• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAGIAN WARISAN ANAK PEREMPUAN DAN ANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBAGIAN WARISAN ANAK PEREMPUAN DAN ANA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBAGIAN WARISAN ANAK PEREMPUAN DAN ANAK LAKI-LAKI MENURUT KUH PERDATA DAN HUKUM ADAT TIONGHOA

(STUDI DI KOTA MATARAM)

Oleh :

ANGGI WIBOWO WASKITA D1A 009 120

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM

(2)

PEMBAGIAN WARISAN ANAK PEREMPUAN DAN ANAK LAKI-LAKI MENURUT KUH PERDATA DAN HUKUM ADAT TIONGHOA

(STUDI DI KOTA MATARAM)

Oleh :

ANGGI WIBOWO WASKITA D1A 009 120

Menyetujui, Pembimbing Pertama,

(3)

PEMBAGIAN WARISAN ANAK PEREMPUAN DAN ANAK LAKI-LAKI MENURUT KUH PERDATA DAN HUKUM ADAT TIONGHOA

(Studi Di Kota Mataram) ANGGI WIBOWO WASKITA

D1A 009 120

Fakultas Hukum Universitas Mataram ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan anak perempuan dan anak laki-laki dalam hal pewarisan menurut KUH Perdata dan hukum adat Tionghoa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitianNormatif Empiris.

Hasil penelitian adalah kedudukan anak perempuan dan laki-laki menurut KUH Perdata adalah sama, karena KUH Perdata menganut sistem kewarisan individual, bilateral dan perderajatan. Selain itu KUH Perdata juga mengenal adanya bagian mutlak bagi ahli warisnya (legitime portie), sedangkan menurut Hukum Adat Tionghoa kedudukannya berbeda, dimana kedudukan anak laki-laki lebih tinggi, hal ini disebabkan karena anak laki-laki yang akan membawa nama marganya untuk diteruskan pada keturunan selanjutnya.

Kesimpulan, kedudukan anak perempuan dan laki-laki menurut KUH Perdata dalam pewarisan adalah sama, sedangkan menurut Hukum Adat Tionghoa adalah berbeda, dimana kedudukan anak laki-laki lebih tinggi. Saranyaitudalam perkembangan zaman dan juga memenuhi tuntutan rasa keadilan, maka anak perempuan juga harus mendapat warisan dan tanpa dibeda-bedakan lagi.

Kata Kunci : Warisan, KUH Perdata dan Adat Tionghoa.

DIVISION OF HERITAGE DAUGHTER AND SON BY INDONESIAN CIVIL CODE AND TRADITIONAL CHINESE LAW

(Study In Mataram) ABSTRACT

This research aims to determine the position of daughter and son in terms of inheritance according to Indonesian civil code and according to Chinese traditional law. This research uses Normative Empirical research.

The result is the status of daughter and son are the same according to Indonesian civil code, it adopted as individual inheritance system, bilateral and equality. In addition to the Indonesian civil law also recognize the essential part for their heirs (legitime portie). Meanwhile, according to the position of Chinese are different, where the position is higher, this is because son who will carry his family name to continue to succeeding generations.

Conclusion, the position of daughter and son according to Indonesian civil code in the inheritance is the same, while according to Chinese traditional law is different, where the son position is higher. Suggestion that the development of the times and also meet the demands of justice, then the daughter must also have inherited and no longer differntiated.

(4)

I. PENDAHULUAN

Hukum pewarisan di Indonesia sejak dahulu sampai saat ini masih

beraneka ragam bentuknya, masing-masing golongan penduduk tunduk kepada

aturan-aturan hukum yang berlaku kepadanya sesuai dengan ketentuan Pasal 131

IS (Indische Staatsregeling). Golongan penduduk tersebut terdiri dari golongan

Eropa dan yang dipersamakan dengan mereka, Golongan Timur Asing (Tionghoa

dan Non Tionghoa), dan Golongan Bumi Putera.

Berdasarkan Pasal 131 jo pasal 163 indische staatsregeling, hukum waris

yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata berlaku bagi

orang-orang eropa dan mereka yang dipersamakan dengan orang-orang-orang-orang eropa tersebut

termasuk didalamnya golongan penduduk timur asing yaitu salah satunya

masyarakat etnis Tionghoa.

