• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepemimpinan Gereja kuliah Abad Pertengahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kepemimpinan Gereja kuliah Abad Pertengahan"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

CORAK DAN PRAKTEK KEPEMIMPINAN GEREJA ABAD PERTENGAHAN

Pendahuluan

1. Studi mengenai sejarah Gereja pada abad 21 ini nampaknya mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh berdirinya banyak lembaga pendidikan tinggi (seperti: universitas dan akademi) yang memanfaatkan khasanah arsip Gereja (Katolik dan Reformasi Protestan) dalam hubungannya dengan perkembangan sains (ilmu pengetahuan) yang berkaitan langsung dengan sejarah agama dan perkembangan ilmu-ilmu sosial (di antaranya adalah ilmu sosiologi dan psikologi). Nampaknya perkembangan ini telah sangat membantu dalam menjernihkan soal-soal lembaga keagamaan, penerbitan aneka ragam studi, risalah serta panduan yang mempermudah penggunaan dokumen resmi Gereja dan tersebar luasnya studi kesejarahan mengenai teologi dan hukum gereja. Kemajuan pesat ini ternyata sangat berdampak positif pada Gereja khususnya dan sejarah kebudayaan pada umumnya. Sebab dengan dampak kemajuan Gereja sebagai persekutuan jemaat yang beriman dan sebagai institusi keagamaan, Gereja menjadi kian sadar akan tugas dan fungsinya: “mengkuduskan, mengajarkan dan menggembalakan” persekutuan umat. Pada posisi ini, yang menjadi objek studi sejarah Gereja adalah melihat dinamika dan konsistensi Gereja dalam menjalankan fungsinya secara menyeluruh. Dinamika dan konsistensi ini terlihat melalui perkembangan doktrin dan teologi, aspek organisasi dan kepemimpinan, misi/liturgy, spritualitas dan praktek kesalehan, kepedulian di bidang social politik, lahirnya para tokoh religius dan serta sinode-sinode dan lain sebagainya.

(2)

(menurut kronologis sejarahnya) ternyata di mana-mana nampak kebalikannya. Banyak orang berusaha mempertahankan kepemimpinan itu dengan berbagai cara dengan menambah muatan kekuasaannya. Namun Kristus justru mengosongkan diriNya dari kekuasaan.

Merujuk pada pergumulan di atas, paper ini merupakan satu usaha yang mencoba menggambarkan pergumulan Gereja yang menyejarah (khusus abad pertengahan) tentang kepemimpinannya. Dari studi ini ditemukan hikmat bahwa ada kalanya gambaran kepemimpinan Gereja begitu ambigu dan buram, namun ada kalanya begitu transparan. Sifat-sifat ini merupakan hasil konfrontasi antara kebijakan Gereja sebagai lembaga keagamaan dengan pewahyuan Allah dalam Yesus Kristus yang ditanggapi oleh umat percaya (anggota jemaat). Nampaknya, keadaan ini sangat dipengaruhi oleh dua hal yakni, pertama: belum berhasilnya Gereja Katholik mengatasi problem spritualitas abad-abad pertengahan di mana sepanjang waktu itu, Gereja belum sepenuhnya berhasil mencairkan ketegangan perkawinan antara imamat dan kekaisaran (antara altar dan tahkta). Kedua, sasaran kekristenan saat ini banyak tergantung pada kesatuan Gereja-Gereja. Untuk menilai kondisi ini secara objektif maka perlu secara serius mendalami warisan-warisan yang sehat dari kekristenan yang dapat ditemukan dalam sejarahnya (menurut penulis alasan inilah studi ini mendapat urgensinya).

Awal Kepemimpinan Paus Dan Benih-Benih Gereja Katholik

2. Menurut Philip Schaff1 sebagai lembaga, kepausan awalnya ini muncul dari antara para bishop utama seperti bishop Anthiokia dan bishop Roma yang sepakat menggabungkan semua keadaan Gereja menjadi sebuah supremasi hukum yang cenderung menuju ke satu system monarki dengan system episkopal. Dalam prosesnya, usaha ini pertama-tama dilakukan di setiap jemaat local kemudian berkembang ke setiap keuskupan hingga menuju satu system (pusat) untuk seluruh Gereja. Dalam proses ini kemudian lembaga episkopal bertumbuh bersama dan sebagai lembaga, kepausan adalah lembaga dan jabatan tertinggi dalam Gereja yang demi persatuan dan kekuasaan tertinggi dalam Gereja, jabatan kepausan diyakini langsung diserahkan Kristus kepada rasul Petrus dan kepada para penggantinya yakni uskup-uskup Roma (successio apostolica).2

1 Philip Schaff, History of the Christian Church, Vol II: Anti Nicene Christianity AD 100-325

(Michigan: WmB Erdmans Pubh. Co, 1950) hl. 155. Dijelaskan oleh Philip Schaff, Gereja Roma mengklaim bahwa tidak hanya Paus tetapi keilahian serta kelembagaannya langsung ditetapkan oleh Kristus ketika Ia meletakkan dasar (fondasi) Gereja dan menyerahkannya kepada rasul Petrus.

2 Satu yang positif dalam hal kepemimpinan kepausan abad pertama, bahwa masa pasca

(3)

Menurut Philip Schaff, ada beberapa dasar asumsi Gereja Katholik memaknai penyerahan ini langsung kepada rasul Petrus, yakni:3

a. Diangkatnya Petrus sebagai rasul utama dari antara para rasul, tidaklah di dasarkan pada keistimewaan personalnya atau kedaulatannya sendiri tetapi lebih menekankan supremasi hukum yang melampaui semua rasul.4 b. Hak istimewa dan keutamaan (keunggulan) rasul Petrus tidak sebagai

dirinya yang personal tetapi jabatannya dapat melampaui semua rasul. c. Para rasul sebenarnya menggantikan rasul Petrus tidak hanya dirinya

sebagai bishop Jerusalem atau bishop Athiokia, serta bishop Roma. d. Petrus tidak hanya di Roma (thn 63: saat rasul Paulus mati martyr di

sana) melakukan tugasnya sebagai bishop hingga kemati martyrannya dan kemudian diangkat seorang penggantinya.

e. Bishop Roma, sebagai penerus Petrus, ia selalu melakukan fungsi hukumnya secara universal melampaui semua persekutuan orang Kristen dan jemaat.

Beberapa makna penting pengaruh kepemimpinan Paus Roma masa abad-abad pertama yakni:5

a. Mulai sejak jaman purba kala Gereja Roma, yang paling penting diingat sebagai pengaruh Paus Roma adalah penegasan unsur doctrinal kitab PB yang dirumuskan oleh rasul Paulus. Melalui penegasan ini, maka Roma tidak hanya sebagai “ibu-gereja Barat” yang meliputi Gereja di Italia, Gaul, Spanyol dan wilayah-wilayah sekitarnya tetapi sebagai “ibu-Gereja” bagi semua Gereja.

b. Para rasul dan kematimartyran mereka serta pemakaman Petrus dan rasul Paulus di Roma (sebagai dua orang pemimpin bagi para rasul). Semua peristiwa ini menegaskan bahwa semua jemaat telah berhasil melampaui masa-masa mencekam masa penyiksaan kaisar Nero tetapi segera setelahnya Gereja diorganisasikan dengan munculnya penyesat-penyesat dalam jemaat.

c. Berhasilnya Paus menghempang (superioritas/keutamaan) keinginan politik kaisar sebagai penguasa (pemimpin) dunia yang menghendaki Eropa diatur oleh salib sama seperti diatur (dipimpin) oleh pedang.

d. Berhasilnya Paus membawa Gereja keluar dari kontroversi (perdebatan) panjang mengenai disiplin, keabsahan serta skisma tentang baptisan dengan Timur.

