Gramsci adalah pemikir Italia yang bertitik tolak dari Marxisme tetapi mengambil jalan yang agak berbeda dengan Karl Marx. Thesis Marx yang mendewakan struktur ekonomi sebagai basis penentu struktur apapun diatasnya seperti politik dan kebudayaan, ditolak oleh Gramsci. Dia juga menolak materialisme yang tergantung pada humanisme.Dalam banyak hal, pendapat Gramsci mirip pendapat Marx. Perbedaannya terletak pada memposisikan masyarakat sipil bukan pada basic material tetapi pada tataran suprastruktur, sebagai wadah kompetisi untuk memperebutkan hegemoni kekuasaan. Peran masyarakat sipil pada konsep yang demikian oleh Gramsci ditempatkan sebagai kekuatan pengimbang diluar kekuatan negara. Pandangan Gramsci ini lebih bernuansa ideologis ketimbang pragmatic.
Gramsci lahir di Sardinia, Italia, pada tanggal 22 januari 1891 sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara yang sejak lahir berpunggung bungkuk yang membuatnya rapuh menghadapi kemiskinan dan penderitaan. Ia tumbuh dengan tekanan psikologis, introvert dan paranoid pada penyangga tubuhnya. Keluarganya tergolong kelas bawah, meskipun tidak miskin. Ayahnya pada tahun 1897 dihukum atas tuduhan kecurangan ‘administratif’. Ketika bebas ia tak punya kerja lagi sehingga keluarga itu hidup dalam kemiskinan. Tahun 1903 Gramsci harus meninggalkan sekolah dan bekerja membantu ekonomi keluarganya. Dengan segala susah payah, Gramsci bisa melanjutkan pendidikannya kemudian, bahkan sampai masuk kuliah dan berkenalan dengan bacaan dan aktivitas politik kelompok sosialisme. Ketika situasi Cagliari - kota tempat ia sekolah - memburuk, Gramsci mulai menyadari sejarah masyarakatnya. Ia mulai rajin membaca buku yang berhubungan sosialis dan buku sejarah untuk mendapat perspektif situasi saat itu.
Konflik ‘Utara’ dan ‘Selatan’ – yang melahirkan “Selatanisme” dari kemelut kebijakan ekonomi di Turin seusai ia kuliah - menjadi semangat Gramsci dalam ekspresi politiknya. Di tahun 1913 pertama kalinya ia berhubungan dengan gerakan sosialis di Turin. Setelahnya, ia juga aktif di jurnalistik (di mingguan Partai Sosialis “Jerit Tangis Rakyat” dan Avanti), sebagai editor, kolumnis dan analis. Di tahun 1917 setelah pemberontakan tiba-tiba di Turin oleh para pekerja dan ditahannya sebagian besar pemimpin sosialis, Gramsci terpilih sebagai Komite Sementara Partai Sosialis. Gerakan perlawanan ini berlanjut, dikenal dengan gerakan Dewan Pabrik di Turin. Ini membawa Gramsci untuk mempertimbangkan kembali pandangannya terhadap Lenin dan Revolusi Rusia.
Pada bulan Mei 1919 mendirikan jurnal L’Ordine Nuovo , di mana ide-ide politik Gramsci diluncurkan dan berperan penting dalam persiapan revolusi. Januari 1921 Partai Sosialis pecah, dan kemudian berdiri Partai Komunis Italia. Gramsci terpilih sebagai pengurus pusat. Di situ ia berseberangan dengan sekretaris umumnya, Bordiga, seputar konsep tentang Fasisme yang bagi Gramsci bukan cuma sangat berbahaya, namun juga cenderung untuk berkuasa. Fasisme adalah gerakan politik yang didirikan mantan pemimpin Sosialis Benito Mussolini (Mussolini pada oktober 1922 ditunjuk sebagai perdana menteri, dan Fasismepun ikut menenggak kekuasaan).
Fasis Italia ini pada tahun 1926 memberangus semua publikasi kekuatan politik kiri, dan Gramsci-pun, yang saat itu baru dua tahun menjabat sekretaris jendral PCI (Partai Komunis Italia), ditangkap dan dipenjara, tepatnya 8 November 1926. Meskipun ia diisolasi dari kegitan luar, namun temannya di Inggris mengirim buku-buku kepadanya .
