Nizar Mustofa_3.C3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara dengan penduduk ke-empat terbesar di dunia dan juga negara dengan luas wilayah yang cukup besar pula dibanding negara-negara tetangga di Asean. Namun, sejak Indonesia merdeka, modus dari hasil Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara selalu memunculkan nilai defisit. Meskipun jarang mencapai 3% atau batas defisit anggaran, namun defisit anggaran Indonesia kerap menunjuan nilai dua persen koma. Yang tentunya dengan hal ini, pemerintah Indonesia kerap mengadakan pinjaman luar negeri, sehingga menambah total hutang negara.
APBN atau Anggaran Pedapatan dan Belanja Negara yang dibuat oleh setiap pemerintah dan juga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) selalu menimbulkan kontroversi mengenai hasilnya. Hasil dari penghitungan atau penyusunan APBN tersebut kadang menumbulkan surplus, imbang, ataupun defisit.
Anggaran defisit selalu memunculkan kontroversi dari banyak pihak. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2003, defisit anggaran pemerintah adalah selisih kurang antara pendapatan negara dan belanja negara dalam tahun anggaran yang sama. Dengan demikian secara ringkas defisit anggaran adalah pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan.
Banyak pihak yang berbeda pendapat mengenai defisit anggaran tersebut mengenai faktor dan dampaknya. Banyak pihak yang berpendapat bahwa defisit anggaran berdampak positif karena memang pemerintah sendiri yang telah melakukan kebijakan anggaran defisit untuk memancing pertumbuhan ekonomi, tapi juga banyak pihak yang menyatakan defisit anggaran berdampak negatif karena berakibat bertambahnya pengeluaran negara yang semakin menjauhi angka pendapatan nasional.
Nizar Mustofa_3.C3
B. Rumusan Masalah
Dari sedikit pernyataan dari uraian latar belakang di atas, maka dapat menimbulkan rumusan masalah, antara lain:
1. Apakah yang dimaksud dengan defisit angaran/anggaran defisit?
2. Apakah faktor terjadinya anggaran defisit?
3. Perlukah pemerintah membuat kebijakan anggaran defisit?
4. Bagaiamanakah dampak dari anggaran defisit terhadap perekonomian secara makro?
C.
Batasan Penulisan
Untuk memfokuskan pembahasan pada karya tulis makalah ini, penulisan makalah hanya memuat isi mengenai ruang lingkup definisi defisit anggaran, faktor, serta dampaknya terhadap perekonomian makro di sebuah negara, khususnya sedikit studi kasus kepada perekonomian Indonesia.
D.
Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan penulisan makalah kali ini adalah sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Ekonomi dan Bisnis Syariah semester III Universitas Islam Kadiri kediri.
Manfaat dari penulisan makalah adalah sebagai bahan ajar dan juga memberikan pemehaman kepada mahasiwa khususnya penulis mengenai perekonomian negara, khusunya dalam hal anggaran negara.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Kebijakan Anggaran
Setiap tahun setiap negara pasti melakukan pengaggaran tentang pendapatan dan pengeluaran kas negara. Di Indonesia, kegiatan tersebut dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah pusat dengan istilah APBN atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Dalam setiap hasil penganggaran tersebut selalu menghasilkan hasil nilai yang selanjutnya akan melahirkan sebuah kebijakan anggaran.Kebijakan anggaran terbagi menjadi beberapa jenis kebijakan. Macam-macam kebijakan anggaran tersebut merupakan sebuah pilihan dalam kebijakan. Kebijakan-kebijakan tersebut sangat membantu khususnya pada persoalan anggaran ini diambil dan contoh-contoh terjadinya. Macam-macam kebijakan anggaran antara lain Kebijakan Anggaran Berimbang, Kebijakan Anggaran Defisit, dan Kebijakan Anggaran Surplus.