3 Philip Scahff, Ibid., hl. 156

4 Nampaknya, ada gagasan yang kontradiksi dengan pandangan ini, yakni: fakta bahwa

rasul Petrus sendiri tidak pernah menyatakannya demikian. Rasul Paulus dalam meletakkan dasar-dasar eklesiologi jemaat mula-mula, ia menekankan bahwa posisi yang sempurna dalam kepemimpinan dan persekutuan jemaat adalah kebebasan sebagaimana nyata dilakukannya di jemaat Anthiokia, Lih. Gal. 2:11.

(4)

Intinya Roma adalah lapangan pertarungan bagi Ortodoks dan bidat bagi dimulainya perkembangan pemerintahan Gereja. Untuk situasi ini, Ignatius menunjukkan/menyatakan bahwa ia sangat bersuka cita karena penderitaannya oleh Kristus. Demikian Justinus Martyr melalui keberaniannya membela kekristenan di hadapan kaisar dan ia kehilangan nyawanya untuk itu. Irenaeus, Cyprianus, dan Tertulianus, menegaskan bahwa Gereja adalah sebuah tempat yang aman bagi setiap orang. Sangat mengesankan bahwa para bishop Roma dari awalnya, mereka telah memperlihatkan diri mereka sebagai pemimpin (metropolish) dan pelayan yang bertanggungjawab bagi umatnya dan melakukan semuanya itu dalam suasana tanggungjawab kepemimpinan yang mengesankan di tengah keuskupan mereka sendiri. Namun menjelang masa akhir abad-abad pertama, Gereja dan dunia mulai dipusingkan oleh system kepausan dengan penyalahgunaan wibawa mereka secara berlebihan. Tanda-tanda seperti ini mulai nampak dominan dan menonjol berlangsung dalam Gereja pasca konsili Nicea. Akhirnya situasi ini mempengaruhi munculnya Patriarkh baru di Konstantinopel di mana Patriarkh ini juga disebut sebagai Roma Baru (Patriarkh Timur) yang menurut pengalaman Gereja Patriarkh Barat, munculnya Patriarkh konstanstinopel seakan menjadi tandingan bagi kepemimpinan bishop Roma.6

3. Hingga abad ke empat, catatan-catatan sejarah Gereja Katholik menganggap bahwa awalnya uskup-uskup Roma jarang mencampuri urusan-urusan Gereja di wilayah keuskupan (Batrik) lainnya. Baru sejak awalnya para penguasa Romawi sangat menekan komunitas jemaat di Asia Kecil dengan keras (demikian di Afrika Utara, 255) pembaptisan dinyatakan syah walau dilakukan oleh pengajar-pengajar sesat dalam Gereja. Kenyataan-kenyataan seperti ini menjadi semakin sering terjadi setelah Kaisar Konstantin memindahkan ibukota kekaisaran ke Konstantinopel (izantium: 330). Oleh pengaruh keadaan ini, maka uskup Roma mulai memutuskan sendiri bahwa masalah yang menyangkut dengan kehidupan Gereja baik di Barat maupun di Timur wilayah kekaisaran Romawi berada di bawah kuasa hukumnya. Beberapa uskup kemudian diakui sebagai pimpinan wilayah Gereja seperti: uskup Roma, Anthiokia dan Aleksandria dengan Uskup Roma sebagai yang tertua dan yang terhormat di antara keuskupan (uskup) lainnya. Beberapa Paus misalnya Leo I (440/461), ia kemudian menekankan dengan tegas wewenang khusus uskup Roma sebagai pemimpin semua uskup (pontifex maximus). Sebab uskup Roma dianggap sebagai pengganti rasul Petrus

6 Lih.A. Heuken, Ensiklopedia Gereja II H – Konp (Yogyakarta: Cipta Loka Caraka, 1992) hl.

(5)

yang diberi wewenang atas segala Gereja oleh Kristus sendiri. Melalui rasul Petrus, sebagai kepala para rasul, Gereja Roma kemudian memegang primat (keutamaan) atas semua Gereja di seluruh dunia. Wewenang ini kemudian ditafsirkan secara yuridis dan sacramental. Para peserta konsili Kalsedon (451) menerima keputusan Paus Leo dengan menyatakan: “rasul Petrus berbicara melalui Paus Leo”. Walau Leo I dan beberapa paus sesudahnya menggunakan wewenang universal, namun wewenang ini kadang di tentang dalam Gereja.7

Masa abad kelima, Gregorius Agung menekankan bahwa semua manusia dan semua uskup pada dasarnya sama derajatnya. Tetapi karena dosa, orang menjadi lemah dan bertindak salah. Melaluinya setiap orang diberi wewenang dan kuasa, supaya membantu sesama manusia agar kembali ke jalan yang benar. Dengan demikian semua uskup sama kedudukannya selama mereka tidak berbuat salah. Mereka harus ditolong oleh hamba-hamba Allah yakni: “uskup Roma”.

Kepemimpinan Duniawi Paus

(Politik Keagamaan Konstantionus Agung dan Para penggantinya)

4. Sangat menarik memperhatikan identitas kepemimpinan Paus dalam Gereja masa abad pertengahan. Perubahan identitas kepemimpinan Paus masa abad pertama dengan kepemimpinan Paus abad pertengahan, ini ditandai dengan diberikannya oleh kaisar Konstantinus Agung sebagian wilyahnya (Barat) kepada Paus (Sylvester) di mana pemberian ini sebagai akibat langsung dari pertobatan kaisar yang dinanti-natikan oleh Gereja sejak abad sebelumnya. Menurut Eddy Christiyanto, inilah awal dari titik tolak membicarakan tentang asal usul kekuasaan kepemimpinan Paus (gereja) di dunia.8 Dalam membicarakan asal usul kekuasaan ini selanjutnya, ada dua keadaan yang mempengaruhi yakni: “situasi historis yang mewajibkan para paus selalu melebarkan pengaruh kuasa duniawinya dan kekhawatiran akan

7 Heuken, Op.Cit., hl 290

8 Eddy Christiyanto, Gagasan Yang Menjadi Peristiwa: Sketsa Sejarah Gereja Abad I-XV

(6)

pendudukan orang-orang Longobardi di Roma yang akan memasung kebebasan paus”. Sekurang-kurangnya, berangkat dari jaman Gregorius Agung (akhir abad ke VI), Paus memiliki otoritas politis di Roma dan di wilayah terdekat.9

Ciri lain yang sangat menonjol dari realisasi kemahakuasaan Paus hingga abad kesepuluh yakni: ambiguitas hubungan antara dua entitas kekuasaan Paus dan kaisar dalam gereja.10 Ambiguitas sikap Paus ini, penjelasannya diwakili melalui penampakan peristiwa Natal tahun 800 di mana ketika itu Karolus Agung menerima dari Paus mahkota kekaisaran, sementara itu jemaat tidak henti-hentinya melantunkan aklamasi ritual. Sesudahnya, Paus merendahkan diri dengan menundukkan kepala kepada Karolus Agung. Peristiwa ini merupakan pertanda bagi ketidakjelasan karakter dan wewenang antara kaisar dan Paus dalam Gereja. Tugas utama Paus sebenarnya adalah melayani berbagai jenis peribadatan dan kultus sementara yang lain diurus oleh kaisar. Nyatanya, sangat sering kaisar mengintervensi masalah-masalah Gereja walau sebenarnya kata terakhir ada pada Paus. Misalnya, soal pendidikan imam, tata pemerintahan keuskupan, administrasi harta Gereja dan lain sebagainya. Dasar intervensi kaisar terhadap masalah-masalah Gereja adalah sikapnya yang mabuk kepayang dengan gelarnya sebagai: “pembela setia Gereja suci dan penolong dalam segala sesuatu”. Karolus selalu menyatakan diri membela kepentingan agama, sebab ia menyadari bahwa ia dilantik oleh Allah untuk melaksanakan misi tersebut.

