The Nation of Islam: Perjuangan Modern Afro-Amerika Abad ke-20
Makalah Sejarah Masyarakat dan Budaya Amerika Serikat
Pengajar: Agus Setiawan, Ph.D.
Disusun Oleh
Savran Billahi 1306454725
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia
A. Pendahuluan
Masalah ras dan etnisitas dalam perkembangan Amerika Serikat merupakan persoalan kompleks dan mendapatkan perhatian yang cukup signifikan. Perbedaan warna kulit antara orang pendatang dari Eropa (berkulit putih) dan pendatang dari Afrika (berkulit hitam atau kulit berwarna) adalah hal yang mendasar dari permasalahan ras dan etnisitas itu. Ditinjau secara historis, keduanya (bangsa Eropa dan Afrika) bukanlah penduduk asli, yang sebenarnya menduduki dan menempati tanah orang Amerika (Indian). Namun secara garis waktu, bangsa Eropa lebih dahulu datang daripada pendatang dari Afrika. Hal itu kemudian berdampak terhadap stigma keduanya (orang-orang berkulit putih dan berwarna).
Selain itu, kedudukan keduanya yang berbeda menciptakan suatu kelas sosial di dalam sistem masyarakat Amerika Serikat yang begitu tajam. Arus migrasi bangsa Eropa pada abad ke-16 dan selanjutnya menggantikan—bahkan menghapuskan— orang-orang Indian sebagai penduduk asli membuat orang berkulit putih merasa memiliki kedudukan yang tinggi. Bahkan para pendatang Eropa itu menyebut tanah Amerika sebagai “The New World” (Dunia Baru). Dalam perkembangannya, apa yang disebut Dunia Baru itu direalisasikan dalam bentuk sistem perpolitikan dan ekonomi, yang keseluruhan diciptakan oleh para pendatang Eropa itu.
Hal demikian berbeda dengan kisah kedatangan orang-orang Afrika ke Amerika Serikat. Mereka datang dengan membawa kepentingan orang-orang berkulit putih untuk dipekerjakan sebagai budak. Dari sanalah muncul etnis superior dan inferior, di mana orang-orang berkulit putih menjadi bangsa superior dan orang-orang berkulit hitam —selanjutnya disebuta Afro-Amerika— menjadi bangsa inferior. Bagaikan bola salju, praktik perbudakan itu terus-menerus melekat dan selanjutnya menggumpal hinga segala hal dikaitkan pada kedudukan kelas itu. Padahal secara statistik, pada 1790, populasi orang kulit hitam mencapai 15 persen dari jumlah keseluruhan penduduk Amerika. Jumlah yang cukup banyak untuk kalangan imigran.1
Dalam praktiknya, perbudakan yang dilakukan oleh orang-orang berkulit putih terhadap orang-orang berkulit hitam mirip dengan imperialisme, yang hadir dalam suatu hegemoni kelompok tertentu kepada kelompok lainnya. Pada perkembangannya, praktik perbudakan itu memicu emansipasi, sehingga pecah perang saudara yang di dalamnya sarat dengan isu perbudakan. Meskipun isu penolakan budak mencuat, namun rasisme orang kulit putih masih relatif tinggi. Pada awal 1800-an, muncul suatu gerakan untuk mendorong kebijakan back to Africa (memulangkan ke Afrika). Gerakan itu tidak lain adalah suatu respon dari masyarakat Amerika Serikat (orang kulit putih) terhadap orang Afro-Amerika. Bahkan pada 1816, didirikan suatu organisasi di House of Representative bernama American Society for Colonizing the Free People of Color in the United States untuk merealisasikan gerakan itu. Reverend Robert Finley, pendukung gerakan back to Africa, mengatakan bahwa orang Afro-Amerika dapat hidup damai, namun harus hidup di luar Amerika Serikat. Bagi Finley, orang Afro-Amerika adalah orang Afrika, dan tidak dapat berubah meskipun bermigrasi ke Amerika Serikat. Pendapat Finley itu tentu bernada rasisme, meskipun menurutnya perbudakan adalah haram
Namun, perjuangan untuk menghapuskan stigma negatif terhadap orang kulit hitam terus berlanjut, sampai pada 1 Januari 1863 Presiden Abraham Lincoln mengeluarkan Emancipation Proclamation, yang berdampak pada1865 dikeluarkan kebijakan untuk menghapus praktik perbudakan di Amerika Serikat, dan Kongres memutuskan amandemen ke-14 untuk memberikan hak-hak penduduk yang penuh kepada orang Afro-Amerika.2 Namun, orang Afro-Amerika belum puas dengan
kebijakan itu, karena dalam praktik sosial, orang kulit putih masih menganggap rendah orang Afro-Amerika.
