• Tidak ada hasil yang ditemukan

dalam Sejarah Nasional Indonesia IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "dalam Sejarah Nasional Indonesia IV"

Copied!
177
0
0

Teks penuh

(1)

Kms. Gerby Novario

(06121004031)

Azuar Anas

(06121004009)

Ayu Rizky Utami

(06121004002)

Pertumbuhan Dan Perkembangan Ideologi dan Organisasi

Pergerakan Nasional Indonesia

1. Pelopor Pergerakan Nasional

Dilatar belakangi oleh diterapkanya politik etis yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda yang membawa dampak, munculnya priyai Jawa yang “baru”atau Priyai rendahan. Mereka memiliki pandangan bahwa pendidikan adalah kunci untuk kemajuan. Kelompok inilah yang mempelopori organisasi yang benar-benar modern.

Pendidikan yang didapat oleh golongan ini merupakan salah satu poin dari politik etis (politik balas budi) yang dimana dalam politik etis itu terdapat beberapa poin yaitu (1), Edukasi, (2), Emigrasi, dan (3) Irigasi. Dari poin edukasi itulah muncul para cendikiawan atau golongan kaum terpelajar. Dari munculnya kaum terpelajar pada awal abad ke-20 ini merupakan langakah awal bagi rakyat Indonesia untuk mengadakan perjuangan secara modern. Gejala ini Dinamakan Kebangkitan Nasional

Gejala Kebangkitan Nasional ini disebabkan oleh dua faktor utama, yakni : 1. Faktot internal, yaitu dengan dibukanya politi etis oleh Pemerintah

Hindia Belanda.

(2)

Karena pengaruh gagasan-gagasan modern, anggota elit nasional atau tokoh-tokoh terpelajar menyadari bahwa perjuangan untuk memajukan bangsa Indonesia harus dilakukan dengan organisasi modern. Dengan didasari oleh keyakinan tersebut, maka golongan terpelajar kita sat itu mulai mengadakan gerakan dengan membentuk organisasi-organisasi salah satunya Organisasi Boedi Oetomo (BU). (sumber : Ejang Odih dan Sumarni, 1995 Hal. 100-101)

2. Boedi Oetomo (BU)

Dengan semboyan hendak meningkatkan martabat rakyat. Dilatarbelakangi situasi ekonomi yang memburuk di Pulau Jawa karena eksploitasi kolonial dan westernisasi, seorang Priyai baru, dr. Wahidin Sudirohusodo bangkit mengangkat kehormatan rakyat jawa dengan memberikan pengajaran. Ia berusaha menghimpun dana beasiswa (study fond) untuk memberikan pendidikan Barat kepada golongan Priyai Jawa.

Propaganda yang dijalankan oleh dr. Wahidin tersebut disambut oleh Soetomo, seorang mahasiswa School tot Opleiding van Indische Arsten (STOVIA) atau Sekolah Dokter Jawa. Bersama rekan-rekannya dia mendirikan Budi Utomo (BU) di Jakarta pada 20 Mei 1908.

Organisasi Budi Utomo ini sejak awal sudah menetapkan bahwa bidang perhatiannya meliputi penduduk Jawa dan Madura. Sejak kelahirannya terdapat pro dan kontra. Kelompok kontra membuat organisasi tandingan yang bernama Regent Bond, yang anggot-anggotany berasal dari kalangan bupati pengatur status quo yang tidak ingin berubah. Adapun yang pro, seperti Tirto Kusumo merupakan kalangan muda yang berpandangan maju.

(3)

bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota muda yang memilih untuk menyingkir.

Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman. Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.

Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.

(4)

demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi maupun Maluku.

Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota. Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme "Indonesia" ada dan merupakan unsur yang paling penting.

(sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Budi_Utomo jam 20.00 selasa 28-01-2014) Dalam kongres ini, etnonasionalisasi semakin bertambah besar. Selain itu, dalam kongres tersebut juga timbul dua kelompok, yaitu kelompok pertama diwakili oleh golongan pemuda yang merupakan minoritas yang cenderung menempuh jalan politik dalam menghadapi pemerintah kolonial. Adapun kelompok kedua merupakan golongan mayoritas diwakili oleh golongan tua yang menempuh perjuangan dengan cara lama, yaitu sosialkultural.

Dari hasil kongres 3-5 Oktober 1908 tersebut diambil keputusan sebagai berikut :

1. Boedi Oetomo tidak ikut mengadakan kegiatan Politik

2. Kegiatan utama ditunjukan kepada bidang pendidikan dan budaya 3. Ruang garak terbatas hanya Jawa dan Madura

(sumber : Ejang Odih dan Sumarni, 1995 Hal.101)

(5)

Golongan ini juga mendukung pendidikan yang luas bagi kaum priyai dan mendorong kegiatan pengusaha jawa. Tjipto terpilih sebagai seorang anggota dewan. Namun, pada 1909 dia mengundurkan diri dan akhirnya bergabung dengan Inddische Partij yang perjuangannya bersifat radikal.

Dalam perkembangan selanjutnya, Budi Utomo tetap meneruskan cita-cita yang mulia menuju “kemajuan yang selaras buat tanah air dan bangsa”. Ketika pecah perang Dunia I (1914) Budi Utomo turut memikirkan cara mempertahankan Indonesia dari serangan luar(sumber : Nana Supriana, Hal. 145-146).

Dalam konteks penjajahan Kolonial Belanda, lahirnya Budi Utomo sangatlah besar artinya. Ketika itu peraturan pemerintah kolonial Belanda, yaitu Regeerings Reglement pasal 111, melarang didirikannya perkumpulan politik atau perkumpulan yang dianggap menggangu ketentraman umum. Bahkan pembicaraan yang menyangkut masalah-masalah politik dianggap tabu. Beberapa pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) yang kemudian secara diam-diam melakukan perkumpulan dan mampu menembus peraturan tersebut dengan melalui pembentukan Budi Utomo di Jakarta. Teknik yang digunakan guna menembus peraturan pelarangan tersebut adalah dengan mencantumkan tujuan organisasinya pada segi Sosial Budaya. Jadi mereka berusaha menghindari pembicaraan yang menyangkut hal-hal yang bersifat politis(Departemen Penerangan RI, 1999; 2)

(6)

Tentang berdirinya perhimpunan Budi Utomo ini, juga dituliskan dari cerita Gunawan Mangunkusumo, yang dimuat dalam buku Soembangsih, Sebuah buku peringatan 10 tahun berdirinya Budi Utomo, diterbitkan pada 20 Mei 1918 sebagai berikut:

“tekanan-tekanan di udara masyarkat luar dan dalam negeri sejak beberapa bulan dan dalam negeri sejak bebrapa bulan lamanya telah menyentuh jiwa para pemuda pelajar STOVIA, terutama jiwa Soetomo. Berita-berita luar negeri menjadi bahan pembicaraan. Demikian juga kepincangan-kepincangan didalam negeri, terutama dibidang pengajaran, pendidikan, perekonomian dan ke pangreh prajaa kolonial menjadi bahan renungan. Diresahkan oleh Soetomo dengan kawan-kawannya perlunya suatu organisasi tersendiri, untuk menunjukan kepada dunia luar bahwa pemuda dan pelajar ingin memajukan rakyatnya di segala bidang, ingin menjadi penuntun bagi rakyatnya dari dalam segala ke alam tenang” Tokoh yang tidak dapat dilepaskan dari berdirinya Budi Utomo yaitu Soetomo, Soetomo aktif sekali menyebarkan cita-cita yang sangat luar biasa ini. Tidak hanya teman-teman sekelasnya yang dihubungi, Soetomo juga mendatangi juga para murid dari kelas lain, baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Di kelasnya Soetomo-Goenawan tercatat 17 murid, dikelas yang lebih tinggi ada 11 murid, dikelas yang lebih rendah ada sekitar 20 murid, belum terhitung murid-murid dari kelas yang lebih rendah lagi. Semua kelas itu didatangi oleh Soetomo, dan dijelaskan maksudnya. Penerimaan dimana-mana baik sekali(Roeslan, 1976; 20).

Ditetapkan kemudian untuk berkumpul bersama pada suatu hari tertentu untuk membulatkan pendapat. Hari itu adalah hari minggu tanggal 20 Mei 1908. Tempatnya ialah “ in de zaal van het eerste jaar der geneeskundige afdeeling”, ‘ruang pelajaran kelas satu”. Demikian keterangan Goenawan Mangunkusumo (ruang ini sekarang telah dipugar dan diberi nama Ruang Budi Utomo)(Roeslan, 1976; 20).