Gramsci meninggal pada 27 April 1937 setelah lama menderita sakit (terakhir mengalami pendarahan otak). Sepuluh tahun kemudian kumpulan surat-surat Gramsci dari penjara diterbitkan dan berlanjut dengan terbitnya karya-karya monumental Gramsci.
PEMIKIRAN GRAMSCI
Dari latar belakang kehidupan Gramsci di atas, bisa dilacak dasar epistemologi pemikirannya dari sisi lain. Dunia – situasi sosial politik dan konsepsi dari pemikir
pendahulunya - dipahami dalam kerangka “cara berada” Gramsci. Maksudnya, kondisi umum kehidupannya yang berangkat dari strata kelas menengah ke bawah yang didukung riwayat pendidikan dan aktivitas politiknya, membentuk konstruksi epistemologis yang kental dengan paduan kecerdasan teoritik dan kecerdasan keterlibatan dalam membaca realitas dan
merekonstruksi paham tentang itu.
Kebesaran namanya tidak didapat dari melulu tafsir akademis atau sebaliknya, tragedi kehidupan dan politiknya, namun hubungan yang penuh dari keduanya. Alhasil, sosialisme yang diperjuangkannya berbasiskan pada kesadaran kritis, di mana pada titik akhirnya selalu terbaca tawaran-tawaran solutifnya, baik dalam membangun kerangka kerja revolusi
sosialisme di Italia pada khususnya, maupun interpretasi rekonstruksional atas tradisi Marxisme. Sekalipun pada 20 tahun 4 bulan 15 hari sisa hidupnya di penjara dia terpisah secara fisik dengan realitas politik di luar, namun justru di masa itu pulalah terbangun kreativitas dan eksplorasi wacana yang jernih dan monumental.
Gramsci yang berpijak pada tradisi Marxis, dijatuhi hukuman penjara oleh rezim fasis Mussolini. Di dalam penjaralah ia mencatat dan mengahsilkan tulisan-tilsan yang kemudian dibukukan Selection from the Prison Notebooks. Banyak hal yang ditulis oleh Gramsci ketika ia di penjara, salah satunya adalah analisanya mengenai kelemahan dari masyarakat Italia dan kenapa sampai muncul fasisme. Gramsci memerankan peran kunci dalam transisi determinisme ekonomi menuju Marxian yang lebih modern. Gramsci bersikap kritis terhadap Marxis yang “determinis, fatalistis, dan mekanistis”. Jika Marx meyakini bahwa ideologi dan kesadaran palsu dari para buruh diakibatkan, dikreasikan dan dijaga oleh mereka yang mengontrol dan menguasai material dalam hal ini ekonomi atau determinisme ekonomi. Marx berargumentasi bahwa siapa saja yang menguasai “means of productions & modes of production” maka merekalah yang mengontrol negara dan pada akhirnya mengerakannya dalam suatu ideologi. Kemudian kaum proletariat atau kaum yang tidak memiliki modal akan diam sampai pertentangan-pertentangan dalam masyarakat kapitalis semakin nampak, sehingga pada akhirnya mereka melakukan dan menuntut revolusi kepada para opresornya. Gramsci juga mengkritik para Marxis yang berusaha untuk menerapkan analisa Marx dan Engels sebagai kepastian ilmiah untuk menjelaskan hukum masyarakat. Gramsci kemudian mengkritik buku karangan Nikolai Bukharin seorang anggota Politbiro Uni Soviet yang berjudul Historical Materialism: A System of Sociology. Buku yang dimaksudkan sebagai buku teks tentang Marxisme Leninisme untuk partai komunis yang lebih tinggi. Selain menjelaskan ajaran Marxisme-Leninisme sebagai pandangan dunia proletariat, Bukharin juga banyak memakai faham sosiologi kontemporer untuk menunjukan bahwa materilisme historis merupakan sosiologi tentang proletariat dengan kepastian ilmiah.
Oleh karena itu kita dapat memahami mengapa Marxisme menurut Gramsci harus bertolak dari apa yang hidup dari hati dan pemikiran masyarakat. pemikiran tersebut yang akan mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka untuk mengubah struktur-struktur lama masyarakat ke arah sosialisme. Kesadaran merupakan faktor kunci bukan hanya sekunder.
