• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aktualisasi Pancasila dan Pelaksanaan UU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Aktualisasi Pancasila dan Pelaksanaan UU"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

Pancasila yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 telah lama dijadikan sebagai dasar negara. Dasar negara pancasila sesungguhnya ada karena nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila meliputi dan diambil dari sikap dan perilaku masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pancasila harus diwujudkan dan diaktualisasikan dalam berbagai bidang dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun dalam perjalanan panjang kehidupan berbangsa dan bernegara, Pancasila sering mengalami berbagai deviasi dalam aktualisasi nilai-nilainya. Deviasi pengamalan Pancasila tersebut bisa berupa penambahan, pengurangan, dan penyimpangan dari makna yang seharusnya. Walaupun seiring dengan itu sering pula terjadi upaya pelurusan kembali.

(2)

BAB II ISI AKTUALISASI PANCASILA

Aktualisasi pancasila itu sendiri dibedakan menjadi dua macam yaitu aktualisasi objektif dan aktualisasi subjektif. Aktualisasi objektif meliputi berbagai bidang kenegaraan yaitu bidang legislatif, bidang eksekutif, dan bidang yudikatif. Selain itu juga meliputi bidang-bidang lain seperti politik, ekonomi, hukum terutama dalam penjabaran ke dalam undang-undang, garis-garis besar haluan Negara, hankam, maupun bidang lainnya. Aktualisasi pancasila secara objektif juga dikaitkan dengan nilai-nilai dalam setiap sila dalam pancasila.

1) Aktualisasi Pancasila Sila ke-1

Seperti yang kita ketahui bersama sila ke-1 pancasila menjelaskan tentang ketuhanan dan kebebasan beragama. Dalam sistem ketatanegaran hal ini sudah dijelaskan dalam UUD 1945 dalam pasal 28 E ayat 1 dan 2 yang berbunyi:

1. Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

2. Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

(3)

2) Aktualisasi Pancasila Sila ke-2

Sila ke-2 dalam pancasila menjelaskan tentang menjunjung tinggi hak assasi manusia dan menghargai atas kesamaan hak.. Hal ini tercantum dalam UUD yaitu :

Pasal 27 ayat 2 berbunyi : Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.

Pasal 28 D ayat 1 berbunyi : Hak atas pengakuan, jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil dan perlakuan yang sama di depan hukum.

Hal ini juga diwujudkan dalm kehidupan di kampus, krena kampus juga ditunjuk sebgai wadah unuk kekuatan moral pengembangan HAM. Hal ini digunakan dalam upaya mewujudkan UU Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 karena sering kita ketahui bahwa dalam menegakkan hak asasi manusia sering kurang adil misalnya saja beberapa pelanggaran beberapa orang sajadi Timtim, banyak kekuatan untuk mengusut dan menyeret bangsa sendiri ke mahkamah internasional. Namun, korban kerusahan Sambas, Sampit dan Poso tidak ada kelompok yang memperjuangkan padahal mereka menderita dan diinjak-injak hak asasinya. Pengamalan sila ke-1 dan ke-2 juga diwujudkan dalam Tridharma Peguruan Tinggi yaiu pendidikan tinggi, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang slalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan.

3) Aktualisasi Pancasila Sila ke-3

Sila ke -3 ini menjelaskan tentang bagaimana kita sebagai warga negara menunjukkan rasa persatuan dalam menjalankan hidup berbangsa dan bernegara dengan banyaknnya perbedaan suku, ras, kelompok dan golongan maupun kelompok agama dalm semangat Bhinneka Tunggal Ika. Dalam bidang pendidikan pemerintah mewujudkannya dengan mendirikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi dimana di dalam sekolah tersebut terdapat banyak kebudayaan, suku, ras, agama dan segala perbedaannya yang saling berbaur.

