• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membangun System Pelaporan Whistleblowin docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Membangun System Pelaporan Whistleblowin docx"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Memperkuat Sistem Pelaporan Tindak Pidana Korupsi Oleh KPK di Kementerian dan Lembaga Pemerintah

Oleh : Rully Novian

Supriyadi Widodo Eddyono Susilaningtias

Abdanev Jopa

1. Latar Belakang

Gambaran yang disuguhi kepada publik beberapa tahun belakangan ini membuktikan bahwa pencegahan korupsi sangat sulit dilakukan. Selalu saja ada celah yang memungkinkan orang-orang dengan ketamakan dan kesempatan untuk menyalahgunakan kedudukan, mengutip perkataan J.E. Sahetapy, “korupsi di Negara ini bukan sudah membudaya tetapi korupsi di negeri ini sudah merajalela”.

Dalam upaya penanggulangan terhadap tindak pidana korupsi, ternyata tidak cukup hanya dengan mengedepankan penegakan hukum pidana semata, hal ini diibaratkan sebagai pemadam kebakaran yang hanya bekerja ketika telah terjadi kebakaran disuatu tempat, oleh karena itu perlu tindakan tindakan preventif

(pencegahan) yang maksimal untuk dapat menekan atau bahkan menghilangkan Tindak Pidana Korupsi dari negeri yang saat ini sedang dalam keadaan darurat korupsi.

Salah satu alat pengawasan dan pencegahan adalah sistem pelaporan korupsi. Sistem pelaporan korupsi ini dimaknai tidak terbatas pada sistem pelaporan yang saat ini telah ada (KPK

Whistleblowers System). Namun juga meliputi sistem pelaporan terhadap prilaku-prilaku menyimpang penyelenggara negara (penyimpangan yang bakal mengarah ke tindak pidana korupsi) yang jarang mendapatkan perhatian.

(2)

menjadi bagian penting dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi oleh KPK. Inpres tersebut memandatkan untuk membangun dan memperkuat sistem pelaporan tindak pidana korupsi yang terintregasi secara menyeluruh di kementerian dan lembaga pemerintah1.

Sistem pelaporan yang terkoneksi tersebut akan sangat membantu tindakan-tindakan KPK dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan korupsi. Sistem pelaporan ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pemberantasan tindak pidana korupsi semata namun dapat juga dijadikan sebagai alat kontrol bagi tindakan-tindakan illegal diluar aturan yang berlaku yang memungkinkan diselesaikan dengan langkah etik bagi pelakunya, tanpa harus berakhir dengan penegakan hukum pidana namun memberikan efek jera dan hukuman sosial bagi siapa saja yang mencoba untuk melakukan penyimpangan sebelum timbunya kerugian negara

Pembangunan sistem pelaporan tindak pidana korupsi yang terkoneksi antara Kementerian, Lembaga Negara lainya dengan KPK

Whistleblowers System memiliki satu tantangan besar yang juga harus dapat dijawab, bagaimanakah memperkuat KPK Whistleblowers System sehingga terbangun mekanisme sistem pelaporan yang terkoneksi antara KPK Whistleblowers System dengan Seluruh Kementerian dan Lembaga Pemerintah.

Makalah ini akan berfokus pada pembangunan sistem pelaporan tindak pidana korupsi di seluruh kementerian dan lembaga pemerintah, kemudian bagaimana membangun koneksi antara semua sistem pelaporan yang ada kepada KPK Whistleblowers System serta membangun mekanisme pencegahan melalui sistem pelaporan yang terbangun.

Atas pembahasan di atas tentunya penulis memiliki visi membangun KPK menjadi lembaga antikorupsi yang paling dipercaya dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Untuk mencapai visi tersebut, maka penulis memiliki misi yakni membangun sistem antikorupsi KPK yang terintegrasi dalam mencegah dan menindak

(3)

praktek korupsi di seluruh kementerian, lembaga pemerintah dan lembaga penegak hukum.

