• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Industri Telekomunikasi Libre 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan " Buku Industri Telekomunikasi Libre 1"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

Peta dan Potensi

Industri Perangkat

Telekomunikasi

Seluler Indonesia

Penulis:

Riza Azmi, M.Kom (Puslitbang SDPPI) Editor:

Adi Indrayanto, PhD (Pusat Mikroelektronika ITB)

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Badan Litbang SDM - Kementerian Komunikasi dan Informatika

2014

(2)
(3)

Peta dan Potensi Industri Perangkat Telekomunikasi

Seluler Indonesia

© Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia – 2014 Puslitbang SDPPI

(4)

Sanksi Pelanggaran Pasal 44:

1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

(5)

Peta dan Potensi

Industri Perangkat

Telekomunikasi

Seluler Indonesia

Penulis:

Riza Azmi, M.Kom (Puslitbang SDPPI)

Editor:

Adi Indrayanto, PhD (Pusat Mikroelektronika ITB)

Puslitbang SDPPI – Badan Litbang SDM

(6)

Peta dan Potensi Industri Perangkat Telekomunikasi

Seluler Indonesia

Penulis:

Riza Azmi

Editor:

Adi Indrayanto, PhD

Design Sampul:

Ronaldi Wijaya

Layout Isi:

Riza Azmi

Penerbit:

Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Informatika

Gedung B Lantai 4, Medan Merdeka Barat 9, Jakarta, 10110 e-mail : [email protected]

Telp./fax: +62 21 348 33640

Percetakan

Dicetak oleh PT. , isi diluar tanggung jawab Percetakan Cetakan pertama, Desember 2014. Kota: Jakarta, Indonesia

(7)

Ringkasan Eksekutif

Perkembangan telekomunikasi di Indonesia berkontribusi positif dan langsung terhadap penerimaan negara baik dari sisi APBN maupun PNBP dengan rata-rata 10 Triliun rupiah setiap tahun. Namun jika dilihat dari sisi lain, perkembangan telekomunikasi menimbulkan defisit neraca perdagangan yang disebabkan oleh impor perangkat telekomunikasi yang relatif besar dibandingkan dengan penerimaan negara di sektor ini yaitu sekitar 24 Triliun rupiah. Studi ini bertujuan memetakan Industri perangkat handset telekomunikasi seluler dilihat dari value-chain industri ini dan melihat potensi industri lokal dalam rangka mengurangi defisit tersebut.

Dari hasil studi ini, Industri perangkat telekomunikasi Indonesia secara umum dapat dibagi menjadi 3 entitas besar yaitu Industri Perangkat Customer Premises Equipment (CPE) Telekomunikasi, Industri Jaringan Telekomunikasi dan Industri Konten atau Over the Top. Secara elemen value-chain, Industri CPE telekomunikasi Indonesia sudah tergolong lengkap namun masih bertipe relational dimana ketergantungan kuat antara merk dan manufaktur. Untuk mengurangi biaya produksi, pemerintah perlu mendorongnya ke tipe value chain modular dengan mengintensifkan masing-masing value-chain.

(8)

modal asing. Dalam rangka mengurangi “Degree of Asimetry” untuk pasar ini pemerintah dapat mendorong dari tipe Hierarcy ke Captive dengan cara menarik industri berbasis R&D ke Indonesia. Indonesia sendiri juga memiliki potensi untuk pembuatan perangkat jaringan telekomunikasi ini dilihat dari portofolio yang ada.

Beberapa rekomendasi dari studi ini agar industri perangkat telekomunikasi dapat berkembang yaitu dengan mendorong industri dari manufaktur ke industri berbasis inovasi salah satunya dengan mengubah kebijakan TKDN yang berbasis komponen menjadi TKDN berbasis inovasi. Selain itu, untuk mencegah tingginya degree of asimetry dalam value-chain industri ini pemerintah harus menggeser tipe value-chain di industri ini dengan mendorong tumbuhnya value-network seperti mendorong industri kreatif. Pemerintah juga perlu memberikan insentif melalui PNBP di sektor yang sama dengan skema Carrot Incentive. Selain itu, pemerintah perlu mensiasati barrier-to-entry dengan rekomendasi membuat konsorsium industri dan memasukkannya ke dalam industri pertahanan di bidang telekomunikasi.

(9)

Sambutan Kepala Puslitbang SDPPI

Pada tahun 2014 ini, Puslitbang SDPPI, Kementerian Komunikasi dan Informatika melaksanakan kegiatan Pemetaan Industri Perangkat Telekomunikasi Indonesia untuk melihat gambaran peta kekuatan dan kelemahan industri lokal dalam menyediakan perangkat telekomunikasi di dalam negeri. Walaupun kajian ini terlihat sepintas tidak terkait langsung dengan tugas pokok dan fungsi Kementerian, namun kami memberanikan diri mengambil langkah pertama kalinya menyusun peta dan roadmap industri telekomunikasi ini dalam membantu industri perangkat telekomunikasi menjadi tuan rumah di negara sendiri.

Adapun perangkat telekomunikasi yang dimaksud dalam kajian ini dibagi menjadi 2 yaitu perangkat handset telekomunikasi seperti handphone, tablet dan perangkat handset telekomunikasi seluler lainnya; serta perangkat jaringan telekomunikasi seluler seperti BTS. Pertimbangan penelitian ini membatasi pada 2 industri tersebut, dikarenakan pertama pasar untuk perangkat handset telekomunikasi bernilai sekitar 54 milyar dalam setahun atau terbesar untuk wilayah Asia-Tenggara; sementara penyediaan industri manufaktur lokal terkait perangkat ini masih sangat kecil. Kedua, karena perangkat jaringan telekomunikasi seluler merupakan perangkat vital yang sampai dengan saat ini pemainnya masih dikuasai Penanam Modal Asing.

Dalam penulisannya, Kami menyadari terdapat beberapa kekurangan dan membuka diri untuk masukan terkait kekurangan baik yang disengaja ataupun tidak disengaja dalam buku ini.

Demikian sambutan saya, semoga buku ini berguna untuk melihat peta dan potensi industri perangkat telekomunikasi seluler di Indonesia.

Jakarta, Desember 2014

Kepala Puslitbang SDPPI

(10)
(11)

Sambutan Kepala Badan Litbang SDM

Sebagaimana kita ketahui, pertumbuhan industri telekomunikasi di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat yang ditunjukkan dengan pertumbuhan jumlah pelanggan telekomunikasi terutama dari industri telekomunikasi bergerak seluler yang terus tumbuh pesat terutama sejak tahun 2006. Sampai dengan saat ini tercatat tidak kurang dari 300 juta pelanggan seluler di Indonesia atau meningkat 5 kali lipat dari 6 tahun yang lalu. Pertumbuhan industri telekomunikasi bergerak seluler ini pada satu sisi berdampak positif terhadap penerimaan negara bukan pajak yang disetorkan ke negara, namun di sisi lain, Industri untuk perangkat jaringan telekomunikasi terutama untuk perangkat jaringan seluler seperti BTS di Indonesia masih sebagian besar dikuasai oleh penanam modal asing, padahal di satu sisi merupakan perangkat vital telekomunikasi.

Terkait dengan hal tersebut, gambaran mengenai rantai nilai produksi dan kesiapan industri lokal perangkat jaringan telekomunikasi yang konprehensif diperlukan untuk melihat potensi lokal untuk industri ini. Pada prinsipnya, saya meyakini bahwa industri lokal mampu bersaing dalam membuat perangkat jaringan telekomunikasi.

Saya mengapresiasi terbitnya buku ini untuk melihat kondisi pasar industri ini menurut pandangan industri lokal, bagaimana kelebihan/kekurangan dan kesiapan industri perangkat telekomunikasi lokal; peluang dan tantangannya serta bagaimana kebutuhan dukungan Industri ini dari pemerintah.

Demikian sambutan dari Saya. Semoga buku ini berguna dan dapat memperkuat penyediaan perangkat infrastruktur telekomunikasi oleh anak-anak bangsa.

