdiri dari 98 jenis pohon dan 95 jenis tanaman hias. Secara umum pola penanaman tanaman di taman jalan dan taman kota telah menunjukan kesesuaian antara jenis tanaman yang ditaman dengan peruntukan tamannya. Sedangkan untuk taman lingkungan (RT, RW, Kelurahan) masih terdapat jenis tanaman yang kurang sesuai karena dapat membahayakan pengguna taman atau terdapat jenis yang mudah rusak karena kegiatan masyarakat yang dilakukan di dalam taman. Dari 98 jenis pohon, sekurang-kurangnya terdapat 8 jenis tanaman yang diindikasikan masuk ke dalam kelompok jenis pohon yang mampu menyerap zat pencemar di udara, dan sekurang-kurangnya terdapat 18 jenis tanaman yang termasuk kategori tanaman langka. Fungsi ekologis tanaman dan RTH dari setiap taman tidak dapat disama-ratakan, melainkan berbeda sesuai dengan karakteristik pola penanaman dan jenis tanamannya serta jenis RTH masing-masing.

Berdasarkan data tersebut di atas, pada tahun 2003 kebijakan, rencana dan program pembangunan RTH, khususnya Taman di Kota Bandung masih belum jelas, sehingga telah mengakibatkan pembangunan dan pengelolaan taman yang tidak berjalan dengan baik. Hal ini diindikasikan dari menurunnya jumlah dan luas taman, masih banyaknya tanaman yang kurang terawat, adanya keluhan masyarakat tentang akses terhadap RTH atau taman, serta terbatas dan menyusutnya RTH seperti yang tertuang pada Agenda 21 Kota Bandung.

Terkait dengan pelaksanaan konsep green city di Indonesia yang kemudian ditopang pemerintah melalui keluarnya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mengharuskan setiap daerah memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH, Pemerintah Daerah Kota Bandung kemudian menindak-lanjutinya dengan melahirkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau. Namun, hal yang paling penting sebenarnya adalah bukan hanya sebatas kebijakan tersebut dibuat, akan tetapi bagaimana implementasi dari kebijakan tersebut. Kedua kebijakan pemerintah tersebut kemudian diimplementasikan dalam bentuk pembuatan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Bandung 2011-2031.

Berdasarkan kategori ruang terbuka hijau Kota Bandung yang tersebar di enam wilayah kota saat ini tidak merata dengan luas RTH yang beragam di masing-masing wilayah. Berdasarkan data tahun 2007, wilayah kota yang memiliki ruang terbuka hijau terluas adalah SWP Ujungberung (351,76 hektar). Sementara SWP Karees merupakan wilayah dengan luasan RTH terkecil (26,77 hektar). Wilayah-wilayah lainnya memiliki proporsi

(14)

luas antara kedua wilayah tersebut adalah SWP Bojonegara seluas 76,78 hektar; SWP Cibeunying seluas 57,57 hektar; SWP Tegalega seluas 67,75 hektar; dan SWP Gedebage seluas 28,29 hektar. Ruang terbuka hijau yang terdapat pada tiap wilayah tersebut tersebar di 30 kecamatan dengan proporsi luas yang berbeda berdasarkan kategorinya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh rencana pengembangan kota di masing-masing kecamatan yang disesuaikan dengan karakteristik lokasi dari setiap kecamatan. Kecamatan RTH terluas adalah Kecamatan Cicadas dengan luas 145,12 hektar dan yang terendah adalah Kecamatan Kiaracondong dengan luas 0,18 hektar, sedangkan kecamatan lainnya berkisar antara 1,5 – 16 hektar. Rencana pola pengembangan kawasan lindung setempat yang berfungsi pula sebagai ruang terbuka hijau ini adalah:

a. Menambah jalur hijau jalan di sepanjang jaringan jalan yang ada dan direncanakan termasuk jalur hijau Pasupati sehingga diperkirakan seluas 2 persen dari total wilayah Kota Bandung.

b. Intensifikasi dan ekstensifikasi RTH di sepanjang sempadan sungai, jaringan jalan, saluran udara tegangan tinggi, sempadan jalan, dan jalan bebas hambatan.

c. Intensifikasi dan ekstensifikasi RTH di kawasan taman kota, pemakaman umum, serta di sekitar danau buatan dan mata air.

d. Penyediaan taman-taman lingkungan yang berada di pusat-pusat lingkungan perumahan dengan standar sebagai berikut:

 Taman lingkungan RT atau untuk 250 penduduk dengan luas 250 m2, atau standar 1 m2/jiwa.

 Taman lingkungan RW atau untuk 2500 penduduk dengan luas 1.250m2, atau standar 0,5 m2/jiwa, yang dapat berdekatan dengan fasilitas pendidikan SD.

 Taman skala kelurahan atau untuk 25.000-30.000 penduduk dengan taman-taman dengan luas 9.000 m2, atau standar 0,3 m2/jiwa.

