1. PENDAHULUAN
1.1 MASUKNYA BANGSA EROPA KE MALUKU
Indonesia memiliki alam yang menakjubkan dari bawah laut hingga langit yang membentang. Alam Indonesia yang luas dan memiliki keaneka ragaman hayati yang sangat beragam. Kekayaan alam Indonesia merupakan pilar negara untuk di jadikan modal negara. Hutan belantara, laut yang luas dan tanah yang subur membuat bangsa lain iri terhadap negeri ini. Tanah yang subur dengan berbagai sumber daya alam utama yang dari manfaatnya hampir semua bangsa di dunia ini membutuhkan. Hal ini membuat Indonesia lebih unggul dan kaya dibanding negara lain. Flora dan fauna yang hidup di hutan tropis negeri ini sangat unik. Flora Badak Cula Satu, Burung Cenderawasih, Burung Enggang, Tapir, Komodo, dan lain sebagainya. Tak kalah menakjubkan ragamnya flora di Indonesia, hutan tropis memberi kehidupan pada tumbuhannya seperti: pala, kelapa, tumbuhan rempah, cabai, cengkeh, kunyit, padi, bawang, dan lain sebagainya. Hal di atas menjadi ketertarikan bangsa Eropa untuk berbondong-bondong datang ke Nusantara.
Tak hanya ingin mencicipi khas Indonesia tetapi nyatanya bangsa Eropa ingin menguasai tanah Indonesia. Jaman kolonial membuat daerah penghasil rempah terjajah. Perdagangan ekspor menurun drastis akibat bangsa luar semakin banyak yang datang hingga menguasai daerah penghasil barang dagang tersebut. Butuh waktu yang lama untuk bangsa Eropa menduduki negeri yang kaya akan sumber daya alamnya ini. Misalnya, Belanda menduduki Indonesia selama hampir 350 tahun. Oleh karena itu, merupakan hal yang wajar apabila kebudayaan Indonesia ter-akulturasi oleh adanya budaya asing yang masuk.
peperangan pun terjadi dengan kerjaaan Ternate dan Tidore melawan Portugis dan Spanyol. Kedatangan Belanda pada tahun 1599 yang dianggap ancaman bagi Portugis yang mengontrol kekayaan alam di Maluku. Akhirnya dibuat VOC dan Inggris sempat menduduki Pulau Banda selama setahun. Kemudian Inggris juga hengkang dari Maluku karena diketahui membawa bibit pala untuk ditanam di Malaysia dan Sri Lanka. Keluar masuknya bangsa Eropa ke Maluku membuat masyarakat Maluku terintervensi budaya yang dibawa oleh bangsa Eropa tersebut. Akibatnya semakin terkikis budaya asli dengan masuknya budaya baru.
1.2 BUDAYA AMBON
Indonesia merupakan bangsa yang majemuk sehingga memiliki beragam budaya didalamnya. Aspek kehidupan yang bervariasi membuat setiap daerah menjadi tempat yang unik dan menarik untuk dipelajari. Bukti nyata adanya kemajemukan di Indonesia adalah terhamparnya dari Sabang sampai Merauke yang memiliki perbedaan aspek kehidupan budaya. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang menjadi sumber kekayaan Indonesia. Setiap masyarakat pasti memiliki budaya yang dianut. Jadi, tidak ada satupun orang yang tidak memiliki kebudayaan di negeri ini. Begitupun sebaliknya bahwa tidak akan ada budaya bila tidak ada masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa begitu besar kaitan kebudayaan dan masyarakat dan begitu juga sebaliknya. Kebiasaan masyarakat yang berbeda-beda di setiap daerah menyebabkan munculnya suku sendiri yang unik dan memiliki ciri khas masing-masing.
Maluku merupakan negeri kepulauan, pada umumnya penduduknya tinggal di pesisir pantai dan mudah terkena dampak oleh budaya baru yang masuk. Maka dari itu, bisanya penduduk yang di pesisir merupakan penduduk campuran (asli dan pendatang). Pendatang banyak berdatangan dari suku Bugis, Makasar, Buton, dan Jawa. Biasanya penduduk asli lebih banyak tinggal di daerah pegunungan. Pada umumnya bahasa-bahasa dari kepulauan Maluku termasuk bahasa-bahasa Austronesia, kecuali bahasa-bahasa-bahasa-bahasa di Halmahera, seperti misalnya bahasa Ternate dan Tidore.
Mayoritas mata pencaharian orang Ambon pada umumnya adalah bertani di ladang. Sekelompok orang membuka sebidang tanah di hutan dengan cara menabang pohon dan membakar batang dan dahan yang kering. Ladang yang dibuka, diolah dengan tongkat kemudian ditanami tanpa irigasi kemudian ditanami tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian. Makanan mayoritas orang Ambon adalah sagu, tetapi karena proses kemudahan akses mereka juga telah terbiasa makan beras meskipun sagu belum tergantikan secara menyeluruh. Pohon sagu tidak perlu ditanam dan dipelihara karen apohon sagu telah ebrkembang dan hidup di pulau Maluku serta di rawa-rawa. Daerah lereng gunung juga masyarakat menanam kentang walaupun hasilnya tidak banyak, kebiasaan menanam kentang ini berasal dari orang-orang Belanda, tanaman pengaruh orang Belanda lainnya adalah kopi yang banyak tumbuh di Losaba, Amahai, dan Manipa.
Penduduk juga menanam tembakau sendiri dan untuk dipakai sendiri, biasanya mereka menanam di pekarangan rumah, di bawah talang air sehingga apabilla hujan turun, air hujan tersebut langsung menyiram tanaman tembakau. Orang membuat tembakau dengan memotong-motong halus daun tembakau lalu menjemur di bawah matahari agar kering. Masyarakat juga menanam tebu, singkong, jagung, dan kacang-kacangan. Sedangkan buah yang ditanam biasanya adalah pisang, mangga, manggis, gandaria, durian, cengkih. Cengkih sangat mudah dalam perawatannya dan harganya cukup tinggi apalagi ketika jaman kolonial dahulu. Hasil bumi tersebut juga biasanya dijuall kembali dan hasil penjualan tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Penduduk yang berada di daerah pantai umumnya bekerja sebagai nelayan. Perahu dibuat dengan satu batang kayu dilengkapi dengan cadik, perahu ini dinamakan perahu semah. Perahu yang baik adalah perahu yang terbuat dari papan dan dibuat oleh orang Ternate, dinamakan pakatora. Perahu yang berukuran besar dinakamakn jungku atau orambi.
Desa adat suku Ambon dibangun sepanjang jalan utama antara satu desa dengan desa yang lain saling berdekatan atau dalam bentuk kelompok rumah yang dipisahkan oleh pertanian. Kelompok kecil dari rumah-rumah tersebut disebut “Soa”. Rumah asli Ambon hampir sama seperti rumah adat di Nias, Mentawai, Bugis, Toraja, dan suku lainnya di Indonesia. Dibangun dengan tiang tinggi merupakan ciri khas hampir semua rumah adat yang ada di Indonesia. Beberapa Soa yang letaknya berdekatan satu dengan yang lain dalam sebuah kampung yang disebut dengan “Aman”. Kumpulan dari beberapa Aman disebut “Desa” yang juga disebut sebagai Negari dan dipimpin oleh seorang Raja yang diangkat oleh klen atau fam tertentu dalam Negari. Pusat sebuah Negari dapat dilihat dengan adanya balai pertemuan, rumah raja, gereja, masjid, rumah ulama, toko, dan kandang hewan.
Dalam proses sosio-historis, “negari-negari” ini mengelompok dalam komunitas agama sehingga muncul dua kelompook masyarakat yang berbasis agama yang kemudian dikenall dengan nama Ambon Sarani dan Ambon Salam. Fathul (2013) mengemukakan bahwa pembentukan negeri seperti ini memperlihatkan adanya suatu totalitas kosmos yang mengentalkan solidaritas kelompok, namun pada dasarnya rentan terhadap kemungkinan konflik.
1.3 AKULTURASI DI AMBON
Akulturasi bukan hanya merupakan suatu dampak negatif tetapi suatu dampak positif dimana masyarakat berhasil menggabungkan dua budaya sekaligus. Akibatnya, masyarakat menjadi lebih kreatif dalam membuat suatu karya karena budaya yang diketahui merupakan budaya yang berbeda. Kesetiaan pada suatu budaya dipegang kuat oleh sistem masyarakat Indonesia, dengan tidak mengurangi rasa cinta budaya, masyarakat membuat perpaduan dua budaya dengan budaya asing yang sebenarnya, ini adalah suatu penemuan yang baru untuk masyarakat. Hasil perpaduan dua budaya dengan tetap tidak menghilangkan budaya asli disebut akulturasi budaya. Hasil akulturasi masyarakat saat ini kadang bisa menjadi sebuah trend baru di lapisan masyarakat.
Sejauh apapun akulturasi di Ambon tidak akan terlepas dari unsur bangsa Eropa yang lama menduduki wilayah Maluku. Tak hanya bangsa Eropa tetapi bangsa Timur Tengah ikut berperan dalam pencampuran budaya yang kini telah di akui oleh dunia. Budaya tradisional menjadi bernilai tinggi jika terus dilestarikan dan digunakan dalam kehidupan masyarakat. Beruntung kepada warga asli yang memiliki hubungan langsung dengan bangsa asing dan mempunyai leluhur dari tanah asing. Akan menjadi sesuatu yang khas dalam kehidupan berbudaya dan bermasyarakat.
1.4 KEPARIWISATAAN
Kemajuan industri pariwisata bukan hanya berdampak positif bagi suatu lapisan masyarakat tetapi berdampak negatif juga. Dampak sosial dari keberadaan industri pariwisata ini mencakup banyak hal dan bidang, salah satunya di dalam lapisan masyarakat yaitu terjadinya modernisasi, akulturasi, ataupun asimilasi.
suatu wilayah dalam sektor pariwisata di masa yang akan datang. Dampak ini telah dirasakan oleh masyarakat Ambon sendiri. Budaya tradisional yang memiliki unsur budaya asing berperan penting salah satunya dapat dipertunjukkan kepada khalayak bahkan dapat di komersialisasikan dan sebagai pemersatu rakyat.
Pariwisata Ambon kini mengalami kemajuan walaupun dalam indeks kunjungan menurun. Ambon sebagai daerah yang terakulturasi oleh berbagai suku dan bangsa lain menjadi rentan terhadap budaya yang mereka miliki akibat dampak dari kolonialisme dan kini menjadi dampak pariwisata. Maka, budaya Ambon memiliki ketertarikan sendiri dalam mempertunjukan atraksi pariwisata.
Budaya tradisional Ambon yang memiliki unsur budaya Portugis baru-baru ini dipertunjukan adalah festival musik Hawaiian yang diselenggarakan oleh pemerintah Ambon.
Ambon, Tribun -Maluku.com : Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy mengatakan festival musik hawaiian merupakan momentum kebangkitan budaya Maluku. "Festival ini merupakan momentum kebangkitan musik hawaiian sebagai musik khas daerah Maluku yang tidak ditemukan pada daerah lain di Indonesia, serta kebangkitan budaya," katanya saat membuka festival musik hawaiian 2013, di Ambon, Jumat. Menurut dia, musik merupakan identitas budaya Maluku melalui beragam jenis alat musik petik yaitu Ukulele dan Hawaiian seperti halnya terdapat dalam kebudayaan Hawaii di Amerika Serikat.
Maluku, katanya, sejak dulu hingga sekarang masih memiliki ciri khas dimana terdapat penggunaan alat musik Hawaiian baik pada lagu irama pop maupun dalam mengiringi tarian tradisional seperti Katreji.
"Dalam menikmati musik, kita tidak mengenal latar belakang suku, agama, ataupun umur. Yang ada hanyalah kita menikmati alunan nada dan irama yang mengalun merdu dari para musisi yang tampil diatas panggung," tandasnya.
Ia berharap, festival musik Hawaiian yang digelar akan menjadi agenda tetap Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, baik pada peringatan HUT Kota Ambon, maupun pada kegiatan pagelaran seni musik lainnya.
"Nanti akan kita atur agar kegiatan ini dapat berlangsung secara rutin, untuk dapat lebih lagi memperkenalkan musik Hawaiian kepada masyarakat," ujarnya. Sedikitnya 12 kelompok band di Maluku mengikuti festival musik hawaiian 2013 yang digelar Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku. Festival Musik Hawaiian Daerah Maluku diikuti oleh 12 kelompok band Hawaiian yang berasal dari Ambon dan kabupaten Maluku Tengah (Malteng). (ant/tm)
Perihal diselenggarakan budaya tradisional di atas semata untuk melestarikan budaya daerah. Namun, dapat dilihat disini bahwa potensi pariwisata dalam hal budaya dapat berperan dan menimbulkan dampak positif. Diadakannya festival tersebut dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Ambon dan otomatis dapat meningkatkan kunjungan wisata di Ambon untuk wisatawan asing maupun lokal sekalipun.
selama iini tidak terlepas dari kurang tepatnya strategi kebijakan yang diterapkan (Richard, dkk, 2013)
2. RUMUSAN MASALAH
Ambon merupakan daerah dan suku yang unik karena memiliki akulturasi budaya yang beragam. Lebih menarik lagi bahwa pencampuran budaya di Ambon tidak hanya dari satu budaya melainkan banyak budaya dan kebanyakan adalah budaya barat. Sehingga turis barat tertarik untuk datang ke Ambon untuk berwisata. Sayangnya, pariwisata di Ambon sendiri kurang diperhatikan oleh pemerintah. Akulturasi merupakan hal yang unik bagi suatu budaya dan dapat diarahkan pada sektor pariwisata. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan, yaitu:
1. Akulturasi apa saja yang ada di Ambon?
2. Apakah akulturasi di Ambon mempengaruhi pariwisata?
3. KERANGKA PEMIKIRAN
Akulturasi merupakan penggabungan dua budaya yang berbeda. Menurut Koentjaningrat akulturasi adalah proses yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing, sehingga unsur-unsur asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan asli.
Terjadinya akulturasi di Ambon pada sektor budaya menjadikan suku ini unik dan menarik perhatian oleh para pelancong tanah air maupun asing. Kebudayaan yang memiliki unsur budaya asing yang kental seperti: alat musik ukulele, tarian katreji, bahasa, agama, dan beberapa bangunan yang ada di Ambon. Ukulele awalnya merupakan alat musik asal Hawaii, Katreji berasal dari Portugis, penggunaan bahasa suku Ambon yang telah tercampur dengan bahasa Portugis, Belanda, dan Bahasa Indonesia baku. Masuknya agama di Ambon berasal dari kerajaan Ternate dan Tidore, bangsa Portugis, Belanda, Spanyol. Toleransi antar umat beragama di Ambon merupakan budaya bangsa Indonesia sendiri. Toleransi ini kuat diterapkan di beberapa daerah di Ambon seperti: ketika akan ada pemindahan masjid, awal pembongkaran atap masjid haruslah orang beragama Kristen terlebih dahulu, begitu juga sebaliknya. Ketika sebuah gereja akan di pindah, awal pembongkaran dari atap gereja tersebut haruslah orang beragama islam yang melakukannya.
Akibat adanya akulturasi di Ambon menghasilkan dampak positif yang menarik untuk mengundang para wisatawan melancong di Kota Musik ini. Alam yang membentang juga kaya akan budaya menjadi modal sosial bagi masyarakat Ambon dalam memajukan kepariwisataan di Ambon. Bangunan bersejarah, tempat ibadah, museum dan alam merupakan potensi wisata yang menjajikan. Penyelenggaraan festival adat di Ambon juga sering dilakukan oleh pemerintah Ambon untuk mengundang para wisatawan. Berbagai tempat wisata di Ambon yang memiliki potensi tinggi dan dikelola sendiri oleh masyarakatnya sehingga peran pemerintah kurang dalam hal ini. Fakta bahwa pariwisata menimbulkan akulturasi di suatu daerah. Karena wisatawan terpesona dengan keindahan alam di Ambon, sehingga lama tinggal di Ambon pun tinggi dan tidak jarang warga menjalin hubungan perkawinan dengan wisatawan sendiri. Hal ini yang memicu pertumbuhan akulturasi di Ambon.
4. ISI
yang awalnya mereka miliki dan menggabungkan budaya asing yang diterima. Contohnya seperti budaya jawa, lagu bahasa jawa dibuat versi ‘rap’ dimana ‘rap’ merupakan jenis musik dari negara barat. Seperti di Ambon, masuknya agama islam dan kristen merupakan pengaruh dari budaya kerjaan ternate dan tidore dan masuknya kaum Eropa ke Indonesia (Spanyol dan Portugis).
Koentjaraningrat (dalam Destiana, 2012) seorang antropolog menyatakan bahwa definisi akulturasi adalah proses yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur dari suatu kebudayaan asing, sehingga unsur asing tersebut cepat atau lambat diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan asli.
G.M. foster (Destiana, 2012) meringkas pola proses yang biasanya terjadi bila suatu kebudayaan terkena pengaruh kebudayaan asing, dalam bukunya Traditional Cultures and Impact of Technological Change ia menyatakan bahwa:
1. Hampir semua proses akulturasi mulai dalam golongan atasan yang biasanya tinggal di kota, lalu menyebar ke golongan yang lebih rendah di daerah pedesaan. Proses yang seperti itu biasanya di mulai dari sosial ekonomi 2. Perubahan dalam sektor ekonomi hampir selalu menyebabkan perubahan yang
penting dalam asas-asas kehidupan kekerabatan.
3. Masuknya pedagang asing pada tempo dulu yang juga kemudian membawa unsur-unsur budaya lain seperti para pedagang berasal dari timur tengah . 4. Adanya interaksi antar negara berbeda di seluruh dunia yang kemudian
berdampak pada bangsa yang sifatnya mudah menerima ketentuan negara. 5. Ketidak selarasan budaya yang ada dengan masyarakat pengguna, yang
kemudian lebih memilih kebudayaan yang di lihatnya lebih unik dan mudah dari daerah asing.
Pembahasan di atas terlihat bahwa proses akulturasi tidak membutuhkan waktu yang singkat, namun membutuhkan waktu yang lama hingga bertahun-tahun bahkan berabad-abad. Kemudian kebudayaan asing tersebut diterima, diadaptasi, dan disesuaikan dengan budaya lokal yang telah ada.
Hasil perpaduan 2 budaya disebut budaya hibrida (hybrid culture). Bermula dari interaksi perdagangan di daerah pesisir antara pedagang asing dengan pedagang lokal. Akibat interaksi tersebut, pedagang yang kembali ke daerahnya dengan membawa hasil rempah membawa cerita adanya dunia rempah Moluccas. Akibatnya timbul adanya relasi sosial baru antara pedagang asing yang berasal dari Timur tengah dan pedagang Eropa yang sama-sama mencari rempah di Maluku. Ketika hubungan relasi terjalin kemudian jaringan luas akhirnya tercipta karena kualitas komoditas rempah di Maluku. Nama Maluku pun menjadi populer di dunia karena hasil rempahnya. Akhirnya mengundang bangsa lain untuk datang. Ketika datang dan menduduki tanah Maluku, kelompok sosial dalam lapisan masyarakat terbagi, ada yang mengikuti agama islam, kristen, dan katolik. Proses ini membutuhkan waktu yang sangat lama agar sebuah kebudayaan asing bisa terserap dalam kebudayaan lokal dan kemudian menciptakan kebudayaan baru. Proses budaya yang masuk mengalami seleksi budaya oleh masyarakat dapat diterima atau tidak. Unsur yang dianggap sesuai dengan kebudayaan lama akan diterima dan unsur yang tidak sesuai akan ditolak. Maka dari itu, kebudayaan baru yang dihasilkan merupakan kebudayaan baru dari penyempurnaan dari kebudayaan lama atau asli, ditambah unsur kebudayaan baru yang sesuai.