Pada 1875-1883, orang Afro-Amerika mendapatkan suatu kebijakan sosial yang begitu sarat dengan rasisme, yaitu politik segregasi. Pada kisaran tahun itu, pemerintah pusat maupun lokal menerapkan segregasi ras yang mendiskriminasi
orang Afro-Amerika di berbagai area publik, seperti kereta, hotel, dan restoran.3 Hal
itu tampak pula pada pidato William Jennings Bryan tahun 1896; “I come to speak to you in defense of a cause as holy as the cause of liberty—the cause of humanity”. Meskipun apa yang dibawanya adalah mengenai kemerdekaan, namun apa yang dibawa William Jennings Bryan tidak mendukung hak-hak dasar orang Afro-Amerika.4 Bila dilihat dari statistik kependudukan di Amerika Serikat, pada kisaran
1870-an hingga dekade akhir abad ke-19, arus imigran yang datang dari Eropa makin meningkat.5 Dengan demikian kuantitas orang kulit putih pun makin meningkat. Hal
itu dapat menjadi salah satu faktor denyut rasisme masih tajam di Amerika Serikat. Dalam merespons itu, pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, orang Afro-Amerika mulai berani mengeluarkan suaranya menentang rasisme yang dilakukan oleh orang kulit putih—meskipun pada masa sebelumnya telah ada perjuangan orang kulit hitam, seperti Frederick Douglass (1718–1895)—. Perjuangan itu dimanifestasikan melalui berbagai macam gerakan, seperti melalui surat kabar, musik, dan agama.
Pada makalah ini, pembahasan difokuskan pada gerakan orang Afro-Amerika melalui pergerakan agama, khususnya Islam, yang secara institusional dimulai pada 1900 oleh Timothy Drew. Lebih lanjut, akumulasi dan koreksi dari pergerakannya menciptakan The Nation of Islam, yang memiliki banyak massa dan berpengaruh kepada stigma orang kulit putih terhadap orang Afro-Amerika.
B. Islam ala Timothy Drew: Eksperimen Baru Perjuangan Afro-Amerika
Di Amerika Serikat, pada awal abad ke-20, Islam sangat kental dengan orang Afro-Amerika. Angin itu pertama kali dihembuskan oleh Timothy Drew. Keturunan Afro-Amerika kelahiran New Jersey itu bekerja di sebuah kapal dagang, yang membawanya menjelajahi berbagai negara, seperti Palestina, Mesir, India, Maroko, dan Saudi Arabia. Dari perjalanannya itu, ia sangat terobsesi oleh budaya dan agama 3 George Brown Tindall dan David Emory Shi, America A Narrative History, Amerika Serikat: W.W. Norton & Company, Inc., 1984, hal. 881.
4 Ibid., 878.
Islam di dunia Timur, yang bebas dari persoalan rasial seperti yang dialaminya di Amerika Serikat.6
Pengalaman perjalanannya itulah yang menjadi benih-benih pemikiran pergerakan Islam di Amerika Serikat, yang kemudian digunakan juga sebagai alat untuk mengikis permasalahan rasial. Drew meyakini bahwa Islam adalah agama orang kulit hitam (Afrika), yang dalam sejarah pernah menguasai Eropa (orang kulit putih). Dari pemahamannya yang sederhana itu, ia menyebarkan agama Islam ke orang kulit hitam di Amerika, yang secara keturunan berasal dari tanah Afrika.
Dari penjelasan itu, maka pergerakan Islam yang dibawa Timothy Drew sejatinya bukan keseluruhan atas ajaran Islam, namun Islam yang dibawa adalah salah satu pesan moral berupa persamaan hak bagi setiap manusia. Secara sederhana, persamaan hak setiap manusia adalah Islam yang dianut Timothy Drew dalam menyuarakan hak orang kulit hitam di Amerika Serikat. Bahkan dalam penyebaran nilai itu, Drew membuat karya semacam kitab suci The Holy Koran, yang berisi ajaran religius campuran antara Islam, Kristen, Sufisme, dan nilai-nilai ketimuran.7
Karyanya itu sering disebut sebagai al-Qur’an karangan manusia.