Berdasarkan Staatsblad 1917 No.129 Hukum Waris KUH perdata (BW)

berlaku bagi Golongan Timur Asing Tionghoa. Kemudian berdasarkan

Staatstblad 1924 No.557 hukum waris dalam buku II Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata berlaku bagi orang-orang timur asing Tionghoa di seluruh

Indonesia.

Namun dalam kenyataannya tidak semua ketentuan-ketentuan yang diatur

di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata diikuti atau di gunakan dan

bahkan adakalanya dikesampingkan atau tidak dituruti, misalnya ketentuan

tentang pewarisan sebagaimana yang telah diatur di dalam Buku II Kitab

(5)

Keadaan ini juga terjadi dalam bidang Hukum Pewarisan pada masyarakat

Tionghoa di Kota Mataram. Di kota yang terkenal dengan sebutan Bumi Gogo

Rancah ini, masyarakat Tionghoa merupakan salah satu golongan atau kelompok

yang jumlahnya cukup banyak dan tersebar secara merata di wilayah Kota

Mataram. Meskipun sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia dan juga

sudah ditentukan dalam pembagian warisan diberlakukan KUH Perdata, namun

dalam kenyataannya sebagian besar masyarakat Tionghoa di Kota Mataram lebih

memilih pembagian harta warisan secara hukum adat Tionghoa.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa

permasalahan, yaitu: 1) Bagaimanakah kedudukan anak perempuan dan anak

laki-laki dalam pembagian warisan di tinjau dari KUH Perdata dan hukum adat

Tionghoa di Kota Mataram?; 2) Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi

adanya perbedaan kedudukan antara anak perempuan dengan anak laki-laki dalam

hal pembagian waris pada masyarakat Tionghoa di Kota Mataram?; 3) Bagaimana

cara pembagian warisan pada masyarakat Tionghoa di Kota Mataram?

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui

kedudukan anak perempuan dan anak laki-laki dalam hal pewarisan menurut

KUH Perdata dan menurut hukum adat Tionghoa di Kota Mataram; 2) Untuk

mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan kedudukan anak

perempuan dengan anak laki-laki dalam pembagian warisan pada masyarakat

Tionghoa di Kota Mataram; 3) Untuk mengetahui cara pembagian warisan pada

(6)

Adapun beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :

1) Manfaat Teoritis :Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat

menambah informasi perkembangan ilmu hukum pada umumnya dan Hukum

Kewarisan pada khususnya; 2) Manfaat Praktis : Hasil penelitian ini diharapkan

dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi masyarakat etnis Tionghoa di Kota

Mataramdalam membagi warisan dan menyelesaikan persoalan warisan.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitianNormatif dan Empiris.Sumber

dan jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 macam, yaitu : 1)

DataKepustakaan, yang terdiri dari data hukum primer, sekunder dan tersier; 2)

Data Lapangan.

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yang terdiri dari

Data Kepustakaan ( Liberary Research ) dan Data Lapangan (Field Reseach).

AnalisisData dalam penelitian ini adalah analisiskualitatif dengan penafsiran

(7)

II. PEMBAHASAN

A. Kedudukan Anak Perempuan Dan Anak Laki-Laki Dalam Pembagian Warisan Menurut KUH Perdata dan HukumAdat Tionghoa di Kota Mataram

1. Kedudukan Anak Perempuan Dan Anak Laki-Laki Dalam Pembagian Warisan Menurut KUH Perdata

Di dalam KUH Perdata, suatu pewarisan baru dapat terjadi apabila ada

orang yang meninggal dunia. Hal ini sebagaimana diuraikan dalam pasal 830

KUH Perdata, bahwa “pewarisan hanya berlangsung karena kematian”.

Sebelum harta warisan dibagikan kepada ahli waris, maka ada empat

kewajiban yang harus dilakukan antara lain : 1 a) Mengurus dan

menyelesaikan pemakaman sampai selesai; b) Menyelesaikan utang-piutang

baik berupa pengobatan, perawatan termasuk kewajiban dan hak pewaris; c)

Menyelesaikan wasiat ; d) Membagikan harta warisan diantara para ahli waris

yang berhak secara adil sesuai dengan ketentuan undang-undang

Hukum waris Barat (KUHPerdata) mengenal adanya prinsip legitime

portie (bagianmutlak). Prinsip legitime portie ini menentukan bahwa ahli

waris memiliki bagian mutlak dari peninggalan yang tidak dapat dikurangi

sekalipun melalui surat wasiat sipewaris. Hak ini sebagaimana yang diatur

dalam Pasal 913 KUHPerdata yang berbunyi :

1

(8)

“legitime portie atau bagian warisan menurut undang-undang ialah

suatu bagian dari harta benda yang harus diberikan kepada ahli

waris dalam garis lurus menurut undang-undang, yang terhadapnya

orang yang meninggal dunia tidak boleh menetapkan sesuatu, baik

sebagai hibah antara orang-orang yang masih hidup maupun

sebagai wasiat”.