Menurut Bimbie (http://www.bimbie.com/akulturasi-budaya.htm) secara umum terdapat 4 bentuk kontak kebudayaan yang mampu menyebabkan terjadinya akulturasi kebudayaan, yaitu:
1. Kontak kebudayaan bisa berlangsung pada seluruh, sebagian atau hanya antar anggota masyarakat.
2. Kontak kebudayaan yang berlangsung pada masyarakat yang mempunyai jumlah yang sama atau berbeda.
3. Kontak kebudayaan yang berlangsung terhadap kebudayaan maju dan tradisional.
4. Kontak kebudayaan yang berlangsung pada masyarakat yang memiliki keuasaan serta masyarakat yang dikuasi. Kekuasaan ini meliputi keuasaan ekonomi dan politik.
Utara umumnya (kurang lebih 85 %) terletak di pesisir pantai dan sebagian besar lainnya berada di pulau-pulau kecil. Oleh sebab itu, pola kehidupan seperti menangkap ikan, berburu, bercocok tanaman dan berdagang masih sangat mewarnai dinamika kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Maluku Utara (sekitar 79%). Sementara itu, ikatan kekerabatan dan integrasi sosial masyarakat secara umum sangat kuat sebelum terjadi konflik horizontal bernuansa SARA. Ikatan pertalian darah dan keturunan sesama anggota keluarga didalam satu komunitas di daerah tertentu sangat erat dan familiar, walaupun keyakinan keagamaan berbeda seperti masyarakat di kawasan Halmahera bagian utara dan timur. Hubungan ini telah menumbuhkan harmonisasi dan integrasi sosial yang sangat kuat. Dalam konteks hubungan Islam dan Kristen, nuansa interaksi sosial tersebut lebih didasarkan bukan pada pertimbangan kultural dan hubungan kekeluargaan.
4.1 AKULTURASI BUDAYA AMBON
4.1.1 AKULTURASI BAHASA DI AMBON
Sebelum datangnya bangsa Portugis di Ternate (1512), bahasa Melayu telah ada di Maluku dan dipergunakan sebagai bahasa perdagangan. Bahasa Melayu berasal dari Indonesia bagian barat (Nusantara barat). Bahasa Melayu Ambon berbeda dari bahasa Melayu Ternate karena pada zaman dahulu suku-suku di Ambon yang tentunya memoengaruhi perkembangan Bahasa Melayu Ambon sangat berbeda dari suku-suku di Ternate. Bahasa Melayu Ambon mendapat banyak pengaruh dari Melayu Makassar. Abada ke-16, Portugis menjajah Maluku sehingga cukup banyakkata bahasa yang digunakan dan tercampur dengan bahasa Melayu Ambon sendiri. Bangsa lainnya adalah bangsa Belanda yang menduduk tanah air ini cukup lama, sehingga pencampuran bahasa dan kata sangat tampak dan menjadi kata serapan di hari kemudian. Ketika jaman kolonial Belanda bahasa Melayu Ambon dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah, gereja, dan terjemahan buku.
logat masing-masing. Terjemahan injil ke dalam Bahasa melayu dilakukan oleh misionaris Belanda dan membawanya ke Ambon. Para penduduk dapat mengahafal injil dan kemudian dibaptis dan dibimbing dalam Bahasa Melayu. Bahasa ini kemudian dibawa dari Malaka karena telah ada kegiatan dagang antara Maluku dan Malaka. Bahasa Melayu awalnya hanya berbentuk pasaran lalu menjadi tutur bahasa anak-anak dan menjadi bahasa ibu bagi masyarakat Kristen Ambon dan sebagian kecil Muslim Ambon. Kebanyakan masyarakat Muslim Ambon masih menggunakan bahasa sendiri yaitu bahasa tanah.
Struktur Bahasa Melayu Ambon agak berbeda dengan Melayu pada umumnya karena logat asli masyarakat sulit untuk dirubah. Namun, Melayu jenis ini dapat digunakan dan lazim di Indonesia Timur. Struktur bahasa yang sangat mirip dengan struktur bahasa di Eropa, seperti kepemilikan:
Beta pung buku = buku saya = my book
Kiki pung kaka = kakak Kiki = Kiki’s brother/sister
Sofyan ada pi ka Latuhalat = Sofyan sedang pergi ke Latuhalat
Ada orang dapa bunuh di kusu-kusu = ada orang dibunuh di alang-lang
Katong jaga tinggal disini sa = kami tetap tinggal disini saja
Lafal juga mengalami nasalisasi terutama pada akhiran ‘n’ dan ini terjadi di Indonesia bagian timur, seperti:
Makang (makan) Badiam (diam) Jang (jangan) Ikang (ikan) Lawang (lawan) Bensin (bengsing)
Kata ganti orang, seperti: Beta (saya)
Dorang (kependekan dari dia orang/mereka)
Kamong atau kamorang (kependekan dari kamu orang/kalian)
Terdapat ungkapan khas Ambon lainnya yang berbeda dari wilayah lain, yakni: Ao e!, Mamae!, Sio Mama!, Tuang Ala!, Tuang Ana!, Ai!, Gaga batul!, Maniso!
Di dalam masyarakat pun memiliki panggilan yang khusus dan beberapa ada yang dibedakan berdasar agama dan panggilan, seperti:
Babang/ abang (kakak laki-laki; dipakai di kalangan Muslim) Caca (kakak perempuan Muslim)
Usy (kakak perempuan Kristen)
Broer/ bung/ bu (kakak laki-laki dipakai kalangan Kristen) Nyong (adik laki-laki; netral)
Bapa Raja (kepala desa)
4.1.2 AKULTURASI KESENIAN AMBON
Ambon memiliki kesenian yang begitu luas dan menarik. Jenis kesenian suku Ambon ini, terlihat sangat berbeda dibanding daerah lain yang ada di Indonesia. Disebabkan Ambon merupakan wilayah yang terkena dampak langsung dari kedatangan bangsa koloni yang ingin menjajah wilayah Ambon karena rempah yang dihasilkan tanah Ambon sangat baik kualitasnya pada waktu itu. Berbagai kesenian budaya berupa tari, alat musik, lagu khas Ambon yang sangat mengidentifikasikan bahwa Ambon memiliki pencapuran budaya yang signifikan dari adanya budaya yang masuk sejak sebelum maupun setelah bangsa kolonial masuk ke tanah Ambon.