1. Kebijakan Anggaran Berimbang
Kebijakan anggaran berimbang adalah kebijakan yang menghendaki atau mengingunkan adanya keseimbangan antara pendapatan negara dengan apa yang dikeluarkan negara. Kebijakan anggaran berimbang lebih baiknya dilakukan pada kondisi perekonomian negara yang stebil yang pengeluaran yang dilakukan harus sesuai dengan kemampuan. Kebijakan anggaran berimbang pada umumnya pada umumnya dilakukan dengan pola pembiayaan yang berasal dari pinjaman yang ada di luar negeri (eksternal financing) jika terjadi defisit.
2. Kebijakan Anggarn Defisit
lebih besar dari pada posisi penerimaan negara dalam waktu satu tahun anggaran. Karena pengeluaran lebih besar dari peneriman maka negara mengalami defisit (kekurangan) anggaran. Untuk menutup kekurangan ini maka pemerintah melakukan pinjaman luar negeri atau dengan mencetak uang yang sebenarnya akan berakibat inflasi (kenaikan harga). Pada dasarnya kebijakan anggaran defisit dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui penggunaan pinjaman uar negeri yang optimal dengan asumsi tingkat korupsi rendah untuk menutup kekurangan anggaran yang terjadi. Kebijakan ini dipakai Indonesia sampai pada masa akhir transisi (1 April-Desember 2009). Mulai saat ini secara mendasar pemerintah sudah berupaya engurangi defisit anggran yang terjadi, misalkan penghematan energi listrik dan bahan bakar minyak, penggunaan subsidi pemerintah, dan pengurangan ketergantungan pada utang luar negeri melalui pengoptimalan sumber daya yang ada dan gerakan cinta produk dalam negeri.
3. Kebijakan Anggaran Surplus
Kebijakan anggaran surplus adalah belanja negara lebih kecil daripada penerimaan negara yang tersedia. Kondisi ini digunakan untuk mengatasi perekonomiana yang inflasif, yaitu ketika nilai uang semakin merosot karena kenaikan harga berang secara umum. Maka dari itu muncul usaha pemerintah untuk mengurangi jumlah peredaran uang yang lambat laun akan mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat dan akan memberi pengaruh pada turunya harga. Jika harga tak terkontrol dengan baik maka timbul deflasi, yaitu harga turun secara umum.
4. Kebijakan Anggaran Dinamis
absolit adalah munculnya peningkatan jumlah pada tabungan pemerintah yang bertujuan untuk menggali sumber daya dalam negeri untuk pembiayaan pembengunan. Sedang dinamis relatif adalah presentase dalam ketergantungan pembiayaan perekonomian nasional terhadap bantuan pada daerah di luar negeri atau utang yang ada di liar negeri semakin kecil.
B. Faktor Terjadinya Anggaran Defisit
Seperti pada kabar beberapa tahun terakhi, APBN Indonesia selalu mengalami defisit. Pada tahun 2005 defisit mencapai Rp 14,4 triliun yang jumlahnya terus melonjak drastis sampai APBN tahun 2015 yang defisitnya mencapai Rp 245 truliun dengan defisit sebesar 2,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Belanja yang bersifat ekspansif ini dimaksudkan agar APBN dapat mngakselerasi pertumbuhan ekonomi, berbeda dengan kebijakan defisit siklis yang hanya dilakukan disaat perekonomian mengalami kontraksi, kebijakan defisit yang bersifat struktural yang menetapkan defisit anggaran dalam jangka waktu tertentu, membuat stok utang pemerintah semakin menumpuk, sehingga pemerintah tidak mampu membiayai bunga utang dan cicilanya.