(7)

supaya pelajar-pelajar sekolah lain, seperi pendidikan guru, penyuluh pertanian dan sebagainya diajak untuk memperkuat barisan Budi Utomo

Dalam tulisan Goenawan Mangukusumo:

“Tepat pukul 9 pagi semua sudah berkumpul, Soetomo mulai berbicara, dan menjelaskan maksud dan tujuan pertemuan pagi itu. Beliau sepenuhnya. Gagasan Soetomo dan kawan-kawan berhasil, didirikanlah saat itu juga perkumpulan”Budi Utomo”; organisasi modern yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Ketuanya adalah Soetomo!” Demikianlah apa yang disadur dalam tulisannya Goenawan Mangunkusumo. Tulisan ini boleh dikatakan salah satu laporan otentik ditulis oleh orang yang ikut hadir dan ikut mendorong cita-cita luar biasa ini(Roeslan, 1976; 25)

Dengan Tujuan menaikkan derajat bangsa, beberapa mahasiswa tersebut mendirikan organisasi Budi Utomo. Pada hari historis, 20 Mei 1908 didirikan oleh mereka suatu perkumpulan , bernama Budi Utomo yang diketuai oleh Soetomo. Penerimaan anggota dibatasi dan yang diterima hanya mereka yang mempunyai keinsyafan dan kegairahan untuk mendukung dan menyebarkan cita-cita bersama ke arah emansipasi dan solidaritas. Meskipun tidak dilakukan propaganda secara besar-besaran, namun dalam satu triwulan saja jumlah anggota sudah mencapai 650 orang, diantaranya terdapat kaum terpelajar, pegawai, pamong praja dan swastawan(Soegeng, 1992; 48)

3. Cabang Yogya Berdiri

(8)

dari pihak tua yakni dr. Wahidin Sudirohusodo. Dan juga perencanaan dalam pengadaan kongres pertama Budi Utomo.

Organisasi yang baru terbentuk ini, walaupun perhatian utamanya dipusatkan pada kaum bumiputera sebagai anggota, tetapi sebenarnya tidak ada maksud mengasingkan golongan lain dan tidak membedakan bangsa, jenis kelamin, dan agama. Semua pihak yang bersimpati terhadap kemajuan Nusa dan Bangsa Indonesia diundang untuk menghadiri kongres pertamanya yang diadakan di Yogyakarta pada tanggal 3, 4, dan 5 Oktober 1908.

Motor kongres Budi Utomo yang pertama ini adalah pemuda Sutomo, dengan cabang Jakarta sebagai basisnya. Biaya kongres yang pertama ini dikumpulkan dari sumbangan sukarela para pelajar itu sendiri, ada yang memberikan arloji, kain panjang, ikat kepala, pakaian lama, dan barang-barang lain untuk dirupakan uang untuk biaya kongres(Roeslan, 1976; 22)

Yang menyatakan kesedian datang ke kongres di Yogya antara lain murid-murid dari sekolah pertanian dan peternakan Bogor, Burger Avond-school (BAS) Surabaya, Sekolah Pendidikan Pangreh Praja (Opleidings School), dari Magelang dan Probolinggo, Sekolah Pendidikan Guru (Kweek-School) dari Bandung, Yogya, Probolinggo, dan sejumlah besar pribadi-pribadi lainnya, dari golongan intelek dan priyayi.

Terutama kaum Priyayi tinggi dari daerah Yogya menyatakan kesanggupannya membantu Kongres di Yogya itu. Kebanyakan mereka adalah pegawai Pakualaman dan pegawai govermen, yakni pegawai pemerintahan Belanda(Roeslan, 1976; 22)

(9)

Adapun yang menjadi inti persoalan dalam kongres pertamanya itu yakni masih sekitar pengaruh kedudukan peradaban Barat dalam perkembangan kebudayaan Indonesia, seperti yang tercermin dalam sikap dan pendirian para pemuda terhadap soal itu. Penyampaian dari tokoh-tokoh Budi Utomo dalam kongres pertamanya antara lain:

1. Dalam pidato pembukaannya, M. Wahidin Sudirohusodo membentangkan tujuan perkumpulan, yaitu terutama dengan perkemabangan jiwa yang hendak mempertinggi derajat bangsa, sehingga lebih besar kesadarannya tentang hak dan kewajibannya sedangkan pengetahuannya dapat mengelakkan beberapa pengaruh sifat yang hingga saat itu menhalang-halangi jalan kearah kesadaran atas harga diri, tanpa kehilangan watak nasional sebagai bangsa, tanpa terbawa oleh oleh imitasi adat-istiadat barat meskipun menuntut ilmu pengetahuan Barat sebagai alat untuk mencapai kemajuan.

2. Pembicara II, R. Soetomo ketua cabang Jakarta, dikemukakan sebagai dalil, bahwa pengetahuan memberikan alat-alat untuk menambahkan kesejahteraan material. Kekurangan pengetahuan menjadikan rakyat sebagai umpan eksploitasi bangsa asing saja. Pendeknya Jawa sangat membutuhkan pengajaran di pelbagai lapangan, kata Soetomo.

3. Pembicara III, M. Gunawan Mangunkusumo, wakil ketua cabang Jakarta. Dikatakan bahwa Boedi Oetomo harus memperbaiki nasib rakyat kecil yag jelek, karena konservatisme dan takhayul. Budi utomo bertugas di desa dimana rakyat kecil memerlukan pendidikan .

4. Pembicara IV, Mas Rajiman Mangunhusodo dari Solo, menekankan nasionalitas Jawa dengan semboyan “Bangsa Jawa tetap Jawa”. Isi uraiannya mengandung banyak unsur reaksioner, aristokratis, konservatif sehingga membangkitkan reaksi dan bantahan(Soegeng, 1992; 49-50)

(10)

Ditolak pendapat, M. Rajiman yang mengatakan bahwa ada perbedaan antara bakat Bangsa Barat dan Timur serta pengetahuan Barat tidak sesuai dengan bangsa Jawa dan tidak memberikan hasil. Dikemukakan oleh Cipto Mangunkusumo bahwa pendidikan benar-benar mempunyai peranan yang besar dan bangsa Jawa perlu sekali mengambil keuntungan dari kemajuan Barat untuk memperbaiki tingkat penghidupannya.

Kecuali itu, dengan bersemangat pula Cipto Mangunkusumo mempertahankan pendiriannya, bahwa sebuah organisasi politik harus bergerak secara demokratis dan terbuka bagi setiap anak Indonesia. Organisasi ini harus menjadi pimpinan bagi rakyat banyak dan jangan mencari hubungan dengan cabang atasan, bupati-bupati dan pegawai-pegawai lain, karena feodalisme sama sekali tidak cocok dengan demokrasi. Karena tidak adanya persesuaian dengan Budi Utomo itu, maka keluarlah Cipto Mangunkusumo dari organisasi Budi Utomo(Soegeng, 1992; 50-51)

Dibawah kepengurusan “generasi tua”, kegiatan Budi Utomo yang awalnya terpusat dibidang pendidikan, sosial, dan Kebudayaan sedikit demi sedikit mula bergerser ke politik . Strategi perjuangan Budi utomo juga mulai bergeser dari awalnya Protonasionalisme menjadi lebih kearah kooperatif dengan Pemerintahan Kolonial Belanda.

(11)

Budi Utomo juga menyadari arti penting manfaat organisasi pergerakan bagi rakyat, maka pada tanggal 1920 organisasi Budi Utomo membuka diri untuk menerima anggota dari rakyat biasa. Dan pergerakkan nasional bangsa mulai meluas. Dan oleh sebab itu pada tanggal 20 Mei dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional(iwak-pithik.blogspot.com)

4. Reaksi Pemerintahan Kolonial Belanda terhadap Budi

Utomo

Diawal pergerakan Budi Utomo, organisasi ini lebih banyak berperan untuk pendidikan, sosial dan budaya bagi rakyat akan tetapi lama kelamaan Budi Utomo mulai merapat ke politik, hal ini membuat pemerintahan Kolonial Belanda mengawasi cermat sekali pergerakkan Budi Utomo, karena bila Budi Utomo bisa lebih merapat ke politik dan dapat lebih memotori pergerakan rakyat hal ini dapat sangat berdampak atas kedudukan Kolonial Belanda ditanah jajahannya(Roeslan, 1976; 31-32)

5. Berakhirnya Organisasi Budi Utomo di Indonesia

Budi utomo pada dasarnya merupakan suatu organisasi priyayi jawa. Organisasi ini secara resmi menetapkan bahwa bidang perhatiannya meliputi penduduk jawa dan madura, dengan demikian mencerminkan kesatuan administrasi antar kedua pulau tersebut dan mencakup masyarakat sunda dan Madurayang kebudayaannya mempunyai kaitan erat dengan Jawa. Bukan bahasa Jawa melainkan bahasa Melayu yang dipilih sebagai bahasa resmi Budi Utomo. Namun demikian , kalangan priyayi Jawa dan Sunda adalah yang menjadi inti dukungan Budi Utomo. Organisasi ini pada dasarnya merupakan suatu lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, organisasi tersebut jarang memainkan peran politik yang aktif(M.C.Riclefs, 2005:250).

(12)

yang juga seorang dokter yang sifatnya radikal. Dia ingin agar Budi Utomo menjadi partai politik yang mengangkat rakyat pada umumnya daripada hanya golongan priyayi, dan kegiatan-kegiatannya lebih tersebar di seluruh Indonesia daripada terbatas hanya madura dan jawa saja.

Gubernur Jenderal Van Heutsz menyambut baik Budi Utomo sebagai tanda keberhasilan politik Ethis. Memang itulah yang dikehendakinya; yaitu suatu organisasi pribumi yang progresif-moderat yang dikendalikan oleh para pejabat yang maju. Pejabat-pejabat yang lainnya mencurigai Budi Utomo atau semata-mata menganggapnya sebagai gangguan potensial akan tetapi, pada bulanDesember 1909 organisasi tersebut dinyatakan sebagai organisasi yang sah.

