• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepemudaan dan Pembangunan Manusia dan indikator

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kepemudaan dan Pembangunan Manusia dan indikator"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Tantangan pada Aspek Sumber Daya Manusia (SDM) Khususnya Pemuda Berpotensi yang Ada di Kota Blitar dalam Mewujudkan Kesejahteraan Umum

Sesuai Amanat UUD 1945

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kepemudaan dan Pembangunan Manusia

Yang dibimbing oleh : Dr. Margaretha Hanita, S.H, M.Si

Dr. Amar Ahmad

Disusun oleh :

Bagus Aditya Nur Firmandani (1706097591) Kajian Stratejik Pengembangan Kepemimpinan

Progam Studi Kajian Ketahanan Nasional Sekolah Kajian Stratejik dan Global

(2)

Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang

Sudah 72 tahun negara Indonesia merdeka, disitulah juga negara Indonesia terus berjalan dalam menghadapi berbagai tantangan, hambatan, ancaman, dan gangguan yang datang maupun dalam mencapai visi dan misi nya sesuai dengan yang telah diamanatkan oleh UUD 1945. Membicarakan amanat UUD 1945 yang menjadi dasar negara Indonesia semenjak di proklamasikannya negara Indonesia yang bebas dan merdeka dari belenggu penjajah maka penulis teringat salah satu kandungan maknanya yang sangat penting dibahas disini adalah adalah mewujudkan kesejahteraan umum. Apabila dianalisis lebih jauh kandungan makna mewujudkan kesejahteraan umum adalah seluruh masyarakat Indonesia mempunyai hak untuk mendapatkan kesejahteraan umum dan mensejahterakan kesejahteraan umum merupakan tugas dan kewajiban yang harus diemban oleh Pemimpin negeri ini bersama-sama seluruh perangkat dalam aparatur negara yang mempunyai tugas untuk memberikan layanan publik ke masyarakat tanpa kecuali, bahkan masyarakat umum dapat juga saling bersinergi dalam mewujudkan kesejahteraan umum.

Negara Indonesia berdasarkan analisis Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa negara Indonesia mempunyai penduduk dengan jumlah terbanyak ke-4 (empat) di dunia setelah negara, China, Amerika, dan India dengan nilai total 261,89 juta jiwa di tahun 2017 (bps.go.id). Maka dengan tingkat kepadatan penduduknya tersebut negara Indonesia mempunyai sebuah tantangan besar bagaimana mampu mewujudkan kesejahteraan seluruh masyarakat negara Indonesia tanpa kecuali. Maka jawabannya adalah melalui penciptaan dan pemanfaatan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas lah agar mampu mensejahterakan kesejahteraan umum sesuai dengan yang telah diamanatkan oleh UUD 1945.

(3)

pemuda lah yang mempunyai beragam pemikiran, inovasi baru, maupun sebagai agen perubahan (agent of change) seperti yang sering menjadi slogan dalam setiap aktivitas pergerakan mahasiswa baik di perguruan tinggi maupun di masyarakat. Selain hal itu pemuda dan bonus demografi yang dimiliki negara Indonesia juga merupakan aspek yang tidak terlepaskan. Maksud dari pemuda dan bonsu demografi adalah ketika jumlah usia pemuda lebih besar dibandingkan dengan usia tua sehingga usia muda dapat dijadikan sebuah potensi untuk mengembangkan atau melakukan produktivitas. Dasar-dasar tersebut menjadikan generasi pemuda sebagai objek utama dalam mewujudkan kesejahteraan umum sesuai yang telah diamanatkan oleh UUD 1945.

Sejalan dengan mewujudkan kesejahteraan umum tersebut maka cara dalam memberdayakan pemuda dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang yang paling sering digunakan dalam memberdayakan maupun mengembangkan pemuda agar dapat menciptakan SDM yang berkualitas dan dapat menjadikan sebuah manfaat dalam mewujudkan kesejahteraan umum adalah melalui pendidikan. Alasan mendasar melalui pendidikan karena menurut pengamatan penulis pemikiran suatu masyarakat dapat berkembang ketika setiap individu tersebut diberikan dahulu sebuah dasar-dasar keilmuan dan setelah setiap individu tersebut mendapatkan keilmuan melalui pendidikan maka selanjutnya dapat dimotivasi agar dapat mengembangkan potensi yang dimiliki untuk melakukan pengembangan, inovasi, maupun produktivitas. Sederhananya apabila bonus demografi yang dimiliki negara Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal maka upaya-upaya untuk mewujudkan kesejahteraan umum dapat dilakukan. Contoh nyata yang dapat dijadikan sebuah potensi dan panutan adalah kegiatan pemuda dalam bisnis secara online biasanya terkait dalam bidang e-commerce.

