• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN dalam"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN

HAK PASIEN

Sebagai pasien, penting bagi anda untuk secara aktif bekerja sama dan

berpartisipasi dalam proses pengobatan adalah untuk mencapai hasil

kesehatan yang baik. Rumah Sakit kami berpegang pada konsep

"Memberika Layanan Terbaik pada Pasien" , yang didedikasikan untuk

menyediakan perawatan berkualitas tinggi pada pasien. Hak dan

kewajiban anda sebagai pasien adalah sebagai berikut:

1.

Pasien rumah sakit modern memiliki hak untuk dilayani dengan

sopan. Anda akan mendapat perlakuan yang sama walaupun ras,

agama, jenis kelamin, kebangsaan, agama, latar belakang budaya,

orientasi seksual, anda berbeda.

2.

Dalam kasus darurat,tanpa penanganan yang tepatmaka akan

membahayakan nyawa atau menyebabkan kecacatan. Pasien berhak

untuk mendapatkan perawatan yang cepat, terlepas dari apakah

mereka memiliki kemampuan untuk membayar biaya pengobatan.

3.

Pasien rumah sakit modern berhak bertanya dan mendapatkan

respon yang tepat waktu.

4.

Kecuali untuk kebutuhan untuk perawatan, pasien tidak boleh

dikenakan segala bentuk pengekangan fisik.

5.

Setiap informasi tentang pasien dan catatan medis adalah masalah

privasi pribadi, pasien berhak atas perlindungan agar rumah sakit

tidak membuka informasi medis terkait.

6.

Pasien rumah sakit modern memiliki hak untuk mendapatkan

diagnosis, pengobatan, dan rincian tentang operasi. Hal ini termasuk

manfaat dari pengobatan yang diberikan, risiko, dan terapi alternatif

lainnya. Dokter harus menggunakan bahasa sederhana untuk

memberitahukan pasien dengan informasi yang relevan bila

diperlukan.

7.

Pasien berhak untuk mengetahui cara atau pilihan pengobatan

lainnya.

8.

Pasien memiliki hak untuk memahami aturan dan informasi,

termasuk informasi tentang keuangan.

9.

Pasien berhak untuk meminta dan menerima penjelasan rinci

tentang biaya medis yang diterima.

10.

Pasien rumah sakit modern berhak untuk berpartisipasi dalam

pengambilan keputusan pelayanan medis.

(2)

12.

Anggota keluarga pasien berhak berpartisipasi untuk menolak atau

menentukan program-program medis mereka. Pasien juga memiliki

hak untuk mengundang anggota keluarga atau orang terdekat dalam

pemilihan program medis.

13.

Pasien rumah sakit modern berhak untuk melihat catatan medisi,

pasien juga berhak untuk mendapatkan salinan catatan medis rumah

sakit. Rumah sakit menyediakan data pasien medis dalam record

pengarsipan untuk seumur hidup, hal ini untuk melindungi privasi

pasien dan memberikan layanan medis yang lebih baik.

KEWAJIBAN PASIEN

1.

Pasien & keluarga pasien diharuskan memberikan informasi, kondisi

& catatan sakit sebelumnya. Sewaktu informasi penting (alamat , no

telp ,dll) berubah, pasien wajib menghubungi & memberitahu pihak

rumah sakit.

2.

Pasien wajib menandatangani "Perjanjian Pertanggungjawaban

Keuangan" dan "Konfirmasi Persetujuan".

3.

Pasien wajib membayar semua biaya pengobatan dan lain-lain

selama masa pengobatan & perawatan.

4.

Asuransi dan pembayar pihak ketiga tidak membayar biaya

pengobatan dan deposito. Pasien sendiri yang wajib membayar .

5.

Pasien diharuskan mengetahui keadaan sakit nya dan program

pengobatan nya.

6.

Pasien dan keluarga pasien berkewajiban bekerjasama

melaksanakan dan menyetujui program-program pengobatan yang

diberikan.