(4)

Sila ke-4 mengandung nilai demokrasi yang secara mutlak harus dilaksanakan dalam kehidupan bernegara. Hal ini sudah diatur dalam UUD yaitu :

Pasal 19 yang berbunyi :

1. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dipilih melalui pemilihan umum.

2. Susunan Dewan Perwakilan Rakyat diatur dengan undang-undang. 3. Dewan Perwakilan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam

setahun.

Pemilihan umum di Indonesia sudah dilaksanakan sejak tahun 1955 untuk memilih anggota DPR dan konstituante.

5) Aktualisasi Pancasila Sila ke-5

Sila ke-5 ini merupakan tujuan akhir dari suatu negara yaitu mewujudkan kesejaheraan seluruh warganya serta melindungi warganya dan seluruh wilayahnya. Nilai-nilai keadilan ini juga sebagai dasar dalam pergaulan antar negara dan prinsip ingin menciptakan ketertiban hidup bersama, perdamaian abadi serta keadilan dalam hidup bersama. Hal ini juga dikemukakan dalam UUD 1945 Pasal 33

ayat 3 yang berbunyi :

(5)

Obyektif, karena Aktualisasi Pancasila yang subyektif merupakan kunci keberhasilan Aktualisasi Pancasila secara Obyektif.

DINAMIKA PELAKSANAAN UUD 1945 Masa Setelah Kemerdekaan

Setelah menyatakan diri merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia segera mengesahkan UUD 1945 sebagai dasar hukum negara Indonesia pada tanggal 18 Agusus 1945. Undag-Undang Dasar ini terdiri atas Pembukaan UUD 1945, Batang Tubuh yang mencakup 37 Pasal 4 Aturan Peralihan atau Peraturan Tambahan serta penjelasan yang dibuat oleh Prof. Mr.Soepomo (Sunoto, 1985: 35). Pada awal kemerdekaan UUD 1945 tidak dilaksanakan dengan baik karena kondisi Indonesia dalam suasana mempertahankan kemerdekaan. Sedang mengenai keadaan pemerintahnya sebagai berikut:

Pasal 4 Aturan Peralihan UUD 1945 berlaku yaitu sebelum MPR, DPR dan DPA dibantu oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Sistem kabinetnya, Kabinet Presidensil dimana para menteri bertanggung jawab pada presiden bukan pada DPR.

Dikeluarkannya Maklumat No. X pada tanggal 16 Oktober 1945, yang merubah kedudukan KNIP yang tadinya sebagai pembantu Presiden menjadi badan legislatif(DPR).

Dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tanggal 14 November 1945 yang merubah kabinet presidensil menjadi parlementer, ini berarti menyimpang dari UUD 1945. Sistem kabinet ini diikuti dengan Demokrasi Liberal.

(6)

Konstitusi RIS

Hasil dari KMB pada 27 Desember 1945 mengharuskan pada Indonesia untuk menerima berdirinya negara RIS. Secara otomatis UUD yang digunakan pun berganti, dan yang digunakan adalah Konstitusi RIS. Pada masa ini seluruh wilayah Indonesia tunduk pada Konstitusi RIS. Sedangkan UUD 1945 hanya berlaku untuk negara bagian Indonesia yang meliputi sebagian jawa dan sumatra dengan ibukota Yogyakarta. Sistem pemerintahannya adalah Parlementer yang berdasarkan Demokrasi Liberal. Negara Federasi RIS tidak berlangsung lama. Berkat kesadaran para pemimpin kita maka pada tanggal 17 Agustus 1950 RIS kembali lagi menjadi NKRI dengan Undang-Undang yang lain yang disebut Undang-Undang Dasar Sementara 1950.

Undang-Undang Dasar Sementara

Sejak terbentuknya Negara Republik Indonesia Serikat dibawah konstitusi RIS 1949 pada tanggal 27 Desember 1949, maka semakin kuatlah perjuangan bangsa Indonesia menentang susunan negara yang dianggap sebagai bentukan Belanda dan semakin kuat pula tuntutan untuk kembali kepada bentuk yang unitaristis, maka pada tanggal 17 Agustus 1950 negara RIS sepenuhnya kembali menjadi negara RI dengan UUDS sebagai konstitusinya.