 Taman skala kecamatan atau untuk 120.000 penduduk dengan luas 24.000 m2, atau standar 0,2 m2/jiwa.

 Taman skala wilayah pengembangan atau untuk 480.000 penduduk dengan luas 12,4 hektar atau 0,3 m2/jiwa.

Bentuk upaya intensifikasi ruang terbuka hijau dapat dilakukan dengan pemilihan jenis tanaman, letak tanaman, ruang antar permukiman, dan taman-taman rumah. Selain itu, juga dilakukan penataan ulang makam dan taman kota yang dijadikan SPBU. Ekstensifikasi RTH dilakukan dengan pembuatan RTH-RTH baru. Untuk memenuhi kebutuhan ruang terbuka hijau publik sebesar 20 persen dan ruang terbuka hijau privat sebesar 10 persen maka rencana pengembangan ruang terbuka hijau di Kota Bandung ditekankan pada peningkatan kuantitas dan kualitas RTH dan peningkatan penghijauan kota. Jaringan RTH yang terbangun diharapkan akan meningkatkan kuantitas dan kualitas konektivitas RTH di Kota Bandung. Pada akhirnya peningkatan struktur dan fungsi RTH ini dapat meningkatkan layanan ekologi RTH yang mampu mendukung keberlanjutan lingkungan Kota Bandung.

(15)

Gedebage, yaitu seluas ± 9,5 hektar. Untuk mempertahankan fungsi RTH sempadan sungai, daerah yang terdapat di tepi Sungai Cikapundung yang mengalir dari Utara Kota Bandung dan melewati Wilayah Cibeunying perlu dibebaskan dari bangunan atau kegiatan yang dapat mengurangi fungsinya.

Di daerah yang memungkinkan untuk ditanami pohon, perlu dilakukan penghijauan agar RTH sempadan sungai dapat menjalankan fungsinya sebagai penahan erosi dan sedimentasi. Sedangkan RTH sempadan sungai di Wilayah Gedebage perlu ditingkatkan fungsinya untuk menahan masuknya sedimen yang membawa residu pestisida dan pupuk organik dari lahan pertanian (khususnya persawahan) di wilayah tersebut. Di wilayah ini perlu dilakukan penanaman pohon pada bagian sempadan sungai yang memungkinkan untuk ditanami. Saat ini RTH sempadan sungai yang memiliki konektivitas tinggi.

RTH penyangga jalan tol. Salah satu tipe RTH yang diperkirakan aman dari konversi adalah jalur penyangga jalan tol Padaleunyi, yaitu segmen antara Gerbang Pasteur dan Buah Batu. Diperkirakan tidak kurang dari 89,48 hektar jalur penyangga jalan tol yang masuk ke dalam wilayah Kota Bandung. Pengembangan fungsi jalur penyangga jalan tol Padaleunyi lebih diarahkan pada peningkatan kualitas secara fungsional daripada penambahan luas. Hal ini disebabkan perluasan RTH Kota Bandung melalui perluasan jalur penyangga jalan tol tidak mudah dilakukan mengingat lahan di sepanjan jalan tol merupakan lahan milik masyarakat yang berupa lahan permukiman dan pertanian, dan lahan milik swasta berupa pertokoan dan industri. Peluang untuk meningkatkan kualitas RTH jalur penyangga jalan tol ini cukup besar, antara lain dapat dilakukan dengan meningkatkan liputan vegetasi dengan cara menambah jumlah pohon sehingga dapat meningkatkan kualitas konektivitas pada skala lokal, kota, dan regional.

Berikut di bawah ini merupakan rencana pengembangan RTH di Kota Bandung yang masuk ke dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Bandung 2011 – 2031:

Tabel 5. Rencana Pengembangan RTH Kota Bandung 2011 – 2031

Klasifikasi RTH Komponen RTH Sumber: Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Bandung 2011 – 2031.

(16)

sebagai penghasil oksigen, namun juga untuk daerah resapan air dan menyerap karbon dioksida. Kebijakan yang selanjutnya dilekuarkan pemerintah Kota Bandung untuk membangun lebih banyak RTH adalah melalui kebijakan membuat RTH di 1.500 Rukun Warga (RW). Walaupun dianggap sebagai sebuah langkah kecil, namun kebijakan 1 RTH di 1 RW ini dapat menambah sekitar 800 hektar lahan hijau.

Selain itu, saat ini juga sedang digagas kebijakan agar pelaku usaha yang membangun kegiatan usaha di Kota Bandung untuk menyediakan juga ruang terbuka hijau. Lokasi gedung seperti apartemen, mall, dan hotel diharapkan dapat segera berkonstribusi dengan menyediakan RTH di dalam kawasan tersebut. Ini dikarenakan penyediaan pot yang diisi tanaman atau taman di atas gedung kurang maksimal manfaatnya jika dilihat dari segi ekologis dan lingkungan. Pot yang diisi tanaman maupun taman di atas gedung memang akan mengurangi dampak polusi udara dengan menyerap karbondioksida yang ada di sekitarnya, namun pot-pot berisi tanaman dan taman di atas gedung tidak menunjang fungsi daerah resapan air.