Banyak kalangan menilai Drew telah menyimpang dari ajaran agama Islam yang sebenarnya. Bahkan terdapat kutipan dalam karyanya itu: “semua Nabi termasuk Yesus, Muhammad, Budha, dan Confusius”.8 Bila ditinjau dari isi dalam
karyanya itu, Islam hanya menjadi landasan berpikir dan religiusitas Drew. Selebihnya adalah persamaan hak dan kedudukan. Terlepas dari itu, Drew berhasil menghembuskan nafas bagi pergerakan Islam di Amerika Serikat, khususnya perjuangan orang kulit hitam dalam mengikis persoalan rasisme. Nama Timothy Drew menjadi Noble Prophet Ali Drew, yang bila dijabarkan: gelar Noble diberikan Ratu Inggris dan nama Ali diberikan oleh Sultan di Arab Saudi, mencerminkan bahwa terdapat suatu pengakuan atas kiprah yang dilakukan Drew.
6 Adib Rashad dan Game C. Miller, Islam, Black Nationalism, and Slavery, Maryland: Beltsville, 1995, hal. 166.
7 Muhammad Said, Islam Afro-Amerika: Pergerakan The Nation of Islam (NOI) (1930 – 1975), thesis, Depok: Universitas Indonesia, 2003, hal. 45-46.
Apa yang disebut pergerakan Islam Drew adalah pergerakan eksklusif, artinya pergerakan yang hanya diperuntukkan orang kulit hitam. Dengan tujuan menyamakan derajat orang kulit hitam dengan orang kulit putih, dalam konteks ini sebagai warga Amerika Serikat. Untuk itu tidak salah bila menyamakan gerakan Drew dengan gerakan nasionalisme Afro-Amerika. Pergerakannya cukup luas hingga ke Detroit, Chicago, Pittsburgh dan kota-kota lain. Dengan demikian, pergerakan Drew menjadi model baru pergerakan orang kulit hitam di awal abad ke-20. Apa yang dirumuskan dari pengalamannya menyentuh dunia Timur menjadi bahan eksperimen menciptakan pola baru perjuangan orang kulit hitam menyuarakan hak-haknya.
Pergerakan di bidang agama itu, selain dilakukan oleh Drew, pada saat yang hampir sama, juga dilakukan oleh Pendeta Marcus Garvey. Selain agama, pada masa itu, juga berkembang pola-pola perjuangan orang kulit hitam melalui bidang lain, seperti surat kabar dan musik R&B. Masa-masa itu dinilai sebagai kebangkitan orang kulit hitam di Amerika Serikat, mereka menyebutnya The Harlem Rennaisance. Pergerakan mengatasnamakan agama Islam yang diinisasi oleh Drew menjadi suatu bagian perjuangan orang kulit hitam yang berpengaruh terhadap perubahan stigma masyarakat Amerika Serikat
C. The Nation of Islam: Wajah Pergerakan Modern Afro-Amerika
Setelah Drew wafat, pengaruhnya tidak hilang begitu saja, namun dilanjutkan oleh Wallace D.Farad (kemudian berubah menjadi Wali Farad Muhammad). Saat wafat, Drew meninggalkan ribuan pengikut yang menjadi basis pergerakannya. Sebagai perkembangan dari Drew, Farad mendirikan Temple of Islam untuk menunjang pergerakan muslim orang Afro-Amerika yang jumlahnya mencapai sekitar 8 ribu orang. Farad menganggap dirinya sebagai juru penyelamat orang kulit hitam.9 Upayanya yang berhasil menghimpun ribuan orang membuat dirinya
memutuskan membentuk organisasi The Nation of Islam (NOI).
Layaknya sebuah pergerakan massif, NOI memiliki pusat pergerakan. Pusat pergerakan NOI berada di Paradise Valley di kawasan Ghetto Detroit.10 Selama masa
perjuangannya itu, Farad juga mengkader orang Afro-Amerika yang memiliki keberanian dan tanggung jawab tinggi untuk mengganti posisinya bila sewaktu-waktu tidak memimpin NOI. Dan, pada 1934, Farad diberitakan menghilang dari publik dan secara otomatis posisinya digantikan oleh orang yang telah dikaderkanya, yaitu Elijah Muhammad.
