64
FOTOGRAFI BARU MYANMAR:
65
DARAS
B
eberapa tahun terakhir ini, perupa-perupa Myanmar telahmenggunakan medium fotografi dalam praktik berkesenian mereka. Tapi kebanyakan, mereka hanya menggunakan fotografisebagai perpanjangan tangan media-media yang telah mereka tekuni sebelumnya sepert instalasi, lukisan maupun seni penampilan. Hanya segelintir perupa yang menggunakan fotografi sebagai medium; sebuah medium yang immediate and indeterminate dengan tehubungan menantangnya terhadap realitas.
Dari kelompok ini, karya-karya seniman perempuan Phyu Mon (kelahiran Mandalay tahun 1960) dan Nge Lay (kelahiran Pyin Oo Lwin tahun 1979) pantas mendapatkan perhatian kita. Menetap di Yangon, keduanya memilik pendekatan yang unik terhadap fotografi. Phyu Mon menggunakan kanvas virtual Photoshop untuk mengartikulasikankecem asan dan aspirasinya sebagai seorang perempuan. Sementara Nge Lay, di lain pihak, mengaitkan eksperimen-eksperimen fotografinya dengan pengalaman-pengalaman dalam hidupnya dan kondisi lingkungan tempat tinggalnya.
Jauh sebelum eksperimentasinya dengan digital imaging, Phyu Mon telah dinobatkan sebagai performance artist perempuan pertama di Myanmar. Ia juga dikenal sebagai penulis puisi dan juga cerita pendek.
Terdidik sebagai seorang pelukis, pengaruh awal karya-karya seninya adalah genre Surrealisme. Pada tahun 1999, ia mulai belajar Photoshop sendiri. Dan tak mengejutkan, bila dunia yang ia ciptakan melalui software ini masih menampilkan pengaruh Surrealisme yang kental seperti dalam karya-karya awalnya yang bertajukkan Hope (2005) dan Born To Run (2006).
Dan sejak saat itu, kualitas karyanya pun dilihat dari beberapa hal pun
mengalami peningkatan. Kini, pada citraan buatan yang ia ciptakan, ada
kecenderungan bagi penulis dan kurator untuk mengotakkannya pada batasan perempuan Burma. Tapi sebenarnya perhatiannya tidak pernah
66 DARAS
secara sadar terbatasi pada gender maupun kebangsaan.
Walaupun demikian, di awal ia berkarya sebagai seniman, Phyu Mon sempat depresi seperti yang diakuinya melalui wawancara melalui email. Dalam konteks Myanmar, ia merasakan bahwa status perempuan sangatlah rendah. Cukup sulit untuk mengabaikan peran yang telah ditentukan sebagai perempuan.
“Waktu masih kecil, orang tua saya akan melarang saya untuk pergi
ataupun juga mengatakan banyak hal -- hanya karena saya perempuan”, ungkap Phyu Mon. “Kadangkala saya sebetulnya menyukai batasan-batasan tersebut. Tapi saya juga menginginkan kebebasan untuk hidup saya”, ungkapnya saat diwawancarai di Bangkok pada tahun 2009.
Ia pun berteman dengan lebih banyak seniman perempuan dari kawasan Asia dan juga seluruh dunia, dia pun sadar bahwa ia tak sendiri. Dia pun berubah dan juga proses berkaryanya pun berkembang. Cerita-cerita pendeknya dulunya berbicara seputar pengalamannya. Kini, cerpen-cerpennya berkisah tentang hidup dalam artian luas.
Walaupun visualisasi dan simbol-simbol yang ia gunakan khas
“Birma”, perhatiannya sebaiknya tidak dipisahkan dari konteks kemanusiawian dalam artian luas, terutama dalam serinya yang bertajuk Hope (2008), dan terlebih lagi pada seri Dream (2009-2010) Phyu Mon pun tertarik dengan kekuatan kontemplatif fotografi dan kemungkinan-kemungkinan fiksi dari proses digital. Karya-karya menggunakan Photoshop cukup menantang seperti yang ia akui. Karya dengan medium ini mengizinkan ia untuk menggabungkan berbagai foto yang telah ia potret di berbagai kesempatan dalam satu image, untuk mengartikulasikan pemikirannya tentang alam, budaya dan juga identitas.
Nge Lay, Untitled dari seri Imagination Sphere (2008 – 09)
Walaupun karya-karyanya
kerap kali menampilkan
67
AKSEN
Pada umumnya, citra yang ia tampilkan dalam tiap seri tidaklah menawarkan sebuah narasi. Melainkan tiap citra berdiri sendiri, matang, sarat simbol dan samar-samar berkaitan dengan tema besar dari seri tersebut.
