• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anemia ringan dan kpd perdatuan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Anemia ringan dan kpd perdatuan"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Angka kematian ibu dan bayi mencerminkan taraf pelayanan kesehatan. Dari besar kecilnya angka kematian bayi perinatal dapat diperkirakan baik buruknya pelayanan kebidanan di Indonesia. Kemampuan penyelenggaraan pelayanan kesehatan suatu bangsa diukur dengan menentukan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan perinatal dalam 100.000 persalinan hidup. Sedangkan tingkat kesejahteraan bangsa ditentukan dengan seberapa jauh gerakan Keluarga Berencana dapat diterima masyarakat.

Di indonesia masih banyak ibu hamil yang kurang memperhatikan kondisi kesehatannya, salah satu keluhan yang sering ibu rasakan adalah tubuh yang lemas dan pusing. Hal ini dapat di sebabkan karena Anemia. Anemia merupakan kekurangan zat besi yang biasa diderita oleh wanita hamil, pada dasarnya anemia merupakan masalah rasional dan berpengaruh sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia.

Menurut WHO kejadian anemia hamil berkisar antara 20%-89% dengan menetapkan Hb 11 gr% sebagai dasarnya. Angka anemia kehamilan di Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi. How Swie Tjioeng menemukan angka anemia kehamilan 3,8% pada trimester I, 13,6% pada trimester II, dan 24,8% pada trimester III.

Anemia dapat berimbas pada persalinan yang bermasalah seperti terjadinya ketuban pecah dini(KPD). KPD merupakan salah satu penyebab dari infeksi pada bayi maupun ibu, dimana ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. Penyebab dari KPD tidak / masih belum jelas, maka prefentif tidak dapat dilakukan kecuali dalam menekan infeksi.

Dengan terjadinya ketuban pecah dini mengharuskan seorang ibu hamil untuk segera melahirkan anaknya karena selain potensial terjadi infeksi pada bayi maupun ibunya juga mengakibatkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak. Insiden KPD ini kira-kira 12% semua kehamilan. Meskipun sebagai salah satu infeksi, tetapi tidak semua KPD berakibat kearah infeksi, hal ini tergantung dari penanganan yang tepat, disamping oleh kondisi klien sendiri.(Mochtar, Rustam, 2000)

1.2 TUJUAN

(2)

Setelah melaksanakan praktek klinik kebidanan pada ibu bersalin dengan anemia ringan, KPD. Diharapkan mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada ibu inpartu dengan pendekatan manajemen kebidanan.

2. Tujuan Khusus

Dengan disusunnya laporan ini diharapkan mahasiswa dapat : a. Mengumpulkan data sampai dengan analisa data. b. Mengidentifikasi diagnosa dan masalah.

c. Mengidentifikasi masalah potensial. d. Mengidentifikasi kebutuhan segera. e. Merencanakan asuhan kebidanan.

f. Melaksanakan asuhan kebidanan yang telah direncanakan. g. Mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan.

1.3 METODE PENULISAN

Metode penulisan adalah studi kepustakaan dan studi kasus, yaitu mencari gambaran yang jelas pada proses kebidanan yang terjadi pada saat sekaran, teknik pengumpulan data :

1. Wawancara

Pengambilan data dengan Tanya jawab langsung pada klien. 2. Pemriksaan / Observasi

Pengamatan terhadap periaku dan keadaan pasien untuk memperoleh data tentang kesehatan pasien.

3. Studi Dokumentasi

Mempelajari dan melengkapi data dengan jalan melihat catatan / status pasien, catatan perkembangan pasien dan hasilnya.

4. Studi Pustaka

Dari buku-buku penunjang.

1.4 SISTEMATIKA PENULISAN BAB I PENDAHULUAN

(3)

Berisi konsep dasar persalinan, anemia dan KPD serta konsep dasar asuhan kebidanan.

BAB III TINJAUAN KASUS

Berisi Pengkajian, diagnosa dan penatalaksanaan. BAB IV PENUTUP

(4)

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 KONSEP DASAR PERSALINAN 1. Pengertian

 Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan / dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir / melalui jalan lain dengan bantuan / tanpa bantuan (kekuatan sendiri).

(Manuaba, 2001 : 157)

 Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri) yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir / dengan jalan lain.

(Rustam, Mochtar, 2001 : 91)  Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran

bayi yang cukup bulan / hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu.

(Unpad, 1983 : 221)  Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup

dari dalam uterus melalui vagina kedunia luar.

(FK. UI, 2001 : 291)

2. Macam persalinan berdasarkan definisi a. Persalinan spontan

Bila persalinan ini berlangsung dengan kekuatan ibu dan melaui jalan lahir b. Persalinan Buatan

Bila persalinan dibantu dengan tenaga dari luar misalnya ekstaksi dengan forcep atau dilakukan operasi seksio cesarea.

c. Persalinan Anjuran

Kadang – kadang persalinan tidak mulai dengan sendirinya tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban , pemberian pitocin atau prostaglandin.

(Manuaba, 2000 : 107)

3. Etiologi

(5)

a. Teori Penurunan Hormon

1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormone estrogen dan progesterone. Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim dan menyebabkan kekejangan pembuluha darah sehingga timbul his bila kadar progesterone turun.

b. Teori Plasenta menjadi Tua

Akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesterone yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi. c. Teori Distensi Rahim

Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot rahim, sehingga mengganggu sirkulsai utero – plasenter.

d. Teori Iritasi Mekanik

Dibelakang serviks terletak ganglion servikale (fluxus frankenhauser) dimana bila digeser dan ditekan oleh kepala janin, akan timbul kontraksi uterus.

e. Induksi Partus

- Gangguan laminaria : beberapa laminaria dimasukkan ke dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang fluxus frankenhauser.

- Amnioyomi : pemecahan ketuban.

- Oksitosin drips : pemberian oksitosin menurut tetesan infus. - Persalinan dengan tindakan operasi (SC).

(Rustam, Mochtar, 2002 : 92 – 93)

4. Tanda-tanda Persalinan

a. Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, dan teratur. b. Keuar lender berampur darah yang lebih banyak karena robekan kecil-kecil. c. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.

d. Pada pemeriksaan dalam servik mendatar dan pembukaan telah ada. (Rustam, Mochtar, 2002 : 93)

5. Faktor-faktor Penting dalam Persalinan a. Power

- His (kontraksi otot rahim). - Kontraksi otot dinding perut.

(6)

- Ketegangan dan kontraksi ligamentum rotondum. b. Passanger

Janin dan plasenta. c. Passage

Jalan lahir lunak dan jalan lahir tulang. d. Psikis wanita (ibu)

e. Penolong

(Manuaba, 2002 : 160)

6. Kala Persalinan

a. Kala I (Kala pembukaan )

Proses pembukaan servik terdiri dari dua fase, yaitu :

1. Fase laten, berlangsung 8 jam pada multi gravida, 12 jam pada primi gravida, pembukaan sampai 3 cm, his masih lemah dengan frekuensi his masih jarang. 2. Fase aktif

 Fase akselerasi, lamanya 2 jam dengan pembukaan 2-3 cm.

 Fase dilatasi maksimal, lamanya 2 jam dengan pembukaan 4-9 cm.