2. Ke Arah Sistem Pelaporan di Kementerian/Lembaga Yang Terintegrasi

Sistem pelaporan di memang Indonesia belum banyak dikembangkan. Praktik-praktik pelaporan di lembaga-lembaga Negara juga belum ditangani secara lebih baik karena masih penggunakan model pelaporan yang tradisional (manual). Dalam hal ini KPK telah mempeloporinya dengan membangun sistem pelaporan secara online. Sistem pelaporan secara online ini telah dibangun sejak periode awal pendirian KPK, yang kemudian lebih dikenal dengan nama KPK Whistleblower’s System. dari laporan-laporan tersebut Bahkan digunakan oleh KPK sebagai dasar melakukan penegakan hukum untuk kasus-kasus korupsi. Selain itu di dalam KPK Whistleblower’s System tersebut, KPK juga memberikan perlindungan bagi para pelapornya, dan bahkan dalam sistem ini KPK juga menerima pelapor

anonym.2

Demikian halnya dengan PPATK, lembaga ini juga membangun sistem pelaporan dan memberikan perlindungan terhadap diri pelapor. Kedua sistem pelaporan yang dibangun oleh KPK dan PPATK ini meliputi juga penghargaan (reward) dan perlindungan terhadap para pelapor, sesuai Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Di sisi lain, lembaga-lembaga Negara yang memiliki tugas untuk melakukan pengawasan kemudian mengikuti sistem pelaporan secara online tersebut, meski ada beberapa yang masih dilakukan secara manual. Sistem pelaporan secara online diikuti oleh Ombudsman RI, Komisi Yudisial juga menyediakan mekanisme pelaporan secara online meski tidak sama dengan KPK dan Ombudsman.

(4)

Dalam perkembangannya kemudian, sistem pelaporan yang dibangun juga oleh beberapa BUMN3 dan swasta4. Namun sebagian besar sistem pelaporan ini lebih bersifat pelaporan internal, dimana sistem pelaporan yang dibangun untuk mencegah maladministrasi di lingkungan internalnya. Namun Sejauh ini belum ada lembaga yang secara khusus menangani pelaporan baik di sektor swasta maupun di pemerintahan secara terintegrasi, yang selama ini dikenal dengan sistem pelaporan eksternal

Di tahun 2014 Presiden menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 2014 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi5. Instruksi Presiden ini memerintahkan kepada para menteri, sekretaris kabinet, Jaksa Agung, Kapolri, kepala UKP4, Kepala Lembaga Pemerintah non Kementerian, Sekretaris Jenderal pada lembaga tinggi Negara, para gubernur, dan para walikota/bupati untuk menyusun aksi pencegahan dan pemberantasan korupsi tahun 2014.

Implementasi awal dari Inpres ini, dengan membangun sistem pelaporan di 17 kementerian/lembaga Negara yang telah melaksanakan aksi pencegahan dan pemberantasan korupsi . Sebagian besar lembaga Negara/kementerian ini baru mulai menyusunnya pada tahun 2014, walaupun beberapa lembaga telah membangun sistem ini. Implementasi tersebut juga menegaskan kementerian/lembaga memiliki aturan internalnya masing-masing

yang mengatur mengenai pelaksanaan whistleblowing

3 Seperti Garuda Indonesia, PT. Pertamina, PT. PLN dan sebagainya 4 Seperti United Tractors, Siemens, BCA, dan sebagainya

(5)

system.Setidaknya ada 10 kementerian/lembaga yang telah memiliki peraturan mengenai whistleblowing system. Lalu ada 6 kementerian/lembaga yang peraturannya masih berbentuk draft, dan 1 kementerian/lembaga yang belum memiliki peraturan mengenai

whistleblowing system.6

Dalam implemetasinya, ada beberapa kementerian/lembaga yang telah memiliki peraturan tentang sistem pelaporan ini sebelum diterbitkannya Inpres Nomor 2 Tahun 2014 dan bahkan sudah menangani pengaduan-pengaduan yang masuk7. Sementara itu dari ke 17 kementerian/lembaga pemerintah yang telah menerima pengaduan, sejauh ini yang paling banyak adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejumlah 1.457 pelapor. Selanjutnya setelah ditelaah dan dikaji, 392 kasus pengaduan yang selanjutnya ditangani.8