Tentang bagian mutlak yang diperoleh para ahli waris tersebut di atur

dalam pasal 914 KUH Perdata, yaitu : a) Bila pewaris hanya meniggalkan

satu orang anak sah dalam garis ke bawah, maka legitime portie itu terdiri

dari seperdua dari harta peninggalan yang sedianya akan diterima anak itu

pada pewarisan karena kematian; b) Bila meninggalkan dua orang anak, maka

legitime portie untuk tiap-tiap anak adalah dua pertiga bagian dari apa yang

sedianya akan diterima masing-masing anak itu pada pewarisan karena

kematian; c) Dalam hal orang yang meninggal dunia meninggalkan tiga orang

anak atau lebih, maka legitime portie itu tiga perempat bagian dari apa yang

sedianya akan ditetima tiap anak pada pewarisan karena kematian; d) Dengan

sebutan anak-anak dimaksudkan juga keturunan-keturunan mereka dalam

derajat keberapapun; tetapi mereka ini hanya dihitung sebagai pengganti anak

yang mereka wakili dalam mewarisi warisan si pewaris.

Orang-orang yang menjadi ahli waris menurut Undang-undang karena

hubungan darah ditegaskan lagi dalam pasal 852 KUH Perdata yang meliputi

pihak laki-laki dan perempuan. Ahli waris karena hubungan darah ini adalah

(9)

dengan tidak membedakan jenis kelamin dan juga perbedaan usia. Pasal 852

KUH Perdata, berbunyi :

“Anak-anak atau keturunan-keturunan mereka, sekalipun

dilahirkan dari berbagai perkawinan, mewarisi harta peninggalan

para orang tua mereka, kakek dan nenek mereka, atau keluarga

sedarah mereka selanjutnya dalam garis keatas, tanpa

membedakan jenis kelamin atau kelahiran yang lebih dahulu.

Mereka mewarisi bagian-bagian yang sama besarnya kepala demi

kepala, bila dengan si mati mereka semua bertalian keluarga

dalam derajat pertama dan masing-masing berhak karena dirinya

sendiri; mereka mewarisi pancang demi pancang, bila mereka

semua atau sebagian mewarisi sebagai pengganti.”

Berdasarkan ketentuan pasal 852 KUH Perdata tersebut, dapat

diketahui bahwa anak perempuan dan laki-laki, mereka bersama-sama adalah

ahli waris yang sah atas harta kekayaan ibu bapak mereka. Apabila anak

perempuan tersebut seorang diri, maka dia akan menjadi ahli waris

satu-satunya yang mewarisi seluruh harta ibu bapaknya, dan menutup ahli waris

yang lain. Sehingga dengan demikian kedudukan anak perempuan adalah

sebagai ahli waris yang sah atas harta kekayaan ibu bapaknya. Berarti dalam

KUH Perdata berkaitan dengan ahli waris, dimana kedudukan antara anak

perempuan dengan anak laki-laki tidak ada perbedaan jenis kelamin, mereka

(10)

Pewarisan yang dianut oleh KUH Perdata adalah kewarisan dengan

sistem kewarisan individual bilateral. Sistem individual bilateral adalah harta

warisan dibagi-bagi menurut bagian masing-masing ahli waris untuk dimiliki

dan diambil manfaatnya sesuai dengan kepentingan pribadi tanpa

membedakan jenis kelamin dan usia baik melalui garis keturunan bapak

maupun garis keturunan ibu.

2. Kedudukan Anak Perempuan Dan Anak Laki-Laki Dalam Pembagian Warisan Menurut Hukum Adat Tionghoa di Kota Mataram

Keturunan terutama laki-laki begitu penting didalam suatu keluarga

masyarakat Tionghoa di Kota mataram oleh karena masyarakat Tionghoa di

Kota Mataram menganut garis keturunan ayah (patrilineal). Anak laki-laki

sangat didambakan didalam suatu keluarga masyarakat Tionghoa di Kota

Mataram, ini disebabkan oleh karena anak laki-laki selain dianggap sebagai

penerus keturunan, anak laki-laki juga yang akan mewariskan dan

mempertahankan atau membawa nama marga.