(4)

kondisi wilayah kota Blitar secara umum maupun secara khusus pada aspek demografi serta tantangan maupun potensi yang dimiliki oleh pemuda dan pemudi yang ada di kota Blitar.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana tantangan aspek sumber daya manusia (SDM) khususnya pemuda berpotensi yang ada di kota Blitar terkait dalam mewujudkan kesejahteraan umum sesuai yang telah diamanatkan oleh UUD 1945 ?

C. Tujuan Penulisan

(5)

Bab II Pembahasan A. Gambaran Umum Wilayah Kota Blitar 1. Sejarah Singkat Kota Blitar

Menurut buku Bale Latar menjelaskan bahwa Blitar didirikan pada sekitar abad ke 15. Dalam sejarahnya Blitar mulai didirikan awal dengan menggunakan sistem babat alas yang dilakukan oleh Nilasuwarna atau Gusti Sudomo yang merupakan anak Adipati Wilatika Tuban sekaligus merupakan orang kepercayaan Kerajaan Majapahit. Pada sejarah awalnya berdirinya Blitar dengan menggunakan sistem babat alas, Blitar merupakan hamparan hutan yang belum ada penduduk yang mendiaminya. Nilasuwarna juga mendapatkan tugas dari Kerajaan Majapahit untuk menumpas pasukan Tartar yang bersembunyi di dalam hutan yang berada di Blitar dan sekitarnya. Penyebabnya adalah pasukan Tartar tersebut dapat menggancam Kerajaan Majapahit sehingga harus ditumpaskan dan saat itu juga Nilasuwarna dapat menakklukannya. Singkat cerita berkat keberhasilannya memukul mundur pasukan Tartar tersebut, Nilasuwarna mendapatkan kepercayaan dari Kerajaan Majapahit untuk menggelola hamparan hutan tersebut dan mendirikan kepemimpinan serta mendapatkan anugerah dengan gelar Adipati Ariyo Blitar I dari Kerajaan Majapahit. Asal mula nama dari kata Blitar adalah dengan pengambilan gelar yang diperoleh dari Nilasuwarna di akhir gelar yang diberikannya yaitu Blitar yang merupakan asal nama dari Bali Tartar (blitar.go.id)

(6)

Patria adalah diambil dari semangat juang dari PETA yang dipimpin oleh Sudanco Supriyadi. Maka dari semangat juangnya tersebut pengambilan kata Patria ditujukan agar pembentukannya dapat menggambarkan semangat patriotik, nasionalis, dan cinta tanah air yang memang tumbuh dari semangat juang dari masyarakat Kota Blitar. Sehingga pemilihan semboyan Blitar Kota Patria dinilai tepat dapat mencermikan kobaran semangat nasionalisme dan patriot yang ada dalam sejarahnya hingga sekarang (blitar.go.id).

2. Letak Geografis

Kota Blitar secara georafis terletak di wilayah Jawa Timur pada ketinggian 156 m dari permukaan air laut, pada koordinat 14 – 112 derajat bujur timur dan 2 - 8 derajat lintang selatan, dengan suhu rata-rata antara 24 – 34 derajat celcius. Serta memiliki udara sejuk yang berada di kaki gunung Kelud dengan jarak 160 km arah tenggara dari ibukota provinsi Jawa Timur yaitu Surabaya. Kota Blitar memiliki wilayah luas sebesar 32,58 km² yang terdiri dari 3 (tiga) kecamatan yaitu Kecamatan Sukorejo, Kecamatan Kepanjenkidul, dan Kecamatan Sananwetan dan memiliki total 21 kelurahan (blitar.go.id).

(7)

3. Simbol dan Semboyan Kota Blitar

Gambar 2.2 Logo Kota Blitar

Kota Blitar memiliki semboyan ‘Kridha Hangudi Jaya’ yang artinya gerak yang timbul dari kita masing-masing masyarakatnya untuk berusaha mencari dan mengupayakan segala sesuatu agar berhasil dengan gemilang. Maksud dari semboyan tersebut bila dikupas lebih dalam agar memberikan motivasi dan daya penggerak yang lebih dinamis, aktif, dalam pelaksanaan pembangunan yang menggarah ke masyarakat dengan menggunakan partisipasi masyarakat maupun sumber daya yang ada (blitar.go.id).

