• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEMBERIAN POC OLAHAN LIMBAH TAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH PEMBERIAN POC OLAHAN LIMBAH TAH"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBERIAN POC OLAHAN LIMBAH

TAHU,DAN PUPUK KOMBINASI (LIMBAH BELOTONG DAN

LIMBAH BAGLOG) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN

PRODUKSI TANAMAN KACANG TANAH (Arachis Hipogeae L)

DENGAN DOSIS 20 ml/l

LAPORAN PRAKTIKUM

BUDIDAYA TANAMAN PANGAN & PALAWIJA

DISUSUN OLEH :

ERWIN RAHMAT SYALOM ZEGA

148210112

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MEDAN AREA

MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas kasih dan karunia yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum yang berjudul “PENGARUH PEMBERIAN POC OLAHAN LIMBAH TAHU, DAN PUPUK KOMBINASI (LIMBAH BELOTONG DAN LIMBAH BAGLOG) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KACANG TANAH (Arachis Hipogeae L) DENGAN DOSIS 20 ml/l.

Adapun usulan Laporan Praktikum ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi tugas akhir dari praktikum Mata kuliah Budidaya Tanaman Pangan & Palawija pada Fakultas Pertanian Universitas Medan Area.Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar – besarnya kepada :

1. Dosen Mata kuliah Budidaya Tanaman Pangan & Palawija Ir. ELLEN L. PANGGABEAN M.P dan Abangda MUHAMMAD USMAN S.Si selaku pengawas praktikum yang telah banyak memberikan bimbingan Mata kuliah Budidaya Tanaman Pangan & Palawija arahan, saran, serta bantuan kepada penulis agar dapat menguasai dan menyelesaikan Laporan Praktikum sebagai Tugas Akhir Praktikum Mata kuliah Budidaya Tanaman Pangan & Palawija. Kedua orang tua tercinta yang telah memberikan dorongan motivasi dengan penuh, baik moril maupun materil kepada penulis.

2. Seluruh rekan – rekan sesama mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Medan Area, dan khususnya rekan – rekan satu kelompok Praktikum yang telah membantu dan saling bekerja sama dalam menyelesaikan Laporan Praktikum sebagai Tugas Akhir Praktikum Mata kuliah Budidaya Tanaman Pangan & Palawija.

Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan Laporan Praktikum Budidaya Tanaman Pangan & Palawija ini. Akhir kata penulis berharap agar Laporan Praktikum Budidaya Tanaman Pangan & Palawija ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 23 Februari 2017

(3)

DAFTAR ISI

BAB II. Tinjauan Pustaka ...5

2.1. Tanaman Kacang Tanah ...5

2.2. Kebutuhan Hara Pada Tanaman Kacang Tanah...6

2.3. Teknik Budidaya Tanaman Kacang Tanah... 9

2.4. Hama dan Penyakit...10

2.5. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Kacang Tanah ...12

2.6. Pupuk Organik Cair Limbah Tahu ...13

2.7. Limbah Blotong...14

2.8. Baglog Jamur ...15

BAB III. Bahan dan Metode Percobaan ... 17

3.1. Waktu dan Tempat Percobaan ...17

3.2. Bahan dan Alat ...17

3.3. Metode Percobaan ...17

3.4. Parameter Pengamatan ...17

3.5. Pelaksanaan Percobaan ...19

BAB IV. Hasil dan Pembahasan ... 21

4.1. Umur Berkecambah ... 21

BAB V. Kesimpulan dan Saran ... 31

5.1. Kesimpulan ... 31

5.2. Saran ... 31

(4)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 4.1 Pengamatan Umur Berkecambah (HST) Tanaman Kacang

Tanah...22

Tabel 4.2 Pengamatan Tinggi Tanaman Kacang Tanah.Pada...23

Tabel 4.3 Pengamatan Jumlah Cabang Tanaman Kacang tanah...25

Tabel 4.4 Pengamatan Luas Daun Tanaman Kacang Tanah...26

Tabel 4.5 Bobot Polong / Tanaman ...28

(5)

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tanaman kacang tanah biasanya di tanam di sawah atau di tegalan secara monokultur atau polikultur. Biji kacang tanah mengandung zat-zat yang berguna dan berisikan senyawa-senyawa tertentu yang sangat di butuhkan organ tubuh manusia untuk kelangsungan hidup terutama kandungan protein, karbohidrat dan lemak. Kandungan masing-masing unsur tersebut sangat tinggi seperti kandungan protein sekitar 25-30 %, karbohidrat 12 % dan minyak 40-50 % (Marzuki, 2007).

Berdasarkan luas pertanaman, kacang tanah menempati urutan keempat setelah padi, jagung dan kedelai. Dewasa ini pertanaman kacang tanah sudah tersebar hampir diseluruh pelosok dunia dengan total luas panen sekitar 21 juta ha dan produktivitasnya rata-rata 1,10 ton/ha polong kerig. Dikawasan asia, Indonesia menempati urutan ke-3 terbesar menurut luas arealnya (650.000 ha) setelah India (9,0 juta ha) dan cina (2,2 juta ha). Selain itu, Indonesia pun dikenal sebagai negara ketujuh terbesar penghasil kacang tanah didunia setelah India, Cina, Nigeria, Sinegal, USA dan Brazil (Adisarwanto,2000).

Produksi nasional kacang tanah di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 713 ton (58,50 persen), Pada tahun 2014 sebesar 223 ton biji kering atau turun sebesar 490 ton (37,54 persen) dibandingkan dengan tahun 2013. lalu mengalami penurunan kembali hingga tahun 2015 menjadi 211 ton (5,8 persen). (http://tanamanpangan.deptan.go.id., 2015).

Di Indonesia untuk memproduksi tanaman kacang tanah ini memiliki kendala yang sangat besar berupa pengolahan dan pemeliharaan tanah yang belum optimal, serangan hama dan penyakit, penanaman varietas berproduksi rendah, penggunaan benih yang rendah, dan kekeringan. Kendala tersebut dapat diatasi dengan melakukan berbagai usaha seperti : perbaikan cara bertanam, penggunaan varietas unggul, pengaturan populasi tanaman, pemakaian pupuk dan penggunaan zat pengatur tumbuh dengan jenis dosis tepat dan pengendalian hama penyakit (Sumarno, 2003).

(6)

lokal, varietas unggul lama, galur-galur homozigot hasil persilangan dan varietas atau galur introduksi dari luar negri (Adisarwanto,2000).