Dalam rangka memenuhi tugas yang diamanatkan oleh UUDS 1950, maka diselenggarakanlah pemilu untuk memilih anggota Majelis Pembentuk UUD Negara Republik Indonesia yang kemudian disebut Konstituante yang dilantik pada 10 november 1956 (Purastuti,2002:41).

Masa Orde Baru  Dekrit Presiden

(7)

konstituante. Halini disebabkan konstituante yang seharusnya bertugas membuat UUD Negara RI masih membahas kembali dasar Negara. Atas dasar hal tersebut, Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959 yang isinya :

1. Membubarkan konstituante.

2. Menetapkan berlakunnya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya kembali UUDS 1950.

3. Pembentukan MPRS dan DPAS dalam waktu sesingkat-singkatnya. PKI dan G 30 S PKI

Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 keadaan tatanegara Indonesia mulai stabil namun keadaan ini dimanfaatkan oleh kalangan komunis dngan menanamkan ideologi dalm pemerintahan bahwa “ideologi belum selesai dan bahkan ditekankan tidak akan selesai sebelum tercapai masyarakat yang adil dan makmur.” Maka berlakulah hukum-hukum revolusi dan sebagai akibatnya terjadi pemusatan kekuasaan ditangan presiden. Sehingga pesiden memiliki kekuasaan dibidang hukum. Pada masa ini ideologi pancasila dirancang oleh PKI dan digantikan dengan ideologi Manipol Usdek serta konsep Nasakom. Sejak saat itu, PKI terus berusaha mengumpulkan kekuatan dalam peristiwa demi peristiwa antara lain peristiwa Kanigoro, Boyolali, Indramayu, Bandar Betsy dan sebagainya. Puncaknya pada pemberontakan G 30 S PKI pada tanggal 30 September 1965 untuk merebut kekuasaan yang sah Negara RI.

Dengan adanya pemberontakan G 30 S PKI muncul aksi-aksi dari seluruh masyarakat untuk membubarkan PKI. Aksi-aksi tersebut melahirkan suatu tuntutan yang dikenal dengan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) yang berisikan :

1. Pembubaran PKI dan ormas-ormasnya.

2. Pembersihan cabinet dari unsure-unsur G30S PKI. 3. Penurunan harga.

Dengan adanya Tritura tersebut, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tanggal 11 Maret 1966 dengan tujuan untuk memperbaiki stabilitas Negara. Beirkut isi dari Supersemar :

(8)

jalannya Revolusi, serta mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimin Besar revolusi/mandataris M.P.R.S. demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi.

2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima-Panglima Angkatan-Angkatan lain dengan sebaik-baiknya.

3. Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut-paut dalam tugas dan tanggung-jawabnya seperti tersebut diatas. Mengambil segala tindakan yang dianggap perlu, untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya Pemerintahan dan jalannya Revolusi, serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimin Besar revolusi/mandataris M.P.R.S. demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi.

Dalam masa ini dikenal sebagai periode pemerintahan yang ditandai dengan berbagai penyimpangan terhadap Pancasila dan UUD 1945. Berbagai penyimpangan-penyimpangan UUD 1945 itu yang paling menonjol antara lain :

 Presiden mengangkat Ketua dan Wakil Ketua MPR/DPR dan MA serta Wakil Ketua DPA menjadi menteri negara.

 MPRS menetapkan Soekarno sebagai Presiden seumur hidup.

 Presiden mengeluarkan produk hokum yang setingkat Undang-Undang tanpa persetujuan DPR.