B. Aspek Demografi dan Tingkat Kemiskinan 1. Aspek Demografi Negara Indonesia

(8)

penduduk hanya dengan nilai total 900 ribu lebih jiwa. Badan Pusat Statistik juga memprediksi penduduk Indonesia meningkat di 2035 yang mencapai 305 juta jiwa.

Berikut akan disajikan jumlah penduduk Indonesia dan persebarannya di tahun 2017 berdasarkan analisis Badan Pusat Statistik

Gambar 2.3 Jumlah Penduduk Indonesia dan Persebarannya di tahun 2017

(9)

Sedangkan dalam analisis lebih lanjut Badan Pusat Statistik mengkategorikan jumlah penduduk Indonesia merupakan kategori atau tipe ekspansive. Maksud dari tipe ekspansive adalah jumlah penduduk usia muda yang lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia tua. Hal tersebut terlihat pada pola piramida yang melebar di bagian bawah dan mempunyai kecenderungan cembung di bagian tengah yang keduanya merupakan dalam kategori usia muda. Dari jumlah penduduk Indonesia sebesar 261,89 juta jiwa terdapat 131,58 juta jiwa penduduk laki-laki dan sebesar 130,31 juta jiwa penduduk perempuan (Sumber : bps.go.id)

Gambar 2.4 Penduduk Indonesia Menurut Usia dan Jenis Kelamin di Tahun 2017

(Sumber : katadata.go.id)

(10)

memberikan dampak pada kesejahteraan bagi Indonesia ? kita ketahui bahwa banyaknya jumlah penduduk Indonesia di usia produktif tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok yaitu usia sangat produktif rentan 15-49 tahun dan usia produktif 50-64 tahun. Dilihat dari piramida tersebut maka sebenarnya Indonesia merupakan negara yang dapat dikategorikan ke dalam negara yang memiliki bonus demografi. Maksud dari bonus demografi tersebut adalah ketika penduduk usia muda dan produktif jauh lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia tua. Artinya apabila dapat mendayagunakan bonus demografi yang dimiliki tentu Indonesia dapat menjadikannya sebagai kunci dalam memajukan maupun bersaing dengan negara maju yang lain ada di dunia seperti Amerika, Jepang, Singapura, atau bahkan Inggris.

4. Keterkaitan Jumlah Penduduk Indonesia dengan Kesejahteraan Dilihat Dari 10 Provinsi dengan Tingkat Kemiskinan Tertinggi ke Rendah

Gambar 2.5 10 Provinsi dengan Tingkat Kemiskinan Tertinggi per Maret 2017

(Sumber : katadata.go.id)

(11)

kemiskinan. Khususnya provinsi Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur yang menduduki provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi yang merupakan sebuah masalah untuk harus segera mendapatkan jalan berupa solusi terkini dengan memanfaatkan sumber daya manusia khususnya kelompok pemuda usia sangat produktif (15 – 49 tahun). Apabila dianalisis lebih lanjut tingkat persebaran penduduk masih menempatkan pulau Jawa sebagai ketertarikan utama masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi maupun dalam pendidikan. Hal tersebut tercemin pada subbab pembahasan sebelumnya yaitu mengenai tingat kepadatan penduduk di setiap provinsi yang ada di Indonesia yang menempatkan provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah sebagai provinsi yang memiliki tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia.

C. Tantangan dan Solusi SDM Khususnya Pemuda di Kota Blitar 1. Aspek Sumber Daya Manusia dan Potensi yang Dimiliki Kota Blitar

2017

Kelompok Umur Laki-laki (Jiwa) Perempuan (Jiwa) Total (Jiwa)

(12)

(Sumber : blitarkota.bps.go.id)