 Fase deselerasi, lamanya 2 jam, pembukaan > 9 cm sampai pembukaan lengkap, bis tiap 3-4 menit selama 45 detik pada multigravida proses diatas berlangsung lebih cepat.

b. Kala II (Kala Pengeluaran Janin)

Setelah serviks membuka lengkap, his terkoordinir kuat cepat dan lebih lama kira-kira 2-3 menit sekali dengan durasi 50-100 detik. Kepala janin turun masuk ruang panggul menekan otot-otot dasar panggul secara reflek toris menimbulkan rasa mengedan sehingga ibu merasa ingin BAB dengan tanda anus terbuka. Saat his kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan perineum meregang, dengan his mengedan terpimpin akan lahir diikuti seluruh badan bayi, kala II pada primi berlangsung 1½ - 2 jam sedangkan pada multi berlangsung ½ - 1 jam.

(7)

Setelah kala II kontraksi uterus berhenti sekitar 5 – 10 menit, uterus teraba keras. Fundus uteri teraba setinggi pusat, beberapa kemudian timbal his pelepasan dan pengeluaran uri, lepasnya plasenta diperkirakan dengan tanda-tanda :

 Uterus menjadi bundar.

 Tali pusat bertambah panjang.

 Semburan darah secara tiba-tiba.

 Uterus terdorong ke atas, karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim.

Kala III berlangsung 5-30 menit setelah janin lahir. d. Kala IV

Melakukan observasi karena perdarahan post partum paling sering terjadi pada 2 jam pertama observasi yang dilakukan :

 Tingkat kesadaran penderita.

 Pemeriksaan TTV (TD, nadi, suhu, pernafasan).

 Kontraksi, perdarahan.

(Rustam, Mochtar, 2002 : 94 – 97)

2.2 KONSEP DASAR ANEMIA RINGAN 1. PENGERTIA

Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11 gr%. Anemia saat hamil disebut “ potensial danger to mether and child “

(Manuaba, 1998 : 29). Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin kurang dari 11 gr% pada trimester I dan 10,5 gr% pada trimester II

(Saifudin, A. 2001)

2. PENYEBAB

(8)

hari post partum kadar hemoglobin, jumlah eritrosit dan nilai hematokrit menurun selama kehamilan sampai tujuh hari post partum. Dan akan kembali mencapai angka yang kira-kira sama dengan angka kehamilan setelah 40 hari. Namun apabila pengenceran terjadi secara berlebihan hingga kadar Hb ibu 11 gr% pada trimester I dan 10,5 gr% pada trimester II dan III maka hal ini akan berdampak buruk terhadap ibu maupun janin sehingga dapat menimbulkan keluhan seperti badan lemah, lelah kurang energy, sakit kepala, pandangan berkunang-kunang dan kalau anemia sampai berat, dapat berakibat sesak nafas bahkan lemah jantung.

3. GEJALA DAN TANDA ANEMIA

Keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda, pucat dan mudah pingsan.

(Syaifudin, A. 2001)

4. ETIOLOGI

1. Kurang gizi (malnutrisi) 2. kurang zat besi dalam diet 3. Mal absorbsi

4. Penyakit kronik misalnya TBC 5. Cacing usus

6. Malaria

7. Kehilangan banyak darah

(Muchtar, R. 2001)

5. KLASIFIKASI ANEMIA

a. Klasifikasi menurut WHO kadar Hb untuk ibu hamil dapat digolongkan sebagai berikut :

1. Hb >11 gr% = normal

2. Hb 9-10 gr% = anemia ringan 3. Hb 7-8 gr% = anemia sedang 4. Hb <7 gr% = anemia berat b. Berdasarkan penyebab anemia

1. Anemia defisiensi besi

Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik dan merupakan penyebab anemia pada umumnya.

(9)

Anemia megaloblastik biasanya berbentuk mikrositik atau penisilisa. Penyebabnya adalah karena kekurangan vit B12 biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik.

3. Anemia hipoplastik

Disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang dalam membentuk sel-sel darah merah baru. Penyebabnya belum diketahui, kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat (sepsis) keracunan dan sinar rontgen atau sinar radiasi.

4. Anemia hemolitik

Disebabkan oleh penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Hal ini disebabkan oleh :

a. Intrakospuler

Dijumpai pada anemia hemolitik herediter, talasemia, anemia sel sickle (sabit), hemoglobinopati, C, D, G, H, I dan paraksimal noktural hemoglubinuria.

b. Ekstrakospuler

Disebabkan malaria, sepsis, keracunan zat logam , dan dapat beserta obat-obatan, leukemia, penyebab hodkin dan lain-lain.

6. FAKTOR TERJADINYA ANEMIA

Factor yang mempengaruhi pembentukan darah adalah sebagai berikut : a. Komponen (bahan) yang berasal dari makanan terdiri dari :

 Protein, glukosa, dan lemak

 Vitamin B12, B6, asam folat dan vit C  Elemen dasar, Fe, non Cu dan zink

b. Sumber pembentukan darah

 Sumsum tulang

c. Kemampuan reabsorbsi usus halus

d. Umur sel darah merah (eritrosit) terbatas sekitar 120 hari, sel-sel yang sudah tua dihancurkan dan menjadi bahan baku untuk membentuk sel darah merah baru

e. Terjadinya perdarahan kronik (menahun)

7. PENGARUH ANEMIA PADA IBU DAN JANIN a. Bahaya selama kehamilan

 Dapat terjadi abortus  Persalinan prematuritas

(10)

 Ancaman dekompensasi kordis  Mola hidatidosa

 Hiperemis gravidarum  Perdarahan antepartum  Ketuban pecah dini (KPD) b. Bahaya saat persalinan

 Gangguan his, kekuatan mengejan

 Kala pertama dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar

 Kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan

 Kala uri dapat diikuti retensio plasenta dan perdarahan post partum karena atonia uteri

 Kala empat dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri c. Pada kala nifas

 Terjadi sub involusio uteri menimbulkan perdarahan post partum  Memudahkan infeksi post partum

 Pengeluaran ASI berkurang

 Terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan  Anemia kala nifas

 Mudah terjadi infeksi mamae

8. PENANGANAN 1. Secara umum

a. Pantau kadar Hb minimal 2x selama kehamilan yaitu pada saat trimester I dan II

b. Beri Sulfat ferosus 60 mg per oral ditambah asam folat 50 mg per oral sekali sehari (program nasional)

 Parental : interferon, jectofer dan farnigen, dan hasilnya lebih cepat 2. Anemia megaloblastik

 Asam volik 15 – 30 mg per hari  Vitamin B12 3x1 tablet per hari

 Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban dapat diberikan transfusi darah

3. Anemia hipoplastik dengan transfusi darah

(11)

Ada 2 faktor yang mempengaruhi penyerapan zat besi yaitu ketersediaan atau cadangan zat besi dalam tubuh dan adanya factor penghambat penyerapan zat besi (wirakusumah, 1999). Factor penghambat penyerapan zat besi dapat disebabkan oleh makanan antara lain teh, kopi susu, sari kedele, bahan dari kacang-kacangan dan obat-obatan seperti antasida. Zat besi yang terdapat dalam makanan akan mempengaruhi penyerapan zat besi oleh tubuh.

2.3 KONSEP DASAR KPD 1. Pengertian

a. Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban secara spontan 1 jam atau lebih sebelum terjadinya persalinan.

(Hamilton) b. Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda

persalinan dan ditunggu 1 jam belum dimulainya tanda persalinan.

(Manuaba, 2002) c. Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air-air vagina setelah kehamilan 22 minggu ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum persalinan berlangsung. Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm, sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm.

(Saifudin, 2002 : M-112) d. Ketuban pecah dini atau spontaneous / early / premature rupture of membrane (prom) adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu bila pembukaan pada primi kurang dati 3 cm dan multi para kurang dari 5 cm.