Runtuhnya organisasi budi Utomo yaitu pada tahun 1935, hal in jugai di sebabkan karena adanya tekanan terhadap pergerakan nasional dari pemerintah kolonial membuat Budi Utomo kehilangan wibawa, sehingga terjadi perpisahan kelompok moderat dan radikal dalam pengaruh Budi Utomo makin berkurang. Pada tahun 1935 organisasi ini bergabung dengan organisasi lain menjadi Parindra (Suhartono, 2001 : 31). Sejak saat itu Budi Utomo terus mundur dari arena politik dan kembali kekeadaan sebelumnya. Dalam bukunya Pringgodigdo, 1998:2-3, menyebutkan bahwa keruntuhan Budi Utomo disebabkan karena adanya propaganda kemerdekaan Indonesia yang dilakukan Indische Partji berdasarkan ke Bangsaan sebagai indier yang terdiri dari Bangsa Indinesia, Belanda Peranakan, dan Tionghoa. Banyak orang yang memandang Budi Utomo lembek oleh karena menuju “kemajuan yang selaras buat tanah air dan Bangsa” serta terlalu sempit keanggotaannya (hanya untuk Bangsa Indonesia dari Jawa, Madura, Bali, dan Lombok yaitu daerah yang berkebudayaan Jawa semata-mata) meninggalkan Budi Utomo.

(13)

tanda keberhasilan politik Etis dimana memang itu yang dikehendakinya: suatu organisasi pribumi progresif-moderta serta dikendalikan oleh para pejabat. Pejabat-pejabat Belanda lainnya mencurigai Budi Utomo atau menganggapnya sebagai gangguan potensial. Desember 1909 Budi Utomo dinyatakan sebagai organisasi sah. Adanya sambutan hangat dari Batavia menyebabkan banyak orang Indonesia tidak puas dengan pemerintah yang mencurigai itu(Ricklefs, 2005 : 250-251).

(14)

George McTurnan Kahin. 1995.Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia: _____RefleksiPergumulan Lahirnya Republik. UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan.

M.C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada _____University Press.

Poesponegoro , Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V – Zaman _____Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda . –cet-2 Edisi Pemuktahiran. Jakarta : Balai Pustaka.

(15)

Nuzon Sugito

(

06121004035

)

Sejarah berdirinya Sarekat Islam

1. Latar Belakang berdirinya Sarekat Islam.

Tahun 1909 Tirtoadisurjo mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia 1.Perkumpulan ini semakin berkembang pesat ketika Tjokroaminoto memegang tampuk pimpinan dan mengubah nama perkumpulan itu menjadi Sarekat Islam.Kata “Dagang” dalam Serikat Dagang Islam dihilangkan dengan maksud agar ruang geraknya lebih luas tidak dalam bidang dagang saja (Ricklefs,2005:252).

Dalam perkembangan awalnya SI merupakan suatu “banjir besar” dalam artian bahwa massa dapat dimobilisasi serentak secara besar-besaran,baik dari kota-kota besar maupun pedesaan.Sejak empat tahun didirikan keanggotaannya sudah mencapai 360.000 orang dan menjelang tahun 1919,keanggotaannya telah mencapai hampir dua setengah juta,dan proram kebangsaannya yang militan benar-benar dibuktikan untuk memperoleh kemerdekaan penuh (Kartidirdjo,1999:107).

Sarekat Islam meratakan kesadaran nasional terhadap seluruh lapisan masyarakat,atas,tengah dan rakyat biasa diseluruh tanah air,terutama melalui kongres Nasional Sentral Islam di Bandung pada 1916.Perkembangan Sarekat Islam dapat dibagi menjadi empat bagian:periode pertama,1911-1916 memberi corak dan bentuk bagi partai,kedua,1916-1921 dapat dikatakan merupakan periode puncak;ketiga,1921-1927,periode konsolidasi,keempat,1927-1942,yang memperlihatkan usaha partai untuk tetap mempertahankan eksistensinya di forum politik Indonesia (D.Noer,1980:114-115).

(16)

Pada periode antara tahun 1911-1923 Sarekat Islam menempuh garis perjuangan parlementer dan evolusioner. Artinya, Sarekat Islam mengadakan politik kerja sama dengan pemerintah kolonial. Namun setelah tahun 1923, Sarekat Islam menempuh garis perjuangan nonkooperatif. Artinya, organisasi tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, atas nama dirinya sendiri (L.M.Sitorus,1987:21).

Terdapat alasan berdirinya organisasi ini yaitu kompetisi tinggi pada bidang perdagangan batik, terutama dengan golongan Cina dan sikap superioritas orang Cina terhadap orang pribumi sehubungan dengan berhasilnya revolusi Cina dalam tahun 1911. Hal ini sebagai akibat dari digantinya tekstil pribumi dengan bahan-bahan yang diimpor dan dibeli oleh para pembatik dari pedagang perantara Cina, maka seluruh industri batik beralih ke tangan orang Cina. Untuk mempertahankan diri terhadap praktek-praktek orang Cina, para pedagang batik Jawa akhirnya bersatu pada tahun 1911 dan mendirikan SI, hal ini dikemukakan oleh Van Niel(D.Noer,1980:114).

Latar belakang dibentuknya perkumpulan ini adalah reaksi terhadap monopoli penjualan bahan baku oleh pedagang China yang dirasakan sangat merugikan pedagang Islam. Namun, para pendiri Sarekat Islam mendirikan organisasi itu bukan hanya untuk mengadakan perlawanan terhadap orang-orang Cina namun untuk membuat front melawan penghinaan terhadap rakyat bumi putera.Juga merupakan reaksi terhadap rencana krestenings politik (politik pengkristenan) dari kaum Zending,perlawanan terhadap kecurangan-kecurangan dan penindasan-penindasan dari pihak ambtenar2 bumi putera dan Eropa.Pokok utama perlawanan Sarekat Islam ditujukan terhadap setiap bentuk penindasan (Poesponegoro,2011:343).

(17)

Islam,SI terang tidak berisikan politik,namun dari seluruh aksi perkumpulan itu dapat dilihat bahwa Sarekat Islam tidak lain melaksanakan suatu tujuan ketatanegaraan;serta tujuan lainnya yaitu hidup menurut perintah agama (Poesponegoro,2011:344).

SI terpecah menjadi beberapa kelompok,walaupun arti penting sepenuhnya kelompok-kelompok tersebut belum jelas.Kelompok yang beraliran kiri yang dipimpin oleh cabang Semarang berusaha keras mendapatkan kekuasaan.Di Jawa Barat suatu cabang revolusioner rahasia yang diberi nama ‘Afdeeling B’3 mulai didirikan oleh Sosrokardono dari CSI dan beberapa aktivis lainnya tahun 1917.Sementara itu,CSI mengharapkan dapat menjalankan kegiatan politik yang sah di dalam Volksraad (Ricklefs, 2005: 262-263).

D.M.G. Koch mengemukakan terdapat tiga aliran dalam tubuh Sarekat Islam yaitu yang bersifat islam fanatik,yang bersifat menentang keras dan golongan yang hendak berusaha mencari kemajuan dengan berangsur-angsur dengan bantuan pemerintah.Akan tetapi,apabila cita-cita tidak adil terhadap rakyat Indonesia,kerohanian Sarekat Islam tetap demokratis dan militan(sangat siap untuk berjuang).Beberapa aspek perjuangan berkumpul dalam tubuh SI sehingga ada yang menyebut SI merupakan “gerakan nasionalistis-demokratis-ekonomis’. (Poesponegoro, 2011: 344).

2. Perkembangan Sarekat Islam

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan Serikat Islam cepat berkembang adalah: Kesadaran sebagai bangsa yang mulai tumbuh;Sifatnya kerakyatan;Didasari agama Islam;Persaingan dalam perdagangan;Digerakkan para ulama.

(18)

menjadi kabur,dan istilah islam pada namanya kini sedikit banyak lebih mencerminkan adanya kesadaran umum bahwa anggota-anggotanya yang berkebangsaan Indonesia adalah kaum muslimin,sedangkan orang-orang Cina dan Belanda bukanlah muslim.Penggantian nama itu jugalah yang menyebabkan massanya semakin meluas (Ricklefs, 2005: 252).

Selama kemunculan SI 1911-1916,organisasi ini telah banyak mendapat sambutan positif dari rakyat,jika dilihat dari gerakannya,SI merupakan organisasi yang paling berbeda pada tahun-tahun tersebut.SI merupakan gerakan total artinya tidak terbatas pada satu orientasi tujuan,akan tetapi mencakup berbagai aspek aktivitas yakni ekonomi,sosial,kultural.Tahun 1916 saja diperkirakan anggotanya telah mencapai 800.000 orang dan terus mengalami peningkatan pada tahun-tahun berikutnya (Al Anshori, 2007: 97).

Pemerintah Hindia Belanda merasa khawatir terhadap perkembangan SI yang begitu pesat karena mengandung unsur-unsur revolusioner.SI dianggap membahayakan kedudukan pemerintah Hindia Belanda, karena mampu memobilisasikan massa.Sehingga pihak Hindia Belanda mengirimkan salah seorang penasihatnya kepada organisasi tersebut. Gubernur Jenderal Idenburg meminta nasihat dari para residen untuk menetapkan kebijakan politiknya.Hasil sementaranya SI tidak boleh berupa organisasi besar dan hanya diperbolehkan berdiri secara lokal (Poesponegoro, 2011: 344).

(19)

dan orang Belanda menganggap bahwa keputusan Idenburg tersebut adalah keliru (Ricklefs, 2005: 253).

Disebutkan dalam berbagai sumber,sebagai faktor penting dalam mempropagandakan SI ialah pers-pers Indonesia dan kongres-kongres SI.Jumlah koran pada masa sebelum dan selama munculnya SI cepat bertambah.Adapun kongres dan pertemuan lain yang diadakan mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam propaganda pergerakan.