Anak laki-laki juga lebih diistimewakan dalam hal warisan, ini

disebabkan orang tua menganggap anak laki-laki adalah penerus atau

pembawa nama marga dan sebaliknya menganggap anak perempuan apabila

kelak menikah, maka akan mengikuti nama marga suaminya dan anak yang

dilahirkannya tersebut juga akan membawa nama marga suaminya. Sehingga

anak perempuannya yang telah menikah tersebut akan melepaskan nama

(11)

pada anak perempuannya, karena telah menjadi bagian dari keluarga

suaminya.

Dalam hal pembagian waris ini, anak perempuan tetap diberikan

warisan dalam bentuk giwang emas, anting emas, kalung emas, tusuk konde,

dan sebagainya yang merupakan barang atau perhiasan turun temurun dari ibu

atau neneknya. Pemberian harta warisan dalam bentuk uang juga diberikan,

akan tetapi jumlahnya hanya “ala kadarnya” yang diperuntukkan sebagai

bekal mengarungi rumah tangganya saja. Akan tetapi semua harta benda

tersebut bukan dianggap sebagai harta warisan, melainkan hanya dianggap

sebagai pemberian hadiah perkawinan oleh orang tuanya dan juga sebagai

tanda kasih sayang dari orang tua kepada anaknya.

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Adanya Perbedaan Kedudukan Antara Anak Perempuan Dan Anak Laki-Laki Dalam Pembagian Waris Pada Masyarakat Tionghoa di Kota Mataram

Beberapa faktor atau hal yang menyebabkan atau melatarbelakangi anak

perempuan mempunyai kedudukan yang berbeda dengan anak laki-laki, yaitu : a)

Masyarakat Tionghoa di Kota Mataram menganut sistem kekerabatan Patrileneal

yang artinya sistem keturunan yang ditarik berdasarkan garis keturunan

bapak/ayah, yang dimana berakibat pada kedudukan pria yang lebih menonjol dari

kedudukan wanita didalam pewarisan; b) Alasan utama yang melatarbelakangi

perbedaan kedudukan ini adalah karena pada masyarakat Tionghoa di Kota

(12)

Yang dimana anak laki-lakilah yang membawa nama marga untuk di teruskan

pada keturunan atau generasi selanjutnya. Sedangkan anak perempuan jika kelak

telah menikah maka akan keluar dari marga aslinya dan mengikuti marga dari

suaminya atau dengan kata lain “lepas” dari tanggung jawab orang tua

kandungnya; c) Anak laki-laki dianggap lebih mempunyai tanggung jawab yang

lebih besar daripada anak perempuan, yang terlihat dalam berbagai acara keluarga

maupun kehidupan sehari-hari.2

Beberapa hal yang menyebabkan anak perempuan memiliki kedudukan

yang sama atau bahkan diatas dengan anak laki-laki, yaitu : a) Dalam hal di suatu

keluarga tersebut hanya memiliki anak perempuan saja, maka anak perempuan

tersebut akan mendapatkan sepenuhnya harta peninggalan atau warisan dari orang

tuanya, tanpa adanya suatu penghalang apapun; b) Dalam hal di suatu keluarga

ada terdapat beberapa saudara laki-laki dan juga seorang saudara perempuan,

dimana anak perempuan tersebut tidak menikah maka anak perempuan tersebut

juga akan mendapatkan warisan dari orang tuanya, agar kelak ketika orang tuanya

meninggal anak perempuan tersebut dapat melanjutkan hidupnya dengan atau

tanpa merepotkan saudara laki-lakinya.