Sama seperti Farad, sebagai penunjang pergerakannya, Elijah mendirikan Temple no. 2, yang kemudian menjadi markas besar NOI. Yang menjadi pembeda pergerkan NOI pada masa kepemimpinan Elijah adalah dikembangkannya usaha peningkatan ekonomi orang Afro-Amerika, seperti mendorong mereka membuka toko atau rumah makan. Untuk meningkatkan peranan ekonomi orang Afro-Amerika, NOI di bawah pimpinan Elijah juga mendirikan Universitas Islam untuk kalangan orang Afro-Amerika. Bahkan dalam perkembangannya, NOI berhasil mendirikan bank dan juga perusahaan.
Dalam tataran itu, NOI berkembang pesat dan bertransformasi menjadi pergerakan yang semakin massif. Temple of Islam banyak didirikan untuk lebih menggerakkan NOI, bahkan di tubuh NOI juga didirikan organisasi keagamaan bernama Fruit of Islam (FOI). Dengan demikian jaringan internal NOI semakin kuat dan terhubung. NOI di bawah kepemimpinan Elijah dinilai berhasil membangkitkan kaum kulit hitam dari keterpurukan mental kaum kulit putih.11 Sebagai suatu
pergerakan dan perjuangan, apa yang dibawa Elijah itu merupakan suatu revolusi pemikiran yang sangat drastis di kalangan orang Afro-Amerika, di mana pandangan negatif dari orang kulit putih bisa diredam dengan keberanian orang Afro-Amerika untuk bebas mengekspresikan dirinya.
Pada kisaran tahun 1950-an, NOI mendapatkan kader baru bernama Malcolm X, seorang mantan narapida pecandu narkotik. Meskipun begitu, di NOI ia berhasil mencuat menjadi juru bicara Elijah. Kemampuan bicara dan wawasannya yang luas
10Ibid., hal. 51
mampu mengangkat dirinya sebagai orator kelas internasional dan membawa nama baik kaum kulit hitam. Malcolm X adalah sosok yang lahir dari penderitaan dan pengalaman buruk berkepanjangan, sehingga sebelum memutuskan untuk menjadi muslim ia hidup tidak beraturan, dan akhirnya dipenjarakan.
Hingga awal 1960-an Malcolm X menjadi simbol penentangan orang Afro-Amerika terhadap kaum kulit putih. Ia banyak menyuarakan hak-hak dasar manusia untuk mendapatkan kebebasan tanpa melihat golongan atau ciri fisik. Berkat kemampuannya, NOI berubah dari suatu komunitas minoritas menjadi organisasi berskala nasional.12 Berkat kemampuannya juga, apa yang melekat pada dirinya, yaitu
lambang X, menjadi bahan bisnis yang laku di pasaran Amerika Serikat. Lambang X terpampang pada topi-topi ataupun kaos-kaos.
Dengan demikian, secara langsung maupun tidak langsung, posisi orang Afro-Amerika dalam praktik sosial mulai disamakan kedudukannya dengan orang kulit putih. Hal itu merupakan kemajuan yang signifikan sepanjang sejarah perjuangan orang Afro-Amerika. Sorotan media terhadap perjuangan orang Afro-Amerika dengan simbol Malcolm X membuat publik Amerika Serikat semakin tersadar akan kepentingan hak-hak orang Afro-Amerika. Lebih jauh lagi, sebagai organisasi, NOI berhasil membawa semacam ideologi rasialisme kepada tujuannya, yaitu mengangkat hak orang Afro-Amerika di mata masyarakat Amerika Serikat.
Do for Self (Berbuat untuk Diri Sendiri) menjadi slogan pergerakan. Dalam pergerakannya itu, untuk mengangkat kedudukan orang Afro-Amerika, NOI bergerak dalam berbagai bidang, seperti ekonomi dan pendidikan. Kedua hal itu mengangkat kemandirian dan kepercayaan orang Afro-Amerika sebagai penduduk Amerika Serikat. Proses yang terbentuk di dalam internal NOI adalah suatu perkembangan, yang di setiap masa kepemimpinannya selalu bermetamorfosis. Dimulai dari pemahaman Islam yang sederhana oleh Timothy Drew, kemudian dilanjutkan Farad Muhammad yang dianggap oleh kalangan orang Afro-Amerika sebagai Imam
Mahdi,13 kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Elijah Muhammad, dan diteruskan
oleh Malcolm X.