Pada perkembangan selanjutnya tumbuhlah cabang-cabang SI di berbagai daerah, seperti SI Semarang, SI Yogyakarta, SI Surakarta serta SI Surabaya dan tidak lupa dibentuk pula semacam SI pusat atau CSI dengan struktur modern. Salah satu faktor berkembangnya SI secara pesat dengan memiliki basis massa yang besar adalah karena diperbolehkannya kartu keanggotaan rangkap. Akibatnya, mayoritas anggota SI merupakan anggota dari organisasi lain, seperti ISDV, PKI, ataupun serikat-serikat kerja/buruh. (Al Anshori, 2007: 97).

Partai ini benar-benar mencapai puncak kejayaan pada tahun 1915, tapi setelah tahun itu memasuki masa kemunduran, hilangnya pengaruh dan tumbuhnya pertentangan internal. Pertentangan pertama terjadi apada tahun 1916 ketika pemimipin S.I di Jawa Barat melakukan upaya pemisahan diri cabang Jawa barat dan Sumatera Selatan dari bagian lain. Namun pada masa ini belum jelas visinya karena masih bersifat mendua.dan masih mengunakan istilah “kongres” (D.Noer, 1980: 118).

Dengan jumlah massa yang banyak, mendorong organisasi-organisasi lainnya untuk melirik dan mendapat pengaruh dalam tubuh SI. Sebut saja seperti ISDV4.Tahun 1914 seorang pemuda Jawa buruh kereta api bernama Semaun menjadi anggota SI cabang Surabaya (Ricklefs, 2005: 262).

(20)

Di bawah pengaruh Semaun cabang Semarang mengambil garis anti kapitalis yang kuat.Cabang ini menentang peran serta SI dalam kampanye Indie weerbar,menentang gagasan untuk dalam Volksraad dan dengan sengit menyerang kepemimpinan CSI (Ricklefs, 2005: 262).

Periode 1916-1921, telah ada kemajuan sudah ada rumusan yang jelas ditunjukkan pada program kerjanya. Selanjutnya adanya usulan pembentukan dewan rakyat (Volksraad) dengan ketua Cokroaminoto(1918), forum ini sebagai aksi pendapat bagi parlemen Belanda dan menjadi rem terhadap aliran konservatif juga dapat digunakan sebagai media menyalurkan ide-ide politik S.I dan juga untuk menghindari sikap anarkhis, tapi lama-lama lembaga ini digunakan sebagai alat pemerintah.Periode 1921-1927melakukan struktur baru melalui kongres nasional ketujuh di Madinah tanggal 17-20 Februari 1923. Karena struktur lama dianggap berbahaya dalam kepemimpinan organisasi dan tranformasi baru tahun 1927. Dengan pemerintah mengambil jarak .dalam susunan struktur menghilangkan wakil dalam dewan rakyat. Pada tahun 1926 terjadi pertikain dengan Muhammadiyah yang berdampak banyak orang-orang Muhammadiyah dikeluarkan dari S.I. Periode 1927-1942.Pada masa ini banyak berdiri partai baru misalnya PNI di bawah pimpinan Soekarno. Pada periode ini ada dua kubu yang berseteru nasionalisme Islam dan nasionalisme agama dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan, pada masa ini S.I pecah menjadi PSII, Komite Kebenaran, dan Partai Penyadar. Tahun 1930-an S.I dirubah menjadi partai syari’at Islam Indonesia, yang senantiasa bermusuhan dengan pemerintah. Pada tahun 1934 Cokroaminoto meninggal dunia, tiga tahun berikutnya H. Agus Salaim dipecat lalu muncul partai-partai baru, seperti: PII, GAPI, MIAI, MRI (D.Noer, 1980: 129-131).

3. Kongres-kongres Sarekat Islam.

(21)

pemerintah Hindia-Belanda (A. K. Pringgodigdo, 1994: 6).

Pada kongres kedua Sarekat Islam di Yogayakarta pada tahun 1914, HOS Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua Sarekat Islam. Ia berusaha tetap mempertahankan keutuhan dengan mengatakan bahwa kecenderungan untuk memisahkan diri dari Central Sarekat Islam harus dikutuk dan persatuan harus dijaga karena Islam sebagai unsur penyatu.Kongres Ketiga (17-24 Juni 1916) diadakan di Bandung.Kongres ini merupakan Kongres Nasional SI yang Pertama dengan peserta sebanyak 360.000 orang sebagai perwakilan dari 80 SI daerah yang total anggotanya mecapai 800.000 orang. Kongres ini dipimpin oleh Tjokroaminoto dengan harapan agar SI dapat menuju ke arah persatuan yang teguh antar-golongan bangsa Indonesia(Kartodirdjo, 1999: 138).

Namun sebelum Kongres Sarekat Islam Kedua tahun 1917 yang diadakan di Jakarta .Muncul aliran revolusioner sosialistis(bercorak demokratis) yang selalu siap berjuang dipimpin oleh Semaun dan Darsono yang merupakan pelopor penggunaan senjata dalam berjuang melawan imperialisme yaitu teori perjuangan Marx. Pada saat itu Semaun menduduki jabatan ketua pada SI lokal Semarang.Timbulah pertentangan antara pendukung paham Islam dan paham Marx sehingga terjadilah perdebatan antara H.Agus Salim-Abdul Muis dengan pihak Semaun.Dalam Kongres itu diputuskan pula tentang keikutsertaan partai dalam Volksraad5.HOS Tjokroaminoto (anggota yang diangkat) dan Abdul Muis (anggota yang dipilih) mewakili Sarekat Islam dalam Volksraad tersebut (A. K. Pringgodigdo, 1999: 8).

(22)

disingkirkan,lalu menamakan dirinya bernaung dalam Sarekat Rakyat(SR) atau Sarekat Islam Merah yang merupakan organisasi dibawah naungan Partai Komunis Indonesia(PKI) dipimpin oleh Semaun sedangkan Sarekat Islam Putih dipimpin oleh Cokroaminoto dengan anggotanya yaitu SI awal .Sejak itu, SI dan SR berusaha untuk mencari dukungan dari massa dan keduanya cukup berhasil (Poesponegoro, 2011: 345).

Kongres SI, 8-11 Agustus 1924 di Surabaya, mengambil keputusan non-kooperasi terhadap pemerintah dan Volksraad serta keputusan menentang kaum komunis secara giat.Kemudian Kongres CSI 21-27 Agustus 1925 di Yogya bertujuan untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penindasan dan penjajahan melalui pembukaan sekolah-sekolah guna mencetak pribadi yang tangguh dalam kehidupan sosial, budaya dan ekonomi berdasarkan syariat-syariat Islam.

Kongres Partai Sarekat Islam tahun 1927 menegaskan struktur partai yang kuat sehingga SI bergabung kedalam PPPKI6.

PSI yang merupakan anggota federasi PPPKI,lambat laun tidak senang terhadap badan federatif itu.Dalam kongres PPPKI akhir bulan Desember 1929 di Solo, Mohammad Husni Thamrin menyatakan bahwa ia sangat keberatan terhadap sikap PSI cabang Batavia yang tidak ikut serta dalam rapat-rapat protes PPPKI terhadap poenale sanctie(sanksi hukuman yang diberikan bila para kuli melanggar kontrak/melarikan diri) yang diadakan bulan september sebelumnya(tahun 1929).Menanggapi kritik itu,maka PSI mengancam akan keluar dari PPPKI.Kemudian salah satu keputusan kongres PSI tahun 1930 adalah mengubah nama PSI menjadi PSII(Partai Sarekat Islam Indonesia).Perubahan itu dilakukan untuk menunjukkan bahwasanya PSII sangat berbakti terhadap pembentukan Negara Kesatuan Indonesia (Poesponegoro, 2011: 345).

(23)

4. Perpecahan dan kemunduran Sarekat Islam.

Antara tahun 1918-1921, hubungan SI terjalin baik dengan PKI dan berhasil memberikan kontribusi penting terhadap serikat-serikat buruh dalam meningkatkan kondisi dan upah para anggotanya. Sempat SI dan PKI membentuk semacam federasi pada tahun 1919, namun pemimpin serikat kerja dari CSI (Surjopranoto) yang menjabat wakil federasi, menggugat kepemimpinan Semaoen dalam federasi tersebut melalui berbagai pemogokan. Sejak saat itu, munculah pertikaian terbuka SI dan PKI (Ricklefs, 2005: 364).

Bulan Juli dan Agustus 1930 hubungan PSII dengan golongan nasionalis non agama memburuk dikarenakan terdapat serangkaian tulisan di surat kabar Soeara Oemoem yang ditulis oleh banyak anggota PPPKI.Tulisan-tulisan tersebut ditafsirkan sebagai penghinaan terhadap keyakinan PSII.Hal tersebut menyebabkan tanggal 28 Desember 1929(tidak menunggu kongres) PSII mengumumkan keluar dari PPPKI7. (Poesponegoro, 2011: 345).