Masa abad-abad kegelapan (abad kedelapan-kesepuluh), para Paus menjadi boneka-boneka keluarga-keluarga bangsawan di Roma. Akibatnya, wewenang kepausan menjadi mundur. Pertikaian dengan uskup wilayah Konstantinopel sebagai “Roma kedua” mengakibatkan perpecahan dalam gereja terjadi. Inilah saat yang paling menentukan pemisahan Gereja Barat (Roma Katholik) dengan Gereja Timur (Ortodoks) tahun 1054. Wewenang uskup roma dalam Gereja bertambah dengan memperoleh kedudukan sebagai pangeran duniawi yang merdeka (yang semula diangkat oleh kaisar pada abad kedelapan). Berkat usaha misionaris Benediktus di Inggris, Perancis dan Jerman, Gereja di Negara-negara tersebut diikat secara erat pada Gereja Romawi sebagai sumber tradisi apostolic, tetapi mereka tetap bergantung pada raja/kaisar. Dukungan raja Jerman dibutuhkan untuk menjaga keamanan dan kebebasan Paus dari kaum bangsawan Italia. Untuk memperbaharui Gereja, Kaisar Henrich III memecat tiga Paus yang besaing satu sama lain (1046) lalu berturut-turut mengangkat tiga uskup Jerman

9 Eddy Christiyanto, Ibid., hl. 122. Hingga abad XVI, kekuasaan duniawi Paus telah

menyumbang sesuatu bagi Gereja, yakni: membela kemerdekaan Paus. Di mana kekuasaan Paus dianggap sebagai yang berperan dalam bidang politik, dan tidak menjawab tantangan jaman serta bertentangan dengan Injil.

10Ibid., hl. 123. Mulai tahun 774, atas dukungan raja Perancis (Pipinus), para Paus sudah

(7)

sebagai Paus. Dengan tindakan inilah dimulai pembaharuan Gereja oleh kepausan.11

Teori Kemahakuasaan Paus Gregorius VII

6. Corak kepemimpinan Paus sepanjang periode abad kesepuluh hingga abad kelima belas, ini sangat dipengaruhi oleh warisan/pengaruh kepemimpinan Gregorius VII yang naik tahkta kepausan tanggal 22 April 1073 (berakhir tanggal 25 Mei 1085). Pengaruh Gregorius VII terhadap kepemimpinan gereja sepanjang masa itu adalah: “dikembangkannya teori superioritas Paus melampaui para raja dan kaisar ke arah teokrasi”.12 Prinsip dasar yang mempengaruhinya melakukan ide ini adalah menguatnya pandangan doktrin “keselamatan lebih utama dari kesejahteraan jasmani” dalam diri Gregorius VII. Keadaan ini dipengaruhi oleh tekanan-tekanan politis kekaisaran terhadap kuasa para uskup Roma dan melaluinya, kemudian berlangsung pemusatan kuasa Klerus kepada lembaga kepausan dan akhirnya Paus mulai berbicara tentang Roma sebagai: “jabatan rasuli” (Apostolic See). Sesuai analisa Eddy Christiyanto, “perkembangan program politik keagamaan Paus Gregiorus VII pada abad pertengahan sangat didasarkan pada gagasan-gagasan Agustinus dan Nikolaus I”. Program politik keagamaan ini dirangkum pada dua puluh tujuh dalil yang sangat terkenal dengan sebutan Dictatus Papae13 (surat ketentuan-ketetuan kepausan) yang

isinya menekankan teori kemahakuasaan Paus melampaui segala kuasa di dalam dunia (termasuk kuasa para kaisar). Beberapa isi dari 27 pasal dalil itu di antaranya:14

“hanya gereja di Roma saja yang didirikan oleh Tuhan (psl 1) ; hanya Paus di Roma saja yang berhak disebut sebagai pemimpin universal (psl 2) ; hanya Paus yang boleh menggunakan panji-panji kekaisaran (psl 8) ; Paus adalah satu-satunya pribadi yang kepadanya semua pangeran mencium kakinya (psl 9)15 ; Paus dapat memecat kaisar (psl 12) ; tidak satu sinode pun (konsili) dapat dinyatakan “umum” tanpa perintah Paus (psl 16) ; Tidak satu

11Heuken, Op.Cit., hl. 291-292

12Pietro P, Dictionary of Dogmatic Theology, America: The Bruce Publishing House, 1951, hl.

141

13Lih. Eddy Christiyanto, Op.Cit., hl. 129 Sebutan Paus berasal dari bahasa Yunani: 

(papas) yang artinya “papae-bapak”. Sebenarnya sebutan ini pertama sekali dipakai oleh gereja Timur kepada para uskup, para biarawan dan para imam biasa. Pada gereja Roma

Katolik abad pertengahan sebutan papae kemudian dikenakan kepada para uskup yang sejak

tahun 450 sebutan ini diberikan hanya kepada uskup di Roma sehingga uskup Romalah yang akhirnya disebut sebagai Paus.

14Lih. Eddy Christiyanto, Op.Cit., hl. 131-132

15Melalui dalil ini, Paus Gregorius VII berhak menguasai raja dan kaisar, jika raja dan kaisar

melanggar peraturan dan perintah Paus maka ia berhak mengampuni dan menghukum

mereka. Melalui Dictatus Papae ini, Paus Gregorius VII sangat berusaha mengungkapkan

(8)

kitab/teks pun dapat dianggap kanonik tanpa otoritas Paus (psl 17) ; Gereja Roma dan Paus tidak pernah salah seperti halnya kitab suci tidak pernah salah (psl 22)”.

Program lain yang dikembangkan oleh Gregorius VII dalam rangka mendukung teori kemahakuasaan Paus berlangsung di dalam gereja dan masyarakat yakni:

Pertama, dilanjutkannya reformasi di bidang kegerejaan yang sudah dirintis oleh para pendahulunya yakni melawan praktek perkawinan para imam (lebih dikenal sebagai: simony atau klerogamy) dan mendesak agar para Klerus harus hidup selibat.

Kedua, pertapaan-pertapaan harus berlangsung di bawah perlindungan kuasa Paus bukan di bawah kuasa perlindungan para kaisar dan raja. Ini berarti Gregorius berjuang dengan mati-matian untuk memperoleh kembali hak-hak dan tanggungjawab gereja sebelumnya yang telah dicaplok oleh para penguasa.16

Ketiga, ajaran tentang teori dua kekuasaan ditegaskan ulang dengan menekankan bahwa sebagai Paus, dirinya adalah wakil Kristus yang memimpin dan menghukum dunia serta lapangan dunia harus tunduk kepada lapangan rohani (gereja). Sikap ini dinyatakan Gregorius VII dengan merujuk kepada cara Kristus mempercayakan pedang atau kuasa rohani dan duniawi kepada Petrus dan para penggantinya. Melaluinya, segala kuasa dunia hanya dapat dikaruniakan oleh Paus (bnd. Luk. 22:38 ; Mat. 16:19)17

Keempat, ajaran purgatory (api penyucian) dimurnikan dengan tekanan supaya semua orang bebas dari hukuman api penyucian dan untuk ini setiap orang harus melaksanakan puasa (termasuk mengadakan mengadakan ziarah). Di dalam ajaran purgatory, Kristus dilukiskan sebagai seorang hakim yang penuh murka dan ditakuti. Keselamatan yang dilakukan Kristus hanya terjadi melalui sakramen dan jemaat tidak dapat langsung bergaul dengan Kristus. Kepercayaan kepada orang suci juga dapat memberi nilai lebih dalam iman dibanding perbuatan baik sehingga benda-benda peninggalan orang suci harus dipuja di dalam gereja.18

16Lih. F. Wright, Paralels of Power: An Introduction to Some Individuals of Church And

State (Bristol: John & Wright & Sons, 1996) hl. 36-37

17Lih. H.L. Helwig, Sejarah Gereja Kristus (Yogyakarta: Kanisius, 1992) hl. 104

18Lih. Drukkerij, Sakramen Panopotion di Dosa di Bagasan Huria Katolik (Pematangsiantar:

STFT, ttp) hl. 33-34 Dijelaskan dengan terang bahwa Paus bertindak dengan kuasa Tuhan sambil berkata: “ego absolve te a peccatis tuis” (artinya: saya berkuasa untuk menghapuskan dosamu). Menurut Drukkerij, pada akhirnya gereja Katolik sadar bahwa perkataan ini

merupakan kekejian bagi nama Tuhan. Lih. juga: Baumgarten, “indulgence” dalam: Addis E.W.