7.

Pasien dan keluarga pasien berkewajiban mematuhi

peraturan-peraturan rumah sakit, terutama mengenai keselamatan pasien.

8.

Pasien dan keluarga pasien wajib menghormati hak dan kepentingan

pasien lainnya.

9.

Pasien dan keluarga pasien wajib datang pada waktu reservasi yang

dijanjikan atau memberitahukan lebih awal bila membatalkan waktu

reservasi yang telah ditentukan sebelumnya.

10.

Pasien dan keluarga pasien wajib menyimpan dengan baik

barang-barang berharga masing-masing.

11.

Jika pasien dan keluarga pasien menolak menerima pengobatan dan

tidak mematuhi perintah dokter, pasien wajib menandatangani

(3)

REKAM MEDIS (PERMENKES NO:

269/MENKES/ PER/III/2008)

Juni 7, 2010 oleh

agungrakhmawan

Informasi bagi sejawat Dokter dan dokter gigi serta pelaksana pelayanan kesehatan bahwa Peraturan Menteri Kesehatanh No. 269/Menkes/Per/III/2008 tentang rekam medis telah berlaku secara efektif sejak 12 Maret 2009. Peraturan ini menggantikan Permenkes No. 749a/Menkes/Per/XII/1989 (tentang rekam medis). Karena itu ringkasan peraturan No 269/2008 tentang rekam medis ini saya posting agar dapat menjadi pedoman bagi kita semua.

Definisi Rekam Medis

Dalam Permenkes No: 269/MENKES/PER/III/2008 yang dimaksud rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen antara lain identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan yang telah diberikan, serta tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.

Catatan merupakan tulisan-tulisan yang dibuat oleh dokter atau dokter gigi mengenai tindakan-tindakan yang dilakukan kepada pasien dalam rangka pelayanan kesehatan. Sedangkan dokumen adalah catatan dokter, dokter gigi, dan/atau tenaga kesehatan tertentu, laporan hasil pemeriksaan penunjang, catatan observasi dan pengobatan harian dan semua rekaman, baik berupa foto radiologi, gambar pencitraan (imaging). dan rekaman elektro diagnostik.

Rekam Medis harus dibuat secara tertulis, lengkap dan jelas dan dalam bentuk teknologi Informasi elektronik yang diatur lebih lanjut dengan peraturan tersendiri.

(4)

penanganan, tindakan medis dan lainnya. Dokter atau dokter gigi diwajibkan membuat rekam medis sesuai peraturan yang berlaku.

Isi Rekam Medis /medical record

Data-data yang harus dimasukkan dalam Medical Record dibedakan untuk pasien yang diperiksa di unit rawat jalan, rawat inap dan gawat darurat. Setiap pelayanan apakah itu di rawat jalan, rawat inap dan gawat darurat dapat membuat rekam medis dengan data-data sebagai berikut:

1. Rekam Medis Pasien Rawat Jalan

Data pasien rawat jalan yang dimasukkan dalam medical record sekurang-kurangnya antara lain:

1. Identitas Pasien

2. Tanggal dan waktu.

3. Anamnesis (sekurang-kurangnya keluhan, riwayat penyakit).

4. Hasil Pemeriksaan fisik dan penunjang medis.

5. Diagnosis

6. Rencana penatalaksanaan

7. Pengobatan dan atau tindakan

8. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.

9. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik dan

10. Persetujuan tindakan bila perlu.

2. Rekam Medis Pasien Rawat Inap

Data pasien rawat inap yang dimasukkan dalam medical record sekurang-kurangnya antara lain:

1. Identitas Pasien

2. Tanggal dan waktu.

3. Anamnesis (sekurang-kurangnya keluhan, riwayat penyakit).

4. Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang medis.