Perselisihan antara anggota pengurus besar partai yairu Cokroaminoto dan H.Agus Salim dengan dr.Sukiman Wiryosanjoyo dan Suryopranoto mengakibatkan perpecahan dalam tubuh PSII.Maka tahun 1933 Dr.Sukiman Wiryosanjoyo dan Suryopranoto dipecat dari PSII.Pertengahan bulan Mei 1933 berdiri partai baru di Yogyakarta bernama Partai Islam Indonesia(Parii).Partai ini bertujuan ke arah harmonis dari nusa bangsa atas dasar agama islam dan pada waktu itu Parii dipimpin oleh dr.Sukiman namun partai ini berumur pendek.Tahun 1935 Cokroaminoto meninggal dunia,dan muncul suara-suara bahwa Parii mau bergabung lagi dengan PSII.Namun,untuk bergabung kembali masih ada

(24)

halangan karena H.Agus Salim menjadi ketua PSII menggantikan Cokroaminoto (Al Anshori, 2007: 98-99).

Perselisihan antara anggota pengurus besar partai yairu Cokroaminoto dan H.Agus Salim dengan dr.Sukiman Wiryosanjoyo dan Suryopranoto mengakibatkan perpecahan dalam tubuh PSII.Maka tahun 1933 Dr.Sukiman Wiryosanjoyo dan Suryopranoto dipecat dari PSII. alasan bahwa tindakan mereka bertentangan dengan hukum dan sumpah partai yang membuat 29 tokoh terkemuka PSII dipecat termasuklah H.Agus Salim. Selanjutnya kongres ke 23 di Bandung yang diadakan tanggal 19-25 Juli 1937 antara lain memutuskan mencabut pemecatan atas anggota yang telah dikeluarkan dari PSII.Mereka diberi kesempatan untuk kembali ke PSII.Maka,pada 17 September 1937 PSII bersatu kembali dengan partai asal.Mereka yang kembali bergabung ke PSII yaitu dr.Sukiman,Wali Al-Fatah dan lainnya. Namun perdamaian dengan golongan ini(dr.Sukiman)tidak berlangsung lama (Poesponegoro, 2011: 347).

(25)

1939.Permulaan tahun 1940 Kartosuwiryo mendirikan Komite Pertahanan Kebenaran PSII sehingga berdirilah PSII kedua,dalam hal ini bendera dan nama PSII dipakai dengan menggunakan asas dan anggaran dasar yang sama. Namun,kesempatan untuk berkembang lenih lanjut lagi terhambat karena keadaan perang.Maka tanggal 10 Mei 1940 karena keadaan darurat habislah riwayat kedua partai tersebut dibidang politik (Poesponegoro, 2011: 349).

(26)

Al Anshori,M.Junaidi.Sejarah Nasional Indonesia.Jakarta:PT.Mitra Aksara,2007.

Kartodirdjo,Sartono.Pengantar Sejarah Indonesia Baru: sejarah pergerakan nasional dari kolonialisme sampai nasionalisme,Jilid 2.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,1999.

Noer,Deliar.Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942.Jakarta:LP3ES,1980.

Poesponegoro,Marwati Djoened.Sejarah Nasional Indonesia V: zaman kebangkitan nasional dan masa Hindia Belanda.Jakarta:Balai Pustaka,2011.

Pringgodigdo SH, A. K. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat_Anggota IKAPI, 1994.

Ricklefs,M.C. Sejarah Indonesia Modern.Terj. Dharmono Hardjowidjono. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press,2005.

.

(27)

FAHMI WIRATAMA (06121004011) RENDY MARTA AGUNG (06121004033)

INDISCHE PARTIJ

1. Latar Belakang

Salah satu organisasi pendukung gagasan revolusioner nasional adalah Indische Partij yang didirikan pada 25 Desember 1912. Organisasi ini juga ingin menggantikan Indische Bond 1 . Perumus gagasan itu adalah E.F.E Douwes Dekker kemudian terkenal dengan nama Danudirja Setyabudi, seorang Indo, yang melihat keganjilan-keganjilan dalam masyarakat colonial khusunya diskriminasi antara keturunan Belanda totok dan kaum Indo. Lebih daripada hanya membatasi pandangan dan kepentingan golongan kecil masyarakat Indo, Douwes Dekker meluaskan pandangannya terhadap masyarakat Indonesia umumnya, yang masih tetap hidup di dalam situasi colonial(Pusponegoro, 2008:350).

(28)

Dokter Tjipto Mangunkusumo, yang segera mengadakan pertukaran mengenai soal-soal yang bertalian dengan pembinaan partai yang bercorak nasional. Lain daripada itu, di Bandung ia mendapat dukungan dari Suwardi Suryaningrat dan Abdul Muis yang pada waktu itu telah menjadi pemimpin-pemimpin Sarekat Islam cabang Bandung. Di Yogyakarta ia mendapat sambutan dari pengurus Budi Utomo. Redaktur-redaktur surat kabar Jawa Tengah di Semarang dan Tjahaya Timoer di Malang juga menyokong berdirinya Indische Partij. Begitupun di derah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, gagasannya mendapat sokongan. Bukti nyata dari propaganda ini ialah didirikannya 30 cabang dengan anggota sejumlah 7.300 orang, kebanyakan Indo-Belanda. Jumlah anggota Bangsa Indonesia adalah 1.500 orang. Bahkan seorang sahabatnya pernah menamakan aksi-aksi Douwes Dekker yang bergerak ke seluruh pulau Jawa “bagaikan sebuah tornado yang meninggalkan emosi-emosi yang meluap di kota-kota, yang tidak pernah terjadi sebelumnya”. Memang mereka dan beberapa orang lainnya tidak puas dengan langkah-langkah yang telah diambil oleh Budi Utomo, sehingga golongan progresif mencari kepuasan politik dengan menggabungkan diri dengan Sarekat Islam. Pada tahun 1912 itu Sarekat Islam belum menunjukkan gerakan revolusionernya. Oleh karena itu, gagasan perlunya satu partai pelopor berdasarkan konsepsi nasional yang luas mendapat sambutan dari mereka(Pusponegoro, 2008:350).

2. Tiga Serangkai

Dekker berusaha memerjuangkan pemikiran itu dengan mendirikan Indische Partij (Partai Hindia). Dukungan utama bagi upaya ini datang dari dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Mereka kemudian dikenal dengan Tiga Serangkai(Nino, 2009:168).

(29)

wakil dari golongan abangan Jawa yang pernah menjadi anggota Budi Utomo. Suwardi adalah seorang ningrat bekas anggota Sarekat Islam. Keduanya bergabung ke Indische Partij karena mereka kecewa dengan Budi Utomo dan Sarekat Islam yang saat itu belum menunjukkan sikap revolusioner. Oleh karena itu, mereka menyambut baik gagasan Dekker tentang perlunya partai pelopor yang bersifat nasional(Nino, 2009:168).

3. Pembentukan Awal

Setelah permusyawaratan wakil-wakil Indische Partij daerah di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912, tersusunlah anggaran dasar Indische Partij. Program revolusioner yang bersifat nasional dapat kita ketahui dalam pasal-pasal anggarannya, yang ada di dalam bahasa indonesianya: “Tujuan Indische Partij ialah untuk membangunkan patriotism semua Indiers8 terhadap tanah air, yang telah memberi lapangan hidup kepada mereka, agar mereka mendapat dorongan untuk bekerja sama atas dasar persamaan ketatanegaraan untuk memajukan tanah air “Hindia” dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka”(Pusponegoro, 2008:351).

Indiche Partij berdiri di atas dasar nasionalisme yang luas menuju kemerdekaan Indonesia. Indonesia sebagai “national home” semua orang keturunan bumiputera, Belanda, Cina, Arab, dan sebagainya, yang mengakui Hindia sebagai Tanah Air dan kebangsaannya. Paham ini pada waktu dahulu dikenal sebagai Indisch Nationalisme, yang kemudian hari melalui Perhimpunan Indonesia dan PNI menjadi Indonesich Nationalisme atau Nasionalisme Indonesia. Pasal-pasal ini pulalah yang menyatakan Indische Partij sebagai partai politik yang pertama di Indonesia. Bahwa Indische Partij adalah suatu partai yang radikal juga, dinyatakan Douwes Dekker, didirikan partai ini merupakan “penantang perang dari pihak budak koloni yang membayar lasting kepada kerajaan penjajah, pemungut pajak”(Pusponegoro, 2008:351).

4. Perkembangan Indische Partij

(30)

E.F.E. Douwes Dekker berpendapat bahwa hanya melalui kesatuan aksi melawan koloni, bangsa Indonesia dapat mengubah sistem yang berlaku, juga keadilan bagi sesama suku bangsa yang merupakan keharusan dalam pemerintahan. Pada waktu itu terdapat Antitesis9 antara penjajah dan terjajah, penguasa dan yang dikuasai. E.F.E. Douwes Dekker berpendapat, setiap gerakan politik haruslah menjadikan kemerdekaan yang merupakan tujuan akhir. Pendapatnya itu di salurkan melalui majalah Het Tijdschrift dan surat kabar De Expres. E.F.E. Douwes Dekker juga banyak berhubungan dengan para pelajar STOVIA di Jakarta, dan menjadi redaktur Bataviaasch Nieuwsblad maka tidak mengherankan kalau E.F.E. Douwes Dekker banyak berkenalan dan member kesempatan kepada penulis- penulis muda dalam surat kabar. Menurut Suwardi Suryaningrat, meskipun pendiri Indische Partij adalah orang indo, tetapi tidak mengenal supremasi indo atas bumi putera, bahkan menghendaki hilangnya golongan indo dengan meleburkan diri dalam masyarakat bumi putera.

Perjuangan untuk menentang perbedaan sosio-politik inilah yang menjadi dasar tindakan Suwardi Suryaningrat dan selanjutnya mendirikan Taman Siswa (1922) dan menentang Undang- undang Sekolah liar (1933), di sisi lain dr. Tjipto Mangoenkoesoemo meneruskan perjuanagn nya yang radikal, walaupun di buang bersana E.F.E.Douwes Dekker ke Belanda tahun 1913. Pada tahun 1926 di buang lagi ke belanda dan sebelumnya di penjarakan dua tahun di bandung. Sebelum jepang masuk mereka di bebaskan dari penjara dan pada tahun 1943 Suwardi Suryaningrat meninggal dunia.

Jiwa dinamis E.F.E. Douwes Dekker diawali ketika melakukan propaganda ke seluruh Jawa dari tanggal 15 September sampai dengan 3 Oktober 1912. Perjalanan itu di pergunakan untuk melakukan rapat- rapat dengan golongan elit lokal seperti di Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Surabaya, Semarang, Tegal, Pekalongan, dan Cirebon. E,F.E. Douwes Dekker disambut hangat oleh pengurus Budi Utomo di Yogyakarta. Mereka di ajak untuk mrmbangkitkan semangat golongan Indiers sebagai kekuatan politik untuk menentang penjajah.

(31)

Perjalanannya itu menghasilkan tanggapan baik dan akhiryna di dirikan 30 cabang Indische Partij.

Konsep kebangsaan Hindia di sebarluaskan oleh E.F.E. Douwes Dekker, karena berpendapat bahwa Hindia dalam koloni Nederlandshe Indie harus di sadarkan dan di bebaskan dari belenggu penjajah. Dari anggaran Indische Partij dapat di simpulkan bahwa tujuannya adalah untuk membangun lapangan hidup dan menganjurkan kerja sama atas dasar persamaan ketatanegaraan guna memajukan tanah air hindia belanda dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka. Hal ini berarti secara tidak langsung Indische Partij menolak kehadiran orang belanda asli belanda sebagai penguasa dan sekaligus melahirkan perasaan kebangsaan yang pertama karena mengalami Indonesia sebagai tanah airnya. Oleh karena itu, Indische Partij berdiri atas dasar nasionalisme yang menampung semua suku bangsa di Hindia Belanda untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Walaupun usia Indische Partij sangat pendek, tetapi semangat jiwa dari dr. Tjipto Mangkusumo dan Suwardi Suryaningrat sangat besar berpengaruh bagi para pemimpin pergerakan waktu itu. Terlebih lagi Indische Partij menunjukan garis politiknya secara jelas dan tegas serta menginginkan agar rakyat Indonesia dapat merupakan satu kesatuan penduduk yang multirasial, dan tujuannya dari partai ini adalah benar- benar Revolusioner karena mau menobrak kenyataan politik rasial yang di lakukan oleh pemerintah Kolonial. Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913, pemerintah belanda akan mengadakan upacara peringatan 100 tahun bebasnya negeri belanda dari jajahan perancis( Napoleon), dengan cara memungut dana dari rakyat Indonesia. Kecaman- kecaman yang semakin keras menentang pemerintah belanda menyebabkan ketiga tokoh dari Indische Partij di tangkap tatun 1913 mereka di asingkan ke Belanda. Namun tahun 1914 Tjipto Mangoenkoesoemo di kembalikan ke Indonesia karena sakit, sedangkan Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker baru di kembalikan ke Indonesia tahun 1919.

(32)

mempunyai cita-cita tentang wawasan kebangsaan yang luas dan tegas. Secara nyata ketika ia masih sebagai anggota Budi Utomo, pada tanggal 9 September 1909 ia pernah mengusulkan agar Budi Utomo memperluas keanggotaannya, membuka pintu untuk semua Hindia Putera; bagi semua yang lahir, hidup, dan mati di tanah Hindia. Apa yang diusulkannya itu tegas. Sayang keinginannya itu harus kandas, karena ditolak oleh Konggres yang nyaris mayoritas terdiri dari golongan tua. Itulah sebabnya dalam Indische Partij apa yang dicita-citakan itu memperoleh tempat penyalurannya(M.C.Ricklefs:2005:260-261).

Dengan masuknya kedua tokoh nasionalis tersebut ke dalam tubuh Indische Partij yang baru berdiri itu, maka aktivitas politiknya menjadi lebih tegas dan keras. Dengan tambahnya tokoh-tokoh itu lahirlah “tiga serangkai” yang memiliki cara pandang dan arah berfikir sehaluan. Pada waktu itu pula Cipto Mangunkusumo memperkenalkan semboyan “Indie los van Holland”, Hindia

(33)

Pendiri Indische Partij yang tinggal satu belum ditangkap itu, tetap terus berjuang membela rakyat. Baginya, meskipun termasuk keturunan Belanda (Indo), namun dalam perjuangan merasa satu dengan orang-orang kelahiran Hindia Belana asli. Dalam perjuangan untuk kepentingan tanah air tidak ada perbedaan antar Indo maupun Pribumi. Dia merasa hidup di tanah airnya sendiri dan tidak senang melihat kehidupan di masyarakat yang sangat membedakan ras, derajat, maupun perlakuan. Dia berjuang untuk mendapatkan persamaan hak bagi semua orang Hindia. Hal ini sesuai dengan bunyi pasal-pasal dalam anggaran dasar Indische Partij, seperti sebagai berikut:

1. Memelihara nasionalisme Hindia dengan meresapkan cita-cita kesatuan kebangsaan semua Indiers, meluaskan pengetahuan umum tentang sejarah budaya Hindia, mengasosiasikan intelek secara bertingkat kedalam suku dan antar suku yang masih hidup berdampingan pada mada ini, menghidupkan kesadaran diri dan kepercayaan kepada diri sendiri.

2. Memberantas rasa kesombongan rasial dan keistimewaan ras baik dalam bidang ketatanegaraan maupun bidang kemasyarakatan.

3. Memberantas usaha-usaha untuk membangkitkan kebencian agama dan sektarisme yang bisa mengakibatkan Indiers asing sama lain, sehingga dapat memupuk kerjasama atas dasar nasional.

4. Memperkuat daya tahan rakyat Hindia dengan memperkembangkan individu ke arah aktivitas yang lebih besar secara taknis dan memperkuat kekuatan batin dalam soal kesusilaan.

5. Berusaha untuk mendapatkan persamaan hak bagi semua orang Hindia. 6. Memperkuat daya rakyat Hindia untuk dapat mempertahankan tanah air

dari serangan asing.

7. Mengadakan unifikasi, perluasan, pendalaman, dan meng-Hindia-kan pengajaran, yang di dalam semua hal terus ditujukan kepada kepentingan ekonomi Hindia, dimana tidak diperbolehkan adanya perbedaan perlakuan karena ras, seks atau kasta dan harus dilaksanakan sampai tingkat yang setinggi-tingginya yang bisa di capai.

(34)

9. Memperbaiki keadaan ekonomi bangsa Hindia, terutama dengan memperkuat mereka yang ekonominya lemah.

Jadi, jelas bahwa Indische Partij bergerak langsung terjun dalam bidang politik. Oleh karena itu, tidak mustahil apabila tokoh-tokohnya mendapat pengawasan secara ketat. Pergerakan dalam bidang politik pada saat itu memang masih sangat berbahaya. Organisasi yang tampak bergerak dalam bidang poitik, sudah pasti mendapat tuduhan pemerintah kolonial Belanda, bahwa organisasi tersebut akan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Hal ini dapat dirasakan Indische Partij pada saat mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal pada tanggal 4 Maret 1913, agar organisasi ini mendapat pengakuan sebagai badan hukum, ternyata ditolak. Alasan penolakannya karena organisasi ini berdasarkan politik dan mengancam hendak merusak keamanan umum.

Walaupun sudah jelas kegiatan Indische Partij mendapat pengawasan secara ketat, namun pendirinya, yaitu EFE. Douwes Dekker tetap meneruskan perjuangannya. Dia berusaha menghadap kepada Gubernur Jenderal dengan tujuan, ingin menjelaskan dan bersedia mengubah pasal-pasal dan anggaran dasar Indische Partij, apabila dianggap membahayakan pemerintah. Akan tetapi usaha EFE. Douwes Dekker ini sia-sia saja, karena pada tanggal 11 Maret 1913 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peringatan kepada Indische Partij dan organisasi ini tetap dinyatakan sebagai partai terlarang. Peringatan itu juga ditujukan kepada partai-partai lain. Akhirnya Douwes Dekker menyimpulkan sebagai berikut:

“Bahwa pengertian “Pemerintah Hindia” haruslah dipandang sebagai salah satu daripada partai yang bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan. Pemerintah yang berkuasa disuatu tanah jajahan, bukanlah pemimpin namanya penindasan, dan penindasan itu adalah musuh yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat”(DMG. Koch, 1951:39).

(35)

Hindia-Belanda (Nederlandsch Indie)”. Jadi, perjuangan rakyat di Hindia Hindia-Belanda itu bertujuan untuk mencapai mencapai negara merdeka, yang nantinya disebut “Pemerintah Hindia”. Inilah yang menjadi tujuan utama dari Indische Partij. Oleh karena itu, Indische Partij dapat dikatakan sebagai organisasi pergerakan nasional pertama yang bergerak dalam bidang politik. Berbeda dengan Budi Utomo dan Sarekat Dagang Islam, dimana organisasi tersebut bergerak sangat hati-hati, sehingga sampai tahun 1912 belum tampak radikal. Bagi anggota-anggotanya yang menghendaki pergerakan radikal, menyatakan keluar dari Budi Utomo, yaitu dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Sedangkan untuk organisasi SDI, baru berubah kearah pergerakan politik pada tahun 1913, setelah organisasi berubah namanya menjadi Sarekat Islam (SI).

