TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA TENTANG BAHAYA MEROKOK DI DESA MAMBULILLING KECAMATAN MAMASA KABUPATEN MAMASA
The Level of Adolescents Knowledge About the Dangers of Smoking in Village Mambulilling District of Mamasa Regency of Mamasa
Yasriani Paulus Sudi1, Mappeaty Nyorong1, Shanti Riskiyani1 Bagian Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM Universitas Hasanuddin ([email protected], [email protected], [email protected],085299571778)
ABSTRAK
Hampir 50% remaja di dunia merokok. Perilaku merokok pada remaja umumnya semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangan yang ditandai meningkatnya frekuensi dan intensitas merokok yang akhirnya membuat kecanduan nikotin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang bahaya merokok di Desa Mambulilling Kecamatan Mamasa Kabupaten Mamasa. Penelitian ini merupakan penelituan kualitatif dengan rancangan studi fenomenologi. Informan dalam penelitian ini adalah remaja di desa Mambulilling sebanyak sembilan orang, yang dipilih berdasarkan definisi konseptual penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada tingkat tahu, remaja memahami pengertian merokok dari kegiatan berdasarkan pengalaman yang dirasakan pada saat merokok. Adapun zat-zat yang terkandung dalam rokok, remaja mampu menyebutkan beberapa zat seperti tar, nikotin, karbon monoksida. Pada tingkat paham, umumnya para informan menyimpulkan dampak ini berdasarkan pengalaman mereka setelah mengkonsumsi rokok, seperti ketagihan dan penyakit yang sering dijumpai dalam lingkungan.Tingkat pengetahuan informan hanya berada pada tingkat paham karena Informan mengetahui bahwa terdapat dampak negatif dari kebiasaan merokok. Namun, informan belum memahami secara mendalam, hal ini diperkuat dengan rendahnya minat untuk berhenti merokok pada remaja.
Kata kunci : Tingkat pengetahuan, remaja, bahaya merokok
ABSTRACT
Almost 50% of teenagers in the world of smoking. Smoking behavior in adolescents has increased generally in accordance with the stage of development marked increase in the frequency and intensity of smoking that finally makes nicotine addiction. This research aims to determine the level of knowledge about the dangers of smoking teenagers in the village Mambulilling , Mamasa District, Regency of Mamasa. This research is a qualitative research with a phenomenological study design. Informants in this study were teenagers in the village Mambulilling many as nine people, who were selected based on the definition of a conceptual study. The results of this research indicate that the level of knowledge, teenagers understand about smoking and the meaning of the activities based on the experience when smoked. The substances contained in cigarettes, teenagers were able to mention a few substances such as tar, nicotine, carbon monoxide. At the level of understanding, the informant understands the dangers of smoking which includes the effects of the substances contained in cigarettes. Generally, the informants conclude this impact based on their experience after the consumption of cigarettes, such as addiction and diseases that are common in the environment. The level of informants knowledge just there are at the level of understanding because the informants know that the are negative effect of smoking.however, the informants does not understand the danger of smoking in depth. This is reinforced by the low interest for smoking cessation in adolescents.
Keywords: The level of knowledge,teenagers, the dangers of smoking
PENDAHULUAN
Merokok merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas prematur paling penting pada populasi dunia yang seharusnya bisa dicegah. Penelitian Burn angka kematian dini ini diperkirakan mencapai 4,8 juta orang setiap tahunnya di seluruh dunia pada tahun 2000 dengan 2,4 juta orang di antaranya terjadi di negara berkembang dan sisanya terjadi di negara-negara maju.1 Angka itu kini
meningkat menjadi 5,4 juta kematian setiap tahunnya pada tahun 2006. WHO memperkirakan angka tersebut masih akan terus naik dan mencapai 10 juta kematian per tahun pada tahun 2030. Data hasil penelitian Streppel, et al., menunjukkan bahwa perilaku merokok dapat mengurangi angka harapan hidup sampai 8,8 tahun.2 Hasil penelitian Barber et al., di Indonesia, menurut data hasil laporan
Lembaga Demografi Universitas Indonesia, jumlah perokok mencapai 57 juta orang. Diperkirakan lebih dari separuh dari jumlah itu akan mengalami kematian akibat berbagai macam penyakit yang ditimbulkannya dalam jangka panjang, dengan rata-rata 427.948 kematian per tahun.3