Varietas kacang tanah yang pertama masuk ke indonesia ialah varietas tipe menjalar, umur kacang tanah ini antara 8-10 bulan sehingga tidak memungkinkan untuk ditanam sebagai tanaman palawija. Keadaan ini berubah setelah Holle dalam tahun 1863 mendatangkan kacang tanah dari inggris yang merupakan varietas tipe tegak. Setelah itu akhirnya terjadilah perkawinan (hibridisasi) antara kedua macam kacang tanah itu dengan kacang tanah yang telah ditanam oleh penduduk dahulu dan ternyata biji hasil perkawinan ini yang kemudian disebut kacang Holle, merupakan kacang tanah yang paling banyak ditanam di Indonesia sampai sekarang ini (Suprapto,1990).

Kacang tanah merupakan tanaman pangan berupa semak yang berasal dari Amerika Selatan, tepatnya berasal dari Brazilia. Penanaman pertama kali dilakukan oleh orang Indian (suku asli bangsa Amerika). Di Benua Amerika penanaman berkembang yang dilakukan oleh pendatang dari Eropa. Kacang Tanah ini pertama kali masuk ke Indonesia pada awal abad ke-17, dibawa oleh pedagang Cina dan Portugis. Nama lain dari kacang tanah adalah kacang una, suuk, kacang jebrol, kacangbandung, kacang tuban, kacang kole, kacang banggala. Bahasa Inggrisnya kacang tanah adalah “peanut” atau “groundnut”(Sumarno, 2003).

Limbah cair yang dihasilkan oleh industri pembuatan tahu adalah cairan kental yang terpisah dari gumpalan tahu yang disebut air dadih. Cairan ini mengandung kadar protein yang tinggi dan dapat segera terurai. Limbah cair ini sering dibuang secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga menghasilkan bau busuk dan mencemari sungai. Sumber limbah cair lainnya berasal dari pencucian kedelai, pencucian peralatan proses, pencucian lantai dan pemasakan serta larutan bekas rendaman kedelai.

(7)

penyerapan tanaman terhadap limbah lebih cepat jika dibandingkan dengan penyerapan tanah terhadap pupuk. Karena limbah tahu dalam bentuk cair lebih ceepat diserap oleh tanaman. Dalam limbah tahu terdapat senyawa N dalam bentuk N-organik, N-nitrit, N-amonium. Senyawa nitrat inilah yang dapat diserap langsung oleh tanaman untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Kemudian untuk amonium dan nitrit oleh bakteri melalui proses nitrifikasi akan diubah menjadi bentuk senyawa nitrat (Widyaningsih, 2007).

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh POC olahan limbah tahu pada pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah ?

2. Bagaimana pengaruh POC olahan limbah tahu dan pupuk kombinasi (Limbah belotong dan limbah baglog) terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah ?

1.3. Tujuan Percobaan

1. Untuk mengetahui pengaruh POC olahan limbah tahu dan pupuk kombinasi (Limbah belotong dan limbah baglog) terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah.

2. Untuk mengetahui pengaruh dosis 20 ml/l air POC olahan limbah tahu dan pupuk kombinasi (Limbah belotong dan limbah baglog) terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah.

1.4. Hipotesis

(8)

H1 : POC olahan limbah tahu dan pupuk kombinasi (Limbah belotong dan limbah baglog) dapat menggantikan peran dari pupuk kimia dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah.

1.5. Manfaat

Dari percobaan yang dilakukan kita dapat mendapatkan manfaat sebagai berikut;

1. Mengetahui pengaruh POC olahan limbah tahu dan pupuk kombinasi (Limbah belotong dan limbah baglog) terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah.

(9)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanaman Kacang Tanah

Manfaat kacang tanah bagi kehidupan manusia sudah dikenal oleh masyarakat hampir seluruh dunia. Di Indonesia kacang tanah merupakan salah satu sumber protein nabati yang cukup penting dalam menu makanan. Sebagai bahan konsumsi kacang tanah diolah dalam berbagai bentuk makanan seperti kue-kue, cemilan, atau hasil olahan lain. Di Indonesia kacang tanah memiliki beberapa nama antara lain kacang cina, kacang brol, dan kacang brudal (Andrianto dan Indarto, 2004).

Sistematika kacang tanah adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Klas : Dicotyledoneae Ordo : Leguminales Famili : Papilionaceae Genus : Arachis

Spesies : Arachis hypogaea L(Deputi IPTEK MIG Corp). (sumber pribadi)

Tanaman kacang tanah varietas lokal culik merupakan tipe tanaman tegak dan umur panen antara 90-100 hst. Hasil kacang tanah ha-1 varietas Lokal Culik tidak berbeda nyata pada hasil biji kadar air 10% dengan varietas Kelinci dan varietas Domba yang masing-masing beratnya 2,77 t ha-1, 2,99 t ha-1 dan 2,75 t ha-1 (Sumadi, 2010).

Kacang tanah dengan kandungan lemak dan protein tinggi, dapat ditanam di sawah atau tegalan dan menghasilkan biji 1100 kg ha-1. Kuantitas zat hara tanah yang diserap ha-1 meliputi: 15-20 kg N, 45 kg P2O5, dan 50-60 kg K2O (Marzuki, 2007).

(10)

berkepanjangan dapat menghambat pertumbuhan vegetatif, pembungaan dan pengisian polong tanaman kacang tanah.

Kacang tanah tumbuh dengan baik jika ditanam di lahan ringan yang cukup mengandung unsur hara, gembur dan pH 5,0 – 6,3, kacang tanah dapat tumbuh pada ketinggian tempat 0-500 m di atas permukaan laut (dpl) dan curah hujan waktu tanam selama dua bulan pertama yang baik ialah 150-250 mm/bulan dan suhu udara antara 250C - 300C dengan penyinaran penuh (Sumarno, 2003).

Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman kacang tanah adalah jenis tanah yang gembur/bertekstur ringan dan subur. Derajat keasaman tanah yang sesuai untuk budidaya kacang tanah adalah pH antara 6,0–6,5. Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati..Drainase dan aerasi baik, lahan tidak terlalu becek dan kering baik bagi pertumbuhan kacang tanah.

Air yang diperlukan tanaman berasal dari mata air atau sumber air yang adadisekitar lokasi penanaman. Tanah berdrainase dan berserasi baik atau lahan yang tidak terlalu becek dan tidak terlalu kering, baik bagi pertumbuhan kacang tanah (Winarso, 2005).

2.2. Kebutuhan Hara Pada Tanaman Kacang Tanah

Pemupukan memegang peranan penting dalam peningkatan produksi kacang tanah. Kebutuhan N 15-20 kg/ha, P2O2 45 kg/ha dan K2O 50-60 kg/ha. Tanah yang kurang bahan organiknya memerlukan bahan organik. Pengapuran diperlukan untuk tanah yang masam. kebutuhan Ca mencapai sekitar 300-400 kg/ha yang berfungsi untuk pembentukan ginofor, sedangkan kebutuhan N cukup 25-50 kg/ha dan untuk memenuhi kebutuhan N tersebut lewat penambatan N di udara melalui mikroba rhizobium yang mencapai 75-80 % dan rhizobium mampu mencukupi 80 % kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10 % - 25 % (Andrianto dan Indarto, 2004).

(11)

(1) defisiensi, (2) peralihan, (3) cukup dan (4) beracun. Konsentrasi kritis jaringan didefinisikan sebagai konsentrasi tepat di bawah konsentrasi yang memberikan pertumbuhan optimum; tingkat konsentrasi minimium jaringan adalah konsentrasi yang memberikan pertumbuhan mendekati maksimum, respon hasil panen terhadap penambahan kebanyakan nutrisi umumnya mengikuti hukum pengembalian yang makin berkurang(the law of diminishing returns) penambahan tiap pupuk menghasilkan peningkatan hasil panen yang secara progresif semakin mengecil, yang akhirnya mencapai suatu asimtot (Gardner dkk., 1991).

Tanaman yang kekurangan kalium tidak dapat memanfaatkan air dan hara secara efisien, baik yang berasal dari tanah dan pupuk, sedangkan tanah yang mengandung cukup kalium menghasilkan kacang tanah yang berkualitas baik, polong tumbuh baik dan berisi penuh dimana kebutuhan kalium (K2O) dapat diberikan pada waktu tanam (sebagai pupuk dasar) sebanyak 50-60 kg ha-1. Kalium memberikan efek keseimbangan, baik pada nitrogen maupun pada fosfor dan oleh karena itu penting dalam pupuk campuran, kalium sangat penting untuk pembentukan pati dan translokasi gula juga penting untuk perkembangankhlorofil. Kalium banyak hilang oleh pelindian juga karena pengambilan oleh tanaman (Siswoyo, 2000).

pH tanah merupakan faktor utama yang mempengaruhi daya larut dan mempengaruhi ketersediaan nutrisi tanaman, lebih lanjut dikatakan nutrisi lebih banyak tersedia dalam pH antara 6,0 dan 7,0. Pemupukan P meningkatkan hasil panen dan pengambilan P, tetapi juga sangat meningkatkan panjang akar, kehalusan akar dan kerapatannya. Peningkatan pengambilan P mungkin disebabkan karena adanya konsentrasi P yang lebih tinggi dalam medium atau karena peningkatan panjang akar atau keduanya dan pengangkutan P oleh tanaman relatif kecil dan P jarang hilang karena pelindian(Buckman dan Brady, 1982).

(12)

nukleoprotein, serta esensial untuk pembelahan sel, pembesaran sel, dan karenanya untuk pertumbuhan. N itu bergerak dalam tubuh tanaman; N berpindah ke jaringan muda sehingga defisiensi pertama kali tampak pada daun–daun yang lebih tua. Defisiensi N mengganggu proses pertumbuhan, menyebabkan kekerdilan, menguning dan berkurang hasil panen berat keringnya (Gardner dkk., 1991).

Disamping itu kelebihan N juga akan merugikan tanaman, N dapat menghambat waktu masak, karena peningkatan pertumbuhan vegetatif yang berlebihan melampaui waktu menjadi masak yang normal, dapat melemahkan batang sehingga tanaman jadi rebah maka banyak daun yang ternaungi proses fotosintesis terhambat bahkan respirasi meningkat sehingga mempangaruhi hasil buah atau biji (Buckman dan Brady, 1982).

Pertanian sangat tergantung pada N yang dihasilkan oleh organisme yang mampu menambah N2 untuk produksi tanaman. Bakteri Rhizobium yang berhubungan dengan legume sebagai inangnya. Hubungan keduanya ini dapat memfiksasi 100 kg ha-1 N per musim (Gardner, dkk., 1991).

Pembentukan nodul kacang tanah dipengaruhi oleh nutrisi tanah, kadar air tanah dan cahaya. Nutrisiyang dibutuhkan dalam pembentukan nodul antara lain P, K, S, Ca, dan Mo. Suhu yang menguntungkan bagi pembentukan jaringan bakteroid berkisar antara 20oC – 30oC, dan kadar air tanah dalam kondisi kapasitas lapang. Pembentukan nodul pada kacang-kacangan umumnya 21 hari setelah tanam, akan berkurang jumlahnya pada keadaan ternaungi, sehingga terjadi penurunan fotosintesis akhirnya menurunnya fotosintat. Nodul efektif ditandai oleh ukuran kira-kira 2 - 4 x 4 - 8 mm2 dan letaknya pada akar primer (Adjie dkk., 2006).

(13)

Stadia yang kritis pada tanaman kacang tanah adalah stadia 1) perkecambahan, 2) pembungaan, 3) pembentukan polong dan 4) pengisian biji (Adisarwanto dkk., 1993).

2.3. Teknik Budidaya Tanaman Kacang Tanah

Penyiapan benih :Benih sebaiknya disimpan di tempat kering yang konstan dan tertutup rapat. Untuk menjamin kualitas benih, lebih baik membeli dari Balai Benih atau Penangkar Benih yang telah ditunjuk oleh Balai Sertifikasi Benih.

Persiapan lahan dan pembukaan lahan : Pembukaan lahan dengan pembajakan dan pencangkulan untuk pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya, serta untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit.

Pembentukan bedengan : Buat bedengan ukuran lebar 80 cm, panjang menyesuaikan, ketebalan bedengan 20-30 cm. Diantara bedengan dibuatkan parit (Marzuki,2007).

Pengapuran : Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam dilakukan pengapuran dengan dosis + 1 - 2,5 ton/ha selambat-lambatnya 1 bulan sebelum tanam.

Pemberian pupuk makro : Pupuk kandang 2 - 4 ton/ha, diberikan pada permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam, dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam.Pupuk anorganik : SP-36 (100 kg/ha), ZA (100 kg/ha) dan KCl (50 kg/ha) atau sesuai rekomendasi setempat (Sumarno,2003).

(14)

dapat dilakukan pada bulan April-Juni (palawija I) atau bulan Juli-September (palawija II).

Penyiraman : Pengairan dilakukan agar tanah tetap lembab. Untuk menjaga kelembaban pada musim kemarau dapat diberikan mulsa (jerami dan lain-lain). Saat berbunga tidak dilakukan penyiraman, karena dapat mengganggu penyerbukan.

Penyiangan dan pembumbunan : Penyiangan dilakukan 2 kali umur 1 dan 6 minggu dengan hati-hati agar tidak merusak bunga dan polong. Pembumbunan dilakukan bersamaan saat penyiangan, bertujuan untuk menutup bagian perakaran (Marzuki,2007).