Pergerakaan Indische Partij, setelah Suwardi Suryaningrat dan dr. Cipto Mangunkusumo di tangkap, maka Douwes Dekker terus mengadakan pembelaannya. Di dalam makalah dan harian Indische Partij, EFE. Douwes Dekker menulis pembelaan itu dengan judul (bahasa Indonesianya) “Pahlawan kita Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo”. Setelah tulisan tersebut diketahui oleh pihak pemerintah kolonial Belanda, maka EFE. Douwes Dekker ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun yang sama, yaitu tahun 1913. Jadi, umur Indische Partij sangat singkat, kurang lebih hanya satu tahun saja. Namun apa yang dicita-citakan Indische Partij, telah tertanam pada hati sanubari seluruh rakyat Indonesia.

Sebenarnya ketiga pemimpin Indische Partij tersebut ditawari dibuang didalam negeri saja. Yaitu Douwes Dekker ke Timor (Kupang), dr. Cipto Mangunkusumo ke Banda, dan Suwardi Suryaningrat ke Bangka. Namun ketiga-tiganya memilih dibuang ke luar negeri saja, yakni ke negeri Belanda. Dengan pertimbangan, kalau dibuang ke luar negeri di perlakukan hukum internasional. Sifat hukum internasional adalah liberal dan demokrasi, sehingga masih dapat untuk mempelajari masalah-masalah perjuangan di negara-negara lain.

(36)

para tokoh Indische Partij tersebut dapat bergabung dalam organisasi tersebut. Bahkan Suwardi Suryaningrat sempat duduk menjadi ketua Indische Vereniging(M.C.Ricklefs:2005:260-261).

Kedatangan “tiga serangkai” membawa udara segar bagi para mahasiswa Indonesia di negeri Belanda. Cita-cita nasional yang tidak berhasil diperjuangkan ditanah air, diteruskan di negari Belanda. Indische Vereniging yang sebelumnya hanya bergerak dalam bidang sosial , mulai berubah kearah bidang politik untuk mencapai cita-cita nasional. Untuk menyampaikan gagasannya, agar diketahui oleh sesama kawan dalam perjuangan baik yang ada di negeri Belanda maupun di tanah air, maka sejak tahun 1918 Indische Vereniging mendirikan “Kantor Berita” yang diberi nama National Persbureau (Kantor Berita Nasional). Pemimpin kantor berita ini adalah Suwardi Suryaningrat dan telah menerbitkan majalah yang di beri nama “Hindia Putera”. Pada tahun 1919, nama majalah dan nama organisasi, di usulkan oleh Ahmad Soebardjo, agar diganti nama yang mengarah kepada kepentingan nasional. Nama organisasi diusulkan menjadi Indische Vereniging. Jadi, ada perubahan dari Indische menjadi Indonesische kemudian nama “Hindia Putera” agar diganti menjadi “Indonesia Merdeka”.

Atas usul tersebut pada prinsipnya disetujui, namun untuk memasyarakatkan secara luas, masih harus dipertimbangkan secara matang. Baru pada tahun 1922 nama itu diperkenalkan ke masyarakat dan secara resmi, yaitu pada tahun 1925 kata-kata yang berbau kolonial tidak boleh dipakai lagi. Sepertiga Indonesische Vereniging harus diterjemahkan menjadi “Perhimpunan Indonesia”.

(37)

Mendidik suatu Nasionalisme Hindia dengan memperkuat cita-cita persatuan bangsa”(Sartono Kartodirjo, 1975:193).

Sementara itu juga disebabkan oleh pengaruh Sarekat Islam yang semakin kuat dikalangan masyarakat, maka banyak para penerus Indische Partij yang mengikuti jejak Sarekat Islam. Dengan deemikian, Indische Partij semakin lemah dan mati dengan sendirinya. Walaupun sebenarnya Douwes Dekker sekembalinya dari negeri Belanda pada tahun 1918, masih berusaha untu menghidupkan kembali kegiatan Indiche Partij, namun usahanya sia-sia saja. Usaha Douwes Dekker itu antara lain dengan mengubah nama Indische Partij menjadi National Indische Partij (NIP) pada tahun 1919. Berhubung sudah dicatat oleh pemerintah sebagai organisasi yang berbahaya, maka dalam bentuk apapun Indische Partij tetap dilarang.

Akhirnya “Tiga Serangkai” yang masih dapat diharapkan adalah cita-citanya yang masih hidup di kalangan masyarakat, yaitu dapat disalurkan melalui bidang pendidikan. Suwardi Suryaningrat pada tanggal 3 Juli 1922, berhasil mendirikan “Taman Siswa” yang bergerak dalam bidang pendidikan, sehingga banyak berdiri “Sekolah-sekolah Taman Siswa” hampir di seluruh Indonesia dan yang pertama kali berdiri adlah Sekolah Taman Siswa di Yogyakarta. Kemudian pada tahun yang sama, Douwes Dekker juga mendirikan sekolah di Cigelereng, Bandung dengan nama Ksatria School. Pada tahun 1926 sekolah ini maju pesat, dan Douwes Dekker berhasil mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama “Yayasan Ksatria Institut” . Demikian juga dr. Cipto Mangunkusumo tidak mau ketinggalan, ia mendirikan sekolah “Kartini Club”, tetapi karena kekurangan dana, sehingga tidak dapat berkembang dan akhirnya bubar.

Dari anggaran dasarnya dapat diketahui bahwa program-program menunjukkan sifat revolusionernya. Tujuan Indische Partij adalah membangunkan patriotisme semua “Indiers” terhadap tanah air, yang telah memberikan lapangan hidup kepada mereka, agar mereka mendapat dorongan untuk bekerjasama atas dasar persamaan ketatanegaraan untuk memajukan tanah air “Hindia” dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka.

(38)

rapat-rapat, Indische Partij mengalami kemajuan yang demikian pesat. Kemajuan yang demikian pesat itu merupakan ancaman yang membahayakan bagi keberlangsungan penjajahan Belanda. Itulah sebabnya dengan berbagai daya upaya pihak penjajah mencoba menghalang-halangi lajunya pertumbuhan organisasi pergerakan tersebut. Persuratkabaran Belanda seperti Preanger, Mataram, Soerabajaasch Handelsblod, dan Semarang Handelsblod melancarkan serangkaian aksi dengan komentar-komentar yang sangat merugikan Indische Partij.

Sudah barang tentu sikap pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap Indische Partij sangat berbeda dengan sikapnya yang hati-hati terhadap Budi Utomo dan Sarekat Islam, yaitu dua organisasi pergerakan yang telah lahir lebih dahulu. Pemerintah kolonial Hindia Belanda bersikap tegas terhadap keberadaan Indische Partij. Hal itu terbukti dari permohonan para pendirinya yang diajukan kepada Gubernur Jenderal Idenburg untuk mendapatkan pengakuan sebagai organisasi yang berbadan hukum (rechtspersoon) pada tanggal 4 Maret 1913, dengan tegas ditolak. Alasan penolakan itu adalah karena dipandang organisasi baru ini dipandang bersifat politik dan mengancam hendak merusak keamanan umum. Juga setelah pihak pimpinan Indische Partij mengadakan audensi kepada Gubernur Jenderal serta diubahnya pasal 2 anggaran dasar, sebuah pasal yang dikhawatirkan oleh pemerintah kolonial Belanda akan mengakibatkan hal-hal yang tidak dikehendaki tetap saja Indische Partij dinyatakan sebagai partai terlarang.

(39)

jajahan.Karena kegiatan komite ini dipandang berbahaya,pada bulan Agustus 1913 ketiga tokoh Tiga Serangkai dijatuhi hukuman buangan,dan mereka memilih negeri Belanda(Poesponegoro,Marwati Djoened,2007:353).

Kepergian ketiga pemimpin tersebut membawa pengaruh terhadap kegiatan Indishe Partij yang makin lama makin menurun.Kemudian Indishe Partij berganti nama menjadi Parti Insulinde.Pengaruh Sarekat Islam yang kuat telah menarik orang-orang Indonesia,sehingga partai Insulinde semakin melemah.

Kembalinya Doewes Dekker dari Belanda tahun 1918 tidak begitu mempunyai arti bagi partai Insulinde,yang kemudian pada bulan Juni 1919 berganti nama menjadi National Indische Partij (NIP).Dalam perkembangannya,partai ini tidak pernah mempunyai pengaruh kepada rakyat banyak bahkan akhirnya hanya merupakan perkumpulan orang-orang terpelajar(Poesponegoro, 2007; 353).

Daftar Pustaka

Poesponegoro, Marwati djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V : _____Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda. Jakarta : Balai Pustaka.

Notosusanto, Nugroho dan Marwati Djoenoed Poesponegoro.1992.Sejarah _____Nasional Indonesia VI. Jakarta:Balai Pustaka

(40)

Kartodirdjo,Sartono.1990.Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah _____Pergerakan Nasional Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme.Jakarta:PT Gramedia

Oktorino Nino,dkk. 2009. Muatan Lokal Ensiklopedia : Sejarah dan Budaya _____“Di Bawah Kolonialisme Barat”.Jakarta : PT Lentera Abadi

Dwiki Septiandini

(06121004036)

Fieka Nadya

(06121004028)

Ari Supriyatno

(06121004018)

PARTAI KOMUNIS INDONESIA

1. Latar Belakang Lahirnya PKI

(41)

memperkenalkan pikiran dilimpahkan pada sekelompok kecil marxis Belanda yang pada waktu itu organisasi itu adalah Sneevliet, Brandsteder, dan Dekker, sedangkan dari pihak Indonesia yang terkenal adalah Semaun. ISDV berusaha mencari kontak dengan IP dan SI untuk mendekati rakyat tetapi tidak berhasil.