Merokok tidak lepas dari pergaulan remaja masa kini. Hal ini dipertegas data WHO yang mengatakan hampir 50% remaja di dunia merokok. Perilaku merokok pada remaja umumnya semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangan yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas merokok yang akhirnya membuat kecanduan nikotin. Menurut data profil tembakau Indonesia tahun 2008 bahwa keinginan merokok diindikasi meningkat diusia muda terutama pada usia 9-19 tahun dan kecenderungan tinggi merokok diantara 15-19 tahun. Di Jakarta menunjukkan bahwa terdapat 64,8% pria dengan usia diatas 13 tahun adalah perokok. Jumlah perokok laki-laki jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.4 Kecenderungan merokok pada laki-laki paling tinggi terjadi
pada usia 15-19 tahun, dimana ada sebanyak 49,8% remaja laki-laki di Indonesia umumnya mengkonsumsi 11-20 batang/hari dan 5,6% remaja laki-laki yang mengkonsumsi lebih dari 20 batang/hari.5
Salah satu faktor lingkungan penting yang mempengaruhi seseorang untuk mulai merokok adalah iklan. Nichter dkk mengatakan bahwa iklan rokok di Indonesia adalah iklan yang sangat agresif dan inovatif di dunia. Dalam iklan-iklan perilaku merokok digambarkan sebagai lambang kematangan, kedewasaan, popularitas dan bahkan lambang kejantanan dan kecantikan. Besarnya pengaruh iklan rokok pada berbagai peristiwa olahraga yang melibatkan wanita, seperti pemain tenis. Iklan yang menyesatkan, antara lain yang menghubungkan rokok dengan kejantanan, dunia glamour, olahraga dan sbagainya. Industri rokok seringkali menjadi sponsor pada peristiwa tertentu seperti kegiatan pertandingan olahraga, bahkan memberi beasiswa pada sejumlah mahasiswa yang dianggap berprestasi.6
Desa Mambulilling merupakan salah satu desa yang berada pada kaki Gunung Mambulilling di kecamatan Mamasa. Dengan rata-rata suhu udara sekitar 16oC, sehingga
kematian dan pesta lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja di Desa Mambulilling tentang bahaya merokok.
BAHAN DAN METODE
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi fenomenologi. Penelitian ini dilakukan di desa Mambulilling, salah satu desa di Kabupaten Mamasa yang dilakukan pada bulan Maret sampai April tahun 2013. Informan dalam penelitian ini adalah remaja sebanyak 9 orang. Informan yang dipilih dengan mengidentifikasikan berdasarkan defenisi konseptual penelitian, informan adalah remaja yang diambil menurut BKKBN pada tahapan usia kedua yaitu remaja yang berusia 14-18 tahun dan belum menikah dengan kriteria pernah merokok dan sampai saat ini masih merokok. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam dan observasi. Data yang diperoleh dari wawancara mendalam dan observasi dilakukan secara manual sesuai dengan petunjuk pengolahan data kualitatif serta sesuai dengan tujuan penelitian ini dan selanjutnya dianalisis dengan metode analisis taksonomi. Penyajian data dalam bentuk narasi.
HASIL
Informan yang terlibat dalam penelitian ini yaitu remaja yang tinggal dan menetap di Desa Mambulilling, informan yang dipilih adalah remaja yang masih merokok yang berusia antara 14 sampai 18 tahun dan berdomisili di Desa Mambulilling. Semua informan sampai saat ini masih merokok, bila dilihat dari jenis pekerjaan, 6 orang sebagai siswa, 1 orang sebagai tukang ojek, dan 2 orang yang tidak bekerja.
Hasil wawancara mendalam mengenai pengetahuan remaja pada tingkat tahu tentang arti merokok beragam namun yang keseluruhan menganggap adalah menghisap rokok dan untuk menghibur serta menenangkan pikiran. Berdasarkan hasil pengumpulan analisis data informan, menunjukkan bahwa dari keseluruhan informan, 56% menjawab pengertian rokok berdasarkan kegiatan yang dilakukan yaitu menghisap rokok atau menghisap tembakau dan 44 % menjawab dengan efek yang dirasakan pada saat merokok yaitu menenangkan pikiran dan menghilangkan stres. Sedangkan pengetahuan informan tentang zat-zat yang terkandung dalam rokok, diantaranya tar, nikotin, carbon monoksida,tembakau dan zat kimia lainnya.
macam penyakit yang bisa ditimbulkan akibat rokok seperti dari hasil wawancara mendalam dengan informan, mereka berpendapat bahwa penyakit yang bisa muncul yaitu penyakit kanker dan jantung. Namun, ada juga informan yang berpendapat bahwa penyakit yang ditimbulkan akibat rokok yaitu impotensi, gangguan kehamilan, jantung, kanker, pusing, hipertensi, dan stroke.