(Rustam, Mochtar, 2002)

2. Etiologi

Ketuban pecah dini disebabkan oleh kurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Penyebabnya juga disebabkan karena inkompetensi servik. Polihidramnion / hidramnion, mal presentasi janin (seperti letak lintang) dan juga infeksi vagina / serviks.

(12)

3. Patofisiologi

Faktor-faktor yang memudahkan pecahnya selaput ketuban antara lain : 1. Korio amnionitis, menyebabkan selaput ketuban jadi rapuh.

2. Inkompetensi servik yakni kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada servik uteri.

3. Kelainan otak sehingga tidak ada bagian terendah anak yang menutup PAP, yang dapat mengurangi tekanan terhadap membrane bagian bawah.

4. Trauma yang menyebabkan tekanan intra uterin mendadak meningkat.

(Unair, 2002)

4. Diagnosis / Penilaian Klinik

a. Tentukan pecahnya selaput ketuban dengan pemeriksaan inspekculo, adalah cairan keluar melalui osteum uteri / terkumpul di forniks posterior.

b. Tentukan usia kehamilan, jika perlu dengan USG. c. Tentukan ada tidaknya infeksi :

 Suhu 38oC / lebih.

 Air ketuban keruh dan bau.

 Leukosit darah > 15000/m3

 Janin mengalami takikardi karena mengalami infeksi intra uterin.

d. Tentukan tanda-tanda inpartu yaitu adanya kontraksi yang teratur. e. Bau cairan ketuban yang khas.

f. Tes lakmus, jika kertas lakmus berubah menjadi biru, menunjukkan adanya cairan ketuban.

g. Tes pakis yaitu meneteskan cairan ketuban pada obyek glas dan biarkan kering pada pemeriksaan mikroskop menunjukkan krisal cairan amnion dan menunjukkan gambaran pakis.

h. Jika keluar cairan ketuban sedikit-sedikit tampung cairan yang keluar dan nilai 1 jam kemudian.

i. Tentukan pecahnya selaput ketuban, ditentukan dengan adanya cairan ketuban di vagina, jika tidak ada dapat dicoba dengan gerakan sedikit bagian terbawah janin / meminta pasien batuk / mengejan.

(13)

5. Tanda dan Gejala

a. Ketuban pecah tiba-tiba. b. Cairan tampak di introitus. c. Tidak ada his dalam 1 jam.

(Saifudin, 2002 : M : 113)

6. Komplikasi a. Pada Bayi - IUFD - Asfiksia - Prematuritas b. Pada Ibu

- Partus lama dan infeksi intrauterin - Atonia uteri

- Infeksi nifas

- Perdarahan post partum

7. Penanganan

a. Rawat di rumah sakit

b. Jangan melakukan pemeriksaan dalam dengan jari, karena tidak membantu diagnosis dan dapat mengundang infeksi.

c. Jika ada perdarahan pervaginam dengan nyeri perut kemungkinan solusi plasenta.

d. Jika ada tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau) berikan antibiotik yaitu ampicilin 2 mg IV setiap 6 jam ditambah gentamicin 5 mg/kg BB setiap 24 jam. Jika persalinan pervaginam hentikan antibiotic pasca persalinan.

e. Jika tidak ada infeksi dan kehamilan < 37 minggu.

- Berikan antibiotik untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin yaitu ampicilin 4 x 500 selama 7 hari ditambah eritromisin 250 mg peroral 3x perhari selama 7 hari.

(14)

- Betametason 12 mg IM dalam 2 dosis setiap 12 jam atau dexametason 6 mg IM dalam 4 dosis setiap 6 jam.

Catatan : jangan berikan kortikosteroid jika ada infeksi.

 Lakukan persalinan pada kehamilan 37 minggu.

 Jika terdapat hisa dan darah dan lendir, kemungkinan terjadi persalinan preterm.

(Saifudin, 2002 : M-114)

f. Jika tidak ada infeksi dan usia kehamilan > 37 minggu.

Jika ketuban telah pecah > 18 jam, berikan antibiotika profilaksis 2 gr IV setiap 6 jam / penicillin G 2 juta unit IV setiap 6 jam sampai persalinan.

Nilai serviks, jika serviks sudah matang, lakukan induksi persalinan dengan oksitosin. Jika serviks belum matang, matangkan serviks dengan prostaglandin dan infuse oksitosin / lahirkan dengan SC.

8. Penatalaksanaan

a. Bila anak belum viable (kurang dari 36 minggu) penderita dianjurkan untuk beristirahat di tempat tidur dan obat antibiotik, profilaksis, spasmolitik dan roboransia dengan tujuan untuk mengundur waktu sampai anak viable.

b. Bila anak sudah viable (lebih dari 36 minggu) lakukan induksi partus 6-12 jam setelah long phase dan berikan antibiotic profilaksis, pada kasus-kasus tertentu dimana induksi partus dengan drip oksitosin gagal maka lakukan tindakan operatif, jika pada prom penyelesaian persalinan bisa :

 Partus spontan

 Ekstraksi vacuum

 Ekstraksi forcep

 Embriotomi bila anak sudah meninggal.

 SC bila ada indikasi obstetric.

2.4 KONSEP DASAR ASUHAN KEBIDANAN SOAP

(15)

kesehatan ibu dan anak yang khusus dilakukan bidan di dalam memberikan asuhan kebidanan kepada individu, keluarga dan masyarakat.

(Depkes RI, 2002 : 3 )

Adapun Penerapan manajemen dalam bentuk kegiatan praktek kebidanan dilakukan melalui suatu proses disebut langkah – langkah proses manajemen kebidanan

Langkah – langkah manajemen kebidanan adalah sebagai berikut : 1. Pengkajian data Subjektif

2. Pengkajian data Objektif 3. Analisa data

4. Penatalaksanaan

Pengkajian

Didalam langkah pertama ini bidan dibenarkan menduga – duga masalah yang terdapat pada pasien atau kliennya. Bidan harus mencari dan menggali data atau fakta baik dari pasien / klien, keluarga maupun anggota tim kesehatan lainnya dan juga hasil pemeriksaan yang dilakukan bidan sendiri.

A. DATA SUBJEKTIF Biodata

- Nama

Nama yang jelas dan lengkap bila diperlukan tanyakan nama panggilan sehari – hari.

(Depkes RI, 2002 : 13 )

Nama penderita dan suaminya ditanyakan untuk dapat mengenal atau memanggil penderita dan tidak keliru dengan penderita yang lain.

( Ibrahim Cristina, 2001 : 83 ) Nama untuk memudahkan pengenalan dicatat nama lengkap dibeberapa negara nama tertentu dipergunakan dan dapat menimbulkan kebingungan.

(16)

( Sulaiman Sastra : 155 ) - Umur

Menentukan resiko kehamilan bila usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun

(Depkes RI, 2000 : 30 ) Umur penting ditanyakan karena ikut prognosa kehamilan, kalau umur terlalu lanjut atau terlalu tua maka kehamilan lebih banyak resikonya.

( Bagian Obstetri & Ginekologi, FK UNPAD 2000 : 84 ) Untuk mengetahui keadaan ibu terutama pada kehamilan yang pertama atau primi para. Apakah ibu termasuk primi para biasa atau primi para tua. Menurut para ahli, kehamilan yang pertama kali yang baik itu antara umur 19 – 25 tahun, dimana otot masih bersifat elastis, mudah direnggang. Primi tua dikatakan mulai umur 35 tanun dimana otot sudah karu, kurang elastis dan sudah direnggang. Terapi menurut pengalaman umur 25 – 35 tahun masih mudah melahirkan. Sehingga ada yana mengubah pendapat diatas. Jadi melahirkan tidak saja usia 19 – 25 tahun tetapi 19 – 35 tahin primi tua mulai 35 tahun.