Kesenian yang akan dibahas yang mengandung akulturasi budaya di Ambon seperti: alat musik ukulele, jenis musik Hawaiian (steel guitar), bamboowind (suling bambu), kuli bia ( alat musik tiup), tifa totobuang, tari katreji yang masih ada sampai sekarang.
a. Ukulele atau Jukulele
kemudian menjadi alat musik populer di Hawaii dengan ukuran yang lebih kecil lagi sehingga mudah di bawa dan hanya memiliki 4 senar saja yang disebut Jukulele.
Pada tahun berikutnya Ukulele dibawa ke Ambon. Ambon merupakan wilayah kepulauan kecil yang geografisnya tidak jauh berbeda dengan Hawaii sehingga Ukulele cocok dimainkan oleh masyarakat Ambon yang berada di pesisir. Ukulele khas Ambon mengalami perubahan bentuk dari aslinya yang di Hawaii. Bentuk ukulele khas Ambon ini menimbulkan perubahan nama menjadi Jukulele oleh orang Ambon sendiri.
b. Musik Ambon
Jenis musik musik sendiri juga beragam. Akibat akulturasi dari para pendatang yang mempengaruhi budaya Ambon. Jenis musik Hawaiian dari Hawai yang biasanya jadi musik dari tarian dansa Katreji. Musik Hawaiian, berasal dari Hawaii dan Maluku pada awalnya. Kini musik Hawaiian menjadi khas Maluku hingga sekarang. Baru-baru ini pemerintah kota Ambon menggelar festival musik Hawaiian sebagai warisan leluhur di Ambon dan akan dirutinkan hingga waktu ke depan (AntaraNews.com, 2014). Jenis musik lainnya yaitu Sawat dimana musik ini diiringi dengan alat musik khas Timur Tengah yaitu rebana dan seruling sebagai akibat dari masuknya bangsa Arab untuk menyebarkan agama Islam. Pada umumnya, musik Ambon didominasi oleh alat musik Tifa.
c. Katreji
Katreji merupakan tarian tradisional Ambon yang hingga sekarang masih diakui eksistensinya. Biasanya tarian Katreji ini dapat ditemukan dalam acara pernikahan adat Ambon atau pertunjukan adat Ambon. Tarian ini menggunakan pakaian khas adat Ambon, terdiri dari beberapa pasang laki-laki dan perempuan. Alunan musik Hawaaiian yang mengiringi dansa khas Eropa ini. Tarian Katreji merupakan hasil pencampuran budaya Portugis, Belanda, dan Maluku. Hal ini lebih nampak pada setiap aba-aba dalam perubahan pola lantai dan gerak yang masih menggunakan bahasa Portugis dan Belanda sebagai suatu proses bilingualisme. Tarian ini diiringi alat musik biola, suling bambu, ukulele, karakas, guitar, tifa dan bas gitar, dengan pola rithm musik barat (Eropa) yang lebih menonjol.
4.1.3 PENGGUNAAN FAM DI AMBON
Seperti yang telah diketahui suku Ambon memiliki fam di dalam namanya. Keunikan lain fam Ambon yang jarang ada di wilayah lain di Indonesia. Orang Ambon memiliki fam dari nama keluarga yang biasanya digunakan oleh pihak laki-laki atau pihak ayah karena suku Ambon menganut garis keturunan patrilineal. Nama fam (familienam) atau nama marga atau mataruma (sebutan bagi orang Ambon) biasanya ditambahkan di belakang nama lahirnya atau nama depan. Dapat dilihat dari nama fam orang Ambon terdapat pengaruh bahasa Portugis, Inggris, Arab, Spanyol dan bahasa asli Maluku khususnya Ambon. Nama fam ini dapat menunjukkan besarnya akulturasi budaya khususnya pada nama fam yang dipengaruhi dari bangsa-bangsa Eropa di Wilayah Maluku. Contoh nama fam bagi orang Ambon Latuperissa, Malaiholo, Lekahena, Latuconsina, dll.
4.1.4 AGAMA
Agama mayoritas di Ambon adalah agama Islam dan Kristen. Konon, masuknya agama yang tersebar ini adalah akibat pencampuran budaya asing oleh para pedagang yang berniaga di sekitaran, Banda, Ternate, dan Ambon. Menurut hasil penelitian pustaka Thalib (2012), dispora penyebaran Islam di Maluku, medium perdagangan merupakan kontak awal masuknya Islam di Maluku. Para pedagang Arab, Persia Gujarat yang melakukan perjalanan pencarian rempah-rempah di Maluku menjadi awal masuknya Islam di Maluku. Sehingga terbentuk kerajaan Ternate dan Tidore yang juga membantu penyebaran islam di nusantara. Masuknya penyebaran islam di Ambon berasal dari pengaruh kerajaan Ternate dan Tidore di Maluku Utara. Kajian pustaka lain juga menyatakan bahwa penyebaran islam di Ambon merupakan pengaruh langsung dari pedagang Timur Tengah yang tak lain adalah mencari cengkih dan pala.
Ketika agama islam telah menyebar di daerah Maluku, kemudian datang bangsa Eropa yang menyebarkan agama kristen di Ambon. Awalnya bangsa Portugis dan Spanyol masuk membawa pengaruh agama Katolik. Tidak lama kemudian Belanda membawa pengaruh agama Kristen Protestan hingga masuk ke dalam sistem pemerintahan Ambon. Penyebar agama kristen di Maluku tak lepas dari nama Joseph Kam, seorang Belanda yang disebut sebagai “Rasul Maluku”. Nama Fransiskus Xaverius merupakan seorang Spanyol yang berusaha menyebarkan agama Katolik di Maluku pada tahun 1545.