5. Diagnosis

6. Rencana penatalaksanaan / TP (treatment planning)

7. Pengobatan dan atau tindakan

8. Persetujuan tindakan bila perlu

9. Catatan obsservasi klinis dan hasil pengobatan

10. Ringkasan pulang (discharge summary)

11. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang memberikan pelayanan kesehatan.

12. Pelayanan lain yang telah diberikan oleh tenaga kesehatan tertentu dan

13. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik

3. Rekam Medis Pasien Gawat Darurat

Data untuk pasien gawat darurat yang harus dimasukkan dalam medical record sekurang-kurangnya antara lain:

1. Identitas Pasien

2. Kondisi saat pasien tiba di sarana pelayanan kesehatan

3. Identitas pengantar pasien

4. Tanggal dan waktu.

5. Hasil Anamnesis (sekurang-kurangnya keluhan, riwayat penyakit).

6. Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang medis.

(5)

8. Pengobatan dan/atau tindakan

9. Ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan pelayanan unit gawat darurat dan rencana tindak lanjut.

10. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang memberikan pelayanan kesehatan.

11. Sarana transportasi yang digunakan bagi pasien yang akan dipindahkan ke sarana pelayanan kesehatan lain dan

12. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.

Khusus isi rekam medis pasien akibat bencana maka ditambahkan

1. jenis bencana dan lokasi dimana pasien ditemukan;

2. kategori kegawatan dan nomor pasien bencana masal dan

3. identitas orang yang menemukan pasien;

Rekam medis untuk pelayanan dokter spesialis dan dokter gigi spesialis dapat dikembangkan

sesuai kebutuhan

Rekam medis yang dibuat dalam pelayanan di ambulance atau pengobatan masal sama seperti rekam medis gawat darurat dan rekam medis disimpan di sarana kesehatan. Rekam medis harus segera dibuat dan dilengkapi oleh dokter dan dokter gigi setelah memberikan pelayanan.

Ringkasan Pulang (discharge summary) atau resume medis

Harus dibuat oleh dokter atau dokter gigi yang melakukan perawatan pasien. Isi ringkasan pulang sekurang-kurangnya memuat:

1. identitas pasien;

2. diagnosis masuk dan indikasi pasien dirawat;

3. ringkasan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, diagnosis akhir, pengobatan dan tindak lanjut; dan

4. nama dan tanda tangan dokter atau dokter gigi yang memberikan pelayanan kesehatan.

Contoh Data Identitas Pasien antara lain:

- Nama :

- Jenis Kelamin :

- Tempat Tanggal lahir :

- Umur :

- Alamat :

- Pekerjaan :

- Pendidikan :

- Golongan Darah :

- Status pernikahan :

- Nama orang tua :

(6)

- Nama suami/istri :

Penyelenggaraan Rekam Medis

Pembuatan rekam medis dilaksanakan melalui pencatatan dan pendokumentasian hasil pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.

Setiap pencatatan ke dalam rekam medis harus dibubuhi nama, waktu dan tanda tangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang memberikan pelayanan kesehatan secara langsung.

Bila terjadi kesalahan dalam melakukan pencatatan pada rekam medis dapat dilakukan pembetulan dengan cara pencoretan tanpa menghilangkan catatan yang dibetulkan dan dibubuhi paraf dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yang bersangkutan.

Dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan bertanggungjawab atas pencatatan atau pendokumentasian pada rekam medis.

Penyimpanan

Masa simpan rekam medis disarana rumah sakit adalah selama 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal terakhir pasien mendapat perawatan, kecuali ringkasan pulang dan persetujuan tindakan

selama 10 (sepluh) tahun.

Sedangkan masa simpan disarana kesehatan selain rumah sakit adalah 2 (dua) tahun. Setelah batas waktu tersebut, maka rekam medis dapat dimusnahkan dengan mengikuti aturan yang telah ditentukan untuk pemusnahan dokumen.

Kerahasiaan Rekam Medis

Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan pasien harus dijaga kerahasiaannya oleh dokter, dokter gigi, tenaga kesehatan tertentu, petugas pengelola dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan.

Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan dapat dibuka dalam hal:

1. untuk kepentingan kesehatan pasien;

2. memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum atas perintah pengadilan;

3. permintaan dan/atau persetujuan pasien sendiri;

4. permintaan institusi/lembaga berdasarkan ketentuan perundang-undangan; dan

5. untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan audit medis, sepanjang tidak menyebutkan identitas pasien.

Permintaan rekam medis untuk tujuan tersebut diatas harus dilakukan secara tertulis kepada pimpinan sarana pelayanan kesehatan.

Kepemilikan, Pemanfaatan dan Tanggung jawab.

Kepemilikan Rekam Medis

(7)

Pemanfaatan rekam medis

1. pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pasien;

2. alat bukti dalam proses penegakan hukum, disiplin kedokteran dan kedokteran gigi dan penegakan etika kedokteran dan etika kedokteran gigi;

3. keperluan pendidikan dan penelitian;

4. dasar pembayar biaya pelayanan kesehatan; dan

5. data statistik kesehatan.

Pemanfaatan rekam medis untuk keperluan pedidikan dan penelitian yang menyebutkan identitas pasien harus mendapat persetujuan secara tertulis dari pasien atau ahli warisnya dan harus dijaga kerahasiaannya.

Pemanfaatan rekam medis untuk kepenluan pendidikan dan penelitian tidak diperlukan persetujuan pasien, bila dilakukan untuk kepentingan negara.

Tanggung Jawab

Pimpinan sarana pelayanan kesehatan bertanggung jawab atas hilang, rusak, pemalsuan, dan/atau penggunaan oleh orang atau badan yang tidak berhak terhadap rekam medis.

Rekam Medis (Menurut Permenkes

no.269/2008 & UU no.29/2004) Maret 6, 2008

Posted by teknosehat in HUKUM KESEHATAN, Rekam Medik.

trackback

Rekam Medis (Menurut Permenkes no.269/2008 & UU no.29/2004)

Dr. Wila Ch. Supriadi, S.H.

Guru Besar Hukum Kesehatan Unika Parahyangan Bandung

Rekam medis adalah berkas berisi catatan dan dokumen tentang pasien yang berisi identitas, pemeriksaan, pengobatan, tindakan medis lain pada sarana pelayanan kesehatan untuk rawat jalan, rawat inap baik dikelola pemerintah maupun swasta.

Setiap sarana kesehatan wajib membuat rekam medis, dibuat oleh dokter dan atau tenaga kesehatan lain yang terkait, harus dibuat segera dan dilengkapi setelah pasien menerima pelayanan, & harus dibubuhi tandatangan yang memberikan pelayanan.

Tata Cara Penyelenggaraan

– Pembetulan kesalahan dilakukan pada tulisan yang salah, diberi paraf oleh petugas yang bersangkutan.

(8)

– Penyimpanan lima tahun sejak pasien terakhir berobat, setelah lima tahun dapat dimusnahkan, sesuai tata cara pemusnahan ditetapkan oleh dirjen & tata cara pemusnahan arsip yang baku. – Dapat dilakukan penyimpanan khusus dan ditempatkan tersendiri

– Rekam medis disimpan oleh petugas khusus yang ditunjuk oleh pempinan sarana kesehatan – Berkas rekam medis milik sarana kesehatan

– Isi rekam medis milik pasien – Wajib dijaga kerahasiaannya

– Pemaparan isi rekam medis hanya boleh dilakukan dengan izin tertulis dari pasien

– Pimpinan sarana kesehatan bertanggungjawab atas kerusakan, kehilangan, pemalsuan, & penyalahgunaan oleh orang/badan yang tidak berhak

Pemanfaatan Rekam Medis

– Dasar pemeliharaan kesehatan pasien – Bahan pembuktian dalam perkara hukum – Bahan penelitian & pendidikan