(9)

Kelima, Gregorius VII memasukkan unsur mistik kafir dalam liturgy gereja. Indikasi ini dikuatkan oleh berkembangnya kecenderungan di dalam liturgy aliran mistik. Misalnya, masa abad pertengahan kuat anggapan bahwa di dalam sakramen kuat misteri (rahasia Allah yang tersembunyi) Allah yang tidak dapat dijelaskan sehingga melaluinya jemaat wajib menerima dan mempercayai unsur misteri Allah sebagai suatu kebenaran. Jemaat harus tetap menerima dan mempercayai unsur misteri ini dan menaati hukum gereja agar tetap berada pada persekutuan Anugerah.19

Kesinambungan Teori Kemahakuasaan Paus

7. Cita-cita kepemimpinan Gregorius VII, ini kemudian dilanjutkan oleh penggantinya yakni Paus Alexander II (yang juga disebut sebagai Paus Urbanus II, 1088-1099). Sebelumnya Paus Alexander II adalah seorang biarawan Prancis yang di dalam masa kepemimpinannya ia kuat memperjuangkan supaya Paus (bukan kaisar dan raja) yang mengangkat uskup dan pimpinan biara. Menurutnya, hanya Pauslah yang berhak mengambil keputusan terakhir di dalam gereja dan keputusan itu tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Masa kepemimpinan Paus Alexander II, pembaharuan gereja berlangsung semakin kuat. Keadaan yang turut mempengaruhinya adalah besarnya kerugian dialami oleh dunia Barat (mengorbankan uang dan darah/nyawa) akibat dampak perang salib di mana perang salib bertujuan untuk merebut kembali tanah dan tempat di mana Kristus pernah hidup, menderita sengsara, wafat dan dimakamkan. Melalui konsili Clermont (1095), Paus Alexander II mengerahkan umat Kristen mengangkat perang salib untuk merebut tanah suci dari pasukan Islam khususnya merebut makam Kristus dari tangan pasukan Islam. Untuk merekrut sebanyak-banyak orang kepada rencana ini, Alexander II menjanjikan surat penghapusan siksa (indulgensia) sebagai imbalan amalan istimewa bagi mereka.20

Masa kepemimpinan Paus Innocentius III (1198-1215),21 ia sangat memperjuangkan agar gereja lepas dari pengawasan pemerintahan Negara. Dalam usaha ini, Innocentius III menjadikan organisasi curia sebagai pusat badan pemerintahan gereja yang memungkinkan gereja dapat berkembang secara sistematis. Melalui system ini, diberikan hak kepada gereja secara lebih luas dapat mencampuri seluruh kehidupan masyarakat. Namun oleh

19Lih. H.L. Helwig, Op.Cit., hl. 92-93

20Lih. John M.T. Barton, Penance and Absolution (New York : Hawthon Books Pubhlisher,

1961) hl. 146. Nyatanya, banyak orang terdorong ikut perang salib (crusade) disebabkan oleh berbagai motif yang kurang suci. Motif untuk mendapatkan surat penghapusan siksa (indulgensia) adalah salah satu motif yang paling digemari yang dijanjikan oleh Urbanus II (Paus Alexander II). Pada setiap orang yang ikut bertempur dalam perang salib ditempelkan sebuah salib dari kainmerah pada bahu atau dada sebagai tanda bahwa mereka maupergi merebut Yerusalem tempat Yesus disalibkan.

21Nama asli Innocentius adalah Lotario dei Conti di Segni. Ia lahir dari keluarga bangsawan Italia

(10)

ajaran gereja yang sangat konservatif masa kepemimpinannya, situasi ini sangat mempengaruhi gereja tidak menyentuh segenap lapisan masyarakat yang bertingkat-tingkat, bahkan gereja justru mempertajam ajarannya mengatakan bahwa: “keadaan struktur masyarakat yang berlapis sangat mencerminkan kehendak Allah”. Melalui konsili Lateran IV (1215), Innocentius menetapkan undang-undang bagi setiap kehidupan gereja dalam hubungannya dengan politik financial. Artinya melalui kebijakan ini, indulgensia semakin dipertajam posisinya dalam gereja. Pernyataan Innocentius III ketika itu adalah: “Paus kurang besar dari Allah Bapa tetapi lebih besar daripadamanusia. Paus bukan hanya wali Petrus, tetapi wali Kristus sendiri dan sendirinya raja/kaisar menjadi wali Paus yang diangkat untuk mengurus perkara-perkara duniawi”.22 Paus menetapkan bahwa hanya ada satu gereja yang universal dan segala sesuatu yang berada di luarnya sama sekali tidak ada keselamatan. Melalui pernyataan ini, Paus menjadi sangat ditakuti, di mana Paus menekankan bahwa setiap raja dan kaisar harus tunduk dan taat kepada perintah dan titah Paus. Negeri,mahkota dan kuasa yang mereka miliki adalah karunia yang diterima mereka dari tangan Paus.

Pada masa kepemimpinannya, Innocentius turut mengobarkan api perjuangan perang salib. Motivasi yang paling kokoh baginya adalah untuk memajukan perniagaan pelabuhan besar Venesia (Italia) yang bersaingketat dengan Byzantium (Turki) ketika itu. Tujun mencapai tujuan ini, ia menetapkan pernyataan penting yakni:

“barang siapa ikut dalam perang salib, ia akan mendapatkan penghapusan siksa juga akan mendapatkan pengampunan dari hukuman siksaan api penyucian (purgatory). Sedangkan orang yang hanya mengirim seorang penggantinya, juga akan mendapat indulgensia yang mutlak itu. Sebagai bukti kepada mereka yang ikut dalam perang salib, kepadanya diberikan sepucuk surat, yaitu: surat penghapusan siksa (indulgensia)”.23

Menurut F. Richard Wright, ternyata pernyataan Innocentius ini sangat didasarkan pada pemahaman doktrin gereja ketika itu yang meyakini bahwa gereja memiliki satu harta yang besar yakni: “perbuatan baik orang-orang suci yang melebihi syarat-syarat yang dituntut Tuhan”. Dengan memakai harta ini maka gereja bisa melepaskan jiwa-jwa tertentu dari api penyucian sehingga mereka dapat masuk ke surga tanpa melalui penyesalan dan pertobatan.24

22Henry C. Sheldon, History of The Christian Church, Vol II: The Mediaeval Church

(Massachusetts Publisher, 1988) hl. 153-154

23Jhon M.T. Barton, Op.Cit., hl. 139

24F. Richard Wright, Op.Cit., hl. 68-69. Innocentius juga memperebutkan kuasa kepemimpinan

(11)