Ambilah karya bertajuk Hope (4) dari seri tahun 2008, yang menampilkan sebuah menara merah di sebelah kiri dengan mural yang menandakan budaya kerajaan di Myanmar. Di sebelah kanan, satu sosok perempuan meninggalkan bebannya dengan mencari pertobatan sebagai
seorang biarawati. Phyu Mon mengaitkan kaktus yang ada di latar depan dengan kepelikan yang dialami dalam kehidupan seorang perempuan. Nasib mereka, ungkap sang perupa, sangatlah kejam. Tapi imaji matahari yang terlempar dari horisonnya dan mengarah kepada perempuan menunjukkan kecintaan dan kelembutan. Saat perempuan menghadapi tantangan-tantangan kehidupannya, mereka tetap optimis bahwa akan datang hal yang baik di depan mereka.
Sama dengan Phyu Mon, Nge Lay juga awalnya terdidik sebagai seorang pelukis. Sejak tahun 203, ia mulai berkerja sebagai seorang desainer jewellery. Saat itu, pekerjaannya membuatnya merasa sebagai seorang pesakitan. Selama enam hari dalam satu minggu, ia bekerja lama-lamat dari jam 9 pagi sampai 8.30 malam, yang menyebabkan ia kelelahan di akhir hari.
Itu mengapa ia beralih pada fotografi di tahun 2007.
“Saya tidak punya banyak waktu untuk karya-karya saya sekarang. Fotografi, di lain pihak, memperbolehkan saya untuk memperlihatkan pemikiran saya dengan lebih cepat”, Nge Lay menjelaskan. “Fotografi lebih memiliki impak dan dekat dengan realitas. Sebuah foto juga memilki detil yang lebih banyak”. Walaupun karya-karyanya kerap kali menampilkan pengalamannya, Nge Lay tidaklah pernah puas untuk membuat sebuah karya yang “otobiografis” Seri The Imagination Sphere (2008-2009) adalah sebuah eksprimen tentang piring kaca yang ada di rumah keluarga Aung Ko di dusun Thu Ye Dan, Pyay. Sebagai seorang perupa kontemporer, Aung Ko adalah suami dari Nge Lay. Suatu hari, pasangan perupa ini menemukan piring gelas di sebuah
Nge Lay, Untitled dari seri Imagination Sphere (2008 – 09) Nge Lay, Untitled dari seri
Me and Another Process (2008 – 09)
Nge Lay, Untitled dari seri Me and Another Process (2008 – 09)
68 AKSEN
lemari kuno. Pada piring itu ada gambar seorang perempuan yang tidak dikenali oleh nenek Aung Ko (yang berusia lebih dari 90 tahun). Tanya pun memuncak. Siapakah sang perempuan di piring kaca itu? Bagaimana pirik kaca tersebut bisa berada sangat jauh dari sentra urban bernama Yangon?
Walaupun demikian, mereka membawa piring kaca tersebut ke Yangon. Walaupun Yangon adalah titik penghubung komersial di Myanmar, ia kerap kali mengalami pemadaman listrik. Listrik praktis hanya berfungsi selama beberapa jam dalam seharinya.
Di pasar-pasar di Yangon, sangatlah mudah membeli berbagai macam desin senter yang murah buatan China. Bekerja di kegelapan dan menggunakan sinar dari beberapa macam senter, Nge Lay membuat banyak foto dari portrait yang sama. Ia mentransformasikan sebuah teknologi fotografi yang lebih tua menjadi sesuatu yang kontemporer dan baru. Dalam Me and Another Process (2008-2009), Nge Lay memperkenal kolaborasi beberapa elemen dengan sekelompok temannya dari tempat kerjanya, memberikan kualitas performatif yang hanya dilakukan untuk kamera. Bekerja di sebuah perusahaan yang memperkerjakan 200 orang, Nge Lay selalu merasa dalam tekanan untuk menampilkan kerja yang terbaik. Buruknya, ia juga harus berhadapan dengan kecemburuan dari koleganya karena atasannya selalu mengajaknya saat melakukan perjalanan bisnis. Tapi yang ia rindukan tak lain dan tak bukan adalah sebuah lingkungan kerja yang damai.
Dia membuat karya tersebut selama listrik padam di Yangon. Dengan kamera di tangan kanan, ia mampu memotret sementara tangan kirinya menggenggam tangan temannya yang berusaha untuk menutupi sinaran cahaya yang muncul
dari lilin ataupun senter.
