ANALISIS WACANA MEDIA: STUDI KASUS IKLAN PRODUK
ROKOK DI MEDIA BALIHO WILAYAH DARUSSALAM,
BANDA ACEH
Putri Wahyuni
1, Rizki Maulida
2, Evi Julianty
31
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, Center for Tobacco
Control Studies, Banda Aceh, Email: [email protected]
2
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Center for Tobacco Control Studies,
Aceh
Civil Society Task Force,
Banda Aceh, Email: [email protected]
3Evi Julianty, Mahasiswa Magister Pendidikan Fisika Universitas Negeri Jakarta,
Email: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini berfokus kepada wacana apa saja yang dikonstruksikan dalam iklan-iklan
produk rokok khususnya di media baliho di wilayah Darussalam, Banda Aceh. Dalam
konteks periklanan, elemen yang ada di dalam sebuah iklan mampu mempengaruhi
pemaknaan khalayak yang berujung kepada keinginan pembelian. Tujuan penelitian ini
adalah untuk melihat makna apa yang ingin disampaikan oleh para pengiklan produk
rokok dalam media baliho dan
sejauhmanakah implikasi posisi penempatan wilayah iklan rokok terhadap para pengakses wilayah tersebut.Penelitian ini menggunakan pendekatan
analisis wacana media Fairclough (1995) dalam mengkaji beberapa iklan terpilih. Hasil
kajian ini mendapati bahwa iklan produk rokok menggunakan elemen yang sesuai
dengan target sasarannya yang terlihat dari wilayah penempatan media iklan, serta
memanfaatkan alam bawah sadar khalayak bahwa apa yang mereka
maknai adalah apa yang akan mereka dapatkan dengan jika mengkonsumsi produk yang diiklankan.
Kata Kunci: Iklan Rokok; Baliho; Wacana Media.
1. PENDAHULUAN
Periklanan merupakan elemen yang penting dalam sebuah penerbitan media massa termasuk baliho sebagai media luar ruang.
Hal ini karena periklanan merupakan media yang akan memastikan sebuah industri perusahaan akan maju terus dan bertahan. Oleh karena itu, agar sebuah produk dapat terus diiklankan, ia perlu memiliki suatu
nilai yang bersifat kemanusiaan dan memiliki unsur-unsur yang dapat menepati keinginan pengguna. Cook (1992) menyatakan bahwa periklanan tidak hanya bertujuan untuk memberikan informasi, pengingat, mempengaruhi emosi dan sikap tetapi juga bertujuan untuk menjual produk serta mengubah tabiat masyarakat khususnya membentuk pemikiran masyarakat tentang kuasa membeli yang mereka miliki [1]. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika penempatan media iklan rokok sering ‘bermain’ di wilayah
insight (area yang tepat menyentuh psikologis konsumen).
Oleh karena hal tersebut, penelitian ini akan memfokuskan kepada iklan produk rokok di media baliho wilayah Darussalam, Banda Aceh, khususnya yang ditempatkan di jalanan sebagai akses menuju institusi pendidikan oleh para anak muda yang dimulai dengan beberapa pertanyaan dasar seperti: Makna apakah yang digunakan oleh para pengiklan produk rokok dalam media baliho? Sejauhmanakah implikasi posisi penempatan wilayah iklan rokok terhadap para pengakses wilayah tersebut?
2. LATAR BELAKANG
Periklanan merupakan salah satu pendekatan yang sering digunakan untuk memberi kesadaran terhadap suatu produk yang dikeluarkan oleh berbagai perusahaan. Menurut Pyun dan James (2011), penggunaan media seperti surat kabar, baliho, radio, televisi bahkan internet merupakan perancangan promosi yang sangat efektif untuk mendorong keberhasilan suatu produk [2]. Penelitian yang pernah dilakukan menyatakan bahwa baliho merupakan media iklan yang ditempatkan pada posisi strategis di pusat keramaian sehingga memiliki pengaruh yang besar [3]. Baliho sebagai media luar ruang dapat dijumpai di mana pun. Media ini sering digunakan untuk mempromosikan produk atau jasa untuk menyadarkan khalayak yang disasarkan terhadap suatu produk atau jasa. Iklan yang efektif lazimnya akan menarik perhatian khalayak sekaligus membantu mereka
memproses informasi sehingga membentuk sikap positif dan akhirnya membeli produk yang diiklankan. Menurut Geuens et al. (2009), suatu produk yang diiklankan mampu mempengaruhi pemikiran khalayak sehingga mereka meletakkan kepercayaan terhadap produk tersebut [4].