E. KESIMPULAN DAN SARAN

Secara kuantitas, RTH yang berada di Kota Bandung dapat dikatakan belum memenuhi standar RTH kota ideal seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Kota yang mengidealkan jumlah RTH di perkotaan adalah sebesar 30 persen dari luas kota. Untuk dapat memenuhi amanat undang-undang tersebut, Pemerintah Kota Bandung telah melakukan berbagai terobosan kebijakan mulai dari menyiapkan peraturan daerah sebagai instrument penguat pelaksanaan undang-undang, penyusunan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Bandung dengan memasukkan RTH sebagai salah satu unsur di dalamnya, serta kebijakan yang langsung menyasar masyarakat seperti kebijakan 1 taman (RTH) untuk 1 RW.

Untuk menghindari terjadinya penurunan jumlah dan luas taman, serta kesalahan dalam menentukan kriteria RTH, khususnya taman diperlukan adanya kebijakan dan rencana program yang jelas untuk setiap jenis RTH. Dalam kaitannya dengan RTH dalam bentuk taman, perlu adanya keputusan dan petunjuk teknis yang dapat memberikan kejelasan tentang jenis maupun klasifikasi taman, fungsi atau peruntukannya, pengaturan pengelolaan serta sanksinya.

Untuk membangun sebuah kota hijau, perlu kebijakan mendasar dan komitmen kuat untuk pembangunan kota yang memungkinkan kota berlanjut (kota hijau). Pendekatan pembangunan kota hijau harus dilaksanakan dengan mengkombinasikan pertumbuhan ekonomi yang sehat dan ramah lingkungan (pro green growth), meningkatkan kesejahteraan masyarakat (pro poor), menyediakan lapangan kerja yang ramah lingkungan (pro green jobs), dan dalam bingkai menjaga kelestarian lingkungan (pro environment).

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita, Rahardjo. 2006. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Dwihatmojo, Roswidyatmoko. Jurnal Badan Informasi Geospasial “Ruang Terbuka Hijau yang Semakin Terpinggirkan”. Badan Informasi Geospasial Republik Indonesia.

Joga, Nirwono. 2013. Gerakan Kota Hijau. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Keraf, A. Sonny. 2006. Etika Lingkungan. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.

Kerjasama Kantor Litbang dan PPSDAL-UNPAD. 2003. Pengkajian Pola Penghijauan di Kota Bandung.

---. 2001. Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Bandung Tahun 2011 – 2031.

---. 2009. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

---. 2007. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

---. 2007. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. ---. 2014. Artikel “Green City di Indonesia Terkendala Lahan dan Perilaku

Kontraproduktif” – 18 Agustus 2014. Website: http://www.greeners.co/ news/green-city-di-indonesia-masih-terkendala-lahan-dan-perilaku-kontrapro duktif/. Akses tanggal 2 Desember 2014.

Gambar

Tabel 1. Presentasi Luas RTH Beberapa Kota di Amerika Serikat
Tabel 2. Luas RTH Beberapa Kota di Amerika Selatan
Tabel 3. Luas RTH Beberapa Kota di Asia
Tabel 4. Luas RTH Kota Bandung Tahun 2004 – 2008
+2

Referensi

Dokumen terkait

Narasi kandang menuntut para religious untuk kembali lahir sebagai manusia baru, manusia yang berpihak kepada mereka yang terpinggirkan. Para religius perlu hadir sebagai kandang

Sesuai dengan masalah yang diuraikan tersebut maka Kantor Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur membutuhkan sebuah sistem informasi untuk membuat sebuah surat dinas secara

Keseluruhan aspek dalam self-regulated learning yaitu metakognisi, motivasi, berpikir kritis, manajemen waktu pelaksanaan proses pembelajaran memiliki hubungan positif

Bagi NSB, dengan karakteristik yang diuraikan sebelumnya nampak tidak dapat berharap banyak dalam era perdagangan bebas, dalam arti pengaruh eksternal mungkin begitu

Terlihat penurunan konsumsi bahan kering seiring dengan meningkatnya pemberiaan tepung daun pulai pada perlakuan pakan.Konsumi bahan kering kambing Boerka pada pemberiaan

5) Melihat perilaku dari segi konsekuensi atas dasar system nilai 6) Kemampuan bertindak independen. Pendapat yang dikemukakan ahli diatas penulis lihat ada hal-hal pokok

Jika air didalam trap dalam kondisi masih bersih tanpa ada hewan yang mati hingga membusuk sedikit memiliki pengaruh dalam hal menarik dung beetle ke trap tersebut,

ANALISIS YURIDIS KEPASTIAN HUKUM KEPEMILIKAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN BUKTI PUTUSAN LANDRAAD ZAMAN HINDIA BELANDA DAN SERTIFIKAT.. HAK MILIK ATAS TANAH (STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR