PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM A. PENDAHULUAN
Studi Agama tidak cukup dipahami menggunakan pendekatan teologis normatif, tapi perlu menggunakan pendekatan-pendekatan baru yang sesuai dengan perkembangan pemikiran, dinamika sosial bahkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Studi agama kontemporer perlu memperhatikan dua spek yaitu aspek normative dan aspek historis. Aspek normative adalah apa yang terkandung dalam ajaran agama yang terdapat dalam teks-teks (Al-Quran dan hadis), belief, dan dogma. Sementara aspek historitas adalah prkatik konkrit dari suatu masyarakat dalam menjalankan teks-teks, belief, dan dogma-dogma. Pendek kata, kita harus mengamati agama dari dua sudut pandang yaitu ajaran dan praktek ajaran itu sendiri. Hal ini dibutuhkan karena dalam menjalankan praktek-praktek ajaran agama antara satu masyarakat dengan mayrakat lainnya terdapat perbedaan. Prakteknya berbeda padahal sumber dari ajaran tersebut sama. Perbedaan itu pun mencakup ruang dan waktu. Artinya perbedaan tidak hanya terjadi pada lanskap antar wilayah yang membawahi budaya, tetapi juga antar waktu yang mana praktek-praktek agama dalam dunia tradisional (lampau) dan kekinian (modern) juga berbeda.
Dalam upayanya dalam pengaktualisasian studi-studi agama Islam maka diperlukanlah alat-alat analisis atau metode-metode kontemporer. Hal itu lah yang melatarbelakangi digunakannya metode-metode barat untuk mengamati fenomena umat Islam, salah satunya adalah antropologi. Dengan pendekatan antropologi dalam studi Islam dapat memahami agama Islam secara lebih kontemporer atau dengan kata lain tidak hanya sebagai doktrin yang bersifat monolitik1, tetapi sekaligus juga dapat memahami Islam yang
bersifat pluralistik2. Dengan ini maka agama Islam mampu dipelajari secara lebih universal,
artinya apapun agamanya seseorang akan mampu melihat fenomena-fenomena yang ada dalam praktek-praktek ajaran Islam.
Memahami Islam dengan menggunakan berbagai pendekatan atau cara pandang disiplin suatu keilmuan adalah amat mungkin dilakukan, bahkan harus dilakukan karena Islam dengan sumber ajaran utamanya yangt erdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah memang bukan hanya berbicara masalah akidah, ibadah, akhlak dan kehidupan akhirat saja, melainkan
1 Mempunyai sifat seperti kesatuan terorganisasi yang membentuk kekuatan tunggal dan berpengaruh. (http://glosarium.org/arti/?k=monolitik)
berbicara tentang ilmu pengetahuan, teknologi, sejarah, sosial, pendidikan, politik, ekonomi, kebudayaan, seni dan lain sebagainya.
B. PEMBAHASAN
a. Pengertian Antropologi
Antropologi adalah cabang ilmu yang usia perkembangannya relatif lebih muda dari cabang ilmu lainnya. Ilmu ini sebenarnya mulai berkembang bersamaan dengan abad pelayaran dunia.3 Sebagai sebuah ilmu, Antropologi banyak bersinggungan dengan
ilmu-ilmu sosial lainnya, bahkan ilmu-ilmu Sains, seperti Biologi maupun kedokteran. Antropologi seringkali mendapat pengaruh dari berbagai ilmu ini, baik dalam bentuk teori, metode, bahkan hasil penelitian.
Antropologi adalah kajian tentang sistem-sistem yang berkaitan dengan manusia dan cara-cara hidup mereka, baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Antropologi berasal dari Bahasa Yunani “anthropos” yang artinya manusia dan “logy” atau “logos” yang berarti ilmu, jadi Antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia.4 Sedangkan pengertian secara harfiah adalah studi ilmu
yang membahas tentang manusia dari segi keanekaragaman fisik, serta kebudayaannya baik itu tradisi, cara berperilaku, dan nilai moral.5
Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.