Pada tingkat aplikasi, berdasarkan hasil wawancara mendalam yang didapatkan dari informan menunjukkkan bahwa sekitar 70% menjawab penyebab penyakit yang diakibatkan oleh rokok yaitu berasal dari zat-zat yang berbahaya. Sekitar 30% informan menjawab bahwa penyebab penyakit yang diakibatkan oleh rokok yaitu dari asap rokok.
Pada tingkat analisis yang meliputi efek jangka panjang dan jangka pendek yang diakibatkan oleh rokok. Hasil penelitian yang dilakukan melalui wawancara mendalam mengenai efek jangka panjang yang diakibatkan oleh rokok menunjukkan bahwa sebagian besar informan berpendapat bahwa efek jangka panjangnya adalah kanker dan kematian. Ada juga informan berpendapat bahwa efek jangka panjangnya dapat menyebabkan ketagihan. Sedangkan dari hasil penelitian tentang efek jangka pendek yang diakibatkan oleh rokok yaitu sebagian besar informan menjawab seperti batuk-batuk, sesak napas dan pusing. Ada juga yang mengemukakan akibat dari efek jangka pendeknya adalah mulut bau rokok, dan kuku menjadi berwarna. Ditinjau dari perbedaan kretek dengan non kretek, menurut hasil wawancara yang telah dilakukan dengan beberapa informan, sebagian besar menjawab perbedaan kretek dengan non kretek dinilai dari rasanya. Tetapi, ada pula informan yang menjawab berdasarkan tingkat bahayanya seperti Pada rokok non kretek biasanya nikotin tinggal pada filter akan tetapi tidak semua nikotin tinggal pada filter karena sebagian akan masuk ke dalam tubuh sedangkan rokok kretek, biasanya memiliki kandungan nikotin yang rendah karena pada rokok yang tidak berfilter semua nikotin akan masuk ke dalam tubuh sehingga kandungan nikotin direndahkan untuk mengurangi bahaya kesehatan.
Pada tingkat sintesis yang meliputi bahaya perokok aktif/pasif dimana hasil penelitian yang dilakukan melalui wawancara mendalam rata-rata informan berpendapat bahwa perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif. Namun, ada juga informan yang berpendapat lain yaitu menurut informan perokok aktif yang lebih berbahaya karena dia yang mengisap rokok.
merasakan batuk-batuk dan sesak napas. Namun ada juga informan belum merasakan dampak dari merokok karena baru mengisap rokok. Adapun keinginan informan untuk berhenti merokok masih sangat kurang dimana sebagian besar informan berpendapat bahwa merokok sangat menyenangkan dan penghilang stres. Ada juga beberapa informan yang sudah mau berhenti merokok karena alasan berbahaya bagi kesehatan. Bahkan ada juga informan yang masih ragu-ragu untuk berhenti merokok karena masih terpengaruh dengan berbagai macam alasan salah satunya yaitu takut ketinggalan dari teman sebaya yang lain saat merokok.
PEMBAHASAN
Pada tingkat tahu, diketahui bahwa informan tidak dapat memberikan pengertian merokok secara tepat. Mereka hanya menyimpulkan berdasarkan pengalaman yang dirasakan pada saat merokok. Penelitian serupa yang dilakukan oleh Daud Skartinus Lodi, diperoleh informasi bahwa informan memahami pengertian merokok dari manfaat yang mereka rasakan seperti rokok membuka pikiran, kebutuhan, aksesoris hidup dan hiburan.7 Hasil penelitian lain
yang dilakukan oleh Wiwik Widia Wati, yang menyebutkan dari 76 responden yang merokok menunjukkan pengetahuan yang kurang yaitu 17,15%.8
Berdasarkan hasil penelitian mengenai zat yang terkandung dalam rokok, informan mampu menyebutkan zat yang terkandung seperti tar,nikotin dan karbon monoksida. Akan tetapi mereka tidak paham benar apa dampak dari zat tersebut. Misalnya tar, nikotin dan karbon monoksida. Ketika membahas mengenai zat-zat yang terkandung dalam rokok, zat yang paling sering didengarkan adalah nikotin dan tar. Meskipun sebenarnya masih ada banyak zat yang terkandung dalam rokok. informan mampu menyebutkan beberapa zat tersebut menunjukkan bahwa informan telah menerima informasi sebelumnya mengenai zat yang terkandung dalam rokok.