Ketika membaca karya Gramsci maka kita akan memfokuskan diri pada konsep hegemoni. Gramsci memiliki fokus untuk mengkombinasikan analisis dari ekonomi Marxis dan penekanannya pada proses politik dan kultur. Gramsci membangun konsep yang dapat menjelaskan kenapa beberapa kelompok mampu memiliki kekuasaan dan bagaimana
dan kepemimpinan budaya. Berbeda pendapat dengan dengan determinisme ekonomi, Gramsci berpendapat bahwa hegemoni tidak otomatis berasal dari mereka yang memiliki dominasi ekonomi dari kelas yang berkuasa, tetapi adalah sesuatu yang harus dibangun dan diperjuangkan. Gagasan politik Gramsci bisa dicari akar historisnya dalam perdebatan panjang tentang kekuasaaan negara sejak zaman Yunani Kuno, dan meruncing pada
konstruksi Karl Marx tentang masyarakat dan sejarah dengan materialisme historisnya. Tentu saja, keberadaan Gramsci sebagai politisi juga mempengaruhi teori-teorinya dalam
interaksinya dengan realitas sosial.
Bagi Gramsci, semua orang punya potensi intelektual. Ada dua macam intelektual: intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional berkutat pada persoalan yang bersifat otonom dan digerakkan oleh proses produksi. Intelektual oraganik memiliki kemampuan sebagai organisator politik yang
menyadari identitas dari yang diwakili dan mewakili.20 Intelektual tradisional melakukan aktivitas intelektual kurang lebih karena faktor ekonomi. Sementara intelektual organik mempunyai kemampuan sebagai organisator, meskipun pada saat yang sama bisa jadi seorang borjuis. Setiap anggota partai harus dianggap sebagai seorang intelektual, meskipun tingkat kependidikannya bukanlah syarat pokok. Yang penting adalah fungsi kepemimpinan dalam organisasi, yaitu fungsi pendidikan dan intelektual.
Gramsci berpendapat, bahwa jika kelas pekerja ingin beranjak dari kelas rendah untuk mengambil alih kepantingan bangsa, dan membangun kesadaran politik melalui reformasi moral dan intelektual yang menyeluruh, mereka harus menciptakan kelas intelektual organiknya sendiri. Namun proses penciptaan intelektual ini
berlangsung lama, sulit, penuh dengan pertentangan, di mana kesetiaan masyarakat benar-benar diuji.
Titik tekan deskripsi Gramsci tentang intelektual organik itu tak terdapat pada kefasihan bicara, penampilan dan semacamnya, tetapi dalam partisipasi aktif dalam kehidupan praktis, sebagai pembangun, organisator, penasihat tetap, namun juga unggul dalam semangat matematis yang abstrak.
mencapainya maka harus dilakukan hegemoni. Inilah kiranya cerminan konsepsi epistemologis Gramsci yang berorientasi pada tujuan penyadaran, yang menggunakan pendidikan sebagai sarana utamanya.
Namun demikian, logika Gramsci untuk mewujudkan masyarakat sosialis dengan merubah tatanan masyarakat kapitalis, dengan melakukan hegemoni, justru akan menjadi jebakan. Doktrinasi seperti apa, yang bisa dilakukan untuk mewujudkan tatanan masyarakat dari berbagai kelompok kepentingan yang menyetujui serta memberi dukungan tanpa syarat. Apalagi proses pembentukan kesadaran tersebut adalah untuk membebaskan dari penindasan melalui pendidikan partisipatoris. Radikalisme yang terbentuk bisa terkristal menjadi ideologi ketika tak ada jalan lain dalam melakukan perubahan seperti yang dicita-citakan.
Secara konseptual, Gramsci merasa terpanggil untuk terlibat dalam mengkritisi dan menawarkan solusi-solusi dari kebuntuan realitas praktis materialisme historis Marx yang deterministik-mekanistik dalam merumuskan hukum perkembangan masyarakat. Sangat sulit untuk langsung menyimpulkan penafsiran Gramsci melalui karya-karyanya dalam Notebooks yang terpisah-pisah. Gramsci merekonstruksi pemikiran Marx dan penerus-penerusnya terutama dalam dua titik utama: paham ekonomisme dan paham kenegaraan.
