EKONOMI KREATIF GLOBAL:
DOMINASI, HEGEMONI, DAN IMPERIALISME BUDAYA
Abstraksi
Oleh: Mashita Phitaloka Fandia P.
Perkembangan dan kemajuan teknologi di dunia telah memungkinkan terjadinya globalisasi, yang kemudian menjadi pintu gerbang bagi terbukanya peluang negara-negara di dunia untuk saling berhubungan. Melalui globalisasi, dunia menjadi semakin saling terhubung sebagai hasil dari peningkatan perdagangan serta pertukaran barang dan jasa besar-besaran. Globalisasi produksi dan distribusi menyebabkan perkembangan yang memungkinkan orang-orang untuk mendapatkan barang dan jasa yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Sebagai contoh, film-film Hollywood dapat diakses secara bebas di Indonesia, franchise makanan cepat saji seperti McDonald dan KFC bertebaran di berbagai penjuru nusantara, dan sebagainya. Di sisi lain, terdapat kekhawatiran bahwa perubahan ini menjadikan globalisasi sebagai ancaman bagi produk-produk lokal serta masyarakat yang memproduksinya. Globalisasi tidak hanya sekadar meningkatkan konsumen atas produk asing yang masuk ke Indonesia dan mengguncang stabilitas produsen lokal, melainkan juga mengakibatkan adanya perdagangan internasional atas produk budaya, seperti film, musik, dan publikasi. Meskipun belum ada konsensus atas konsekuensi globalisasi pada budaya nasional, banyak pihak yang menilai bahwa eksposur budaya asing terhadap masyarakat lokal dapat berpengaruh terhadap identitas budaya asli mereka.
masyarakat tertentu, yang kemudian membawa perubahan pada budaya, nilai, dan tradisi lokal masyarakat lainnya. Sebagai salah satu sektor potensial industri ekonomi kreatif, industri media yang memiliki andil besar dalam globalisasi patut mendapatkan sorotan, terutama dengan nilai-nilai sosial yang turut dibawanya. Indonesia sebagai negara berkembang yang menerima terpaan ekposur produk budaya asing dari luar negeri, patut waspada akan implikasi yang dihasilkan dari adanya globalisasi dalam bidang ekonomi kreatif. Implikasi yang dapat terlihat saat ini yakni adanya dominasi, hegemoni, dan imperialisme budaya asing pada masyarakat lokal melalui media sebagai produk budaya.
Kemunculan dan perkembangan budaya pop (pop culture) merupakan salah satu efek globalisasi terhadap budaya yang mendapat banyak sorotan dan merambah masyarakat hingga ke level individu. Budaya pop termanifestasi di seluruh dunia melalui film, musik, televisi, majalah, dan produk media lainnya. Kritik pada globalisasi kemudian sampai pada tahap di mana budaya yang paling mendominasi dipandang menjadi semakin kuat dan menyebar, sehingga terjadi penyeragaman budaya yang dapat meleburkan, bahkan menghilangkan, budaya lokal. Di sisi lain, beberapa pihak juga menilai bahwa globalisasi membawa potensi pada pengayaan budaya dunia. Tidak sekadar melihat efek negatif terhadap budaya lokal, globalisasi dipandang sebagai pembuka kesempatan bagi toleransi dan keberagaman budaya di seluruh dunia. Pandangan ini kemudian menghadirkan istilah desa global (global village), di mana ide dan praktik budaya dapat ditukar secara bebas dan saling dihargai oleh masyarakat dunia.
terhadap optimalisasi produk lokal yang ada, glokalisasi merupakan jalan tengah di antara keduanya. Di Indonesia, praktik glokalisasi salah satunya terlihat pada munculnya majalah-majalah produk lokal yang dikemas menyerupai majalah asing untuk memperoleh pasar pembaca yang ditargetkannya. Glokalisasi merupakan terobosan baru yang dapat ditempuh oleh industri ekonomi kreatif, terutama industri media, dalam menghasilkan produk budaya lokal sebagai tandingan dari produk budaya asing yang masuk ke dalam negeri.