( Christina Ibrahim, 2000 : 84 ) Untuk menentukan prognosa kehamilan kalau umur terlalu lanjut / terlalu muda, maka persalinan lebih banyak resikonya.

( Sulaiman : 54 ) - Agama

Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan pasien / klien. Dengan diketahuinya agama pasien / klien akan memudahkan bidan melakukan pendekatan didalam melaksanakan asuhan kebidanan.

( Depkes RI, Pusdiknakes 2000 : 14 )

(17)

perawatan dapat diketahui dengan siapa harus berhubungan, misalnya agama khatolik Roma memanggil pastor dan sebagainya.

( Christina Ibrahim, 2001 : 84 ) - Pendidikan

Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.

( Depkes RI, Pusdiknakes 2001 : 14 )

Makin rendah pendidikan ibu, kematian bayi makin tinggi sehingga ibu perlu diberi penyuluhan.

(Depkes RI, 2000 : 30 ) - Pekerjaan

Pekerjaan ibu yang berat baik fisik maupun tekanan mental membahayakan kehamilan. (Depkes RI, 2000 : 30 ) Wanita hamil boleh bekerja, tetapi jangan terlalu berat, lakukanlah istirahat sebanyak mungkin. Menurut undang – undangan perburuan, wanita berhak cuti hamil satu setangah bulan sebelum bersalin dan satu setengah bulan setelah bersalin.

( Saswono Prawiro Hardjo, 2002 : 162 ) Ditanyakan untuk mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonomi penderita / klien agar nasehat kita sesuai, kecuali itu untuk mengetahuio apakah pekerjaan itu akan mengganggu kehamilan atau tidak.

( Christina Ibrahim, 2001 : 84 ) Wanita karier yang hamil mendapat cuti hamil selama tiga bulan, yang dapat diambil sebelum menjelang kelahiran dan dua bulan setelah persalina. Selama hasil perhatikan hal – hal yang dapat membahayakan kelamgsungan hamil dan segera memeriksa diri.

( Ida bagus Gede Manuaba, 2001 : 193 ) - Suku Bangsa

(18)

wanita barat panggulnya ukuran melintang lebih panjang tetapi ukuran belakang lebih kecil.

( Christina Ibrahim, 2000 : 84 – 85 ) - Alamat

Untuk maksud mempermudah hubungan bila diperlukan, bila keadaan mendesak bidan dapat mengetahui tempat tinggal klien dalam lingkungan.

( Depkes RI, Pusdiknakes 2000 : 14 ) Untuk mengetahui ibu tinggal dimana, menjaga kemungkinan bila ada ibu yang namanya bersamaan, selain itu alamat juga diperlukan bila mengadakan kunjungan.

( Christina Ibrahim, 2000 : 84 ) Tulis nama lengkap dengan tanda – tanda penting yang sudah dikenali, dan nomor rumah (jika ada) untuk merangsang kunjungan rumah, surat menyurat / pesan. Jika ada perubahan alamat. Alamat baru sangat penting dicatat.

( Kartini Agnes : 65 ) 1. Keluhan Utama

Untuk mengetahui hal yang mendorong klien datang ke bidan.

( Depkes RI, Pusdiknakes 2000 : 14 )

Apakah klien datang untuk pemeriksaan kehamilan atau ada pengaduan lain yang penting.

( FK UNPAD Bandung, 2000 : 154 )

Keluhan – keluhan utama yang sering didapatkan pada wanita hamil yang mengalami KPD, yaitu :

1. Keluar cairan ketuban 2. Ketuban pecah tiba – tiba

3. Cairan tampak di introitus, tidak ada his dalam 1 jam

(19)

2. Mual 3. Lemas 4. Mudah letih.

Keluhan yang sering dialami pada ibu yang hamil pada trimester 3 : - Nyeri pinggang

Sebagian besar disebabkan karena perubahan sikap badan pada kehamilan yang lanjut karena titik berat badan pindah ke depan.

( Depkes RI, 2000 : 20 ) - Obsitipasi

Akibat progesteron dan usus yang terdesak, dapat diberikan pencahar ringan. Nasehat tentang makanan berserat, buah, sayuran dan ekstra cairan.

( Hellen Ferrer 2002 : 70 ) Tingkat progesteron yang meningkat menyebabkan melempemnya usus, kemampuan gerak otot menurun akibat relaksasi otot rata / halus penyerapan air dalam kolon meningkat. Tekanan uterus yang membesar atas usus.

( Pusdiknakes 2000 : 7 -10 ) 2. Riwayat Penyakit.

Meliputi penyakit yang pernah dialami, penyakit yang sedang dialami,penyakit yang sedang atau pernah dilakukan. Hal ini penting diketahui untuk melihat kemungkinan adanya penyakit – penyakit yang menyertai dan yang dapat mempengaruhi kehamilannya, sehubungan dengan keadaan ibu yang lemah pada waktu kehamilan dan setelah melahirkan.

( Ida bagus Gede Manuaba, 2000 – 272 ) Selama kehamilan semua pasien jantung harus diobservasi teliti untuk mengurangi mencegah, atau menghilangkan setiap penambahan beban jantung. Misalnya infeksi, aktivitas yang berlebihan, aritmia, hipervolemia dan obesitas.

( Ben Zion Taber, 2001 : 116 ) - Penyakit jantung

(20)

( Ida bagus Gede Manuaba, 2002 – 272 ) - Diabetes Melitus

Dalam kehamilan sering memberikan pengaruh yang kurang menguntungkan, sebab : a.) Pengaruh kehamilan, persalinan dan nifas terhadap penyakit gula :

- Menimbulkan gejala pada kehamilan, persalinan dan kala nifas - DM makin kuat.

- Saat persalinan, karena memerlukan tenaga yang besar, dapat terjadi koma di aberikan.

b.) Pengaruh penyakit gula terhadap janin.

- Dapat terjadi keguguran, persalinan prematuritas, IUFD dan lahir mati. - Bayi dengan dismaturitas.

- Bayi dengan cacat bawaan.

- Bayi yang potensial mengalami kelainan syaraf dan jiwa. - Bayi potensi mengidap penyakit gula.

( Ida bagus Gede Manuaba, 2001 – 281 ) - Anemia

Anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan maupun nifas. Dan masa selanjutnya berbagai penyakit dapat timbul akibat anemia seperti :

Abortus, partus promaturus, partus lama karena inertia uteri, pendarahan post partum karena atonia uteri.

( Saswono Prawiro Hardjo, 2011 : 450 ) - Tuberculosis paru

Penyakit yang tenang tidak membahayakan kelangsungan kehamilan sampai aterm dan persalinan. Penyakit yang aktif memerlukan pengobatan yang tepat dan pengawasan yang lebih efektif sehingga dapat mengurangi bahaya terhadap kehamilan dan bayi saat menyusui.

( Ida bagus Gede Manuaba, 2002 – 274 ) a.) Riwayat Penyakit lalu

(21)

( Christina S Ibrahim, 2000 : 841 ) b.) Riwayat Penyakit Keluarga

Apakah dari keluarga ibu atau orang yang tinggal bersama dengan ibu hamil ada yang sakit, terutama penyakit menular yang kronis. Ditanyakan pula mungkin dari keluraga ibu atau suaminya ada yang berpenyakit keturunan.

( Christina S Ibrahim, 2002 : 86 )

3. Riwayat Meanstruasi

Anamnese haid memberikan kesan kepada kita tentang faal alat kandungan. Haid teratur, teratur tidaknya haid dan siklus dipergunakan untuk memperhitungkan tunggal persalinan.