8. Gereja dan Negara adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam peradaban Eropa abad pertengahan, keduanya berasal dari Allah. Keduanya menuntun manusia ke satu tujuan yang sama baik dalam bidang kodrati maupun adikodrati, duniawi maupun surgawi. Inilah cita-cita abad pertengahan, “reduction ad unum” (penyusutan dua entitas menjadi satu kesatuan). Kesatuan dan keutuhan agama Kristen menemukan ungkapan politiknya dalam sepak terjang kekaisaran. Kekaisaran berkewajiban melindungi dan membantu Gereja melaksanakan misi utamanya. Sama halnya dengan umat Israel yang tidak mengenal pemisahan agama dan kerajaan, demikian berulang pada abad pertengahan yang belum mengenal adanya pemisahan antara kedua lembaga ini, Gereja dan Negara. Tetapi di dalam prakteknya akan nampak dalam sejarah abad pertengahan bahwa tugas utamanya ialah melayani pelbagai jenis peribadatan dan kultus sedang hal-hal lainnya menjadi wewenang kaisar. Kaisar Karolus Agung sering mengintervensi masalah-masalah gerejawi antara lain kasus ikonoklasma, menominasi para petugas Gereja pendidikan para calon imam, tata pemerintahankeuskupan, administrasi harta benda Gereja, investiture, perang-perang salib dan lain-lain sekalipun kata terakhir dari Paus “Paus dikurung dalam sakristi”. Entitas yang sedemikian rupa menyimpan kekuatan-kekuatan yang sesewaktu bisa memicu konflik di antara keduanya, dan itulah yang sering terjadi pada abad sebelas sampai ketigabelas. Salah satu pemicunya adalah sebab kaisar memiliki kekuasaan untuk menominasi Paus dan juga mengangkat uskup-uskup. Gereja sudah terperangkap ke dalam suatu system ketergantungannya kepada kaisar. Para uskup bukan hanya memiliki kekuasaan spiritual di daerahnya, tetapi jugta dilimpahi tugas mengatur serta mengurus kekayaan duniawi lainnya. Para uskup harus melayani pada waktu yang sama kepentingan Paus dan kepentingan kaisar.

Antara Regnum Imperium dan Sacerdotium

(Kerajaan Kekaisaran Dan Kerajaan Keimamatan)

8. Nampaknya menjelang akhir abad pertengahan (abad XIV), periode ini merupakan kurun waktu di mana titik balik yang sangat menentukan terhadap kepemimpinan gereja dalam hubungannya dengan kekaisaran (kepemimpinan Negara). Secara khusus terhadap politik kenegaraan (munculnya semangat nasionalisme), sepanjang abad XIV menjadi sangat menentukan bagi eksisnya kedaulatan raja dan kaisar lepas dari pengaruh gereja (kuasa kepemimpinan Paus). Artinya, secara umum masyarakat Eropa (Barat) sedang menyulut semangat perubahan menuju suatu kondisi yang lebih otonom dan secara bertahap menyingkirkan dominasi kaum berjubah (para imam) di bidang politik kenegaraan. Keadaan ini didukung oleh konflik secara umum abad XIV yakni tekanan terus menerus kaisar Frederick II dari Jerman atas Italia. Akhirnya, kematian kaisar Frederick II mempengaruhi lepasnya Sicilia dan Napoli dari pengaruh kepemimpinan Paus dan hal ini sangat mengkhawatirkan para pejabat Negara kepausan. Melemahnya

(12)

pengaruh kepemimpinan gereja atas Eropa juga didukung oleh menguatnya dominasi Francis di Eropa daratan. Akhirnya, akibat situasi ini terjadilah konflik besar antara kerajaan kekaisaran (regnum imperium) dengan kerajaan keimamatan (sacerdotium).25 Bila masa sebelumnya para Paus berfungsi sebagai “ahli-ahli hukum”, akhirnya mereka melihat gereja dari struktur eksternal dan yuridisnya ketimbang dari aspek penyelamatan. Artinya, para Paus melihat gereja dari sudut pandang keduniawian dan kewibawaan yang harus diperlengkapi dengan kekuasaan dan kekayaan ekonomis. Pada akhirnya Paus menjadi boneka kekuasaan para raja dan kaisar.26 Untuk memperjuangkan kembalinya cita-cita kemahakuasaan (mahkota) Paus atas dunia sama seperti masa kepemimpinan Paus Gregorius VII dan Innocentius III, maka Paus Bonifacius VIII melalui program politiknya (Bulla Unam Sanctam27) berjuang mendapatkan kembali pengaruh superioritas kekuasaan

gereja walau tidak berhasil (sia-sia). Atas perjuangan ini, Paus Bonifacius (tanggal 7 September 1303) mendapat tamparan serta dipenjarakan oleh raja Philips IV, setahun setelah Bulla Unam Sanctam28 diumumkan. Ternyata,

tekanan yang hendak dinampakkan oleh Bulla Unam Sanctam hanya satu yakni: “hanya ada satu gereja Katolik yang kudus dan am di luarnya tidak ada keselamatan dan penebusan dosa”.

Dampak dari konflik antara Paus dan kaisar ini maka sepanjang masa abad XIV, dalam gereja disebut sebagai: “Pembuangan Babel Gereja” (The Babylonian Captivity). Keadaan kepemimpinan gereja semakin diperburuk oleh sifat buruk Paus Urbanus VI ( pengganti Paus Bonifacius VIII). Terpilihnya Urbanus VI sebagai Paus oleh gereja umumnya dianggap sebagai penyebab munculnya bibit konflik dan skisma besar di dalam gereja. Sifat buruk Paus ini, oleh para cardinal digambarkan sama seperti monster yang telah dijangkiti virus rabies.29

Atas keadaan ini, maka tanggal 20 September 1370 para cardinal mengadakan sidang pemilihan darurat untuk menggantikan Urbanus VI. Pada sidang itu, Paus Robertus (Paus Klemens VII) dari Jenewa terpilih menjadi Paus menggantikan Urbanus VI. Pemilihan ini mengakibatkan Eropa (gereja) 25Lih. Eddy Christiyanto, Op.Cit., hl. 195-197

26Julis Bodensieck (ed), Encyclopedia of The Lutheran Church-Vol. III (Minneapolish:

Augsburg Pubhlising House, 1965) hl. 2425.

27Kata “unam sanctam” berasal dari kata “una” dan “sancta” yang dalam bahasa Latin kata:

“una” berarti “satu” dan “sancta” artinya “kudus”. Jadi “una sanctam” artinya: “satu yang kudus”. Istilah ini kemudian dirujuk kepada gereja. Satu bentuk yang kemudian digunakan dalam berbagai diskusi oikumenis dengan merujuk pada unsure alamiah gereja Kristen. Lih. Julius Bodensieck, Op.Cit., hl. 2427

28Bulla Unam Sanctam memuat empat hal penting, yakni: pertama, kesatuan gereja bahwa di

luar gereja Katolik tidak ada keselamatan. Kedua, gereja memiliki dua bilah pedang yakni: yang spiritual dipegang oleh imam (pemegang otoritas tertinggi) dan yang material dipegang oleh yang temporal (otoritas kaum awam yang diawasi oleh gereja). Ketiga, kekuasaan gerejawi yang lebih rendah dihakimi oleh kekuasaan gerejawi yang lebih tinggi (misalnya: uskup kepada Paus). Keempat, demi keselamatan kekal, mutlak perlu setiap insan patuh dan taat kepada Paus. Lih. Eddy Christiyanto, Op.Cit., hl. 198-199

(13)

terpecah menjadi dua bagian (pihak mendukung Kelmens II dan pihak yang mendukung Urbanus VI)30. Biasanya yang menjadi factor siapa mendukung siapa adalah kepentingan nasional. Perpecahan sangat diperkeruh oleh ekskomunikasi masing-masing pihak demikian dengan tidak adanya keinginan dan semangat untuk memulihkan kesatuan gereja.