Apabila pada pembahasan subbab sebelumnya telah menjelaskan tingkat kepadatan penduduk, rasio perbandingan penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin, dan tingkat kemiskinan di Indonesia maka selanjutnya penulis ingin menyajikan mengenai aspek demografi yang ada di kota Blitar. Dilihat dari jumlah penduduk secara total di tahun 2017, kota Blitar mempunyai penduduk sebesar 139.995 jiwa merupakan sebuah potensi dari lingkup lokal dalam memanfaatkan sumber daya manusia yang ada secara optimal. Jumlah penduduk kota Blitar juga sejalan dengan analisis Badan Pusat Statistik yang mengkategorikan Indonesia sebagai bonus demografi. Begitu juga dengan kota Blitar sebagai kota kecil yang juga memiliki bonus demografi. Hal tersebut terlihat pada rentan usia umur 15-49 tahun yang merupakan kategori bonus demografi, artinya jumlah usia produktif dengan kategori sangat produktif mempunyai jumlah lebih besar dibandingkan dengan jumlah usia produktif dari umur 50-64 tahun dan usia bukan produktif yaitu 0-14 tahun.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis secara langsung potensi-potensi yang dimiliki kota Blitar secara bonus demografi merupakan sebuah potensi-potensi yang dapat dimanfaatkan secara optimal tetapi dalam rentan usia 15-49 tahun yang masuk dalam kategori sangat produktif mengalami berbagai tantangan yang besar bagi sumber daya manusia (SDM) yang ada di kota Blitar tersebut. Berikut akan disajikan berbagai tantangan sumber daya manusia (SDM) khususnya pemuda yang ada di kota Blitar di usia produktif rentan 15-49 tahun,

a. Terbatas dan Minimnya Akses Perguruan Tinggi yang Diharapkan

(13)

kota Blitar sehingga setelah lulus dalam dunia Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Menengah Kejuruan siswa-siswi yang berada di kota Blitar akan lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan atau bahkan bekerja di kota tetangga yang dinilai lebih menjanjikan dalan sektor pengembangan pendidikan lebih lanjut maupun untuk bekerja seperti Malang, Kediri, atau Surabaya

b. Keterbatasan pada Sektor Dunia Kerja

Setelah siswa-siswa yang berada di kota Blitar melanjutkan pendidikan di kota tetangga seperti Malang atau Surabaya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan berkualitas di perguruan tinggi maka selanjutnya kelompok usia produktif dengan kategori sangat produktif yaitu di usia 23 tahun (pasca menempuh pendidikan di perguruan tinggi) dihadapkan pada sebuah dilema dalam mendapatkan pekerjaan. Hal tersebut yang terjadi di kota Blitar, menurut pengamatan penulis secara langsung yang didapatkan dari data teman-teman penulis yang sudah menempuh pendidikan di perguruan tinggi ketika kembali ke daerah asal (Kota Blitar) terpaksa tidak melakukan aktivitas produktif dan menjadi pengganguran terbuka. Alasan mendasar menurut pengamatan penulis yang didapatkan lulusan perguruan tinggi tersebut lebih memilih menjadi pengganguran terbuka karena menunggu panggilan atau mendapatkan pekerjaan yang lebh baik.

c. Ketertarikan Pemuda Membangun Kampung Halaman

Secara sadar bahwa seorang individu lebih memilih dan menyukai dunia sektor kerja dan berpenghasilan di perkotaan. Inilah persoalan yang hingga sekarang seolah menjadi susah terpecahkan. Hal ini ditemui juga di kota Blitar, setelah kelompok usia produktif tersebut mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi di perguruan tinggi lebih memilih untuk melanjutkan hidup di perkotaan yang lebih besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota besar lainnya karena dinilai lebih menjanjikan dalam meningkatkan kesejahteraan dibandingkan harus pulang untuk membangun kampung halaman.

d. Sosial dan Budaya Masyarakat

(14)

kesejahteraan yang lebih baik dan akan kembali di usia tua (pensiun) di kampung halaman (Kota Blitar).

Dalam menghadapi berbagai persoalan yang timbul tersebut pemerintah Kota Blitar lantas tidak hanya tinggal diam. Pemerintah Kota Blitar melakukan berbagai upaya agar dapat menyediakan sektor lapangan kerja maupun menyediakan pendidikan yang lebih baik di wilayah kota Blitar. Berikut adalah salah satu langkah dalam menghadapi tantangan sumber daya manusia khususnya kepemudaan di kelompok usia produktif,

a. Mendirikan dan Menyediakan Perguruan Tinggi Negeri di Kota Blitar

Bila sebelumnya siswa-siswa yang berada di kota Blitar setelah lulus SMA lebih memilih melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di kota tetangga seperti Malang dan Surabaya maka dengan menghadirkan perguruan tinggi negeri di kota Blitar yang bernama Putra Sang Fajar dapat menjadikan sebuah solusi untuk dapat meminimalisir perpindahan tenaga berpotensi di kelompok usia produktif dengan kategori sangat produktif dengan tujuan agar dapat menempuh pendidikan dan membangun kota Blitar maupun mengembangkan perekonomian yang ada sehingga dapat berguna meningkatkan kesejahteraan masyarakat kota Blitar pada khususnya.