( FK UNPAD 2005 : 54 ) HPHT dapat dijabarkan untuk memperhitungkan tanggal tafsiran persalinan.

Bila siklus haid ± 28, rumus yang dipakai adalah rumus neagel yaitu +7, bulan -3, tahun +1.

( Saswono Prawiro Hardjo, 2007 : 155 ) Menarche adalah terjadinya haid yang pertama kalinya. Menarche terjadi pada usia pubertas yaitu sekiyar 12 – 16 tahun.

( Rustam Mochtar 2000 ) Untuk siklus haid 35 hari, perkiraan partus adalah hari +14 bulan -3 dari tahun +1.

( Sulaiman Sastrawindia, 2000: 127 )

4. Riwayat Perkawinan

Untuk mengethui kemungkinan pengaruh status perkawinan terhadap masalh kesehatan. Bila perlu ditanyakan kawin / tidak, lamanya kawin dan kawin berapa kali.

( Depkes RI, 2000 : 55 ) ditanyakan pada ibu berapa lama dan berpa kali kawin. Ini untuk menentukan bagaimana alat kelamin dalam ibu.

( Christina S Ibrahim, 2000 : 55 ) 5. Riwayat kehamilan sekarang

(22)

Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sed..ikit 4x selama kehamilan, yaitu : - Satu kali pada triwulan pertama

- Satu kali pada triwulan kedua - Dua kali pada triwulan ketiga

Pelayanan atau asuhan standar minimal termasuk 14T 1) Timbang berat badan dan ukur tinggi badan (T1)

Ukur berat badan dalam kilo gram tiap kali kunjungan. Kenaikan berat badan normal pada waktu hamil 0,5 kg per minggu mulai trimester kedua.

2) Ukur tekanan darah (T2)

Tekanan darah yang normal 110/80 – 140/90 mmHg, bila melebihi dari 140/90 mmHg perlu diwaspadai adanya preeklamsi.

3) Ukur tinggi fundus uteri (T3)

4) Pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan (T4) 5) Pemberian imunisasi TT (T5)

6) Pemeriksaan Hb (T6) 7) Pemeriksaan VDRL (T7)

8) Pemeriksaan protein urine atas indikasi (T8) 9) Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi (T9)

10) Perawatan payudara, senam payudara dan pijat tekan payudara (T10) 11) Pemeliharaan tingkat kebugaran / senam ibu hamil (T11)

12) Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria (T12) 13) Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok (T13) 14) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan / konseling (T14)

Dimulai dengan pemberian satu tablet perhari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang. Tiap tablet mengandung FeSO3 20 mg ( zat besi 60 mg dan asam folat 500 mg ) minimal masing – masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak diminum dengan teh atau kopi karena dapat mengganggu penyerapannya.

Imunisasi TT Antige n

Interval

( selang waktu minimal )

Lama

( Hanifa Winjosastro, 2002 :90 – 91 )

(23)

Untuk mengetahui apakah persalinan yang lalu berjalan lancar, biasa dan tidak pernah mengganggu keadaan umum ibu dan ibu pernah mengalami kelainan waktu persalinan

( Christina S Ibrahim, 2000 : 85 ) Untuk mengetahui riwayat kehamilan – kehamilan sebelumnya, meliputi :

 Apakah kehamilan terakhir dengan keguguran atau persalinan  Apakah persalinannya normal / disesuaikan dengan tindakan  Bagaimana nasib keadaan anaknya

( Saswono Prawiro Hardjo, 2008 : 133 ) 7. Riwayat KB

Perlu ditanyakan kepda ibu yang mengikuti / pernah mengikuti KB sbb : - Jenis kontrasepsi yang digunakan

- Efek samping

- Alasan pemberhentian kontrasepsi - Lamanya menggunakan kontrasepsi

( Depkes RI, 2000 : 16 ) Jenis – jenis atau metode keluarga berencana yang bisa digunakan oleh ibu post partum dan puerpenium

- Suntikan KB - Non plant / implant - AKDR

- Pil KB hanya progesteron - Kontap

- Metode sederhana

( Ida bagus Gede Manuaba, 1998 – 34 ) 8. Riawayat psikososial

Riwayat ibu hamil dan keluarganya terhadap perubahan psikologis ibu hamil dapat berbeda – beda. Seorang bidan sebagai tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan KB / KIA harus mengenal dan mengetahui pandangan keluarga terhadap kehamilan. Hal yang memerlukan perhatian khusus pada setiap tahap sehingga dapat memberikan informasi dan konseling serta membantu pasangan untuk mengidentifikasi kebutuhan mereka, mengungkapkan perasaan dan perhatiannya, mencari jalan untuk mengatasinya.

(24)

9. Pola aktifitas sehari – hari a. Nutrisi

Hal ini penting dalam pengawasan ibu hamil. Karena kekurangan atau kelebihan nutrisi dapat menyebabkan kelainan yang tidak diinginkan pada wanita hamil tersebut. Kebutuhan beberapa zat yang penting bagi wanita yang tidak hamil dan wanita hamil.

N

3 Vitamin A (RE)b 800 200

4 Vitamin D (Mg)c 7,5 5

5 Vitamin E (Mg)d 10 2

6 Asam Karbonat 60 20

7 Folacin 0,4 0,4

16 Besi 18 Suplemen 90

17 Magnesium 300 150

18 Zink 15 5

( Obstetri William, 2000 : 302 ) ditanyakan sering buan air besarnya.

( Sarwono Prawiro Hardjo, 2002 : 136-137 ) c. personal higiene

(25)

( Sarwono Prawiro Hardjo, 2000 : 160 ) d. Aktifitas

Kegunaannya yaitu sirkulasi darah menjadi lebih baik, nafsu makan bertambah, pencernaan lebih baik dan tidur lebih nyenyak. Gerak badan yang melelahkan dilarang. Dianjurakan berjalan – jalan dipagi hari dalam udara yang masih segar.

( Rustam Muchtar , 1998 : 61 ) e. Istirahat

Jadwal istirahat dan tidur perlu diperhatikan dengan baik karena istirahat dan tidur yang teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk kepentingan pertumbuhan dan perkembangan janin.

( Ida bagus Gede Manuaba, 1998 : 140 ) f. seksualitas

Membatasi hubungan seksualitas untuk mencegah abortus dan partus prematurus adalah kebiasaan yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu dianjurkan memakai kondom agar semen ( mengandung prostalglandin ) tidak merangsang kontraksi uterus.

( Adul Bari Safiudin, 2001 : 98 )

B. DATA OBJEKTIF

1. Keadaan umum : baik, kesadaran : composmentis

Untuk mengetahui bagaiman keadaan umum ibu. Bila keadaan umumnya baik agar dipertahankan jangan sampai daya tahan tubuh menurun karena adanya kehamilan. Untuk mengetahui adanya kelainan yang mempengaruhi kehamilan. Bila ada kelainan lekas diobati dan disembuhkan agar tidak mempengaruhi kehamilan dan perkembangan janin.

( Christina S Ibrahim, 1993 : 90 ) 2. Tanda – tanda vital

- Tekanan darah

Tekana darah harus selalu diukur setiap kali pemeriksaan kehamilan. Adanya kenaikan sistolik melebihi 30 mmHg dan kenaikan diastolik 15 mmHg atau tekanan darah melebihi 140/90 mmHg harus diwaspadai karena keadaan itu gejala pre-eklampsi

(26)

Nadi yang normal adalah sekitar 80x/menit. Bila nadi lebih dari 100x/menit maka hal ini menunjukkan adanya kelainan.