Panen , Umur panen tanaman kacang tanah tergantung dari jenisnya yaitu umur pendek ± 3-4 bulan dan umur panjang ± 5-6 bulan. Adapun ciri-ciri kacang tanah sudah siap dipanen antara lain: Batang mulai mengeras, Daun menguning dan sebagian mulai berguguran, Polong sudah berisi penuh dan keras, Warna polong coklat kehitam-hitaman (Sumarno,2003).

2.4. Hama dan penyakit

Hama dan penyakit yang menyerang tanaman kacang tanah adalah Sbb: Uret, Gejala: memakan akar, batang bagian bawah dan polong. Akhirnya tanaman layu dan mati. Pengendalian: olah tanah dengan baik, penggunaan pupuk kandang yang sudah matang, menanam serempak, penyiangan intensif, Penggunaan Pestona dengan cara disiramkan ke tanah, jika tanaman terlanjur mati segera dicabut dan uret dimusnahkan.

(15)

Kumbang Daun, Gejala: daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga. Pengendalian: (1) penanaman serentak; (2) penyemprotan menggunakan Pestona.

Penyakit layu atau “Omo Wedang”, Penyebab: bakteri Xanthomonas solanacearum (E.F.S.). Gejala: daun terkulai seperti disiram air panas, akhirnya mati. Bila dipotong tampak noda coklat pada bagian pembuluh kayu dan bila dipijit keluar lendir kekuningan. Akar tanaman membusuk. Pengendalian:.Pergiliran tanaman, gunakan varietas yang tahan. Penting melakukan pencegahan menggunakan Natural GLIO.

Penyakit sapu setan, Penyebab: Mycoplasma (sejenis virus). Diduga ditularkan serangga sejenis Aphis.Gejala: bunga berwarna hijau tua seperti daun-daun kecil, ruas-ruas batang dan cabang menjadi pendek, daun-daun-daun-daun kecil rimbun. Pengendalian: tanaman dicabut, dibuang dan dimusnahkan, semua tanaman inang dibersihkan (sanitasi lingkungan), menanam tanaman yang tahan, menanggulangi vektornya menggunakan Pestona atau Natural BVR.

Penyakit Bercak Daun, Penyebab : Jamur Cercospora personata dan Cercospora arachidicola. Gejala: timbul bercak-bercak berukuran 1-5 mm, berwarna coklat dan hitam pada daun dan batang. Pengendalian:.dengan menggunakan Natural GLIO di awal tanam sebagai tindakan pencegahan.

Penyakit Gapong, Penyebab: diduga Nematoda. Gejala: Polong kosong, juga bisa busuk. Pengendalian: tanahnya didangir dan dicari nematodanya.

Penyakit Sclerotium, Penyebab: cendawan Sclerotium rolfsii. Gejala: tanaman layu. Pengendalian:.gunakan varietas yang resisten, air jangan sampai menggenang, membakar tanaman yang terserang cendawan. Pencegahan: gunakan Natural GLIO pada awal tanam

(16)

2.5. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Kacang Tanah

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan proses yang penting dalam kehidupan dan perkembangbiakan suatu spesies. Pertumbuhan dan perkembangan berlangsung secara terus – menerus sepanjang daur hidup, bergantung pada tersedianya meristem, hasil asimilasi, hormon dan substansi pertumbuhan lainnya, serta lingkungan yang mendukung (Gardner dkk., 1991).

Faktor iklim mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Suhu, cahaya dan curah hujan mempengaruhi laju fotosintesis dan respirasi sehingga berimplikasi pada pertumbuhan dan perkembangbiakan kacang tanah, yang berpengaruh pada komponen hasil. Intensitas cahaya yang rendah mengurangi jumlah ginofor, jumlah polong dan berat polong (Andrianto dan Indarto, 2004).

Panjang, lebar dan luas daun umumnya meningkat kemudian berangsur-angsur menurun ontogeni sampai ke suatu titik. Tipe dari profil ini merupakan karakteristik banyak spesies. Hasil berat kering total merupakan akibat efisiensi penyerapan dan pemanfaatan radiasi matahari yang tersedia sepanjang musim pertumbuhan oleh tajuk tanaman. Organ tanaman yang utama dan yang menyerap radiasi matahari ialah daun. Untuk memperoleh laju pertumbuhan tanaman yang maksimum, harus terdapat cukup banyak daun dalam tajuk untuk menyerap sebagian besar radiasi matahari yang jatuh ke atas tajuk tanaman. Agar diperoleh hasil panen yang tinggi, tanaman harus dapat menghasilkan indeks luas daun yang cukup dengan cepat untuk menyerap sebagian besar cahaya guna mencapai produksi berat kering maksimum, juga hasil panen tanaman dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan berat kering total yang dihasilkan atau dengan meningkatkan proporsi hasil panen ekonomis (indeks panen) (Gardner dkk., 1991).

(17)

mineral daun. Masukan nutrisi mineral yang cukup memungkinkan daun muda maupun tua memenuhi kebutuhan mereka. Namun, nutrisi yang terbatas lebih sering didistribusikan ke daun yang muda, dan hal ini mengurangi laju fotosintesis pada daun yang tua, bahkan nutrisi ditranslokasikan dari daun tua ke daun muda yang menyebabkan makin cepatnya proses penuaan pada daun-daun sebelah bawah. Kalium dan besi dapat mengurangi fotosintesis pada daun-daun muda, sedangkan pada daun-daun tua meningkatkan fotosintesis. Fotosintesis mengakibatkan meningkatnya berat kering tanaman karena pengambilan CO2, sedangkan respirasi menyebabkan pengeluaran CO2, dan mengurangi berat kering. Daun yang muda memiliki laju asimilasi CO2 yang tinggi, dan mentranslokasikan sejumlah besar hasil amilasi ke bagian tanaman yang lain. Sebaliknya, daun-daun yang lebih tua pada dasar tajuk dan terlindung mempunyai laju asimilasi CO2 yang rendah dan memberikan lebih sedikit hasil asimilasi kepada bagian tanaman yang lain (Gardner dkk., 1991).

2.6. Pupuk Organik Cair Limbah Tahu

Air limbah tahu sendiri didefinisikan sebagai air sisa penggumpalan tahu yang dihasilkan selama proses pembuatan tahu (Bahri, S. 2006.). Pabrik tahu di Indonesia mengalami kesulitan dalam mengelola limbahnya. Bahkan,tak jarang pengusaha industri tersebut membuang limbah cair mereka tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu. Hal ini tentu saja merugikan lingkungan.Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu, limbah cair tahu mengandungunsur-unsur yang dibutuhkan tanaman.