Pada masa kepemimpinan Malcolm X, NOI mencapai puncaknya. Hal itu ditandai dengan konflik internal yang diawali oleh keterbukaan pemikiran Malcolm X terhadap Islam. Perubahan itu ia dapatkan setelah melakukan perjalanan haji ke Arab Saudi. Dengan terang-terangan ia menjelaskan bahwa Islam yang diajarkan Elijah tentang Islam adalah salah, karena muslim selain dianut oleh orang kulit hitam, juga dianut oleh orang kulit putih.14 Keterbukaan Malcolm itu membuat orang-orang yang
datang untuk mendengar ceramahnya makin banyak. Dan, hal itu membuat iri beberapa anggota NOI yang juga ingin mendapat posisi sepertinya. Padahal menurut Malcolm apa yang dilakukannya semata-mata untuk mengabdi kepada gurunya, Elijah, meskipun dalam hal tertentu ia juga mengkritiknya. Seakan tidak menanggapi kritik Malcolm, Elijah malah memujinya sebagai pemimpin yang memiliki karakter kuat.
Konflik internal makin mengerucut saat Elijah diketahui menghamili dua sekretaris pribadinya. Menanggapi hal itu Malcolm menyatakan bahwa Elijah telah mengkhianaiti perjuangan black muslim.15 Sampai akhirnya pada kasus kematian John F. Kennedy, Malcolm keluar dari permintaan Elijah dengan ditandai mengeluarkan pernyataan bahwa pembunuh John F. Kennedy adalah orang-orang kulit putih yang hipokrit, padahal di saat yang bersamaan Elijah meminta kepada seluruh anggota NOI untuk tidak mengeluarkan pernyataan kepada pers.16 Pada perkembangan selanjutnya,
Malcolm ingin membuat suatu organisasi yang dapat menampung segala lapisan kulit hitam, bukan dari black muslim saja. Kabar itu meluas dan Malcolm mencari dana untuk pembangunan tempat peribadatan baru, yang dananya ternyata mengucur dari berbagai kalangan, bahkan dari orang kulit putih dan umat kristiani. Usahanya itu membuat Elijah mengeluarkan Malcolm dari NOI, dan menyulut kemarahan kaum fanatik NOI hingga akhirnya membunuh Malcolm saat ingin membuka ceramahnya. 13Op.Cit., Muhammad Said, hal. 69.
14 Ibid., hal. 78.
15 Fauzan Hamrika, NOI MemimpinBlack Muslim Dalam Civil Rights Movement (1955-1965), skripsi, Depok: Universitas Indonesia, 2003, hal. 62.
Meskipun begitu, apa yang dibawa Malcolm memiliki pengaruh cukup besar terhadap perubahan stigma orang kulit putih terhadap orang Afro-Amerika.
D. Pergerakan NOI di Bidang Rehabilitasi dan Pendidikan
Terlepas dari konflik di atas, yang menarik dari pergerakan orang Afro-Amerika itu (NOI) adalah langkah konkret yang dilakukan di dalamnya terkait pengembangan moral dan pendidikan. NOI sejatinya bukan hanya menuntut persamaan kedudukan dan hak mereka, namun memberikan upaya sekaligus solusi terkait pandangan negatif dari orang kulit putih. Pemikiran itu mereka kembangkan dari nilai-nilai Islam tentang persamaan kedudukan manusia di mata Tuhan.
Dalam proses rehibitalisasi, target NOI adalah orang-orang Afro-Amerika yang mengalami kecanduan obat-obatan narkotik. Untuk membalikkan kehidupan negatif seseorang Afro-Amerika, NOI memiliki beberapa langkah strategis. Dimulai dari proses penyadaran, kemudian penjelasan sebab mereka menggunakan obat narkotik, kemudian proses peyakinan diri pecandu, hingga mereka meninggalkan secara utuh obat-obatan terlarang itu. Setelah sembuh, mereka harus mencari orang-orang Afro-Amerika lainnya yang juga kecanduan untuk direhibitalisasi.17 Dari proses
itu secara perlahan keturunan-keturunan Afro-Amerika berasil direhibitalisasi.
