• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Gerindro

Dalam dokumen dalam Sejarah Nasional Indonesia IV (Halaman 96-103)

Pedo Nopansyah (06121004026) Eka Nur Amelia (06121404005)

2. Perkembangan Gerindro

Tujuan ekonomi partai Gerindo sebagai susunan ekonomi yang berdasarkan kooperasi di bawah pengawasan Negara. Tujuan sosialnya yaitu sebagai suatu lingkungan hidup berdasarkan hak dan kewajiban yang sama antar berbagai macam penduduk. Sedangkan jalan kedua yang di tempuh partai Gerindo untuk mencapai tujuannya adalah dengan azas self-help dan kooperasi, serta bekerja sama dengan pemerintah dengan mengirim wakil-wakilnya volksraad dan dewan- dewan lainnya. Partai Gerindo didirikan mempunyai program yaitu mengadakan kongres pertama di Jakarta pada tanggal 20-24 Juli 1938.

Kongres itu dilaksanakan sebagai bentuk dari kerja nyata dari suatu organisasi pergerakan yang peduli terhadap perubahan sosial masyarakat pribumi, dalam Kongres yang pertama ini berhasil membentuk Penuntun Ekonomi Rakyat Indonesia (PERI) yang berdasarkan pada Demokratis Nasionalisme, kemudian Kongres yang ke II di adakan di Palembang.

Sama halnya dengan Partai Gerindo yang ada di Palembang Pengikut Gerindo terdiri dari berbagai kalangan sebagaian besar adalah pekerja lepas, buruh pelabuhan, dan buruh pasar. Bekas ketua Partindo Noengtjtik A.R diangkat 46 “keterangan Azas”, dalam pelopor Gerindo, No. 1, Th I, 1937, hlm. 3

sebagai ketua Gerindo di Palembang dan wakil ketuanya adalah Samidin yaitu bekas ketua PNI sedangkan sekretarisnya adalah A.S Sumadi yaitu seorang aktivis yayasan perguruan rakyat "Taman Siswa".47 Pada tingkat tertentu Gerindo yang ada di Palembang berhasil mempersatuakan kembali bekas-bekas PNI lama daerah ini yang sebelumnya terpecah antara Noengtjik A.R (Partindo) dan Samidin (PNI baru), dalam waktu yang relatif singkat Gerindo tersebar di hampir setiap daerah bahkan sampai kepelosok Muara Rupit.

Gerindo palembang memang jauh lebih dinamis dibandingkan dengan Parindra. Pada akhir 1939 anggota Parindra tercatat 2.200 orang, namun Gerindo sudah memiliki sekitar 25 cabang yang tersebar di berbagai daerah di Palembang dengan jumlah anggota 4.000 orang pada tahun yang sama. Meskipun demikian kedua partai tetap menyelenggarakan kerjasama di bidang-bidang tertentu.

Partai Gerindo semakin meningkat dengan diadakannya Kongres Nasional II, yang merupakan Salah satu kegiatan spektakuler Gerindo di Palembang, Gerindo cabang pelembang terpilih sebagai tempat penyelanggara. Kongres yang pertama berlangsung sejak tanggal 20 juli sampai 24 juli 1938. Sedangkan kongres yang kedua yang diadakan di Palembang yaitu pada tanggal 1-2 Agustus 1939.

Kongres yang diadakan di Palembang ini dihadiri oleh sejumlah pemimpin partai Gerindo pusat, seperti A.K. Gani, Amir Syarifoeddin, Wikana, Adam Malik, Tabrani, dan Asmara Hadi. Kongres ini merupakan kongres nasional partai politik yang pertama kali diadakan di Palembang, mengambil tempat di Sekanak 10 Ulu, kongres menjadi kebanggaan tersendiri bagi pengurus cabang Gerindo di Palembang. Kemajuan yang dicapai Gerindo tidak terlepas dari peranan A.K. Gani. Dia belum lama menyelesaikan kuliah kedokteran di Batavia dan memilih karier sebagai dokter swasta di Kota Palembang. Kepindahan tokoh yang berpengalaman dalam dunia pergerakan ke Palembang membuat daya gerak Gerindo Palembang semakin hidup dan sedikit banyak menjadi avantgarde48

47 Taman Siswa adalah nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta (Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar, dan Siswa berarti murid).

48 Avant-garde (pengucapan bahasa Perancis: [avɑɑɡ ʁa d]) berarti "advance guard" atau "vanguard".[1] Bentuk kata sifat digunakan dalam bahasa Inggris untuk merujuk kepada orang

pergerakan nasionalis sekuler daerah ini. Walaupun posisinya "turun" dari pimpinan pusat menjadi pimpinan daerah, Wibawa Gani sebagai bekas pimpinan pusat amat terasa di cabang-cabang Gerindo seluruh Sumatera.

Dalam Kongres ini diambil keputusan berupa penerimaan peranakan seperti peranakan Eropa, peranakan Tionghoa, dan peranakan Arab, untuk menjadi anggota partai Gerindo. Salah satunya yaitu diterimanya Oei Gee Hwat yaitu seorang sekretaris pengurus besar Partai Tionghoa Indonesia (PTI) menjadi salah seorang pengurus partai Gerindo, keputusan itu diambil berdasarkan keputusan kongres yang diadakan di Palembang, yang pada saat itu di pimpin oleh A.K. Gani, karena Gerindo menjalankan garis Demokrasi yang mengutamakan perlawanan terhadap fasisme dan tidak mempersoalkan warna kulit yang berbeda dan bisa membuka pintu untuk meneriama etnis Tionghoa.

(http://wartasejarah.blogspot.com/2014/03/perkembangan-partai-gerindo-di- palembang.html) (diakses pada tanggal 27 - 4 – 2014 pukul 20.30)

Sesuai keputusan Kongresnya pada tahun 1938, Gerindo berasaskan Nasionalis dan Demokrasi. Mengingat bahwa Gerindo mirip Partindo, maka tujuan partai tersebut adalah Indonesia merdeka dalam Politik, Ekonomi, dan Sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut, rakyat perlu dididik hingga memilik kesadaran politk dan memiliki kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri (Self-Help). Seperti dijelaskan diatas, Gerindo telah menetukan sikapnya bersedia bekerja sama dengan pemerintah Kolonial, jelasnya jika kepada warga Gerindo diberikan kesempatan untuk duduk dalam dewan-dewan perwakilan, maka partai tersebut tidak menolaknya. (Hardi, Menarik Pelajaran dari Sejarah, 145)

Lahirnya Gerindo disambut gembira oleh para bekas anggota Partindo dalam waktu singkat mereka mendirikan cabang-cabang. Cabang-cabang Gerindo tersebar hampir merata di seluruh Indonesia pada umumnya suatu cabang Partindo secara otomatis menjadi cabang Gerindo. Pemerintah kolonial masih berusaha untuk menghambat perkembangannya, kecurigaan pemerintah terhadap para atau karya yang eksperimental atau inovatif, terutama penghormatan kepada seni, kultur, dan politik. Avant-garde menunjukkan perlawanan terhadap batas - batas apa yang diterima sebagai norma dalam suatu kebudayaan.

mantan anggota Partindo tidak hilang sehingga ada beberapa rapat pendirian cabang Gerindo dibubarkan.(Poesponegoro, Marwati Djoened, 2007 : 379)

Aktivitas di bidang politik pertama kali ditunjukkan dengan sikapnya terhadap Petisi Sutarjo49, Gerindo menyokong bagian petisi yang menuju konferensi imperial dimana utusan-utusan Belanda dan Indonesia yang mempunyai hak sama untuk memusyawarahkan kedudukan Indonesia.50 Kemudian sehubungan dengan pecahnya perang antara Jepang dan Tiongkok, Gerindo menganjurkan kepada anggota khususnya dan rakyat Indonesia umumnya untuk membantu bangsa Tionghoa di Indonesia, Gerindo dalam manifesnya menyatakan sikapnya yang antifasisme. (Poesponegoro, Marwati Djoened, 2007 : 380)

Mengenal dewan dewan Gerindo mempergunakan dewan-dewan sabagai alat perjuangan dan tempat menyusun kekuatannya untuk mempengaruhi kemajuan rakyat. Partai ini tidak puas terhadap susunan dan kekuasaan dewan- dewan yang ada, Gerindo menuntut parlemen yang sejati, penuh dan bertanggung jawab terhadap rakyat untuk itu Gerindo menuntut hak memilih umum dan langsung. Partai ini akan menyusun kekuatannya dalam dewan-dewan, ditetapkan agar semua wakilnya dalam dewan-dewan menjalankan kewajiban sesuai keinginan rakyat. Gerindo menetapkan syarat-syarat dalam mengajukan wakil- wakilnya di dewan-dewan dan menetapakan disiplin terhadap anggotanya yang duduk di dewan-dewan. (Poesponegoro, Marwati Djoened, 2007 : 380).

Tanda-tanda perubahan zaman semakin tampak nyata pada tahun-tahun terakhir kekuasaan Belanda di Indonesia. Penguasa kolonial Hindia Belanda di Palembang kian sulit menutup sikap bimbangnya terhadap tuntutan kaum pergerakan yang semakin lantang. Beruntung perpecahan dan persaingan dalam tubuh partai-partai politik pergerakan dapat diredam oleh GAPI (Gabungan partai 49 Petisi Soetardjo adalah sebutan untuk petisi yang diajukan oleh Soetardjo Kartohadikoesoemo, pada 15 Juli 1936, kepada Ratu Wilhelmina serta Staten Generaal (parlemen) di negeri Belanda. 50 Petisi ini diajukan karena makin meningkatnya perasaan tidak puas di kalangan rakyat terhadap pemerintahan akibat kebijaksanaan politik yang dijalankan Gubernur Jenderal de Jonge. Petisi ini ditandatangani juga oleh I.J. Kasimo, G.S.S.J. Ratulangi, Datuk Tumenggung, dan Ko Kwat Tiong

politik Indonesia) yang menghimpun hampir semua partai politik di Hindia Belanda (PSII, Gerindo, Parindra, PII dan PAI).51

Dalam kondisi genting menjelang Perang Dunia II, kerja sama yang dilakukan antara Gerindo dengan Parindra mampu mengatasi perbedaan diantara kedua partai. Sebagian besar kaum pergerakan yang mengambil posisi "Co" juga memiliki sebuah keyakinan bahwa Belanda akhirnya harus angkat kaki. Kini hanya tinggal soal waktu saja. Gerindo tampil sebagai partai politik yang banyak melakukan kegiatan dan barangkali paling efektif dalam kelompok intelektual perkotaan meski jumlah masanya lebih sedikit ketimbang PSII. Sebaliknya PSII tetap bersikukuh dengan pendirian "berdiri diatas kaki sendiri", sebuah sikap yang mencerminkan ketegaran partai ini pada masa sebelumnya tetapi mungkin ketegaran partai ini pada masa sebelumnya, tetapi mungkin tidak lagi relevan dengan zaman yang tengah berubah.

Seandainya PSII mengambil sikap lebih lentur dan cermat membaca tanda-tanda zaman, suara mereka pasti akan lebih menentukan ketimbang partai manapun di dalam Raad. Sesungguhnya PSII memiliki peluang yang lebih besar dengan menggunakan saluran resmi tersebut demi kepentingan partai. Lembaran baru masa pendudukan Jepang akan menyambut arus yang mengalir sebelumnya dan menentukan bagaimana arus ini dan kekuatan lain di sekelilingnya bertemu dalam situasi dan kondisi yang berbeda dari zaman sebelumnya.

(http://wartasejarah.blogspot.com/2014/03/perkembangan-partai-gerindo-di- palembang.html) (diakses pada tanggal 27 - 4 – 2014 pukul 20.30)

Sehubungan dengan rencana pembentukan badan federesi baru Gabungan Politik Indonesia (GAPI), Gerindo ikut serta dalam rapat dan masuk menjadi anggota setelah pemberlakuan negara dalam keadaan perang pada tanggal 11 Mei 1940, suasana pergerakan sepi. Gerindo menunda perjuangannya di bidang politik dan semua kegiatannya dicurahkan di lapangan ekonomi dan sosial setelah pecah Perang Pasifik, pemerintah Hindia Belanda menyatakan perang terhadap Jepang.

51 Gabungan Politik Indonesia (GAPI) adalah suatu organisasi payung dari partai-partai dan organisasi-organisasi politik. GAPI berdiri pada tanggal 21 Mei 1939 di dalam rapat pendirian organisasi nasional di Jakarta.

Pada tanggal 8 desember 1941, Jepang menyerang Pearl Harrbour di Hawaii, Hongkong, dan Malaya. Negeri Belanda segera mengikuti jejak sekutunya menyatakan perang terhadap Jepang. Pada tanggal 10 januari 1942 penyerbuan jepang ke Indonesia dimulai. Pada tanggal 15 Februari pangkalan Inggris di Singapura, yang menurut dugaan tidak mungkin terkalahkan, menyerah. Pada akhir bulan itu balatentara Jepang menghancurkan pasukan gabungan Belanda, Inggris, Australia, dan Amerika Serikat dalam pertempuran dilaut jawa. Tidak mengherankan apabila rakyat Indonesia memberikan sedikit sekali bantuan keapada pasukan Kolonial yang terancam dan kadang-kadang dengan senang hati berbalik menyerang orang-orang sipil dan serdadu-serdadu Belanda. Pada tanggal 8 maret 1942 pihak Belanda di Jawa menyerah dan Gubernur Jenderal van Starkenborgh ditahan oleh pihak Jepang.(Ricklefs, 1991 : 294)

Gerindo sebagai partai yang anti-fasisime menentang Jepang. Setelah Jepang berkuasa di Indonesia semua organisasi politik termasuk Gerindo kecuali Majelis Ismail A’la Indonesia (MIAI) dibubarkan oleh Jepang.52 (Poesponegoro, Marwati Djoened, 2007 : 380)

52 Majelis Islam A'la Indonesia atau MIAI adalah badan federasi bagi ormas Islam yang dibentuk dari hasil pertemuan 18-21 September 1937. KH Hasyim Asy'ari merupakan pencetus badan kerja sama ini, sehingga menarik hati kalangan modernis seperti KH Mas Mansur dari Muhammadiyah dan Wondoamiseno dari Syarekat Islam

Daftar Pustaka

Hardi,-,”Menarik Pelajaran Dari Sejarah”, Jakarta : CV Haju Masadung.

Poesponegoro, Marwati Djoned. 1992. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: _____Balai Pustaka.

Ricklefs, M.C.1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta : Gadjah Mada _____University Press.

Internet:

(http://wartasejarah.blogspot.com/2014/03/perkembangan-partai-gerindo-di- palembang.html) (diakses pada tanggal 27 - 4 – 2014 pukul 20.30)

Rensy Novianny

(06121004030)

Dalam dokumen dalam Sejarah Nasional Indonesia IV (Halaman 96-103)