( Depkes RI Pusdiknakes, 1994 : 11 ) - Pernapasan

Pernapasan noraml 16 – 24x/menit. Bila pernapasan lebih dari 24x/menit maka hal ini menunjukkan adanya kelainan.

(Robert Prihardjo, 1996 : 76 )

- Suhu Tubuh

Pertanda sehat : suhu tubuh 36,5 º C - 37º C atau 98,6º F

Pertanda buruk : suhu tubuh diatas 37º C atau 98,6º F. menandakan demam tubuh ibu merasa demam ( panas )

( Depkes RI Pusdiknakes, 2000 : 67 )

3. Antropometri - Tinggi badan

Tinggi badan kurang dari 145 cm tergolong resiko tinggi

( Depkes RI Pusdiknakes, 1993 : 66 )

- Berat Badan

penambahan berat badan sekitar 6,5 – 15 kg selam hamil. Kenaikan badan tidak boleh lebih dari 0,5 kg / mgg

( Ida bagus Gede Manuaba, 1998 : 136 ) - Lingkar lengan atas

lila kurang dari 23,5 cm merupakan indikator kuat bagi ibu yang kurang / buruk, sehingga ia berisiko melahirkan BBLR. Dengan demikian bila hal ini diketemukan sejak awal kehamilan petugas dapat memotivasi ibu agar lebih memperhatikan kesehatannya serta jumlah dan kualitas makannya.

( Depkes RI Pusdiknakes, 1994 : 10 )

(27)

Tujuan dari pemeriksaan pandang ( inspeksi ) adalah untuk melihat keadaan umum penderita, melihat gejala – gejala kehamilan dan melihat mungkin adanya kelainan.

( Christina S Ibrahim, 1993 : 117 )

 Rambut : bersih, pertumbuhan rambut merata, warna hitam, tidak rontok, tidak ada kelainan

 Kepala : simetris

 Wajah : tidak pucat, tidak ada cloasma gravidarum, tidak oedema, tidak cianocis

 Mata : conjungtiva tidak anemis, tidak icterus, simetris

( Christina S Ibrahim, 1993 : 117 )  Hidung : normal, tidak ada polip, bersih, tidak ada kelainan bentuk / deviasi

 Mulut : tidak sianosis, tidak pucat, tidak stomatitis

( Christina S Ibrahim, 1993 : 117 )

 Gigi : tidak ada caries, tidak keropos yang emnandakan ibu kekurangan kalsium, tidak ada kerusakan gigi yang menjadi infeksi

( Ida bagus Gede Manuaba, 1998 : 140 )  Telinga : simetris, bersih, tidak ada serumen, tidak OMP

( Ida bagus Gede Manuaba, 1998 : 140 )

 Leher : normal, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, daerah leher akan menjadi lebih hitam akibat deposit pigmen yang berlebihan.

( Sarwono Prawiro Hardjo, 1999 : 526 )

 Dada :

- Paru – paru ; auskultasi respirasi normal, tidak ada wheezing, tidak ada ronchi.

( Robert Prihardjo, 1996 : 15 ) - Jantung : irama normal, tidak terdengar dysaritmia

( Ida bagus Gede Manuaba, 1998 : 272 ) - Payudara : hiperpigmentasi pada areola dan papila mamae, simetris, putting susu menonjol

( FK UNPAD Bandung. 1993 : 160 ) - Palpasi

Memeriksa klien dengan meraba

(28)

( Christina S Ibrahim, 1993 : 117 )  Axila : tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada benjolan

( Christina S Ibrahim, 1993 : 117 )

 Perut : untuk menetukan besarnya rahim, tuanya kehamilan, letak anak dalam rahim, bagian – bagian anak dalam rahim, sampai dimana bagian terendah janin masuk dalam panggul. Ada / tidak keseimbangan antara ukuran kepala janin dan panggul, janin tunggal / kembar.

( Depkes RI Pusdiknakes, 1993 : 71 )

o Leopold I

Tujuan untuk menentukan tuanya kehamilan (TFU) dan bagian apa yang terdapat dalam fundus uteri

( FK UNPAD Bandung. 1993 : 165 ) Menurut spiegelberg, dengan jalan mengukur tinggi fundus uteri dari simpisis, maka diperoleh :

22 – 28 mgg : 24 – 25 cm di atas simpisis 28 mgg : 26,2 cm di atas simpisis

30 mgg : 29,5 – 30 cm di atas simpisis 32 mgg : 29,5 – 30 cm di atas simpisis 34 mgg : 31cm di atas simpisis

36 mgg : 32 cm di atas simpisis 38 mgg : 33 cm di atas simpisis 40 mgg : 37,7 cm di atas simpisis

( Rustam Muhtar, 1998 : 53 )

Sebelum bulan ke – III fundus uteri belum teraba dari luar - Pada kehamilan 28 minggu, tinggi fundus uteri 3 jari atas pusat

- Pada kehamilan 32 minggu, tinggi fundus uteri pertengahan antara pusat dan prosesus xifoideus

- Pada kehamilan 36 minggu, tinggi fundus uteri sekitar 1 jari di bawh prosesus xifoideus dalam hal ini kepala bayi belum masuk pap

- Pada kehamilan 40 minggu, tinggi fundus uteri turun sekitar 3 jari bawah prosesus xifoideus

(29)

o Leopold II

Tujuan untuk menentukan dimana letaknya punggung anak dan dimana letak bagian – bagian kecil anak

o Leopold III

Untuk menentukan apa yang terdapat di bagian bawah dan apakah bagian ini sudah masuk / belum terpegang oleh PAP

o Leopold IV

Tujuan untuk menentukan seberapa jauh bagian terendah masuk PAP

( FK UNPAD Bandung. 2004 : 165 )

5. Pemeriksaan panggul Panggul luar

- Distansia spinarum : normal 23 -26 cm - Distansia cristarum : normal 26-29cm - Distansia tuberum : normal 10,5-11 cm - Distansia eksterna : normal 18-20 cm - Lingkar Panggul : normal 80 cm

( Depkes RI Pusdiknakes, 1993 : 31 ) Panggul dalam

- Conjugata vera : conjugata diagonalis – 1,5 cm - Conjugata diagonalis

o Dengan 2 jari ialah jari telunjuk dan jari tengah, melalui konkavitas dari sacrum, jari tengah digerakkan ke atas sampai dapat meraba promontorium

o Sisi radial dari jari telunjuk ditempelkan pada pinggir bawah simpisis dan tempat ini ditandai dengan kuku jari telunjuk tangan kiri

( FK UNPAD Bandung. 1993 : 31 )

6. Pemeriksaan dalam

Keadaan Serviks : Lunak (keadaan serviks)

Pembukaan :

(30)

Presentasi : Kepala

Denominator : UUK

Hodge : I

7. Pemeriksaan penunjang - HB

pemeriksaan HB yang dilakukan pada ibu hamil untuk mendeteksi faktor resiko kehamilan. Bila kadar HB kurang dari 10gr% berarti ibu dalam keadaan anemia, terlebih lagi jika kadar Hb tersebut kurang dari 8gr% berarti ibu anemia berat

( Depkes RI Pusdiknakes, 2000 : 81 ) - Urine

Pemeriksaan urine dilakukan pada tiap penderita yang datang untuk periksa penderita baru, pemeriksaan ulang, dan penderita yang akan bersalin. Tujuannya untuk mengetahui kemungkinan adanya kelainan pada urine dan untuk menetukan diagnosa.