Islam pernah menarik diri dari pencaturan pemerintahan Hindia Belanda. Belanda memprioritaskan orang yang menganut agama Kristen Protestan untuk menjabat dalam sistem pemerintahan, militer, dan pendidikan. 3 hal ini yang menyebabkan kurang terkemukanya islam di Ambon dan yang lebih dikenal oleh masyarakat Maluku adalah mayoritas beragama Kristen. Kenyataan tentang prioritas penganut agama Kristen Protestan untuk bekerja untuk Belanda tidak serta merta mengesampingkan penduduk yang menganut agama Islam dan Kristen Katolik. Para penganut agama selain Kristen Protestan tetap diberikan ruang untuk menjalankan rutinitas keagamaannya masing-masing. Hal ini secara lansgung berpengaruh pada penerimaan masyarakat Ambon dan secara umum terhadap Belanda pada saat itu.
Nama Maluku berasal dari bahasa Arab yaitu Al-Mulk, yang berarti sebagai tanah atau pulau atau negeri para raja. Kebenaran hal tersebut memang sungguh terjadi hingga sekarang Maluku terdiri atas negeri-negeri kecil yang banya dengan rajanya sendiri. Selain itu, kata Maluku berasal dari bahasa Ternate yaitu Moloku atau Moloko yang artinya tanah air. Tercermin bahwa dulunya bangsa Ternate menyebutkan bumi Maluku belahan utara sebagai Moloku Kie Raha yang berarti tanah air dengan empat gunung. Keempat gunung yang dimaksud adalah 4 kerajaan atau kesultanan besar di Maluku Utara yaitu Kerajaan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo.
Silaya (2008) menyatakan bahwa desa/negeri adat mempunyai sistem pemerintahan adat dan lembaga-lembaga adat yang dipimpin oleh seorang pimpinan lembaga adat yang disebut Raja. Didalam menjalankan fungsinya sebagai pimpinan adat, Raja dibantu langsung oleh Saniri Negeri, Juru Tulis, Kewang, Kapitang, Tuan Tanah dan Marinyo. Disamping lembaga-lembaga adat tersebut, sistem pemerintahan desa dibantu oleh salah satu lembaga musyawarah antara raja-raja yang disebut Latupati. Latupati merupakan kumpulan raja-raja yang terdapat dalam suatu areal atau Kecamatan dan lembaga ini dipimpin oleh salah seorang raja. Tugas utama dari pada lembaga Latupati adalah mengkoordinasi semua permasalahan maupun pengelolaan sumberdaya yang ada di Kecamatan tersebut secara musyawarah.
Terlihat bahwa istilah-istilah pada sistem masyarakat Ambon menganut pada unsur sistem kerajaan Ternate yang diserap dari bahasa Arab. Istilah Raja untuk pemimpin adat juga terkait dengan pemimpin kerajaan di Arab. Lembaga musyawarah merupakan lembaga bangsa Arab dalam sistem pemerintahan kerajaan maupun kesultanan.
4.1.6 BAJU ADAT BANIANG
berjenis kembang kecil. Pakaian ini umumnya dikenakan oleh kaum pria pada acara pesta rakyat, sedang wanita memakai pakaian rok.
Ketika melihat model baju Baniang tersebut terlintas dipikiran bahwa modelnya mirip dengan jas tanpa kancing. Jas adalah pakaian khas Eropa, sehingga kemungkinan ini ada unsur permodelan dari gaya pakaian orang Eropa. Warna dan coraknya yang memberi identitas Ambon sebagai baju adat untuk dansa ataupun pesta rakyat pada kaum muda. Biasanya menggunakan sepatu panthovel atau hensop salah satu ciri dari orang Eropa menggunakan alas kaki. Perpaduan gaya model baju Baniang ini
mengingatkan sejarah pengaruh budaya Eropa yang telah masuk ke dalam budaya Ambon.
4.2 PARIWISATA DI AMBON
Pengembangan kepariwisataan yang bertumpu pada kebudayaan lebih lanjut diistilahkan dengan pariwisata budaya. Dengan kata lain, pariwisata budaya adalah satu jenis kepariwisataan yang dikembangkan bertumpu pada kebudayaan (Geriya, 1996). Kebudayaan yang dimaksudkan di sini adalah kebudayaan Indonesia yang dibangun dari berbagai kebudayaan daerah yang ada di Indonesia. Ini artinya, setiap langkah yang dilakukan dalam usaha pengembangan pariwisata di Indonesia selalu bertumpu pada kebudayaan nasional Indonesia. Segala aspek yang berhubungan dengan pariwisata, seperti: promosi, atraksi, manajemen, makanan, cindera mata, hendaknya selalu mendayagunakan potensi-potensi kebudayaan nasional Indonesia. Dengan demikian nantinya pariwisata Indonesia mempunyai ciri tersendiri yang dapat dibedakan dari pariwisata negara lain yang bertumpu pada potensi yang lain.
Dalam rangka masuknya pengaruh asing dalam era globalisasi, mengakibatkan penerimaan informasi semakin lebih cepat khususnya budaya asing yang masuk ke
Gambar 3. Baju adat Baniang khas Ambon yang biasanya digunakan pemuda pemudi untuk
Indonesia. Globalisasi berlangsung melalui saluran-saluran tertentu, seperti media massa, pariwisata internasional, lembaga perdagangan dan industri internasional, serta lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan. Saluran-saluran globalisasi, antara lain sebagai berikut:
a. Media Massa
Arus globalisasi diperoleh melalui media komunikasi massa, seperti radio, televisi, surat kabar, film, dan internet. Globalisasi melalui media massa telah membuat dunia menjadi seolah-olah tanpa batas. Melalui media massa, seperti televisi yang disiarkan dalam jaringan satelit, peristiwa bencana Tsunami di Aceh pada tahun 2004 dapat diketahui di seluruh dunia. Demikian juga dengan perkembangan internet yang telah memudahkan perkembangan iptek dengan adanya kemudahan mengakses berbagai informasi dari seluruh penjuru dunia dengan murah dan cepat. Selain itu, dalam arus globalisasi, terjadi perubahan perilaku masyarakat di bidang mode pakaian, peralatan hidup, dan makanan akibat pengaruh penyebaran informasi dari luar negeri melalui media massa. Sebagai sarana pewarisan budaya pada era globalisasi, media massa sangat berpengaruh dalam penyerapan budaya asing di masyarakat yang bersifat positif dan negatif. Dampak positif budaya asing di media massa adalah masuknya iptek yang menunjang kemajuan di segala bidang. Pengaruh negatif budaya asing di media massa adalah terjadinya goncangan budaya karena adanya individu yang tidak siap menerima perubahan dan pergeseran nilai-nilai budaya dan adat istiadat.
b. Pariwisata Internasional
seseorang dapat dengan mudah bepergian dari satu negara ke negara lainnya.
c. Lembaga Perdagangan dan Industri Internasional
Globalisasi dalam perdagangan internasional ditandai dengan adanya pasar bebas. Dalam era pasar bebas, setiap negara akan berlomba-lomba mengembangkan keunggulan komparatifnya untuk menarik para investor dari luar negeri. Era pasar bebas juga ditandai adanya kebebasan kontak perdagangan antarnegara tanpa dibatasi hambatan fiskal dan tarif. Walaupun setiap negara bebas untuk menjalin hubungan perdagangan, namun tetap diperlukan suatu wadah kerja sama di bidang ekonomi. Misalnya, pendirian dewan kerja sama ekonomi Asia Pasifik (APEC) dan dewan kerja
sama ekonomi Amerika Utara (NAFTA)
(http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/02/pengaruh-budaya-asing-yang-masuk-ke-indonesia-generasi-muda.html).