Khalayak yang menjadi sasaran akan terpengaruh dengan suatu iklan jika pesan yang disampaikan oleh iklan tersebut dapat menarik perhatian mereka, seperti tempat di mana iklan tersebut ditempatkan. Jika hal ini diperhatikan dengan seksama, maka akan menimbulkan pengharapan dari khalayak terhadap produk yang diiklankan. Iklan rokok bermain di wilayah insight (area yang tepat menyentuh psikologis konsumen). Sehingga begitu melihat iklan, konsumen langsung berasosiasi dengan subjek dan topik dalam iklan.
yang akan mengganti mereka yang berhenti merokok atau meninggal akibat penyakit terkait rokok.
Dalam proses penyampaian makna suatu pesan periklanan, khalayak memainkan peran aktif dalam memberikakan umpan balik berkaitan dengan pesan yang tertera dalam sebuah iklan (Stuart Hall, 1972) [7]. Menurut Stuart Hall, pesan yang sama dapat diterima atau diterjemahkan oleh khalayak lebih dari satu cara dan ia menimbulkan berbagai efek. Terdapat tiga jenis khalayak dalam usaha mereka memberi makna kepada suatu pesan, pertama ‘
dominant-hegemonic position’,
yaitu khalayak
menerima makna dari suatu pesan dan
akan mengkodkannya kembali sesuai
dengan makna yang dimaksudkan oleh
pengirim. Kedua ‘
negotiated position’,
yaitu khalayak menerima dan
memahami pesan yang hampir sama
dengan apa yang dimaksudkan
pengirim, tetapi dalam waktu yang sama
khalayak dapat memilih untuk menolak
pesan tersebut atau memilih menerima
pesan yang lain. Ketiga, ‘
oppositional
position’
, yaitu khalayak menerima dan
menterjemahkan makna pesan tersebut
tetapi dalam waktu yang sama mereka
menolak pesan tersebut karena
mempunyai pendapat yang berbeda.
Keadaan ini disebabkan oleh pengaruh
lingkungan, jenis kelamin, umur,
pekerjaan, pengalaman, keyakinan dan
kemampuan khalayak. Sehingga tidak
jarang muncul pengharapan dari
khalayak untuk mendapatkan apa yang dia maknai saat melihat iklan produk tersebut tanpa memperdulikan kualitas dari produk.
3. METODE DAN KERANGKA TEORI
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Rose (2001), metode kualitatif mempunyai penekanan terhadap makna dan signifikan yang lebih sesuai. Selain itu, metode penelitian jenis ini juga memfokuskan makna atau maksud dalam konteks yang
sebenarnya sehingga dapat memenuhi kebutuhan penelitian [8].
Sebanyak 2 iklan produk rokok yang terpilih untuk dianalisis menggunakan analisis wacana media
Fairclough (2011) [9].
Menurut Fairclough, model analisis
wacana dapat dilakukan dengan
menggunakan 3 dimensi, iaitu teks,
praktik wacana dan praktis sosial yang
memerlukan proses analisis yang
berbeda pada tiap dimensi. Sebuah teks
(atau objek) baik lisan, tulisan atau
visual akan dianalisis terlebih dahulu
secara deskriptif. Kemudian, proses
analisis seterusnya berorientasikan
kepada masalah interpretif dengan
menanyakan
tentang
praktik
pewacanaan yang digunakan dalam
proses penciptaan dan penerimaan oleh
masyarakat terhadap teks (atau objek)
analisis yang ada. Selanjutnya proses
terakhir, merupakan sebuah penelitian
terhadap lingkungan dan faktor-faktor
sosiobudaya, sejarah dan politik yang
dominan dalam masyarakat sehingga
mempengaruhi proses pewacanaan teks
(atau objek) sosial tersebut.
masyarakat yang mengkonstruksi
wacana sosiobudaya, serta budaya dan
politik itu sendiri. Inilah kerangka teori
yang digunakan dalam menganalisis
permasalahan iklan rokok yang
menggunakan media baliho yang
mensasarkan khalayak sesuai wilayah
penempatan media baliho dengan
kritis.