Pada tingkat Paham, dampak dari zat-zat yang terkandung dalam rokok menurut Jeanne Mendagi tahun 1996 yaitu nikotin menaikkan tekanan darah dan mempercepat denyut jantung hingga pekerjaan jantung menjadi lebih berat. Selanjutnya, nikotin juga menyebabkan ketagihan. Seperti yang kita ketahui bahwa nikotin mempunyai pengaruh menenangkan. Gabungan karbon monoksida dengan nikotin akan mempermudah para perokok menderita penyakit penyempitan dan penutupan pembuluh darah dengan akibat-akibatnya. Seandainya saja para perokok mengetahui hal ini, tentunya mereka tidak akan memberikan kesempatan pada sebuah penyakit untuk dapat memasuki tubuhnya.9 Zat yang berbahaya selanjutnya
Mengingat kurangnya pemahaman informan mengenai dampak rokok sehingga mereka menjawab berdasarkan informasi yang sering mereka dengar baik dari iklan di berbagai media sosial maupun yang terdapat pada kemasan rokok. Hasil penelitian Sitepoe tahun 2000 menunjukkan bahwa merokok bukanlah penyebab suatu penyakit, tetapi dapat memicu suatu jenis penyakit sehingga boleh dikatakan merokok tidak menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat mendorong munculnya jenis penyakit yang dapat mengakibatkan kematian. Berbagai jenis penyakit dapat dipicu karena merokok mulai dari penyakit di kepala sampai dengan penyakit di kaki. Penyakit yang bisa disebabkan oleh merokok adalah seperti sakit kardiovaskuler, penyakit jantung koroner dan kanker seperti kanker paru-paru, kanker mulut, kanker esophagus dan lain-lain lagi.10
Pada tingkat aplikasi, penyebab penyakit akibat rokok berdasarkan jawaban informan, hanya sebagian kecil yang mampu menyebutkan penyebab sebenarnya yaitu asap rokok, jika dibawa kedalam persentase, hanya sebesar 30% yang menjawab benar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa remaja masih belum dapat menjabarkan penyebab penyakit akibat rokok.
Pada tingkat analisis, efek jangka panjang/pendek yang diakibatkan oleh rokok dari hasil jawaban tersebut informan dianggap belum dapat menjelaskan efek jangka panjang yang ditimbulkan akibat rokok secara benar dan maksimal. meskipun beberapa jawaban yang diutarakan memang benar, namun jawaban tersebut bukanlah hasil analisa informan melainkan hasil dari informasi yang diterima dalam lingkungannya. Faktanya,informan mampu menyebutkan efek jangka panjangnya berupa kanker akan tetapi kanker seperti apa, informan tidak mengetahuinya. Sedangkan pada efek jangka pendek, Apabila ditinjau dari jawaban yang benar yakni rambut dan nafas berbau rokok, kekurangan oksigen ke otak dan paru-paru serta tekanan darah meningkat,maka dapat disimpulkan bahwa tingkat informasi yang diketahui informan masih kurang. Jawaban yang dikemukakan masih berkisar pada pengalaman yang dirasakan informan pada saat merokok.
Rokok kretek lebih populer di Indonesia. Perbandingannya, sebanyak 94% merokok kretek dan hanya 11% yang memilih rokok putih. Perokok putih dalam jumlah paling tinggi ada di Medan dan Denpasar. Meski di kedua kota itu, tetap rokok kretek mencapai persentase lebih besar. Cuma dibandingkan dengan kota-kota lain yang jumlahnya minim, kedua kota tersebut merupakan tertinggi.
Pada tingkat sintesis, bahaya perokok aktif/pasif. Dari hasil penelitian bahwa informan tahu mengenai hal perokok pasif atau aktif yang lebih berbahaya. Berdasarkan hasil penelitian membuktikan bahwa justru bahaya yang di terima perokok pasif lebih tinggi dari perokok aktif. Sekitar 25% zat berbahaya yang terkandung dalam rokok lansung masuk ke tubuh perokok aktif tersebut. Sedangkan 75% lagi tersebar melalui asap perokok yang tersebar luas di udara yang kemudian terhirup oleh orang lain. Selain itu, bahaya yang diterima perokok pasif lebih besar karena perokok pasif menghisap asapnya tidak terfilter. Sedangkan racun yang diterima perokok aktif terfilter melalui ujung rokok. Tetapi semua akan berbalik berbahaya kepada perokok aktif jika ia kembali menghirup asap yang di hembuskannya.