Akibantnya pemerintah dihadapkan pada keputusan menambah utang untuk membiayai pembangunan, belanja pegawei, maupun membayar bunga hutang. Dalam sebuah istilah seperti ‘gali lobang tutup lobang’ karena pinjam uang untuk bayar utang. Beberapa penyebab lain yang menyebabkan defisit anggaran antara lain yaitu berupa faktor positif dan faktor negatif, antara lain:
1. Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi
kerja (employment creation). Jika lapangan kerja tercapai diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat yang ekhirnya muncul permintaan agregat, sehingga merangsang perusahaan untuk meningkatkan produksinya. Untuk mempercepat pembangunan diperlukan investasi yang besar. Apabila dana dalam negeri tidak mencukupi biasanya negara melakukan pinjaman ke luar negeri agar tidak membebani warga negara apabila kekurangan itu ditutup melalui kenaikan pajak. Karena negara juga mempunyai tugas untuk melindungi dan mengayomi warga negaranya dengan berbagai program-programnya seperti program pembangunan sarana transportasi, program yang berkaitan dengan hankam, pembangunan fasilitas umum, dan program bantuan kemiskinan.
2. Pemerataan Pendapatan Masyarakat
Pengeluaran ekstra juga dilakukan dalam rangka pemerataan di seluruh wilayah. Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan kondisi ekonomi yang berbeda-beda. Untuk memepertahankan kestabilan politik, persatuan dan kesatuan bangsa, negara harus mengeluarkan dana untuk pengeluaran subsidi transportasi untuk wilayah terpencil, sehingga mereka yang tinggal di daerah-daerah terpencil memiliki akses untuk melakukan transportasi ke daerah-daerah yang lebih maju demi pemerataan ekonomi.
3. Lemahnya Nilai Tukar
membengkak. Sebagai contoh APBN tahun 2000, disusun dengan asumsi kurs rupiah terhadap dollar AS sebesar Rp. 7.100,- yang dalam perjalanan tahun anggaran telah mencapai angka Rp. 11.000,- lebih per US$. 1.00. artinya bahwa pembayaran cicilan pokok dan bunga pinjaman yang diambil dari APBN bertambah , lebih dari yang dianggarkan semula.
4. Pengeluaran Karena Inflasi
Apabila terjadi inflasi, dengan kenaikan harga-harga itu berarti bahwa biaya pembangunan juga akan meningkat, sedangkan anggaranya tetap sama. Semuanya ini akan berakibat pada penurunan kuantitas dan kualitas program, sehingga anggaran perlu direvisi. Apabila tidak maka negara terpaksa akan mengeluarkan dana untuk mengikuti harga demi terus berjalanya proyek.
5. Pengeluaran Akibat Krisis Ekonomi
Seperti yang terjadi di Indonesia sekitar tahun 1997 yang dari krisis ekonomi tersebut mengakibatkan banyaknya pengangguran dari 34,5 juta orang pada tahun 1996 menjadi 47,9 juta pada tahun 1999. Sedangkan penerimaan pajak menurun, akibat menurunya sektor-sektor ekonomi sebagai dampak krisis itu, padahal negara harus bertanggung jawab untuk menaikan daya beli masyarakat yang tergolong miskin. Dalam hal ini negara terpaksa mengeluarkan dana ekstra untuk program-program kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat.
6. Realisasi yang Menyimpang dari Rencana
sendiri tapi ada kaitanya dengan proyek lain. Kalau hal ini terjadi, negara aharus menutup kekurangan agar kinerja pembangunan dapat tercapai sesuai rencana.
7. Korupsi
Indoesia cukup terkenal dengan negara dengan kasus korupsi, yaitu urutan ke-68 dari 175 negara. Sebagian besar pejabat negara merupakan pelaku korupsi yang selalu mencuri uang negara. Dengan demikian pendapatan bersih negara bisa berkurang karena tidak sampai pada pemasukan negara.
8. Penggunaan Anggaran yang Sangat Boros
Dana angaran yang sudah ada selama ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu dengan boros. Banyak dana yang disalurkan pada kebutuhan-kebutuhan yang kurang produktif dan hanya menghabiskan dana yang ada tersebut tanpa adanya pengaruh kepada perkembangan negara.