Arus globalisasi yang melanda seluruh dunia mempunyai dampak bagi bidang sosial budaya suatu bangsa. Pada awalnya, globalisasi hanya dirasakan di kota-kota besar di Indonesia. Namun dengan adanya kemajuan teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi globalisasi juga telah menyebar ke seluruh penjuru tanah air. Arus globalisasi yang penyebarannya sangat luas dan cepat tersebut membawa dampak positif dan negatif.
Dapat dilihat bahwa pariwisata internasional ikut berpengaruh dalam terjadinya globalisasi yang mempengaruhi bertemunya budaya asing dan budaya lokal. Selain itu, pariwisata dapat menguntungkan negara dalam bentuk devisa sehingga arus keluar masuk budaya asing akan terus berlanjut. Hal ini akan menimbulkan dampak pro dan kontra. Di sisi lain negara untung tetapi sisi lainnya budaya asli terkikis oleh budaya asing sehingga menjadi tidak asli lagi. Maka akulturasi disebut sebagai terkikisnya suatu budaya, dampak akulturasi terhadap pariwisata menjadi suatu budaya tersebut unik dan dapat mendatangkan wisatawan karena keunikan tersebut.
(orang asing) yang datang berkunjung untuk melihat dan mengenal lebih dekat kebudayaan asli tersebut, dan adanya usaha-usaha penggalian nilai-nilai budaya asli untuk dikembangkan dan dilestarikan. Di samping dampak positif, perkembangan pariwisata dapat menimbulkan masalah kebudayaan, yaitu terjadinya ekspolitasi kebudayaan yang berlebihan sehingga terjadilah komersialisasi. Komersialisasi yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat Bali dalam sektor pariwisata. Hal ini jug aterjadi di Ambon dimana komersialisasi budaya merupakan produk wisata dan berhasil membuat para wisatawan kagum. Hasil wawancara mendalam bersama rekan orang Ambon asli, budaya Ambon diminati oleh wisatawan dan warga Ambon sendiri bangga dengan budaya mereka yang merupakan hasil akulturasi dengan budaya asing tersebut. Artikel lain yang ditulis oleh Budarma (2012), salah satu penelitiannya adalah melihat fenomena penelitian yang berfokus pada akulturasi antara wisatawan dan budaya lokal: Dampak pariwisata terhadap budaya Bali. Penelitian ini dilakukan di Bali, dengan memeriksa Bali dan hubungan mereka dengan wisatawan internasional. Penelitian ini menemukan bahwa pariwisata telah membuat budaya Bali lebih kreatif tetapi pada saat yang sama itu adalah merusak. Pariwisata telah merendahkan nilai budaya Bali, namun secara ekonomi menguntungkan masyarakat setempat. Akulturasi telah menciptakan sesuatu yang baru, adaptasi dan perubahan dan menciptakan dunia tradisional dan wisata. Akulturasi budaya telah membuat wisata Bali berkembang dan kaya. Bali dan wisatawan menemukan bahwa pariwisata membahayakan lingkungan Bali, tetapi juga menciptakan kesadaran pelestarian. Pariwisata ekonomis menguntungkan, namun peran dan partisipasi dari Bali adalah pada karyawan tingkat tidak pemilik bisnis.
Menurut Jafar Jafari (dalam Budarma, 2012) dalam konteks pariwisata, akulturasi didefinisikan sebagai interaksi antara masyarakat tuan rumah dan wisatawan yang menghasilkan dialektika lintas budaya dan akhirnya akan ada proses sosial, perubahan sosial dan psikologis sebagai akibat ketika orang-orang dari budaya yang berbeda melalukan kontak.
minimnya akses transportasi baik udara dan laut dari wilayah lain ke Maluku, maupun akses transportasi ke objek-objek wisata ikut mempengaruhi rendahnya arus kunjungan Wisman atau Wisnus ke Maluku. Dalam rangka meningkatkan pariwisata Maluku, Dinas Pariwisata Provinsi Maluku telah melakukan berbagai upaya promise dan perbaikan sarana prasarana infrastruktur pariwisata yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. Untuk tahun 2014 ini sedang dirancang rencana kegiatan promosi dengan tema “Negeri Seribu Benteng’’ yang didukung dengan 600 benteng peninggalan kolonial.
Tabel. 1 Jumlah Kunjungan Wisata Tahun 2010-2013 Provinsi Maluku dan Nasional
Tahun Provinsi Maluku Nasional
wisman wisnus wisman wisnus
2010 8407 - 7.002.944 234.377.000
2011 6066 9537 7.649.731 236.752.000
2012 5389 12431 8.044.462 245.290.000
2013 3486 - 8.637.275 248.016.000
Sumber : Dinas Pariwisata Maluku 2014 dan Kemenparekraf
Jumlah kunjungan Wisatawan ke Maluku cenderung mengalami penurunan, khususnya wisatawan mencanegara (Wisman). Pada 2013 jumlah kunjungan hanya mencapai 3.486 orang atau turun 35,3% dibanding tahun 2012 yang mencapai 5.389 orang. Sedangkan pada 2010 jumlah kunjungan wisatawan manca Negara sempat mencapai 8.497 orang. Sementara, jumlah Wisatawan Nusantara (Wisnus) pada 2012
terjadi kenaikan dibanding tahun 2011 sebanyak 9.537 orang.