( Christina S Ibrahim, 1993 : 100 )

o Pemeriksaan albumin

Tujuannya untuk mengetahui ada atau tidaknya albumin dalam air kemih dan untuk mengetahui berapa tinggi albumin dalam urine

( Christina S Ibrahim, 1993 : 100 ) Negatif : tetap jernih

Positif (+) : terlihat kekruhan minimal 0.01 – 0,05 gr%

Positif (++) : kekeruhan nyata dengan butir – butir halus 0,05 – 0,2gr% Positif (+++) : terlihat gumpalan –gumpalan nyata 0,2 – 0,5gr%

Positif (++++) : gumpalan – gumpalan nyata > 0,5gr%

o Pemeriksaan glokosa

Untuk mngetahui apakah air kemih itu mengandung glukosa / tidak

( Christina S Ibrahim, 1993 : 104 ) Negatif : tetap biru / hijau jernih

Positif (+) : keruh warna hijau agak kuning

(31)

o Pemeriksaan laksmus : jika kertas laksmus merah berubah menjadi biru berarti air ketuban sudah merembes

C. ANALISA

Ny X, G .... P .... A ...., umur kehamilan .... minggu, janin tunggal/ kembar, hidup/ mati, intrauterin/ ekstrauterin, letak memanjang/ melintang, punggung kanan/ kiri, presentasi kepala/ bokong, UUK, inpartu kala ... fase ... dengan anemia ringan dan ketuban pecah dini.

D. PENATALAKSANAAN

1. Melakukan perawatan di rumah sakit.

2. Memantau TTV sertiap satu jam sekali. (varney, 2009) 3. Mengukur suhu ibu melalui rektal (varney, 2009)

4. Apabila muncul tanda atau gejala koriamnionitis segera berkonsultasi dengan dokter (varney,2009)

5. Mempertahankan kehamilan sampai cukup matur

6. Melakukan terminasi pada hamil aterm dapat dianjurkan pada selang waktu 6 jam sampai 24 jam, bila tidak terjadi his yang adekuat.

7. Pada usia kehamilan 24 sampai 32 minggu sat berat janin cukup, pertu di pertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan, dengan kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan. Jika persalinan menuju ke prematur maka dianjurkan seksio sesaria.

8. Pemeriksaan USG untuk mengukur distansia biparietal dan perlu melakukan aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru melalui perbandingan.

BAB III TINJAUN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. “S” GIP00000 UK 40 MINGGU INPARTU KALA

1 FASE LATEN DENGAN ANEMIA RINGAN DAN KETUBAN PECAH DINI DI PUSKESMAS SEMEMI SURABAYA

Tanggal MKB : 13 September 2014, pukul 22.00 WIB

Tanggal Pengkajian : 13 September 2014, pukul 22.00 WIB

(32)

A. Data subyektif

Pekerjaan : Buruh pabrik Alamat : Klakah Rejo Status asuransi: BPJS

2) Keluhan

Ibu mengatakan keluar air sejak pukul 21.30 WIB. 3) Riwayat menstruasi

HPHT : 01-12-2013 TPL : 08-09-2014

TPL(USG) : 14 – 09 -2014

4) Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu

Kehamilan Persalinan Anak Nifas KB

Ke

ylt Penolong Jenis Tempat Pn yu lit

Jns

kel BB/PB Hidup/Mati Pnylt Pnylt LamaMeneteki Metode

1 H A M I L I N I

5) Riwayat Kehamilan sekarang

a) Kunjungan ANC

 Trimester I : 2 kali kunjungan. Di BPS Sri Hastuti. Keluhan pusing, mual.

Terapi mevomit, likokalk, ramabion

 Trimester II : 3 kali kunjungan. Di BPS Sri Hastuti. Keluhan tidah ada

Terapi likokalk, ramabion

 Trimester III : 3 kali kunjungan, Di BPS Sri Hastuti. Dan 1 kali kunjungan di

Puskesmas Sememi.

Keluhan kenceng-kenceng pada UK 40 mingu. Terapi likokalk, hufabion, B1, Alinamin

(33)

b) Gerak janin pertama kali dirasakan : saat usia kehamilan 4 bulan, gerakan

aktif.

c) Imunisasi TT : TT4(2014)

d) Kebiasaan saat hamil : Ibu tidak merokok, tidak minum jamu,

tidak pijat perut, tidak minum obat-obatan selain yang diberi oleh bidan, ibu tidak

mempunyai binatang peliharaan.

6) Riwayat Kesehatan Ibu

Ibu tidak pernah menderita penyakit Hipertensi, Asma, Hepatitis, Jantung, Ginjal,

TBC, Toxoplasma, dan HIV/AIDS.

7) Riwayat kesehatan keluarga

Ibu mengatakan dalam keluarga ada yang memiliki riwayat hipertensi yaitu ibunya.

Dan tidak ada yang memiliki riwayat Asma, Hepatitis, Jantung, Ginjal, TBC,

Toxoplasma, dan HIV/AIDS. Ibu tidak memiliki riwayat keturunan kembar.

8) Pola Kebutuhan Sehari

(1) Nutrisi

Ibu mengatakan Makan 3x/hari. Porsi satu piring dengan nasi, sayuran, lauk pauk,

buah-buahan. Makan terakhir jam 19.00 WIB. Minum 7 gelas/hari..

(2) Eliminasi

Ibu mengatakan BAK ± 8 x/hari. BAB 1x/hari.

(3) Aktivitas

Ibu mengatakan sehari-hari bekerja, namun sejak satu minggu ini ibu cuti dari

pekerjaannya.

(4) Istirahat

(34)

Status : Menikah

Kawin : 1 kali

Umur pertama menikah : 25 tahun

Lama : 4 tahun

10) Riwayat KB

Jenis kontrasepsi : Pil

Lama penggunaan : 3,5 th

Keluhan : tidak ada

Alasan berhenti : ingin mempunyai anak

11) Riwayat psiko, sosial kultural spiritual

Ibu mengatakan hubungan dengan suami baik, respon keluarga baik. Dalam

keluarganya tidak ada tradisi atau pantangan yang dilakukan selama kehamilannya.

Ibu berdoa untuk pross persalinannya.

B. Data Obyektif

1) Pemeriksaan umum

1). Keadaan umum : Baik

2). Kesadaran : Composmentis 3). Tanda-tanda vital

(1) Tekanan darah : 120/80 mmHg (2) Nadi : 80x/menit (3) Pernapasan : 20x/menit (4) Suhu : 36,5oC

4). Berat badan

Sebelumnya : 44 kg Sekarang : 53 kg 5). Tinggi badan : 151 cm 6). LILA : 24,5 cm 2) Pemeriksaan fisik

a) Inspeksi

 Wajah : tidak pucat, tidak oedema

 Mata : konjungtiva sedikit pucat, sklera putih

 Mulut : Mukosa bibir lembab, sedikit pucat, tidak ada caries gigi

 Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada pembesaran

kelenjar limfe, dan tidak ada bendungan vena jugularis.

(35)

 Genetalia : keluar lendir bercampur darah disertai dengan rembesan cairan

bening dari vagina

 Anus : tidak ada hemorrhoid  Ekstremitas :

- Atas : tidak oedem

- Bawah : tidak oedem, tidak varises b) Palpasi

 Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada pembesaran kelenjar

limfe, dan tidak ada bendungan vena jugularis.

 Payudara : tidak ada massa yang abnormal, kolostrum sudah keluar.  Abdomen : Terdapat linea nigra.

(1) Leopold I : TFU 2 jari bawah px. Teraba bulat, lunak, tidak melenting (2)Leopold II : Bagian kanan perut ibu teraba keras, datar seperti papan,

bagian kiri perut ibu teraba bagian kecil janin.