9. Subsidi yang Tidak Tepat Sasaran
Para pemerintah Indonesia sat ini kerap memberikan kebijakan berupa pemberian subsidi pada setiap produk yang akan dibelanjakan oleh masyarakat Indonesia. Hal ini dikenal akan berdampak baik bagi masyarakat karena akan membantu masyarakat dalam membeli roduk yang akan dibelanjakan. Namun kebijakan yang dikeluarkan pemerintah ini seringkali tidak tepat sasaran dan akhirnua hanya menghabiskan dana APBN. Hal ini dapat terjadi karena kurang selektifnya pemerintah daerah dalam mendistribusikan subsidi kepada mereka para masyarakat yang berhak, sehingga pendistribuasian subsidi sering diterima juga oleh mereka yang sebenarnya tidak berhak menerima.
Seperti yang kita ketahui pada beberapa tahun terakhir ini, Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) selalu mengalami defisit. Pada tahun 2005 defisit mencapai Rp 14,4 triliun yang jumlahnya terus melonjak drastis pada tahun 2015 yang mencapai Rp 245 triliun dengan prosentase defisit 2,2% dari Produk Domestik Bruto. Angka defisit anggaran terus melonjak tinggi hingga mendekati batas 3% pada APBN tahun 2017 ini dengan prosentase defisit senilai 2,98% atau dengan nilai rupiah sebesar Rp 397,2 sampai Ibu Sri Mulyani pulang ke Indonesia dari Bank Dunia untuk angkat bicara. (sumber berita metro tv).
Belanja yang bersifat ekspansif ini dimaksudkan agar APBN dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Meskipun demikian berbeda dengan kebijakan defisit siklis yang hanya dilakukan di saat perekonomian mengalami kontraksi, kebijakan defisit yang bersifat struktural yang menetapkan defisit anggaran dalam jangka waktu tertentu membuat stok utang pemerintah semakin menumpuk. Apalagi sejak 2012 keseimbangan primer juga mengalami defisit. Dengan demikian sebenarnya pendapatan negara sebenarnya tidak mampu membiayai bunga utang dan cicilanya. Akibantnya, pemerintah dihadapkan keputusan menambah utang untuk membiayai pembangunan, belanja pegawei, maupun membayar bunga utang.
Defisit Anggaran meskipun telah menjadinsebuah kebijakan yang disengaja oleh pemerintah demi menambah nilai investasi untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, namu defisit anggaran juga bisa berdampak pada beberapa variabel ekonomi makro, antara lain:
1. Dampak Terhadap Tingkat Bunga
mengalami itngkat keseimbangan yang lebih tinggi atau meningkat.
2. Dampak Terhadap Neraca Pembayaran
Dalam perekonomian terbuka, defisit anggaran dapat mempengaruhi ekspor impor dari dan ke manca negara. Dengan meningkatnya tingkat bunga, investasi dlam negeri akan menurun, yang berarti peluang modal asing cenderung masuk mengalir masuk ke dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan investasi dalam negeri. Apabila ini terjadi maka defisit anggaran mempunyai dua dampak yang berkaitan yaitu defisit anggaran akan meningkatkan defisit neraca pembayaran , dengan membengkaknya defisit neraca pembayaran akan menurunkan nilai tukar dalam negeri terhadap mata uang asing. Sehingga nilai rupiah turun terhadap valuta asing selama ini bukan hanya disebabkan karena faktor psikologis tetapi juga faktor teknis.
3. Dampak Terhadap Tingkat Inflasi
4. Dampak Terhadap Konsumsi dan Tabungan
Inflasi yang diakibatkan karena defisit anggaran itu akan mengurangi pendapatan riil masyarakat. Pengurangan pada pendapatan riil masyarakat itu akan berakibat pada pengurangan konsumsi dan tabungan. Tabungan sangat penting sekali untuk mendorong investasi. Apabila pendapatan riil menurun berarti tingkat konsumsi tabungan riil juga menurun, padahal tingkat tabungan riil itu akan berpengaruh terhadap tingkat investasi. Dengan menurunya tingkat tabungan tersebut, tingkat investasi juga menurun.