Menurut Subarijanti, (2006) limbah cair tahu tersebut dapat dijadikan alternatif baru yang digunakan sebagai pupuk sebab di dalam limbah cair tahu tersebut memiliki ketersediaan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman.

(18)

pemasakan serta larutan bekas rendaman kedelai.Limbah cair tahu dengan karakteristik mengandung bahan organik tinggi, suhu mencapai 40°C-46°C, kadar BOD5 (6.000-8.000 mg/1), COD (7.500-14.000 mg/1), TSS dan pH yang cukup tinggi pula. Jika langsung dibuang ke badan air, maka akan menurunkan daya dukung lingkungan. Sehingga industri tahu memerlukan suatu pengolahan limbah yang bertujuan untuk mengurangi resiko beban pencemaran yang ada. Gas-gas yang biasa ditemukan dalam limbah tahu adalah gas nitrogen (N2). Oksigen (O2), hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3), karbondioksida (CO2) dan metana (CH4). Gas-gas tersebut berasal dari dekomposisi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air buangan. (Widyaningsih, 2007).

Limbah tahu selain mengandung N anorganik juga mengandung N dalam bentuk organik. N organik tidak dapat dimanfaatkan langsung oleh tumbuhan, sehingga dibutuhkan waktu lama dalam memanfaatkannya. Hal ini disebabkan harus mengalami proses demineralisasi, selain itu jumlah unsur hara yabg diberikan wajib sedikit lebih tinggi atau lebih banyak yang dibutuhkan.

N berperan dalam merangsang pembentukan anakan penyerapan tanaman terhadap limbah lebih cepat jika dibandingkan dengan penyerapan tanah terhadap pupuk. Karena limbah tahu dalam bentuk cair lebih ceepat diserap oleh tanaman. Dalam limbah tahu terdapat senyawa N dalam bentuk organik, nitrit, N-amonium. Senyawa nitrat inilah yang dapat diserap langsung oleh tanaman untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Kemudian untuk amonium dan nitrit oleh bakteri melalui proses nitrifikasi akan diubah menjadi bentuk senyawa nitrat (Widyaningsih, 2007).

2.7. Limbah Blotong

(19)

nilai ekonomi yang tinggi sehingga masyarakat tidak tertarik untuk memanfaatkannya.

Menurut Risvan (2009), dari hasil samping yang diperoleh langsung pada berbagai tahap pengolahan tebu menjadi gula adalah pucuk tebu, ampas, blotong dan tetes. Pabrik Gula Tasikmadu menggunakan proses pembuatan gula dengan motode baru sehingga blotong yang dahulu bersifat lumpur dan berbau sangat menyengat

Limbah pada blotong dihasilkan dari proses penyaringan dan pemisahan nira kotor dan nira bersih. Nira kotor dimasukkan pada bak kotor dan dimasukkan ke mixer untuk dicampur dengan ampas halus yang bertujuan untuk menyerap manfaat blotong. Sehingga gumpalan blotong akan menjadi besar. Semua saluran di sekitar unit penapisan diberi tutup penahan untuk mencegah agar blotong tidak dapat masuk ke limbah cair. Manfaat Blotong sebagai bahan pembuatan pupuk kompos (Elykurniati, 2009).

Pemanfaatan blotong dapat dijadikan pupuk karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanah. Untuk memperkaya unsur N blotong dikompos dengan ampas tebu dan abu ketel (KABAK). Pemberian ke tanaman tebu sebanyak 100 ton blotong atau komposnya per hektar dapat meningkatkan bobot dan rendemen tebu secara signifikan. Kandungan hara kompos ampas tebu (KAT), blotong dan kompos dari ampas tebu, blotong dan abu ketel (KABAK).

2.8. Baglog Jamur

Chazali dan Pratiwi (2009) menyebutkan lebih lanjut tentang komposisi dari media tumbuh jamur tiram yaitu sering disebut baglog adalah 86,6 % terdiri dari serbuk gergaji, 13 % dedak, dan 0,4 % mengandung kapur. Pencampuran merata ditambahkan 70% air kemudian diayak hingga merata.

(20)

Tabel 1. Kandungan N, P, dan K Limbah Baglog

Unsur Kandungan (%)

Nitrogen 0,87

Fosfor 0,05

Kalium 5,7

(21)

3.1. Waktu dan Tempat Percobaan

Waktu percobaan Budidaya Tanaman Pangan & Palawija dilakukan mulai dari tanggal 5 Oktober 2016 s/d 1 Februari 2017. Percobaan Budidaya Tanaman Pangan & Palawija dilaksanakan di kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Kampus I Universitas Medan Area, Jl. Kolam No. 1 Medan Estate.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada saat praktikum adalah benih Kacang Tanah, Kotoran sapi, Pupuk Organik Cair Limbah Tahu dengan Dosis 20 ml/Liter, dan Air. Alat yang digunakan pada saat praktikum adalah Cangkul, Garu, Gembor (alat penyiraman), Gelas ukur 50 ml dan Alat Tulis Lainnya.

3.3. Metode Percobaan

Metode percobaan dalam Budidaya Tanaman Pangan & Palawija yaitu menggunakan metode deskriktif. Metode deskriktif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriktif ini adalah untuk membuat deskriktif, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Adapun analisis data dari metode ini menggunakan data analisis presentasi dengan rumus sebagai berikut :

Presentasi(%) ¿ Parameter Setiap Sampel

Total Parameter Seluruh Sampelx100

3.4. Parameter Pengamatan

1. Pembuatan POC Limbah tahu

Bahan yang digunakan 70 liter limbah tahu, 30 liter air kelapa, 2 liter EM4, 1 liter alkohol 70%. Sedangkan alat yang digunakan drum besar dan gelas ukur

(22)

kemudian aduk hingga tercampur setelah itu tutup rapat drum dengan plastik kemudian diamkan selama 2 minggu kemudian POC siap diaplikasikan.

2.Umur Berkecambah

Umur berkecambah ditetapkan apabila 75% dari jumlah benih yang ditanam pada bedengan yang telah berkecambah. Dengan demikian benih yang digunakan merupakan benih yang baik karna memiliki keseragaman berkecambah.

3. Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang permukaan tanah sampai ujung daun ke-2 dengan satuan cm. Pengamatan dilakukan mulai dari umur tanaman 3 MST sampai tanaman berbunga, dengan interval pengamatan 7 hari.

4. Jumlah Cabang

Jumlah cabanag pada tanaman kacang tanah dilakukan mulai dari umur tanaman 3 MST sampai 7 MST dengan interval pengamatan 7 hari. Pengamatan jumlah cabang dilakukan dengan menghitung jumlah cabang perpokok tanaman.