– Dasar pembayaran biaya pelayanan kesehatan – Bahan untuk menyiapkan statistik kesehatan Isi rekam medis:

Rawat jalan: Identitas; anamnese; diagnosis & tindakkan pengobatan

Rawat inap: identitas; anamnese; riwayat penyakit; hasil pemeriksaan laboratorik; diagnosis; persetujuan tindakan medik; pengobatan; catatan perawat; catatan observasi klinis & hasil pengobatan; resume akhir & evaluasi pengobatan

Pengorganisasian

– Pengelolaan rekam medis dilaksanakan sesuai dengan tata kerja organisasi sarana kesehatan – Pimpinan sarana kesehatan wajib membina

– Pengawasan oleh Dirjen

– Sanksi teguran sampai dengan pencabutan izin praktik Wajib membuat Rekam Medis

– Sengaja tidak membuat rekam medis diancam dengan hukuman penjara maks 1 tahun atau denda 50 juta

– Harus segera dilengkapi segera setelah selesai tindakan medis – Dibubuhan nama, waktu dan ditandatangani

– Wajib dijaga kerahasiaannya oleh dokter dan sarana kesehatan Pelaksanaan di lapangan

– Pasien berhak mendapatkan copy rekam medis

– Dijaga kerahasiaannya, bahkan sampai pasien meninggal dunia. Jika pasien meninggal dunia, maka keluarga tidak berhak untuk meminta rekam medis

(9)

– Dasar dari pengaduan dan gugatan pasien hanya melalui rekam medis

– Pasien atau pengacara pasien sulit membaca rekam medis, harus dibaca oleh dokter – Belum tentu dokter lain juga dapat membaca rekam medis dari dokter

– Dokter menggunakan Rekam medis untuk pembuktian kasus yang menimpa dirinya? (rahasia pasien?)

– Rekam medis lengkap dan tidak lengkap ukurannya adalah apabila semua yang ditentukan telah dilakukan.

– Berkas rekam medis hilang, maka yang bertanggungjawab adalah petugas yang menjaga arsip rekam medis, sanksinya cukup berat, dapat dikatagorikan menghilangkan barang bukti

– Penghapusan rekam medis, dapat dikategorikan sebagai pemalsuan, jadi kalau salah tulis hanya dapat dibetulkan pada saat itu, dengan cara mencoret yang salah dan dibubuhkan paraf

Sekali ditulis tidak dapat diperbaiki kemudian

– Pemeriksaan penunjang, selalu diberikan kepada pasien, karena adanya pendapat itu milik pasien Apabila dilakukan harus ditulis hasilnya diberikan kepada pasien. Masalah timbul apabila pasien menghilangkan hasil pemeriksaan tersebut.

Berkas Rekam Medis di Pengadilan – Rekam medis bukan akta otentik

– Pembuktian di pengadilan, masih memerlukan interpretasi

– Jadi rekam medis dapat digunakan untuk pembuktian, namun masih tetap saja dapat diperdebatkan

– Berguna untuk dokter, sedikit gunanya untuk pasien Rahasia Kedokteran/rahasia jabatan (Pasal 322 KUHP) – Hak dokter untuk menolak hadir di pengadilan – Pengajuan keberatan pada hakim

– Hakim memutuskan ditolak/dikabulkan Arti Rekam Medis

– Banyak dokter yang tidak menyadari pentingnya rekam medis

– Harus disadari bahwa rekam medis harus dibuat dan tidak membuat rekam medis adalah tindak pidana kejahatan

– Harus lengkap, sebab dapat digunakan sebagai alat bukti di pengadilan

– Rekam medis yang tidak lengkap akan menyulitkan dokter dalam perkara dengan pasien baik di luar maupun di dalam pengadilan

– Meskipun yang harus membuktikan pasien, apabila rekam medis tidak lengkap dapat membuka interpretasi adanya kelalaian yang dilakukan oleh dokter