5. Dampak Terhadap Pengangguran
Pengangguran berarti penurunan tingkat kesempatan kerja. Kesempatan kerja tergantung pada besarnya investasi yang dilakukan baik oleh negara maupun masyarakat. Naiknya tingkat tingkat bunga akibat dari anggaran yang defisit itu, akan berdampak menurunya gairah investasi, yang berarti banyak proyek-proyek tidak dapat dibangun, sehingga berdampak pada pemecatan tenaga kerja atau kurangnya lapangan kerja. Dengan demikian defisist anggaran juga bisa berdampak pada peningkatan pengangguran.
6. Dampak Terhadap Tingkat Pertumbuhan
Selain dari enam poin yang telah diuraikan di atas, studi tentang dampak dari defisit anggaran pemerintah terhadap perekonomian terjadi perdebatan dalam teori maupun hasil penelitian empiris. Pump-priming theory menyatakan bahwa defisit angaran pemerintah ddiperlukan untuk mendorong kegiatan ekonomi nasional agar perekonomian terhindar dari kondisi resesi yang berkepanjangan. Malalui kebijakan pembiayaan defisit anggaran pemerintah dimungkinkan tercipta lapangan kerja (employment creation). Jika lapangan kerja dapat diciptakan akan meningkatkan daya beli masyarakat dan permintaan agregat meningkat. Hal ini akan merangsang perusahaan untuyk meningkatkan produksinya untuk melayani permintaan pasar.
Kenaikan permintaan agregat juga terjadi melalui peningkatan pengeluaran masyarakat, pandangan ekonom Keynesian menyatakan bahwa kebijakan defisit anggaran pemerintah yang dibiayai dengan pemotongan pajak menyebabkan wajib pajak merasa penghasilan setelah pajak meningkat, peningkatan pendapatan setelah pajak ini akan direspon dengan melakukan pengeluaran yang lebih banyak. Kenaikan akan meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa dan ini akan mendorong aktifitas ekonomi.
Ekonomi klasik berpandangan bahwa defisit anggaran pemerintah dapat merugikan perekonomian. Defisit anggaran pemerintah dengan menurunkan tarif pajak akan meningkatkan suku bunga dan menurunkan investasi swasta. Akibatnya pertumbuhan ekonomi akan turun ( crowding-out). Namun dalam penelitian Eisner (1989) pada perekonomian Amerika pada periode tahun 1956-1984 memperoleh bukti bahwa defisit angarn pemerintah berpengaruh positif terhadap investasi domestik. Dengan kata lain, pada periode tersebut kebijakan anggaran pemerintah mengakibatkan “Crowding-in” bagi perekonomian.
Jadi untuk menjawab sebuah pertanyaan “Apakah anggaran pemerintah defisit akan membahayakan perekonomian?” baik secara teorotis maupun hasil penelitian empiris dapat dikelompokan ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama berpendapat bahwa defisit anggaran pemerintah dapat berpengaruh positif terhadap perekonomian. Chrystal dan Thornton (1988) berpendapat bahwa defisit anggaran pemerintah diperlukan untuk mencapai dua tujuan ekonomi makro, yaitu pengerjaan penuh dan tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi. Teori Pump-priming
menyatakan bahwa defisit anggaran pemerintah diperlukan untuk menyelamatkan perekonomian dari kondisi resesi. Abimanyu (2005) berpendapat bahwa defisit anggaran pemerintah merupakan stimulusfiskal yang bersifat ekspansif. Kebijakan fiskal ekspansif diperlukan apabila perekonomiana pada kondisi lesu, yanag ditandai dengan menurunya investasi swasta. Pada kondisi inilah peranan pemerintaah sangat diperlukan sebagai stimulator ekonomi.
