Partai Nasional Indonesia
2. Perkembangan Partai Nasional Indonesia Lama
Popularitas PNI berkembang pesat karena pengaruh Soekarno dengan pidato-pidatonya yang sangat menarik perhatian rakyat. Kewibawaan dan gaya bahasa sebagai alat bagaimana pidato-pidato Soekarno sangat ditunggu-tunggu disetiap pertemuan rapat PNI. Soekarno menekadkan untuk mengejar Indonesia Merdeka di bawah panji-panji Merah Putih Kepala Banteng (Merah-keberanian, Putih-kebersihan hati, Kepala Banteng-percaya kepada kekuatan dan tenaga sendiri). Usaha propaganda dilakukan dengan membentuk serikat sekerja supir ”Persatuan Motoris Indonesia”, Serikat Anak Kapal Indonesia”, Persatuan Jongos Indonesia”. Apalagi perkembangan Partai Nasional Indonesia ini mempengaruhi sebagian pegawai negeri dan anggota angkatan perang. Bagi PNI, untuk memperoleh pergerakan rakyat yang sadar, maka perkumpulan perlu mempunyai azas yang terang dan jelas, perlu mempunyai suatu teori nasionalisme yang radikal yang dapat menimbulkan kemauan yang satu, yaitu kemauan nasional. Bila kemauan nasional ini cukup tersebar dan masuk mendalam di hati sanubari rakyat, maka kemauan nasional ini menjadi suatu perbuatan, yaitu perbuatan nasional (nationale geest-nationale wil-nationale daad). Dan di dalam anggaran dasar PNI dicantumkan maksud dan tujuannya secara tegas, yaitu Indonesia Merdeka. Ini berarti PNI mengambil jalan non-kooperatif dengan pemerintah Hindia Belanda. Masa-masa awal sangat dipengaruhi oleh ideologi PNI dan mentalitas PNI dalam membentuk mesin birokrasi dan mengerahkan massa.
Maka, disinilah arti penting PNI-Birokrasi menjadi eksis dalam percaturan politik yang terjadi Indonesia[ CITATION Mar \l 1057 ].
Melihat aktifitas politik PNI yang semakin meningkat, pemerintah Hindia Belanda memberi peringatan kepada pimpinan PNI pada tanggal 15 Mei 1928 di sidang pembukaan “Volksraad” yang diucapkan28 oleh Gubernur Jenderal de Graeff untuk menahan diri. Meski ada peringatan dari pemerintah Hindia Belanda, PNI tetap terus melakukan kegiatan politiknya, salah satunya adalah dengan menyelenggarakan kongres yang pertama. Pada kongres yang diadakan di Surabaya, tanggal 27-30 Mei 1928, PNI memutuskan merubah namanya menjadi “Partai Nasional Indonesia”. Perubahan nama ini berarti meningkatnya PNI menjadi suatu organisasi yang lebih tersusun rapi, menjadi suatu partai politik yang harus mempunyai program politik, ekonomi dan sosial yang lebih baik dan berhati-hati dalam penerimaan anggota. Sebagai anggota hanya dapat diterima orang-orang yang sadar dan aktif. Di kongres kedua yang diadakan di Jakarta tanggal 18-20 Mei 1929, ketua PNI Bung Karno memberikan pidato yang berapi- api di depan peserta kongres29[CITATION Not08 \p 105 \l 1057 ].
Bung Karno memantapkan kebulatan hati anggota PNI untuk mengejar Indonesia Merdeka dibawah panji-panji “Merah-Putih-Kepala Banteng”. Merah berarti keberanian, putih kebersihan hati sedangkan kepala banteng berarti percaya pada kekuatan dan tenaga sendiri. Media Propaganda PNI Pemerintah Hindia Belanda yang semakin hari bertambah cemas melihat pengaruh yang diperoleh PNI dimana-mana, mulai menunjukkan tangan besi. Tujuan kongres adalah mengsahkan anggaran dasar, program azas dan rencana kerja PNI . Selain itu kongres bertujuan untuk memperkenalkan diri lebih jauh kepada masyarakat dan dihadiri oleh wakil- wakil organisasi pergerakan. Kongres telah memilih Ir. Soekarno sebagai ketua Pengurus Besar PNI dan Mr.Sartono sebagai bendahara. 28 Tujuan PNI adalah kemerdekaan bagi Kepulauan Indonesia yang akan dicapai dengan cara nonkooperatif dan dengan organisasi massa.
29 Inilah partai politik penting pertama yang beranggotakan etnis Indonesia, semata-mata mencita-citakan kemerdekaan politik, berpandangan kewilayahan yang meliputi batas-batas Indonesia sebagaimana yang ditentukan oleh pemerintah kolonial Belanda, dan beridiologi nasionalisme ‘sekuler’.
Pengaruh PNI dalam usaha mempersatukan seluruh kekuatan Indonesia dan persatuan Indonesia tidak hanya dalam organisasi-organisasi politik tetapi juga dalam gerakan pemuda. Dalam Kongres Pemuda Indonesia keduadi Jakarta tanggal 26-27 oktober 1928 kelihatan pengaruh tersebut . Dan pada penutupan kongres 28 oktober diucapkan Sumpah Pemuda yang terkenal itu. Dalam tahun 1930 hampir semua perkumpulan pemuda Indonesia mempersatukan diri dalam Indonesia muda[CITATION MCR05 \p 278 \l 1057 ].