Sedangkan definisi Antropologi menurut para ahli dipaparkan sebagai berikut:
Ralfh L Beals dan Harry Hoijen
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dan semua apa yang dikerjakannya.6
3 Sare, Yuni dan Citra, Petrus, Antropologi SMA/MA Kls XI, Grasindo, Jakarta, 2006, hlm. 4
4 Tedi Sutardi, Antropologi: Mengungkap Keragaman Budaya, PT. Setia Putra Inves, Bandung, 2007, hlm. 4 5 M. Ilham Akbar H, Definisi, Tujuan dan Ruang Lingkup Antropologi, Kompasiana, diakses dari http://m.kompasiana.com/post/read/648444/1/definisi-tujuan-dan-ruang-lingkup-antropologi.html tanggal 26 Oktober 2014 pukul 15.00
6 Rini Indryawati, PENGANTAR ANTROPOLOGI, Kompasiana, diakses dari
William A. Haviland
Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.7
David Hunter
Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.8
Koentjaraningrat
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.9
a) Cabang-cabang Ilmu Antropologi
Secara garis besar Antropologi dibagi menjadi Antropologi Fisik dan Antropologi Sosial Budaya, pengertiaannya adalah sebagai berikut:
1. Antropologi Fisik
Antropologi fisik adalah bagian dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya,10 yang memakai ciri-ciri tubuh sebagai bahan
penelitiannya, baik ciri-ciri lahir seperti bentuk tubuh, maupun ciri-ciri dalam, seperti frekuensi golongan darah dan sebagainya. Antropologi fisik dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Paleoantropologi, ilmu yang mempelajari asal usul manusia dan evolusi manusia dengan meneliti fosil-fosil.
b. Somatologi, ilmu yang mempelajari keberagaman ras manusia dengan mengamati ciri-ciri fisik.
2. Antropologi Sosial dan Budaya
7 Antropologi, Wikipedia, diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi. tanggal 26 Oktober 2014 pukul 16.10
8 Ibid
9 ibid
Antropologi budaya melihat atau mempelajari manusia yang berkaitan dengan materi-materi kebudayaan seperti misalnya, alat-alat hidup, perumahan, kesenian, norma, perilaku dan lain sebagainya yang ada dalam masyarakat. Antropologi Sosial Budaya dibagi menjadi empat bagian yaitu:
a. Prehistori, ilmu yang mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan semua kebudayaan manusia di bumi sebelum manusia mengenal tulisan. b. Etnolinguistik antropologi, ilmu yang mempelajari pelukisan tentang ciri dan
tata bahasa dan beratus-ratus bahasa suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi.
c. Etnologi, ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia.
d. Etnopsikologi, ilmu yang mempelajari kepribadian bangsa serta peranan individu pada bangsa dalam proses perubahan adat istiadat dan nilai universal dengan berpegang pada konsep psikologi.
b) Fase Perkembangan Antropologi
Antropologi sebagai ilmu tidak muncul begitu saja, namun berkembang melalui fase-fase yang ada. Dalam antropologi terdapat 4 fase yang terjadi dalam perkembangan antropologi sebagai ilmu,11 yaitu:
1. Fase Pertama (sebelum 1800)
Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnogragfi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
2. Fase Kedua (tahun 1800-an)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai
bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya.
3. Fase Ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.
4. Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada masa ini perkembangan antropologi bertambah pesat dan luas. Bertambahnya pengetahuan yang lebih teliti dan ketajaman dalam metode ilmiahnya sangat mengesankan. Adanya perkembangan yang pesat ini mengakibatkan hilangnya sedikit demi sedikit masyarakat primitif dan kebudayaan-kebudayan kuno. Antropologi dimasa ini berperan dalam dua hal yakni, dalam bidang akademik dan juga tujuan praktis. Tujuan dalam bidang akademiknya berusaha untuk mencapai pengertian manusia dengan mempelajari keragaman bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaannya. Sedangkan tujuan praktisnya adalah mempelajari, memahami dan membangun masayarakat suku bangsa.
b. Antropologi Agama
Antropologi berusaha untuk mengkaji sistem-sistem yang berkaitan dengan kehidupan manusia, masyarakat, serta budayanya. Mengkaji agama dengan menggunakan pendekatan antropologi membuahkan ilmu yang dikenal dengan istilah antropologi agama.12 Kajian agama melalui tinjauan antropologi dapat diartikan sebagai salah satu
upaya untuk memahami agama dengan melihat wujud praktik keagamaan (tindakan, perilaku) yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Kajian ini diperlukan sebab
elemen-elemen agama bisa dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologi dan juga ilmu sosial lainnya. Sehingga dalam memahami ajaran agama manusia dapat dijelaskan melalui bantuan antropologi, dengan menggunakan (bantuan) teori-teori di dalamnya. Hal ini bertujuan untuk mendeskripsikan bahwa agama mempunyai fungsi, melalui simbol-simbol atau nilai-nilai yang dikandungnya dan “hadir di mana-mana”.