Di bidang pendidikan, NOI mendirikan jenjang pendidikan berkelanjutan, mulai dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Sekolah Lanjutan Atas, sampai Universitas Islam. Dalam proses pendidikan itu, apa yang diajarkan di dalamnya adalah metode didaktis untuk mengenalkan keberadaan kedudukan orang Afro-Amerika, seperti bahasa dan sejarah. Proses di dalam pendidikan itu digunakan NOI untuk menyandarkan orang Afro-Amerika terhadap kecerdasan intelektual sebagai modal dasar menuntut persamaan hak dan kedudukan. Sebagai lanjutan, NOI juga mendirikan bank dan pasar mandiri. Apa yang dibangun itu memiliki tujuan untuk mengembangkan bisnis orang kulit hitam ke dunia internasional. Di pasar mandiri yang didirikan NOI itu juga dibentuk suatu kontak dagang internasional, namun uang yang berasal dari konsumen lebih diputar
di kalangan internal. Dari sana, orang Afro-Amerika menjadi lebih giat mengembangkan usahanya, seperti membuka lahan bisnis, bekerja sebagai pedagang, agen, dan lain-lain. Pada tahap itu, fondasi yang diletakkan oleh NOI mampu mengubah cukup signifikan moral dan sikap orang Afro-Amerika. Kebanyakan dari mereka sebelumnya adalah peminum, pecandu narkotik, pencuri, dan lainnya.18
E. Kesimpulan
Perjuangan orang Afro-Amerika untuk mengangkat kedudukannya di Amerika Serikat telah berlangsung lama, yang terbentuk dari praktik perbudakan. Perjuangan itu, pada 1 Januari 1863, membuat Presiden Abraham Lincoln mengeluarkan Emancipation Proclamation, yang berdampak pada1865 dikeluarkan kebijakan untuk menghapus praktik perbudakan di Amerika Serikat, dan Kongres memutuskan amandemen ke-14 untuk memberikan hak-hak penduduk yang penuh kepada orang kulit hitam. Hal itu menjadi angin segar bagi orang Afro-Amerika, namun, mereka belum puas dengan kebijakan itu, karena dalam praktik sosial, orang kulit putih masih menganggap rendah orang Afro-Amerika.
Pada awal abad ke-20, gerakan perjuangan itu makin meningkat. Hal itu ditandai dengan munculnya berbagai varian, salah satu yang paling giat dan mendapat sorotan adalah The Nation of Islam (NOI). Pergerakan yang diinisiasi oleh Timothy Drew itu dimulai dari pemikiran Islam yang sederhana, kemudian dilanjutkan Farad Muhammad, dan kemudian dikembangkan oleh Elijah Muhammad dan Malcolm X. Sebagai suatu gerakan, NOI dapat dikatakan sebagai wajah modern gerakan Afro-Amerika. Meskipun apa yang dibawa di dalamnya adalah Islam, namun bukan serta merta NOI adalah gerakan fundamentalis. NOI bergerak dengan membawa unsur pendidikan dan kemandirian ekonomi. Hal itu yang mendorong semangat orang Afro-Amerika untuk tampil setara dengan orang kulit putih.
Daftar Pustaka
___Ali, H.A. Mukti, Muslim Bilali dan Muslim Muhajir di Amerika Serikat, Jakarta: Haji Mas Agung, 1990.
___Canfield, Leon H. dan Howard B. Wilder, The Making of Modern America, Amerika Serikat: The Riberside Press Cambridge, 1952.
___Haley, Alex, Malcolm X: Sebuah Autobiografi, Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002. ___Hamrika, Fauzan, NOI Memimpin Black Muslim Dalam Civil Rights Movement (1955-1965), skripsi, Depok: Universitas Indonesia, 2003.
___Mustawalena, Perjuangan NAACP dalam Rangka Menghapuskan Diskriminasi Rasial dalam Bidang Pendidikan Terhadap Afro-Amerika Hingga Kasus Brown VS. Board of Education Tahun 1954, skripsi, Depok: Universitas Indonesia, 2007.
___Rashad, Adib dan Game C. Miller, Islam, Black Nationalism, and Slavery, Maryland: Beltsville, 1995.
___Robert H. Walker, American Studies Topics and Sources, London: Greenwood, 1976.
___Said ,Muhammad, Islam Afro-Amerika: Pergerakan The Nation of Islam (NOI) (1930 – 1975), thesis, Depok: Universitas Indonesia, 2003.
___Straub, Deborah Gillon, African-American Voices.Vol. K-2. UXL. An Imprint of Gale Research, 1996.