Tingkat evaluasi mengenai pendapat remaja tentang dampak merokok dihubungkan dengan kebiasaan merokok menurut informan dampak merokok jika dihubungkan dengan kebiasaan merokok adalah berpengaruh pada kesehatan mereka seperti batuk dan sesak nafas, serta menimbulkan efek ketergantungan. Informan mengetahui bahwa terdapat dampak negatif dari kebiasaan merokok. Mengenai keinginan untuk berhenti merokok, 44% jawaban informan adalah tidak ingin berhenti merokok, karena menurut mereka merokok adalah kegiatan yang menyenangkan, dan sekitar 33% menjawab ragu-ragu dengan alasan sangat sulit untuk berhenti karena tidak ingin ketinggalan dalam pergaulan, apabila tidak menghisap rokok kepala terasa pusing,dan suhu yang dingin. Sedangkan sisanya yaitu 23% menjawab ingin berhenti merokok karena dampaknya yang buruk bagi kesehatan serta menghabiskan uang.
KESIMPULAN DAN SARAN
lingkungan. Pemahaman informan mengenai penyakit yang ditimbulkan akibat rokok antara lain impotensi, serangan kehamilan, kanker,serangan jantung, hipertensi, dan strok. Pada tingkat aplikasi, lebih dari setengah informan menjawab mengenai penyebab penyakit akibat rokok adalah zat-zat yang terkandung didalamnya berbahaya, hanya sebagian kecil yang mampu menyebutkan penyebab sebenarnya yaitu asap rokok. Pada tingkat analisis, yang meliputi efek jangka panjang dan pendek yang diakibatkan oleh rokok. Informan dianggap belum dapat menjelaskan efek jangka panjang yang ditimbulkan akibat rokok secara benar dan maksimal. Selanjutnya, pada efek jangka pendek yang diakibatkkan oleh rokok, kebanyakan informan menjawab sesak napas, bau mulut, batuk, kuku berwarna dan pusing. Pada tingkat sintesis, yang meliputi bahaya perokok aktif/pasif, informan lebih banyak berpendapat bahwa yang lebih berbahaya adalah perokok pasif. Pada tingkat evaluasi, yang meliputi pendapat remaja tentang dampak merokok dihubungkan dengan kebiasaan merokok adalah berpengaruh pada kesehatan mereka seperti batuk dan sesak napas, serta menimbulkan efek ketergantungan. Informan mengetahui bahwa terdapat dampak negatif dari kebiasaan merokok. Namun, informan tidak mampu mengaplikasikan akan bahaya merokok secara mendalam. Hal ini diperkuat dengan rendahnya minat untuk berhenti merokok pada remaja.
Perlu mensosialisasikan tentang dampak merokok bagi kesehatan di balai desa atau sekolah-sekolah. Agar masyarakat khususnya remaja dapat menyadari bahaya merokok dengan baik. Diharapkan pada penelitian tentang remaja di Desa Mambulilling selanjutnya tidak hanya terbatas pada bahaya merokok akan tetapi juga perilaku berisiko lainnya seperti perilaku seks, konsumsi minuman beralkohol dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Burns, D.M. 2005. Nicotine Addiction. In D.L. Kasper, E. Braunwalds, A.S. Fauci, S.L. Hauser, D.L. Longo, & J.L. Jameson (Eds), Harrison’s Principles of Internal Medicine, 16th Edition, (p. 2573-2577). New York: McGraw-Hill.
2. Streppel, M.T., Boshuizen, H.C., Ocké, M.C., Kok, F.J. & Kromhout D. 2007. Mortality and life expectancy in relation to long-term cigarette, cigar and pipe smoking: the Zutphen Study. Tobacco Control. Vol. 16, No. 2.
3. Barber, S., Adioetomo, S.M., Ahsan, A., dan Setyonaluri, D. 2008. Ekonomi Tembakau di Indonesia. Laporan Penelitian. Lembaga demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia : Jakarta.
4. Profil tembakau. Laporan Hasil Survei Perilaku Merokok. Jakarta: Badan Pusat Statistik; 2008.
5. Hasnida, dan Indri Kemala. 2005. Hubungan Antara Stres dan Perilaku Merokok pada Remaja Laki-laki. Jurnal PS. Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Vol. 1 No. 2
7. Sukartinus, D.L. 2012. Perilaku Merokok pada Masyarakat Suku Toraja di Kecamatan Sangalla’ Kabupaten Tana Toraja. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Makassar
8. Widya, W.W.2012. Tingkat Pengetahuan Siswa SMP Kelas VIII tentang Bahaya Merokok bagi Kesehatan di SMP Negeri 7 Wonogiri. Karya Tulis Ilmiah. Surakarta
9. Jeanne Mandagi. 1996. Penanggulan Bahaya Narkotika dan Psikotropika. Edisi Lux. Pramuka Saka Bayangkara. Jakarta