Kelompok kedua berpendapat bahwa defisit anggaran pemerintah memiliki sedikit pengaruh atau bahkan tidak berpengaruh terhadap output nasional. Kebijakan defisit anggaran pemerintah hanya pemindahan penguasaan sumberdaya dari swasta kepada pemerintah. Menurut hipotesis
Richardium equivalence, kebijakan defisit anggaran pemerintah yang ditempuh melalui penurunan beban pajak tanpa menurunkan pengeluaran pemerintah, direspon masyarakat dengan tidak meningkatkan konsumsi yang dapat meningkatkan permintaan agregatif. Kenaikan pendapatan disponsibel masyarakat akibat penurunan pajak digunakan masyarakat untuk meningkatkan tabungan. Masyarakat memiliki ekspektasi bahwa pada tahun yang akan datang pemerintah meningkatkan pajak untuk membayar hutang saat ini. Akibatnya kebijakan defisit anggaran belanja pemerintah tidak berpengaruh terhadapperekonomian. Penelitian empiris dilakukan oleh Adji (1995) yang dikutip dalam Maryatmo (2004) menggunakan data perekonomian Indonesia tahun 1971-1992 menyimpulkan bahwa utang pemerintah tidak berpengaruh terhadap konsumsi masyarakat. Saleh (2002) melakukan penelitian tentang pengaruh aggaran pemerintah terhadap perekonomian Indonesia menggunaan data tahun 1969-1997bnebyimpulkan bahwa defisit anggaran pemrintah yang dibiayai dengan utang luar negeri tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan konsumsi rumah tangga.
ekspansif. Pengeluaran pemerintah yang terjadi saat ini untuk pembiayaan proyek yang menggunaan daya sangat besar, misalnya membangun insfrastruktur, akan menghasilkan output pada waktu yang lebih lama, sementara saat ini pemerintah sudah mengeluarkan yang antara lain untuk membayar upah buruh. Hal ini akan meningkatkan daya beli masyarakatdan permintaan masyarakat terhadap output meningkat. Kenaikan permintaan output tidak diimbangi dengan kenaikan penawaran akibat adanya time lag antara pengeluaran pemerintah untuk proyek dengan output proyek tersebut mengakibatkan harga barang naik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa defisit anggaran pendapatan den belanja pemerintah berakibat meningkatnya laju inflasi.
Pada masa di mana perekonomian mengalami kenaikan harga (inflasi) akan muncul usaha pemerintah atu bank sentral untuk menurunkan laju inflasi. Kebijakan yang dipilih oleh bank sentral biasanya dengan menaikan suku bunga. Suku bunga merupakan salah satu faktor yang menentukan tinggi rendahnya investasi, disamping faktor lain seperti regulasi pemerintah, keamanan, dan lainya. Kenaikan suu bunga berdampak terhadap menurunya gairah perusahaan melakukan investasi. Menurunya investasi akan mengurangi kemampuan perekonomian dalam menciptakan lapangan kerja dan pada akhirnya akan menimbulkan pengangguran.
D. Cara Mengendalikan Defisit Anggaran
Batas defisit anggaran diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Pada pasal 12 ayat (3) Undang-undang tersebut, yang menyebutkan bahwa defisit anggaran dibatasi maksimal 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Selain mempertimbangkan batasan dari undang-undang, pemerintaha juga perlu memikirkan dampaknya terhadap pengelolaan anggaran ke depan.
belanja APBN. Untuk itu APBN harus didesai surplus dan pemerintah harus mengurangi beban hutang di APBN secara berkala. Adapun cara yang dapat ditempuh adalah antara lain:
1. Memaksimalkan potensi penerimaan pajak
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pajak menjadi masalah yangsering muncul dalam anggaran penerimaan negara. Selama tiga tahun pajak bisa mencapai hampir Rp 200 triliun. Diantara beberapa penyebabnya adalah terget penerimaan pajak, yang sangat berkaitan dengan asumsi makro, ditetapkan terlalu optimis. Akibatnya realisasi penerimaan pajak selalu lebih rendah dari target karena pertumbuhan ekonomi pada kenyataanya memang lebih rendah dari yang diasumsikan. Proyeksi asumsi makro yang ditetapkan pemerintah dan DPR biasanya banyak didasarkan pada keputusan politik, dan tidak bekerja sama dengan lembaga independen yang melakukan pengkajian terhadap masalah fiskal dan ekonomi.pemerintah perlu belajar dari negara Inggris, Kanada, dan Korea Selatan dimana ahli atau lembaga independen mempunyai peran strategis untuk memberikan saran proyeksi ekonomi terhadap dampak kebijakan fiskal. Maka untuk menyelesaikan masalah pajak perlu bekerjasama antara Direktorat Jenderal Pajak, Dewan Perwakilan Rakyat, lembaga independen, dan masyarakat luas.
2. Memaksimalkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP)
13%. Jika dapat memaksimalkan tarif yang lebih kompetitif tentunya penerimaan PNBP akan lebih besar. Selain itu, pengawasan terhadap perusahaan tambang juga wajib dilakukan agar konsisten membayar tarif royalty yang telah ditentukan oleh pemerintah.
3. Mengawasi instrumen utang
Salah satu instrumen utang pemerintah adalah obligasi negara, sebagian dari obligasi tersebut menggunakan floating rate yang sangat tergantung pada kondisi fundamental ekonomi. Salah satu indikatornya adalah inflasi. Jika inflasi tingi maka imbal hasil (yield) obligasi cenderung naik karena ekspektasi investor terhadap kenaikan inflasi. Imbal hasil yang meningkat akan berpengaruh terhadap peningkatan beban anggaran.
4. Restrukturisasi utang
Ketergantungan pemerintah untuk membiayai anggaran yang defisit melalui utang perlu dikurangi mulai dari sekarang agar di masa depan Indonesia tidak terbelenggu dengan bayangan utang yang tak kunjung usai. Kita semestinya tidak mewarisi generasi mendatang dengan utang yang justru menjadi beban perekonomian.
5. Menegakan aturan tentang korupsi
Penegakan aturan ini diterapkan pemberlakuan undang-undang korupsi bagi oknum yang melakukan tindak korupsi. Transparasi antara pihak yang berkepentingan dan adanya kejujuran bagi para penegak hukum.
6. Menggunakan dana anggaran seperlunya saja.
Dana anggaran sebaiknya digunakan untuk membiayai hal-hal yang diperlukan, serta untuk membuatprogram atau membangun proyek yang kedepanya bisa membawa manfaat.
7. Mengalokasikan dana anggaran yang tepat sasaran.
BAB III
KESIMPULAN
Yang dimaksud kebijakan anggaran defisit adalah kebijakan yang menghendaki atau menginginkan posisi pengeluaran negara lebih besar dari pada posisi penerimaan negara dalam waktu satu tahun anggaran. Kebijakan pemerintah melakukan defisit pembiayaan anggaran banyak menimbulkan kontrofersi. Banyak ahli ekonomi yang berpendapat bahwa defisit anggaran pemerintah dapat berpengaruh buruk bagi perekonomian. Namun banyak juga ahli ekonomi yang berpendapat bahwa defisit anggaran pemerintah diperlukan sebagai stimulus bagi perekonomian, sehingga perekonomian dapat berjalan dengan baik. Kedua argumentasi ini sama-sama mendapat dukungan dari hasil penelitian empiris.
Hasil dari pemikiran penulis terhadap penulisan maklah ini menghasilkan gagasan bahwa defisit anggaran belanja pemerintah berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi pada tahun yang sama dan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi pada tahun berikutnya. Gagasan ini sesuai dengan teori
Prump-priming bahwa defisit anggaran pemerintah diperlukan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi.
DAFTAR PUSTAKA
Algifari. Tanpa tahun. Pengaruh Defisit Angaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Yogyakarta.
Artikelsiana. Macam-macam Kebijakan Anggaran.
www.artikelsiana.com/2014/12/macam-macam-kebijakan-anggaran.html. Desember 2014.
Purbo Dimas. Analisis Data APBN Negara 5 Tahun Terakhir.
www.dimaspurbowfp6.blogspot.com/2014/07/analisis-data-apbn-negara-5-tahun_71.html. 31 Juli 2014.