– Rekam medis diisi oleh banyak pihak, semua pihak harus menyadari pentingnya rekam medis secara keseluruhan

(10)

diminta dengan oleh pasien

– Apabila pasien meminta, maka menjadi tanggungjawab pasien, hanya berkas pendapat ahli (interpretasi) harus disimpan oleh sarana kesehatan

– Berkas rekam medis yang lengkap sangat membantu dokter atau rumah sakit dalam proses pembuktian perkara baik di luar pengadilan, mau pun di dalam pengadilan, bahkan dapat membuat pasien mengerti akan semua tindakan medis yang dilakukan oleh dokter.

Hak Pasien dan Keluarganya Atas

Rekam Medis

Saya ingin menanyakan bagaimana dan ke mana saya harus mengajukan keberatan ketika pihak Rumah Sakit tidak mau memberikan data rekam medis? Sedangkan, pasiennya adalah anggota keluarga saya.

ARIF AHMAD

 

Jawaban:

TRI JATA AYU PRAMESTI, S.H.

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

Pengaturan mengenai

rekam medis

dapat kita jumpai dalam

Pasal 46 ayat

(1) Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran

(“UU

Praktik Kedokteran”) yang mengatakan bahwa setiap dokter atau dokter gigi dalam

menjalankan praktik kedokteran wajib membuat rekam medis.

Arti rekam medis

itu

sendiri menurut

penjelasan Pasal 46 ayat (1) UU Praktik Kedokteran

adalah berkas

yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan,

pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.

Lebih lanjut, dalam

Pasal 47 UU Praktik Kedokteran

diatur bahwa:

(11)

(2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disimpan

dan dijaga kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan

sarana pelayanan kesehatan.

(3) Ketentuan mengenai rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

Hak pasien atas isi rekam medis ini juga ditegaskan dalam

Pasal 52 UU Praktik

Kedokteran

:

“Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai

hak:

a.

mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3);

b.

meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;

c.

mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;

d.

menolak tindakan medis; dan

e.

mendapatkan isi rekam medis.”

Rumah sakit juga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan rekam medis sebagaimana

diatur dalam

Pasal 29 ayat (1) huruf h Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009

tentang Rumah Sakit

(“UU Rumah Sakit).

Masih berkaitan dengan hak pasien, sebagaimana yang pernah dijelaskan dalam

artikel

Hak Pasien Atas Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

, pasien adalah

konsumen. Oleh karena itu, hak-hak pasien sebagai konsumen juga dilindungi

oleh

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

Konsumen

(“UU Perlindungan Konsumen”). Penjelasan lebih lanjut mengenai apa saja

hak-hak pasien dapat Anda simak dalam artikel tersebut.

Adapun mengenai isi rekam medis diatur lebih khusus dalam

Pasal 12 ayat

(2)

dan

ayat (3) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/MENKES/PER/III/2008

tentang Rekam Medis

(“Permenkes 269/2008”). Pasal ini mengatakan bahwa isi rekam

medis merupakan milik pasien yang dibuat dalam bentuk

ringkasan rekam medis

.

Lebih lanjut, dalam

Pasal 12 ayat (4) Permenkes 269/2008

dijelaskan bahwa

ringkasan rekam medis dapat diberikan, dicatat, atau dicopy olehpasien atau orang yang

diberi kuasa atau atas persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak

untuk itu.

Dari bunyi pasal

Pasal 12 ayat (4) Permenkes 269/2008

dapat diketahui bahwa yang

berhak mendapatkan ringkasan rekam medis adalah:

a.

Pasien

b.

Keluarga pasien

c.

Orang yang diberi kuasa oleh pasien atau keluarga pasien

d.