Jakarta, Desember 2014

Kepala Badan Litbang SDM

(12)
(13)

Daftar Isi

Ringkasan Eksekutif ... i

Sambutan Kepala Puslitbang SDPPI ... iii

Sambutan Kepala Badan Litbang SDM ... v

Daftar Isi ... vii

Latar Belakang ... 1

Landasan Teori dan Metode Penyusunan ... 3

Tata Kelola Value-Chain ... 3

Value Chain dan Value Network Industri Telekomunikasi ... 4

Product Modularity dalam Industri Perangkat Telekomunikasi ... 7

Peta Operasional Industri Telekomuniasi berbasis e-TOM ... 8

Metode Penyusunan Peta Industri Perangkat Telekomunikasi Seluler ... 9

Gambaran Umum Industri Perangkat Telekomunikasi Indonesia ... 13

Industri Perangkat Customer Premises Equipment Telekomunikasi Seluler . 13 Pangsa Pasar Perangkat CPE Telekomunikasi Seluler ... 13

Kondisi Impor Perangkat Telekomunikasi Seluler di Indonesia ... 15

Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi ... 21

PT. Huawei Investment Tech Indonesia ... 22

PT. Nokia Solutions Networks Indonesia ... 22

PT. Ericsson Indonesia ... 23

PT. Samsung Telecommunication Indonesia... 23

PT. ZTE Indonesia ... 24

Kebijakan Industri Perangkat Telekomunikasi ... 25

Ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ... 25

(14)

Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang ke dan dari Kawasan

yang Telah Ditetapkan ... 30

Interpretasi Ketiga Peraturan Menteri Perindustrian, Perdagangan dan Keuangan ... 31

Potensi Lokal Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi ... 33

PT. INTI ... 33

PT. CMI Indonesia ... 36

PT. Xirka Silicon Technology (XST) ... 38

PT. LEN Industri ... 38

PT. Fusi Global Teknologi ... 39

Versatile Silicon ... 40

Peta Industri Perangkat Telekomunikasi Seluler ... 43

Peta Industri Perangkat Customer Premises Equipment Telekomunikasi dalam Negeri ... 43

Design House ... 45

System Integrator ... 45

Manufaktur ... 45

Brand Owner ... 47

Retailer ... 47

Peta Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi dalam Negeri ... 49

Radio Network Infrastructure ... 50

Billing Platform ... 50

Network Solution ... 50

Service Managemen dan SIM-Card ... 50

Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Industri Telekomunikasi Indonesia ... 53

Industri Perangkat CPE Telekomunikasi ... 53

Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi ... 57

Rekomendasi Pengembangan Industri Perangkat Telekomunikasi ... 61

(15)

Tingkat Kandungan Dalam Negeri berbasis Inovasi ... 63

Mendorong Berubahnya Tipe Value Chain ... 64

Menciptakan Value Network dalam Industri Perangkat Telekomunikasi ... 65

Bentuk Insentif Negara ... 65

Mencegah Barrier-to-Entry dalam Menumbuhkan Industri Dalam Negeri . 66 Penutup ... 69

Simpulan ... 69

Saran ... 69

Lampiran ... 71

(16)
(17)

Latar Belakang

Pertumbuhan industri telekomunikasi di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal ini ditunjukkan dari pertumbuhan jumlah pelanggan telekomunikasi terutama dari industri telekomunikasi bergerak seluler yang terus bertambah sejak tahun 2006. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa jumlah pelanggan pada industri ini tahun 2006 sebesar 63 juta pelanggan dimana 5 tahun setelahnya meningkat menjadi 211 juta pelanggan atau sebesar hampir 4 kali lipatnya [1].

Pertumbuhan industri telekomunikasi bergerak seluler ini juga berdampak positif terhadap penerimaan negara. Menurut Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika [2], kontribusi industri ini terhadap pendapatan negara pada tahun 2013 sebesar 0.76% penerimaan total negara atau sebesar 3.10% dari total PNBP ke negara. Peningkatan ini sebagian besar dipengaruhi oleh permintaan terhadap akses data mobile, sehingga sumbangan terhadap PNBP dari sektor permintaan lisensi frekuensi meningkat tajam. Sejak tahun 2008 sampai dengan 2013 dapat dilihat bahwa penerimaan dari PNBP frekuensi meningkat hampir 50% dimana pada tahun 2013 tercatat di sektor ini tercatat hampir 10,9 trilliun rupiah. Pada satu sisi sumbangan di sektor ini cukup besar, namun di sisi lain dibandingkan dengan penerimaan negara yang terkait dengan sektor ini, defisit perdagangan telekomunikasi yang ditimbulkan terkait perangat telekomunikasi ini cukup besar dikarenakan hampir sebagian besar Indonesia masih melakukan impor perangkat untuk memenuhi kebutuhan perangkat ini. Data dari Kementerian Perdagangan, nilai impor produk ini sebesar USD 2,09 milyar pada tahun 2012, meningkat pada tahun 2013 sebesar USD 2,5 milyar dan sampai dengan September 2014 sebesar USD 2,8 milyar.

(18)

dalam penjualan pasar handset seluler, dimana 54 juta handset terjual hanya dalam waktu satu tahun [3].

Pada satu sisi, hal tersebut dapat dinilai sebagai keuntungan tersendiri dimana Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar telekomunikasi di Indonesia, namun di sisi lain, Industri Telekomunikasi di Indonesia terutama industri manufaktur dapat dikatakan masih sangat rendah. Dari data [2] komposisi sertifikasi untuk perangkat telekomunikasi yang masuk ke Indonesia 99,04% merupakan produk manufaktur dari luar negeri dengan komposisi terbanyak 71.65% perangkat berasal dari negara Tiongkok sementara produk sertifikasi asli dari Indonesia hanya berjumlah 29 dari 5.503 perangkat telekomunikasi yang disertifikasi pada tahun tersebut.

Perkembangan industri telekomunikasi seluler ini selain sebagai pasar dari sisi handset telekomunikasi juga merupakan pasar besar dari perangkat jaringan telekomunikasi seperti Base Station Seluler. Hal ini dikarenakan selain pasar potensial dari sisi konsumen yang cukup besar juga luasnya wilayah Indonesia yang harus dicakup Operator Seluler. Jika dilihat komposisinya, pemain perangkat jaringan ini seluler ini sebagian besar terdiri dari luar negeri seperti Huawei, Nokia Solution Network, Ericson, ZTE, dan Samsung Telecommunication.

(19)

Landasan Teori dan Metode

Penyusunan

Tata Kelola Value-Chain

TABEL 1 TEORI VALUE-CHAIN[4]

Tipe Tata Kelola

Kompleksitas Transaksi

Kodifikasi Transaksi

Kapabilitas Supply

Derajat

koordinasi dan kemampuan asimetris Market Rendah Tinggi Tinggi Rendah

Modular Tinggi Tinggi Tinggi

Relasional Tinggi Rendah Tinggi

Captive Tinggi Tinggi Rendah

Hierarki Tinggi Rendah Rendah Tinggi

Menurut teori tata kelola value-chain [4], struktur value-chain dapat dilihat dari 3 faktor utama yaitu:

1. Kompleksitas Transaksi, yaitu informasi dan pengetahuan tentang proses dan spesifikasi produk

2. Kodifikasi Transaksi, yaitu informasi dan pengetahuan yang dapat diklasifikasikan secara jelas tugas dan fungsinya

3. Kapabilitas Supply, yaitu supplier potensial terkait permintaan kebutuhan

(20)

GAMBAR 1 TEORI VALUE-CHAIN DAN HUBUNGAN ANTARA KETIGA FAKTOR [4]

Value Chain dan Value Network Industri Telekomunikasi

(21)

Secara umum, generalisasi value-chain industri telekomunikasi dapat dibagi menjadi 3 elemen yaitu Manufaktur Perangkat Telekomunikasi, Operator dan Pelanggan [5]. Hubungan antara ke tiganya merupakan hubungan rantai supply dimana masing-masing independen satu dan lainnya yang menghasilkan nilai dan ketergantungan satu sama lain.

Terkait dengan manufaktur perangkat telekomunikasi, value chain industri perangkat telekomunikasi secara global mengikuti sistem Product Modularity. Hal ini dapat dijelaskan dengan teori tata kelola value chain [4], bahwa rumitnya penyediaan komponen dalam pembuatan perangkat ini, namun di sisi lain, dikarenakan tingginya permintaan terhadap produk ini menyebabkan banyaknya muncul penyedia komponen secara global seperti integrated circuit, software, dan pheriperalnya. Secara umum Value Chain dapat dipetakan ke dalam Industri Perangkat Telekomunikasi Global pada Gambar 3 yang secara umum terdiri dari pengembangan produk, platform, integrasi, produk dan layanan pelanggan [6].

GAMBAR 3VALUE CHAIN INDUSTRI PERANGKAT TELEKOMUNIKASI GLOBAL [6]

(22)

rantai supply ini memposisikan dirinya masing-masing [7]. Relasi di industri perangkat jaringan telekomunikasi ini, masih bersifat hierarki atau bersifat vertikal [4].

GAMBAR 4 VALUE CHAIN TRADISIONAL INDUSTRI JARINGAN TELEKOMUNIKASI [7]

Dengan luasnya aplikasi bisnis telekomunikasi terutama dengan adanya perubahan perilaku pasar, hubungan tersebut berubah dari Value Chain kepada Value Network [7]. Perbedaan antara keduanya dalam studi kasus penyelenggaraan telekomunikasi di Jepang [5] dan secara umum Value Network lebih menekankan untuk menjawab 7 perubahan perilaku pasar yaitu [7]:

1. Layanan berbasis transaksi (transaction) menjadi layanan berbasis hubungan (relationship)

2. Digerakkan oleh marketing (Marketing Push) menjadi keinginan pelanggan (Customer (subscriber) Pull)

3. Bertujuan untuk memperoleh pelanggan (Customer Acquisition) menjadi memperoleh keloyalan pelanggan ((Profitable) Customer Retention)

4. Mendapatkan pendapatan per pengguna (Average revenue per User) menjadi mendapatkan berapa keuntungan per-pengguna (Average Profit per User)

5. Berbasis ke platform layanan (Intelligence in Platform) ke fokus pada handset pintar (Intelligence in Handsets)

6. Memaksimalkan investasi (Investment in Infrastructure) menuju ke memaksimalkan kegunaan aset yang ada (Leveraging ke Assets)

7. Fokus ke teknologi (Technology) menjadi memaksimalkan layanan yang bisa disediakan teknologi (Content/Services)

(23)

terdapat banyak layanan-layanan pendukung dengan hubungan kompleks dan cenderung singkat untuk menghasilkan layanan yang memenuhi ketujuh perubahan tersebut.