Antropologi Agama adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mempelajari tentang manusia yang menyangkut agama dengan pendekatan budaya, atau disebut juga Antropologi Religi.13 Meskipun ada yang berpendapat ada perbadaan pengertian antara
Antropologi Agama dengan Antropologi Religi, namun keduanya mengandung arti adanya hubungan antara manusia dengan kekuasaan yang ghaib. Keduanya juga menyangkut adanya buah pikiran sikap dan perilaku manusia dalam hubungannya dengan kekuasaan yang tidak nyata.
Dalam hubungannya dengan Antropologi, agama ikut mempengaruhi, bahkan membentuk stuktur sosial, budaya, ekonomi, politik dan kebijakan umum. Dengan pendekatan ini kajian studi agama dapat dikaji secara komprehensif melalui pemahaman atas makna terdalam dalam kehidupan beragama di masyarakat. Kemudian dapat terlihat bahwa ada korelasi antara agama dengan berbagai elemen kehidupan manusia/masyarakat.
a) Pendekatan Antropologis dalam Memahami Agama
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.14 Melalui pendekatan ini agama
tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologis dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama.
Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Dawam Rahardjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif.15 Dari sini timbul
13 Hilman Hadikusuma, Antropologi agama: pendekatan budaya terhadap Aliran Kepercayaan, Agama Hindu, Budha, Kong Hu Cu, di Indonesia. Bagian I, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, hlm. 9
14 Iqbal Suma, Muhammad dan Syafi'i, Muhammad, Dinamika Wacana Islam, Penerbit Eurabia, Jakarta Timur, 2014, hlm. 8
kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif yang mengimbangi pendekatan deduktif sebagaimana digunakan dalam pengamatan sosiologis.
Sejalan dengan pendekatan tersebut, maka dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Karl Marx (1818-1883), sebagai contoh, melihat agama sebagai opium atau candu masyarakat tertentu sehingga mendorongnya untuk memperkenalkan teori konflik atau yang biasa disebut dengan teori pertentangan kelas.16 Menurutnya, agama bisa disalahfungsikan oleh kalangan
tertentu untuk melestarikan status quo peran tokoh-tokoh agama yang mendukung sisten kapitalisme di Eropa yang beragama Kristen. Lain halnya dengan Max Weber (1964-1920). Dia melihat adanya korelasi positif antara ajaran Protestan dengan munculnya semangat kapitalisme modern.17 Etika Protestan dilihatnya sebagai cikal
bakal etos kerja masyarakat industri modern yang kapitalistik.
Melalui pendekatan antropologis fenomenologis kita juga dapat melihat hubungan antara agama dan negara (state and religion). Contohnya seperti Vatikan dalam bandingannya dengan negara-negara sekuler di sekelilingnya di Eropa Barat. Juga melihat kenyataan negara Turki modern yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tetapi konstitusi negaranya menyebut sekularisme sebagai prinsip dasar kenegaraan yang tidak dapat ditawar-tawar. Belum lagi meneliti dan membandingkan Kerajaan Saudi Arabia dan negara Republik Iran yang berdasarkan Islam.
b) Metode dalam Mempelajari Antropologi Agama
Yang menjadi titik studi Antropologi Agama adalah bukan kebenaran ideologis melainkan kenyataan yang nampak yang berlaku, yang empiris, atau juga bagaimana hubungan pikiran sikap dan perilaku manusia dalam hubungannya dengan yang ghaib.