Marxisme klasik yang dikembangkan Marx dan Eangels, tidak berhasil merumuskan sebuah teori politik yang mamadai. Dalam prakteknya, pendekatan terhadap politik di mana institusi-institusi politik cenderung dilihat sebagai cerminan dari struktur ekonomi, jauh lebih berpengaruh dari pada pendekatan kedua, di mana ekonomi tidak menjadi panglima penentu dalam independensi negara. Inilah cacat utama Marxisme klasik, yang menghalangi
pemahaman memadai akan watak dominasi kapitalis.
perkembangan masyarakat yang mengikuti hukum materialisme dialektis sebagai dasar ontologisnya.4 Pendekatan ekonomisme ini tercermin dalam penggunaan yang luas metafor ‘struktur dasar dan struktur atas’. Perkembangan yang berarti signifikan dipahami sebagai perkembangan yang berlangsung dalam struktur dasar ekonomi tersebut, sementara perjuangan politik hanya dianggap sebagai bagian dari struktur atas yang dibangun di atas struktur dasar. Basis struktur pada formasi sosial menentukan sekali bangunan atasnya. Dengan kata lain, bangunan atas adalah cermin dari keadaan struktur bawah.
Karya Gramsci yang paling terkenal adalah tulisan-tulisannya semasa ia dipenjara oleh rezim fasis Mussolini. Seperti yang telah disampaikan di atas Gramsci adalah ketua partai komunis Italia sebelum ia dipenjarakan. Ia mengamati kekhasan situasi yang ada di Italia ketika itu. Gramsci menyatakan bahwa sekonomi bukanlah faktor utama dari perjalanan sejarah manusia, akan tetapi hubungan seseorang di dalam masyarakat, posisi seseorang dalam masyarakat, bagaimana seseorang kemudian mencari kesepakatan diantara sesamanya, dan kemudian membangun masyarakat berdasarkan kesepatakan tersebut. Gramsci menolak bahwa ekonomi adalah satu-satunya faktor yang memainkan peran yang signifikan dalam masyarakat. Ia meyatakan harus dicapai keseimbangan antara kondisi ekonomi dan pembangunan kekuatan ekonomi, kebudayaan dan ide.
melakukan aksi yang mengarah kepada revolusi sosial. Gramsci memokuskan pada gagasan kolektif dibanding pada struktur sosial seperti ekonomi yang menjadi basis dari kaum Marxian. Gramsci menghubungkan konstruksi hegemoni dengan perjuangan ideologi untuk memenangkan hati masyarakat. Peran krusial untuk memantapkan ideologi tersebut ada di intelektual. Para intelektual tersebut harus mengakar di masyarakat.
Gramsci adalah seorang Hegelian. Konsep besar Gramsci yang mencerminkan Hegelianismenya adalah konsep hegemoni. Ia percaya bahwa mereka yang ada di kelas kontrol itu hegemonik, yang bukan hanya mengontrol harta benda dan kekuasaan, tetapi juga ideologi masyarakat. Gramsci mendefinisikan Hegemoni sebagai kepemimpinan budaya yang dijalankan oleh pihak yang berkuasa. Hegemoni berbeda dengan koersi yang dijalankan oleh pemilik kekuasaan baik eksekutif maupun legislatif.
Selain itu yang membedakan Gramsci dengan pemikiran Marxian awal adalah jika Marxian awal memokuskan pada determisme ekonomi dan aspek koersif dari dominasi negara, maka Gramsci memokuskan pada hegemoni kepemimpinan budaya. Konsep hegemoni membantu kita untuk memahami dominasi yang terjadi di masyarakat kapitalis. Dalam analisis kapitalismenya, Gramsci ingin mengetahui peranan para intelektual yang bekerja atas nama kapitalisme memperoleh kepemimpinan budaya serta sikap patuh dari massa. Hegemoni dominan dari nilai dan norma kaum borjuis yang menguasai kelas subordinat. Kemudian Gramsci melihat peranan kunci intelektual komunitas dan partai komunis untuk mampu meraih kepemimpinan budaya terhadap seluruh masyarakat. Dominasi dari kelompok sosial yang berkuasa tidak hanya diakibatkan oleh kondisi ekonomi mereka yang mendominasi, tetapi juga harus dikonstruksi dari kepemimpinan moral dan kepemimpinan budaya.
sipil. Misalnya dengan memciptakan suatu konsensus kultural dan politik melalui serikat pekerja, partai politik, sekolah media, tempat ibadah dan berbagai organisasi sukarela.