Product Modularity

dalam Industri Perangkat Telekomunikasi

Product Modularity merupakan pembagian pekerjaan komponen industri yang fokus pada salah satu bidang dimana komponen tersebut dapat digabungkan [8]. Pembagian ini sebagai industri horizontal [9], yaitu industri yang fokus pada salah satu penyediaan komponen (Gambar 5). Dalam industri vertikal atau industri tradisional, vendor membuat keseluruhan perangkat dari hulu ke hilir. Dalam industri elektronika tradisional industri vertikal memiliki ciri memiliki departemen design, sistem operasi, perakitan, pemasaran sekaligus sebagai pemilik brand.

GAMBAR 5VERTICALLY INTEGRATED VS.HORIZONTALLY SPECIALIZED[9]

Spesialisasi industri ini akan lebih efektif jika perusahaan memiliki spesialisasi pembuatan komponen dengan melakukan koordinasi antar pembuat komponen tersebut [10]. Efisiensi tersebut juga bebas dari skala perusahaan, baik perusahaan skala besar maupun skala kecil [10]. Hubungan value-chain yang efektif dan efisien dengan profit perusahaan dijabarkan dalam model Vendor 4 Vendor 3 Vendor 2 Vendor 1 Design

Operating System

Manufacturing

Marketing

(24)

yang dibuat oleh Elgazzar (2012) [11], dimana hubungan ini dilihat dari hasil evaluasi matriks dalam model dengan pendekatan Analytical Hierarcical Proces. Dengan arsitektur yang sesuai, Products Modularity juga akan meningkatkan products reusability dan meminimalkan hal-hal yang tidak diperlukan sehingga berdampak pada Green Supply Chain atau rantai supply yang efektif dan efisien [12].

Perusahaan-perusahaan yang melakukan pemisahaan fungsi ini diantaranya Apple, Microsoft dan HP [9]. Dalam prakteknya, produk iPhone dari Apple, tidak dimanufaktur oleh Apple sendiri. Dalam konteks ini, Apple hanya melakukan design house dan merancang tampilan produknya. Perusahaan yang melakukan manufaktur adalah Foxconn. Di negara-negara yang menjadi basis pasar Apple, pemasaran dilakukan oleh perusahaan lokal, sebagai contoh di Indonesia seperti PT. Global Teleshop, PT. Trikomsel atau PT. Erajaya selaku distributor.

Peta Operasional Industri Telekomuniasi berbasis e-TOM

eTOM Framework (Enhanced Telecommunication Operation Map) merupakan framework yang jamak digunakan oleh Industri Telekomunikasi di dunia yang berasal dari TeleManagement Forum [13]. Framework ini mendeskripsikan unit-unit dasar yang dimiliki oleh perusahaan telekomunikasi. Secara umum eTOM terdiri dari 3 bagian besar yang dijabarkan pada eTOM level 0 (Gambar 6) yaitu Strategi, Infrastruktur dan Produk; Operasi; dan Manajemen Pendukung [13].

eTOM framework bekerja dengan proses dekomposisi dari level 0 secara global sampai dengan level 3 yang rinci menyebutkan fungsi masing-masing sub-sistem. Secara proses, eTOM tidak membatasi alur kerja masing-masing elemen, namun proses secara dinamis berubah sesuai dengan skenario tujuan perusahaan.

(25)

GAMBAR 6PETA PROSES DAN ELEMEN UMUM ETOM LEVEL 0[13]

Metode Penyusunan Peta Industri Perangkat Telekomunikasi

Seluler

Dalam memetakan Industri perangkat Telekomunikasi di Indonesia kajian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Model yang dibangung untuk memetakan industri perangkat handset telekomunikasi seluler menggunakan modifikasi Supply Chain Modularity [9] yang dapat dilihat Tabel 2 dan Tabel 3. Dari kerangka tersebut dilakukan analisis Strength, Weakness, Threath and Opportunity untuk melihat gambaran kondisi industri ini. Data dianalisis dengan menggunakan kerangka Supply Chain Governance [4].

(26)

1. Pemilik brand/merk handset dan industri manufaktur, meliputi PT Aries Indo Global (AIG) dengan merk dagang EverCross, PT Maju Express Indonesia dengan merk dagang MITO, PT Supertone dengan merk dagang SPC, PT. Tiphone Mobile Indonesia dengan merk dagang TI-Phone, PT. Teletama Artha Mandiri dengan merk dagang Venera, PT. Zhou Internasional dengan merk dagang Asiafone, PT Arga Mas Lestari dengan merk dagang AdvanDigital, PT. Tata Sarana Mandiri dengan merk dagang IVIO, PT. SatNusa Persada (Design House handset) dan PT. Sarana Kencana Mulya dengan merk dagang Polytron.

2. Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi: PT Hariff Daya Tunggal Engineering, PT LEN Industri (Persero), PT Industri Telekomunikasi Indonesia, PT Xirka Silicon Technology, PT Compact Microwave Indonesia, Versatile Silicon, PT Teknologi Riset Global dan PT. Fusi Global Teknologi

3. Industri Eksisting yaitu Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi yang meliputi PT. Huawei Investment Indonesia, Nokia-Solution Network, dan Samsung Telecommunication.

Pemilihan kriteria informan yaitu mengetahui secara teknis pengembangan produk dan menduduki jabatan tertentu disuatu instansi yang mempengaruhi kebijakan terkait industri. Hal ini dimaksudkan agar, setiap perubahan pada instansi tersebut dapat diperoleh dalam penelitian ini.

(27)

TABEL 2KERANGKA PETA INDUSTRI PERANGKAT TELEKOMUNIKASI

si Radio Network Infrastructure Sub sistem yang menyediakan infrastruktur jaringan radio [7] Billing Platform Sub sistem yang menyediakan software penghitungan tarif [7], [13] Network Solution Sub sistem pendukung manajemen infrastruktur dan strategi [13] Service Management Sub sistem yang menyediakan dukungan layanan

pengguna

[13]

Service Provider Sub sistem sebagai pemegang merk dan lisensi [7], [5]

Chipset

C

P

E

Design House Arsitektur handset [9]

System Integrator Penggabungan platform, hardware dan software [14]

Component Suppliers Penyedia komponen [15]

Manufacturing Assembly produk [9]

Brand Owner Pemilik merk [9]

Retailer Investor penjual [14], [15]

(28)

TABEL 3KERANGKA ANALISIS INDUSTRI CPETELEKOMUNIKASI

Chipset Sub sistem pada value chain yang memproduksi chipset.

O

D

M

Design House Design House Sub sistem pada value chain yang menguasai arsitektur produk yang berhubungan dengan chipset. [9]

Operating System

System Integrator

Sub sistem pada value chain yang berhubungan dengan design tampilan suatu produk. Dengan asumsi sistem operasi mengalami pengerucutan pada sistem operasi tertentu yaitu iOS, Android dan WindowsPhone [16], maka pada penelitian ini definisi Operating System diganti dengan definisi system integrator. Hal ini dikarenakan Operating System yang digunakan tidak dibuat sendiri oleh Sub-System sendiri namun telah disediakan dan dengan menitik beratkan vendor atau sub-system yang menguasai penggabungan sub-component dalam mendesign tampilan produk. System Integrator menggabungkan platform, software dan sistem. [14]

C

M

Component Suppliers

Sub-system yang membuat komponen perangkat[15]. Komponen ini mencakup supply material (plastik, logam, gelas), supply komponen (memory, baterai, core chip, display dan periferal) [17].

Manufacturing Manufacturing Sistem yang melakukan produksi [15], [9]

O

EM Marketing Brand Owner Sistem yang memiliki brand dan melakukan pemasaran. [9]

M

(29)

Gambaran Umum Industri Perangkat

Telekomunikasi Indonesia

Industri Perangkat

Customer Premises Equipment

Telekomunikasi

Seluler

Pangsa Pasar Perangkat CPE Telekomunikasi Seluler

GAMBAR 7 SEGMENTASI PERANGKAT CPE DI INDONESIA (SUMBER:GFK) 71

68

64

59

55

12 16

21

28 35

13 10 9 7

4 3

4 4 4 3

0,4 1 1 1 1,5

0,30,3 0,50,5 0,50,5 0,50,5 0,51

O C T 1 2 -D E C 1 2

J A N 1 3 -M A R 1 3

A P R L 1 3 -J U N 1 3

J U L 1 3 - S E P 1 3 O C T 1 3 -D E C 1 3

S M A R T P H O N E V S F E A T U R E D P H O N E

SMARTPHONE OTHERS

SMARTPHONE WINDOWS PHONE

SMARTPHONE IOS

SMARTPHONE A40 ASA TOUCH

SMARTPHONE BLACKBERRY

SMARTPHONE ANDROID

MOBILE PHONE

(30)

GfK melaporkan bahwa nilai pasar perangkat untuk CPE telekomunikasi sebesar 54 triliun rupiah selama satu tahun, dimana usia penggantian perangkat baru oleh pengguna memiliki umur paling lama 12 bulan [3]. Mereka melaporkan bahwa untuk wilayah Asia Tenggara, Indonesia merupakan pasar terbesar untuk kategori ini. Pada tahun 2013 impor ponsel mencapai 16.470 ton atau senilai dengan US$ 2,8 miliar atau Rp 33,4 triliun dengan negara asal impor terbesar yaitu Tiongkok dengan 13.116 ton atau US$ 1,6 miliar; Vietnam dengan 1.426 ton atau US$ 607,1 juta; Meksiko 239 ton atau US$ 203,6 juta; Taiwan sebesar 271 ton atau US$ 190,8 juta; India 432 ton atau US$ 56,5 juta; dan Hungaria dengan 63 ton atau US$ 51,5 juta. Sementara sisanya dari Korea, Hong Kong, Singapura, Kanada, Australia, Thailand, Amerika Serikat dan negara lainnya [18].

(31)

Industri ini lebih menarik dibandingkan industri elektronik lainnya dikarenakan pertama, dari sisi ukuran perangkat, relatif lebih mudah melakukan impor daripada memanufakturnya dalam negeri. Industri elektronik lainnya seperti mesin cuci, televisi atau kulkas, untuk menghemat biaya kirim lebih banyak dilakukan assembly di dalam negeri. Sehingga, importasi produk ini cenderung lebih besar dibandingkan jumlah manufakturnya di dalam negeri. Kedua, nilai pasar produk ini lebih besar dibandingkan dengan produk elektronik dengan usia pakai yang lebih cepat, dimana untuk produk elektronik sekitar 3 sampai dengan 4 tahun. Ketiga, dengan masuknya Indonesia dalam perjanjian Information Technology Agreement [19], Indonesia ikut serta dalam tariff cutting mechanism untuk bea masuk produk TIK, sehingga produk impor untuk kategori ini terutama produk handphone telekomunikasi bernilai 0, padahal jika komponen produk telekomunikasi dirakit di dalam negeri akan dikenai pajak sesuai dengan ketentuan berlaku. Sehingga, sangat efisien bagi sebuah perusahaan untuk membuatnya di luar negeri.

Dari sisi segmentasi harga, menurut laporan GfK yang dapat dilihat pada Gambar 7 secara umum dapat terlihat bahwa segmentasi perangkat ini menuju kepada segmentasi smartphone. Namun pada satu sisi, pasar untuk featured-phone dengan harga di bawah 1 juta merupakan tren yang sangat besar di Indonesia (Gambar 8). Sehingga, sebagian besar manufaktur lokal menyasar segmen ini. Hal tersebut dapat dilihat dari rentang harga produk telekomunikasi industri lokal yang masih menyasar featured-phone yang nilainya dibawah satu juta rupiah. Hal ini dapat dihubungkan dengan segmentasi produk ini sebesar 60% untuk pasar dibawah 1 juta rupiah pada Gambar 8.

Kondisi Impor Perangkat Telekomunikasi Seluler di Indonesia

(32)

GAMBAR 9 SEGMENTASI PASAR CPETELEKOMUNIKASI SELULER (SUMBER: KEMENTERIAN

PERDAGANGAN SD SEPTEMBER 2014, DIOLAH)

Dari data impor tersebut yang dapat terlihat pada rekapitulias pada Gambar 9, dapat dilihat bahwa CPE telekomunikasi seluler untuk kategori middle-end masih menguasai produk impor ini yaitu hampir setengah dari produk impor. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa setiap tahunnya penurunan jumlah pasar high-end menuju ke segmentasi middle-end dan secara garis besar, pasar handset seluler lebih banyak untuk pasar Middle-End. Rekapitulasi ini dikategorikan jika nilai impor tersebut harga satuannya di bawah Rp 500.000 dikategorikan sebagai handset low-end, harga satuannya di antara Rp500.000 – Rp2.000.000 dikategorikan sebagai handset middle-end, dan harga satuannya di atas Rp2.000.000 dikategorikan sebagai handset high-end.

Low-End; 21,42%

Low-End; 28,50%

Low-End; 17,72%

Low-End; 29,59% Middle-End;

30,99%

Middle-End;

51,29% Middle-End; 70,69% Middle-End; 45,76% High-End;

47,59%

High-End; 20,20%

High-End; 11,58%

High-End; 24,65%

2 0 1 2 2 0 1 3 2 0 1 4 J A N - 1 3 S D S E P - 1 4

(33)

GAMBAR 10 PANGSA PASAR CPE TELEKOMUNIKASI SELULER BERDASARKAN MERK

(SUMBER:KEMENTERIAN PERDAGANGAN SD SEPTEMBER 2014, DIOLAH)

Data Kementerian Perdagangan, sejak tahun 2012 sampai dengan September 2014, tercatat 117 merk perangkat seluler dengan Market-Share yang dapat dilihat pada Lampiran 1. Adapun merk dengan pangsa pasar terbesar yang dapat dilihat pada rekapitulasi Gambar 10 yaitu Samsung, Nokia, Blackberry, Apple, Smartfren, Lenovo, Cross/Ever Cross, Sony, Mito, Advan dan Oppo. Hampir setengah pangsa pasar produk ini dikuasai oleh produk dengan merk Samsung, namun dari sisi jumlah perangkat yang beredar 20% perangkat berasal dari Merk lokal Cross/EverCoss. Merk lokal dengan Band Coss/EverCross, Advan dan Mito walaupun masuk ke dalam 10 besar pangsa pasar dari sisi jumlah namun masih menyasar kategori low-end sehingga dari sisi market share lebih kecil. Sebagai perbandingan pada

22,76%

0,00% 5,00% 10,00% 15,00% 20,00% 25,00% 30,00% 35,00% 40,00% 45,00% OTHERS

Produk Impor Berdasarkan Merk Terbesar

(34)

jumlah dan Market share (nilai impor) beberapa merk ini, dimana merk dengan kualitas high-end dari sisi jumlah lebih sedikit namun lebih besar dari sisi Market-Share (Tabel 4).

0,000% 10,000% 20,000% 30,000% 40,000% 50,000% 60,000% 70,000% CANADA

Market-Share Impor Perangkat Telekomunikasi

Seluler

(35)

TABEL 4 11MERK TERBESAR BEREDAR DAN KATEGORI

Merk Kategori Market SAMSUNG Middle-End

NOKIA Low-End

BLACKBERRY High-End

APPLE High-End

SMARTFREN Middle-End

LENOVO Middle-End

CROSS Low-End

SONY High-End

MITO Low-End

OPPO Middle-End

ADVAN Low-End

(Sumber: Kementerian Perdagangan sd September 2014, diolah)

Dengan melihat asal negara (Country of Origin) CPE telekomunikasi, dapat dilihat pada Gambar 11 bahwa sebagian besar perangkat berasal dari Tiongkok sebesar 81% kemudian Vietnam sebesar 17%, namun dari sisi nilai impor, Tiongkok memiliki Market Share sebesar 60% sementara sepertiga lainnya berasal dari Vietnam. Hal ini menunjukkan bahwa Tiongkok merupakan basis manufaktur CPE telekomunikasi walaupun merk bukan berasal dari negara tersebut, dimana pemegang merk cenderung melakukan chain modularity untuk menghemat proses produksi mereka [9]. Dalam hal ini manufaktur dilakukan di Tiongkok dimana proses manufaktur lebih murah, sementara distribusi dengan mendirikan perusahaan lokal di Indonesia. Dari data tersebut, brand-brand lokal lebih banyak melakukan produksinya di luar negeri dibandingkan di dalam negeri.

(36)

GAMBAR 12 JUMLAH PERANGKAT YANG DIIMPOR BERDASARKAN ASAL NEGARA (SUMBER:

0,000% 10,000% 20,000% 30,000% 40,000% 50,000% 60,000% 70,000% 80,000% 90,000% CANADA

(37)

TABEL 5 KATEGORI HANDSET BERDASARKAN NEGARA (Sumber: Kementerian Perdagangan sd September 2014, diolah)

Jika dilihat market share negara lainnya cenderung turun tiap tahunnya, hal ini dikarenakan tren dari perangkat CPE low-end dan high-end menuju ke middle end, sebagai contoh untuk impor dari negara Meksiko yang menyasar pasar High-End dan India yang menyasar pasar Low-End yang cenderung turun. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5 yang merupakan rata-rata jenis kategori perangkat dari negara tersebut. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pergeseran kategori perangkat dari Tiongkok selama 3 tahun ini dari produksi CPE low-end menjadi middle-end.

Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi

(38)

Huawei Investment Tech Indonesia, Nokia Solution Network, Ericsson, Samsung Telecommunication, dan ZTE Indonesia. Dari kelima pemain tersebut, market-share dikuasai oleh Huawei sebesar 60% sejak tahun 2008.

PT. Huawei Investment Tech Indonesia

PT. Huawei Investment Tech Indonesia atau Huawei masuk ke Indonesia sejak tahun 2002 dan mengambil alih market-share di industri ini sebesar 60% sejak tahun 2008. Strategi pasar Huawei ditempuh melalui harga yang sangat bersaing dan hampir gratis sehingga Huawei berhasil meningkatkan market-sharenya dimana harga perangkat tersebut dioptimalkan dengan penerimaan dari Managed-Services. Selain itu biaya upgrade dan maintenance dibebankan kepada pengguna.

Huawei merupakan Market-leading di Indsutri ini dimana secara global mengalokasikan untuk pengembangan dan riset sebesar 10% revenue. Selain itu dengan keuntungan pabrikan di negeri Tiongkok, dimana perusahaan dapat membuat perangkat lebih cepat dan lebih murah, maka Huawei selalu siap dengan permintaan dan kebutuhan user. Kelebihan lain dari Huawei adalah, mereka menguasai pangsa pasar untuk di daerah Jawa dan Sumatera, sehingga sangat memudahkan untuk pemasangan dan maintenance.

Dengan penguasaan Market-Sahre begitu besar perusahaan ini dapat menerapkan Locking-Market dimana perpindahan merk perangkat sangat membebani operator dari sisi migrasi ke perangkat baru dan juga dampak ke pelanggan, sehingga user cenderung akan tetap memakai satu merk yang memiliki kompatibilitas yang sama. Dengan harga perangkat akan jenuh ke satu titik, sehingga keuntungan Huawei adalah, mereka sudah menguasai pangsa pasar di bidang ini namun dengan harga yang relatif sama.

PT. Nokia Solutions Networks Indonesia

(39)

NSN sendiri memiliki strategi dalam persaingan usaha di bidang ini yaitu dengan technologi-leading dengan menginvestasikan sebesar 14% untuk biaya R&D. Strategi ini ditempuh agar mereka mendapatkan user-based yang besar pada saat technology-deploy pertama seperti di LTE dan 5G. Dengan cara ini, mereka dapat mengunci user untuk menggunakan produk mereka selama 5 tahun dengan cara Managed Service dan penggantian alat. Strategi lain NSN ke depan dengan melihat tren Software Defined Radio dibandingkan Hardware-Based yang dapat menghemat biaya produksi.

Tantangan NSN dimana mereka mengusai pangsa pasar untuk daerah dengan infrastruktur transportasi yang sulit seperti di Kalimantan dan Papua, sehingga biaya transportasi dan sumber daya manusia yang besar.

PT. Ericsson Indonesia

Ericsson didirikan oleh Lars Magnus Ericsson pada tahun 1876. Ericsson merupakan anak perusahaan dari Telefonaktiebolaget LM Ericsson (perusahaan registrasi number 556016-0680) yang berpusat di Stockholm, Swedia. Ericsson telah hadir di 5 benua termasuk diantaranya di negara Australia, Amerika, China, Canada, Singapore, Thailand, Korea, Japan, German. Ericsson mulai dikenal di Indonesia pada tahun 1907. Ericsson menyediakan infrastruktur untuk solusi dan layanan komunikasi tetap dan bergerak kepada pelanggannya. Ericsson memasok jaringan selular (NMT) pertama pada tahun 1987 dan merupakan pelopor dalam menyediakan jaringan bergerak digital (GSM 900) di tahun 1995 dan juga jaringan GSM 1800 di tahun 2000 [20].

Dalam bidang jaringan telekomunikasi, saat ini PT. Ericsson Indonesia berfokus pada jaringan 2G, 3G dan sudah siap mengimplementasikan teknologi LTE. Saat ini Ericsson sedang melakukan uji coba LTE bersama dengan operator XL.

PT. Samsung Telecommunication Indonesia

(40)

CDMA sebagai teknologi dasar mereka dan pemain lainnya seperti NSN dan Ericson fokus pada infrastruktur 2G dan 3G.

Sejak masuknya Huawei dan ZTE yang juga ikut bermain pada pasar ini, Samsung hanya mendapatkan market-share sebesar 30%. Lini bisnis Samsung sekarang untuk mensupport perangkat pada operator Smart-Fren. Dikarenakan locking-user, maka sangat sulit untuk merebut kembali market-share yang ada dikarenakan migrasi merk perangkat membutuhkan effort yang lebih. Selain itu, Samsung tidak memiliki lini Managed Services dikarenakan pangsa pasarnya yang sangat kecil

Kelebihan Samsung fokus kepada kualitas perangkat, namun dari satu sisi mempengaruhi harga jual sehingga berimbas kepada kurang bersaingnya harga dengan perangkat Huawei dan ZTE. Saat ini Samsung menguasai pasar infrastruktur untuk wilayah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi untuk perangkat CDMA.

Strategi dalam menghadapi persaingan ke depan adalah dengan 2 cara yaitu dengan menambah pangsa pasar dan penjualan dan menambah variasi produk seperti infrastruktur akses sehingga bisa melakukan cross-subsidy untuk harga perangkat infrastruktur telekomunikasi yang mereka jual

Dengan adanya roadmap dari Kementerian Kominfo untuk memigrasi SmartFren dan WCDMA850 ke teknoogi netral yang mengarah ke LTE, Samsung pada dasarnya akan mengikuti pola tersebut, namun jika persaingan di ranah LTE ini sangat ketat, maka dipastikan akan keluar dari pasar Indonesia dikarenakan harga pasar yang kurang sehat

PT. ZTE Indonesia

(41)

Kebijakan Industri Perangkat

Telekomunikasi

Ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor: 16/M-IND/PER/2/2011 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri ini mulai berlaku pada tanggal 21 Februari 2011 serta menjadi pedoman seluruh produsen ponsel di tanah air. Peraturan Menteri ini digunakan dalam rangka peningkatan penggunaan produk dalam negeri dan menciptakan pengembangan industrilisasi telepon seluler. Hal seiring dengan semakin meningkatnya volume impor produk tersebut yang tidak memenuhi standar, maka standar mutu dan teknis produk tersebut harus lebih diperhatikan demi melindungi kepentingan konsumen. Pada Pasal 1 ayat 1 di Peraturan menteri ini menyatakan produk dalam negeri adalah barang/jasa termasuk rancang bangun dan perekayasaan yang diproduksi atau dikerjakan oleh perusahaan yang berinvestasi dan berproduksi di Indonesia, yang dalam proses produksi atau pengerjaannya dimungkinkan penggunaan bahan baku/komponen impor.

Aturan TKDN mendefinisikan produk dalam negeri adalah barang yang diproduksi oleh perusahaan yang berinvestasi dan berproduksi di Indonesia (wilayah kedaulatan negara - NKRI). Tingkat komponen dalam negeri, yang selanjutnya disebut TKDN, didefinisikan sebagai besarnya komponen dalam negeri pada barang, jasa dan gabungan barang dan jasa. Komponen dalam negeri pada barang adalah penggunaan bahan baku, rancang bangun dan perekayasaan yang mengandung unsur manufaktur, fabrikasi, perakitan, dan penyelesaian akhir pekerjaan yang berasal dari dan dilaksanakan di dalam negeri. Sedangkan komponen dalam negeri pada jasa adalah penggunaan jasa sampai dengan penyerahan akhir dengan memanfaatkan tenaga kerja termasuk tenaga ahli, alat kerja termasuk perangkat lunak dan sarana pendukung yang berasal dari dan dilaksanakan di dalam negeri. Seperti telah ditunjukkan sebelumnya bahwa penetapan nilai TKDN didasarkan kriteria:

(42)

2. Untuk alat kerja/fasilitas kerja berdasarkan kepemilikan dan negara asal;

3. Untuk tenaga kerja berdasarkan kewarganegaraan.

Sementara itu, biaya bahan (material) langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya tidak langsung pabrik dihitung sampai di lokasi pengerjaan (pabrik workshop) untuk produk barang yang bersangkutan. Penetapan kriteria di atas sifatnya subyektif berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Hal ini memungkinkan nilai TKDN yang berbeda untuk produk yang sama tapi diproduksi oleh perusahaan yang berbeda.

Tata Cara Ketentuan Perizinan Impor Telepon Seluler, Komputer

Genggam (

Handheld

), dan Komputer Tablet

Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 82/M-DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2013 dan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 38/M-DAG/PER/8/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82/M-DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet ini mulai berlaku pada tanggal 1 Agustus serta menjadi acuan seluruh distributor perusahaan elektronik di tanah air. Aturan ini diterbitkan guna mendukung Kesehatan, Keamanan, Keselamatan dan Lingkungan (K3L), serta industrialisasi telepon seluler dan komputer di masa yang akan datang. Seiring dengan semakin meningkatnya volume impor ketiga jenis produk tersebut yang tidak memenuhi standar, maka standar mutu dan teknis produk tersebut harus lebih diperhatikan demi melindungi kepentingan konsumen.