Beberapa cara dalam studi Antropologi Agama, yaitu dengan mempelajari dari sudut sejarah, ajarannya yang bersifat normatif, atau dengan cara deskriptif atau dan dengan cara yang bersifat empiris antara lain:18
1. Metode Historis
16 M. Amin Abdullah, op. cit. hlm. 31
17 Abdurrahman, Ali, A. Mukti, Daya, Burhanuddin, dan Djam annuri, ʹ Agama dan masyarakat: 70 tahun H.A. Mukti Ali, IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, 1993, hlm.516
Dengan metode yang bersifat sejarah yang dimaksud ialah menelusuri pikiran dan perilaku manusia tentang agamanya yang berlatar belakang sejarah, yaitu sejarah perkembangan budaya agama sejak masyarakat manusia masih sederhana budayanya sampai budaya agamanya yang sudah maju.
2. Metode Normatif
Dengan metode normatif dalam studi Antropologi Agama dimaksudkan mempelajari norma-norma (kaidah-kaidah, patokan-patokan atau sastra-asatra suci agama) maupun yang merupakan perilaku adat kebiasaan yang tradisional yang tetap berlaku, baik dalam hubungan manusia dengan alam ghaib maupun dalam hubungan antara sesama manusia yang bersumber dan berdasarkan ajaran-ajaran agama masing-maisng.
3. Metode Deskriptif
Dengan metode ini dalam Antropologi Agama dimaksudkan ialah berusaha mencatat, melukiskan, menguraikan, melaporkan tentang buah pikiran sikap tindak dan perilaku manusia yang menyangkut agama dalam kenyataan yang implisit.
4. Metode Empiris
Metode ini mempelajari pikiran sikap dan perilaku agama manusia yang diketemukan dari pengalaman dan kenyataan di lapangan. Artinya yang berlaku sesungguhnya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, dengan menitikberatkan perhatian terhadap kasus-kasus kejadian tertentu (metode kasus).
c. Pendekatan Antropologi dalam Kajian Islam
Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia, karena persoalan-persoalan yang dialami manusia sebenarnya adalah persoalan agama.19
Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya. Para antropolog menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai common sense dan
religious atau mystical event.20 Dalam satu sisi common sense21 mencerminkan kegiatan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi, sementera itu religious sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi.
Dengan demikian memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia. Karena realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan yang mengejawantah dalam dunia nyata. Terlebih dari itu, makna hakiki dari keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan agama. Oleh karena itu, antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam, sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan atau dalam bahasa lainnya Islam yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia.
Kemudian sebagai akibat dari pentingnya kajian manusia, maka mengkaji budaya dan masyarakat yang melingkupi kehidupan manusia juga menjadi sangat penting. Kebudayaan, sebagai system of meaning yang memberikan arti bagi kehidupan dan perilaku manusia, adalah aspek esensial manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami manusia. Oleh karena itu analisis tentang kebudayaan dan manusia dalam tradisi antropologi tidaklah berupaya menemukan hukum-hukum seperti di ilmu-ilmu alam, melainkan kajian interpretatif untuk mencari makna (meaning).
Dalam Islam manusia digambarkan sebagai khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi. Secara antropologis ungkapan ini berarti bahwa sesungguhnya realitas manusia adalah realitas ketuhanan. Tanpa memahami realitas manusia-termasuk di dalamnya adalah realitas sosial budayanya-pemahaman terhadap ketuhanan tidak akan sempurna, karena separuh dari realitas ketuhanan tidak dimengerti. Di sini terlihat betapa kajian tentang manusia, yang itu menjadi pusat perhatian antropologi, menjadi sangat penting.
Pentingnya mempelajari realitas manusia ini juga terlihat dari pesan Al-Qur’an ketika membicarakan konsep-konsep keagamaan. Al-Qur’an seringkali menggunakan “orang” untuk menjelaskan konsep kesalehan. Misalnya, untuk menjelaskan tentang konsep takwa, Al-Qur’an menunjuk pada konsep “muttaqien”, untuk menjelaskan konsep
20 ibid
sabar, Al-Qur’an menggunakan kata “orang sabar” dan seterusnya. Kalau kita merujuk pada pesan Qur’an yang demikian itu sesungguhnya, konsep-konsep keagamaan itu termanifestasikan dalam perilaku manusia. Oleh karena itu pemahaman konsep agama terletak pada pemahaman realitas kemanusiaan.
d. Aplikasi Pendekatan Antropologi Dalam Mengkaji Islam
Pengaplikasian antropologi dalam mengkaji Islam dan ummat Islam menggunakan pendekatan antropologi budaya dan antropologi sosial, dan juga di dalamnya mengkaji fenomena keberagaman umat Islam. Pendekatan dan pemahaman terhadap fenomena keagamaan lewat antropologi seperti halnya mendekati dan memahami “objek” agama dari berbagai sudut pengamatan yang berbeda-beda.