 Ikut campur Presiden dalam system pemerintahan yang cenderung otoriter.  Besarnya pengaruh PKI yang mengakibatkan Ideologi Nasakom yang

mencoba menggantikan Ideologi Pancasila. Masa Orde Baru

(9)

penentang dan pendukung kebijakan presiden Soekarno. Sehingga, menimbulkan situasi konflik yang membahayakan persatuan dan keutuhan bangsa. Melihat hal tersebut, DPR-GR berpendapat bahwa situasi tesebut harus diselesaikan secara konstitusional. Pada tanggal 3 Februari 1967 DPR-GR manyampaikan resolusi dan memorandum yang berisi anjuran kepada Ketua Presidium Kabinet Ampera agar diselenggarakan siding istimewa MPRS.

Pada tanggal 20 Februari 1967 Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Soeharto yang dikukuhkan dalam Sidang Istimewa MPRS dalam ketetapan No. XXXIII/MPRS/1967 yang berisi pencabutan kekuasaan pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno dan mengangkat Soeharto menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia. Setelah pengukuhan Presiden Soeharto tersebut, berlakulah masa Pemerintahan Orde Baru secara konstitusional. Pada masa ini, pemerintahan berusaha menjalankan pancasila dan UUD 1945 yang murni dan konsekuen yang dimaksudkan untuk memperbaiki penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di orde lama.

Pengamalan pancasila di masa orde baru dimulai pada Pidato Kenegaraan 16 Agustus 1983 oleh Presiden Soeharto yang berisi pembangunan yang berdasarkan demokrasi pancasila. Dengan ditetapkannya P4 di tahun 1978 oleh MPR, dimulailah pembangunan nasional yang berdasarkan penghayatan dan pengalaman pancasila yang ditegaskan dalam GBHN sebagai hasil Sidang Umum MPR bulan Maret 1978.

Pembangunan sendiri adalah rangkaian usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk memperbaiki keadaan sesuai dengan tujuan untuk memajukan masyarakat nasional. Secara konkret, pembangunan nasional adalah pebangunan manusia Indonesia menjadi manusia pancasila dan masyarakat pancasila. Pembangunan ini tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan fisik seperti sandang, perumahan, kesehatan, dan sebagainya ataupun batiniah seperti pendidikan, rasa aman, dan sebagainya. Melainkan keduanya dalam keselarasan, keserasian, dan keseimbangan. Selain itu, pembangunan juga harus merata di seluruh tanah air.

(10)

Undang-undang No. 15 tahun 1969. Pemilu ini Berhasil mengubah fungsi dan kedudukan lembaga negara menjadi tetap tidak lagi bersifat sementara. Dalam mengantisipasi konflik ideologis Pemerintah Soeharto membangun suatu konsep baru demokrasi yang diberi nama Demokrasi Pancasila. Masa ini akhirnya harus tenggelam pula dengan adanya krisis moneter yang mengakibatkan hilangnya simpati rakyat terhadap pemerintahan

Reformasi

Ada banyak hal yang mendorong timbulnya reformasi terutama yang terjadi pada masa Orde Baru, yakni terletak pada ketidakadilan dibidang politik, ekonomi, dan hukum. Pemerintahan Orde Baru yang di pimpin oleh Soeharto ternyata tidak konsekuen dengan tekad awal munculnya Orde Baru yakni melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Akhirnya, berbagai penyimpangan dan penyelewengan terhadap nilai-nilai pancasila dan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam UUD 1945, banyak dilakukan dalam pemerintahan Orde Baru.

Reformasi merupakan suatu perubahan tatanan cara hidup yang lama dengan tatanan cara hidup yang baru dan secara hukum menuju ke arah yang lebih baik. Gerakan reformasi pertama kali terjadi di Indonesia pada tahun 1998, merupakan suatu gerakan pembaharuan dan perbaikan dalam bidang poitik, sosial, ekonomi, dan hukum. Gerakan ini ada dengan tujuan untuk memperbarui tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

 Kronologi Masa Reformasi

1. Awal Maret 1998 : Sidang umum MPR yang menetapkan Soeharto sebagai Presiden, melantik cabinet Pembangunan VII

2. Mei 1998 : Demonstrasi mahasiswa yang menyuarakan 3 tuntutan, yakni menurunkan harga sembako, penghapusan KKN, turunnya Soeharto dari kursi kepresidennnya.