5. Umur Berbunga

Pengamatan umur berbunga tanaman kacang tanah dilakukan pada masing-masing tanaman dan dilihat pada hari ke berapa (HST).

6.Bobot polong/tanaman.

Jumlah polong diamati dengan cara menghitung polong yang terbentuk pada tanaman kacang tanah.

7.Bobot biji/100 biji

Bobot biji/100 biji dilakukan dengan menghitung 100 biji kacang tanah yang di ambil secara acak kemudian di timbang menggunakan timbangan analitik.

(23)

Rendeman berat bersih dilakukan dengan cara menimbang polong sebanyak sebanyak 100 gr. pengambilan dilakukan secara acak, kemudian

pindahkan kulit kacang tanah dengan biji nya lalu timbang biji kacang tanah yang telah dipisahkan dengan kulit. Berat biji harus di atas 80%.

3.5. Pelaksanaan Percobaan

1. Persiapan Lahan

Persiapan lahan dilakukan dengan mengolah tanah menggunakan Handtraktor terlebih dahulu kemudian dibentuk bedengan dengan ukuran 2 x 2 m dengan tinggi bedengan 30 cm.

2. Pemberian Pupuk Dasar

Pemberian pupuk dasar setelah pengolahan tanah dilakukan dengan pupuk Kompos Serat Kelapa Sawit sebanyak 6 kg dan pupuk Kandang Sapi sebanyak 2 kg/bedengan.

3. Penanaman

Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 30 x 25 cm. Setiap titik tanam dibolongi dengan kedalaman 3 cm dan dengan 1 butir kacang tanah setiap lobang tanam.

4. Penyulaman dan Penyiangan

Penyulaman dilakukan jika terdapat tanaman yang tidak tumbuh dan penyulaman dilakukan sampai tanaman berumur 2 minggu. Penyiangan gulma dilakukan tujuannya untuk menekan populasi gulma sampai jumlah tertentu hingga tidak menimbulkan gangguan terhadap tanaman. pengendalian gulma dapat dilaksanakan pada umur 14 hst sampai 93 hst setelah tanam dengan cara dicabut gulma jenis gulma yang tumbuh yaitu seperti tekitekian dan ilalang tumbuh di sekitar tanaman.

(24)

Pemeliharaan tanaman dilakukan setiap hari yang meliputi penyabutan gulma, pembumbunan tanah dan penyiraman yang dilakukan 2x1 hari yaitu pada pagi hari mulai pukul 07.00 s/d 10.00 WIB dan pada sore hari mulai pukul 16.00 s/d 18.00 WIB.

6. Pemupukan

Pemupukan Pupuk Organik Cair Limbah Tahu dilakukan setiap minggu dengan dosis 20 ml/l air. Pemupukan dilakukan dengan cara menyiram tanaman menggunakan gembor yang sudah diisi pupuk organik cair limbah tahu dengan dosis sesuai perlakuan masing-masing.

7. Panen

Panen tanaman Kacang Tanah dilakukan pada tanaman berumur kisaran 90 – 100 HST. Panen kacang tanah umumnya dilakukan secara manual yaitu dengan mencabut dan mencongkel tanaman. Pencabutan dilakukan secara hati-hati agar tidak banyak polong yang tertinggal. Karena kehilangan hasil berupa tertinggalnya polong dalam tanah dapat mencapai 25%. Untuk mengatasi terbuangnya hasil panenan akibat pencabutan, sebaiknya sebelum dilakukan pencabutan, tanah yang kering diairi terlebih dahulu agar menjadi lunak. Cara panen tersebut meskipun memerlukan banyak tenaga dan waktu, namun mampu menghasilkan mutu biji yang lebih baik karena dapat terhindar dari kerusakan mekanis (Sumarno, 1986).

(25)

Dari hasil praktikum Budidaya Tanaman Pangan Dan Palawija yang dilakuakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area tentang pengaruh pemberian pupuk organik cair limbah tahu P4K2B (20 ml/l) terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.) diperoleh hasil sebagai berikut:

4.1. Umur Berkecambah

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada percobaan budidaya tanaman pangan & palawija yaitu, budidaya tanaman kacang tanah memiliki data pengamatan umur berkecambah yang dapat dilihat pada tabel 4.1. Berdasarkan data dibawah ini tanaman kacang tanah mulai berkecambah pada umur 3 HST. Berdasarkan hasil pengamatan tanaman kacang tanah maka didapatkan rata-rata umur berkecambah tanaman kacang tanah yaitu 3-5 HST.

Berdasarkan data pada tabel 4.1 umur berkecambah tanaman kacang tanah pada umur 3-5 HST. Berdasarkan tinjauan pustaka menurut Sumadi (2010), umur berkecambah tanaman kacang tanah umumnya akan berkecambah setelah 4-7 HST.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada percobaan budidaya tanaman pangan & palawija sehingga dapat membahas hasil data yang telah diamati. Berdasarkan data pada tabel 4.1. ini tanaman kacang tanah ulangan I, II, dan III mulai berkecambah pada umur 3 HST. Berdasarkan hasil pengamatan tanaman kacang tanah ulangan I, II, dan III maka didapatkan rata-rata umur berkecambah tanaman kacang tanah yaitu 3-5 HST. Berdasarkan tinjauan pustaka umur berkecambah tanaman kacang tanah sesuai dengan pengamatan yang dilakukan dalam percobaan budidaya tanaman pangan & palawija, tanaman kacang tanah memiliki umur berkecambah rata-rata 5 yang artinya tanaman kacang tanah merupakan benih normal yang berkecambah tidak lebih dari 7 hari.

Tabel 4.1. Pengamatan Umur Berkecambah (HST) Tanaman Kacang Tanah

(26)
(27)

Tabel 4.2. Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Tanaman Kacang Tanah Pada Perlakuan POC Limbah Tahu Konsentrasi 20 ml/l

TANAMAN Minggu

ke-Total 106,94 100% 130,92 100% 192,67 100% 311,50 100% 383,33 100% 457,00 100%

Rata-rata 7,64 - 9,35 - 13,76 - 22,25 - 27,38 - 32,64

-Berdasarkan tinjauan pustaka Menurut Rukmana, 1998 Panjang batang tanaman kacang tanah pada umumnya berkisar antara 30-50 cm, tergantung jenis atau varietas kacang tanah dan kesuburan tanah. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa kandungan nitrogen 0,27 sangat mempengaruhi awal-awal pertumbuhan dan perkembangan tanaman, khusunya berpengaruh bersar terhadap tinggi tanaman. Dari hasil percobaan yang dilakukan pengaruh pemberian POC limbah tahu dan pupuk kombinasi (Limbah Blotong dan Limbah Baglog) terhadap tinggi tanaman terlihat nyata.