C. Tata Cara Pembagian Waris Pada Masyarakat Tionghoa di Kota Mataram Pada umumnya dalam hal cara pembagian waris pada masyarakat

Tionghoa di Kota Mataram tidak berbeda jauh dengan cara pembagian waris baik

2

(13)

menurut KUH Perdata dan adat lainnya. Pembagian waris pada masyarakat

Tionghoa ini dapat dilakukan dengan cara : a) Ketika orang tua, kakek atau nenek

(pewaris) masih hidup, yang biasanya akan melalaui surat wasiat kepada para ahli

warisnya dan juga bisa melalui pesan-pesan (wejangan) yang dihadiri oleh semua

ahli warisnya (untuk hal ini biasanya dilakukan ketika acara kumpul keluarga

besar); b) Ketika orang tua, kakek atau nenek tidak sempat atau belum membuat

surat wasiat, maupun pesan-pesan (wejangan) kepada para ahli warisnya, maka

baru akan dilakukan musyawarah keluarga yakni, melakukan musyawarah antara

semua ahli waris tersebut, dengan dipimpin oleh kakak tertua (biasanya kakak

lelaki), kalau tidak memiliki saudara laki-laki maka akan dipimpin oleh salah

seorang ahli waris yang dianggap berwibawa dan bijaksana. Hal ini biasanya

dilakukan secara tertutup, hanya diketahui oleh ahli warisnya saja, para menantu

dilarang untuk ikut campur dalam hal ini.

Contoh kasus yang terjadi dalam pembagian waris pada keluarga penulis,

dimana pada saat si pewaris meninggal dunia ia memiliki delapan (8) orang anak

dimana anak tersebut terdiri dari empat (4) orang anak laki-laki dan empat (4)

orang anak perempuan. Pada saat pembagian waris dilakukan dihadiri oleh

seluruh ahli waris (para menantu tidak boleh ikut) dan dipimpin oleh anak

laki-laki tertua. Pembagian waris tersebut dilakukan dengan cara musyawarah

keluarga. Dalam keluarga penulis ini, pembagian warisnya dilakukan pada saat

sesudah selesainya acara penguburan jenazah (7 hari setelah pewaris meninggal)

(14)

Proses waktu pembagian waris pada masyarakat Tionghoa di Kota

Mataram ini biasanya bervariasi, ada yang langsung membagi setelah selesai

penguburan (biasanya menunggu 5-7 hari setelah pewaris meninggal), ada juga

yang menunggu hingga acara bakar rumah-rumahan selesai dilakukan (biasanya

40 hari, 1-2 tahun setelah pewaris meninggal).

Tetapi tidak selamanya proses pembagian waris tersebut akan berjalan

lancar dan tanpa perselisihan seperti yang telah dikemukakan diatas, ada kalanya

dalam proses pembagian warisan tersebut juga terdapat perselisihan yang terjadi

antara para ahli waris. Apabila terjadi perselisihan dalam pembagian harta

peninggalan atau waris ini maka jalanpenyelesaiannya adalah sebagai berikut : a)

Di selesaikan di antara para waris bersangkutan sendiri dengan mengadakan

pertemuan (musyawarah) keluarga dibawah pimpinan pewaris yang masih hidup

atau dipimpin anak lelaki tertua dari ahli waris tersebut, atau jika kakak laki-laki

tertua tidak ada maka akan dipimpin oleh salah seorang di antara ahli waris yang

dianggap berwibawa dan bijaksana; b) Apabila tidak ada kesepakatan di antara

para ahli waris mengenai hal yang di perselisihkan, makadalam pertemuan

berikutnya diberikan kemungkinan adanya campur tangan pihak tetua keluarga

(kakek, nenek) dan anggota keluarga (paman, bibi) yang berpengaruh sebagai

penengah guna mencari jalan keluar dari perbedaan pendapat sehingga dapat

menemukan titik temu yang disepakati bersama; c) Apabila masih tidak ada

kesepakatan di antara para ahli waris mengenai hal yang di perselisihkan tersebut,

maka para ahli waris tersebut dimungkinkan mengundang orang yang dianggap

(15)

tangan pihak lain); d) Apabila juga tidak tercapai kesepakatan dengan rukun dan

damai antara para pihak, barulah perkaranya terpaksa akan diselesaikan dengan

jalur hukum yang berlaku, dalam hal ini kasus tersebut akan di bawa ke

pengadilan terkait (mengikuti KUH Perdata).