Orang yang mendapat persetujuan tertulis dari pasien atau keluarga pasien

(12)

Akan tetapi, untuk mengetahui anggota keluarga yang dimaksud kita dapat mengacu

pada UU Praktik Kedokteran dalam pasal yang mengatur tentang persetujuan tindakan

kedokteran atau kedokteran gigi. Pasal yang dimaksud adalah

Pasal 45 ayat (1) UU

Praktik Kedokteran

yang berbunyi:

“Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan

oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat

persetujuan.”

Menurut

penjelasan Pasal 45 ayat (1) UU Praktik Kedokteran

, pada prinsipnya

yang berhak memberikan persetujuan atau penolakan tindakan medis adalah pasien

yang bersangkutan. Namun, apabila pasien yang bersangkutan berada di bawah

pengampuan (

under curatele

), persetujuan atau penolakan tindakan medis dapat

diberikan oleh keluarga terdekat antara lain

suami/istri

,

ayah/ibu kandung

,

anak-anak kandung

atau

saudara-saudara kandung

.

Apabila kedudukan Anda termasuk dalam kategori keluarga terdekat seperti disebutkan

penjelasan Pasal 45 ayat (1) UU Praktik Kedokteran di atas, maka ringkasan rekam medis

dapat diberikan, dicatat, atau dicopy oleh Anda.

Jika pihak rumah sakit menolak memberikan ringkasan medis kepada Anda sebagai

keluarga pasien yang berhak, usahakan untuk menyelesaikan masalah tersebut secara

kekeluargaan. Namun, jika pihak rumah sakit tetap menolak memberikan rekam medis

tersebut, maka pasien atau keluarganya dapat menempuh langkah-langkah yang diatur

dalam UU Rumah Sakit, yaitu:

1.

menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit baik secara perdata maupun

pidana (lihat

Pasal 32 huruf q

); atau

2.

mengeluhkan pelayanan RS yang tidak sesuai dengan standar pelayanan

melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan (lihat

Pasal 32 huruf r

). Penginformasian kepada

media ini kemudian akan menimbulkan kewenangan bagi Rumah Sakit untuk

mengungkap rahasia kedokteran pasien sebagai hak jawab Rumah Sakit

(lihat

Pasal 44 ayat [3]

) .

Selain itu, pasien atau keluarganya juga dapat mengajukan gugatan kepada pelaku

usaha, kepada lembaga yang secara khusus berwenang menyelesaikan sengketa antara

konsumen dan pelaku usaha (lihat

Pasal 45 UU Perlindungan Konsumen

).

Referensi

Dokumen terkait

Kelengkapan dalam pengisian berkas rekam medis oleh dokter akan dapat memudahkan tenaga kesehatan lain dalam memberikan tindakan atau pengobatan pada pasien, dan

Pada area rawat jalan, baik tenaga medis maupun paramedis wajib untuk segera mengidentifikasi kebutuhan pelayanan bagi pasien yang membutuhkan, baik saat

Piagam ini memberikan jalan bagi pasien, Piagam ini memberikan jalan bagi pasien, masyarakat, petugas kesehatan dan pemer- masyarakat, petugas kesehatan dan

Dampak yang terjadi jika pengetahuan pasien tentang hak atas informasi medis kurang adalah timbulnya masalah komunikasi antara dokter dengan pasien atau antara rumah

*.. Pasien di 3umah !akit &mum Daerah !urakarta memiliki hak penuh untuk menerima atau menolak setiap tindakan yang akan dilakukan kepada pasien. 7ila pasien dalam keaadaan

Kemudian bagian rekam medis juga mengalami kelelahan kerja yang berkaitan dengan perawat dan dokter, karena unit rekam medis harus segera menyerahkan data rekam medis

Mematuhi rencana terapi yang direkomendasikan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Kasiman dan disetujui oleh pasien yang bersangkutan setelah mendapatkan penjelasan sesuai dengan

8 2.1.3 Kelengkapan Rekam Medis Pencatatan rekam medis harus dibuat secara lengkap oleh dokter dan tenaga kesehatan lain yang berwenang untuk mencatat perkembangan riwayat penyakit