Untuk memulihkan perpecahan gereja, kemudian Paus Gratianus (1401-1410) mengeluarkan sebuah dekrit yang disebut sebagai Decretum Gratiani

(keputusan-keputusan Paus Gratianus). Keputusan-keputusan ini dirangkum dari kumpulan-kumpulan hukum di dalam gereja abad pertengahan yakni:

Concordantia Discordantium Canonum (1159) di mana kumpulan hukum ini sudah diwariskan sejak abad XII. Oleh Paus Gratianus, semua keputusan-keputusannya harus dianggap bersifat hukum dan sangat berjasa untuk mempertahankan keunggulan (superioritas) kekuasaan gereja Roma. Beberapa isi dekrit ini yakni:“ Pertama, Paus berhak mengadili semua orang, tetapi Paus tidak dapat diadili oleh siapa pun selama ia tidak menjauhkan dirinya imannya. Kedua, Keputusan-keputusan konsili umum tidak dpaat sesat, hanya Paus yang dapat memanggil satu konsili”. Dari isinya, dekrit ini tetap merujuk pada kewibawaan gereja ada di dalam genggaman tangan Paus. 31

Praktek kepemimpinan Paus hingga akhir abad pertengahan merupakan bagian yang sangat tidak terpisahkan dengan berlangsungnya reformasi Protestan (abad XVI) dalam gereja. Nyata selanjutnya bahwa gerakan reformasi Protestan merupakan ancaman yang sangat mendalam bagi kepemimpinan Paus dalam gereja di Eropa.32 Para penerus Paus Leo X (1513-1521) seperti: Paus Adrian VI (1522-1523), Paus Klemen VII (1523-1534) juga tidak menampakkan sikap yang lebih baik dari Paus Leo X untuk memimpin gereja. Corak yang paling menonjol dari pola kepemimpinan Paus adalah masa ini adalah dibiarkannya bermacam-macam tahyul berkembang bahkan merajalela dalam kehidupan jemaat. Pendidikan para Klerus tidak diperhatikan sehingga mereka mengalami hidup yang sangat miskin walau pada sisi lainnya korupsi turut merajalela di dalam gereja. Mengingat kelobaan Paus dan Klerus yang tidak putus-putusnya membutuhkan banyak sekali uang maka tidaklah mengherankan bila penjualan indulgensia kemudian dijadikan sebagai perdagangan gereja secara internasional.

30Wilayah yang mendukung Klemens II meliputi: Prancis, Burgundy, Savonia, Napoli, Spanyol

dan Skotlandia. Sedangan wilayah yang mendukung Urbanus VI meliputi: Inggris, Jerman dan sebagian besar Italia.

31Lih. Julius Bodenjieck (ed), Encyclopedia of The Lutheran Church: Vol I (Minneapolish:

Augsburg Publishing House, 1965) hl. 672. Dalam buku ini dijelaskan bahwa kata: decretum

(decree/decision:keputusan) adalah sebuah formulasi yang ditetapkan oleh seseorang dalam kekuasaan. Misalnya: dekrit/maklumat, pengumuman resmi, hukum dalam gereja. Dalam istilah teologi, “decretum” mengandung maksud: “kehendak Allah” yang kekal. Misalnya: keseluruhan rencana keselamatan Allah.

32Dari persfektip inilah kemudian penulis akan mebahas corak kepemimpinan Luther dalam

(14)

9. Pada uraian di atas, telah dijelaskan bahwa perkembangan konsep otoritas kepemimpinan Paus dalam gereja semakin menguat ketika Gregorius Agung mengeluarkan kebijakan tentang “Dictatus Papae” abad XI. Bila keadaan ini ditelusuri selanjutnya, khususnya terhadap reaksi para penguasa Eropa, maka secara umum mereka (raja dan kaisar) menampakkan reaksi yang berbeda terhadap gereja (melalui: “dictatus papae”).

Sidney Z. ehler/John B. Morral, memberikan beberapa contoh kasus reaksi kaisar terhadap program Politik Paus Gregorius VII yakni:

Pertama: reaksi yang dilakukan oleh raja Henry IV dari Jerman. Ia memanggil semua bishop di seluruh wilayahnya untuk mengadakan suatu pertemuan di Worms, di mana padapertemuan ini Raja Henry IV menyatakan penolakannya terhadap ekskomunikasi yang dikenakan oleh gereja kepadanya pada bulan Pebruari 1076. Pada pertemuan itu, Henry IV berhasil menghasut para bishop di Jerman untuk menggagalkan displin kepausan. Pendirian gereja yang diberlakukan di Jerman ketika itu bahwa teori “dua pedang” dimanfaatkan sebagai bukti untuk menguatkan klaim kepausan sebagai lembaga “yang berkuasa penuh” melampaui semua kekuasan yang ada ketika itu. Pada hal raja Henry IV memahaminya hanya sebagai gagasan tentang hubungan antara gereja dan negara.33

Kedua, perselisihan antara Paus dan raja menghasilkan pertentangan antara keduanya. Raja Henry II (penguasa Inggris) dengan Thomas Becket (seorang uskup kepala di Canterbury) berdebat secara berlebihan mengenai disiplin gereja. Raja Henry II menuduh Thomas Becket menerapkan hokum gereja secara tidak sopan tehradap Negara (raja). Dampak perdebatan sengit ini dicoba didamaikan melalui kesepakatan antara gereja dan Negara pada pertemuan keduanya di Clarendon (28 April 1164). Namun hasilnya tidaklah maksimal, perdebatan raja dan uskup terus berkepanjangan hingga masa kepemimpinan Raja Alexander III berkuasa diInggris. Pendirian Thomas Becket tetap mengakui kuasa gereja di atas Negara di Inggris yakni Paus tetap sebagai lambing dari hukum kanon.34

Ketiga, pertemuan para kaisar Eropa di Besancon (sebuah wilayah di kekaisaran Burgundy) membahas hukum pembebasan Paus terhadap bishop kepala Lund dari Skandinavia yang dipenjarakan di Jerman oleh kaisar Adrian IV. Menanggapi keputusan hukum kanon Paus, kaisar Frederick Barbarosadari Jerman mengeluarkan sebuah surat edaran (1157) yang isinya menekankan wibawa kepemimpinan kaisar yang lebih tinggi dibanding para uskup bahkan Paus sendiri. Atas surat edaran Frederik ini, pada umumnya kaisar di Eropa mendukung bahkan secara khusus di Jerman surat edaran ini seakan memberi dorongan semangat bagi perlawanan kepada Paus yang

33Sidney Z. ehler/John B. Morral (ed), Church and State Throught the Centuries (London:

Burns & Oates, 1954) hl. 45-46

(15)

telah berlangsung selama 80 tahun lamanya di sana. Sikap ini ditunjukkan oleh Raja Henry IV dengan memperjuangkan wibawa kepemimpinan raja sebagai sesuatu yang bertanggungjawab langsung kepada Allah tanpa melalui Paus.35

Keempat, perselisihan sengit antara John Lackland (Raja Inggris) dengan Paus Innocentius III (1205) tentang pergantian bishop kepala Canterbury. Raja John Lackland bersama para biarawan Inggris sebelumnya telah sepakat memilih seorang bishop kepala di Canterbury yang berasal dari salah seorang anggota biarawan Inggris. Namun secara sepihak, Paus Innocentius III membatalkan keputusan itu dan memilih serta menetapkan Stephen Langton sebagai bishop kepala di Canterbury. Atas sikap feodalisme Paus ini, John Lackland memutuskan menolak penetapan Paus sehingga tahun 1208, Paus menempatkan Inggris sebagai wilayah yang berada di bawah hukum gereja Roma Katolik.36