Kedua Peraturan Menteri Perdagangan tersebut diatas pada pasal 1 Ayat 4 menyatakan impor adalah kegiatan memasukan barang ke dalam Daerah Pabean. Artinya Peraturan Menteri Perdagangan itu dapat didefinisikan produk impor adalah produk yang dimasukan ke dalam Daerah Pabean, bukan dilihat dari negara asal produk.

(43)

1. Syarat pelabelan serta manual dan kartu garansi purna jual dalam bahasa Indonesia yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan, dan standar teknis dari Kementerian Komunikasi dan Informatika.

2. Untuk dapat melakukan impor ketiga jenis produk tersebut, perusahaan harus mendapat penetapan Importir Terdaftar (IT) dan Persetujuan Impor (PI) Telepon Seluler, Komputer Genggam dan Komputer Tablet dari Menteri Perdagangan.

3. Untuk mendapatkan PI tersebut, Importer Terdaftar harus terlebih dahulu mendapatkan Tanda Pendaftaran Produk (TPP) Impor dari Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT), Kementerian Perindustrian, dan Sertifikat Alat dan Perangkat Telekomunikasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika.

4. Berdasarkan ketentuan, telepon seluler, komputer genggam dan komputer tablet yang diimpor oleh Importer terdaftar hanya dapat diperdagangkan dan atau dipindahtangankan kepada distributor dan tidak kepada retailer ataupun konsumen langsung.

5. Impor ketiga jenis produk ini juga hanya dapat dilakukan melalui pelabuhan laut dan udara tertentu. Untuk pelabuhan laut yang diperbolehkan, yaitu Belawan di Medan, Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Emas di Semarang, Tanjung Perak di Surabaya, dan Soekarno-Hatta di Makassar.

6. Sementara itu, untuk pelabuhan udara adalah Polonia di Medan, Soekarno-Hatta di Tangerang, Ahmad Yani di Semarang, Juanda di Surabaya, dan Hasanuddin di Makassar.

7. Kemudian, surveyor yang ditunjuk oleh Menteri Perdagangan akan melakukan verifikasi atau penelusuran teknis impor terlebih dahulu di pelabuhan muat terhadap setiap pelaksanaan impor telepon seluler, komputer genggam, dan komputer tablet.

(44)

persyaratan yang harus dipenuhi; 2. Mendapatkan Persetujuan Importer (PI), yaitu ijin impor telepon seluler, komputer genggam (handheld) dan komputer tablet juga dengan mengajukan permohonan ke Kementerian Perdagangan dengan 7 (tujuh) persyaratan yang harus dipenuhi; 3. Mendapatkan Tanda Pendaftaran Produk (TPP), yaitu surat tanda pendaftaran produk yang akan diimpor dengan tipe, nomor identitas telepon seluler, komputer genggam (handheld), komputer tablet dan jumlah produk, yang diterbitkan oleh pejabat instansi/ unit teknis terkait yang berwenang dari Kementerian Perindustrian dan Sertifikat Alat dan Perangkat Telekomunikasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Tahapan yang ketiga ini harus dimiliki terlebih dahulu, sebelum mendapatkan Persetujuan Importer (Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82 tahun 2012, pasal 4 dan 7).

Dalam Peratuan Kementerian Perdagangan ini, perusahaan yang mendapatkan Importer Terdaftar Telepon Selular, Komputer Genggam (handheld) dan Komputer Tablet harus mengajukan permohonan tertulis kepada Menteri Perdagangan melalui Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, dengan melampirkan sejumlah kelengkapan, di antaranya:

1. Asli surat pernyataan kerjasama dengan paling sedikit 3 (tiga) distributor;

2. Bukti pengalaman sebagai importer Telepon Selular, Komputer Genggam (handheld) dan Komputer Tablet;

3. Bukti sebagai distributor Telepon Selular, Komputer Genggam (handheld) dan Komputer Tablet paling singkat selama 3 (tiga) tahun; 4. Surat penunjukan atau kerjasama sebagai distributor Telepon Selular,

Komputer Genggam (handheld) dan Komputer Tablet.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri atas nama Menteri Perdagangan menerbitkan Importer Terdaftar Telepon Selular, Komputer Genggam (handheld) dan Komputer Tablet paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak permohonan diterima secara lengkap dan benar. Penetapan sebagai Importer Terdaftar Telepon Selular, Komputer Genggam (handheld) dan Komputer Tablet berlaku selama 2 (dua) tahun, bunyi Pasal 5 Peraturan Menteri perdagangan itu.

(45)

dengan mencantumkan Tanda Pendaftaran Produk (TPP) Impor dari Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Impor (IUBTI) Kementerian Perindustrian. Masa berlaku Persetujuan Impor yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan sama dengan masa berlaku Tanda Pendaftaran Produk Impor dari Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Importer Kementerian Perindustrian.

Dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 32 Tahun 2013 pasal 17 ditegaskan, penetapan sebagai Importer Terdaftar Telepon Selular, Komputer Genggam (handheld) dan Komputer Tablet dapat dicabut izinnya apabila perusahaan :

1. Tidak melakukan kewajiban mendirikan industri Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld) dan Komputer Tablet sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8A;

2. Terbukti memperdagangkan dan/atau memindahtangankan Telepon Selular, Komputer Genggam (handheld) dan Komputer Tablet yang diimpornya kepada konsumen atau pengecer (retailer) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2);

3. Tidak melakukan kewajiban penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 sebanyak 2 (dua) kali;

4. Tidak melakukan impor Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld) dan Komputer Tablet dalam jangka waktu 6 (enam) bulan berturut-turut;

5. Terbukti mengubah informasi yang tercantum dalam dokumen impor Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld) dan Komputer Tablet ;

6. Melakukan pelanggaran di bidang kepabeanan berdasarkan informasi dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan;

7. Dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap atas tindak pidana yang berkaitan dengan penyalahgunaan dokumen impor teleponSeluler, Komputer genggam (Handheld) dan Komputer Tablet.

(46)

Kegiatan pelaksanaan verifikasi atau penelusuran teknis impor telepon seluler, komputer genggam (handheld) dan komputer tablet sangat penting dilaksanakan, hal ini sesuai dengan pasal 12 ayat 2. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82 tahun 2012. Untuk pendukung dasar hukum kegiatan tersebut diterbitkan Keputusan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 123/M-DAG/KEP/2/2013 tentang Penetapan Surveyor Sebagai Pelaksana Verifikasi atau Penelusuran Teknis Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam (handheld), dan Komputer Tablet. Hal penting yang perlu diketahui adalah Surveyor dalam hal ini PT. Surveyor Indonesia (Persero) dan PT. Sucofindo (Persero) melakukan verifikasi atau penelusuran teknis impor telepon seluler, komputer genggam (handheld), dan komputer tablet di pelabuhan muat negara asal sebelum dikapalkan.

Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang ke dan dari

Kawasan yang Telah Ditetapkan

Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 47/PMK.04/2012 Tentang Tata Laksana Pemasukan Dan Pengeluaran Barang Ke Dan Dari Kawasan Yang Telah Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas Dan Pembebasan Cukai Pada Pasal 1, menyatakan:

Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat tertentu di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang Kepabeanan. (ayat 4).

Kawasan Pabean adalah kawasan dengan batas-batas tertentu di pelabuhan laut, bandar udara, atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalu lintas barang yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. (ayat 5).

Kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas, yang selanjutnya disebut sebagai Kawasan Bebas, adalah suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah dari Daerah Pabean sehingga bebas dari pengenaan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan cukai. (ayat 6).

(47)

Sedangkan kawasan bebas adalah kawasan yang tidak dikenakan bea masuk dan pajak. Barang-barang impor harus melalui kawasan pabean ini.

Interpretasi

Ketiga

Peraturan

Menteri

Perindustrian,

Perdagangan dan Keuangan

Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 82/M-DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet dan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 38/M-DAG/PER/8/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82/M-DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet mendefinisikan produk impor adalah produk yang dimasukan ke dalam Daerah Pabean, bukan dilihat dari negara asal produk.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 47/PMK.04/2012 Tentang Tata Laksana Pemasukan Dan Pengeluaran Barang Ke Dan Dari Kawasan Yang Telah Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas Dan Pembebasan Cukai mendefinisikan Kawasan Bebas terpisah dari Daerah Pabean dan aturan Perindustrian mendefinisikan produk dalam negeri adalah barang yang diproduksi oleh perusahaan yang berinvestasi dan berproduksi di wilayah kedaulatan Indonesia (NKRI).

Sehingga produk yang diproduksi di Kawasan Bebas Indonesia, walaupun memiliki TKDN, tetap dianggap produk impor saat dikirim dari Kawasan Bebas ke Daerah Pabean Indonesia.

Peraturan perundang-undangan yang ada selama ini berasumsi bahwa produsen ponsel itu terintegrasi vertikal. Pada kenyataannya industri ponsel dunia terbagi-bagi secara modular atau terspesialisasi horizontal untuk mengejar economic of scales. Konsekuensi dari aturan yang ada, hanya mengidentifikasi produsen ponsel “brand owner” atau importir, sementara value chain industri ponsel yang lain tidak terakomodasi.