b. Memberikan Kemudahan dalam Perizinan di Sektor Bisnis

(15)

Bab III Penutup A. Kesimpulan

Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk terbanyak ke-4 (empat) setelah negara China, Amerika, dan India dengan total 261,89 juta jiwa. Dengan tingkat kepadatan tersebut menjadikan Indonesia mempunyai tantangan untuk memajukan dan mampu bersaing dengan kemajuan negara-negara lain di dunia dengan menggunakan sumber daya manusia yang ada tersebut. Badan Pusat Statistik juga merilis bahwa Indonesia dengan tingkat kepadatan penduduknya mengganntarkan Indonesia sebagai negara yang memiliki bonus demografi. Artinya jumlah penduduk Indonesia di usia produktif (usia muda) memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan dengan penduduk di usia tidak produktif (usia tua). Inilah yang dapat dijadikan sebagai tumpuan untuk Indonesia memajukan dalam berbagai bidang melalui penggunaan sumber daya manusia usia produktif. Tetapi dengan hadirnya bonus demografi yang dimiliki, Indonesia menghadapi tantangan yang nyata khususnya di daerah kota kecil atau perdesaan. Begitulah yang terjadi di kota Blitar ketika jumlah penduduk usia produktif meninggalkan daerah asalnya (Kota Blitar) untuk menempuh pendidikan maupun bekerja karena tidak tersedianya akses pendidikan yang lebih baik maupun pekerjaan yang lebih menjanjikan hingga minimnya ketertarikan golongan usia muda untuk membangun kota Blitar menjadi lebih baik.

B. Saran

(16)

Daftar Pustaka Online :

Jumlah Penduduk Negara Indonesia Tahun 2017, (Online), (http://bps.go.id, diakses pada 19 Desember 2017)

Proyeksi Penduduk Kota Blitar Tahun 2010-2020, (Online), (http://blitarkota.bps.go.id, diakdes pada 24 Desember 2017)

Sejarah dan Peta Kota Blitar, (Online), (http://blitar.go.id, diakses pada 24 Desember 2017)

Penduduk Indonesia Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin 2017, (Online), (http://katadata.go.id, diakses pada 24 Desember 2017)

10 Provinsi dengan Tingkat kemiskinan Tertinggi per Maret 2017, (Online), (http://katadata.go.id, diakses pada 24 Desember 2017)

Buku :

Gambar

Gambar 2.1 Peta Kota Blitar
Gambar 2.2 Logo Kota Blitar
Gambar 2.3 Jumlah Penduduk Indonesia dan Persebarannya di tahun 2017
Gambar 2.4 Penduduk Indonesia Menurut Usia dan Jenis Kelamin di Tahun 2017
+2

Referensi

Dokumen terkait

Semangat untuk memajukan kesejahteraan umum sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD NKRI 1945 kiranya dapat dimiliki oleh setiap pejabat publik layaknya mendarah

Setelah adanya amandemen ke IV UUD 1945, (yang selanjutnya akan disebut UUD NRI 1945), terdapat suatu perubahan yang cukup mendasar baik dalam sis- tem ketatanegaraan maupun ke-

Berdasarkan pada tujuan Negara sebagai terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut, Negara Indonesia menjamin dan melindungi hak- hak asasi manusia pada warganya terutama

System ekonomi Indonesia sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 33 sepenuhnya adalah esensi Islam.System ekonomi tidak jatuh dalam system komandi sebagaimana

“ Bila kita tidak mampu melaksanakan amanat UUD 1945 itu dengan sungguh-sungguh dan dengan baik di dalam menyingkapi keinginan merdeka orang Papua maka jalan terbaik

Amanat tentang hak anak nyata tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 (Perubahan II, 18 agustus 2000), Pasal 28B ayat 2 yang berbunyi: “Setiap anak berhak atas kelangsungan

Berdasarkan pada tujuan Negara sebagai terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, Negara Indonesia menjamin dan melindungi hak-hak asasi manusia pada warganya terutama

Hal itu merupakan bukti bahwa amanat Pasal 27 ayat 1 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan