• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Perhimpunan Indonesia

Dalam dokumen dalam Sejarah Nasional Indonesia IV (Halaman 62-66)

Tita Widyatista (06121004001) Reza Agustina (06121004019)

PERHIMPUNAN INDONESIA

2. Perkembangan Perhimpunan Indonesia

A. Karakteristik Perhimpunan Indonesia

31 Radikal adalah Sebuah kelompok atau gerakan politik yang kendur dengan tujuan mencapai kemerdekaan atau pembaruan electoral yang mencakup mereka yang berusaha mencapai republikanisme, penghapusan gelar, redistribusi hak milik dan kebebasan pers, dan dihubungkan dengan perkembangan liberalisme.

Perhimpunan indonesia adalah organisasi nasionalis yang bertendensi politik. Walaupun tujuannya adalah “ menyiapkan kemerdekaan indonesia” dan sarana untuk tujuan “ memajukan kesatuan berpikir indonesia” tapi nyatanya, karena di bentuk di belanda, kerjanya jadi kurang matang. Tentu saja, secara umum PI (perhimpunan indonesia) hanya dapat melakukan hal hal yang berkaitan dengan teori politik saja.

B. Prinsip-Prinsip Program

Dasar perhimpunan indonesia adalah penjelasaan atas perinsipnya yang di susun pada tahun 1925. Programnya berdasarkan prinsip non kooperasi dan swadaya. Itulah mengapa PI berwatak revolusioner.

Prinsip nonkooperasi dan swadaya, pendek kata tergantung pada diri sendiri atau autoaktivitas, terdiri atas :

1. Di bidang politik : meningkatkan perasaan kesatuan dan solidaritas serta rasa keadilan politik kalangan rakyat. Sekarang ini, perhimpunan indonesia melihat prinsip prinsip nonkooperasi sebagai cara terbaik untuk membangkitkan rasa percaya diri dan rasa punya harga diri. 2. Di bidang ekonomi : sebuah organisasi, dengan kehidupan ekonominya

sendiri yang berdasrkan koperasi, oleh PI dianggap sebagai satu satunya cara mencegah agar pemilik modal besar jangan memiliki kekuasaan kuat.

3. Di bidang sosial : memperhatikan kepentingan sosial rakyat seperti pendidikan nasional (oleh dan untuk bangsa indonesia)(ingeleson, 1993).

Meningkatnya kegiataan politik terutama sejak kedatangan dua orang mahasiswa Indonesia yang belajar ke Belanda, yaitu Ahmad Subardjo pada tahun 1919 dan Moh. Hatta pada tahun 1921. Kegiataan PI kemudian meningkat menjadi nasional demokratis, dalam bidang internasional inilah kegiataan PI bertemu dengan perkumupulan pemuda pemuda yang berasal dari negeri negeri jajahan yang memiliki cita cita yang sama persis dengan bangsa indonesia. PI

nampaknya juga berusaha agar masalah indonesia mendapat perhatian dari dunia internasional. Oleh karena itu di jalin hubungan dengan “Liga Penentang Imperialisme dan penindasan kolonial” , “Liga Demokrasi Internasional untuk perdamaian”, “ Perkumpulan Studi Peradaban”, “Komintern”32, bahkan dengan “All Indian National Congress.” (ingeleson, 1993).

Mulai 1923 selanjutnya, mohammad hatta menjadi kekuataan pendorong dalam PI – perintis dari hampir semua perkembangan dan organisator utama dari kegiataanya (Al Anshori, Seri Sejarah Nasional Indonesia, 2007).

Hatta dan sesamnya pemimpin PI lainya sdar bahwa mahasiswa indonesia di belanda merupakan kelompok intelektual elit baru di tanah mereka, maka mereka mengembangkan presepsi kutat tentang peranan organisasi mereka di negeri belanda dan di dalam kerangka lebih luas dari gerakaan nasionalis secara keseluruhan, mereka berusaha menyadarkan para mahasiswa itu agar semakin merasa diri sebgai orang indonesia dan bukan sebgai orang jawa, sunda atau minangkabau. Mereka menekankan pentingnya kesatuan indonesia dan benar benar yakin akan penting akan peranan penting pemuda indonesia dalam mencapai suatu bangsa yang merdeka dan bersatu(ingeleson, 1993, hal. 15).

Ini adalah salah satu cara yang di pakai para pemimpin PI dalam menjalankan tugas nya. Cara lain, dan lebih penting adalah mengembangkan suatu ideologi nasionalis yang baru, yang khas indonesia, bebas dari batasan apakah itu islam atau komunisme. Ada empat pikiran pokok dalam ideologi yang di kembangkan di dalam PI, yang menjadi dasar arus utama gerakaan nasional yaitu sebagai berikut

1. Hanya suatu kesatuan indonesia yang mengesampingkan perbedaan perbedaan sempit, yang dapat menghancurkan kekuataan penjajah, tujuan umum nya membentuk suatu negara indonesia yang merdeka –

32 Komintern adalah organisasi komunis revolusioner internasional, yang merupakan

perhimpunan partai-partai komunis dari berbagai negeri, yang berfungsi antara tahun 1919 sampai dengan tahun 1943.

menurut pembinaan rasa kebangsaan yang beradarkan aksi massa yang sadar dan percaya diri.

2. Syarat mutlak untuk mencapai tujuan ini adalah partisipasi seluruj lapisan rakyat indonesia dalam suatu perjuangan yang terpadu untuk mencapi kemerdekaan

3. Unsur yang poko dan dominan dalam setiap problem politik penjajah adalah konflik kepentingan antara penjajah dan yang di jajah. Kecenderungan pihak penguasa untuk mengaburkan dan dan menutupi masalah ini harus di lawan dengan mempertajam dan mempertegas adanya konflik tersebut

4. Melihat adanya dislokasi dan demoralisasi sebagai akibat dari pengaruh pemerintah kolonial tehadap kesehataan fisik dan psikis dari kehidupan orang indonesia. Di perlukan sejumlah besar usaha untuk menormalkan kembali kondisi fisik dan psikis itu(ingeleson, 1993, hal. 17).

Pada waktu resmi diangkatg menjadi ketua PI tanggal 17 januari 1926 di depan rapat umum hatta berbicara panjang lebar tentang sisitem perekonomian dunia dan konflik kekuasaan, menurut pandanganya akar imperialisme terletak pada sifat orang barat yang materialistis(Kartodirdjo, 2005, hal. 5-10).

Semboyan penjajahan inggris di india adalah “ hukum dan ketertiban”, namu untuk di hindia belanda “aman dan sentosa” dan gubernur jendral belanda makin banyak menggunakaan “wewenang istimewa” untuk menangkap dan mengirimkan sesorang ke pembuangan tanpap proses pengadilan. Dalam keadaan seperti itu, hatta menyadari bahwa kampanye ketidak patuhan rakyat gaya gandhi tidak akan tepat guna di indonesia, bagaimanapun juga ia sangat tertarik, tidak hanya cara kongres nasional india memberi tekanan kepada sikap nonkooperatif33, tetapi juga kepada car gandi menekankan pentingna pendidikan untuk membentuk suatu gerakaan politik yang di dukung masa(Kartodirdjo, 2005, hal. 5-10).

33 Nonkooperatif adalah bersifat (bersikap) tidak bekerja sama. Pada masa penjajahan Belanda organisasi yang bersikap nonkooperatif terhadap pemerintah penjajahan pasti akan ditekan dan dipersulit

Tekanan yang di berikan kepada organisasi dan pembinaan suatu massa yang sadar politik itu untuk selanjutnya menajdi tema yang konsisten dari pandangan politik hatta pada tahun 1920 an dan 1930 an. Dari sini dan dari keyakinannya dalam sikap non kooprtatif dan penting nya bergantung kepada kekuataan dan kemampuan sendiri, hatta menekankan perlunya mulai membentuk suatu negara dalam negaram ia merasa bahwa kaum nasionalis seharusnya terlibat dalam kehidupaan indonesia yang spektrumnya makin lama makin luas, sampai mereka berhasil, secara de fakto, mengambil alih hampir semua fungsi de jure dari pemerintah. Begitu keadaan tercapai tersebut denga gerakaan membangun, misalnya, sekolah, universitas, gedung pengadilan, koperasi dan parlemen nasional sendiri(Kartodirdjo, 2005, hal. 5-10).

Di mana mana ia menekankan pentingnya serikat buruh, perhimpunan kaum proletar di kota kota, ikataan ahli hukum, dokter, insinyur, dan kelompok berdasarkan keterampilan lainya dan organiasi koperasi, dalam perjuangan untuk merdeka(Kartodirdjo, 2005, hal. 5-10).

Dalam dokumen dalam Sejarah Nasional Indonesia IV (Halaman 62-66)