(48)

1. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor : 16/M-IND/PER/2/2011 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri

2. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 82/M-DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet.

3. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 38/M-DAG/PER/8/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82/M-DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet.

4. Keputusan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 123/M-DAG/KEP/2/2013 tentang Penetapan Surveyor Sebagai Pelaksana Verifikasi atau Penelusuran Teknis Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam (handheld), dan Komputer Tablet.

(49)

Potensi Lokal Industri Perangkat

Jaringan Telekomunikasi

Secara umum, Indonesia memiliki potensi untuk membangun perangkat jaringan telekomunikasi dengan diberikan kesempatan mengembangkan produk jaringan seluler.

PT. INTI

Pada awal-awal tahun pendiriannya, PT. INTI merupakan laboratorium Pos, Telepon dan Telegraf (PTT) serta Laboratorium Tadio dan Pusat Perlengkapan Radio yang bernaung di bawah Jawatan Pos, Telepon, dan Telegraf. Berdasarkan PP N0. 241 Tahun 1961 Jawatan Pos, Telepon dan Telegraf (PTT) diubah status hukumnya menjadi Perusahaan Pos dan Telekomunikasi (PN POSTEL). Dari PN Postel ini, dengan PP No. 300 tahun 1965 didirikan PN Telekomunikasi. Bagian Penelitian dan Bagian Perlengkapan yang semual terdapat pada PN POSTEL, digabungkan dan berganti nama menjadi Lembaga Administrasi, Bagian Penelitian dan Bagian Industri[21].

Pada tanggal 25 Mei 1966, PN Telekomunikasi mulai mengadakan kerjasama dengan perusahaan asing, yaitu Siemens AG dan pelaksanaannya dibebankan kepada Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pos dan Telekomunikasi (LPP Postel). Untuk merealisasikan kerjasama tersebut maka pada tanggal 17 Februari 1968 dibentuk suatu bagian pabrik telepon dalam organisasi LPP Postel dan LPP Postel diubah menjadi Lembaga Penelitian Pengembangan Industri Pos dan Telekomunikasi (LPPI Postel) yang berpangkal pada bagian pabrik telepon kemudian diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia kala itu, yaitu Presiden Suharto yang diwakili oleh Menteri Ekuin Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tanggal 22 Juni 1968.

(50)
(51)

TABEL 6 PORTOPOLIO PRODUK PT.INTI

Telecom Government Transportation Health Energy Defense ICT

Consumer

Device

Home gateway

Smart City Smart Track Smart Med Smart Meter

R

STB Smart Meeting Smart OBU Smart Clinic Smart

Controller

Application OTT Application Close user group Prepaid Meter

Fleet

Management Smart Clinic Smart

Meeting Smart home

BBM

Management Smart Hospital

Service OTT Service

(52)

Dalam menjalankan usahanya, saat ini PT. INTI bermitra dengan beberapa perusahaan diberbagai bidang terkait telekomunikasi dan informasi diantaranya Fixed Network (NSN, Alcatel Lucent, Huawei, Krone, 3M, Konet, NWC, Siegers, WRI, UT Starcom), Wireless Network (Sagem Telecommunications, Tongyu, Motorola, Ericsson, Samsung, JRC, Elora, Global Celular), Support & Value Added (Rohde & Schwarz, Eltek Valere, Hoppecke, Abacus Shoto, B&B, Leoh, IBT, Denyo, H&S, BPPT, LIPI), Mobile Device, IT & Content (Cisco, Juniper, IBM, SunMicrosystem, HP, Dell, Oracle, Microsoft, HDS, Intel, Motricity, F5, Via, Premiere Telco Hongkong, NetApp, Grandstream). Adapun produk-produk yang dihasilkan oleh PT. INTI yaitu Genuine Product (IP PBX, INTI Rectifier, Smart Clinic, Smart Control Unit); Joint Development (Coastal Radar (LIPI), Smart Meeting (BPPT)) dan OEM (Smartphone).

PT. CMI Indonesia

PT. CMI Teknologi didirikan pada tahun 2004 yang pada awalnya dengan nama GRE Services. PT. CMI Teknologi melanjutkan pekerjaan Compact Microwave Indonesia (CMI), yang telah beroperasi sejak tahun 1987. PT. CMI Teknologi merupakan sebuah perusahaan swasta di Indonesia yang memiliki usaha dibidang RF dan Microwave, yang meliputi :

1. Telekomunikasi terrestrial dan Satelit, untuk penggunaan sipil, militer maupun dunia aviasi.

2. Perangkat sensor dan penginderaan jarak jauh, seperti misalnya Radar (Radio Detection and Raging).

3. Guidance Control, seperti radio pengendalian pada peluru kendali, pesawat tanpa awak dan sejenisnya.

Selain itu, saat ini bidang usaha PT. CMI Teknologi telah merambah ke bidang elektronik pertahanan dan khususnya dibidang telekomunikasi frekuensi tinggi yang telah ditekuni selama 25 tahun telah mampu menciptakan sendiri perangkat perangkatnya dan tidak terkait prinsipal. Salah satu produknya yaitu stasiun bumi (satellite transceiver) yang telah berhasil diekspor.

(53)

frekwensi tinggi (microwave). Selain itu, untuk persyaratan pmebuatan komponen yang dijual berdasarkan ijin pemerintah pemilik teknologi, maka CMI Teknologi telah terdaftar di United States Defense Department Trade Control (DDTC) guna memenuhi ketentuan International Traffic in Arms Regulation (ITAR) Chapter 129. PT CMI Teknologi menekuni bidang “Radio Transmission” yang meliputi :

1. Telekomunikasi terrestrial dan Satellite, untuk penggunaan sipil, militer maupun dunia aviasi.

2. Perangkat sensor dan penginderaan jarak jauh, seperti misalnya Radar (Radio Detection and Raging).

3. Guidance Control, seperti radio pengendalian pada peluru kendali, pesawat tanpa awak dan sejenisnya.

Adapun portofolio beberapa produk PT. CMI yaitu:

1. Dibidang Satellite Communication: a. Satellite transceiver (20 – 125) Watt b. Block up Converter

c. Up Down Converter

d. Sedang dikembangkan adalah satellite modem TDMA format. 2. Dibidang terrestrial radio:

a. Tactical Radio Communication HF, VHF dan UHF frequency. b. Hand held radio communication

c. Sedang dikembangkan TDMA system untuk penggunaan commercial maupun military dan optical fiber transmission system.

3. Dibidang sensor dan penginderaan jarak jauh, CMI Teknologi telah banyak memproduksi berbagai “microwave assembly” untuk keperluan suku cadang Ground base Radar maupun Air Borne Radar. Dalam waktu dekat CMI Teknologi akan menerbitkan produk “radar system” yang murni buatan Indonesia.

(54)

PT. Xirka Silicon Technology (XST)

Didirikannya XST bermula sejak tahun 2005 sampai dengan 2008 dengan memulai usahanya sebagai design house yang melayani perusahaan elektronik multinasional di Fukuoka, Jepang. XST didirikan tahun 2008 sebagai sebuah perusahaan fabless yang berfokus pada chipset Baseband WiMax. Sejak tahun 2011 XST mengembangkan kartu SIM dan pada tahun 2012 dilanjutkan dengan pengembangan produk kartu cerdas (smart card) dan turunannya seperti kartu akses dan kartu ID dengan memanfaatkan teknologi Near Field Communication (NFC) dan RFID. XST juga merupakan Principal Member WiMax Forum.

Dalam melakukan pabrikasi sampai pembuatan silikon XST masih harus dilakukan di Jepang atau Singapura dikarenakan alat untuk memproduksinya sangat mahal, sementara skala produksi Xirka masih relatif kecil. Xirka juga berpengalaman degan bekerjasama dengan Huawei untuk perangkat WiMax dimana pemerintah mensyaratkan kandungan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sehingga vendor global seperti Huawei, mau tidak mau harus bermitra dengan vendor lokal.

PT. LEN Industri

PT. LEN Industri awalnya bernama Lembaga Elektronika Nasional (LEN) yang didirikan pada tahun 1965 dan pada tahun 1991 menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bernama PT. LEN Industri yang berada di bawah koordinasi Kementerian Negara BUMN. Selama ini Len telah mengembangkan bisnis dan produk-produk dalam bidang elektronika untuk industri dan prasarana dalam bidang:

1. Penyiaran, selama lebih dari 30 tahun telah memproduksi ratusan Pemancar TV dan Radio yang telah terpasang di berbagai wilayah di Indonesia.

2. Jaringan infrastruktur telekomunikasi

3. Elektronika untuk pertahanan, baik darat, laut, maupun udara.

4. Sistem Persinyalan Kereta Api di berbagai jalur kereta api di Pulau Jawa dan Sumatera.

(55)

6. Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

PT. LEN memiliki 3 (tiga) unit bisnis, yang terdiri dari Elektronika Pertahanan (ELHAN), Information & Communication Technology (ICT), Elektronika Transportasi (ELTRANS). Di bidang ICT sendiri produk yang dihasilkan oleh PT. LEN Industri, disajikan pada Tabel 5.