3. 12 Mei 1998 : Unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa Trisakti. 4. 13 Mei 1998 dan 14 Mei 1998 : Kerusuhan massal dan penjarahan.

(11)

6. 20 Mei 1998 : Presiden Soeharto hendak membentuk Dewan Reformasi yang diketuai oleh Presiden Soeharto, namun gagal.

7. 21 Mei 1998 : Pukul 10.00 WIB di Istana Negara, Soeharto meletakkan jabatan presiden dan digantikan oleh B.J Habibi ( berdasarkan pasal 8 UUD 1945 )

Pada masa ini sering terjadi pergantian kepemimpinan dalam pemerintah. Tercatat pada masa ini terdapat empat kali pergantian Presiden yaitu BJ Habibie, Abdurahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri. Yang paling terasa pada pelaksanaan UUD 1945 pada masa ini terutama pada masa Presiden Megawati adalah terjadi perubahan-perubahan pada batang tubuh UUD 1945 atau yang akrab kita dengar denagn istilah amandemen. Tujuannya adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan, eksistensi negara demokrasi dan negara hukum, serta hal-hal lain yang sesuai denagn perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. Tercatat telah terjadi empat kali Amandemen UUD 1945 selama kurun waktu 1999-2002 diantaranya:

(12)

BAB III PENUTUP Kesimpulan :

Aktualisasi nilai-nilai Pancasila dibagi menjadi dua yaitu aktualisasi objektif dan aktualisai subjektif. Aktualisasi objektif diwujudkan dalam bidang pemerintahan yaitu bidang legislatif, eksekutif, yudikatif, politik, ekonomi, dan hukum ketatanegaraan. Sedangkan aktualisasi Pancasila yang bersifat subjektif adalah aktualisasi adalah aktualisasi yang dilakukan oleh semua masyarakat Indonesia atas dasar keinginan dari hatinya juga sebagai wujud rasa cintanya pada Pancasila.

Pelaksanaan UUD 1945 juga mengalami beberapa masa yaitu masa setelah kemerdekaan, Konstitusi RIS, masa orde lama yang di dalamnya ada Dekrit Presiden 1950, PKI, G30 S PKI, masa orde baru oleh Soeharto, dan masa reformasi.

Saran :

Referensi

Dokumen terkait

Bahkan, akibat rendahnya harga yang diterima petani, banyak perkebunan kopi yang dikonversi ke tanaman lain terjadi di Propinsi Lampung yang mengakibatkan

[r]

Hasil penelitian menghasilkan 5 faktor dan 29 variabel penyebab keterlambatan proyek, dan didapat 1 faktor yaitu faktor Manajemen Kontraktor dan 7 variabel yang paling

Pada data klien didapatkan keluhan nyeri dada sebelah kiri menjalar kepunggung, didapatkan pada hasil EKG yaitu Q patologis dan didapatkan pula hasil

Melihat tugas-tugas yang harus mereka lakukan beserta ancaman-ancaman yang akan mereka dapatkan, hal tersebut dapat menimbulkan stres bagi anggota polisi.. Dalam teori

Objek kajian Schimmel dalam memahami Islam dengan menggunakan pendekatan fenomenologis adalah seluruh apa yang terdapat di alam ini yang terdiri dari sesuatu yang

Temuan yang paling menggeneralisir tentang harga diri adalah bahwa orang-orang dengan harga diri rendah lebih rentan terhadap pengaruh luar daripada orang dengan

Adapun materi dan objek komparatif yang dikorelasikan dengannya adalah berupa (a) Gambaran tentang Konsepsi Bunga Padma yang tersurat dalam naskah manuskrip