Pada organisasi- organisasi putri pun kelihatan kecenderungan untuk bersatu ini. Dalam Kongres Wanita Indonesia yang pertama, pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta yang dihadiri oleh sejumlah organisasi wanita yang berpengaruh waktu itu , dapatlah dihasilkan suatu organisasi persatuan wanita yang berbentuk federasi. Namanya ialah Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI),dan dalam Kongres kedua tanggal 28-31Desember 1930 namanya dirubah menjadi Perserikatan Perhimpunan Isteri Indonesia (PPPI)[ CITATION Maw92 \l 1057 ].
Ada dua macam tindakan yang dilakukan oleh PNI untuk memperkuat diri dan pengaruhnya didalam masyarakat , yaitu: ke dalam, mengadakan usaha- usaha terhadap dan untuk lingkungan sendiri, yaitu mengadakan kursus- kursus , mendirikan sekolah-sekolah , bank- bank dan sebagainya;keluar memperkuatkan public opini terhadap tujuan PNI , antara lain melalui rapat- rapat umum dan menerbitkan surat kabar- surat kabar Banteng Periangan (di Bandung) dan Persatoean Indonesia (di Jakarta). Kegiatan PNI yang dengan cepat dapat menarik masa itu, sangat mencemaskan pemerintah colonial. Gubernur jendral pada waktu pembukaan sidang volksraad tanggal 15 mei 1928 mengharapkan kesadaran rakyat terhadap nasionalisme yang extrim. Dikemukakan juga bahwa sikap non- cooperation (yang dijalankan PNI) bersifat perumusan terhadap pemerintah. Walaupun ada peringatan halu itu, cabang-cabang PNI tumbuh diseluruh Indonesia. Tujuh cabang pertama ialah di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Pekalongan dan Palembang. Empat calon cabang ialah Air- itam, (dekat Palembang) Cirebon, Parut dan Semarang. Disamping itu juga ada
beberapa kring (anggota pengurus belum lengkap) disurakarta,makasar, (ujung pandang),buol dan banyuwangi. Hingga akhir tahun 1929 kandidat anggota PNI berjumlah kira-kira 10.000 orang diantaranya 6000 orang didaerah periangan. Pada tanggal 18 -20 mei 1929 diadakanlah konres PNI yang kedua dijakarta. Disamping memilih kembali pengurus PB PNI yang lama juga telah diambil keputusan:
A. Bidang ekonomi/social
Menyokong perkembangan Bank nasional Indonesia,mendirikan koprasi- koprasi, studiefonds, dan fonds korban, atau partijfonds (untuk anggota-anggota yang kena tindakan pengamanan pemerintah), dan serikat-serikat sekerja, mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit.
B. Bidang politik:
Mengadakan hubungan dengan perhimpunan Indonesia(PI) dinegri belanda dan menunjuk PI sebagai wakil PPPKI di luar negeri. Sesuatu yang menarik juga dalam kongres ini ialah disinggungnya masalah trasmigrasi untuk mengatasi kemelaratan rakyat (terutama didaerah yang berpenduduk padat).
Semenjak kongres kedua ini kegiatan PNI makin meningkat,terutama untuk usaha konsolidasi kekuatan. Kepada anggota-anggota diadakan kursus- kursus yang terbagi atas dua:
1.Kursus pimpinan, biasa diikuti oleh 10-12 orang. Hanya diadakan dibandung, dan guru-gurunya adalah Ir.soekarno. Mr.Isqak tjokrohadisoerjo, Mr.Ali Sastroamidjojo dan Manadi.
2.Kursus biasa didaerah-daerah yang diadakan oleh cursus commissiedimana pelajaran diberikan secara sederhana dan mudah dimengerti.Semua pengikut kursus ini kemudian diuji dan bila lulus barulah mereka diterima menjadi anggota. Disamping itu diadakan klub-klub diskusi yang melatih anggota-anggota memecahkan persoalan-persoalan dan meningkatkan kemampuan pengetahuan anggota. Jelas bahwa cara-cara yang dilakukan PNI ini telah memperkuat posisi dan pengaruh PNI dikalangan masyarakat.Sukses yang dicapai ini dalam waktu
yang singkat berkat filsafat PNI yaitu; marhaenisme. Kemudian marhaenisme ditafsirkan sebagai marxisme yang diterapkan sesuai dengan kondisi-kondisi dan situasi Indonesia.
Bila dibandingkan dengan jumlah anggota sarekat islam, anggota PNI sampai bulan desember 1929 hanya lebih kuraang 10.000 orang. tetapi pengaruh Ir soekarno sebagai pemimpin PNI dan pemimpin Indonesia telah meluas dan meresap diseluruh Indonesia dan didalam seluruh lapisan masyarakat. Kemajuan- kemajuan yang diperoleh PNI dalam usahanya membawa rakyat untuk memperoleh kemerdekaan telah menguatirkan orang-orsng reaksioner belanda diindonesia,yang kemudian membentuk suatu organisasi bernama vaderlandsche club tahun 1929 , yang mendesak pemerintah agar segera mengambil tindakan tegas terhadap PNI[ CITATION Mar \l 1057 ].