Awal masuknya ideologi komunisme ke Indonesia tidak pernah terlepas dari peranan seorang warga negara Belanda yang bernama Hendricus Josephus Franciscus Maria Sneevliet.10 Pada awal masuknya ke Indonesia Sneevliet bekerja disalah satu harian di Surabaya yang bernama Soerabajasche Handelsbad sebagai staff redaksi di harian tersebut. Namun tidak lama berada di Surabaya, Sneevliet memutuskan untuk pindah ke Semarang dan bekerja sebagai sekertaris di salah satu maskapai dagang di kota tersebut. Pada saat itu kota Semarang merupakan pusat organisasi buruh kereta api Vereenigde van Spoor en Tramweg Personnel (VSTP).11

Sneevliet sadar betul bahwa keterkaitannya dengan VSTP merupakan sebuah peluang besar untuk menumbuh kembangkan ideologi komunisme di Indonesia. Pada bulan Juli 1914 bersama personil-personil yang tergabung dalam VSTP seperti P. Bersgma, J.A. Brandstedder, W.H. Dekker (pada saat itu menjabat sebagai sekertaris VSTP) mempelopori berdirinya organisasi politik yang bersifat radikal, Indische Sosial Democratische Vereeniging (ISDV) atau Serikat Sosial Demokrat India. ISDV kemudian menerbitkan surat kabar Het Vrije Woord (suara kebebasan) sebagai media propaganda untuk menyebarkan ajaran ajaran komunisme yang menjadi ideologi dari organisasi tersebut. Oleh karena anggota ISDV terbatas dikalangan orang orang Belanda, maka organisasi ini belum dapat menjamah dan mempengaruhi organisasi pergerakan nasional seperti Boedi Oetomo dan Sarekat Islam (SI) (Poesponegoro, 2008:357).

Gebrakan yang dilakukan Sneevliet pun diperkuat dengan di terbitkannya koran Soldaten en Mattrozekrant (koran serdadu dan kelasi) dalam lingkungan

10 Sneevliet adalah mantan ketua Serikat Buruh Nasional dan mantan

pimpinan Partai Revolusioner Sosialis di salah satu provinsi di negeri belanda. 11 M.C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta. Gajah Mada

(42)

militer. Isi koran ini selalu diwarnai dengan ide-ide komunisme yang mengedepankan ide-ide perjuangan kelas. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan Sneevliet ternyata tercium oleh pemerintah Hindia Belanda. Kemudian pada bulan Desember 1918 Pemerintah Hindia Belanda mengambil tindakan untuk mengusir Sneevliet dari Hindia Belanda karena kegiatan yang dilakukannya dianggap mulai mengancam. 12

Pada bulan Desember 1919 rekan Sneevliet, Brandstedder juga mengalami hal yang sama diusir oleh pemerintah Hindia Belanda. Sekalipun Sneevliet dan Brandstedder telah meninggalkan Hindia Belanda (Indonesia) namun usaha yang mereka lakukan selama ini telah menemukan hasillnya. ISDV akhirnya berhasil menyebarkan ajaran-ajaran komunisme di Semarang dan mempengaruhi pimpinan SI Semarang yang pada saat itu dipimpin oleh Semaun dan Darsono. Ada beberapa hal yang menyebabkan berhasilnya ISDV melakukan infiltrasi kedalam tubuh Serikat Islam :

1. Central Serikat Islam (CSI) sebagai badan koordinasi pusat masih sangat lemah kekuasaanya. Tiap-tiap cabang SI bertindak sendiri-sendiri secara bebas. Para pemimpin lokal yang kuat mempunyai pengaruh yang menentukan di dalam SI cabang.

2. Kondisi kepartaian pada masa itu memungkinkan orang untuk sekaligus menjadi anggota lebih dari satu partai. Hhal ini disebabkan pada mulanya organisasi-organisasi itu didirikan bukan sebagai suatu partai politik melainkan sebagai suatiu organisasi guna mendukung berbagai kepentingan sosial budaya dan ekonomi. Dikalanngan kaum terpelajar menjadi kebiasaan bagi setiap orang untuk memasuki berbagai macam organisasi yang di anggapnya dapat membantu kepentingannya. 13

(43)

Setelah mendapatkan dukungan penuh dari SI Semarang, ISDV menjadi semakin kuat dan ajaran komunisme semakin dikenal oleh masyarakat. Pada tanggal 23 Mei 1920, tepatnya di gedung SI Semarang, ISDV sepakat mengganti namanya menjadi Perserikatan Komunis di Indie (PKI). Perubahan nama ini diperuntukan supaya organisasi ini lebih tegas dalam mengedepankan nama komunisme sebagai ideologi dari organisasi mereka selama ini. Semaun dipilih sebagai ketua dan Darsono sebagai wakilnya. Beberapa tokoh ISDV yang orang belanda diangkat sebagai pendamping antara lain Bergsma sebagai sekertaris, Dekker sebagai bendahara dan A. Barrs sebagai salah satu anggotanya.14 Sekalipun Semaun dan Darsono telah menjadi pimpinan PKI, namun mereka tetap menjadi pimpinan SI Semarang. Hal ini disebabkan karena pada saat itu CSI (Central Sarekat Islam) masih memperbolehkan anggotanya untuk menjadi anggota dari organisasi lain.

2. Perkembangan Partai Komunis Indonesia

Setelah berdiri pada tanggal 23 Mei 1920, PKI semakin berkembang pesat. Diperbolehkannya keanggotaan ganda pada tubuh SI dilihat sebagai kesempaatan besar bagi PKI untuk menyusup ke organisasi tersebut yang kemudian bertujuan umtuk memecahnya. Hal ini dilakukan karena PKI menyadari bahwa pada saat itu SI merupakan sebuah organisasi pergerakan nasional yang besar dan kuat. Sehingga timbul keinginan diantara pimpian PKI untuk menguasainya. Gebrakan-gebrakan yang dilakukan PKI dalam tubuh SI terang saja membuat pimpinan CSI menjadi berang. CSI melihat bahwa tindakan tindakan yan dilakukan oleh PKI telah mengarah kepada sebuah ancaman keutuhan didalam tubuh SI sendiri. CSI kemudian menyadari bahwa yang menjadi penyebab pengaruh PKI begitu kuat dalam tubuh SI adalah karena SI memperbolehkan sistem keanggotaan rangkap, sehingga menjadi sangat mudah untuk disusupi oleh orang-orang yang bersal dari organisasi lain15.

14 Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Bahaya Laten Komunisme di Indonesia, Jilid I, Jakarta, 1991, Hal.6

(44)

Pada bulan Oktober 1921 dilaksanakan kongres SI yang ke VI di Surabaya. Pada saat itu terjadi suasana panas mewarnai jalannya kongres karena adanya perdebatan yang terjadi diantara fraksi komunis yang diwakili oleh Darsono dan Tan Malaka dengan pimpinan SI pada saat itu Haji Agus Salim. Pada kongres tersebut kemudian diputuskan bahwa dilarangnya keanggotaan rangkap. Artinya anggota SI tidak lagi boleh menjadi anggota dari organisasi lain, jadi bagi anggota yang selama ini merangkap sebagai anggota dari organisasi lain harus memilih antara SI atau organisasi lainnya tersebut. Keputusan ini sontak mendapat perlawanan dari faksi komunis karena hal tersebut akan sangat merugikan bagi mereka. 16

Sadar bahwa keluar dai SI merupakan sesuatu yang akan sangat merugikan bagi kekuatan PKI, maka Semaun selaku ketua PKI dan SI Semarang pada saat itu menolak keputusan kongres dan justru menghimpun kekuatan didalam tubuh SI. Semaun kemudian melakukan propaganda dalam tubuh SI dan mengatakan bahwa apa yang telah diputuskan dalam kongres merupakan sebuah sesuatu yang keliru dan oleh sebab itu harus di tinjau kembali keputusannya. Namun, pimpinan SI pada sat itu tetap bersikeras pada apa yang telah diputuskan dalam kongres. Dengan keputusan tersebut maka anggota-anggota SI yang tidak mau keluar dari PKI dikeluarkan dari tubuh SI. Sekalipun keputusan ini akan mengurangi jumlah anggota, namun pimpinan SI tetap menganggap bahwa keputusan ini merupakan hal terbaik yang harus dilakukan17.

Semaun dan para anggota SI yang juga merupakan PKI tidak tinggal diam dengan keputusan ini. Mereka tetap tidak mau menerima hasil kongres dan tidak keluar dari SI. Mereka kemudian membentuk SI tandingan yang di sebut sebagai SI Merah, sedangkan SI yang menerima hasil kongres tersebut dinamakan sebagai SI Putih. SI tandingan ini tidak hanya terjadi ditingkat pusat, melainkan juga samapi ke cabang di daerah-daerah. Pada kongres PKI II di Bandung Maret 1923 dirumuskan secara jelas bahwa mereka menentang secara terang-terangan SI sebagai kekuatan politik, dan mengubah SI merah menjadi Sarekat Rakyat (SR) 16 Ibid. Hal, 4

Referensi

Dokumen terkait