Salah satu konsep pendidikan yang menarik dari Gramsci adalah pemikirannya mengenai pendidikan. Gramsci menyatakan agar kelas pekerja dapat melakukan counter hegemonydan mendapatkan kepemimpinan hegemoninya, maka mereka harus mendapatkan pendidikan agar kelak dapat menciptakan para cendikiawan yang mampu menciptkan ideologi baru yang mampu membawa perbaikan kehidupan kelas pekerja. Counter hegemony harus dilakukan oleh kaum intelektual organik yang muncul dari kelas pekerja yang kemudian membuat perubahan politik melalui partai yang revolusioner. Para intelektual organik ini kemudian mematahkan dominasi dari kaum borjuis dan menciptakan konsep baru mengenai masyarakat berdasarkan konsepsi kaum proletar bukan kaum borjuis. Kaum intelektual organik ini muncul dari kalangan kelas pekerja itu sendiri. seperti yang dinyatakan Gramsci bahwa setiap kelas sosial melahirkan lapisan kaum intelektualnya sendiri. Menurutnya kaum intelektual organik berbeda dengan kaum intelektual tradisional yang cenderung mengisolasikan diri dalam masyarakat dan membentuk sebuah lapisan tersendiri yang mengambang di atas masyarakat. kaum intelektual organik tidak terpisah dari masyarakat, mereka menyadari posisinya secara organic terhubung dengan masyarakat. Kaum intelektual organic mengungkapkan kecenderungan-kecenderungan objektif dalam masyarakat dan berpihak kepada kaum pekerja. Mereka ikut merasakan apa yang dirasakan oleh para pekerja dan memiliki emosi dan semangat yang sama dengan apa yang dirasakan oleh para pekerja, mengungkapkan apa yang dialamu mereka.
Seperti Lenin, Gramsci menyatakan bahwa revolusi sosialis dan keberhasilannya tidaklah terjadi secara otomatis. Revolusi akan terjadi jika benar kaum pekerja memiliki keinginan yang kuat untuk melaksanakannya. Hal ini terjadi jika kaum pekerja mendapatkan agitasi politik dan pendidikan yang baik, yang tentu saja dilakukan oleh para intelektual organik. Oleh karena itu kaum pekerja membutuhkan partai yang revolusioner, partai modern yang harus mendidik dan melatih kaum pekerja untuk membebaskan diri dari kaum borjuis.
menguasai teori revolusioner dan seakan-akan berasal dari luar kalangan kaum pekerja yang memberikan penyadaran kepada kaum pekerja, dan kaum pekerja akan mengikuti partai tersebut. Gramsci berpendapat bahwa partai politik tidak berada di atas kaum pekerja tetapi berada di dalam kaum pekerja tersebut dan mengangkat dan membuat sadar tujuan dan misi kelas buruh itu sendiri. Partai diperlukan untuk pendidikan buruh dan untuk mengorganisasikan perjuangan mereka.
Kemudian Gramsci menyatakan bahwa tugas awal dari partai revolusioner adalah merebut hegemoni sipil. Sehingga kemudian muncul istilah “perang posisi” dan “revolusi pasif”. Melalui perang posisi dan revolusi pasiflah partai mengusahakan perubahan kesadaran masyarakat dan membuat kelas-kelas sosial lain mau menerima nilai-nilai moral dan cultural kaum pekerja. Apabila kaum pekerja sudah memapankan kepemimpinan intelektual dan moralnya maka sesungguhnya mereka sudah memiliki hegemoni dan memiliki kuasa. Hal ini karena kaum buruh sudah didukung oleh kelas-kelas sosial lainnya. Gramsci mengemukakan bahwa tidak perlu mengandalkan kekerasan fisik dan unsur paksaan untuk merebut kekuasaan seperti yang dilakukan oleh kaum komunis di Rusia. Hegemoni yang disampaikan oleh Gramsci bukan sekedar memastikan bahwa kaum pekerja lebih berkuasa dibandingkan kelas lain yang menjadi sekutunya, melainkan suatu kekuasaan berdasarkan suatu konsensus sungguh-sungguh. Perebutan kekuasaan tidak berarti dengan melakukan penindasan para musuh yang kontra revolusi, melainkan perebutan hati dan pikiran masyarakat oleh pandangan dunia, nilai-nilai dan keyakinan kaum buruh
STUDI KASUS
Perusahaan McDonald’s merupakan suatu bisnis restoran fast food yang sangat sukses. Diciptakan pertama kali oleh Ray Kroc, dan dikembangkan pertama kali di Amerika. Konsep pengembangannya sangat luar biasa, dilihat dari keberadaan McDonald’s yang tidak hanya dijual di wilayah Amerika saja, namun mencakup ke seluruh dunia dan sangat dikenal oleh masyarakat.
dikenal dengan istilah McDonaldisasi.