Di tahun 2015, Presiden kembali menerbitkan Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 2015 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2015. Instruksi ini merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan Inpres Nomor 2 Tahun 2014. Inpres Nomor 7 Tahun 2015 ini menginstruksikan kepada semua kementerian, lembaga pemerintah non kementerian wajib berkoordinasi dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Sehingga tanggung jawab koordinasi yang pada tahun 2014 berada di Menkopolhukam dan Menko Kesra, beralih kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional9. Sementara berkaitan dengan tindak lanjut

6 Berdasarkan Laporan Evaluasi Hasil Pendampingan Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan

whistleblowing system Pada 17 Kementerian/Lembaga Oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban tertanggal 5 Desember 2014, manyatakan bahwa 6 Kementerian/Lembaga yang yang masih dalam tahapan konsep atau draft adalah: Kementerian Kesehatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Perhubungan, Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Sosial. Sedangkan untuk 1 Kementerian/Lembaga yang belum memiliki peraturan mengenai whistleblowing system adalah Kementerian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi.

7 Lembaga tersebut yakni Kementerian Keuangan, Kepolisian RI, Kementerian Hukum dan HAM, Kejaksaan Agung

8 Laporan Evaluasi Hasil Pendampingan Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan

whistleblowing system Pada 17 Kementerian/Lembaga oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban tertanggal 5 Desember 2014.

(6)

pelaksanaan whistleblowing system, Inpres ini dalam lampirannya nomor 9 menyebutkan bahwa untuk tahun 2015, dilaksanakan optimalisasi pelaksanaan whistleblowing system dan jaminan perlindungan bagi whistleblower/pelapor. Penanggung jawab pelaksanaan optimalisasi pelaksanaan whistleblowing system tersebut Kepolisian Negara RI.

3. Tantangan Dalam Sistem Pelaporan Antar Lembaga dan Penegak Hukum

Tantangan terhadap sistem pelaporan yang ada saat ini di Indonesia, termasuk dalam implementasi inpres Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 2014 dan Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 2015 adalah sistem pelaporan di Indonesia masih belum terkoordinasi dengan baik. WBS di KPK dan PPATK memiliki sistem sendiri yang belum terkoneksi dengan sistem pelaporan di beberapa instansi terkait (17 kementrian/lembaga), termasuk sistem pelaporan di BUMN dan di sektor swasta.

sistem pelaporan ini menemui tantangan ketika ini berkaitan dengan kepentingan publik, munculnya Ego/tumpang tindihnya kewenangan akan mempersulit implementasi, belum ada pula peraturan perundang-undangan yang menjamin mengenai penegakan hukum terkait dengan hal ini. Hal lainnya yang tak kalah penting adalah sampai detik ini belum ada aturan yang jelas mengenai lembaga mana yang menyatakan seseorang sebagai whistleblower

atau pelapor.

Tantangan lainnya adalah mengenai ruang lingkup pelaporan dimana pengawasan gratifikasi dan laporan harta kekayaan sebagai bagian dari sistem pelaporan belum menjadi agenda penting. Selama ini pelaporan terkait dengan gratifikasi bukanlah menjadi kewajiban dan budaya. Dalam praktiknya sebagian besar pejabat atau pengawai

(7)

negeri sipil atau karyawan swasta enggan melaporkan gratifikasi yang didapatnya atau tidak didapatnya.

Pengawasan Gratifikasi ini harus menjadi bagian di dalam sistem pelaporan. Di sisi lain, di tiap lembaga pemerintah ada unit sendiri yang melakukan kontrol dan pengawasan untuk gratifikasi, bahkan KPK juga memiliki unit tersendiri. Namun demikian masing-masing unit ini bekerja sendiri-sendiri dan tidak terintegrasi. Bahkan tidak ada koordinasi untuk menangani gratifikasi ini. Demikian halnya dengan laporan harta kekayaan penyelenggara Negara. Seharusnya LHKPN ini menjadi bagian dari substansi yang dilaporkan di dalam sistem pelaporan sebagai check and balances (kebenaran) atas LHKPN yang dilaporkan oleh seorang pejabat negara. Tetapi sejauh ini praktik ini belum pernah ditemui. Termasuk di sistem pelaporan yang saat ini dikembangkan.