TABEL 7 PRODUK PT. LEN INDUSTRI DI BIDANG INFORMATION & COMMUNICATION

TECHNOLOGY(ICT)

Smart Card Broadcasting IT

Computing

Toll System Fixed Access

PT. Fusi Global Teknologi

PT. Fusi Global Teknologi (Fusi) merupakan perusahaan baru yang bergerak di bidang design dan produksi chipset bidang telekomunikasi terutama wireless dan infrastruktur dan bergerak untuk spesialisasi bidang Digital Signal Processing (DSP), Wireless Communications (ADSB, SSB), ASIC Front-end dan Back-end design, FPGA Prototyping, VLSI Architecture & Design, PCB Design (Analog, Digital and RF), Broadband (WiMax, LTE, DVB-T/T2), Near Field Communication (NFC), Android Programming (NFC, GPS Navigation & Tracking), Machine-to-machine technology (Wireless sensors) dan Industrial Product Design meliputi prototyping dan produksi skala besar

PT Fusi Global Teknologi didirikan sejak tahun 2012. Secara pengalaman, inisiasi ide pendiriannya dimulai pada tahun 2007 dengan proyek iBurst dan 2008 sampai dengan 2011 dengan proyek WiMAX, kemudian tahun 2012 dengan proyek LTE.

Adapun portofolio Fusi antara lain:

1. LTE Matlab Toolbox

LTE Matlab Toolbox merupakan simolator untuk LTE transport dan LTE physical layer yang berjalan dalam Matlab

2. LTE Signal Generator

(56)

3. LTE Signal Analyzer

LTE Signal Analyzer merupakan analyzer untuk LTE secara portabel untuk mendeteksi sinyal LTE/WiMax

4. LTE Framework

LTE Framework merupakan software LTE NodeB yang dapat digunakan baik itu untuk pengembangan, penelitian, prototyping dan implementasi, baik untuk sistem benchmark, verifikasi atau tes kesesuaian

5. WiMAX Subscriber Station

WiMAX Subscriber Station merupakan Indoor Access Point untuk teknologi WiMax

6. WiMAX Small Cell Board

WiMAX Small Cell Board merupakan Base Station untuk teknologi WiMax

7. Prototipe dan Produk lainnya

Fusi juga mengembangkan beberapa konsep dan produk seperti NFC Enabled Wireless Devices, Wireless Mesh System, HF Audio, Digital Data FSK, NFC Reader, RFID Reader, GPS Tracking Solution, Money, e-Logistics dan Bluetooth Low Energy

Versatile Silicon

•Car navigation software

2010

•Li-Ion charging controller

•Electronic Module Incubator

2011

•Radiation-counter LSI

(57)
(58)
(59)

Peta Industri Perangkat Telekomunikasi

Seluler

Secara umum, value chain industri telekomunikasi seluler Indonesia dapat dibagi menjadi 3 elemen yaitu Service Provider, Layanan Pendukung dan Handset Telekomunikasi.

GAMBAR 14 PETA INDUSTRI TELEKOMUNIKASI BERDASARKAN VALUE-CHAIN

Peta

Industri

Perangkat

Customer

Premises

Equipment

Telekomunikasi dalam Negeri

GAMBAR 15PETA INDUSTRI TELEKOMUNIKASI BERDASARKAN VALUE-CHAIN

Di dalam negeri, industri lokal yang memilki brand lokal di Indonesia tercatat PT Aries Indo Global (AIG) dengan merk dagang EverCross, PT Maju Express

Chipset

Design House

System

Integrator

Component

Suppliers

(60)

SPC, PT. Tiphone Mobile Indonesia dengan merk dagang TI-Phone, PT. Teletama Artha Mandiri dengan merk dagang Venera, PT. Zhou Internasional dengan merk dagang Asiafone, PT Arga Mas Lestari dengan merk dagang AdvanDigital. Adapun, industri lokal yang sudah mampu melakkan manufaktur perangkat ini yaitu Polytron, PT. Panggung dan SatNusa.

Jika dilihat nilai estimasi market-share pasar produk telekomunikasi di dalam negeri masih sangat jauh dibandingkan merk dari luar negeri. Hal ini dikarenakan belum terintegrasinya sistem value-chain yang ada di Indonesia. Jika melihat kategori supply chain secara lokal [4], industri di Indonesia masih bersifat relasional, dimana dalam hal ini SatNusa, Panggung dan Polytron yang sudah mampu memproduksi, bertindak sebagai lead-firm dalam industri ini dan relasional supplier adalah pemilik brand lokal di dalam negeri. Namun, jika dilihat secara global value-chain, sebagaimana matriks pada Tabel 4-3, Indonesia secara umum sudah lengkap memiliki rantai supply secara keseluruhan. Dalam diskusi sebelumnya [10], [9] dan [12] memberikan argumen bahwa Product Modularity merupakan salah satu solusi dalam efisiensi dan efektivitas industri suatu negara. Namun di sisi lain industri komponen perangkat seperti perangkat peripheral seperti kamera, baterai, display dan lain sebagainya masih memiliki ketergantungan terhadap rantai supply global, sehingga impor perangkat peripheral ini cenderung lebih besar dikarenakan belum adanya industri manufaktur ini di Indonesia.

TABEL 8 MATRIKS PETA SUPPLY CHAIN MODULARITY INDUSTRI CPE TELEKOMUNIKASI

Manufaktur Brand Owner

(61)

Design House

Di Indonesia baru terdapat 1 perusahaan Design House yang terlisensi oleh Qualcomm selaku vendor chipset utama dunia yaitu PT. Tata Sarana Mandiri (TSM) yang berwadah dalam 1 group IDEA International Development Limited, LtD yang berbasis di Tiongkok. Perusahaan ini juga merupakan satu-satunya design house yang berada di Asia Tenggara. Perusahan ini terlisensi untuk mendesign chipset Qualcomm 8260, 8960, 8064, 8926, 8974, dan 8916 yang tersegmentasi dari produk low-end sampai dengan high-end. Dengan bekerja sama dengan PT. SatNusa Persada (SatNusa), TSM memproduksi IVIO, yaitu ponsel 4G TD-LTE pertama yang Semi Knocked Down di Indonesia [23], [24] dengan kisaran harga 2 juta.

System Integrator

Di Indonesia, sampai dengan saat ini, hanya TSM dan Polytron yang dapat dikategorikan sebagai System Integrator. Pada prinsipnya, System Integrator berperan sebagai sub-system yang melakukan design tampilan, membuat dan menentukan komponen apa saja yang akan dipakai, serta berhubungan langsung dengan supplier kompenen. Sehingga, pada satu sisi, System Integrator selain berperan dalam merancang tampilan dan hasil akhir suatu produk, juga berperan sebagai pemilik modal yang berhubungan langsung dengan penyedia komponen.

Manufaktur

Sampai dengan saat ini, SatNusa, Polytron dan Panggung berpran sebagai manufaktur perangkat CPE telekomunikasi. Sub-Elemen ini bertindak dalam melakukan perakitan komponen dan melakukan testing produk.

Gambar

GAMBAR (S10 PANGSA PASAR CPE TELEKOMUNIKASI SELULER BERDASARKAN MERK UMBER: KEMENTERIAN PERDAGANGAN SD SEPTEMBER 2014, DIOLAH)
TABEL 8 MATRIKS PETA SUPPLY CHAIN MODULARITY INDUSTRI CPE TELEKOMUNIKASI INDUSTRI LOKAL
TABEL 12 ANALISIS SWOT INDUSTRI PERANGKAT JARINGAN TELEKOMUNIKASI INDONESIA

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahap ini dilakukan pembangunan antarmuka yang telah dirancang pada tahap sebelumnya, kemudian sistem dikembangkan dengan menambahkan sistem pencarian tempat,

Dari uraian diatas dapat kita ambil salah satu contoh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kabupaten HSU merupakan lembaga yang berwenang melakukan tugas

Maintainability suatu peralatan dapat didefinisikan sebagai probabilitas dari komponen atau sistem yang gagal tersebut untuk bisa dipulihkan atau diperbaiki pada suatu kondisi

MENUMBUHKAN KOMPETENSI SOFT SKILLS ABAD 21 PADA MAHASISWA UPI Peneliti adalah mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang melakukan

Kebanyakan partisipan yang sakit diabetes mellitus dengan ulkus kaki diabetikum mengalami stress akibat kondisi yang semakin memburuk dan terjadinya perubahan fisik,

Bangunan benteng yang sering disebut Loji Besar atau Loji Gede itu dibangun pada tahun 1765 – 1788. Benteng yang semula bernama Rustenburg itu konon sengaja didirikan di poros

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik dan menganalisis efektivitas biaya terapi pasien pneumonia yang di rawat inap antara beberapa

Dan dari hasil analisis data model antrian nyata (model pelayanan tunggal) diketahui bahwa dengan rata-rata tingkat kedatangan ( ) sebesar 87,6154 penumpang/menit