Melalui pendekatan antropologi sebagaimana disebut Abuddin Nata, sosok agama yang berada pada dataran emperik akan dapat dilihat serat-seratnya dan latar belakang mengapa ajaran agama tersebut muncul dan dirumuskan.22 Antropologi berusaha
mengkaji hubungan agama dengan pranata sosial yang terjadi dalam masyarakat, mengkaji hubungan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Dengan menggunakan pendekatan antropologi dapat diketahui bahwa doktrin-doktrin dan fenomena-fenomena keagamaan ternyata tidak berdiri sendiri dan tidak pernah terlepas dari jaringan institusi atau kelembagaan sosial kemasyarakatan yang mendukung keberadaannya. Inilah makna pendekatan antropologi dalam memahami fenomena-fenomena keagamaan.
Penerapan pendekatan antropologi dalam mengkaji Islam dan umat Islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh Clifford Greezt dalam karyanya The Religion of Java. Dalam karyanya tersebut, Greezt melihat adanya klasifikasi sosial dalam masyarakat muslim di Jawa, antara santri, priyayi dan abangan.23
Karya Geertz ini disebut untuk sekedar memberikan ilustrasi bahwa kajian antropologi di Indonesia telah berhasil membentuk wacana tersendiri tentang hubungan agama dan masyarakat secara luas. Antropologi yang melihat langsung secara detil hubungan antara agama dan masarakat dalam tataran grassroot memberikan informasi yang sebenarnya yang terjadi dalam masyarakat. Melihat agama di masyarakat, bagi antropologi adalah melihat bagaimana agama dipraktikkan, diinterpretasi, dan diyakini
22 Abu Faiq, PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM STUDI ISLAM, diakses dari hhttp://abufaiq798.blogspot.com/2013/02/pendekatan-antropologi-dalam-studi.html, tanggal 26 Oktober 2014 pukul 13.00
oleh penganutnya. Jadi pembahasan tentang bagaimana hubungan agama dan budaya sangat penting untuk melihat agama yang dipraktikkan.
Praktek lain dalam penggunaan antropologi dalam pengkajian Islam adalah praktek tradisi Islam lokal di pesisir24. Buku Islam pesisir mencoba mendengarkan suara
masyarakat pesisir dalam mengkonstruksi tradisi islam lokal (upacara lingkungan hidup), ritual ekonomi, ritual hari-hari penting) dalam bingkai penggolongan sosio-religi-kultural yang ada dalam kalangan mereka sendiri. Tarik ulur antara budaya lokal dan ajaran Islam ini menghasilkan dinamika budaya masyarakat setempat25. Kemudian yang terjadi adalah
sinkretisme dan atau akulturasi budaya seperti: praktek meyakini iman di dalam ajaran Islam akan tetapi masih mempercayai berbagai keyakinan lokal.
Di masyarakat pesisir didapati serangkaian upacara lingkungan hidup, yaitu dari upacara kehamilan sampai kematian. Upacara kehamilan (neloni, mitoni atau tingkeban), kelahiran (procotan), mudun lemah dan perkawinan diungkapkan dengan konsep
brokohan atau bancaan. Sedangkan untuk upcara kematian (geblake, neloni, mitoni,
metang puluh, nyatus, mendak, nyewu) dikonsepsikan dengan istilah slametan atau
nylameti. Brokohan secara etimologis berasa dari kata Arab barakah atau berkah di dalam kata Indonesia. Bancaan berasal dari kata Jawa (bancah) yang berarti ada sesuatu yang dibaca yaitu doa-doa dan ijab kabul. Slametan berasal dari kata Arab (keta kerja: salama) yang dalam kata Indonesia selamat.
Dilihat dari pengaplikasiannya dapat dipahami bahwa pendekatan antropologi bisa dijadikan untuk mendukung penjelasan bagaimana fenomena-fenomena keagamaan dapat terjadi dan bagaimana keterkaitannya dengan jaringan institusi dan kelembagaan sosial yang mendukung keberadaannya.
e. Dalil-dalil Al-Quran yang Berkaitan dengan Pendekatan Antropologi
Surat Ath-Thoriq ayat 5 - 7
(5) Maka hendaklah manusia memperhatikan dari Apakah Dia diciptakan? (6) Dia diciptakan dari air yang dipancarkan (7) yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.