(3) Leopold III : Teraba keras, bulat, tidak dapat digoyangkan. (4) Leopold IV : divergen

Mc Donald : TFU 32 cm

TBJ : (32-11) x 155 = 3255 g

His : 2x10’x20”

 Ekstrimitas

(1)Atas : tidak oedem

(2)Bawah : tidak oedem, tidak varises

c) Auskultasi

DJJ : 136 x/menit

Punctum maximum : Punggung kanan

3) Data penunjang

Pemeriksaan Lakmus : tidak dilakukan karena peralatan tidak memadai

4) Pemeriksaan dalam (VT)

Tanggal: 13 – 09 – 2014 jam : 22.00 WIB Pembukaan : Ø 2 cm

Effecement : 50%

(36)

Penurunan bagian terendah : Hodge I

5) Penurunan kepala perlimaan (WHO) : 5/5

6) Data laboratorium

Tanggal : 12 – 09 - 2014

Hb : 10 g/dl

Reduksi urine : negatif Protein urine : negatif PMTCT : Non Reaktif Golongan darah : O

7) KSPR : 6

C. Analisa Data

GIP00000 UK 41 minggu, tunggal, hidup, intrauterine, letak U, keadaan ibu dan janin

baik, inpartu kala 1 fase laten dengan anemia ringan dan ketuban pecah dini (KPD).

D. Penatalaksa

Tanggal : 13 September 2014 Jam : 22.00 WIB

1. Memberitahukan hasil pemeriksaan kepada pasien dan keluarga e/ ibu mengerti dan memahami keadaannya saat ini.

2. Menganjurkan ibu untuk miring kiri dan tidak berjalan-jalan e/ ibu beristirahat di tempat tidur

3. Menganjurkan ibu makan dan minum e/ ibu makan dan minum saat tidak ada His. 4. Melakukan kolaborasi dengan dokter

e/ Advis dokter lanjut observasi selama 6 jam dan memberikan terapi amoxilin 1000

mg (4 tablet).

5. Melanjutkan observasi CHPB sesuai jadwal. e/ hasil observasi terlampir di catatan observasi.

Catatan Observasi

(37)

13 – 09- 2014

 Observasi TTV, DJJ, His

e/ TD : 120/80 mmHg, S : 36,5o C, N : 80 x/m, RR : 20 x/m

DJJ : 139 x/m His : 2x30”

 Observasi TTV, DJJ, His

e/ TD : 120/80 mmHg, S : 36,7o C, N : 80 x/m, RR :20 x/m

DJJ : 136 x/m His : 2x30”

 Observasi TTV, DJJ, His, VT

e/ TD : 120/80 mmHg, S :36,7o C, N : 80 x/m, RR : 20x/m

DJJ : 142 x/m His : 3x30”

VT : Ø 2-3 cm, eff 50%, ketuban (+), penurunan kepala H I

 Observasi TTV, DJJ, His

e/ TD : 120/80 mmHg, S : 37o C, N : 80 x/m, RR : 20 x/m

DJJ : 140x/m His : 3x35”

 Observasi TTV, DJJ, His

e/ TD : 120/80 mmHg, S : 37o C, N : 80 x/m, RR : 20 x/m

DJJ : 140 x/m His : 3x35”

 Observasi TTV, DJJ, His

e/ TD : 110/80 mmHg, S : 37o C, N : 80 x/m, RR : 20 x/m

DJJ : 142 x/m His : 3x35”

 Observasi TTV, DJJ, His, VT

e/ TD : 120/80 mmHg, S : 37,2o C, N : 80 x/m, RR : 20 x/m

DJJ : 132 x/m His : 3x35”

VT : Ø 4cm, eff 50%, ketuban (-), penurunan kepala H I  Memberikan antibiotik amoxilin 1000 mg

 Observasi TTV, DJJ, His

e/ TD : 120/80 mmHg, S : 37,2o C, N : 80 x/m, RR : 20 x/m

DJJ : 142 x/m His : 4x35”

 Observasi TTV, DJJ, His

e/ TD : 120/80 mmHg, S : 37,2o C, N : 80 x/m, RR : 20 x/m

DJJ : 142 x/m His : 4x35”

 Melakukan kolaborasi dengan dokter

e/ advis dokter merujuk pasien GIP00000 UK 41 minggu,

inpartu kala 1 fase laten dengan anemia ringan dan ketuban pecah dini (KPD) ke RS

 Melakukan persiapan rujukan.

(38)

07.00

08.00

08.30

09.00

pasien

- Menyiapkan alat yang dibutuhkan saat merujuk - Menyiapkan kendaraan untuk merujuk

- Menyiapkan obat-obatan yang dibutuhkan saat merujuk - Memasang infus RL pada pasien.

e/ persiapan rujukan telah di lakukan. Pasien sudah dipasang infus

 Pasien di rujuk ke Rumah Sakit

BAB IV PENUTUP

(39)

Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11 gr%. Anemia saat hamil disebut “ potensial danger to mether and child “

Klasifikasi anemia:

Ketuban pecah dini atau spontaneous / early / premature rupture of membrane (prom) adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu bila pembukaan pada primi kurang dati 3 cm dan multi para kurang dari 5 cm.

Ketuban pecah dini disebabkan oleh kurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Penyebabnya juga disebabkan karena inkompetensi servik. Polihidramnion / hidramnion, mal presentasi janin (seperti letak lintang) dan juga infeksi vagina / serviks.

Penatalaksanaan bila janin sudah viable (lebih dari 36 minggu) lakukan induksi partus 6-12 jam setelah long phase dan berikan antibiotic profilaksis, pada kasus-kasus tertentu dimana induksi partus dengan drip oksitosin gagal maka lakukan tindakan operatif, jika pada prom penyelesaian persalinan bisa :

 Partus spontan

 Ekstraksi vacuum

 Ekstraksi forcep

 Embriotomi bila anak sudah meninggal.

Referensi

Dokumen terkait

Toˇcnije, u prvom poglavlju opisat ´cemo sedam metoda dokazivanja konkurentnosti pravaca te ih pri- mijeniti na najpoznatije primjere konkurentnosti pravaca, odnosno na

Pada anamnesis penderita akan mengeluh matanya tidak nyaman (discomfort). Dry eye  syndrome merupakan suatu kelompok gejala dimana mata terasa tidak nyaman, seperti iritasi,

dan penyelamat berada di atas mangsa dengan muka mengadap antara satu sama lain. Penyelamat menyauk tangan mangsa yang berikat pada lehernya.. iv.Penyelamat merangkak

c) Laporan-laporan penyelidikan terdahulu : Berfungsi untuk ketika sebelum kita melakukan eksplorasi ada pihak lain atau warga sekitar daerah eksplorasi telah memanfaatkan

11/005/DPS tanggal 27 Januari 2009 masing-masing untuk tahun buku 31 Desember 2009 dan 31 Desember 2008, Dewan Pengawas Syariah (DPS) Bank Syariah Mandiri menyatakan bahwa

Saran dari penelitian yaitu menyediakan daftar maskapai pelayaran yang baik dan tidak baik agar mempermudah eksportir memilih perusahaan pelayaran, PT Sun Lloyd dan PT Jiale

STANDAR DAN ANALISIS KOMPETENSI PENANGGUNGJAWAB UPAYA  N O  Nama Jabatan Standar Kompetensi Keadaan Riil Kompetensi Kesenjangan 1 Rukna,Am.Kl Penanggungjawab Upaya

asal Pakistan dan Quraish Shihab. Muhammad Abdul Fatah, dalam penelitiannya yang berjudul Tafsir Al-Qur’an tentang Poligami, mencoba membandingkan penafsiran Muhammad