Saat tangan mereka menutupi sinar yang ada, justru sinar itu sendirilah yang memberikan bentuk pada tangan dan “keberadaan” mereka pada karya-karyanya. Akhirnya, upaya mereka untuk menutupi cahaya gagal karena sang sinar menerobos celah-celah yang ada dan bebas. Pada karya-karya Nge Lay, sinar adalah obsesi yang jelas-jelas terlihat, tidak hanya sebagai referensi ironis sebuah kota yang listriknya
sering padam, tapi juga simbol harapan atas segala perjuangan dalam hidup. Dipotret di Thu Ye Dan, karya The Relevancy of Restricted Things (2010) adalah salah satu proyek foto yang termuram yang muncul dari Myanmar beberapa tahun belakangan. Karya ini adalah homage bagi ayahnya yang meninggal saat ia berusia 14 tahun. Sebagai sosok anak yang tidak diharapkan, Nge Lay sangatlah muda ketimbang kakak-kakaknya. Itu mengapa ia sangatlah dekat dengan sang ayah.
Di lain pihak, sejak pernikahannya dengan Aung Ko, Nge Lay telah dua kali keguguran. Dan keinginannya untuk memulasi sebuah keluarga masih belum terpenuhi.
Di desa, dia menemukan banyak keluarga yang kehilangan figur bapak. Ada seorang perempuan yang suaminya pergi jauh mencari bambu untuk menafkahi keluarganya selama bilangan 3 sampai 6 bulan. Ada pula soerang ibu
yang baru saja melahirkan sementara sang suami berkerja di Malaysia. Tapi ia tak pernah mendengar kabar lagi dari suaminya. Hal yang terakhir adalah latar belakang migrasi ekonomi yang kini makin menjangkiti pola pikir anak-anak di Thu Ye Dan.
“Banyak anak yang cerita pada saya bahwa mereka ingin cepat dewasa agar bisa pergi ke Singapura dan Malaysia dan menjadi kaya”, Nge Lay menjelaskan. “Zaman sekarang, butuh banyak uang untuk membayar agensi-agenso yang membawa mereka ke Singapura atau pun Malaysia, kerap kali juga tanpa jaminan mendapatkan pekerjaan. Mereka sangat ingin pergi sehingga rela untuk menjual tanah ataupun apapun yang mereka punyai untuk bisa pergi. Ini adalah sebuah situasi yang membahayakan bagi generasi penerus kami.”
Dalam karya The Relevancy of Restricted Things, Nge Lay membuat kolaborasi portrait dengan keluarga-keluarga ini.
Nge Lay, Untitled dari seri The Relevancy of
69
AKSEN
Memiliki kesempatan untuk membuat foto keluarga itu sendiri adalah sebuah kemewahan bagi para warga yang tiap harinya masih bergumul untuk tetap bisa makan.
Pertama, ia membuat sebuah topeng yang terlihat seperti seorang pria yang mati tanpa alis. Dengan menggunakan topeng dan jubah Birma peninggalan almarhum ayahnya, ia kemudian berpose sebagai sosok pria dalam keluarga yang ia potret. Foto-foto portrait ini dibuat dalam sebuah tenda berwarna hitam dan berukuran kurang lebih 2.7x3.7x2.7 meter. Ia menempatkan tenda itu di lahan kosong desa untuk menampilkan kesan isolasi selama pemotretan. Area itu sebelumnya adalah bagian dari hutan yang kini tiada. Sepertinya pepohonan di daerah itu ditebang dan dijual ke Yangon dengan harga murah. Selama berkerja, Nge Lay memotret 5 keluarga yang menandakan jumlah
jari tangan kita. Kurangnya satu jari membuat kita cacat, tambahnya. Foto-foto ini disinari oleh lampu petromaks yang kembali menandai minimnya listrik di negerinya. Melengkapi karyanya, ia memotret tampilan luar tenda dengan latar belakang lansekap dari 4 arah desa. “Tenda hitam, topeng yang saya buat dan jubah Birma milik mendiang ayah saya, semuanya berasal dari pengalaman hidup saya”, ungkap Nge Lay. “Saya harap ini dapat membangkitkan ingatan para kolaborator saya walaupun koneksi yang dimiliki terbatas. Saya harap hal ini dapat menyentuh hati kita dan menempatkan karya ini pada dimensi yang berbeda, serupa dengan apa yang saya rasakan saat membuatnya di desa”.
Walaupun The Relevancy of Restricted Things merujuk ke berbagai aspek
kekinian yang terjadi di Myanmar, adalah sangat tidak akurat untuk mengategorikan karya Nge Lay sebagai sebuah karya political art. Apa yang sama-sama ia milik dengan Phyu Mon adalah sebuah “sensasi puitis” atau kekuatan kreatif perempuan. Hal ini tidak “memfokuskan individu (sebagai sebuah kepemilikan) ataupun juga kekuatan fisik”. Ia sangatlah “lembut” tapi tidak lemah. Dalam artian ini, proses kreasi mereka tak sepenuhnya terlepas dari situasi di Myanmar. Sebagai perempuan-perempuan Birma, Nge Lay dan Phyu Mon merespom realitas secara kreatif dibantu dengan kekuatan fotografi. [V]