24 Syam, Nur, Islam Pesisir, LkiS Yogyakarta, Yogyakarta, 2005.
Surat Ar-Ruum ayat 20
(20) dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.
C. KESIMPULAN
Dari berbagai cabang ilmu dan metode-metode yang ada untuk memahami agama (terutama Islam), tidak akan lengkap tanpa memahami realitas manusia yang tercermin dalam budayanya. Posisi penting manusia dalam Islam seperti digambarkan dalam proses penciptaannya yang ruhnya merupakan tiupan dari ruh Tuhan, memberikan indikasi bahwa manusia menempati posisi penting dalam mengetahui tentang Tuhan. Dengan demikian pemahaman agama secara keseluruhan tidak akan tercapai tanpa memahami manusia. Di sinilah letak pentingnya kajian antropologi dalam mengkaji Islam. Sebagai ilmu yang mengkhususkan diri mempelajari manusia-yang merupakan realitas empiris agama, maka antropologi juga merupakan separuh dari ilmu agama itu sendiri.
D. DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. Amin, 1996, Studi agama: normativitas atau historisitas?, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Abdurrahman, Ali, A. Mukti, Daya, Burhanuddin, dan Djam annuri, 1993, Agama danʹ
masyarakat: 70 tahun H.A. Mukti Ali, Yogyakarta, IAIN Sunan Kalijaga Press
Abdurrahman, Moeslim, 2009, Bersujud di Baitullah: ibadah haji, mencari kesalehan hidup, Jakarta, PT Kompas Media Nusantara
Ahmadi, Abu, 1986, Antropologi budaya: mengenal kebudayaan dan suku-suku bangsa di Indonesia, Surabaya, Penerbit Pelangi
Akbar H, M. Ilham, Definisi, Tujuan dan Ruang Lingkup Antropologi, Kompasiana, diakses dari http://m.kompasiana.com/post/read/648444/1/definisi-tujuan-dan-ruang-lingkup-antropologi.html tanggal 26 Oktober 2014 pukul 15.00
Antropologi, Wikipedia, diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi. tanggal 26 Oktober 2014 pukul 16.10
Faiq, Abu, PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM STUDI ISLAM, diakses dari hhttp://abufaiq798.blogspot.com/2013/02/pendekatan-antropologi-dalam-studi.html, tanggal 26 Oktober 2014 pukul 13.00
Hadikusuma, Hilman, 1993, Antropologi agama: pendekatan budaya terhadap Aliran Kepercayaan, Agama Hindu, Budha, Kong Hu Cu, di Indonesia. Bagian I, Bandung , PT. Citra Aditya Bakti
http://1duy.wordpress.com/2010/01/25/makna-common-sense/
http://glosarium.org/arti/?k=monolitik
Indryawati, Rini, PENGANTAR ANTROPOLOGI, Kompasiana, diakses dari http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/28362/PENGANTAR.ppt. tanggal 26 Oktober 2014 pukul 15.39
Rahardjo, M. Dawam, 1993, Intelektual, inteligensia dan perilaku politik bangsa: risalah cendekiawan Muslim, Bandung, Penerbit Mizan
Rohma, Yolanda Nur, ASAS ASAS DAN RUANG LINGKUP ILMU ANTROPOLOGI,
academia.edu, diakses dari
http://www.academia.edu/4523502/ASAS_ASAS_DAN_RUANG_LINGKUP_ILMU _ANTROPOLOGI, tanggal 26 Oktober 2014 pukul 17.00
Rosidah, Feryani Umi, PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM STUDI AGAMA, Jurnal Religio Volume 02 Nomor 01 Tahun 2011
Sare, Yuni dan Citra, Petrus, 2006, Antropologi SMA/MA Kls XI, Jakarta, Grasindo
Suma, Iqbal, Muhammad dan Syafi'i, Muhammad, 2014, Dinamika Wacana Islam, Jakarta Timur, Penerbit Eurabia
Sutardi, Tedi, 2007, Antropologi: Mengungkap Keragaman Budaya, Bandung, PT. Setia Putra Inves