(28)

Tingi tanaman sendiri merupakan indikator parameter vegetatif yang penting dalam menghasilkan produksi. Karena semakin tinggi tanaman maka jumlah daun juga akan bertambah, dimana jumlah daun juga dapat merupakan indikator penting dalam proses fotosintat. Berdasarkan penelitian terdahulu, limbah cair tahu mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman. Menurut Subarijanti (2006), limbah cair tahu tersebut dapat dijadikan alterbatif baru yang digunakan sebagai pupuk, sebab didalam limbah cair tahu tersebut memiliki ketersediaan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman khususnya unsur N yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman. Maka dari itu pemberian POC limbah tahu dengan konsentrasi 20 ml/l pada tanaman kacang tanah dapat memberikan respon yang positif bagi pertumbuhan tinggi tanaman, hal ini dapat dibuktikan dari hasil pengamatan yang terdapat dalam tabel dibawah imi.

4.3. Jumlah Cabang

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada percobaan budidaya tanaman pangan & palawija yaitu, budidaya tanaman kacang tanah memiliki data pengamatan jumlah cabang yang dapat dilihat pada tabel 4.3. Berdasarkan data dibawah ini tanaman kacang tanah ulangan I, II dan III jumlah cabang tanaman kacang tanah menunjukkan pertambahan setiap minggunya. Pertambahan jumlah cabang tanaman kacang tanah disetiap minggunya selalu bertambah.

(29)

persentase 9 %. Jadi rata-rata jumlah cabang tanaman kacang tanah dengan perlakuan P4K2B yaitu 6,02.

Tabel 4.3. Pengamatan Jumlah Cabang Tanaman Kacang Tanah Pada Perlakuan POC Limbah Tahu Konsentrasi 20 ml/l

TANAMA

Total 24,5 100% 36,67 100% 46,83 100% 73,67 100% 80 100% 84,33 100%

Rata-Rata 1,75 - 2,62 - 3,35 - 5,26 - 5,71 - 6,02

(30)

4.4. Luas Daun

Tabel 4.4. Pengamatan Luas Daun Tanaman Kacang Tanah Pada Perlakuan POC Limbah Tahu Konsentrasi 20 ml/l

TANAMAN Minggu

ke-Total 25,08 100 33,65 100 41,03 100% 42,53 100% 44,47 100% 43,33 100%

Rata-Rata 1,79 - 2,40 - 2,93 - 3,04 - 3,18 - 3,10

-Berdasarkan tinjauan pustaka menurut Basuki , 2000 Daun pada batang utama tersusun spirat, pada cabang vegetatif primer tersusun berseling, berdaun 4, dengan 2 pasang daun duduk berhadapan berbentuk membundar telur sungsang berukuran 3 – 7 cm x 2 – 3 cm, panjang tangkai daun 3 – 7 cm, terdapat bagian yang menggembung pada dasar tangkai daun pada dasar setiap daun. Hal ini merupakan ciri adanya pergerakan pada malam hari yaitu tangkai daun akan menggulung ke bawah dan daun akan menggulung ke atas sampai keduanya bersentuhan.

(31)

sampel 11 sebesar 10 % dan luas daun tanaman terkecil padan tanaman sampel 1, 2, 6, 7, 8, dengan presentase yang sama yaitu 6%. Dan untuk 4 MST adalah tanaman sampel 10, dan 11 sebesar 9%, dan luas daun terkecil terdapat pada tanaman sampel 1, 2, 6, dan 7 dengan presentase yang sama yaitu 6%. Dan untuk 5 MST adalah tanaman sampel 5, 10, 11, dan 12 memiliki luas daun tertinggi dengan presentase sebesar 8 % dan untuk luas daun terkecil terdapat pada tanaman sampel 1, 2, dan 9 dengan presentasi 6%. Untuk 6 MST adalah tanaman sampel 10 dengan presentase sebesar 9 % ,dan luas daun terkecil terdapat pada tanaman sampel 1 dengan presentase 6%. Luas daun kacang tanah dengan pemberian POC limbah tahu dan pupuk kombinasi (Limbah Blotong dan Limbah Baglog) yaitu 3,10 cm.

4.5. Umur Berbunga

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada percobaan budidaya tanaman pangan & palawija yaitu, budidaya tanaman kacang tanah memiliki data pengamatan umur berbunga yang dapat dilihat pada tabel 4.4. Berdasarkan data dibawah ini tanaman kacang tanah ulangan I, II dan III mulai berbunga pada umur 20 sampai 25 HST.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada percobaan budidaya tanaman pangan & palawija sehingga dapat membahas hasil data yang telah diamati. Berdasarkan data pada tabel 4.4. tanaman kacang tanah ulangan I, II dan III mulai berbunga pada umur 20 sampai 25 HST. Berdasarkan tabel 4.4 di bawah dapat dilihat bahwa waktu umur berbunga pada tanaman kacang tanah terjadi pada 4 MST dengan angka persentase tertinggi. Jadi rata-rata umur berbunga kacang tanah adalah 23 hari setelah tanam.

(32)

Tabel 4.5. Pengamatan Umur Berbunga (HST) Tanaman Kacang Tanah

.Pada Perlakuan POC Limbah Tahu Konsentrasi 20 ml/l

Sampel Rataan %

1 20,3 6,21

2 21,6 6,61

3 21,3 6,51

4 22,3 6,82

5 22,7 6,92

6 23 7,02

7 23,3 7,12

8 23,7 7,23

9 24 7,33

10 24,3 7,43

11 24,7 7,53

12 25 7,63

13 25,3 7,73

14 25,7 7,84

Total 327,3 100

Rata-rata 23,37

-Dengan pemberian POC limbah tahu dan pupuk kombinasi(Limbah Blotong dan Limbah Baglog) berpengaruh nyata dalam umur berbunga tanaman kacang tanah dikarenakan kacang tanah berbunga lebih cepat.

4.6.Bobot polong

(33)

TANAM

Berdasarkan tabel di atas dapat di lihat bahwa dalam bobot polong kacang tanah hanya memiliki rata-rata 14,36 gr. Menurut Widyaningsih, 2007 Pemberian limbah tahu sebagai pupuk berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman cabai seperti tinggi tanaman dan jumlah produksi. Pada percobaan aplikasi POC limbah tahu dengan konsentrasi 20 ml/l juga dapat memberikan respon positif terhadap hasil produksi tanaman kacang tanah.