4. Memperkuat Sistem Pelaporan Yang Terintegrasi

Membangun sistem pelaporan yang terkintegrasi antara kementerian, lembaga pemerintah kepada KPK Whistleblower’s System

yang berpijak pada Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 2014 dan Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 2015 tentunya harus segera dilaksanakan. Beberapa penguatan yang dapat diadopsi dalam implementasi sistem perlaporan tersebut ialah:

Pertama, Salah satu cara yang dirasa mampu untuk memperkuat fungsi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi tentunya dengan membangun KPK Whistleblower’s System

yang kuat, yang terkoneksi dengan kementerian dan lembaga pemerintahan sebagai bahan pencegahan bagi pelanggaran-pelanggaran yang mengarah pada tindak pidana korupsi, membangun fungsi pengawasan di dalam masyarakat yang dapat memperkecil ruang terhadap para pelaku tindak pidana korupsi, serta menjadikan sistem pelaporan sebagai sumber informasi yang baik untuk pemberantasan tindak pidana korupsi

(8)

terkoneksi baik secara offline maupun online yang diatur dengan mekanisme /alur kerja sistem pelaporan yang terkoordinasikan dan terkolaborasi termasuk reward (penghargaan) dan perlindungan terhadap pelapor itu.

Dengan mengintegrasikan sistem pelaporan ini maka akan memperkuat fungsi pengawasan korupsi baik di tataran pencegahan maupun penindakan. Sekaligus memperkuat peran masing-masing penindakan anti korupsi di level aparat penegak hukum.

Sistem pelaporan yang harusnya dibangun dalam konteks Inpres adalah sistem pelaporan yang terkoneksi baik dengan dengan internal lembaga, (salah satu unit lembaga yang menangani pelaporan) yang mendapatkan pengawasan dari KPK Whistleblower’s System dalam menindaklanjuti pelanggaran-pelanggaran etik yang akan mengarah kepada tindak pidana korupsi

Dalam hal penanganan terhadap pelaporan yang terindikasi sebagai permasalahan kode etik seorang aparatur Negara pada kementerian dan lembaga pemerintah maka penindakan laporan dikembalikan kepada kementerian dan lembaga pemerintah itu sendiri. Sedangkan penyelewengan, penyimpangan dan tindakan-tindakan negatif yang dilakukan oleh penyelenggara Negara atau aparatur Negara yang terkait dengan korupsi harus terkoneksi dengan KPK kepolisian dan Kejaksaan sehingga fungsi pencegahan korupsi dapat berjalan dengan baik.

Kedua, memasukkan ruang lingkup obyek dalam Sistem pelaporan yang komprehensif. Saat ini Sistem pelaporan yang dibangun oleh 17 Kementerian/Lembaga memiiki ruang lingkup dan obyek pelaporan mencakup:

 sebuah kejahatan yang dituduhkan atau pelanggaran hukum.

 korupsi pejabat, termasuk penyalahgunaan kekuasaan, pelanggaran

kepercayaan dan konflik kepentingan.

 kesalahan pejabat.

 administrasi yang cacat, termasuk:

a. kelalaian atau ketidakmampuan personil.

b. pengelolaan keuangan yang tidak tepat dalam penggunaan uang publik.

(9)

Ruang lingkup ini dijabarkan di dalam peraturan internal di masing-masing Kementerian/Lembaga. gratifikasi masuk sebagai salah satu obyek yang dapat dilaporkan, tetapi sayangnya terhadap ruang lingkup tersebut belum komprehensif karena belum secara detil memasukkan pengawasan gratifikasi dan pengawasan atas Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN).

Praktik pelaporan untuk gratifikasi ini jarang dilakukan padahal budaya gratifikasi ini sudah berakar lama di Indonesia, sehingga menurut penulis gratifikasi perlu menjadi salah satu obyek yang harus di dorong. Termasuk memasukkannya dalam obyek sistem pelaporan di seluruh kementerian lembaga. dan mengintegrasikannya secara khusus baik ke Unit Pengendalian Gratifikasi di tingkat lembaga/kementerian dengan Pengendalian Gratifikasi di KPK.

Hal lain yang cukup menarik bagi penulis adalah tidak adanya pengawasan atas LHKPN sebagai salah satu obyek yang dapat dilaporkan dalam sistem pelaporan. Padahal jika LHKPN ini menjadi salah satu obyek, maka ini dapat berfungsi sebagai mekanisme check and balances untuk harta kekayaan yang dimiliki oleh seorang pejabat.