Gambar 1.
Kerangka Analisis Wacana
Media
Fairclough.
4. ANALISIS
4.1 Iklan Rokok Magnum Blue
Gambar 2. Baliho Iklan Rokok PT HM Sampoerna Tbk di Wilayah Darussalam,
Banda Aceh.
Sumber: Pengamatan Langsung Peneliti April-Mei 2015
4.1.1 Teks
Dalam iklan, teks yang digunakan adalah “MAGNUM BLUE” dan “STYLE TANPA BATAS”. MAGNUM adalah sebuah kata dalam bahasa Latin yang bermakna karya besar yang dapat dihasilkan dalam kehidupan, atau dengan kata lain MAGNUM OPUS [10]. Sebagai sebuah karya besar, ‘MAGNUM’ tidak hanya besar dalam skala, namun juga dapat memberi perubahan ke arah yang positif bagi kehidupan orang lain. Selanjutnya “BLUE”, merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris yang berarti biru. Menurut Henderson dkk (2008) warna biru melambangkan warna yang tenang [11]. Orang yang penyuka warna biru dianggap memiliki kepribadian yang tenang dan cenderung mengatasi masalah dengan kepala dingin. Jika kedua kata digabungkan; MAGNUM BLUE, dapat bermakna bahwa sebagai manusia yang berkehidupan, harus mempunyai karya dan produktifitas yang dapat berguna kepada orang lain agar kehidupan (pribadi dan orang lain) menjadi tenang dan tentram.
produk nya ke masyarakat dengan latar belakang pendidikan menengah ke atas yang boleh jadi mengerti dan memahami arti dari teks yang digunakan.
Lalu teks selanjutnya, “STYLE TANPA BATAS”. “STYLE” merupakan kata dalam bahasa Inggris yang berartikan gaya. Gaya adalah bentuk atau model yang dalam konteks ini lebih disesuai dengan gaya hidup. Sedangkan “TANPA BATAS” merupakan kata dalam bahasa Indonesia yang berarti tidak ada batasan atau perhentian dalam melakukan suatu tindakan. Jika kalimat ini ditelaah, maka tindakan apa pun yang ingin atau sedang dilakukan oleh seorang individu tidak akan pernah berakhir. Maka, jika individu melakukan hal yang bermanfaat kepada orang lain, maka hal manfaat tersebut tidak akan pernah ada akhirnya, pun sebaliknya. Lalu apakah bermanfaat ataupun sebaliknya tersebut adalah sebuah gaya? (STYLE) yang dalam berkehidupan perlu dinampakkan kepada orang lain?
4.1.2 Praktik Wacana
Berdasarkan penempatan baliho yang berada di jalan menuju sekolah dan perguruan tinggi, para pengiklan mensasarkan produk mereka ke anak muda seperti seperti dari kalangan anak sekolah, dan mahasiswa. Penggunaan model laki-laki yang menggunakan pakaian serba putih dapat bermakna bahwa mereka (model) adalah orang yang memiliki sifat suci dan bersih. Hal ini juga dikemukakan oleh Henderson, dkk (2008) yang menyatakan bahwa warna putih adalah warna suci tanpa cela atau noda [12]. Keberadaan model di atas kapal pesiar menandakan bahwa hanya mereka adalah orang yang ‘berkelas’ dan berteman dengan sesama orang ‘berkelas’ juga.
4.1.3 Praktik Sosial Budaya
Kapal pesiar merupakan jenis kendaraan yang bernilai tinggi dan tidak sembarangan orang memiliki kapal persiar pribadi. Hanya orang-orang yang memiliki penghasilan di atas rata-rata saja yang hanya dapat memilikinya. Dengan menggunakan kapal
pesiar sebagai elemen dalam teks periklanan, iklan tersebut secara tidak langsung sudah memicu alam bawah sadar manusia bahwa dengan jika memiliki kapal pesiar maka status sosial seseorang akan meningkat, atau dengan memaknai iklan yang mereka yakini, mereka akan dapat membeli sebuah kapal pesiar (?)