Lebih seabad lamanya, kebekuan sikap Paus terhadap para raja dan kaisar berlangsung di Eropa. Sejak meninggalnya kaisar Frederick II (1216-1260) hingga pemahkotaan kaisar Charles dari Bohemia (1355), Paus tidak pernah menganugerahkan mahkota kekaisaran kepada siapa saja. Selama seabad juga, tidak pernah nampak pengaruh politik seorang kaisar kepada kepemimpinan Paus di Roma. Namun, oleh intervensi Paus terhadap pemahkotaan pangeran Lewis (Bavaria-Jerman) sebagai raja di Jerman sangat mempengaruhi sikap raja Lewis menyerang Italia dan merebut Roma. Penyerangan ini tidak lebih sebagai bentuk perlawanan raja Lewis menentang kebijakan Paus yang telah mencabut mahkota kekaisaran darinya hingga akhirnya Raja Lewis menjamin mahkotanya sebagai pemimpin/kaisar di Jerman. Setelah beberapa usaha perdamaian dilakukan dengan Paus, Lewis menghasut para penguasa wilayah di Jerman dengan menekankan bahwa jika seorang calon yeng terpilih sebagai penguasa, otomatis ia menjadi raja tanpa membutuhkan persetujuan Paus. Hingga meninggalnya (1347), Lewis tetap menentang Paus. Selanjutnya, Lewis digantikan oleh pangeran Charles dari Bohemia dengan restu Paus namun pangeran Charles menolak bersedia datang ke Roma untuk dimahkotai oleh Paus. Perdamaian akhir disepakati mengatasi kebekuan antara Paus dengan kaisar Jerman adalah: “kaisar harus menyerahkan Italia kepada Paus dan paus kehilangan kebijakan serta pengaruh poltiknya di Jerman”.

Perkembangan kemudian terhadap kepemimpinan kaisar dan kepemimpinan Paus hingga akhir abad XVI di dalam gereja dan dunia adalah tenggelamnya dominasi gereja terhadap para kaisar dan raja akibat munculnya jaman baru sebagaimana disebut sebagai: “renaissance atau abad modern”. Renaisance

35Lih. Sidney Z. Ehler/John B. Morral, Op.Cit., hl. 60-61

36Earle E. Caims, Christianity Through the Centuries (Michigan: Zondervan Publishing House,

(16)

sangat mempengaruhi berlangsungnya polarisasi (pembaharuan) dalam berbagai bentuk secara menyeluruh.

Sebuah Analisa dan Penilaian

10. Agaknya, pengalaman Israel dapat diambil sebagai acuan sekarang dalam memahami pengalaman Gereja tentang kepemimpinan masa abad pertengahan.

a. Saat memasuki sejarahnya dalam kepemimpinan Musa/Josua, para Hakim dan para raja, semuanya menunjukkan betapa eratnya dan menyatunya hubungan lembaga kerajaan dan lembaga keagamaan sesuai pengalaman bangsa Israel dalam kehidupan berbangsa dan beragama (satu bangsa yakni bangsa Israel dan satu agama yakni agama YHWH Yang monoteistis). Pada awalnya, sesuai pengalaman Israel selama kepemimpinan Musa dan Yosua, mereka percaya bahwa teokrasi (kerajaan ilahi), YHWH memimpin mereka secara langsung. Namun dalam sejarah Israel ada perubahan yang mencolok dari bentuk teokrasi ke bentuk monarki (hierarki kerajaan).37 Dalam kedua bentuk itu, raja-raja manusia seperti: Daud, Salomo, bahkan raja bangsa di luar Israel seperti raja Koresy sebagai wakil dari kekuasaan rajani Allah tetap menjadi bagian dari iman Israel. Kekuasaan dan kewibawaan adalah milik Allah. Namun dalam bentuk yang pertama, tradisi keluaran, keyakinan Musa melihat kekuasaan ilahi itu dimanisfestasikan dengan campur tangan Allah secara langsung di dalam masalah penciptaan dan dalam sejarah manusia. Dalam tradisi rajani, Roh Allah tinggal bersama dengan raja urapan terebut. Ketika para wakil Allah bertindak otokratis/diktatoris,maka para nabi Allahmemperingatkan mereka dengan keras serta mengancam mereka dengan hukuman yang dating dari Allah sendiri. Karena mereka diurapi oleh Allah untuk menegakkan keadilan dan perdamaian dengan keras serta mengancam mereka dengan hukuman yang bakal datang dari Allah sendiri. Karena mereka diurapi Allah untuk menegakkan keadilan dan perdamaian dengan bijaksana danpenuh tanggungjawab, maka mereka harus mempertanggungjawabkan cara mereka memerintah itu. Allah tetap menjadi raja dan gembala yang baik untuk umat Israel dan bangsa-bangsaNya di dunia ini. Bahkan kritik dan kecaman para nabi tidak selalu diindahkan oleh para wakil Allah itu. Suatu kenyataan historis dalam sejarah Israel dan bangsa lain bahwa: “raja-raja dinasti Daud ternyata bertingkah laku seperti pada umumnya raja-raja di dunia, mereka bukanlah orang-orang suci, di bawah pemerintahan mereka, orang-orang Israel terancam menjadi seperti orang-orang lain. Nabi Natan mengintervensi rencana Daud untuk membangun sebuah bait suci (2 Sam. 7:1-16), pengamatan nabi berikutnya seperti Yesaya pada jamannya (740 SM hingga akhir abad ini) tertuju pada peristiwa politis dan sekaligus mengarahkan perhatian pada pekerjaan-pekerjaan Allah di masa depan.

37Lih. Hans Ruedi Weber, Kuasa – Sebuah Studi Teologi Alkitabiah (Jakarta: BPK Gunung

(17)

Yesaya melihat Allah sebagai Raja, bertakhta di bait suci sebagai yang ilahi yang kemuliaanNya memenuhi seluruh dunia (Yes. 6). Sebagai nabi sang Raja itu, “Yesaya mengumumkan penilaian pada semua penguasa, baik di Yerusalem dan di antara bangsa-bangsa yang dengan sombongnya menyalahgunakan kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka”. Kedekatannya dengan istana raja-raja dinasti Daud tidak mengurangi kebebasannya untuk menyampaikan kritik dan hukuman Allah sang Raja itu (I Raj. 22:19 ff). 38

b. Pengalaman Yesus dan para pengikutNya dalam PB. Nubuatan Mesianis nyata dalamdiri seorang “Raja di kayu salib”. Pribadi Yesus yang telah memasuki sejarah manusia, kedatanganNya sejak awal telah mengundang rasa curiga bagi manusia yang sudah terbiasa melihat dalam diri seorang mesias sebagai kekuasaan rajani Allah saat itu. Misalnya, pernyataan orang-orang majus yang memunculkan rasa takut raja Herodes sebagai penguasa politis dan seluruh Yerusalem: “di manakah Dia, raja orang Jahudi yang baru dilahirkan ?” (Mat 2:2 ff). Raja yang baru lahir akan meneruskan tradisi rajani, tetapi dengan cara yang sangat unik: “sebab, ketika pada akhirnya menemukanNya di takhtaNya, maka tahkta itu adalah salib”. Demikian tanpa mengindahkan protes paraimam agung, Pilatus menyuruh memasang tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: “Yesus, orang Nazareth, Raja orang Yahudi” (Yoh. 19:19 ff). Yesus nyata tidak pernah memperkenalkan diri sebagai raja, walau tidak menolaknya, ketika Dia ditanya oleh Pilatus sebagai wakil dari kekuasaan Romawi di Palestina, apakah Dia raja orang Yahudi itu: “Engkau sendiri mengatakannya” (Mat. 27:11). Para pemimpin Yahudi menuduh Yesus sebagai pemberontak yang secara politis berbahaya, seorang yang menyesatkan bangsa mereka, dan melarang memyar pajak kapeada kaisar, yangmengangkat diriNya sebagai Kristus dan Raja (Luk. 23:2). Kalau para pemimpin bangsa Yahudi beserta para penguasa bangsa Romawi memanggil Yesus Raja yang memberontak terhadap kaisar Roma, tetapi Gereja mula-mula jarang melakukan hal yang sama.39