5. Kesimpulan Dan Rekomendasi

1. Kesimpulan

Usaha pencegahan dan pemberantasan korupsi tidaklah mudah dan tentu tidak mungkin hanya dilakukan oleh KPK. Seluruh elemen Negara ini harus terlibat aktif, termasuk masyarakat. Masyarakat dapat berperan aktif untuk mencegah dan memberantas korupsi dengan cara salah satunya menjadi pelapor atau whistleblower. Masyarakat tidak perlu takut untuk menjadi pelapor kasus korupsi, karena pelapor kasus korupsi akan mendapat perlindungan dan bahkan penghargaan.

(10)

Lebih jauh lagi, sistem pelaporan yang dibangun itu tidak hanya terkait dengan masalah tindak pidana korupsi, tetapi juga berkaitan dengan masalah etik, pelanggaran-pelanggaran, mal administrasi, serta kecurangan.

2. Rekomendasi

Penulis merasa bahwa WBS yang tangguh tersebut masih memiliki kelemahan-kelemahan terkait dengan masih kurangnya obyek pelaporan dan WBS yang terintegrasi baik untuk pemberian penghargaan maupun untuk pemberian perlindungan. Penulis memandang bahwa kombinasi sistem pelaporan eksternal dan internal perlu dilakukan sebagai jalan untuk memperkuat WBS yang telah dibangun oleh 17 Kementerian/Lembaga dan BUMN, yang terkoneksi dengan KPK Whistleblower’s System. Untuk kebutuhan tersebut, maka baik LPSK, KPK, BUMN maupun 17 Kementerian/Lembaga yang telah memiliki WBS harus menyusun sistem database yang terkoneksi.

Dalam system ini, KPK berfungsi sebagai lembaga yang menangani laporan-laporan mengenai tindak pidana korupsi yang merupakan kewenangannya. Sedangkan untuk masing-masing lembaga/kementerian dan BUMN memiliki tugas untuk melakukan penindakan atau penyelesaian atas laporan-laporan terkait dengan mal administrasi, pelanggaran aturan internal, etik, dan sebagainya.Selanjutnya WBS yang sudah ada ini perlu mempertegas topik gratifikasi sebagai salah satu ruang lingkup atau obyek pelaporan. Sementara untuk LHKPN perlu dimasukkan di dalam obyek pelaporan tersebut.

(11)

Memahami whistleblower’s Diterbitkan Oleh Lembaga Perlindungan Saksi Dan Korban Tahun 2011

Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2014 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2014

Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 2015 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2015

Bahan Pemaparan Narasumber KPK Dalam Acara Rapat Koordinasi Yang Diselenggarakan LPSK Tentang KPK whistleblower’s system \

Referensi

Dokumen terkait

Pada dasarnya Lembaga Kejaksaan berperan melakukan tindakan- tindakan preventif yang ditujukan untuk meniadakan gejala-gejala yang mengarah terjadinya tindak pidana yang

Menyikapi kebutuhan tersebut di atas, IOM Indonesia mengembangkan Materi Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang bagi Mahasiswa Jurnalistik:

Kedudukan lembaga swadaya masyarakat dalam ikut berperan dalam pencegahan tindak pidana korupsi memiliki peran yang sangat penting sebagaimana yang diamanatkan

pelaksanaan langkah pencegahan dan penanganan tindak pidana perdagangan orang yang selama ini dilaksanakan oleh Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana

Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang Pusat, yang selanjutnya disebut Gugus Tugas Pusat adalah lembaga.. koordinatif yang bertugas

Pengelolaan aplikasi Sistem Informasi Pelaporan dan Pemantauan Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang SIPPENAS 1 Administrasi pengelolaan aplikasi

Sidang Tahunan APG di Kathmandu-Nepal telah menetapkan, bahwa kepatuhan Indonesia terhadap standar Internasional di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan

15 Dalam kaitannya dengan upaya pencegahan tindak pidana korupsi, salah satu langkah preventif yang diambil oleh pemerintah Indonesia yakni melalui implementasi aturan LHKPN Laporan