4.2 Iklan Malboro
Gambar 3. Baliho Iklan Rokok Malboro di Wilayah Darussalam, Banda Aceh.
Sumber: Pengamatan Langsung Peneliti April-Mei 2015
4.2.1 Teks
menunjukkan bagaimana huruf tersebut
berani mewakili dan cenderung
merupakan fokus dari iklan.
4.2.2 Praktik Wacana
Dalam praktik wacananya, pengiklan
cenderung ingin memfokuskan mata
masyarakat ke arah merk produk
dengan bantuan warna. Tidak seperti
iklan pada umumnya yang
menggunakan beberapa elemen dalam
membuat iklan produk, iklan Malboro
melihat, terutama wanita. Wanita sangat
‘tertarik’ dengan warna ini dikarenakan
kamuflase terhadap bekas lipstik yang
menjadi kosmetik dasar kaum
perempuan [13]. Jika kita telaah ada
kemungkinan wanita akan tertarik dan
membeli produk tersebut.
5. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis yang dilakukan, walau terdapat perbedaan dalam penggunaan wacana-wacana dalam penyampaian iklan produk rokok. Tetapi, kedua iklan terlihat mempunyai tujuan yang sama, iaitu sama-sama berusaha menarik masyarakat untuk membeli produk dengan memanfaatkan wacana penyampaian seperti warna yang mencolok, format tulisan yang menarik, bahasa, model dan sebagainya.
Selain itu, dibagian lain, periklanan juga telah mengkompromikan sosiobudaya setempat. Hal tersebut terlihat dari penggunaan bahasa, model, dan teknik-teknik yang dibuat dengan sangat bagus dan rapi, iaitu dengan memanfaatkan alam bawah sadar khalayak untuk membeli, sehingga tidak mempertimbangkan lagi apakah makna dibalik iklan dan kualitas dapatkan dengan mengkonsumsi produk yang diiklankan. Hal ini didukung dengan hasil penelitian oleh Komnas Perlindungan Anak (2012), dimana anak dan remaja
Advertising
. New York: Routledge
[2]
Pyun, D,Y & James, J,D. 2011. Attitude
toward advertising through sport: A
theoretical framework.
Sport
Management Review
14: 33-41.
[3]
World Health Organization.
WHO
2011. Emotional advertising:
Revisting the role of product
category.
Journal of Business
Research.
64: 418-426.
[5]
Chami, Mardiyah dkk. A Giant Pack of
Lies Bongkah Raksasa Kebohongan:
Menyorot Kedigdayaan Industri
Rokok di Indonesia. Jakarta: KOJI
Communications & Tempo Institute,
2011.
[6]
Komisi Nasional Perlindungan Anak,
Maret 2012.
[7]
Hall, S. 1972.
Culture, Media,
Language: Working Papers in Cultural
Studies
. Routledge.
[8]
Rose, G. 2001.
Visual Methodologies:
An Introduction to the Interpretation
of Visual Materials
. London: Sage
Publications.
[9]
Fairclough, N. 2011.
Critical Discourse
Analysis
. Routledge.
Endro.staff.umy.ac.id/?p=454. Endro
Dwi Hatmanto, December 13, 2012
[11]
Henderson, P,W., Cote, J,A., Schmitt, B.
2008. Building strong brands in asia:
selecting the visual components of
image to maximize brand strength.
International Journal of Research in
Marketing
20: 297-313.
[12]
Henderson, P,W., Cote, J,A., Schmitt, B.
2008. Building strong brands in asia:
selecting the visual components of
image to maximize brand strength.
International Journal of Research in
Marketing
20: 297-313.
[13]
Geuens, M., Pelsmacker, P,D., Faseur, T.
2011. Emotional advertising:
Revisting the role of product
category.
Journal of Business
Research.
64: 418-426.
[14]