Terdapatnya unsur fosfor dalam POC limbah tahu sangat memberikan dampak yang baik bagi hasil tanaman kacang tanah karena unsur fospor pada tanaman dapat berfungsi dalam pembentukan bunga, buah dan biji serta mempercepat pematangan buah.

4.7.Bobot biji/100 biji

(34)

terhadap 100 biji kacang tanah maka di timbang untuk melihat bobot biji tersebut. Penimbangan dilakukan menggunakan timbangan analitik dengan satuan gram.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada percobaan budidaya tanaman kacang tanah ( Arachis hypogeae, L) pada praktikum budidaya tanaman pangan dan palawija, hasil pengamatan untuk bobot biji/100 biji yaitu 185 gram.

Menurut Widyaningsih, 2007 Pemberian limbah tahu sebagai pupuk berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman cabai seperti tinggi tanaman dan jumlah produksi. Pada percobaan aplikasi POC limbah tahu dengan konsentrasi 20 ml/l juga dapat memberikan respon positif terhadap hasil produksi tanaman kacang tanah.

Terdapatnya unsur fosfor dalam POC limbah tahu sangat memberikan dampak yang baik bagi hasil tanaman kacang tanah karena unsur fospor pada tanaman dapat berfungsi dalam pembentukan bunga, buah dan biji serta mempercepat pematangan buah.

4.8.Rendeman bobot bersih

Pengamatan rendeman berat bersih dilakukan dengan cara menimbang polong sebanyak sebanyak 100 gr. pengambilan dilakukan secara acak, kemudian pindahkan kulit kacang tanah dengan biji nya lalu timbang biji kacang tanah yang telah dipisahkan dengan kulit. Berat biji harus di atas 80%.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada percobaan budidaya tanaman kacang tanah ( Arachis hypogeae, L ) pada praktikum budidaya tanaman pangan dan palawija, hasil pengamatan rendeman berat bersih di dapat 113 gram.

(35)

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dalam praktikum budidaya tanaman pangan & palawija yaitu tanaman kacang tanah dengan pemberian aplikasi POC limbah tahu konsentrasi 20 ml/l air. Berdasarkan data yang diperoleh, hasil yang didapat tidak nyata dibeberapa parameter pertumbuhan.

5.2. Saran

Sebaiknya dalam pemberian aplikasi POC Limbah Tahu terhadap budidaya tanaman kacang tanah jangan ditingkatkan lagi konsentrasinya, karena konsentrasi 20 ml/l sudah dapat mempengaruhi beberapa peningkatan dari parameter pertumbuhan kacang tanah setara dengan penggunaan pupuk kimia.

(36)

Adisarwanto, T. 2000. Meningkatkan Produksi Kacang Tanah di Lahan Sawah dan Lahan Kering. Jakarta : PT. Penebar Swadaya.

Adjie, M. M., Quesenberry, K. H., Chamblis, C. G. 2006. Nitrogen Fixation and Inoculation of Forage Legumes. Agronomy Department. Institute of Food and Agriculture Science. University of Florida. http://edis.ifas.ufl.edu. Diakses 16 Agustus 2010

Buckman, H. O., Brady, N. C. 1982. Ilmu Tanah. (Soegiman dan Buana I.D.M, Pentj). Jakarta : Bhratara Karya Aksara.

Bahri, S. 2006. Pemanfaatan Tumbuhan Air (Azzola) untuk Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu di Desa Bandarjaya Kecamatan Terbanggi Besar Lampung Tengah. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Lampung. Lampung.

Deputi IPTEK MIG Corp 2013. Kacang Tanah ( Arachis hypogeae L.) Kantor Deputi Enegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi MIG Corp. (http migroplus.com brosur budidaya kacang tanah). Diakses tanggal 11 Februari 2016.

Gardner, EP., Pearce, R.B., and Mitchell. 1991. Physiology of crop Plants. The Lowa State University, Press.

Marzuki, R. 2007. Bertanam Kacang Tanah. Jakarta : Penebar Swadaya.

Siswoyo, 2000. Kesuburan Tanah dan Pemupukan.Universitas Sumatera Utara Medan.

Sumarno. 2003. Teknik Budidaya Kacang Tanah. Sinar Baru Algensindo.

Subarijanti, H.U. 2006. Kesuburan dan Pemupukan Perairan. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya Malang.

Widyaningsih, T.S. 2007. Penyerapan Logam Cr total dan Cu2+ Dengan EcengGondok Pada Sistem Air Mengalir. Tesis S2. Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Kimia UGM. Yogyakarta.

Gambar

Tabel 1. Kandungan N, P, dan K Limbah Baglog
Tabel 4.2. Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Tanaman Kacang Tanah PadaPerlakuan POC Limbah Tahu Konsentrasi 20 ml/l
Tabel  4.3.  Pengamatan  Jumlah  Cabang  Tanaman  Kacang  Tanah  PadaPerlakuan POC Limbah Tahu Konsentrasi 20 ml/l
Tabel 4.4. Pengamatan Luas Daun Tanaman Kacang Tanah Pada PerlakuanPOC Limbah Tahu Konsentrasi 20 ml/l
+2

Referensi

Dokumen terkait

Proses pengecoran logam dengan suhu 1500-1600 derajat celcius merupakan suhu yang sangat panas hal tersebut dapat mengakibatkan adanya letupan pada saat proses

Abstrak: Sistem pendukung keputusan pemberian ijin usaha penambang adalah suatu sistem untuk menginputkan data penambang dalam usaha pertambangan di Dinas Departemen dan Energi.

Dalam pelaksanaan konstruksi, faktor biaya merupakan bahan pertimbangan utama, akan tetapi enggunakan metode konstruksi yang tepat, tidak hanya biaya saja yang

Dari hasil analisis korelasi di atas menunjukkan Di Kecamatan Karang Tengah (Daerah dengan nilai ekskresi iodium urin tinggi) diperoleh hanya terdapat satu

Salah satu nikmat yang besar sehingga kita dapat bertemu pada hari ini Sabtu 06 Juli 2013 dalam forum Seminar Nasional X Program Studi Pendidikan Biologi

Freeman dan Long (1991; dalam Duff, 2008: 41) menyatakan bahwa ancangan longitudinal dengan mudah dapat dikarakterisasi setidak-tidaknya oleh tiga atribut paradigma

Dengan memperhatikan hasil dari penelitian, maka diharapkan perusahaan lebih dapat memahami analisis dari prediksi delisting pada perusahaan, sehingga nantinya akan membantu

Visi misi pasangan dokter H Mundjirin ES SpOG-Ir H Warnadi MM yaitu ingin mewujudkan Kabupaten Semarang yang mandiri, tertib, dan sejahtera (MATRA). Namun diantara