4.2 ATRAKSI PARIWISATA AMBON
Akhirnya, warga Maluku membuat kegiatan adat masyarakat Maluku di Belanda untuk kembali ke tanah air ketika ada kegiatan adat seperti: peresmian gereja (Panaspela), Natal Sedunia, dan Cuci Negeri (permbersihan kampung). Hal ini yang membuat hubungan antara Indonesia (Ambon) dan Belanda begitu erat. Sehingga banyak warga Belanda yang datang ke Ambon selain untuk menemui keluarga mereka tetapi juga untuk berwisata ke Ambon. Acara ini biasanya diadakan ketika bulan Juni-Juli dan Desember (Natal).
Acara tahunan lainnya yang mendatangkan para wisatawan asing langsung ke Ambon adalah Darwin-Ambon International Yacht Race dimana acara ini menjadikan Ambon sebagai destinasi terakhir. Acara ini diselenggarakan biasanya bulan Agustus-September. Darwin merupakan ‘sister city’ Ambon sejak 1989. Tujuan even ini untuk mempromosikan pemahaman internasional dengan partnership ini dan memperingati hari kematian tentara tawanan Australia di Ambon ketika jaman Jepang dan sebagai ucapan terima kasih Australia kepada Ambon karena masyarakat lokal telah menghidupi tawanan Australia tersebut.
Peserta kapal layar dalam even ini berasal dari seluruh dunia dan kapal-kapal asing disandarkan di Amahusu, Ambon. Pergerakan ‘sister city’ ini, memfasilitasi jalur persahabatan antara masyarakat yang berbeda di dunia, dengan tujuan untuk meningkatkan kesepahaman dan mengembangkan perdamaian dunia, keuntungan lain dari pergerakan ini adalah pariwisata, tenaga profesional, investasi, perdagangan, pendidikan, dan pertukaran budaya.
Mathieson dan Wall (1982) menemukan bahwa pariwisata telah mengubah struktur internal dari masyarakat, sehingga terjadi pembedaan antara mereka yang mempunyai hubungan dengan pariwisata dan mereka yang tidak. Jadi, keterkaitan pariwisata menjadi salah satu pemisah atau pembeda dalam masyarakat. Krippendorf (dalam Mathieson dan Wall, 1982) lebih lanjut melaporkan bahwa pariwisata mempunyai sifat kolonialistis, sehingga merebut independensi masyarakat lokal di dalam proses pengambilan keputusan. Burns dan Holden (1995) juga menyebutkan bahwa pariwisata memberikan keuntungan sosial-ekonomi pada satu sisi, tetapi sisi lain membawa ketergantungan dan kepentingan sosial atau memperparah ketimpangan yang telah ada (dalam Madebayu, 2009).
Gambar 4. Kapal layar pada even tahunan Darwin-Ambon
International Yacht Race, tepatnya di salah satu kampung di Ambon, Amahusu.
5 KESIMPULAN
Bangsa Eropa menduduki wilayah Ambon dalam kurun waktu lama sehingga mempengaruhi sosial dan budaya bahkan sistem pemerintahan Indonesia. Maluku sebagai daerah penghasil rempah yang utama pada saat itu mengundang para pedagang asing untuk berdagang dan mengambil komoditas utama yaitu pala dan cengkih. Tidak dapat dipungkiri hasil kegiatan perdagangan membuahkan adanya interaksi berlebih pernikahan antar pedagang asing dan lokal yang lama-kelamaan semakin mempengaruhi struktur masyarakat sendiri.
Akulturasi merupakan penggabungan dua budaya yang berbeda yang tidak menghilangkan budaya lama dan menyeleksi budaya baru. Budaya tradisional di Ambon masih terjaga hingga sekarang. Berbagai macam budaya tradisional merupakan hasil akulturasi dengan sosial dan budaya asing. Beberapa yang telah dibahas yang merupakan hasil akulturasi dengan sosial dan budaya lain adalah: tarian Katreji, Jukulele, penggunaan bahasa, agama, dan sistem masyarakat. Hal ini sangat unik ketika mengetahui bahwa pengaruhnya cukup kuat dan menjadikan Ambon sebagai wilayah yang unik dan kaya akan sosial dan budaya. Keunikan tersebut dapat mengundang para wisatawan untuk datang dan menyaksikan budaya Ambon tersebut. Sehingga tingkat pariwisata di Ambon dapat meningkat.
sehingga dapat memepertahankan budaya asli mereka kemudian dikomersialisasikan dan masyarakt Bali dapat hidup dengan cara membedakan dua dunia tersebut, dunia pariwisata dan dunia budaya hindu yang selalu mereka pertahankan. Inilah perbedaan masyarakat Ambon dan masyarakat Bali. Bagi sebagian wisatawan nusantara, budaya Ambon unik karena hasil akulturasi bangsa lain, sehingga wisatawan mancanegara kurang banyak yang tertarik untuk datang ke Ambon di banding harus datang ke Bali yang memiliki budaya Indonesia yang masih original.
Akulturasi dan pariwisata saling terkait dan berhubungan. Akulturasi menjadikan sosial dan budaya itu unik dan berbeda dari wilayah lain sehingga dapat dijual dan dijadikan sektor pariwisata. Begitu pula pariwisata, adanya pariwisata yang mendatangkan wisatawan ke daerah Ambon tersebut sehingga long of stay wisatawan tinggi dan muncul akulturasi dari adanya long of stay tersebut, misal: pernikahan, adanya studi yang dicari, atau sekedar bertukar pikiran antar dua budaya sedikit banyak akan mempengaruhi terbentuknya akulturasi. Dengan demikian akulturasi dan pariwisata saling berhubungan.
Sebuah penelitian dari Cohen (1984) menjelaskan ‘studies deal specifically, however, with the nature and dynamics of the tourist-local relationship, which has three principal dimensions: people's interactions, perceptions and attitudes’. Tiga dimensi turis lokal yang utama ketika berada di suatu tempat adalah interaksi masyarakat, persepsi, dan sikap. Sehingga dari interaksi masyarakat dapat terpengaruhi dan dapat mengubah persepsi mereka untuk menentukan sikap.
Kaeppler (1972) juga menjelaskan tentang prinsip akulturasi dalam artikelnya ‘The main body of the paper discusses the four principal issue areas in the field: (a) the tourist-his motivations, attitudes, reactions, and roles; (b) the relations and perceptions of tourists and locals; (c) the structure of the tourist system; and (d) the socioeconomic and sociocultural impact of tourism’. Bahwa semua aspek saling berhubungan dan pariwisata sebagai pemicu daei aspek tersebut. Kedatangan para wisatawan akan mempengaruhi budaya asli setempat apalagi destinasi yang bersifat mass tourism, sehingga pariwisata sebenarnya rentan terhadap budaya asli setempat yang mudah terkikis oleh budaya asing tersebut.