Dijelaskan 4 prinsip McDonald’s dalam McDonaldisasi, diantaranya: Pertama, system McDonald’s menawarkan kepada kita sebuah metode yang optimal untuk mendapatkan satu hal ke hal yang lain (efisiensi). Secara umum, McDonald’s menawarkan cara-cara terbaik untuk mengubah rasa lapar menjadi kenyang. Kedua, calculability, McDonald’s menawarkan kepada kita makanan dan layanan yang terkuantifikasi dan terkalkulasi. Ketiga, kemampuan memprediksi, yakni kapan produk dan pelayanan akan selalu siap disajikan setiap saat. Keempat, kontrol, Mcdonald’s mengutamakan konsistensi pekerja dalam menjalankan tugasnya.
Profesionalisme McDonald’s memang tidak dapat diragukan lagi. Dipandang dari Gramsci, McDonald’s merupakan suatu bisnis yang siap bersaing dan memenangkan posisinya. Banyak bisnis fast food yang lain yang memiliki metode yang sama dengan McDonlad’s seperti Wendys (dalam hamburger), namun ideology McDonald’s berhasil menunjukkan kekuasaannya sebagai restoran fast food yang menjadi pilihan utama masyarakat di dunia. Masyarakat baik yang sadar maupun tak sadar telah terhegemoni. Dalam hal ini, posisi McDonald’s memang telah memenangkan persaingan, akan tetapi apa yang menjadi fokus utama kerja mereka adalah mempertahankan kepercayaan masyarakat dan menempatkan profesionalisme diatas ekonomi. Namun satu hal yang pasti, keberadaan McDonald’s telah memasuki jalur kultural dan dirasakan menjadi bagian dari ekonomi negara.
Kapitalisme dan globalisasi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia sekarang ini. Banyak sekali contoh yang dapat kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari yang berkaitan dengan kapitalisme dan globalisasi. Dalam konteks kali ini, kita akan mengambil contoh kasus yang berkaitan dengan McDonald’s.
McDonald’s dengan kekuasaan kapitalisme yang mereka miliki, telah mengendalikan media massa di berbagai negara yang telah dijangkau dan dirambah oleh McDonald’s. Sebagai bukti, seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa McDonald’s sering
sangatlah bertolak belakang dengan etika dan moral media massa yang seharusnya mengulas fakta dengan tuntas, yang sekiranya dapat membantu menyadarkan masyarakat akan aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang mereka miliki.
Selain itu, media massa seolah-olah telah menutup mata dengan kenyataan bahwa penyebaran McDonald’s di berbagai negara khususnya negara-negara berkembang ( atau yang seringkali dikatakan sebagai negara dunia ketiga oleh negara-negara maju ) merupakan manivestasi dari bentuk penjajahan atas ekonomi dan budaya dari negara-negara maju khususnya Amerika Serikat, terhadap negara-negara lain khususnya negara-negara berkembang.
Sejalan dengan contoh nyata yang telah disampaikan diatas, selama ini, kita hanya dapat melihat pemberitaan tentang McDonald di berbagai media massa yang hanya mengulas segi positif dari McDonald saja, seperti pembukaan cabang baru McDonald’s, produk baru dari McDonald, even-even yang diadakan oleh McDonald’s, sampai dengan kegiatan amal yang dilakukan oleh McDonald’s. Tentunya pemberitaan semacam ini, akan semakin
memberikan keuntungan bagi McDonald’s, dikarenakan image dan nama baik yang dimiliki oleh McDonald telah menyatu dengan pemahaman dalam benak masyarakat karena
pemberitaan media massa.
Melihat kenyataan diatas, dapat kita pahami bahwa McDonald’s telah mengendalikan media massa. Hal ini sejalan dengan pedoman yang selalu dipegang oleh kaum kapitalis yang selalu berusaha menguasai dan mengendalikan media massa demi kepentingan dan
keuntungan mereka.
Daftar Pustaka
Gramsci, "Selection from the Prison Notebooks
Magnis Suseno, Frans. 2003. Dalam Bayangan Lenin, Enam Pemikir Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.