c. Kostantinus Agung menjadi orang Kristen pertama (melalui pertobatannya, 27 Oktober 312) dari para penguasa tertinggi kekaisaran romawi. Sebaliknya, ungkapan Eusebius Hironimus (akhir abad IV) melalui sebuah suratnya kepada muridnya dapat memberi gambaran agama Kristen pasca penganiayaan: “panji-panji laskar Romawi dihiasi dengan salib, yang dari sini berasal keselamatan, mengiasi jubah para raja dan mahkota yang dibuat dari ratna mutu manikam”. Eusebius Caesarea (abad IV) mengivertarisasi dengan sangat antusias kejayaan Gereja akibat dukungan Konstantinus Agung, antara lain: “membangun kembali gedung-gedung Gereja yang sempat dirusak, mensyahkan undang-undang demiorang Kristen, para uskup menerima penghargaan

(18)

dan hormat dalam bentuk uang yang berasal dari lingkungan kekaisaran”. Eusebius sebagai sahatab dekat Konstantinus Agung sangat menjunjung tinggi: “misi providensial kepahlawanan kaisar”. Antara lain dalam konsili Nicea 325, namun pertobatan Konstantinus Agung dapat juga dilihat sebagai pintu gerbang bagi pengkhianatan Gereja terhadap Injil karena sikap asasi gereja ( (yang tidak pernah menggunakan kukuasaan duniawi) telah diganti oleh sikap yang cenderung untuk menggunakan kekuasaan mencapai tujuan tertentu.

d. Terhadap kepemimpinan Gereja, di dapat hikmat bahwa: “perebutan kekuasaan antara dua lembaga Gereja dan Negara akhirnya sangat memperlemah kedudukan dari kedua lembaga itu, sementara kekuatan yang baru muncul di Eropa yakni renaissance dan semangat nasionalisme yang memunculkan paham tentang negara “awam” yang tidak mengenal otoritas yang lebih tinggi. Intinya, ketidakberdayaan teokrasi kepausan menjadi tanda berakhirnya ciri-ciri khas abad pertengahan Gereja Barat dan mulainya jaman baru yakni jaman yang menginginkan kebebasan mutlak dari hal-hal kodrati dan memisahkan hal-hal yang profan dan yang sakral, memisahkan keagamaan dari kegiatan-kegiatan insani.

Kesimpulan

11. Menelusuri situasi yang melatarbelakangi praktek kepemimpinan Gereja (Katolik) abad pertengahan, usaha ini tentu merupakan sesuatu yang mengasyikkan. Hal ini ditandai dengan fakta bahwa Gereja mengalami perubahan dalam proses perjumpaannya dengan manusia dan dunianya. Dari proses dan perjumpaan itu, terhadap kepemimpinan Gereja abad pertengahan dapat dikatakan bahwa:

a. Kepemimpinan Gereja abad pertengahan nyata telah melewati suatu masa pembentukannya yang memberikan warna bagi Gereja sendiri dalam sejarahnya. Di tengah perkembangan yang terjadi di sekitarnya, Gereja sangat membutuhkan suatu pembaharuan bahkan perubahan radikal pada soal eksistensialnya (khususnya pada soal kepemimpinannya). Kebutuhan inilah yang sangat ditandai pada realisasi kepemimpinan gereja masa abad pertengahan. Bercermin dari refleksi ini maka kebijakan-kebijakan kepemimpinan Gereja masa sekarang, itu sangat dipengaruhi oleh keputusan yang diambil sesuai dengan jaman ini.

(19)

c. Sifat inilah yang diterapkan oleh gaya kepemimpinan Kaisar Konstantinus Agung dan kaisar-kaisar Konstantinopel dalam Gereja abad pertengahan. Pada konteks masa kini, caesaropapisme terjadi jika penguasa sipil mencampuri bahkan mengatur urusan serta masalah intern lembaga keagamaan, sehingga lembaga itu tidak mandiri dan bahkan menjadi alat bagi pendukung kekuasaan pemerintah.

KEPUSTAKAAN

Barton, John M.T.

Tt : Penance and Absolution (New York : Hawthon Books Pubhlisher)

Bodensieck, Julis (ed),.

1965 : Encyclopedia of The Lutheran Church-Vol. III (Minneapolish:

Augsburg Pubhlising House)

(20)

---1965 :Encyclopedia of The Lutheran Church: Vol I (Minneapolish: Augsburg Publishing House)

Christiyanto, Eddy.,

2001 : Gagasan Yang Menjadi Peristiwa: Sketsa Sejarah Gereja Abad I-XV (Yogyakarta: Kanisius)

Caims, Earle E.

1972 : Christianity Through the Centuries (Michigan: Zondervan Publishing House)

Drukkerij,

Tt : Sakramen Panopotion di Dosa di Bagasan Huria Katolik (Pematangsiantar: STFT)

E.W., Addis & Arnold T (ed),.

1960 : A Catholic Dictionary Theology (San Francisco: Harper & Row Pubh)

Helwig, H.L.

1992 : Sejarah Gereja Kristus (Yogyakarta: Kanisius)

Heuken, A.

1992 : Ensiklopedia Gereja II H – Konp (Yogyakarta: Cipta Loka Caraka)

Pietro, P,

1951 : Dictionary of Dogmatic Theology (America: The Bruce Publishing House)

Schaff, Philip

1950 : History of the Christian Church, Vol II: Anti Nicene

Christianity AD 100-325 (Michigan: WmB Erdmans Pubh. Co)

Sheldon, Henry C.,

1988 : History of The Christian Church, Vol II: The Mediaeval Church (Massachusetts Publisher)

Sidney Z. ehler/John B. Morral (ed)

1954 : Church and State Throught the Centuries (London: Burns & Oates)

Weber, Hans Ruedi.,

1993 : Kuasa – Sebuah Studi Teologi Alkitabiah (Jakarta: BPK Gunung Mulia)

Wright, F.

1996 : Paralels of Power: An Introduction to Some Individuals of

Referensi

Dokumen terkait

proses penyulingan dimana tanaman atsiri dimasukkan dalam ketel yang berisi air dan dipanasi, antara tanaman atsiri dan air dibatasi saringan berlubang, kemudian

5). Suasana ruang sama dengan Masjid Quha, yaitu kesederhanaan tidak menampilkan ornamen. Ada keseimbangan adanya simetri bentuk dan ukuran pada ruang shalat, orien-. tasi mengarah

agian baratdaya Kalimantan tersusun atas kerak yang stabil (Kapur Awal) sebagai bagian dari Lempeng Asia Tenggara meliputi baratdaya Kalimantan, Laut Jawa bagian

PT Aquafarm tidak mengetahui adanya persyaratan untuk menyerahkan usulan tersebut ke CB bersama dengan deskripsi rinci mengenai siklus produksi unit pembudidayaan dan

Pada penelitian yang dilakukan oleh Elizaandayni Ginting , dengan judul “ Aplikasi Penjualan Berbasis Web (E- commerce) Menggunakan Joomla Pada Mutiara Fashion ”

Pada masa tersebut merupakan masa yang berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian makanan pendamping ASI dapat menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diare ataupun penyakit

Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwanta (2010) yang menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi bobot kuning telur yaitu umur ternak, nutrisi dalam pakan, berat

Penelit ian ini m enggunakan m odel pem belaj aran learning cycle 7E pada kelas eksperim en dan m odel pem belaj aran learning cycle 5E pada kelas kont rol, agar