Biasanya masalah sengketa yang terjadi mengenai pembagian warisan

pada masyarakat Tionghoa di Kota Mataram jarang terjadi. Pada dasarnya

hubungan kekeluargaan pada masyarakat Tionghoa sangat kuat, karena sejak kecil

orang Tionghoa sudah dididik untuk patuh dan berbakti pada leluhur dan orang

tua. Saudara yang lebih tua mempunyai kewajiban-kewajiban pada saudara yang

lebih muda, saudara yang lebih muda harus hormat pada kakaknya. Sehingga

jarang sekali terjadi perselisihan atau sengketa terutama mengenai warisan pada

masyarakat Tionghoa di Kota Mataram. Jika terjadi sengketa terutama mengenai

warisan pada umumnya berusaha diselesaikan sendiri secara kekeluargaan dengan

cara musyawarah yang terbatas dalam lingkup keluarga, jarang sekali sengketa

mengenai pembagian warisan dibawa ke tingkat pengadilan karena masyarakat

Tionghoa menganggap hal tersebut merupakan aib keluarga jika sampai ada

perselisihan antara sesama keluarga hanya gara-gara soal warisan, apalagi jika

sampai diketahui oleh masyarakat umum maka akan menambah malu dan

(16)

III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal

dari penelitian ini, antara lain : 1) Bahwa kedudukan anak laki-laki menurut

KUH Perdata adalah sama dengan anak perempuan sebagai ahli waris dan

mendapat bagian yang sama. Sedangkan menurut Hukum adat Tionghoa di

Kota Mataram kedudukan anak perempuan dalam kaitan pembagian waris

pada masyarakat Tionghoa di Kota mataram adalah berbeda dengan

kedudukan anak laki-laki. Dimana kedudukan anak laki-laki lebih dianggap

istimewa atau tinggi dibandingkan dengan anak perempuan; 2) Faktor-faktor

yang melatarbelakangi adanya perbedaan kedudukan dalam kaitan masalah

waris tersebut adalah karena : a) masyarakat Tionghoa di Kota Mataram

menganut sistem kekerabatan Patrileneal; b) masyarakat Tionghoa di Kota

Mataram sangat mengutamakan nama marga atau pewaris dari marga

tersebut. Yang dimana anak laki-lakilah yang membawa nama marga untuk di

teruskan pada keturunan atau generasi selanjutnya; c) Anak laki-laki dianggap

lebih mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada anak perempuan;

3) Bahwa dalam kaitan cara pembagian waris, masyarakat Tionghoa di Kota

Mataram lebih memilih menggunakan adat atau kebiasaan-kebiasaannya

sendiri. Bahwa masyarakat Tionghoa sebagai salah satu suku di Indonesia

juga mempunyai hukum atau kebiasaan-kebiasaan sendiri yang harus diakui

(17)

B. Saran-saran

1. Dalam perkembangan zaman seperti sekarang ini dan juga memenuhi

tuntutan rasa keadilan, masyarakat Tionghoa di Kota Mataram ada

baiknya memberikan atau mempertimbangkan hak waris bagi anak

perempuan atas harta warisan orang tuanya. Bagaimanapun anak

perempuan juga merupakan anak kandung, hasil buah cinta dari orang

tuanya (pewaris); 2) Istilah ahli waris ini perlu dirumuskan lagi, sehingga

tak seorang keluarga pun yang tidak termasuk ahli waris dan tidak

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Buku-buku

H.S., Salim. 2011. Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW). Jakarta: Sinar Grafika.

Hasil wawancara

Referensi

Dokumen terkait

Perjanjian kerja dibuat pada dasarnya juga menetapkan ketentuan yang sama dengan ketentuan dinas, hal itu ditegaskan dalam pasal 416 KUHDagang yang berbunyi ; “ apabila

Meningkatnya akses dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat utamanya kegiatan promotif dan preventif untuk mewujudkan pelayanan kesehatan sesuai Standar Pelayanan

Pemanfaatan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) digunakan untuk membeli pakaian sekolah (seragam sekolah) seperti seragam sekolah putih biru, dan pramuka. Dengan ada

Hal yang menarik untuk diteliti adalah bagaimana pandangan Michael Cook terhadap fenomena Common Link serta bagaimana Cook mengaplikasikan teori The Spread of Isna>d

〔最高裁民訴事例研究一〇七〕株式会社に対しその整理開始前に負

Fenomena anak jalanan dengan beragam permasalahannya tersebut, tidak bisa menghindarkan dari konflik batin yang kerap kali mereka alami, karena pada dasarnya apa

Bagaimana model terbaik terhadap data angka harapan hidup di Provinsi Jawa Tengah dengan pendekatan2. Geographically Weighted Regression (GWR)

a. Guru membimbing peserta didik untuk mempersiapkan diri secara fisik dan psikis untuk mengikuti pembelajaran dengan melakukan berdoa, menanyakan kehadiran peserta